• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

HUBUNGAN ANTARA KOMPONEN PARAMETER FUNGSI

DIASTOLIK VENTRIKEL KIRI DENGAN DURASI

AV DELAY

OPTIMAL PADA PASIEN DENGAN PACU JANTUNG

DUAL

CHAMBER

TESIS

Dony Yugo Hermanto 1006768036

Pembimbing :

Dr.dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K) dr. BRM Ario Soeryo Koencoro, SpJP(K)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-I

ILMU PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH

PUSAT JANTUNG NASIONAL HARAPAN KITA

JAKARTA

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

HUBUNGAN ANTARA KOMPONEN PARAMETER FUNGSI

DIASTOLIK VENTRIKEL KIRI DENGAN DURASI

AV DELAY

OPTIMAL PADA PASIEN DENGAN PACU JANTUNG

DUAL

CHAMBER

TESIS

Dony Yugo Hermanto 1006768036

Pembimbing :

Dr.dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K) dr. BRM Ario Soeryo Koencoro, SpJP(K)

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS-I

ILMU PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH

PUSAT JANTUNG NASIONAL HARAPAN KITA

JAKARTA

(3)
(4)
(5)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan rahmat-Nya akhirnya saya dapat menyelesaikan tesis ini. Salawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Saya sangat menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, tesis ini tidak mungkin dapat saya selesaikan dengan baik. Maka izinkanlah saya dengan segala kerendahan hati untuk menyampaikan terima kasih, rasa hormat dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. dr. Amiliana Mardiani Soesanto, Sp.JP(K) selaku Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI dan Prof. dr. Ganesja M. Harimurti, Sp.JP(K) sebagai Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI sebelumnya atas segala bimbingan, dorongan, nasehat dan dukungannya selama saya menjalani pendidikan spesialis ini.

2. Para Guru Besar, Prof. dr. Asikin Hanafiah, Sp.JP(K), SP.A, Prof. dr. Lily I Rilantono, Sp.JP(K), Alm. Prof. dr. Sjukri Karim, Sp.JP(K), Prof. dr. Idris Idham, Sp.JP(K), Prof. dr. Harmani Kalim, MPH, SP.JP(K), Prof. dr. Dede Kusmana, Sp.JP(K), Prof. dr. Budhi Setianto, S.JP(K), dan Prof. Dr. dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K) sebagai guru kehidupan dalam hal keilmuan kardiologi dan berpikir untuk menjadi seorang dokter spesialis jantung yang baik.

3. dr. Poppy S. Roebiono, Sp.JP(K), dr. Renan Sukmawan, S.JP(K), Ph.D, ST, Dr. dr. Amiliana Mardiani Soesanto, Sp.JP(K), dr. Dicky A. Hanafy, Sp.JP(K), dan dr. BRM Ario Soeryo Koencoro, Sp.JP(K) sebagai Ketua dan Sekretaris Program Studi yang sudah saya repotkan, terutama selama proses pendidkan ini.

4. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K) dan dr. BRM Ario Soeryo Koencoro, Sp.JP(K) sebagai pembimbing penelitian yang telah memberikan semangat, perhatian, waktu dan dukungannya sehingga tesis ini dapat saya selesaikan dan juga selama pendidikan; serta kepada Dr. dr. Barita Sitompul, Sp.JP(K), sebagai pembimbing bahasa yang sudah meluangkan waktu untuk membaca dan mengkoreksi tata bahasa dalam penulisan tesis ini.

(6)

5. Prof. dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D sebagai pembimbing statistik yang dengan sabar memberikan waktu yang begitu banyak dalam mengolah data, dan membuka wawasan tentang penelitian.

6. dr. Nur Haryono, Sp.JP(K) sebagai pembimbing akademis yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama masa pendidikan ini.

7. Dr. dr. Anwar Santoso, Sp.JP(K), dr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), Ph.D, dan dr. Sunu Budi Raharjo, Sp.JP, Ph.D, dan Dr. dr. Siti Fadillah Supari, SpJP(K) sebagai koordiantor penelitian yang terus mendorong saya untuk maju. Terimakasih juga untuk masukkannya yang berguna dalam penyelesaian dan penyempurnaan tesis ini.

8. Dr. dr. Hananto Adriantoro, Sp.JP(K), Direktur Utama Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK) saat ini, dan Dr. dr. Anwar Santoso, Sp.JP(K), Direktur Utama PJNHK terdahulu beserta jajaran Direksinya, atas segala kesempatan dan fasilitas yang diberikan selama menjalani pendidikan. 9. Dr. dr. Amiliana Mardiani, SpJP(K) yang telah membantu banyak dalam

pengembangan ide penelitian.

10. Seluruh konsultan dan staff SMF Aritmia, Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), dr. Dicky Hanafy, SpJP(K), dr. Sunu Budi Raharjo, Sp.JP, Ph.D yang telah membantu saya dalam diskusi penelitian dan kritisi yang membangun.

11. Tim ruang instalasi rawat jalan dan ruang perawatan dewasa Pusat Jantung Nasional Harapan Kita atas bantuannya sehingga penelitian ini dapat terlaksana.

12. Bu Neni, Mbak Mila, Bu Euis atas bantuannya dalam mengerjakan penelitian ini.

13. dr. Shinta yang telah membantu saya dalam pengambilan data penelitian ini dan dr. Ima Ansari yang telah banyak membantu saya dalam statistik.

14. Ketua dan seluruh anggota Komite Etik Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita Jakarta, atas izin dan persetujuan yang diberikan sebelum memulai penelitian ini

15. Seluruh Staf Pengajar Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK UI, guru-guru saya, terima kasih atas ilmu kardiologi dan

(7)

ilmu kehidupan yang diberikan. Terima kasih untuk segala perhatian dan kesabarannya dalam membimbing saya selama mengikuti program pendidikan spesialis ini

16. dr. Radityo Prakoso, SpJP yang telah menjadi mentor dan selalu memberi masukan berharga.

17. Seluruh rekan-rekan dan pengurus Keluarga Asisten Kardiologi (KELAKAR) terutama teman-teman seangkatan saya: dr. Suci Indriani, dr. Dyna Evalina, dr. M. Barri Fahmi, dr. Ayuthia Sedyawan, dr. Teuku Istia Muda Perdan, dr. Muhammad Hatta, dr. Hervin Ramadhani, dr. Valentina Astari, dr. Vebiona Prima Kartini, dr. Yusak Alfrets Porotuo, dan dr. Harry Sakti Mulyawan untuk kebersamaan dan kerja sama yang luar biasa. Semoga persahabatan kita selalu ada selamanya

18. dr. Siska Yulianti, dr. Siska Sulistiowati, dr. M. Rijal Alaydrus, dr. Hilal Nurdin, dr. Danayu Prahasti, dr. Ade Widyastuti, dr. Puspitasari Bustanul dr. Dyna Evalina, dr. Suci Indriani, dan dr. M. Barri Fahmi sebagai teman seperjuangan selama rangkaian ujian, saya belajar banyak dari semangat kalian yang tak kunjung padam.

19. Terima kasih pula kepada Ibu Rini Sukaman, Bapak Herman, Ibu Linda, Mbak Ita, Mbak Henny, Bapak Budi, Mas Manaf, MasYanto, Mas Soheh, Ibu Rita dan Mbak Putri yang selalu membantu saya selama menjalani proses pendidikan.

20. Seluruh karyawan medis maupun non medis di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita atas bantuan dan kerjasama yang baik selama menempuh pendidikan, ilmu saya berkembang bersama kalian.

21. Secara khusus saya haturkan segala rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada kedua orangtua tercinta, ibunda Emile Fransisca dan ayahanda RM Hermantho, PhD yang telah memberikan segalanya untuk kemajuan penulis. Terima kasih juga untuk kakakku, Indah Wulandari, SH, MH, beserta suami Minar Iwan, SP, serta keponakan Muhammad Hernafi dan Jinan Nadira.

22. dr. Dewi Hapsari Suprobo, SpJP, dr. Sebastian Andy Manurung, serta peserta program pendidikan dokter spesialis ilmu penyakit jantung dan

(8)

pembuluh darah lainnya, yang telah menjadi bagian dari perjalanan proses pendidikan saya

23. Seluruh pasien yang telah menjadi guru terbaik selama proses pendidikan ini. Akhir kata, saya berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu saya selama program pendidikan ini. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi kita semua.

Jakarta, 9 Desember 2014 Penulis

Dony Yugo Hermanto

                       

(9)
(10)

ABSTRAK

Nama : Dony Yugo Hermanto

Program Studi : Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Judul : Hubungan antara Komponen Parameter Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri dengan Durasi AV Delay Optimal pada Pasien dengan Pacu Jantung Dual Chamber

Latar belakang.

Durasi AV delay (DAVD) pada pasien dengan pacu jantung dual chamber menentukan derajat sinkroni atrioventrikular (AV). Pengaturan DAVD yang optimal pada pasien dapat meningkatkan kualitas hidup dan memperbaiki parameter hemodinamik jika dibandingkan dengan pasien yang tidak dilakukan optimalisasi . Namun optimalisasi DAVD merupakan prosedur yang memakan waktu dan biaya. Perlu dicari faktor-faktor yang mempengaruhi nilai DAVD yang optimal.

Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang. Evaluasi dilakukan pada 35 pasien blok AV total dengan pacu jantung permanen dual chamber yang datang ke poliklinik RS Jantung Nasional Harapan Kita periode bulan Oktober sampai dengan pertengahan November 2014. Dilakukan pemeriksaan ekokardiografi terhadap parameter fungsi diastolik pada saat DAVD awal (DAVD pabrikan), lalu dicari DAVD optimal menggunakan VTI-LVOT terbesar.

Hasil. Terdapat korelasi lemah antara paramater fungsi diastolik rasio E/A dan nilai DAVD optimal (r - 0,356 dengan p 0,036). Analisa regresi linear antara rasio E/A dengan nilai DAVD optimal (adjusted analysis sesuai usia, fraksi ejeksi, dan DAVD pabrikan) menunjukan nilai koefisien -0.477 dengan nilai p 0,007 (IK 95% - 84.4 s.d. -14.1).

Analisa regresi linear antara nilai e' medial dengan DAVD optimal menunjukkan tingkat kemaknaan dengan nilai koefisien -0.390 dan nilai p 0.026 (IK 95% -16.3 s.d. -1.1).

Terdapat perbedaan rerataDAVD optimal, 173.46 ±42.23 ms untuk pasien dengan rasio E/A ≥ 1, dan 128.89 ± 42.5 ms untuk rasio E/A <1 (p:0.01)

Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif yang bermakna antara parameter fungsi diastolik (E/A dan e' medial) dengan DAVD optimal pada pasien dengan pacu jantung permanen

dual chamber

Kata kunci : Durasi AV Delay Optimal, diastolik, rasio E/A

(11)

ABSTRACT

Name : Dony Yugo Hermanto

Major : Cardiovascular Medicine

Title : Correlation Between Diastolic Function Parameters and Optimal AV Delay Duration in Patient with Dual Chamber Pacemaker

Background. AV Delay Duration (AVD) in patient with dual chamber pacemaker defines atrioventricular synchrony. Optimazation of AVD could improve quality of life and hemodynamic parameters compared to factory setting. Despite that, AVD optimization is a time consuming procedure and not cost effective. factors that influence the optimal AVD should be sought.

Methods. This is a cross sectional study on 35 total AV block patients that came to National Cardiovascular Center Harapan Kita from October to November 2014. Echocardiography on left ventricle diastolic indices was performed in factory setting AVD. The AVD that gives to the biggest LVOT VTI was set as the optimal AVD. Statistical analysis was done to correlate between diastolic indices and optial AVD

Results. Weak correlation was noted between diastolic indices (E/A ratio) and optimal AVD (r: - 0,356; p: 0,036). Linear regression analysis showed a negative correlation between E/A ratio {coefficient 0.477; p: 0,007 (CI 95% 84.4 to -14.1)} and medial e' {coefficient -0.390; p: 0.026 (CI 95% -16.3 to -1.1)} with optimal AVD (adjusted with age, ejection fraction, and factory setting AVD). Different E/A ratio showed a different optimal AVD mean, 173.46 ±42.23 ms for E/A ≥ 1 vs. 128.89 ± 42.5 ms for E/A <1 (p:0.01)

Conclusion. This paper shows a negative correlation between echocardiographic diastolic function indices (E/A ratio and medial e') with optimal AVD

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

BAB I PENDAHULUAN ... xiii

1. Latar Belakang ... 1 2. Perumusan Masalah ... 3 3. Pertanyaan Penelitian ... 3 4. Hipotesis ... 3 5. Tujuan Penelitian ... 3 6. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

1. Fisiologi pacu jantung ... 5

2. Sinkroni atrio-ventricular (AV) ... 6

3. Sinkroni AV pada pasien dengan pacu jantung dual chamber ... 9

4. Fungsi diastolik ... 11

5. Sinkroni AV dan fungsi diastolik ... 13

BAB III KERANGKA TEORI&KONSEP ... 15

1. Kerangka Teori ... 15

1. Kerangka Konsep ... 16

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 17

1. Desain Penelitian ... 17

2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 17

3. Subyek Penelitian ... 17

4. Pengambilan Sampel ... 17

5. Besar Sampel ... 17

6. Kriteria Inklusi dan Ekslusi ... 18

7. Identifikasi Variabel ... 18 8. Prosedur Penelitian ... 18 9. Alur Penelitian ... 19 10. Analisa statistik ... 20 11. Definisi operasional ... 20 12. Variabel-variabel ... 20

BAB V HASIL PENELITIAN ... 22

5.1 Karakteristik Subyek Penelitian ... 22

5.2 Karakteristik fungsi diastolik dari ekokardiografi ... 22

(13)

5.4 Hubungan antara komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan DAVD optimal ... 24 5.5 Perbedaan rerata DAVD optimal pada beberapa parameter diastolik .... 25 BAB VI PEMBAHASAN ... 27 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 32 BAB VIII DAFTAR PUSTAKA ... 33

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 5. 1 Karakteristik Dasar (n= 35 subyek)  ...  22  

Tabel 5. 2 Karakteristik fungsi diastolik  ...  23  

Tabel 5. 3 Rerata VTI pada DAVD yang berbeda  ...  23    

Tabel 5.4 1 Hubungan komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan DAVD optimal  ...  24  

Tabel 5.4 2 Analisa multivariat antara komponen parameter fungsi diastolik dengan DAVD optimal  ...  24  

Tabel 5.4 3 Perbedaan rerata DAVD optimal pada tiap disfungsi diastolik  .  25  

 

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 5 Hubungan DAVD dengan pola pengisian katup mitral pada ekokardiografi A. DAVD optimal dimana gelombang E dan A terpisah sempurna. B. DAVD terlalu pendek yang mengakibatkan gelombang A yang terpotong. C. DAVD terlalu panjang yang mengakibatkan adanya diastolic mitral regurgitation.8  ...  8  

Gambar 2. 6 Kurva Wiggers dan proses diatolik dalam berbagai fase. (IVR : isovolumetric relaxation, RF : Rapid filling, SF : slow filling, AC : atrial compliance, Ao : Aorta, LV : Lest ventricle, LA : Left atrium)28  ...  12  

Gambar 2. 7 Skema diagnostik disfungsi diastolik (LA: left atrium, DT : deceleration time, Av. : average, Ar : durasi A reflux dari vena pulmonalis; Val: valsava manuever)31  ...  13    

Gambar  3.  1  Kerangka  Teori  ...  15  

Gambar  3.  2  Kerangka  Konsep  ...  16    

Gambar  4  1  Alur  Penelitian  ...  19    

Gambar 5. 1. Perbedaan rerata DAVD optimal pada nilai E/A yang berbeda (p : 0.01)  ...  26  

(15)

         

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pemasangan pacu jantung untuk penanganan aritmia dengan blok konduksi telah diterapkan sebagai terapi standar. Pacu jantung permanen (PJP) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1952 dan terus berkembang dalam bentuk, ukuran, dan fungsinya hingga saat ini.2 Antara tahun 1993 s.d. 2009, terdapat 2.9 juta pasien yang dipasang PJP di Amerika Serikat (AS).3 Pada era BPJS, seluruh penduduk Indonesia memiliki akses untuk mendapatkan pelayanan PJP. Pada tahun 2019 dimana proyeksi BPJS akan meliputi seluruh rakyat Indonesia, angka implantasi PJP mungkin akan menyamai AS. Data di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita menunjukkan angka implantasi PJP sejak tahun 2012 hingga Oktober 2014 sebesar 343 kasus dengan 53% diantaranya PJP dual chamber.

Disinkroni atrioventrikular (AV) dapat menyebabkan sindrom pacu jantung karena menurunnya curah jantung. Sindrom pacu jantung adalah gejala klinis yang disebabkan oleh sinkroni AV yang suboptimal, apapun mode pacu yang digunakan.4 Link, dkk pada tahun 2004 menunjukkan bahwa prevalensi sindrom pacu jantung pada populasi pasien blok AV total (BAVT) pada pasien yang dipasang PJP single chamber sebesar 20 persen.5 Hedmann dkk menunjukkan bahwa prevalensi sindrom pacu jantung pada pasien dengan disfungsi nodus sino-atrial yang dipasang PJP single chamber di ventrikelsebesar 83%.6 Pada pasien dengan PJP dual chamber, sinkroni AV ditentukan oleh durasi AV delay (DAVD). Nilai DAVD merupakan parameter PJP yang dapat kita atur. DAVD optimal adalah DAVD yang memberikan curah jantung terbesar untuk pasien. Nilai DAVD optimal pada tiap orang menunjukkan hasil yang relatif berbeda karena karakter elektrofisiologi bersifat unik untuk tiap pasien. Bila tidak dilakukan pengaturan atau optimalisasi, DAVD yang dipakai pasien akan sesuai dengan DAVD yang ditentukan pabrik pembuatnya. Klimczak, dkk menemukan 87.5% pasien dengan PJP dual chamber memiliki DAVD optimal yang berbeda dengan DAVD dari pabrik.7 Nilai DAVD dari pabrik untuk PJP merk Medtronic dan St Jude berbeda masing-masing 150 ms dan 170 ms berurutan.

(17)

Penelitian dari Osman dkk tahun 2014 pada 40 pasien dengan pacu jantung DDD, menunjukkan perbaikan dalam parameter isi sekuncup, global longitudinal strain, dan kadar BNP pada pasien yang dilakukan optimalisasi DAVD. Freilingsdorf dkk, melakukan penelitian pada 13 pasien dengan DDD yang dilakukan optimalisasi DAVD dibandingkan dengan yang tidak. Didapatkan hasil perbaikan fraksi ejeksi (EF) saat istirahat sebesar 51%±10% pada optimal DAVD berbanding 44%±11% pada DAVD dari pabrik. Klimczak, dkk pada tahun 2014 juga meneliti 37 pasien dengan PJP DDD. Dilakukan optimalisasi DAVD pada satu kelompok, sedangkan kelompok lain tetap menggunakan DAVD dari pabrik. Didapatkan hasil perbaikan curah jantung, isi sekuncup, indeks kardiak setelah evaluasi 3 bulan. Juga terdapat perbaikan parameter klinis berupa proBNP, kelas fungsional dari New York Heart Association (NYHA), dan jarak tes jalan 6 menit yang signifikan. Dapat disimpulkan bahwa optimalisasi DAVD merupakan hal yang penting dan dapat memperbaiki luaran klinis maupun parameter hemodinamik pada pasien dengan pacu jantung DDD.

Optimalisasi DAVD merupakan prosedur yang memakan waktu dan tidak seimbang dengan biayanya. Oleh karena itu prosedur optimalisasi masih jarang dilakukan pada praktek sehari-hari. Ketersediaan alat pemrogram di Indonesia hanya terbatas di kota besar. Saat ini di Indonesia terdapat 12 orang electrophysiologist aktif dan 40 orang tenaga ahli pemasangan pacu jantung permanen/ PJP implanters yang hanya terpusat di kota besar. Dibandingkan electrophysiologist, implanters jarang melakukan modifikasi atau reprogramming PJP secara berkala, sehingga pada sebagian besar kasus, optimalisasi DAVD tidak dilakukan. Untuk itu diperlukan studi yang mencari faktor-faktor yang mempengaruhi DAVD optimal, agar kelak penentuan DAVD dapat menggunakan pemeriksaan penunjang yang lebih sederhana seperti ekokardiografi. Penelitian mengenai hubungan DAVD dengan fungsi diastolik belum banyak dikerjakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi DAVD optimal sampai saat makalah ini ditulis belum diketahui secara pasti. Fungsi diastolik dipikirkan merupakan faktor yang menentukan karena sinkroni AV delay terletak pada periode diastolik. DAVD menentukan awitan kontraksi atrial saat diastol. DAVD yang terlalu pendek akan menyebabkan katup mitral tertutup prematur saat akhir diastol, sedangkan DAVD

(18)

terlalu panjang akan menyebabkan fusi gelombang E-A dan regurgitasi mitral saat diastol. Hal ini menyebabkan DAVD berperan dalam besaran fase pengisian ventrikel saat diastol yang pada akhirnya juga menentukan isi sekuncup sesuai dengan hukum Frank Starling. Dengan pemikiran demikian maka peneliti mencoba menghubungkan antara fungsi diastolik dengan nilai DAVD yang optimal. Oleh karena terdapat banyak komponen fungsi diastolik yang didapatkan dari ekokardiografi, peneliti mencoba menganalisa masing-masing komponen tersebut.

2. Perumusan Masalah

Belum adanya data penelitian yang melihat hubungan antara komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan DAVD optimal

3. Pertanyaan Penelitian

Adakah hubungan antara komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan nilai DAVD yang optimal pada pasien dengan PJ dual chamber.

4. Hipotesis

Terdapat hubungan antara komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan DAVD optimal pada pasien dengan PJP dual chamber

5. Tujuan Penelitian

Mengetahui hubungan antara komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan nilai DAVD optimal pada pasien dengan PJP dual chamber

6. Manfaat Penelitian 6.1 Bidang Akademik

Penelitian ini memberikan pengetahuan mengenai faktor determinan DAVD optimal yang didasari parameter fungsi diastolik ventrikel kiri.

6.2 Bidang Klinis

Penelitian ini dapat menjadi dasar penentuan DAVD optimal pada tiap pasien dengan pacu jantung DDD.

(19)

6.3 Bidang Penelitian

Penelitian ini menjadi dasar penelitian selanjutnya mengenai peranan parameter fungsi diastolik dalam sinkronisasi kontraksi atrium dan ventrikel.

(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Fisiologi pacu jantung

Penempatan lead PJ di ventrikel kanan pada sebagian besar kasus akan mengubah fisiologi normal aktivasi ventrikel secara sekuensial. Pada keadaan normal, impuls yang berasal dari nodus sino-atrial (SA) akan diteruskan ke atrium kiri dan nodus atrio-ventrikular (AV). Depolarisasi normal atrium umumnya memakan waktu 100 ms. Setelah itu impuls akan masuk ke nodus AV, dimana terjadi perlambatan konduksi dengan durasi kurang lebih 80 ms. Dari nodus AV, impuls akan masuk ke bundel His dan sistem His-Purkinje (SHP).8Impuls yang melalui SHP berjalan dengan kecepatan rerata 3-4 m/s, atau sekitar 4x lebih cepat dari penjalaran impuls antar sel miokard ventrikel. Hal ini berkaitan dengan ukuran sel yang lebih besar dan jumlah gap junction yang lebih banyak pada SHP.9-11 Jaringan SHP terpisah dari miokard secara elektris dan hanya berhubungan melalui Purkinje-myocard junction yang terletak di lapisan subendocardial anterolateral ventrikel kanan dan inferolateral ventrikel kiri. Dari tempat inilah depolarisasi normal ventrikel terjadi. Aktivasi ventrikel kiri terjadi sekitar 10 ms lebih awal dibanding aktivasi ventrikel kanan.12 Sekuens aktivasi jantung dapat dilihat di Gambar 2.1.

Impuls yang berasal dari PJ akan mengaktivasi ventrikel di tempat implantasinya menuju seluruh bagian ventrikel. Impuls tadi akan menyebar ke seluruh miokard ventrikel melalui konduksi antar-sel miokard (Gambar 2.2). Konduksi antar sel miokard seperti telah dijelaskan sebelumnya memiliki kecepatan yang lebih rendah dibandingkan konduksi melalui SHP. Pada Gambar 2. 1 Kecepatan konduksi listrik pada tiap bagian jantung

(21)

implantasi PJ di ventrikel kanan, aktivasi ventrikel kiri akan dimulai dari septum interventrikel lalu menuju dinding bebas ventrikel kiri. Dinding inferoposterior merupakan bagian terakhir yang teraktivasi pada PJ di ventrikel kanan. Keterlambatan aktivasi ventrikel kiri dibanding kanan umumnya selama 50-70 ms. Hal ini menyebabkan terjadinya disinkronisasi kontraksi interventrikel dan intraventrikel yang pada akhirnya akan mengurangi isi sekuncup dan curah jantung seperti yang dilaporkan oleh Mitchell, dkk (Gambar 2.3).13

2. Sinkroni atrio-ventricular (AV)

Indikasi awal pemasangan PJ adalah AV blok total. Saat itu pemasangan PJ ditujukan untuk menjamin adanya aktivasi ventrikel. Penanaman lead umumnya dilakukan hanya di ventrikel. Stimulus listrik secara selektif diberikan pada ventrikel. Dengan mode pacu ini (single-chamber), kontraksi atrium dan ventrikel menjadi terpisah. terjadi asinkroni antara awitan kontraksi atrium dan

Gambar 2. 2 Pola penyebaran impuls listrik pada pasien dengan pacu jantung  

Gambar 2. 3

Penurunan curah jantung saat pasien diberikan pacu di ventrikel.1

(22)

ventrikel. Hal ini mengakibatkan preload yang berbeda dari denyut satu ke denyut lainnya yang akan mengakibatkan variasi dalam isi sekuncup, curah jantung, dan tekanan darah.8

Kontraksi atrium terjadi sebelum kontraksi ventrikel dan hal ini menambah volume ventrikel sebesar ± 20 persen.14 Atrium memiliki 3 fungsi dasar yaitu sebagai reservoir, konduit, dan pompa. Hal ini sering disebut sebagai atrial kick. Adanya atrial kick akan memperkuat kontraktilitas ventrikel sebagaimana dijelaskan oleh hukum Frank-Starling. Pompa atrial berperan sebesar 26±3%, 38±4%, 19±6% berurutan pada fungsi diastolik yang normal, gangguan relaksasi, dan gangguan restrikstif (Gambar 2.4).14 Karena hal itu, dinkronisasi kontraksi atrium dan ventrikel memegang peranan penting dalam besaran curah jantung dan dapat meningkatkan curah jantung sebesar 25-30% serta menurunkan tekanan atrium kiri.13 Awitan kontraksi dari atrium yang optimal adalah sesaat sebelum fase kontraksi isovolumetrik. Pada EKG normal, hal ini tercermin sebagai interval PQ. Kontraksi yang terlalu awal akan menyebabkan hilangnya fungsi pompa atrial dan dapat menyebabkan terjadinya regurgitasi katup mitral saat diastol. Sebaliknya, kontraksi atrium yang terlambat akan mengakibatkan berkurangnya waktu fase pompa atrial karena penutupan awal katup AV (Gambar 2.5). Karena hal itu, sinkroni AV memegang peranan penting dalam besaran curah jantung. Awitan kontraksi atrium terhadap kontraksi ventrikel memegang peranan penting.

(23)

A   B  

C  

Gambar 2. 5 Hubungan DAVD dengan pola pengisian katup mitral pada ekokardiografi

A. DAVD optimal dimana gelombang E dan A terpisah sempurna. B. DAVD terlalu pendek yang mengakibatkan gelombang A yang terpotong. C. DAVD terlalu panjang yang mengakibatkan adanya diastolic mitral regurgitation.8

(24)

Tabel 2. 1 Nilai DAVD optimal dari berbagai penelitian

3. Sinkroni AV pada pasien dengan pacu jantung dual chamber

Pada pasien dengan PJ permanen dengan pemasangan lead di dua kamar (atrium dan ventrikel), sinkroni kontraksi atrium dan ventrikel ditentukan oleh DAVD. DAVD optimal merupakan DAVD yang memberikan nilai curah jantung atau isi sekuncup terbesar untuk pasien tersebut. DAVD yang terlalu pendek akan mengakibatkan kontraksi atrium terlambat dan DAVD yang panjang akan menyebabkan kontraksi atrium terlalu awal. Curah jantung dapat meningkat sebesar 4% hingga 20 persen saat DAVD ditingkatkan secara progresif dari 0 hingga 100-130 ms.15,16 Penelitian dari Haskel, dkk tahun 1988 terhadap 10 pasien dengan PJ DDDR menunjukkan DAVD optimal pada angka 150-200 ms dengan menggunakan kurva doppler untuk menentukan besaran curah jantung.17 Mehta, dkk pada penelitiannya terhadap 13 pasien dengan PJ DDD saat istirahat menunjukkan DAVD optimal pada angka 140-150 ms.16 Beberapa penelitian lain juga menunjukkan hasil yang relatif berbeda seperti yang dapat dilihat pada tabel 2.1. Pemasangan PJ di dua kamar sejatinya memerlukan optimasi dari pengaturan elektrofisiologis yang bersifat unik untuk tiap pasien. Namun umumnya optimasi ini jarang dilakukan pada praktek sehari-hari yang terutama disebabkan karena prosedur yang memakan waktu lama, biaya, dan kesulitan pengukuran.18

Penelitian Subyek Metode (Luaran) n DAVD

optimal Haskel dkk, 198817 TAVB+DDDR Echo (CJ) 10 150-200 ms

Mehta dkk, 198916 TAVB+DDD Echo (CJ) 13 140-150 ms

Crystal dkk, 199919 AVB+DDD Impedans (CJ) 19 155±64 ms

Ritter dkk, 199920 AVB+DDD Echo (CJ) 19 179±25 ms

PEA (CJ)* 19 202±21 ms Ishikawa dkk, 199921 AVB+DDD Swan-Ganz (CJ,dP/dT) 8 161±33 ms

Melzer dkk, 200422 TAVB+DDD EF ≥ 35% EF < 35% VRN (CJ)+ 10 10 190±28 ms 180±35 ms Porciani dkk, 200423 TAVB+DDD Echo (CJ) 25 148±36 ms

Ioannis dkk, 200424 TAVB+DDD Echo (fx diastolik) 22 100-150 ms

Wu dkk, 200625 TAVB+DDD EKG 46 140-230 ms

(25)

Terdapat berbagai macam metode untuk menentukan DAVD optimal. Terdapat 3 metode utama yang sering dipakai yaitu predefined, iterative, dan otomatis. Metode predefined menggunakan formula yang telah ditetapkan dalam beberapa penelitian. DAVD hasil perhitungan dianggap merupakan DAVD optimal seperti yang ditunjukkan oleh penelitian dari Ritter, Ismer, Ishikawa, Mezulin, dkk. Metode iterative merupakan metode yang tersering digunakan. Metode ini umumnya menggunakan doppler ekokardiografi atau pemeriksaan non invasif lain seperti radiologi nuklir, invasif hemodinamik, dll. Nilai paramater hemodinamik terbaik yang dicapai dibandingkan dengan nilai DAVD untuk mendapatkan hasil yang optimal. Metode otomatis umumnya digunakan pada cardiac resynchronization therapy (CRT) dengan pengukuran kontinu parameter hemodinamik dan penyesuaian DAVD sesuai algoritmenya. Setiap metode dapat dilakukan evaluasi hemodinamik segera dengan mengukur fraksi ejeksi (EF) ventrikel kiri, dP/dt, isi sekuncup, dan curah jantung melalui pengukuran invasif atau non invasif.18

Pengaturan DAVD yang optimal terbukti dapat memperbaiki baik parameter hemodinamik maupun parameter klinis. Nilai DAVD tanpa optimalisasi umumnya berdasarkan nilai baku yang ditetapkan di pabrik dan berbeda antara tiap alat. Penelitian dari Osman dkk tahun 2014 pada 40 pasien dengan pacu jantung DDD, menunjukkan perbaikan dalam parameter isi sekuncup, global longitudinal strain, dan kadar BNP pada pasien yang dilakukan optimalisasi DAVD.26 Freilingsdorf dkk, melakukan penelitian pada 13 pasien dengan DDD yang dilakukan optimalisasi DAVD dibandingkan yang tidak. Didapatkan hasil perbaikan EF saat istirahat sebesar 51%±10% pada optimal DAVD berbanding 44%±11% pada DAVD yang tidak diatur.27 Klimczak, dkk pada tahun 2014 juga meneliti 37 pasien dengan pacu jantung DDD. Dilakukan optimalisasi DAVD pada satu kelompok, sedangkan kelompok lain tetap menggunakan DAVD sesuai DAVD pabrikan tanpa diatur. Didapatkan hasil perbaikan curah jantung, isi sekuncup, indeks kardiak setelah evaluasi 3 bulan. Juga terdapat perbaikan parameter klinis berupa proBNP, kelas fungsional dari New York Heart Association (NYHA), dan jarak tes jalan 6 menit yang signifikan.7

(26)

4. Fungsi diastolik

Fungsi diastolik merupakan suatu proses yang kompleks dan berhubungan dengan banyak faktor. Beberapa faktor diketahui mempengaruhi mekanisme pengisian ventrikel pada fase diastol. Faktor ini antara lain relaksasi ventrikel, daya hisap diastolik, efek koroner, faktor vikoelastik miokard, tahanan pericard, interaksi interventrikel, dan kontribusi atrium.28 Konsep ini disederhanakan dengan membagi fase diatolik menjadi 4 fase, yaitu fase relaksasi isovolumetrik, fase pengisian cepat ventrikel, fase diastasis, dan fase pompa atrium.29,30 Nishimura, dkk membagi siklus jantung Wiggers menjadi fase kontraksi, relaksasi, dan pengisian diastolik (Gambar 2.6).28 Fase kontraksi meliputi ejeksi isovolumetrik dan setengah bagian dari ejeksi sistolik dengan transisi ke relaksasi. Fase relaksasi meliputi setengah bagian ejeksi sistolik, relaksasi isovolumetrik, dan fase pengisian cepat. Relaksasi ventrikel adalah rerata dan durasi dari penurunan tekanan di ventrikel setelah proses sistolik dan merupakan proses yang memerlukan energi. Fase pengisian diastolik adalah fase pengisian lambat (diastasis) dan kontraksi atrium. Awal fase pengisian diastolik sangat tergantung dari kelanjutan proses relaksasi VK. Determinan mayor untuk proses pengisian ventrikel adalah relaksasi ventrikel dan komplians ventrikel. Pada beberapa keadaan seperti disfungsi miokard, abnormalitas relaksasi umumnya terjadi lebih dulu dibandingkan dengan abnormalitas sistolik.28 Inaktivasi ventrikel yang terlambat, pengurangan beban ventrikel, dan daya relaksasi yang tidak seragam, mengakibatkan mekanisme diastol terganggu.29 Hal ini mengurangi kemampuan relaksasi ventrikel dalam fase pengisian cepat. Umumnya hal ini diikuti dengan peningkatan fase kontraksi atrium. Compliance adalah properti pasif dari VK saat menerima darah dari atrium kiri. Compliance didefinisikan sebagai kemampuan VK untuk mempertahankan tekanan dalam perubahan volume. Beberapa interaksi kompleks terjadi pada fase ini, seperti relaksasi VK, daya hisap diastolik, fase pengisian pasif, tahanan pericard, interaksi interventrikular, dan faktor viskoelastik miokard.28 Gangguan compliance dapat disebabkan oleh peningkatan kekakuan miokard, peningkatan tahanan pericard, atau peningkatan volume VK yang berlebihan.

(27)

Disfungsi diastolik dapat dinilai dengan pemeriksaan ekokardiografi. Penilaian fungsi diastolik ini masih terus berkembang dengan ditemukannya berbagai parameter baru yang dapat menilai fungsi diastolik ventrikel kiri dan left ventricle end diastolic pressure (LVEDP). Penilaian fungsi diastolik terbaru dapat dilihat dari skema diagnostik yang dikeluarkan America Society of Echocardiography tahun 2009 (Gambar 2.7).31

Gambar 2. 6 Kurva Wiggers dan proses diatolik dalam berbagai fase. (IVR :

isovolumetric relaxation, RF : Rapid filling, SF : slow filling, AC : atrial compliance, Ao : Aorta, LV : Lest ventricle, LA : Left atrium)28

(28)

Gambar 2. 7 Skema diagnostik disfungsi diastolik (LA: left atrium, DT : deceleration time, Av. : average, Ar : durasi A reflux dari vena pulmonalis; Val: valsava manuever)31 5. Sinkroni AV dan fungsi diastolik

Proses diastolik dipengaruhi oleh sinkroni AV dalam beberapa hal. Galderisi, dkk meneliti hubungan antara gambaran fungsi diastolik VK pada ekokardiografi dengan laju nadi dan gambaran EKG. Didapatkan adanya hubungan terbalik antara laju nadi dengan besar E, rasio E/A, VTI E/A. Hubungan positif terdapat pada besar A dan fraksi pengisian atrium. Sementara interval segmen PR pada EKG berhubungan terbalik dengan VTI E/A, dan sebanding dengan fraksi pengisian atrium.32 Penelitian dari Silva, dkk tahun 2008 juga membuktikan bahwa subjek disfungsi diastolik grade I bila dibandingkan dengan yang normal, gambaran EKG PR interval lebih panjang.33 Diketahui bahwa DAVD merefleksikan interval PR/PQ pada EKG. DAVD mempengaruhi fungsi diastolik dalam perannya terhadap pola pengisian katup mitral. Penelitian dari Ioannis, dkk tahun 2004 pada 22 pasien dengan PJ dual chamber menujukkan bahwa DAVD yang berbeda mempengaruhi pola pengisian katup mitral. DAVD yang pendek memberikan fungsi diastolik yang lebih baik. DAVD pada 100-150 ms jika dibandingkan dengan DAVD pada 200 ms memberikan rasio E/A (0.90±0.25 vs. 0.54±0.13), durasi pengisian VK (0.4±0.06 vs. 0.33±0.05), dan kadar ANP yang lebih baik.24 Hal ini juga didukung oleh penelitian Leonelli, dkk dimana nilai DAVD optimal dicapai pada angka 140 ms.34 Penelitian Modena,

(29)

dkk juga menunjukkan bahwa perubahan DAVD ke 100 ms menormalisasi pola pengisian katup mitral.35 Dari 3 penelitian di atas didapatkan bahwa DAVD yang memberikan pola pengisian katup mitral yang optimal terlatak pada rentang 100-150 ms. Hal ini berbeda dengan apa yang didapatkan dalam penentuan DAVD optimal berdasarkan besaran curah jantung yang umumnya berkisar antara 150-200 ms. Mekanisme penyebab hal ini belum diketahui pasti.

(30)

BAB III

KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN ALUR PENELITIAN

1. Kerangka Teori Gambar  3.  1  Kerangka  Teori

Pemasangan  pacu  jantung  

Disinkroni  kontraksi  atrium  &   ventrikel  

Optimalisasi  DAVD   Gangguan  diastolik  

Truncated  A  wave   Diastolic  MR  

Penurunan  DFT  

Gangguan  Diastolik   Fungsi  diastolik   Relaksasi ventrikel Daya hisap diastolik

Efek koroner Faktor vikoelastik miokard

Tahanan pericard Interaksi interventrikel

Kontribusi atrium  

Perbaikan  fungsi  diastolik   Peningkatan  rasio  E/A   Peningkatan  DFT    

Perbaikan  fungsi  diastolik  

Peningkatan  CJ  

Peningkatan  kualitas  hidup   Peningkatan  6MWD  

(31)

1. Kerangka Konsep Gambar  3.  2  Kerangka  Konsep

 

Parameter fungsi

diastolik

ekokardiografi

(E/A, DT, IVRT, e', a'

E/e’)

 

Nilai DAVD optimal

Latensi capture miokard

Intra-atrial conduction delay

Disfungsi sistolik ventrikel kiri DAVD pabrikan Usia Laju Nadi Level katekolamin Variable  Independen   Variable  Dependen   Variable  Perancu  

(32)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan studi potong lintang.

2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta mulai Oktober hingga November 2014.

3. Subyek Penelitian

Pasien BAVT dengan pacu jantung dual chamber yang datang ke poliklinik Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK).

4. Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive pada pasien BAVT dengan pacu jantung dual chamber yang datang ke poliklinik PJNHK.

5. Besar Sampel

Perhitungan besar sampel dilakukan dengan menggunakan rumus besar sampel korelasi yaitu :

Indeks kepercayaan (alpha) pada penelitian ini adalah 95% dengan Zα = 1,96. Kekuatan penelitian adalah sebesar 70% sehingga Zβ =0,524. Oleh karena belum ada penelitian sebelumnya yang serupa maka nilai r diambil dari studi pendahuluan pada 11 pasien. Didapatkan nilai r : 0.532. Jumlah sampel minimal berdasarkan perhitungan di atas adalah 21 pasien.

(

)

(

0

.

5

ln[(

1

/(

1

)]

)

3

2 1

⎥

+

⎦

⎤

⎢

⎣

⎡

+

+

=

r

r

Z

Z

n

α β

(33)

6. Kriteria Inklusi dan Ekslusi Kriteria Inklusi:

• Pasien BAVT dengan pacu jantung dual chamber

Kriteria Eksklusi

• Jendela ekokardiografi yang buruk • Fibrilasi atrium

• Abnormalitas konduksi inter dan intra atrial yang dinilai dari durasi

gelombang p EKG > 120 ms

• Laju nadi di atas 90 denyut/menit • Fraksi Ejeksi kurang dari 40% • Usia <20 tahun

7. Identifikasi Variabel Variabel Independen :

• Fungsi diastolik ventrikel kiri (E/A, E/e', E'medial, E'lateral, a', E'/A',

IVRT, DT) Variabel Dependen :

• Nilai DAVD optimal

8. Prosedur Penelitian

• Penelitian dikerjakan di Departemen Kardiologi & Kedokteran Vaskular

FKUI / Pusat Jantung Nasional Harapan Kita; melibatkan pasien dengan riwayat pemasangan PJP dual chamber

• Pasien poliklinik RS PJNHK yang memenuhi kriteria inkulsi dan eksklusi

dimintakan persetujuan untuk mengikuti penelitian

• Diambil data dasar dari rekam medis berupa indikasi pemasangan PJP,

riwayat penyakit, dan obat-obatan yang dikonsumsi

• Dilakukan interogasi PJP awal untuk melihat mode PJP dan DAVD

pabrikan

• Dilakukan pemeriksaan ekokardiografi fungsi sistolik dan diastolik dengan

DAVD pabrikan (fraksi ejeksi, E/A, E/e', E'medial, E'lateral, a', E'/A', IVRT, DT) dengan alat ekokardiografi GE Vivid 7 Ultrasound

(34)

• Pemeriksaan ekokardiografi dilakukan oleh sonografer yang telah terlatih.

Hasil pemeriksaan dianalisa secara offline menggunakan software EchoPac.

• Laju nadi PJP diatur pada 90 x/menit

• Dilakukan pemeriksaan Doppler pulse wave dengan volume sampel di

LVOT dengan menghitung Velocity Time Integral (VTI) pada DAVD pabrikan

• Pemeriksaan VTI-LVOT dilakukan 10 detik setelah perubahan setting

DAVD

• Dilakukan pemeriksaan ekokardiografi Doppler di LVOT dengan

menghitung VTI pada DAVD 100 ms; 120 ms; 150 ms; 180 ms; 200 ms; 220 ms

• Nilai VTI tertinggi dari DAVD terkait dicatat sebagai DAVD optimal • Dilakukan analisa fungsi diastolik serta pembagian derajat disfungsi

berdasarkan rekomendasi dari American Society of Echocardiography31.

9. Alur Penelitian Gambar  4  1  Alur  Penelitian

Pasien  dengan  PJP  

dual  chamber  

Pengambilan   ekokardiografi  fungsi  

distolik  dan  sistolik   pada  DAVD  pabrikan  

Dilakukan  optimalisasi   DAVD  berdasarkan  

(35)

10. Analisa statistik

Data numerik ditampilkan dalam nilai rerata ± simpang deviasi. Data diuji dengan analisa statistik korelasi Pearson. Uji perbandingan rerata menggunakan independent t-test. Data diolah dengan perangkat lunak SPSS 14.

11. Definisi operasional

• DAVD : Durasi AV delay adalah durasi antara pacing atau sensing di lead

atrial dengan pacing di ventrikel. Nilai ini ada pada setiap PJP dual chamber.

• DAVD optimal : nilai DAVD yang sesuai dengan curah jantung terbesar

pada pasien. Nilai curah jantung terbesar didapatkan dari pengalian antara velocity time integral (VTI), yang diukur dengan pulse wave doppler pada jalur keluar ventrikel kiri (LVOT), dengan laju nadi. Oleh karena laju nadi dibuat sama, nilai VTI tertinggi merefleksikan curah jantung terbesar. Setiap pasien dilakukan pengukuran VTI di LVOT pada DAVD 100 ms, 120 ms, 150 ms, 180 ms, 200 ms, dan 220 ms. DAVD yang memberikan nilai VTI tertinggi ditetapkan sebagai DAVD optimal.

• Gagal jantung : Diagnosis gagal jantung diambil dari data rekam medis

sesuai dengan diagnosis akhir pasien yang dirawat

• Penyakit jantung koroner : Diagnosis penyakit jantung koroner diambil

dari data rekam medis sesuai dengan diagnosis akhir pasien yang dirawat

• Penyakit jantung katup : Diagnosis penyakit jantung katup diambil dari

data rekam medis sesuai dengan diagnosis akhir pasien yang dirawat

• Disfungsi diastolik : Definisi disfungsi diastolik menggunakan

rekomendasi dari American Society of Echocardiography31. Disfungsi diastolik dibagi menjadi normal, disfungsi grade I (gangguan relaksasi), disfungsi grade II (gangguan compliance), dan disfungsi grade III (gangguan restriktif)

12. Variabel-variabel

A. Variabel yang dicatat dari Rekam Medis 1. Usia

(36)

4. Obat-obatan yang diminum 5. Penyakit jantung penyerta

B. Variabel yang dicatat dari alat programmer PJP 1. Mode PJP

2. DAVD pabrikan 3. Merk dan tipe PJP

C. Variabel yang dicatat dari Ekokardiografi 1. Fraksi ejeksi sebelum optimalisasi 2. E/A sebelum optimalisasi

3. E/e' sebelum optimalisasi

4. Deceleration Time sebelum optimalisasi 5. IVRT sebelum optimalisasi

7. VTI LVOT sebelum optimalisasi 8. VTI LVOT pada DAVD 100 ms 9. VTI LVOT pada DAVD 120 ms 9. VTI LVOT pada DAVD 150 ms 10. VTI LVOT pada DAVD 180 ms 10. VTI LVOT pada DAVD 200 ms 11. VTI LVOT pada DAVD 220 ms

(37)

BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Subyek Penelitian

Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada periode Oktober - November 2014 sebanyak 35 subyek. Karakteristik pasien dapat dilihat pada tabel 5.1 yang disajikan dengan nilai rerata ± simpang baku untuk data numerik, dan persentase untuk data kategorik. Sebagian besar subyek adalah perempuan.

Tabel 5. 1 Karakteristik Dasar (n= 35 subyek)

Variabel Nilai Rerata±Standar Deviasi

Usia (tahun) 61.23 ± 16.8

Perempuan 22 (55%)

Komorbiditas Gagal jantung

Penyakit jantung koroner

3 (11.4%) 6 (17.1%) Penyakit katup jantung

Medikasi ACE-I Beta-blocker CCB-DP Fraksi ejeksi (%) 1 (2.8%) 10 (28.6%) 5 (14.3%) 4 (11.4%) 58.8 ± 10.3 Tahun pemasangan DAVD pabrikan (ms) 2012 ± 2.7 156.86 ± 9.6

5.2 Karakteristik fungsi diastolik dari ekokardiografi

Karakter fungsi diastolik berdasarkan ekokardiografi pada subyek terlihat pada tabel 5.2. Definisi disfungsi diastolik menggunakan rekomendasi dari American Society of Echocardiography (Gambar 7).36 Disfungsi diastolik didasarkan nilai e' septal < 8 atau e' lateral < 10. Disfungsi diastolik didapatkan pada 68.6% subyek (51.4% Grade I, 14.3% Grade II, 2.9% grade III). Pola dari mitral inflow dapat dilihat dari rasio E/A. Pada penelitian ini, 74 persen dari

(38)

mitral inflow terlihat pada 54.3% subyek. Pemanjangan deceleration time > 220 ms didapatkan pada 22.9% subyek. Sebagian besar subyek (65.7%) memiliki DAVD pabrikan 150 ms, sisanya dengan DAVD pabrikan 170 ms. Fusi antara gelombang E dan A terdapat pada 54.3% subyek pada pengukuran mitral inflow saat DAVD pabrikan (68% pada DAVD 150 ms; 31% pada DAVD 170 ms). Tabel 5. 2 Karakteristik fungsi diastolik

Variabel Nilai Rerata±Standar Deviasi

E/A 0.95 ± 0.56 e' medial e' lateral E/e' 6.94 ± 2.0 8.2 ± 2.7 10.15 ± 4.2 e'/a' 0.78 ± 0.30 Deceleration Time 186.91 ± 64.7 IVRT 108.08 ± 35

5.3 Rerata DAVD optimal pada subyek

Nilai rerata DAVD optimal pada 35 subyek adalah 162 ± 46.1 ms. Tabel 5.3 memperlihatkan nilai VTI rerata pada tiap DAVD yang berbeda. Bila dilakukan analisa pada nilai VTI pada DAVD yang berbeda, tampak nilai VTI tidak jauh berbeda untuk tiap DAVD.

Tabel 5. 3 Rerata VTI pada DAVD yang berbeda

DAVD (ms) Nilai Rerata±Standar Deviasi

100 16.69 ± 3.6 120 16.95 ± 3.9 150 16.84 ± 4.0 180 16.70 ± 4.1 200 16.35 ± 3.5 220 16.43 ± 3.8

(39)

5.4 Hubungan antara komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan DAVD optimal

Dilakukan uji korelasi Pearson antara berbagai parameter diastolik ventrikel kiri dengan nilai DAVD optimal. Hasil dari uji korelasi menunjukkan adanya korelasi lemah antara fungsi diastolik ventrikel kiri (E/A) dengan nilai DAVD optimal dengan (r: -0.356; p : 0.036). Hasil uji korelasi dengan parameter fungsi diastolik lain tidak menunjukkan hasil yang bermakna. Hasil uji korelasi dapat dilihat pada tabel 5.4.1

Tabel 5.4 1 Hubungan komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan DAVD optimal

Variabel Nilai r Nilai p

E/A -0.356 0.036 E'medial -0.256 0.138 E'lateral 0.013 0.940 E/e' E'/A' -0.134 0.102 0.441 0.560 DT 0.019 0.915 IVRT -0.054 0.760

Dari hasil analisa bivariat di atas, dilakukan analisa multivariat dengan faktor perancu usia, fraksi ejeksi, dan DAVD pabrikan. Setelah dilakukan analisa multivariat didapatkan rasio E/A (p: 0.007) dan e' medial (p: 0.026) yang berkorelasi dengan DAVD optimal. (tabel 5.4.2).

Tabel 5.4 2 Analisa multivariat antara komponen parameter fungsi diastolik dengan DAVD optimal

Variabel β IK 95% p E/A -49.64 14.8 - 84.4 0.007 E'medial -8.7 1.1 - 16.3 0.026 Usia -0.16 -1.1 - 0.7 0.106 DAVD pabrikan 0.60 -0.9 - 2.1 0.431 Fraksi ejeksi 122.5 -33.2 - 278 0.119

(40)

signifikan (nilai p : 0.217) untuk perbedaan rerata antar grup. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.4.3.

Tabel 5.4 3 Perbedaan rerata DAVD optimal pada tiap disfungsi diastolik Fungsi diatolik Nilai Rerata±Standar Deviasi Nilai p

Normal 153.64 ± 44 ms

Disfungsi diastolik grade I 175.56 ± 45 ms 0.217 Disfungsi diastolik grade II 144 ± 43 ms

Disfungsi diastolik grade III 100 ms

5.5 Perbedaan rerata DAVD optimal pada beberapa parameter diastolik Peneliti mencoba mencari apakah terdapat perbedaan rerata DAVD optimal pada tiap parameter fungsi diastolik ventrikel kiri. Ditemukan perbedaan rerata yang bermakna antara 2 kelompok fungsi diastolik yang berbeda bila berdasarkan pola mitral inflow (E/A). Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.5 dan gambar 8.

Tabel 5.5 Perbedaan rerata DAVD optimal pada beberapa parameter diastolik  

Variabel Rerata DAVD optimal (ms) Nilai p

E/A ≥1 <1 0.01 128.89 ± 42.5 173.46 ±42.23 E'/A' <1 ≥1 0.985 162.07 ± 48 161.67 ± 39 E' medial ≥8 <8 0.476 165.8 ± 47.1 153.6 ± 44.7 E' lateral ≥10 <10 0.789 159.09 ± 44.5 163.3 ± 47.7 E/e' ≤8 >8 0.874 164 ± 50 161.2 ± 45

(41)

Gambar 5. 1. Perbedaan rerata DAVD optimal pada nilai E/A yang berbeda (p : 0.01)

128.89 ± 42.5  

(42)

BAB VI PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi yang bermakna antara komponen parameter fungsi diastolik ventrikel kiri dengan DAVD optimal. Komponen parameter fungsi diastolik yang bermakna adalah rasio E/A dan e' medial. Rasio E/A menunjukkan korelasi negatif terhadap nilai DAVD optimal. Belum pernah ada yang meneliti tentang hubungan parameter fungsi diastolik dengan DAVD optimal sebagai variabel dependennya.

Penelitian ini mendapatkan adanya hubungan antara pola mitral inflow (E/A) dengan DAVD optimal (r:-0.356, p: 0.036). Penelitian tentang hubungan fungsi diastolik (E, A, rasio E/A) dengan DAVD diantaranya dilakukan oleh Ioannis, dkk tahun 2004.24 Penelitian dilakukan pada 22 subyek, dimana dilakukan pacu dengan DAVD 100 ms; 150 ms; dan 200 ms. Setelah pacu, diukur komponen mitral inflow (E/A) masing-masing dengan ekokardiografi. Dari penelitian ini didapatkan bahwa variasi DAVD mempengaruhi pola mitral inflow pada subyek. Rasio E/A dipengaruhi oleh usia subyek. Pada usia di atas 60 tahun, rasio E/A normalnya berada pada kisaran 0.96 ± 0.18.31,37 Oleh karena itu dilakukan analisa multivariat terhadap faktor perancu usia dan faktor perancu lain seperti DAVD pabrikan, dan fraksi ejeksi. Hasil analisa tetap menunjukkan adanya korelasi yang signifikan dan variabel usia tidak berkorelasi.

Penelitian ini kemudian mencoba melakukan perbandingan antara 2 kelompok berdasarkan rasio E/A, dengan pemikiran bahwa pada subyek dengan rasio E/A <1 terdapat pola pengisian atrial yang lebih dominan. Penelitian dari Prioli, dkk tahun 1998 menemukan bahwa subyek dengan gangguan relaksasi rasio E/A<1, atrial kick berperan sebesar 38 ± 4% pada fase pengisian diastolik. Hal ini lebih besar dibandingkan dengan kontribusi atrial kick pada subyek normal atau E/A>2 (26 ± 3%; 19 ± 6% ).14 Dapat disimpulkan bahwa pada pasien dengan rasio E/A<1, atrial kick memiliki peran yang lebih dominan dibanding subyek dengan rasio E/A ≥1. Adanya gangguan pada relaksasi ventrikel akan menyebabkan fase pengisian cepat berkurang, dan sebagai kompensasinya fase kontraksi atrium akan berperan lebih besar.38 Hal ini mungkin akan menyebabkan

(43)

waktu yang dibutuhkan untuk pengisian atrial menjadi lebih panjang. Penelitian dari Galderisi, dkk pada 722 subyek sehat juga menujukkan interval PR pada EKG berbanding terbalik dengan rasio E/A dan sebanding dengan fraksi pengisian atrial. Pada penelitian ini, terdapat perbedaan rerata DAVD optimal (128.89 ± 42.5 vs. 173.46 ±42.23) pada kelompok dengan rasio E/A<1 dan E/A ≥1. Kelompok dengan rasio E/A <1 memiliki DAVD optimal yang lebih panjang dibanding kelompok dengan E/A ≥1 sesuai dengan studi tentang gangguan relaksasi tersebut di atas. E' merupakan parameter tissue doppler imaging (TDI) yang menggambarkan fungsi relaksasi ventrikel kiri dan faktor intrinsik miokard dalam fungsi diastolik. Sohn, dkk meneliti 38 pasien yang dilakukan kateterisasi jantung kiri dan pemeriksaan ekokardiografi secara simultan. Ditemukan bahwa parameter e' berkorelasi baik dengan tau (r=-0.46, p <0.01).39 Hal yang sama juga dinyatakan oleh Oki, dkk. pada penelitiannya terhadap 38 orang dengan gangguan relaksasi ventrikel kiri.40 Penelitian ini menemukan bahwa e' medial berkorelasi dengan nilai DAVD optimal. Gangguan relaksasi dipikirkan menjadi alasan adanya korelasi negatif antara e' medial dengan nilai DAVD optimal. Dibandingkan dengan parameter E/A, e' medial memiliki hubungan korelatif yang lebih rendah.

Penelitian ini mencoba memilah subyek dengan disfungsi diastolik berdasarkan rekomendasi American Society of Echocardiography menjadi fungsi diastolik normal, gangguan relaksasi (Grade I), gangguan compliance (Grade II), dan gangguan restriktif (Grade III). Dilakukan analisa perbandingan rerata DAVD optimal pada tiap kelompok. Namun tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara rerata keempat kelompok tersebut (Tabel 5.5). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara fungsi diastolik ventrikel kiri dengan nilai DAVD optimal.

Penelitian ini mencoba melihat hubungan beberapa parameter fungsi diastolik lain, diantaranya E'/A', E/e', DFT, DT, dan IVRT dengan DAVD optimal. Namun parameter tersebut tidak menunjukkan korelasi yang bermakna dengan DAVD optimal. Parameter TDI ekokardiografi seperti E'/A', E/e' menunjukkan besaran left ventricle end diastolic pressure (LVEDP) pada subyek dan tidak berhubungan langsung dengan pola pengisian ventrikel seperti rasio

(44)

E/A. Nilai DT > 220 ms umumnya ditemukan pada subyek dengan rasio E/A<1, namun pada penelitian ini adanya fusi pada 54.3% subyek dapat membuat reliabilitas nilai DT menjadi berkurang.

Subyek dengan disfungsi diastolik pada penelitian ini memiliki persentase sebesar 68.6% bila menggunakan kriteria American Society of Echocardiography. Penelitian dari Modena, dkk juga mencoba melihat DAVD optimal pada pasien dengan disfungsi diastolik hanya berdasarkan rasio E/A. Didapatkan hasil bahwa perubahan DAVD ke nilai 100 ms pada subyek dengan rasio E/A<1 akan menormalisasi filling pattern katup mitral.35Hal ini berbeda dengan penelitian ini yang menunjukkan bahwa pada subyek dengan rasio E/A <1, rerata DAVD optimal adalah 162 ± 46.1 ms. Hal ini dimungkinkan karena adanya perbedaan pada metode yang digunakan pada kedua penelitian. Pada penelitian Modena, disfungsi diastolik berdasarkan pola mitral inflow, dan luaran yang ingin dicapai adalah normalisasi dari mitral inflow. Dengan pemendekan DAVD, akan memperpanjang fase pengisian cepat ventrikel sehingga dapat menormalisasi pola mitral inflow. Pada penelitian ini, luaran yang ingin dicapai dari optimalisasi adalah VTI tertinggi. Hal ini juga dapat kita lihat dari penelitian-penelitan yang menggunakan diastolic filling time sebagai luaran DAVD optimal, dimana DAVD optimal yang didapatkan cenderung lebih rendah dibanding penelitian yang menggunakan curah jantung sebagai luaran.

Telah banyak penelitian yang mencoba mencari nilai DAVD optimal untuk tiap populasi. Penelitian dari Haskel, dkk tahun 1988 mencari DAVD optimal pada 10 orang dengan PJP DDD. Penelitian tersebut melihat DAVD optimal menggunakan nilai curah jantung yang didapat dari LVOT VTI. DAVD optimal pada penelitian ini adalah 150 ms pada laju nadi 80x/menit. Modena, dkk juga melihat DAVD optimal menggunakan metode yang sama pada populasi pasien dengan fungsi LV yang normal dan mendapatkan DAVD optimal antara 140-150 ms. Dengan metode yang sama, pada 40 pasien PJP DDD dengan EF > 50%, Osman, dkk mendapatkan DAVD optimal pada kisaran 150-200 ms. Ritter, dkk tahun 1999 mencoba metode lain untuk mencari DAVD optimal. Mereka menggunakan diastolic filling time (DFT) terlama sebagai luaran optimal untuk DAVD. Didapatkan 19 sampel dengan fungsi sistolik ventrikel kiri yang normal

(45)

dengan DAVD optimal 179 ± 25 ms. Porcianni, dkk tahun 2004 juga mencoba mencari DAVD optimal menggunakan ekokardiografi pada 25 pasien dengan fungsi sistolik VK yang normal. Didapatkan nilai DAVD berbeda untuk tiap metode pengukuran. Dengan metode curah jantung didapatkan DAVD optimal sebesar 148 ± 36 ms sementara bila menggunakan DFT terbesar didapatkan 116 ± 34 ms. Penelitian ini mencoba mencari DAVD optimal berdasarkan VTI-LVOT tertinggi, dengan alasan penggunaan metode tersebut berhasil menunjukkan perbaikan parameter klinis pasien dengan DAVD optimal yang didapat.7,26,27 Nilai DAVD optimal rata-rata pada 35 pasien pada penelitian ini sebesar 162 ± 46.1 ms. Hal ini tidak jauh berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya dimana DAVD optimal berkisar antara 140-200 ms. Rerata hasil DAVD optimal ini pun tidak jauh berbeda dengan DAVD dari pabrik pembuat pada populasi ini yaitu antara 150-170 ms.

Penelitian ini menemukan bahwa pada nilai DAVD yang berbeda, besaran curah jantung (dalam hal ini VTI) tidak berbeda jauh (tabel 5.3). Hal ini dapat menggambarkan bahwa sebaran DAVD optimal untuk tiap pasien merata. Dari kenyataan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa DAVD optimal pada tiap pasien bersifat unik dikarenakan karakter elektrofisiologis jantung tiap individu berbeda.

Dari banyak faktor yang mempengaruhi DAVD, salah satu yang berperan adalah interatrial conduction time (IACT).8 Oleh karena adanya IACT, maka DAVD yang kita berikan pada jantung kanan, tidak akan sama dengan waktu kontraksi atrium kiri dan ventrikel kiri. Adanya gangguan aktivasi atrium kiri dapat membuat kontraksi atrium kiri terlambat. Hal ini dapat mempengaruhi fungsi diastolik pada ventrikel kiri. Penelitian ini hanya mengeksklusi gangguan hantaran inter atrial ini dengan durasi gelombang p < 120 ms. Namun kriteria ini belum tentu dapat mengeksklusi semua subyek dengan gangguan hantaran inter atrial. Adanya IACT sebagai faktor perancu yang tidak disingkirkan pada penelitian ini, dapat mempengaruhi hasil penelitian.

(46)

Keterbatasan penelitian ini adalah :

1. Tidak dilakukannya pengukuran interatrial conduction time sehingga memungkinkan perbedaan waktu kontraksi yang signifikan antara atrium kanan-ventrikel kanan sebagai tempat pacu dan atrium kiri-kanan-ventrikel kiri sebagai tempat dilakukan pengukuran.

2. Variasi LVOT-VTI dipengaruhi oleh pola napas dan dapat memberikan bias saat pengukuran, walaupun sudah dilakukan standarisasi protokol pengambilan Doppler.

(47)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Terdapat korelasi terbalik dan bermakna antara komponen parameter fungsi diastolik pada DAVD pabrikan (E/A dan e' medial) dengan DAVD optimal

Saran

1. Dilakukan penelitian lanjutan yang membandingkan IACT dengan DAVD optimal pada pasien dengan PJP dual chamber.

2. Dilakukan studi prospektif dengan menggunakan DAVD 130 ms untuk pasien dengan rasio E/A ≥ 1, dan DAVD 170 ms untuk rasio E/A <1.

3. Optimalisasi DAVD harus dilakukan pada tiap individu mengingat DAVD optimal yang bervariasi

(48)

BAB VIII DAFTAR PUSTAKA

1.   Mitchell  JH,  Gilmore  JP,  Sarnoff  SJ.  The  transport  function  of  the   atrium.  Factors  influencing  the  relation  between  mean  left  atrial  pressure   and  left  ventricular  end  diastolic  pressure.  The  American  journal  of   cardiology  1962;9:237-­‐47.  

2.   Jeffrey  K.  The  war  on  heart  disease  and  the  invention  of  cardiac   pacing.    Machine  in  our  hearts.  Baltimore:  John  Hopkins  University  Press;   2001:36-­‐7.  

3.   Greenspon  AJ,  Patel  JD,  Lau  E,  et  al.  Trends  in  permanent  pacemaker   implantation  in  the  United  States  from  1993  to  2009:  increasing  complexity   of  patients  and  procedures.  Journal  of  the  American  College  of  Cardiology   2012;60:1540-­‐5.  

4.   Chalvidan  T,  Deharo  JC,  Djiane  P.  [Pacemaker  syndromes].  Annales  de   cardiologie  et  d'angeiologie  2000;49:224-­‐9.  

5.   Link  MS,  Hellkamp  AS,  Estes  NA,  3rd,  et  al.  High  incidence  of  

pacemaker  syndrome  in  patients  with  sinus  node  dysfunction  treated  with   ventricular-­‐based  pacing  in  the  Mode  Selection  Trial  (MOST).  Journal  of  the   American  College  of  Cardiology  2004;43:2066-­‐71.  

6.   Heldman  D,  Mulvihill  D,  Nguyen  H,  et  al.  True  incidence  of  pacemaker   syndrome.  Pacing  and  clinical  electrophysiology  :  PACE  1990;13:1742-­‐50.   7.   Klimczak  A,  Budzikowski  AS,  Rosiak  M,  et  al.  Influence  of  

Atrioventricular  Optimization  on  Hemodynamic  Parameters  and  Quality  of   Life  in  Patients  with  Dual  Chamber  Pacemaker  with  Ventricular  Lead  in  Right   Ventricular  Outflow  Tract.  Annals  of  noninvasive  electrocardiology  :  the   official  journal  of  the  International  Society  for  Holter  and  Noninvasive   Electrocardiology,  Inc  2014.  

8.   Frits  P  JC,  Angelo  A.  Basic  physiology  and  hemodynamics  of  cardiac   pacing.  In:  Kenneth  A  EA,  Neal  G,  Lau  C,  ed.  Clinical  cardiac  pacing,  

defibrillation,  and  resynchronization  therapy.  Philadelphia:  Elsevier;   2006:291-­‐4.  

9.   Scher  AM,  Young  AC,  Malmgren  AL,  Erickson  RV.  Activation  of  the   interventricular  septum.  Circulation  research  1955;3:56-­‐64.  

10.   Scher  AM,  Young  AC,  Malmgren  AL,  Paton  RR.  Spread  of  electrical   activity  through  the  wall  of  the  ventricle.  Circulation  research  1953;1:539-­‐47.   11.   Hoffman  BF,  Cranefield  PF,  Stuckey  JH,  Amer  NS,  Cappelletti  R,  

Domingo  RT.  Direct  measurement  of  conduction  velocity  in  in  situ  specialized   conducting  system  of  mammalian  heart.  Proceedings  of  the  Society  for  

Experimental  Biology  and  Medicine  Society  for  Experimental  Biology  and   Medicine  1959;102:55-­‐7.  

12.   Durrer  D,  van  Dam  RT,  Freud  GE,  Janse  MJ,  Meijler  FL,  Arzbaecher  RC.   Total  excitation  of  the  isolated  human  heart.  Circulation  1970;41:899-­‐912.   13.   Hayes  DL  FP,  Asirvatham  SA.  Hemodynamics  of  device  therapy.  In:   Hayes  DL  FP,  ed.  Cardiac  Pacing,  Defibrillation  and  Resynchronization:  A   Clinical  Approach.  2nd  ed.  Singapore:  Wiley-­‐Blackwell;  2008:56-­‐7.  

(49)

14.   Prioli  A,  Marino  P,  Lanzoni  L,  Zardini  P.  Increasing  degrees  of  left   ventricular  filling  impairment  modulate  left  atrial  function  in  humans.  The   American  journal  of  cardiology  1998;82:756-­‐61.  

15.   Faerestrand  S,  Ohm  OJ.  A  time-­‐related  study  of  the  hemodynamic   benefit  of  atrioventricular  synchronous  pacing  evaluated  by  Doppler  

echocardiography.  Pacing  and  clinical  electrophysiology  :  PACE  1985;8:838-­‐ 48.  

16.   Mehta  D,  Gilmour  S,  Ward  DE,  Camm  AJ.  Optimal  atrioventricular   delay  at  rest  and  during  exercise  in  patients  with  dual  chamber  pacemakers:   a  non-­‐invasive  assessment  by  continuous  wave  Doppler.  British  heart  journal   1989;61:161-­‐6.  

17.   Haskell  RJ,  French  WJ.  Optimum  AV  interval  in  dual  chamber   pacemakers.  Pacing  and  clinical  electrophysiology  :  PACE  1986;9:670-­‐5.   18.   Antonini  L,  Auriti  A,  Pasceri  V,  et  al.  Optimization  of  the  

atrioventricular  delay  in  sequential  and  biventricular  pacing:  physiological   bases,  critical  review,  and  new  purposes.  Europace  :  European  pacing,   arrhythmias,  and  cardiac  electrophysiology  :  journal  of  the  working  groups   on  cardiac  pacing,  arrhythmias,  and  cardiac  cellular  electrophysiology  of  the   European  Society  of  Cardiology  2012;14:929-­‐38.  

19.   Crystal  E,  Ovsyshcher  IE.  Cardiac  output-­‐based  versus  empirically   programmed  AV  interval-­‐-­‐how  different  are  they?  Europace  :  European   pacing,  arrhythmias,  and  cardiac  electrophysiology  :  journal  of  the  working   groups  on  cardiac  pacing,  arrhythmias,  and  cardiac  cellular  electrophysiology   of  the  European  Society  of  Cardiology  1999;1:121-­‐5.  

20.   Ritter  P,  Padeletti  L,  Gillio-­‐Meina  L,  Gaggini  G.  Determination  of  the   optimal  atrioventricular  delay  in  DDD  pacing.  Comparison  between  echo  and   peak  endocardial  acceleration  measurements.  Europace  :  European  pacing,   arrhythmias,  and  cardiac  electrophysiology  :  journal  of  the  working  groups   on  cardiac  pacing,  arrhythmias,  and  cardiac  cellular  electrophysiology  of  the   European  Society  of  Cardiology  1999;1:126-­‐30.  

21.   Ishikawa  T,  Sugano  T,  Sumita  S,  et  al.  Relationship  between   atrioventricular  delay,  QT  interval  and  cardiac  function  in  patients  with   implanted  DDD  pacemakers.  Europace  :  European  pacing,  arrhythmias,  and   cardiac  electrophysiology  :  journal  of  the  working  groups  on  cardiac  pacing,   arrhythmias,  and  cardiac  cellular  electrophysiology  of  the  European  Society   of  Cardiology  1999;1:192-­‐6.  

22.   Melzer  C,  Borges  AC,  Knebel  F,  et  al.  Echocardiographic  AV-­‐interval   optimization  in  patients  with  reduced  left  ventricular  function.  

Cardiovascular  ultrasound  2004;2:30.  

23.   Cristina  Porciani  M,  Fantini  F,  Musilli  N,  et  al.  A  perspective  on   atrioventricular  delay  optimization  in  patients  with  a  dual  chamber   pacemaker.  Pacing  and  clinical  electrophysiology  :  PACE  2004;27:333-­‐8.   24.   Styliadis  IH,  Gouzoumas  NI,  Karvounis  HI,  et  al.  Effects  of  variation  of   atrioventricular  interval  on  left  ventricular  diastolic  filling  dynamics  and   atrial  natriuretic  peptide  levels  in  patients  with  DDD  pacing  for  complete   heart  block.  Europace  :  European  pacing,  arrhythmias,  and  cardiac   electrophysiology  :  journal  of  the  working  groups  on  cardiac  pacing,  

Gambar

Gambar 2. 1  Kecepatan konduksi listrik pada  tiap bagian jantung
Gambar 2. 2 Pola penyebaran impuls listrik  pada pasien dengan pacu jantung	
  
Gambar 2. 5 Hubungan DAVD dengan pola pengisian katup mitral pada ekokardiografi  A.  DAVD  optimal  dimana  gelombang  E  dan  A  terpisah  sempurna
Tabel 2. 1 Nilai DAVD optimal dari berbagai penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Apabila terjadi penurunan tekanan darah sistolik lebih dari 20 mmHg, tekanan darah diastolik 10 mmHg, dan atau adanya peningkatan denyut jantung lebih dari 120 beats per minute

Bila infark luas dan miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat iskemi atau infark lama, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri akan naik dan gagal jantung terjadi..

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proporsi disfungsi diastolik ventrikel kiri pada pasien sirosis hati dengan kriteria American Society of Echocardiography-European

Klasifikasi gagal jantung berdasarkan pengukuran fraksi ejeksi ventrikel kiri terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun

dan karunia-Nya sehingga karya akhir “ Korelasi Antara Kadar Galektin-3 Serum dengan Parameter Ekhokardiografi Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri (Rasio E/e’) pada Pasien