MAKSIM PENGHARGAAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM NOVEL KAPTEN BHUKAL THE BATTLE
OF ALAS TUA
Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Oleh:
MOHAMAD MUALIM A310150135
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
MAKSIM PENGHARGAAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL KAPTEN BHUKAL THE BATTLE OF ALAS TUA
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan realisasi penghargaan dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua berdasarkan maksim penghargaan, mendeskripsikan pendidikan karakter dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua dan mengimplementasikan maksim penghargaan dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan teknik catat. Teknik analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan metode padan referensial. Objek penelitian ini yaitu maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Hasil analisis penelitian ini yaitu terdapat 5 maksim penghargaan yang terdiri dari 2 maksim penghargaan terhadap kehebatan, 2 maksim penghargaan terhadap keberanian, dan 1 maksim penghargaan terhadap kecerdasan. Terdapat 4 pendidikan karakter yang terdiri dari 1 pendidikan karakter persatuan dan kesatuan, 2 pendidikan karakter kerja keras, dan 1 pendidikan karakter mandiri. Selain itu, hasil penelitian ini dapat diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas X KD 4.10 Menyampaikan pengajuan, penawaran, persetujuan dan penutup dalam teks negosiasi secara lisan atau tulis.
Kata kunci : maksim penghargaan, pendidikan karakter, dan novel
Abstract
The purpose of this research is described the realization the prize in novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua based on maxims award, described character education in a novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua and implement maxims the prize in novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua as teaching materials learning the indonesian language. Technique data collection in the research by using a technique note. Technique data analysis to research this by using the method padan referential. Object research is maxims incentive and character education .The results of the analysis this research are 5 maxims award consisting of 2 maxims the prestige of the greatness, 2 maxims the prestige of the courage, and 1 maxims the prestige of the intelligence. There are 4 character education consisting of 1 character education of unity and integrity, 2 character education hard work, and 1 character education independent. In addition, the result of this research be able to be implemented in learning the indonesian language class X KD 4.10 convey the submission of, the supply of, and the seal of approval in the text negotiations orally or written .
1. PENDAHULUAN
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang bisa menghargai lawan tutur. Sebagai makhluk sosial, manusia berbeda dengan makhluk lainnya, salah satu yang membedakannya adalah bahasa yang dimiliki oleh manusia. Jarang sekali manusia memperhatikan bahasa yang digunakan di dalam kesehariannya sebagai alat komunikasi yang utama. Dengan bahasa yang bisa menghargai lawan bicara dalam bertutur, diharapkan komunikasi antara penutur dan lawan tutur dapat berjalan dengan baik. Dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua terdapat maksim-maksim penghargaan yang dapat dijadikan contoh untuk berkomunikasi yang menghargai lawan bicara dalam bertutur.
Nilai yang paling utama dalam kehidupan adalah nilai pendidikan terutama pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang digunakan untuk memberikan pengajaran mengenai nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang berhubungan dengan moral terhadap pembaca bahkan peserta didik. Pendidikan bagi manusia merupakan kebutuhan yang penting. Terlebih di era modern ini, banyak peserta didik yang sudah menganggap pendidikan karakter tidak begitu penting dalam kehidupan sosial. Pendidikan karakter dapat diperoleh dari lingkungan sekitar maupun novel. Salah satu novel itu adalah novel yang berjudul Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua. Dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua terdapat contoh-contoh pendidikan karakter.
Penelitian ini menggunakan teori Leech yang mengemukakan enam prinsip kesantunan yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatian. Penelitian ini mengkhususkan pada maksim penghargaan yang bertujuan untuk mengetahui cara bertutur dengan baik dan benar guna menghargai lawan tutur agar tidak ada kesalahpahaman antara penutur dan lawan tutur.
Penelitian kali ini penulis akan membahas Maksim Penghargaan dan Pendidikan Karakter dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua. Pendidikan karakter dalam penelitian ini bermaksud guna memberikan
pemahaman terhadap pembaca bahkan peserta didik lebih peka dengan masalah-masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Maksim penghargaan digunakan dalam bertutur lebih baik lagi. Maksim penghargaan dapat digunakan dalam kegiatan bertutur dengan memperhatikan kesantunan dalam bertutur dengan lawan tutur.
2. METODE
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis kata, kalimat, bahkan klausa yang berupa tuturan dalam novel. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini yang dianalisis berupa tuturan maksim penghargaan dan pendidikan karakter yang ada di novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan menggunakan teknik catat. Teknik catat yang digunakan pada penelitian ini untuk mencatat hal-hal yang berkaitan dengan maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Kegunaan teknik catat ini yaitu untuk mempermudah dalam mencari tuturan maksim penghargaan dan pendidikan karakter pada novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Maksim Penghargaan dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua Maksim penghargaan merupakan kaidah bahasa yang dapat memberikan penghargaan atau pujian kepada orang lain dalam berbahasa. Di dalam maksim penghargaan menjelaskan bahwa seseorang akan dikatakan santun apabila dalam bertutur berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Seseorang yang saling bertutur diharapkan tidak saling mengejek, saling mencaci, dan saling merendahkan pihak lain.
3.1.1 Maksim Penghargaan terhadap Kehebatan
(1) ““HOWAAAA!!! Itu ... itu sangat kereeeennnn!” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 5)
Konteks : Tuturan monyet betina saat mendengar cerita dari Timma tentang kehebatan Moner.
Contoh (1) adalah penghargaan yang diberikan oleh monyet-monyet betina kepada Moner, karena kehebatan Moner. Tuturan Itu ... itu sangat kereeeennnn
menyatakan penghargaan. Hal itu terdapat pada kata “sangat keren” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi V) mempunyai arti teramat tampak gagah dan tangkas. Di dalam maksim penghargaan dapat dikatakan santun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada lawan tutur.
(2) “Kapten kami yang Tangguh dan Gagah Berani” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 331)
Konteks: Tuturan itu terjadi saat Tirash mencoba membujuk Kapten Bhukal kembali ke gunung Siboko.
Contoh (2) merupakan penghargan yang diberikan Bocol kepada Kapten Bhukal karena kehebatannya. Tuturan Kapten kami yang Tangguh dan Gagah Berani disebut maksim penghargaan karena tuturan tersebut mnghargai lawan tutur. Hal itu terdapat pada kata “tangguh” yang mempunyai arti kuat sekali, sukar dikalahkan.
3.1.2 Maksim Penghargaan terhadap Kecerdasan
(3) “Huha! Kau pintar sekali, Sobat.” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 20)
Konteks : Tuturan itu terjadi saat Kapten Bhukal membenarkan jawaban Sohay tentang Gunung Siboko.
Contoh (3) merupakan penghargaan yang diberikan oleh Kapten Bhukal kepada Sohay, karena kecerdasan Sohay. Tuturan Kau pintar sekali, Sobat
dikatakan maksim penghargaan karena pada tuturan tersebut terdapat penghargaan yang diberikan penutur kepada lawan tutur. Penghargaan pada tuturan tersebut terdapat pada kata “pintar sekali” yang berarti paling pandai, cakap.
3.1.3 Maksim Penghargaan terhadap Keberanian
(4) “Karena kaulah satu-satunya yang kutahu demikian berani menantang manusia, aku ingin menujukkan sesuatu padamu.” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 123)
Konteks: Tuturan itu terjadi saat Tirash menganggap Kapten Bhukal satu-satunya yang berani menentang manusia.
Contoh (4) merupakan penghargaan yang diberikan Tirash kepada Kapten Bhukal karena keberaniannya. Tuturan kaulah satu-satunya yang kutahu demikian berani menantang manusia merupakan maksim penghargaan karena tuturan tersebut berisikan penghargaan yang diberikan Tirash kepada Kapten Bhukal.
(5) “Dia adalah sosok yang tak takut menghadapi marabahaya, sosok yang berani membahayakan dirinya demi mencapai kejayaan, sosok yang berdiri teguh untuk kebangkitan kawan-kawannya, sosok yang telah mengangkat derajat kaumnya.” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 133)
Konteks: Tuturan itu terjadi saat seekor induk landak menceritakan sosok Kapten Bhukal.
Contoh (5) merupakan penghargaan yang diberikan Belalang betina kepada Kapten Bhukal karena keberaniannya. Tuturan tersebut keseluruhannya merupakan maksim penghargaan karena tuturan tersebut berisikan penghargaan. 3.2 Pendidikan Karakter dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua
Pendidikan karakter adalah salah satu pendidikan dasar yang penting bagi peserta didik. Maka dari itu pendidikan karakter sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter yang lebih baik bagi peserta didik. Dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua ada beberapa tuturan yang dapat dijadikan sebagai contoh pendidikan karakter.
3.2.1 Persatuan dan Kesatuan
(6) “Bersatu kita teguh, berpecah kita runtuh!” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 179)
Contoh (6) adalah jenis pendidikan karakter persatuan dan kesatuan, yaitu sikap dan tindakan yang mengutamakan persatuan dan kesatuan dalam melakukan sesuatu yang diinginkan bersama-sama. Contoh tersebut mengajarkan untuk selalu bersatu dan jangan terpecah. Makna dari tuturan tersebut adalah segala sesuatu apabila dikerjakan bersama-sama atau bersatu akan menjadi kuat, dan apabila terpecah belah akan mudah runtuh.
3.2.2 Kerja Keras
(7) “Eh, oh, berjuanglah atau gugur dalam kejayaan.” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 180)
Contoh (7) adalah jenis pendidikan karakter kerja keras, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku pantang menyerah dalam melakukan suatu pekerjaan atau sesuatu yang diinginkan. Contoh tersebut mengajarkan untuk berjuang atau gugur dalam kejayaan. Makna dari tuturan itu harus berani berjuang untuk sesuau yang diinginkan atau cita-citakan dan jika gagal dalam berjuang, setidaknya sudah berani berjuang daripada sama sekali hanya berdiam tidak mau berjuang.
(8) “Mereka akan belajar satu atau dua hal penting tentang semangat juang dan kekuatan para hewan!” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 259)
Contoh (8) adalah jenis pendidikan karakter kerja keras, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku pantang menyerah dalam melakukan suatu pekerjaan atau sesuatu yang diinginkan. Data tersebut mempunyai makna bahwa manusia juga bisa belajar dari binatang mengenai semangat juang para binatang untuk tetap bertahan hidup. Karena semua makhluk mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
3.2.3 Mandiri
(9) “Aku ingin kalian menguatkan hati, mengukuhkan kesabaran, meningkatkan kepercayaan, dan menggigit kesetiaan.” (Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, 2016: 197)
Contoh (9) adalah jenis pendidikan karakter mandiri, yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas. Contoh tersebut mengajarkan untuk selalu sabar, percaya, setia sepenuh hati dengan diri
sendiri. Makna dari tuturan itu adalah tuturan yang mempunyai makna untuk selalu menguatkan hati, menguatkan kesabaran, meningkatkan kepercayaan, dan selalu setia pada apa yang telah dipercayai.
3.3 Implementasi Maksim Penghargaan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Implementasi maksim penghargaan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Kartasura. Pembelajaran Bahasa Indonesia pada tingkat SMA yang berkaitan dengan maksim penghargaan terdapat pada KD 4.10 Menyampaikan pengajuan, penawaran, persetujuan dan penutup dalam teks negosiasi secara lisan atau tulis. Materi pokok pada KD 4.10 di jenjang SMA kelas X/10 membahas mengenai penyampaian pengajuan, penawaran, persetujuan, dan penutup teks negosiasi kurang lebih sama halnya dengan penelitian ini yang membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Karena bernegosiasi yang baik dan benar adalah dengan cara menggunakan bahasa yang santun yang bisa menghargai lawan bicara.
Pada penelitian ini yang dianalisis maksim penghargaan dan pendidikan karakter dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua memiliki manfaat untuk pedoman hidup sehari-hari. Pada penelitian ini maksim penghargaan dapat digunakan untuk mempermudah dalam menyampaikan pengajuan, penawaran, persetujuan, dan penutup dalam bernegosiasi dengan bahasa yang santun yang bisa menghargai lawan bicara. Dalam penelitian ini digunakan teori Leech guna mempermudah dan memahami maksim penghargaan yang terdapat pada novel
Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua.
Persamaan hasil penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Chrisiana (2005). Pendidikan karakteristik yang ditemukan pada penelitian Chrisiana menjelaskan secara umum pendidikan karakteristik, sama halnya dengan penelitian ini yang menjelaskan secara umum pendidikan karakter. Perbedaannya, penelitian yang dilakukan oleh Chrisiana memfokuskan pendidikan karakteris. Adapun dalam penelitian ini difokuskan dua hal yaitu maksim penghargaan dan pendidikan karakter.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Hasan (2012) yaitu sama-sama menyinggung pendidikan karakter. Perbedaannya, penelitian yang dilakukan oleh Hasan menggunakan pendidikan sejarah guna pembentukan karakter siswa, adapun dalam penelitian ini selain membahas pendidikan karakter juga membahas tentang maksim penghargaan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian Yanto (2013) sama-sama membahas kesantunan berbahasa yang di dalamnya ada maksim penghargaan. Perbedaannya penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun penelitian Yanto membahas kesantunan berbahasa dalam komunikasi terapeutik perawat di RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto: Kajian Pragmatik.
Persamaan penelitian ini engan penelitian Dewi (2014) adalah sama-sama membahas pendidikan karakter dalam sebuah novel. Perbedaannya, dalam peneltian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua. Adapun dalam penelitian Dewi membahas atau menganalisis nilai-nilaipendidikan karakter novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara dan relevansinya terhadap pengajaranpendidikan karakter sekolah di Indonesia.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Fajarini (2014) adalah sama-sama membahas pendidikan karakter. Perbedaannya yaitu penelitian ini membahas pendidikan karakter dan maksim penghargaan, adapun penelitian yang dilakukan oleh Fajarini membahas peranan pendidikan karakter.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian Samsudin (2014) sama-sama membahas maksim penghargaan. Perbedaannya penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua. Adapun dalam penelitian Samsudin, et al membahas prinsip dan maksim ujaran dalam percakapan kumpulan Cerpen Panggung Wayang yaitu prinsip kerjasama (maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan), prinsip kesopanan (maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim kemufakatan, maksim simpati, maksim penghargaan, dan maksim kesederhanaan), maksud ujaran dalam percakapan kumpulan Cerpen
Panggung Wayang (kalimat komisif, kalimat impositif, kalimat ekspresif, dan kalimat asertif), serta tahapan pragmatis ujaran dalam percakapan kumpulan Cerpen Panggung Wayang (tahapan pragmatis sopan, tahapan pragmatis wajar, tahapan pragmatis kasar, dan tahapan pragmatis campuran).
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Kristiawan (2015) sama-sama membahas pendidikan karakter. Perbdaannya, penelitian ini tidak hanya membahas pendidikan karakter tetapi juga membahas maksim penghargaan. Adapun dalam penelitian Kristiawan menelaah revolusi mental dan pendidikan karakter dalam pembentukan sumber daya manusia Indonesia yang pandai dan berakhlak mulia.
Penelitian Yusri (2015) sama-sama membahas maksim penghargaan. Perbedaannya, penelitian ini tidak hanya membahas maksim penghargaan, tetapi juga membahas pendidikan karakter. Adapun dalam penelitian Yusri membahas pelanggaran kesopanan berbahasa dalam komunikasi politik pada pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2013 yang menemukan adanya pelanggaran maksim kesopanan yaitu berupa pelanggaran maksim kesederhanaan, dan pelanggaran maksim penghargaan.
Penelitian Wulandari (2016) yaitu sama-sama menyinggung maksim penghargaan. Perbedaannya penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun penelitian Wulandari membahas pelanggaran prinsip kesantunan yaitu pelanggaran maksim kebijaksanaan, pelanggaran maksim kedermawanan, pelanggaran maksim penghargaan, pelanggaran maksim kesederhanaan, dan pelanggaran maksim kecocokan.
Penelitian Doko, et al. (2017) yaitu sama-sama membahas maksim penghargaan. Pebedaannya, penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter yang ada dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua, adapun penelitian Doko, et al membahas jenis-jenis maksim dalam kumpulan cerita rakyat NTT, pelanggaran maksim dalam teori kesantunan berbahasa.
Penelitian Herawan, et al. (2017) sama-sama membahas pendidikan karakter. Perbedaannya, dalam penelitian ini membahas maksim penghargaan dan
pendidikan karakter religius, relevansi nilai pendidikan karakter toleransi, relevansi nilai pendidikan karakter jujur, relevansi nilai pendidikan karakter cinta damai, relevansi nilai pendidikan karakter disiplin, relevansi nilai pendidikan karakter kerja keras, relevansi nilai pendidikan karakter rasa ingin tahu, relevansi nilai pendidikan karakter menghargai prestasi, relevansi nilai pendidikan karakter tanggung jawab, relevansi nilai pendidikan karakter kreatif, relevansi nilai pendidikan karakter mandiri, relevansi nilai pendidikan karakter bersahabat/komunikatif, relevansi nilai pendidikan karakter peduli sosial, relevansi nilai pendidikan karakter peduli lingkungan, relevansi nilai pendidikan karakter cinta tanah air.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian Ibrahim (2017) yaitu sama-sama membahas aspek kesantunan. Perbadaannya yaitu penelitian ini membahas aspek kesantunan maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun dalam penelitian Ibrahim memfokuskan aspek kesantunan dan menjelaskan mengenai faktor penggunaan kesantunan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian Malik (2017) sama-sama membahas kesantunan. Perbedaannya penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun penelitian Malik membahas pelanggaran prinsip kesantunan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian Muslihah, et al. (2017) sama-sama membahas maksim penghargaan. Perbedaannya dalam penelitian Muslihah membahas pematuhan dan penyimpangan prinsip-prinsip kesantunan berbahasa yang terdiri dari maksim kebijaksanaan, maksi kedermawanan, maksim penghargaan, dan maksim pemufakatan serta tingkat kesantunan dalam buku teks
Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/SMAK Kelas X Karangan Suherli dan Kawan-kawan. Adapun dalam penelitian ini hanya membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter yang ada dalam Novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua. Penelitian Sari (2017) sama-sama membahas maksim penghargaan. Perbedaannya penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun penelitian Sari membahas iklan televisi yang mengandung kesantunan berbahasa (maksim pemufakatan, maksim penghargaan, maksim
kesimpatian, maksim kesederhanaan, maksim kedermawanan, dan maksim kebijaksanaan), serta iklan televisi yang melanggar kesantunan berbahasa (pelanggaran maksim pemufakatan, pelanggaran maksim penghargaan, pelanggaran maksim kesimpatian, pelanggaran maksim kesederhanaan, pelanggaran maksim kedermawanan, dan pelanggaran maksim kebijaksanaan)
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Aisah, et al. (2018) sama-sama membahas kesantunan berbahasa. Namun, dalam penelitian ini hanya membahas maksim penghargaan. Sedangkan dalam penelitian Aisah, et al. (2018) membahas maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatian. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Aisah, et al yaitu penelitian ini hanya membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun penelitian Aisah, et al. membahas keseluruhan kesantunan berbahasa.
Penelitian Cahyaningrum, et al. (2018) sama-sama membahas kesantunan berbahasa, namun penelitian ini hanya membahas maksim penghargaan. Perbedaannya penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter, adapun penelitian Cahyaningrum membahas tentang bentuk pematuhan dan pelanggaran kesantunan berbahasa siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Penelitian Narsiwi, et al. (2018) sama-sama membahas kesantunan. Perbedaannya penelitian ini lebih fokus membahas kesantunan maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun penelitian Narsiwi membahas bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dan prinsip kerjasama.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian Rahmawati, et al. (2018) yaitu keduanya sama-sama membahas prinsip kesopanan atau kesantunan. Perbedaannya penelitian ini hanya fokus pada maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun penelitian Rahmawati membahas pelanggaran prinsip kesopanan dan prinsip kerjasama.
Penelitian Wiranty (2018) sama-sama membahas maksim. Perbedaannya, penelitian ini membahas maksim penghargaan dan pendidikan karakter. Adapun
dialek Selimbau kabupaten Kapuas Hulu yang menghasilkan terkait maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatian.
4. PENUTUP
Simpulan berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini sebagai berikut:
a. Maksim penghargaan dan pendidikan karakter yang terdapat pada novel
Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua sangat banyak. Terdapat 5 maksim penghargaan yang terdiri dari 2 maksim penghargaan terhadap kehebatan, 2 maksim penghargaan terhadap keberanian, dan 1 maksim penghargaan terhadap kecerdasan.
b. Terdapat 4 pendidikan karakter yang terdiri dari 1 pendidikan karakter persatuan dan kesatuan, 2 pendidikan karakter kerja keras, dan 1 pendidikan karakter mandiri dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua. Untuk mempermudah memahami maksud yang terdapat pada pendidikan karakter tersebut sudah dianalisissecara jelas sehingga dapat memahami maksud dari data tersebut. Data tersebut dapat dijadikan contoh pendidikan karakter. c. Hasil penelitian ini diimplementasikan pada KD 4.10 Menyampaikan
pengajuan, penawaran, persetujuan dan penutup dalam teks negosiasi secara lisan atau tulis. Pada KD 4.10 objek yang digunakan adalah teks negosiasi. Namun, untuk pembelajaran pada penelitian ini objek pembelajaran ini adalah maksim penghargaan dan pendidikan karakter dalam novel Kapten Bhukal The Battle of Alas Tua.
DAFTAR PUSTAKA
Aisah, Cucu; Putri Ayu Chandra Agustina; Yuli Yulianti; Latifah. 2018. “Analisis Kesantunan Berbahasa dalam Program Opera Van Java Episode Pengambil Setan”. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 1(2): 171-182. http://dx.doi.org/10.22460/p.vli2p%25p.198
Cahyaningrum, Fitria. 2018. “Kesantunan Berbahasa Siswa dalam Konteks Negosiasi di Sekolah Menengah Atas”. Jurnal Pena Indonesia 4(1): 1-23. http://dx.doi.org/10.26740/jpi.v4n1.p1%20-%2023
Chriasana, Wanda. 2005. “Upaya Penerapan Pendidikan Karakter bagi Mahasiswa (Studi Kasus di Jurusan Teknik Industri Uk Petra)”. Jurnal Teknik Industri 7(1): 83-90.https://doi.org/10.9744/jti.7.1.pp.%2083-90
Dewi, Ni Luh Lina Agustina; Ide Bagus Putrayasa; I Gede Nurjaya. 2014. “Analisis Nilai-nilai Pendidikan Karakter Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara dan Relevansinya Terhadap Pengajaran Pendidikan Karakter Sekolah di Indonesia”. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia 2(1): 1-10.
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPBS/article/view/3438
Doko, Yunitha Devrudyan; I Wayan Budiarto; Mirsa Umiyati. 2017. “Kesantunan Berbahasa dalam Kumpulan Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur”.
Jurnal Ilmu Bahasa 3(1): 159-169. http://dx.doi.org/10.22225/jr.3.1.163.159-169
Fajarini, Ulfah. 2014. “Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter”.
Sosio Didektika 1(2): 123-130. http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/SOSIO-FITK/article/view/1225 Hasan, S. Hamid. 2012. “Pendidikan Sejarah untuk Memperkuat Pendidikan
Karakter”. Paramita 22(1): 81-95.
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/paramita/article/view/1875 Herawan, Kadek Dedy; I Ketut Sudarsana. 2017. “Relevansi Nilai Pendidikan
Karakter dan Geguritan Sudhamala untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Indonesia”. Jurnal Penjaminan Mutu 3(2): 223-236. http://dx.doi.org/10.25078/jpm.v3i2.203
Ibrahim, Khaltum. 2017. “Kesantunan Bahasa dalam Rancangan Bual Bicara Meletop: Satu Kajian Sosiolinguistik”. Jurnal Linguistik 21(2). http://jurnal.plm.org.my/wp-content/uploads/2018/01/6
Kristiawan, Muhammad. 2015. “Telaah Revolusi Mental dan Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Sumberdaya Manusia Indonesia yang Pandai dan
Berakhlak Mulia”. Ta’dib 18(1):
13-25. http://dx.doi.org/10.31958/jt.v18i1.274
Malik, Abdul; Windha Dwi Hudhana. 2017. “Analisis Pelanggaran Prinsip Kesantunan pada Naskah Drama Tik Karya Budi Yasin Misbach dalam Antopologi Bengkel Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta (Tinjauan Pragmatik)”. Jurnal Pendidikan Program Studi Bahasa dan Satra Indonesia 6(2): 1-12. http://jurnal.umt.ac.id/index.php/lgrm/article/view/1612
Muslihah, Nur Nisai; Riko Febrianto. 2017. “Pematuhan dan Penyimpangan Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Wacana Buku Teks Bahasa
Narsiwi, Retno; Ariyana. 2018. “Bentuk Pelanggaran Prinsip Kesantunan dan Prinsip Kerjasama pada Film Manusia Setengah Salmon”. Jurnal Pendidikan Program Studi Bahasa dan Satra Indonesia7(1): 1-11. http://jurnal.umt.ac.id/index.php/lgrm/article/view/1615
Rahmawati, Intan; Tri Pujiati. 2018. “Pelanggaran Prinsip Kesopanan dan Prinsip Kerjasama pada Pelayanan Pengunjung di Hero Supermarket Emerald Bintaro (Kajian Pragmatik)”. Jurnal Pendidikan Program Studi Bahasa dan Satra Indonesia 7(1): 25-38. http://jurnal.umt.ac.id/index.php/lgrm/article/view/1617
Samsudin, Neno Rahmawati; Yayat Sudaryat; Nunung Nurjanah. 2014. “Prinsip dan Maksim Ujaran dalam Percakapan Kumpulan Cerpen Panggung Wayang Karya Aam Amilia”. Dangiang Sunda 2(1): 1-9. http://antologi.upi.edu/file/ARTIKEL_B._INDONESIA_Neno_Rahmaw ati_Samsudin_.pdf
Sari, Ratna Harum. 2017. “Maksim Kesantunan Bahasa dan Wacana Iklan
Televisi”. Jurnal NOSI 5(3): 426-438.
http://www.pbindoppsunisma.com/wp-content/uploads/2017/09/14.-RATNA-harum-sari.pdf
Wiranty, Wiendi. 2018. “Maksim Kesantunan Bahasa Melayu Dialek Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu”. Jurnal Pendidikan Bahasa 7(2): 418-427. http://dx.doi.org/10.31571/bahasa.v7i2.1021
Wulandari, Finda Mia. 2016. “Pelanggaran Prinsip Kesantunan Ahok (AK) dalam Wawancara Eksklusif Kisruh DPRD DKI Jakarta di Kompas TV”. Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 1(1): 39-47. http://dx.doi.org/10.32528/bb.v1i1.71
Yusri. 2015. “Pelanggaran Kesopanan Berbahasa dalam Komunikasi Politik pada Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2013”. Parole 5(1): 26-39. https://doi.org/10.14710/parole.v5i1.26-39
Yanto, Yudi. 2013. “Kesantunan Berbahasa dalam Komunikasi Terapeutik Perawat di RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto: Kajian
Pragmatik”. Skiptorium 2(2): 135-145.
http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-skriptorium5d32e0c161full.pdf