ABSTRAK. Kata kunci: remaja putri,status gizi, pola makan, dan keteraturan haid. PENDAHULUAN

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN POLA MAKAN (JUMLAH, JENIS DAN FREKUENSI)

STATUS GIZI (ANTROPOMETRI DAN SURVEI KONSUMSI) DENGAN

KETERATURAN HAID PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 51

JAKARTA TIMUR TAHUN 2015

Dwi Ayu1, Slamet Santoso K1

1

Program Studi D3 Gizi Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin

Alamat korespondensi:

Prodi D3 Gizi Fakultas Kesehatan Universitas MH. Thamrin, Jln. Raya Pondok Gede No. 23 – 25 Kramat Jati Jakarta Timur 13550. Telp: -

ABSTRAK

Wanita akan merasa terganggu bila hidupnya mengalami perubahan, terutama bila haid menjadi lebih lama atau banyak, tidak teratur, lebih sering atau tidak sama sekali ( amenorea). Penyebab gangguan haid dapat karena kelainan biologik (organik dan disfungsional) atau dapat pula karena psikologik seperti keadaan stres dan gangguan emosi atau gangguan biologik dan psikologik. Pola makan pun bisa mempengaruhi siklus haid terutama melalui penyediaan bahan untuk membuat lapisan endometrium lagi daan pengaruhnya terhadap hormon perempuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pola makan dan status gizi terhadap keteraturan menstruasi pada siswi SMA Negeri 51 Jakarta Timur kelas X Tahun 2015. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 dengan

desain cross sectional, sampel penelitian adalah 67 siswi. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis jalur

menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh pola makan dan status gizi terhadap keteraturan haid, hal ini membuktikan bahwa status gizi tidak langsung mempengaruhi pola makan. Namun masih harus dilihat bagaimana pola makan serta aktivitas yang dilakukan oleh responden. Oleh karena itu diperlukan adanya upaya dalam memperhatikan dan mewujudkan pola makan yang baik agar dapat memenuhi status gizi yang baik. Selain itu perlu diadakan kegiatan penyuluhan gizi secara berkala kepada remaja dengan materi penyuluhan tentang pola makan meliputi jenis, asupan dan frekuensi makan.

Kata kunci: remaja putri,status gizi, pola makan, dan keteraturan haid . PENDAHULUAN

Wanita dalam kehidupannya tidak luput dari adanya siklus haid normal yang terjadi secara siklik. Seorang perempuan yang pertama kali mendapat haid adalah pertanda bahwa ia siap bereproduksi atau menghasilkan

keturunan . Umumnya datang haid pertama kali sekitar 10-12 tahun. Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal

mulainy a haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Pada masing-masing wanita mempunyai variasi dalam siklus haidnya, yang masih dalam batas normal (Prawiharjo,2006) . Panjang siklus haid yang normal atau dianggap siklus menstruasi yang khas adalah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Siklus menstruasi tersebut bervariasi, hampir 90% wanita memiliki siklus menstruasi 25-35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus 28 hari (Nantoro, 2009)

Kejadian menstruasi dipengaruhi beberapa faktor yang mempunyai sistem saraf pusat dengan panca inderanya, sistem hormonal, perubahan pada ovarium dan uterus, serta rangsangan esterogen dan progesteron pada panca indra langsung pada hipotalamus dan melalui perubahan emosi. Semakin dewasa umur wanita semakin besar pengaruh rangsangan emosi terhadap hipotalamus (Yuxie,2008). Telah dilakukan penelitian terhadap 4000 wanita, ternyata hanya 3% diantaranya yang mempunyai siklus menstruasi yang teratur dari bulan yang satu kebulan yang lainnya (Sheldon, 2000). Wanita akan merasa terganggu bila hidupnya mengalami perubahan, terutama bila haid menjadi lebih lama dan atau banyak,tidak teratur, lebih sering atau tidak sama sekali (amenorea). Penyebab gangguan haid dapat karena kelainan biologik (organik dan disfungsional) atau dapat pula karena spikologik seperti keadaan – keadaan stres dan gangguan emosi atau gangguan biologik dan psikologik . Siklus menstruasi mempunyai hubungan tertentu terhadap keadaan fisik dan psikologik wanita (Yuxie, 2008).

Siklus haid wanita sangat mudah dipengaruhi oleh suasana kehidupannya. Hal ini misalnya karena kelelahan, pengaruh stres yang tinggi atau sedang dalam keadaan emosi. Faktanya, ketika sedang dalam perjalanan atau terjadi perubahan jadwal dalama aktivitas sehari – hari siklus haid akan telat misalnya pada mereka yang suka berolahraga dan menghentikan kebiasaannya tiba – tiba. Pola makan pun bisa mempengaruhi siklus haid. Misalnya seseorang biasa makan banyak dan mendadak diet. Ini akan membuat tubuh stres. Status gizi mempengaruhi haid terutama melalui penyediaan bahan untuk membuat lapisan endometrium lagi dan pengaruhnya terhadap hormon perempuan. Kecemasan dan kelelahan mempengaruhi status hormonal dan keadaan umum tubuh. Bagi yang masih belum menikah

(2)

atau remaja penyebabnya bisa karena terlalu lelah contohnya belajar terlalu keras bagi yang masih sekolah atau kuliah serta rasa cemas yang datang saat menjelang ujian dengan mudah akan mengganggu siklus haid (Dewi,2009). Menarke adalah haid yang pertama kali terjadi yang merupakan ciri khas kedewasaan wanita yang sehat dan tidak hamil. Status gizi wanita Sangat mempengaruhi terjadinya menarke . Adanya keluhan-keluhan selama menarke maupun lamanya hari menarke. Secara psikologis wanita remaja yang pertama kali mengalami menarke akan mengeluh rasa sakit , nyeri , kurang nyaman , mengeluh perutnya terasa begah. Tetapi beberapa wanita tersebut tidak dirasakan . hal ini dipengaruhi oleh nutrisi yang ade kuat yang biasa dikonsumsi selain olahraga yang teratur. Agar menarke tidak menimbulkan keluhan-keluhan sebaiknya remaja wanita mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang sehingga status gizinya baik . Gizi kurang/terbatas selain akan mempengaruhi pertumbuhan fungsi organ tubuh juga akan menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi . hal ini dapat berdampak pada gangguan haid. Tetapi akan membaik bila asupan nutrisinya baik.

Bertitik tolak dari hal tersebut, penulis tertarik untuk meneliti gambaran pola makan, status gizi terhadap pola haid di SMA N 51 Jakarta Timur .Kesuburan seseorang selain dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan dan faktor usia, juga dipengaruhi oleh faktor gizi pasangan, faktor gizi ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung kesuburan tersebut. Kekurangan nutrisi pada seseorang akan berdampak pada penurunan fungsi reproduksi, hal ini dapat diketahui apabila seseorang mengalami anoreksia nervosa, maka akan terlihat perubahan-perubahan hormonal tertentu, yang ditandai dengan penurunan berat badan yang mencolok, hal ini terjadi karena kadar gonadotropin dalam serum dan urine menurun, serta penurunan pola sekresinya, kejadian tersebut berhubungan dengan gangguan fungsi hipotalamus (Yuxie,2008) .

Berhubungan dengan fungsi menstruasi, secara khusus jumlah wanita yang anovulasi akan meningkat bila berat badannya meningkat. Pada penelitian ternyata wanita gemuk memiliki resiko tinggi terhadap ovulasi infertil, dan fungsi ovulasi terganggu, sehingga menjadi tidak subur. Keadaan ini terjadi apabila peningkatan berat badan terlalu cepat, pada umumnya peningkatan berat badan disebabkan karena asupan gizi yang berlebihan. Bila siklus berlangsung tanpa ovulasi pada wanita gemuk, menunjukan adanya kelainan pada pengeluaran hormon, bila kadar SHBG rendah, akan terjadi peningkatan produksi hormon androgen baik di ovarium maupun di kelenjar adrenal. Kondisi kegemukan berkaitan dengan proses perubahan androgen menjadi esterogen. Hipotalamus merangsang peningkatan sekresi hormon LH serta terjadi hiperan-drogenisme.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif obsevasif, menggunakan data hasil wawancara dengan

kuesioner dan pengukuran. Rencana penelitian ini menggunakan design cross sectional, karena semua variabel baik

independen maupun dependen diamati dan diukur pada satu waktu secara bersamaan. Variabel dependen dalam penelitian adalah keteraturan haid remaja siswi sekolahh menengah atas Negeri 51 Jakarta dan variabel independennya adalah pola makan dan status gizi. Penelitian dilakukan di sekolah menengah atas jakarta timur, yaitu SMAN 51 Jakarta Timur. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survey dengan jenis penelitian bersifat analitik. Teknik pengumpulan data Cross Sectional .

Populasi dan sampel

Populasi yang ada dalam penelitian ini adalah siswi kelas X SMA N 51 Jakarta.Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Sampel penelitian adalah siswi kelas X di SMA Negeri 51 Jakarta. Pengambilan responden dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara sengaja dan tidak secara acak, tetapi ditentukan sendiri oleh peneliti melalui beberapa kriteria.

Besar sampel dalam penelitian ini adalah ditentukan dengan rumus untuk menghitung besar sampel yang populasinya telah di ketahui (Lemeshow, et.al.1990).

n = 1+𝑁 (𝑑2)𝑁 Keterangan :

n = besar sampel minimum N = Besar populasi

d = Kesalahan (absolute) yang dapat di tolerir. Kriteria sampel penelitian ini adalah :

1. Tidak sakit pada saat penelitian.

2. Hadir pada saat penelitian

3. Bersedia menjadi sampel.

(3)

Jenis Data dan Cara Pengumpulan

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder

a. Data primer yang dikumpulkan yaitu:

a) Data karakteristik siswi SMA N 51 Jakarta meliputi nama dan umur siswi.

b) Kuesioner pola makan meliputi frekuensi, jenis dan asupan.

c) Status gizi siswi kelas X SMA N 51 Jakarta.

b. Data sekunder

Data sekunder yang didapatkan, berupa gambaran umum SMA Negeri 51 Jakarta Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer. Tahapan dalam proses pengolahan data sebagai berikut:

1. Melakukan pemeriksaan kelengkapan data .

2. Setelah semua data terisi lengkap, langkah selanjutnya yaitu mengklasifikasikan data.

3. Membuat struktur data pada program komputer dan memasukkan data yang terdapat pada kuesioner ke dalam

struktur data yang telah dibuat.

4. Memeriksa kembali data yang telah dimasukkan ke dalam struktur data.

Penyajian dan Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan komputerisasi meliputi univariat, bivariat dan multivariat.

1. Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk mendapatkan gambaran dari variabel-variabel independen maupun dependen dan disajikan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan dianalisa secara deskriptif.

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dengan analisis chi square menggunakan program software spss 11.5 digunakan untuk

mengetahui apakah ada atau tidak hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Bila p<0,05 maka ada hubungan antara kedua variabel tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

TABEL 1

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT BERAT BADAN

Kategori Mean SD Min-max

Berat Badan 49,99 7,61 35-70

Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu.Hasil analisis didapatkan rata-rata berat badan siswi SMA adalah 49,99 kg dengan standar deviasi 7,61 kg. Dan didapatkan berat badan teringan adalah 35 kg dan berat badan terberat adalah 70 kg

TABEL 2

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT TINGGI BADAN

Kategori Mean SD Min-max

Tinggi Badan

158,3 5,79 145-168

Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun (Depkes RI, 2004). Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi.

(4)

Dan dari hasil analisis didapatkan rata-rata tinggi badan siswi SMA adalah 158,3 cm. Dengan standar deviasi 5,78 cm. Dan didapatkan tinggi badan terpendek dengan 145 cm dan tinggi badan tertinggi dengan 168 cm

TABEL 3

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT UMUR

Kategori N %

14 tahun 4 6

15 tahun 47 70,1

16 tahun 23 23,9

Total 67 100

Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya Adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004)

Dan berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan usia responden yang berusia 15 tahun ada 47 responden (70,1%), responden dengan usia 16 tahun ada 23 responden (23,9%) sedangkan yang berusia 14 hanya ada 4 responden (6%).

TABEL 4

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT STATUS GIZI

Kategori N % BB Normal : 5 - <85 persentil 61 91 BB Lebih : 85 - <95 persentil 6 9 Total 67 100

Status gizi adalah tingkat keadaan gizi seseorang yang dinyatakan menurut jenis dan beratnya keadaan kurang gizi. Untuk lebih memudahkan dalam memahami istilah status gizi pada permasalahan gizi yang ada, maka perlu disajikan berbagai istilah yang dipakai kaitannya dengan penggambaran masalah gizi di suatu negara atau wilayah. Berdasarkan pengertian status gizi, maka beberapa istilah yang perlu diketahui (Persagi,2009). Menurut tabel diatas bahwa sebagian besar status gizi responden adalah normal (91%) dan responden dengan status gizi lebih sebanyak 6 responden(9%).

TABEL 5

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT FREKUENSI MAKAN

Kategori N %

Kurang : <2x sehari 25 37,3

Baik : >= 3x sehari 45 62,7

Total 67 100

Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik kualitatif maupun kuantitatif. Secara alamiah makanan diolah didalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat sifat dan jenis makanan. Jika rata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung.

(5)

Porsi makan pagi tidak perlu sebanyak porsi makan siang dan makan malam secukupnya saja, untuk memenuhi energi dan sebagian zat gizi sebelum tiba makan siang. Lebih baik lagi jika makanan ringan sekitar pikul 10.00. Menu sarapan yang baik harus mengandung karbohidrat, protein dan lemak, serta cukup air untuk mempermudah pencernaan makanan dan penyerapan zat gizi, pilihlah menu yang praktis dan mudah disiapkan dan usahakan selalu makan pagi karena penting dan mempersiapkan energi dalam beraktivitas dalam sehari. Berdasarkan tabel diatas bahwa sebagian besar frekuensi makan responden adalah baik yaitu (62,7%) dan responden dengan

frekuensi makan yang masih kurang sebanyak(37,3%).

TABEL 6

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT ASUPAN MAKAN

Kategori N %

Kurang : <70% 40 59,7

Sedang : 70-89% 23 34,3

Baik : 90-110% 4 6,0

Total 67 100

Berdasarkan tabel diatas bahwa sebagian besar asupan makan responden kurang yaitu (59,7%) desebabkan siswi merasa asupan nya sudah tercukupi oleh jajanan yang ada disekolah dan sebagian siswi beranggapan takut berat badannya naik apabila makan sesuai jumlah yang telah dianjurkan. Kemudian asupan makan responden dengan kategori sedang sebesar (34,3%) dan yang baik ada (6%) saja. Hal ini karena baru sedikit siswi yang mempertahankan kebutuhan dan nilai gizi dengan membawa makanan dari rumah. Sehingga masih rendah sekali responden yang

memenuhi asupan dengan kategori baik.

TABEL 7

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT JENIS MAKANAN

Kategori N %

Kurang : Terdiri dari 3 KH , Lauk hewani, Lauk Nabati, sayur dan buah.

19 28,4

Baik : Terdiri dari 5 KH, Lauk hewani, Lauk nabati sayur dan buah .

48 71,6

Total 67 100

Jenis makanan adalah variasi bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang. Menyediakan variasi makanan merupakan salah satu cara untuk menghilangkan rasa bosan. Sehingga mengurangi selera makan. Menyusun hidangan sehat memerlukan keterampilan dan pengetahuan gizi. Variasi menu yang tersusun oleh kombinasi bahan makanan yang diperhitungkan dengan tepat akan memberikan hidangan sehat baik secara kualitas maupun kuantitas. Teknik pengolahan makanan adalah guna memperoleh intake yang baik dan bervariasi. Berdasarkan tabel diatas bahwa sebagian besar jenis makanan siswi SMA memiliki jenis makanan yang baik yaitu (71,6%) dan yang memiliki kategori kurang yaitu (28,4%).

TABEL 8

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT POLA MAKAN

Kategori N %

Kurang baik 62 92,5

Baik 5 7,5

(6)

Pola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu .Pola makan merupakan berbagai informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh suatu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu . Berdasarkan tabel diatas bahwa sebagian besar pola makan siswi SMA memiliki pola makan yang kurang baik 62 responden yaitu (92,5%) dan yang memiliki pola makan yang baik yaitu hanya 5 responden(7,5%)

TABEL 9

DISTRIBUSI FREKUENSI SISWI SMA MENURUT KETERATURAN MENSTRUASI

Kategori N %

Tidak Teratur: Jika siklus mens. Kurang/lebih dari 28

hari

34 50,7

Teratur : jika siklus haid 28 hari

33 49,3

Total 67 100

Pada dasarnya siklus haid wanita tidak sama, tetapi umumnya berlangsung 25-35 hari (rata-rata 28 hari). Hari pertama perdarahan dihitung sebagai pemulaan siklus haid. Lalu siklus haid adalah jumlah hari sebelum haid berikutnya terjadi (hari pertama perdarahan) jangka waktu menstruasi 3-10 hari. Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa sebagian siklus menstruasi responden tidak teratur sebanyak 34 responden sebesar (50,7%) dan yang memiliki

keteraturan menstruasi baik sebanyak 33 responden sebanyak 33 responden sebanyak (49,3%)

TABEL 10

DISTRIBUSI UMUR RESPONDEN TERHADAP KETERATURAN MENSTRUASI Kategori

Umur

Keteraturan menstruasi Total OR

(95% CI)

P Value

Tidak Teratur Teratur

N % N % N % < 15 Tahun 3 75 1 25 4 0,6 3,097 (0,305-31,40) 0,317 ≥ 15 Tahun 31 49,3 32 50,7 63 94 Total 34 100 33 100 67 100

Secara biologis, temuan yang mencolok dari penyebab siklus haid tidak teratur dalah rendahnya kadar estradiol, salah satu bentuk estrogen yang paling poten di tubuh manusia pada pasien depresi dan obesitas. Hormon penunjang lainnya, seperti FSH, LH, dan progesterone tampak normal pada kasus depresi sehingga siklus menstruasi dapat memanjang. Merokok, bekerja pada keadaan stress, kopi, dan usia kurang dari 13 tahun saat pertama kali menstruasi menjadi faktor yang mempercepat siklus menstruasi. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa pemendekan siklus menstruasi dapat terjadi secara alami seiring pertambahan umur, kecuali saat menjelang menopause. Selain itu, mekanisme tepat mengenai kapan terjadi pemendekan maupun pemanjangan siklus menstruasi tidak dapat ditentukan.

Hasil analisis hubungan antara umur responden dengan keteraturan menstruasi diperoleh bahwa ada sebanyak 1 responden (25%) siswi berumur <15 tahun yang memiliki keteraturan menstruasi yang teratur. Sedangkan diantara siswi yang berumur ≥15 tahun ada 32 responden (50,7 %) yang memiliki keteraturan menstruasi secara teratur. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,317 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara keteraturan menstruasi antara umur siswi yang berumur <15 tahun dengan siswi yang berumur ≥ 15 tahun (tidak ada hubungan yang signifikan antara umur siswi dengan keteraturan menstruasi). Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR= 0,317 , artinya siswi yang berusia ≥ 15 tahun memiliki peluang 0,317 kali untuk mengalami menstruasi secara teratur dibandingkan siswi yang berusia < 15 tahun Hasil analisis hubungan antara asupan makan dengan keteraturan menstruasi diperoleh bahwa ada sebanyak 17 responden (42,5%) siswi yang asupan makanan nya kurang memiliki keteraturan menstruasi yang teratur. Untuk siswi dengan asupan makan sedang ada sebanyak 13 responden (56,5%) yang memiliki keteraturan

(7)

menstruasi yang teratur. Sedangkan untuk siswi yang memiliki asupan makan yang baik ada sebanyak 3 responden (75%) yang memiliki keteraturan menstruasi yang teratur. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,32 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi kejadian keteraturan menstruasi antara siswi yang memiliki asupan makan yang kurang dengan siswi yang memiliki asupan makan sedang dan dengan siswi yang memiliki asupan makan baik (tidak ada hubungan yang signifikan antara keteraturan menstruasi dengan asupan makan siswi).

TABEL 11

DISTRIBUSI ASUPAN MAKAN TERHADAP KETERATURAN MENSTRUASI Kategori

Asupan makan

Keteraturan menstruasi Total OR

(95% CI)

P Value

Tidak Teratur Teratur

N % N % N % Kurang 23 57,5 17 42,5 40 100 0,32 Sedang 10 43,5 13 56,5 23 100 Baik 1 25 3 75 4 100 Total 34 50,7 33 49,3 67 100 TABEL 12

DISTRIBUSI FREKUENSI MAKAN TERHADAP KETERATURAN MENSTRUASI Kategori

frekuensi

Keteraturan menstruasi Total OR

(95% CI)

P Value

Tidak Teratur Teratur

N % N % N % Kurang : <2x Sehari 14 56 11 44 25 100 1,40 (0,51 – 3,78) 0,681 Baik : >=3x sehari 20 47,6 22 52,4 42 100 Total 34 50,7 33 49,3 67 100

Hasil analisis hubungan antara keteraturan menstruasi dengan frekuensi diperoleh bahwa ada sebanyak 11 responden (44%) siswi yang memliki frekuensi makan <2x sehari memiliki keteraturan menstruasi yang teratur. Sedangkan diantara siswi yang frekuensi makannya ≥3x sehari, ada 22 responden (52,4%) yang memiliki keteraturan menstruasi yang teratur . hasil uji statistik diperoleh p=0,681 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi kejadian keteraturan menstruasi antara siswi yang memiliki frekuensi makan kurang dengan siswi yang memiliki frekuensi makan baik (tidak ada hubungan yang signifikan antara keteraturan menstruasi dengan frekuensi makan siswi). Dari analisis diperoleh pula nilai OR= 1,40, artinya siswi yang frekuensi makannya baik memiliki peluang 1,40 kali untuk memiliki keteraturan menstruasi yang teratur dibandingkan dengan siswi yang frekuensi makannya kurang baik.

Siklus haid wanita sangat mudah dipengaruhi oleh suasana kehidupannya, Hal ini misalnya karena kelelahan, pengaruh stres yang tinggi atau sedang dalam keadaan emosi. Faktanya, ketika sedang dalam perjalanan atau terjadi perubahan jadwal dalam aktivitas sehari-hari siklus haid akan telat misalnya pada mereka yang biasa berolah raga dan menghentikan kebiasaannya tiba-tiba. Pola makan pun bisa mempengaruhi siklus haid. Misalnya seseorang yang biasa makan banyak dan mendadak diet. Ini akan membuat tubuh stres.

Status gizi mempengaruhi haid terutama melalui penyediaan bahan untuk membuat lapisan endometrium lagi dan pengaruhnya terhadap kadar hormon perempuan. Kecemasan dan kelelahan mempengaruhi status hormonal dan keadaan umum tubuh. Bagi yang masih belum menikah atau remaja penyebabnya bisa karena terlalu lelah contohnya belajar terlalu keras bagi yang masih sekolah atau kuliah serta rasa cemas yang datang saat menjelang ujian dengan mudah akan mengganggu siklus haid . Hasil analisis hubungan antara keteraturan menstruasi dengan pola makan

(8)

menstruasi yang baik. Sedangkan diantara siswi yang pola makannya baik ada 2 responden (66,7%) siswi yang pola menstruasinya teratur. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,979 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi kejadian keteraturan menstruasi antara siswi yang memiliki pola makan kurang baik dengan siswi yang memiliki pola makan baik (tidak ada hubungan yang signifikan antara keteraturan menstruasi dengan pola makan siswi). Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR= 2,12, artinya siswi yang pola makan yang kurang baik memiliki resiko 2,12 kali memiliki keteraturan menstruasi yang teratur dibandingkan dengan siswi yang pola makannya baik.

TABEL 13

DISTRIBUSI POLA MAKAN TERHADAP KETERATURAN MENSTRUASI Kategori

Pola Makan

Keteraturan menstruasi Total OR

(95% CI)

P Value

Tidak Teratur Teratur

N % N % N % Kurang Baik 33 51,6 31 48,4 64 100 2,12 (0,184-24,672) 0,979 Baik 1 33,3 2 66,7 3 100 Total 34 50,7 33 49,3 67 100 TABEL 14

DISTRIBUSI STATUS GIZI TERHADAP KETERATURAN MENSTRUASI Kategori

Status Gizi

Keteraturan menstruasi Total OR

(95% CI)

P Value

Tidak Teratur Teratur

N % N % N % BB Normal 30 49,2 31 50,8 61 100 0,484 (0,082-2,841) 0,414 BB Lebih 4 66,7 2 33,3 6 100 Total 34 50,7 33 49,3 67 100

Kebutuhan energi dan nutrisi pada remaja dipengarhi oleh usia reproduksi, tingkat aktivitas dan status nutrisi. Nutrisi yang dibutuhkan sedikit lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan remaja tersebut. Remajayang berasal dari sosial ekonomi rendah sumber makanaan adekuat tidak terpenuhi, dan mempunyai resiko defisisensi zat besi sebelum hamil. Pemberian tambahan energi diberikan kepada remaja dengan berat badan rendah. Penembahan energi didapatkan dengan meningkatkan nafsu makan, akan tetapi seorang remaja sering terlalu memperhatikan penambahan berat badannya. Seorang remaja dapat mengalami peningkatan resiko defisisensi zat besi, karena kebutuhan yang meningkat sehubungan dengan pertumbuhan.

Remaja yang anemia dan kurang berat badan lebih banyak melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan wanita yang usia reproduksinya aman untuk hamil. Penambahan berat badan yang adekuat lebih sering terjadi pada orang yang ingin kurus, ingin menyembunyikan kehamilannya, tidak mencukupi sumber makanannya, dan

menggunakan obat-obat terlarang. Hasil analisis hubungan antara keteraturan menstruasi dengan status gizi diperoleh

bahwa ada sebanyak 31 responden (50,8%) siswi yang memiliki status gizi normal memiliki keteraturan menstruasi yang teratur . sedangkan siswi yang memiliki status gizi lebih ada 2 responden (33,3%) yang memiliki keteraturan menstruasi teratur. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,67 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi kejadian keteraturan menstruasi dengan status gizi siswi). Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=0,484, artinya siswi yang status gizinya baik memiliki resiko 0,484 kali memiliki keteraturan menstruasi yang teratur dibandingkan dengan siswi yang status gizinya lebih.

Hasil analisis hubungan antara keteraturan menstruasi dengan jenis makanan yang dikonsumsi siswi diperoleh bahwa ada sebanyak 7 responden (19%) siswi yang memiliki jenis makanan kurang memiliki keteraturan menstruasi

(9)

yang teratur. Sedangkan diantara siswi yang memiliki jenis makanan yang baik, ada 26 responden (54,2%) yang memiliki keteraturan menstruasi yang teratur. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,314 maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan proporsi antara keteraturan menstruasi dengan jenis makanan yang dikonsumsi oleh siswi (tidak ada hubungan yang signifikan antara keteraturan menstruasi dengan jenis makanan yang dikonsumsi siswi).Adapun beberapa jenis makanan dibawah ini yang dapat membuat menstruasi menjadi lancar: Asam lemak omega-3, yang terdapat pada ikan laut atau minyak ikan berfungsi untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi kerusakan akibat radikal bebas, melawan efek penuaan, dan meningkatkan suasana hati.

TABEL 15

DISTRIBUSI JENIS MAKANAN TERHADAP KETERATURANMENSTRUASI

Kategori Jenis Makan

Keteraturan menstruasi Total OR

(95% CI)

P Value

Tidak Teratur Teratur

N % N % N % Kurang 12 63,2 7 19 19 100 2,02 (0,68-4,251) 0,314 Baik 22 45,8 26 54,2 48 100 Total 34 50,7 33 49,3 67 100

Hindari makanan berwarna putih, seperti tepung putih, gula, kentang putih, roti putih, dan nasi putih. Hal ini dikarenakan beragam makanan tersebut dapat menyebabkan lonjakan insulin yang menyebabkan penyimpanan lemak dalam tubuh. Tubuh dengan lemak yang berlebihan dapat mempengaruhi ovulasi dan siklus haid anda menjadi tidak teratur. Protein nabati yang terdapat pada almond, kacang, keju, telur rebus, sarden kaleng, dan edamame dan jenis makanan lainnya dapat menjaga keseimbangan hormonal pada wanita. Dan perlu anda ketahui, semakin seimbang sistem hormonal anda, maka siklus menstruasi anda akan semakin teratur.

Vitamin D dapat meningkatkan keseimbangan antara sel-sel dan menstabilkan hormon. Vitamin D juga dapat melindungi diri dari kanker payudara, usus besar, ovarium, dan kanker prostat. Agar siklus menstruasi anda tetap teratur, silahkan konsumsi makanan mengandung Vitamin D, seperti tuna, salmon, kuning telur, dan sarden. Dan agar Vitamin D dapat diserap oleh tubuh secara maksimal, pastikan Anda cukup terkena sinar matahari, terutama pada pagi hari sebelum jam 9. Cokelat adalah makanan mengandung flavonoids yang memiliki fungsi seperti estrogen untuk membantu meningkatkan sirkulasi dengan mengurangi penggumpalan trombosit dalam darah. Hal ini akan

mempengaruhi siklus menstruasi anda lebih lancar

TABEL 16

TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI STATUS GIZI TERHADAP POLA MAKAN

Kategori Status Gizi

Pola Makan Total OR

(95% CI) P Value

Kurang baik Baik

N % N % N % BB Normal : 5-<85 persentil 58 86,6% 3 4,5% 61 91,0% 9,667 (1,237 – 75,55) 0,011 BB Lebih: 85-<95 persentil 4 6,0% 2 3,0% 6 9,0% Total 62 92,5% 5 7,5% 67 100%

Pola makan yang baik yaitu memenuhi asupan , frekuensi serta jenis makanan dapat mempengaruhi status gizi

seseorang, karena pola pemberian makanan yang seimbang yaitu sesuai dengan kebutuhan disertai pemilihan bahan makan yang tepat akan melahirkan status gizi yang baik. Asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh akan menyebabkan kelebihan berat badan dan penyakit lain yang disebabkan oleh kelebihan zat gizi. Sebaliknya, asupan makan yang kurang dari yang dibutuhkan akan menyebabkan tubuh menjadi kurus dan rentan terhadap penyakit. Kedua keadaan ini sama tidak baiknya. Hasil analisis hubungan antara status gizi dengan pola makan diperoleh bahwa

(10)

ada sebanyak 3 responden (4,5%) siswi yang memiliki status gizi normal memiliki pola makan yang baik . sedangkan siswi yang memiliki status gizi lebih ada 2 responden (3,0%) yang memiliki pola makan yang baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,011 atau p:<0,05 maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kejadian status gizi siswi dengan pola makan). Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR=9,667, artinya siswi yang pola makannya baik memiliki resiko 9,667 kali memiliki status gizi yang normal dibandingkan dengan siswi dengan pola makan yang kurang baik.

KESIMPULAN

1. Sebagian besar responden berusia 15 tahun dan semua berjenis kelamin perempuan.

2. Sebagian besar responden memiliki frekuensi makan yang baik yaitu sebanyak 45 responden (62,7%).

3. Sebagian besar responden memiliki % asupan makan yang kurang yaitu sebanyak 40 responden (59,7%)

4. Sebagian besar responden memiliki pola makan yang kurang baik yaitu sebanyak 64 rresponden (95,5%).

5. Sebagian besar responden memiliki status gizi yang normal yaitu sebanyak 61 responden (91%)

6. Sebagian besar responden memiliki keteraturan menstruasi yang tidak teratur yaitu sebanyak 34 responden

(50,7%)

7. Ada hubungan antara status gizi dengan pola makan.

8. Tidak ada kecenderungan hubungan antara umur responden berdasarkan proporsi keteraturan menstruasi .

9. Tidak ada kecenderungan hubungan antara status gizi responden berdasarkan proporsi keteraturan menstruasi.

10. Tidak ada hubungan antara pola makan responden berdasarkan proporsi keteraturan menstruasi

SARAN

1. Untuk siswi sebaiknya mengetahui gizi yang baik dalam mengkonsumsi makanan sehari hari.

2. Sebaiknya siswi lebih memperhatikan pola makannya yang meliputi jenis, jumlah dan frekuensi.

3. Sebaiknya siswi tidak mengkonsumsi jajanan yang belum teruji higine dan sanitasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Andrews, Gilly. Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Almatsier, Sunita. Prinsip Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001

Arisman. (2004). Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGGC.Jakarta Citra Cuaca Elmart, Fauzi. Mahir Menjaga Organ Intim Wanita.Solo:Tinta Media

CDC (2013).Healt Weight: Assesing your body weight: Body Mass Index. Atlanta. Clifton RD. Dewa Nyoman Supariasa,I. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2002 Hutami, A.P.2010. Hubungan syndrom premenstruasi dengan regularitas siklus menstruasi

pada mahasiswi S-1 fakultas keperawatan Universitas Sumatra. Skripsi : Fakultas Kedokteran Sumatra Utara. Kiastuti et.al. (2009).Kesehatan Reproduksi. Penerbit Fitra Maya. Yogyakarta

Kusmiran, Eny.Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita.Salemba Medika Marmi.Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Pustaka Pelajar

Noviana,Nana. Kesehatan Reproduks. Trans Info Media Wiwi Sartika,Mitayani. Buku Saku Ilmu Gizi.Trans Info Media

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. www.menarkhe.com
Related subjects :