HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian Administratif Daerah

21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

39 4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Administratif Daerah

Desa Cilembu merupakan desa yang terletak di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang yang memiliki luas wilayah sebesar 352,5 Ha. Desa Cilembu terdiri dari 11 Rukun Warga (RW) dan 33 Rukun Tetangga (RT). Desa Cilembu secara geografis memiliki ketinggian tanah 986 m dari permukaan laut, curah hujan sebesar 1700 mm/tahun, dan secara topografi Desa Cilembu merupakan daerah perbukitan yang memiliki suhu udara rata-rata 22oC. Desa Cilembu secara orbitasi memiliki jarak dari pusat kecamatan sejauh 5 Km, jarak dari ibu kota kabupaten/kodya DT.II sejauh 25 Km, jarak dari ibu kota propinsi sejauh 45 Km, dan jarak dari ibu kota negara sejauh 240 Km. Secara administratif Desa Cilembu memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah utara : Desa Cigendel Sebelah selatan : Desa Mekar Bakti Sebelah barat : Desa Haur Ngombong Sebelah timur : Desa Cimarias

4.1.2 Keadaan Penduduk Desa Cilembu

Menurut sensus terakhir tahun 2014, jumlah penduduk Desa Cilembu sebanyak 5365 orang, dengan jumlah laki-laki 2704 orang dan jumlah perempuan 2661 orang. Jumlah penduduk Desa Cilembu menurut tingkat pendidikan sebanyak 2744 orang merupakan lulusan pendidikan umum dan sebanyak 40 orang merupakan lulusan pendidikan khusus. Keadaan penduduk Desa Cilembu berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 3.

(2)

40

Tabel 3. Mata Pencaharian Penduduk di Desa Cilembu

No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah

Orang %

1. Pegawai Negeri Sipil 33 2,07

2. ABRI 7 0,44 3. Swasta 204 12,77 4. Wiraswasta 350 21,90 5. Tani 325 20,34 6. Pertukangan 250 15,64 7. Buruh Tani 350 21,90 8. Pensiunan 32 2,00 9. Jasa 47 2,94 Jumlah 1598 100,00

(Sumber : Profil Desa Cilembu, 2014)

Berdasarkan data Tabel 3, mayoritas penduduk Desa Cilembu memiliki mata pencaharian dalam bidang pertanian dan wiraswasta. Mata pencaharian penduduk Desa Cilembu dalam bidang pertanian ditunjukkan oleh penduduk yang berprofesi sebagai buruh tani maupun petani yang bertani ubi dan tanaman palawija seperti jagung dan padi. Ketersediaan sumberdaya alam yang baik seperti lahan dan iklim yang mendukung untuk didirikannya suatu pertanian menjadi salah satu alasan mengapa mayoritas penduduk di Desa Cilembu memiliki profesi di bidang pertanian. Penduduk di Desa Cilembu yang berprofesi sebagai wiraswasta, lebih terkonsentrasi pada wiraswasta peternakan. Banyak ditemukan penduduk yang berprofesi lebih dari satu mata pencaharian, contohnya seperti petani sekaligus sebagai peternak.

4.1.3 Keadaan Peternakan Desa Cilembu

Desa Cilembu merupakan salah satu daerah yang potensial untuk didirikannya suatu usaha peternakan, hal tersebut didukung oleh kepemilikan lahan yang cukup luas, selain itu wilayah Desa Cilembu memiliki iklim yang

(3)

41

mendukung. Keadaan populasi ternak tahun 2014 di Desa Cilembu Kecamatan Pamulihan ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Populasi Ternak Tahun 2014 di Desa Cilembu

No. Jenis Ternak Jumlah (Ekor)

Jantan Betina 1. Ayam Buras 3500 5000 2. Ayam Pedaging 0 50000 3. Itik 10 50 4. Sapi Perah 80 475 5. Sapi Potong 10 30 6. Kerbau 3 0 7. Kambing 20 25 8. Domba 270 650

(Sumber : Data Perkembangan Sub Sektor Pertanian Desa Cilembu, 2014)

Berdasarkan data Tabel 4, Desa Cilembu merupakan wilayah yang memiliki usaha peternakan yang beragam. Hal tersebut ditunjukkan oleh banyaknya penduduk desa yang bermata pencaharian sebagai wiraswasta (peternak). Jumlah populasi ternak terbanyak di Desa Cilembu adalah ternak ayam pedaging, ayam buras, domba, dan sapi perah. Lingkup alam Desa Cilembu seperti lahan yang luas serta iklim yang mendukung, menjadikan Desa Cilembu sebagai desa yang potensial dalam hal usaha peternakan. Potensi peternakan yang dimiliki Desa Cilembu harus dapat dimanfaatkan, sehingga usaha peternakannya dapat lebih berkembang.

4.2 Profil Kelompok Peternak Lembusari

Kelompok peternak Lembusari merupakan salah satu kelompok peternak sapi perah yang tergabung sebagai anggota KSU Tandangsari. Kelompok peternak Lembusari berdiri pada tahun 1990 dan terdiri dari 1 sub kelompok yaitu sub Lembusari dengan jumlah anggota sebanyak 40 orang. Saat ini kelompok peternak Lembusari terdiri dari 4 sub kelompok yaitu sub Lembusari 1, Lembusari

(4)

42

2, Lebak Jawa dan Dangdangsari. Saat ini, jumlah peternak sapi perah yang tergabung sebagai anggota kelompok Lembusari sebanyak 92 orang.

Kelompok peternak Lembusari merupakan salah satu kelompok peternak yang menghasilkan kualitas susu yang sangat baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan harga jual susu yang cukup tinggi, dengan kisaran harga susu Rp 4.000 – Rp 4.500 per liter. Kegiatan harian yang dilaksanakan oleh anggota kelompok peternak Lembusari yaitu penyetoran susu setiap pagi dan sore hari. Kegiatan kelompok seperti rapat anggota dilaksanakan setiap enam bulan sekali yang dilakukan di balai desa. Sementara itu, rapat pengurus kelompok tidak rutin dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Kelompok peternak Lembusari dapat dikatakan mandiri dalam hal kesejahteraan anggotanya, hal ini dikarenakan adanya iuran anggota sehingga dapat dipergunakan sebagai sarana simpan pinjam anggota serta pemberian dana sumbangan terhadap anggota yang mengalami musibah. Prestasi yang pernah diraih oleh kelompok peternak Lembusari salah satunya mendapatkan hibah sapi perah sebagai bentuk penghargaan koperasi terhadap kinerja kelompok yang memiliki kualitas susu yang sangat baik diantara kelompok peternak lain yang tergabung di KSU Tandangsari. Kelompok peternak Lembusari memiliki struktur organisasi yang baik dan jelas dalam pembagian tatalaksana kegiatannya. Struktur organisasi di kelompok peternak Lembusari terbagi ke dalam dua kepengurusan, yaitu kepengurusan inti dan kepengurusan tiap sub. Struktur organisasi kelompok peternak Lembusari ditunjukkan pada Ilustrasi 2.

(5)

43

STUKTUR ORGANISASI

KELOMPOK PETERNAK LEMBUSARI MASA BAKTI 2013 – 2016

Ilustrasi 2. Struktur Organisasi Kelompok Peternak Lembusari Masa Bakti Tahun 2013 – 2016 Ketua Umum Endang Atik Sub Lembusari 1 Ketua : Tatang Bendahara : Rohana Sub Lembusari 2 Ketua : Entis Bendahara : Mulyadi

Sub Lebak Jawa Ketua : Endang Bendahara : Ade. R. Sub Dangdangsari Ketua : Undang Bendahara : Ujang Penasehat Oyon Seksi Pakan Cucu Sukarna Tester Didi

(6)

44 4.3 Identitas Responden

Responden yang dijadikan sampel pada penelitian ini sebanyak 34 orang peternak sapi perah yang tergabung dalam kelompok Lembusari yang berada di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang dan merupakan anggota aktif KSU Tandangsari. Karakteristik responden dibagi ke dalam tiga karakteristik, yaitu: usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman beternak.

4.3.1 Usia Responden

Usia pada dasarnya dapat mempengaruhi produktivitas kinerja seseorang. Umumnya semakin tua usia seseorang maka semakin menurun kondisi fisiknya sehingga berimplikasi terhadap menurunnya produktivitas. Usia responden pada penelitian ini bervariasi dari antara 25-62 tahun. Seluruh responden yang berjumlah 34 orang dalam penelitian ini, tergolong ke dalam usia produktif. Keadaan tersebut tentunya sangat menguntungkan bagi kelangsungan usaha ternak yang dimiliki karena responden mampu mencurahkan tenaga dan pikiran terhadap usaha ternaknya. Selain itu, usia yang produktif dapat mendorong responden untuk memaksimalkan potensi dan mengembangkan usaha ternaknya seperti penambahan jumlah ternak produktif dan peningkatkan produktivitas ternaknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nurhasikin dalam bpskepri (2013) bahwa terdapat tiga kelompok umur, yaitu umur belum produktif (<15 tahun), umur produktif (15-64 tahun), dan umur tidak produktif (>64 tahun). Usia produktif mampu mendukung kinerja yang dimiliki seseorang, karena mereka cenderung memiliki tenaga yang memadai dan etos kerja yang tinggi, serta lebih terbuka terhadap penerimaan informasi dan inovasi terbaru, serta penduduk yang produktif akan membantu dalam kelancaran segi perekonomian dan pembangunan dalam satu wilayah.

(7)

45 4.3.2 Tingkat Pendidikan Responden

Pola pikir dan daya tangkap informasi dan inovasi yang dimiliki seseorang pada dasarnya dibentuk melalui pendidikan. Tingkat pendidikan responden pada penelitian ini bervariasi mulai dari tamat Sekolah Dasar (SD) hingga tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingkat pendidikan responden ditunjukkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Tingkat Pendidikan Responden

No. Pendidikan Jumlah

Orang %

1. SD 33 97,05

2. SMP 1 2,95

Jumlah 34 100,00

Berdasarkan data Tabel 5, hampir seluruh responden (97,05%) dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan rendah yaitu hingga jenjang Sekolah Dasar (SD) dengan persentase sebesar 97,05% dan hanya satu orang responden dengan tingkat pendidikan hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Rendahnya tingkat pendidikan responden disebabkan oleh berbagai faktor, namun salah satu faktor yang cukup mempengaruhi adalah keadaan ekonomi yang terbatas, sehingga responden tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mubyarto (1986) menyatakan bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan maka pengetahuan dan cara berpikir akan bertambah luas. Rendah atau tingginya tingkat pendidikan responden, akan berpengaruh terhadap proses penerimaan informasi dan inovasi, sehingga apabila pendidikannya semakin tinggi maka informasi dan inovasi yang diterima dapat lebih mudah dipahami.

(8)

46 4.3.3 Pengalaman Beternak

Pengalaman beternak akan berpengaruh terhadap berjalannya usaha ternak yang dimiliki, terutama dalam hal tingkat pengetahuan tatalaksana beternak dan tingkat antisipasi apabila terjadi hambatan dalam menjalankan usahanya. Pengalaman beternak responden dalam penelitian ini mayoritas sudah cukup lama sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Pengalaman Beternak Responden No. Pengalaman Beternak

Responden (Tahun) Jumlah Orang % 1. <5 0 0,00 2. 5-10 1 2,95 3. >10 33 97,05 Jumlah 34 100,00

Berdasarkan data Tabel 6, responden yang memiliki pengalaman beternak selama 5-10 tahun adalah sebesar 2,95%, sedangkan responden yang memiliki pengalaman beternak >10 tahun sebesar 97,05%. Tingkat pengalaman beternak yang tinggi, menunjukkan bahwa responden sangat berpengalaman dalam menjalankan usaha ternak sapi perah. Pengalaman beternak dapat dijadikan sebagai sarana belajar dan bertukar informasi antara peternak satu dengan lainnya, sehingga usaha ternak sapi perah yang dimiliki akan semakin berkembang.

4.4 Skala Kepemilikan Ternak

Skala kepemilikan didefinisikan sebagai jumlah kepemilikan ternak. Jumlah kepemilikan sapi perah merupakan indikator keberhasilan suatu usaha peternakan sapi perah (Murwanto, 2008). Meningkatnya jumlah ternak produktif yang dimiliki, akan meningkatkan jumlah produksi susu, sehingga akan berdampak terhadap pendapatan peternak. Skala kepemilikan ternak responden pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7.

(9)

47

Tabel 7. Persentase Kategori Skala Kepemilikan Ternak

No. Kategori Skala Kepemilikan Ternak

Ternak Produktif Jumlah

Ekor Orang %

1. Kecil 1-3 18 52,94

2. Menengah 4-6 12 35,30

3. Besar ≥ 7 4 11,76

Jumlah 34 100,00

Berdasarkan data pada Tabel 7, skala kepemilikan ternak sapi perah produktif responden sebagian besar berada pada skala kecil dengan persentase sebesar 52,94%, responden berskala menengah sebesar 35,30%, dan sebesar 11,76% termasuk ke dalam skala besar. Kepemilikan ternak produktif tersebut akan berpengaruh secara langsung pada total produksi susu yang dihasilkan oleh para peternak dan akan berakibat terhadap tingkat pendapatan ekonomi responden.

Skala usaha ternak yang kecil dapat disebabkan terbatasnya lahan, modal, dan terbatasnya kemampuan responden untuk meningkatkan skala usahanya. Sementara itu, hanya sebagian kecil responden yang memiliki jumlah ternak produktif diatas 7 ekor. Responden yang memiliki ternak produktif diatas 7 ekor, telah mampu untuk menjalankan manajemen usaha ternak yang baik, sehingga produktivitas ternaknya terus meningkat dan perlahan pendapatannya semakin bertambah yang pada akhirnya diinvestasikan dalam bentuk kepemilikan ternak yang bertambah banyak.

Kepemilikan ternak sapi perah produktif yang sebagian besar berskala kecil, lebih dipengaruhi oleh kemampuan responden dalam manajemen usaha serta terbatasnya modal untuk meningkatkan skala usahanya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Taslim (2011) yang menyatakan bahwa, skala kepemilikan sapi perah dibawah 7 ekor per peternak hasilnya tidak optimal dengan produktivitas rendah berakibat kehidupan peternak yang stagnan, bahkan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.

(10)

48 4.5 Tingkat Kebutuhan Informasi Peternak

Peternak sapi perah dalam melakukan pekerjaannya akan menemui suatu masalah dalam aktivitas kegiatan beternak sehari-hari, akan tetapi karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki ini menjadi suatu kesenjangan. Kebutuhan informasi muncul akibat kesenjangan pengetahuan yang ada dalam diri seseorang dengan kebutuhan informasi yang diperlukan. Kondisi kesenjangan tersebut mendorong orang untuk mencari informasi guna mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

Secara umum, kebutuhan informasi peternak terhadap informasi sapta usaha peternakan yang paling tinggi berturut-turut yaitu mengenai informasi pakan, pemasaran, serta bibit dan reproduksi. Informasi pakan serta bibit dan reproduksi, dibutuhkan untuk menunjang produktivitas ternak dan regenerasi ternak yang baik. Sementara itu, informasi pemasaran dibutuhkan dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang diharapkan oleh peternak atas penjualan hasil ternaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan informasi sapta usaha peternakan responden sebagian besar berada di kategori sedang dan rendah, terutama mengenai informasi pemeliharaan, perkandangan, pengendalian penyakit, dan informasi pasca panen.

Kebutuhan informasi peternak berskala kecil didominasi oleh informasi mengenai pakan, pemeliharaan, dan pengendalian penyakit. Informasi pakan yang paling dibutuhkan yaitu mengenai harga dan ketersediaan pakan. Informasi pemeliharaan yang paling dibutuhkan yaitu informasi tatacara membersihkan kandang. Informasi pengendalian penyakit yang paling dibutuhkan yaitu mengenai penyakit milk fever dan mastitis. Hal tersebut diduga karena peternak mengharapkan ternaknya tetap produktif dan terhindar dari penyakit yang mampu merugikan peternak berskala kecil dan menghambat laju usahanya.

Kebutuhan informasi peternak berskala menengah didominasi oleh informasi mengenai pakan, pemasaran, dan bibit dan reproduksi. Informasi pakan yang paling dibutuhkan yaitu mengenai ketersediaan dan kandungan nutrisi

(11)

49

pakan. Informasi pemasaran yang paling dibutuhkan yaitu mengenai penjualan susu seperti harga standar susu dan standar kualitas susu. Informasi bibit dan reproduksi yang paling dibutuhkan yaitu mengenai pemilihan bibit dan penangan estrus/birahi. Hal tersebut diduga karena peternak berskala menengah menginginkan agar usaha ternaknya dapat terus berkembang, sehingga fondasi usaha yang telah terbentuk seperti kepemilikan ternak dapat terus dikembangkan dengan cara menjaga produktivitas ternak, melakukan seleksi bibit yang baik, serta melakukan pemasaran atas hasil ternaknya.

Kebutuhan informasi peternak berskala besar didominasi oleh informasi mengenai pemasaran dan pakan. Informasi pemasaran yang dibutuhkan yaitu mengenai penjualan susu terutama tingkat harga susu di koperasi dan konsumen serta harga standar susu. Informasi pakan yang dibutuhkan yaitu mengenai kandungan nutrisi pakan, bahan penyusun pakan, dan harga pakan. Hal tersebut diduga karena peternak berskala besar lebih berorientasi terhadap kelangsungan usahanya melalui pemasaran hasil usaha ternaknya dan menjaga produktivitas ternaknya tetap tinggi melalui pakan yang diberikan. Namun demikian, umumnya kebutuhan informasi peternak berada pada kategori sedang dan rendah. Uraian lebih jelasnya dijelaskan pada Tabel 8.

Tabel 8. Persentase Tingkat Kebutuhan Informasi

No. Uraian Kategori

Tinggi Sedang Rendah

…%...

1. Bibit dan Reproduksi 8,83 79,41 11,76

2. Pakan 55,88 35,30 8,82 3. Pemeliharaan 2,94 29,41 67,65 4. Perkandangan 0,00 20,59 79,41 5. Pengendalian Penyakit 0,00 32,35 67,65 6. Pasca Panen 0,00 29,41 70,59 7. Pemasaran 52,94 47,06 0,00

(12)

50

Berdasarkan data pada Tabel 8, tingkat kebutuhan informasi responden pada informasi bibit dan reproduksi berada pada kategori sedang dengan persentase sebesar 79,41%, kebutuhan informasi pakan berada pada kategori tinggi dengan persentase 55,88%, kebutuhan informasi pemeliharaan sebagian besar berada pada kategori rendah dengan persentase 67,65%, kebutuhan informasi perkandangan sebagian besar berada pada kategori rendah dengan persentase 79,41%, kebutuhan informasi pengendalian penyakit berada pada kategori rendah dengan persentase 67,65%, kebutuhan informasi pasca panen berada pada kategori rendah dengan persentase 70,59%, dan kebutuhan informasi pemasaran sebagian besar berada pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 52,94%.

Kebutuhan informasi bibit dan reproduksi sebagian besar berada pada kategori sedang (79,41%), sebagian kecil lainnya berada pada kategori rendah dengan persentase 11,76%, dan kategori tinggi dengan persentase 8,83%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden cukup antusias dalam membutuhkan informasi bibit dan reproduksi yang meliputi informasi mengenai pemilihan bibit, cara pembibitan, dan penanganan estrus/birahi. Pada aspek pemilihan bibit, mayoritas responden membutuhkan informasi pada ciri-ciri bibit yang baik dan silsilah bibit. Hal tersebut dikarenakan pada manajemen usaha peternakan yang dimiliki, bibit yang baik dapat ditunjukkan dengan ciri-ciri fisiknya. Silsilah bibit juga turut menentukan tingkat produktivitas dan kualitas bibit tersebut. Pada aspek cara pembibitan, mayoritas responden membutuhkan informasi mengenai Inseminasi Buatan (IB), meskipun telah sering dilakukan oleh responden dalam membibitkan ternaknya, informasi IB masih dibutuhkan karena dianggap paling mudah dan minim resiko dibandingkan cara pembibitan lain. Pada aspek penanganan estrus/birahi, sebagian besar responden membutuhkan informasi mengenai kelainan pada siklus birahi. Seringkali kelainan pada siklus birahi yang ditemukan adalah tidak terlihatnya ciri-ciri birahi pada ternak, sehingga menyebabkan hewan ternak gagal di IB, dan responden mengalami kerugian karena ternaknya harus menunggu di IB pada periode birahi selanjutnya.

(13)

51

Kebutuhan informasi pakan sebagian besar berada pada kategori tinggi (55,88%), sementara itu sebagian kecil lainnya berada pada kategori sedang dengan persentase 35,30%, dan kategori rendah dengan persentase 8,82%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sangat antusias mengenai informasi pakan yang meliputi informasi pada aspek pemberian hijauan pada ternak, aspek pemberian konsentrat pada ternak, dan aspek jumlah pemberian hijauan dan konsentrat pada ternak. Pada aspek pemberian hijauan pada ternak, mayoritas responden membutuhkan informasi mengenai ketersediaan hijauan dan jenis hijauan yang diberikan pada ternak. Hal tersebut dikarenakan responden beranggapan semakin sulitnya mendapatkan hijauan untuk pakan ternak dengan kualitas yang baik terutama pada saat musim kemarau. Hijauan untuk pakan ternak biasanya didapatkan dari kebun, dengan jenis hijauan rumput gajah yang disukai ternak dan baik untuk produktivitas ternak. Pada aspek pemberian konsentrat pada ternak, responden membutuhkan informasi mengenai harga konsentrat dan bahan pakan penyusun konsentrat. Harga konsentrat menjadi perhatian responden dikarenakan pengaruh konsentrat masih belum begitu terasa bagi peningkatan produksi susu yang dihasilkan, meskipun konsentrat yang digunakan adalah kualitas super yang harganya lebih tinggi daripada konsentrat kualitas reguler. Informasi bahan pakan penyusun konsentrat juga dibutuhkan responden, karena selama ini konsentrat yang didapatkan masih harus diberi pakan tambahan berupa kulit singkong ataupun jagung, demi meningkatkan produksi ternak. Pada aspek jumlah pemberian hijauan dan konsentrat pada ternak, mayoritas responden membutuhkan informasi mengenai kondisi fisiologis ternak (umur, produksi susu, dan bobot badan) dan ketersediaan hijauan maupun konsentrat. Hal tersebut dikarenakan selama ini responden memberikan pakan kepada ternak, hanya dengan cara menakar tanpa memperhatikan kondisi fisiologis ternaknya, sehingga seringkali pakan yang diberikan tidak mampu menunjang produktivitasnya. Informasi ketersediaan hijauan dan konsentrat juga dibutuhkan responden, dikarenakan semakin sulitnya mendapatkan hijauan yang berkualitas baik dalam jumlah yang banyak untuk diberikan pada ternak.

(14)

52

Kebutuhan informasi pemeliharaan responden berada pada kategori rendah (67,65%), sedangkan pada kategori sedang sebesar 29,41%, dan kategori tinggi dengan persentase 2,94%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden masih kurang antusias terhadap informasi pemeliharaan, yang meliputi aspek membersihkan sapi, aspek membersihkan kandang, aspek pemerahan, dan aspek pencatatan (recording). Pada informasi aspek membersihkan sapi, responden hanya membutuhkan informasi mengenai bagian-bagian tubuh sapi yang wajib dibersihkan. Hal tersebut dikarenakan responden telah mengetahui dan berpengalaman dalam membersihkan sapi, terutama dalam frekuensi memandikan sapi. Pada aspek membersihkan kandang, responden membutuhkan informasi pada bagian-bagian kandang yang wajib dibersihkan dan cara membersihkan kandang. Informasi tersebut dibutuhkan karena selama ini mayoritas responden hanya membersihkan kandang pada bagian lantai saja, dan seringkali tidak membersihkan dinding kandang. Informasi cara membersihkan kandang juga dibutuhkan responden, hal ini dikarenakan responden hanya membersihkan kandang dengan cara mengeruk kotoran dari lantai, hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Makin (2011), yang menyatakan bahwa dalam membersihkan kandang, kandang harus dibersihkan dengan cara disemprotkan air bertekanan tinggi. Pada aspek pemerahan, responden membutuhkan informasi mengenai pemeriksaan kesehatan dan kebersihan sapi, pemerah, dan alat pemerah. Informasi tersebut dibutuhkan karena meskipun responden telah sering melakukan pemeriksaan kesehatan dan kebersihan sebelum diperah seperti mengelap ambing dengan air hangat, ternak masih seringkali terserang penyakit. Sementara itu, informasi mengenai frekuensi pemerahan dan teknik pemerahan tidak begitu diperlukan responden karena dalam beternak sehari-hari, responden telah menguasai teknis pemerahan seperti yang dinyatakan Makin (2011), yaitu pemerahan dua kali sehari dan diperah dengan menggunakan lima jari (legeartes). Pada aspek pencatatan (recording), responden mayoritas membutuhkan informasi mengenai pencatatan jumlah produksi per hari, pencatatan jumlah pakan yang diberikan pada ternak per hari, dan pencatatan identifikasi induk dan anak.

(15)

53

Informasi pencatatan jumlah produksi per hari dibutuhkan responden karena selama ini responden tidak melakukan pencatatan pribadi. Pencatatan jumlah produksi hanya dilaksanakan oleh petugas koperasi yang dilakukan saat menyetor susu, selain itu tidak adanya fasilitas berupa buku catatan produksi yang diberikan oleh koperasi kepada responden, menyulitkan responden untuk melakukan pencatatan jumlah produksi. Informasi pencatatan jumlah pakan yang diberikan juga dibutuhkan oleh responden. Pakan yang diberikan seringkali hanya ditakar tanpa ada catatan pemberian pakan harian. Pencatatan jumlah pakan yang diberikan akan memudahkan responden dalam beternak, karena dengan adanya catatan tersebut, responden dapat mengetahui seberapa banyak ternaknya menghabiskan pakan yang diberikan setiap harinya, selain itu catatan juga berfungsi agar responden dapat mengetahui pakan yang harus disediakan pada hari-hari berikutnya. Informasi pencatatan identifikasi induk dan anak dibutuhkan responden karena akan memudahkan dalam mengidentifikasi ternak yang dimiliki, sehingga dapat memberikan kemudahan saat akan melakukan perkawinan maupun saat seleksi calon bibit sapi perah yang kualitasnya baik serta produktivitasnya tinggi.

Kebutuhan informasi perkandangan responden berada pada kategori rendah (79,41%), dan 29,41% berada pada kategori sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden kurang antusias terhadap informasi perkandangan yang meliputi aspek tipe kandang, aspek persyaratan kandang, dan aspek peralatan kandang. Pada aspek tipe kandang, hampir seluruh responden membutuhkan informasi mengenai tipe kandang konvensional dan kurang tertarik terhadap tipe kandang lain seperti tipe loose housing atau tipe free stall system. Hal tersebut dikarenakan responden menganggap bahwa kandang konvensional yang mereka miliki, sudah dirasakan cukup dalam kegiatan beternak. Selain itu, responden kurang membutuhkan informasi mengenai tipe kandang lain karena apabila responden berniat untuk merenovasi kandangnya menjadi lebih modern, maka responden tersebut harus menjual salah satu sapi yang dimiliki, hal demikian dirasa kurang menguntungkan karena produktivitas sapi perah yang

(16)

54

dimiliki pun masih rendah. Pada aspek persyaratan kandang, pada dasarnya responden telah memenuhi persyaratan kandang dengan baik seperti letak kandang yang jauh dari pemukiman penduduk, memiliki ventilasi, masuk sinar matahari, lantai kandang yang keras dan tidak licin, serta konstruksi kokoh, hanya saja beberapa responden masih belum memiliki drainase kandang dan tempat penampung kotoran. Dua informasi tersebut yang paling dibutuhkan oleh responden terutama pada informasi tempat penampung kotoran, karena masalah keterbatasan lahan yang dimiliki, sehingga belum memiliki tempat penampung kotoran. Tempat penampung kotoran sendiri berguna sebagai tempat menampungnya kotoran ternak, sehingga kotoran tersebut terkonsentrasi dalam satu tempat dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Sistem drainase atau pengaliran air diperlukan agar kotoran mudah dibersihkan dan air buangan mengalir lancar. Pada aspek peralatan kandang, sebagian besar responden membutuhkan informasi akan peralatan dasar kandang (milk can, lap, ember, saringan, sapu lidi, sikat, tali, dan sekop). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Fauzi (2015) yang menyatakan, peralatan kandang yang perlu disiapkan antara lain tempat pakan dan minum serta alat pembersih kandang seperti sapu lidi dan ember. Selain itu, informasi peralatan dasar kandang dibutuhkan karena sesuai dengan keadaan kandang, jumlah ternak, serta skala usaha yang dimiliki. Responden kurang membutuhkan informasi mengenai peralatan modern seperti mesin pemerah susu otomatis karena harga mesin perah yang mahal dan masih dirasa mampu untuk memerah sapi menggunakan tangan.

Kebutuhan informasi pengendalian penyakit responden berada pada kategori rendah (67,65%), dan 32,35% pada kategori sedang. Rendahnya kebutuhan informasi pengendalian penyakit menunjukkan bahwa responden kurang antusias terhadap informasi pengendalian penyakit yang mencakup aspek pengetahuan penyakit ternak dan aspek pencegahan dan penanggulangan penyakit. Pada aspek pengetahuan penyakit ternak, mayoritas responden membutuhkan informasi mengenai penyakit milk fever, penyakit mastitis, dan penyakit bloat (kembung). Ketiga penyakit ini merupakan jenis penyakit yang

(17)

55

paling banyak menyerang hewan ternak yang dimiliki responden. Informasi dibutuhkan karena seringkali responden hanya memanggil keswan dari koperasi apabila ternaknya terserang penyakit. Penyakit milk fever atau di kalangan responden disebut dengan roboh merupakan penyakit yang menyerang sapi perah karena kekurangan kadar kalsium dalam darah, sehingga mengakibatkan sapi lemah kemudian tidak sanggup lagi untuk berdiri. Penyakit mastitis yaitu penyakit radang ambing yang disebabkan ambing terinfeksi mikroorganisme akibat kurangnya menjaga kebersihan pada ambing atau terlalu keras saat memerah sapi.

Bloat (kembung) merupakan penyakit yang disebabkan oleh pemberian hijauan yang masih basah kepada ternak sehingga mengakibatkan ternak mengalami kembung. Pada aspek pencegahan dan penanggulangan penyakit, responden membutuhkan informasi mengenai vaksinasi, pemberian antibiotik, dan memotong kuku ternak. Informasi vaksinasi dan pemberian antibiotik dibutuhkan agar responden mengetahui obat yang tepat untuk mengatasi penyakit yang menyerang ternak, karena selama ini vaksinasi dan pemberian antibiotik hanya diberikan oleh koperasi apabila ternak terserang penyakit melalui perantara keswan. Informasi memotong kuku ternak dibutuhkan oleh responden karena ternak yang dimiliki, sebagian besar belum pernah dipotong kukunya. Selain itu, keterbatasan pengetahuan mengenai cara dan alat yang digunakan dalam memotong kuku ternak menyebabkan responden tidak pernah memotong kuku ternaknya. Pemotongan kuku ternak hanya dilakukan apabila petugas keswan koperasi mengontrol kesehatan ternak.

Kebutuhan informasi pasca panen responden berada pada kategori rendah (70,59%) dan 29,41% berada di kategori sedang. Rendahnya kebutuhan informasi pasca panen menunjukkan bahwa responden kurang antusias terhadap informasi pasca panen yang mencakup aspek pengolahan susu, aspek sarana pengolah susu, aspek pengemasan susu, dan aspek pemanfaatan limbah. Pada aspek pengolahan susu, informasi yang paling dibutuhkan responden adalah informasi mengenai pengolahan susu menjadi produk olahan seperti yoghurt, es krim, keju, dan sebagainya. Informasi tersebut dibutuhkan karena pada dasarnya responden hanya

(18)

56

mampu mengolah susu dengan sederhana seperti dihangatkan atau didinginkan. Responden mengetahui informasi pengolahan susu dari penyuluhan yang diberikan pihak koperasi atau pihak pengurus kelompok, namun belum mampu mengolah susu menjadi produk olahan karena susu yang didapatkan biasanya langsung disetorkan ke pihak koperasi, sehingga jarang sekali responden melakukan pengolahan susu. Selain itu, adanya keterbatasan ekonomi dan rendahnya skala usaha yang dimiliki menyebabkan responden belum mampu membeli bahan-bahan dan alat yang digunakan untuk mengolah susu seperti mesin pengolahan UHT (Ultra High Temperature) atau mesin pembuat susu bubuk. Pada aspek sarana pengolah susu, sebagian besar responden membutuhkan informasi mengenai cooling unit yaitu alat untuk menampung dan menyimpan susu segar dalam kondisi dingin. Informasi tersebut dibutuhkan karena alat seperti

cooling unit dianggap mampu membantu jalannya usaha yang dimiliki. Responden membutuhkan informasi mengenai cooling unit untuk digunakan secara bersama-sama, artinya responden mengumpulkan iuran untuk membeli alat tersebut dan dijadikan sebagai inventaris kelompok. Hal tersebut dilakukan karena responden belum mampu untuk membelinya secara perorangan. Pada aspek pengemasan susu, pada dasarnya responden jarang melakukan pengemasan terhadap susu hasil produksinya. Namun beberapa responden terutama responden yang memiliki skala usaha menengah ke atas, membutuhkan informasi mengenai pengemasan susu menggunakan botol plastik. Informasi tersebut dibutuhkan untuk memenuhi permintaan susu segar dari warga sekitar atau dari luar daerah penelitian. Selain digunakan untuk menjaga susu tetap segar, botol plastik juga murah biaya pembuatannya dibandingkan menggunakan kaleng logam atau karton tetrapaks, sehingga responden lebih cenderung menggunakan botol plastik apabila harus melakukan pengemasan. Pada aspek pemanfaatan limbah, informasi yang paling dibutuhkan oleh responden adalah informasi mengenai pengolahan kompos dari kotoran ternak dan pengolahan energi biogas dari kotoran ternak. Informasi pengolahan kompos dibutuhkan untuk memanfaatkan kotoran yang dihasilkan oleh ternak. Pengolahan kompos ditujukan agar kotoran ternak dapat

(19)

57

dipergunakan untuk kepentingan pertanian. Responden membutuhkan informasi pengolahan kompos karena belum mampu mengolah kotoran ternak dalam jumlah banyak. Biasanya, responden hanya mengolah sebagian kecil kotoran ternak untuk kemudian dijemur dan dijual. Sebagian besar lainnya hanya dibuang atau istilah responden ‘dipalidkeun’ karena terlalu banyaknya kotoran ternak yang harus

diolah dan tidak diimbangi dengan lahan yang terbatas untuk mengolah kotoran ternak tersebut menjadi kompos. Adanya keterbatasan waktu untuk mengolah kompos juga menyebabkan responden masih jarang memanfaatkan kotoran ternak menjadi kompos. Sementara itu, informasi pengolahan energi biogas dari kotoran ternak dibutuhkan karena masih jarang sekali responden yang mengetahui cara memanfaatkan kotoran ternak menjadi biogas. Beberapa responden sempat mencoba untuk mengolah kotoran ternak menjadi biogas, hanya saja banyaknya tahapan yang harus dilakukan dan rumitnya proses pengolahan membuat responden tidak lagi tertarik untuk mengolah kotoran ternak menjadi biogas. Selain itu, peralatan yang digunakan untuk mengolah biogas hasil dari hibah pemerintah juga telah usang dan rusak, sehingga tidak dapat digunakan lagi.

Kebutuhan informasi pemasaran responden berada pada kategori tinggi (52,94%) dan sebagian responden lainnya berada pada kategori sedang dengan persentase 47,06%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden sangat antusias terhadap informasi pemasaran yang mencakup aspek penjualan susu. Pada aspek penjualan susu, responden paling membutuhkan informasi mengenai tingkat harga susu di koperasi dan konsumen, harga standar susu per liter, dan standar kualitas susu seperti total solid, kadar lemak, dan berat jenis. Informasi tingkat harga susu di koperasi dan konsumen dibutuhkan oleh responden karena responden merasakan bahwa harga jual susu di tingkat peternak masih sangat kurang meskipun harga jual susu kelompok Lembusari merupakan salah satu yang tertinggi di koperasi dengan harga Rp 4.300/ liter susu. Hal tersebut mendorong responden untuk mengetahui harga yang dijual koperasi ke konsumen atau ke pengepul susu yang lebih besar. Informasi harga standar susu per liter dibutuhkan oleh responden karena dengan harga yang tertinggi diantara kelompok lain di

(20)

58

koperasi, pendapatannya terhadap responden masih dirasakan kurang menguntungkan. Hal tersebut dikarenakan responden harus menambah biaya operasional beternak untuk mendapatkan produksi susu yang tinggi, contohnya dengan mengeluarkan biaya lebih untuk pakan, karena pasokan pakan dari koperasi belum cukup mendongkrak produktivitas susu yang tinggi sehingga harus ditambah dengan pakan tambahan. Hal inilah yang membuat responden merasakan bahwa pengeluaran untuk biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan yang dihasilkan dari harga jual susu per liternya. Informasi standar kualitas susu seperti total solid, kadar lemak, dan berat jenis juga dibutuhkan oleh responden, karena beberapa responden kurang memahami penilaian standar kualitas susu tersebut. Selama ini, penilaian standar kualitas susu hanya dilakukan oleh petugas koperasi saat penyetoran susu berlangsung, sehingga responden masih kurang terlatih terhadap penilaian standar kualitas susu. Penyuluhan yang diadakan pun seringkali hanya memaparkan materi lain, tanpa adanya pelatihan tentang penilaian standar kualitas susu. Penilaian standar kualitas susu bagi responden akan sangat diperlukan dan mampu menjadi bahan evaluasi, sehingga dapat meminimalisir kerugian pada usahanya, terutama pada aspek penjualan susu.

4.6 Hubungan antara Skala Kepemilikan Ternak dengan Tingkat Kebutuhan Informasi Peternak Sapi Perah

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan korelasi Rank Spearman (rs) pada tingkat signifikansi 0,01 antara skala kepemilikan ternak (X) dengan tingkat kebutuhan informasi bagi peternak sapi perah (Y), diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,484. Mengacu pada aturan Guilford, nilai koefisien korelasi sebesar 0,484 diartikan bahwa hubungan antar variabel cukup berarti, hal ini menunjukkan terdapat suatu hubungan yang positif antara skala kepemilikan ternak dengan tingkat kebutuhan informasi peternak. Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi skala kepemilikan ternak maka akan semakin tinggi pula tingkat kebutuhan informasi peternak, dan begitu juga sebaliknya.

(21)

59

Skala kepemilikan ternak mencerminkan besarnya usaha ternak yang dimiliki berdasarkan pada jumlah kepemilikan ternak. Tingkat kebutuhan informasi peternak akan dipengaruhi oleh jumlah ternak yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan apabila jumlah ternak yang dimiliki semakin banyak, maka kemungkinan peternak menghadapi masalah dari usaha ternaknya tersebut semakin besar. Selain itu, dengan banyaknya jumlah ternak yang dimiliki, maka akan semakin bervariasi pula jenis masalah yang dihadapi peternak. Peternak yang memiliki skala usaha kecil tentu akan membutuhkan informasi yang berbeda dengan peternak yang memiliki skala usaha besar, baik itu dari aspek teknis maupun non teknis, sehingga akan mendorong peternak untuk melakukan pencarian informasi untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.

Hasil penelitian yang menunjukkan hubungan yang cukup berarti antara skala kepemilikan ternak dengan tingkat kebutuhan informasi bagi peternak sapi perah menunjukkan bahwa skala usaha yang diukur berdasarkan jumlah kepemilikan ternak produktif dalam satu populasi ternak mempengaruhi tingkat kebutuhan informasi peternak sapi perah, terutama informasi mengenai sapta usaha peternakan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :