PENGALAMAN WISATA PENUH MAKNA
APNI TRISTIA UMIARTI
DESA TRUNYAN: Pengalaman Wisata Penuh Makna
Copyright
©2016 Apni Tristia Umiarti
e‐mail: [email protected]
Hak cipta dilindungi oleh undang‐undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penulis.
All Rights Reserved.
Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan dalam penyelesaikan buku sederhana tentang Desa Trunyan: Pengalaman Wisata Penuh Makna.
Terima kasih dan salam hormat kami sampaikan kepada orang tua kami yang selalu mendoakan kesuksesan dan kebahagiaan kami dan keluarga. Terima kasih kami ucapkan kepada anak kami tercinta, Reino Mosca Apkana yang menjadi penyemangat dalam proses berkarya dan mengabdi kepada masyarakat.
Untuk memperoleh kesan (image) tentang Desa Trunyan, kami mencoba untuk merangkum testimoni wisatawan dari situs online trip advisor. Untuk itu, kami berterima kasih kepada para wisatawan yang sudah memberikan perhatian kepada Desa Trunyan. Testimoni positif dan negatif yang disampaikan bermanfaat dalam pengembangan kehidupan yang berkualitas penduduk Desa Trunyan.
Tulisan ini dihasilkan dari pengalaman partisipatif penulis saat mengantarkan wisatawan ke Trunyan. Kami telah berinteraksi secara langsung dan mendengar berbagai keluh kesah masyarakat. Terima kasih kepada para informan dari masyarakat maupun guide lokal yang sudah berbagi pengalaman kepada penulis.
Terima kasih kepada Baliedu Tours and Travel yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperoleh pengalaman otentik dalam memandu wisatawan yang berkunjung ke Trunyan. Pendapat dan persepsi wisatawan yang muncul dari proses perjalanan wisata memberikan sudut pandang yang lebih objektif dalam melihat persoalan wisata Trunyan.
DAFTAR ISI
Ucapan Terima Kasih
Daftar Isi
1. Pendahuluan
2. Selayang Pandang Desa Trunyan
3. Kuburan dan Kepercayaan Masyarakat Desa Trunyan
4. Trunyan di Mata Wisatawan
5. Pengalaman Wisatawan ke Desa Trunyan
6. Trunyan dalam Bingkai
7. Penutup
1
PENDAHULUAN
"Saat bertemu orang yang tepat,
wisata akan lebih menyenangkan dan bermakna"
Petikan di atas dapat dipertimbangkan untuk menghindari dan
mengantisipasi kekecewaan ataupun keluhan yang umumnya dikhawatirkan
wisatawan sebelum berkunjung ke Desa Trunyan. Mereka para wisatawan
yang bertemu dengan orang-orang tepat tidak mengalami kesulitan dan merasa
sangat nyaman saat berkunjung ke Desa Trunyan.
Orang-orang yang tepat tersebut bisa berasal dari penduduk Desa
Trunyan, pemandu wisata lokal, perorangan, jasa perjalanan wisata ataupun
organisasi/lembaga lainnya yang sudah mempunyai pengalaman untuk
memandu wisatawan ke Desa Trunyan. Mereka dapat memberikan informasi
yang lebih rinci kepada wisatawan, khususnya terkait dengan biaya-biaya yang
harus dikeluarkan saat berkunjung ke Desa Trunyan.
Kelengkapan penjelasan dan informasi kepada wisatawan dapat
meminimalkan timbulnya keluhan (complaint) dan hal-hal tidak meyenangkan
lainnya. Pada saat wisatawan sudah siap secara mental dan materi, berbagai
kejadian tidak mengenakkan yang muncul dari situasi di objek dan daya tarik
Pendahuluan
Hal-hal sederhana yang perlu diinformasikan terkait dengan perjalanan
wisata ke Desa Trunyan, meliputi:
1. Kewajiban untuk menggunakan pemandu wisata lokal (local guide)
2. Jasa perahu (boat) penyeberangan dari Desa ke Kuburan Trunyan
3. Donasi di kuburan Desa Trunyan
4. Jasa penggunaan toilet yang dimiliki oleh perorangan
5. Para orang tua (umunya perempuan) yang mengemis dan mengharapkan
pemberian uang dari wisatawan.
Berbagai hal lain yang dapat terjadi dari setiap perjalanan wisatawan ke
Desa Trunyan adalah cara-cara yang terkesan memaksa dan kecurangan
untuk menghasilkan keuntungan pribadi. Setiap wisatawan memilki cerita positif
dan negatif setelah selesai berkunjung ke Desa Trunyan. Bahkan beberapa
wisatawan dalam testimoni menuliskan agar Desa Trunyan tidak dikunjungi
wisatawan. Sebuah kesan (image) yang dapat mengganggu keberlanjutan
pariwisata Desa Trunyan.
Buku ini akan mengupas lebih rinci berbagai hal menarik, isu terkini,
testimoni dan pengalaman wisatawan berwisata ke Desa Trunyan. Pada bagian
pertama merupakan pendahuluan yang kemudian diikuti bagian kedua yang
berisi informasi singkat berupa Selayang Pandang Desa Trunyan. Mengingat
tradisi upacara dan penguburan orang meninggal di kuburan Trunyan sebagai
penarik utama wisatawan untuk berkunjung, pada bagian ketiga, penulis
memandang penting dan perlu untuk membahas secara tersendiri tentang
dan komentar wisatawan dari laman www.tripadvisor.com. Ulasan diberikan
oleh wisatawan yang sudah pernah berkunjung dan memiliki pengalaman
wisata ke Desa Trunyan.
Untuk memberikan pengetahuan dan menanggulangi munculnya
keluhan wisatawan, pada bagian keempat diulas tentang pengalaman
wisatawan ke Desa Trunyan. Dengan memahami otentitas dan tradisi
penduduk Trunyan, wisatawan dapat menikmati banyak hal yang unik.
Beberapa praktek lokal seperti pembagian tempat untuk mengubur jenazah
mengandung kearifan lokal untuk menjaga keharmonisan kehidupan desa.
Bagian keenam ditampilkan foto-foto menarik wisata Desa Trunyan yang
dikemas dalam judul Trunyan dalam Bingkai. Sebagai penutup diuraikan
tentang hal-hal yang dapat diperhatikan dan diketahui sebelum wisatawan
berkunjung ke Desa Trunyan. Sekecil apapun manfaatnya, tulisan yang
dituliskan dari pengalaman empiris dan data sekunder atas testimoni trip
advisor, semoga dapat memberikan pengetahuan dan informasi yang
Selayang Pandang Desa Trunyan
2
SELAYANG PANDANG DESA TRUNYAN
Penduduk Trunyan menyimpan berbagai tradisi dan peninggalan yang
bisa dinikmati wisatawan yang berkunjung. Tempat yang paling membuat
penasaran wisatawan adalah kuburan Trunyan. Selain itu, wisatawan dapat mengunjungi Pura Ratu Gede Pancering Jagat dan menyaksikan Tari Brutuk setiap dua tahun sekali. Tari sakral Brutuk merupakan tarian untuk upacara
yang dapat disaksikan pada bulan Purnama Sasih Kapat dalam perhitungan kalender Saka di Bali yang umumnya jatuh pada Bulan Oktober.
Kuburan Trunyan
Desa Trunyan merupakan sebuah desa tua di Bali yang dikenal dengan
'Bali Aga'. Penduduk desa Trunyan memilki tradisi yang sangat unik. Satu hal yang paling dikenal dan menarik banyak sekali wisatawan untuk berkunjung
adalah kuburan Desa Trunyan. Pada masyarakat Bali pada umunya melakukan proses pembakaran mayat yang dikenal dengan istilah Ngaben. Namun, penduduk Desa Trunyan melakukan proses upacara orang meninggal yang
sangat unik.
Melaui proses upacara dan ritual untuk pembersihan jenazah, penduduk setempat kemudian membawanya ke kuburan tua (sema wayah) untuk
diletakkan di bawah pohon kemenyan. Masyarakat setempat menyebutnya 'Taru Menyan' yang merupakan cikal bakal nama desa. Kata 'taru' dan 'menyan'
yang diletakkan di bawahnya.
Pura Ratu Gede Pancering Jagat
Pura Ratu Gede Pancering Jagat menyimpan peninggalan megalitik berupa patung setinggi 4 meter yang tersimpan di dalam meru. Patung ini disebut sebagai Arca Da Tonta yang diyakini penduduk Trunyan sebagai Dewa
tertinggi untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan.
Dalam prasasi Terunyan AI yang diterjemahkan oleh Goris, tertulis
sebuah piagam yang dikeluarkan oleh Keraton Singha Mandawa pada tahun Saka 833 (atau tahun 911 masehi). Piagam tersebut berisikan ijin untuk membangun kuil 'Da Tonta'. Selanjutnya, penduduk Trunyan berkewajiban
untuk memelihara kuil tersebut dengan kompensasi berupa pembebasan beberapa jenis pajak.
Tari Brutuk
Tari Brutuk merupakan sebuah tari sakral yang dimiliki Desa Trunyan.
Proses pementasan tari sakral ini dilaksanakan pada saat upacara agama (piodalan) berlangsung di Pura Ratu Gede Pancering Jagat yang jatuh pada
Bulan Purnama Sasih Kapat (bulan keempat pada pehitungana tahun saka di Bali yang umumnya jatuh pada Bulan Oktober).
Tarian ini hanya dipentaskan dua tahun sekali. Masyarakat Desa
Selayang Pandang Desa Trunyan
(Daa Teruna) hanya dilaksanakan pada saat sasih Kapat Lanang. Para
pemuda tersebut mengikuti ritual penyucian diri selama 42 hari sebelum menarikan Tari Brutuk. Pada saat Kapat Wadon, kegiatan upacara
dimeriahkan oleh para remaja puteri (Daa Teruni) dengan aktivitas menenun kain sebagai proses ritual.
Tari Brutuk dalam pementasannya tidak menari seperti tari Bali pada umumnya. Tarian dimainkan oleh Daa Teruna. Dengan menggunakan topeng
sakral dan baju kraras ( daun pisang kering) yang dicari dari Desa Pinggan, penari berkeliling pura dengan membawa cambuk (pecut). Warga yang terkena pecut meyakini bahwa setiap pukulam yang mengenainya mampu
menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Begitu juga dengan daun pisang kering (kraras) yang terjatuh diperebutkan warga sebagai bentuk berkah dan
KUBURAN DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT DESA TRUNYAN
Trunyan merupakan salah satu Desa Bali Mula (Desa Asli Bali). Selain tatanan kehidupan sosial masyarakatnya yang berbeda dengan masyarakat Bali pada Umumnya, Desa Trunyan juga memiliki keunikan dalam
menguburkan jenazah masyarakatnya. Tidak seperti Desa-desa lainnya di Bali, Desa Trunyan tidak mengenal upacara pembakaran jenazah pada upacara
Ngaben. Mereka hanya menggunakan simbolis untuk proses pengembalian badan kasar kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam hal ini mereka masih menggunakan tradisi lokal dengan hanya meletakkan jenazah di
atas tanah. Dalam hal sesajen dan haturan, mereka tetap mengadopsi tradisi, budaya, dan filsafat Agama Hindu.
Kuburan Tua (Sema Wayah)
Kuburan Tua terletak di Ujung Desa Trunyan. Kita harus menyeberangi Danau Batur untuk mengaksesnya. Begitu pula bagi masyarakat Desa Trunyan apabila akan membawa jenazah untuk dikuburkan. Dari Desa Trunyan,
Kuburan Trunyan bisa diakses dengan menggunakan perahu tradisional (perahu dayung) selama 15 menit. Sedangkan dengan menggunakan perahu
motor dari Desa Kedisan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Khusus untuk Warga Desa Trunyan, hanya laki-laki yang diijinkan memasuki Kuburan Desa, sedangkan wanita Desa Trunyan tidak diperbolehkan. Hal ini sangatlah
Kuburan dan Kepercayaan Masyarakat Desa Trunyan
Trunyan percaya bahwa dengan tangisan dan kesedihan yang terlalu dalam
akan menghambat kembalinya roh menuju nirwana.
Kuburan Tua Desa Trunyan hanya diperuntukkan bagi warga Trunyan
Dewasa yang memang sudah waktunya meninggal (meninggal dengan normal). Di kuburan ini jenazah tidak dikuburkan seperti jenazah pada umumnya. Jenazah akan diletakkan di atas tanah pada lokasi yang telah ditentukan dengan hanya menutupnya dengan bambu. Jumlah tempat untuk
meletakkan jenazah tersebut hanya 11 buah. Bagi masyarakat Bali termasuk Trunyan, angka 11 merupakan angka tertinggi yang sakral dan merupakan
puncak pencapaian spiritual. Angka 11 juga diyakini sebagai 11 tingkatan mulai dunia hingga nirwana. Dari 11 tempat tersebut, jika ada yang meninggal dari pemuka agama/adat (orang yang disucika), maka akan diletakkan pada tempat yang paling hulu (timur laut/tempat yang mengarah matahari terbit dan dataran
tinggi atau gunung). Apabila ada jenazah baru maka akan menggantikan
tempat jenazah yang paling lama, sedangkan jenazah yang paling lama akan dipindahkan ke samping.
Bagi masyarakat awam, mengunjungi kuburan ini akan menimbulkan rasa yang tidak enak dan merasa bahwa orang Trunyan memberikan perlakuan
yang tidak layak kepada orang yang telah meninggal. Diperlukan pemahaman dan spiritual yang tinggi untuk mampu menerima hal tersebut sebagai sebuah tradisi dan budaya yang bernilai tinggi. Orang Trunyan juga merupakan salah satu kelompok masyarakat yang mempercayai adanya reinkarnasi/lahir
kembali. Kematian bukanlah akihr dari kehidupan, tetapi awal dimulainya kembali perjalanan roh untuk lahir dan memulai karmanya lagi di dunia. Badan
kasar yang telah meninggal akan ditinggalkan roh (pemiliknya) untuk berganti dengan roh ('baju baru') saat kelahiran kembali.
Bagi masyarakat Desa Trunyan, setelah kematian dan mensemayamkan
jenazah di kuburan, hal yang harus mereka lakukan adalah melakukan upacara untuk perjalanan roh untuk bisa kembali ke pura keluarga sehingga lebih dekat
dengan keluarga dan bisa kembali ke dunia melalui kelahiran kembali.
Kuburan Bayi (Sema Bajang)
Kuburan Bajang juga hanya bisa diakses dengan menggunakan perahu. Letaknya ada di tebing sebelum Kuburan Tua. Kuburan Bajang hanya
dikhususkan untuk bayi, anak-anak, remaja dan orang yang belum menikah. Di Kuburan Bajang jenazah akan dikuburkan seperti normalnya jenazah dikuburkan. Setelah dikubur akan ditutup dengan ancak saji, penutup bambu
Kuburan dan Kepercayaan Masyarakat Desa Trunyan
warganya untuk menikah. Karena Kuburan Tua adalah Kuburan yang utama,
maka bagi warga Trunyan yang memutuskan tidak menikah dalam hidupnya, maka akan dikuburkan bersama dengan bayi. Tradisi yang demikian
merupakan salah satu cara untuk tetap mempertahankan komunitasnya utuk menikah dan memiliki keturunan.
Kuburan untuk orang Meninggal Tidak Wajar (Salah Pati)
Kuburan Salah Pati bisa diakses dengan kendaraan tanpa menggunakan perahu atau kapal. Letaknya tepat berada di perbatasan dan
pintu masuk Desa dan jauh dari pemukiman penduduk. Kuburan Salah Pati digunakan untuk mengubur warga Desa Trunyan yang meninggal dengan tidak wajar baik itu meninggal karena kecelakaan, bunuh diri, atau memiliki penyakin
yang sudah menahun dan tidak bisa disembuhkan.
Kuburan ini sengaja diletakkan di pinggir desa dan jauh dari pemukiman
Desa. Kematian yang tidak wajar pada salah satu warga Desa membuat seluruh seluruh warga berduka dan seluruh kegiatan keagamaan dan persembahyangan dibatalkan (tebeg). Hal ini tentu saja hal yang paling tidak
diharapkan. Memberikan pesan moral bagi masyarakat Trunyan untuk selalu bertindak baik, menjaga keselamatan agar terhindar dari marabahaya dan bisa
Setiap kelahiran akan membawa kebahagiaan bagi seluruh warga Desa. Desa Trunyan memiliki area khusus yang digunakan untuk mengubur ari-ari/placenta bayi. Kuburan ari-ari terletak di pintu masuk perkampungan Desa
Trunyan di Mata Wisatawan
4
trunyan di mata wisatawan
Tidak mudah untuk mempertahankan suatu daerah menjadi objek dan daya tarik wisata yang diminati wisatawan sepanjang masa. Perlu adanya
komitmen dan kerjasama yang baik antara masyarakat sebagai aktor utama di daerah tujuan wisata, guide sebagai perantara dan juga pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Trunyan sebagai daerah tujuan wisata yang pernah
sangat popular di tahun 1970 hingga 1980-an. Pada perjalanannya, Desa Trunyan sempat mengalami krisis wisatawan akibat dari banyaknya komentar negatif mengenai objek wisata ini. Sampai saat ini, beberapa wisatawanpun
masih mengenal Kuburan Trunyan sebagai destinasi yang kurang direkomendasikan untuk dikunjungi.
Dari 56 ulasan (review) dari Trip Advisor per bulan Februari 2015, terdapat 12 orang (21,43%) memberikan skor sempurna/excellent, 22 orang
(39,29%) sangat bagus/very good, 9 orang (16,07%) sedang/average, 5 orang (8,93%) buruk/poor dan 8 orang (14,29%) buruk sekali/terrible. Data ini diambil
dari situs trip advisor pada tautan (link) sebagai berikut:
positif maupun negatif dari objek Wisata Kuburan Trunyan di Mata Wisatawan.
Testimonial Negatif tentang Kecurangan di Objek dan Daya Tarik Wisata Kuburan Trunyan
“Waist of time and paradise of scam artist”
"I was intrigued by the idea and wanted to learn about the ritual thinking it would give me a better understanding of their culture so i went with my husband and baby thinking ot would take us 1 hour or so... Well... After paying 100 $ for the boat and access to the 150 square foot cimetary, we got a guide that could not speack a word of english who dropped us at our destination afte a 20 minutes boat ride. Once we arrived, an other boat got their to collect the money for the cemetary visit (10 $ per person). Nobody cared to explain anything to us. The cemetary stinks so much i kept gagging. I think the smell comes more from the rotting food than the rotting bodies. It looks like a big pile of garbage was left in front of the wood cage where the bodies are wrapped in material. 10 minutes were more than enough, we wanted to get out of there to put this bad experience behind us but... Our boat broke down... The boat driver did not want to pay to call for help and the man on the other boat exchanged a few word with our "guide" before he left us in the middle of nowhere. So the boat driver kept asking us for more money to pay for a phone call that would bring help but we dont know who we can call ! Its not like my mommy can come to save me ! I would think that after paying 100 $ for the visit they could have paid for a phone call... After we waited 1hour and a half, a second boat arrived. We thought they would accept to bring us back but the guide from that boat told us we would have to pay them if we wanted them to bring us back since they were not coming from the same place ( they were from the village). The man finally accepted to make a phone call precising that he is only doing it because we have a baby with us I got back to the marina feeling very upset. As a tourist, i accept to be scewed over... Its part of the game... But this was the worst. Saddly because i dont think people from Bali are bad people but this experience really put shade on the opinion i have about them. This went to far. I believe that 100 $ is already a scam for the experience but to try to get more money from us in a verry shaddy way is unnacceptable. Dont go their. It will only dissapoint you."
https://www.tripadvisor.com.au/ShowUserReviews-g294225-d2628462-r339628554-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#
“Fantastic experience!”
Trunyan di Mata Wisatawan
money and left us with a boat operator with no English skills. After the temple visit where we got some good photos we then took off to the opposite side of the lake and I felt something was up so I showed the boat operator the photos of Trunyan cemetery and he indicated not enough fuel! I didn't see that coming! We went straight back to the boat ramp and remained on the boat, I wasn't getting off without a visit to the cemetery and despite being disappointed with the clever trick. After a tense standoff with the negotiator including refusing to get off the boat I handed over another 250 000 for fuel. Total cost was 900 000 rupiah for a short boat trip. Eventually we made it and had a nice afternoon exploring the cemetery and getting some interesting photos of the skulls and really intimate experience with the corpses. We left on dark, despite not being superstitious and comfortable viewing the dead the place is spooky as the light fades. Interestingly the boat operator developed English skills that previously would have been helpful earlier. Overall a great experience including getting scammed. It was expensive but I knew it was coming, I just didn't see the ' not enough fuel after I've paid' trick. My advice to get around this is to secret 5 litres of fuel on board and when he says not enough fuel, whip it out and top up the tank! Hahaha! Or at least check the fuel level and question this before you leave. Our negotiator was at the boat ramp as we left, sitting on his bike with a smile from ear to ear like the cat that got the cream. I don't recommend this if getting scammed/ripped off makes you angry and unable to enjoy the unique experience."
https://www.tripadvisor.com.au/ShowUserReviews-g294225-d2628462-r343646219-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#
“Terrible locals”
followed us right to the parking spot nearest to trunyan and tell the boatman that he is our guide, he asked for commission (unbelieveable). And that not the end of it, apparently another group before us is also have difficulty with the locals, they were asked to much for their boat price, they were asked 800 at first and the down ton 600 for 6 peoples, and we also have to pay 500 for 4 people, so at the end we were charge 1.100 000 for a small wooden boat that carry 11 person. The way they force us to take the boat and followed us like psycho is the worst experience i had ever encounter in bali. I definetly wont come back there if it not changing." https://www.tripadvisor.com.au/ShowUserReviews-g294225-d2628462-r339628554-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#
“Don't bother....!!!”
"After hearing some (surprisingly) good reviews, a trio of us took the boat across from Kedisan. We haggled the boat price down to 125k each and was told to wait for 2 more people. This meant literally waiting and hoping for more people to turn up. We was on a tight schedule so ended up paying more to have the boat to ourselves as we didn't want to travel to see it then not have time. We paid 450k between three of us, which insane considering it is a 20 min return journey! When we got there we walked upped the stairs to be grated by a shelf of skulls and some over ground graves, that you could see only one body of. After kinda expecting it to be bigger we was a little disappointed, along with the fact that the whole place is full of litter. We spent about 5 minutes there as it was too crowded with group trips. When we left, there was about 6 men on the dock asking for a donation, minimum of 10k. We said we didn't want to pay a donation and then had all of the men surrounding us. I asked several times what the donated money was actually used for, but suddenly no one could understand me. One man even threatened to call the police on us if we didn't pay!!! Clearly they don't understand the meaning of a donation and are quite happy to surround you and intimidate you. We was fuming and found it absolutely shocking. I have no idea what the 'donation' goes towards but it certainly isn't to keep the place tidy. The whole thing was a waste of time and money which was a big disappointment. The trip itself may have been justable if we didn't fork out 480k between us and didn't get spoken to like complete dirt. Seriously wouldn't recommend, it's a back pocket money making scheme!!"
Trunyan di Mata Wisatawan
Testimonial Positif Mengenai Objek Wisata Trunyan
“Do not believe the negative reviews – they are very old! This is one of the BEST tours we have ever done”
"We were picked up by Made and Apni to begin our trek out to the Trunyan village and cemetery. As we drove along our guides shared their love of culture with us and helped us to understand the area we were heading into. They explained that the old and negative reviews about the boat ride were more than 5 years old ( they have had a road into Trunyan Village for 5 years now). - This is why it is so important to book a local guide as he (Made) understood the customs and the language of the Trunyan people. - It is important to note that you should only do the tour that drives you into the Trunyan Village as apposed to getting on a boat outside the Trunyan Village. So.. take my recommendation and ask for Made and Apni – truly terrific guides and now friends
The tour to the cemetery was the most humbling experience we have ever had. We felt incredibly lucky that the Trunyan people would share their culture so deeply with us. We felt at peace in the cemetery ( with thanks again to Made and Apni for sharing their knowledge of the Trunyan culture and ceremonies with us, thankyou).
The people in Trunyan Village were very welcoming, Made and Apni had arranged a local Trunyan man to meet us at the start of the road in. He guided us through the town showing us points of interest, (we even got to meet his daughter and her friends). he explained about the special visits from the surrounding towns and we even tried the local fish ( which was very good and we would definitely recommend everyone tries it). Our boat trip to the cemetery was beautiful, we were gently rowed over by two gentlemen from the trunyan village who welcomed us and made us feel very comfortable and safe. we did NOT at any time feel threatened nor uncomfortable.We have traveled many parts of Asia and done many wonderful tours but honestly this is one of the best…. Go and see for yourselves."
http://www.baliedutours.com/journey-of-the-soul/
"Very instructive and impressive place."
https://www.tripadvisor.com.au/ShowUserReviews-g294225-d2628462-r267515305-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#
“I can say the place is 'must go' place in Bali now.”
"There was so cool place with Batu lake. I was really afraid when i read review at Tripadvisor. all people said there was worst experience with deals. I am sure our deal was not bad, almost best deal. at first, we stopped Kintamani view point with driver's comment and the village people came to us and then made a deal as 500,000 for 3 person included return boat ,donation without beggars. We drove till harbor of the village more than 5 km and then took a paddling boat with 2 local people. While we was boat there was so perfect scenery for 30 mins. It feels very peaceful and relax. When we reached the cemetery the local people let us for enough tour. I saw the big tree, skulls and dead body. We didn't pay more money, few beggars came to us but it was not annoying. We paid money when we return back the harbor. After tour, I have checked the price from two harbors, It's about 515,000 per 1 person at Kintamani harbor, 263,000 per 1 person at the village harbor for only boat trip. I am sure it was best trip in Bali. I was also so afraid it was a nightmare but it was so nice experience! I can say the place is 'must go' place in Bali now."
https://www.tripadvisor.com.au/ShowUserReviews-g294225-d2628462-r339628554-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#
Beberapa Testimonial Negatif Karena Kurangnya Penjelasan Oleh Masyarakat Lokal
“Sad that this is a tourist attraction”
"Trunyan is a fascinating place, but it is not really for the tourist. It seems horribly wrong for tourists of another culture to traipse around gawping at the dead of this small village because their custom is to leave the body out in the open to rot. So wealthy over privileged tourists from some of the richest nations on earth can come and get their kicks by viewing the dead loved ones of the villagers of this poor village...how sick is that?? No wonder there are scams going on here! The locals hate the tourists and with good reason. I felt pretty sad at myself for not thinking it through before my visit...don't visit this place...it is not for you."
https://www.tripadvisor.com.au/ShowUserReviews-g294225-d2628462-r339628554-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#
Trunyan di Mata Wisatawan
"The worst experience I had on Bali. It started on our way to the village. Random guys was stopping our motorbike and offering to be our guides. We ignored them. Few kilometres before the village some guy started to chase us. He insisted we go with him to make a donation for 'organisation'. He couldn't explain where this mystery 'organisation' is or what it was doing. He only said he is a member, so we must pay him. We refused, but he was following us on his motorbike. Finally we got to the road which was flooded. He said we cannot go any further. A second later some other guy came on his motorbike and get though the road safely - it was no more than few centimetres deep. With that organisation member on our tail we arrived to big stone village gate and we've been informed that we cannot enter. We've keep ignoring this guy, he kept insist for donation. Finally we passed the temple and entered a maze of dirty streets. Rubbish was everywhere. I could smell the urine. Some old beggars kept following us asking for money. We gave 2,000 Rp to every one of them, but they aggressively insist on more. Every person we asked for help to find the direction to cementary was ignoring us in a very rude manner. We noticed some small boats on the shore and asked the villagers about renting options. All of them refused. We found one guy who agreed to take us for 500,000 Rp. This was clearly overpriced as we rented a boat few days before on Beratan Lake and we've paid 100,000 Rp for three hours without much bargaining. We left the village feeling very unwelcome. I was very frustrated as we've came a long way to visit the place and was leaving with nothing. On our way back we asked random people we've passed about renting a boat. After a lot of huggling we settled on 200,000 Rp. Our guide barely spoke English, so no information about the cemetery, beliefs our rituals was given. The cementery was very small. Piles of smelly rubbish were laying among the graves. Shoes, umbrellas, rotten food and plastic bags. Human sculls were scattered around randomly. I could not believe they can keep the cementary in such a bad condition without any respect for human corpse. When we got back to the shore our guide charged us 50,000 more than we agreed. I just wanted to get out of there ASAP so we paid. I have never been in such an unwelcome place. Very hostile society, a bunch of greedy scammers. The cementary itself is overrated. I would never recommend anybody to visit this place/"
https://www.tripadvisor.com.au/ShowUserReviews-g294225-d2628462-r339628554-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#
Rekomendasi Negatif Tentang Objek dan Daya Tarik Wisata Trunyan
Beberapa rekomendasi negatif yang datang dari wisatawan untuk objek
memaksa dan ketidaktahuan mereka dengan budaya lokal karena tidak adanya pendampingan dari masyarakat lokal ataupun guide lokal.
Tidak sedikit dari wisatawan yang merasa tertipu dengan trik dari pemilik perahu lokal. Ada yang meminta tambahan dengan alasan bahwa bahan bakar mereka kurang mencukupi untuk kembali ke dermaga, sehingga perlu tambahan biaya untuk pertolongan dari perahu lain. Tambahan donasi yang
tidak jelas peruntukannya dan terkesan memaksa sementara mereka sudah dikenakan atau di-charge dengan biaya penyeberangan yang tinggi.
Kesan negatif lainnya datang dari minimnya pengetahuan wisatawan dengan budaya lokal. Hal ini terjadi karena beberapa wisatawan datang sendiri dan menyewa langsung perahu menuju Kuburan Trunyan tanpa ditemani oleh
guide atau guide hanya menemani mereka sampai di dermaga dan wisatawan ke Kuburan hanya bersama dengan tukang perahu. Kekurangtahuan
wisatawan terhadap budaya dan tradisi akan mengakibatkan penilaian yang negatif bahwa “ada perlakuan yang kurang baik/kurang respeknya masyarakat Trunyan terhadap keluarga mereka yang sudah meninggal” atau banyaknya
sampah yang ada di areal kuburan Trunyan yang notabene adalah merupakan objek wisata.
Wisatawan sangat memerlukan penjelasan yang bisa mereka terima dengan akal sehat ataupun 'nilai rasa' tentang kebudayaan orang Trunyan yang hanya meletakkan jenazah di atas tanah dan hanya menumpuk tengkorak dan
Trunyan di Mata Wisatawan
guide lokal. Bekas sesajen dan haturan saat upacara peletakan jenazah
terkesan oleh beberapa wisatawan seperti tumpukan sampah yang menggunung yang tidak pantas ada di daerah wisata. Ada hal lain yang perlu
didapatkan informasinya oleh wisatawan tentang kearifan lokal masyarakat Trunyan tidak memperbolehkan membersihkan atau membawa apapun yang ada di kuburan.
Rekomendasi Positif Tentang Objek Wisata Trunyan
Dari beberapa rekomendasi positif tentang Kuburan Trunyan
kebanyakan datang dari wisatawan yang datang ke lokasi dengan ditemani oleh guide lokal. Dengan ditemani oleh guide lokal akan sedikit mengurangi kecurangan-kecurangan yang terjadi di lokasi karena adanya perasaaan
'sungkan' terhadap sesama guide. Dengan ditemani oleh guide sampai ke Kuburan Trunyan akan meminimalkan seluruh ketidakpahaman terhadap
budaya lokal.
Membawa terlebih dahulu wisatawan ke Desa Trunyan sebelum mengunjungi Kuburannya, merupakan salah satu cara yang efektif untuk
mengajarkan masyarakat lokal akan pentingnya keramah-tamahan dan kenyamanan untuk wisatawan. Mengajak wisatawan untuk bisa berinteraksi
langsung dengan wisatawan akan menumbuhkan rasa memiliki sehingga mereka merasa bertanggung jawab terhadap kenyamanan dan keamanan mereka. Beberapa hal yang telah dilakukan travel untuk mengajarkan interaksi wisatawan dengan masyarakat adalah mengajak wisatawan untuk coffee break
berfoto bersama.
Banyaknya sampah bukan semata-mata sampah yang tidak terpakai, melainkan itu adalah sampah bambu yang merupakan alat yang digunakan
untuk mengangkat jenazah dari Desa sampai ke Kuburan. Beberapa Kain, peralatan mandi, peralatan makan, sandal bahkan sampai elektronik yang merupakan barang kesayangan sewaktu jenazah masih hidup juga akan
dibawakan keluarga sampai di kuburan yang keberadaannya mirip sampah karena saking banyaknya. Tak hanya itu, sisa sesajen dan haturan juga banyak
berserakan di sekitar kuburan. Bagi masyarakat Bali dan khususnya Desa Trunyan sangat tidak memperbolehkan mengambil barang atau apapun yang sudah di bawa ke kuburan. Untuk membersihkan wilayah kuburan dari
barang-barang yang terlihat tidak terpakai tersebut akan memmerlukan upacara yang besar.
Wisatawan mencoba Masakan Lokal Ikan Mujair
Trunyan di Mata Wisatawan
Tentunya Bagi masyarakat Desa Trunyan, mereka sangat menghormati
keluarga yang telah meninggal. Meletakkannya di Kuburan Tua merupakan salah satu cara dan budaya mereka dalam memperlakukan jenazah secara
lebih baik. Kuburan tua dianggap Kuburan Utama bagi mereka dengan adanya Pohon kemenyan yang mereka keramatkan. Tetap meletakkan jenazah dalam kondisi terbuka dan terkena sinar matahari langsung merupakan penghargaan yang tinggi untuk lebih mendekatkan mereka kepada matahari sebagai simbol
PENGALAMAN WISATAWAN KE DESA TRUNYAN
Kintamani dan Sekitarnya
Meskipun banyak rumor negatif yang beredar tentang wisata ke kuburan Trunyan, namun selalu mengundang rasa penasaran bagi beberapa wisatawan
untuk mengunjunginya. Sebagian dari mereka ada yang mengurungkan niatnya untuk berwisata ke desa tersebut dan sebagian lagi ada yang mencari jasa biro perjalanan wisata (travel agent) yang memang memiliki kredibilitas serta komentar wisatawan (guest comment) positif dalam memandu wisatawan.
Dari puncak Penelokan, wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan indah Danau dan Gunung Batur, Kintamani. Ada 15 Desa yang
penduduknya bermukim di sekitar Danau dan Gunung Batur tersebut. Dari atas Penelokan, Wisatawan juga bisa melihat kompleks rumah di Desa Trunyan.
Pengalaman Wisatawan Ke Desa Trunyan
Wisatawan sudah bisa menikmati pemandangan dmulai dari Penelokan. Sambil
duduk dan minum kopi di salah satu warung bisa menjadi hal yang mengasikkan. Memandangi pemandangan sambil membuat dan menggunakan
jasa temporary tattoo dan memilih berbagai kerajinan tangan yang dijajakan pedagang acung lokal menjadi ciri khas yang menarik dari objek wisata ini. Hal unik dan lucu dalam berbelanja di kawasan ini adalah apabila wisatawan membeli satu barang, maka pedagang yang lainnya akan datang dan mencoba
menawarkan barang yang sama. Hal ini terkadang menjengkelkan bagi beberapa wisatawan oleh karena over agresifnya para pedagang di Kintamani.
Namun, jika wisatawan berbelanja kepada mereka akan memberikan nilai ekonomi lokal yang relatif tinggi.
Menuju Dermaga dan Desa Trunyan
kuramba ikan nila milik penduduk lokal.
Sampai di Desa Kedisan, wisatawan bisa langsung membeli tiket di
dermaga penyeberangan ke Desa Trunyan. Penyeberangan yang memakan waktu sekitar 20 menit ini menggunakan perahu bermotor. Wisatawan akan diantar langsung ke kuburan Trunyan. Wisatawan bisa mengabadikan pengalaman mereka di sepanjang penyeberangan dengan pemandangan yang
indah di kaldera gunung Batur tua.
Beberapa wisatawan yang memiliki waktu lebih dan menyukai
petualangan bisa mengunjungi Kuburan Truyan dengan terlebih dahulu mengunjungi Desa Trunyan. Dari Dermaga Kedisan, wisatawan bisa langsung melanjutkan perjalanannya melalui jalan utama. Suasana khas Desa
Tradisional dan dengan kehidupan masyarakat Bali Mula kental terasa di sepanjang perjalanan yang dilewati. Di sekeliling Danau Batur adalah penghasil
utama terbesar bawang merah. Tak salah bila aroma bawang akan menjadi salah satu ciri khas apabila wisatawan datang ke area ini. “Trunyan adalah Desa Tradisional yang otentik” kira-kira kalimat itu yang cocok untuk
menggambarkan kealamian budaya masyarakat Desa Trunyan.
Desa Trunyan yang Otentik
Orang lokal yang memancing di danau sambil berendam, menggunakan perahu kecil dari batang kayu saat menjala di danau, anak-anak yang
Pengalaman Wisatawan Ke Desa Trunyan
ibu-ibu yang mencuci baju di danau akan menjadi suguhan gambaran
keotentikan masyarakat tradisional, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan kota.
Desa Trunyan juga merupakan salah satu Desa tua yang ada di Bali.
Salah satu peninggalan jaman megalitikhum telah ditemukan di Desa ini. Di dalam Salah satu Meru ditempatkan sebuah patung kuno yang disebut juga
dengan patung “Datonta”. Oleh masyarakat setempat disebut dengan “Ratu Gede Pancering Jagat”. Masyarakat setempat percaya bahwa Patung tersebut bukanlah buatan manusia tetapi buatan Tuhan yang sengaja dikirim dan
diturunkan ke Desa sebagai penjaga/penstabil bumi. Mereka percaya dengan adanya Patung tersebut, bencana apapun yang terjadi di Pulau Bali, maka
Desa Trunyan tidak akan merasakannya. Masyarakat percaya bahwa patung tersebut hanya berukuran sekitar 9cm saat ditemukan. Patung itu terus bertumbuh dan terhenti hingga sekarang mencapai ukuran sekitar 4 meter.
Menuju ke Kuburan Trunyan bisa langsung dilakukan dengan menggunakan perahu tradisional milik masyarakat Trunyan. Dengan waktu
sekitar 15 menit dengan menggunakan perahu dayung, wisatawan akan diantar Nelayan Lokal Menggayung Perahu
Tradisionalnya
sampai ke Kuburan oleh salah satu anggota perkumpulan perahu dayung. Menyeberangi danau Batur dengan Perahu dayung menambah pengalaman
yang lebih bagi wisatawan. Wisatawan dapat merasakan keheningan desa dan pemandangan Gunung Batur dari seberang.
Berfoto di Depan Pura Ratu Gede Pancering Jagat
Pengalaman Wisatawan Ke Desa Trunyan
Kuburan Tua (Sema Wayah) Desa Trunyan
Sebuah pintu gerbang dengan arsitektur/style Bali merupakan salah satu
bangunan yang menyambut wisatawan saat memasuki kuburan Tua Desa
Trunyan. Wisatawan bisa mengabadikan momen mereka di bawah papan nama “Welcome to Kuburan Trunyan”. Masuk ke dalam akan disambut kembali dengan pohon besar yang merupakan cikal bakal nama Desa ini. Pohon=Taru
Kemenyan=Menyan. Taru Menyan (Trunyan) mengambil nama dari pohon
besar ini. Pohon inilah yang dipercaya mampu menyerap dan menetralisir bau dari jenazah yang diletakkan di bawahnya.
Ada juga tumpukan tengkorak yang diletakkan di samping pohon menyan sebagai sarana dan keperluan pariwisata, Wisatawan bisa berfoto di
depan atau bahkan memegang beberapa tengkorak dan tulang-tulang yang ada. Di ujung ada 11 pelindung yang terbuat dari bambu “ancak saji” yang
merupakan tempat para jenazah diletakkan. Wisatawan diperbolehkan
yang paling lama, sehingga jumlah yang ada di sana selalu 11 tempat.
Dengan menggunakan perahu yang sama, Wisatawan bisa kembali ke
Desa Lagi setelah puas dengan pengalaman dan pengetahuannya tentang Kuburan Desa Trunyan.
Pohon Kemenyan di Kuburan Trunyan
Trunyan dalam Bingkai
6
TRUNYAN DALAM BINGKAI
Gunung Batur, Pemandangan Menuju Desa Trunyan
Mengenal Tradisi dan Budaya Orang Trunyan di Desa Trunyan
Trunyan dalam Bingkai
Pemandangan di Sepanjang Perjalanan Menyeberangi Danau Batur Menuju Kuburan Tua
Wisatawan Berpose Memegang Tengkorak
Trunyan dalam Bingkai
penutup
Pada bagia penutup ini, penulis ingin berbagi ide dan tips untuk memperoleh pengalaman wisata yang menyenangkan dan penuh makna. Ada beberapa informasi yang kami perjelas kembali agar wisatawan dan pembaca yang budiman dapat memahami situasi yang terjadi di lapangan. Secara umum pemikiran dari tulisan ini diharapakan dapat memberbaiki keberlajutan wisata Desa Trunyan.
Mengantisipi Keluhan Wisatawan dari Donasi
Guide/driver yang mengantarkan wisatawan perlu memberikan informasi
tentang donasi ini dan wisatawan diberitahu untuk menyiapkan uang dengan jumlah donasi yang dikehendakinya secara sukarela. Atau jika perlu, diupayakan untuk menghindari menghadapkan wisatawan dengan masyarakat lokal atas situasi yang rumit dan sulit tersebut.
Guide/driver bisa mengambilalih situasi yang rumit tersebut dengan membayarkan donasinya dan menjelaskannya kepada masyarakt lokal yang betugas untuk memungut donasi di Kuburan Desa Trunyan. Bagi wisatawan, dapat memilih sebuah paket wisata, dimana semua pengluaran di Desa Trunyan akan dibayarkan oleh pemandu wisata. Wisatawan tidak perlu mengeluarkan uang tambahan saat berkunjung ke Trunyan. Bagi guide/driver, diperlukan beberaa kali kunjungan mengantar wisatwan, untuk bisa mengatasi permasalahan dan situsi yang suit di lapangan.
Kerjasama dengan Guide Lokal
Penutup
tidak akan berkunjung ke Trunyan, kemudian mereka akab berbalik dan menunggu wisatawan yang lain.
Mengapa wisatawan diikuti/dipandu guide lokal?
Ada 2 pilihan lokasi untuk mengunjungi Kuburan Trunyan. Pertama, wisatawan dapat menyeberang dengan perahu motor (boat) dari dermaga penyeberangan di Desa Kedisan. Kedua, wisatawan dapat langsung menuju ke Desa trunyan dengan menggunakan kendaaraan roda dua atau roda empat. Dari Desa Trunyan dapat menggunakan perahu menuju Kuburan Desa Trunyan.
Mereka yang menyeberang dari Desa kedisan, umunya hanya berkunjung ke Kuburan dan tidak berkunjung ke pemukiman penduduk Desa trunyan, dimana Pura Ratu Gede Pancering Jagat berada.
Agar wisatawan mengunjungi Desa trunyan dan mengggunakan jasa boat mereka, para guide lokal dari Desa Trunyan adalah orang-orang yang berjasa untuk menawarkan wisata ke Trunyan. Dalam setiap harinya ada sekitar 3-5 orang yang menawarkan wisata ke Trunyan di Penelokan. Beberapa dari mereka menunggu di desa-desa yang berlokasi di dekat danau Batur seperti Desa Kedisan dan Buahan, dan Desa Abang Batudinding. Masyarakat Desa Trunyan percaya kepada para guide lokal untuk menjelaskan kepada wisatawan. Mereka para guide lokal juga berjasa untuk membawa wisatawan ke Desa Trunyan.
Menghubungi Guide Lokal Bisa Sangat Menguntungkan dan Dapat
Memudahkan Perjalanan
akan merasa lebih nyaman.
Guide lokal akan menunjukkan tempat-tempat menarik dan bahkan dapat melihat rumah-rumah penduduk yang masih sangat tradisional. Mengontak guide tidak memerlukan tambahan biaya, karena beberapa guide memiliki boat dan manjadi anggota dalam organisasi boat tersebut. Biaya yang dibayarkan untuk sewa boat akan tetap sama, mengontak guide tersebut ataupun datang langsung ke Desa Trunya yang pastinya akan diikuti oleh salah satu guide yang sedang mencari tamu.
'Mencari tamu' sebagai mata pencaharian
Mencari tamu atau dalam bahasa Bali 'ngalih tamu' merupakan sebuah pekerjaan yang dilakukan masyarakat yaitu para guide lokal. Kendatipun berkunjung ke Trunyan secara mandiri, para guide lokal yang mengikutinya akan membantu mengontak pemilikk boat sesuai dengan gilirannya. Atas jasanya tersebut para guide lokal akan mendapat pendapatan berupa komisi.
JIka para guide lokal mampu mengajak wisatawan berkunjug ke kuburan Trunyan melalui desa mereka, maka uang yang dibelanjakan wisatawan bisa mendukung (support) ekonomi lokal. Pengeluaran wisatawan ikut dirasakan oleh masayarakat lokal yang memiliki usaha warung kopi dan snack, warung makan (jika ada wisatawan yang ingin mencoba ikan mujair), dan jasa penggunaan toilet.
Donasi di Kuburan Desa Trunyan
Memungut donasi merupakan hal yang umum dilakukan masyarakat Bali pada saat wisatawan mengunjungi Pura, warisan sejarah dan budaya, terasering (sawah), desa wisata, pantai, dan berbagai objek dan daya tarik wisata lainnya di Bali. Demikian juga dengan masyarakat Trunyan yang melakukan hal yang sama memungut donasi di Kuburan Desa Trunyan.
Penutup
penghasilan bagi desa. Adapun beberapa hal yang terkait dengan keberadaan donasi di kuburan trunyan, yaitu:
1. Penerimaan dari donasi lebih tinggi
Meletakkan kotak donasi dan buku tamu untuk menuliskan jumlah donasi, dapat menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi. , jika dibandingkan dengan menetapkan tarif tertentu misalnya Rp. 10.000 per orang. Wisatawan umunya memberikan donasi lebih dari jumlah tersebut. Jika wisatawan kebingungan, pemandu wisata lokal menginformasikan Rp. 10.000 atau lebih sesuai dengan kemmapuan dan diberikan secara sukarela.
2. 'Taktik' memperoleh donasi yang lebih besar
Pada beberapa kasus, buku tamu ditulis jumlah donasi oleh oknum masyarakat dengan jumlah yang besar mulai dari Rp. 50.000 hingga 100.000. Hal ini bertujuan agar wisatawan memberikan donasi yang lebih besar. Wisatawan (umumnya yang pertama kali ke Indonesia) kurang mengerti (familiar) dengan mata uang, dan penjelasan dari oknum penjaga terkadang menyampaikannya dengan 'sedikit memaksa'.
3. Donasi Vs. Tiket Masuk
Menetapkan donasi lebih memungkinkan dilakukan masyarakat, dan penerimaan yang didapatkan semuanya (100%) masuk ke kas desa. Dengan tiket masuk yang ditetapkan pemerintah daerah, sekitar 40-60% pendapatan akan menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
4. Donasi meminimalkan kesan komodifikasi
Tentang Penulis
Apni Tristia Umiarti, S.Pt., M.Si
Dosen tetap pada fakultas Peternakan, Universitas
Udayana sejak tahun 2008. Lahir di Jepara, Jawa
Tengah
tanggal
27
April
1981.
Setelah
menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah
Umum (SMU), berpindah ke Bali di tahun 1998
untuk mengenyam pendidikan S1 di Fakultas
Paternakan Universitas Udayana. Gelar sarjana
Peternakan (S.Pt) diraih di tahun 2003. Setahun berikutnya, Ia
melanjutnya pendidikan S2 dan memperoleh gelas M.Si di tahun 2006.
Ia memiliki hobby
travelling
dan memiliki ketertarikan yang tinggi
menulis tradisi dan kebudayaaan lokal di Indonesia. Secara aktif
terlibat dalam beberapa kegiatan pendampingan dan pengembangan
kapasitas masyarakat lokal dalam pembangunan berkelanjutan.