• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh. KIKI HANDOKO SEMBIRING /M.Kn

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh. KIKI HANDOKO SEMBIRING /M.Kn"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh

KIKI HANDOKO SEMBIRING 117011104/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

KIKI HANDOKO SEMBIRING 117011104/M.Kn

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)
(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Budiman Ginting, SH., M.Hum Anggota : 1. Dr. T. Keizerina Devi A, SH., CN, M.Hum

2. Notaris Dr. Suprayitno, SH., M.Kn 3. Prof. Dr. Saidin, SH, M.Hum 4. Dr. Edy Ikhsan, SH., M.A

(5)

Nim : 117011140

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis : ANALISIS YURIDIS PELAKSANAAN PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN PENIMBUNAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN PEMBANGUNAN JALAN TOL DI KECAMATAN MEDAN HELVETIA KOTA MEDAN

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan,

Yang membuat Pernyataan

Nama : KIKI HANDOKO SEMBIRING Nim : 117011140

(6)

dilaksanakan oleh kontraktor yang memiliki badan hukum sebagai penerima pekerjaan yang diberikan oleh pemberi pekerjaan dalam hal ini adalah PT Hutama Karya Infrastruktur dengan PT Alghazali Satria Perkasa dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah merah padat untuk kepentingan pembangunan jalan tol di Medan – Binjai Seksi I. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaturan tentang perjanjian pemborongan pekerjaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, bagaimana kendala yang dihadapi di lapangan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan, bagaimana solusi yang diambil oleh para pihak dalam hal terjadi permasalahan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum observasi yaitu penelitian yang dilakukan terhadap peraruran perundang-undangan yang berlaku dalam hal ini adalah dalam Bab VII A Buku Ketiga KUH Perdata, Pasal 1601 b sampai dengan 1616, Peraturan Presiden (Perpres) No. 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah sebagaimana telah diubah sebanyak empat kali, terakhir dengan Perpres No. 4 Tahun 2015. Perpres No. 4 Tahun 2015 dan Perpres No. 122 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 75 Tahun 2014 tentang Percepatan penyediaan infrastruktur Perioritas. Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis dimana penelitian ini berupaya untuk menggambarkan, memaparkan dan menganalisis permasalahan yang timbul, lalu mencari jawaban yang benar sebagai solusi dari permasalahan tersebut.

Hasil pembahasan dari permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah bahwa pengaturan tentang perjanjian pemborongan pekerjaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia diatur dalam Bab 7A Buku III KUH Perdata Pasal 1601b sampai dengan Pasal 1616. Undang-undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi dan dalam Peraturan Presiden No.16 Tahun 2018 sebagai perubahan kelima dari Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2015 tentang perubahan keempat atas peraturan presiden No.54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah. Kendala yang dihadapi di lapangan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan adalah terdiri dari kendala karena faktor alam dan Kondisi Lapangan. Solusi yang diambil oleh para pihak dalam hal terjadi permasalahan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan adalah mengatasi kendala yang terjadi di lapangan dan juga melakukan musyawarah mufakat dalam hal pelaksanaan pembayaran yang terlambat dilaksanakan oleh pihak pemberi pekerjaan yaitu PT Hutama Karya Infrastruktur dengan PT Alghazali Satria Perkasa.

Kata kunci : Perjanjian Pemborongan Pekerjaan, Penimbunan Tanah Merah Padat dan Jalan Tol

(7)

carried out by contractors, PT. Hutama Karya Infrastruktur and PT. Alghazali Satria Perkasa who have legal entity and are bound in a tendering contract of land reclaiming for Medan-Binjai Section I toll-road. The research problems are as follows: how about the regulation on tendering contract according to the Indonesian legal provisions, how about the obstacles found in the implementation of tendering contract of land reclaiming for the toll road construction, and how about the solution of the problems, if any, made by the parties in the implementation of tendering contract of land reclaiming for the toll road construction in Medan Helvetia Subdistrict, Medan.

The research used legal observation method, based on Chapter VII A of Book III, Article 1601b until Article 1616 of the Civil Code, Perpres (Presidential Decree) No. 54/2010 on Procuring Government’s Goods and Services which has been amended for times with the last amendment to Perpres No. 4/2015, Perpres No. 4/2015, and Perpres No. 122/2016 on the Amendment on the Perpres No.

75/2014 on the Acceleration of Providing Prioritized Infrastructure. The nature of the research is descriptive analytic method which describes, explains, and analyzes the research problems by finding their solutions.

The result of the research shows that regulation on the tendering contract is in accordance with Chapter VII A of Book III, Article 1601b until Article 1616 of the Civil Code, Law No. 18/1999 on Construction Service and Perpres No.

16/2018 as the fifth amendment of Perpres No. 4/2015 on the fourth amendment of Perpres No. 54/2010 on Procuring the Government’s Goods and Services. The obstacles found in the field are natural factors and condition in the field. The solution is by coping with the problems in the field and by performing negotiation about the late paying by PT. Hutama Karya Infrastruktur and PT. Alghazali Satria Perkasa.

Keywords: Tendering Contract, Land Reclaiming, Toll Road

(8)

atas karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan tesis ini sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan di Universitas Sumatera Utara Medan. Dalam memenuhi tugas inilah saya menyusun dan memilih judul : “ ANALISIS YURIDIS PELAKSANAAN PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN PENIMBUNAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN PEMBANGUNAN JALAN TOL DI KECAMATAN MEDAN HELVETIA KOTA MEDAN”. Saya menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan didalam penulisan tesis ini, untuk itu dengan hati terbuka menerima saran dan kritik dari semua pihak, agar dapat menjadi pedoman dimasa yang akan datang.

Dalam penulisan dan penyusunan tesis ini, saya mendapat bimbingan dan pengarahan serta saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tidak ternilai harganya secara khusus kepada Ketua Komisi Pembimbing Prof. Dr.

Budiman Ginting, SH, M.Hum, Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.Hum dan Dr. Suprayitno, SH, M.Kn, selaku Komisi Pembimbing yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tesis sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah. Kepada Dosen penguji Bapak Dr. Edy Ikhsan, SH, MA dan Bapak Prof. Dr. Saidin,

(9)

kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana Magister Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

3. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.Hum., selaku Ketua Program Study Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.

4. Bapak Dr. Edy Ikhsan, SH, MA., selaku Sekretaris Program Study Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.

5. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru Besar dan Staf Pengajar dan juga para karyawan Biro Administrasi pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan.

Secara khusus saya menghaturkan terimakasih yang tak terhingga kepada keluargaku tercinta Ayahanda Sumbul Sembiring dan Ibunda Nuraida Sitepu, yang selalu memberikan semangat dan dorongan kepada saya selama ini. Saya ucapkan kepada kakak Susanti Manda Sari Sembiring, adik Lisa Sundari Sembiring, Nur Mala Sari Sembiring, S.Psi dan Suparlin Sembiring

(10)

khususnya rekan rekan Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara satu angkatan lain yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang terus memberikan motivasi, semangat dan kerjasama dan diskusi, membantu dan memberikan pemikiran kritik dan saran dari awal masuk di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan sampai saat saya selesai menyusun tesis ini.

Saya berharap semoga bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada saya, mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah.

Akhirnya, semoga tesis ini dapat berguna bagi diri saya dan juga bagi semua pihak khususnya yang berkaitan dengan bidang kenotariatan.

Medan, Juli 2018

Kiki Handoko Sembiring

(11)

Nama : Kiki Handoko Sembiring Tempat dan Tanggal Lahir : Tuntungan, 26 Agustus 1986

Alamat : Jl. Namo Pecawir No. 24 Tuntungan II Kec. Pancur Batu

Jenis Kelamin : Laki-laki

Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Islam

Nama Bapak : Sumbul Sembiring

Ibu : Nuraida Sitepu

II. PENDIDIKAN

Sekolah Dasar : Negeri 1 No. 101826 Tuntungan Sekolah Menengah Pertama : Negeri 1 Pancur Batu

Sekolah Menengah Atas : Harahapan Meda

S1 Universitas : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Fakultas Hukum

S2 Universitas : Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(12)

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 12

C. Tujuan Penelitian ... 12

D. Manfaat Penelitian ... 13

E. Keaslian Penelitian ... 14

F. Kerangka Teori dan Konsepsi... 16

1. Kerangka Teori ... 16

2. Konsepsi ... 20

G. Metode Penelitian ... 22

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 22

2. Sumber Data... 23

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 24

4. Analisis Data ... 24

BAB II PENGATURAN HUKUM PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN SESUAI KETENTUAN HUKUM YANG BERLAKU DI INDONESIA ... 26

A. Tinjauan Umum tentang Perjanjian ... 26

B. Tinjauan Umum Perjanjian Pemborongan Pekerjaan ... 42

C. Pengaturan Hukum Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Sesuai Ketentuan Hukum Yang Berlaku Di Indonesia ... 51

(13)

A. Jenis dan Ketentuan Hukum Pelaksanaan Perjanjian

Pemborongan Pekerjaan ... 74

B. Klausul Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Penimbunan Tanah untuk Kepentingan Pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia ... 101

C. Kendala Yang Dihadapi Di Lapangan Dalam Pelaksanaan Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Penimbunan Tanah Untuk Kepentingan Pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan ... 111

BAB IV SOLUSI TERHADAP KENDALA YANG DIHADAPI OLEH KEDUA BELAH PIHAK DALAM PELAKSANAAN PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN PENIMBUNAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN PEMBANGUNAN JALAN TOL DI KECAMATAN MEDAN HELVETIA KOTA MEDAN... 125

A. Solusi Terhadap Kendala yang Disebabkan Oleh Faktor Alam Dan Kondisi Lapangan... 125

B. Solusi terhadap Kendala yang dihadapi karena masalah pembayaran yang mengalami keterlambatan / penundaan .... 128

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 131

A. Kesimpulan ... 131

B. Saran ... 133

DAFTAR PUSTAKA ... 134

(14)

Hukum perjanjian diatur dalam Buku III KUHPerdata mengenai hukum perikatan (verbintenis). Verbintenis berasal dari kata kerja verbinden yang artinya mengikat, adanya ikatan atau hubungan. Di dalam ketentuan Pasal 1313 KUH Perdata disebutkan bahwa, “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya kepada satu orang atau lebih lainnya”. Jadi suatu perjanjian melahirkan perikatan antara para pihak yang membuat perjanjian.1Perjanjian juga merupakan suatu perhubungan hukum antara dua dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu prestasi dari pihak yang lain dan pihak lain berkewajiban untuk memenuhi prestasi itu. Dalam hukum perjanjian dikenal ada dua istilah yang sering digunakan yaitu Verbintenis dan Overeenkomst. Secara umum pengertian verbintrnis adalah suatu perikatan, petutangan atau perjanjian, sedangkan overeenkomst adalah suatu persetujuan atau perjanjian.2

Uraian pengertian di atas ternyata bahwa untuk “Verbintenis” dikenal tiga istilah di Indonesia yaitu: perikatan, perutangan, dan perjanjian, sedangkan untuk

“Overeenkomst” dipakai dua istilah yaitu perjanjian dan persetujuan. Perbedaan penggunaan istilah verbintenis dan overeenkomst tersebut disebabkan karena adanya penafsiran pengertian kata tersebut diantara para ahli hukum perjanjian.

1Rusli Hardijan, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law. cet. ke-2, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 2008, hal. 67

2Ibid, hal. 68

1

(15)

Salah satu jenis perjanjian yang melibatkan dua pihak atau lebih dalam pelaksanaannya adalah perjanjian timbal balik. Perjanjian Timbal Balik adalah perjanjian yang menimbulkan kewajiban pokok bagi kedua belah pihak.

Berdasarkan Pasal 1266 KUH Perdata, maka hanya dalam perjanjian timbal balik terdapat syarat batal. Jika terdapat wanprestasi dari salah satu pihak maka pihak lainnya berhak meminta pembatalan perjanjian.3

Tuntutan pembatalan berdasarkan Pasal 1266 KUH Perdata hanya dapat dilakukan terhadap perjanjian timbal balik yang sempurna, yaitu perjanjian dimana masing-masing pihak mengikatkan diri untuk melakukan prestasi dan sebaliknya pihak lawan berhak atas prestasi. Dalam perjanjian sepihak tidak dapat dituntut pembatalan karena kewajiban hanya ada pada satu pihak saja sedangkan fungsi tuntutan pembatalan adalah sebagai alat untuk membebaskan diri dari kewajiban melakukan prestasi jika pihak lawan telah melakukan wanprestasi.

Tuntutan pembatalan juga tidak dapat dilakukan pada perjanjian timbal balik tidak sempurna, karena pada perjanjian jenis ini pada prinsipnya meletakkan prestasi pada satu pihak, tetapi dapat menimbulkan kewajiban pada pihak lainnya.

Misalnya pada perjanjian penitipan barang yang prestasinya hanya ada pada pihak yang menerima titipan, yaitu menjaga barang yang dititipkan dengan baik dan jika timbul biaya untuk menjaga barang tersebut, kewajiban mengganti biaya tersebut (yang sebenarnya bukan merupakan prestasi) harus dibayar oleh pihak yang menitipkan barangnya (Pasal 1728 KUH Perdata).

3Abdulkadir Muhammad, Hukum Perjanjian, Cetakan ke-3, PT Alumni, Bandung, 2006, hal. 24.

(16)

Perjanjian timbal balik merupakan suatu perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban kepada kedua belah pihak, dan hak serta kewajiban itu mempunyai hubungan satu dengan lainnya.Yang dimaksud dengan “mempunyai hubungan satu dengan yang lain” adalah, bahwa bilamana dalam perikatan yang muncul dari perjanjian tersebut, yang satu mempunyai hak, maka pihak yang lain di sana berkedudukan sebagai pihak yang memikul kewajiban. 4 Kewajiban pada kedua belah pihak mempunyai nilai yang sama (seimbang) baik objektif maupun subjektif sehingga jika syarat ini tidak terpenuhi maka perjanjian itu tidak dapat disebut sebagai perjanjian timbal balik. Berbeda dengan perjanjian timbal balik tak sempurna yang merupakan perjanjian sepihak, karena kewajiban pokoknya hanya ada pada salah satu pihak saja, contohnya perjanjian pemberian kuasa tanpa upah.5

Salah satu perjanjian timbal balik yang dikenal di dalam KUH Perdata adalah perjanjian pemborongan pekerjaan yang diatur dalam Bab VII A Buku Ketiga KUH Perdata, Pasal 1601 b sampai dengan 1616. Perjanjian pemborongan pekerjaan menurut Pasal 1601 b KUH Perdata adalah persetujuan dengan mana pihak yang satu, si pemborong, mengikatkan diri untuk menyelesaikan suatu pekerjaan bagi pihak yang lain, pihak yang memborongkan, dengan menerima suatu harga yang telah ditentukan.6

Perjanjian pemborongan pekerjaan merupakan salah satu perjanjian melakukan pekerjaan yang di dalamnya terdapat tiga macam perjanjian :

4Mariam Darus Badruljaman, dkk., Kompilasi Hukum Perikatan, Cetakan ke-1, PT Citra Aditya Bakti, Jakarta, 2001, hal. 74

5Wiryono Prodjodikoro, Asas–asas Hukum Perjanjian, Bale, Bandung, 2004, hal. 63

6 Djaja S. Meliala, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Benda Dan Hukum Perikatan, Cetakan ke-1, PT Nuansa Aulia, Bandung, 2007, hal. 54

(17)

1. Perjanian kerja

2. perjanjian Pemborongan 3. Perjanjian menunaikan jasa7

Ketiga perjanjaian tersebut mempunyai persamaan yaitu bahwa pihak yang satu melakukan perkerjaan bagi pihak yang lain dengan mnerima upah.

Kata “keseimbangan” menurut Kamus Hukum, berarti keadaan seimbang (seimbang-sama berat, setimbang, sebanding, setimpal). Dalam hubungannya dengan perjanjian, secara umum asas keseimbangan bermakna sebagai keseimbangan posisi para pihak yang membuat perjanjian. Keseimbangan dalam perjanjian dibatasi oleh dua hal, pertama yakni dibatasi oleh kehendak untuk mendapatkan keadaan yang menguntungkan dan kedua keyakinan akan kemampuan untuk mewujudkan hasil yang dikehendaki tersebut. Dalam batasan kedua sisi inilah diperoleh keseimbangan yang dimaknai positif. Hal ini memberikan dasar landasan etikal kekuatan mengikat perjanjian sepanjang dilandasi asas keseimbangan hubungan antaran kepentingan perorangan dan kepentingan umum atau antara kepentingan kedua belah pihak.8

Asas keseimbangan juga sebagai asas yuridikal dapat dilihat dari maksud dan tujuan dari suatu perjanjian. Berkenaan dengan tujuan dari perjanjian sesuai dengan teori dari Atiyah adalah untuk melaksanakan janji-janji dan melindungi harapan yang wajar ditimbulkan baik dari janji-janji maupun bentuk lain kesepakatan, mencegah usaha untuk menambah kekayaan secara tidak wajar, dan mencegah kerugian ekonomi dengan pemberian kompensasi/ ganti rugi, dan untuk

7Ibid, hal. 16

8Ibid, hal. 55

(18)

mencapai keseimbangan antara kepentingan sendiri dan kepentingan terkait dari pihak lawan.9

Tujuan dari perjanjian tersebut barulah tercapai jika adanya pertemuan antara penawaran dan penerimaan. Penawaran dan permintaan sendiri mengandung suatu janji. Namun tidak serta merta pertemuan antara penawaran dan permintaan membentuk perjanjian. Perjanjian baru akan terbentuk jika terdapat pertemuan atau persesuaian antara janji-janji yang ditujukan satu terhadap lainnya. Janji sendiri mengandung dua aspek penting, yakni kehendak dan kemampuan bertindak.10

Suatu janji yang telah diberikan berarti penyerahan dari apa yang dapat diminta oleh pihak yang menawarkan kepada pihak yang menerima”. Janji dapat dipandang sebagai hak untuk bertindak. Para pihak berjanji karena para pihak memiliki hak bertindak (kemampuan bertindak).

Contoh dari perjanjian timbal balik antara lain :

a. Perjanjian jual beli (koop en verkoop), yaitu suatu persetujuan antara dua pihak, yang di mana pihak ke satu perjanjian akan menyerahkan suatu barang dan pihak kedua akan membayar harga yang telah disetujui. Syarat-syarat jual beli ialah : (1) harus antara mata uang dan barang; (2) barang yang dijual yaitu milik sendiri; dan (3) jual beli bukan antara suami-isteri yang masih di dalam ikatan perkawinan.

9R Setiawan, Pokok – Pokok Hukum Perikatan, Cetakan ke-5, PT Bina Cipta, Bandung, 2010, hal. 26

10A Qirom Meliala, Pokok-Pokok Hukum Perikatan Beserta Perkembangannya, Liberty, Yogyakarta, 2008, hal. 44

(19)

b. Perjanjian tukar menukar (Ruil, KUH Perdata Pasal 1541 dan seterusnya), yaitu suatu perjanjian antara dua pihak, yang di mana pihak satu akan menyerahkan suatu barang begitupun dengan pihak lainnya.

c. Perjanjian sewa menyewa (huur en verhuur, KUH Perdata Pasal 1548 dan seterusnya), yaitu suatu perjanjian yang di mana pihak I (yang menyewakan) memberi ijin di dalam waktu tertentu kepada pihak II (si penyewa) untuk menggunakan barangnya dengan kewajiban pihak II membayar sejumlah uang sewanya.

d. Perjanjian pemborongan pekerjaan yang melibatkan dua pihak atau lebih, dimana pihak pertama disebut dengan pemborong, dan pihak yang lainnya disebut dengan pihak yang memborongkan pekerjaan.11

Perjanjian pemborongan pekerjaan adalah merupakan salah satu sarana atau cara dalam melaksanakan kegiatan pembangunan fisik, yang didalamnya terdapat perjanjian yang bersifat mengikat. Oleh karena itu terikat ketentuan- ketentuan hukum perjanjian. Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana para pihak saling mengikatkan diri dan saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal yang mereka sepakati bersama. Sesuatu hal yang terletak dalam lapangan harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang.12

Memperhatikan rumusan di atas dapat dikatakan bahwa suatu perjanjian antara seseorang (pihak yang memborongkan pekerjaan) dengan seorang lain

11Mahmudin Ruslan, Hukum Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Berdasarkan KUH Perdata, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2010, hal. 86

12R Subekti, Aneka Perjanjian, Cetakan ke-10, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2008, hal. 79

(20)

(pihak pemborong pekerjaan) dimana pihak pertama menghendaki sesuatu hasil pekerjaan yang disanggupi oleh pihak lawan, atas pembayaran sejumlah uang sebagai harga pemborongan.

Definisi perjanjian pemborongan pekerjaan yang diatur dalam KUH Perdata menurut para sarjana adalah kurang tepat. Hal ini disebabkan karena menganggap bahwa perjanjian pemborongan pekerjaan adalah perjanjian sepihak, sebab si pemborong hanya memiliki kawajiban saja sedangkan yang memborongkan mempunyai hak saja. Sebenaranya perjanjian pemborongan adalah perjanjian timbal balik yaitu antara pemborong dengan mana yang memborongkan yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban.13

Definisi perjanjian pemborongan yang terdapat dalam Pasal 1601 b KUHPerdata kurang tepat Djumaldji memberikan definisi perjanjian pemborongan sebagai suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu, si pemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu pekerjaan, sedangkan pihak yang lain, yang memborongkan mengikatkan diri untuk membayar suatu harga yang telah ditentukan.dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa:

a. bahwa yang membuat perjanjian pemborongan atau yang terkait dalam perjanjian pemborongan adalah dua pihak saja, pihak ke satu disebut yang memborongkan / bouwheer / aanbertender / pemberi tugas, pihak kedua disebut pemborong / perjanjiantor / rekanan / annemer / pelaksana

13R Soeroso, Perbandingan Hukum Perdata, Cetakan ke-9, PT Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hal. 19.

(21)

b. bahwa obyek dari perjanjian pemborongan adalah perbuatan suatu karya / het maken van werk.

Adapun perbedaan antara perjanjian kerja dengan perjanjian pemborongan dan perjanjian menunaikan jasa yaitu bahwa dalam perjanjian kerja terdapat unsur subordinasi, sedangkan dalam perjanjian pemborongan dan perjanjian menunaikan jasa terdapat kordinasi. Mengenai perbedaan antara perjanjian pemborongan dengan perjanjian menunaikan jasa, yaitu bahwa dalam perjanjian pemborongan berupa mewujudkan suatu karya tertentu, sedangkan dalam perjanjian menunaikan jasa berupa melaksanakan tugas tertentu yang ditentukan sebelumnya.

Subekti berpendapat bahwa perjanjian pemborongan adalah perjanjian antara seseorang (pihak yang memborongkan) dengan seorang lain (pihak yang memborongkan pekerjaan ) dimana pihak yang satu menghendaki suatu pekerjan yang disanggupi oleh pihak lainnya untuk diserahkan dalam jangka waktu yang ditentukan, atas pembayaran suatu jumlah uang sebagai harga pemborongan.

Ketentuan-ketentuan perjanjian pemborongan di dalam KUHPerdata berlaku baik bagi perjanjian pemborongan pada proyek-proyek pemerintah maupun swasta.14

Di dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan kelancaran pelaksanaan perjanjian ditentukan oleh itikad baik dari para pihak yang melaksanakan perjanjian tersebut. Pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan akan terhambat apabila salah satu pihak melakukan wanprestasi / ingkar janji dalam pelaksanaan perjanjian tersebut. Wanprestasi dapat diartikan sebagai tidak

14 Suharnoko, Hukum Perjanjian Teori dan Analisa Kasus, Prenada Media, Jakarta, 2004, hal. 65.

(22)

terlaksananya prestasi karena kesalahan debitur baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian. Wanprestasi ditinjau dari segi bentuknya dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok :

1. Tidak melaksanakan prestasi sama sekali

2. Melaksanakan prestasi tetapi tidak tepat waktu (terlambat) 3. Melaksanakan prestasi tidak seperti yang diperjanjikan

Wanprestasi terhadap pelaksanaan pemborongan pekerjaan akan menimbulkan suatu hak bagi pihak lain yang dirugikan untuk menuntut ganti rugi terhadap pihak yang melakukan wanprestasi tersebut. Pasal 1238 KUH Perdata menyebutkan bahwa, “Debitur dinyatakan lalai dengan surat perintah atau dengan akta sejenis itu atau berdasarkan kekuatan dan perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan”. Pasal 1243 KUH Perdata selanjutnya menyebutkan bahwa,

“Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika suatu yang diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan”. Dari ketentuan Pasal 1238 dan Pasal 1243 KUH Perdata tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa debitur sudah dinyatakan lalai apabila telah ditegur atau disomasi sebanyak 3 (tiga) kali namun debitur tetap mengabaikan somasi tersebut, sehingga dengan demikian debitur telah dinyatakan lalai dalam memenuhi kewajibannya dan menimbulkan hak bagi kreditur untuk

(23)

memaksa debitur memenuhi prestasinya dengan cara mengajukan gugatan wanprestasi ke pengadilan.

Selain ketentuan yang termuat dalam KUH Perdata mengenai perjanjian pemborongan pekerjaan, maka ketentuan lainnya terdapat dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah sebagaimana telah diubah sebanyak empat kali, terakhir dengan Perpres No. 4 Tahun 2015. Perpres No. 4 Tahun 2015 tersebut memuat ketentuan teknis yang wajib dipenuhi oleh pemborong dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan dimana pihak yang memborongkan pekerjaan tersebut adalah pemerintah. Namun ketentuan umum tentang pelaksanaan perjanjian borongan pekerjaan pemerintah tetap berpedoman kepada hukum perjanjian secara umum dan hukum perjanjian pemborongan pekerjaan sebagaimana termuat dalam buku III KUH Perdata.15

Di dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah tentang perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan tanah merah padat (common borrow material) antara PT Hutama Karya Infrastruktur dengan PT Alghazali Satria Perkasa No. HKI/JP.1012B/SPP.Binjai/VIII/2017 dalam untuk pelaksanaan proyek pembangunan jalan tol Medan – Binjai Seksi I. Lingkup pekerjaan yang dilakukan dalam pelaksanaan proyek ini adalah melaksanaan pekerjaan timbunan tanah merah padat (common borrow material) STA4+000 s/d 4+450 Main Road Seksi – 1 sesuai kuantitas yang telah disepakati, spesifikasi teknis, jadwal

15Ibid, hal. 66

(24)

pekerjaan dan syarat pelaksanaan mutu, keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ada di dalam dokumen perjanjian ini.

Nilai perjanjian di dalam proyek pekerjaan timbunan tanah merah padat (common borrow material) dalam rangka pembangunan jalan tol Medan – Binjai Seksi – 1 sebesar Rp 6.035.700.000 (enam milyar tiga puluh lima juta tujuh ratus ribu rupiah), sudah termasuk PPn 10%, PPh 3%, biaya galian C serta pajak-pajak lainnya yang menjadi kewajiban pihak kedua yaitu PT Alghazali Satria Perkasa berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku, dan iuran / retribusi lain yang berlaku berdasarkan peraturan perundangan atau peraturan daerah. Pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dilokasi proyek dengan jadwal lapangan dan akan diperbaharui / dirinci sesuai dengan kebutuhan di lapangan sampai dengan kebutuhan di lapangan terpenuhi. Pelaksanaan pekerjaan terhitung sejak tanggal 24 Agustus 2017 s/d 15 Oktober 2017 (dapat dipercepat atau diperpanjang sesuai dengan kesepakatan para pihak). Perpanjangan waktu pelaksanaan pekerjaan akan tertuang di dalam adendum (apabila ada) yang wajib disepakati oleh kedua belah pihak. Jangka waktu pemeliharaan adalah selama 90 (sembilan puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal berita acara serah terima pertama.

Dari uraian di atas maka penelitian ini akan membahas lebih lanjut tentang bagaimana spesifikasi pekerjaan yang termuat di dalam perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan merah padat (common borrow material) antara PT Hutama Karya Infrastruktur dengan PT Alghazali Satria Perkasa, bagaimana hak dan kewajiban para pihak serta bagaimana permasalahan yang timbul dalam pekerjaan

(25)

tersebut serta solusi yang diambil berdasarkan kesepakatan para pihak. Dari unsur-unsur pembahasan yang akan dibahas secara lebih mendalam di dalam penelitian ini maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti dan dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini yang akan dirumuskan dalam suatu perumusan masalah.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan tentang perjanjian pemborongan pekerjaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia?

2. Bagaimana kendala yang dihadapi di lapangan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan?

3. Bagaimana solusi terhadap kendala yang dihadapi oleh kedua belah pihak dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaturan tentang perjanjian pemborongan pekerjaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia

(26)

2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi di lapangan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan

3. Untuk mengetahui solusi terhadap kendala yang dihadapi oleh kedua belah pihak dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimbunan tanah untuk kepentingan pembangunan Jalan Tol di Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis dibidang hukum perjanjian pada umumnya dan hukum perjanjian pemborongan pekerjaan pada khususnya yang termuat di dalam KUH Perdata serta di dalam perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan tanah merah padat (common borrow material) yang telah disepakati dan ditanda tangani oleh para pihak yakni PT Hutama Karya Infrastruktur dengan PT Alghazali Satria Perkasa, dimana manfaat penelitian tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu :

1. Secara Teoritis

Penelitian ini dapat memberikan manfaat berupa sumbangsih pemikiran bagi perkembangan hukum perjanjian pada umumnya dan perjanjian pemborongan pekerjaan pada khususnya, tentang pekerjaan timbunan tanah merah padat (common borrow material) yang telah disepakati dan ditandatangi oleh para pihak yakni PT Hutama Karya Infrastruktur dan PT Alghazali Satria Perkasa dalam rangka pelaksanaan pembangunan jalan tol Medan-Binjai Seksi I.

(27)

2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada masyarakat praktisi, maupun bagi pihak-pihak terkait mengenai hukum perjanjian pada umumnya dan hukum perjanjian pemborongan pekerjaan pada khususnya dalam hal pekerjaan penimbunan tanah merah padat (common borrow material) yang telah disepakati dan ditandatangi oleh para pihak yakni PT Hutama Karya Infrastruktur dan PT Alghazali Satria Perkasa dalam rangka pelaksanaan pembangunan jalan tol Medan-Binjai Seksi-I.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya di lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Sumatera Utara menunjukkan bahwa penelitian dengan judul ini belum pernah dilakukan. Akan tetapi, ditemukan beberapa judul tesis yang berhubungan dengan topik dalam tesis ini antara lain:

1. Muhammad Zaki, NIM. 077011044/MKn, dengan judul “Wanprestasi dalam Pelaksanaan Perjanjian Kerja Konstruksi Melalui Penunjukan Langsung di Kabupaten Aceh Besar oleh BRR NAD-NIAS”.

Pemasalahan yang dibahas :

a. Bagaimana bentuk-bentuk wanprestasi dalam pelaksanaan perjanjian kerja konstruksi melalui penunjukan langsung?

b. Bagaimana faktor-faktor penyebab terjadinya wanprestasi berkaitan dengan penunjukan langsung pelaksana jasa konstruksi?

(28)

c. Bagaimana akibat hukum dan upaya penyelesaian wanprestasi dalam pealksanaan perjanjian kerja konstruksi?

2. Ahmad Feri Tanjung NIM. 067011013/M.Kn : Tanggung Jawab Hukum Kuasa Pengguna Anggaran atas Perubahan Teknis Pekerjaan Pasca Penandatanganan Surat Perjanjian Perjanjian Pelelangan Pengadaan barang dan Jasa. Substansi Permasalahan yang dibahas adalah :

a. Bagaimana ketentuan pengadaan barang / jasa pemerintah dalam bidang perjanjian konstruksi?

b. Bagaimana prosedur dan teknis perubahan pekerjaan setelah perjanjian ditandatangani?

c. Bagaimana tanggung jawab kuasa pengguna anggaran atas perubahan teknis pekerjaan yang dilaksanakan setelah perjanjian ditandatangani?

3. Laila Hayati Aulia, NIM. 097011120/M.Kn : Akibat Hukum dari Wanprestasi dalam Perjanjian Konstruksi yang dilaksanakan Perjanjiantor. Substansi Permasalahan yang dibahas adalah :

a. Bagaimana pengaturan hukum tentang perjanjian konstruksi di dalam peraturan perundang-undangan tentang jasa konstruksi yang berlaku di Indonesia?

b. Bagaimana akibat hukum atas terjadinya wanprestasi oleh pihak perjanjiantor di dalam pelaksanaan pekerjaan jasa konstruksi?

c. Bagaimana perlindungan hukum terhadap pengguna jasa konstruksi atas wanprestasi yang dilakukan oleh perjanjiantor dalam pelaksanaan pekerjaan jasa konstruksi?

(29)

Dari judul penelitian tersebut tidak ada kesamaan dengan penelitian yang penulis lakukan. Dengan demikian judul ini belum ada yang membahasnya sehingga penelitian ini dijamin keasliannya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi.16 Suatu teori harus dikaji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi perbandingan pegangan teoritis.17 Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori keseimbangan dan keadilan.

Teori keseimbangan atau equity theory dikemukakan oleh John Stacey Adams, teori ini berasumsi bahwa pada dasarnya manusia menyenangi perlakuan yang adil/sebanding berhubungan dengan kepuasan relasional dalam hal persepsi distribusi yang adil dalam hubungan inpersonal. Teori keseimbangan berfokus pada rasio input/output dalam organisasi atau dalam hubungan inpersonal. Input oleh diwaliki oleh kontribusi kita terhadap organisasi atau kepada sesama. Ketika kita melaksanakan perjanjian pertukaran hak dan kewajiban antar sesama manusia

16 JJJ.Wuisman, penyunting M.Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, jilid I, FE UI Jakarta, 2006, hal.203

17M.Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bndung, 2003, hal.80.

(30)

maka pertukaran hak dan kewajiban tersebut harus benar-benar seimbang dan adil.18

Teori keadilan menurut John Rawls adalah suatu konsepsi dimana keadilan sosial harus dipandang sebagai instansi pertama, standar dari mana aspek distributif struktur dasar masyarakat dinilai. Konsepsi seperti itu haruslah menetapkan cara menempatkan hak-hak dan kewajiban di dalam lembaga- lembaga dasar masyarakat, serta caranya menetapkan pendistribusian yang pas berbagai nikmat dan beban dari kerja sama sosial. Pandangan ini dituangkan Rawls dalam konsepsi umum keadilan intuitif berikut: Semua nikmat primer kemerdekaan dan kesempatan, pendapatan dan kekayaan, dan dasar-dasar kehormatan diri harus dibagikan secara sama (equally), pembagian tak sama (unequal) sebagian atau seluruh nikmat tersebut hanya apabila menguntungkan semua pihak.19

Konsep umum di atas menampilkan unsur-unsur pokok keadilan sosial Rawls. Bahwa (1) prinsip pokok keadilan sosial adalah equality atau kesamaan;

yaitu: (2) kesamaan dalam distribusi; atas (3) nikmat-nikmat primer (primary goods); namun (4) ketidaksamaan (inequalities) dapat ditoleransi sejauh menguntungkan semua pihak. Dalam konsepsi umum ini, tampak bahwa teori keadilan Rawls mencakup dua sisi dari masalah keadilan: kesamaan (equality) dan ketidaksamaan (inequality). Di satu sisi, keadilan sosial adalah penerapan prinsip kesamaan dalam masalah distribusi nikmat-nikmat primer. Sementara di lain sisi,

18 Gustaf Mansyur, Teori Hukum Keseimbangan dan Keadilan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005, hal. 41

19Armando Mustafa, Teori-teori Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004, hal. 17

(31)

diakui, ketidaksamaan dapat ditoleransi sejauh hal itu menguntungkan semua, terutama golongan yang tertinggal.

Bagi John Rawls, konsepsi keadilan harus berperan menyediakan cara di dalam mana institusi-institusi sosial utama mendistribusikan hak-hak fundamental dan kewajiban, serta menentukan pembagian hasil-hasil dan kerja sama sosial.

Suatu masyarakat tertata benar (well-ordered) apabila tidak hanya dirancang untuk memajukan nilai yang-baik (the good) warganya, melainkan apabila dikendalikan secara efektif oleh konsepsi publik mengenai keadilan, yaitu:

(1)Setiap orang menerima dan tahu bahwa yang lain juga menerima prinsip keadilan yang sama, dan

(2)Institusi-institusi sosial dasar umumnya puas dan diketahui dipuaskan oleh prinsip-prinsip ini.20

John Rawls mengemas teorinya dalam konsep justice as fairness, bukan karena ia mengartikan keadilan sama dengan fairness, tapi karena dalam konsep keadilan tersebut terkandung gagasan bahwa prinsip-prinsip keadilan bagi struktur dasar masyarakat merupakan objek persetujuan asal dalam posisi simetris dan fair.

Dalam kesamaan posisi asal wakil-wakil mereka menetapkan syarat-syarat fundamental ikatan mereka, menetapkan bentuk kerja sama sosial yang akan mereka masuki, dan bentuk pemerintahan yang akan didirikan. Cara memandang prinsip-prinsip keadilan seperti itu disebut Rawls justice as fairness.

Berkaitan dengan teori keadilan yang dikemukakan oleh John Rawls tersebut di atas apabila dikaitkan dengan perjanjian pemborongan pekerjaan

20Novi Milfizar Kamil, Hukum dan Keadilan, Pustaka Bangsa, Press, Jakarta, 2007, hal.

49

(32)

timbunan tanah merah padat (common borrow material) antara PT Hutama Karya Infrastruktur dengan PT Alghazali Satria Perkasa maka perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut harus memuat klausul-klausul hak dan kewajiban para pihak yang benar-benar seimbang dan mencerminkan suatu keadilan bagi semua pihak yang terlibat di dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan tanah merah padat (common borrow material) tersebut.21

Bila dikaitkan dengan ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata maka jelas disebutkan bahwa syarat-syarat sahnya suatu perjanjian adalah adanya kesepakatan dari para pihak, cakap bertindak di dalam hukum, adanya objek yang diperjanjikan dan oleh karena sebab yang halal. Kesepakatan yang diperoleh dari para pihak dimungkinkan terjadi apabila dalam perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan tanah merah padat tersebut harus benar-benar mencerminkan suatu klausul yang memuat keseimbangan hak dan kewajiban dari para pihak yang terlibat dalam perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut.22

Apabila klausul di dalam perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut tidak seimbang dan tidak mencerminkan keadilan maka tidak akan tercapai suatu kesepakatan untuk melaksanakan perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut.

Oleh karena itu perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat oleh para pihak dengan menggunakan akta di bawah tangan harus memuat hak dan kewajiban para pihak yang benar-benar seimbang sesuai dengan apa yang telah diberikannya dalam perjanjian tersebut.23

21Rusmadi Hasan, Aneka Hukum Perjanjian Innominat, Media Ilmu, Surabaya, 2007, hal. 64

22 Salim HS, Perkembangan Hukum Perjanjian di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 26

23 Retno Suyanti, Asas Keseimbangan Dalam Hukum Perjanjian, Pratna Paramitha, Jakarta, 2009, hal. 32

(33)

Kewajiban para pihak dalam perjanjian pemborongan pekerjaan adalah mematuhi dan mentaati seluruh klausul yang termuat di dalam perjanjian tersebut.

Demikian pula halnya dengan hak dari para pihak dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut harus benar-benar terlaksana dengan baik sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut.

2. Konsepsi

Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut dengan "definisi operasional".24 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan beberapa konsep dasar, agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan yaitu:

1. Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana para pihak saling mengikatkan diri dan saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal yang mereka sepakati bersama.25

2. Perjanjian timbal balik adalah perjanjian antara dua belah pihak atau lebih yang menimbulkan hak dan kewajiban yang seimbang dan adil diantara kedua

24Bambang Sunggono, Methode Penelitian Hukum, Harvarindo, Jakarta, 2013, hal.59

25 Denny Hernoko, Hukum Perjanjian Dalam Teori dan Praktek, Rineka Cipta Jakarta, 2015, hal. 19

(34)

belah pihak atau lebih tersebut yang masing-masing harus mematuhi dan melaksanakan kewajibannya dengan baik dan benar.26

3. Perjanjian kerja adalah suatu pejanjian timbal balik antara pekerja dan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja hak dan kewajiban kedua belah pihak.

4. Perjanjian kerjasama bidang jasa adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu berhak menerima jasa dalam bidang tertentu dan pihak lain wajib memberikan jasa dalam bidang tertentu untuk melaksanakan pekerjaan di bidang jasa dengan ketentuan yang telah disepakati oleh para pihak yang memuat hak dan kewajiban antara peneri majasa dan pemberi jasa.

5. Perjanjian pemborongan pekerjaan adalah suatu pemborongan pekerjaan tertentu yang dilakukan oleh suatu perusahaan atas permintaan dari perusahaan lainnya yang dilakukan secara tertulis dimana pekerjaan tersebut harus selesai sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan di dalam perjanjian dan para pihak menerima haknya masing-masing setelah selesainya pekerjaan tersebut.27

6. Penimbunan tanah adalah suatu pekerjaan yang dilakukan oleh pihak pelaksana pekerjaan untuk melakukan penimbunan terhadap suatu jalan dengan panjang tertentu agar jalan tersebut lebih tinggi dari sebelum

26 Syahrul Arvian, Perikatan yang Bersumber dari Perjanjian dan Undang-Undang, Rajawali Press, Jakarta, 2013, hal. 23

27Zakaria Ahmad, Beberapa Perjanjian Kerja Timbal Balik Dalam Teori dan Praktek, pradnya Paramitha, Jakarta, 2012, hal. 59

(35)

dilaksanakannya penimbunan sehingga memudahkan untuk melaksanakan pekerjaan selanjutnya yaitu pelaksanaan pembangunan jalan tol.28

7. Pembangunan jalan tol adalah suatu pembangunan jalan aspal hotmix dimana jalan tersebut merupakan jalan khusus yang dilakukan kenderaan bermotor dua empat ke atas dan bebas dari hambatan lalu lintas secara umum.29

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Methode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Dengan demikian methode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian.

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasi, dimana pendekatan terhadap permasalahan dilakukan dengan melakukan observasi pelaksanaan perjanjian pemborongan pekerjaan penimunan tanah untuk kepentingan pembangunan jalan jol di Kecamatan Helvetia Medan dan menghubungkannya dengan ketentuan hukum perjanjian pemborongan pekerjaan yang telah disepakati kedua belah pihak serta ketentuan hukum yang berlaku di bidang hukum perjanjian yaitu di dalam Buku Ketiga KUH Perdata tentang perjanjian khususnya Pasal 1601b s.d Pasal 1616 KUH Perdata tentang perjanjian pemborongan pekerjaan.

28Safrianto Gunadi, Perjanjian Bernama dan Tidak Bernama, Refika Adhitama, Jakarta, 2014, hal. 49

29 Sudarmanto, Beberapa Catatan Tentang Perjanjian Timbal Balik Dalam Teori dan Praktek, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2012, hal. 62

(36)

Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis, maksudnya adalah dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dilakukan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh dan akan dilakukan secara cermat bagaimana menjawab permasalahan dalam menyimpulkan suatu solusi sebagai jawaban dari permasalahan tersebut.30

2. Sumber Data

Data penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan bahan-bahan hukum primer, sekunder maupun tertier yang dikumpulkan melalui studi dokumen dan kepustakaan yang terdiri dari:

a. Bahan hukum primer yang berupa norma/peraturan dasar dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan. Dalam penelitian ini bahan hukum primer adalah KUH Perdata dan perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan merah padat (common borrow material) No.

HKI/JP.1012B/SPP.BINJAI/ VIII/2017.

b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang berupa buku, hasil-hasil penelitian dan atau karya ilmiah tentang hukum jaminan perjanjian pada umumnya dan hukum perjanjian pemborongan pekerjaan pada khususnya.

c. Bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus umum, kamus hukum, ensiklopedia dan lain sebagainya.

30Mukti Fajar ND, Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2017, hal.153

(37)

3. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

Teknik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Alat pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen untuk memperoleh data sekunder, dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi dan menganalisa data primer yakni peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hukum perjanjian pada umumnya dan perjanjian pemborongan pekerjaan pada khususnya yang termuat dalam KUH Perdata dan ketentuan-ketentuan lainnya yang mengatur tentang hukum perjanjian serta perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan merah padat (common borrow material) No.

HKI/JP.1012B/SPP.BINJAI/ VIII/2017.

4. Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.31 Di dalam penelitian hukum normatif, maka maksud pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan- bahan hukum tertulis, sistematisasi yang berarti membuat klasifikasi terhadap bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.32 Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan

31 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Banyu Media Malang, 2005, hal 81

32Raimon Hartadi, Methode Penelitian Hukum Dalam Teori Dan Praktek, Bumi Intitama Sejahtera, Jakarta, 2010, hal.16

(38)

dan evaluasi terhadap semua data yang dikumpulkan. Setelah itu keseluruhan data tersebut akan dianalisis dan disistematisasikan secara kualitatif.

Metode kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari suatu penelitian, yang dilakukan dengan cara menjelaskan dengan kalimat sendiri dari data yang ada, baik primer, sekunder maupun tertier, sehingga menghasilkan kualifikasi yang sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, untuk memperoleh jawaban yang benar mengenai permasalahan perjanjian pemborongan pekerjaan timbunan tanah merah yang telah disepakati dan ditangani oleh pihak yang memborongkan pekerjaan yaitu PT Hutama Karya Infrastruktur dengan PT Alghazali Satria Perkasa sebagai pihak yang menerima borongan pekerjaan tersebut, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat dengan metode deduktif, yaitu melakukan penarikan kesimpulan, diawali dari hal-hal yang bersifat umum untuk kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, sebagai jawaban yang benar dalam pembahasan permasalahan yang terdapat pada penelitian ini.

(39)

BAB II

PENGATURAN HUKUM PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN SESUAI KETENTUAN HUKUM YANG BERLAKU DI INDONESIA A. Tinjauan Umum tentang Perjanjian

Perjanjian diatur dalam Buku III KUH Perdata yang merupakan bagian dari KUH Perdata yang terdiri dari empat (IV) Buku. Buku I mengenai Hukum Perorangan, Buku II mengenai Hukum Kebendaan, Buku III tentang Hukum Perikatan dan Buku IV mengatur tentang Pembuktian dan Daluwarsa.

Menurut Buku III KUH Perdata, hukum perikatan terbagi atas dua bagian, yaitu:

1. Bagian Umum, yang tercantum dalam bab I-IV memuat tentang azas- azas umum yang mengatur perjanjian, seperti sumber-sumber perikatan, macam-macam perikatan, lahir dan hapusnya perikatan, serta syarat sahnya perjanjian;

2. Bagian Khusus, yang tercantum dalam bab V-XVIII memuat tentang aturan-aturan yang mengatur perjanjian-perjanjian khusus, yaitu perjanjian yang telah dikenal pada saat KUH Perdata dibuat, seperti perjanjian jual-beli, perjanjian sewa-menyewa, perjanjian perburuhan dan sebagainya.

Terdapat hubungan yang erat antara ketentuan umum dengan ketentuan khusus di dalam KUH Perdata. Ketentuan umum dalam KUH Perdata berlaku bagi setiap perjanjian khusus seperti termuat dalam KUH Perdata maupun perjanjian-perjanjian khusus yang pengaturannya berdasarkan kesepakatan antara para pihak yang tidak diatur dalam KUH Perdata. Maka lahir dan

(40)

hapusnya perikatan, syarat sahnya perjanjian dan ketentuan lain yang diatur dalam ketentuan umum KUH Perdata berlaku bagi setiap perjanjian yang dibuat dan disepakati oleh para pihak.33

Perumusan mengenai definisi perjanjian diatur di dalam Pasal 1313 KUH Perdata yang menyebutkan: “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”

Suatu perjanjian sebagai suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari peristiwa ini, timbullah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Suatu perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Pihak yang berhak menuntut sesuatu dinamakan kreditur atau si berpiutang, sedangkan pihak yang berkewajiban memenuhi tuntutan dinamakan debitur atau si berutang.

Perhubungan antara dua pihak tersebut adalah suatu perhubungan hukum, yang berarti bahwa hak si berpiutang itu dijamin oleh hukum atau undang- undang. Apabila tuntutan itu tidak dipenuhi secara sukarela, si berpiutang dapat menuntutnya di depan hakim.34

33Sri Soesilowati, Hukum Perdata (Suatu Pengantar), cet. 1, Gitama Jaya, Jakarta, 2005, hal 136.

34R. Subekti, Hukum Perjanjian, cet. 19, Intermasa, Jakarta, 2002, hal. 1.

(41)

Hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah perjanjian menerbitkan perikatan. Perjanjian adalah sumber perikatan, di sampingnya sumber-sumber lain. Sumber-sumber lain ini tercakup dengan nama undang- undang. Jadi, ada perikatan yang lahir dari perjanjian dan ada perikatan yang lahir dari undang-undang. Sumber-sumber perikatan yang tercakup dalam undang-undang diperinci lagi, yang dibedakan antara undang-undang saja dengan undang-undang yang berhubungan dengan perbuatan orang. Sumber perikatan dari undang-undang yang berhubungan dengan perbuatan manusia diperinci lagi, yakni dibedakan antara perbuatan yang halal dan perbuatan melanggar hukum. Perjanjian juga dinamakan persetujuan (overeenkomst), karena kedua belah pihak setuju untuk melakukan sesuatu hal. Maka kedua kata yakni perjanjian dan persetujuan mempunyai pengertian yang sama.

Dapat disimpulkan perbedaan antara perikatan dan perjanjian, yaitu bahwa perikatan adalah suatu pengertian abstrak, sedangkan perjanjian adalah suatu hal yang kongkrit atau suatu peristiwa. Apabila terdapat dua orang yang mengadakan suatu perjanjian, maka mereka bermaksud agar di antara mereka berlaku suatu perikatan hukum. Mereka itu terikat satu sama lain karena janji yang telah mereka berikan.

Suatu perikatan merupakan suatu hubungan hukum antara dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban memenuhi tuntutan itu. Apabila di masing-masing pihak hanya ada satu orang, sedangkan sesuatu yang dapat dituntut hanya berupa satu hal, dan penuntutan ini dapat dilakukan seketika,

(42)

maka perikatan ini merupakan bentuk yang paling sederhana. Perikatan dalam bentuk yang paling sederhana ini dinamakan perikatan bersahaja atau perikatan murni.

Selain bentuk tersebut, Hukum Perdata mengenal berbagai macam perikatan lainnya, yaitu35:

1. Perikatan Bersyarat

Perikatan Bersyarat adalah perikatan yang digantungkan pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan masih belum tentu terjadi.

Perikatan ini terbagi atas:

a) Perikatan dengan syarat tangguh, yaitu perikatan yang lahir hanya apabila peristiwa yang dimaksud itu terjadi dan perikatan lahir pada detik terjadinya peristiwa itu;

b)Perikatan dengan syarat batal, yaitu perikatan yang sudah lahir itu, justru berakhir atau dibatalkan apabila peristiwa yang dimaksud itu terjadi.

2. Perikatan dengan Ketetapan Waktu

Perikatan dengan ketetapan waktu adalah perikatan yang menangguhkan pelaksanaan ataupun menentukan lama berlakunya suatu perjanjian atau perikatan.

3. Perikatan Mana Suka (Alternatif), yaitu suatu perikatan diamana si berutang dibebaskan jika ia menyerahkan salah satu dari dua barang yang disebutkan dalam perjanjian, tetapi ia tidak boleh memaksa si berpiutang

35 Lukman Rafli Achmad, Perjanjian Nominat dan Innominaat dalam KUH Perdata, Mitra Ilmu Surabaya, 2011, hal. 95

(43)

untuk menerima sebagian dari barang barang yang satu dan sebagian barang yang lainnya.

4. Perikatan Tanggung-menanggung atau Solider, yaitu perikatan yang salah satu pihaknya terdapat beberapa orang. Dalam hal beberapa orang terdapat di pihak debitur, maka tiap-tiap debitur itu dapat dituntut untuk memenuhi seluruh utang. Dalam hal beberapa terdapat di pihak kreditur, maka tiap-tiap kreditur berhak menuntut pembayaran seluruh utang.

5. Perikatan yang dapat Dibagi dan yang Tak Dapat Dibagi. Dapat dibagi atau tidaknya suatu perikatan tergantung dari jenis barang dan maksud atau isi perjanjian. Ukuran dapat atau tidak dapat dibaginya yaitu dalam hal prestasinya, dengan syarat pembagian tersebut tidak boleh mengurangi hakekat prestasi itu.

6. Perikatan dengan Ancaman Hukuman, yaitu suatu perikatan di mana ditentukan bahwa si debitur, untuk jaminan pelaksanaan perikatannya, diwajibkan melakukan sesuatu apabila perikatannya tidak dipenuhi.

Dalam hukum perjanjian terdapat beberapa asas atau prinsip yang harus diperhatikan bagi para pihak. Hal ini penting untuk menjadi pegangan dalam proses dan pelaksanaan perjanjian serta jika terdapat permasalahan hukum yang berkaitan dengan proses dan pelaksanaan perjanjian tersebut.

Hukum Perjanjian menganut sistem terbuka, yang berarti memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. Sistem terbuka mengandung suatu asas kebebasan membuat

(44)

perjanjian. Hal tersebut dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yakni “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Dengan menekankan pada perkataan ‘semua’, maka pasal tersebut seolah-olah berisikan suatu pernyataan kepada masyarakat bahwa kita diperbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan berisi apa saja (atau tentang apa saja). Dimana perjanjian itu akan mengikat mereka yang membuatnya seperti suatu undang-undang, jika perjanjian tersebut telah memenuhi syarat sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 KUH Perdata.36

Dalam Hukum Perjanjian berlaku juga suatu asas, yaitu asas konsesualisme. Kata konsesualisme berasal dari perkataan latin, consensus yang berarti sepakat. Arti asas konsesualisme adalah bahwa pada dasarnya perjanjian dan perikatan yang timbul karena itu sudah dilahirkan sejak detik tercapainya kesepakatan. Perjanjian itu sudah sah apabila sudah sepakat mengenai hal-hal yang pokok dan tidaklah diperlukan sesuatu formalitas.

Di dalam Pasal 1320 KUH Perdata, para pembuat Undang-undang memberikan patokan umum tentang bagaimana suatu perjanjian itu lahir.

Pasal tersebut juga menyatakan mengenai perbuatan-perbuatan apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh para pihak supaya perjanjian yang mereka lakukan dapat secara sah melahirkan hak-hak dan kewajiban- kewajiban bagi mereka atau pihak ketiga.

36 Hartono Hadisoeprapto, Seri Hukum Perdata Pokok-Pokok Hukum Perikatan dan Hukum Jaminan, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 2013, hal. 26

(45)

Syarat-syarat bagi sahnya suatu perjanjian meliputi subyeknya maupun obyeknya. Ada empat syarat untuk sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu:

a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya37;

Bahwa para pihak yang mengadakan perjanjian tersebut harus bersepakat, menyetujui hal-hal pokok atau segala sesuatu yang diperjanjikan. Para pihak dalam perjanjian menghendaki atas sesuatu yang sama secara timbal balik.

Kata sepakat ini harus diberikan secara bebas, artinya tidak ada pengaruh dari pihak ketiga dan tidak ada gangguan berupa:

1. Paksaan, yaitu paksaan rohani atau paksaan jiwa, bukan paksaan fisik.

Misalnya salah satu pihak karena diancam atau ditakuti terpaksa menyetujui suatu perjanjian;

2. Kekhilafan, yang terjadi apabila salah satu pihak khilaf tentang hal- hal pokok dari apa yang diperjanjikan atau tentang barang yang menjadi obyek perjanjian.

3. Penipuan, yang dapat terjadi apabila salah satu pihak dengan sengaja memberikan keterangan palsu disertai dengan tipu muslihat untuk membujuk pihak lainnya agar menyetujui suatu perjanjian. Misalnya menjual mobil bekas yang telah dipoles sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan seolah-olah mobil tersebut baru dengan mengatakan kepada pembeli bahwa mobil itu baru.

37 Subandio Muchtar, Perjanjian Kredit Perbankan Suatu Tinjauan Yuridis, Eresco, Bandung, 2009, hal. 18

(46)

b. Cakap untuk membuat suatu perjanjian;

Cakap disini menurut hukum, seseorang yang mempunyai wewenang untuk membuat perjanjian atau untuk melakukan perbuatan hukum, baik untuk kepentingan diri sendiri atau pihak lain yang diwakili misalnya mewakili badan hukum. Pada azasnya setiap orang yang telah dewasa dan sehat pikirannya adalah cakap menurut hukum. Pasal 1330 KUH Perdata menentukan orang-orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian, yaitu38:

1. Orang-orang yang belum dewasa;

2. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;

3. Orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang- undang serta semua orang yang dilarang oleh Undang-undang untuk membuat suatu perjanjian tertentu (yaitu wanita bersuami). Namun ketentuan ini dinyatakan sudah tidak berlaku lagi dengan adanya ketentuan Pasal 31 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 1963, yang menyatakan bahwa istri adalah cakap untuk melakukan perbuatan hukum, termasuk membuat perjanjian.

c. Mengenai suatu hal tertentu;

Hal tertentu yang dimaksud adalah bahwa obyek atau prestasi yang diperjanjikan harus jelas, dapat dihitung, dan dapat ditentukan jenisnya.

38J.Z. Loudou, et.al, Ajaran Umum Perikatan dan Persetujuan Menurut Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, Kasnendra Suminar, 2009, hal. 67

(47)

Misalnya dalam sebuah perjanjian jual beli, harus ditentukan mengenai harga dan jenis barang yang akan diperjualbelikan.

d. Suatu sebab yang halal.

Sebab (oorzaak atau causa) adalah isi dari perjanjian. Berarti isi dari perjanjian itu harus halal, tidak bertentangan dengan undang-undang, norma kesusilaan atau ketertiban umum. Pengertian tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang di sini adalah Undang-undang yang bersifat melindungi kepentingan umum, sehingga jika dilanggar dapat membahayakan kepentingan umum. Menurut Pasal 1335 KUH Perdata suatu perjanjian tanpa suatu sebab atau dibuat dengan sebab palsu atau terlarang, maka tidak mempunyai kekuatan hukum. Suatu sebab yang palsu terdapat jika suatu perjanjian dibuat dengan pura-pura yang bertujuan untuk menyembunyikan sebab yang sebenarnya, yang tidak diperbolehkan.

Kedua syarat pertama tersebut, dinamakan dengan syarat-syarat subyektif, karena mengenai orang-orangnya atau subyek yang mengadakan perjanjian. Sedangkan dua syarat yang terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif karena mengenai perjanjiannya sendiri atau obyek dari perjanjian tersebut.

Apabila syarat subyektif dilanggar baik salah satu atau keduanya mengakibatkan perjanjian dapat dibatalkan (voidable). Adanya kekurangan terhadap syarat subyektif tersebut tidak begitu saja diketahui oleh hakim, jadi harus diajukan oleh pihak yang berkepentingan, dan apabila diajukan

(48)

kepada hakim, mungkin sekali disangkal oleh pihak lawan, sehingga memerlukan pembuktian. Oleh karena itu, undang-undang menyerahkan kepada para pihak, apakah mereka menghendaki pembatalan terhadap perjanjian tersebut atau tidak. Akan tetapi selama para pihak tidak keberatan atas pelanggaran kedua syarat subyektif tersebut, maka perjanjian itu tetap sah.

Apabila syarat obyektif dilanggar maka perjanjian tersebut tidak memiliki kekuatan hukum sejak semula dan tidak mengikat para pihak yang membuat perjanjian atau disebut dengan batal demi hukum (null and void).

Secara yuridis, dianggap dari semula tidak ada suatu perjanjian dan tidak ada pula suatu perikatan antara orang-orang yang bermaksud membuat perjanjian itu. Akibat dari batal demi hukum, maka para pihak tidak dapat mengajukan tuntutan melalui pengadilan untuk melaksanakan perjanjian atau meminta ganti rugi, karena dasar hukumnya tidak ada.

Sumber perikatan adalah perjanjian, maka perjanjian melahirkan perikatan. Perikatan yang sah harus dilaksanakan oleh para pihak yang mengadakan perikatan, Apabila salah satu pihak mengingkari maka pihak lainnya berhak untuk menuntut realisasi atas prestasi dari perjanjian tersebut.

Permasalahan yang terdapat dalam pelaksanaan perjanjian adalah apabila debitur tidak memenuhi janjinya kepada kreditur. Apabila kreditur diberikan kuasa oleh hakim untuk mewujudkan sendiri apa yang menjadi haknya

(49)

menurut perjanjian, maka dapat dikatakan perjanjian tersebut dapat dieksekusi secara riil.39

a) Perikatan untuk berbuat sesuatu

Bentuk dari prestasi ini misalnya membuat gedung, membuat lukisan, perjanjian perburuhan, dan sebagainya. Dalam perjanjian ini eksekusi riil dapat dilaksanakan. Dalam Pasal 1241 KUH Perdata menyatakan bahwa jika si debitur tidak menepati janjinya maka terhadap si kreditur dapat boleh dikuasakan supaya ia sendirian yang mengusahakan pelaksanaannya atas biaya si debitur. Namun apabila perjanjian itu sifatnya sangat pribadi dimana harus orang tertentu yang melaksanakannya, maka perjanjian itu tidak dapat dieksekusi secara riil. Misalnya perjanjian untuk membuat lukisan, dimana harus pelukis yang telah dijanjikan dalam perjanjian tersebut yang dapat melaksanakan prestasi tersebut.

b) Perikatan untuk menyerahkan sesuatu

Salah satu contoh perjanjian ini adalah perjanjian untuk tidak mendirikan tembok. Dalam perjanjian ini eksekusi riil mungkin dilakukan.

Pasal 1240 KUH Perdata menyatakan bahwa si kreditur berhak menuntut penghapusan segala sesuatu yang telah dibuat berlawanan dengan perjanjian dan bolehlah ia meminta supaya dikuasakan oleh hakim untuk menyuruh menghapus segala sesuatu yang telah dibuat tadi atas biaya si debitur dengan tidak mengurangi haknya untuk menuntut ganti rugi. Pada perjanjian ini dapat

39Heri Darmono, Asas-asas Hukum Perjanjian, Pustaka Ilmu, Jakarta, 2012, hal. 69

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi dan hak konstitusional bagi setiap

Pejabat Pengadaan pada Dinas Prasarana Wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun Anggaran 2014,. dengan berdasarkan Evaluasi dan Berita Acara Hasil Pengadaan Langsung (BAHPL)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar IPA Biologi siswa kelas VII pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor ditinjau dari penerapan Model

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kinerja keuangan pemerintah Kota Tarakan berdasarkan kemandirian dan efektivitas keuangan daerah tahun 2010 sampai 2015

Hasil uji One way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan bermakna diameter zona hambat pelapik GIC yang ditambahkan CPC dengan tanpa penambahan CPC terhadap pertumbuhan

Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu partai politik untuk

Daya dukung aksial terkecil, P = 514.29 kN Diambil daya dukung aksial tiang pancang, P ijin = 510.00 kN. Berdasarkan hasil uji SPT (Meyerhoff) Berdasarkan hasil uji sondir

Terlebih dahulu saya mengucapkan terima kasih di atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan kata-kata aluan di dalam “Buku Panduan Pengikraran Berkualiti Borang Kastam”