• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

LANDASAN TEORI

Efektivitas 2.1.1 Pengertian

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program. Dikatakan efektif apabila tujuan ataupun sasaran tercapai sesuai dengan yang telah ditentukan. Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan (Mahmudi, 2005). Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya (Kurniawan, 2005). Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya (Rizky, 2011).

2.1.2 Ukuran Efektivitas

Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan efektif atau tidak (Siagian, 2008) ialah:

(2)

9

a. Kejelasan tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksudkan supaya karyawan dalam pelaksanaan tugas mencapai sasaran yang terarah dan tujuan organisasi dapat tercapai.

b. Kejelasan strategi pencapaian tujuan, telah diketahui bahwa strategi adalah “pada jalan” yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan agar para implementer tidak tersesat dalam pencapaian tujuan organisasi.

c. Proses analisis dan perumusan kebijakan yang mantap, berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dan strategi yang telah ditetapkan, artinya kebijakan harus mampu menjembatani tujuan-tujuan dengan usaha-usaha pelaksanaan kegiatan operasional.

d. Perencanaan yang matang, pada hakekatnya berarti memutuskan sekarang apa yang dikerjakan oleh oerganisasi dimasa depan.

e. Penyusunan program yang tepat. Suatu rencana yang baik masih perlu dijabarkan dalam program-program pelaksanaan yang tepat sebab apabila tidak, para pelaksana akan kurang memiliki pedoman bertindak dan bekerja.

f. Tersedianya sarana dan prasarana kerja. Salah satu indikator efektivitas organisasi adalah kemampuan bekerja secara produktif.

Dengan sarana dan prasarana yang tersedia dan mungkin disediakan oleh organisasi.

g. Pelaksanaan yang efektif dan efisien. Bagaimanapun baiknya suatu program apabila tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien maka

(3)

10

organisasi tersebut tidak akan mencapai sasarannya, karena dengan pelaksanaan organisasi semakin didekatkan pada tujuannya.

h. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik, mengingat sifat manusia yang tidak sempurna, maka efektivitas organisasi menuntut terdapatnya sistem pengawasan dan pengendalian.

Ada 5 (lima) kriteria dalam pengukuran efektivitas (Tangkilisan, 2005), yaitu:

a.Produktivitas

b. Kemampuan adaptasi kerja c. Kepuasan kerja

d. Kemampuan berlaba e. Pencarian sumber daya

Selain itu, ada pula tiga pendekatan yang juga dapat digunakan sebagai kriteria untuk mengukur efektivitas suatu organisasi (Lubis &

Martani, 2007):

a. Pendekatan Sumber (resource approach) yakni mengukur efektivitas dari input. Pendekatan mengutamakan adanya keberhasilan organisasi untuk memperoleh sumber daya, baik fisik maupun nonfisik yang sesuai dengan kebutuhan

organisasi.

b. Pendekatan Proses (process approach) adalah untuk melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau mekanisme organisasi.

(4)

11

c. Pendekatan Sasaran (goals approach) dimana pusat perhatian pada output, mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang sesuai dengan rencana.

Ukuran efektivitas adalah sebagai berikut (Steers, 2005):

a. Pencapaian tujuan

Pencapaian adalah keseluruhan upaya pencapaian tujuan harus dipandang sebagai suatu proses. Oleh karena itu, agar pencapaian tujuan akhir semakin terjamin, diperlukan pentahapan, baik dalam arti pentahapan pencapaian bagianbagiannya, maupun pentahapan dalam arti periodisasinya. Pencapaian tujuan terdiri dari beberapa faktor, yaitu:

Kurun waktu dan sasaran yang merupakan target kongkrit.

b. Integrasi

Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan suatu organisasi untuk mengadakan sosialisasi, pengembangan konsensus dan komunikasi dengan berbagai macam organisasi lainnya. Integrasi menyangkut proses sosialisasi.

c.Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Untuk itu digunakan tolak ukur proses pengadaan dan pengisian tenaga kerja.

Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera (Jalin Matra) 2.2.1 Pengertian

(5)

12

Jalin Matra (jalan lain menuju mandiri dan sejahtera) ialah suatu program bantuan keuangan dari pemerintah untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian rumah tangga sangat miskin (Soekarwo, 2016).

2.2.2 Maksud dan Tujuan

Jalin Matra Bantuan RTSM Tahun 2016 dimaksudkan sebagai salah satu bagian dari upaya penanggulangan kemiskinan di Jawa Timur. Tujuan Jalin Matra Bantuan RTSM Tahun 2016, yaitu (Soekarwo, 2016):

1. Membantu meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi Rumah Tangga Sangat Miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup 2. Meningkatkan motivasi usaha (need for achievement) Rumah Tangga

Sangat Miskin

3. Memperluas akses Rumah Tangga Sangat Miskin terhadap usaha produktif

2.2.3 Sasaran

Rumah tangga Sasaran (target group) Jalin Matra Bantuan RTSM adalah rumah tangga yang status kesejahteraan 5% terendah sebagaimana klasifikasi yang telah ditetapkan oleh TNP2K yang bersumber dari Basis Data Terpadu PPLS 11, dan termuat dalam dokumen data by name & by address untuk masing-masing Kabupaten, Kecamatan dan Desa (Soekarwo, 2016).

Kriteria Rumah Tangga Sasaran Program Jalin Matra Bantuan RTSM Tahun 2016 sebagai berikut (Soekarwo, 2016):

(6)

13

1. Rumah Tangga dalam kelompok Desil 1 dengan status kesejahteraan 5% terendah

2. Anggota rumah tangga (ART) minimal 2 orang (Kepala Rumah Tangga termasuk ART)

3. RTSM tersebut dalam 1 Desa minimal 10 RTSM.

2.2.4 Lokasi Sasaran

Lokasi sasaran dilakukannya Jalin Matra (Soekarwo, 2016) ialah:

1. Lokasi Program Jalin Matra Bantuan RTSM diprioritaskan pada desa yang belum pernah memperoleh Program Jalin Kesra Bantuan RTSM.

2. Lokasi Jalin Matra Bantuan RTSM Tahun 2016 ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan mempertimbangkan usulan dari Pemerintah Kabupaten.

3. Rencana target lokasi sampai dengan tahun 2018 sejumlah 398 Desa pada 137 Kecamatan di 28 Kabupaten.

4. Pada tahun 2016 lokasi sasaran tersebar di 67 Desa pada 35 Kecamatan di 20 Kabupaten.

2.2.5 Prinsip Pelaksanaan

Beberapa prinsip pelaksanaan Jalin Matra (Soekarwo, 2016)ialah:

1. Kepedulian Sosial

Jalin Matra Bantuan RTSM pada hakikatnya merupakan implementasi terhadap kewajiban negara untuk menghormati, melindungi, dan

(7)

14

memenuh hak-hak dasar warga miskin agar memiliki daya tahan hidup.

Sehingga negara berkewajiban mendorong Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota, Pemerintah Desa dan masyarakatnya melakukan kepedulian sosial. Jalin Matra Bantuan RTSM dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian sosial.

2. Partisipatoris

Kegiatan Jalin Matra Bantuan RTSM dilaksanakan dengan membuka ruang publik, partisipasi aktif Pemerintah Desa dan lembaga kemasyarakatan, serta masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan dalam RembugWarga/Udhar Gelung.

3. Transparan dan Akuntabel

Pelaksanaan Program Jalin Matra Bantuan RTSM secara terbuka dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat setempat maupun publik yang berkepentingan sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan pengawasan publik dengan membuka akses bagi publik memberikan kritik konstruktif dan atau masukan perbaikan pelaksanaan program.

4. Keterpaduan

Pelaksanaan Jalin Matra Bantuan RTSM melibatkan berbagai unsur sesuai kompetensi yang dimiliki, yakni Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perguruan Tinggi, tenaga pendamping, swasta dan masyarakat, yang memiliki kepedulian terhadap orang miskin serta bekerja secara sinergis dan terpadu.

(8)

15 5. Keberlanjutan (Sustainability)

Jalin Matra Bantuan RTSM pada dasarnya merupakan stimulan bagi bertumbuhnya dan berkembangnya kondisi ekonomi dan sosial RTSM.

Selanjutnya pemerintah Desa berkewajiban dalam membina RTSM untuk mengembangkan bantuan yang telah diterima secara berkelanjutan.

2.2.6 Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan Jalin Matra Bantuan RTSM (Soekarwo, 2016) antara lain:

1. Bantuan Keuangan Khusus

Bantuan Keuangan Khusus adalah Bantuan Keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Desa. Bantuan keuangan khusus ke Pemerintah Kabupaten digunakan untuk operasional sekretariat Jalin Matra Kabupaten. Bantuan Keuangan Khusus ke Pemerintah Desa dipergunakan untuk Bantuan Operasional dan Bantuan bagi RTSM sasaran Jalin Matra Bantuan RTSM.

2. Verifikasi dan Klarifikasi Data RTSM di lokasi sasaran

Verifikasi merupakan kegiatan pencermatan data PPLS 2011 terhadap kesesuaian kondisi riil RTSM di desa sasaran yang dilakukan dengan menggunakan metode Rembug Warga (Partisipatoris Deliberatif).

Klarifikasi adalah pengecekan fisik kondisi RTSM hasil verifikasi dengan menggunakan metode observasi langsung untuk mendapatkan data RTSM sasaran yang akurat dan valid.

(9)

16 3. Identifikasi Kebutuhan RTSM

Identifikasi usulan kebutuhan dilakukan dengan dialog keluarga (rembugkeluarga) RTSM sasaran mengenai jenis kebutuhan RTSM yang memungkinkan untuk dikembangkan dalam upaya meningkatkan taraf hidup sesuai karakteristik sosial ekonomi, dan wilayah geografis rumah tangga sasaran. Jenis usulan kebutuhan RTSM diupayakan mendukung aktivitas sehari-hari yang telah dijalani kepala rumah tangga dan atau anggota rumah tangga produktif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jenis usulan kebutuhan RTSM ini merupakan acuan bagi RTSM untuk memanfaatkan bantuan dana yang telah diterimanya.

4. Bantuan RTSM

Bantuan dalam bentuk uang bagi Rumah Tangga Sasaran dari Pemerintah Desa yang dimanfaatkan untuk mengembangkan dan atau membuka usaha, baik sebagai sumber alternatif pendapatan maupun sebagian hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari berdasarkan hasil identifikasi usulan kebutuhan RTSM.

5. Peningkatan Kapasitas Pengelola Program Tingkat Kabupaten dan Desa Peningkatan kapasitas merupakan upaya peningkatan pemahaman dan peningkatan kemampuan terhadap substansi dan langkah-langkah kerja pogram melalui sosialisasi dan bimbingan teknis kepada Pengelola Program di setiap tingkatan.

6. Pendampingan

(10)

17

Pendampingan dilaksanakan untuk memfasilitasi pelaksanaan Jalin Matra Bantuan RTSM agar sesuai dengan Pedoman Umum dan Petunjuk Teknis Operasional. Pendampingan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat

Provinsi, Kabupaten dan Desa

2.2.7 Penganggaran

Beberapa sumber angaran Jalin Matra (Soekarwo, 2016) diantaranya ialah:

1. Anggaran Jalin Matra Bantuan RTSM bersumber dari APBD Provinsi Jawa Timur melalui Bantuan Keuangan Khusus kepada Pemerintah Desa dan Pemerintah Kabupaten

2. Bantuan Keuangan Khusus kepada Pemerintah Desa dihitung berdasarkan jumlah RTSM dikalikan Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah), ditambah Biaya Operasional tingkat Desa dan Honor Pendamping Desa

3. Bantuan kepada RTSM melalui Pemerintah Desa dapat digunakan untuk kegiatan usaha ekonomi produktif sesuai dengan hasil identifikasi kebutuhan RTSM, yang pemanfaatannya adalah untuk:

modal investasi dalam bentuk sarana prasarana, modal usaha dan untuk kegiatan usaha pendukung

4. Bantuan Keuangan Khusus kepada Pemerintah Kabupaten yang dipergunakan untuk:

a. Honorarium bagi Tim Sekretariat Kabupaten (termasuk honorarium Tim Fasilitasi Kecamatan) maksimal sebesar 30%

(11)

18

b. Biaya Operasional Sekretariat Kabupaten/Kota minimal sebesar 70% dipergunakan antara lain untuk: sosialisasi, pembinaan, ATK, rapat koordinasi, pelaporan, monitoring evaluasi dan tidak diperkenankan untuk belanja modal.

5. Bantuan Operasional di Tingkat Desa dipergunakan untuk:

Biaya operasional pelaksanaan kegiatan berupa: (i) honorarium Pengelola Kegiatan Tingkat Desa yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, Bendahara Desa, Ketua Sekretariat Desa dan Ketua BPD; (ii) biaya kegiatan Jalin Matra di tingkat Desa antara lain sosialisasi dan rembug warga, verifikasi dan klarifikasi, identifikasi kebutuhan, rembug persiapan pemanfaatan bantuan, pemanfaatan dana Bantuan RTSM, pembelian ATK, Pembukaan Rekening. Besarnya biaya operasional disesuaikan dengan klasifikasi jumlah RTSM yang telah ditentukan.

6. Honorarium Pendamping Desa sebesar 5%dari total jumlah Bantuan RTSM di desa lokasi sasaran. Jumlah Pendamping Desa disesuaikan dengan kebutuhan dengan pertimbangan jumlah RTSM dan sebarannya dimasing-masing desa sasaran.

7. Pemerintah Kabupaten dapat mengalokasikan dana pendukung yang dipergunakan untuk mendukung pelaksanaan Jalin Matra RTSM serta pelestarian dan pendampingan pasca program.

8. Pemerintah Kabupaten dapat mengalokasikan anggaran dalam rangka kegiatan Jalin Matra Bantuan RTSM Pola mandiri (Matching

(12)

19

Grant) untuk menangani RTSM yang tidak menjadi sasaran Bantuan RTSM dari anggaran Pemerintah

Provinsi Jawa Timur. RTSM Pola Mandiri Kabupaten dapat mengadopsi Pedoman Umum RTSM Provinsi, disesuaikan kemampuan sumberdaya dan kearifan lokal masing-masing daerah.

9. Pemerintah Desa memberikan dukungan dalam bentuk menyediakan tempat dan perlengkapan untuk Sekretariat Desa serta melanjutkan pembinaan/pemantauan pasca program dengan melibatkan KPM.

2.2.8 Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dapat dilihat melalui hasil pelaksanaan Jalin Matra Bantuan RTSM (Soekarwo, 2016) adalah:

1. Diterimanya bantuan oleh RTSM sesuai dengan Data PPLS 2011 setelah dilakukan Verifikasi dan Klarifikasi

2. Diterimanya bantuan oleh RTSM sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan

3. Dimanfaatkannya bantuan sesuai dengan hasil identifikasi kebutuhan.

(13)

20 Produktivitas

2.3.1 Pengertian

Pengertian produktivitas sangat berbeda dengan produksi. Tetapi produksi merupakan salah satu komponen dari usaha produktivitas, selain kualitas dan hasil keluarannya. Produksi adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan hasil keluaran dan umumnya dinyatakan dengan volume produksi, sedangkan produktivitas berhubungan dengan efisiensi penggunaan sumber daya (masukan dalam menghasilkan tingkat perbandingan antara keluaran dan masukan).

Peningkatan produktivitas dan efisiensi merupakan sumber pertumbuhan utama untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Sebaliknya, pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan juga merupakan unsur penting dalam menjaga kesinambungan peningkatan produktivitas jangka panjang. Dengan jumlah tenaga kerja dan modal yang sama, pertumbuhan output akan meningkat lebih cepat apabila kualitas dari kedua sumber daya tersebut meningkat. Walaupun secara teoritis faktor produksi dapat dirinci, pengukuran kontribusinya terhadap output dari suatu proses produksi sering dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Disamping itu, kedudukan manusia, baik sebagai tenaga kerja kasar maupun sebagai manajer, dari suatu aktivitas produksi tentunya juga tidak sama dengan mesin atau alat produksi lainnya. Seperti diketahui bahwa output dari setiap aktivitas ekonomi tergantung pada manusia yang melaksanakan aktivitas tersebut, maka sumber daya manusia merupakan sumber daya utama dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan. Sejalan dengan

(14)

21

fenomena ini, konsep produktivitas yang dimaksud adalah produktivitas tenaga kerja. Tentu saja, produktivitas tenaga kerja ini dipengaruhi, dikondisikan atau bahkan ditentukan oleh ketersediaan faktor produksi komplementernya seperti alat dan mesin. Namun demikian konsep produktivitas adalah mengacu pada konsep produktivitas sumber daya manusia. Secara umum konsep produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) persatuan waktu (Ravianto, 2005).

2.3.2 Arti Penting Produktivitas

Pentingnya arti produktivitas dalam meningkatkan kesejahteraan telah disadari secara universal, tidak ada jenis kegiatan manusia yang tidak mendapatkan keuntungan dari produktivitas yang ditingkatkan sebagai kekuatan untuk menghasilkan lebih banyak barang-barang maupun jasa, peningkatan produktivitas juga menghasilkan peningkatan langsung pada standar hidup yang berada dibawah kondisi distribusi yang sama dari perolehan produktivitas yang sesuai dengan masukan tenaga kerja.

Produktivitas penting dalam meningkatkan dan mempertahankan perusahaan dalam hal menghasilkan barang atau jasa yang pada dasarnya tidak lepas dari peningkatan dan pengefektifan mutu tenaga kerja sebagai sumber daya manusia yang sangat menentukan bagi kelangsungan hidup perusahaan. Pengukuran produktifitas digunakan untuk mengukur tingkat kinerja yang dicapai oleh perusahaan. Dengan adanya produktivitas maka perusahaan dapat menilai efisiensi dan efektifitas (Putti & Joseph, 2009).

(15)

22

Produktivitas berkaitan dengan memproduksi keluaran secara efisiensi dan khususnya ditujukan pada hubungan keluaran dengan masukan yang digunakan untuk mempeoduksi keluaran tersebut. Biasanya perbedaan atau kombinasi atau bauran input dapat digunakan untuk menghsilkan tingkat keluaran tertentu. Efisiensi produksi total adalah titik yang memenuhi dua kondisi yang memuaskan yaitu:

1. Untuk setiap bauran input tertentu dapat menghasilakn output dalam jumlah tertentu, dalam arti ada kelebihan pemakaian input untuk menghasilkan output, meskipun mungkin hanya satu unit.

2. Dengan menggunakan bauran input tertentu yang memuaskan sebagaimana kondisi pertama bauran yang biayanya paling rebdah yang dipilih.

Kondisi pertama disebabkan oleh adanya hubungan teknis dan oleh sebab itu dinamakan efisiensi teknis. Kondisi kedua disebabkan oleh hubungan relative harga input dan oleh karena itu disebt efisiensi harga.

Program peningkatan produktivitas berkaitan dengan gerakan kearah efisiensi produktivitas total. Sebagai contoh peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan:

1. Menggunakan semua input dalam jumlah yang lebih sedikit untujk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang sama.

2. Menghasilkan keluaran yang lebih banyak dengan menggunakan input yang sama.

Pengingkatan produktivitas menjadi salah satu kunci bangi perusahaan pada umumnya, dan hal lain yang menyebabkan pentingnya

(16)

23

produktivitas adalah meningkatknya standar kepuasan bagi pelanggan yang disertai dengan adannya kompetisi yang semakin ketat. Sebagai suatu kesatuan msing-masing bidang dan perusahaan harus mendukung produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Oleh sebab itu program peningkatan produktivitas merupakan usaha terpadu yang menjadi tujuan strategik setiap pimpinan perusahaan (Putti & Joseph, 2009).

2.3.3 Pengukuran Produktivitas

Pengukuran produktivitas merupakan suatu alat manajemen yang penting disemua tingkatan ekonomi. Pengukuran produktivitas berhubungan dengan perubahan produktivitas sehingga usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas dapat dievaluasi. Pengukuran dapat juga bersifat propektif dan sebagai masukan untuk pembuatan keputusan strategik.

Pengukuran produktivitas adalah penilaian kuantitatif atas perubahan produktivitas. Tujuan pengukuran ini adalah untuk menilai apakah efisiensi produktif meningkat atau menurun. Hal ini berguna sebagai informasi untuk menyusun strategi, bersaing dengan prusahaan lain, sebab perusahaan yang produktivitasnya rendah biasanya kurang dapat bersaing dengan perusahaan yang produktivitasnya tinggi. Oleh sebab itu, setiap perusahaan untuk mencapai produktivitas yang tinggi dengan berbagai macam cara, misalnya melalui perbaikan alat (teknologi) atau peningkatan sumber daya manusia (Blocher, Chen, & Lin, 2007).

Ukuran produktivitas bisa dilihat dengan dua cara yaitu produktivitas operasional dan produktivitas finansial. Produktivitas opersional adalah

(17)

24

rasio unit output terhdap unit input. Baik pembilang maupun penyebutnya merupakan ukuran fisik (dalam unit). Produktivitas finansial juga merupakan rasio output terhadap input, tetapi angka pembiang atau penyebutnya dalam satuan mata uang (rupih).

Ukuran produktivitas bisa mencakup seluruh faktor produksi atau fokus pada satu faktor atau sebagian faktor produksi yang digunakan perusahaan dalam produksi. Ukuran produktivitas yang memusatkan perhatian pada hubungan antara satu atau sebagian faktor input dan output yang dicapai disebut dengan ukuran produktivitas parsial (Blocher, Chen, &

Lin, 2007). Berikut ini adalah contoh-contoh produktivitas parsial (Blocher, Chen, & Lin, 2007):

1. Hasil bahan baku langsung (output/unit bahan baku).

2. Produktivitas tenaga kerja, seperti otput per jam tenaga kerja atau output per pekerja.

3. Produktivitas proses (atau aktivitas), seperti output per jam mesin atau output per kilowatt.

Produktivitas input tunggal biasanya diukur dengan menghitung rasio output terhadap input. Karena yang diukur hanya produktivitas satu input maka ukuran tersebut dinamakan ukuran produktivitas parsial.

Pembilangnya adalah output yaitu jumlah unit yang diproduksi seperti jam tenaga kerja langsung, atau sumber daya input tertentu. Sedangkan pembilangnya adalah input yaitu jumlah unit sumber daya input yang digunakan. Jika output dan input keduanya diukur dalam kuantitas fisik maka ukuran tersebut dinamakan ukuran produktivitas parsial operasional.

(18)

25

Jika output dan input dinyatakan dalam nilai uang maka ukuran ini dinamakan ukuran produktivitas finansial. Produktivitas parsial keuangan menunjukkan jumlah unit output yang diproduksi untuk setiap dolar sumber daya input yang digunakan perusahaan (Blocher, Chen, & Lin, 2007).

Ukuran produktivitas yang memasukkan seluruh sumber daya input yang digunakan dalam produksi disebut sebagai produktivitas total.

Produktivitas total memberikan suatu ukuran produktivitas gabungan semua sumber daya input yang diperlukan. Produktivitas total merupakan ukuran produktivitas keuangan. Pengukuran produkitvitas dilakukan dengan mengukur perubahan produktivitas sehingga dapat dilakukan penilaian terhadap usaha untuk memperbaiki produktivitas. Untuk mengukur perubahan produktivitas, ukuran produktivitas berjalan aktual dibandingkan dengan ukuran produktivitas periode awal. Periode awal ini disebut sebagai periode dasar yang menjadi acuan bagi pengukuran atau perubahan efisiensi produktif. Periode awal dapat ditentukan secara bebas (Mulyadi, 2008).

Untuk evaluasi strategis periode dasar biasanya dipilih tahun yang lebih awal. Untuk pengendalian operasional periode dasar cenderung mendekatai periode berjalan. Pengukuran produktivitas untuk satu masukan pada suatu saat disebut dengan pengukuran produktivitas parsial.

Pengukuran diukur dalam bentuk antara keluaran dengan masukan. Jika keluaran dan masukan yang digunakan dalam formula tersebut dinyatakan dalam kuantitas fisik, maka rasio produktivitas yang dihasilkan berupa ukuran produktivitas operasional. Jika digunakan keluaran dan masukan

(19)

26

dalam rupiah, rasio produktivitas yang dihasilkan berupa ukuran produktivitas finansial (Mulyadi, 2008).

2.3.4 Keunggulan dan Kelemahan Produktivitas Parsial

Keunggulan produktivitas parsial operasional (Blocher, Chen, & Lin, 2007):

1. Menggunakan unit fisik pada pembilang maupun penyebut sehingga mudah dipahami oleh personel operasional.

2. Ukuran produktivitas operasional lebih sederhana karena tidak dipengaruhi oleh perubahan harga atau factor-faktor lain.

3. Ukuran produktivitas parsial operasional memungkinkan manajemen untuk mengetahui pengaruh perubahan produktivitas untuk suatu sumber daya input terhadap operasi.

Keunggulan produktivitas parsial keuangan (Blocher, Chen, & Lin, 2007):

1. Mempertimbangkan pengaruh biaya maupun kuantitas sumber daya input terhadap produktivitas

2. Produktivitas parsial keuangan dapat digunakan dalam operasi yang menggunakan lebih dari satu factor produksi.

Ukuran-ukuran parsial sebagai ukuran produktivitas mempunyai beberapa keungggulan sebagai berikut (Supriyono, 2014):

1. Memungkinkan para manager untuk memusatkan pada penggunaan masukan tertentu.

(20)

27

2. Ukuran parsial operasional lebih mudah digunakan untuk menilai kinerja produktivitas karyawan operasional.

3. Untuk kepentingan pengendalian operasional, seringkali standar kinerja yang digunakan bersifat jangka pendek.

4. Dengan menggunakan standar parsial, trend produktivitas dalam satu tahun itu sendiri dapat ditelusuri.

Keterbatasan analisis produktivitas parsial (Blocher, Chen, & Lin, 2007):

1. Ukuran tersebut hanya mengukur hubungan antara sumber daya input dan output, ukuran tersebut mengabaikan pengaruh perubahan factor-faktor produksi lainnya terhadap produktivitas.

2. Produktivitas parsial juga mengabaikan pengaruh perubahan faktor- faktor produksi pada produktivitas.

3. Produktivitas parsial juga mengabaikan pengaruh perubahan karakteristik operasi perusahaan terhadap produktivitas sumber daya input.

4. Tidak ada standar efisiensi yang digunakan dalam ukuran-ukuran produktivitas parsial.

Ukuran-ukuran parsial sebagai ukuran produktivitas mempunyai beberapa keunggulan, namun ukuran-ukuran ini sekaligus mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut (Supriyono, 2014):

1. Ukuran parsial yang digunakan secara terpisah, atau tidak dihubungkan dengan ukuranukuran lainnya, dapat menyesatkan.

2. Penurunan produktivitas salah satu jenis masukan mungkin diperlukan untuk meningkatkan produktivitas masukan lainnya.

(21)

28

Perubahan tingkat produktivitas masukan ini mungkin memang diharapkan oleh manajemen jika secara keseluruhan biaya menurun, namun akibat yang bersifat menyeluruh ini tidak dapat tercermin dalam pengukuran produktivitas parsial.

2.3.5 Sumber-Sumber Produktivitas

Sumber-sumber produktivitas diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan pikiran

Produktivitas kerja dikatakan tinggi apabila untuk memperoleh hasil yang maksimal dipergunakan cara berkerja yang paling mudah.

2. Penggunaan tenaga jasmani

Produktivitas dikatakn tinggi bilamana mengerjakan sesuatu diperoleh hasil dan jumlahnya terbanyak dan mutu terbaik dengan tidak banyak menggunakan tenaga jasmani atau rohani.

3. Penggunaan waktu

Semakin singkat jangka waktu yang dipergunakan untuk mencapai hasil terbanyak dan terbaik, menunjukkan semakin produktif pelaksanaan suatu pekerjaan.

4. Penggunaan ruangan

Pekerjaan akan produktif apabila sejumlah personil yang bekerja sama dalam melaksanakan pekerjaan ditempatkan dalam suatu ruangan yang berdekatan jaraknya untuk mondar-mandir lebih hemat.

5. Penggunaan material atau bahan

(22)

29

Suatu pekerjaan dikatakan produktif apabila penggunaan bahan atau material dan peralatannya tidak terlalu banyak yang terbuang dan harganya tidak terlalu mahal.

2.3.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas

Banyak faktor lingkungan kerja yang mempengaruhi produktivitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor utama yang memberikan pengaruh pada produktivitas. Faktor yang berpengaruh secara langsung pada produktivitas adalah pengembangan teknologi, bahan baku, dan prestasi kerja pada pekerja sendiri. Sedangkan faktor yang berpengaruh tidak langsung (faktor lingkungan) meliputi:

1. Faktor kemampuan kerja, yang dipengaruhi oleh keterampilan dan pengetahuan pekerja.

2. Faktor motivasi, memberi pengaruh langsung pada prestasi kerja pekerja.

3. Kondisi sosial pekerja, mendapatkan pengaruh dari keadaan organisasi baik yang formal maupun informal.

4. Organisasi formal yang mempengaruhi kondisi social pekerja, dapat berasal dari kondisi struktur organisasinya, iklim kepemimpinan, efisiensi organisasi, kebijakan personalia, tingkat upah, evaluasi jabatan, penilaian prestasi, latihan dan system komunikasi dalam organisasi.

5. Organisasi informal, perananya akan dipengaruhi oleh tujuan, keterikatan anggotanya, dan ukuran organisasi informasi tersebut.

(23)

30

6. Kebutuhan individu pekerja, sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomipada umumnya, situasi individu pekerja, aktivitas diluar pekerjaan, persepsinya terhadap situasi, tingkat aspirasi, latar belakang budayanya dan latar belakang pengalamannya.

7. Kondisi fisik pekerja yang berpengaruh pada motivasi kerjanya, banyak ditentukan oleh tata letak, system penerangan, temperatur udara, system ventilasi, waktu istirahat, system keamanan serta musik pengantar kerja yang mungkin ada ditempat kerjanya.

Kemandirian 2.4.1 Pengertian

Kemandirian berasal dari kata “Autonomy” yaitu sebagai sesuatu yang mandiri, atau kesanggupan untuk berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab atas segala tingkah laku sebagai manusia dewasa dalam melaksanakan kewajibannya guna memenuhi kebutuhannya sendiri (Kartono, 2007). Kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya dengan mencari identitasnya, yang merupakan proses perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri (Desmita, 2012). Havigust menambahkan yang dimaksud dengan kemandirian adalah kebebasan individu untuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri, dapat membuat rencana untuk masa sekarang dan masa yang akan datang serta bebas dari pengaruh orang tua (Yusuf, 2006).

Menurut pandangan McDougal menjelaskan bahwa kemandirian merupakan konformitas khusus yang berarti suatu konformitas terhadap

(24)

31

kelompok yang terinternalisasi. Lebih lanjut ditegaskan bahwa setiap individu selalu berkonformitas, dan yang membedakan konformitas antara individu satu dengan lainnya adalah variabel kelompok rujukan yang disukainnya (Ali & Asrori, 2006). Menurut Steinberg kemandirian merupakan kemampuan dalam mengatur perilaku sendiri untuk memilih dan memutuskan keputusan sendiri serta mampu mempertanggung jawabakan tingkah lakunya sendiri tanpa terlalu tergantung pada orangtua (Utami &

Adijanti, 2013). Steinberg juga mengungkapkan tentang kemandirian remaja adalah kemampuan remaja untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya setelah remaja mengeksplorasi sekelilingnya. Hal ini mendorong remaja untuk tidak tergantung kepada orangtua secara emosi dan mengalihkannya pada teman sebaya, mampu membuat keputusan, bertanggung jawab dan tidak mudah dipengaruhi orang lain.

Hal yang serupa dikemukan oleh Erikson yang menyatakan kemandirian sebagai usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego, dimana merupakan perkembangan kearah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri (Monks, Knoers, & Haditono, 2006). Kemandirian ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, betanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan-keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain. Menurut teori kepribadian Erikson, otonomi atau kemandirian adalah suatu perasaan sehat mengenai kompetensi kebebasan dan kepercayaan diri, yang dihasilkan melalui lintasan dengan sukses

(25)

32

melewati tingkatan perkembangan kepribadian pada usia-usia mudanya (Widyatama, 2010). Menurut Chaplin otonomi atau kemandirian adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri sedangkan Sefert dan

Hoffnung menjelaskan otonomi adalah “the ability to govern and regulate one’s own thoughts, feelings, and actions freely and responsibly while overcoming feelings of shame anddoubt”.

2.4.2 Aspek Kemandirian

Beberapa aspek-aspek kemandirian yang dapat diidentifikasi oleh Steinberg (Warsito, 2013), yaitu:

1. Kemandirian Emosi (Emotional Autonomy)

Kemandirian emosi didefinisikan sebagai sebuah aspek dari kemandirian yang berhubungan dengan perubahan hubungan individual dengan orang-orang terdekat, terutama orang tua. Pada akhir tahapan remaja, seseorang menjadi lebih tidak bergantung secara emosinal terhadap orang tunya, daripada saat mereka masih kanak-kanak.

Perubahan hubungan dengan orang tua inilah yang dapat disebut sebagai perkembangan dalam hal kemandirian emosional, walaupun demikian kemandirian remaja tidak membuat remaja tersebut terpisah dari hubungan keluarganya. Jadi seorang remaja tetap dapat menjadi mandiri tanpa harus terpisah hubungan dengan keluarganya. Indikator perilaku:

(26)

33

a. Mampu mandiri secara emosional dari orang tua maupun orang dewasa lain, artinya kemampuan remaja ketika mendapatkan sebuah masalah, kekecewaan, kekhawatiran dan kesedihan remaja dapat menyelesaikannya

sendiri.

b. Memiliki keinginan untuk berdiri sendiri artinya kemampuan remaja untuk melepaskan diri dari ketergantungan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

c. Mampu menjaga emosi di depan orang tua dan orang lain artinya remaja mampu mengekspresikan perasaan sesuai dengan keadaan.

2. Kemandirian Perilaku (behavioral autonomy)

Kemandirian perilaku diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusankeputusan dengan mandiri dan amelaksanakan keputusannya tersebut. Kemandirian tingkah laku dapat dilihat dari tiga perubahan yang muncul pada saat remaja. Indikator perilaku:

a. Mampu berpikir secara abstrak mengenai permasalahan yang dihadapi artinya remaja berfikir akan pentingnya memecahkan masalah dan mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan.

b. Memiliki kepercayaan yang meningkat pada prinsip-prinsip umum yang memiliki dasar idelologi artinya remaja mampu menyesuaikan diri terhadap situasi yang sesuai dengan ideologi.

Memiliki kepercayaan yang meningkat saat menemukan nilai-

(27)

34

nilainya sendiri dimana bukan nilai yang berasal dari figur orang tua atau figur orang penting lainnya artinya seorang remaja mampu menemukan jati dirinya sendiri dan peduli akan pemenuhan dirinya sendiri, dan mampu melakukan kritik dan penilaian diri.

3.Kemandirian Kognitif (Cognitive Autonomy) atau Kemandirian Nilai (Value Autonomy).

Perubahan kognitif atau yang juga disebut sebagai kemandirian nilai pada remaja mendapat peran penting dalam perkembangan kemandirian, karena dalam kemandirian dibutuhkan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri. Pada perkembangan dari kemandirian nilai , terjadi perubahan dalam konsep remaja tentang moral, politik, ideologi, dan isu tentang agama. Indikator perilaku:

a. Mampu membuat keputusan dan pilihan artinya seorang remaja mampu bertindak sendiri untuk mengambil keputusan dan pilihan yang mereka ambil tanpa adanya campur tangan orang lain.

b. Dapat memilih dan menerima pengaruh orang lain yang sesuai bagi dirinya artinya remaja menjadi lebih toleran terhadap kehadiran orang lain dan menerima pengaruh orang lain yang baik untuk dirinya.

c. Dapat mengandalkan diri sendiri (self reliance) artinya percaya sepenuhnya akan kemampuan dirinya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.

Aspek-aspek kemandirian menurut Havighurst (Ali & Asrori, 2006) yaitu:

a. Emosi

(28)

35

Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan emosi dari orang tua. b. Ekonomi, Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantungnya kebutuhan ekonomi pada orang tua.

b. Intelektual

Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.

c. Sosial

Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.

2.4.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian (Ali &

Asrori, 2006), yaitu:

a. Gen atau keturunan orangtua. Orang tua memiliki sifat kemandirian tinggi sering kali menurunkan seseorang yang memiliki kemandirian juga.

b. Pola asuh orang tua. Cara orang tua mengasuh dan mendidik seseorang akan mempengaruhi perkembangan kemandirian seseorang remajanya.

c. Sistem pendidikan di sekolah. Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menenkankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja sebagai guru.

(29)

36

d. Sistem kehidupan di masyarakat, jika terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif, dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja atau guru.

Dalam mencapai kemandirian seseorang tidak terlepas dari faktor- faktor yang mendasari terbentuknya kemandirian itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian sangat menentukan sekali tercapainya kemandirian seseorang baik faktor yang berasal dari dalam seseorang itu sendiri maupun yang berasal dari luar yaitu lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat. Faktor-faktor tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan yang selanjutnya akan menentukan seberapa jauh seorang individu bersikap dan berpikir secara mandiri dalam kehidupan lebih lanjut. Dengan demikian, peneliti berpendapat dalam mencapai kemandirian seseorang tidak lepas dari faktor-faktor tersebut di atas.

Kesejahteraan 2.5.1 Pengertian

Merujuk kepada undang-undang No.11 tahun 2009 bahwa “Kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga Negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melakukan fungsi sosialnya” (Soeharto, 2009).

2.5.2 Tujuan Kesejahteraan

(30)

37

Kesejahteraan Sosial mempunyai tujuan (Fahrudin, 2012) yaitu:

a. Untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam arti tercapainya standar kehidupan pokok seperti sandang, perumahan, pangan, kesehatan, dan relasirelasi sosial yang harmonis dengan lingkungannya.

b. Untuk mencapai penyesuaian diri yang baik khususnya dengan masyarakat di lingkungannya, misalnya dengan menggali sumber- sumber, meningkatkan, dan mengembangkan taraf hidup yang memuaskan.

Schneiderman mengemukakan tiga tujuan utama dari sistem kesejahteraan sosial yang sampai tingkat tertentu tercermin dalam semua program kesejahteraan sosial, yaitu pemeliharaan system, pengawasan system, dan perubahan system

(Fahrudin, 2012).

a. Pemeliharaan Sistem

Pemeliharaan dan menjaga keseimbangan atau kelangsungan keberadaan nilainilai dan norma sosial serta aturan-aturan kemasyarakatan dalam masyarakat, termasuk hal-hal yang bertalian dengan definisi makna dan tujuan hidup; motivasi bagi kelangsungan hidup seseorang dalam perorangan, kelompok ataupun di masyarakat.

Kegiatan system kesejahteraan sosial untuk mencapai tujuan semacam itu meliputi kegiatan yang diadakan untuk sosialisasi terhadap norma- norma yang dapat diterima, peningkatan pengetahuan dan kemampuan untuk mempergunakan sumber-sumber dan kesempatan yang

(31)

38

tersedia dalam masyarakat melalui pemberian informasi, nasihat dan bimbingan, seperti penggunaan system rujukan, fasilitas pendidikan, kesehatan dan bantuan sosial lainnya.

b. Pengawasan Sistem

Melakukan pengawasan secara efektif terhadap perilaku yang tidak sesuai atau menyimpang dari nilai-nilai sosial. Kegiatan-kegiatan kesejahteraan sosial untuk mencapai tujuan semacam itu meliputi fungsi-fungsi pemeliharaan berupa kompensasi, sosialisasi, peningkatan kemampuan menjangkau fasilitas-fasilitas yang ada bagi golongan masyarakat yang memperlihatkan penyimpangan

tingkah laku.

c. Perubahan Sistem

Mengadakan perubahan ke arah berkembangnya suatu system yang lebih efektif bagi anggota masyarakat. Dalam mengadakan perubahan itu sistem kesejahteraan sosial merupakan instrumen untuk menyisihkan hambatanhambatan terhadap partisipasi sepenuhnya dan adil bagi anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan; pembagian sumber- sumber secara lebih pantas dan adil; dan terhadap penggunaan struktur kesempatan yang tersedia secara adil pula.

2.5.3 Fungsi Kesejahteraan Sosial

Fungsi-fungsi kesejahteraan sosial bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi tekanan-tekanan yang diakibatkan terjadinya perubahan- perubahan sosio-ekonomi, menghindarkan terjadinya konsekuensi-

(32)

39

konsekuensi sosial yang negatif akibat pembangunan serta menciptakan kondisi-kondisi yang mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Adapun fungsi-fungsi kesejahteraan sosial yaitu sebagai berikut (Fahrudin, 2012) :

a. Fungsi Pencegahan (preventive)

Kesejahteraan sosial ditujukan untuk memperkuat individu, keluarga, dan masyarakat supaya terhindar dari masalah-masalah sosial baru.Dalam masyarakat transisi, upaya pencegahan ditekankan pada kegiatan-kegiatan untuk membantu menciptakan pola-pola baru dalam hubungan sosial serta lembagalembaga sosial baru.

b. Fungsi Penyembuhan (Curative)

Kesejahteraan sosial ditujukan untuk menghilangkan kondisi-kondisi ketidakmampuan fisik, emosional, dan sosial agar orang yang mengalami masalah tersebut dapat berfungsi kembali secara wajar dalam masyarakat.

Dalam fungsi ini tercangkup juga fugsi pemulihan (rehabilitasi).

c. Fungsi Pengembangan (Development)

Kesejahteraan sosial berfungsi untuk memberikan sumbangan langsung ataupun tidak langsung dalam proses pembangunan atau pengembangan tatanan dan sumber-sumber daya sosial dalam masyarakat.

d. Fungsi Penunjang (Support)

Fungsi ini mencangkup kegiatan-kegiatan untuk membantu mencapai tujuan sector atau bidang pelayanan sosial kesejahteraan sosial yang lain.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil temuan studi yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu: Berdasarkan analisis General Electrics (GE) diperoleh informasi bahwa

Pembangunan Indikator Kinerja Sat. Capaian Kinerja SKPD Pelaksana Targ. Meningkatnya budaya dan minat baca masyarakat 6. Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan

Analisa pemilihan skim pembiayaan pembangunan kapal dengan metode Fuzzy MCDM dapat digunakan untuk memecahkan persoalan keputusan dalam struktur informasi yang

Hal ini tercantum dalam kompetensi lulusan mahasiswa prodi PTAG yang menyebutkan bahwa kompetensi utama Program Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri adalah

Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian, namun demikian analisis ini masih

Dengan demikian, analisis data hasil belajar siswa kelas XI Ak 5 keterampilan menulis Hanzi dalam pembelajaran bahasa Mandarin menggunakan metode resitasi, nilai

- * Bagi pelamar posisi Pelaksana Pengamanan Bandara (Avsec) dan Pertolongan Kecelakaan Penerbangan – Pemadam Kebakaran (PKP-PK) dengan lokasi seleksi KCU Bandara Soekarno Hatta

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya pemberlakuan otonomi daerah sejak 1 Januari 2000 di Jawa Tengah berpengaruh terhadap perekonomian maupun sektor