118 BAB V
DINAMIKA PERKEMBANGAN DAN PERSAINGAN KELOMPOK USAHA WISATA BERBASIS KOMUNITAS
A. Pengantar
Bab ini menguraikan dinamika dan kompleksitas perkembangan lembaga usaha wisata berbasis komunitas (CBT) pada level mikro selama hampir satu dekade (2010-2018). Institusi usaha wisata berbasis komunitas itu dikenali sebagai kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pokdarwis mengalami proses evolusi mulai dari proses berdiri, tumbuh, dan berkembang hingga membentuk dinamika perkembangan melalui persaingan dan kerjasama antar Pokdarwis. Proses evolusi itu sendiri berlangsung di dalam kompleksitas perubahan lingkungan kelembagaan (kebijakan supra komunitas seperti: desa, kabupaten, propinsi, dan pemerintah pusat) yang melingkupinya. Akibatnya perubahan konfigurasi antarpelaku ekonomi wisata tersebut secara langsung maupun tidak langsung memicu terjadinya pergeseran karakter beragam institusi Pokdarwis.
Bab ini terdiri dari lima sub bab berikut. Sub bab pertama memaparkan sejarah singkat Pokdarwis berdasarkan lini masa dalam rentang waktu delapan tahun (2010-2018). Sub bab kedua menggambarkan perkembangan Pokdarwis yang dibagi ke dalam empat tahap perkembangan yaitu: 1). Pokdarwis Perintis; 2).
Pokdarwis yang gagal masuk; 3). Pokdarwis Agen; 4). Pokdarwis Terintrusi Modal Privat. Selain itu, kehadiran agen-agen pemasaran wisata (agen online dan agen
“Jongki” wisata) mewarnai pertumbuhan dan perkembangan Pokdarwis tersebut.
Pada bagian ini, pembahasan mengenai Pokdarwis yang gagal masuk akan mendapatkan porsi pembahasan tersendiri. Catatan ini perlu diungkap untuk commit to user
119
menegaskan pentingnya hak kepemilikan sumberdaya sebagai pondasi utama dalam lembaga wisata berbasis komunitas (CBT).
Sub bab ketiga memerinci lebih lanjut uraian tentang karakteristik dan
perubahan model pengelolaan usaha wisata yang dilakukan oleh berbagai kategori Pokdarwis. Uraian mengenai pengelolaan Pokdarwis itu dijelaskan ke dalam beberapa aspek berikut: 1). Aspek manajemen sumberdaya manusia (dalam arti pelibatan warga sekitar dalam organisasi); 2). Legalitas badan usaha; 3).
Pengembangan obyek wisata; 4). Struktur organisasi; 5). Manajemen kantor; 6).
Kepemilikan modal; 7). Penggunaan teknologi media sosial; dan 8) Manajemen keuangan.
Sub bab keempat menjelaskan bentuk-bentuk kerjasama dan persaingan
dalam dan antar kelompok usaha wisata di komunitas yang melibatkan domain persaingan sosio-ekonomi dan politik. Persaingan membentuk sifat perubahan, baik perubahan karakterteristik, perilaku, dan optimalisasi sumberdaya seturut lini masa.
Sub bab kelima adalah kesimpulan yang menyajikan kembali poin-poin penting dari paparan sub-sub bab terdahulu. Beberapa poin ini akan diposisikan sebagai catatan penegasan sekaligus ringkasan sistematis yang akan mempertajam benang merah hasil olahan data empirik yang telah dihimpun dari kancah penelitian.
B. Sejarah dan Dinamika Perkembangan Pokdarwis
Pengelolaan destinasi wisata di Desa Bejiharjo dimulai dari berdirinya kelompok-kelompok Pokdarwis Perintis. Pokdarwis Perintis adalah Kelompok Dewa Bejo pada tahun 2010. Kelompok ini didirikan untuk merespon pelaksanaan
commit to user
120
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pariwisata (PNPM-MP).
Program ini merupakan kerjasama antara PNPM dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Sosialisasi program diselenggarakan pada 9 Februari 2010 oleh Kemenparekraf dengan mengundang seluruh Kepala Desa dan tokoh masyarakat di pendopo rest area-kawasan hutan Bunder1.
Pasca menerima sosialisasi dari kementerian, Suyanto (Kepala Desa Bejiharjo) menunjuk Bagyo untuk merintis usaha wisata komunitas. Rintisan pertama membuka Kawasan Goa Pindul sebagai destinasi wisata. Usaha membuka kawasan goa ini dimulai pada bulan Maret 2010. Usaha ini ditentang oleh kelompok kasepuhan dan warga yang tidak setuju. Pada proses awal ini, keinginan warga untuk berpartisipasi sangat terbatas (hanya 15 orang yang setuju dan aktif terlibat).
Dalam proses perkembangannya, limabelas orang tersebut berkurang menjadi 9 orang yang bersepakat mendirikan kelompok sadar wisata (Pokdarwis)2. Berdirilah Pokdarwis Desa Wisata Bejiharjo yang disingkat sebagai Pokdarwis Dewa Bejo (DB).
Setahun proses pengembangan destinasi wisata, warga sekitar kawasan Goa Pindul mendirikan tiga Pokdarwis baru. Berdirinya Pokdarwis Dewa Bejo berhasil menarik kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Bejiharjo. Hal ini dijadikan sebagai insentif bagi pertumbuhan Pokdarwis baru. Pada tahun 2011, tiga kelompok berdiri karena terdorong oleh pertumbuhan jumlah wisatawan objek Goa Pindul yang tidak
1 Diceritakan oleh Suyanto (Kepala Desa Bejiharjo) dan Bagyo (yang ditunjuk sebagai wakil masyarakat dari Bejiharjo. Sosialisasi dihadiri sebanyak 120-an Kepala Desa dan Tokoh masyarakat se Kabupaten Gunungkidul. Kemenparekraf dihadiri oleh Wakil Menparekraf, Sapta Nirwandar dan direktorat jendral pengembangan destinasi wisata.
2 Sembilan orang pendiri Pokdarwis tersebut adalah Bagyo (Ketua), Suki (Wakil Ketua), Parjo (Sekretaris) Ratmin (Bendahara), Kijo (Ketua Bidang Pemandu Wisata), Pari (Ketua Bidang Pengembangan Atraksi), Dipo (Ketua Bidang Homestay), Kasiyo (Ketua Bidang Kebersihan), dan Tumiyo (Bidang Penyediaan Konsumsi)
commit to user
121
mampu ditangani DB. Tiga kelompok tersebut terdiri dari Pokdarwis Wira Wisata (WW), Pokdarwis Panca Wisata (PW) dan Karya Wisata (KW). Pokdarwis WW dan PW memanfaatkan ledakan kunjungan yang tidak tertangani oleh Pokdarwis DB, sementara Pokdarwis KW melakukan pembukaan kawasan destinasi baru Goa Sriti.
Gambar 5.1. Dinamika Pengembangan Destinasi dan Pertumbuhan Pokdarwis Desa Bejiharjo Tahun 2010-2018
Pada tahun 2012, berdirinya empat Pokdarwis tersebut memicu Kelompok Ade3 menuntut hak atas kepemilikan tanah. Pemilik tanah di atas Goa Pindul itu merasa bahwa Pokdarwis DB, WW dan PW telah menggunakan tanahnya untuk
3 Ade berasal dari Dusun Gunungbang, Desa Bejiharjo. Dia menikah dengan etnis Tionghoa (bernama Fang), sehingga yang bersangkutan berdomisili di luar Desa Bejiharjo (di Desa Sinduharjo, Kabupaten Sleman). Dalam memasuki usaha wisata, Ade didukung Zipo (kakak iparnya) yang merupakan pengusaha besar bidang property (perumahan dan perkantoran), sangat dikenal karena salah satu korban Skandal Bank Century Tahun 2008.
18.Pokdarwis SSW
commit to user
122
kepentingan komersial dan menerima manfaat atas penggunaan tanah pribadinya.
Ini mendorong pemilik tanah mempertanyakan hak-hak pemanfaatan tersebut.
Melalui tiga kali pertemuan, Keluarga Ade mendatangi dan menegosiasi pembagian hasil wisata, namun terjadi tidak mencapai kesepakatan bersama. Kegagalan ini membuat Kelompok Ade berniat untuk mendirikan Pokdarwis baru. Kelompok Ade mengumpulkan organisasi massa setempat untuk mendirikan Pokdarwis. Pendirian ini di-backing oleh anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) yang berasal dari Desa Bejiharjo. Pokdarwis Taruna Wisata (TAW) terbentuk dan diketuai oleh Murdiana (Warga Dusun Gunungbang). Pokdarwis TAW berusaha mendapatkan ijin dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Daerah (DPMPD), Kabupaten Gunungkidul. Usaha mendirikan Pokdarwis tersebut tidak berhasil dan ditolak oleh pemerintah Kabupaten Gunungkidul, karena terjadinya penolakan warga Desa Bejiharjo dan kekawatiran akan terjadi konflik.
Penolakan ijin usaha mendorong kelompok Ade melakukan perlawanan.
Tindakan melawan itu dilakukan dengan pengerahan massa, insiden aksi massa, dan kekerasan untuk menakut-nakuti Pokdarwis Perintis. Selanjutnya pelaporan dan gugatan kepada Pokdarwis-Pokdarwis dilakukan. Serangkaian konflik horizontal terus terjadi di komunitas. Bahkan konflik berlanjut menjadi gugatan kepada Pokdarwis dan pemerintah, karena diduga bersalah mengambil kebijakan pengelolaan objek wisata. Konflik horizontal dan vertikal ini berlangsung dari tahun 2012 sampai 2017.
Konflik tersebut tidak menyurutkan semangat warga untuk mendirikan tiga Pokdarwis baru. Para pemilik tanah di depan pintu masuk Goa Pindul juga menuntut pendirian Pokdarwis baru. Bersamaan dengan tuntutan Ade itu, Keluarga
commit to user
123
Sandi (pemilik tanah depan Goa Pindul) juga menuntut diberikannya ijin pendirian Pokdarwis Tunas Wisata (TW) dan juga keluarga Rawi untuk mendirikan Pokdarwis Panji Wisata (PAW). Pokdarwis PAW tidak mendapatkan dukungan warga, sehingga tidak mendapatkan ijin pendirian Pokdarwis oleh pemerintah desa.
Namun, keluarga Sandi didukung oleh warga sekitar Dusun Gunungbang, sehingga Pokdarwis TW diijinkan berdiri oleh pemerintah desa. Selain kedua Pokdarwis tersebut, Warga Dusun Banyubening I dan II juga mendirikan Pokdarwis Mriwis Putih (MP). Inisiasi pembentukan Pokdarwis MP dipimpin oleh Sariyanto dengan mendaku Telaga Mriwis sebagai destinasi wisata utama mereka. Warga Dusun Sokoliman juga mendirikan Pokdarwis Dewitaliman Wisata (DW) dengan mengajukan destinasi baru Situs Megalitikum Sokoliman. Sampai akhir 2013, tiga Pokdarwis baru berdiri (Pokdarwis TW, MP dan DW) dan dua Pokdarwis gagal berdiri (Pokdarwis TAW dan PAW).
Pokdarwis pengelola Goa Pindul menghadapi gugatan, dua Pokdarwis masih berdiri lagi. Berbagai pelaporan kelompok Ade tidak ditindak lanjuti oleh kepolisian. Namun dua pelaporan tindak pidana penyerobotan lahan dan penyalahgunaan pemanfaatan sumberdaya air ditindak lanjuti. Bagyo, Ketua Pokdarwis DB ditetapkan sebagai tersangka. Karena banyaknya pelaporan atas kegiatan Pokdarwis ke kepolisian, polisi menangani perkara ditingkat kepolisian daerah. Ini membuat suasana pengembangan destinasi memanas, karena sejumlah pengurus, kepala dusun dan aparat desa dipanggil dan diperiksa sebagai saksi.
Pemeriksaan perkara sebagai tergugat dan saksi membuat pengelolaan wisata “terbengkelai”. Ini dimanfaatkan “baik” oleh Pokdarwis di luar pengelola wisata Goa Pindul (KW, MP, DW) untuk memasukkan kunjungan ke objek wisata
commit to user
124
tersebut. Situasi gonjang-ganjing ini justru memacu tumbuhnya Pokdarwis baru.
Selama Pokdarwis pengelola Goa Pindul menghadapi masalah, dua Pokdarwis baru berdiri. Kedua Pokdarwis tersebut adalah Pokdarwis Gelaran Indah (yang berdiri tanpa Ijin, dipimpin oleh Gito) dan Pokdarwis Sumber Banyu Moto (SBM, dipimpin oleh Agung) berdiri sebagai organisasi massa nirlaba atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Tekanan pemerintah daerah dan pandangan legal para ahli hukum dari kampus membuat polisi menghentikan penyelidikan perkara (SP3). Keputusan ini menambah semangat warga untuk mendirikan Pokdarwis. Pada tahun 2016, Harris (pendiri dan pengurus Pokdarwis WW) menyatakan diri keluar dari Pokdarwis WW dan mendirikan usaha sentra kuliner di Dusun Gelaran II. Usaha sentra kuliner ini berada di pintu masuk Goa Pindul sebelah timur (Gelaran II) dan sekaligus mendirikan Pokdarwis baru bersama warga di Gelaran II dengan nama Pokdarwis Ngancar Wisata (NW). Bisnis utama Haris adalah kuliner sesuai yang dinyatakan dalam perizinan usaha wisata, namun Haris juga melayani kunjungan wisata ke Goa Pindul yang dikelola Pokdarwis NW. Terjadi kerjasama diadik dengan Pokdarwis WW. Bersamaan dengan berdirinya Pokdarwis NW, Warga Dusun Gelaran II juga mengembangkan destinasi wisata baru, yaitu Goa Tanding. Pengelolaan Goa Tanding berbeda dengan pengelolaan wisata Goa Pindul. Pengelolaan Goa Tanding menyerupai kawasan resort yang tertutup dan eksklusif, sementara pengelolaan Goa Pindul terbuka dan mendorong partisipasi pendirian Pokdarwis secara meluas. Ini menguatkan persaingan antarkelompok di komunitas.
Pada tahun 2016, sejumlah Pokdarwis juga mendesak pemerintah daerah dan desa untuk segera menerapkan pengelolaan destinasi wisata melalui Badan
commit to user
125
Usaha Milik Desa. Pemerintah Desa diminta segera membentuk Panitia 21 untuk menyusun pendirian BUMDes. Panitia 21 bekerja selama hampir setahun dan berhasil mendirikan BUMDes sebagai pengelola destinasi wisata, khusus Goa Pindul. Akhirnya BUMDes resmi berdiri pada tahun 2017. Di tengah pengambilan kuasa pengelolaan destinasi, persaingan antarkelompok makin menguat dan pertumbuhan jumlah Pokdarwis juga masih berlangsung. Warga Dusun Karangmojo juga mendirikan usaha wisata dan dinamai Pokdarwis Kedung Gupit Adventure (KGA), serta masih berdiri Pokdarwis Sekar (Sejati) Wisata di komunitas.
Sampai penelitian ini berakhir pada awal Tahun 2019, Pemerintah Desa sedang menyiapkan pengembangan penginapan, bumi perkemahan dan wisata edukasi yang dikenal sebagai Bejiharjo EduPark (BEP). BEP dikembangkan di Dusun Banyubening I dan II. Pengembangan destinasi baru ini diharapkan meningkatkan kunjungan wisata yang telah merosot, sekaligus meningkatkan lama tinggal wisatawan.
C. Pokdarwis Perintis (Pengelola)
C.1. Pokdarwis Dewa Bejo (DB) C.1.1. Pembentukan Kelompok
Pengembangan wisata berbasis komunitas di Desa Bejiharjo merupakan usaha mendorong inisiatif warga setempat. Inisiatif pembangunan pariwisata datang dari kelompok masyarakat secara mandiri, tumbuh dan berkembang dengan kekuatan masyarakat. Model partisipasi spontan merupakan istilah yang paling sesuai dengan keadaan di desa kajian. Hal ini terlihat pada proses pembentukan
commit to user
126
awal kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Bejiharjo (Dewa Bejo) sebagai organisasi formal dan informal yang merencanakan, mengembangkan dan mengelola pelayanan wisata air (menyusur goa). Kelompok tersebut merupakan kelompok yang dibentuk oleh masyarakat sekitar Goa Pindul yang berada di Dusun Gelaran 1 dan Gelaran 2.
Pada tahap awal, pengembangan wisata muncul dari para tokoh masyarakat (elit dusun), dengan melibatkan warga setempat. Para pendiri tersebut terdiri dari Pak Bagyo, Ratmin, Tukijo, dan Pramuji, serta lima orang lainnya yang mendukung. Kelompok “nekat” disematkan oleh warga kepada mereka, karena berani membuka kawasan Gua Pindul. Mereka memasuki gua (yang selama ini dianggap tidak umum), menyusuri sungai, membersihkan sampah dan mengamati kemungkinan-kemungkinan resiko dalam gua. Tahap eksplorasi gua ini menggunakan cara dan teknologi seadanya: pelampung dari pelepah pisang, jerigen, tongkat, sabit dan penyelaman tanpa peralatan. Ini disampaikan Pak Bagyo, Ketua Pokdarwis Desa Bejo:
Pasti ada musyawarah. Destinasi mana yang akan diangkat duluan. Kami pada waktu itu terbayang. Kami sebelum membuka Gua Pindul pernah saya ke Gua Gong, Pacitan. Gua Gong seperti itu saja bisa dijual. Lalu karena udah ada internet to pada waktu itu, kita buka-buka ada New Zealand yang kita temukan.
Yang memang penyusuran gua tapi ada guidenya. Dan kalau disana langsung venuenya sungai, kalau di sini kan enggak. Akhirnya bentuk penelusurannya yang kita perhatikan. Bukan masalah guanya. Guanya keindahannya kita nomor duakan. Yang penting ada gua yang bisa ditelusuri, dan cara penelusurannya yang belum ditemu. Terus kita membuatnya eko-eko gitu. Karena kita kan jualan bensin ini. Pakai jirigen. Lalu pakek pelepah pisang. Biasalah orang dusun, apapun bisa jadi sarana (Wawancara, 18 Januari 2019)
commit to user
127
Inisiatif mereka ditentang kelompok kasepuhan. Rencana pengembangan selalu menimbulkan pro dan kontra. Ini disampaikan lebih lanjut oleh Pak Bagyo dan dibenarkan oleh kelompok kasepuhan, Mbah Jo.
Bukan hanya diwingitke. Angker mas. Angkernya di sana itu tidak boleh dimasuki orang. Sampek saya dulu itu sama rekan-rekan untuk membuka aja sudah diwanti- wanti sama kasepuhan. Tidak boleh. Pokoknya tidak boleh dibuka. Nanti kalau dibuka kalau dia mau lari mau lari kemana kalau tidak ditempatkan dulu.
(Wawancara, 18 Januari 2019)
…opo yo kelakon warga sak dusun bakal kesurupan. Mbok yo kok delok akeh wong teko mlebu gua mulih podo keteplekan demit. Aku ora saguh lo nek kon nambani wong sak dusun. Yen njuk ngganggu terus warga iso podo crah, padudon ora rampung-rampung (Wawancara Mbah Jo, 2 Nopember 2018).
Pengalaman eksplorasi dan penentangan digunakan untuk musyawarah dengan warga sekitar dan membentuk kelompok. Para perintis berusaha meyakinkan kepada masyarakat bahwa mereka membutuhkan “keusahawan dan kehati-hatian” atas pengelolaan Goa Pindul untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Mereka membayangkan Gua Pindul dapat digunakan sebagai objek wisata.
Dalam proses musyawarah, pro-kontra mempunyai pola pertentangan dan dukungan yang tidak seimbang. Dukungan warga sangat minim dan terbatas.
Namun para inisiator dan didukung sebelas (11) warga yang setuju tetap ingin memulai pembukaan Goa Pindul sebagai objek wisata. Selanjutnya, perintis bersama dengan warga yang mendukung melakukan kerja-bakti membersihkan gua dan kawasan di sekitar gua, serta memperbaiki jalan-jalan menuju gua secara swadaya dan mandiri. Bahkan para perintis dan warga yang mendukung mulai membersihkan sungai dan aliran di dalamnya yang penuh sampah rumah tangga.
commit to user
128
Pemerintah desa menetapkan kelompok yang dibentuk sebagai pengelola dan dinamai Pokdarwis Desa Wisata Bejiharjo. Surat Keputusan dengan No.
15/KPTS/2010, tertanggal 30 Juni 2010 mengenai pembentukan Pokdarwis Dewa Bejo menjadi dasar bagi kelompok untuk mengelola destinasi wisata desa. Hal ini menempatkan Dewa Bejo sebagai satu-satunya kelompok pengelola destinasi wisata pada tingkat desa. Dukungan pemerintah desa juga diwujudkan dengan mempromosikan kepada pemerintah daerah.
Setelah mendapatkan surat keputusan dari pemerintah desa, Pokdarwis mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Pokdarwis Dewa Bejo sendiri mempromosikan kepada berbagai pihak untuk membantu pengembangan kawasan Goa Pindul sebagai destinasi baru, seperti: perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa perguruan tinggi merespon dengan berbagai bentuk kegiatan seperti mengirim kuliah kerja nyata (KKN) bagi para mahasiswa, kegiatan pelatihan dan pengembangan dan sebagainya. Pelatihan-pelatihan terkait pengembangan kepariwisataan, pengembangan desain landmark Goa Pindul, rambu-rambu petunjuk lokasi dan menandai nama-nama pohon langka di Hutan Gedong. Pelatihan manajemen koperasi dan pelatihan ketrampilan Bahasa Inggris kepada para pemandu wisata juga dilaksanakan.
Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul akhirnya juga memberikan dukungan dengan merencanakan program pengembangan destinasi. Mereka melakukan kegiatan wisata untuk para pejabat pemerintah daerah ke Desa Bejiharjo, pada tanggal 10 Oktober 2010. Kegiatan ini sekaligus membuka Kawasan Goa Pindul sebagai objek wisata oleh Bupati, sebagai Kepala Daerah.
commit to user
129
Pemerintah daerah sangat berkeinginan untuk membantu pengembangan destinasi ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul ditugaskan oleh Bupati sebagai pengampu kebijakan dan pengembangan wisata. Ini berlanjut pada penyusunan program bersama pengembangan destinasi wisata Desa Bejiharjo disusun oleh Kelompok Dewa Bejo difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
C.1.2. Mandat dan Visi Pokdarwis
Proses pembentukan Pokdarwis bersifat partisipatif, disertai peran Pemerintah Desa yang berperan memfasilitasi proses-proses demokrasi ekonomi telah mendorong lahirnya Pokdarwis, perusahaan dan perkumpulan yang mengusahakan jasa wisata. Ini tercermin dalam proses-proses pengembangan dan penyusunan aturan-aturan yang melibatkan anggota masyarakat (yang sekaligus karyawan dari pengelolaan destinasi). Hal ini dinyatakan dalam Anggaran Dasar Pokdarwis Dewa Bejo (1,2,3) sebagai berikut (Pasal 1 dan 2):
(1) Pokdarwis Dewa Bejo berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta bersendikan pada kebijakan nasional maupun daerah yang mendukung arah pengembangan potensi kepariwisataan untuk kemajuan wilayah, pemerataan, keadilan, manfaat, dan kesejahteraan masyarakat.
(2) Pokdarwis Dewa Bejo mempunyai tujuan menghimpun potensi yang ada bersama-sama mengupayakan kesejahteraan anggota dan masyarakat serta menunjang pemerintah dalam menangani permasalahan /isu-isu di bidang kepariwisataan yang ada di tingkat lokal dan dalam masyarakat melalui jalan musyawarah warga.
Berdasarkan Anggaran Dasar tersebut, Pokdarwis mempunyai mandat yang sangat mulia. Pengembangan sektor pariwisata lokal yang diharapkan mampu menghimpun potensi (menggerakkan partisipasi aktif warga dan sumberdayanya); commit to user
130
kemajuan wilayah, mengusahakan kesejahteraan anggota masyarakat (termasuk pengurus) secara merata dan berkeadilan, mengatasi masalah di bidang kepariwisataan dan kerjasama semua pihak, termasuk pemerintah. Jalan musyawarah adalah keputusan yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahan wisata.
C.1.3. Program dan Kegiatan
Pada proses pengembangan awal, program-program yang direncanakan meliputi: pelatihan-pelatihan dan pengadaan peralatan. Pelatihan meliputi pelatihan manajemen. Pemandu dan penyelenggaran homestay. Pengadaan meliputi:
peralatan dan perlengakapan wisata; pengadaan signing, posting dan galeri foto;
pengadaan perlengkapan kantor (komputer, meja, kursi dan sebagainya). Program ini dilaksanakan sendiri dengan modal sendiri pada awalnya, namun pada tahun 2012 dan 2013 memperoleh program PNPM Mandiri masing-masing sebesar Rp.
100 juta dan Rp. 75 juta.
Pokdarwis Dewa Bejo juga menyiapkan berbagai media promosi. Dengan mendapatkan bantuan computer dan jaringan internet dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pokdarwis Dewa Bejo telah menyiapkan rangkaian promosi pariwisata melalui media online dengan pembuatan situs jaringan resmi https://desawisatabejiharjo.net dan juga melalui media sosial facebook. Ini dikerjakan sendiri oleh anak muda desa setempat, Arif Kurnia yang diangkat sebagai pekerja teknologi informasi di Pokdarwis. Selain itu, promosi juga dilakukan melalui media massa lokal, baik cetak maupun online seperti: Kedaulatan
commit to user
131
Rakyat, Harian Jogja, sorotgunungkidul.com. Bahkan, Harian nasional Kompas meliput secara khusus tentang perkembangan goa-goa di Kawasan Desa Bejiharjo.
Pokdarwis juga menerima pengembangan sistem pembayaran online.
Masuknya perbankan dalam usaha wisata membuat pelayanan wisata terus berkembang dan nampak berkembang pesat. Pokdarwis menggunakan pembayaran online melalui BCA, BNI, BRI atau BPD.
Dalam waktu tiga tahun berjalan, pertumbuhan pesat Pokdarwis DB mendorong jumlah Pokdarwis terus bertambah. Pokdarwis yang berdiri sesudah Dewa Bejo adalah Pokdarwis Wira Wisata (WW), Panca Wisata (PW), Karya Wisata (KW) dan Tunas Wisata (TW). Setiap Pokdarwis berdiri mempunyai motif atau hasrat dan ide pengembangan destinasi yang tidak sama. Keberadaan ketiga Pokdarwis masih merupakan bagian dari pengembangan sekitar objek wisata Goa Pindul.
C.2. Pokdarwis Wira Wisata (WW): “Respon Bludak Kunjungan”
Pokdarwis WW didirikan oleh 9 orang warga dari Dusun Gelaran I.
Sembilan orang tersebut adalah Budi, Harris, Slamet, Suyadi, Istiadi, Rini, Cahyo, Dedi, Ranto dan Bani. Warga tersebut merupakan penanam modal di kelompok.
Mereka juga sekaligus menjadi pengurus dalam kelompok sesuai kesepakatan mereka.
Pokdarwis WW didirikan untuk merespon ledakan kunjungan wisatawan di komunitas. Ini terjadi pada awal tahun 2011, kunjungan wisatawan meningkat karena libur sekolah awal Januari, bulan Juni-Agustus dan Desember. Setiap ada kunjungan, Budi hanya melihat penanganan wisatawan yang terbatas. Ini disampaikan Budi ketika menjawab pertanyaan peneliti. commit to user
132
P: Ini kan masih Gelaran 1 ya, Pak? (masih satu dusun dengan Dewa Bejo) B: ya Gelaran 1. Berjalannya waktu, Dewa Bejo kok jam 11 sudah tutup, karena
tidak mampu untuk melayani tamu, selain itu masak kami yang muda-muda tidak dilibatkan. Maka kami Karang Taruna bikin, Wirawisata. jalan…jalan ya kayak Dewa Bejo, tapi kita beruntung nemu BCA. Pak Sapto waktu itu datang (dari BCA)
P: Terus apa yang ditawarkan?
B: Pelatihan Manajemen Wisata, bagaimana melayani wisata, berkomunikasi dan sebagainya.
P: wo ya, terus ada dukungan yang lain?
B: itu peralatan-peralatan (sambil menunjuk gudang peralatan wisata dan outbond) dan ini alat-alat pembayaran online semua pakai BCA. Kontraknya begitu.
Kerjasama Pokdarwis WW dan Company Social Responsibility (CSR)- Bank BCA menjadikan WW memiliki perbedaan dengan Pokdarwis DB pendahulunya. Perbedaan itu tercermin dari penataan kawasan perkantoran, manajemen dan bentuk pelayanan wisata. Program “Solusi Bisnis Unggul BCA”
merupakan program CSR yang berperan membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Pengembangan program ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mendorong masyarakat agar mampu bertumbuh dan mencapai kemajuan secara mandiri4.
Pelatihan manajemen wisata dianggap oleh Pokdarwis WW sangat membantu dalam menentukan pelayanan yang baik terhadap wisatawan yang berkunjung. Inovasi pelayanan itu sangat nampak berbeda dibandingkan dengan Pokdarwis lainnya. Ini dapat dilihat pada penyediaan fasilitas untuk pengunjung
4 Pengurus WW yang terlibat dalam pada program CSR BCA ini adalah Budi, Yunan dan Harris.
Mereka diberikan pelatihan manajemen, pelayanan wisata yang unggul dan pengembangan usaha bisnis. Selain itu BCA memberikan bantuan peralatan wisata dan pengembangan e- payment di secretariat pokdarwis
commit to user
133
seperti: ruang pertemuan dan penataan kawasan sekretariat yang dihiasi dengan taman-taman. Bahkan, ruang pertemuan disediakan dalam rangka menyediakan
“ruang pasinaon” dalam istilah para pengurus dan karyawan. WW menggarap segmen pasar pelayanan pada pihak-pihak yang membutuhkan tempat untuk pelatihan dan pertemuan (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
Melayani wisatawan yang beragam dengan lebih inovatif. Dari aspek usia, Pelayanan susur Goa Pindul ditujukan untuk usia remaja dan dewasa. Ini membuat WW menyediakan kolam renang untuk anak-anak. Tersedia pendopo-pendopo bagi wisatawan yang menunggu antrian, tidak ingin masuk Goa Pindul dan mereka yang memilih istirahat karena perjalanan jauh. WW juga menyediakan free WIFI hotspot untuk melayani wisatawan. WW sering dikenal sebagai Karang Taruna WW, karena usaha wisata ini merupakan bentuk keterlibatan generasi muda sekarang.
Kemampuan WW memanfaatkan media sosial dan teknologi informasi untuk pemasaran elektronik lebih optimal. Mereka memiliki berbagai media sosial yang sangat efektif seperti: facebook, instagram, twitter dan laman web sendiri. Ini dinyatakan sebagai berikut:
Dari warga setempat. Jadi, memang kalau dulu mungkin, orang-orang dulu belum bisa menemukan kreativitasnya karena apa mohon maaf, karena orang dusun itu kan untuk SDM-nya minim, dan setelah sekarang muncul generasi muda penerus, sudah zaman kemajuan, sekarang sudah ada internet, dunia maya, dan lain sebagainya. Itu efektif untuk membuat wisatawan mengenal, mengetahui dan keinginan berkunjung (Wawancara Budi Haryanto, 16 Januari 2018).
Pokdarwis WW juga memberikan bentuk pelibatan kepada warga melalui usaha-usaha pendukung wisata. Ini meliputi penyediaan makan dan minum (catering), homestay, fasilitas parkir, dan usaha usaha lain. Warga sekitar diberikan
commit to user
134
kesempatan yang luas untuk membuka usaha, mau mendirikan warung di tanah sendiri atau menyewa di sekitar sini, masyarakat sudah terbuka.
C.3. Pokdarwis Panca Wisata (PW): “Respon Kecemburuan Sosial”
Bersamaan dengan berdirinya Pokdarwis WW, berdiri juga Pokdarwis PW, masih di Gelaran 1 RT05 dengan melibatkan Dusun Gunung Bang RT01 (selanjutnya diucapkan pendek “Gelbang”. Kehadiran Pokdarwis Gelbang ini cenderung mendasarkan pada nada “cemburu” dan keinginan ekonomis yang dominan dalam berperan memasuki usaha wisata. Ini disampaikan Pak Trigun, pendiri PW bahwa:
P: Kenapa kok Panca Wisata berdiri?
T: Kalau Dewa Bejo kan bapak sudah tahu, masuk dilarang. Karena ya itu, saya juga mengalami ikut istilahnya itu bentuk tanggapan atau apa. Coba bayangkan, tempatnya tempat Pak Ratmin. Keluar masuk jalannya kan bagus, debunya gak kepalang. Penduduk lingkungan gak ada manfaatnya sama sekali.
Jualan enggak, catering enggak. Gak dapat apa-apa. Cuma dapat debu saja.
P: Bapak kan berperan juga dalam mengelola parkir?
T: Yang punya hanya kelompoknya Mbah Tukijo dan Pak Bagyo sendiri pada awalnya. Nah di samping itu tidak ada yang direkrut masuk ke situ. Gitu loh!
Awalnya pada manis-manis. Satu bulan bayaran 28 juta per-orang, pernah.
Satu hari mendapatkan 48 juta, itu pada waktu saya tahu saat menjadi tukang parkir pernah mengalami. Cuma kalau enggak kan administrasinya mungkin sendiri-sendiri. Diakui ya boleh-boleh saya. Tapi yang namanya orang itu dikroscek sumbernya darimana yang mengalami menerima ya gak mungkin ngaku tapi dilihat dari sebuah bentuk fasilitas ataupun finansial yang ada, sudah pernah ke tempat Mbah Tukijo? Rumahnya Mbah Tukijo seperti apa?
Dua kali lipat, dua tempat juga. Nah kerjanya apa? Kerjanya juga di Goa Pindul. Kalau finansialnya tidak terdukung kan ya seperti apa? Gak mungkin dong seperti itu. Cuman karena apa? Itu kan rahasia masing-masing ya gak masalah. Tapi kita istilahnya tidak cemburu dsb. itu hanya sebagai contoh saja.
commit to user
135
Kecemburuan dan hasrat ekonomis menjadi pembicaraan yang terus- menerus dalam praktik usaha wisata. Perbincangan terkait dengan cemburu, ingin terlibat lebih dan ingin memperoleh pendapatan tinggi sangat mendominasi di warung kopi dan gubuk-gubuk kecil. Ini menjadi “letupan ide” untuk mendirikan kantor sekretariat untuk masuk ikut mengelola obyek wisata. Terlebih lagi, nama
“Goa Pindul” sudah dikenal oleh wisatawan domestik dan mancanegara.
Semangat mendirikan Pokdarwis ditindaklanjuti dalam pertemuan- pertemuan warga. Pertemuan pertama terlaksana pada Hari Jum'at 5 Oktober 2012.
Hasil pertemuan pun menyatakan bahwa warga Gelbang setuju apabila di wilayah Gelbang mendirikan kantor sekretariat baru. Pertemuan kedua, ini dilaksanakan untuk menyusun struktur organisasi yang dilaksanakan pada Hari Minggu, 7 Oktober 2012. Hasil pertemuan kedua ini terbentuk sebuah struktur organisasi dan pertemuan ketiga, para anggota dan pengurus juga segera menyusun anggaran dasar dan rumah tangga dan dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 2012 untuk memperingati Sumpah Pemuda. Ini diharapkan menjadi “motor penggerak” bagi kaum muda di Gelbang.
Terkait dengan pentingnya usaha wisata bagi masyarakat, pemberdayaan secara khusus pelatihan-pelatihan dilakukan. Pak Trigun juga menjelaskan mengenai pentingnya pemberdayaan bagi para pemandu wisata menyusuri goa.
Pelatihan diselenggarakan dengan mengirimkan pemandu ke instansi pemerintah.
T: Ada. Ada. Bahkan yang dari BPBD (Badan Penganggulangan Bencana Daerah) atau dari Basarnas yang memiliki cuma di Panca sendiri mungkin ada 5 (orang). Pelatihan untuk pemandu. Itu punya standar pengamanan yang bagus.
P: bagaimana standar pengamanan itu Pak?
commit to user
136
T: SOP nya pengamanan jelas, satu personil paling banyak tujuh orang. Jadi 1:7:
Tapi kalau toh itu 1:7 banjirnya di sungai kayak rafting itu agak deras, tidak harus 1:7, tapi 5:3, 5:2, kalau arusnya besar. Dan itu pun di pos pos tertentu pemandu di sana paling sulit untuk dikondisikan, ada pospos tertentu yang dijaga oleh pemandu darat yang dijaga yang mungkin masuk di pusaran air itu bisa menarik atau menolong dengan secepatnya
P: tapi ini kebanyakan pengunjung Goa Pindul.
T: ya. 1:7 satu pemandu melayani 7 wisatawan
P: Ada pelatihan lainya? Mengelola wisata atau manajemen kantor pelayanan misalnya?
T: Karena dari SDMnya dari sebuah apa ya, intelektualitas seseorang yang mengelola di sini otodidak, yang penting dari hukum dagangnya dikalkulasi biaya operasional berapa, yang masuk berapa, untuk kebutuhan pemandu dsb.
berapa, setelah itu kalau masih sisa dalam kurun 1 jam masih sisa 2 juta, itu masuk Pak Eko! Kalau gak, ya gak bisa.
P: la melayani wisatawan?
T: Pegawai yang bukan pemandu, seperti apa harus menghadapi 3S, sapa, salam, senyum. Sudah cukup. Saya mantan korlap je. Pasti cara kita menyampaikan tidak seperti militer atau pasukan upacara untuk menyiapkan barisannya itu gak. “Oke, saudara saudara! Berhenti dulu, matikan mesin, minum minum kopi. Kalau gak ada kopi di bawah anda pastilah itu manis karena cewek cewek direndam di situ manis semua. Jadi kalau gak percaya minumlah di situ!” Hal- hal seperti itu. “Oke, are ready?” “Ready.” “Are you happy?” “Happy!”
“Mainlah air!” terus ciprat-ciprat gitu. Seneng wisatawannya.
Pengembangan usaha wisata disertai pemberdayaan melalui pelatihan- pelatihan pada jenis pelatihan khusus yang terkait keamanan pengunjung. Namun PW tidak belajar secara khusus mengenai manajemen usaha wisata secara formal.
Pengalaman sehari-hari dalam proses mengamati dan mengalami pengelolaan wisata di DB, mereka jadikan panduan mengelola usaha wisata. Hal ini biasa dialami juga pada banyak Pokdarwis. Kelompok Pancawisata mengelola keseluruhan proses usaha dan pendukung wisata di Gelbang. commit to user
137
C.4. Pokdarwis Karya Wisata (KW): “Mengembangkan Goa Sriti”
Pokdarwis Karya Wisata berdiri untuk mengembangkan Goa Sriti.
Kelompok ini sejak awal selalu mengutamakan pengembangan Goa Sriti. Bahkan, ketika peneliti menanyakan tentang pengelolaan Goa Pindul cenderung menghindar untuk menjawab. Pak Ristanto, Ketua Karya Wisata mengatakan:
Kami, Karya Wisata itu lebih tertarik untuk mengembangkan Goa Sriti daripada mengurusi destinasi orang lain. Dusun kami tidak berhampiran dengan Goa Pindul, dan sejak awal kami tidak “cawe-cawe” dengan pengelolaan wisata di sana.
Inisiatif pengembangan destinasi Goa Pindul telah menjadi inspirasi bahwa pengembangan wisata terlihat mampu meningkatkan pendapatan warga sekitar.
Karya wisata tidak mau ikut-ikutan “latah mendirikan Pokdarwis”, tetapi kepedulian untuk memanfaatkan Goa Sriti untuk kesejahteraan warga Dusun Karanglor (sekitar 1 km dari Dusun Gelaran 1) adalah tujuan utama. Musyawarah bersama dengan tokoh Dusun Karanglor diinisasi oleh Ristanto.
Musyawarah warga menghasilkan beberapa kesepakatan. Kesepakatan tersebut adalah: Pertama, Goa Sriti perlu ditata dan dibenahi untuk menjadi destinasi wisata dengan dana swadaya warga. Kedua, kelompok usaha wisata dibentuk sesuai panduan pembentukan kelompok sadar wisata. Ketiga, warga yang berminat untuk menanamkam modal dipersilahkan dan bersifat terbuka. Keempat, kelompok usaha hanya mengelola usaha pelayanan wisata dan usaha pendukung diserahkan kepada warga secara terbuka. Kelima, kelompok usaha wisata bertugas mengkoordinasi usaha-usaha yang dikembangkan warga. Keenam, kelompok usaha-usaha seni menjadi prioritas untuk mendukung wisata. commit to user
138
Meskipun pembentukan usaha bersifat terbuka, partisipasi permulaan hanya diikuti oleh penanam modal lokal dan sekaligus menjadi pengurus Pokdarwis.
Penanam modal dan pembentukan pengurus menjadi pola paling banyak dilakukan dalam membentuk usaha dan struktur organisasi usaha wisata. Karya wisata fokus mengelola wisata yang bepusat di Goa Sriti. Untuk memasuki Goa Pindul mereka harus bekerjsama dengan Pokdarwis DB. Pengembangan wisata digunakan untuk mengembangkan usaha-usaha lain dan seni budaya yang melibatkan masyarakat luas.
C.5. Pokdarwis Tunas Wisata (TW): “Klaim Pemilik Tanah”
Pokdarwis Tunas Wisata berdiri atas dorongan Pak Sandi (Kepala Dukuh Gunung Bang). Ini merespon banyak kaum muda yang belum dilibatkan dalam pengembangan wisata komunitas. Pengembangan Goa Pindul yang menjanjikan mendorong karang taruna membentuk Tunas Wisata. Proses pembentukan Tunas Wisata digambarkan oleh Pak Yanto dan Pak Sandi (Keduanya Pengurus Tunas Wisata).
Y: Kita adalah Pokdarwis terakhir yang memiliki SK Perda dan Pergub…Mas.
Dulu kita ya ragu-ragu mau masuk.
P: Kenapa ragu Pak?
Y: Karena perlu diketahui untuk Pindul sendiri dulunya untuk tempat pertapaan orang-orang dulu. Kemungkinan masyarakat itu mengira apa yang disakralkan akan menggangu. Itu sudah kita mulai buka kita sudah komunikasi dengan sesepuh. Memang di Facebook itu benar. Dulu Pindul itu gudang mistik “dulu demit, sekarang gudang duit.
P: Terus pembentukannya gimana?
Y: Waktu itu ada KKN UGM, sekitar tahun 2011. Mereka tanya letak goa Pindul itu mana? Dimana letaknya? Ditemukan akhirnya survei masuk ke dalam.
Ternyata mereka antusias sekali untuk mau mengembangkan itu. commit to user
139 P: Lo kan 2011 sudah ramai Pak?
Y: Ya, maksudnya mengembangkan untuk Dusun Gunung Bang, biar anak anak muda pada ikut berusaha, bikin Pokdarwis.
P: Susah ya Pak, mendirikan Pokdarwis kok baru 2013 berdiri?
Y: Sini anak muda jarang dan diajak maju susah. Dan waktu itu kita ribut juga dengan Panji Wisata.
P: Ada Panji Wisata juga to Pak?
Y: Iya itu perorangan. Gak, ini atas dasar kesepakatan Karang Taruna. Untuk pemberdayaan. Kalau pribadi gak bisa. Setelah pertemuan didampingi KKN itu Tunas Wisata berdiri pada tanggal 26 Februari 2013.
P: Hasil pertemuannya apa Pak?
Y: Bikin itu pengurus dan kegiatan-kegiatan bikin facebook.
P: Terus ada pelatihan-pelatihan apa tidak, Pak?
Y: ya gak ada
P: lah terus cara mengelola gimana?
Y: ya belajar sendiri saja sak isone dipikir sambil jalan P: Terus modalnya dari mana Pak?
Y: kita pakai rumah warga yang strategis, kita sewa, awalnya ya murah terus naik-naik, kalau peralatan nyewa di dekat goa pindul punya Panca Wisata.
…terus dikit dikit beli.
P: berapa modal awal yang digunakan?
Y: Kalau duit ya 10 juta di awal dari Pak Sandi.
Pola pembentukan kelompok usaha wisata sangat sederhana. Kunci utamanya adalah usaha wisata yang harus melibatkan masyarakat sekitar, terutamanya kaum muda dan warga yang memiliki kemauan. Peran Pak Sandi dan Pak Yanto sangat menentukan dalam mengelola wisata, karena Tunas Wisata didukung anak-anak muda dusun yang belum berpengalaman. Kelompok ini diijinkan masuk dalam pengelolaan Goa Pindul, karena pak Sandi adalah pemilik tanah sesudah pelataran tanah kas desa yang merupakan kawasan pintu masuk Goa Pindul.
commit to user
140 D. Kelompok Pokdarwis Gagal Masuk
D.1. Klaim Atas Hak Kepemilikan Tanah Berlanjut
Pembentukan kelompok usaha wisata berdasarkan klaim atas kepemilikan tanah menguat. Pak Sandi dengan Pokdarwis Tunas Wisata (TW) adalah satu- satunya kelompok yang berhasil masuk sebagai usaha wisata dengan klaim kepemilikan tanah. Sebaliknya, Keluarga Ade merupakan kelompok usaha yang paling ditentang oleh semua Pokdarwis. Keluarga Ade yang memperjuangkan terbentuknya Pokdarwis TAW merupakan kelompok yang tidak berhasil masuk sebagai pelaku wisata. Keluarga Rawi dengan Pokdarwis PAW-nya juga merupakan kelompok lain yang tidak berhasil masuk, meskipun mereka memiliki lahan yang berhampiran dengan objek wisata Goa Pindul.
D.2. Persekongkolan: Taruna Wisata (TAW) Gagal Berdiri
Ade adalah pemilik lahan terluas di kawasan Goa Pindul. Tanah seluas 1,06 hektar merupakan kawasan yang berada di atas sungai bawah tanah atau Goa Pindul. Aktivitas pelayanan wisata yang dilakukan oleh Pokdarwis berada di kedalaman 2-10 meter di bawah tanah tersebut. Keluarga Ade pernah mengusahakan kawasan tersebut, termasuk Goa Pindul sebagai usaha sarang burung walet dan memperoleh ijin dari pemerintah desa. Hal ini membuat keyakinan bahwa keluarga Ade berhak atas penyelenggaraan usaha wisata, baik melalui pembagian hasil maupun pengusahaan kawasan tersebut secara legal.
Perselisihan ini berlangsung hampir keseluruhan waktu pengembangan destinasi wisata dan mewarnai pengambilan keputusan-keputusan Pokdarwis, pemerintah desa, dan kabupaten.
commit to user
141
Kronologi perselisihan pengelolaan objek wisata Goa Pindul dapat digambarkan sebagai berikut. Proses negosiasi antara Pokdarwis (DB dan WW) dengan Kelompok Ade berlangsung sebanyak lima kali pertemuan. Pertemuan ini berlangsung selama hampir satu bulan pada Desember 2011. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan mengenai pembagian hasil antarkelompok. Sambil menunggu proses-proses negosiasi, kelompok Ade juga melakukan konsolidasi massa (terdiri dari organisasi massa dari berbagai dusun dan luar desa, bahkan dihadiri oleh satu anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, yaitu EP) untuk melakukan tekanan pada masyarakat.
Pokdarwis yang telah berdiri menganggap bahwa telah terjadi
‘persekongkolan” antara Dewan Perwakilan Rakyat, pengusaha kaya Zipo dan Ade, serta organisasi massa yang diketuai “orang-orangnya Pak Dewan”5. Bahkan rencana ini juga didukung warga yang dipilih untuk mewakili dusun se-Desa Bejiharjo. Warga yakin bahwa langkah Ade dan Edipur membahayakan usaha wisata yang dilakukan oleh Pokdarwis. Oleh karena itu, semua Pokdarwis yang telah berdiri terus-menerus memata-matai pergerakan keluarga Ade dan kelompoknya.
Keterlibatan anggota dewan dan organisasi massa yang mendukung Ade tersebut dipandang sebagai ancaman serius bagi Pokdarwis, sekaligus penyalahgunaan kewenangan sebagai wakil rakyat. Pokdarwis mengkawatirkan akan terjadi penggusuran usaha-usaha rakyat karena kehadiran kelompok Ade. Ini
5 EP menjadi Dewan Perwakilan Rakyat daerah Kabupaten Gunungkidul Periode 2009-2014 mewakili Dapil 3 (Kecamatan Karangmojo, Ponjong dan Semin). Keterlibatannya (2013) dalam persoalan Gua Pindul merupakan tanggungjawab sebagai anggota dewan untuk meluruskan penyimpangan dalam pengelolaan Gua Pindul. Berlarut-larutnya polemik Pindul membuat masyarakat Desa Bejiharjo resah. Menurut dia, Pemerintah telah melanggar Perda 6/2011 Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) dan perizinan.
commit to user
142
membuat Pokdarwis selalu bersikukuh untuk tidak mengakomodasi kelompok Ade dalam penyelenggaraan wisata. Kepentingan ini yang membuat negosiasi pembagian hasil antara Pokdarwis dan pemilik tanah tidak menghasilkan mufakat.
Tabel 5.1. Kronologi Konflik Antarkelompok dan Kegagalan Pendirian Pokdarwis TAW
Periode Waktu Tahapan Para pelaku Keterangan
5 Desember 2011-31 Desember 2011
Proses Negosiasi dan Konsilidasi Massa
Kelompok Ade dan Pokdarwis Perintis
5 kali proses pertemuan dan negosiasi dengan Pokdarwis dan tidak ada kesepakatan 10 Januari 2012- 15
Januari 2012
Proses Pendirian dan Perizinan Pokdarwis TAW
Kelompok Ade, Organisasi Massa dan satu anggota DPRD
15 Januari 2012 Pendirian
Pokdarwis TAW ditolak
Kelompok Ade Vs Pemda Kabupaten (DPMPT)
16 Januari 2012- Januari 2017
Gugatan, Mediasi, Pengaduan, Pengerahan dan Insiden massa, Pelaporan
Kelompok Ade Vs Pokdarwis,
pemerintah desa dan Pemerintah
Kabupaten. Ikut terlibat kepolisian, PTUN, Obudsman, Pengadilan Tinggi
Gugatan atas pengelolaan objek wisata sebanyak 2 kali
Mediasi dilakukan sebanyak 6 kali oleh pemda kabupaten Pengaduan dan pelaporan ke polisi, ombudsman, dan Pengadilan Tinggi sebanyak 8 kali 12 Desember 2017 Keseluruhan
gugatan dan kasasi Kelompok Ade di SP3
Kelompok Ade Vs Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pengadilan Tinggi
Sumber: Berbagai Media Massa dan dikonfirmasi melalui Wawancara Mendalam, 2019
commit to user
143
Kelompok Ade menyusun langkah mendirikan Pokdarwis baru, namun tidak mendapatkan ijin pendirian. Kepengurusan Pokdarwis dibentuk dari organisasi massa dan perwakilan dusun-dusun di Desa Bejiharjo. Mereka menamai kelompok tersebut sebagai Pokdarwis Taruna Wisata (PAW). Mereka mengusahakan perijinan melalui pemerintah dusun, desa dan dinas penamaman modal dan perijinan terpadu (DPMPT). Namun, usaha mereka untuk mendapatkan ijin usaha wisata6 ditolak oleh DPMPT, karena ketidaklayakan kawasan tanah miliknya untuk didirikan kantor sekretariat yang berpotensi membahayakan lingkungan sekitar.7
Kegagalan mendirikan Pokdarwis membuat kelompok Ade membela hak- hak dirinya. Berbagi aksi dilakukan, seperti pemungutan “pembagian hasil” oleh orang-orang anggota organisasi “massa bayaran”, penutupan kawasan tanah miliknya, dan insiden penutupan objek wisata oleh ratusan anggota organisasi massa. Berbagai insiden tersebut telah membuat bentrok antara organisasi massa dan warga anggota Pokdarwis. Kejadian ini juga membuat aparat keamanan (polisi dan tentara) bertindak tegas menghentikan insiden dan menutup objek wisata untuk sementara waktu.
Proses perselisihan/konflik masih berlanjut menjadi pelaporan, pengaduan dan gugatan pengadilan. Pelaporan ke pihak Kepolisian Gunungkidul terjadi sebanyak 4 kali. Pengaduan ke Lembaga Ombudsman Daerah sebanyak 2 kali dan ke Pengadilan sebanyak 4 kali. Akhirnya 2 gugatan yang ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian untuk penyelidikan. Bersamaan itu, berbagai langkah mediasi juga
6 Yang dimaksudkan ijin usaha adalah Ijin undang-undang gangguan atau Surat Ijin Tempat Usaha.
7 Ini sejalan dengan surat rekomendasi Hasil Kajian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten (Surat Rekomendasi No 062/KPTS/DLH-2013)
commit to user
144
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten dan Desa sebanyak 6 kali. Namun, keseluruhan mediasi tidak menghasilkan kesepakatan terkait perselisihan objek wisata. Kepolisian akhirnya telah membatatalkan semua gugatan, dengan dikeluarkannya surat penghentian penyelidikan perkara (SP3) sebanyak 4 kali.
Bahkan kasasi di pengadilan tinggi ditolak oleh jaksa. Perselisihan dengan pemilik tanah berakhir pada tanggal 12 Desember 2017. Dengan demikian, usaha pemilik tanah untuk mendapatkan hak-haknya telah terhenti dan gagal masuk sebagai pelaku usaha wisata.
Pemilik tanah yang gagal masuk menjadi pelaku usaha membuat masyarakat yakin bahwa tanah disahkan oleh pemerintah menjadi tanah milik bersama8. Kepemilikan bersama ini yang mendorong partisipasi warga meningkat.
Pertumbuhan jumlah Pokdarwis terus berlangsung selama proses pengembangan wisata komunitas.
D.3. Kepentingan Diri: Panji Wisata (PAW) Gagal Masuk
Perjuangan yang sama terjadi pada keluarga Pak Rawi. Keluarga ini mendirikan Pokdarwis Panji Wisata (PAW). Mereka tidak mengurus ijin pendirian Pokdarwis tetapi langsung beroperasi melayani kunjungan wisata. Legitimasi yang digunakan oleh Pak Rawi adalah kepemilikan tanah sekitar 1.000 m2 di sekitar Goa Pindul. Pokdarwis ini dikelola oleh keluarga, sehingga kurang mendapatkan dukungan dari warga sekitar. Warga sekitar juga menganggap bahwa Pak Rawi
8 Bahwasanya untuk Gua Pindul dari sejak dulu di situ dihuni penduduk Gua Pindul sudah ada.
Jadi kan gua itu gua alami, itu anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian setelah itu 2010 Goa Pindul dirintis sebagai obyek wisata dan dibuka pada Bapak Almarhum Sumpeno Putro, Bupati Gunungkidul. Kemudian setelah itu untuk konsep pengelolaan ini adalah pemberdayaan masyarakat yang jelas menikmati, tetapi juga harus dijaga keberlanjutannya (Wawancara Budi, 16 Januari 2018
commit to user
145
akan “memperkaya diri-sendiri”. Oleh karena itu, setiap ada pengunjung yang akan mendatangi kantor sekretariat Pokdarwis Panji Wisata dihadang oleh warga dan disarankan menggunakan pelayanan Pokdarwis yang lain. Selain itu, kehadiran Pokdarwis ini bersamaan dengan inisiasi pendirian Pokdarwis Tunas Wisata (TW) yang melibatkan warga sekitar dan digerakkan oleh kepala dusun sendiri.
Dukungan masyarakat sekitar dan pemerintah setempat menjadi kekuatan utama dalam mendirikan usaha wisata. Ini membuat Pokdarwis PAW menghadapi kegagalan bersaing di komunitas, sekaligus membuat Pokdarwis PAW tidak berjalan lama dan menutup usaha wisatanya.
E. Kelompok Pokdarwis Agen (Operator): Mitra Kerja Perintis
Persaingan mendirikan usaha wisata tidak hanya berlangsung di dusun yang terkait langsung dengan objek wisata Goa Pindul berada, tetapi semakin meluas.
Pokdarwis di dusun lain berdiri dengan memenuhi persyaratan-persyaratan yang berlaku di pemerintah desa dan daerah. Persyaratan pendirian Pokdarwis adalah memiliki destinasi atau objek wisata sendiri, mempunyai pemandu berserifikat sekurang-kurangnya 2 orang dan memiliki kepengurusan. Persyaratan ini dipandang sangat mudah bagi masyarakat Desa Bejiharjo. Mereka mendaku objek wisata tertentu sebagai pemenuhan syarat, mengambil tenaga pemandu dari Pokdarwis lain yang telah berdiri dan menyusun kepungurusan melalui rapat dusun.
Hal ini mempercepat penambahan jumlah Pokdarwis, sekalipun mereka tidak mengembangkan objek wisata tersebut. Tumpuan utama pemasaran mereka adalah objek wisata Goa Pindul. Ini membuat semakin padatnya kunjungan wisata Goa Pindul. Kelompok-kelompok ini mengatasnamakan Pokdarwis Agen (operator)
commit to user
146
pemasaran wisata dari Pokdarwis Perintis (pengelola) obyek wisata di Desa Bejiharjo.
E.1. Pokdarwis Mriwis Putih (MP)
Pokdawis MP berdiri pada tanggal 16 Februari 2013. Lokasi kantor sekretariat Pokdarwis MP berada di dekat Kantor Balai Desa Bejiharjo dan Pos Tempat Pemungutan Retribusi (TPR). Kelompok ini diinisiasi oleh Kepala Dusun Banyubening I dan II, serta dibantu oleh Sariyanto (tokoh masyarakat lokal).
Kelompok ini mengembangkan Telaga Mriwis sebagai objek wisata utama mereka.
Kelompok ini memulai usaha wisata dengan kelompok yang belum berizin, yang penting jalan dulu 9.
Kelompok ini berdiri dengan dihadiri 16 orang tokoh masyarakat dua pedukuhan,10 sekaligus sebagian dari mereka dipilih sebagai pengurus Pokdarwis sesuai kesepakatan. Para pendiri ini masing-masing melakukan iuaran bersama senilai Rp. 200,000 – Rp. 300,000 untuk mengembangkan kelompok usaha wisata.
Selain itu, pengembangan kelompok usaha wisata ini menggunakan uang kas dari 2 dusun sebesar Rp. 12 juta. Pokdarwis MP disetujui oleh pemerintah desa sebagai kelompok usaha wisata pada tahun 2016.
Pada awal berdiri Pokdarwis MP hanya memiliki modal sebesar Rp. 18 juta.
Anggaran tersebut digunakan untuk menyewa tanah untuk kantor sebesar Rp. 7,5 juta untuk tiga tahun. Untuk mendirikan kantor sebesar Rp. 8 juta dan untuk
9 Disampaikan oleh Guntur dalam wawancara tanggal 18 Januari 2019
10 Enam belas pendiri pokdarwis MP adalah Sariyanto (dipilih sebagai Ketua), Guntur (Wakil Ketua), Endi dan Enik (Sekretaris), Larso (Bendahara), Endar (Humas), Karno, Risto, Dika, Bowo (Pemasaran), Hermi, Patmi, Enik, Rahyo (Keamanan), Kino (Kebersihan), Rohmat, Tri
commit to user
147
membiayai pembuatan brosur dan leaflet Rp. 500,000 dan selebihnya untuk operasional kantor.
Telaga Mriwis sebagai objek wisata belum mampu menarik kunjungan wisatawan. Ini membuat Pokdarwis MP lebih banyak mengenalkan dan memasarkan Goa Pindul sebagai objek wisata. Pokdarwis MP lebih banyak menerima wisatawan yang akan berkunjung ke objek wisata Goa Pindul daripada objek destinasinya sendiri. Untuk memasuki Goa Pindul, Pokdarwis MP dikenakan biaya pengelolaan sebesar Rp. 10,000 per wisatawan oleh pengelola wisata Goa Pindul. Posisi ini yang membuat Pokdarwis MP dijuluki sebagai Pokdarwis Agen wisata Goa Pindul.
E.2. Pokdarwis Dewitaliman Wisata (DW)
Pokdarwis ini berdiri pada Tahun 2014. Kelompok ini berdiri atas inisiatif warga di Dusun Sokoliman, RT 01 RW 20 Desa Bejiharjo, Kec. Karangmojo, Gunungkidul. Warga mendapatkan izin destinasi wisata dari BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya). Ijin ini dibutuhkan karena Dusun Sokoliman mempunyai Situs Megalitikum yang dikelola oleh BPCB dan belum memiliki dampak ekonomi pada komunitas. Setelah mendapatkan ijin dari BPCB, sebanyak 21 orang warga dusun11 melakukan musyawarah untuk mendirikan Pokdarwis dusun dengan objek wisata Situs Megalitikum.
11 Sukamto (Ketua), Panji dan Asmo (Wakil Ketua), Erni, Dwi, Edi (Sekretaris), Tikno, Wuri (Bendahara) Tini, Wisnu, Rois (Pemasaran), Roy, Sardi, Warto, Yuwono (Humas), Darman, Sardi, Iman (Keamanan), Anjar, Karno (Kebersihan), Kiyo (Peralatan)
commit to user
148
Pokdarwis DW juga merupakan Pokdarwis Agen wisata Goa Pindul. Ini disebabkan oleh terbatasnya kunjungan wisata pada Situs Megalitikum.
Kebanyakan pengunjung situs adalah peneliti kepurbakalaan dan sedang menjalankan penelitian di situs purbakala tersebut. Pada awal berdiri, Pokdarwis ini menghadapi kesulitan untuk membiayai pendirian dan operasional usaha wisata.
Untuk meningkatkan hasil usaha wisata, Pokdarwis DW menawarkan objek wisata Goa Pindul. Pokdarwis ini bekerjasama dengan Pokdarwis Tunas Wisata untuk melayani kunjungan wisatawan.
Kerjasama antara Pokdarwis DW dan TW mempunyai pola yang sama dengan kerjasama DB dan KW. Kedekatan dan kepercayaan antar kelompok seringkali menentukan biaya pengelolaan atau biaya masuk melalui pintu masuk Pokdarwis pengelola. Beban biaya masuk melalui TW, DW membayar Rp. 5,000 per wisatawan. Biaya pengelolaan antar Pokdarwis berbeda tergantung hubungan baik antar Pokdarwis.
E.3. Pokdarwis Gelaran Indah (GI)
Pokdarwis GI berdiri pada tanggal 1 November 2014 tanpa izin usaha wisata dan langsung melayani kunjungan wisatawan. GI baru mendapatkan ijin usaha dari pemerintah desa pada tahun 2015. Pokdarwis ini didirikan dan diketuai oleh Gito, pengelola tempat parkir Pokdarwis DB. Lokasi Kantor Sekretariat Pokdarwis GI bersebelahan dengan Kantor Pokdarwis DB. Pokdarwis ini berada di Dusun Gelaran 1, RT 04 RW 15 Desa Bejiharjo. Gito merupakan adik dari Tukijo, salah seorang pendiri Pokdarwis DB.
commit to user
149
Inisiatif pendirian didasari oleh banyaknya warga Gelaran 1 yang ingin terlibat bekerja di Pokdarwis DB, tetapi Pokdarwis DB tidak mampu mewadai partisipasi mereka. Selain itu, Gito merasa sebagai pengelola parkir tidak mendapatkan manfaat lebih dibandingkan para pengurus Pokdarwis DB. Oleh karena itu, Gito didukung oleh 9 orang warga Gelaran I bersepakat mendirikan Pokdarwis sendiri. Sembilan orang tersebut investor atau pemodal dari Pokdarwis ini. Kesembilan orang warga tersebut, tiga orang di antaranya tidak aktif dalam kepengurusan organisasi karena mereka aktif bekerja sebagai PNS dan Polisi di kecamatan lain. Mereka juga menyepakati struktur organisasi sama dengan Pokdarwis lain.12 Visi Pokdarwis ini disepakati “memberdayakan masyarakat untuk kesejahteraan”.
Pokdarwis menyewa tanah milik Parjan untuk kantor sekretariat. Kontrak sewa tempat usaha ini disepakati 5 tahun dengan nilai sewa sebesar Rp. 12 juta per tahun. Untuk melengkapi kebutuhan kantor, fasilitas tempat parkir dibangun depan kantor dengan menggunakan tanah yang merupakan halaman rumah Gito sendiri.
E.4. Pokdarwis Sumber Banyu Moto (SBM)
Pokdarwis SBM berdiri pada 19 Februari 2015. Kelompok ini sebenarnya bukan Pokdarwis, tetapi lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pokdarwis ini berada di Dusun Gelaran 1, Desa Bejiharjo. Akte Pendirian LSM No.33/ABH/LSM/III/ 2016/P.N.WNO dibuat didepan notaris Zaelani, SH dan telah disahkan oleh Pengadilan Negeri Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. LSM ini
12 Gito (Ketua), Yadi (Wakil), Ginto (Sekretaris), Anas, Dedi, Pram (Bendahara), Hendri, Pono, Wiharjo (Humas), Paijan, Muryono (Bidang Pemandu Wisata), Egan (Bidang Dokumentasi dan Informasi, Wanto, Heri (Keamanan), Manto, Hadi, Sami (Kebersihan dan Toilet)
commit to user
150
didirikan oleh Agung bersama Sakir, Sugi, Mulkan dan Pardi. Akte pendirian LSM ini memiliki visi memberdayakan dan menciptakan lapangan kerja. Sebagai LSM, menjadi salah satu unit pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan sumberdaya manusia melalui kegiatan pelatihan, camping dan outbond. Atas dasar tersebut SBM hanya mengajukan ijin kegiatan, tidak untuk mendapatkan ijin usaha wisata.
Untuk mengawali usaha ini, LSM ini menarik iuran dari para pendiri dan menggalang pendanaan dari warga sebagai pemodal. Permodalan pokarwis ini berasal dari 5 orang pendiri dan 5 orang investor. Terdapat 10 orang pemilik modal di Pokdarwis SBM13. Kemudian struktur di LSM juga merupakan struktur organisasi pemberdayaan dan ditambahkan dengan bidang-bidang yang terkait dengan kegiatan lainnya. Tambahan bidang ini memberikan peluang penyerapan tenaga kerja bagi warga sekitar dusun.
Dalam perkembangannya, kelompok ini lebih banyak melayani kunjungan wisata daripada menyelenggarakan acara pelatihan-memberdayakan masyarakat, melayani peserta untuk camping dan outbond. Bahkan saat ini, kantor sekretariat ini juga mempunyai loket karcis, ruang tunggu, ruang parkir, toilet dan fasilitas pendukung lainnya. Susunan ruang tidak berbeda dengan Pokdarwis lain. Akhirnya, meskipun berdiri sebagai LSM, masyarakat juga menyebutnya sebagai Pokdarwis SBM.
13 Agung, Sakir, Sugi, Mulkan dan Pardi (Pengurus LSM dan Pemodal) Setyo, Timan, Wadi, Diman dan Kadi (Pemodal)
commit to user
151 F. Pokdarwis Intrusi Modal Privat
F.1. Pokdarwis Kedung Gupit Adventure (KGA)
Pokdarwis KGA merupakan Pokdarwis paling terakhir yang memiliki kaitan dengan destinasi wisata Goa Pindul. Objek wisata Goa Pindul booming dari 2013 sampai sekarang. Prabowo adalah pegawai bank swasta di Kota Yogyakarta.14 Setiap pulang ke rumah asal di Dusun Karangmojo (Desa Bejiharjo), Prabowo didesak oleh warga sekitar rumah untuk membuka jasa wisata.
“Mbok kamu itu buka!” “Kenapa kok tidak buka?” “Kasihan kan yang warga- warga sini cuma buat lewat saja.” Seperti itu supaya sumber daya manusia sini biar pada kerja, banyak pengangguran di sini, akhirnya saya terus setiap saya pulang, “Biar pada kerja!” jangan cuma lewat aja, cuma sebagai penonton saja.
Prabowo terpanggil untuk menjawab keinginan dan semangat Warga Dusun Karangmojo. Prabowo memutuskan pulang dan mencari nafkah di kampung sendiri, di samping keinginan untuk mensejahterakan orang lingkungan daerahnya.
Akhir Tahun 2016, Prabowo mulai mengurus perijinan usaha wisata. Awalnya usaha itu dipersulit oleh Pokdarwis yang sudah lebih dulu berdiri. Selain itu, dia menghadapi masalah perizinan yang panjang prosesnya dan segala macam persyaratan.
Pada awalnya, Perizinan menggunakan Pokdarwis dan akhirnya perusahaan komanditer (CV). Dulu, pemerintah desa minta menggunakan Pokdarwis, tetapi ditolak pemerintah daerah. Sekarang ini ijin usaha wisata diminta tidak lagi Pokdarwis, tetapi harus menggunakan Commanditer Vennootschap atau CV. Dari
14 Prabowo juga pendukung dan pengurus berdirinya Taruna Wisata yang digerakkan bersama Ade.
Gagal masuk pada tahun 2014 karena ditolak perizinannya. Dia memulai dengan Pokdarwis KGA dan bisa masuk. Ada kemungkinan Prabowo mendapat permodalan dari Ade (dan atau saudara Ade, Zipo). Ini yang membuat pokdarwis ini memiliki pemodal tunggal.
commit to user
152
awal 2016 pun kelompok ini sebenarnya sudah mempunyai CV, tetapi ijin dipersulit dan diminta membuat Pokdarwis dan harus mempunyai destinasi. Sebenarnya semua orang tahu, selain Goa Pindul kunjungan wisata belum menarik. Akhirnya, kelompok menetapkan Goa Emas sebagai destinasi. KGA adalah pengelola wisata Goa Emas, meskipun kelompok hanya melayani wisata ke Goa Pindul. Penggunaan objek wisata tersebut sekedar akal-akalan untuk mendapatkan ijin usaha wisata.
Hampir semua Pokdarwis Agen menggunakan strategi seperti yang dilakukan KGA.
Kantor Sekretariat Pokdarwis KGA didirikan di tanah dan rumah milik warga yang berada di tepi jalan menuju Goa Pindul. Tanah tersebut milik Parman dan disewa selama 5 tahun. Nilai sewa tanah tersebut adalah Rp.12,5 juta.
Keseluruhan permodalan didapat dari Prabowo sendiri (Ketua), Pokdarwis mengelola kunjungan wisata, toko souvenir dan pakaian, tempat parkir dan toilet.
Unit usaha tersebut menjadi sumber pendapatan Pokdarwis. Warga sekitar mengusahakan rumah makan dan homestay yang disediakan sendiri.
F.2. Pokdarwis Ngancar Wisata (NW)
Pokdarwis NW merupakan bentuk baru pengembangan Pokdarwis.
Pokdarwis ini berdiri lebih dulu dibandingkan Pokdarwis KGA yang bersifat perorangan. Kelompok ini dianggap model baru, karena NW hanya melayani wisawatan yang dibawa oleh Haris. Haris adalah salah seorang pendiri Pokdarwis WW, tetapi Haris mundur dari kelompok WW dan mendirikan usaha wisata kuliner (Harris Culinary). Usaha kuliner ini dimiliki oleh Harris sendiri.
commit to user
153
Pokdarwis Ngancar Wisata (NW) diketuai oleh Ramiyan (warga Gelaran 2). Dalam struktur organisasi Pokdarwis, Harris menduduki posisi sebagai ketua bidang pemasaran wisata (marketing). Pokdarwis NW dan Pusat Kuliner Harris bekerjasama untuk saling menguntungkan, namun Harris menentukan perolehan hasil NW. Kunjungan wisata hampir semua dibawa oleh Harris sebagai pemasar wisata, jasa wisata dipaket dengan makan dan atau sekedar makanan ringan (snack) dari pusat kuliner. Keinginan wisatawan untuk mengunjungi objek wisata dilayani oleh Pokdarwis NW.
Kunjungan wisata melalui Harris-Pokdarwis NW mempunyai jangkauan yang luas. Di Kawasan Desa Bejiharjo, kunjungan paling banyak tetap ke Goa Pindul. Untuk memasuki Goa Pindul, Harris memanfaatkan NW dan masuk melalui kerjasama dengan Pokdarwis WW. Untuk masuk ke Goa Tanding, Pokdarwis NW bekerjasama dengan Pokdarwis Sadam Wisata. Ini merupakan terobosan baru dari agen wisata untuk mengubah “jebakan satu objek wisata Goa Pindul”15.
F.3. Pokdarwis Sadam Wisata (SW)
Pokdarwis Sadam Wisata (SW) mempunyai pola pengembangan kelembagaan yang hampir sama dengan relasi Harris dan Pokdarwis NW.
Pokdarwis SW mempunyai relasi kuat dengan Yono yang dijuluki sebagai Sadam Hussein di Dusun Gelaran II. Yono Sadam (YS) adalah pengusaha sukses dalam pengolahan daging sapi dan memiliki usaha warung bakso di beberapa tempat, baik di wilayah Kabupaten Gunungkidul maupun di luar Gunungkidul.
15Istilah ini digunakan oleh Harris untuk tidak terjebak pada hanya focus pada objek wisata Goa Pindul sebagai destinasi primadona. Sebagai operator wisata harusnya lebih terbuka untuk memanfaatkan objek-objek wisata di Desa Bejiharjo sesuai keinginan wisatawan.
commit to user