• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemerintah Sebagai Pengelola Usaha Wisata

G. Pengelolaan Pokdarwis dan Pelayanan Wisata

H.4. Forum Komunikasi Perpolisian Masyarakat: “Wabah Jongki Wisata”

I. Pemerintah Sebagai Pengelola Usaha Wisata

I.1. Badan Usaha Milik Desa (BUMes)

Badan Usaha Milik Desa berdiri atas inisiasi dari sejumlah Pokdarwis Agen wisata. Para Pokdarwis Agen mendesak pemerintah desa dan daerah untuk mendirikan BUMDes. Pemerintah Desa dan Kabupaten membentuk panitia pendirian BUMDes. Komite terdiri dari 21 orang terdiri dari semua Pokdarwis (kecuali KGA dan SW belum berdiri) sebanyak 10 orang, Badan Perwakilan Desa (BPD) sebanyak 9 orang dan 2 orang dari tokoh masyarakat. Ketua Tim adalah Badrun sebagai ketua BPD.

BUMDes diberi nama BUMDes Maju Mandiri. BUMDes Maju Mandiri menurut Peraturan Desa Nomor 6 Tahun 2016 mempunyai tujuan:

1. Mendorong perkembangan ekonomi masyarakat desa.

2. Mengoptimalkan aset desa agar bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

3. Mewujudkan kelembagaan perekonomian masyarakat desa yang mandiri, dan tangguh.

4. Meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD).

BUMDes juga mempunyai tugas dan fungsi untuk mengelola bidang usaha sebagai berikut:

1. Bidang Wisata. Desa Bejiharjo memiliki potensi wisata yang sudah diakui oleh banyak kalangan, seperti Goa Pindul, rafting Sungai Oyo, offroad dan lain-lain.

2. Pasar Desa. Pasar Bejiharjo merupakan salah satu Pasar Tradisional yang terletak di Pusat Pemerintahan Desa Bejiharjo, Karangmojo. Pasar ini berdiri sejak 50 tahun yang lalu dan memiliki luas sekitar 2000 m2.

3. Persewaan dan Event Organizer. Unit Persewaan di Bumdes Maju Mandiri menjalankan kegiatan persewaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat commit to user

185

saat ini yang meliputi sewa kios, tanah desa, meja dan kursi dan sewa alat pertanian.

4. Simpan Pinjam. BUMDes Maju Mandiri juga memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam urusan ekonomi, melayani simpan dana ataupun yang ingin meminjam dana ke bumdes akan membantu dalam mengatasi permasalahan ekonomi.

5. Pengolahan Sampah. Proses pengolahan sampah yang diterapkan di Bumdes Maju Mandiri antara lain Pengambilan/Pengumpulan Sampah, Pemilahan dan Pemisahan lapak dengan residu dilakukan ditempat, Pengangkutan ke TPA Bejiharjo, Pengumpulan Lapak yang sejenis

Pada bidang pariwisata sebagai fokus kajian ini, BUMDes mempunyai kewenangan untuk mengelola kawasan wisata air Goa Pindul. Berdirinya BUMDes mengakhiri pengelolaan destinasi objek wisata Goa Pindul oleh Pokdarwis Perintis.

Akibatnya, semua Pokdarwis (kecuali Pokdarwis SW) menjadi Pokdarwis Agen Wisata desa. Hal ini sangat menyakitkan bagi Pokdarwis Perintis yang diposisikan sebagai agen/operator, namun bagi Pokdarwis Agen, posisi ini membuat peluang untuk menaikkan daya saing mereka.

I.2. Polemik BUMDes: Proses Seleksi Meragukan

Proses seleksi pengurus BUMDes dilakukan dengan membentuk Tim Seleksi yang terdiri dari akademisi, pemerintah daerah, pemerintah desa, BPD dan tokoh masyarakat. Proses seleksi ditawarkan secara terbuka. Materi seleksi meliputi: tes psikologi, presentasi konsep pengembangan BUMDes dan wawancara. Dari proses seleksi, terpilih Sariyanto (MP) dan Agung (SBM) terpilih untuk menduduki posisi Direktur dan Wakil Direktur BUMDes. Bagi Pokdarwis Operator (POW), posisi ini diharapkan akan merepresentasi kepentingannya. Bagi commit to user

186

Pokdarwis Pengelola (PPW), posisi tersebut sudah diduga orang yang terpilih dan akan menyulitkan pengelola.

Pada kenyataannya, pokdarwis operator dan pengelola sama-sama meragukan kepemimpinan representatif. Kehadiran BUMDes dianggap menjadi suatu kelembagaan baru yang memenuhi harapan dan kebutuhan para pelaku wisata, terutama menyuarakan kepentingan para operator wisata. Namun, pandangan pokdarwis juga menyatakan kekecewaan. Pokdarwis pengelola telah kehilangan hak pengelolaan menyatakan bahwa kehadiran BUMDes tidak akan menyelesaikan masalah.

Bagyo, Ketua Pokdarwis Dewa Bejo mengatakan bahwa BUMDEs lebih memberikan kesempatan bagi ketua pokdarwis operator yang sering bikin masalah.

Hal ini disampaikan sebagai berikut:

Dari 21 anggota tim, saya menjadi perumus, sebenarnya untuk wisata itu harusnya tidak masuk tahun ini. Tahun ketiga dari program BUMDes. Baru wisata itu diadopsi pelan-pelan. Tapi tidak. Yang menjadi direkturnya itu ketuanya Mriwis Putih, yang menjadi wakilnya ketuanya SBM. Ya sudah. Orang-orang yang punya kepentingan yang sama pada awalnya tidak mau bekerja sama. Orang-orang yang dulu bermasalah menjadi Direktur dan Wakil (Wawancara Bagyo, 18 Januari 2019).

Menurut Bagyo, kebijakan ticketing tidak cukup menjawab kebutuhan pokdarwis. Hal ini bisa mengurangi pendapatan pokdarwis pengelola, dan akan menaikkan pendapatan pokdarwis operator. Namun, kenyataannya tidak terjadi, karena pokdarwis sendiri masih saling merebutkan wisatawan dan tergantung jongki-jongki. Seharusnya BUMDes mampu mengatur kunjungan agar terdistribusi merata dan menyusun kesepakatan menolak jongki. Dengan adanya BUMDes, commit to user

187

Pokdarwis malah dijadikan bulan-bulanan (bahan permainan) pelaku lain. Bahkan, jauh lebih penting seharusnya BUMDes mengembangkan objek-objek wisata yang lebih menarik, sehingga pariwisata menjadi tulang-pungung ekonomi desa.

Sebagian besar Pokdarwis POW yang mendesak kehadiran BUMDes juga mengalami situasi kekecewaan yang sama. Pokdarwis ini menyoroti terkait keberadaan BUMDes yang hanya memikirkan dapat hasil “uang” dari objek wisata yang sudah tinggi persaingannya. Asal dapat duit, tetapi tidak menjalankan tugasnya untuk mengembangkan wisata secara keseluruhan. Hal ini dikatakan oleh Ketua Mriwis Putih yang baru (Pokdarwis ini merupakan asal direktur BUMDes bekerja), Guntur:

Udah terlanjur mas ini. Nek menurut saya yo, BUMDes sendiri yo wes entuk duwite yo. Kalau dulu sebelum dapat uangnya yo koyo yak-yako nika. Tapi setelah dapet duitnya yo sekarang menurut saya yo biasa-biasa saja. Dan kalau menurut saya sebenarnya BUMDes seharusnya nggak langsung mungut tiket, tapi mikir kemajuan pokdarwis.

Pernyataan sejalan dengan pandangan Bagyo dan Guntur tersebut dipunyai hampir semua pokdarwis, hanya dengan nada dan tekanan yang beragam. Dengan BUMDes itu lahir, apakah memberikan pengaturan yang menguntungkan bagi semua ya?

Harapannya itu dari dan untuk semua operator. Namun demikian, jujur, sampai sekarang belum terasa. Sudah hampir 1,5 tahun belum terasa (Wawancara Sugito, Gelaran Indah, 17 Januari 2019).

Dulu BUMdes kan syaratnya harus berdiri netral. Tapi entah sekarang masih netral apa enggak yo saya kurang tau. Aku yo wis ora waton percoyo kan nek seperti itu. Tapi kalau dulu kan harus netral (Budihar, Ketua Pokdarwis Karya Wisata, 16 Januari 2019).

commit to user

188

Yang jelas kita kan udah berbadan hukum resmi pemerintah dengan adanya BUMDes. Tapi sentuhan-sentuhan dari BUMDes sendiri belum nyasar. Yang jelas, BUMDes sebagai mediator, kita perlu ketegasan BUMDes. Karena semaraknya pindul ini sekarang jadi liar…. Saya anggap liar. BUM Des belum bisa menertibkan (Sutikno, Ketua Pokdarwis Dewitaliman, 18 Januari 2019).

Menunggu dan melihat (wait and see) perkembangan dan kebijakan BUMDes adalah sikap yang diberikan untuk kehadiran BUMDes. Apabila peran BUMDes terlalu dominan menuju pada kepentingan desa, tidak memberikan pengaturan yang lebih baik atau bahkan merugikan pokdarwis, maka potensi perlawanan dari pokdarwis akan sangat tinggi. Masyarakat dan pokdarwis menunggu peran pemerintah melalui BUMDes akan lebih strategis dan bukan sekedar mengurus tiket adalah harapan semua pokdarwis.

Dokumen terkait