• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Persaingan/Kerjasama: dari Koopetisi menuju Kompetisi Bebas

Kemunculan pelaku-pelaku usaha wisata telah menyusun konfigurasi pelaku usaha dan menentukan struktur persaingan dalam domain pariwisata.

Berdirinya Pokdarwis Perintis, Pokdarwis gagal masuk, Pokdarwis Agen, Pokdarwis privat dan kelompok pelaku usaha lain (BUMDes, Jongki Wisata dan Pemasar Daring) membentuk pola kerjasama dan persaiangan yang dinamis dan terus berubah.

Bentuk persaingan antar pelaku usaha wisata berlapis-lapis dan multi domain. Secara umum persaingan terdiri dari persaingan ekonomi, sosial dan politik yang cenderung berubah-ubah mengikuti kejadian dan waktu. Persaingan ekonomi mempunyai lebih banyak kejadian, namun setiap persaingan terkait langsung dan tidak langsung dengan Pokdarwis Perintis. Persaingan pada domain

commit to user

189

pasar kunjungan wisatawan adalah kejadian yang paling biasa dalam usaha wisata dan berubah sejalan dengan pertumbuhan jumlah Pokdarwis yang muncul. Pada tahap awal (2010-2012), persaingan antar Pokdarwis Perintis bersifat koopetisi dimana keempat Pokdarwis Perintis bekerja bersama dalam membagi pelayanan kunjungan, seperti jumlah pengunjung yang dilayani, harga dan giliran kunjungan masuk objek wisata dan berbagi biaya umum bersama. Meskipun mereka berbagi sumberdaya dalam melayani kunjungan wisata, mereka juga bersaing dalam mempromosikan, memasarkan dan merekrut wisatawan. Mereka yang memiliki akses pasar cenderung memenangkan persaingan, namun antar mereka tidak terjadi kesenjangan dalam hasil perolehan kunjungan wisatawan. Pokdarwis Perintis sebagain besar memiliki sistem pemasaran daring (online) yang dirintis oleh kaum muda milenial terpelajar yang dipekerjakan.

Terdapat semangat berbagi di antara Pokdarwis Perintis, karena mereka menyadari bahwa hak-hak kepemilikan atas objek wisata bersifat komunal (common property rights), dan berpotensi menimbulkan persaingan pada proses dan giliran berikutnya. Kenyataan ini terjadi dalam domain ekonomi yaitu persaingan hak kepemilikan sumberdaya bersama (objek wisata). Realitas ini muncul dan mendominasi kejadian sejak 2013-2017 (Februari) dan menghantui pengembangan wisata berbasis komunitas. Persaingan ini membentuk lapisan berbeda dari pasar kunjungan wisata, karena melibatkan struktur pemerintah, komunitas, Pokdarwis Perintis dan pemilik tanah (yang ingin masuk dan mengklaim usaha wisata). Persaingan yang tinggi melibatkan struktur dan komunitas ini membentuk sengketa dan konflik sumberdaya alam. Dukungan komunitas yang kuat pada Pokdarwis Perintis, disertai dukungan komunitas pada

commit to user

190

Pokdarwis yang dibentuk oleh kekuatan pemodal privat/pemlik tanah membuat Pokdarwis yang dianggap mementingkan diri-sendiri gagal masuk. Persaingan hak-hak kepemilikan diambil alih oleh struktur, sehingga menjadi konflik struktur.

Sengketa diselesaikan dengan keputusan tidak inkrah (SP3 dan penolakan kasasi) tanpa persidangan pengadilan.

Dukungan komunitas yang signifikan dalam menyelesaikan persaingan sumberdaya wisata mendorong partisipasi pendirian Pokdarwis baru. Lembaga Pokdarwis Perintis ditiru dan digandakan warga komunitas secara meluas. Imitasi lembaga hal yang paling lumrah dalam interaksi komunitas membentuk Pokdarwis baru yang tidak sama persis. Munculnya kelompok Pokdarwis Agen dapat dijelaskan melalui proses imitasi ini. Mereka tidak sama dengan Pokdarwis Perintis dalam aspek norma, nilai, semangat berbagi/distribusi, keahlian, inovasi dan manajerial. Kemunculan mereka membentuk struktur baru dalam usaha wisata.

Mereka agen dari Pokdarwis Perintis karena tidak memiliki indepedensi usaha wisata. Pada awal pertumbuhan Pokdarwis Agen, sistem ngesub diterima sebagai model kerjasama antara Pokdarwis Perintis dan Pokdarwis Agen. Namun, dalam perkembangnya kerjasama ini bersifat asmiteris dan merugikan Pokdarwis Agen.

Masalah itu terjadi karena Pokdarwis Agen bersifat medioker. Pada aspek objek wisata yang ditawarkan, mereka tergantung Pokdarwis Perintis. Pada aspek pasar, ketergantungan tinggi pada Jongki Wisata. Kenyataan ini membuat ketidaksuksesan kelompok medioker ini. Ketidaksuksesan itu terletak pada usaha mengembangkan usaha wisata, merasa selalu dirugikan Pokdarwis Perintis dan tidak berdaya dihadapan Jongki wisata.

commit to user

191

Tabel 5.8. Perkembangan Bentuk Kerjasama dan Persaingan di bawah Pegeseran Hak-Hak Kepemilikan dan Keragaman Kelompok Usaha Wisata Tahun 2010-2018

Sumber: Data primer diolah, 2019

commit to user

192

Di sinilah persaingan dalam domain politik muncul. Ketidakmampuan Pokdarwis Perintis mengkompensasi ketidaksuksesan Pokdarwis Agen mengakibatkan terbentuknya kekuatan koalisi Pokdarwis Agen. Koalisi adalah bentuk kerjasama antar kelompok untuk menyusun startegi mengurangi dominasi (Pokdarwis Perintis). Koalisi agen dibentuk dengan nama Forum Pokdarwis Operator Wisata (FPOW). Koalisi diterima secara meluas, setidaknya satu Pokdarwis Perintis (KW) juga ikut dalam koalisi ini. Dengan pindahnya satu Pokdarwis Perintis, jumlah anggota forum bersifat mayoritas. Kekuatan mayoritas ini mengusulkan pengelolaan Kembali oleh pemerintah desa. Akhirnya, mereka berhasil memperjuangkan berdirinya BUMDEs dan menempatkan orang-orang mereka dalam kepengurusan BUMDes.

Keberadaan BUMDes memproduksi polemik. Semua Pokdarwis berada di bawah pengaturan dan pengendalian BUMDes. Kenyataan ini menyusun persaingan antara semua Pokdarwis Perintis dan agen yang semakin tidak sehat dan membuat semua Pokdarwis semakin tidak bergairah mengembangkan usaha mereka. Namun, kesempatan ini membuat Pokdarwis privat semakin diuntungkan.

Mereka mempunyai destinasi yang eksklusif dan menjadi alternatif baru bagi usaha wisata di komunitas.

K. Kesimpulan

Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, tujuh proposisi dapat diinduksi dari hasil empiris penelitian ini. Pertama, catatan lini masa perkembangan CBT atau sering disebut sebagai Pokdarwis bisa dirangkum ke dalam pembabakan berikut. Babak pertama, dalam kurun waktu 2010-2013, adalah era ketika empat

commit to user

193

Pokdarwis kali pertama muncul sebagai pengelola obyek Wisata Goa Pindul.

Keempat Pokdarwis tersebut adalah DB, WW, PW, dan TW. Dalam kurun waktu itu keempat Pokdarwis itu bisa dispesifikasi sebagai Pokdarwis Perintis karena memiliki karakteristik pendirian yang bersifat inklusif yang dicirikan dengan mengedepankan kekuatan musyawarah, pemberdayaan, kooperatif, kolektif, partisipatif, distributif, inovatif, dan terbuka. Babak kedua, kurun tahun waktu 2012-2018, mulai muncul enam Pokdarwis Agen yang meliputi KW, MP, DT, GI, SBM, dan KGA. Pokdarwis Agen itu berperan membantu jalannya operasionalisasi pemasaran Pokdarwis Perintis. Meskipun tahun berdirinya tidak bersamaan, namun karakteristik Pokdarwis Agen ini relatif berbeda dengan Pokdarwis Perintis dalam sifat inklusinya. Selain tidak memiliki pengelolaan destinasi wisata, Pokdarwis Agen berciri cenderung tidak distributif, tidak inovatif, dan derajad partisipasi anggotanya rendah. Babak ketiga, kurun waktu 2015-2016, muncul tiga “Pokdarwis Terintrusi Modal Privat” (bisa juga diistilahkan sebagai “Pokdarwis Semu”) yang meliputi NW, SW, dan SSW. “Pokdarwis Semu” ini dicirikan sebagai Pokdarwis yang memiliki obyek wisata baru yang eksklusif berupa Taman Kuliner dan Goa Tanding. Sangat bertolak belakang dengan Pokdarwis Perintis, karakter paling menyolok dari “Pokdarwis Semu” ini bersifat eksklusif dan mengedepankan akumulasi kapital individualistik meskipun mereka berada di tanah milik bersama.

Kedua, berpijak dari catatan dinamika perkembangan di atas, penjelasan

konseptual tentang institusi Pariwisata Berbasis Komunitas (Community Based Tourism/CBT) bisa dipertajam dalam catatan berikut. Dalam konteks Indonesia, CBT lebih dikenal sebagai kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pada hakekatnya, CBT merupakan institusi wisata berbasis komunitas yang hak-hak kepemilikannya

commit to user

194

bersifat kolektif-kolegial. Pada awalnya Pokdarwis merupakan institusi yang bersifat inklusif. Hal tersebut direpresentasi oleh dinamika perintisan, pendirian, pengembangan dan pengelolaan CBT yang berorientasi pada partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam lingkup komunitas. Pokdarwis Perintis merupakan organisasi wisata yang mampu melakukan pemberdayaan dan partisipasi komunitas lokal. Pokdarwis Perintis berperan sebagai ruang belajar bersama (pasinaon), pelatihan, sarana solidaritas sosial, sarana implementasi etika sosial komunitas, mempertemukan para pemangku kepentingan dan arena baru melakukan adopsi dan inovasi dalam pelayanan wisata. Kondisi Pokdarwis yang inklusif ini bisa berlangsung dan bertahan selama hampir lima tahun (2010-2015).

Ketiga, Pokdarwis Perintis berhasil menegakkan dan melindungi hak-hak

kepemilikan bersama (common property rights). Namun dalam perkembangannya, dinamika perubahan Pokdarwis tak terhindarkan. Persaingan penguasaan hak-hak kepemilikan sumberdaya bersama mulai terus berlangsung antara Pokdarwis Perintis dan pemilik tanah dalam mengelola objek wisata. Berkat dukungan solidaritas komunitas Pokdarwis Perintis mampu mempertahankan dan melindungi hak-hak kepemilikan sumberdaya bersama (common property rights) berupa tanah di obyek wisata dari pengambil-alihan kekuasaan dan kepentingan hak-hak kepemilikan privat selama kurun waktu lima tahun tersebut.

Keempat, dalam perkembangannya Pokdarwis Perintis yang bersifat

inklusif tersebut mulai bergeser menjadi cenderung bersifat eksklusif sejak perkembangan lembaga-lembaga komunitas terjadi melalui proses-proses imitasi atau meniru, mencontoh, dan mengikuti apa saja yang dimiliki oleh Pokdarwis Perintis. Proses meniru memunculkan Pokdarwis baru. Pokdarwis baru ini dikenal

commit to user

195

sebagai Pokdarwis Agen, karena memiliki perbedaan karekteristik inklusinya.

Dalam situasi terakhir ini, kepentingan pemodal privat bahkan telah memunculkan Pokdarwis yang bersifat eksklusif ditandai dengan intrusi modal privat atau privatisasi Pokdarwis, dominasi oleh pengurus, dan tercerabut dari akar sosial komunitas.

Keempat, pemeriksaan lebih mendalam pada aspek menajerial, tiga model

Pokdarwis tersebut menampilkan karakteristik inklusivitas yang berbeda.

Perkembangan kelompok-kelompok usaha wisata tersebut membentuk pola struktur kelembagaan yang dapat dibedakan menjadi tiga kategori. Kategori tersebut adalah Pokdarwis Perintis yang bersifat inklusif, Pokdarwis Agen yang bersifat medioker dan Pokdarwis Privat yang bersifat eksklusif.

Kelima, karakteristik lembaga yang berbeda membentuk persaingan pada

domain ekonomi, sosial dan politik yang berlapis-lapis. Persaingan antar kelompok cenderung menunjukkan kondisi yang semakin tidak sehat pada semua domain tersebut. Persaingan tersebut setidaknya terjadi dalam lima lapisan berikut:

(1) Kontestasi antara Kelompok Perintis. Pada lapisan ini persaingan bersifat koopetisi dimana keempat Pokdarwis Perintis bekerja bersama dalam membagi pelayanan kunjungan, seperti jumlah pengunjung yang dilayani, harga dan giliran kunjungan masuk objek wisata dan berbagi biaya umum bersama. Biaya bersama meliputi koordinasi antar mereka, menguatkan pemerintah, pengerahan massa dan membayar kepolisian untuk menegakkan aturan ditanggung mereka secara bersama.

(2) Persaingan antara Pokdarwis Perintis dan Pokdarwis yang gagal masuk dalam destinasi wisata. Dalam menghadapi persaingan menegakkan

commit to user

196

hak-hak kepemilikan bersama, terjadi persaingan untuk mendapatkan dukungan komunitas (domain sosial). Pokdarwis Perintis mempunyai kekuatan solidaritas dan dukungan komunitas yang lebih kuat dan berhasil menghentikan langkah kekuatan kepemilikan privat.

(3) Kontestasi antara Pokdarwis Perintis dan Pokdarwis Agen. Kelompok perintis yang inklusif dan kelompok medioker membentuk persaingan yang tidak seimbang. Pada domain ekonomi, persaingan cenderung tidak sehat ditandai oleh perang harga, saling serobot kunjungan wisatawan, hingga saling serobot antrian kunjungan wisatawan masuk ke obyek wisata.

(4) Persaingan pada domain politik antara Pokdarwis Perintis dan Pokdarwis Agen. Kekalahan persaingan Pokdarwis Agen di pasar wisata menggeser persaingan pasar menjadi persaingan politik sebagai domain persaingan. Hal tersebut dicerminkan oleh terbentuknya koalisi Pokdarwis Agen (kekuatan mayoritas) untuk menumbangkan inklusivitas Pokdarwis Perintis. Terbentuknya BUMDes merepresentasikan kemenangan psikologis Pokdarwis Agen, yang berujung pada runtuhnya rezim Pokdarwis Perintis. Dengan kata lain, terjadi kegagalan menegakkan dan melindungi hak-hak kepemilikan bersama pada pihak Pokdarwis Perintis. Kemenangan Pokdarwis Agen nampak semu, karena BUMDes melahirkan polemik dan kekecewaan pada Pokdarwis Agen dan Pokdarwis Perintis. Hal tersebut ditampilkan pada peran BUMDes yang belum/tidak memberikan manfaat bagi dirinya. BUMDes memburu kepentingan ekonomis bagi dirinya melalui

commit to user

197

pemberlakuan sistem ticketing tunggal untuk objek-objek wisata komunitas. Pada sisi lain, kehadiran BUMDes justru mengambil-alih pengelolaan, pengenaan sistem ticketing yang merugikan dan tidak menggairahkan bagi bisnis Pokdarwis Perintis maupun Pokdarwis Agen. Persaingan Pokdarwis Perintis dan Pokdarwis Agen mendadak terhenti dan stagnan.

(5) Persaingan Pokdarwis Perintis ataupun Pokdarwis Agen terhadap Pokdarwis Privat. Kedua kelompok ini bersifat saling menutup diri (mutually exclusive), sehingga persaingan tidak bersifat langsung. Hal tersebut dapat dijelaskan melemahnya gairah persaingan usaha Pokdarwis Perintis atau Pokdarwis Agen memberikan peluang dan akses kepada Pokdarwis Privat memperoleh ruang alternatif kunjungan wisata.

(6) Persaingan antar agen pemasar daring dan Jongki Wisata membentuk dualisme agen wisata akibat menjamurnya penggunaan media teknologi informasi. Hal itu dijelaskan dalam penjelasan catatan kesimpulan nomor enam berikut ini.

Keenam, kemunculan agen pemasaran online dan Jongki Wisata pada

awalnya memperkuat akses pasar wisata bagi Pokdarwis Perintis dan/atau Pokdarwis Agen. Namun kekuatan promosi pemasaran melalui media teknologi informasi yang dimiliki Pokdarwis Agen menciptakan realitas yang terbelah. Di satu sisi, Pokdarwis Agen mengandalkan keahliannya dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk pemasaran daring. Sehingga Pokdarwis Agen ini lebih banyak bekerjasama dan menguatkan Pokdarwis Perintis dan Pokdarwis Privat.

commit to user

198

Dukungan agen pemasaran daring ini jelas mengukuhkan posisi Pokdarwis Perintis sebagai pemain utama/sentral dalam permainan (core in the game). Sementara di sisi lain, Jongki Wisata menguatkan dan menjadi perpanjangan agen-agen Pokdarwis Agen yang melakukan pemasaran sendiri pula secara daring. Dengan kata lain, kelompok Jongki Wisata ini lebih banyak bekerjasama dan mendukung Pokdarwis Agen. Sehingga Pokdarwis Agen lebih berposisi sebagai pemain di wilayah pinggiran (skin in the game). Untuk menjaring konsumen (wisatawan), kelompok Jongki Wisata itu menempuh pemasaran langsung di jalanan dengan cara menghadang para wisatawan di jalur menuju objek wisata. Berciri sebagai tenaga-tenaga kerja yang tak berketrampilan (unskilled labour), orang-orang yang bekerja sebagai Jongki Wisata itu mesti berkompetisi sengit melalui baku cekatan dalam memperebutkan konsumen.

Ketujuh, eskalasi peningkatan jumlah Pokdarwis Agen tentu saja

menyebabkan terjadinya “epidemi agen” daring maupun Jongki Wisata yang kian memperburuk tingkat persaingan antar mereka. Epidemi agen menciptakan ketidaksempurnaan informasi (asymmetric information) pada kedua agen dan menyebabkan persaingan harga pelayanan wisata yang tidak terstandarisasi.

Kondisi serupa terjadi pula dalam persaingan antar Jongki Wisata di jalanan.

Namun bila ditilik dari aspek kerugian, Jongki Wisata jauh lebih besar menanggung kerugian dalam persaingan tersebut. Pasalnya, Jongki Wisata mesti menanggung setoran yang semakin besar kepada institusi penanggungjawab (FKPM).

commit to user

Dokumen terkait