• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Metode Penelitian. pengungkapan Sustainability Reporting pada pemerintah daerah di Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. A. Metode Penelitian. pengungkapan Sustainability Reporting pada pemerintah daerah di Indonesia."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

35 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini akan menguji faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan Sustainability Reporting pada pemerintah daerah di Indonesia.

Terdapat 2 (dua) variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel dependen dan independen dengan menggunakan data sekunder. Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah disampaikan sebelumnya, penelitian ini menggunakan pendekatan ilmiah dan teori dalam mengembangkan hipotesis penelitian, selanjutnya dilakukan pengujian secara kuantitatif. Pengujian dilakukan dengan aplikasi statistik SPSS untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

B. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini menggunakan seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia yang berjumlah 514, terdiri dari 416 Kabupaten dan 98 Kota (data Kemendagri). Teknik sampling diperlukan dalam pengambilan sampel sehingga karakteristik sampel dapat digeneralisasikan pada populasi. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling, dimana penentuan sampel dilakukan dengan tujuan tertentu. Pertimbangan yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

(2)

1. Pemerintah Kabupaten/Kota yang telah diaudit oleh BPK dan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk periode pelaporan keuangan tahun 2015. Hal ini didasarkan asumsi bahwa Pemerintah Daerah yang memperoleh opini WTP mampu menyampaikan laporan mandatory, sehingga ada kemungkinan mampu pula untuk mengungkapkan laporan voluntary.

2. Pemerintah Kabupaten/Kota yang memiliki website sendiri dan bisa diakses, sebab data utama penyampaian informasi Sustainability Reporting bersumber website tersebut.

Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I tahun 2016 yang diterbitkan oleh BPK, terdapat 282 Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang memperoleh opini WTP . Pemerintah Daerah yang memiliki website berdasarkan publikasi Kementerian Dalam Negeri yaitu 480 Pemerintah Kabupaten/Kota. Dari jumlah 282 Pemerintah Daerah tersebut, terdapat 6 Pemerintah Daerah yang tidak mempunyai website dan 20 website Pemerintah Daerah yang tidak aktif (offline, perbaikan, maupun diretas), sehingga sampel akhir yang digunakan adalah 256 Kabupaten/Kota.

C. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Sumber data untuk menghitung Indeks Sustainability Reporting adalah konten berita atau informasi yang disediakan oleh website Pemerintah Daerah yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Data lain

(3)

Pemerintah Daerah tahun 2015 yang telah diaudit oleh BPK untuk variabel ukuran Pemerintah Daerah (size), penghargaan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang diolah dari berbagai sumber sebagai data penghargaan (award), data rata-rata lama sekolah dari Badan Pusat Statistik untuk variabel lama pendidikan (education), serta status daerah (Kabupaten/Kota) dari publikasi Kementerian Dalam Negeri untuk mengukur variabel status daerah (type).

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Penelitian ini menggunakan variabel dependen dan variabel independen.

Pengukuran variabel merupakan bagian dari penelitian dan aspek penting yang mempengaruhi penelitian. Definisi operasional dan pengukuran variabel dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Sustainability Reporting Index

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sustainability Reporting Index. Item yang digunakan untuk menyusun indeks mengacu pada penelitian Joseph dan Taplin (2011) dan Ribeiro et al. (2016). Item informasi pengungkapan dikumpulkan kemudian dilakukan analisis untuk disesuaikan dengan karakteristik yang sesuai dengan wilayah Indonesia sehingga diperoleh jumlah pernyataan indeks adalah 19 (indeks terlampir). Perbandingan penggunaan indeks dalam penelitian ini dengan penelitian sebelumnya dapat dilihat pada tabel berikut :

(4)

Tabel 2

Pembagian Kategori Indeks

No. Kategori Joseph & Taplin (2011)

Ribeiro et al.

(2016)

Pernyataan yang digunakan

1 Umum - 10 5

2 Ekonomi 17 9 5

3 Sosial 20 13 5

4 Lingkungan 20 14 4

Jumlah 57 46 19

Sumber : olah data penulis

Pemerintah daerah yang mengungkapkan informasi pada masing-masing kategori, diberi nilai 1, yang tidak mengungkapkan diberi nilai 0. Mengacu pada Ribeiro et al (2016), maka penghitungan indeks pada masing-masing kategori digunakan rumus sebagai berikut :

Dalam hal ini:

ID : Information Disclosure Index x : Kategori

j : Pemerintah Daerah

in : Jumlah informasi dalam kategori tersebut

Total Indeks dari Pemerintah daerah dilakukan dengan menjumlahkan masing- masing kategori dengan pembobotan yang proporsional (Ribeiro et al 2016), yaitu:

SRIj = 25% GDIj + 25% EcDIj + 25% SDIj + 25% EnDIj

(5)

dimana SRI adalah Sustainability Reporting Index, j adalah Pemerintah Daerah, G adalah kategori umum, Ec adalah kategori ekonomi, S adalah kategori sosial, dan En adalah kategori lingkungan.

2. Ukuran Pemerintah Daerah (size)

Ukuran Pemerintah Daerah (size) menggambarkan seberapa besar pemerintah daerah tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Ribeiro et al (2016) dalam penelitiannya, bahwa ukuran daerah bisa diukur dengan berbagai kriteria.

Penelitian ini menggunakan realisasi anggaran sebagai kriteria dalam mengukur variabel ukuran Pemerintah Daerah. Realisasi anggaran yang disampaikan dalam bentuk laporan oleh pemerintah pusat/daerah menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD. Realisasi anggaran yang digunakan adalah realisasi anggaran neto yang disampaikan dalam Laporan Keuangan tahun 2015 masing-masing pemerintah daerah yang telah diaudit oleh BPK.

3. Penghargaan (award)

Pemerintah daerah mendapatkan penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kinerja yang dilakukannya. Semakin banyak penghargaan yang diperoleh pemerintah Daerah menunjukkan semakin banyak pembangunan yang telah dilakukan sebagai upaya mewujudkan pelayanan publik. Penghargaan diberikan kepada Pemerintah Daerah berdasarkan kriteria tertentu. Variabel penghargaan dalam penelitian ini menggunakan penghargaan yang diterima oleh pemerintah dalam bidang ekonomi pembangunan, sosial budaya, dan pengelolaan lingkungan di daerahnya masing-masing. Pemerintah Daerah yang memperoleh penghargaan diberi nilai 1 untuk setiap penghargaan yang diperoleh. Untuk penghargaan yang

(6)

diberikan secara bertingkat diberikan nilai tertinggi sesuai dengan tingkatan yang ada. Data yang digunakan adalah data terbaru penghargaan yang diterima dalam kategori tersebut. Jenis penghargaan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : a. Satya Lencana Pembangunan

b. Satya Lencana Wirakarya

c. Bhakti Koperasi dan Usaha Kecil Menengah d. Evaluasi Pelayanan Publik

e. Inovasi Pelayanan Publik f. Anugerah Pangripta Nusantara g. Swastisaba

h. Manggala Karya Bakti Husada i. BKN Award

j. Kawastara Pawitra

k. Anugerah Parahita Ekapraya (Pratama, Utama, Madya, Mentor) l. Kota Layak Anak (Nindya, Madya, Pratama)

m. Wahana Tata Nugraha n. Nirwasita Tantra o. Penghargaan Energi p. Adipura Buana q. Adipura Kirana r. Adipura Paripurna

(7)

4. Lama Pendidikan (education)

Pendidikan merupakan hal penting dalam mewujudkan pembangunan di Indonesia. Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan menjadi bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dalam Nawacita. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator yang digunakan dalam mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (BPS 2017). Komponen yang digunakan sebagai salah satu variabel untuk menghitung IPM adalah dimensi pendidikan berupa rata-rata lama sekolah (RLS). Rata-rata lama sekolah merupakan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Variabel lama pendidikan dalam penelitian ini diukur dengan rata-rata lama sekolah (RLS) yang dipublikasikan oleh BPS. Ribeiro et al. (2016) mengukur tingkat pendidikan dengan jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan tinggi.

5. Status Daerah (type)

Pemerintah daerah di Indonesia dibedakan menjadi 2 macam, yaitu Kabupaten dan Kota. Variabel status daerah diukur dengan pemberian nilai, untuk Pemerintah Daerah yang berstatus Kota diberi nilai 2 dan untuk Pemerintah Daerah Kabupaten diberi nilai 1. Hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa kontrol sosial pada penduduk kota cenderung lebih kuat, sehingga Pemerintah Daerah yang berstatus sebagai Kota akan cenderung mematuhi standar akuntansi (Suhardjanto dan Yulianingtyas 2011).

(8)

D. Cara Pengumpulan Data

Pengumulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui analisis isi (content analysis). Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis surat kabar, website, iklan, rekaman wawancara, dan sejenisnya. Untuk melakukan analisis isi website, isi/teks di dalamnya dikodekan ke dalam kategori dan kemudian dianalisis.

Penghitungan Sustainability Reporting Index dilakukan dengan melihat konten yang ditampilkan dalam website masing-masing pemerintah daerah. Pemerintah daerah yang menyampaikan informasi sesuai dengan item pertanyaan dalam indeks diberi nilai 1, yang tidak menyampaikan diberi skor 0. Data dari masing- masing kategori kemudian dijumlahkan dan dirata-rata per kategori . Kemudian untuk mengetahui indeks masing-masing kabupaten/kota digunakan rumus yang sudah disampaikan sebelumnya.

Informasi mengenai realisasi anggaran yang digunakan dalam variabel ukuran pemerintah (size) daerah berasal dari Laporan Realisasi Anggaran yang terdapat dalam Laporan Keuangan masing-masing Pemerintah Daerah. Variabel penghargaan (award) berasal dari publikasi Kabupaten/Kota penerima penghargaan yang diolah dari berbagi sumber, Rata-rata lama sekolah (RLS) sebagai komponen dalam mengukur lama pendidikan (education) diperoleh dari situs BPS. Variabel status daerah (type) yang dihitung dengan membedakan antara Kota dan Kabupaten berasal dari publikasi yang ada di website Kementerian Dalam Negeri.

(9)

E. Metode Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model regresi linier berganda untuk menguji pengaruh atas variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis dilakukan untuk melihat pengaruh variabel ukuran pemerintah daerah (size), penghargaan (award), lama pendidikan (education), dan status daerah (type) terhadap variabel Sustainability Reporting Index.

1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif ini digunakan untuk memberikan gambaran data secara umum, yang meliputi nilai maksimum, nilai minimum, dan keterangan lainnya.

Tujuannya adalah agar pihak yang membaca hasil penelitian bisa memiliki gambaran data dan obyek penelitian secara statistik.

2. Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas.

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali 2011:160). Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal. Untuk menguji data yang berdistribusi normal maka digunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Penentuan normal tidaknya data ditentukan dengan cara melihat nilai signifikansinya, apabila nilai probabilitas > 0,05 maka data berdistribusi normal, sebaliknya jika probabilitas < 0,05 maka data terdistribusi tidak normal.

(10)

b. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (Ghozali 2011: 105).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Deteksi adanya multikolinearitas adalah besaran VIF (Variance Inflation Factor), jika nilai VIF di atas 10 atau nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 maka dalam model regresi berganda terjadi multikolinieritas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali 2011:139). Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain terdapat kesamaan/tetap maka disebut homoskedastisitas, sebaliknya jika terdapat perbedaan disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Deteksi adanya heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan terjadinya heteroskesdasitas.

Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu y, maka tidak terjadi heteroskesdasitas.

d. Uji Hipotesis

Model regresi linier berganda digunakan dalam penelitian ini untuk menguji

(11)

berupa koefisien untuk masing-masing variabel independen. Koefisien tersebut didapatkan dengan memprediksi nilai variabel dependen dengan suatu persamaan.

Model Regresi yang diajukan yaitu :

SRI = α + β1 size + β2 award +β3 educ + β4 type + e Dalam hal ini:

SRI = Sustainability Reporting Index Size = Ukuran pemerintah daerah (size) award = Penghargaan (award)

Educ = Lama pendidikan (education) Type = Status pemerintah daerah (type)

α = Konstanta

β = Koefisien

e = error

Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari nilai Goodness of Fit (Ghozali 2011:97). Hal tersebut dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F dan nilai statistik t. Perhitungan akan menghasilkan nilai yang signifikan jika berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak), dan sebaliknya juga jika berada dalam daerah dimana Ho diterima maka hal tersebut menunjukan tidak signifikan.

1. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali 2011:97). Nilai dari koefisien determinasi berada pada range 0 sampai 1, jika nilainya kecil menandakan bahwa kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang

(12)

besar berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

2. Uji Pengaruh Simultan (F test)

Uji Statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat (Ghozali 2011:98). Uji F adalah pengujian kelayakan model (Gani dan Amalia 2015).

Model yang layak adalah model yang bisa digunakan untuk mengestimasi populasi. Untuk penilaiannya adalah dengan melihat probability (F- statistic), jika mempunyai nilai kurang dari 5% maka artinya variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.

Sebaliknya juga, apabila nilai probability (F-statistic) lebih dari 5%, artinya bahwa variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

3. Uji Parsial (t test)

Uji statistik t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali 2011:98). Untuk penilaiannya adalah dengan melihat nilai probability, jika mempunyai nilai kurang dari 5% maka artinya setiap variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Sebaliknya, apabila nilai probability lebih dari 5%, artinya bahwa setiap variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang dapat diambil adalah perbandingan jumlah hijauan dan konsentrat serta teknik pemberian konsentrat berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah produksi

ebagian besar perubahan pada gen dapat diidentifikasi sehingga struktur dan sifat perubahan gen ini dapat digunakan sebagai penanda molekul ganas, struktur dan sifat perubahan gen

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan di Posyandu Temuireng 10 Sorosutan Umbulharjo Yogyakarta didapatkan 10 ibu yang mempunyai bayi,

Rancang bangun sistem Smart Charging robot 6WD menggunakan panel surya berbasis mikrokontroler Atmega 2560 sudah dapat melakukan pengisian baterai dengan sumber energi dari

Kerangka Regulasi ini berisikan gambaran umum mengenai kerangka regulasi yang sudah ada dan regulasi yang diperlukan Daerah dalam pelaksanaan tugas, fungsi, serta

Masyarakat dalam hal ini diminta kesadarannya untuk membuat SIM apabila pengemudi atau pengguna kendaraan tersebut ingin mengemudikan kendaraannya.Tingkat kesadaran

3.1 Menggali informasi dari teks laporan informatif hasil observasi tentang perubahan wujud benda, sumber energi, perubahan energi, energi alternatif, perubahan iklim dan cuaca,

Operasional : Merujuk kepada ciri-ciri personaliti yang dipilih dalam kajian ini iaitu ciri personaliti ekstrovet, ketahanan, mengawal, menolong, agresif, autonomi,