• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM PENGELOLAAN KEKERASAN DI TEMPAT KERJA

N/A
N/A
Ahmad Junaidi

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM PENGELOLAAN KEKERASAN DI TEMPAT KERJA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRAM PENGELOLAAN KEKERASAN DI TEMPAT KERJA

UPTD RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DINAS KESEHATAN

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

(2)

BAB I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu wilayah yang menjadi sorotan perlindungan staf terhadap kekerasan fisik adalah pada lingkungan kerja. Memang belum banyak kajian komprehensif tentang praktek tindak kekerasan di rumah sakit. Tetapi kenyataan yang muncul terutama di media massa banyak kasus kekerasan terjadi terhadap staf adalah salah bentuk perlakuan secara fisik, atau emosional atau lainnnya yang mengakibatkan gangguan nyata ataupun potensial terhadap perkembangan kesehatan dan kelangsungan hidup staf rumah sakit ataupun terhadap martabatnya dalam kontek hubungan yang bertanggung jawab kepercayaan atau kekuasaan.

Kekerasan di rumah sakit dapat dilakukan oleh siapa saja dari staf ke staf atau pun dari pasien maupun keluarga pasien. Kekerasan pada staf belakangan ini terjadi dengan dalih mendisiplinkan staf dan tidak jarang budaya ini dijadikan alasan menutupi kekerasan terhadap staf tersebut. Bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap staf antara lain memukul dengan tangan kosong, atau benda tumpul, melempar, mencubit, menampar, mencekik, menyundut rokok, memarahi dengan ancaman kekerasan, pelecehan seksual.

Kekerasan fisik adalah setiap tindakan yang di sengaja atau penganiayaan secara langsung merusak integritas fisik maupun psikologis korban, ini mencakup memukul, menendang, menampar, mendorong, menggigit, mencubit, pelecehan seksual, dan lain-lain yang dilakukan baik oleh pasien, staf maupun oleh penunjang.

Kekerasan psikologis termasuk ancaman fisik terhadap individu atau kelompok yang dapat mengakibatkan kerusakan pada fisik, mental, spiritual, moral atau sosial termasuk pelecehan secara verbal. Menurut Atkinson, tindakan kekerasan adalah perilaku melukai orang lain, secara verbal (kata-kata yang sinis, memaki dan membentak) maupun fisik (melukai atau membunuh) atau merusak harta benda.

Kekerasan yang dimaksud diatas baik itu kekerasan fisik, psikologi ataupun secara verbal dapat terjadi dilingkungan kerja karena adanya perbedaan kepentingan dari dua orang atau lebih yang dapat menyebabkan terjadinya tndakan kekerasa. Kekurangan staf, ketidak tahuan atau kurangnya pemahaman mengenai tata tertib juga dapat menjadi salah satu penyebab adanya tindak kekerasan terhadap petugas. Untuk itu maka diperlukan suatu tindakan pencegahan dan perlindungan terhadap kekerasan di UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

(3)

B. Pengertian

1. Kekerasan adalah secara sengaja menggunakan tekanan fisik atau kekuasaan, secara mengancam atau sungguhan, terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap kelompok atau komunitas yang mengakibatkan kemungkinan atau terjadinya luka, kematian, kerugian psikologis, gangguan pengembangan atau terampas

2. Tempat kerja adalah tempat fisik dimana para pekerja bekerja atau tempat di mana para pekerja acapkali memasukinya dalam kaitan dengan pekerjaannya dan dimana ada sumber bahaya. Hal ini termasuk di antaranya semua ruangan, lapangan, halaman dan daerah daerah yang mengelilinginya yang membentuk bagian dari, atau terhubung dengan tempat kerja, baik bersifat terbuka atau tertutup, dapat bergerak atau bersifat diam

3. Intimidasi di tempat kerja maknanya perilaku apapun yang diulangi setiap waktu, sistematis dan ditujukan pada seorang karyawan atau sekelompok karyawan.

4. Kekerasan ditempat kerja didefinisikan sebagai tindakan fisik (Misal:

pembunuhan, penyerangan, pemukulan) atau tindakan psikologi (Misal: teror, menakuti, melecehkan, memarahi, menggoda, mengancam, intimidasi) yang akan mempengaruhi pekerja yang bersangkutan.

5. Kekerasan fisik adalah kekerasan yang melibatkan kontak langsung dan dimaksudkan untuk menimbulkan perasaan intimidasi, cedera, atau penderitaan fisik lain atau kerusakan tubuh.

6. Kekerasan psikis adalah suatu tindakan penyiksaan secara verbal (seperti:

menghina,berkata kasar dan kotor) yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri, meningkatkan rasa takut, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan tidak berdaya.

7. Kekerasan verbal adalah kekerasan yang dilakukan lewat kata-kata.

Contohnya: membentak, memaki, menghina, menjuluki, meneriaki, memfitnah, menyebar gosip, menuduh, menolak dengan kata-kata kasar, mempermalukan di depan umum dengan lisan, dll.

(4)

BAB II RUANG LINGKUP

Ruang lingkup panduan pencegahan dan perlindungan terhadap kekerasan di tempat kerja UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari beberapa aspek yang meliputi :

A. Tindak kekerasan yang dimaksud dalam hal ini adalah :

a. Kekerasan secara fisik (memukul, menendang, menampar, mendorong, menggigit, mencubit, pelecehan seksual, dan Iain-lain) yang dapat menyebabkan rusaknya integritas fisik maupun psikologis korban.

b. Kekerasan secara psikologis termasuk ancaman fisik terhadap individu atau kelompok yang dapat mengakibatkan kerusakan pada fisik, mental, spiritual, moral atau sosial termasuk pelecehan secara verbal (kata-kata yang sinis, memaki dan membentak) ataupun merusak harta benda

B. Pelaku kekerasan adalah orang yang melakukan tindak kekerasan, baik itu dilakukan oleh Pasien, Pegawai UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ataupun pengunjung/keluarga pasien.

C. Area rawan kekerasan merupakan area yang paling memungkinkan terjadinya tindak kekerasan.

(5)

BAB III KEBIJAKAN

A. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan akan komunikasi, rumah sakit harus menyelenggarakan program di mana seluruh staf dapat mendapatkan pendidikan tentang kekerasan di tempat kerja. Sehingga, seluruh pihak memiliki kesadaran yang tinggi tentang berbagi cara untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif yang bebas dari kekerasan.

B. Rumah sakit memberikan informasi tentang kekerasan pada program-program orientasi, di samping juga pendidikan dan pelatihan bagi staf

C. UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan identifikasi area yang berpotensi terjadinya kekerasan di tempat kerja

D. UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung membuat Prosedur Pengajuan Keluhan

E. UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan evaluasi terhadap staf yang cedera akibat kekerasan di tempat kerja

F. UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan konseling terhadap staf mengalami kekerasan di tempat kerja

G. Setiap pengunjung rumah sakit selain keluarga pasien meliputi tamu RS, pengantar obat atau barang, dan Iain-lain wajib melapor ke petugas keamanan dan wajib memakai kartu pengunjung/tamu.

H. Jenis Kekerasan Di Tempat Kerja.

1. Kekerasan antar staf (atasan kepada bawahan, antar staf) a. Membebankan seluruh pekerjaan pada seseorang;

b. Menentukan tenggat waktu yang sangat sulit untuk dipenuhi atau secara terus menerus mengubah tenggat waktu;

c. Memberikan tugas yang berada di luar batas kewajaran dari kemampuan seseorang;

d. Mengabaikan atau diskriminasi terhadap staf

e. Secara sengaja menutup akses kepada informasi, konsultasi, ataupun sumberdaya yang ada

f. Perlakuan yang tidak adil dalam mengakses hak-hak di tempat kerja, seperti cuti atau pelatihan.

g. pemaksaan dan penyuapan mengabaikan atau mengasingkan seseorang h. melarang petugas membuat laporan kejadian yang tidak diharapkan

(6)

i. Memarahi staf klinis lainnya di depan pasien dan tindakan yang tidak layak seperti melempar rekam medis, melempar alat bedah di kamar operasi

j. Perlakukan yang melecehkan atau harassment terkait ras, agama, suku dan gender

2. Kekerasan oleh pasien, keluarga pasien atau pengunjung rumah sakit kepada staf

a. Kekerasan fisik seperti perlakuan intimidasi, cedera, atau penderitaan fisik lain atau kerusakan tubuh.

b. Kekerasan psikis seperti: menghina,berkata kasar dan kotor yang mengakibatkan menurunnya rasa percaya diri, meningkatkan rasa takut, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan tidak berdaya

c. Kekerasan verbal seperti membentak, memaki, menghina, menjuluki, meneriaki, memfitnah, menuduh, menolak dengan kata-kata kasar, mempermalukan di depan umum dengan lisan, dll

I. Area Beresiko Kekerasan

Area ini menjadi rawan kekerasan karena adanya perbedaan tingkat kepentingan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain sehingga dapat menimbulkan konflik yang memicu adanya tindak kekerasan di lingkungan UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Area rawan kekerasan dibagi menjadi dua meliputi:

1. Kekerasan antar staf (atasan kepada bawahan, antar staf) bisa tejadi di seluruh satuan kerja di rumah sakit

2. Kekerasan oleh pasien, keluarga pasien atau pengunjung rumah sakit kepada staf

a. Tempat Pendaftaran Pasien, b. Instalasi Gawat Darurat c. Instalasi Rawat Jalan d. Instalasi Rawat Inap

e. Ruang rawat Intensif (UPIP) f. Nurse station

(7)

BAB IV TATA LAKSANA

A. Pencegahan Resiko Kekerasan

1. Petugas Rumah Sakit memberikan pelayanan teknis/ administratif sesuai dengan SPO yang telah ditetapkan.

2. Petugas diberikan edukasi cara pencegahan dan penanganan jika terjadi kekerasan di tempat kerja.

3. Petugas keamanan mengidentifikasi pengunjung yang mencurigakan 4. Petugas keamanan berwenang menanyai pengunjung yang mencurigakan

dan mendampingi pengunjung terebut sampai ke pasien yang dimaksud.

5. Melakukan monitoring di setiap lobi, koridor rumah sakit, unit rawat inap, rawat jalan maupun dilokasi terpencil atau terisolasi dengan pemasangan kamera CCTV (Closed Circuit Television) dan patroli oleh petuga keamanan.

6. Semua staf UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung wajib melapor kepada

petugas keamanan apabila menjumpai pengunjung yan mencurigakan atau pasien yang dirawat membuat keonaran maupun kekerasan.

7. Bila tindak kekerasan dilakukan oleh pengunjung kepada staf, maka kepala unit kerja memiliki wewenang untuk memutuskan pengunjung tersebut diperbolehan atau tidak memasuki area UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

dan melaporkan kepada satuan pengamanan rumah sakit.

B. Tindakan Jika Terjadi Tindak Kekerasan

1. Bila tindak kekerasan dilakukan oleh anggota staf rumah sakit kesesama petugas kepala unit kerja bertanggung jawab untuk menegur dan melakukan pembinaan staf tersebut dan melaporkan insiden kepada Komite K3RS 2. Bila kekerasan dilakukan oleh atasan kepada staf, staf tersebut bisa

langsung melaporkan kejadian kepada Komite K3RS

3. Bila tindak kekerasan dilakukan oleh pengunjung kepada staf kepala unit kerja memiliki wewenang untuk memutuskan diperbolehkan atau tidak pengunjung tersebut memasuki area Rumah Sakit dan melaporkan kepada satuan pengaman Rumah Sakit. Kepala unit kerja melaporkan kejadian kekerasan kepada Komite K3RS untuk diproses lebih lanjut.

4. Bila kekerasan tersebut menyebabkan cidera pada korban, maka korban tersebut dibawa ke IGD dengan didampingi oleh Komite K3RS.

(8)

C. Alur Penyelesaian Kejadian Tindakan Kekerasan

1. Kekerasan Internal (antar staf atau staf dengan atasan) Jika terjadi kekerasan antar staf atau staf dengan atasan, staf dapat melaporkan langsung kepada Komite K3RS atau melaporkan kepada atasan langsung. Laporan yang diterima oleh Komite K3RS akan ditindaklanjuti berkoordinasi dengan Bagian SDM, dengan melakukan konseling dan pendampingan. Hasil konseling tersebut dikoordinasikan dengan unit kerja terkait dan Bagian SDM. Komite K3RS melaporkan kejadian, konseling dan hasil pendampingan kepada Direktur lalu memberikan rekomendasi tindak lanjut kepada Bidang/Bagian terkait dan diteruskan kepada unit/ instalasi terkait.

2. Kekerasan Eksternal (pasien, keluarga pasien atau pengunjung kepada staf) Apabila terjadi kekerasan dari pasien, keluarga pasien atau pengunjung kepada staf, staf bisa melaporkan kejadian tersebut kepada atasan langsung.

Staf juga langsung melakukan koordinasi dengan Satuan Pengamanan untuk melakukan pengamanan terhadap insiden yang terjadi. Bila pada saat kejadian kekerasan tersebut terdapat korban luka, langsung dibawa ke IGD didampingi oleh Komite K3RS. Kepala satuan kerja membuat laporan kepada Komite K3RS untuk dilakukan pendampingan, konseling dan investigasi terhadap kekerasan yang terjadi dengan berkoordinasi dengan Bagian Umum dan Satuan Pengamanan. Komite K3RS melaporkan kejadian, konseling dan investigasi kepada Direktur lalu memberikan rekomendasi tindak lanjut kepada Bidang/Bagian terkait dan diteruskan kepada unit/ instalasi terkait.

(9)

D. Evaluasi

Rumah sakit harus memantau para staf untuk memastikan bahwa mereka patuh pada kebijakan perusahaan berkenaan dengan kekerasan. Rumah sakit harus mengevaluasi efektivitas mekanisme yang ada secara reguler guna mencegah dan menanggulangi kekerasan di tempat kerja. Hasil dari proses penyelesaian perselisihan kasus kekerasan dapat digunakan sebagai dasar untuk staf yang berkeinginan untuk mengakhiri hubungan kerja melalui lembaga yang memiliki otoritas untuk menangani penyelesaian perselisihan Elemen kunci untuk mencapai keberhasilan dalam pencegahan kekerasan di tempat kerja adalah komitmen yang kuat dari seluruh tingkatan dalam organisasi, mulai dari tingkat Direksi hingga ke tingkatan staf. Pernyataan kebijakan berkenaan dengan kekerasan di tempat kerja adalah pesan dari manajemen kepada seluruh staf yang menyatakan kebijakan-kebijakan rumah sakit, filosofi dan komitmen untuk mencegah dan menanggulangi kekerasan guna menciptakan lingkungan kerja yang positif yang bersifat kondusif.

(10)

BAB V DOKUMENTASI

1. Formulir Laporan Kekerasan di tempat kerja

2. Hasil rekomendasi tindak lanjut kejadian kekerasan di tempat kerja 3. Dokumentasi konseling dan pendampingan

4. Survei karyawan.

(11)

Lampiran 1. Formulir Laporan Kekerasan di Tempat Kerja

FORMULIR LAPORAN KEKERASAN DI TEMPAT KERJA

DIPERLUKAN BAGI PEGAWAI, PENGUNJUNG, DAN PASIEN DILUAR TINDAKAN MEDIS

No.Laporan :...

Kepada Yth:

Komite K3

UPTD Rumah Sakit Jiwa Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ...

Profesi : Karyawan (dokter/perawat/petugas lain): unit kerja ………..

Pasien

Keluarga pasien Pengunjung

dan lain lain (sebutkan)...

Melaporkan telah terjadi kekerasan di kerja yang terjadi pada : (Identitas Korban/ Pelapor)

Nama : ...

Umur : ...

Status : ...

Hari/tanggal : ...

Jam : ...

Lokasi : ...

Unit/Dep : ...

Penyebab kecelakaan : ...

Dengan kronologis insiden

...

...

...

...

Jenis Insiden

Kekerasan fisik Kekerasan verbal Pelecehan seksual Ancaman fisik Penghinaan

Demikian laporan ini saya buat supaya ditindaklanjuti sebagaimana mestinya

Sungailiat, ...

Pelapor

(...) Catatan:

 Semua karyawan yang mengetahui wajib melaporkan semua kekerasan yang terjadi di tempat kerja.

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur selalu penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Pengaruh Budaya

Dari hasil uji analisis secara statistika dengan metode independent simple T-test didapatkan hasil bahwa mutu fisik tablet parasetamol antara metode gelatinasi dan

penggunaan waktu, gerak, cara memotivasi siswa, teknik bertanya, teknik penguasaan kelas, penggunaan media, dan bentuk dan cara evalusi. Sedangkan perilaku siswa

1) Material besi cor kelabu dengan media cetak pasir CO2 dibuat di CV.Kembar Jaya, Batur, Ceper, Klaten yang akan dipakai untuk pembuatan cetakan permanen.

Sebagai data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara penulis dari keseluruhan santri dan kyai yaitu 39 santri dan 4 orang kyai, mengenai

Pada kasus SLE jarang terjadi supresi sumsum tulang yang menyebabkan anemia aplastik, banyak laporan penelitian dan kasus yang mendukung bahwa kemungkinan

(1) Quality of Work atau kualitas kerja dari pegawai PLN Rayon Panrita Lopi Bulukumba bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya guna meningkatkan kinerja pegawai

Inovasi dan kualitas pelayanan erat kaitannya dengan kepuasan pelanggan pada usaha kuliner Kampung Kuliner Binjai, dimana seorang wirausaha harus memiliki inovasi yang baru