V - 1
BAB V
ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL
Bab ini membahas tentang analisis dan interpretasi hasil berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Analisis yang dilakukan yaitu analisis hasil rancangan pediatric walker, analisis hasil parameter locomotion terhadap subjek, dan analisis perbandingan penggunaan existing dan rancangan pediatric walker.
5.1 Analisis Hasil Rancangan Pediatric Walker
Subbab ini ini menjelaskan mengenai analisis hasil rancangan prototipe pediatric walker dan analisis hasil rancangan prototipe pediatric walker terhadap subjek penelitian yaitu anak dengan kasus spastic DCP dan HCP.
5.1.1 Analisis Hasil Prototipe Pediatric Walker
Bagian ini menjelaskan tentang analisis hasil prototipe pediatric walker.
Berdasarkan permasalahan yang dialami oleh pengguna pediatric walker di URM YPAC Surakarta, maka dibuat rancangan pediatric walker untuk kasus anak-anak dengan spastic DCP dan HCP dengan mempertimbangkan hasil dari inventive solution. Inventive solution merupakan hasil dari technical contradiction, kemudian dikombinasikan untuk memperoleh sebuah spesifikasi rancangan ulang pediatric walker berdasarkan kesesuaian material masing-masing komponen walker.
Selanjutnya alternatif solusi diseleksi dan dieliminasi dengan menggunakan metode morphological chart. Alternatif solusi yang muncul dilakukan analisis dan sintesis secara berulang hingga memperoleh alternatif desain akhir yang terbaik, proses tersebut melibatkan stakeholder dan pemanufaktur. Konsep rancangan terpilih yaitu pediatric walker alternatif 1. Hasil rancangan pediatric walker allternatif 1 terpilih karena dapat mengakomodir kebutuhan pengguna yaitu anak dengan kasus spastic DCP dan HCP. Alternatif 1 dirancang dengan menggunakan beberapa material yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan kemudahan manufaktur. Rancangan pediatric walker disampaikan pada Gambar 5.1.
V - 2
Gambar 5.1 Hasil Rancangan Pediatric Walker
Handgrip dirancang dengan bentuk kotak karena mempertimbangkan kebutuhan telapak tangan pengguna dan kekuatan rancangan. Kecenderungan kondisi tangan pada kasus anak spastic HCP yang mengalami muscular dystrophy, menjadikan tangan membutuhkan penopang. Tangan pengguna yang mengalami kekakuan dapat dijepit menggunakan velcro strap sehingga tetap dapat menggenggam handgrip dan memudahkan pengguna memberikan gaya dorong pada alat dengan beban tubuh. Velcro strap dipasangkan kepada pengguna dengan bantuan fisioterapis. Konstruksi kekuatan handgrip dengan bentuk kotak terdapat pada titik sambungan, di mana tidak menggunakan sistem bending tetapi menggunakan elbow connector. Lebar handgrip dirancang berdasarkan ukuran antropometri panjang tangan metakarpal (PTm) P95 sebesar 10,5 cm dan panjang handgrip berdasarkan jarak ibu jari kelingking (JIJK) P95 sebesar 17,3 cm. Hal tersebut bertujuan agar pengguna dapat menopangkan tangan di atas handgrip.
Selain itu, handgrip dilengkapi dengan handspad yang menggunakan black ESD foam karena harga yang ekonomis serta proses manufaktur yang lebih mudah dan membutuhkan waktu singkat. Pemasangan black ESD foam pada handgrip disesuaikan dengan ukuran antropometri lebar tangan ibu jari (LTIJ) P95 sebesar 10,4 cm dan diameter maksimal genggaman tangan (Dmak) P50 sebesar 3,3 cm.
Hal tersebut bertujuan agar ukuran genggaman tangan pengguna pada handgrip dapat terakomodasi.
V - 3
Walker frame dirancang untuk dapat menopang beban pengguna, mempermudah pengguna dalam proses rehabilitasi, dan mudah untuk dibongkar pasang. Walker framer dirancang dengan sistem knock down, hal tersebut bertujuan agar alat dapat dengan mudah untuk diatur sesuai dengan tinggi pengguna dan disimpan tanpa membutuhkan ruang yang luas. Walker frame menggunakan material stainless steel karena alat harus kuat menerima beban maksimal dari pengguna, di mana stainless steel memiliki tensile strength sebesar 586 Mpa. Selain itu, stainless steel lebih higenis dibandingkan besi yang mudah mengalami korosi dan proses manufaktur finishing yang mudah dengan melakukan pemolesan pada kerangka. Konstruksi sambungan pada walker frame tidak dilakukan dengan bending tetapi menggunakan elbow connector, sehingga sambungan lebih kuat dan tidak membutuhkan biaya tambahan untuk melakukan bending pada kerangka.
Rancangan walker frame dibuat minimalis bertujuan untuk mengurangi beban pengguna ketika mendorong akibat dari konstruksi kerangka yang telalu berat.
Ukuran untuk merancang walker frame antara lain lebar walker atas yang disesuaikan dengan ukuran antropometri lebar sisi bahu (D17) P95 sebesar 42 cm, tinggi walker maksimum berdasarkan antropometri tinggi siku (D4) P95 ditambah 2,5 cm sebesar 107,3 cm, dan tinggi walker minimum berdasarkan antropometri tinggi siku (D4) P5 ditambah 2,5 cm sebesar 60,6 cm. Penambahan 2,5 cm pada tinggi walker dijadikan sebagai allowance penggunaan orthotic devices atau sepatu oleh pengguna. Hal tersebut bertujuan untuk mengakomodir pengguna dengan tinggi minimum dan maksimum dapat menggunakan alat. Walker dirancang untuk dapat dilakukan adjustable terhadap tinggi pengguna dengan sistem wing bolt dan nut. Adjustable walker frame menggunakan wing bolt dan nut, bertujuan untuk mempermudah melakukan penyesuaian tinggi pengguna dengan memindahkan tingkatan baut pada lubang yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Base support dirancang untuk dapat menjaga stabilitas walker dan menerima beban dari pengguna. Rancangan base support mempertimbangkan kekuatan sambungan, oleh karena itu menggunakan elbow connector pada bagian bending.
Selain itu tingkat presisi penempatan roda juga sangat penting untuk menjaga stabilitas alat. Ukuran untuk merancang base support antara lain lebar base support berdasarkan ukuran antropometri lebar pinggul (D19) P95 ditambah 8,5 cm sebagai
V - 4
allowance penggunaan pakaian, didapatkan hasil sebesar 51,1 cm. Kemudian panjang walker berdasarkan ukuran antropometri tinggi lutut (D25) P95 dikalikan 1,5 cm sebagai allowance ayunan kaki ketika berjalan, didapatkan hasil sebesar 71,7 cm. Hal tersebut bertujuan agar base support aman untuk digunakan karena tidak mengahambat pergerakan tubuh pengguna ketika berjalan dan menjaga stabilitas alat dengan adanya empat titik penempatan roda berdasarkan gerakan swing.
Roda depan menggunakan rigid wheels untuk mengakomodir keterbatasan pengguna dalam mengarahkan pediatric walker. Roda belakang menggunakan normal brake wheels untuk meminimalisir alat yang licin dan brake dipilih dibelakang supaya pada saat dilakukan pengereman alat tetap dapat berjalan karena penggerak roda depan tetap berputar. Pengereman pada roda dipilih karena pengguna memiliki kekuatan tangan sangat lemah. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan electric hand dynamometer didapatkan hasil kekuatan tangan sebesar 1,2 sampai dengan 1,9 untuk anak HCP dan 3,4 sampai dengan 6,3 untuk anak DCP, di mana hasil tersebut jauh di bawah batas normal yang berada pada 11,8 sampai dengan 31,2. Pengereman pada roda dilakukan oleh fisioterapis selama proses rehabilitasi, bertujuan untuk mengatur kecepatan dan pengawasan terhadap pengguna. Pemilihan roda depan lebih kecil dari roda belakang yaitu sebesar 7,62 cm dan 10,16 cm. Hal tersebut bertujuan untuk mengendalikan kecepatan pengguna, di mana roda depan dan belakang mendapatkan dorongan yang sama akan tetapi jarak tempuhnya berbeda akibat dari rotasi roda belakang lebih jauh daripada roda depan.
Hasil yang didapatkan dari simulasi finite element adalah nilai von mises yang mewakili penilaian distribusi tegangan suatu frame. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan nilai von mises stress sebesar 543 Mpa. Nilai von mises stress lebih kecil dibandingkan nilai tensile strength dari material stainless steel sebesar 586 Mpa.
Hal tersebut berarti alat pediatric walker mampu menerima distribusi tegangan yang diberikan oleh pengguna dengan berat maksimal sebesar 42 kg. Selanjutnya hasil yang didapatkan dari simulasi finite element adalah safety factor yang mewakili penilaian kemampuan frame menerima beban. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan safety factor dengan nilai maksimum 15 ul. Nilai safety
V - 5
factor yang dihasilkan menunjukan apakah beban yang diberikan melebihi atau lebih kecil dari kekuatan yang diijinkan. Kemampuan menerima beban semakin tinggi bila safety factor yang dihasilkan tinggi juga. Berdasarkan desain rekayasa modern, nilai safety factor yang telah diperhitungkan memiliki range antara 1,25 sampai dengan 7. Hal tersebut menunjukkan bahwa frame mampu untuk menerima pengguna dengan berat di atas rata-rata. Kemudian hasil yang didapatkan dari simulasi finite element adalah nilai displacement yang mewakili penilaian rigidity suatu frame. Nilai displacement tersebut menjadi acuan dalam pergeseran alat yang dapat menyebabkan keseimbangan berjalan tidak optimal. Berdasarkan hasil simulasi didapatkan nilai displacement maksimum sebesar 29,1 mm. Bagian frame yang cukup aman memiliki pergeseran yang sagat kecil ditunjukkan dengan warna hijau dan bagian yang mengalami discplacement terbesar warna merah. Dapat dilihat bahwa base support yang mempengerahui keseimbangan alat berwarna biru, berarti tidak mengalami displacement sehingga alat dapat menunjang stabilitas pengguna saat proses rehabilitasi. Sedangkan untuk bagian handgrip berwarna hijau hingga jingga, berarti handgrip memungkinkan terjadi displacement sebesar 5,82 mm sampai dengan 23,28 mm. Hal tersebut terjadi karena terdapat titik pembebanan secara langsung terhadap titik bending. Untuk menghindari displacement yang tinggi dapat dilakukan dengan menentukan peletakkan titik-titik pembebanan yang mampu memberikan distribusi yang seragam pada frame.
Terdapat beberapa kondisi subjek saat menggunakan rancangan pediatric walker yang perlu dijadikan pertimbangan lebih lanjut dalam mengembangkan alat bantu pediatric walker. Alat yang saat ini dikembangkan dikhususkan untuk proses rehabilitasi anak DCP dan HCP dengan level III-IV GMFCS. Ketika anak tersebut mengalami peningkatan kondisi fisik menuju kemandirian berjalan selama proses rehabilitasi, maka dibutuhkan alat bantu lain yang mendukung tujuan rehabilitasi selanjutnya. Pengembangan pediatric walker pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kegunaan alat yang multifungsi untuk beberapa tahapan proses rehabilitasi berjalan. Selain itu, desain handgrip yang telah dirancang menggunakan velcro strap belum optimal untuk menstabilkan posisi jari tangan pengguna saat menggenggam karena tangan masih bergeser dari grip. Dapat dilakukan pertimbangan untuk membuat rancangan grip yang memiliki tempat
V - 6
untuk jari tangan, sehingga dapat menstabilkan letak jari tangan ditempatnya dan supaya kekuatan tangan untuk mengoperasikan pediatric walker lebih optimal.
Selain hal tersebut juga perlu dilakukan riset lebih lanjut terhadap penggunaan rem tangan untuk meningkatkan reflek motorik pengguna saat melakukan pengereman tangan secara mandiri. Hal tersebut bertujuan supaya pengguna dapat melatih mengendalikan fokus berjalan dan meningkatkan kekuatan otot tangan untuk tahapan rehabilitasi selanjutnya.
5.1.2 Analisis Hasil Prototipe Pediatric Walker Terhadap Subjek
Bagian ini menjelaskan mengenai analisis hasil prototipe pediatric walker terhadap subjek yang menggunakan. Dua faktor desain yang penting secara ergonomi dalam membuat desain handgrip yaitu sudut pegangan dan degree of softness handgrip (Rogers, 1986). Degree of softness handgrip diterapkan dengan pemilihan material menggunakan black ESD foam, di mana material tersebut memenuhi parameter indentation depth dan contact area (Dhong dkk, 2019).
Degree of softness sering dikaitkan dengan deformabilitas material atau perubahan bentuk, dimensi, dan posisi suatu material akibat gaya yang diterima. Material yang tergolong soft memiliki kriteria low elastic modulus, low stifness, dan high ducility (Xu, Wang, Hauser, dan Gerling, 2018). Kemudian sudut pegangan, berikut pada Gambar 5.2 merupakan sticky diagram hasil penarikan sudut pegangan.
Gambar 5.2 Sudut Relaxed Grip Line
Berdasarkan Gambar 5.2 diketahui bahwa sudut pegangan antara siku dengan grip line sebesar 36,76 derajat, sudut antara grip line dengan horizontal line sebesar 10,21 derajat, dan sudut antara grip line dengan opposite line sebesar 14,62
V - 7
derajat. Menurut Rogers (1986), sudut antara grip line dengan elbow untuk posisi relaxed berada pada sudut 25 sampai dengan 35derajat, sudut antara grip line dengan horizontal line sebesar 12 derajat, dan sudut antara grip line dengan opposite line sebesar 18 derajat. Allowance yang diberikan sebagai eror kemiringan sudut sebesar 5 derajat. Diketahui bahwa sudut pegangan antara siku dengan grip line memiliki beda sebesar 1,76 derajat, sudut antara grip line dengan horizontal line sebesar 1,21 derajat, dan sudut antara grip line dengan opposite line sebesar 3,38 derajat. Hal tersebut berarti rancangan handgrip pediatric walker memenuhi dua faktor standar ergonomi dalam perancangan handgrip yang nyaman.
5.2 Analisis Parameter Locomotion Terhadap Subjek Penelitian
Subbab ini menjelaskan analisis dari hasil pengujian parameter locomotion terhadap subjek menggunakan pediatric walker rancangan. Pengujian dilakukan dengan 4 subjek yang terdiri atas kasus spastic DCP dan HCP. Proses pengujian dilakukan menggunakan standar 10 meter walking-test dengan lintasan lurus satu arah. Untuk menunjukkan kemampuan berjalan seseorang dapat dilakukan pengukuran 8 parameter locomotion yaitu walking speed (m/s), cadence (step/min), stride time (s), double support time (s), single support time (s), stance (s), step length (m), dan stride length (m) (Hollman dkk, 2011). Hasil pengujian parameter locomotion ditunjukkan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Hasil Rata-Rata Pengujian Parameter Locomotion Pediatric Walker Parameter Locomotion Existing
Pediatric Walker
Rancangan Pediatric Walker
Walking Speed (m/s) 0,065 0,076
Cadence (steps/min) 40,00 58,50
Stride Time (s) 3,132 2,096
Double Support Time (s) 1,050 0,650
Single Support Time (s) 1,440 0,903
Stance (s) 1,942 1,300
Step Length (m) 0,100 0,079
Stride Length (m) 0,199 0,158
V - 8
Berdasarkan Tabel 5.1 didapatkan perbandingan rata-rata hasil pengujian parameter locomotion yang dilakukan oleh subjek. Pada pengujian walking speed (m/s) existing pediatric didapatkan nilai sebesar 0,065 m/s sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 0,076 m/s. Hal tersebut dapat diartikan bahwa subjek dapat menempuh 10 mWT menggunakan pediatric walker rancangan dengan waktu lebih cepat dibandingkan menggunakan existing pediatric walker. Selain itu subjek lebih optimal menjaga keseimbangan berjalan karena racangan alat mengakomodir kebutuhan dan menjaga stabilitas pengguna sehingga pengguna dapat berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
Pengujian cadence (step/min) existing pediatric didapatkan nilai sebesar 40 steps/min sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 58,5 steps/min. Hal tersebut dapat diartikan bahwa subjek memiliki jumlah langkah per menit yang lebih banyak dalam menempuh 10mWT menggunakan pediatric walker rancangan dibandingkan existing pediatric walker. Jumlah langkah per menit yang semakin banyak menunjukkan kemudahan subjek pada saat berjalan, di mana pada fase swing pengguna mampu menjaga keseimbangan berjalan yan didukung oleh base support yang stabil.
Pengujian stride time (s) existing pediatric didapatkan nilai sebesar 3,132 detik sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 2,096 detik. Hal tersebut dapat diartikan bahwa subjek menggunakan pediatric walker rancangan memiliki waktu yang lebih cepat untuk melakukan initial contact dari langkah dua kaki berturut- turut atau dalam satu gait cycle untuk menempuh 10mWT. Waktu yang semakin cepat menunjukkan kemudahan untuk menjaga keseimbangan berjalan pada setiap fase berjalan.
Pengujian double support time (s) existing pediatric walker didapatkan nilai sebesar 1,05 detik sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 0,65 detik. Hal tersebut dapat diartikan bahwa jumlah waktu selama dua periode dalam gait cycle yang dibutuhkan subjek saat menggunakan rancangan pediatirc walker lebih cepat.
Berdasarkan Rancho Los Amigo (RLA) National Rehabilitation, fase double support time normalnya terjadi 24% dalam satu gait cycle. Persentase double support time saat menggunkan existing pediatric walker sebesar 33,01% sedangkan menggunakan rancangan pediatric walker sebesar 30,71%. Hasil tersebut berarti
V - 9
rancangan pediatric walker membantu subjek untuk memiliki nilai persentase fase double support time yang lebih mendekati angka normal.
Pengujian single support time (s) existing pediatric walker didapatkan nilai sebesar 1,44 detik sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 0,903 detik. Hal tersebut dapat diartikan bahwa jumlah waktu yang dibutuhkan antara last contact dari pijakan kaki berlawanan dengan initial contact dari pijakan kaki berikutnya (fase saat satu kaki bersentuhan dengan tanah) saat menggunakan rancangan pediatric walker lebih cepat. Berdasarkan Rancho Los Amigo (RLA) National Rehabilitation, fase single support time normalnya terjadi 38% dalam satu gait cycle. Persentase single support time saat menggunkan existing pediatric walker sebesar 46,10% sedangkan menggunakan rancangan pediatric walker sebesar 43,17%. Hasil tersebut berarti rancangan pediatric walker membantu subjek untuk memiliki nilai persentase fase single support time yang lebih mendekati angka normal.
Pengujian stance (s) existing pediatric walker didapatkan nilai 1,942 detik sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 1,3 detik. Hal tersebut dapat diartikan bahwa jumlah waktu yang dibutuhkan antara initial contact dan last contact dari satu langkah kaki, fase stance dalam gait cycle dimulai dari heel contact sampai dengan toe off pada kaki yang sama lebih singkat saat menggunakan rancangan pediatric walker.
Pengujian step length (m) existing pediatric walker didapatkan nilai 0,1 meter sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 0,07 meter. Hal tersebut dapat diartikan bahwa jarak anterior posterior dari heel satu ke heel kaki lain lebih dekat.
Jarak yang semakin dekat dipengaruhi oleh kecepatan berjalan yang meningkat dan jumlah langkah kaki (cadence) yang semakin banyak dalam satu menit.
Pengujian stride length (m) existing pediatric walker didapatkan nilai 0,199 meter sedangkan rancangan pediatric walker sebesar 0,158 meter. Hal tersebut dapat diartikan bahwa jarak anterior posterior antara heels dua jejak kaki berturut- turut dari kaki yang sama, misal dari kaki kiri kembali ke kaki kiri lebih dekat. Jarak tersebut berbanding lurus dengan step length yang juga lebih dekat.
V - 10
Pengujian parameter locomotion yang dilakukan saat ini bertujuan untuk melihat kemampuan berjalan dari pengguna. Kemudahan untuk menyelesaikan pengujian berjalan 10mWT dapat dilihat dari kebutuhan waktu oleh pengguna saat menggunakan pediatric walker. Waktu yang semakin cepat untuk menyelesaikan standar pengujian menunjukkan kemudahan dalam mengoperasikan alat. Dalam penelitian ini belum mempertimbangkan aspek fisiologis dengan memperhitungkan jumlah konsumsi energi dari pengguna, hal tersebut dilakukan dengan cara menghitung denyut nadi sebelum dan sesudah penggunaan alat. Kendala yang terjadi dilapangan yaitu saat melakukan treatment terhadap subjek penelitian. Anak dengan kasus spastic cerebral palsy membutuhkan treatment atau perhatian khusus oleh fisioterapis ataupun orang tua agar anak memiliki kemauan melakukan rehabilitasi berjalan. Kondisi anak harus dalam emosi yang stabil supaya tidak memberikan dampak kekakuan berlebih terhadap otot.
5.3 Analisis Perbandingan Penggunaan Existing Pediatric Walker dengan Rancangan Pediatric Walker
Subbab ini menjelaskan mengenai analisis perbandingan penggunaan existing pediatric walker dengan rancangan pediatric walker. Pengujian statistik independet samples t-test dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan rerata antara penggunaan existing pediatric walker dengan rancangan pediatric walker terhadap parameter locomotion. Berikut Tabel 5.2 merupakan hasil perhitungan beda rerata masing-masing parameter locomotion.
Tabel 5.2 Hasil Independent Samples T-test Parameter Locomotion Pediatric Walker Parameter Locomotion Beda Rerata Nilai p
Walking Speed (m/s) 0,012
(17,76%) 0,031
Cadence (steps/min) 18,50
(46,25%) 0,036
Stride Time (s) 1,036
(33,08%) 0,045
Double Support Time (s) 0,40
(38,10%) 0,098
Single Support Time (s) 0,538
(37,33%) 0,033
V - 11
Tabel 5.2 Hasil Independent Samples T-test Parameter Locomotion PW (Lanjutan) Parameter Locomotion Beda Rerata Nilai p
Stance (s) 0,642
(33,06%) 0,045
Step Length (m) 0,020
(20,35%) 0,048
Stride Length (m) 0,040
(20,48%) 0,045
Berdasarkan Tabel 5.2 didapatkan hasil beda rerata, presentase perbedaan, dan nilai signifikansi pada masing-masing parameter locomotion. Beda rerata parameter walking speed (m/s) antara existing pediatric walker dan rancangan pediatric walker sebesar 0,012 m/s atau 17,76% dengan nilai signifikansi sebesar 0,031. Beda rerata parameter cadence (steps/min) antara existing pediatric walker dan rancangan pediatric walker sebesar 18,50 step per menit atau 46,25% dengan nilai signifikansi sebesar 0,036. Beda rerata parameter stride time (s) antara existing pediatric walker dan rancangan pediatric walker sebesar 1,036 m/s atau 33,08%
dengan nilai signifikansi sebesar 0,045. Beda rerata parameter double support time (s) antara existing pediatric walker dan rancangan pediatric walker sebesar 0,40 detik atau 38,10% dengan nilai signifikansi sebesar 0,098. Beda rerata parameter stance (s) antara existing pediatric walker dan rancangan pediatric walker sebesar 0,642 detik atau 33,06% dengan nilai signifikansi sebesar 0,045. Beda rerata parameter step length (m) antara existing pediatric walker dan rancangan pediatric walker sebesar 0,020 meter atau 20,35% dengan nilai signifikansi sebesar 0,048.
Beda rerata parameter stride length (m) antara existing pediatric walker dan rancangan pediatric walker sebesar 0,040 meter atau 20,48% dengan nilai signifikansi sebesar 0,045. Beda rata-rata pada masing-masing parameter locomotion berada diatas 17%.
Hal tersebut dapat diartikan bahwa penggunaan rancangan pediatric walker pada saat proses rehabilitasi berjalan mampu untuk meningkatkan kemampuan berjalan penggunanya. Kemampuan berjalan yang meningkat didukung oleh keseimbangan berjalan yang lebih baik oleh pengguna.
V - 12
Pengujian statistik paired samples t-test dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh signifikan dari treatment yang berbeda antara penggunaan existing pediatric walker dengan rancangan pediatric walker terhadap parameter locomotion. Berikut Tabel 5.3 merupakan hasil perhitungan beda rerata masing- masing parameter locomotion.
Tabel 5.3 Hasil Paired Samples T-test Parameter Locomotion Pediatric Walker Parameter Locomotion Nilai p
Walking Speed (m/s) 0,003 Cadence (steps/min) 0,0001
Stride Time (s) 0,012
Double Support Time (s) 0,026 Single Support Time (s) 0,013
Stance (s) 0,012
Step Length (m) 0,048
Stride Length (m) 0,045
Nilai signifikansi masing-masing parameter locomotion berada di bawah 0,05.
Hal tersebut dapat diartikan bahwa treatment penggunaan rancangan pediatric walker pada saat proses rehabilitasi berjalan memberikan hasil yang berbeda.
Dalam hal ini alat yang dirancang mampu untuk meningkatkan kemampuan berjalan penggunanya. Kemampuan berjalan yang meningkat didukung oleh keseimbangan berjalan pengguna dan stabilitas alat yang lebih baik.