PETUNJUK TEKNIS
PENELITIAN DAN PENGKAJIAN NASIONAL
SUMBERDAYA LAHAN
BALAI PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
DEPARTEMEN PERTANIAN 2003
1. Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona Agro Ekologi (ZAE) Skala 1 : 50.000 (Model 1)
4. Pengkajian Analisis Data dan Informasi Iklim untuk Menekan Resiko Pertanian 3. Penyusunan Peta Satuan Evaluasi Lahan untuk Pewilayahan Komoditas Pertanian Skala 1 : 50.000 Melalui Analisis Terrain
5. Kalibrasi Uji Tanah Hara P dan K di Lahan Kering untuk Tanaman Jagung 2. Pembuatan Peta Status P dan K
Lahan Sawah Skala 1 : 50.000 Serta Percobaan Pemupukan
6. Pembinaan Pengujian Pupuk Alternatif
1. Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona Agro Ekologi (ZAE) Skala 1:50.000 (Model-1)
PENDAHULUAN
Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis diperlukan data dan informasi sumber daya lahan yang akurat. Kegagalan pembangunan pertanian sering diakibatkan oleh tidak lengkapnya data dan informasi sumberdaya lahan.
Penyusunan peta Zona Agro Ekologi (ZAE) skala 1:250.000 telah dilaksanakan oleh BPTP di seluruh Indonesia. Peta tersebut bermanfaat sebagai acuan dasar pada tingkat perencanaan regional atau nasional, sedangkan untuk pemanfaatannya pada skala operasional perlu ditindaklanjuti dengan skala yang lebih besar yaitu 1:50.000. Penilaian kesesuaian lahan sebagai dasar untuk menyusun peta pewilayahan komoditas pada berbagai zona agroekologi akan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pemanfaatan peta ZAE secara operasional. Dalam penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000 diperlukan tenaga peneliti dan teknisi yang terampil dan mampu memanfaatkan data dan informasi sumberdaya lahan secara optimal. Agar kegiatan penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian dapat dilaksanakan secara seragam di seluruh BPTP, perlu disusun Petunjuk Teknis (Juknis) yang dapat membimbing staf peneliti BPTP dalam melaksanakan kegiatannya. Untuk mencapai hasil yang optimal, pembinaan dan sosialisasi petunjuk teknis perlu dilaksanakan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak) maupun di masing-masing BPTP.
Petunjuk Teknis diperlukan oleh BPTP sebagai acuan dasar dalam penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000. Petunjuk ini menyajikan tahapan penelitian dan metode penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan agroekologi.
Petunjuk Teknis Model-1 disusun dalam rangka membakukan metode penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan zona agroekologi skala 1:50.000 untuk daerah yang telah tersedia data/peta tanahnya. Dengan tersusunnya Petunjuk Teknis ini diharapkan peta pewilayahan komoditas pertanian dapat disusun dengan metode dan pendekatan yang sama di seluruh BPTP. Di samping itu, optimalisasi dan efektivitas pembinaan tenaga/sumber daya manusia di BPTP dapat ditingkatkan.
PENYIAPAN DATA Pemilihan Lokasi
Lokasi daerah penelitian dipilih berdasarkan data spasial (peta) maupun data dalam bentuk basisdata atributnya. Pemilihan lokasi beserta luasan lahan diserahkan kepada masing-masing BPTP berdasarkan ketersediaan data dari Puslitbangtanak (Lampiran 1). Tahapan penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000 disajikan dalam Gambar 1.
Survei lapang/
data SDL
RSS RMUS
Site & Horison Analisis tanah
Database SHDE4
Karakterisasi tanah dan iklim
Database SSA3
Program SDPLE
Evaluasi lahan dengan program ALES
Hasil evaluasi
Program review
Peta kesesuaian lahan
Verifikasi lapang MODUL MPK
• Dengan mempertimbangkan
• Hasil evaluasi lahan
• Penggunaan lahan
• Kelayakan usahatani
• Prioritas unggulan daerah
Peta pewilayahan komoditas
Gambar 1. Tahapan penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000.
Peta tanah digital
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data spasial dan data tabular atau basisdata tanah, data iklim, dan sosial-ekonomi.
Data spasial
- Peta dasar : Peta topografi/rupa bumi, skala 1:50.000.
- Peta tematik : Peta tanah, peta penggunaan lahan, dan peta administrasi, masing-masing skala 1:50.000.
Basisdata tanah
Basisdata tanah yang dikumpulkan terdiri dari basisdata morfologi tanah atau Site and Horison (SH), basis data Soil Sample Analysis (SSA), dan Maping Units Description (MUD) atau Representative Soil Series (RSS). Ketiga jenis data tersebut tersedia di Puslitbangtanak.
Data iklim
Data iklim yang diperlukan berupa data curah hujan, temperatur, dan kelembaban udara. Data iklim diambil di daerah penelitian masing-masing.
Penyiapan Peralatan
Untuk memperlancar proses pembinaan diperlukan beberapa peralatan (seperangkat komputer dan peralatan lapang) yang disediakan di masing-masing BPTP dengan spesifikasi sebagai berikut:
Komputer (spesifikasi minimum)
Hard ware: - PC Pentium 133, RAM 32 MB, HD 1,2 GB atau lebih besar.
- Printer Deskjet colour ukuran A3.
Soft ware: Sistem operasi Windows 95, Microsoft Office, dbase IV atau Foxpro, program ALES versi 4.65, ArcView versi 3.1 atau Map Info versi 4,0.
Peralatan Lapang
Setiap BPTP perlu menyediakan peralatan untuk observasi tanah di lapang minimal dua set terdiri dari: bor tanah (mineral dan gambut), pisau lapang, Muncell Soil Color Charts, pH truogh, kompas, abney level, altimeter, dan loupe. Di samping peralatan tersebut juga diperlukan “form isian” untuk mencatat hasil pengamatan tanah di lapangan serta petunjuk pengisiannya. Keduannya dapat diperoleh di Puslitbangtanak.
EVALUASI LAHAN
Sebelum evaluasi lahan, terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan yang meliputi penyiapan data, penyusunan model evaluasi, dan penyajian hasil evaluasi lahan.
Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan secara terkomputerisasi.
Penyiapan Data
Penyiapan data untuk keperluan evaluasi lahan dilakukan dengan menggunakan program mediator SDPLE (Soil Data Processing for Land
Evaluation). Data yang digunakan adalah basisdata morfologi tanah atau Site and Horison (SH), basisdata Soil Sample Analysis (SSA), dan Maping Units Description (MUD) atau Representative Soil Series (RSS). Cara pengoperasian program ini dapat dilihat dalam TR No. 19 Version I, LREP II (1996).
Apabila data yang tersedia tidak dalam bentuk basisdata digital atau berasal dari hasil pengumpulan baru, maka data karakteristik lahan terlebih dahulu dientri secara manual dengan menggunakan program basisdata yang tersedia di Puslitbangtanak.
Penyusunan Model Evaluasi Lahan
Tahapan penyusunan model evaluasi lahan adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan tipe penggunaan lahan atau LUT (Land Use Type).
2. Menentukan persyaratan tumbuh tanaman atau LUR (Land Use Requirement) untuk setiap LUT.
3. Memilih karakteristik lahan atau LC (Land Characteristic) setiap LUR untuk masing-masing LUT.
4. Menyusun pohon keputusan atau DT (Decision Tree).
Penyusunan keempat tahapan tersebut telah disiapkan oleh Tim Puslitbangtanak. Prosedur penyusunan model evaluasi lahan secara rinci mengacu pada TR No. 18 Version 3.0 (1997).
Tipe Penggunaan Lahan atau LUT (Land Use Type)
Penggunaan lahan yang diuraikan secara detail menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan, dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. Menurut sistem dan modelnya, LUT dibedakan atas dua macam yaitu multiple dan compound.
LUT multiple terdiri lebih dari satu jenis penggunaan lahan atau komoditas yang diusahakan secara serentak pada suatu areal yang sama pada sebidang lahan. Contoh, cengkeh ditanam secara bersamaan dengan vanili atau pisang. LUT compound terdiri lebih dari satu jenis penggunaan lahan atau komoditas yang diusahakan secara berurutan atau rotasi atau bersamaan pada sebidang lahan. Contoh, suatu perkebunan besar, sebagian areal secara terpisah (blok) digunakan untuk tanaman karet, dan blok lainnya untuk kelapa sawit.
Persyaratan Tumbuh Tanaman atau LUR (Land Use Requirement).
Untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik, tanaman memerlukan persyaratan tumbuh tertentu. Persyaratan tersebut antara lain adalah faktor iklim (suhu, kelembaban, curah hujan), media perakaran (drainase, tekstur, kedalaman efektif), kesuburan tanah (kandungan bahan organik, fosfat, dan kalium), dan kondisi terrain (relief, keadaan batuan di permukaan).
Karakteristik Lahan atau LC (Land Characteristic)
Setiap lahan yang digunakan dalam evaluasi mempunyai interaksi antara satu karakteristik dengan karakteristik lainnya. Oleh karena itu, dalam evaluasi lahan perlu mempertimbangkan kualitas penggunaannya. Sebagai contoh, ketersediaan air ditentukan oleh bulan kering dan curah hujan, tetapi air yang dapat diserap tanaman bergantung pada media perakaran (tekstur dan kedalaman efektif).
Pohon Keputusan atau DT (Decision Tree)
Pengambilan keputusan untuk menentukan kelas kesesuaian lahan mempunyai hierarki bertingkat dan ditentukan oleh satu atau lebih karakteristik lahan yang mempunyai kaitan erat antar satu dengan lainnya. Model ini membentuk semacam pohon dengan rantingnya sehingga disebut sebagai pohon keputusan (Decision Tree). Keputusan penilaian dilakukan berdasarkan tingkatan kendala atau pembatas (severity level), mulai dari yang paling rendah hingga tingkat tertinggi.
Tingkatan kendala setiap karakteristik lahan berbeda menurut nilainya. Misalnya lahan dengan pH 3,0 mempunyai tingkat kendala yang lebih tinggi daripada pH 5,5.
Lahan dengan pH 3,0 dapat diputuskan sebagai lahan yang tidak sesuai (N) sehingga tidak perlu dipertimbangkan karakteristik lahan lainnya. Lahan dengan pH 5,5 masih bergantung pada karakteristik lahan lainnya, misalnya kedalaman tanah. Apabila kedalaman tanah pada lahan tersebut (pH 5,5) tergolong dangkal diputuskan sebagai lahan tidak sesuai (N) dan tidak diperlukan informasi karakteristik lahan lainnya.
Lahan dengan pH 5,5 diputuskan sebagai lahan sesuai (S).
Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan dilakukan dengan bantuan program ALES (Automated Land Evaluation System). Cara pengoperasian program ALES secara detil dapat dilihat dalam User Manual Version 4.65 (Rositer and van Wambeke, 1997) atau Petunjuk Pengoperasian Program ALES (Marwan et al., 1998)
Data yang disiapkan untuk keperluan evaluasi lahan terdiri atas data satuan peta (mapping unit) dan karakteristik lahan (land characteristic). Terdapat dua cara dalam penyiapan data untuk evaluasi lahan dalam program ALES, yakni: (1) data dientri secara manual dalam program ALES; (2) data dientri dengan bantuan program pengolah data (Lotus-123, MS Excel) atau database management (dBase, Foxbase).
Untuk penyusunan peta pewilayahan komoditas telah tersedia data dalam format database (LREP2). Dalam program ALES terdapat fasilitas impor data dari format database ke ALES. Namun karena tidak semua variabel yang ada dalam database tersebut digunakan untuk keperluan evaluasi lahan, maka dilakukan seleksi dan kalkulasi data terlebih dahulu dengan bantuan program SDPLE (Soil Data Processing for Land Evaluation).
Penyajian hasil evaluasi lahan dalam wujud spasial atau peta dilakukan dengan cara mengimpor data tabulasi ke dalam format GIS. Penyajian peta kesesuaian lahan dapat dibuat berdasarkan jenis komoditas pertanian dengan menggunakan program ArcView.
VERIFIKASI LAPANGAN Validasi Hasil Evaluasi
Hasil penilaian evaluasi lahan berupa data tabular maupun peta kesesuaian lahan masing-masing komoditas perlu diverifikasi dan divalidasi di lapangan.
Verifikasi data sangat diperlukan, baik berupa data bio-fisik lingkungan maupun data iklim. Parameter tanah yang menjadi faktor pembatas dalam evaluasi lahan perlu diperhatikan, seperti kondisi terrain (lereng, torehan, keadaan batuan di permukaan,
dan kemungkinan bahaya banjir), media perakaran (kedalaman efektif, tekstur, drainase, struktur tanah, density, dan kemasakan tanah), dan beberapa sifat kimia tanah yaitu reaksi tanah, bahan sulfidik, dan kandungan bahan organik. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara data yang ada dengan kenyataan di lapangan, maka data tersebut perlu diperbaiki.
Validasi dilakukan juga untuk mengkaji apakah model yang digunakan dalam penilaian sudah sesuai dengan kondisi setempat. Validasi dilakukan untuk mencocokkan data dan peta kesesuaian lahan dari hasil penilaian di kantor (desk work) dengan kenyataan di lapangan. Validasi dilakukan terhadap hasil penilaian kesesuaian lahan melalui pengecekan LUT, LUR, LC, dan perbaikan DT.
Selain itu, dalam verifikasi di lapangan, Puslitbangtanak juga akan membantu dan membimbing dalam rangka pembinaan yang meliputi pengamatan sifat morfologi tanah, cara pengambilan contoh tanah, dan cara pencatatan sistem informasi untuk basisdata tanah.
Pengumpulan Data Sosial-Ekonomi
Pengumpulan data sosial-ekonomi dilakukan oleh Tim Sosek dari masing- masing BPTP. Pengumpulan data tersebut dapat dilakukan melalui survei Sosek tersendiri, ataupun bersamaan dengan tim teknis pada saat verifikasi lapangan.
Pengumpulan data Sosek sebaiknya mengacu kepada penyebaran poligon-poligon satuan lahan, sehingga Tim Sosek tidak terlepas dari tim teknis secara keseluruhan.
Data sosial-ekonomi diperlukan sebagai bahan informasi untuk menentukan komoditas unggulan berdasarkan kelayakan usahatani atau investasi pengusahaannya.
Analisis usahatani digunakan sebagai parameter kelayakan penggunaan lahan untuk tanaman semusim, seperti tanaman padi, palawija, dan sayuran. Suatu usahatani tanaman tertentu dikatakan layak apabila nilai R/C-nya lebih besar atau sama dengan nilai yang ditetapkan. Semakin besar nilai R/C semakin tinggi tingkat kelayakan usahatani. Apabila terdapat lebih dari satu tanaman yang layak berdasarkan nilai R/C, maka digunakan indikator biaya produksi terkecil. Sebagai contoh data analisis usahatani beberapa tanaman pangan disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Indikator kelayakan investasi usahatani tanaman pangan (data tentatif).
Jenis tanaman Tipologi lahan Biaya produksi (Rp) Penerimaan (Rp) RCR
Kedelai Dfl 2.000.000 3.250.000 1,63
Kedelai Wrr 2.000.000 3.800.000 1,90
Padi gogo Dfc 1.500.000 2.000.000 1,33
Padi gogo Wrb 2.200.000 2.000.000 0,91
Padi gogo Wrr 1.500.000 2.500.000 1,67
Padi gog Dfc 1.500.000 2.000.000 1,33
Padi sawah Dfc 2.000.000 2.000.000 1,00
Padi sawah Wrb 1.800.000 2.300.000 1,28
Padi sawah Wrr 2.000.000 2.750.000 1,37
Padi sawah Wri 1.941.475 5.677.129 2,95
Ubi jalar Dft 1.500.000 2.000.000 3,00
Ubi jalar Wrb 1.800.000 2.000.000 1,11
Ubi jalar Wri 1.300.000 2.000.000 1,54
Ubi jalar Wrr 1.300.000 2.000.000 1,54
Jenis tanaman Tipologi lahan Biaya produksi (Rp) Penerimaan (Rp) RCR
Ubi kayu Wri 2.000.000 4.000.000 2,00
Ubi kayu Wrr 2.000.000 5.000.000 2,50
Cabai merah Wri 4.360.850 20.127.031 1,41
Tomat Wri 11.637.500 26.250.000 2,29
Kedelai Wri 1.511.327 2.275.000 1,51
Kacang tanah Dfl 1.954.047 2.933.247 1,48
Jagung Dfc 2.370.250 3.600.000 1,52
Keterangan:
RCR: Revenue cost ratio Wri: Sawah irigasi Wrb: Sawah di lahan payau Wrr: Sawah di lahan rawa
Dfc: Tanaman pangan serealia di lahan kering Dfl: Tanaman pangan leguminose di lahan kering Dft: Tanaman pangan umbi-umbian di lahan kering
Peluang atau kelayakan investasi dengan analisis finansial digunakan sebagai parameter kelayakan penggunaan lahan untuk tanaman tahunan (misalnya kelapa sawit, karet, dan kakao). Indikator yang diperhatikan untuk menganalisis kelayakan ekonomi pengelolaan usahatani tersebut adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Benefid Cost Ratio (BCR). Suatu investasi untuk usaha tanaman tahunan tertentu dikatakan layak apabila nilai indikator tersebut lebih besar atau sama dengan nilai yang ditetapkan. Data analisis investasi dari beberapa tanaman tahunan disajikan dalam Tabel 2.
Indikator kelayakan sosial-ekonomi dapat diperoleh dari hasil analisis usahatani dan investasi, yakni melalui pengumpulan dan pengolahan data biaya produksi, tingkat produksi, dan harga jual. Data harga (Saprodi dan hasil usahatani) dan tingkat upah tenaga kerja diharapkan sudah mencerminkan (mempertimbangkan) kondisi spesifik setempat, misalnya aksesibilitas pasar, jalan, sumber keuangan/kredit, dan ketersediaan tenaga kerja. Data tersebut bersifat dinamis. Oleh karena itu, perlu ada kegiatan verifikasi, yakni pemutakhiran dan validasi data di lapangan setiap periode tertentu.
Sumber data untuk analisis usahatani dapat diperoleh dari data sekunder atau data primer hasil wawancara dengan petani yang sudah berpengalaman dalam mengusahakan tanaman tertentu pada tipologi lahan tertentu. Semakin banyak petani yang diwawancarai (responden) untuk mendapatkan data usahatani, makin baik data yang dihasilkan. Pada wilayah yang cukup seragam, misalnya di sentra produksi, jumlah responden untuk mendapatkan data usahatani tanaman dapat lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sebagai bahan pertimbangan, jumlah responden di daerah produksi adalah 3-5 orang untuk setiap jenis tanaman pada tipologi lahan yang sama. Pada daerah potensial, jumlah responden berkisar 6-10 orang/tanaman/tipologi lahan.
Data usahatani atau investasi suatu usahatani didapat dengan mengisi daftar isian atau kuesioner. Pembuatan kuesioner beragam antarindividu. Oleh karena itu, dalam Juknis ini tidak disajikan contoh kuesioner yang spesifik. Sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kuesioner disajikan format analisis usahatani untuk mendapatkan indikator kelayakan usahatani tanaman semusim (Lampiran 2) dan format analisis kelayakan investasi tanaman tahunan (Lampiran 3). Berdasarkan
format tersebut, peneliti sosial ekonomi pertanian dapat menyusun kuesioner dan melaksanakan wawancara untuk mendapatkan data yang diperlukan.
Tabel 2. Indikator kelayakan investasi usahatani tanaman tahunan (data tentatif).
Jenis tanaman Tipologi
lahan Periode
analisis Total investasi
(Rp) NPV IRR BCR
Jeruk Dhp 10 5.000.000 29,0 1,60
Jeruk Wrb 10 7.000.000 28,0 1,30
Kakao Dep 15 6.000.000 94000 34,5 2,10
Karet Dep 25 4.000.000 50000 31,5 1,80
Karet Wrb 25 8.000.000 20000 22,5 1,40
Kayu manis Dep 15 7.000.000 27,0 2,30
Kelapa Dep 15 6.000.000 28000 26,8 2,00
Kelapa Wrb 15 9.000.000 -999 24,0 1,30
Kopi robusta Dep 10 8.000.000 28000 29,0 2,30
Kopi robusta Wrb 10 9.000.000 26,0 1,60
Pisang Wrb 3 4.000.000 24,0 2,30
Rambutan Dhp 15 2.000.000 23,0 1,90
Rambutan Wrb 15 2.500.000 22,0 1,60
Sawi Wrb
Sawit Dep 20 6.000.000 -90 19,8 2,00
Sawit Wrb 20 10.000.000 -32000 14,8 1,40
Kopi arabika Dep 10 8.000.000 30,0 2,40
Kopi arabika Wrb 10 9.000.000 27,0 1,70
Panili Dep 6 11.445.000 2662776 69,0 1,42
Keterangan:
NPV: Net present value IRR: Internal Ratre Return BCR: Benefit Cost Ratio
Dhp: Tanaman hortikultura tahunan di lahan kering Wrb: Sawah di lahan pasang surut
Dep: Tanaman tahunan perkebunan di lahan kering
Konsultasi dengan Instansi Terkait
Konsultasi dengan instansi terkait di daerah sangat diperlukan agar diperoleh masukan untuk menjaga keselarasan pewilayahan komoditas yang disusun dengan kebijakan yang ada di daerah. Aspek-aspek lain dalam pewilayahan komoditas, di antaranya aspek sosial, budaya, kelembagaan, dan peraturan masing-masing daerah setempat perlu dikonsultasikan agar dapat diakomodir dalam penyusunan peta pewilayahan komoditas.
PENYUSUNAN PETA PEWILAYAHAN KOMODITAS Modul Pewilayahan Komoditas
Hasil evaluasi lahan menyajikan kelas kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas pertanian andalan atau terpilih. Setiap satuan lahan yang dinilai bisa sesuai
untuk lebih dari satu komoditas. Oleh karena itu, untuk memilih jenis komoditas yang akan dikembangkan di suatu wilayah, perlu dipertimbangkan hal berikut:
1. Kelas kesesuaian lahan.
2. Komoditas andalan/unggulan daerah atau terpilih.
3. Tenaga kerja.
4. Peluang pasar.
5. Aksesibilitas, terutama sarana dan prasarana transportasi.
6. Aspek lainnya (keamanan, sosial budaya, dll).
Untuk menyusun peta pewilayahan komoditas pertanian telah disusun Modul Pewilayahan Komoditas (MPK) Versi-1. Untuk memanfaatkan modul tersebut diperlukan tiga macam data utama, yakni: (1) data hasil evaluasi lahan; (2) data peluang investasi; dan (3) data prioritas tanaman. Selain itu, data penggunaan lahan saat ini (present land use) juga diperlukan sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam pewilayahan komoditas. Data tersebut diperlukan untuk memperoleh pewilayahan komoditas yang sesuai secara fisik dan layak dikembangkan secara ekonomi.
Data hasil evaluasi lahan
Data yang diperlukan adalah dalam bentuk tabel kesesuaian fisik lahan untuk masing-masing tipe penggunaan lahan (LUT) pada setiap satuan peta.
Data peluang investasi
Data peluang investasi adalah berupa parameter ekonomi setiap tanaman yang diusahakan pada tipologi lahan tertentu. Indikator untuk menganalisis kelayakan ekonomi tanaman pangan adalah rasio penerimaan dengan total biaya produksi (R/C), sedangkan untuk tanaman tahunan adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Benefid Cost Ratio (BCR).
Data prioritas tanaman
Prioritas tanaman adalah urutan tanaman yang diunggulkan/diprioritaskan untuk dikembangkan di suatu daerah. Data prioritas tanaman ini diperoleh dari masing-masing daerah, berdasarkan pertimbangan dan kebijakan Pemda masing- masing.
Hasil Pewilayahan Komoditas Pertanian
Dengan memanfaatkan data hasil evaluasi lahan, kelayakan usahatani, prioritas tanaman dan penggunaan lahan saat ini, yang diproses melalui modul pewilayahan komoditas tersebut, maka dapat diperoleh hasil pewilayahan komoditas sebagaimana disajikan dalam Tabel 4.
Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian
Hasil penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian disajikan dalam bentuk peta yang dilengkapi dengan legenda dan naskah laporannya.
Format Peta Pewilayahan Komoditas
1. Sistem proyeksi dan koordinat peta mengikuti peta rupa bumi, yaitu sistem proyeksi TM (Transvere Mercator) dan sistem UTM (Universal Transvere Mercator). Apabila digunakan peta dasar selain peta rupa bumi, yang mempunyai sistem proyeksi yang berbeda, perlu dilakukan proyeksi terhadap sistem yang sama.
2. Skala peta. Peta pewilayahan komoditas disajikan dalam skala 1:50.000.
Informasi skala peta dibubuhkan pada peta dalam bentuk skala numerik dan skala grafis/garis.
3. Ukuran dan layout peta. Bentuk dan ukuran lembar peta mengikuti standar indeks peta yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal. Bagian tepi peta diletakkan pada sisi kanan peta, yang berisi informasi tepi. Bentuk peta berupa empat segi panjang dengan ukuran 47 x 55 cm. Untuk mempermudah penyajian dan menjawab kepentingan daerah, peta dapat disajikan berdasarkan batas administratif (kabupaten, kecamatan, atau desa).
4. Informasi peta dasar yang harus disajikan dalam peta pewilayahan komoditas adalah:
a. Hidrologi: sungai dan anak sungai, danau, waduk, dan rawa. Sungai utama atau sungai besar digambarkan sebagai poligon cost line.
b. Topografi: garis kontur (selang 100 m) dan titik ketinggian tempat.
c. Jalan: jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, jalan setapak, dan rel kereta api.
d. Pemukiman: pemukiman rapat seperti ibu kota provinsi, ibu kota kabupaten, atau kota besar lainnya digambarkan sebagai poligon. Sedangkan pemukiman tidak rapat digambarkan sebagai titik (berjenjang), misalnya ibukota kecamatan berupa titik berukuran lebih besar daripada desa.
e. Batas administrasi: batas provinsi, batas kabupaten, dan batas kecamatan dengan simbol yang berbeda.
f. Anotasi yang berupa nama desa, nama kota, nama daerah administrasi dituliskan dengan tinta hitam dengan huruf tegak. Sedangkan anotasi badan air dituliskan dengan tinta biru dengan huruf italik/miring. Klasifikasi tingkat kepentingannya digambarkan dengan jenis huruf kapital atau huruf kecil.
g. Informasi tepi: judul peta, skala peta, arah utara, legenda, angka koordinat, peta indeks, dsb.
h. Informasi lain: sumber data, tim penyusun, dsb.
i. Legenda peta terdiri dari: (1) legenda umum; (2) legenda peta pewilayahan komoditas.
Legenda Peta Pewilayahan Komoditas
Legenda peta pewilayahan komoditas mencakup informasi tentang simbol dan uraiannya, serta komoditas terpilih.
BP2TP
12
Tabel 4. Salah satu contoh hasil pewilayahan komoditas pertanian sampai kelompok tanaman.
MU NR ZONE TANAMAN KODE KELAS RANKING PRIORITAS INDEKS STATUS RCR IRR_PR BCR_PR NPV BP KELOMPOK
001 IV KC. PANJANG Df 3 4 6 1 LAYAK 1,10 0,00 0,00 0 4767200 Pangan
001 IV LADA De 3 1 22 7 LAYAK 0,00 1665,00 1,35 124226100 0 Tahunan
001 IV LOBAK Dh 2 6 15 3 LAYAK 1,03 0,00 0,00 0 3863000 Pangan
001 IV MENTIMUN Dh 3 2 7 2 LAYAK 1,98 0,00 0,00 0 3186260 Pangan
001 IV SEMANGKA Dh 3 3 18 4 LAYAK 1,93 0,00 0,00 0 3504000 Pangan
001 IV UBI JALAR Df 2 1 21 6 LAYAK 2,10 0,00 0,00 0 2637500 Pangan
001 IV UBI KAYU Df 2 5 20 5 LAYAK 1,13 0,00 0,00 0 4278000 Pangan
002 IV KC. PANJANG Df 3 4 6 1 LAYAK 1,10 0,00 0,00 0 4767200 Pangan
002 IV LADA De 2 1 22 7 LAYAK 0,00 2220,00 1,80 124226100 0 Tahunan
002 IV LOBAK Dh 2 6 15 3 LAYAK 1,03 0,00 0,00 0 3863000 Pangan
002 IV MENTIMUN Dh 3 2 7 2 LAYAK 1,98 0,00 0,00 0 3186260 Pangan
002 IV SEMANGKA Dh 3 3 18 4 LAYAK 1,93 0,00 0,00 0 3504000 Pangan
002 IV UBI JALAR Df 2 1 21 6 LAYAK 2,10 0,00 0,00 0 2637500 Pangan
002 IV UBI KAYU Df 2 5 20 5 LAYAK 1,13 0,00 0,00 0 4278000 Pangan
003 IV PADISAWAH Wri 2 1 2 1 LAYAK 1,61 0,00 0,00 0 1877700 Pangan
004 IV JAGUNG Df 2 5 1 1 LAYAK 1,06 0,00 0,00 0 1389475 Pangan
004 IV KC. PANJANG Df 3 6 6 3 LAYAK 1,10 0,00 0,00 0 4767200 Pangan
004 IV LADA De 3 1 22 7 LAYAK 0,00 1665,00 1,35 124226100 0 Tahunan
004 IV MENTIMUN Dh 3 1 7 4 LAYAK 1,98 0,00 0,00 0 3186260 Pangan
004 IV PADI GOGO Df 2 4 3 2 LAYAK 1,29 0,00 0,00 0 922407 Pangan
004 IV SEMANGKA Dh 3 2 18 5 LAYAK 1,93 0,00 0,00 0 3504000 Pangan
004 IV UBI JALAR Df 3 3 21 6 LAYAK 1,57 0,00 0,00 0 2637500 Pangan
005 IV JAGUNG Df 2 6 1 1 LAYAK 1,06 0,00 0,00 0 1389475 Pangan
005 IV KC. HIJAU Df 2 7 19 8 LAYAK 1,06 0,00 0,00 0 2307000 Pangan
005 IV KC. PANJANG Df 2 4 6 3 LAYAK 1,47 0,00 0,00 0 4767200 Pangan
005 IV KUBIS Dh 2 8 16 6 LAYAK 1,15 0,00 0,00 0 4178000 Pangan
005 IV LADA De 1 1 22 11 LAYAK 0,00 2775,00 2,25 124226100 0 Tahunan
005 IV LOBAK Dh 2 10 15 5 LAYAK 1,03 0,00 0,00 0 3863000 Pangan
11 BP2TP JUKNIS LITKAJI NASIONAL – SUMBER DAYA LAHAN
Simbol dan uraian
Simbol satuan pewilayahan komoditas merupakan gabungan simbol dari zona agroekologi, kelompok lahan, dan kelompok komoditas. Dalam pemberian simbol kelompok komoditas hanya disajikan dua jenis kelompok komoditas terpilih utama. Secara lengkap pemberian simbol untuk masing-masing satuan lahan disajikan dalam modul pewilayahan komoditas (suplemen 1).
Contoh: IV/Df-h
IV: Zone agroekologi IV D : Kelompok lahan kering
f : Kelompok komoditas tanaman pangan
h : Kelompok komoditas hortikultura (sayuran/buah semusim) Komoditas terpilih
Komoditas terpilih yang disajikan dalam legenda peta maksimal 10 komoditas, terdiri dari lima komoditas tanaman pangan dan lima komoditas tanaman tahunan.
Contoh legenda peta pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan zona agroekologi disajikan dalam Tabel 4. Sedangkan penyimbolan satuan peta pewilayahan komoditas berdasarkan zona agroekologinya mengikuti hierarkhi sebagaimana disajikan dalam Lampiran 4. Jenis komoditas yang dinilai disajikan dalam Lampiran 5.
Tabel 5. Contoh legenda peta pewilayahan komoditas pertanian.
Simbol Sistem Pertanian Komoditas Pertanian
Terpilih Luas
I/Dj Zone I, lahan kering, hutan - II/Dh-e Zone II, lahan kering,
hortikultura dan perkebunan tahunan
Alpukat, durian, kopi, cengkeh
II/Dh-e Zone II, lahan kering, hortikultura semusim, dan perkebunan tahunan
Kentang, wortel, kubis, tomat, bawang daun, kopi, cengkeh
III/Df Zone III, lahan kering, tanaman pangan serealia, dan kacang- kacangan
Padi gogo, jagung, sorghum, kacang merah, buncis dan kacang kapri IV/Df-h Zone IV, lahan kering, tanaman
pangan, dan hortikultura semusim
Padi gogo, jagung, sorghum, cabai merah, selada
IV/Wri-f Zone IV, lahan basah, sawah
irigasi, dan tanaman pangan Padi sawah, kedelai dan jagung
Penyusunan Laporan
Naskah laporan peta pewilayahan komoditas pertanian disusun berdasarkan zona agroekologi skala 1:50.000. Untuk keseragaman bentuk laporan di masing- masing BPTP, maka format laporan tersebut adalah sebagai berikut:
Judul: Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona Agroekologi, Skala 1:50.000 di Daerah………….., Provinsi…………..
Format laporan:
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN RINGKASAN
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan
1.3. Luaran
II. BAHAN DAN METODE 2.1. Bahan
2.2. Metode
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil
3.1.1. Keadaan Daerah: iklim, tanah (relief, bentuk wilayah, dst.), sarana/prasarana (aksesibilitas, transportasi), penggunaan lahan dan komoditas andalan/unggulan (existing teknologi/manajemen), sosial ekonomi (usahatani, peluang pasar, gender)
3.1.2. Evaluasi Lahan: hasil penilaian untuk berbagai penggunaan lahan 3.2. Pembahasan (pewilayahan komoditas pertanian)
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
V. PRAKIRAAN DAMPAK HASIL KEGIATAN DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran 1. Lokasi yang tersedia data tanah (dBase) dan peta tanah semi detail digital skala 1:50.000.
Provinsi Lokasi Lembar dBase Luas
(ha) Pelaksana Jabar Karawang-Citarum Triasari, Rengasdengklok,
Mekarsari, Cilamaya, Bekasi Ada 132.940 Puslitbangtanak Jateng Sekitar Semarang Wedung, Semarang Utara,
Semarang Selatan, Mranggen, Bringin, Ambarawa
Ada 132.500 Puslitbangtanak
Jatim Pacitan Pacitan Ada 234.420 Puslitbangtanak
Tuban-Gresik Tuban-Gresik Ada
Sulut Marisa Papayato Beteleme, Sukamaju, Ma,
Litopuntu, Lemito Ada 50.000 Puslitbangtanak
Danau Tondano Manado, Longowan Ada 55.425 Puslitbangtanak
Danau Limboto Limboto, Gorontalo Ada 50.000 Puslitbangtanak Paguyaman Tilamuta, Molobulahe, Bolontio,
Tengah Ada 42.640 Puslitbangtanak
Sulteng Mori Atas Bungku,
Lore Utara, Tomata Batelema, Kolonodale, Salindu,
Ensa, Wuasa, Tomata, Peleru Tidak 73.207 Unsrat Sultra P. Muna
Wangi-wangi Raha, Kep. Tiworo, Matandasa,
Wangi2, Kaledupa Tidak 128.519 Unhas
Poleang Watubangga, Taubonto, Lambada Ada 98.000 Unsud Sulsel DAS Sadang-
Mamasa Buakayu, Bituang, Makale,
Rantepao Ada 200.000 Puslitbangtanak
NTT Oesao-Kupang Oesao Ada 63.400 Puslitbangtanak
Bena Bena Ada 36.000 Puslitbangtanak
Magepanda-Flores Magepanda Ada 22.006 Puslitbangtanak
Lembor-Flores Ada 70.000 Unud
Mbay-Flores Ada 30.002 Puslitbangtanak
Pametikarata-
Sumba Ada 33.000 Puslitbangtanak
Melolo/Mangili-
Sumba Ada 78.770 Puslitbangtanak
Kodi/Tosi/
Satargising-Sumba Watunggong, Lengkoelar Tidak 80.000 UGM Wanokaka/Waikelo
s Mantendo, Wanokaka,
Waikelosowa Tidak 90.000 Unsud
Timor Nauleu, Besikama Ada 58.650 Puslitbangtanak
Panondiwa-
Wangka Ada 23.777 Puslitbangtanak
NTB Pringgabaya Ada 65.952 Unud
Lombok Utara Sunut
Dompu-Sumbawa Ada 121.991 Unibraw
Tambora-Sumbawa
Lampiran 2. Contoh formulir analisis kelayakan usahatani.
A. Analisis usahatani tanaman semusim (Rp/ha/MT) 1. Nama tanaman : ____________________________
2. Tipologi lahan : sawah/lahan kering/rawa pasang srt (coret yang tidak perlu) I. Biaya produksi
Upah/sat. Nilai A. Penggunaan
TK Satuan Jumlah
(Rp) (Rp) Keterangan
1. Pengolahan
tanah HKO Upah/borong
HKT Upah/borong
Mesin Upah/borong
2. Aplikasi
pupuk dasar HKO
HKT
3. Tanam
4. Penyiangan
5. Pemupukan
6. Pemeliharaan
7. Panen
8. Pascapanen
Subtotal (1) Rp xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx Rumus B. Sarana produksi Satuan Jumlah Harga/sat. Nilai Keterangan
1. Benih kg
2. Urea kg
3. ZA kg
4. SP36 kg
5. KCl kg
6. Pupuk kandang kg
7. Obat-obatan padat kg
8. Obat-obatan liter
Subtotal (2) Rp xxxxxxxx xxxxxxxx Rumus
9. Biaya modal %/MT xxxxxxxx Rumus
Total biaya produksi Rp xxxxxxxx xxxxxxxx Rumus II. Hasil usahatani
Parameter Satuan Jumlah Harga/sat. Nilai Keterangan
1. Produksi kg pipilan xxxxxxxx
2. Penerimaan Rp xxxxxxxx xxxxxxxx Rumus
3. Pendapatan Rp xxxxxxxx xxxxxxxx Rumus
4. R/C Unit xxxxxxxx xxxxxxxx Rumus
Sumber data: ____________________
Catatan: HKO = hari kerja orang; HKT = hari kerja ternak; xxxxxxxxx = tidak diisi
Lampiran 2. Lanjutan…
B. Data investasi usaha tanaman tahunan (Rp/ha) 1. Nama tanaman:
2. Tipologi lahan: lahan kering/rawa ps/hutan atau lainnya (coret yg tak perlu)
3. Jangka waktu analisis/umur ekonomis tanaman: ________ tahun
4. Masa pemeliharaan TBM (tanaman belum menghasilkan): ________ tahun
I. Uraian biaya Saprotan Upah kerja Lainnya Total
1. Biaya investasi tahun awal (Rp/ha) T1
2. Biaya pemeliharaan TBM (Rp/ha/th) T1
(T1= tahun awal pemeliharaan T2
T3
T4
T5
3. Biaya pemeliharaan TM (Rp/ha/th) Th1-Th3
(Th1= tahun awal berproduksi) Th4-Th7
(data rata-rata) Th8-Th11
Th12-Th15
Th16-Th20
Th21-Th25
4. Biaya penyusutan modal (Rp/th) Rumus xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx 5. Biaya angsuran modal (Rp/th) Rumus xxxxxxxx xxxxxxxx xxxxxxxx
(flat saja)
II. Uraian penerimaan Tahun produksi ke
Tingkat produksi (kg/ha/th) 1 2 3 4 5
Th1-Th5
6 7 8 9 10
Th6-Th10
11 12 13 14 15
Th11-th15
16 17 18 19 20
Th16-Th20
1 2 3 4 5
Harga jual (Rp/kg) (bisa Th1-Th5
diasumsikan sama saja) 6 7 8 9 10
Th6-Th10
11 12 13 14 15
Th11-th15
16 17 18 19 20
Th16-Th20
III. Indikator analisis investasi 1. NPV (Rp):
2. BCR (20%):
3. IRR (%):
Lampiran 3. Contoh tabel analisis investasi tanaman perkebunan.
Asumsikan:
Nama tanaman:_______________ Cicilan pokok kredit flat setelah berproduksi Periode analisis:__________ tahun cicilan bunga kredit flat ____%/th dibayar
setelah berproduksi
Bentuk/landuse saat ini: tegalan/semak- belukar/hutan konversi (coret yang tak perlu)
Periode Tahun Tolok Ukur Satuan
T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10 T11 T12 T13 T14 T15 T16 T17 T18 T19 T20 1. Biaya investasi Rp 1.000
2. Biaya operasional Rp 1.000 3. Cicilan pokok kredit Rp 1.000 4. Cicilan bunga kredit Rp 1.000 5. Biaya lain-lain Rp 1.000 6. Total biaya Rp 1.000
7. Produksi Kg
8. Harga jual Rp/kg 9. Penerimaan Rp 1.000 110. Lain-lain Rp 1.000 111. Total penerimaan Rp 1.000
112.Pendapatan Rp 1.000
NPV (20%) : <-- rumus
IRR : <-- rumus
BCR (20%) : <-- rumus
Catatan:
- Investasi adalah: pembukaan lahan, persiapan lahan, tanam, benih/bibit (material dan tenaga kerja).
- Biaya operasional adalah: pemeliharaan (saprotan dan tenaga kerja) setiap tahun (T1 s/d Tn) (untuk beberapa tanaman tahunan andalan daerah).
- Kolom tahun bisa ditambahkan sesuai keperluan.
Lampiran 4. Hierarkhi penyimbolan legenda peta pewilayahan komoditas.
Sawah (r), dibedakan berdasarkan pola tanam
Ikan (1), dibedakan atas perikanan:
1. Darat (f) 2. Pasang surut (b) Hutan (j)
Lahan Basah (W):
Hutan (j)
Pangan (f), dibedakan atas:
1. Serealia (c) 2. Umbi-umbian (t) 3. Polong-polongan (l)
Hortikultura (h), dibedakan atas:
1. Sayuran/buah semusim (a) 2. Buah-buahan/tahunan (p)
Perkebunan/Industri (e), dibedakan atas:
1. Semusim (a) 2. Tahunan (p) 3. Serealia © Lahan Kering (D):
Lampiran 5a. Kelompok tanaman pangan (f) yang dinilai kesesuaian lahannya.
Letak wilayah Iklim basah*) Iklim kering*)
Dataran rendah (< 700 m dpl)
a. Serealia (c) Padi, jagung, sorgum Gandum, sorgum
b. Ubi-ubian (t) Ubijalar, ubikayu, talas, iles-iles Ubikayu, ubijalar c. Polong-polongan (l) Kedelai, kacang tanah, kacang hijau,
kacang tunggak, kacang arab, mukuna
Kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang tunggak, kacang arab, kacang panjang, mukuna Dataran tinggi
(> 700 m dpl)
a. Serealia (c) Padi, jagung, sorgum gandum, sorgum
b. Ubi-ubian (t) Ubijalar, ubikayu, talas, iles-iles,
kentang Ubijalar, iles-iles
c. Polong-polongan (l) Kedelai, kacang merah, kacang
kapri, buncis, mukuna -
*) Iklim Basah: A, B, C dan Iklim Kering: D, E, F (Oldeman et al., 1971)
Lampiran 5b. Kelompok tanaman hortikultura (h) yang dinilai kesesuaian lahannya.
Letak wilayah Iklim basah*) Iklim kering*)
Dataran rendah (< 700 m dpl)
Sayuran/semusim (a) Seledri, selada, tomat, mentimun, cabai hijau, cabai merah, paprika, terung, kuncai, bayam, pare, bawang daun
Bawang merah, terung, bawang daun
Buah-buahan/tahunan (p) Rambutan, duku, durian, manggis, belimbing, nangka, jeruk, jambu air, cempedak, klengkeng, sukun, jambu batu, sawo, kedondong, alpokat, salak, petai, jengkol, delima, strawberi, srikaya, sirsak, pepaya, pisang, melon, blewah, semangka, nenas
Mangga, jeruk, anggur, alpokat, jambu batu, kedondong, salak, nangka, sukun, klengkeng, melon, blewah, semangka Dataran tinggi
(> 700 m dpl) Kubis, gambas, seledri, selada, kentang, asparagus, brokoli, wortel, tomat, lobak, bawang daun, biet, sawi, lettuce, kailan, petsai, tomat, cabai, carica
Bawang putih, bawang daun
Sayuran/semusim (a) Kubis, gambas, seledri, selada, kentang, asparagus, brokoli, wortel, tomat, lobak, bawang daun, biet, sawi, lettuce, kailan, petsai, tomat, cabai, carica
Bawang putih, bawang daun
Buah-buahan/tahunan (p) Jeruk, klengkeng, nangka, sukun, jambu air, jambu batu, sawo, kedondong, alpokat, kesemek
Apel, jeruk, alpokat, nangka, sukun, jambu batu, kedondong, klengkeng
*) Iklim Basah: A, B, C dan Iklim Kering: D, E, F (Oldeman et al., 1971)
Lampiran 5c. Kelompok tanaman perkebunan/industri (e) yang dinilai kesesuaian lahannya.
Letak wilayah Iklim basah*) Iklim kering*)
Dataran rendah (< 700 m dpl)
Semusim (a) - Serat, tebu, kapas,
nilam, tembakau
Tahunan (p) Kelapa sawit, kelapa, kopi
(robusta), karet, kakao, melinjo, cengkeh, pala, lada
Kelapa, jambu mete, kapok, kemiri, jarak Dataran tinggi (> 700 m dpl)
Semusim (a) - Tembakau
Tahunan (p) Kina, teh, kopi (arabika)
cengkeh, jarak, kayu manis Kopi (arabika), kemiri, jarak
*) Iklim Basah: A, B, C dan Iklim Kering: D, E, F (Oldeman et al., 1971)
2. Pembuatan Peta Status P dan K Lahan Sawah Skala 1:50.000 dan Percobaan Pemupukan
PENDAHULUAN
Pembuatan peta status hara P dan K lahan sawah telah dimulai pada tahun 1970 di Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak) dengan diterbitkannya Peta Sementara Daerah Sawah Memerlukan Fosfat Jawa dan Madura edisi I berskala 1:250.000. Pada tahun 1974 peta ini telah diperbaiki dengan dikeluarkannya Peta Fosfat Jawa dan Madura Edisi I. Pada tahun 1988 peta ini disempurnakan lagi dengan dibuatnya Peta Keperluan Fosfat Lahan Sawah Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur skala 1:250.000 edisi III yang merupakan Peta Penyempurnaan Keperluan Fosfat tahun 1974 (Moersidi et al., 1989). Peta ini membagi Status P tanah menjadi tiga kelas berdasarkan P2O5 ekstrak HCl 25% yaitu tanah berstatus P tinggi (>40 mg P2O5/100 mg) dan P rendah (< 20 mg P2O5).
Peta status K tanah sawah juga telah dibuat oleh Puslitbangtanak dengan beberapa kali penyempurnaan sejak awal tahun 1970. Pada tahun 1991 telah dipublikasi peta status hara K lahan sawah untuk seluruh Jawa versi terakhir (edisi V) berskala 1:250.000. Peta ini membedakan status K tanah menjadi tiga kelompok berdasarkan kadar K2O ekstrak HCl 25%, yaitu tanah berstatus K tinggi (>20 mg K2O/100g), sedang (10-20 mg K2O/100g), dan rendah (<10 mg K2O/100g).
Penetapan P dan K dengan ekstrak HCl 25% tersebut didasarkan pada hasil penelitian Moersidi et al. (1991) dan Sri Rochayati et al. (1991) di Jawa, serta hasil penelitian Soepartini et al. (1994) di Lombok.
Rekomendasi pemupukan P dan K untuk padi masih bersifat umum yaitu sekitar 100-150 kg/ha dan 50-100 kg KCl/ha tanpa mempertimbangkan kandungan P dan K dalam tanah. Sekretariat Pengendali Bimas menyerahkan rekomendasi pemupukan kepada masing-masing provinsi, namun rekomendasi tersebut belum spesifik lokasi karena kurangnya informasi/data tanah yang diperlukan. Dengan kata lain rekomendasi pemupukan padi sawah di masing-masing provinsi masih seragam, belum didasarkan pada kandungan hara tanah. Peta status hara P dan K lahan sawah yang memberi informasi tentang lahan yang berstatus P dan K rendah, sedang, dan tinggi sangat bermanfaat untuk menentukan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi.
Berdasarkan hasil penelitian di Jawa dilaporkan bahwa lahan sawah yang berstatus P rendah respon terhadap pemupukan P, berstatus P sedang sedikit respon, dan tanah berstatus P tinggi sama sekali tidak respon terhadap pemberian pupuk P.
Oleh karena itu, Sri Adiningsih et al. (1989) menyarankan dosis rekomendasi pemupukan P untuk lahan sawah berstatus P tinggi dan sedang perlu diturunkan masing-masing menjadi 50 dan 70% dari dosis anjuran. Di lain pihak Moersidi et al.
(1989) mengeluarkan anjuran pemupukan yang lebih spesifik yaitu tanah berstatus P tinggi dipupuk 50-75 kg TSP/ha, berstatus P sedang dipupuk 75-125 kg TSP/ha dan tanah yang berstatus P rendah dipupuk lebih dari 125 kg TSP/ha.
Puslitbangtanak telah meneliti status hara P dan K lahan sawah hampir di seluruh provinsi yang luarannya berupa peta status hara P dan K lahan sawah skala 1:250.000. Peta status hara P dan K skala 1:250.000 yang telah dibuat Puslitbangtanak ini telah digunakan oleh beberapa BPTP dalam rangka menyusun rekomendasi pemupukan, walaupun kurang akurat karena skalanya kecil, dimana satu contoh tanah yang dianalisis mewakili luasan sawah sekitar 625 ha. Untuk mendapatkan rekomendasi yang lebih tepat, status hara P dan K tersebut perlu diteliti/dipetakan lebih detail dengan skala 1:50.000.
Peta skala 1:50.000 merupakan peta semi detail, dimana setiap cm2 dalam peta mewakili areal seluas 25 hektar dengan jarak observasi di lapang setiap 500 meter (Dent et al., 1981).
CARA PEMBUATAN PETA STATUS HARA P DAN K SKALA 1:50.000 Metodologi pembuatan peta ini terdiri dari beberapa tahap kegiatan yaitu:
tahap perencanaan, tahap persiapan, tahap operasi lapang, tahap analisis contoh, tahap pengolahan data, dan tahap pembuatan peta.
Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan merupakan tahap awal dari kegiatan yang akan dilaksanakan.
Rencana kegiatan pemetaan dilakukan 1 sampai 2 bulan sebelum survei.
Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam tahap ini dan erat kaitannya dengan tahap-tahap kegiatan selanjutnya adalah:
1. Perencanaan luas lahan yang akan disurvei/dibuat petanya.
2. Perencanaan jumlah contoh tanah yang akan diambil.
3. Perencanaan jumlah contoh air yang akan diambil.
4. Perencanaan jumlah tenaga yang akan terlibat dalam kegiatan survei.
5. Perencanaan transportasi dan akomodasi yang diperlukan selama survei.
Tahap Persiapan
Tahap persiapan merupakan tahap kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan survei/operasi lapang. Tahap ini meliputi beberapa kegiatan yaitu: studi pustaka, pengumpulan/ pengadaan peta, pembuatan peta lapang/peta operasionil, pengumpulan data, dan pengadaan alat/bahan.
Studi pustaka
Bahan bacaan dan informasi yang diperlukan terutama mengenai:
1. Hasil penelitian P dan K yang telah dilakukan.
2. Luas lahan sawah dan penyebarannya.
Pengumpulan peta
Peta-peta yang diperlukan adalah:
1. Peta administratif skala 1:25.000 dan 1:50.000.
2. Peta rupabumi/topografi skala 1:25.000 dan 1:50.000.
3. Peta tanah skala 1:25.000 dan 1:50.000.
4. Peta land use/penggunaan lahan skala 1:50.000.
Peta-peta tersebut dapat diperoleh dari beberapa instansi terkait di antaranya Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), Direktorat Geologi dan Sumberdaya Mineral, dan Puslitbangtanak.
Pembuatan peta lapang (peta operasional)
Peta lapang/peta operasional harus dibuat dengan skala 1:25.000, merupakan peta petunjuk atau pedoman saat pelaksanaan survei. Oleh karena itu, peta tersebut harus dibuat sejelas-jelasnya terutama batas lahan sawah dengan lahan kering, batas desa dan kecamatan, jalan, dan sungai/saluran air. Peta ini dapat dibuat dari peta rupa bumi skala 1:25.000 terbitan baru, agar tidak terdapat perubahan-perubahan dan masih sesuai dengan kondisi daerah yang akan disurvei.
Dalam peta lapang telah dibuat "tanda" rencana tempat pengambilan contoh tanah, pembuatan tanda tersebut diawali dengan pembuatan grid dengan jarak setiap 2 cm dalam peta atau 500 m di lapang.
Pengumpulan data
Data-data penting yang diperlukan sebagai penunjang dalam pembuatan peta status P dan K skala 1:50.000 adalah:
1. Data luas lahan sawah setiap kecamatan.
2. Data penggunaan pupuk, terutama pupuk P dan K setiap areal/hamparan sawah.
Alat dan bahan
Alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan adalah:
1. Bor tanah (bor belgi dan bor sawah) 2. Pisau lapang
3. Ember plastik ukuran 5 galon
4. Kertas karton untuk label dalam ukuran 5 x 10 cm 5. Kertas karton untuk label luar ukuran 6 x 12 cm 6. Benang woll
7. Plastik kantong yang tebal ukuran 5 x 10 cm (plastik label)
8. Plastik kantong ukuran 15 x 25 cm (tempat contoh tanah komposit) 9. Plastik kantong ukuran 50 x 80 cm
10. Karung plastik ukuran 50 x 80 cm 11. Tali rafia
12. Stepler ukuran HD-10 13. Pisau cutter
14. Spidol tahan air warna hitam 15. Alat tulis
16. Jerigen air isi 1 liter Tahap Operasi Lapang
Tahap operasi lapang meliputi kegiatan pra survei dan survei utama.
Pra survei
Kegiatan pra survei dilaksanakan 7 sampai 14 hari sebelum pelaksanaan survei utama, kegiatan pra survei meliputi:
1. Konsultasi dengan Dinas Pertanian setempat, terutama tentang pemberitahuan rencana survei dan pembuatan surat pengantar untuk KCD dan Koordinator PPL.
2. Konsultasi dengan Balai Informasi Pertanian setempat, terutama tentang informasi penggunaan pupuk.
3. Konsultasi dengan Badan Pertanahan Nasional setempat, terutama tentang pengadaan peta administratif dan peta penggunaan lahan (land use).
4. Penentuan tempat tinggal (base camp dan camp) selama pelaksanaan survei utama.
5. Perencanaan transportasi dan pembagian regu surveyor.
Survei utama
Survei utama meliputi kegiatan pengambilan contoh tanah dan pengambilan contoh air.
Pengambilan contoh tanah
Contoh tanah diambil secara komposit pada seluruh areal lahan sawah yang akan dibuat petanya, tempat pengambilan contoh ini dilakukan pada "tanda" yang telah dibuat dalam peta lapang/peta operasional. Pada setiap tanda pengambilan yang telah dibuat diambil satu contoh tanah komposit. satu contoh tanah komposit terdiri dari 10 sampai 15 contoh individual (subcontoh), dengan jarak pengambilan tiap subcontoh 25-50 m di lapang. Alat yang digunakan untuk pengambilan subcontoh adalah bor belgi atau bor sawah, contoh tanah yang diambil pada lapisan olah dengan kedalaman 20 cm. Pengambilan subcontoh dilakukan dengan cara diagonal beberapa tempat seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1. Contoh-contoh individual tersebut dimasukkan ke dalam ember dan dicampur sampai homogen, setelah homogen diambil seberat 0,5 sampai 1 kg, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran 15 x 25 cm dan diberi label dalam yang terlebih dahulu telah diisi dan dimasukkan dalam plastik label, kemudian diikat dengan benang woll yang telah terpasang label luar. Pengisian/penulisan label dalam dan label luar terdiri dari tanggal pengambilan, kode pengambil dan nomor contoh serta nama lokasi (desa, kecamatan, kabupaten). Contoh tersebut merupakan satu contoh komposit. Setiap selesai pengambilan satu contoh komposit langsung diplotkan pada peta lapang/peta operasional dimana tempat pengambilan contoh dilakukan dan tiap ploting pengambilan diberi kode pengambil dalam peta yang sama dengan kode pengambil dalam label.