Moh Rosyid IAIN Kudus
Jejak Kota Kuno di Kudus:
Menunggu Sentuhan Arkeolog
Ada apa dg topik ini?
• narasi sejarah –apalagi sejarah akademik- harus berpijak pd fakta yg sahih. Dibuktikan dg data, referensi, cerita atas dasar realita.
• Sejarawan akademik berkepentingan mengungkap sejarah apa adanya. Masyarakat berkepentingan menemukan dan meninggikan tempatnya dlm sejarah dan membesarkan peran masing-masing dlm mengungkapkan sejarah (unfolding of history).
Bagaimana bila Fakta sejarah menafikan realita ?
• Kota Kudus memiliki ragam artefak dan situs bersejarah. Hanya saja, perlu diperkuat dg argumen sejarah atas dasar fakta ilmiah.
• bila tidak, yg tjd adalah klaim sejarah atas dasar posisi mayoritas menafikan peran/fakta minoritas !
Penguasa dan sejarah
• Penguasa berkepentingan dg sejarah, tak hanya memelihara utk kesinambungan status quo juga mdpt tempt lbih utama dlm sejarah. Hal ini utk membesarkan warisan (heritage) rezim dlm perjalanan sejarah bangsa. Sejarah menjadi kepentingan ideologis (ideological history) yg merupakan ’reinvented history’.
(Azyumardi Azra. Internasionalisasi Kajian Islam Indonesia. Republika, 4 Oktober 2012, hlm.12).
Riset arkeologi di Kudus Raya
• Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng th 1988 melakukan kajian di Gunung Muria (lereng utara di wilayah Kab Jepara, lereng selatan di Kudus).
• Di wilayah Jepara ditemukan Candi Angin 1 dan 2, ada 4 buah menhir
• Di wilayah Kudus ditemukan 16 petilasan keramat tdpt onggokan dan timbunan batu, monolit, yoni, lingga, lumpang batu persegi (di kawasan Rahtawu)
Benda Kuno di Desa Bacin, Kec bae,
Kudus
Foto Kudus pra-Islam
Masjid al-Aqsha Kudus
direnovasi th 1919, 1933, 1976, dan 1978.
cerita rakyat ttg pendirian Menara
(1) pembakaran mayat raja, bangsawan Hindu, (2) eks-candi Hindu, (3) lahan bangunan sebelumnya ada mata air kembar memancarkan (banyu kauripan atau amarta/tirta kamandanu) air diyakini media menghidupkan orang mati.
Kondisi dianggap rentan mengubah akidah, maka ditutup dan didirikan Menara.
Keramik di dinding Menara
• Arkeolog Jepang Sakai Takashi dan Takimoto Tadashi th 2013 menelusuri asal mula keramik di Masjid dan Menara.
Ada dua di antara sekian banyak keramik menurutnya made in Vietnam abad ke-14 s.d 15.
• Keramik di bagian utara berbentuk segi empat, berwarna dasar putih, bagian tengah berwarna sedikit kebiruan bermotif bunga berumur paling tua, awal abad ke-14/
tahun 1450 M.
• Pada bagian selatan berbentuk lebih besar didominasi warna biru bermotif bunga nuansa Vietnam, bentuknya bercorak Islam. Motif serupa dijumpai di Istambul, umurnya lebih muda, yaitu menjelang atau awal abad ke-15. Pernik keramik sebagian besar di Masjid dan Menara buatan China tahun 1920-an.
Rehab Menara
• tahun 1880, 1913, 2014 direnov temboknya,
• selasar direnov tahun 1933.
• Tim BPCB Jateng tahun 2011 memugar dilanjutkan th 2013 bagian mustaka atau atap serta sirap mengganti 3.000 buah batu bata yang rapuh di 28 lapis. Pada Mei dan Juni 2014 direvitalisasi batu batanya sebanyak 80 persen rapuh (10 ribu batu bata).
Renovasi Menara th 2014
Ada Apa dg Kota Kudus ?
• Ragam situs dan artefak bersejarah yg belum dikaji perspektif arkeolog sec ilmiah.
Dampaknya, ‘kompetisi’ penentuan Hari Jadi Kota Kudus.
• Kawasan Menara Kudus menjadi situs budaya peringkat nasional oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berdasarkan nomor inventaris 11-19/Kud/01/TB/04.
Tangga ke Menara
Renovasi? Pendirian Menara ?
• Di Menara Bagian atas-dalam terdpt kalimat tertulis ”Gapura Rusak Ewahing Jagat…”
Gapura (dimaknai angka 9), rusak (dimaknai 0), ewahing (dimaknai 6), jagat dimaknai 1).
• th renovasi th 1609 tahun Jawa/1687 M.
Bentuk menara ditafsiri hasil akulturasi budaya Hindu dengan Islam, tinggi Menara 18 M, panjang 10 m, luas 100 m2.
Inskripsi di Menara, bagian atas-dalam
Kentongan di Menara, atap-dalam
Gapura di dalam Masjid al-Aqsha panjang 548 cm, lebar 272 cm, tinggi 625 cm, lebar pintu 116 cm, tinggi pintu
271 cm.
Gapura di serambi Masjid al Aqsha (kedua gapura dikenal gapura kembar)
dlm bhs org Hindu, kori
Pura Jowongso
di Desa Sumberlawang, Sragen
Langgar Bubrah
Foto LB era Kolonial Belanda
Kondisi LB
Kata ‘Muhammad’ di ornamen,
tafsir non-arkeolog
Lingga dan Yoni
Dimaknai mihrab (pengimaman Salat)
Di dalam Masjid Langgar Dalem (200 m dr Masjid al-Aqsha
)
Gapura Paduraksa di Masjid at-Taqwa Ds Loram Kulon, Kec Jati
Gapura di halaman Masjid Ds Jepang
Pintu utama “Masjid Wali Baitul Aziz”
Ds Hadiwarno, Jekulo
Simbol di pintu bagian atas
Di dalam Masjid Al- Idrus Desa Gebog
Bongkahan bata kuno
Masjid Nganguk Wali pra-renovasi
Gapura di halamn masjid Nganguk
Wali
Peta Awal penentuan Hari Jadi Kudus
analisis pakar sejarah UGM Yogya ditunjuk pemkab Kudus utk menentukan Hari Jadi Kota Kudus dg 3 pijakan historis:
a. 1 Ramadan (bertepatan Sunan Kudus pertama kali mengumumkan dimulainya puasa Ramadan, tradisi dandangan).
b. 10 Muharram/Sura, bertepatan buka luwur makam Sunan Kudus,
c. 12 Rabiul Awal, bertepatan peringatan Maulid Nabi SAW.
Hari Jadi Kota Kudus yg disoal !
• tim sejarawan UGM (diketuai Prof. Djoko Suryo anggota Djoko Soekiman dan Inajati Romli) dan keturunan Sunan Kudus merekomendasikan, hari jadi Kudus 1 Ramadan 956 H/23 September 1549 M berdasarkan momen dandangan. Diteguhkan dlm Perda Kudus No 11/1990 tgl 6 Juli 1990 dan SK Gubernur Jateng No 1883/278/1990.
Jadi Hari Jadi Kota Kudus tiap 23 September.
Keinginan Mengubah Hari Jadi Kota Kudus
• Kaligrafi Arab pd batu (inskripsi) diletakkan di atas mihrob Masjid Kudus tertulis Selasa Legi 19 Rajab 956 H/23 Agustus 1549 Tarikh Umum.
• Inskripsi berdasarkan tradisi lisan, dr Palestina, tatkala Sunan Kudus mdpt hadiah dr Gubernur, stlh mampu menghalau wabah penyakit di Palestina.
• Hadiah berupa inskripsi ?
Menanyakan Ulang Hari Jadi Kota Kudus
• Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menggelar acara publik, Ta’sis (hari jadi) Menara Kudus, 19 Rajab/14 Maret 2019 dan 2020. Tujuannya meluruskan bhw Hari Jadi Kota Kudus Selasa Legi 19 Rajab 956 H/23 Agustus 1549 Tarikh Umum, bukan 23 September. Dalih YM3SK merujuk pada inskripsi di atas mihrab (pengimaman) Masjid al-Aqsha.
Ta’sis Masjid al-Aqsha
Acara Ta’sis 2020
Inskripsi di Mihrab Masjid al-Aqsha
inskripsi
Teks inskripsi berbahasa Arab
“Bismillahirrahmanirrahim. Aqaama bina al masjid al Aqsha wal al balad al Quds khalifatu haadzad dar habru (aali) Muhammad yasytari (?) izzan fi jannah alkhudi...quran min arrahman bi balad al Quds (?) Ansya-a haadza masjid al Manar (?) al musamma bi Aqsha khalifatullahi fil ardli al-‘ulyaa wa al mujtahid as-sayyid al-‘arif al-kamil al-fadhil al-maksus bi
‘inayati...al qaadhi Jafar as Shodiq ...sanah sittin wa khomsiina wa tis’in mi’atin al hijr (959 H) annabawiyyah.
Teks inskripsi diindonesiakan
Masjid al-Aqsha didirikan tahun 956 H/1549 M
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Telah mendirikan masjid al-Aqsha ini di negeri Kudus, khalifah pada zaman ulama dari keturunan Muhammad untuk membeli kemuliaan surga yang kekal, untuk mendekat Allah di negeri Kudus. Membina masjid al-Manar yang dinamakan al-Aqsha khalifatullah di bumi, yang agung dan mujtahid yang arief, kamil fadhil al-maksud dengan pemeliharaan al-Qodli Ja’far Shodiq tahun 956 hijrah Nabi SAW”.
Harusnya Bagaimana ?
• Artefak, situs, benda cagar budaya di Kudus harus ditelaah perspektif arkeologi oleh arkeolog agar kepastiannya teruji sec ilmiah
• Bila tidak, tarik-ulur-molor….
• maturnuwun