HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK TERHADAP HASIL BELAJAR
DI SMA NEGERI 22 MAKASSAR
SKRIPSI
RAHMAWATI GUNTUR 10539121314
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA DESEMBER 2019
HUBUNGAN ANTARA KETERAMPILAN PROSES SAINS DENGAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA
DI SMA NEGERI 22 MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
RAHMAWATI GUNTUR 10539121314
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA DESEMBER 2019
iii
v
vii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“ Belajar dari kemarin, hidup untuk hari ini, berharap untuk hari besok. Dan yang terpenting adalah jangan sampai berhenti bertanya.”
“ Jadilah seperti karang di lautan yang kuat dihantam ombak dan
kerjakanlah hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, karena hidup hanyalah sekali. Ingat hanya pada Allah apapun dan di manapun kita berada kepada Dia-lah tempat meminta dan memohon.”
“ Dia yang pergi untuk mencari ilmu pengetahuan dianggap sedang berjuang di jalan Allah sampai dia kembali “ ( HR.TIRMIDZI )
Mulailah dari tempatmu berada gunakan yang kau punya lakukan yang kau bisa
Karya ini, aku persembahkan untukAlm Ibunda, Alm Ayahanda serta keluaga besar yang tak pernah lelah senantiasa berpikir, berdoa, dan berusaha untuk masa depanku
dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan serta senantiasa menjadi motivator
dan alasan untukku tersenyum.
ABSTRAK
Rahmawati.Guntur. 2019. Hubungan Antara Keterangan Proses Sains dengan Kreativitas Peserta Didik terhadap Hasil Belajar di SMA Negeri 22 Makkassar.
Skripsi Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Dra.Hj.Aisyah Azis,M.Pd dan Pembimbing II Dra.Nurlina,S.Si.,M.Pd
Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana mengetahui hubungan antara keterampilan proses sains dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:(1)keterampilan proses sains kelas X MIPA 1 dan kelas X MIPA 2, (2) kreativitas peserta didik kelas X MIPA 1 dan kelas X MIPA 2, dan (3) hasil belajar .
Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yaitu dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X MIPA 1 dan kelas X MIPA 2 SMA Negeri 22 Makassar yang berjumlah 90 orang, sampel penelitian diambil secara acak dengan teknik random sampling sebanyak 75 responden.
Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen pilihan ganda untuk soal keterampilan proses sains sebanyak 15 soal, soal pilihan ganda untuk hasil belajar sebanyak 17 soal yang memenuhi kriteria valid dan angket kreativitas peserta didik dalam bentuk skala likert dengan 5 alternatif pilihan jawaban sebanyak 24 butir pernyataan.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) tingkat keterampilan proses sains berada dalam kategori sedang yang ditunjukkan oleh skor yang diperoleh, (2) tingkat kreativitas peserta didik berada dalam kategori sedang yang ditujukkan oleh skor yang diperoleh, dan (3) hasil belajar berada dalam kategori sedang yang ditunjukkan oleh skor yang diperoleh serta, (4) terdapat hubungan positif yang signifikan antara keterampilan proses sains dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar.
Kata Kunci: Keterampilan Proes Sains,Kreativiatas dan Hasil Belajar
ix
ABSTRACT
Rahmawati.Guntur. 2019. Relationship between science process skills and student creativity on learning out comes in SMA Negeri 22 Makassar,Thesis department of hysics education,faculty of teacher training and education University Of Muhammadiyah Makassar.Advisor I Aisya Azis and Advisor II Nurlina.
The main problem in this study is how to find out the relationship between science process skills and student creativity on learning out comes in SMA Negeri 22 Makassar.This study aims to find out (1) science process skills, (2) Student creativity,and (3) learning out comes of SMA Negeri 22 Makassar
This type of research is correlational research. In this study there are tree variables, namely the independent variable ant the dependent variable.The population in this study were students of class X MIPA1, X MIPA2 ans X MIPA3 in SMA Negeri 22 Makassar am ounting to 92 people,the study sample was taken randomly by random sampling technique as many as 75 respondents.
The research instrumen used multiple choice instrumen for the matter of science process skills as many 15 question that meet valid criteria and students creativity question in the form of liker scale with 5 alternatif answer to 24 question..
From the result of the study it can be conclued that :(1) the level of science process skills is in the high category indicated by the score obtained (2) the level of creativity studentsis in medium category indicated by tge score obtained,and (3) learning outcomes are in the medium category indicated by the score obtained,and (4) there is a relationship positive significant between science process skills and creativity in SMA Negeri 22 Makassar
Keywords: Science process skills,creativity students and learning outcomes
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil a’lamin. Satu-satunya kalimat yang paling pantas diucapkan kemurahan Allah menerangi mata, telinga, hati, dan pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Keterampilan Proses Sains dengan Kreativitas Peserta didik Terhadap Hasil Belajar di SMA Negeri 22 Makassar”.
Salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi pelopor peradaban manusia yang hakiki, sehingga penulis hadir dalam wujud manusia yang berusaha menjadi pelangsung kemajuan kehidupan manusia lewat karya yang sederhana ini.
Dari awal penyusunan skripsi, faktor luar sangat membakar api semangat penulis untuk selalu bertindak sehingga skripsi ini bisa terselesaikan. Penulis hanya bisa membalas mereka dengan doa dan menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada mereka yang turut andil dalam momen skripsi ini.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang teristimewa dengan segenap cinta dan hormat kepada Ayahanda Almarhum Ayahanda Guntur dan Almarhuma Ibunda Mina. Demikian pula untuk Om saya dengan segala kesabaran selalu mengingatkan dan menyemangati, sehinggan skripsi ini selesai tepat pada
xi Lisna,S.Ag,.S.Pd.I,.M.Pd, atas bimbingan dan dorongannya selama ini,dan untuk kedua Adikku Nurfadillah dan Nuratika, terimah kasih telah menjadi penyemangat ketika saya merasa lelah dalam menyelesaikan skripsi ini, sesungguhnya tiada kata yang mampu penulis definisikan untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas segala pengorbanan dan pengertian yang diberikan selama penulis menempuh pendidikan.
Ibunda Dr.Aisyah Azis, selaku pembimbing I dan Ibunda Dr. Nurlina, S.Si.,M.Pd., selaku pembimbing II, yang dengan tulus ikhlas meluangkan waktunya memberikan petunjuk, arahan dan motivasi kepada penulis sejak awal hingga selesainya skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan, kesehatan, dan pahala yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah dicurahkan kepada penulis selama ini.
Pada kesempatan ini, dengan segala hormat penulis menyampaikan ucapaan terima kasih kepada Dr. H.Abd. Rahman Rahim, SE., MM., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Nurlina, S.Si.,M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Ma’ruf, S.Pd.,M.Pd., selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, atas segala bimbingan dan ilmu yang diberikan kepada penulis selama di
bangku kuliah, Ibu Dra.Nur Djanni,M.Pd, selaku Kepala sekolah SMA Negeri 22 Makassardan Bapak Asidin,S.Pd,M.Pd, sebagai guru mata pelajaran Fisika yang senantiasa membimbing selama melakukan penelitian serta peserta didik kelas XI MIA 2 atas segala pengertian dan kerjasamanya, Terkhusus buat sahabat- sahabatku Satriani,S.Pd,Irsan Hasim,S.Pd,Nurfadillah Tanur dan Hasmawati terima kasih atas perhatian dan bantuannya selama ini, Rekan seperjuangan, teman-teman kelas A Angkatan 2014 yang membumbui kesibukan dengan menebarkan senyum dan tawa selama ini. Serta teman-teman se-Angkatan 2014 yang tidak dapat penulis sebutkan semuanya.
Terlalu banyak orang yang berjasa kepada penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, sehingga tidak akan muat bila dicantumkan dan dituturkan semuanya dalam ruang yang terbatas ini, kepada mereka semua tanpa terkecuali penulis ucapkan terima kasih yang teramat dalam dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Akhirnya tak ada gading yang tak retak, tak ada ilmu yang memiliki kebenaran mutlak, tak ada kekuatan dan kesempurnaan, semuanya hanya milik Allah SWT, karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun guna penyempurnaan dan perbaikan skripsi ini senantiasa dinantikan dengan penuh keterbukaan.
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Makassar, Desember 2019
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. Kajian Pustaka ... 6
1. Keterampilan Proses Sains ... 6
2. Kreativitas peserta didik ... 8
3. Hasil Belajar ... 11
B. Kerangka Pikir ... 15
C. Hipotesis ... 16
BAB III METODE PENELITIAN ... 17
A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 17
B. Variabel dan Paradigma Penelitian ... 17
1. Variabel Penelitian ... 17
2. Paradigma Penelitian ... 17
C. Populasi dan Sampel ... 18
D. Definisi Operasional Variabel ... 19
E. Prosedur Penelitian ... 20
1. Tahap Persiapan ... 20
2. Tahap Pelaksanaan ... 20
3. Tahap Akhir ... 21
F. Instrumen Penelitian ... 21
G. Teknik Pengumpulan Data ... 28
H. Teknik Analisis Data ... 29
1. Analisis Deskriptif ... 29
2. Analisis Inferensial... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37
A. Hasil Penelitian ... 37
1. Keterampilan Proses Sains ... 37
2. Kreativitas Peserta Didik ... 39
3. Hasil Belajar ... 40 4. Hubungan Keterampilan Proses Sains dengan Kreativitas
xv
B. Pembahasan ... 47
BAB V PENUTUP ... 50
A. Kesimpulan ... 50
B. Saran ... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 52
LAMPIRAN ... 53 RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 pol penskoran ketermpilan proses sains ... 21
3.1 Pola Penskoran Angket kretivitas peserta didik ... 22
3.2 Pola Penskoran Tes Hasil Belajar Fisika ….. ... 31
3.3 Hasil Uji Validasi Instrumen keterampilan proses sains ... 24
3.4 Hasil uji insrumen hasil belajar ... 25
3.5 kriteria reliabilitasi ... 26
3.6 Jumlah Item Tiap Indikator pada Instrumen Tes keterampilan proses sains ... 27
3.7 jumlah item tiap indicator pada instrument kreativitas peserta didik ... 27
3.8 jumlah item tiap indicator pa instrument tes hasil belajar fiisika ... 28
4.0 interpretasi koefisien korelasi nilai r... 34
4.1 Tabel deskriptif skor keterampilan proses sains ... 37
4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengkategorian Skor keterampilan proses sains ... 38
4.3 Statistik Deskriptif kreativitas Peserta Didik ... 39
4.4 Distributif frekuendi bedasarkan pengktegorian skor kreativitas peserta didik ... 39
4.5 Statistik deskriptif skor hasil belajar... 40
4.6 Distrbutif frekuensi berdasarkan pengkategorian skor hasil belajar... 41
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Paradigma Penelitian ... 17 4.1 Diagram Batang Persentase Kategori Tingkat keterampilan proses
sains ... 38 4.2 Diagram Batang Persentase Tingkat kreativitas Peserta Didik ... 39 4.3 D iagram Batang Presentase Tingkat Hasil Belajar Fisika…………... 41
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
11. Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 54
12. Instrumen Penelitian ... 92
13. Uji Grogery ... 130
4. Analisis Validitas Instrumen ... 162
15. Analisis Reliabilitas Instrumen ... 162
16. Data Lengkap Hasil Penelitian ... 168
17. Tabel Distribusi Frekuensi dan Perhitungan Statistik Dasar ... 187
18. Uji Prasyarat Analisis ... 191
19. Analisis Uji Korelasi... 208
10. Daftar Tabel ... 217
11. Dokumentasi ... 227
12. Persuratan ... 156
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pembelajaran sains adalah sistem yang dirancang untuk mencari informasi mengenai fenomena yang terjadi di alam.
Cara yang paling mudah dalam mempelajari kejadian alam melalui sebuah pemodelan yang membawa kejadian alam ke dalam laboratorium untuk diamati.
Proses percobaan ini selanjutnya membutuhkan keterampilan proses sains agar dapat ditarik kesimpulan yang benar mengenai fenomena yang sedang dipelajari.
Beberapa ahli pendidikan mengemukakan pengertian tentang proses dan keterampilan proses sains. Menurut Semiawan, dkk (dalam dewi, 2009) menyatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan-kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuwan berhasil menemukan sesuatu yang baru.
Seperti kita ketahui bahwa sains tidak hanya tediri dari kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang harus dihafalkan, sains juga terdiri dari kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari gejala alam yang belum diungkapkan. Para ahli pendidikan sains berpendapat bahwa sains itu dipandang sebagai proses dan produk. Namun fakta dilapangan, pembelajaran sains hanya menanamkan konsep atau materi kepada peserta didik saja, tidak memperhatikan pengembangan proses dalam diri peserta didik. Jika hanya menanamkan konsep saja, maka pembelajaran sains tidak akan melahirkan
produk yang memiliki sikap seperti para ilmuwan yang dapat berguna bagi diri peserta didik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Berdasarkan uraian di atas maka pembelajaran sains hendaknya dapat mengembangkan kedua dimensi tersebut, sains sebagai proses meliputi keterampilan-keterampilan dan sikap-sikap yang dimiliki oleh para ilmuwan untuk mencapai produk sains.
Dengan kata lain, pengembangan keterampilan proses ini dapat menumbuhkan sikap-sikap seperti yang dimiliki oleh para ilmuwan (sikap ilmiah) untuk mencapai produk sains.
Jika sains mengandung produk dan proses, maka dalam mengajar kepada peserta didik tidak hanya sekedar menyampaikan produk sains saja, melainkan guru harus melatih peserta didik tentang kegiatan-kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai keterampilan dasar yang terdapat dalam aspek keterampilan proses sains. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan seperti perolehan yang didapatkan dari sebuah proses, peserta didik akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, keterampilan-keterampilan itu yang menjadi roda penggerak utama dan juga dasar yang baik dalam sebuah proses penemuan dan pengembangan sikap yang dilakukan oleh peserta didik sebagaimana para saintis melakukannya.
Keterampilan proses sains sangat penting dimiliki oleh peserta didik untuk menghadapi persaingan di era globalisasi yang menuntut persaingan antar manusia.
3 Keterampilan proses sains terdiri dari beberapa keterampilan yang satu sama lain berkaitan dan sebagai prasyarat, hal itu penting dimiliki guru untuk digunakan sebagai jembatan dalam menyampaikan pengetahuan atau informasi yang elah dimiliki peserta didik. Keterampilan proses sains ini dapat diaplikasikan pada kegiatan prakikum.Keterampilan proses sains pada pembelajaran sains lebih menekankan pembentukan keterampilan untuk memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan hasilnya.
Kreativitas belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh anak didik (peserta didik) dalam proses pembelajaran atau mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya baik dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kreativitas belajar dapat diartikan sebagai kemampuan peserta didik menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemampuan mengembangkan kemampuan formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.
Kesempatan untuk belajar kreatif ditentukan oleh banyak faktor antara lain sikap dan minat peserta didik, guru, orang tua, lingkungan rumah dan kelas atau sekolah, waktu, uang dan bahan-bahan. peserta didik kreatif juga memiliki sifat- sifat yang berani sehingga kadang-kadang berperilaku berani menentang pendapat, menunjukkan ego yang kuat, bertindak sesuai dengan keinginan dirinya sendiri, menunjukan minat yang sangat kuat terhadap yang menjadi perhatiannya namun pada saat yang berbeda mengabaikannya, memerlukan kebanggaan atas karyanya. Sifat-sifat tersebut sering bertentangan dengan yang guru harapkan.
Maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas belajar tidak hanya sekedar keberuntungan tetapi merupakan kerja keras yang disadari. Kegagalan bagi orang kreatif hanyalah merupakan variabel pengganggu untuk tercapainya tujuan pendidikan.
Melalui beberapa penelitian di Sekolah SMA keterampilan Proses Sains dapat dilihat melalui kreativitas seorang peserta didik, karena melalui keterampilan Proses Sains, kreativitas seorang peserta didik dapat diukur, dengan kata lain keterampilan proses sains saling berkaitan dengan kreativitas peserta didik, Sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Hubungan Antara Keterampilan Proses Sains dengan Kreativitas Peserta didik Terhadap Hasil Belajar di SMA Negeri 22 Makassar “
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas maka rumusan masalah dari penilitian ini adalah
1. Apakah terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dengan hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar?
2. Apakah terdapat hubungan antara kreativitas peserta didik dengan hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar?
3. Apakah terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dan kreativitas peserta didik secara bersama sama terhadap hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar ?
C. Tujuan Penilitian
5 Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dengan hasil belajar fisikadi SMA Negeri 22 Makassar.
2. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kreativitas peserta didik dengan hasil belajarfisika di SMA Negeri 22 Makassar.
3. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dan kreativitas peserta didik secara bersama sama terhadap hasil belajar fisikadi SMA Negeri 22 Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian terhadap hubungan antara keterampilan proses sains dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar diharapkan dapat memberikan manfaat/keguanaan antara lain :
1. Manfaat Teoritis, yaitu diharapkan mampu menghasilkan temuan yang bermanfat tentang hubungan antara keterampilan proses sains dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar.
2. Manfaat Praktis, yaitu penelitian ini agar bermanfaat bagi guru dan orang tua khususnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. KAJIAN PUSTAKA
1. Keterampilan Proses Sains
Menurut Wahab Jufri, bahwa Sains atau IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara terencana dan sistematis. Sains bukanlah sekedar kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan proses mencari dan menemukan. Proses pembelajaran sains sebaiknya menekankan pada pemberian pengalama langsung kepada perta didik melalui langkah-langkah kerja ilmiah sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan. Dalam praktik pembelajaran, maka kegiatan belajar melalui proses kerja ilmiah akan melibakan serangkaian keterampilan yang disebut dengan keterampilan proses sains.
Keterampilan proses sains dapat diklarifikasikan menjadi keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terpadu. Keterampilan proses dasar terdiri dari keterampilan mengamati (melakukan observasi), keterampilan mengukur (melakukan pengukuran), keterampilan memprediksi (meramalkan), keterampilan mengelompokkan (mengklasifikasikan), menginferensi (mengemukakan asumsi)dan keterampilan mengkomunikasikan.Sedangkan keterampilan proses terpadu meliputi keterampila-keterampilan untuk mengidentifikasi masalah dan variabel, merumuskan hipotesis, mengontrol variabel, merancang eksperimen,
7 Menurut Shinta Dewi ( 2009:154) sains dan pembelajaran sains tidak hanya sekedar pengetahuan yang bersifa ilmiah saja, melainkan terdapat dimensi- dimensi ilmiah penting yang menjadi bagian sains.Pertama adalah muatan sains yang berisi berbagai fakta, konsep,hukum,dan teori-teori. Dimensi inilah yang menjadi objek kajian ilmiah manusia.
Dimensi kedua adalah proses dalam melakukan akivitas ilmiah dan sikap ilmiah dari aktivis sains. Proses dalam melakukan akivitas-aktivitas yang terkait dengan sains biasa disebut dengan keterampilan proses sains. Keterampilan proses inilah yang digunakan setiap ilmuwan ketika mengerjakan aktivis-aktivis sains.
Karena sains berhubungan dengan mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan maka keterampilan ini dapat juga diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, ketika kita menemukan persoalan- persoalan keseharian dan harus mencari jawabannya Jadi mengajarkan keterampilan proses sains pada peserta didik sama artinya dengan mengajarkan keterampilan yang nantinya akan mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dimensi ketiga dari sains merupakan dimensi yang berfokus pada karakteristik sikap dan watak ilmiah. Dimensi ini meliputi keingintahuan seseorang dan besarnya daya imajinasi seseorang, juga antusiasme yang tinggi untuk mengajukan pertanyaan dan pemecahan masalah.
Keterampilan proses sains merupakan asimilasi dari berbagai keterampila intelektual yang dapat diterapkan pada proses pembelajaran. Keterampilan proses
sains bukanlah tindakan intuksional yang berada diluar kemampuan siswa.
Keterampilan proses sains justru dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Siswa dapat mengalami ransangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep (Khaerunnisa,2016).
Menurut Rustam, keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang melibatkan keterampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial.
Keterampilan intelektual terlibat dengan menggunakan fikirannya, keterampilan manual terlibat dengan menggunakan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan dan perakitan alat, dan keterampilan sosial melibatkan keterampilan berinteraksi sesama siswa dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran (Rohani,2013).
2. Kreativitas peserta didik
a) Kreativitas
Kreatif adalah sebuah kinerja. Kinerja dalam mewujudkan ide dan gagasan melalui serangkaian kegiatan intensif untuk menghasilkan sebuah karya cipta.
Karya cipta ini bisa membuat gagasan, kegiatan, karya artefak sampai performa yang memiliki keunikan khusus yang menarik banyak minat orang banyak. Anak- anak kreatif adalah anak-anak yang selalu berusaha mewujudkan ide gagasan dalam kegiatan kreatif untuk menghasilkan karya.
Kreativitas dimaknai sebagai sebuah kekuatan atau energi (power) yang ada
9 Dalam kaitan ini kita dapat merujuk pada salah satu pendapat mengenai kreativitas. Jhon Adlair mengatakan bahwa, “Creativis the faculty og mind and spirit that enables us to bring into existence, ostensibly out of hing, something of us, order, beauty or significance”.
Kreativitas juga dimaknai sebagai sebuah proses. Kreativitas adalah proses mengelola informasi, melakukan sesuatu atau membuat sesuatu. Kreativitas adalah proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah sesuatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk susunan yang baru (Momon Sudarman, 2013).
Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativias meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, keluwesan, dan keaslian dalam pemikiran, maupun ciri-ciri non aptitude seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan peranyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, Semiawan (dalam Afriyanti, dkk 2016).
Kreativitas itu racikan dasarnya adalah kecintaan, kompetensi teknis dan keterampilan berfikir kreatif. Kreativitas dalam arti lain adalah kemampuan seorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatannya. Kreativitas dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Kreativitas mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencakokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi
baru. Kreativitas harus mempunyai maksud dan tujuan yang ditentukan, bukan fanasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Kreativitas mungkin dapat berbentuk produksi seni, kesusastraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat metodelogis (Yunia Mandasari dan Nadjamuddin, 2015: 11).
b) Indikator-Indikator Kreativitas
Ciri-ciri anak kreatif menurut Torrance ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek kognitif dan afektif. Pertama, aspek kognitif; ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berfikir kreativ atau divergen, yang ditandai dengan adanya beberapa keterampilan tertentu, seperti: keterampilan berpikir lancar (fluency), berpikir luwes/fleksibel (flexibility), berpikir orisinal (originality), keterampilan memerinci (elabration), dan keterampilan menilai (evaluation). Makin kreatif seseorang, maka ciri-ciri ini akan melekat pada dirinya.
Adapun menurut rumusan yang dikeluarkan oleh Diknas, bahwa indikator peserta didik yang memiliki kreativitas, yaitu:
1. Memiliki rasa ingin tahu yangbesar,
2. Sering mengajukan pertanyaan yang berbobot,
3. Memberikan banyak gagasan dan usul dalam suatu masalah, 4. Mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidakmalu-malu, 5. Mempunyai dan menghargai rasa keindahan,
6. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak
11 8. Mempunyai daya imajinasi yangkuat,
9. Mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain(orisinal),
10. Dapat bekerja sendiri,
11. Senang mencoba hal-halbaru,
12. Mampu mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).
Jadi dapat disimpulkan bahwa kreativitas belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik untuk menemukan dan menciptakan hal baru, cara-cara baru, model baru, berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada untuk menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah yang mencerminkan kelancaran,keluwesan dan orsinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan dalam kegiatan pembelajaran.
3. Hasil belajar
Menurut Muhammad Irham dan Novan ardy Wiyani (2013:223-224), aktivitas pendidikan dan proses pembelajaran sebenarnya banyak bergelut dengan akivitas yang abstrak mencakup sikap,minat,bakat,kepandaian, dan perilaku yang merupakan tujuan pendidikan dalam cakupan wilayah kogniif,afektif, dan psikomotorik. Oleh sebab itu, diperlukan instrument unuk menilai tingkat pencapaian proses belajar mengajar tersebut. Menurut Sugihartono dkk (dalamMuhammad Irham dan Novan ardy Wiyani (2013:223-224), disebabkan pendidikan lebih banyak menyangkut hal-hal yang abstrak dan kadang
membutuhkan isnsrumen-insrumen tertentu untuk melihatnya maka evaluasi hasil belajar memiliki sifat-sifat yang khas sebagai berikut :
a. Hasil Evaluasi Bersifat Tidak Langsung (Indirec)
Sifat tidak langsung ini berarti hasil belajar peserta didik tidak dapat diamati secara langsung dari kondisi fisik peserta didik yang terlihat. Misalnya, kemampuan seorang pada maa pelajaran IPA tidak dapa dilihat dari cara berpakaian yang rapi atau dahinya lebar, berkacamata, dan sebagainya. Namun untuk mengetahui kemampuan peserta didik atau hasil belajar peserta didik harus menggunakan prosedur dan proses yang benar, yaitu menggunakan instrument yang tepat dengan tujuan yang dikehendaki. Oleh sebab itu, dalam penilaiannya tidak dapat langsung dilakukan, tetapi menggunakan instrumen sebagai alat pembantu dan keberhasilan hasil belajar tidak semuanya dapat dilihat dengan segera. Namun membutuhkan interval waktu tertentu maka evaluasi dikatakan bersifattidak langsung.
b. Hasil Evaluasi Bersifat Kuantitatif
Dunia pendidikan dan pembelajaran mayorias berkaitan dengan sesuau yang absrak. Misalnya saja, minat, bakat, motivasi, kecerdasan, prestasi, bahasa, logika, dan sebagainyamerupakan bentuk-benuk absrak yang tidak pernah lepas dari istilah pendidikan dan pembelajaran. Namun demikian, dalam penilaiannya selalu dilakukan dalam bentuk angka ataupun huruf misalnya IQ = 100, kemampuan bahasa = 8, matematika = 7 dan sebagainya. Angka-angka tersebut menunjukkan
13 penilaian terhadap aspek-aspek tersebut yang selalu dikuantitatifkan sehingga evaluasi bersifat kuantitatif.
c. Hasil Evaluasi Bersifat Relatif Atau Tidak Mutlak
Proses pembelajaran dan penilaian pada peserta didik selalu ada kemungkinan terjadinya perubahan. Misalnya saja pada saat proses pembelajaran dan evaluasi peserta didik dalm kondisi yang tidak baik, ia tidak masuk dan sebagainya. Hal ini berdampak pada hasil berupa skor nilai yang berbeda dari waku ke waktu mungkin saja terjadi meskipun dilaksanakan pada jenis mata pelajaran yang sama dan peserta didik yang sama, bahkan oleh guru yang sama.
Peserta didik ttidak akan selamanya memperoleh nilai 9. Oleh sebab itu, evaluasi bersifa relative, Artinya, hasil evaluasi akan selalu berubah . Hal ini disebabkan terdapat faktor-faktor tertentu yang memengaruhi proses dan pelajaran peserta didik.
Menurut Bloom hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan ranah dijelaskan sebagai berikut ini :
a. Ranah Kognitif, terdiri dari enam jenis perilaku: knowledge (pengetahuan), comprehension(pemahaman), application(penerapan), analysis (analisis), syntesis (sintesis), dan evaluation (evaluasi).
b. Ranah Afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, minat apresiasi dan penyesuaian perasaan sosial. Ranah afektif ini terdiri dari 5 jenis perilaku yang diklasifikasikan dari yang sederhana hingga kompleks, yakni : receiving
(penerimaan), responding (pemberian respon) dan valuing (penilaian/penentuan sikap), organization (organisasi), dan karakterisasi.
c. Ranah Psikomotorik (Simpson), mencakup tujuan berkaitan dengan skill (keterampilan) yang bersifat manual dan motorik. Dapat diklasifikasikan atas : perception (persepsi), kesiapan, mechanism(gerakan terbimbing), gerakan terbiasa, complex over response (gerakan kompleks), adaptation (penyesuaian pola gerakan), dan creativity (reativitas).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya proses belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang menyangkut segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Secara umum hasil belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor-faktor yang ada dalam diri peserta didik dan faktor eksternal, yaitu faktor- faktor yang berada diluar diri peserta didik. Yang tergolong faktor internal ialah:
a) Faktor fisiologis atau jasmani individu baik bersifat bawaan maupun yang diperoleh dengan melihat, mendengar, struktur tubuh, cacat tubuh, dan sebagainya.
b) Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun keturunan, yang meliputi: faktor intelektual terdiri atas: faktor potensial, yaitu inteligensi dan bakat, faktor aktual, yaitu kecakapan nyata prestasi. Faktor non-intelektual yaitu komponen-komponen kepribadian tertentu seperti sikap, minat, kebiasaan, motivasi, kebutuhan, konsep diri, penyesuaian diri, emosional, dan sebagainya.
15 c) Faktor kematangan baik fisik maupun psikis. Yang tergolong faktor eksternal ialah: Faktor sosialyang terdiri atas faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan sekolah, faktor lingkungan masyarakat, dan faktor kelompok.
Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian, dan sebagainya. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim, dan sebagainya. Faktor spiritual atau lingkungan keagamaan.
Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi secara langsung atau tidak langsung dalam memengaruhi hasil belajar yang dicapai seseorang. Karena adanya faktor- faktor tertentu yang memengaruhi prestasi belajar yaitu motivasi berprestasi, inteligensi, dan kecemasan.
B. Kerangka Pikir
Gambar 1.1 Bagan Kerangka Fikir Keterampilan Proses Sains
1. Merumuskan Pertanyaan
2. Merumuskan hipotesis 3. Merancang eksperimen 4. Mengkomunikasikan 5. Menarik kesimpulan
Kreativitas Pesera Didik 1. Fleksibilitas
2. Originalitas 3. Elaborasi 4. Kefasihan
Hasil Belajar 1. Mengingat ( C1 ) 2. Memahami ( C2 ) 3. Menerapkan ( C3 ) 4. Menganalisis ( C4)
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka fikir diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar.
17 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis dan Lokasi Penelitian
1. Penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional, yaitu untuk mengetahui hubungan variabel bebas dengan variabel terikat. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara keterampilan proses sain dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar.
2. Lokasi penelitian bertempat di SMA Negeri 22 Makassar.
B. Variabel dan Paradigma Penelitian 1. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel bebas : Keterampilan Proses Sains dengan Kreativitas Peserta didik
b. Variabel terikat : Hasil belajar 2. Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian yang digunakan yaitu:
Gambar 2.1 Paradigma Penelitian
X
1X
2Y
17
Dengan :
X1 = Keterampilan Proses Sains X2 = Kreativitas Peserta didik Y = Hasil Belajar
( Sugiyono, 2017: 234 ) C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
. Populasi dalam penelitian ini ialah peserta didik kelas X MIPA 1, Kelas X MIPA dan kelas X MIPA 32 SMA Negeri 22 Makassar sebanyak 95 peserta didik .
2. Sampel
Anggota populasi pada penelitian ini berjumlah 95 peserta didik maka dari tabel tersebut diperoleh jumlah sampel sebanyak 75 peserta didik dengan taraf signifikansi yang ditentukan adalah 5%.
Jumlah sampel dari populasi yang diketaui jumlahnya dapat hihitung dengan rumus:
( )
Dengan: dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1 %, 5 %, 10 % P = Q = 0,5
D = 0,05
S = jumlah sampel
(sugiyono, 2016: 126) D. Defenisi Operasional Variabel
19 1. Keterampilan proses sains merupakan adalah kemampuan peseta didik dalam menyelesaikan soal tes yang meliputi enam indikator yaitu mengamati, mengajukan pertanyaan, melakukan pecobaan, memprediksikan, mengkomunikasikan, danmenyimpulkandimana hasilnya dinyatakan dalam bentuk skor.
2. Kreativitas peserta didik adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik untuk menemukan dan menciptakan hal baru, cara-cara baru, model baru, berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada untuk menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suau gagasan dalam kegiatan pembelajarandimana hasilnya menggunakan skala linear.
3. Hasil belajar peserta didik adalah pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar yang dilakukan peserta didik berdasarkan ranah kognitif yang terdiri dari mengingat (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6) yang dinyatakan dalam bentuk skor..
E. Prosedur Penelitian
Prosedur dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan beberapa kali pertemuan untuk memberikan tes keterampilan proses sains dan tes keterampilan praktikum dan kemampuan menyusun hipotesis pada peserta peserta didik kelas XMIPA 1 dan kelas X MIPA 2 di SMA Negeri 22 Makassar. Prosedurnya yaitu:
1. Tahap persiapan
a. Melakukan observasi ke sekolah serta berkonsultasi dengan guru mata pelajaran fisika bertujuan untuk mengetahui kondisi peserta didik.
b. Membuat instrumen tes untuk mengukur Keterampilan proses sains , kreativitas peserta didik dan hasil belajar.
c. Melakukan uji validasi instrumen penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Menjelaskan terlebih dahulu jenis tes yang akan dilakukan serta memberikan contoh pengerjaan soal terkhusus untuk tes keterampilan proses sains, sebelum membagikan instrumen kepada peserta didik.
b. Membagikan instrumen tes keterampilan proses sains dan instrumen tes kreativitas dan Hasil belajar .
c. Mengumpulkan instrumen tes keterampilan proses sains dan tes kreativitas peserta didik dan hasil belajar.
d. Waktu pengerjaan ketiga instrumen selama 90 menit.
3. Tahap Akhir
Setelah semua pelaksanaan selesai, selanjutnya peneliti menganalisis hasil dari tes yang dilakukan peserta didik untuk mengetahui hubungan keterampilan proses sains dengan kreativitas peserta didikterhadap hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar.
F. Instrumen Penelitian
Intrumen yang digunakan untuk tes Keterampilan Proses Sins yaitu instrumen
21 dengan mengacu pada indikator yaitu Merumuskan pertanyaan, Merumuskan hipotesis, Merancang eksperimen, Mengkomunikasikan dan Menari kesimpulan.
Sedangkan instrument kreativitas peserta didik dibuat dalam bentuk angket yang berdasarkan indikator, yang diperoleh melalui angket yang berbentuk skala likert dengan 5 alternatif pilihan jawaban yaitu sangat sesuai, sesuai, kadang-kadang, tidak sesuai, dan sangat tidak sesuai. Sedangkan tes hasil belajar fisika dibuat dengan indikator C1 (mengetahui), C2 (memahami), C3 (mengaplikasikan), C4 ( menganalisis )dan diperoleh melalui tes pilihan ganda yang mencakup 5 pilihan jawaban yaitu a, b, c, d, dan e dengan 1 jawaban tepat.
Tabel 3.1 Pola Penskoran Keterampilan Proses Sains Jawaban
Benar Salah
1 0
Tabel 3.2 Pola PenskoranAngket Kreativitas Peserta Didik
SS S KK TS STS
5 4 3 2 1
Tabel 3.1 Pola Penskoran Hasil Belajar Jawaban
Benar Salah
1 0
Adapun tahap penyusunan dan pengembangan instrumen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menyusun instrumen keteranpilan Proses Sains yang berjumlah 20 nomor, soal Kreativitas Peserta Didik berjumlah 24 soal dan soal Hasil Belajar berjumlah 30 soal .
2. Mengkonsultasikan instrumen yang telah dibuat kepada dosen pembimbing yang kemudian akan divalidasi oleh tim validator yang terdiri dari dua orang dosen ahli. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2016:121). Validitas instrumen dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan construct validity (validitas konstruksi) dengan meminta pendapat dari judgment expert (para ahli). Dari hasil validasi oleh para ahli tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan Uji Gregory (Chonstantika, 2012:62) dengan tujuan untuk mengetahui jika instrumen tersebut layak untuk digunakan dalam penelitian. Yang mana kriteria penilaiannya adalah jika r ≥ 0,75 maka instrumen layak digunakan. Pada penelitian ini, berdasarkan hasil validasi para ahli yang terdapat pada lampiran 3.1 halaman 103 diperoleh nilai r = 1 maka dinyatakan instrumen tes kemampuan numerik dan tes hasil belajar fisika layak untuk digunakan.
3. Melakukan uji coba lapangan untuk masing-masing instrumen. Uji coba
23 MIPA 2 SMA Negeri 22 Makassar. Data yang diperoleh dari hasil uji coba kemudian dianalisis dengan uji validitas dan uji reliabilitas.
a. Uji Validitas
Suatu instrumen pengukuran dikatakan valid jika instrumen dapat mengukur sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur. Untuk menguji validitas soal yang telah diajukan dalam tes dengan menggunakan teknik analisis korelasional poin biserial.
dengan:
rpbi = Angka indeks korelasi poin biserial.
Mp=Nilai rata-rata hitung skor yang dicapai oleh peserta tes yang menjawab betul, yang sedang dicari korelasinya dengan tes secara keseluruhan.
Mt = Nilai rata-rata hitung total, yang berhasil dicapai oleh seluruh peserta tes.
SDt= Deviasi standar dari skor total.
P = Proporsi peserta tes yang menjawab betul terhadap butir soal yang sedang dicari korelasinya dengan tes secara keseluruhan.
q = Proporsi peserta tes yang menjawab salah terhadap butir soal yang sedang dicari korelasinya dengan tes secara keseluruhan (p = 1-q).
(Sudijono, 2012:258)
√
Untuk memberikan interpretasi terhadap rpbi, dipergunakan tabel nilai “r” product moment, dengan terlebih dahulu mencari df-nya (df = N – nr). Jika rpbi yang diperoleh dalam perhitungan ternyata sama dengan atau lebih besar daripada rtabel, maka dapat diambil kesimpulan bahwa butir soal tersebut valid (Sudijono, 2012:258).
Dari analisis data yang terdapat di lampiran 3.2 halaman 91-102, maka diperoleh jumlah item dari instrumen tes hasil belajar yang dapat digunakan pada penelitian ini. Hasil uji validasinya ditunjukkan pada tabel 3.2. berikut:
Tabel 3.3 Hasil Uji Validasi Instrumen Keterampilan Proses Sains
Instrumen
Jumlah item awal
Nomor item yang drop
Jumlah item drop
Nomor item yang valid
Jumlah item valid Tes
Keterampilan Proses Sains
20 4,11,15,18,20 5
1,2,3,5,6,7,8,9, 10,12,13,14,16 ,17,19
15
Tabel 3.4 Hasil Uji Validasi Instrumen Hasil Belajar
Instrumen
Jumlah item awal
Nomor item yang drop
Jumlah item drop
Nomor item yang valid
Jumlah item valid
Tes Hasil Belajar
30
4,9,11,15,16,18,
19,20,23,24,26, 13
1,2,3,5,6,7,8,1
0,12,13,14,17, 17
25 a. Uji Reliabilitas
Perhitungan reliabilitas tes dilakukan dengan menggunakan rumus K-R.20:
dimana:
dengan:
= Reliabilitas instrumen.
k = Jumlah butir pertanyaan.
p = Proporsi subjek yang menjawab item denganbenar q= Proporsi subjek yang menjawab item dengan salah
(q = 1 - p)
Σpq= Jumlah hasil perkalian antara p dan q Vt= Varians total
Xi = Total skor
̅ = Rata-rata total skor n = Jumlah responden
(Siregar, 2013:73) Kriteria pengujian reliabilitas menurut Depdiknas (Chonstantika, 2012:63) ditunjukkan pada tabel 3.5 di bawah ini.
Tabel 3.5 Kriteria Reliabilitas
∑ (∑ )
(
) ( ∑ )
Interval Nilai Kriteria
>0,91 - 1,00 Sangat Tinggi
>0,71 - 0,90 Tinggi
>0,41 - 0,70 Sedang
>0,21 - 0,40 Rendah
>0,00 - 0,20 Sangat
(Chonstantika, 2012:63))
Hasil uji reliabilitas yang dipaparkan pada lampiran 4 halaman 104-106, untuk instrumen hasil belajar fisika diperoleh nilai = 0,748 maka instrumen ini memiliki tingkat reliabilitas tinggi.
Setelah melalui tahapan-tahapan tersebut, maka diperolehlah instrumen tes keterampilan proses sains yang berjumlah 15 nomor, instrument tes kreativitas beserta didik yang berjumlah 24 nomor dan instrumen tes hasil belajar yang berjumlah 17 nomor. Jumlah item tiap indikator pada masing-masing instrumen dapat dilihat pada tabel 3.6, tabel 3.7 dan table 3.8
Tabel 3.6JumlahItem Tiap Indikator pada Instrumen Keterampilan Proses Sains
No.
KeterampilaN Proses Sains
Nomor item Jumlah item
1. Merumuskan Pertanyaan 5,6,12,10,8 5
2. Merumuskan Hipotesis 9,13,1 3
3. Merancang eksperimen 19,17,1 3
27
5. Menarik Kesimpulan 14,2,7,16 4
Jumlah 15
Tabel 3.7 Jumlah Item Tiap Indikator pada Instrumen Kreativitas Peserta Didik
No. Indikator Nomor item
Jumlah item
1. Fleksibilitas 1,2,3,4,5,6 6
2. Originalitas 7,8,9,10,11 5
3. Elaborasi 12,13,14,15,16,17,18,19,20,21 10
4. Kefasihan 22,23,24 3
Jumlah 24
Tabel 3.8 Jumlah Item Tiap Indikator pada Instrumen Tes HasilBelajar Fisika
No. Indikator Nomor item
Jumlah item
1. Mengetahui (C1) 1,2,3,5,6 5
2. Memahami (C2) 7,8,14 3
3. Menerapkan (C3) 10,12,17,22,25,30 6
4. Menganalisis (C4) 13,21,28 3
Jumlah 17
Dari tabel 3.6, table 3.7 dan tabel 3.8 di atas, dapat dilihat bahwa instrumen keterampilan proses sains terdiri dari item indikator merumuskan pertanyaan sebanyak 5 nomor, merumuskan hipotesis sebanyak 2 nomor, merancang eksperimen sebanyak 3 nomor, mengkomunikasikan sebanyak 1 nomor dan menarik kesimpulan sebanyak 4 nomor. Instrumen kretivitas peserta didik terdiri dari item indikator fleksibilatas sebanyak 6 nomor, originalitas sebanyak 5 nomor, elaborasi sebanyak 10 nomor dan kefasihan sebanyak 3 nomor.Sedangkan instrument hasil belajar terdiri dari item indikator mengetahui ( C1 ) sebanyak 5 nomor, memahami ( C2 ) sebanyak 3 nomor, menerapkan ( C3 ) sebanyak 6 nomor dan menganalisis ( C4 ) sebanyak 3 nomor.
G. Teknik Pengumpulan Data 1. Metode angket
Metode angket yang digunakan dalam penelitian ini berupa pernyataan tertulis untuk memperoleh data mengenai kreativitas peserta didik peserta didik atau variabel X2 penelitian. Angket yang digunakan dalam penelitian ini merupakan angket langsung dan tertutup. Angket tertutup merupakan angket yang memperbolehkan jawaban pendek dengan menggunakan tanda silang (X) atau ceklis ( ) pada alterrnatif jawaban yang dipilih. Untuk mengetahui kreativitas peserta didik dapat dilihat dari angket yang telah diisi.
2. Metode tes
Metode tes digunakan untuk memperoleh data mengenai keterampilan peserta
29 H. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul dalam penelitian ini diolah dan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik. Pengolahan yang dilakukan terdiri dari dua tahap yaitu tahap pertama analisis statistik untuk pengembangan instrumen, dan tahap kedua analisis statistik pengolahan data hasil penelitian.
1. Analisis deskriptif
a. Rumus Mean (rata-rata) ̅ ∑
dengan :
̅ = mean yang dicari
∑ = jumlah hasil perkalian antara midpoint dari masing-masing interval, dengan frekuensinya.
n = banyaknya data
(Riduwan, 2012: 157).
b. Rumus Standar Deviasi
√ ∑ (∑ ) ( )
dengan :
s = standar deviasi yang dicari.
n = banyaknya data
(∑ ) = kuadrat jumlah hasil perkalian antar frekuensi tiap skor (f) terhadap tiap skor yang bersangkutan.
∑ = jumlah dari hasil perkalian antara frekuensi masing- masing skor (f) dengan skor yang dikuadratkan (X2).
(Riduwan, 2012:157).
c. Kategori
Menurut (Riduwan, 2012:41), skor yang diperoleh peserta didik dapat dikelompokkan ke dalam lima kriteria sesuai dengan jumlah skor idealdari tiap instrumenketerampilan proses sain,kreativitas peserta didk dan hasil belajar.
Tabel 3.9 Kriteria Interpretasi SkorKeterampilan Proses Sains, Kreativitas Peserta Didik dan Hasil Belajar Fisika
Interval Persentase Skor
Kriteria Interpretasi 10 - 120 Sangat Rendah 21 - 140 Rendah
41 - 160 Cukup 61 - 180 Tinggi
81 - 100 Sangat Tinggi
(Riduwan, 2012:41) 2. Analisis Inferensial
a. Uji Prasyarat Analisis 1. Uji Normalitas
Uji prasyarat analisis pada penelitian ini menggunakan uji normalitas,
31 proses sains, kreativitas peserta didi dan hasil belajar . Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji chi kuadrat. Adapun rumus yang digunakan adalah :
∑( )
Dengan :
E0 = Frekuensi observasi Ee = Frekuensi harapan
Jika nilai X2 hitung nilai X2 tabel maka data tersebut terdistribusi normal. Dengan dk = (1- )(dk = k – 3), dimana dk= derajat kebebasan, dan k = banyak kelas pada distribusi frekuensi (Muhidin & Abdurrahman dalam Nurbaeti: 2016).
2. Uji Linieritas
Uji ini digunakan sebagai pengujian untuk menguji garis regresi antara variable bebas dengan variable terikat adalah garis lurus atau tidak sehingga dapat dilakukan peramalan. Rumus yang digunakan untuk menguji linieritas sebagai berikut:
Persamaam regresi:
Ŷ = a + bX
b = ∑ (∑ )(∑ ) ∑ (∑ )
= ∑ ∑
(Kadir, 2016: 178) a. Rumus menghitung jumlah kuadrat regresi (JKreg(a)) :
( ) (∑ )
b. Rumus menghitung jumlah kuadrat regresi b/a (JKreg(b/a)) : (
) (∑ ∑ ∑ )
c. Rumus menghitung jumlah kuadrat residu (JKres) : ∑ ( ⁄ ) ( )
d. Rumus menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi a (RJKreg(a)):
( ) ( )
e. Rumus menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b/a (RJKreg(b/a)):
( )⁄ ( )⁄
f. Rumus menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu ( ):
g. Rumus menghitung jumlah kuadrat error (JKE):
∑*∑ (∑ )
+
33
i. Rumus menghitung rata-rata jumlah kuadrat tuna cocok (RJKTC):
j. Rumus menghitung rata-rata jumlah kuadrat error (RJKE):
k. Rumus nilai uji F:
Ciri pengukuran : jika nilai uji F < nilai table F, maka distribusi berpola linier. Rumus Ftabel = F(1-α)(db TC, db E) dimana db TC = k – 2 dandb E = n – k
(Riduwan, 2012: 200-202).
b. Pengujian Hipotesis
Untuk mengetahui tingkat hubungan dari data korelasi yaitu variabel bebas (X1 dan X2) dan variabel terikat (Y) dengan bentuk data interval atau ratio menggunakan uji pearson product moment atau analisis kolerasi.
Kolerasi pearson product moment dilambangkan dengan (r) dimana terdapat ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 r + 1). Jika r = -1 maksudnya kolerasinya negatif sempurna, r = 0 artinya tidak ada kolerasi, dan r = 1 berarti kolerasinya sempurna positif (sangat kuat). Sedangkan harga r akan dikonsultasikan pada tabel interpretasi nilai r berikut :
Tabel 4.0 Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Cukup
0,60 – 0,799 Tinggi
0,80 – 1,000 Sangat Tinggi
(Riduwan, 2012: 228) Riduwan, 2012 mengemukakan langkah – langkah uji kolerasi pearson product moment (PPM) sebagai berikut :
1) Membuat Ha dan Ho dalam bentuk kalimat:
Adapun hipotesis pada penelitian ini yaitu :
Ha : Terdapat hubungan antara Keterampilan Proses sains dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar
Ho : Tidak terdapat hubungan antara Keterampilan Proses sains dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar di SMA Negeri 22 Makassar
2) Membuat Ha dan Ho dalam bentuk statik:
Ha : r 0 Ho : r = 0
3) Membuat tabel penolong untuk menghitung nilai kolerasi . 4) Memasukkan angka-angka statistik dari tabel penolong dengan
35 (∑ ) (∑ ) (∑ )
√* ∑ (∑ ) + * ∑ (∑ ) + dengan :
r = koefisien korelasi antara variabel
X = skor pertama, maksudnya skor pada item ke-i yang akan diuji validitasnya.
Y = skor kedua, maksudnya jumlah skor pada item ke-i yang diperoleh tiap responden.
∑ = jumlah skor X
∑ = jumlah skor Y
∑ = jumlah hasil perkalian X dan Y
∑ = jumlah hasil kuadrat skor X
∑ = jumlah hasil kuadrat skor Y jumlah responden.
5) Menentukan besarnya sumbangan variabel X terhadap variabel Y dengan menggunakan rumus :
dengan :
KP = besarnya koefisien penentu (determinan) r = koefisien korelasi
6) Menguji signifikansi dengan rumus ttest atau thitung :
dengan :
r = koefisien korelasi n = banyaknya data
Kriteria pengujian yaitu apabila thitung dari ttabel maka signifikan, sedangkan apabila thitung dari ttabel, maka tidak signifikan.
7) Ketentuan tingkat kesalahan (α) = 0,05 atau 0,01 dengan rumus derajat bebas (db) = n – 2.
8) Membuat kesimpulan.
37 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian
1. Keterampilan Proses Sains
Indikator yang diteliti dalam variabel keterampilan proses sains (X1) terdiri dari 5 indikator yakni, merumuskan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengkomunikasikan dan menarik kesimpulan.
Berdasarkan indikator-indikator dari variabel keterampilan proses sains, maka peneliti meyusun instrument tes yang terdiri dari 15 butir soal dapat dilihat pada lampiran 2.1 kemudian membagikan instrumen tes pada peserta didik kelas X MIPA1,kelas X MIPA2 dan kelas X MIPA3 SMA 22 Makassar.
Berdasarkan hasil perhitungan dari jawaban yang diberikan peserta didik pada saat menjawab pertanyaan, maka frekuensi tingkatan peserta didik dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif Skor Keterampilan Proses Sains Statistik Skor Statistik
Jumlah sampel 75
Skor ideal maksimum 15
Skor ideal minimum 0
Skor tertinggi 14
Skor terendah 6
Rentang 8
Rata-rata 10,45
Deviasi standar 2,20
Kriteria interpretasi skor yang dikemukakan oleh Riduwan pada tabel 4. halaman 37, maka jika disesuaikan dengan skor keterampilan proses sains maka diperoleh:
37
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengkategorian Skor Keterampilan proses sains
Interval Skor
Kriteria
Interpretasi Frekuensi Frekuensi (%)
0 – 2 Sangat Rendah 0 0
3 –5 Rendah 0 0
6 – 8 Sedang 15 20
9 – 11 Tinggi 35 46,67
12– 15 Sangat Tinggi 25 33,33
Jumlah 75 100
Tabel 4.2 di atas, distribusi frekuensi tingkat keterampilan proses sains dapat ditunjukkan dengan diagram batang pada gambar 4.1
Gambar 41. Diagram Batang Persentase Kategori Tingkat Keterampilan Proses Sains
Gambar 4.1 di atas terlihat bahwa tingkat keterampilan proses sains kelas X MIPA1, kelas X MIPA2 dan kelas X MIPA3 di SMA Negeri 22 Makassar, berada pada kategori sedang. Skor total variabel keterampilan proses sains diperoleh dari tes yang terdiri dari beberapa indikator.
0 5 10 15 20 25 30 35 40
sangat rendah
rendah sedang tinggi sangat tinggi
frekuensi %
39 2. Kreativitas Peserta Didik
Analisis data pada variabel kreativitas peserta didik peserta didik kelas X MIPA1, kelas X MIPA2 dan kelas X MIPA 3 SMA Negeri 22 Makassar menunjukkan hasil yang beragam. Berikut ini dikemukakan rangkuman dari analisis statistik deskriptif hasil belajar fisika pada tabel 4.4.
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif Skor kreativitas Peserta Didik Statistik Skor Statistik
Jumlah sampel 75
Skor ideal maksimum 120 Skor ideal minimum 124
Skor tertinggi 185
Skor terendah 168
Rentang 117
Rata-rata 176,96
Deviasi standar 4,31
Kriteria interpretasi skor yang dikemukakan oleh Riduwan pada tabel 4.0 halaman 34, maka jika disesuaikan dengan skorkreativitas peserta didik maka diperoleh:
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengkategorian Skor kreativitas Peserta Didik
Interval Skor
Kriteria
Interpretasi Frekuensi Frekuensi (%)
124 – 43 Sangat Rendah 0 0
44– 63 Rendah 0 0
64 – 83 Sedang 69 92
84 – 103 Tinggi 6 8
104 – 123 Sangat Tinggi 0 0
Jumlah 75 100
Tabel 4.4 di atas, distribusi frekuensi tingkat kreativitas peserta didik dapat ditunjukkan dengan diagram batang pada gambar 4.2.
Gambar 4.2 Diagram Batang Persentase Kategori Tingkat Kreativitas Peserta Didik
Gambar 4.2 di atas terlihat bahwa tingkat kreativitas peserta didik kelas X MIPA1, kelas X MIPA2 dan kelas X MIPA3 di SMA Negeri 22 Makassar, berada pada kategori sedang. Skor total variabel kreativitas peserta didik diperoleh dari tes yang terdiri dari beberapa indikator.
3. Hasil Belajar
Analisis data pada variabel hasil belajar kelas X MIPA1, kelas X MIPA2 dan kelas X MIPA 3 SMA Negeri 22 Makassar menunjukkan hasil yang beragam.
Berikut ini dikemukakan rangkuman dari analisis statistik deskriptif hasil belajar fisika pada tabel 4.7
Tabel 4.5 Statistik Deskriptif Skor Hasil belajar
Statistik Skor Statistik
Jumlah sampel 75
Skor ideal maksimum 17
Skor ideal minimum 10
Skor tertinggi 116
0 10 20 30 40 50 60 70 80
sangat rendah rendah sedang tinggi sangat tinggi
frekuensi %
41
Rentang 111
Rata-rata 110,59
Deviasi standar 2,82,8332,832
Kriteria interpretasi skor yang dikemukakan oleh Riduwan pada tabel 4.0 halaman 34, maka jika disesuaikan dengan skor hasil belajar maka diperoleh:
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengkategorian Skor hasil belajar
Interval Skor
Kriteria
Interpretasi Frekuensi Frekuensi (%)
0 - 3 Sangat Rendah 0 0
4 –7 Rendah 11 14,67
8 – 11 Sedang 33 44
12 – 15 Tinggi 28 37,33
16 – 18 Sangat Tinggi 3 4
Jumlah 75 100
Tabel 4.6 di atas, distribusi frekuensi tingkat hasil belajar dapat ditunjukkan dengan diagram batang pada gambar 4.2.
Gambar4.3 Diagram Batang Persentase Kategori Tingkat Hasil Belajar.
0 5 10 15 20 25 30 35
sangat rendah rendah sedang tinggi sangat tinggi
frekuensi %
Gambar 4.3 di atas terlihat bahwa tingkat hasil belajar peserta didik kelas X MIPA1, kelas X MIPA2 dan kelas X MIPA3 di SMA Negeri 22 Makassar, berada pada kategori sedang. Skor total variabel hasil belajar diperoleh dari tes yang terdiri dari beberapa indikator.
4. Hubungan keterampilan proses sains dengan kreativitas peserta didik terhadap hasil belajar
a. Uji prasyarat analisis
Uji prasyarat analisis pada penelitian ini menggunakan uji normalitas dan uji linieritas. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui sebaran data pada variabel keterampilan proses sains,kreativitas peserta didik dan hasil belajar. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Chi Square, dimana jika nilai χ2 hitung <
nilai χ2 tabel maka data tersebut berdistribusi normal. Taraf signifikansi yang digunakan pada penelitian ini adalah 5%. Adapun perhitungan pengujian selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7.1 halaman 130-133 dan lampiran 7.2 halaman 134-138 sedangkan rangkuman hasil uji normalitas dari masing-masing variabel dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Variabel keterampilan proses sains, kreativitas peserta didik dan hasil belajar Variabel χ2 hitung χ2 tabel Keterangan Keterampilan
proses sains 0,6558 5,991 Normal Kreativitas
peserta didik 4,5369 7,815 Normal Hasil belajar 4,2919 7,815 Normal
Lampiran 7 hal. 130-133