• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II POTENSI WISATA KULINER HERITAGE DI KOTA SOLO. A. Pusat Wisata Kuliner di Kota Solo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II POTENSI WISATA KULINER HERITAGE DI KOTA SOLO. A. Pusat Wisata Kuliner di Kota Solo"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB II

POTENSI WISATA KULINER HERITAGE DI KOTA SOLO

A. Pusat Wisata Kuliner di Kota Solo

1. Gladag Langen Bogan (GALABO)

Gambar 1. Gladak Langen Bogan (GALABO) Sumber : www.surakarta.go.id

Gladag Langen Bogan merupakan wisata kuliner malam di Kota Solo yang diresmikan pada Minggu malam 13 april 2008. Kehadiran tempat wisata kuliner malam Gladag Langen Bogan semakin memperkuat Solo sebagai kota terkenal dengan sebutan kota yang tidak pernah tidur.

Gladag Langen Bogan Solo adalah arena kuliner yang hanya dibuka pada malam hari, berlokasi di sebelah timur bundaran Gladag, tepatnya di JL. Mayor Sunaryo depan Beteng Trade Center dan Pusat Grosir Solo. sebelah utra berbatasan dengan situs bersejarah Beteng Vastenburg. Jika siang hari tetap sebagai jalan raya, sedangkan pada malam hari jalan ditutup untuk menjadi arena kuliner. Setiap malam selalu dipenuhi pengunjung baikm dari masyarakat Solo maupun yang datang dari luar Kota solo yang penasaran dengan wiasata kuliner

28

(2)

commit to user

malam ini,Gladag Langen Bogan merupakan salah satu pilihan baru sebagai salah satu tujuan wisata di kota Solo. Pusat jajanan malam hari ini menawarkan aneka macam makanan dan minuman khas tradisional yang sudah legendaris di Kota Solo.

Masyarakat dan wisatawan dapat menemukan dengan mudah berbagai makanan dan minuman seperti thengkleng, sate kere, mie thoprak, wedang ronde, wedang dongo, dan masih banyak lagi di Gladag Langen Bogan yang digelar di sepanjang jalan utama depan Pusat Grosir Solo dan Beteng Trade Center Gladag.

Pusat jajanan malam Gladag Langen Bogan imenutup arus lalu lintas utama jalan tersebut. Para penikmat kuliner dapat berkunjung sambil menikmati suasana kota Solo di malam hari dengan berjalan kaki di sepanjang Gladag Alun-Alun Utara.

Pada akhir pekan, tak hanya makanan dan minuman khas yang ditawarkan disini, sajian musik live dapat pula dinikmati para pengunjung dengan cuma-Cuma dan adanya fasilitas hotspot.

2. Pusat Kuliner Manahan

Gamber 2. Pusat Kuliner Manahan Sumber : Surakarta.go.id

(3)

commit to user

Pada hari Minggu, kawasan ini bisa disamakan dengan kawasan Monas di Jakarta atau kawasan Gasibu di Bandung. Selain penuh dengan orang berolahraga, bisa dijumpai pula pasar kaget yang menjual beraneka barang dagangan, atraksi dokar dan becak mini, dan juga makanan. Berbagai jajanan khas kota Solo seperti nasi liwet, sambel tumpang, cabuk rambak, pecel, kupat tahu, soto kwali, dan sebagainya bisa ditemukan disini. Bila hari kerja pun, penjual-penjual makanan ini tetap ada, namun memang tidak seramai pada akhir minggu. Selain hari minggu tetap berjejeran rapi warung-warung makan yang ramai pembeli, yaitu terletak di deretan jalan belakang Manahan.

3. Pusat Kuliner Kota Barat

Gambar 3: Pusat Kuliner Lapangan Kota Barat Sumber : Koleksi pribadi Putri Puspa Sari (05/07/2014)

Sama seperti Gladag Langen Bogan, tempat yang buka khusus pada malam hari yaitu pusat kuliner di Kota Barat. Terletak tidak jauh dari Stadion Manahan, kawasan Kota Barat pada malam hari disulap menjadi salah satu pusat wisata kuliner Solo. Puluhan tenda-tenda kaki lima berjajar memenuhi kiri dan kanan jalan. Meski kaki lima, makanannya tidak kalah nikmat. Mulai dari susu

(4)

commit to user

segar, bebek goreng, gudangan, belut goreng, martabak, dan lain-lainnya bisa dinikmati disini. Deretan kuliner ini buka mulai sore hari sampai larut malam.

B. Macam – macam Kuliner Khas Solo

Selain terkenal akan budayanya, Kota Solo juga terkenal akan wisata kulinernya. Menurut wisatawan penggemar kuliner, Kota Solo memiliki daya tarik wisata kuliner yang tinggi karena memiliki kuliner yang pas di mulut dan khas. Beberapa kuliner khas Solo, antara lan :

1. Cabuk Rambak

Cabuk Rambak biasa dijajakan berkeliling kampung pada hari-hari biasa.

Saat perayaan sekaten bisa dijumpai di sekitar halaman Masjid Agung Keraton.

Makanan dengan menu utama ketupat ini sangat khas di Solo. Ketupat sering disebut juga dengan gendar janur, karena beras sebagai bahan utama ketupat dimasak dalam anyaman janur / daun kelapa yang masih muda. Sesuatu yang membedakan dengan makanan ketupat di daerah lain adalah bumbunya. Bumbu cabuk rambak memakai wijen yang digoreng bersama santan kelapa, cabai, bawang putih, kemiri dan gula merah. Makanan ini disantap dengan karak, sejenis krupuk dengan bahan dasar beras.

(5)

commit to user .Gambar 4. Cabuk Rambak Sumber : www.wisatakuliner.com

2. Nasi Liwet

Nasi Liwet merupakan makanan khas Solo yang paling terkenal. Nasi Liwet adalah beras yang dimasak denga kaldu ayam yang membuat nasi terasa gurih dan beraroma lezat. Nasi tersebut dicampur dengan sayur labu siyam yang dimasak agak pedas, telur pindang rebus, daging ayam suwir, kumut (terbuat dari kuah santan yang dikentalkan). Disajikan dengan daun pisang yang dibentuk pincuk sebagai piringnya. Penjual Nasi Liwet banyak dapat dijumpai di daerah Keprabon, buka mulai jam 4 sore sampai pagi hari.

Gambar 5. Nasi Liwet Sumber : www.wisatakuliner.com

(6)

commit to user 3. Tengkleng

Tengkleng merupakan makanan semacam gulai kambing tetapi kuahnya tidak memakai santan. Isi tengkleng adalah tulang-tulang kambing dengan sedikit daging yang menempel, bersama dengan usus, sate jerohan, otak dan organ-organ lain seperti mata, telinga, pipi, kaki dan lain-lain. Kenikmatan menyantap tengkleng akan terasa ketika kita menggerogoti sedikit daging yang menempel pada tulang dan menghisap isinya. Makanan ini dapat ditemukan di samping Gapura Pasar Klewer dan Warung Tengkleng Yu Tentrem di Jl Letjend Sutoyo.

Gambar 6. Tengkleng Sumber : www.wisatakuliner.com 4. Pecel Ndeso

Pecel Ndeso adalah nasi pecel yang berasal dari beras merah, dicampur sayur yang berisi dedaunan dan tanaman mulai dari jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi, dan kacang panjang, sambal wijen putih atau hitam.

Disantap bersama belut goreng, wader pari goreng, telur ceplok, sosis solo, bongko (kacang merah dan kelapa), gembrot (kelapa dan daun simbukan), otak dan iso goreng. Warung pecel ndeso yang terkenal di solo adalah Waroeng Tempo Doeloe di Jl. Dr Supomo 55 Pasar Mbeling, selain itu juga pecel ndeso banyak dijajakan oleh ibu-ibu berkeliling kampung.

(7)

commit to user Gambar 7. Pecel Ndeso Sumber : www.wisatakuliner.com

5. Sate Kere

Sate Kere ini sangat unik karena menu utamanya adalah sate tempe gembus, yaitu tempe yang dibuat dari ampas kedele sisa pembuatan tahu. Selain itu juga ada sate jerohan sapi, seperti paru, limpa, hati, iso, torpedo, ginjal, dan babat. Sebelum dibakar bahan makanan ini direndam dalam bumbu khas.

Sedangkan bumbu untuk menyantapnya yaitu bumbu kacang, dengan kacang yang tidak terlalu banyak sehingga terasa lebih ringan. Sate kere dapat dijumpai di sebelah selatan stadion sriwedari, Warung Yu Rebi dan di depan TK Marsudirini.

Gambar 8. Sate Kere Sumber : www.wisatakuliner.com

6. Serabi Solo

Serabi Solo berbeda dengan serabi daerah lain. Jajanan ini tidak dimakan bersama kuah santan yang manis, karena rasanya sendiri sudah manis dan gurih.

(8)

commit to user

Serabi Solo terbuat dari adonan tepung beras, gula pasir, dan santan. Serabi Solo berbentuk bulat seperti piring dengan kerak disekelilingnya. Serabi Solo memakai toping yang beraneka macam seperti taburan coklat, nangka, dan irisan pisang.

Serabi yang terkenal di Solo adalah Serabi Notosuman.

Gambar 9. Serabi Solo Sumber : www.wisatakuliner.com

7. Gempol Pleret

Gempol Pleret terbuat dari tepung beras kasar yang dibuat bulatan-bulatan berdiameter sekitar 1,5 cm. Bulatan ini kemudian disiram dengan kuah santan dan gula kelapa. Gempol Pleret bisa dijumpai di depan toko Abon Varia, Coyudan, pasar tradisional dan banyak juga penjaja keliling yang menjual gempol pleret dan di pinggir-pinggir jalan.

Gambar 10. Gempol Pleret Sumber : www.wisatakuliner.com

(9)

commit to user 8. Dawet Ayu Pasar Gede

Dawet Ayu Pasar Gede ini berbeda dengan dawet lainnya. Dawet ini berasal dari cendol dari tepung beras atau Onggok, ketan hitam, dan selasih yang disiram dengan sirup dari gula kelapayang berwarna bening. Dawet ayu ini tersedia di dalam Pasar Gede Hardjonagoro di pagi hari.

Gambar 11. Dawet Ayu Pasar Gede Sumber : www.wisatakuliner.com

9. Timlo Solo

Timlo Solo adalah hidangan berkuah bening yang berisi sosis goreng yang dipotong-potong, telur ayam pindang dan irisan hati ampela ayam. Menu ini disantap dengan nasi putih yang ditaburi bawang goreng. Berbeda dengan daerah lain, timlo solo tidak memakai soun dan jamur. Warung Timlo dapat dijumpai di Timur Pasar Gede buka pagi hari dan di Jl Urip Sumoharjo.

Gambar 12. Timlo Solo Sumber : www.wisatakuliner.com

(10)

commit to user 10. Wedangan / HIK

Wedangan merupakan salah satu tempat bersosialisasi masyarakat Solo.

Tidak hanya sebagai tempat berjualan makanan, tapi juga sarana bersantai, bertukar informasi dengan suasana yang khas. Di atas meja atau gerobak yang unik tersaji nasi yang dibungkus kecil-kecil dan berbagai lauk pauk yang sangat akrab di lidah karena merupakan makanan sehari-hari. Pengunjung leluasa mengambil makanan yang tersaji. Sambil minum teh hangat, kopi, atau wedang jahe pengunjung bisa bergaul akrab. Sesuatu yang menarik ditempat ini adalah terbentuk kepercayaan antara penjual dan pembeli. Pembeli tinggal mengatakan apa yang sudah disantap dan penjual dengan sigap menghitungnya. Wedangan dapat dijumpai di setiap sudut kota Solo.

Gambar 13. Wedangan / HIK Sumber : www.wisatakuliner.com

(11)

commit to user

C. Wisata Kuliner Solo Berkonsep Heritage

Di kota Solo saat ini sudah banyak berkembang rumah makan berkonsep heritage. Dalam penelitian ini mengambil 3 contoh rumah makan yang berkonsep heritage, diantaranya adalah Omah Sinten, Wedangan Pendopo dan Wedangan Rumah Nenek.

1. Omah Sinten Heritage Hotel & Resto

Omah Sinten, Heritage Hotel & resto, terletak di Jl. Diponegoro 34-35, Solo, tepatnya di sebelah Pasar Antik Triwindu dan tepat berhadapan dengan Istana Mangkunegaran, sekitar 100 m dari jalan utama Slamet Riyadi. Pemilik Omah Sinten yang bernama Slamet Raharjo bertujuan untuk mempertahankan adat Jawa agar tidak punah dengan memadukan wisata kuliner ke dalam konsep heritage. Slamet Raharjo juga ingin mengawinkan benang merah antara Mangkunegaran dengan Omah Sinten itu sendiri. Wisatawan yang berkunjung di Mangkunegaran pasti akan dijelaskan mengenai sejarah tentang Raja-raja mangkunegaran kemudian wisatawan dapat berkunjung di Omah Sinten untuk merasakan makanan khas Solo dan makanan yang dulunya disenangi Raja dari Keraton Surakarta. (Wawancara dengan Ido selaku manager Omah Sinten pada tanggal 16/05/2014)

(12)

commit to user

Gambar 14. Omah Sinten Tampak Dari Depan.

Sumber : Koleksi pribadi Putri Puspa Sari (16/05/2014) Arsitektur Bangunan

Dengan nuansa masa lalu, mengajak pengunjung untuk menyusuri kembali kehidupan desa dan alam Jawa. Alunan musik tradisional, landscape dan arsitektur lama, dan juga konsep kedekatan dengan alam. Letak Omah Sinten yang tepat berada di hadapan Istana Mangkunegaran, Solo, menambah nilai historis Omah Sinten. Terdapat pendopo joglo yang diberi nama Bale Mangundriyo, yang dibangun tahun 1930 Desa Kalioso daerah Solo Utara. Semua material bangunan Joglo menggunakan kayu jati dan dibawa secara utuh dari tempat asalnya, dirangkai dan dimaknai kembali dalam konteks kekinian serta fungsinya sebagai resto dan area penerima.

Seperti juga pendopo atau Bale Bojakrama, limasan ini merupakan bangunan tradisional jawa yang sudah berdiri sejak 1930, dan direstorasi dengan apik menggunakan pasak tepat berada di atas pawon.

Limasan yang lebih dikenal dengan nama Bale Manguncipto ini, semulanya adalah ruang galeri yang dilengkapi dengan gebyok Jawa yang

(13)

commit to user

menjadi pusat perhatian dalam ruangan. Menjadi tempat yang pas untuk pameran produk, barang kerajinan dan seni. Dan juga alternatif untuk meeting room / gathering yang lebih luas dan inspiratif.

Dengan ukuran 9x13x3 meter, Bale Manguncipto bisa menampung hingga 50 seat dan dapat difungsikan untuk berbagai kegiatan (multifungsi), mulai dari pertemuan/meeting, gathering, makan malam dan event tematik sesuai kebutuhan tamu/klien.

Elemen estetis bersumber dari khasanah tradisi, dan memiliki nilai historis, seperti Candi Sukuh, metalurgi Pande Keris. Kayon symbol makrokosmos sebagai background water screen. Tangkai bajak, jagung, padi, presentasi mitologi Dewi Sri. Untuk tanaman dan vegetasi, menonjolkan tanaman langka, mulai putri malu sampai pohon mojo. Semua tertata memberi suasana desa di tengah kota.

Kehadiran landscape yang ditata dengan pekarangan rumah tradisional Jawa, yang dikelilingi oleh tanaman-tanaman yang dulunya tumbuh di pekarangan rumah masyarakat Jawa namun saat ini sudah jarang ditemui, seperti pohon mlanding, tanaman obat dan sebagainya. Dengan latar belakang gending jawa yang menemani tamu sepanjang hari, menjadikan pengalaman berkunjung dan menginap di OmahSinten serasa kembali ke masa lalu di perkampungan di Solo.

Material kayu bangunan Omah Sinten adalah kayu daur-ulang, tidak menebang pohon / kayu baru. Arsitektur tipikal jawa tropis. Eksplorasi material alam seperti batu, bata, bagian untuk memperkuat karakter.

Cita rasa tradisional Jawa melekat kuat dalam suasana lingkungan, penataan ruang, dan juga menu masakan khas Istana Mangkunegaran. Mengajak

(14)

commit to user

pengunjung untuk merasakan sesuatu yang berbeda di tengah keseharian perkotaan.

Untuk hotel di Omah Sinten disediakan 10 heritage room yang menyuguhkan interior jawa klasik, dipadukan dengan kenyamanan teknologi modern. Konsep green living yang kami sertakan dalam desain furnitur Jawa, menggunakan sepenuhnya recycle wood. Dan juga langit-langit berhias batik khas solo yang menambah nuansa mewah.

Pemandangan yang langsung mengarah ke Istana Mangkunegaran, mengajak tamu seakan tengah menginap di dalam lingkungan istana kerajaan. Omah Sinten juga melayani keperluan tamu mulai dari penjemputan dari stasiun dan bandara.

Serta terdapat sambutan kedatangan dengan welcome drink dan juga sajian fruit basket di kamar. (http://omahsinten.net)

Hidangan dan Penyajian

Hidangan-hidangan yang disajikan merupakan hasil revitalisasi resep khas Istana Mangkunegaran. Sehingga membawa pengunjung ke dalam suasana makan ala raja di kraton. Penyajiannya yaitu dengan pelayanan yang penuh dengan keramahtamahan dan kekeluargaan adat timur.

Dengan mengusung konsep revitalisasi makanan-makanan tempo dulu (baik makanan yang memiliki sejarah maupun makanan tradisional yang sudah jarang ditemui), Omah Sinten menghadirkan pengalaman “keplek ilat”

(memanjakan lidah) yang menjadi salah satu kekayaan kuliner di Solo. Menu- menu tradisional seperti Garang Asem Bumbung, Manuk Nom, Ayam Goreng Sereh, serta minuman seperti Wedang Sereh, Serbat. Salah satu appetizer di Omah

(15)

commit to user

Sinten yaitu Sate Pentul, yaitu sate dari daging sapi yang menggunakan tusuk dari sere yang merupakan makanan kesukaan dari Pakubuwono X yang kemudian di sajikan dengan indah.

Harga

Untuk harga menu yang ditawarkan mulai dari Rp. 7.500,- sampai diatas Rp. 50.000,-. Untuk menu andalan seperti Sate Pentul diharga Rp. 35.000,- satu porsi, Bakmi Goreng ala Keraton Rp. 25.000,-. Minuman seperti Teh dengan harga Rp. 7.500,- , Kopi Tubruk Rp. 10.000,- , Wedhang Omah Sinten Rp.

15.000,- . Omah Sinten memang memiliki harga yang cukup mahal dari rumah makan lain, namun memiliki kualitas masakan hotel yang nikmat.

Wedangan Pendopo

Wedangan Pendopo terletak di Jl. Srigading I & II No. 7 Turisari, Solo.

Letak wedangan ini sedikit tersembunyi karena untuk mencapainya memasuki gang ke arah utara dari ruas Yosodipuro dan memasuki gang lagi ke arah barat.

Wedangan ini dikelola oleh pasangan suami istri yaitu Totok Supriyanto dan Ustiani. Wedangan ini telah berdiri selama 2,5 tahun, tepatnya berdiri pada bulan Agustus 2012. Wedangan Pendopo buka setiap hari Senin sampai Sabtu pukul 18.00 – 24.00 WIB.

(16)

commit to user

Gambar 15. Wedangan Pendopo Tampak Dari Depan.

Sumber : Koleksi pribadi Putri Puspa Sari (23/04/2014)

Tempat ini dulunya adalah rumah tetangga Totok Supriyanto, lalu beliau membeli rumah ini dengan tujuan untuk menyimpan barang-barang antik. Karena kebetulan selama 5 tahun terakhir ini beliau dan istri suka mengkoleksi barang- barang antik yang berbau Jawa. Kemudian timbul sebuah ide untuk membuat wedangan dengan awalnya hanya mengundang teman-teman untuk bersantai disini. Pada akhirnya saat ini wedangan pendopo sudah dikenal banyak orang.

(Wawancara dengan Totok Supriyanto tanggal 23/04/2014)

Arsitektur Bangunan

Wedangan ini berkonsep heritage dan unsur kejawen yang memiliki tata ruang serta ornamen-ornamen antik yang kental adat jawa. Dengan arsitektur Rumah Jawa yang dipertahankan keasliannya serta ukiran-ukiran kayu dan beberapa gambar tempo dulu menghiasi dinding. Di bagian samping terdapat gebyok yang berasal dari Lamongan, dan disitu terdapat gerobak wedangan serta kursi-kursi kayu panjang, kursi rotan becak yang saat ini mulai langka. Kemudian di belakang terdapat gubuk-gubuk kayu yang berjejeran dan juga terdapat gubuk

(17)

commit to user

tingkat. Totok Supriyanto selaku pemilik wedangan ini sangat menjaga keaslian segala macam barang antik dan bangunan karena menurut beliau dalam keaslian terdapat seni yang sangat kuat yang semakin memiliki daya tarik.

Hidangan dan Penyajian

Makanan dan minuman yang disajikan di Wedangan Pendopo kebanyakan adalah buatan sendiri, tujuannya adalah agar tetap bisa menjaga kualitas rasa dan tetap mempertahankan menu wedangan yang merakyat sesuai dengan lidah masyarakat. Menu andalan di wedangan ini yaitu Sego Jangan Ndeso (nasi sambel goreng tempe Lombok ijo) dan beberapa gorengan serta sundukan khas wedangan, wedangan ini tetap bisa menjaga keaslian menu wedangan pada umumnya.

Suasana ramah dan nyaman langsung terasa ketika pengunjung memasuki wedangan ini. Alunan gendhing Jawa membuat konsep jawa sangat kental di tempat ini sehingga membuat pengunjung betah menghabiskan malam di tempat ini. Pengunjung dapat ngambil makanan yang diinginkan yang disediakan di gerobak wedangan yang dilayani langsung oleh pemilik wedangan ini, sehingga pengunjung merasa sangat dihormati dan merasa senang dengan pelayanan di wedangan tersebut. Setelah pengunjung mengambil makanan dapat langsung memilih tempat duduk yang nyaman, kemudian makanan yang dipesan dapat segera diantar ke tempat duduk pengunjung.

(18)

commit to user Harga

Harga seporsi sego jangan ndeso hanya Rp. 3.000,- gorengan mulai dari Rp. 1.000,-, sundukan Rp. 2.000,- hingga Rp. 5.000,-. Dengan harga yang relatif terjangkau dan suasana yang sangat nyaman, tak heran bila wedangan ini memiliki banyak pelanggan.

2. Wedangan Rumah Nenek

Wedangan Rumah Nenek merupakan sebuah wedangan berkonsep heritage yang terletak di kampung batik Laweyan, tepatnya Jl. Sidoluhur 58.

Wedangan ini kental akan suasana Jawa yang megah dan kaya nilai budaya.

Pemilik dari wedangan ini adalah pasangan suami istri Berto Fatah Yasin dan Meita Savitri. Wedangan Rumah Nenek berdiri sejak bulan Oktober 2013.

Pemilik wedangan ini sengaja memilih venue wedangan di dalam Kampung Batik Laweyan karena ingin menciptakan atmosfer yang berbeda, karena untuk kedepannya mereka ingin menjadi new icon kampong batik tersebut.

Kampung Batik Laweyan merupakan sebuah kampung yang tidak pernah dijajah. Pada jaman penjajahan Belanda dulu, bangsa Belanda tunduk pada saudagar-saudagar batik di Laweyan, justru para penjajahlah yang bekerja dengan saudagar batik untuk membangun rumah mereka. Oleh sebab itu bangunan- bangunan rumah saudagar batik di Laweyan sangat megah dan memiliki arsitektur Belanda dan Jawa.

Kampung Batik Laweyan merupakan area wisata, maka pemilik wedangan ini ingin memberi kesempatan kepada wisatawan agar bisa menikmati suasana di dalam salah satu rumah saudagar batik dengan cara membuat sebuah wedangan.

(19)

commit to user

Karena di kampung Laweyan hanya terdapat kios-kios batik dan wisatawan tidak diberi kesempatan untuk masuk ke dalam rumah.

Nama wedangan ini sangat unik yaitu “Wedangan Rumah Nenek”, arti dari nama tersebut yaitu pemilik wedangan ini ingin membuat pengunjung yang datang seolah-olah berada di rumah nenek dengan suguhan makanan tradisional yang khas. Karena rumah nenek merupakan sebuah kenangan tempat yang hangat dan nyaman, membuat pengunjung betah berada di wedangan ini. Wedangan ini buka setiap hari, kecuali hari Selasa dari pukul 10.00 – 01.00 WIB. Rumah Nenek tidak buka pada hari Selasa, karena menurut falsafah Jawa, Selasa artinya sela–

sela ning manungso, jadi diambillah hari Selasa untuk beristirahat. (Wawancara dengan Berto Fatah Yasin tanggal 23/04/2014)

Gambar 16. Wedangan Rumah Nenek di malam hari.

Sumber : Koleksi pribadi Putri Puspa Sari (23/04/2014)

Arsitektur Bangunan

Bangunan wedangan ini sangat mengagumkan, yaitu sebuah rumah dengan bangunan abad ke-18 dengan luas 1.000 meter persegi. Konon, rumah

(20)

commit to user

Jawa dengan paduan Eropa yang kokoh dan terlihat begitu anggun tersebut adalah milik saudagar batik di jaman dulu. Tidak heran bila memikat para pengunjung untuk datang dan menikmati segala yang ada di wedangan ini. Bangunan ini menghadap ke selatan, berada di deretan kios-kios batik di kampung Laweyan.

Bangunan ini terlihat megah dari luar, dengan hiasan taman di depan. Bangunan ini masih asli, terlihat pada ukiran kayu di pinggiran teras rumah, tiang penyangga bangunan dan pintu-pintu besar. Semua dicat berwarna putih, sehingga terlihat indah dan anggun.

Untuk perabotan menggunakan kursi-kursi kayu agar serasi dengan konsep heritage. Di dalam wedangan ini ada dua ruangan besar, ruangan pertama ditata rapi meja kayu dan kursi-kursi rotan, sedangkan diruang kedua ditata meja kayu persegi panjang dan tidak terdapat kursi, karena sengaja dibuat untuk lesehan. Di dalam dan di luar wedangan ini tidak banyak terdapat hiasan dinding atau hiasan ruangan, hanya terdapat beberapa kaca antik yang dipasang di dinding.

Rumah Nenek sering dijadikan tempat untuk acara seperti akhad nikah, wedding party, rapat, arisan, event budaya dan sebagainya. Namun wedangan ini hanya mampu menampung sekitar 200-300 orang. Rumah Nenek juga menyediakan jasa catering untuk acara yang akan diadakan disitu.

Hidangan dan Penyajian

Aneka makanan khas wedangan disajikan mulai dari macam-macam sate, oseng kikil, oseng teri, gorengan, jajan pasar, dan masih banyak lagi. Sedangkan minuman yang disajikan antara lain, minuman khas Jawa JKJS (Jahe, Kencur,

(21)

commit to user

Jeruk, Serai dan Wedang Bengawan Solo (Susu, Jahe, Coklat, dan Tape). Untuk makanan khas dan di cari di wedangan ini adalah Nasi Oseng Teri dan Sop Buntut. Pemilik wedangan ini menyampaikan bahwa sesuai dengan namanya Rumah Nenek, ababila di rumah nenek dan cucunya datang, maka seorang nenek akan memberikan masakan terbaik untuk cucunya tersebut, makanan tersebut biasanya adalah Sop Buntut.

Ada menu lain juga seperti sop, selat, brongkos, dan masakan Jawa lainnya. Meski di tempat yang tak biasa,

Begitu pengunjung memasuki wedangan ini langsung disambut dengan meja yang berisi makanan khas wedangan. Pengunjung dapat langsung memilih dan mengambil makanan karena dihidangkan dengan gaya Prasmanan, kemudian memilih tempat duduk.

Harga

Rumah Nenek mematok harga yang sangat terjangkau mulai dari Rp.

1.500,- dampai dengan Rp. 10.000,- saja. Untuk Teh poci yang sungguh kental dan nikmat hanya dihargai Rp. 6.000,- bisa untuk dua orang.

D. Daya Tarik Wisata Kuliner Heritage

Wisatawan yang berkunjung di suatu kota pasti memiliki rasa penasaran untuk mencoba wisata kuliner di kota tersebut. Namun wisata kuliner berkonsep heritage yang dikemas dengan indah akan memiliki daya tarik tersendiri, dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu :

(22)

commit to user 1. Faktor Kelangkaan (Scarcity)

Faktor kelangkaan yaitu sifat objek/atraksi wisata yang tidak dapat dijumpai di tempat lain, termasuk kelangkaan alami maupun kelangkaan ciptaan.

Dalam konsep heritage yang terkandung dalam sebuah wisata kuliner merupakan hal yang langka. Dimana sebuah warisan budaya seperti makanan jaman dulu, barang-barang antik dan bangunan kuno yang sudah jarang ditemui saat ini. Maka wisatawan tertarik untuk mengunjungi dan menikmati suasana jaman dulu.

2. Faktor Kealamian (Naturalism)

Faktor kealamian merupakan sifat dari objek/atraksi wisata yang belum tersentuh oleh perubahan akibat perilaku manusia. Dalam konsep heritage dapat dilihat dari bangunannya. Bangunan yang dijadikan menjadi rumah makan merupakan bangunan yang sudah direnovasi atau belum. Karena pada jaman modern ini kebanyakan masyarakat sudah mengubah bangunan tua menjadi bangunan modern yang lebih megah. Namun yang menjadi daya tarik wisatawan merupakan sebuah tempat yang masih asli, yang masih memiliki nilai arsitektur jaman dahulu. Karena wisatawan akan merasa pernasaran untuk ingin memasuki bangunan yang masih asli dan itu merupakan warisan budaya dan harus dilestarikan.

3. Faktor Keunikan (Uniqueness)

Faktor keunikan merupakan sifat objek/atraksi wisata yang memiliki keunggulan komparatif dibanding dengan objek lain yang ada di sekitarnya.

Dalam wisata kuliner yang mengfgunakan konsep heritage merupakan sesuatu

(23)

commit to user

yang unik di kalangan masyarakat modern. Karena ditengah persaingan wisata kuliner yang memiliki konsep mewah dan elegan masih terdapat rumah makan yang menggunakan unsur tradisional. Misalnya makanan khas Solo, seperti cabuk rambak, sate kere, wedang ronde dan sego kucing yang terdapat diwedangan.

Yang saat ini sedang popular yaitu wedangan di dalam rumah yang menyajikan sebuah kenyamanan seperti di rumah sendiri. Hal inilah yang dianggap unik bagi wisatawan, terutama wisatawan dari luar kota maupun luar negeri. Karena mereka tidak menjumpai hal seperti ini di tempat mereka tinggal. Dengan itu mereka telah mencoba hal baru dan akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

E. Analisa SWOT

Analisa yang dilakukan untuk mengetahui potensi di dalam wisata kuliner berkonsep heritage terdiri dari berbagai aspek, yaitu strength, weakness, opportunity, threat.

1. Strength (Kekuatan)

Kekuatan dari wisata kuliner yang berkonsep heritage di Solo biasanya menjual makanan khas. Dan wisatawan yang berasal dari luar kota maupun luar negeri biasanya mencari makanan khas untuk dicoba. Memiliki sebuah kelangkaan yaitu bangunan kuno dan perabotan antik peninggalan jaman dulu yang saat ini jarang ditemui dan yang menjadi hiasan dan dikagumi pengunjung yang melihatnya.

(24)

commit to user

Sebuah misi dari pengelola wisata kuliner tersebut yaitu ingin mempertahankan warisan budaya terutama kota Solo, dengan menggunakan bangunan kuno sebagai wisata kuliner, dan menggunakan barang-barang antik sebagai perabotan dan hiasan itu membuat masyarakat bangga akan misi tersebut dan ingin mengunjunginya.

2. Weakness (Kelemahan)

Weakness adalah kelemahan-kelemahan yang dimiliki obyek wisata.

Dalam hal ini setiap obyek harus mampu meminimalkan dampak kelemahan yang dimiliki. Pengelola juga harus menindaklanjuti kelemahan yang dimiliki obyek agar dapat menemukan solusi dan strategi yang jitu untuk menembus pasar.

Kebanyakan wisata kuliner berkonsep heritage masih kurang dalam hal promosi karena karena hanya mengandalkan cara dari mulut ke mulut, jadi tingkat pengunjungnya hanya berkembang berlahan. Dan untuk letaknya yang masih jarang diketahui oleh masyarakat, karena biasanya terletak di rumah atau komplek yang memasuki gang-gang.

3. Opportunity (peluang)

Opportunity adalah peluang obyek wisata untuk meningkatkan daya saing serta untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam pemenuhan kebutuhan berupa produk-produk yang berkualitas di pasaran.Peluang ini juga digunakan untuk memperluas jaringan pemasaran produk yang pedagang hasilkan.

Contohnya Omah Sinten, dalam event SIEM (Solo International Etnic Music) yang diselenggarakan di Istana Mangkunegaran tentunya menjadikan

(25)

commit to user

peluang yang besar bagi Omah Sinten. Selain tempatnya yang berada tepat didepan Mangkunegaran dan juga Omah Sinten memiliki hotel yang berkonsep heritage tentunya menjadi perhatian bagi pengunjung event dari luar kota maupun luar negeri. Mereka secara langsung tertarik untuk mengunjungi Omah Sinten.

Letak Omah Sinten yang berada di area Ngarsopuro juga menjadikan peluang besar, karena sering diadakan event-event budaya di area Ngarsopuro.

Sedangkan Wedangan Rumah Nenek meiliki letak yang strategis di area wisata yaitu Kampung Batik Laweyan. Bagi wisatawan yang berwisata di Kampung Batik Laweyan pasti akan menemui Rumah Nenek tersebut, maka secara langsung mereka akan tertarik untuk mengunjunginya. Karena tujuan dari pemilik Wedangan Rumah Nenek adalah ingin menjadikan Rumah Nenek sebagai tempat beristirahat bagi wisatawan yang sedang berwisata di Kampung Batik Laweyan.

4. Threat (Ancaman)

Threat adalah ancaman bagi obyek baik dari luar maupun dari dalam.

Ancaman yang datang dari dalam dapat berupa adanya perpecahan yang timbul akibat suatu perbedaan tujuan dan pandangan antara satu pengelola dengan pengelola lain atau salah paham antar individu atau kelompok dalam sebuah organisasi perusahaan. Ancaman dari luar dapat berupa penilaian seputar dimensi makro seperti konsumen, fator-faktor ekonomi (naik turunnya harga bahan baku dan krisis ekonomi), sosial budaya, pasar, biaya, pesaing, pelanggan, pemerintah, politik dan tekhnologi.

Semakin berkembangnya jaman, semakin banyak juga pesaing dari dunia wisata kuliner yang menggunakan konsep campuran modern dengan jawa yang

(26)

commit to user

lebih megah. Hal itu merupakan ancaman dari luar, vara mengatasinya yaitu pihak pengelola harus tetap menjaga keaslian atau kemurnian dari konsep heritage Karena hal tersebut akan semakin jarang ditemui, secara tidak langsung wisatawan akan memburunya.

Referensi

Dokumen terkait