TELADAN UMAT AKHIR ZAMAN
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab (33) Ayat 21).
Edisi 5 – Jum’at, 23 Jumadil Akhir 1434 H / 3 Mei 2013
TIDAK DIBACA SAAT KHATIB SEDANG KHUTBAH JUM’AT
JANGAN BIARKAN YAUMUL JUM’AT BERLALU TANPA SHADAQAH
Allah swt berfirman: Muhammad itu sekalikali bukanlah bapak dari seorang lakilaki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi
nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Ahzab (33) Ayat 40).
Sudah selayaknya bagi umat Islam, umat akhir zaman untuk menjadikan Rasulullah saw, Rasul penutup para Nabi, sebagai idola dan teladan nomor wahid dalam hidupnya, bukan yang lain. Nabi Muhammad saw, teladan umat manusia akhir zaman, adalah manusia pilihan yang segala alur kehidupannya dari sebelum dilahirkan sampai wafatnya telah diatur oleh Allah swt dengan begitu indah dan penuh rahmat.
Prof. Quraish Shihab menyampaikan bahwa para ulama meyakini pemilihan hal‐hal tertentu berkaitan dengan Rasulullah bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy‐Syifa' (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya
adalah Halimah As‐Sa'diyah (yang lapang dada dan mujur). Semua nama‐nama tersebut mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.
Beliau memiliki sifat dan akhlak yang sangat mulia, dikagumi tidak hanya di hati seorang Muslim tetapi juga oleh dunia. Maka tidak mengherankan jika seorang Michael Hart yang non Muslim pun menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh nomor 1 yang paling disanjung di dunia dalam bukunya yang berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History“.
SHIDDIQ
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
(QS. An Najm (53) ayat 34).
Shiddiq artinya benar. Setiap perkataan Rasulullah saw adalah benar sebagaimana hati dan perbuatannya, yang terlindung dalam tuntunan wahyu dari Allah swt.
Sungguh manusia akhir zaman yang mengaku Islam sepatutnya malu dan perlu segera berbenah diri apabila masih merasa biasa‐biasa saja dan tidak gelisah ketika melihat kebohongan, apalagi sampai ikut turut serta berkecimpung dalam perbuatan dusta dan fitnah.
Harta, jabatan, dan hawa nafsu seringkali telah menggelincirkan lidah kita untuk mencicipi ajaran syaitan, berlaku curang, menghalalkan dusta dan fitnah untuk meraup kuntungan dunia.
Allah swt berfirman:
Hai orangorang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apaapa yang tiada kamu kerjakan.
(QS. Ash Shaff (61) ayat 2‐3).
Berkata benar akan membawa keberkahan. Jika keberkahan itu tidak kunjung tiba di dunia, maka yakinlah bahwa ia akan melindungi kita di yaumul akhir nanti. Sesungguhnya berkata benar yang membuat murka manusia adalah jauh lebih baik daripada berkata dusta yang mengundang kemurkaan Allah swt.
Allah swt berfirman:
Hai orangorang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan
amalanmu dan mengampuni bagimu dosadosamu.
Dan barang siapa menaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al Ahzab (33) ayat 70‐71).
Jika saat ini umat Islam memiliki jumlah yang besar di bumi Allah swt, namun tidak juga mendapat kemenangan yang besar di dunia ini, maka mungkin ada baiknya bagi kita untuk renungkan kembali ayat tersebut. Apakah kita sudah memenuhi seruan itu ?
AMANAH
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS. An –nisaa (4) Ayat 58).
Amanah artinya benar‐benar bisa dipercaya. Nabi Muhammad SAW diberi gelar “Al Amin”, oleh penduduk Mekkah, yang artinya terpercaya, jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Rasulullah saw menerima tugas untuk menjadi manusia teladan bagi umat manusia akhir zaman dengan penuh tanggung jawab. Tidak jarang hati beliau sedih apabila melihat orang‐orang yang telah diberi peringatan tetap bertahan dalam kedurhakaannya kepada Allah swt dan Syariat Islam.
Allah swt berfirman:
Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An ‐ Nahl (16) Ayat 82).
Bagi kita umat Islam yang dalam sehari lebih dari 5 kali mengucap syahadat, sangatlah tidak layak untuk melalaikan amanah dan kewajiban kita sebagai muslim. Kelalaian itu dapat berupa meninggalkan Shalat, berlaku kikir dalam zakat, bolos puasa Ramadhan, enggan untuk menunaikan ibadah Haji padahal sudah mampu, dan melakukan perbuatan keji dan munkar dalam kondisi sadar dan sengaja.
Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat
amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al ‐ Anfaal (8) Ayat 27).
Setiap umat Islam telah diberi amanah untuk menjadi khalifah di bumi membawa nama baik Islam dalam menjalani kehidupan. Namun tidak sedikit stigma buruk pada akhirnya ditujukan kepada Dinul Islam hanya karena ada segelintir manusia yang ber‐
KTP Islam melakukan tindakan keji dan munkar.
Segera benahi hal tersebut sesuai dengan kapasitas kita, sebelum terlambat, sebelum umur kita tamat, sebelum kiamat.
TABLIGH
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang kafir.
(QS. Al Maidah (5) Ayat 67).
Tabligh artinya menyampaikan. Semua firman Allah swt yang diwahyukan untuk umat, disampaikan oleh Rasulullah saw secara benar dan jelas, tidak ada satupun yang disembunyikan meskipun itu teguran untuk Nabi.
Dalam riwayat at‐Tirmidzi dan al‐Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah diceritakan bahwa telah turun firman Allah swt yaitu Al‐Qur’an Surah ‘Abasa (80) ayat 1‐16 yang disampaikan berkenaan dengan seorang bernama Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata:
“Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar‐pembesar Quraisy.
Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab:
“Tidak.” Maka kemudian turunlah ayat‐ayat tersebut sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw.
Meskipun ayat tersebut adalah ayat terguran kepada Nabi, tetapi Rasululllah saw tetap menyampaikannya dengan benar. Marilah kita amalkan sifat tabligh ini, menyampaikan Islam dengan sebenar‐benarnya.
Jika hanya untuk suatu produk, urusan dunia dan kampanye dunia, jutaan rupiah dikeluarkan untuk diiklankan berkali‐kali, beragam orang dilibatkan, tidak kenal tua muda, semua turut terlibat dengan gencar berusaha menyiarkan urusannya. Maka sudah barang tentu untuk dakwah Islam, meskipun sulit, meskipun berat, kita perlu menyampaikannya dengan penuh kesungguhan, lebih dari kesungguhan kita dalam urusan dunia.
Dari Abdullah bin Amr ra., Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).
FATHANAH
Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal
yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
(QS. An Najm (53) Ayat 16).
Fathonah artinya Cerdas. Menyampaikan 6 ribuan ayat Al Qur’an lalu kemudian menjelaskannya dalam ribuan hadits jelas membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Selain memenuhi kualifikasi tersebut, Rasulullah juga mampu menjelaskan syariat Islam kepada umat jahiliyah, yang bodoh dan keras kepala.
Berhadapan dengan para ahli kitab, orang kafir, zalim, fasik, dan musyrik yang perilakunya kasar.
Beliau telah terbukti mampu menuntun ummatnya sehingga terjadilah revolusi besar dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah‐belah serta saling bermusuhan antar suku, menjadi satu bangsa besar yang berakhlak baik. Islam pada zaman itu telah membentang dari Spanyol dan Portugis di Barat hingga ke India Barat.
Umat Islam selayaknya bersemangat dalam mempelajari Al‐Qur’an, bersemangat dalam mengkaji hadist‐hadist Rasulullah saw, dan bersemangat dalam mengembangkan ilmu syariat Islam. Inilah umat yang akan mewarisi kemenangan di dunia dan akhirath. Bahkan di zaman perang dahulu, umat Islam tetap diarahkan untuk terus belajar.
Allah swt berfirman:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap
tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
(QS. At‐ Taubah (9) Ayat 122).
BERKASIH SAYANG
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang
orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orangorang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka.
(QS. Al Fath (48) Ayat 29).
Menghargai dan memudahkan orang lain adalah salah satu akhlaq Rasulullah saw yang perlu diteladani oleh umat di akhir zaman ini. Diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat yang terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak.
Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya.
Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan kepada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin umat Beliau selalu mengasihi dan melayani umatnya.
Allah swt berfirman:
Hai orangorang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orangorang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al ‐ Mujadilah (58) Ayat 11).
Asbabun Nuzul QS. Al‐Mujadalah ayat 11 ini, diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia mengatakan bahwa pada suatu hari yaitu hari Jum’at, Rasulullah Saw berada di Shuffah mengadakan majelis.
Beberapa sahabat yang berjuang dalam perang Badar terlambat datang, diantaranya adalah Tsabit bin Qais, sehingga mereka berdiri diluar ruangan.
Mereka mengucapkan salam lalu Nabi saw dan orang‐orang yang terlebih dahulu datang menjawabnya.
Para pejuang Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka tetapi tak ada yang memperdulikannya. Melihat keadaan tersebut, Rasulullah saw kemudian meminta kepada orang‐
orang di sekitarnya untuk berdiri. Diantara mereka ada yang berdiri tetapi rasa keengganan nampak di wajah mereka. Maka orang‐orang munafik dengan maksud mencela Nabi, mengatakan “Demi Tuhan, Muhammad tidak adil, ada orang yang lebih dahulu datang dengan maksud agar bisa duduk di dekatnya, tetapi disuruh berdiri untuk diberikan kepada orang yang terlambat datang”. Lalu turunlah ayat ini.
Dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul
Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang sematamata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." (HR. Bukhari).
Dalam kehidupan kita dewasa ini, tidak jarang kita akan bertemu dengan orang‐orang yang mengaku teman, mengaku sahabat, yang mengaku seaqidah dengan kita, namun hatinya selalu diselimuti oleh perasaan iri hati dan dengki. Perilakunya jauh dari berkasih sayang, dan sangat sibuk untuk meng”kafir”kan saudaranya sendiri. Inilah kekufuran orang‐orang yang jauh dari teladan Rasulullah saw.
Dari Abi Musa radhiyallaahu anhu, ada yang bertanya, 'Ya Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling utama?' Rasulullah menjawab: 'Seorang muslim yang menyelamatkan kaum muslimin dari lisan dan tangannya.'. (HR. Bukhari).
Allah swt berfirman, “Dan dia termasuk orangorang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orangorang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”.
(QS. Al ‐ Balad (90) Ayat 17‐18).
***
“Apakah Dakwah melalui Website Cukup Efektif ?”
Berikan jawaban anda atas pertanyaan tersebut, yang tersedia di sisi kanan bawah halaman website:
www.majelisilmu114.com
***
Anda yang ingin mendapatkan Buletin MI‐114, Kumpulan Hadits MI‐114, memberikan tulisan dan bahan materi dakwah, donasi pendanaan, menyampaikan pertanyaan ataupun saran, dapat menghubungi Majelis Ilmu 114 melalui email:
[email protected] Kunjungi facebook MI‐114:
http://www.facebook.com/pages/MajelisIlmu
114/149059155255132
http://www.facebook.com/majelis.ilmu.14 Kunjungi blog MI‐114:
majelisilmu114.wordpress.com
Bismillahi arRahman arRahim
Mukadimah
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah swt, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah saw, atas setiap ni’mat kesehatan, Islam dan Iman yang telah diberikan kepada kita hingga saat ini.
Materi Buletin MI‐114 Edisi 5 ini mencakup sifat‐
sifat Rasulullah saw yang patut diteladani oleh kita, umat muslim. Sifat‐sifat tersebut adalah Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah, termasuk salah satu akhlaq mulia Beliau yaitu selalu memberikan kasih sayang kepada umatnya.
Bacaan ini untuk kita, dan untuk disampaikan juga kepada orang‐orang yang kita sayangi. InsyaAllah kita dapat mengamalkan sifat tersebut dalam keseharian kita, baik di rumah, di sekolah, di tempat bekerja, dan di lingkungan sekitar kita.
Walhamdulillahi Rabbil Alamin,
Redaktur MI‐114