• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) difilosofikan yaitu sebagai suatu pemikiran serta upaya untuk menjaga dan menjamin keutuhan baik itu dari segi jasmani, rohani bagi para tenaga kerja. Sedangkan untuk pengertian secara keilmuan K3 adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri [2].

Adapun Tujuan dari K3 sebagai berikut:

1. Agar setiap tenaga kerja mendapat jaminan atas keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Agar setiap peralatan maupun perlengkapan kerja digunakan sebaik-baiknya.

3. Semua hasil produksi dapat dipelihara keamanannya.

4. Agar terjaminya atas pemeliharaan kesehatan pegawai atau tenaga kerja.

5. Meningkatkan keserasian kerja dan partisipasi kerja.

6. Tehindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan maupun kondisi kerja.

Itulah beberapa tujuan dari adanya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Untuk itu perlu diterapkan dalam proses pekerjaan, sehingga para pekerja mendapat jaminan atas Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Tidak hanya itu saja pihak perusahaan pun mendapat keuntungan jika menerapkannya.

Dari hal tersebut maka penerapan K3 sangat diperlukan. Penerapan K3 merupakan upaya berkelanjutan dan bukanlah momen musiman. Penerapan K3 yang dijalankan harus didukung penuh secara konsistensi dan partisipasi dari berbagai pihak secara terus menerus [4].

(2)

7 2.1.1 Keselamatan Kerja

Keselamatan Kerja merupakan sesuatu yang berkaitan dengan peralatan sebuah pekerjaan, berkaitan dengan sebuah mesin, tempat, lingkungan kerja dan juga proses produksinya, agar para pegawai/pekerja tetap selamat serta bekerja dalam keadaan aman:

a. Lingkungan kerja adalah sasaranya.

b. Bersifat teknik yaitu segala hal berkaitan dengan perangkat keras seperti alat, transportasi, mesin dan juga lainya.

Undang-Undang (UU) keselamatan kerja yaitu UU Republik Indonesia No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. UU tersebut diperbaharui menjadi Pasal 86 ayat 1 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa setiap pekerja/buruh berhak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja serta moral dan kesusilaan. Keselamatan kerja menunjuk pada perlindungan kesejahteraan fisik dengan tujuan mencegah terjadinya kecelakaan akibat kerja. Serta adanya Sistem Manajemen K3, perusahaan akan mengelola keamanan dan perlindungan lingkungan serta kesehatan para pekerjanya.

2.2 Landasan Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Adapun landasan K3 yang dilaksanakan oleh pemerintah, yaitu sebagai berikut:

1. Undang-undang No. 1 tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.

2. Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 1973 Tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja.

3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 2 tahun 1970 Tentang Pembentukan Panitia Pembina Kesehatan dan Keselamatan Kerja ditempat Kerja.

5. Peraturan Pemerintah RI No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

(3)

8

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.

Per.08/Men/VII/2010 tentang pelindung diri.

7. Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. 2 tahun 1970 Tentang Pembentukan Panitia Pembina Kesehatan dan Keselamatan Kerja ditempat Kerja.

9. Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.

2.3 Kecelakaan Kerja

Suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan juga tidak terduga, yang dapat menimbulkan kerugian baik itu dari segi waku, harta dan juga korban jiwa disebut dengan kecelakaan kerja. Kecelakaan dapat berasal dari kelalaian dari perusahaan, pekerja, maupun keduanya. Perusahaan akan terjadi kerugian seperti kerusakan pada alat dan kehilangan waktu produksi, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti kecelakaan tersebut. Para pekerja juga akan mendapat kerugian jika terjadi sebuah kecelakaan, yaitu berpengaruh terhadap pribadi dan juga keluarga korban, yang berpengaruh terhadap kualitas hidup korban. Sehingga kecelakaan harus dihindari agar perusahaan maupun pekerja tidak terdampak dari adanya sebuah kecelakaan [2].

2.3.1 Teori Kecelakaan Kerja

Adapun teori tentang adanya kecelakaan kerja yang merupakan sebuah teori yang digunakan untuk mengurai bagaimana kecelakaan itu dapat terjadi, lalu dapat dicari upaya pengendaliannya. Teori teori ini sangat bagus jika diterapkan. Berikut contoh teori kecelakaan kerja:

1. Teori Domino Heinrich

Sebuah teori kecelakaan kerja yaitu teori Domino Heinrich ini yaitu sebuah teori penyebab kecelakaan kerja, bahwa pada teori ini memakai sebuah konsep seperti domino secara berurutan. Teori ini menyatakan bahwa faktor-faktor penyebab kecelakaan tersusun secara berurutan dalam satu garis seperti domino.

(4)

9

Menurut Heinrich, kecelakaan adalah salah satu faktor dari 5 faktor yang akan membawa kepada luka yaitu di antaranya:

1. Lingkungan asal atau sosial.

2. Sebuah kesalahan dari manusianya itu sendiri.

3. Sebuah perilaku yang tidak aman.

4. Kecelakaan.

5. Luka.

2. Teori Bird and Germain’s Loss Causation

Teori Bird and Germain’s Loss Causation, dalam gagasannya, mereka telah menyadari bahwa harus ada kebutuhan yaitu dari sebuah manajemen. Untuk mencegah dan juga mengendalikan sebuah kecelakaan itu sendiri. Para ahli ini memperbaharui dari sebuah teori yang ada yaitu teori domino, dengan hubungan manajemen sebagai tambahannya.

2.3.2 Asal Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja merupakan sebuah kejadian yang dapat menghasilkan sebuah penyakit akibat kerja dan juga dapat menghasilkan sebuah luka. Dari pengertian kecelakaan tersebut merupakan sebuah pengertian dari ISO 45001, tentang SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

Berdasarkan asal terjadinya atau penyebab kecelakaan kerja dapat berasal dari kata ini yaitu, dibagi menjadi 3 bagian yaitu T-O-P (teknis, organisional, dan juga personel).

Berikut ini adalah penjelasannya:

 Teknikal, segala yang berhubungan dengan sebuah alat-alat, mesin dan juga lainnya.

 Organisasional, merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan sebuah sistem, yaitu sebuah sistem manajemen, seperti sebuah prosedur contohnya.

 Personel merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan manusianya itu sendiri, seperti sifat tidak tenang, melakukan perilaku tidak aman dan sebagainya.

(5)

10

Adapun berbagai teknik atau sebuah tahapan untuk pencegahan kecelakaan yang berkaitan dengan pengelolaan bahaya dan juga risiko yaitu antara lain:

 Identifikasi bahaya, yaitu dengan melakukan sebuah inspeksi, patroli, inspeksi keselamatan kerja, laporan dari operator, dan juga sebuah laporan dari jurnal-jurnal teknis.

 Penyingkiran sebuah bahaya, yaitu mengubah material, pabrik dan juga mengubah prosesnya.

 Pengurangan bahaya, yaitu dengan sarana teknis dan juga modifikasi perlengkapan, dan juga pemberian APD.

 Melakukan penilaian risiko.

 Pengendalian risiko risidual, yaitu dengan cara teknis, seperti pelatihan sebagai contonya [4].

2.4 Identifikasi Bahaya

Pengertian bahaya, bahwa bahaya adalah sumber, situasi atau tindakan yang akan berpotensi menyebabkan suatu cedera serta kesehatan yang buruk. Sedangkan yang dimaksud dengan potensi bahaya adalah sesuatu yang berpotensi dan menyebabkan suatu kejadian baik yang dapat menyebabkan kerugian maupun yang tidak menyebabkan kerugian. Dari pengertian tersebut berasal dari sebuah standar internasional yaitu ISO 45001.

Pengidentifikasian dari suatu potensi bahaya dari suatu kegiatan kerja adalah inti dari seluruh kegiatan pencegahan kecelakaan. Pengidentifikasian bahaya akan berbeda dari suatu orang. Dikarenakan hal tersebut, tergantung juga terhadap pengalaman masing-masing dari setiap orang, serta sikap atau pengetahuan dari setiap orang [2].

Dari setiap kategori bahaya dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

 Fisik, contohnya seperti kebisingan, terjatuh, dan tertimpa.

 Mekanik, contohnya seperti mesin yang bergerak.

 Listrik, contonya seperti area kelistrikan.

 Kimia, contonya seperti suatu bahan yang mudah meledak dan juga terbakar.

 Biologis contonya seperi bahaya dari jamur, virus maupun dari bakteri.

(6)

11

Pada setiap pengidentifikasian atau sebuah temuan dari suatu bahaya perlu adanya sebuah pencatatan, untuk dijadikan sebuah acuan untuk memutuskan sebuah tindakan korektif yang diperlukan [2].

2.4.1 Bahaya Listrik

Listrik tentu saja mempunyai sebuah bahaya, yaitu suatu bahaya yang berasal dari listrik tersebut. Bahaya listrik ini dibedakan menjadi bahaya primer dan sekunder. Tersengat oleh listrik, terjadinya sebuah ledakan yang berasal dari listrik itu sendiri termasuk ke dalam bahaya listrik secara primer, dikarenakan bahaya tersebut berasal dari listrik itu sendiri. Dari adanya suatu bahaya listrik secara tidak langsung yang dapat menyebabkan terjadi sebuah kecelakaan seperti terjatuh dari ketinggian, tergelincir di ketinggian, tubuh tebakar secara tidak langsung termasuk bahaya sekunder dari listrik tersebut. [3].

Adapun dampak bahaya listrik, yaitu dampak sengatan listrik bagi manusia antara lain:

1. Gagal jantung.

2. Gangguan pernapasan.

Dari adanya bahaya listrik tersebut maka, ada 3 faktor yang menentukan tingkat bahaya dari listrik tersebut terhadap manusia, yaitu tegangan, arus dan juga tahanannya. Saling mempengaruhi satu sama lain, yang mana dapat ditunjukkan kedalam sebuah hukum fisika, yaitu hukum Ohm. Berikut ini penjelasan dari ke 3 hal tersebut:

 Tegangan diukur dalam satuan volt (V), merupakan tegangan dalam suatu sistem jaringan listrik maupun sistem tegangan pada sebuah peralatan tersebut.

 Arus dalam satuan apere (A), merupakan sebuah arus yang mengalir dari dalam sebuah rangkain.

 Tahanan adalah resistensi total saluran yang tersambung pada sumber teganggan listrik.

(7)

12

Tingkat bahaya listrik tersebut salah satu faktornya yaitu tingginya suatu arus listrik yang mengalir pada tubuh kita. Bahaya listrik juga dapat berasal dari sistem teganggan yang digunakan. Semakin tinggi teganganya, semakin bahaya juga listrik tersebut [3].

2.5 Job Safety Analysis (JSA)

JSA merupakan suatu alat atau teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu bahaya dan risiko bahaya di tempat kerja. JSA dapat membantu dari adanya sebuah pencegahan dari suatu bahaya tersebut. JSA akan disesuaikan dengan bagian dari pekerjaan yang akan dilakukan, akan berpengaruh jika pengukuran dilakukan atau tidak. JSA merupakan suatu alat ukur secara deskriptif, dan juga diagnostik.

Dari adanya suatu JSA dapat mengeliminasi bahaya dari suatu pekerjaan yang telah dilakukan, karena bahaya tersebut teridentifikasi, dan juga dapat dicari upaya pengendalianya, sehingga JSA sangat cocok digunakan pada suatu perusahaan dalam pengidentifikasian suatu bahaya dan risiko bahaya K3.

JSA memberikan sebuah analisis, analisis yang merefleksikan kontribusi yang diberikan oleh semua personil pekerjaan. JSA dapat dilakuan pada suatu aktivitas atau berdasarkan suatu pekerjaanya. Adapun contoh aktivitas yang perlu dilakukan dengan JSA adalah bekerja dalam ketinggian [2].

Adapun manfaat dari JSA bagi perusahaan yaitu:

1. Dari JSA ini dapat menentukan suatu bahaya, pada suatu pekerjaan yang dilakukan.

2. JSA dapat mencari upaya pengendalian dari bahaya yang ada, serta mencari peralatan atau pengaman yang baik dalam suatu pekerjaan atau aktivitas pekerjaan.

3. JSA memudahkan dalam pembuatan standar pelaksanaan pekerjaan yang selaras.

4. JSA dapat digunakan sebagai subuah dokumen periksa.

5. JSA mudah dipahami sehingga tidak perlu melakukan pelatihan atau training.

(8)

13 2.6 Pengendalian Bahaya dan Risiko K3

Sebagian orang masih berpikir bahwa dokumen K3 contonya seperti JSA ataupun HIRARC adalah sebuah dokumen yang digunakan sebagai kelengkapan dari izin kerja dan hanya untuk pemenuhan administrasi pekerjaan semata. Sebuah pemikiran yang kurang tepat, dikarenakan sesungguhnya bahwa isi dari dokumen itu adalah bagaimana personil yang terlibat dapat melakukan bagaimana pengendalian atau meminimalkan bahaya dan risiko suatu pekerjaan dengan mempraktikan atau menerapkan dari hirarki pengendalian bahaya. Daftar pengendalian bahaya dan risiko secara keseluruhan yang tertuang di dalam sebuah dokumen K3 adalah sebuah pemikiran bersama dalam upaya untuk merencanakan pengendian terhadap bahaya yang ada [4].

2.6.1 Risiko

Sebuah kombinasi dari adanya sebuah likelihood dan juga concequences bila bahaya akan menyebabakan suatu kejadian atau kecelakaan yang disebut dengan sebuah risiko [5]. Menurut sebuah standar yaitu AS/NZS 4360:2004 yaitu risiko itu sendiri merupakan sebuah peluang dari munculnya sebuah kejadian, yang mana kejadian tersebut dapat menyebabkan efek negatif terhadap yang mengalaminya atau yang terdampak dari risiko tersebut. Dari adanya likelihood serta dampak yang timbul oleh peristiwa (concequences), dari hal tersebut sebuah risiko, dapat juga diukur.

2.6.2 Manajemen Risiko

Di dalam setiap aktivitas pekerjaan tidak lepas dari adanya suatu risiko.

Risiko-risiko yang ada di tempat kerja harus dicari upaya pengendalianya, hal ini agar para pekerja tetap aman dan risiko dapat dikurangi atau diminimalisir. Untuk meminimalisir dari adanya risiko tersebut perlu adanya sebuah manajemen risiko, agar risiko itu dapat dikendalikan. Suatu proses dan juga sebuah tahapan-tahapan yang trstruktur dilakukan, yang digunakan untuk mengelola suatu risiko yang ada pada suatu pekerjaan yang telah ditetapkan secara efektif, dinamakan manajemen risiko. Dari hal tersebut merupakan pengertian manajemen risiko dari AS/NZS 4360 2004.

(9)

14

Menurut AS/NZS 4360 (1999) beberapa tahapan untuk melaksanakan manajemen risiko) yaitu:

1. Pelaksanaan risiko ditetapkan pada tujuan dan lingkup yang ada pada pekerjaan.

2. Melakukan pengidentifikasian pada risiko.

3. Penetapan evaluasi dan melakukan perbandingan terhadap kriteria yang ada.

4. Melakukan penentuan kemungkinan dan konsekuensi yang terjadi di dalam paparan risiko yang ada.

5. Meneatapkan pengendalian risiko yang diterima atau tidak diterima.

6. Adanya perlakuan dalam melakukan pemantauan dan penijauan ulang dari program manajemen risiko yang dilaksanakan.

7. Adanya komunikasi dan konsultasi didalam proses manajemen risiko dalam lingkup didalam perusahaan maupun diluar perusahaan.

Adanya tahapan manajemen risiko berdasarkan AS/NZS 4360 tahun 1999 dengan lebih lengkap pada Gambar 2.1

(10)

15

Sumber : manajemen risko AS/NZS 4360

Tujuan manajemen risiko berdasarkan AS/NZS 4360 tahun 1999 dapat dilihat berikut ini:

 Adanya pengurangan efek yang yang tidak diinginkan terjadi.

 Melakukan pemaksimalan dalam mencaapai tujuan dan mengurangi kerugian yang ada.

 Melakukan pelaksaan program yang memberikan keuntungan dan efisiensi terhadap manajemen.

 Adanya penentuan level dalam pengambilan keputusan.

 Melakukan penyusunan prorgam guna terhindar dari kegagalan dan kerugian.

 Dalam organisasi diharapkan manajemen dapat berperan aktif.

Gambar 2. 1 Bagan proses manajemen risko AS/NZS 4360

(11)

16 2.6.3 Analisis dan Penilaian Risiko

Berdasarkan AS/NZS 4360 tahun 1999 analisis risiko merupakan penentuan sistematis dalam informasi mengenai konsekuensi, kemungkinan dalam pekerjaan yang dilakukan. Dalam analisis risiko dilakukan untuk menyediakan data mengenai evaluasi dan penyelesaian dari risiko yang terjadi. Sehingga penyelesaian analisis risiko terdiri dari:

1. Analisis Kualitatif

Analisis kualititatif adalah analisis dalam penggambaran konsekuensi, dan kemungkinan yang terjadi di dalam pekerjaan berdasarkan deskripsi ulasan.

Analisis kualitatif dalam penentuan penanganan risiko ini adalah sebagai berikut:

 Untuk identifikasi risiko dengan lebih detail.

 Menentukan tingkatan risiko dengan analisis lengkap.

 Tidak adanya data numerik yang memadai.

2. Analisis kuantitatif

Dalam hal ini analisis kuantitatif meruapakan analisis data dalam numerik atau berupa angka. Berdasarkan hal tersebut analisis ini mengandalkan proporsi data – data angka yang didapat dalam penelitian.

3. Analisis semi kuantitatif

Analisis semi – kuantitatif merupakan campuran dari analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis ini sangat direkomendasikan dalam penelitian ini dikarenakan analisis ini mempertimbangkan kemungkinan dan paparan yang terjadi didalam suatu risiko yang ada didalam pekerjaan.

Pertimbangan dalam analisis semi – kuantitatif ini adalah sebagai berikut:

(12)

17 1. Konsekuensi (consequences)

Konsekuensi adalah kejadian yang menimbulkan suatu akibat yaitu adanya kerugian, luka dan sejenisnya yang bersifat merugikan pekerja ataupun sekitarnya.

Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (2004) 2. Paparan (exposure)

Paparan diketahui merupakan perhitungan tingkat frekuensi dan interaksi dari sumber risiko dengan para pekerja, contohnya yang ada di dalam perusahaan atau industri. Dalam hal ini tingkat frekuensi memiliki kategori sebagai berikut:

Tabel 2. 1 Consequences metode analisis semi kuantitatif

(13)

18

Tabel 2. 2 Tingkat pemaparan (exposure) metode analisis semi kuantitatif

Sumber: Adaptasi dari Risk Management AS/NZS 4360 (2004) 3. Kemungkinan (likelihood)

Diketahui kemungkinan merupakan suatu nilai dari risiko yang terjadi di dalam setiap tahapan pekerjaan atau menggambarkan kemungkinan terjadinnya sebuah kosekuensi. Likelihood atau biasa disebut kemungkinan ini adalah memiliki tingkat rating yang berbeda sehingga dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Faktor Kategori Deskripsi Rating

Paparan (exposure)

Continously

Sering sekali (sering terjadi pemaparan , >7 kali

dalam seminggu) 10

Frequently

Sering (terjadi pemaparan 7 kali dalam

seminggu) 6

Occasonally

Kadang kadang (terjadi pemaparan 2- 6 kali

dalam seminggu.) 3

Infrequent Tidak sering:(terjadi 1 kali seminggu ) 2

Rare

Jarang (pernah terjadi, tetapi jarang diketahui

kapan terjadinya) 1

Very Rare Sangat jarang (tidak diketahui kapan terjadinya) 0,5

(14)

19

Tabel 2. 3 Tingkat likelihood metode analisis semi kuantitatif

Faktor Kategori Deskripsi Rating

Kemungkinan (Likelihood)

Almost Certain

Sering tejadi (kejadian yang paling sering

terjadi) 10

Likely

Cendrung terjadi (kemungkinan terjadi

50% ) 6

Unusually

Tidak biasa (mungkin saja terjadi tetapi

jarang) 3

Remotely Possible

Kemungkinan kecil (kejadian yang sangat kecil kemungkinanya untuk

terjadi) 1

Conceivable

Jarang terjadi (tidak pernah terjadi kecelakaan selama tahun-tahun pemaparan, namun bisa saja terjadi)

0,5 Practically

Impossible

Tidak mungkin terjadi atau sangat tidak

mungkin terjadi 0,1

Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (2004)

Dalam penentuan tingkat risiko analisis semi kuantitatif maka dilakukan dengan perhitungan perkalian dari variabel kemungkinan, paparan dan konsekuensi.

Sumber: Risk Management AS/NZS 4360 (2004) Tabel 2. 4 Tingkat risiko metode semi kuantitatif

(15)

20 2.7 Konsep Pengendalian Bahaya

Pengendalian potensi bahaya yang dapat dilakukan dengan cara hirarki pengendalian resiko di antaranya yaitu:

o Eliminasi merupakan suatu pengendalian dengan cara memindahkan objek kerja atau sistem kerja dengan standar baku K3.

o Subtitusi merupakan suatu pengendalian dengan melakukan pergantian atau peralatan berbahaya yang ada di dalam suatu pekerjaan.

o Rekayasa teknik merupakan suatu pengendalian dengan melakukan atau merancang objek kerja agar terhindar dari bahaya yang ada di dalam suatu pekerjaan.

o Pengendalian administrasi merupakan suatu pengendalian yang dilakukan dalam mengurangi kemungkinan dalam pekerja untuk terhindar dari paparan atau risiko yang terjadi di dalam suatu pekerjaan dengan sistem kerja.

o Alat Pelindung Diri atau disebut APD merupakan suatu pengendalian untuk menghindari bahaya dan risiko yang dimana melindungi tubuh para pekerja.

Dari hirarki pengendalian bahaya tersebut dapat diberikan contoh pengendaliannya pada masing-masing hirarki tersebut, untuk lebih jelasnya berikut ini adalah penjelasannya:

o Eliminasi contonnya yaitu memindahkan objek kerja, menutup lubang yang dapat membahayakan pekerja.

o Substitusi contonya mengganti bahan pada proses produksi, seperi mengganti batu bara dengan bahan yang ramah lingkungan.

o Rekayasa teknik contohnya yaitu memberikan pengaman pada sebuah mesin.

o Pengendalian administratif contohnya pembuatan SOP kerja, pengawasan dan lainnya.

o APD contohnya yaitu penggunaan helem pengaman dan lainnya [6].

(16)

21 2.8 Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan suatu alat yang dipakai oleh pekerja dalam menghindari bahaya dan risiko yang terjadi dalam suatu pekerjaan. Alat Pelindung Diri atau disebut juga APD ini dibagi dari beberapa contoh yaitu sebagai berikut:

1. Helm pengaman (safety helmet)

Penggunaan helm dilakukan untuk terhindar dari adanya benturan benda berat dan tajam yang dapat melukai kepala pekerja. Pemakaian helem digunakan juga untuk menghindari adanya percikan bahan kimia maupun radiasi panas yang terjadi didalam suatu pekerjaan.

2. Penutup telinga (ear muffs)

Adanya penutup telinga digunakan untuk menghindari paparan terhadap kebisingan diatas 40 dB. Penutup telinga ini dikondisikan sesuai ukuran telinga pekerja.

Gambar 2. 2 Helm pengaman

Gambar 2. 3 Penutup telinga (ear muffs)

(17)

22 3.Penyumbat telinga (ear plug)

Penyumbat telinga digunakan untuk menghindari dari adanya suara bising dari pekerjaam yang dilakukan. Penggunaan penyumbat telinga dilakukan pada kebisingan lebih dari 30 dB.

4.Kacamata pengaman (safety glasses)

Penggunaan kacamata pengaman dalam pekerjaan berguna untuk melindungi mata terhindar dari potensi atau bahaya risiko yang terjadi.

5.Respirator.

Gambar 2. 4 Penyumbat telinga (ear plug)

Gambar 2. 5 Kaca mata pengaman (safety glasses)

Gambar 2.6 Respirator

(18)

23

Masker pernafasan memiliki fungsi untuk menyaring zat-zat berbahaya bagi tubuh, untuk itu perlu adanya alat pelindung sehingga organ pernafasan tetepa sehat dan juga aman. Respirator ini digunakan untuk melindungi area mulut dan hidung guna terhindar dari bahaya kimia dan terhirup racun.

6.Tali pengaman (safety harness)

Penggunaan tali pengaman dilakukan untuk terhindar dari bahaya ketinggian dan merupakan sabuk keselamatan pekerja.

7.Sarung tangan (gloves)

Gambar 2. 6 Tali pengaman

Gambar 2. 7 Sarung tangan (gloves)

(19)

24

Penggunaan sarung tangan berguna untuk menghindari bahaya yang terjadi pada tangan. Sehingga pemakaian ini dapat jauh dari adanya terkena panas api, benda tajam ataupun bahaya lainnya.

8.Sepatu pengaman (safety shoes)

Sepatu penagaman ini digunakan untuk menghindari dari adanya bahaya terhadap kaki yaitu terhindar dari cairan kimia, benda tajam dan lain – lain.

9. Rompi safety

Gambar 2. 8 Sepatu pengaman (safety shoes)

Gambar 2. 9 Rompi safety

(20)

25

Kegunaan rompi digunakan untuk memantulkan cahaya dan pekerja dapat dilhat jelas oleh orang sekitar pada waktu bekerja dalam area gelap atau pada malam hari . [7]

2.9 Jenis Pekerjaan Perbaikan Jaringan Listrik di PT PLN

Dalam jaringan distribusi listrik memiliki komponen pekerjaan yang dimana perbaikan ini berfungsi dalam pemeliharaan penyaluran energi listrik terhadap masyarakat yang memakai listrik. [8]

Lingkup pekerjaan perbaikan atau penanganan jaringan distribusi listrik yaitu : a. Pekerjaan penanganan gangguan gardu tiang

b. Pekerjaan penanganan gangguan gardu beton c. Pekerjaan penanganan gangguan JTM

d. Pekerjaan penanganan gangguan JTR e. Pekerjaan penanganan gangguan SR

Adapun jenis pekerjaan perbaikan atau penanganan jaringan distribusi listrik di PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Lampung yang dipilih untuk penelitian dikarenakan memiliki potensi bahaya dan risiko tinggi yaitu:

1. Perbaikan kontruksi (perbaikan tiang miring) 2. Overnet jaringan konstruksi TM

3. Perbaikan titik sambung 4. Perbaikan kontruksi isolator 5. Perbaikan sikuan

6. Perbaikan jaringan 2 gawang 7. Rabas pohon

8. Pemangkasan tanam tumbuh

Gambar

Gambar 2. 1  Bagan proses manajemen risko AS/NZS 4360
Tabel 2. 1 Consequences metode analisis semi kuantitatif
Tabel 2. 2 Tingkat pemaparan (exposure) metode analisis semi kuantitatif
Tabel 2. 3 Tingkat likelihood metode analisis semi kuantitatif
+3

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh manajemen model asuhan keperawatan professional tim terhadap kualitas pelayanan keperawatan di bangsal

Sejak ditetapkan RRI sebagai lembaga yang dapat menerima pendapatan yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan

Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan di bawah garis kemiskinan..

Pendekatan latihan penyelesaian masalah dan membuat keputusan dalam permainan aplikasi mudah alih adalah satu pendekatan terbaik mengatasi isu-isu berkaitan

Sedangkan kedua perlakuan ini tidak memberikan perbedaan nyata terhadap kadar air, kadar abu dan sifat fisik yang di teliti yaitu warna (α = 0.05).Perlakuan terbaik yang

Penelitia n-penelitian lain tentang interior gereja di Indonesia juga pernah dilakukan, tetapi tidak ada yang m enggunakan pe ndekata n estetis dan ikonografis,

Dasar hukum pelaksanaan program penyediaan jasa akses telekomunikasi perdesaan KPU/USO Tahun 2009 umumnya juga mengacu kepada beberapa peraturan perundang-undangan yang

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, bahwa Intensitas penyelesaian kasus pencurian sepeda motor oleh Polres Mataram