Melaksanakan Amanat Agung
di Abad 21
Bunga Rampai
Penyunting:
Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd
Sekolah Tinggi Teologi
SIMPSON
2017
Melaksanakan Amanat Agung di Abad 21:
Bunga Rampai
Penyunting: Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd
Copy Editing: Kiki Priskila Cover: Maria Benedetta Mustika
136 hlm., Times New Roman 11pt.
15 x 23 cm
ISBN: 978-602-60350-5-9
Terbitan I: Agustus 2017.
Penerbit:
Sekolah Tinggi Teologi Simpson
Jl. Agung No. 66, Krajan, Kel. Susukan, Kec. Ungaran Timur, Kab. Semarang, Jawa Tengah (50526)
Telp. (024) 6924853
Email: [email protected]
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Melaksanakan Amanat Agung di Abad 21: Bunga Rampai/
penyunting: I Putu Ayub Darmawan -- Ungaran: Sekolah Tinggi Teologi Simpson, 2017.
vi, 136 hlm.; 23 cm ISBN: 978-602-60350-5-9
1. Teologi 2. Pendidikan Kristen
I. Darmawan, I Putu Ayub II. Judul.
KATA PENGANTAR
Lahirnya Sekolah Tinggi Teologi Simpson (STT Simpson) pada 19 Agustus 1983, dengan nama Sekolah Theologia Menengah Atas (SThMA), merupakan sebuah pergumulan panjang untuk men- jawab kebutuhan hamba Tuhan, khususnya untuk Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jawa Sumatera dan bertujuan untuk melaksanakan amanat agung Yesus Kristus. Sekolah tersebut kemudian terus ber- kembang hingga menjadi perguruan tinggi dengan nama STT Simpson dan menempati lahan di Krajan, Susukan, Ungaran, Kabupaten Se- marang. Perjalanan panjang sejak 1983 dipenuhi dengan berbagai tan- tangan dan Tuhan menolong STT Simpson untuk menghadapi tan- tangan tersebut. Hingga tahun 2017 ini, STT Simpson berusaha untuk tetap setia pada amanat agung Yesus Kristus sehingga Injil kerajaan Allah terus diberitakan. Oleh karena itu, untuk memperingati 34 tahun (1983-2017) berdirinya STT Simpson, maka disusunlah sebuah buku bunga rampai yang memuat hasil karya beberapa dosen STT Simpson dan mitra. Judul yang diambil untuk buku bunga rampai ini adalah Melaksanakan Amanat Agung di Abad 21. Judul tersebut dipilih kare- na adanya kerinduan untuk kembali pada semangat lahirnya STT Simpson.
Para penulis dari luar STT Simpson yang menyumbangkan karyanya hingga menjadi sebuah buku yang saat ini berada ditangan pembaca adalah Dr. Sahat M. Sinaga, M.Th dari STT Harvest Inter- nasional Semarang, Ev. Sundoro Tanuwidjaja, M.Th dari Pelayanan Garam Bali, Pdt. Dr. Priyantoro Widodo, M.Th dari STT Baptis Indo- nesia, Semarang. Sementara dosen STT Simpson yang menyumbang- kan naskahnya dalam buku ini adalah Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd, Edi Sujoko, M.Pd, Pdt. Jamin Tanhidy, M.Th, Pdt. Dr. Krido Siswanto, M.A, M.Th, dan Pdt. Dr. Enggar Objantoro.
Satu artikel dalam buku ini ditulis oleh Pdt. Samuel Sumule, M.Div dan artikel tersebut serasa sebuah warisan bagi STT Simpson.
Sebagai salah satu pioner dan pemimpin di STT Simpson1, Pdt.
Samuel Sumule meninggalkan satu tumpuk tulisannya pada anak pertamanya, Ester Elmi. Tulisan tersebut kemudian diserahkan ke STT Simpson dan diketik ulang. Rencananya seluruh tulisan tersebut akan diterbitkan pada tahun 2018, tetapi oleh pertimbangan Bidang Pener- bitan dan Publikasi STT Simpson, satu bagian dari buku tersebut di- masukkan dalam bunga rampai ini. Sebelum berpulang ke rumah Bapa di Surga (Beliau meninggal 17 Maret 2006 di Toraja), Pdt. Samuel Sumule masih menyempatkan diri berbicara dihadapan seluruh civitas akademika STT Simpson dan memberi penguatan serta dorongan agar terus setia mewartakan Injil Kerajaan Surga. Puji Tuhan, dalam ke- sempatan ini, penyunting memperoleh kesempatan mendengarkan khotbah yang penuh semangat. Warisan berupa teladan hidup, kese- tiaan pada Tuhan, dan tulisan yang akan terbit merupakan berkat yang Tuhan beri bagi STT Simpson. Kesempatan ulang tahun STT Simpson ke-34, patut rasanya menjadi moment berharga untuk mengingat kem- bali apa yang Tuhan sudah kerjakan melalui Pdt. Samuel Sumule, oleh sebab itu memasukkan salah satu tulisan yang menggambarkan se- mangat beliau dalam buku ini merupakan usaha mengingat kembali apa yang Tuhan sudah kerjakan melalui Pdt. Samuel Sumule.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang menyumbangkan pemikirannya dalam bentuk artikel. Kiranya buku ini dapat meneguhkan panggilan pelayanan amanat agung Yesus Kristus bagi setiap murid-Nya (Mat. 28:19-20).
Ungaran, 19 Agustus 2017
Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd Penyunting
1Pdt. Samuel menjabat sebagai pejabat sementara dari tahun 1984 hingga 1986 dalam masa peralihan dari SThMA yang bertempat di Tandang, Kota Semarang menjadi Seminari Theologi Simpson (STS) yang kemudian menjadi STT Simpson dan menempati lahan di Krajan, Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang.
Daftar Isi
Kata Pengantar ... iii Daftar Isi ... vi 1. Negeri Pancasila: Panggilan Inklusif Gereja di Indonesia
Oleh Dr. Sahat M. Sinaga, M.Th... 1 2. Mengapa Mengabarkan Injil?
Oleh Pdt. Samuel Sumule, M.Div ... 23 3. Murid Yang Memuridkan
Oleh Ev. I Putu Ayub Darmawan, M.Pd ... 33 4. Model Pengembangan Pelayanan Anak
Oleh Edi Sujoko, M.Pd ... 47 5. Janji Manis Teknologi
Oleh Ev. Sundoro Tanuwidjaja, M.Th ... 65 6. Profesionalisme Hamba Tuhan
Oleh Pdt. Jamin Tanhidy, M.Th ... 75 7. Pemimpin yang Sukses dari Perspektif Kepemimpinan
Kristen
Oleh Pdt. Dr. Krido Siswanto, MA ... 91
8. Makna Gembala Dalam Alkitab Hingga Fungsi Jabatannya Dalam Gerejawi
Oleh Pdt. Dr. Priyantoro Widodo, M.Th ... 103 9. The Contextual Church Leadership
Oleh Pdt. Dr. Enggar Objantoro ... 123 Profil Penulis ... 135
6
Profesionalisme Hamba Tuhan
Pdt. Jamin Tanhidy, M.Th
A. PENDAHULUAN
Tuntutan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kompe- ten dan memadai dalam sebuah bidang pekerjaan semakin menjadi perhatian dan diperhitungkan, baik di dalam sebuah organisasi swasta maupun pemerintah. Kualitas SDM dikedepankan demi peningkatan kualitas pelayanan dan produktifitas sebuah perusahaan atau organisa- si itu sendiri. Tendensi ini juga sudah merambah dunia pelayanan, baik di dalam organisasi gereja maupun lembaga-lembaga Kristen di luar gereja. Meskipun demikian, masih banyak orang Kristen bahkan di kalangan hamba Tuhan tak terkecuali, tidak sependapat dalam hal pro- fesionalisasi1 tugas dan pekerjaan seorang hamba Tuhan atau Roha- niawan dipandang sebagai sebuah profesi. Kondisi ini terjadi, dalam pandangan penulis disebabkan oleh kurangnya pemahaman banyak orang percaya tentang apa yang disebut dengan “Profesi” itu sebenar- nya. Oleh karena itu, perlu sekali dipahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “profesi” itu sesungguhnya.
1Menurut Moeliono sebagaimana dikutip oleh Nurdin menjelaskan profesionalisasi sebagai proses membuat suatu badan organisasi menjadi pro- fesional, dan hal ini juga berlaku bagi seorang individu yang menjabat profesi tertentu, misalnya guru, lihat Syafruddin Nurdin, Guru Profesional & Imple- mentasi Kurikulum (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), 13.
Pengertian profesi mengacu kepada jabatan atau pekerjaan se- seorang yang menuntut adanya pendidikan, latihan dan keahlian para pemangkunya sehingga tidak dapat dipegang oleh sembarang orang.2 Pada hakekatnya, dapat disimpulkan bahwa profesi merupakan sebuah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan latihan serta pendi- dikan khusus, dan tidak dapat dilakukan oleh orang biasa yang tidak memiliki kemampuan atau keahlihan dan keterampilan khusus dalam bidang profesi yang dipangkunya. Misalnya, profesi dokter dan penga- cara. Dalam hal ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang belum punya latar belakang pendidikan dan skill atau kompetensi se- bagai seorang dokter atau pengacara.
Selain itu, ada pemahaman keliru yang berkembang di kalang- an orang percaya (awam maupun rohaniawan) yang memandang se- butan profesi cenderung berbau sekuler dan mementingkan profit dari- pada pelayanan dan pengabdian. Hal inilah yang perlu diluruskan se- bab yang benar adalah bahwa sesungguhnya hakekat profesi juga ti- dak terlepas dari pengertian sebagai sebuah pekerjaan yang menguta- makan pengabdian pada masyarakat dan bukan untuk mencari keun- tungan secara materi/finansial bagi diri sendiri,3 sebagaimana stigma negatif yang selama ini telah terlanjur melekat dalam dunia kerja pro- fesional atau sekuler seperti yang telah disinggung di atas.
Setelah kita memahami apa itu hakekat profesi sesungguhnya, maka jelas ada perbedaan mendasar antara pengertian “pekerjaan”
yang biasa dipahami oleh kebanyakan orang pada umumnya dengan apa yang dimaksud dengan “profesi”. Sebuah profesi sudah pasti me- rupakan sebuah bidang pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum ten- tu menjadi sebuah profesi. Sebagai contoh, semua orang bisa melaku- kan pekerjaan menyiram bunga, mencuci piring, menyapu dan menge- pel lantai. Ini adalah jenis pekerjaan biasa yang tidak bisa dipahami sebagai profesi. Tetapi untuk menjadi seorang dokter atau arsitek ma-
2Profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keah- lihan tertentu. Artinya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetepi memerlukan persiapan melalui pendidikan dan pelatihan secara khusus, lihat Kunandar, Guru Profesional (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2007), 45.
3Nurdin, Guru Profesional, 15.
ka seseorang harus menempuh pendidikan dan memiliki keterampilan di bidang tersebut. Inilah yang disebut profesi.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka tugas atau pekerjaan se- orang hamba Tuhan lebih tepat dipahami sebagai sebuah profesi ka- rena menuntut adanya panggilan khusus dari Tuhan4 dan pendidikan khusus (teologi), dibandingkan pekerjaan yang biasa pada umumnya (seperti pekerjaan menyapu dan mengepel lantai yang bisa dilakukan siapa saja tanpa harus latihan dan menempuh pendidikan terlebih da- hulu). Hal ini pula sudah menjadi ketentuan di berbagai organisasi ge- reja bahwa tidak boleh seseorang sembarangan diangkat dan ditahbis- kan untuk memangku jabatan pendeta.
Namun demikian, sangat disayangkan bahwa realita yang ter- jadi di lapangan adalah ada orang-orang percaya (baik awam maupun pengurus jemaat bahkan hamba Tuhan/rohaniawan) yang menolak arti jabatan dan pekerjaan seorang hamba Tuhan sebagai sebuah profesi.
Lucunya, mereka ini yang menolak pekerjaan seorang hamba Tuhan sebagai sebuah profesi, justru memegang keyakinan bahwa jabatan hamba Tuhan atau pendeta itu tidak boleh dijabat sembarang orang (dimana pemikiran ini sebenarnya baik disadari atau tidak, sudah ter- sirat pengertian tentang pekerjaan sebagai sebuah profesi sebagaimana yang dimaksud dalam tulisan ini). Bahkan, kelompok yang tidak setu- ju ini menuntut syarat bahwa seorang hamba Tuhan sebaiknya adalah seorang yang sudah lulus dari sekolah Alkitab atau paling tidak pernah menempuh pendidikan teologi agar pengajaran, keterampilan dan ka- rakter yang dimilikinya benar, berkualitas dan baik adanya.
Hal inilah yang penulis maksudkan bahwa pemahaman ten- tang pekerjaan seorang hamba Tuhan dari kelompok di atas dengan sendirinya sudah menyiratkan pengertian jabatan dan pekerjaan se- orang hamba Tuhan/Rohaniawan sebagi sebuah profesi (meski tanpa disadari karena sempitnya pemahaman tentang apa itu profesi sesung- guhnya dan stigma negatif yang melekat di dalamnya).
Melanjutkan pembahasan di atas, maka jika kita konsisiten me- mahami jabatan dan pekerjaan seorang rohaniawan/hamba Tuhan me-
4Jansen Sinamo, Delapan Etos Kerja Profesional (Bandung: Bina Media Informasi, 2012), 129.
merlukan karakter yang ilahi, panggilan, pendidikan dan keterampilan khusus dalam rangka melaksanakan tugas mulia yang dipercayakan Allah kepadanya. Contohnya seperti menggembalakan, berkhotbah, konseling, mengajar, memimpin dan menginjil, dll., maka sesungguh- nya pemahaman ini sudah mencakup apa yang disebut dengan profesi.
Oleh karena itu, tidaklah keliru dan berlebihan bila memahami jabatan atau pekerjaan seorang hamba Tuhan/Rohaniawan yang melayani Tuhan sepenuh waktu sebagai sebuah profesi. Sebagai dampaknya, maka tidak perlu heran apabila kondisi di lapangan pelayanan pada masa kini, semakin mengedepankan dan menuntut apa yang dikenal saat ini dengan profesionalisme5 seorang hamba Tuhan/Rohaniawan.
Seiring dengan kondisi ini pula maka tidaklah berlebihan bila seorang hamba Tuhan dapat disebut sebagai seorang pekerja yang profesional6 di bidangnya.
Setelah panjang lebar menjelaskan hakekat tugas dan peker- jaan seorang hamba Tuhan sebagai sebuah profesi serta tuntutan pro- fesionalismenya yang semakin berkembang di dunia pelayanan, maka dalam bagian selanjutnya akan dibahas referensi dari Alkitab yang menjadi dasar atau landasan untuk membicarakan lebih luas dan men- dalam tentang tugas seorang hamba Tuhan/Rohaniawan sebagai se- orang profesional itu sesungguhnya, profesionalisme dan hak terkait di dalamnya, seperti yang diungkapkan oleh Rasul Paulus dalam Su- ratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus Pasal 9.
B. PROFESIONALISME DALAM PERSPEKTIF ALKITAB Apakah Alkitab ada membicarakan soal profesionalisme se- orang hamba Tuhan? Jawabannya jelas ada. Contoh konkrit yang di- ambil dalam tulisan ini ialah kehidupan dan pelayanan rasul Paulus.
Dalam surat pertama yang ditulis Sang Rasul kepada jemaat di Ko- rintus, khususnya pasal 9 yang dirujuk dalam tulisan ini, dilatarbela-
5Profesionalisme adalah kondisi arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlihan dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian sese- orang, lihat Kunandar, Guru Profesional, 46.
6Pengertian profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilaku- kan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memer- lukan keahlihan, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi, Lihat Kunandar, Guru Profesional.
kangi oleh persoalan yang muncul di dalam jemaat Korintus pada waktu itu yaitu ada jemaat meragukan jabatan Paulus sebagai Rasul Kristus. Kondisi ini diakibatkan dari perpecahan yang terjadi di dalam jemaat Korintus dimana ada kelompok jemaat yang menamakan diri mereka sebagai pengikut Apolos, Petrus/Kefas, Kristus, bahkan Paulus sendiri pun diidolakan juga, (bandingkan I Korintus 3:4). Besar kemungkinan, kelompok jemaat yang tidak mengidolakan Paulus, (terutama kelompok yang mengidolakan Petrus karena ia adalah se- orang Rasul Kristus), mengkritik legalitas kerasulan Paulus. Guna menjawab kritikan di atas, Paulus memberikan jawabannya sebagai berikut:
Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pe- kerjaanku dalam Tuhan? Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku. Inilah pembelaanku terha- dap mereka yang mengeritik aku (1 Kor. 9:1-3).
Jawaban Paulus di atas sebenarnya menonjolkan profesionalismenya sebagai seorang hamba Tuhan dengan jabatan sebagai rasul Kristus yaitu panggilan dan buah pelayanannya. Soal panggilan jelasbahwa Paulus bertemu dan melihat Yesus di dalam perjalanannya ke Dam- syik (Damaskus) dimana ia memahami dirinya sendiri sebagai rasul terakhir yang telah menyaksikan dengan matanya sendiri Kristus yang bangkit dan dipermuliakan (1 Kor. 15:8) serta ia mengklaim jabatan rasulinya berdasarkan anugerah Allah.7 Pengalaman ini telah menjadi titik balik perubahan dan pertobatan hidupnya. Melalui peristiwa ini Tuhan memanggilnya secara khusus sebagai rasul untuk melayani- Nya sepenuh waktu. Pengalaman itu menjadi tanda bahwa ia telah me- menuhi salah satu syarat bagi seorang yang layak disebut Rasul Kristus yaitu mempunyai pengalaman pribadi melihat Kristus yang te- lah bangkit itu (Kis. 1:21-22)8.
7Willem A. VanGemeren, Progres Penebusan (Surabaya: Penerbit Momentum, 2016), 435.
8Warren W. Wiersbe, Hikmat di Dalam Kristus (Bandung: Kalam Hidup, 1983), 121.
Jadi Paulus ingin membuktikan bahwa panggilannya sebagai Rasul dapat dipertanggungjawabkan dan bukan atas kehendaknya sen- diri. Selain itu, Paulus juga menunjukkan bahwa dirinyalah yang me- rintis jemaat di Korintus dan mereka adalah buah dari pelayanannya (lihat 1 Kor. 18:1-21). Inilah aspek profesionalisme Paulus yang perlu dicermati.
Kedua hal di atas, yaitu pengalaman panggilan khusus sebagai Rasul Kristus serta hasil atau buah pelayanannya di Korintus, menjadi meterai kerasulannya sekaligus menunjukkan profesionalisme Paulus sebagai seorang hamba Tuhan. Di samping itu, jangan dilupakan bah- wa Paulus sudah mengenyam pendidikan yang tinggi di bawah asuhan Gamaliel, seorang Rabi (Guru Besar) Yahudi. Hal inilah membuat Paulus memiliki pendidikan formal yang lebih baik dan pengetahuan akan Taurat yang lebih mendalam dibandingkan rasul-rasul lainnya.9
Hal-hal di atas menunjukkan bahwa Paulus memenuhi syarat disebut sebagai hamba Tuhan dan Rasul yang profesional, yaitu di- mana Paulus sudah menerima panggilan langsung dari Kristus sebagai Rasul, hasil atau buah pelayanannya dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.
Semua hal-hal di atas menjadi alat kelengkapan yang dipakai Tuhan dan melekat dalam diri Paulus yang melegitimasi profesinya sebagai rasul Kristus. Bahkan penulis meyakini bahwa Tuhan sudah menyiapkan Paulus untuk menuliskan dan membukukan rahasia-ra- hasia firman-Nya. Tidak kurang dari 13 surat telah ditulis oleh sang rasul dan mengisi susunan kitab Perjanjian Baru yang dipakai jemaat Kristen pada awal abad masehi dan masih dipakai oleh jemaat Kristen sampai pada masa kini.
9Andrew Brake berkomentar bahwa yang menjadikan Saulus (nama Paulus sebelum mengenal Kristus) begitu hebat adalah latar belakang dan intelektualitasnya, dimana ia dididik di salah satu universitas terbaik pada masa itu, yaitu di Tarsus dan belajar di bawah didikan Gamaliel, salah satu pengajar terhebat di kalangan Yahudi pada masa itu. Ia juga bergabung de- ngan sebuah kelompok yang secara ketat mengikuti taurat yaitu kaum Farisi serta fasih berbicara dalam bahasa Yunani, Ibrani dan Aram, lihat Andrew Brake, Menjalankan Misi Bersama Yesus: Pesan-pesan bagi Gereja dari Ki- sah Para Rasul (Bandung: Kalam Hidup, 2016), 196.
Berkaca pada panggilan, buah pelayanan dan latar belakang pendidikan rasul Paulus di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada masa kini setiap orang yang sudah meyakini dan mengalami panggilan khusus dari Allah untuk melayani sepenuh waktu, dibuktikan dengan hasil atau buah pelayanannya dan latar belakang pendidikan teologi yang dimilikinya, layak disebut sebagai seorang yang berprofesi seba- gai pelayan atau hamba Tuhan dan dituntut menunjukkan profe- sionalismenya.
C. PROFESIONALISME DAN HAK HAMBA TUHAN
Dalam dunia kerja masa kini, pemakaian istilah “profesional”
di dalamnya melekat pula tuntutan hak atau upah sesuai dengan kualitas dan produktifitas yang dimiliki seseorang dalam menjabat profesi tertentu. Seorang Juru masak (chef) yang bekerja di sebuah hotel bintang lima misalnya, sudah pasti ia diberi honor atau upah yang tinggi dan sebagai konsekuensinya ia dituntut untuk dapat kreatif dan inovatif mengolah menu masakan sehingga mampu menjadi andalan guna memberikan kontribusi positif di tempat dimana ia bekerja. Sudah pasti juga upah atau honor yang ia terima disesuaikan dengan produktifitas kerjanya, apalagi jika ia adalah seorang master chef atau juru masak terkenal.
Yang menjadi masalah ialah apakah tepat jika pemahaman dan kondisi dunia kerja di atas diterapkan kepada profesi seorang pen- deta atau Rohaniawan/hamba Tuhan yang melayani Tuhan sepenuh waktu? Kemudian, layakkah seorang hamba Tuhan menuntut haknya secara memadai dari tempat dimana ia melayani? Jawabannya masih menjadi polemik atau pro dan kontra tentunya. Hal ini disebabkan, pertama oleh karena bidang pelayanan Kristen merupakan bidang pe- kerjaan yang Non-Profitabel alias tidak berfokus mencari untung se- mata (sebagaimana yang sering dijumpai dalam organisasi atau peru- sahaan sekuler pada umumnya). Kedua, adanya realita atau kenyataan bahwasanya tidak semua gereja atau organisasi Kristen mampu mem- beri upah atau penghargaan yang tinggi kepada para hamba Tuhan/
Rohaniawan. Jika demikian bagaimana seharusnya kita memaknai profesi hamba Tuhan dan upah atau hak yang semestinya ia terima?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari simak pandangan Paulus berkaitan dengan hal ini.
1. Seorang Pekerja Atau Pelayan Tuhan Patut Mendapat Upah Yang Sewajarnya
Menurut Paulus, seorang pekerja atau pelayan Tuhan patut mendapat upah yang sewajarnya. Honor atau upah ini dipakai untuk kehidupan sehari-hari dan menghidupi rumah tangganya, sebagaimana dicatat dalam surat 1 Korintus 9:4-6 yang berbunyi demikian: “Tidak- kah kami mempunyai hak untuk makan dan minum? Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perja- lanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-sauda- ra Tuhan dan Kefas?”
Nats di atas menjelaskan prinsip pelayanan Rasul Paulus di- mana ia memegang keyakinan bahwa seorang pekerja atau pelayan Tuhan, mempunyai hak mendapat tunjangan dari jemaat untuk kebu- tuhan hidup mereka sehari-hari, termasuk tunjangan keluarga mereka (khususnya bagi hamba Tuhan yang berumah tangga/mempunyai istri seperti Kefas/Petrus dan rasul-rasul lainnya yang membawa serta istri- nya dalam perjalanan pelayanan misi mereka). Meskipun Paulus sen- diri dalam hal ini tidak menikah, tetapi seandainya ia mempunyai isteri, maka isterinya pun berhak ditunjang oleh jemaat,10 demikian penjelasan Wiersbe terhadap nats tersebut di atas.
Kemudian, Paulus melanjutkan pendapatnya tentang upah atau hak seorang pelayan atau hamba Tuhan dari konteks nats di atas demikian: “Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biaya- nya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak mema- kan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?” (1 Kor. 9:7). Dalam ayat ter- sebut di atas, Paulus sebenarnya ingin memberikan pengertian dan menegaskan kepada jemaat di Korintus bahwa pekerjaannya sebagai hamba Tuhan di dalam jemaat Korintus ibarat seorang prajurit yang berdiri di garis depan dalam medan perang (karena ia yang memulai atau merintis berdirinya jemaat Korintus) dan untuk itu ia layak di- biayai. Paulus juga membandingkan jemaat Korintus sebagai ladang (kebun anggur) yang sudah diolah dan ditanami olehnya (1 Kor. 3:6- 9)11 dimana ia berhak menikmati buah hasil tanaman yang masih dipe-
10Ibid.
11Ibid, 122.
liharanya sampai saat itu. Demikian pula Paulus ingin menunjukkan bahwa ia berprofesi layaknya seorang gembala domba yang berhak atas susu domba-dombanya (suatu gambaran yang lazim pada masa kini untuk sebutan seorang Gembala Sidang atau Pendeta yang diberi tugas menggembalakan jemaat atau kawanan domba Allah dalam se- buah gereja lokal).
Ketiga analogi di atas, pada hakekatnya sama yaitu menjelas- kan bahwa seorang pelayan atau hamba Tuhan patut dan berhak men- dapat tunjangan dan hak dari hasil pekerjaannya, hal ini ditegaskan Wiersbe yang berkomentar dalam konteks nats ini (1 Kor. 3:6-9) de- mikian: “Jika ini [maksudnya upah] berlaku dalam bidang “sekuler”, maka ini juga berlaku dalam bidang rohani.”12
Prinsip ini tampak dalam pembelaan Paulus terhadap kritikan jemaat Korintus yang menuding dirinya mencari untung dengan mengutip dan menerima persembahan dari mereka. Dalam hal ini, Paulus mengutarakan suatu pelajaran rohani dari Hukum Taurat ten- tang upah yang berhak diberikan kepada seorang pekerja melalui se- buah ungkapan “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!” (Ul. 25:4; I Kor. 9:8-10).13 Dalam kaitan dengan bagian nats ini, Wiersbe kembali memberi komentar demikian: “Pau- lus telah membajak tanah di Korintus dan ia bekerja siang dan malam.
12Ibid.
13Mungkin ada masalah atau pertanyaan yang muncul di sini, yaitu asumsi bahwa ajaran Taurat itu tidak relevan lagi diterapkan pada zaman se- karang ini. Namun demikian, patut dipertimbangkan hal-hal berikut yaitu:
Pertama, Paulus mengutip ajaran dari taurat sebabnya ialah bahwa jemaat mula-mula masih memakai kitab Perjanjian Lama dan ajaran Musa sebagai alkitab dalam ibadah mereka, selain ajaran dari para Rasul (bandingkan Kis.
2:42; 15:21), hal ini disebabkan karena Alkitab Perjanjian Baru masih dalam proses penulisan dan baru dihimpun kemudian. Kedua, ada keterkaitan, ke- sinambungan, dan kesatuan antara kedua perjanjian (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), sebagiamana diungkapkan oleh seorang Bapak gereja dan teolog terkenal bernama Agustinus yang berpendapat demikian: “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama; Perjanjian Lama dinyatakan dalam perjanjian Baru, lihat Tony Lane, Runtut Pijar, cetakan ke-9 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 10 &122.
Ia telah melihat tuaian dari benih yang ditanamnya. Memang benar bahwa ia menikmati sebagian buah-buah dari tuaian itu.”14
Penjelasan Wiersbe di atas, membantu kita memahami bahwa Paulus berkata jujur bahwa memang ia sudah dan berhak menikmati hasil jerih lelahnya, dan hal ini tidak menyalahi aturan yang diajarkan Taurat dan adalah kewajiban jemaat untuk menyediakannya, sesuai kerelaan dan kemampuan yang ada. Juga tidaklah berlebihan bila Paulus mengharapkan hasil dari semua jerih lelah pelayanan yang telah ia lakukan dalam jemaat Korintus yang sangat dikasihinya tersebut, dimana ia sebagai seorang pemberita Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu (ayat 14).
2. Kewajiban Jemaat dan Sikap Hamba Tuhan
Prinsip yang perlu dipahami berkenaan dengan upah atau ho- nor seorang hamba Tuhan ialah bahwa memang sidang jemaat Tuhan berkewajiban memberikan upah yang layak atau hak yang sepatutnya diterima oleh seorang hamba Tuhan yang melayani, namun tidak wa- jib bagi seorang hamba Tuhan untuk menuntut atau menerimanya.
Prinsip rohani ini ditegaskan oleh Matthew Henry yang memberi pen- jelasan terkait maksud atau arti nats di atas (ayat 8-10) demikian:
“Merupakan kewajiban umat untuk memelihara kehidupan pelayan mereka, oleh karena ketetapan Kristus, walaupun tidak wajib bagi se- tiap pelayan Tuhan, untuk menuntut atau menerimanya. Ia dapat mele- paskan haknya, sama seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus.”15
Penjelasan Matthew Henry di atas menekankan bahwa jemaat Kristen yang tidak mau menyediakan upah yang sepatutnya diterima oleh seorang pekerja atau pelayan Tuhan yang melayani di dalam se- buah gereja lokal, melanggar ketetapan Kristus. Namun patut dicerma- ti dan dipahami betul bahwa meskipun seorang hamba Tuhan berhak atas upah yang ditetapkan Kristus, namun mereka tidak wajib menun- tut atau mempergunakan haknya sebagaimana dilakukan oleh Paulus dari keterangan nats di atas (ayat 12-15). Tujuannya hanya satu, agar jangan sampai Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya “... menga-
14Wiersbe, Hikmat Dalam Kristus, 123.
15Matthew Henry, Tafsiran Surat Roma, 1 & 2 Korintus (Surabaya:
Penerbit Momentum, 2015), 644.
dakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus” (ayat 12) hanya oleh karena hal upah. Kata “rintangan” yang dimaksud dalam ayat 12 terse- but, merupakan sebuah metafora yang berarti “merusak jembatan atau jalan bagi sebuah pasukan tentara di medan perang”16 demikian ko- mentar Robertson dan Plummer. Artinya Paulus tidak mau merusak jalan atau jembatan yang telah dibangun atau dibuatnya sendiri seba- gai tentara Kristus yang diutus untuk merintis dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia yang beradab ini, hanya gara-gara soal penghidupan sehari-hari. Jembatan yang dibangunnya bertujuan menjadi jalan bagi hamba Tuhan lainnya seperti dirinya untuk leluasa melayani dan be- kerja di Korintus (bnd. 2 Tim. 2:4) di masa mendatang.
Prinsip ini masih relevan dan patut dipertimbangkan pada ma- sa kini mengingat kondisi dan kompleksitas masalah atau problem di medan pelayanan, khususnya di pedesaan atau jemaat-jemaat yang be- lum mampu membiayai secara layak kehidupan hamba Tuhan yang me- layani mereka. Prinsip ini penting dihidupi agar tugas pemberitaan Injil dapat dilakukan dengan sebaik mungkin dan mengurangi rintangan- rintangan yang menghambat pelayanan seorang hamba Tuhan, dalam hal ini secara khusus soal ekonomi atau penghidupan seorang hamba Tuhan. Prinsip rohani ini sejalan dengan pengertian profesi sebagai pekerjaan yang bertujuan memberikan pengabdian pada masyarakat dan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan secara materi/fi- nansial bagi diri sendiri.
Masalah yang terjadi sekarang ini yaitu mengapa sampai ba- nyak hamba Tuhan atau Rohaniawan yang menuntut gaji atau upah yang tinggi kepada jemaatnya, mungkin saja disebabkan oleh pemaha- man mereka yang sempit akan profesi dan panggilan sebagai seorang hamba Tuhan itu sesungguhnya atau bisa jadi karena sikap individua- listis yang muncul karena pengaruh derasnya sekularisme, mate- rialisme17 dan hedonisme yang melanda budaya manusia saat ini, se- hingga tanpa disadari banyak hamba-hamba Tuhan jatuh pada sikap mencari keuntungan dari pelayanannya bahkan marak terjadi sampai
16William M. Greathouse, et al., Beacon Bible Commentary, Volume VIII (Kansas City, Missouri: Beacon Hill Press of Kansas City, 1968), 398.
17Rick Warren berkomentar bahwa lebih banyak orang tidak mela- yani karena materialisme ketimbang karena hal lainnya, lihat Rick Warren, The Purpose Driven Life, cetakan ke-10 (Malang: Gandum Mas, 2005), 293.
menyalahgunakan keuangan dalam jemaat atau organisasi yang dila- yaninya. Sesungguhnya sifat demikian sangat jauh dari sifat dan kehi- dupan yang diteladankan oleh Paulus dan rekan-rekannya sebagaima- na yang diuraikan dalam tulisan ini. Meskipun ia berhak atas itu, na- mun ia tidak mempergunakannya (Ayat 14). Seorang hamba Tuhan patut menyikapi secara bijaksana soal upah yang patut diterimanya, dan tetap perlu memberi ruang untuk tidak “ngotot” menuntut dan mempergunakan haknya bahkan bila perlu melepaskan haknya terse- but dengan melakukan pekerjaan tangan seperti yang dilakukan Paulus dan Barnabas, jika kondisi jemaat yang dilayani belum sanggup mem- beri upah yang layak baginya (ayat 6, 15).
Pertanyaan lain yang perlu diutarakan dalam pembahasan ini dan perlu diklarifikasi adalah soal mengapa seorang hamba Tuhan/Ro- haniawan tidak boleh menuntut haknya? Bukankah mereka layak un- tuk menerima dan menikmati hasil jerih payah mereka? Menarik kita menyimak jawaban Paulus atas persoalan di atas demikian:
Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendi- ri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku me- lakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil (Ayat 17-18).
Penjelasan Paulus di atas memberikan alasan mengapa seorang hamba Tuhan yang bertugas memberitakan Injil seperti dirinya tidak mau me- nuntut haknya (upahnya) yaitu disebabkan bahwa tugas pemberitaan Injil itu merupakan tugas kepercayaan yang ditanggungkan oleh Allah kepada Paulus dan bukan atas kehendaknya sendiri. Bruce menjelas- kan dalam ayat 15-18 bahwa Paulus menempatkan posisinya sebagai budak yang tidak membanggakan diri dalam menjalankan tugasnya sebagai pemberita Injil. Ia harus taat kepada kehendak Tuan-Nya yang memberikan tugas itu kepadanya. Ia tidak punya pilihan dan sebalik- nya akan tidak baik baginya jika ia tidak taat.18 Oleh karena alasan ini,
18F.F. Bruce, The New Century Bible Commentary I & II Corin- thians (Grand Rapids, Micihingan: Wm. B. Eerdmans Pubuishing Company, 1987), 85.
maka seorang hamba Tuhan harus memahami bahwa Allah adalah Tuan yang paling bertanggungjawab memenuhi dan menjamin kebu- tuhan hidup hamba-hambaNya. Seorang hamba Tuhan dalam hal ini, patut menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan dari orang-orang yang dilayaninya (ayat 19-23), dan tahu bahwa tujuan akhir pela- yanannya ialah mendapatkan kehidupan kekal di sorga bersama Yesus, Juruselamat (Ayat 24-27) sebagaimana yang diteladankan oleh Paulus.
D. PENUTUP
Sebagai rangkuman, dapat disimpulkan kembali dalam tulisan ini bahwasanya pekerjaan seorang hamba Tuhan atau Rohaniawan, khususnya pendeta dan pemimpin Kristen pada umumnya, layak dise- but sebagai sebuah profesi yang harus dilandasi oleh panggilan khusus dari Allah, pendidikan dan kompetensi yang memadai, juga buah pe- layanan yang dapat dinikmati orang banyak serta kesediaan untuk ti- dak menuntut upah atau hak yang tinggi dari pelayanannya yang se- sungguhnya merupakan kepercayaan dari Allah dan pengabdian kepa- da sesama. Hal ini dipertegas oleh Stephen Tong yang berkomentar demikian:
Orang yang menuntut hak dan menuntut segala sesuatu yang dapat diperoleh dari hak itu adalah orang yang belum terlepas dari egoisme. Tetapi orang yang mengetahui apa artinya menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Kristus, serta meneladani se- mua langkah dan cara hidup Kristus, orang demikian tidak me- nuntut hak, melainkan menuntut diri bagaimana boleh menjadi berkat di tangan Tuhan yang dapat dibagikan kepada banyak orang.19
Seorang hamba Tuhan semestinya menyadari bahwa baik talenta dan haknya adalah milik Tuhan dan sebagaimana waktu hidup pun adalah milik Tuhan dan adalah hak-Nya untuk mempergunakannya.20 Di sini-
19Prakata Stephen Tong untuk bukunya Mabel Williamson, Tidak- kah Kami Mempunyai Hak?, cet. ke-2 (Surabaya: Penerbit Momentum, 2013), viii-ix.
20Mabel Williamson, Tidakkah Kami Mempunyai Hak?, cet. ke-2 (Surabaya: Penerbit Momentum, 2013), 53.
lah pengertian pekerjaan dipahami sebagai aktivitas penebusan, suatu usaha pengudusan – aspek dalam kehidupan yang akan berlangsung terus sampai di sorga untuk selama-lamanya.21
Tulisan ini juga hendak memberi saran kepada para pelayan atau hamba Allah yang telah dipanggil oleh-Nya dan dipercaya oleh- Nya, untuk menyimak perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Matius 6:24 yang berbunyi demikian: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Terkait soal pelayanan dan upah, maka dalam bagian akhir pembahasan artikel ini penulis ingin mengutarakan ko- mentar Rick Warren yang diharapkan berguna bagi para hamba atau pelayan Tuhan tentang bagaimana seharusnya bersikap terhadap uang demikian: “Bila Yesus menjadi Tuan Anda, maka uang melayani An- da, tetapi bila uang menjadi tuan Anda, maka Anda menjadi budak- nya ... Pelayan-pelayan Allah selalu lebih peduli pada pelayanan ke- timbang uang.”22
Pada akhirnya, tulisan ini akan diakhiri dengan mengedepan- kan sebuah prinsip rohani yang penting disadari dan dimiliki dengan baik dan tepat menyangkut soal sikap dan motivasi yang benar dalam menggeluti profesi sebagai hamba Allah yaitu melayani Tuhan dengan cara menolak tekanan dunia, menjadi teladan dalam ketaatan dan dedikasi, yang memilih jalan salib daripada jalan yang dipilih orang banyak, menjadikan pelayanan rohani sebagai sebuah sikap ibadah dan bukan aktivitas yang hampa belaka.23
DAFTAR PUSTAKA
Brake, Andrew. Menjalankan Misi Bersama Yesus: Pesan-Pesan Bagi Gereja dari Kisah Para Rasul. Bandung: Kalam Hidup, 2016.
21David W. Hall & Matthew D. Burton, Calvin dan Perdagangan (Surabaya: Penerbit Momentum, 2015), 192-193.
22Warren, The Purpose Driven Life, 293.
23Hall & Burton, Calvin dan Perdagangan.
Bruce, F.F., The New Century Bible Commentary I & II Corinthians.
Grand Rapids, Michingan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987.
Crowder, Bill., Sorotan Iman. Jakarta: Duta Harapan Indah, 2008.
Greathouse, William M. et al., Beacon Bible Commentary, Volume VIII.Kansas City, Missouri: Beacon Hill Press of Kansas City, 1968.
Hall, David W. & Burton, Matthew D. Calvin dan Perdagangan.
Surabaya: Penerbit Momentum, 2015.
Henry, Matthew. Tafsiran Surat Roma, 1 & 2 Korintus. Surabaya:
Penerbit Momentum, 2015.
Kunandar, Guru Profesional. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2007.
Lane, Tony. Runtut Pijar, cetakan ke-9. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Nurdin, Syafruddin. Guru Profesional & Implementasi Kurikulum.
Jakarta: Quantum Teaching, 2005.
Sinamo, Jansen. Delapan Etos Kerja Profesional. Bandung: Bina Media Informasi, 2012.
VanGemeren, Willem A. Progres Penebusan. Surabaya: Penerbit Momentum, 2016.
Warren, Rick. The Purpose Driven Life, cetakan ke-10. Malang:
Gandum Mas, 2005.
Wiersbe, Warren W. Hikmat di Dalam Kristus. Bandung: Kalam Hidup, 1983.
Williamson, Mabel. Tidakkah Kami Mempunyai Hak?, cet. ke-2.
Surabaya: Penerbit Momentum, 2013