BAB II
TINJAUAN LITERATUR
Dalam bab II ini diuraikan pembahasan mengenai kerangka teori dan penelitian- penelitian empiris yang telah dilakukan sebelumnya sebagai dasar pengembangan model dalam pemecahan masalah dalam penelitian ini. Hal ini sangat penting dikarenakan setiap penelitian mestilah didasarkan pada sebuah teori, konsep, model dan penelitian empiris yang sudah diterima secara umum.
2. 1 Dasar Pengambilan Keputusan dalam Islam
Hampir setiap saat manusia membuat atau mengambil keputusan dan melaksanakannya, ini tentu dilandasi asumsi bahwa segala tindakannya secara sadar merupakan pencerminan hasil proses pengambilan keputusan dalam pikirannya. Analisa keputusan akan sangat bermanfaat dalam menghadapi masalah yang bersifat (Mangkusubroto hal 4 , 1982) :
Unik, yaitu bahwa masalah tersebut tak mempunyai preseden dan di masa depan mungkin tak akan terulang kembali.
Tak pasti, yaitu bahwa faktor-faktor yang diharapkan mempengaruhi jawaban memiliki tingkat informasi yang sangat rendah.
Jangka panjang, yaitu bahwa implikasinya memiliki jangkauan yang cukup jauh ke depan dan melibatkan sumber-sumber usaha yang penting.
Kompleks, yaitu dalam pengertian bahwa preferensi pengambil keputusan atas risiko dan waktu memiliki peranan yang besar.
Analisa keputusan sebagai suatu prosedur untuk menganalisa suatu persoalan keputusan, merupakan suatu cara untuk memastikan bahwa langkah- langkah yang penting telah benar-benar dilakukan. Sehingga sebagai satu kesatuan yang lengkap, hasil yang diperoleh dapat diyakini kebenarannya.
Diagram berikut ini menggambarkan garis besar langkah-langkah dalam analisa keputusan.
Bagan 2.1
Diagram Siklus Analisa Keputusan Informasi
Awal
Tahap Deterministik
Tahap Probabilistik
Tahap Informasional
Keputusan
Pengumpulan Informasi
Baru Informasi
Baru Informasi Awal
Tindakan
Sumber : Mangkusubroto hal 30, 1982
Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa didalam prosedur analisa keputusan akan terdapat tiga tahapan utama, yaitu :
Pertama, tahap deterministik. Dalam tahap ini variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan didefenisikan dan dihubungkan, melakukan penetapan nilai dan pengukuran tingkat kepentingan variabel, tanpa terlebih dahulu memperhatikan unsur ketidakpastiannya.
Kedua, tahap probabilistik. Merupakan tahapan penetapan besarnya ketidakpastian yang melingkupi variabel-variabel yang penting, dan menyatakannya dalam bentuk suatu nilai. Dalam tahapan ini juga dilakukan penetapan preferensi atas risiko.
Ketiga, tahap informasional. Intinya adalah meninjau hasil dari dua tahap yang terdahulu guna menentukan nilai ekonomisnya untuk mengurangi ketidakpastian pada suatu variabel yang dirasakan penting. Dengan demikian dapat ditentukan apakah masih diperlukan pengumpulan informasi tambahan untuk dapat mengurangi kadar ketidakpastian. Bila ternyata nilai informasi lebih kecil dibandingkan dengan ongkos yang dikeluarkan, maka tidak perlu mencari informasi tambahan. Sebaliknya, informasi baru yang diperoleh mungkin saja akan mengubah model dan nilai kemungkinan untuk variabel-variabel yang penting.
Sikap seseorang dalam menghadapi suatu persoalan yang mengandung risiko pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga (Mangkusubroto hal 116 - 120, 1982, yaitu :
a. Sikap penghindar risiko, yaitu bila seseorang menetapkan nilai ekivalen tetap dari suatu kejadian tak pasti lebih rendah dari nilai ekspektasi kejadian tersebut.
b. Sikap netral, yaitu bila seseorang menyatakan bahwa ekivalen tetap dari suatu kejadian sama dengan nilai ekspektasi kejadian tersebut
c. Sikap pengambil risiko, yaitu bila seseorang menetapkan nilai ekivalen tetap atas suatu kejadian tak pasti akan lebih besar dari pada nilai ekspektasi dari kejadian tersebut.
Memperhitungkan unsur risiko sangat dianjurkan dalam Islam mengingat tidak ada yang bisa memastikan apa yang terjadi di masa yang akan datang, sebagaimana tercantum dalam Al-qur’an (QS Lukman ayat 34) :
⌧
☺
34. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian mereka diwajibkan berusaha.
Analisis kelayakan suatu investasi dilakukan investor melalui pencarian informasi-informasi yang terkait dengan pilihan investasi yang ada. Didalamnya juga termasuk dengan pemahaman tentang sistem yang dipergunakan serta aturan yang sedang berlaku atas objek investasi tersebut.
Dengan terbentuknya LPS sebagai implikasi perubahan aturan penjaminan dari blanket guarantee menjadi penjaminan terbatas, maka tindakan deposan untuk menyimpan dananya agar terjamin penuh adalah dengan melakukan diversifikasi pada setiap lembaga keuangan. Dasar tindakan ini diharuskan karena aturan UU nomor 10 tahun 1998 hanya menjamin rekening simpanan per nama per bank untuk maksimum nominal Rp 100juta per 22 Maret 2007. Atas berbagai pilihan investasi yang ada, Al-Qur’an menjelaskan proses diversifikasi risiko untuk mengoptimalkan keuntungan. Sebagaimana dijelaskan dalam QS Yusuf : 67 tentang perintah Yaqub kepada putra-putranya untuk melakukan proses diversifikasi risiko sebelum menemui Raja Mesir.
⌧
⌧
☺
67. Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".
Pengambilan keputusan dalam segala hal (tidak saja terbatas pada keputusan investasi) harus didasari pada proses ikhtiar (usaha) semaksimal mungkin sebelum akhirnya bertawakal atas takdir Allah SWT. Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja'far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
"Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ikatlah kemudian bertawakkallah". Dan dalam riwayat Imam Al- Qudha'i disebutkan. "Amr bin Umayah Radhiyallahu 'anhu berkata, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku
bertawakkal ? 'Beliau menjawab, 'Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah". (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368).
Penilaian proses iktiar dalam pengambilan keputusan investasi yang dilakukan deposan BPRS XYZ dalam penelitian dinilai dari batasan pengetahuan dan pemahaman mereka atas penerapan sistem syariah dan sistem penjaminan terbatas pada produk simpanan deposito mudharabah.
2. 2 Teori Perilaku dan Karakteristik Konsumen
Menurut Karim Business Consulting (KBC) dalam Kartajaya & Sula (hal 166- 167, 2006) segmentasi pasar produk-produk lembaga keuangan syariah (LKS) di Indonesia, khususnya perbankan adalah sebagai berikut : Pembagian pasar yang telah terbentuk adalah berdasarkan perilaku (behavior) yang terbagi dalam tiga segmen. Pertama adalah sharia loyalist sebagai spiritual market. Kedua adalah floating market sebagai emotional market. Ketiga adalah conventional loyalist sebagai rational market. KBC dengan temuan riset yang telah dilakukan, potensi pasar masing-masing segmen adalah 10 trilyun rupiah untuk sharia loyalist, 720 trilyun rupiah untuk floating market, dan 240 trilyun rupiah untuk conventional loyalist. Berdasarkan riset tersebut terlihat bahwa pasar yang terbesar adalah segmen floating market yang berarti bahwa segmen tersebut merupakan segmen yang paling potensil bagi perusahaan-perusahaan syariah.
Menurut Hafidhuddin juga dalam Kartajaya & Sula (hal 2-4, 2006) mengenai dikotomi antara pasar emosional dan pasar rasional, bahwa tidaklah benar bila dikatakan bahwa orang yang berada dalam pasar emosional dalam industri syariah tidak rasional. Justru orang-orang yang berada di pasar emosional sebenarnya sangat rasional dalam menentukan pilihan, karena mereka lebih kritis, lebih teliti dan sangat cermat dalam membandingkan antara produk syariah dengan produk konvensional. Hitung-hitungan yang telah mereka lakukan telah sampai pada hitung-hitungan amal ke akhirat.
Ketika seorang nasabah rasional mendapatkan informasi bahwa suku bunga perbankan (konvensional) sedang tinggi, ia menarik dananya di bank syariah dan memindahkannya ke bank konvensional. Teori pemasaran konvensional menyatakan sikap ini bersifat rasional karena dia mencoba
menghindar dari situasi yang kurang menguntungkan. Namun, sebenarnya ini juga bisa dikatakan cara berpikir emosional, karena hanya mempertimbangkan keuntungan dunia, tetapi mengabaikan keuntungan akhirat.
Sebaliknya, seorang nasabah yang (menurut sebagai pihak) bersifat emosional karena mengedepankan nilai-nilai ajaran agamanya (Islam) dalam setiap pengambilan keputusan investasi, sebenarnya mempunyai dua perspektif waktu. Pertama, perspektif waktu sekarang, yaitu ketika ia masih hidup di dunia.
Kedua, perspektif waktu setelah mati, yaitu periode kehidupan alam kubur sampai dengan waktu saat manusia akan dihitung amal baik dan amal buruknya selama hidup di dunia (dihisab).
Dari dasar teori tentang segmentasi nasabah, dengan menganalogikan nasabah dengan pengkhususan pada deposan (sesuai dengan variabel penelitian ini) sebagai konsumen, maka dipergunakan landasan teori pengambilan keputusan konsumen atas model pertama yang diajukan dalam penelitian ini.
Pengambilan keputusan konsumen sebagai proses yang bersifat konstruktif melibatkan pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi dan seleksi, penetapan pilihan dan perilaku pasca pembelian. Proses ini akan dipengaruhi oleh tingkat kesulitan masalah, tingkat pengetahuan dan karakteristik konsumen serta karakteristik dari situasi (Sitasari hal 17, 2008).
Berdasarkan teori perilaku konsumen, terdapat tiga perspektif dalam memandang proses keputusan konsumen. Menurut traditional decision making perspective, perilaku pembelian konsumen didasari atas pemikiran yang rasional, dimana konsumen melalui setiap tahap pengambilan keputusan secara linear dengan tingkat pemrosesan informasi tinggi. Konsumen akan secara seksama mempertimbangkan nilai nilai positif dan negative tentang produk. Menurut experential perspective, konsumen mengambil keputusan lebih didasarkan atas sensasi, perasaan, atau emosi yang diakibatkan oleh produk yang dibeli.
Sedangkan berdasarkan behavioral influence perspective, pengambilan keputusan konsumen lebih dikarenakan faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi keputusan tersebut tanpa merubah keyakinan dan perasaan konsumen tentang produk tersebut (Venkatraman dan MacInnis 1985, dalam Sitasari hal 18, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen menurut Assauri (hal 29, 2003) dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, sosial, personal dan psikologi seperti dijelaskan bagan berikut ini.
Bagan 2.2
Karakteristik Konsumen Menurut Kotler
KEBUDAYAAN SOSIAL PERSONAL PSIKOLOGI
kultur ⇒ kelompok
referensi ⇒ usia ⇒ motivasi
sub kultur Keluarga tahap daur
hidup persepsi pembelajaran kelas sosial peran dan
status sosial jabatan pengetahuan keadaan
ekonomi sikap
gaya hidup kepercayaan
kepribadian
konsep diri
Sumber : Assauri (hal 29, 2003)
Kotler (hal 161, 2000) menyebutkan komponen-komponen tersebut sebagai karakteristik konsumen. Semua faktor ini saling terkait antara satu dengan yang lainnya dalam proses penetapan keputusan. Bila dianalogikan dalam model pertama yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka deposan BPRS XYZ sebagai konsumen dalam keputusannya akan dipengaruhi oleh empat elemen faktor yang sama. Faktor keempat yaitu psikologi dijadikan dasar awal pembentukan variabel kepercayaan pada penerapan sistem syariah dan pemahaman atas sistem penjaminan terbatas sebagai faktor penentu keputusan investasi mereka di BPRS XYZ.
2. 3 Penelitian Samsudin (2004)
Penelitian ini berjudul ”Mengapa nasabah memilih manggunakan jasa perbankan syariah. Pada Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang thamrin”, memiliki hipothesis bahwa faktor yang dominan dalam pemilihan jasa perbankan adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan atribut syariah Islam. Dalam penelitian, faktor-faktor yang terbentuk berurutan adalah faktor fasilitas dan pelayanan; syariah; merek; produk;
lokasi dan tempat; dorongan iklan dan sosialisasi; serta kondisi ekonomi.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah : faktor fasilitas dan pelayanan bsm
merupakan titik utama daya tarik bagi nasabah untuk menggunakan jasa di BSM.
Mengingat faktor syariah tidak menjadi faktor dominan, maka variabel ini seharusnya tidak dijadikan landasan utama pemasaran.
2. 4 Teori Analisa Fundamental Laporan Keuangan
Model persamaan kedua dalam penelitian ini didasarkan atas hubungan perilaku deposan yang tercermin dalam jumlah deposito tanpa jaminan dengan kualitas kinerja yang mampu dihasilkan dimana tercermin dalam kondisi fundamental bank. Analisa fundamental adalah usaha untuk memperkirakan kesehatan dan prospek, yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk bertumbuh dan menghasilkan laba di masa depan. Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang sangat penting bagi investor dalam melakukan analisis fundamental perusahaan yang bersifat kuantitatif, karena dari situ dapat diperkirakan keadaan atau posisi dan arah perusahaan. Laporan keuangan adalah alat (tools) pedoman sebagai salah satu penopang bagi keputusan investasi, melalui proses analisis rasio kondisi keuangan dipakai sebagai dasar pembandingan dari waktu ke waktu. Mengadakan analisa hubungan dari berbagi pos melalui analisa fundamental dalam laporan keuangan merupakan proses dasar untuk dapat menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasional.
Menurut Leopald A Bernstein dalam bukunya Financial Statement Analysis Theory, Application and Interpretation analisa fundamental menggunakan tehnik pengukuran rasio keuangan dapat dikategorikan menjadi lima bagian (Munawir hal 69, 2002) :
Rasio untuk penilaian tingkat likuiditas (short-term liquidity ratio) mencakup current ratio, acid test ratio, account receivable turnover, inventory turnover dan sebagainya.
Rasio untuk mengukur struktur modal dan solvabilitas (capital structur and long-term solvency ratio) mencakup rasio antara modal sendiri dengan total hutang, rasio antara modal sendiri dengan hutang jangka panjang, rasio antara modal sendiri dengan aktiva tetap dan sebagainya.
Return on Investment Ratio, mencakup rentabilitas usaha (return on total assets) dan rentabilitas modal sendiri (return on equity capital).
Rasio untuk menilai hasil operasi (operating performance ratio) antara lain gross margin ratio, net profit ratio dan sebagainya.
Rasio untuk menilai penggunaan aktiva (assets utilization ratio) yaitu rasio perimbangan antara penjualan dengan kas, persediaan, modal kerja, aktiva tetap dan aktiva-aktiva lainnya.
Berikut beberapa rasio penting yang umum (Riyadi hal 155-160,2006) digunakan dalam menganalisis laporan keuangan di lembaga keuangan :
1. Return on equity (ROE) adalah rasio profitabilitas yang menunjukan perbandingan antara laba (setelah pajak) dengan modal (modal inti) bank, rasio ini menunjukan tingkat % (persentase) yang dapat dihasilkan.
2. Return on Assets (ROA) adalah rasio profitabilitas yang menunjukan perbandingan antara laba (sebelum pajak) dengan total aset bank, rasio ini menujukan tingkat efesiensi pengelolaan aset yang dilakukan oleh bank .
3. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) adalah rasio perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional.
Semakin rendah tingkat rasio BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut, karena lebih efesien dalam menggunakan sumber daya.
4. Non Performing Financing (NPF) adalah perbandingan antara jumlah pembiayaan yang diberikan dengan tingkat kolektibilitas 3 sampai dengan 5 dibandingkan dengan total pembiayaan yang diberikan oleh bank.
5. Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio kewajiban pemenuhan modal minimum yang harus dimiliki bank dalam rangka penerapan prudential banking (prinsip kehati-hatian) dalam pengelolaan bank.
6. Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah besaran yang menujukan tingkat kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga yang dihimpun, berupa perbandingan antara total kredit yang diberikan dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK).
2. 5 Penelitian Ungan dan Caner (2004)
Penelitian tentang ”Depositors Behaviour and Market Discipline in Turkey” oleh A. Ece Ungan dan Selcuk Caner (2004) menggunakan tehnik data panel dan data kuartal selama 1997:4 dan 2003:3 di Turki untuk mengukur
kemampuan pengawasan dari deposan dengan jaminan dan deposan tanpa jaminan serta pengaruh dari perubahan skema penjaminan simpanan terhadap dorongan melakukan pengawasan oleh para deposan. Selama periode analisis batasan penjaminan simpanan juga mengalami perubahan. Sampai dengan tahun 2000 simpanan dijamin seluruhnya oleh skema penjaminan. Pada januari 2000 dibatasi sampai 100juta TL (lebih dari 40 kali GNP). Sejak januari 2001 sampai akhir periode analisis penjaminan menjadi hanya sampai batas 50juta TL. Pada mei 2001 Turki mengumumkan penjaminan penuh dari seluruh sisi kewajiban bank.
Penelitian ini menggunakan model umum yang diusulkan oleh Park dan Peristiani (1998) untuk mengeksplorasi disiplin pasar. Untuk mengestimasi hubungan antara perubahan dari tingkat simpanan deposito sebagai suatu reaksi atas perubahan fundamental bank melalui persamaan regresi berikut :
∆Depositi,t = α0 + Σ βkRiski,t-1 + Σ βpMacrot-1 + Σ βqBanki,t + γReturn i,t-1 + Σ λjDummyt + µSizei,t-1 + ηi,t
i = 1...N adalah jumlah bank pada periode t. Jumlah observasi berbeda antar bank
∆Depositi,t mewakili data turunan pertama dari deposito yang dijamin dan tanpa jaminan baik dalam satuan mata uang Lira Tuki maupun mata uang asing yang terdapat pada bank i pada periode t. Riski,t-1 mengartikan variabel-variabel spesifik yang akan menjelaskan tingkat risiko bank i pada periode t-1. Macrot-1
adalah factor-faktor makroekonomi yang umum diantara bank-bank yang menjadi objek penelitian periode t-1. Banki,t menjelaskan status kepemilikan bank I pada periode t untuk menjelaskan pengaruh dari struktur kepemilikan terhadap kedisiplinan deposan. Sizei,t-1 dimasukan dengan tujuan untuk mengendalikan kemungkinan pengaruh “too big to fail”. Return i,t-1 diperhitungkan mewakili total pendapatan deposan.
Hasil penelitian dari persamaan pertama menghasilkan beberapa kesimpulan. Simpanan deposito yang dijamin dan tanpa jaminan terlihat memberikan respon dari perubahan fundamental bank. Perubahan dari simpanan tanpa jaminan berhubungan positif dengan tingkat suku bunga dari periode sebelumnya. Ukuran bank tidak secara signifikan mempengaruhi perubahan deposito yang dijamin dan berpengaruh negatif secara signifikan pada perubahan deposito tanpa jaminan. Deposan-deposan tanpa jaminan tidak terpengaruh pada
perubahan kebijakan skema penjaminan. Kepemilikan bank tidak berhubungan baik untuk deposito yang dijamin maupun pada deposito tanpa jaminan.
Determinan utama disiplin pasar menurut penelitian ini adalah ”total loans to total assets”, “loans to other banks to total assets”, “cash, reserves and bonds to total assets and capitalisation”. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa para deposan tanpa jaminan tidak melakukan proses disiplin kepada bank melalui langkah menarik dana simpanan mereka karena adanya jaminan penuh dari pemerintah Turki. Untuk itu mereka akan berusaha untuk mendapatkan tingkat suku bunga tertinggi yang diberikan dari bank-bank yang berisiko. Serupa dengan bukti temuan internasional, mereka juga menyatakan bahwa penjaminan penuh merintangi proses disiplin pasar.
2. 6 Penelitian Barajas dan Steiner (2000)
Adolfo Barajas dan Roberto Steiner melakukan penelitian mengenai
”Depositor Behavior and Market Discipline in Columbia”. Penelitian ini menguji keputusan para deposan memilih bank yang ada di Kolombia, pengkhususan terhadap pokok persoalan mengenai disiplin pasar. Dengan pengawasan terhadap faktor-faktor risiko / pendapatan yang lebih komprehensif, penelitian ini lebih menekankan pada pengujian secara konvensional atas disiplin pasar, melalui dua inti pertanyaan
(1) Bagamana bank dapat memperoleh atau kehilangan pangsa pasar? Faktor- faktor risiko atau pendapatan spesifik mana yang paling penting dalam menjelaskan pertumbuhan deposito pada suatu bank?
(2) Seberapa baik perlakuan para deposan dalam mendiskriminasi antara bank- bank yang terorganisir baik dengan yang tidak?
Data panel mengestimasikan antara periode 1985-1999 pertumbuhan deposito terkait dengan fundamental bank, bahkan setelah dilakukannya pengawasan atas faktor-faktor lain yaitu risiko dan pendapatan. Juga diperoleh kesimpulan bahwa pilihan para deposan secara efektif mendisiplinkan bank.
Untuk menghindari kehilangan deposito yang ada, bank akan bekerja keras untuk meningkatkan kekuatan fundamental mereka. Kesimpulan akhir adalah bank- bank dengan fundamental yang kuat akan memperoleh keuntungan dari biaya
suku bunga deposito yang rendah dan tingkat suku bunga pinjaman yang tinggi, sehingga terlihat bahwa disiplin pasar terjadi di Kolombia.
Lembaga penjamin di Kolombia adalah FOGAFIN (Fondo de Garantias de Instituciones Financieras) didirikan pada tahun 1985 menjamin deposito sampai dengan col$10,000,000 per rekening. Barajas dan Steiner (2000) melengkapi dengan penelitian yang menunjukkan bahwa deposan akan lebih memilih bank dengan kekuatan fundamental dan melakukan proses disiplin pasar pada bank baik itu melalui cara penarikan dana deposito maupun peningkatan suku bunga atas simpanan mereka. Penelitian ini lebih menekankan pengujian disiplin pasar dengan menggabungkan pendapatan variabel x dan variabel risiko non- fundamental y dengan menambahkan variabel fundamental (FUND) serta pengendalian makro z dan w.
rti = α0 + FUNDtiα1 + ztα2 + xtiα3 + ytiα4 + εti
Dti = β0 + FUNDtiβ1 + w1β2 + xtiβ3 + ytiβ4 + vti
Penelitian juga melakukan pengendalian atas variabel-variabel non- fundamental yang mungkin memberikan pengaruh baik terhadap tingkat suku bunga dan peningkatan jumlah deposito. Pengukuran tingkat jasa transaksi bank diwakilkan dengan jumlah kantor cabang (BRANCH). Untuk faktor-faktor risiko non-fundamental, dipergunakan variabel dummy atas kepemilikan negara (STATE) untuk menguji apakah deposan menyadari bahwa bank yang dimiliki negara sering kali mendapatkan penjaminan, sementara bank dengan kepemilikan asing (FOREIGN) akan diuji apakah bank dapat memberikan manfaat dalam bentuk reputasi tidak saja bagi rekanan dometik mereka. Penelitian juga akan memperhatikan ukuran bank (ASSETS) untuk menguji apakah deposan memberikan respon pada efek ”too big to fail”.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data semester periode 1985-1999 yang didasarkan pada laporan keuangan dan neraca bank. Variabel- variabel fundamental yang dipergunakan adalah : NPL (non-performing loans / total loans); NPLASS (non-performing loans / assets); PROV (total loans provisions / assets); KASS (capital / assets); ROE (return on equity); dan LIQUIDITY (total reserves / assets).
2. 7 Penelitian Maechler dan McDill (2003)
The Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menjamin semua simpanan deposito sampai dengan nilai $100,000 per deposan di Amerika Serikat.
Dalam paper penelitian ”Dynamic Depositors in US Banking” oleh Andrea M.
Maechler dan Kathleen M. McDill (2003) dilakukan investigasi hadirnya disiplin deposan pada sektor perbankan Amerika Serikat. Hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa para deposan akan menarik dana mereka yang tidak dijamin ketika hasil kinerja bank menjadi buruk. Dengan mempergunakan data panel atas informasi spesifik bank, perilaku para deposan mendisiplinkan bank diujikan apakah dilakukan dengan tindakan menarik dana mereka dan dihubungkan dengan kinerja bank tersebut. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi dinamis antara harga (tingkat suku bunga) dengan pergerakan jumlah dari deposito tanpa jaminan. Penelitian ini menggunakan estimator the generalized-method-if-moments (GMM) yang dikembangkan untuk model dinamis data panel oleh Arellano dan Bond (1991) AB Model.
(UDit – UDit-1) = α’Σ(UDit-s - UDit-s-1) + β’(IMit - IMit-1) + ρ’(Xit-1 - Xit-2) + θ’(Mit – Mit-1) + (εit - εit-1)
Dari persamaan ini rasio deposit tanpa jaminan pada total deposito bank, yang terpisah dari perbedaan spesifik bank, ditentukan dari empat factor utama:
perilaku deposito tanpa jaminan sebelumnya, pergerakan variabel harga, evolusi dari fundamental bank dan perkembangan umum dari makroekonomi.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa perilaku para deposan sangat peka atas fundamental bank. Kualitas bank akan menentukan jumlah dari deposito tanpa jaminan. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa perilaku dari deposito tanpa jaminan dipengaruhi tidak hanya oleh perubahan kualitas bank tetapi juga oleh pergerakan harga (tingkat suku bunga). Disimpulkan bahwa posisi bank sehat lebih baik dalam mempergunakan harga untuk menarik minat deposan tanpa jaminan dibandingkan dengan bank berkualitas rendah.
2. 8 Penelitian Peria dan Schmukler (1998)
Dengan menggunakan data panel, penelitian Do Depositors Punish Banks for
“Bad” Behavior?: Examining Market Discipline in Argentina, Chile, and Mexico
oleh Maria Soledad Martinez Peria dan Sergio L. Schmukler menguji keberadaan disiplin pasar dengan mempelajari apakah para deposan akan menghukum bank yang dirasakan lebih berisiko dengan melakukan penarikan dana deposito yang mereka simpan. Untuk setiap Negara secara terpisah dilakukan pengujian dengan menurunkan bentuk persamaan berikut ini :
DEPi,t = µ1 + δ’SYSt + γ’MACROt + β’Banki,t-1 + vi,t vi,t ∼ N(0,σ2i,t )
Menurut persamaan diatas, simpanan deposito suatu bank akan ditentukan oleh tiga faktor utama : pola perilaku dari produk simpanan deposito dalam sistem perbankan secara keseluruhan, perkembangan dari makroekonomi dan evolusi dari karakteristik risiko bank (atau fundamental bank). Asumsi yang dipergunakan dalam metodologi penelitian ini adalah variabel risiko bank, variabel sistem perbankan, dan variabel makroekonomi ditentukan bersifat eksogen. Sedangkan fundamental bank bersifat endogen.
Hasil yang diperoleh pada objek negara yang diteliti dengan skema penjaminan simpanan yang berbeda, disiplin pasar berlaku bahkan pada deposan kecil yang terjamin. Persamaan yang dipergunakan dalam menguji simpanan bank secara individual adalah fungsi dari fundamental bank, sistem bank dan variabel makroekonomi. Dalam penelitian yang dilakukan kuantitas deposito dan tingkat suku bunga akan merespon kekuatan fundamental bank untuk kasus yang terjadi di Argentina, Mexico dan Chili.
Dalam penelitian ini ditemukan terjadi perilaku menular. Deposan menarik dana simpanan mereka tidak hanya dipengaruhi oleh risiko bank tempat mereka menyimpan, tetapi juga sebagai pengaruh dari reaksi deposan lainnya. Dengan melakukan peningkatan kredibelitas dari keamanan simpanan deposito yang ada, akan mengurangi efek penyebaran reaksi antar deposan, sehingga akan menghindari terjadi penarikan dana secara besar-besaran walau pada bank yang dinyatakan sehat.
2. 9 Penelitian Murata & Hori (2004)
Penelitian “End of The Convoy Sistem and The Surge of Market Discipline : Evidence From Japanese Small Financial Institutions” oleh Keiko Murata &
Masahiro Hori menguji beberapa topic diantara tema disiplin pasar dengan menfokuskan pada pengalaman Jepang pada periode 1990-an. Dalam proses pengujian perilaku deposan, penelitian dilakukan dengan melihat pengaruh karakteristik dari institusi / lembaga yang menyimpan deposito pada tingkat pertumbuhan deposito. Walaupun deposan dengan jumlah simpanan kecil tidak memiliki kemampuan yang efektif dalam pengawasan dengan ungkapan “free- rider problem”, deposan ini memiliki pilihan untuk memindahkan simpanan deposito mereka dari bank yang berisiko ke bank yang lebih aman apabila mereka mengetahui kelemahan / kesalahan dari bank tempat mereka menyimpan dana.
Variabel-variabel yang menggambarkan risiko diasumsikan memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan deposito. Model dasar analisa regresi yang dipergunakan berikut menggunakan pertumbuhan tahunan dari total deposito untuk masing-masing institusi sebagai variabel terikat.
∆lnDepositi = α + βBankFundamentali + ei
Fundamental bank diujikan kepada lima variabel yang memiliki hubungan dengan risiko kegagalan bank: yaitu capital-asset ratio; the ratio of real-estate- related loans to total outstanding loans; the ratio of cash, deposits (to other banks) and government bonds to total assets; the ratio of operational profits to total assets; dan bank size.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa deposito tumbuh dengan korelasi negatif apabila dibandingkan dengan risiko yang dihadapi lembaga keuangan. Atau dapat dikatakan bahwa apabila tingkat risiko yang dihadapai suatu lembaga keuangan meningkat, maka tidak akan terjadi pertumbuhan deposito.
Keberadaan disiplin pasar secara jelas terungkap dari hasil penelitian ini dipengaruhi oleh perubahan kerangka kebijakan / aturan, terutama yang terkait dengan penjaminan simpanan. Fakta yang ditemukan tentang disiplin pasar yang dilakukan baik oleh deposan dengan dana simpanan kecil adalah karena analisa keuangan yang dilakukan dalam menilai dan mempercayai lembaga keuangan yang mereka pilih.