KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA DI ERA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
(dari Formulasi ke Implementasi)
Pasal 113 UU Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA DI ERA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
(dari Formulasi ke Implementasi)
Barid Hardiyanto
KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA DI ERA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
(dari Formulasi ke Implementasi) Penulis: Barid Hardiyanto
Editor: R Deden Dani Saleh, Dwi Wulan Pujiriyani, Dani Iswahyuni, Dwi Wahyuningrum
Tataletak: @mh.afnan Desain kover: RGB Desain
Cetakan I: Oktober, 2021 Diterbitkan oleh:
STPN Press
Anggota IKAPI (No. 127/Anggota Luar Biasa/DIY/2020) Jl. Tata Bumi No.5, Banyuraden, Gamping, Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55293 Tlp. (0274) 587239, ext: 351
Faxs: (0274) 587138 Website. www.pppm.stpn.ac.id
E-mail: [email protected]
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Kebijakan Reforma Agraria di Era Susilo Bambang Yudhoyono
(dari Formulasi ke Implementasi) STPN Press, 2021
XVI + 172 hlm.: 145 x 205 mm ISBN: 978-602-7894-28-0
Buku ini tidak diperjualbelikan Diperbanyak untuk kepentingan pendidikan,
pengajaran, dan penelitian
“Identify your problems, but give your power and energy to solutions” (Tony Robbins1)
S
ebagaimana quote di atas, kami menyebut buku ini sebagai sarana identifikasi persoalan. Dalam quote tersebut kami kira pembuatnya tidak bermaksud mengecilkan arti identifikasi persoalan. Kami pun berpikir demikian. Pengerahan segala sumber daya untuk menyelesaikan sebuah persoalan akan menjadi efektif dan efisien jika identifikasi sudah dilakukan dengan sangat baik bahkan harus sesempurna mungkin. Sebagai bagian dari identifikasi persoalan, buku ini kami yakini akan menyumbang pada efisiensi serta efektivitas pengerahan segalaPENGANTAR KETUA STPN
1 Tony Robbins atau Anthony Jay Robbins adalah penulis, pelatih, pembicara, serta anggota kaum dermawan Amerika. Robbins dikenal karena infomersial, seminar, dan buku self- help-nya termasuk buku Unlimited Power (diterbitkan tahun 1987) dan Awaken the Giant Within (diterbitkan tahun 1993) serta seminar-seminarnyanya yang diselenggarakan melalui Robbins Research International. https://en.wikipedia.org/wiki/Tony_Robbins, diunduh tanggal 31/08/2021.
sumber daya yang tengah kita (Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional) atau segenap pemangku kepentingan lalukan saat ini.
Sebagai institusi ATR/BPN yang tugas utamanya mendidik, meneliti, mengabdi, STPN harus menghasilkan produk-produk indentifikasi yang jauh lebih bermutu dibandingkan satuan- satuan kerja yang lain. Kesempatan untuk berperan seperti itu tentunya sangat terbuka luas. Jejaring yang dimiliki serta kompetensi keilmuan yang ada pada individu-inidividu di dalamnya sangat membantu untuk menghasilkan indentifikasi- identifikasi persoalan yang komprehensif. Dengan sumber daya yang dimiliki STPN saat ini identifikasi-identifikasi masalah- masalah agraria dan pertanahan, di samping komprehensif juga kami harapkan semakin membumi. Pertautan teori serta praktik yang kental akan menjadikan informasi hasil identifikasi itu tepat secara praksis dan logis secara teoretis.
Dalam konteks yang lebih mikro buku ini juga tidak kurang manfaatnya. Di tahun menulis yang sudah kita canangkan di awal tahun 2021 ini, kehadiran buku, yang notabene berasal dari penulis luar STPN, mudah-mudahan menjadi penyemangat kepada para penulis serta calon penulis dari lingkungan STPN untuk kembali menuangkan gagasan serta angan-angannya dalam tulisan-tulisan bermutu. Kedua, di samping karena substansinya, kita juga masih akan terus melakukan skema penerbitan seperti ini karena kita masih harus terus berupaya membangun jejaring dengan berbagai pihak. Mudah-mudahan dengan bangunan jejaring yang ada dan tengah kita bangun pada akhirnya manfaatnya akan kembali lagi kepada kita. Ketiga, perspektif yang dibawa oleh tulisan ini kami harapkan memperkaya serta memperkuat perspektif-perspektif
yang tengah dikembangkan STPN selama ini.
Terakhir, sebagai pimpinan institusi, saya ucapkan selamat menikmati tulisan ini. Mudah-mudahan insight-insight akan lahir dari membacanya. Terima kasih saya ucapkan kepada tim penerbitan yang telah bekerja keras. Jangan pernah mau patah meskipun banyak hal yang mendorong kita untuk patah. Terima kasih.
Dr. Ir. Senthot Sudirman, M.S
UCAPAN TERIMAKASIH
A
lhamdulillah, Alloh Maha Besar. Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, saya akhirnya dapat menyelesaikan buku yang berasal dari disertasi dengan judul: “KEBIJAKAN REFORMA AGRARIA DI ERA SOESILO BAMBANG YUDHOYONO (dari formulasi ke implementasi)”. Banyak sekali orang yang berperan penting dalam penyusunan buku ini. Oleh karena itulah, saya ingin sekali mengucapkan penghormatan dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas peran semua orang baik yang saya sebutkan di sini maupun tidak.Untuk itu perkenankanlah saya menyampaikan rasa hormat dan rasa terima kasih yang mendalam kepada Bapak Prof. Dr.
Susetiawan “Prof. Sus”, Bapak Dr. Arie Sujito, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, Bapak Dr. Bambang Hudayana, Bapak Dr. Ricardo Simarmata, Dr. Wawan Mas’udi, SIP, Prof. Dr. Yeremias T. Keban, MURP, Dr. Jarot Santoso, Msi, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo yang kemudian dilanjutkan oleh Dr. Yuyun Purbokusumo, M.Si, Ibu Gayatri, M.Si.. Orang Tuaku: Drs. Kadam AR dan Suhardini MD.
Isteriku tercinta Tita Dewinta Ratea, S.IP. Anak-anakku: “Prana”:
Risnandya Bipta Pranasatria” yang sudah beranjak dewasa, “Ayra”:
Ayra Astari Paramitha Dewi Hardiyanto yang terus memperkaya diri dengan kemampuannya dan “Dedek Diyaya”: Diarra Adhna Janitra Dewi Hardiyanto. Kakak dan adikku: Mas Arif sekeluarga, Dik Opik sekeluarga, Mas Simon/Mbak Utut sekeluarga, Pongki/
Ciput sekeluarga, Andra/Ayu Sekeluarga, Singgih/(almarhumah) Otot serta Pandu. Para “Guru dan Teman Belajar”: Bang Oji: Noer Fauzi Rahman Phd, Bang Yando Zakaria, Bang Martua, Phd, Mbak Dr. Suraya Afiff, Prof, Hariadi, Mas Prof. Maryudi, Bapak Anton Lucas Phd, Ibu Nancy Peluso Phd, Mbak Diah Raharjo, Mbak Rahma, Mas Totok UGM, Mas Iwan “Tempo”, Bung Budiman Sudjatmiko, Bung Yakub, Bang Rawa, Prof. Laks dan Bapak/Ibu di Antropologi untuk Indonesia (AUI), Mbak Mita Karsa, Mas Udin Javlec, Mas Rahmanta, dan teman-teman di Koalisi Pemulihan Hutan (KPH) Jawa: Jampes, Ronald (Alm), Agus, Andri, Mas Heri, Mas Picus, Mas Irak, Mas Udin, dll dan Paguyuban Petani Hutan Jawa (PPHJ);
Pak Suhar, Mas Aji, Jalu, Mbak Dewi KPA, Mas Eko Cahyono, Bung Usep Setiawan, Mas Shohib, Mas Luthfi, Bung Dimpos, dll. Untuk kawan-kawan Mata Garuda Banyuma. Teman-teman di STAM.
Teman-teman di S3 Ilmu Administrasi Publik. Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada Mas Ilham, Mas Setyo dan Mas Said yang telah membagi materi-materi disertasinya untuk kelancaran disertasi saya.Kepada para sesepuh di LPPSLH. Teman-teman yang pernah magang/PPL di LPPSLH.Teman-teman Angkatan XIX Program Studi Ilmu Administrasi Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Teman-teman Navigator:
Nori, Gugun dan Agung yang telah menjadi “peneliti lain” dalam penelitian ini. Terima kasih juga kepada Bang Andi Tarigan dan Mas Irwan Suswandi yang telah memproof read disertasi ini.
Terima kasih kepada Mas Deden dan Mas Luthfi serta teman- teman di STPN Press yang telah bersedia menerbitkan karya ini. Dan kepada siapa saja yang mohon maaf mungkin lupa tidak disebutkan tapi saya yakin “jaringan” ini mempunyai relasi hebat bagi perjalanan selama ini
BARID HARDIYANTO
DAFTAR ISI
Pengantar Ketua STPN ... v
Ucapan Terimakasih ... viii
Daftar Isi ... xi
Daftar Tabel ...xiii
Daftar Gambar ...xiv
BAB 1 MEMPERTANYAKAN REFORMA AGRARIA DI ERA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ...1
Pengantar ... 1
Pendekatan Konsep dan Teori ... 7
Penelitian Terdahulu dan Kebaruan Studi ...16
BAB 2 MEMOTRET WILAYAH KAJIAN: KONFLIK PANJANG YANG COBA DISELESAIKAN ...29
Kondisi Wilayah ...29
Distribusi Penguasaan Tanah ...31
Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian ...33
Minimnya Akses Masyarakat Atas Tanah sebagai
Pemicu Konflik Pertanahan ...36
Ikhtisar ...40
BAB 3 PERTARUNGAN KEPENTINGAN DAN PEREBUTAN KUASA AGRARIA ...43
Pengantar ...43
Pertarungan Kepentingan dalam Perumusan Kebijakan ...44
Pertarungan Kepentingan dalam Implementasi Kebijakan ...54
Kebersamaan dan Persilangan Antara Masyarakat dan Pemerintah ...70
Interpretasi Temuan Lapangan ...73
Ikhtisar ...79
BAB 4 ARTIKULASI KEPENTINGAN PETANI: INTERAKSI PENGALAMAN PRIBADI DENGAN KONDISI SOSIAL YANG MELINGKUPINYA ...85
Pengantar ...85
Kontribusi Petani dalam Perumusan Kebijakan...87
Ragam Metode dalam Pelibatan Perumusan Kebijakan ...111
Interpretasi Temuan Lapangan ...128
Ikhtisar ...129
BAB 5 IMPLEMENTASI REFORMA AGRARIA ...131
Pengantar ...131
Dirumuskan Petani Diambil Alih oleh Pemerintah ....133
Implikasi pada Petani ...136
Interpretasi Temuan Lapangan ...147
Ikhtisar ...149
BAB 6 EPILOG ...151
Refleksi Teoritis ...152
Keterbatasan dan Agenda Penelitian ke Depan ...155
Daftar Pustaka ...157
Riwayat Penulis ...171
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Subyek Penelitian ...22 Tabel 2. Penggunaan Lahan di Lima Desa Wilayah Kajian ...32 Tabel 3. Jumlah Penduduk dan Mata Pencarian Menurut ...34 Tabel 4. Kepemilikan Lahan Pertanian di Lima Desa Wilayah
Kajian ...35 Tabel 5. Penguasaan Terhadap Sumber Daya Agraria ...58 Tabel 6. Pertarungan Kepentingan dalam Hubungan
Kelembagaan Antar aktor ...69 Tabel 7. Peran Aktor dalam Perumusan Kebijakan dan
Implementasi Reforma Agraria ...80 Tabel 8. Perbandingan Arah Kebijakan untuk Pembaruan
Agraria dan Arah Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Sebagaimana Tercantum dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Republik Indonesia No IX/2001 ...101 Tabel 9. Model Interaksi Pengalaman Individu Petani dengan
Kondisi Sosial serta Bentuk Reaksinya ...128
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian ...15 Gambar 2. Lokasi Tanah HGU PT RSA ...31
BAB 1
Pengantar
P
enelitian-penelitian tentang reforma agraria menyebutkan bahwa reforma agraria merupakan agenda penting dalam pembangunan. Sobhan (1993), pakar reforma agraria yang telah melakukan analisis terhadap program reforma agraria di 36 negara, menyimpulkan bahwa tidak ada jalan lain untuk mewujudkan penghapusan kemiskinan dan mengakselerasi pembangunan, selain melakukan reforma agraria. Hal ini sejalan dengan pernyataan Dorner (1972) yang menyatakan bahwa land reform––sebagai inti dari reforma agraria––memberikan dasar yang mantap bagi masa depan pembangunan politik dan ekonomi. Mosher (1976) yang melakukan pengamatan di Amerika Latin, Asia, dan Timur Tengah turut menyebutkan beberapa dampak positif dari land reform, yaitu mampu memperkuat status para tunakisma atau petani yang tidak mempunyai tanah, mengembangkan ekonomi suatu negara, dan menopang industrialisasi.MEMPERTANYAKAN REFORMA AGRARIA
DI ERA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Hal senada disampaikan peneliti Indonesia. Menurut Wiradi (2009), reforma agraria pada masyarakat agraris merupakan hal mendasar yang dibutuhkan dan harus dilakukan untuk melakukan transformasi dalam tahapan pembangunan. Dalam tulisan lain, Bachriadi dan Wiradi (2012) mengatakan keberadaan reforma agraria merupakan fondasi pembangunan untuk memperkecil ketimpangan, membangun keadilan dan pemerataan.
Dalam konteks dunia, keberadaan reforma agraria tidak terlepas dari konteks kebijakan yang melatarbelakangi lahirnya kebijakan pertanahan ini. Istilah reforma agraria berasal dari bahasa Spanyol. Dalam bahasa Inggris, disebut dengan agrarian reform. Awal kelahirannya dimulai pada tahun 594 SM (sebelum Masehi) di wilayah Yunani Kuno di masa pemerintahan Solon.
Penguasa pada waktu itu membebaskan perbudakan dengan jalan membagi tanah gadai milik bangsawan kaya kepada petani penyakap atau penyewa (Wiradi, 2000). Berikutnya, pada 134 SM, pembagian tanah dilakukan dengan membagi tanah milik bersama (communal property rights) yang melebihi batas kepada petani lain yang lahannya sempit. Di masa inilah, mulai terdapat kebijakan penetapan batas maksimum penguasaan lahan yang juga menjadi salah satu bagian penting dalam konsepsi reforma agraria (King, 1977). Masa selanjutnya disebut Enclosure Movement (abad XII). Pada masa ini, kebijakan pertanahan mengarah pada pemikiran tentang kepemilikan pribadi atas tanah melalui jalan tanah milik bersama diklaim oleh para tuan tanah feodal sebagai tanah milik pribadi (Briggs, 1980;
Wiradi, 2000). Era selanjutnya adalah masa Revolusi Prancis. Pada saat ini kebijakan yang muncul berkenaan dengan tanah-tanah milik bersama yang telah diklaim sebagai tanah milik pribadi
dibagikan kepada usaha tani level keluarga. Pembebasan petani dari ikatan “tuan-budak” juga terjadi pada masa ini (Wiradi, 2000).
Berbeda dengan pendekatan kebijakan di Inggris dan Prancis, sejarah berikutnya terkait reforma agraria adalah lahirnya kebijakan penghapusan tanah milik pribadi yang dijadikan tanah milik negara. Hal ini dilakukan di Rusia (1917) dan Tiongkok (1948). Kedua negara ini menerapkan sistem pemerintahan komunis yang tidak mengakui adanya kepemilikan pribadi. Tanah milik pribadi dijadikan tanah kolektif usaha tani milik negara.
Kebijakan ini juga sebagai bagian penanda transformasi menuju ke sosialisme (Bachriadi, 2018).
Kesejarahan reforma agraria di level dunia berlanjut di masa Perang Dunia (1950–1960). Di masa ini, mulai dikenal istilah pembangunan. Oleh karena itu, kebijakan land reform dijalankan sebagai bagian dari agenda penopang pembangunan.
Pembagian tanah dijalankan dengan membagi tanah negara kepada masyarakat. Sejarah berlanjut ke masa ditandatanganinya Piagam Petani pada 1979. Berdasarkan kesepakatan 145 negara, termasuk didalamnya Indonesia, disepakati bahwa kebijakan land reform diarahkan bukan hanya melakukan redistribusi lahan, tetapi juga pemenuhan sarana prasarana untuk pembangunan (infrastruktur, sosial, dan budaya) yang disebut dengan land reform plus atau reforma agraria (Wiradi, 2000).
Di Indonesia, kelahiran kebijakan Land Reform dimaksudkan sebagai antitesis dari adanya kebijakan Agrarische Wet atau UU Agraria 1870. Implementasi agrarische wet dijalankan dengan memberikan konsesi tanah milik negara kepada perusahaan-
perusahaan Eropa (Fauzi, 2012; Gordon 1982, 2001; Notonagoro, 1972). Namun demikian, land reform di Indonesia tidak langsung dapat berjalan meskipun proklamasi telah dikumandangkan.
Land reform baru menjadi agenda negara saat Soekarno pada 17 Agustus 1960 menyampaikan pidato tentang rencana pemerintah untuk mengundangkan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA).
UUPA tersebut kemudian ditandatangani pada 24 September 1960.
Oleh Pelzer (1982) dan Parlindungan (1998), UUPA dipandang sebagai suatu karya besar dalam kebijakan pemerintahan.
Perjalanan land reform juga tidak berjalan mulus. Semenjak era pemerintahan Soekarno, terjadi pertarungan kepentingan yang kuat, khususnya antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan tentara. PKI melalui organ sayap taninya, yakni Barisan Tani Indonesia (BTI), gencar melakukan perebutan lahan-lahan perkebunan yang pada saat itu dikuasai oleh tentara, pihak yang diminta negara untuk menjalankan nasionalisasi. Pertarungan kepentingan tersebut mencapai puncaknya dengan munculnya G30S dan lahirnya Orde Baru. Masa setelah G30S adalah masa kelam bagi perjalanan land reform.
Di masa Orde Baru, land reform dihilangkan dari agenda kebijakan negara. Pemerintahan Orde Baru dalam mengeluarkan kebijakannya, lebih mengutamakan pembangunan sumber daya alam, termasuk tanahnya, untuk kepentingan pemodal besar.
Meskipun demikian, perjuangan untuk menjalankan land reform tidak berhenti. Pada 1980-an, para aktivis mahasiswa dan LSM yang terjun langsung ke masyarakat mengupayakan land reform kembali dijalankan. Proses tersebut terus berlangsung sampai kemudian reformasi bergulir dan land reform kembali menjadi salah satu agenda negara dengan lahirnya kebijakan berupa Tap
MPR RI No. IX/MPR-RI/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri.
Setelah itu, perjalanan land reform berlanjut di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada masa pemerintahannya, SBY menunjuk Joyo Winoto sebagai Kepala BPN. Pada masa inilah, sebagai agenda negara, reforma agraria didasarkan pada konsepsi Asset Reform + Access Reform, yang berarti redistribusi tanah yang disertai dengan asistensi dan fasilitasi untuk meningkatkan akses penerima tanah redistribusi pada input-input pertanian, kredit, teknologi tata guna tanah dan pertanian, pemasaran, serta berbagai asistensi teknis lain, agar membuat tanah yang diredistribusikan menjadi produktif, menguntungkan, dan dapat dikelola secara berkelanjutan (Fauzi, 2012).
Pada perkembangannya, lahirlah kebijakan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN). Implementasi PPAN yang dianggap SBY sebagai reforma agraria terbesar untuk pertama kalinya, di era reformasi, dijalankan di Cipari, Cilacap. PPAN di Cipari dijalankan dengan melakukan pembagian lahan kepada 5.141 kepala keluarga pada lahan seluas 284,122 ha. Lahan tersebut sebelumnya merupakan lahan hak guna usaha (HGU) yang dimiliki oleh PT Rumpun Sari Antan (RSA).
PT RSA adalah perusahaan swasta yang awalnya bernama PT Rumpun. Perusahaan ini lahir atas perintah Pangdam VII Diponegoro (sekarang Pangdam IV Diponegoro) yang pada waktu itu berposisi sebagai Penguasa Perang Daerah (Peperda) Tingkat I Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Perusahaan inilah yang kemudian diberi kewenangan HGU yang secara resmi didasarkan pada Keputusan Menteri Dalam Negeri No. SK.3/
HGU/DA/74 tanggal 29 Februari 1975 dan berakhir pada 31 Desember 1999.
PPAN yang dijalankan di Cipari sebagaimana disebutkan sebelumnya akan menjadi fokus kajian dalam buku ini. Pemilihan Cipari didasarkan pada tiga pertimbangan berikut. Pertama, kasus Cipari merupakan implementasi reforma agraria yang dikatakan terbesar pada masa reformasi. Kedua, Kabupaten Cilacap merupakan wilayah yang memiliki banyak kasus konflik agraria di Indonesia. Berdasarkan penelusuran yang peneliti lakukan, setidaknya ada 20 kasus konflik agraria yang terjadi di Cilacap dengan beragam konflik, seperti dengan Perhutani, HGU BUMN/
swasta, dan pemerintah daerah yang melibatkan 13.062 KK dan lahan seluas 10.664 hektare. Ketiga, wilayah Cilacap yang dimotori Serikat Tani Mandiri (STAM) dan beberapa organisasi lain (Serikat Tani Hutan Banyumas-Pekalongan/Stan Balong, Paguyuban Tani Sri Rejeki/PTSR) merupakan daerah yang mempunyai partisipasi yang cukup tinggi dalam memperjuangkan adanya kebijakan dan implementasi reforma agraria.
Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah keberadaan reforma agraria di Cipari yang justru mempunyai kecenderungan berimplikasi buruk bagi masyarakat. Padahal bila menilik konsepsi reforma agraria dapat dikatakan bahwa reforma agraria mampu menghapus kemiskinan dan mengakselerasi pembangunan (Sohban: 1993), memberikan dasar yang mantap bagi masa depan pembangunan politik dan ekonomi (Dorner: 1972), mampu memperkuat status para tunakisma atau petani yang tidak mempunyai tanah, mengembangkan ekonomi suatu negara, dan menopang industrialisasi (Mosher: 1976), sebagai pondasi pembangunan untuk memperkecil ketimpangan, membangun
keadilan, dan pemerataan (Bachriadi & Wiradi: 2012), mengubah relasi ekonomi politik yang berkeadilan (Ladejinsky, 1964; Feder 1965; Wiradi, 2009, White & Borras, 2014).
Mengacu pada pernyataan di atas, seharusnya reforma agraria yang berlangsung di Cipari dapat memenuhi berbagai macam dampak seperti yang disampaikan oleh para ahli. Namun demikian, reforma agraria yang dijalankan di Cipari justru mempunyai kecenderungan implikasi buruk kepada masyarakat, seperti adanya kompensasi dan pembagian tanah yang tidak tepat sasaran (Setiaji, 2012; Basya, 2017).
Perbedaan antara idealitas kebijakan reforma agraria dengan realitas harapan masyarakat itulah yang mendorong penelitian ini harus dilakukan secara lebih dalam. Untuk dapat mengeksplorasi argumen di atas maka rumusan pertanyaan dalam buku ini adalah bagaimana proses perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria yang berlangsung di era SBY? Selanjutnya, untuk lebih memudahkan menjawab pertanyaan utama tersebut, maka pertanyaan turunannya dapat dibagi ke beberapa sub pertanyaan yang meliputi: Bagaimana pertarungan kepentingan dalam perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria?
Bagaimana kontribusi petani terhadap perumusan kebijakan dengan mengartikulasikan kepentingan mereka secara kolektif?
Bagaimana implikasi dari perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria yang dirasakan oleh petani?
Pendekatan Konsep dan Teori New Public Service
Buku ini menggunakan perspektif new public service dalam mengkaji perumusan dan implementasi kebijakan. Perspektif
ini mengawali pandangannya dari pengakuan atas warga negara dan posisinya yang sangat penting bagi kepemerintahan demokratis. Jati diri warga negara tidak hanya dipandang sebagai semata persoalan kepentingan pribadi (self interest) namun juga melibatkan nilai, kepercayaan dan kepedulian terhadap orang lain. Warga negara diposisikan sebagai pemilik pemerintahan (owners of government) dan mampu bertindak bersama-sama mencapai sesuatu yang lebih baik. Kepentingan publik tidak lagi dipandang sebagai agregasi kepentingan pribadi melainkan sebagai hasil dialog dan keterlibatan publik dalam mencari nilai bersama dan kepentingan bersama (Denhardt and Denhardt:
2003, Alamsyah: 2016).
Dalam menjalankan new public service, Denhardt and Denhardt (2003) menjelaskan beberapa prinsip yang harus dijalankan. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: pertama, serve citizens, not customer. Pusat perhatian dari pelayanan adalah membangun kepercayaan dan kolaborasi diantara warga negara.
Hal ini tidak terlepas dari suatu tesis bahwa kepentingan publik merupakan hasil dialog tentang nilai-nilai bersama daripada agregasi kepentingan pribadi perorangan. Kedua, seek the public interest. Hal utama yang harus dilakukan administrator publik adalah memberikan sumbangsih untuk membangun kepentingan publik bersama. Tujuan utamanya bukan untuk menemukan solusi cepat yang diarahkan oleh pilihan-pilihan perorangan tetapi menciptakan kepentingan bersama dan tanggung jawab bersama. Ketiga, value citizenship over entrepreneurship.
Menurut prinsip ini, kepentingan publik sebaiknya dijalankan oleh abdi masyarakat dan warga negara yang memiliki komitmen memberikan sumbangan bagi masyarakat daripada dijalankan oleh para manajer wirausaha yang bertindak
seolah-olah uang masyarakat adalah miliknya. Keempat, think strategically, act democratically. Kebijakan dan program untuk memenuhi kepentingan publik dapat dicapai secara efektif dan bertanggungjawab melalui upaya kolektif dan proses kolaboratif.
Kelima, recognize that accountability is not simple. Di dalam prinsip ini, abdi masyarakat seharusnya lebih peduli pada kepentingan publik daripada mekanisme pasar. Selain itu abdi masyarakat juga harus memenuhi peraturan perundang-undangan, nilai- nilai kemasyarakatan, norma politik, standar professional, dan kepentingan warga negara. Keenam, serve rather than steer. Di sini, sangat penting bagi abdi masyarakat untuk menggunakan kepemimpinan yang berbasis pada nilai bersama daripada mengontrol atau mengarahkan masyarakat kearah nilai baru.
Ketujuh, value people, not just productivity. Organisasi publik beserta jaringannya lebih memungkinkan mencapai keberhasilan dalam jangka panjang jika dijalankan melalui proses kolaborasi dan kepemimpinan bersama yang didasarkanpada penghargaan kepada semua orang.
Ideologi Althusserian
Buku ini menggunakan perspektif ideologi Althusserian.
Bila kita merujuk kesejarahan, istilah ideologi, pertama kali dikenalkan oleh filsuf Prancis Destutt de Tracy (1876). Kata ini berasal dari bahasa Prancis idéologie yang merupakan gabungan dari dua kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Bagi Tracy, secara definitif ideologi berarti ilmu yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagasan.
Selanjutnya, terdapat banyak definisi tentang ideologi.
Dalam Cambridge Dictionary, ideologi didefinisikan sebagai: “a set of beliefs or principles, especially one on which a political system, party, or organization is based” (seperangkat keyakinan atau prinsip, terutama yang menjadi dasar sistem politik, partai, atau organisasi). Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ideologi diartikan sebagai: (1) kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup;
(2) cara berpikir seseorang atau suatu golongan; (3) paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik.
Berbagai macam definisi dasar jika dipadukan akan menjadi suatu definisi berupa seperangkat ide/gagasan/keyakinan/
prinsip/sistem/pendapat/cara pikir/paham yang menjadi dasar/arah/program suatu sistem politik/partai/organisasi/
seseoarang/golongan untuk mencapai tujuan keberlangsungan hidupnya. Definisi dasar tentang ideologi tersebut sering dikaitkan dengan keberadaan ide-ide besar seperti: kapitalisme, sosialisme, komunisme, liberalisme dan lain-lain.
Dalam buku ini, definisi dasar di atas akan digunakan tetapi akan ditambahkan dengan pemikiran yang mendalam tentang diskursus ideologi Althusserian. Bagi Althusser, ideologi pada satu sisi adalah kondisi nyata kehidupan manusia, yang meliputi pandangan dunia yang menjadi landasan orang untuk hidup dan menyelami dunia ini. Di sisi lain, ideologi dipahami sebagai seperangkat makna rumit yang menjelaskan dunia (suatu diskursus ideologi) dengan cara melakukan misrecognize (salah mengenali), misrepresent (salah merepresentasikan) kekuasaan dan relasi kelas (Althusser, 1970, Barker, 2009). Lebih lanjut, Althusser (1970), Barker (2009) menyebutkan bahwa terdapat
empat aspek yang menjadi inti pandangan Althusser tentang ideologi. Empat aspek tersebut antara lain: pertama, ideologi memiliki fungsi umum untuk membentuk subjek. Kedua, ideologi sebagai pengalaman yang dijalani tidaklah palsu. Ketiga, ideologi sebagai pemikiran yang keliru tentang kondisi nyata eksistensi adalah palsu. Keempat, ideologi terlibat dalam reproduksi formasi-formasi sosial dan relasi mereka terhadap kekuasaan.
Keempat aspek ini serta operasionalisasi ideologi model ISA dan RSA akan menjadi alat analisis yang digunakan dalam membedah temuan penelitian ini, termasuk didalamnya saat membedah soal variasi pemahaman seseorang/institusi tentang reforma agraria.
Reforma Agraria
Buku ini menggunakan istilah reforma agraria sebagai pengembangan dari definisi land reform plus (Peasent Charter:
1979) yang mengartikannnya sebagai redistribusi tanah ditambah dengan program pendukung berupa penyediaan modal/kredit, penyediaan sarana produksi dan pendidikan, atau pelatihan untuk meningkatkan kemampuan petani. Namun demikian, definisi reforma agraria tidak hanya berhenti pada redistribusi tanah dan pemberian program pendukung tetapi juga merujuk pada terjadinya transformasi masyarakat atau perubahan relasi ekonomi politik yang berkeadilan (Ladejinsky, 1964; Feder 1965;
Wiradi, 2009, White & Borras, 2014).
Berdasarkan pengertian itulah maka “alat ukur” dalam membedah reforma agraria yang substantif dalam penelitian ini akan menggunakan ukuran utama berupa terjadinya perubahan relasi ekonomi politik yang berkeadilan sebagaimana dampak dari terjadinya redistribusi tanah dan pemberian program pendukung.
Aktor
Aktor dalam konteks ini dipahami sebagai relasi tiga aktor yang meliputi: masyarakat, swasta dan negara. Dalam ranah administrasi publik, ketiga aktor tersebut mempunyai peran dalam tahapan kebijakan termasuk didalamnya implementasi kebijakan (Gosling, 2004: 74-76; Kraft dan Furlong, 2004; Jordan and Turnpenny, 2015) meskipun dengan intensitas yang berbeda- beda.
Dalam peta aktor reforma agraria terdapat relasi antar subyek dan obyek serta relasi antar subyek itu sendiri. Sitorus (2002:37) menyebutnya sebagai dua jenis relasi manusia terkait dengan sumber-sumber agraria. Relasi ini dibedakan menjadi relasi teknis agraria dan relasi sosial agraria. Relasi yang pertama berkaitan dengan hubungan manusia dengan sumber-sumber agraria melalui aktivitas kerja (produksi). Sedangkan relasi kedua berkaitan dengan hubungan manusia di antara sesamanya (baik dalam arti perorangan maupun kelembagaan) terkait dengan aktivitas kerja yang mereka lakukan atas sumber-sumber agraria.
Secara praktis, kedua relasi ini dapat diidentifikasi dari bagaimana subjek-subjek agraria saling berhubungan secara sosial satu sama lain dalam kaitan dengan hubungan teknis masing- masing dengan sumber-sumber agraria. Relasi subyek reforma agraria yang dimaksud di sini adalah suatu hubungan yang terjadi tidak hanya diantara berbagai pihak di dalam masyarakat (yakni, antar-individu, antar-kelompok, atau antar-lapisan didalamnya), akan tetapi juga melibatkan berbagai instansi dan individu di dalam pemerintah (termasuk segi-segi kerjasama dan kontestasi diantara unsur-unsur ini), serta diantara seluruh pihak tersebut dengan berbagai entitas bisnis (Shohibuddin 2016:23). Tentu saja,
relasi teknis maupun relasi sosial tersebut juga akan dikaitkan dengan adanya diskursus ideologi didalamnya.
Bagi Althusser, pemikiran seseorang atau institusi didapatkan dari proses ketidaksadaran yang begitu mendalam (profoundly unconciousness) yang praktiknya dalam diri manusia berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Adanya ketidaksadaran yang begitu mendalam tersebut disebarkan melalui struktur sosial yang disebut sebagai ideological state apparatus/ISA dan reppresive state apparatus/RSA (Althusser, 1994: 151). Dengan begitu, saat membedah pemahaman dalam perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria, keberadaan pemahaman seseoarag atau institusi serta respon atau tindakan terhadapnya akan menggunakan alat analisis yang telah disediakan Althusser.
Pertarungan Kepentingan
Buku ini akan menjadikan pertarungan kepentingan sebagai suatu perdebatan terhadap sesuatu (kebijakan/implementasi kebijakan) dimana dinamika sosial dan kontestasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran ISA dan RSA dalam menginterpelasi (sebuah panggilan imajiner dari aparatus ideologis yang mengarah pada diri setiap manusia sehingga ia mampu mengerti tentang apa dan siapa dirinya) subyek. Dalam hal ini, Althusser membaca tatanan struktur sosial (kapitalisme) sebagai sebuah formasi sosial pada konteks reproduki relasi-relasi produksi.
Di situ Althusser menemukan bahwa aparatus represif negara melaksanakan daya represifnya dengan menciptakan kondisi- kondisi politik bagi dimungkinkanya relasi-relasi produksi.
Sementara melalui aparatus ideologis negara, reproduksi relasi-relasi produksi dimungkinkan karena ideologi mampu memberikan semacam ‘ketersediaan kultural’ agar seseorang
dapat tunduk pada ideologi dominan tersebut. Dengan begitu tercipta suatu naturalisasi terhadap relasi produksi sehingga menjadi nampak alamiah dan seolah sudah kodratnya demikian (Baiquni & Adian, 2015).
Namun demikian, masih menurut Baiquni & Adian (2015) sebetulnya interpelasi itu tidaklah tunggal hanya untuk kepentingan kapitalisme belaka, melainkan bahwa ada kemungkinan interpelasi yang anomali terhadap basisnya akibat bangunan metafor masyarakat yang berupa overdeterminasi.
Dalam konteks formasi sosial kapitalis yang berisi antagonisme kelas, maka interpelasi di satu sisi akan berguna untuk melanggengkan status quo, namun di sisi lain interpelasi juga memiliki daya revolusionernya tersendiri. Apabila aparatus ideologis pada masyarakat kapitalis menginterpelasi individu sebagai subjek untuk mengafirmasi relasi-relasi produksi yang sebetulnya penuh penindasan, maka aparatus ideologis seperti partai komunis pada masyarakat kapitalispun dapat pula menginterpelasi proletariat: individu sebagai subjek untuk memperkuat prasangka secara saintifik bahwa dirinya memang tengah ditindas.
Untuk lebih mendalami kontestasi tersebut, maka alat bantu analisis kuasa agraria model Bernstein (2010) dan White (2011) yang menjawab beberapa pertanyaan penting akan digunakan dalam penelitian ini. Beberapa pertanyaan penting tersebut antara lain: (1) siapa menguasai sumber agraria apa (who owns what?);
(2) siapa melakukan aktivitas produksi apa terhadap sumber agraria tersebut (whodoeswhat?); (3) siapa memperoleh hasil apa dari aktivitas produksi tersebut (who gets what?); (4) digunakan
untuk apa hasil produksi tersebut (what do they do with it?), dan (5) apa saja yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat dan/
atau yang berkepentingan kepada sesama mereka satu samalain (what do they do toeach other?). Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mempermudah umtuk melakukan analisis atas kekuasaan yang terdapat dalam perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria.
Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat di bawah ini:
PERTARUNGAN KEPENTINGAN Diskursus Ideologi
(Althusser (2014) Relasi Antar Aktor (Sitorus (2002), Bernstein
(2010), White (2011) Artikulasi
Kepentingan Rakyat
Kebijakan Teknokrasi Pemerintah Perumusan Kebijakan dan
Implementasi Reforma Agraria
Implikasi Reforma Agraria
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian
Penelitian Terdahulu dan Kebaruan Studi
Persoalan reforma agraria yang tidak kunjung diselesaikan akan menjadi warisan yang turun-temurun dari pemerintahan satu ke pemerintahan lainnya. Hal tersebut seperti yang digambarkan Wiradi (2000). Ia menguraikan tonggak sejarah reforma agraria, rasionalisasi reforma agraria, kebijakan reforma agraria di Indonesia dan dilema yang dihadapi, serta bagaimana menjadikan reforma agraria sebagai gerakan sosial. Begitu juga dengan Fauzi (1999) yang merefleksikan nasib petani mulai zaman feodal, kolonial (1870-1945), Orde Lama (1950-1964), Orde Baru (1965-1998), dan masa (awal) Reformasi di mana di dalamnya terdapat arena pertempuran antara yang proreforma agraria dan yang antireforma agraria, baik di level kebijakan negara maupun di level pengorganisasian masyarakat.
Studi terkait reforma agraria berkembang dari waktu ke waktu. Salah satunya studi terkait dengan objek tanah yang diredistribusi. Studi yang dilakukan pada era 1940–1970 kebanyakan tentang reforma agraria yang terkait dengan objek land reform berupa tanah pribadi dan swasta. Kemudian, studi berlanjut pada tanah-tanah negara, baik yang masih dalam bentuk penguasaan langsung oleh negara maupun yang di-HGU, serah kelola, dan lain-lain (Fauzi, 2017).
Penelitian lain yang juga menjadi pokok perhatian adalah terkait teori, definisi, dan konsepsi reforma agraria. Misalnya, pendapat Ladejinsky (1964) yang berpandangan bahwa reforma agraria bukan hanya soal redistribusi tanah, tetapi juga pemenuhan akses lain, seperti sarana prasarana dan kredit. Hal senada disampaikan Feder (1965) yang mengemukakan bahwa reforma agraria memerlukan adanya dukungan dan kebebasan
untuk membangun kegiatan ekonomi, seperti koperasi dan keterlibatan dalam serikat pekerja.
Kritik terhadap perspektif dalam menjalankan reforma agraria juga menjadi bahasan dalam penelitian. Lahiff, Borras,
& Kay (2007) dalam Market-Led Agrarian Reform: Policies, Performance and Prospects melakukan kritik terhadap reforma agraria yang dijalankan oleh pasar. Menurut mereka, reforma agraria yang dijalankan oleh pasar tidak memberikan manfaat pada perubahan struktur masyarakat yang miskin. Sesuai dengan kritik tersebut, Ondetti (2007) dalam An Ambivalent Legacy:
Cardoso and Land Reform menjelaskan tentang land reform yang dijalankan di era Cardoso. Reforma agraria model Cardoso dianggap sebagai reforma agraria semu karena pada akhirnya reforma agraria yang dijalankan digunakan semata untuk kepentingan pasar. Walaupun di masa itu, pemerintahan Cardoso menjalankan land reform dalam jumlah yang besar.
Selanjutnya, penelitian terhadap reforma agraria juga bertutur tentang peran negara yang memengaruhi keberhasilan atau kegagalan reforma agraria. Pentingnya kapasitas penyelenggara reforma agraria disampaikan oleh Moise (1976) yang melakukan studi implementasi reforma agraria di Vietnam Utara. Ia melihat ekses negatif dari land reform yang dijalankan di Vietnam Utara, khususnya terkait terjadinya pertumpahan darah. Redistribusi tanah dijalankan pada tuan tanah (bukan tanah negara) dengan pelibatan kader petani miskin anggota partai komunis tanpa sebelumnya dilatih dengan kemampuan politik dan administrasi yang memadai.
Agak berbeda dengan penelitian lain yang berpusat pada negara, Wiradi (2009) dalam tulisannya tentang reforma agraria
di Desa Ngandagan menempatkan reforma agraria sebagai bagian dari konteks sosial budaya, relasi sosial, dan ekonomi masyarakat, sehingga reforma agraria dapat dan seharusnya dijalankan dengan berbasis pada masyarakat. Powelson dan Stock (1987) menyebut fenomena tersebut dengan istilah land reform by leverage atau reforma agraria melalui “dongkrak”. Dalam penelitian itu, digambarkan land reform yang dijalankan oleh satu desa pada 1947 atas inisiatif desa sendiri tanpa ada arahan dari pemerintah daerah dan pusat. Inisiatif tersebut didasarkan pada konteks sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat yang memang membutuhkan redistribusi aset.
Titik bidik penelitian reforma agraria yang lain adalah terkait dinamika perebutan klaim atas tanah-tanah negara, antara yang pro-reform dan counter-reform (Fauzi, 1999, 2017). Begitu juga dengan “pertentangan antaraktivis”, misalnya terkait terbitnya Tap MPR IX/2001 (Lucas & Warren, 2003). Hal yang juga penting untuk dilihat adalah kemungkinan munculnya pertentangan antarpetani, seperti yang terjadi di Filipina. Rutten (2010) dalam Who Shall Benefit? Conflicts among the Landless Poor in a Philippine Agrarian Reform Programme menggambarkan terjadinya konflik antar petani terkait kebijakan reforma agraria yang dijalankan pemerintah. Baginya, posisi aktor dan tumpang tindih kepentingan didalamnya akan memengaruhi klaim atas tanah dalam program reformasi agraria.
Khusus terkait di Cipari yang menjadi tempat penelitian ini, telah ada beberapa penelitian yang menyinggungnya. Purnomo (2005) melakukan penelitian berupa pendeskripisian profil gerakan reclaiming yang dilakukan SeTAM, pendeskripsian pola hubungan antarpihak yang terlibat dengan SeTAM, serta
pendeskripsian nilai dan norma yang menjadi dasar legitimasi SeTAM dalam melakukan reclaiming.
Penelitian lainnya, Setiaji (2012) melihat proses penetapan objek dan subjek redistribusi tanah, serta meneliti mekanisme delivery system redistribusi tanah di Cipari. Dalam penelitiannya tersebut, Setiaji juga menemukan adanya penetapan objek reforma agraria yang didasarkan pada situs approach, sehingga tidak mengubah struktur agraria. Penetapan subjeknya bersifat superfisial atau berorientasi pada penyelesaian konflik; serta delivery system-nya berupa proyek sertifikasi tanah dan belum memperlihatkan sinergi antarsektor dalam menunjang reforma agraria.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Mahardika (2012) yang meneliti penyebab konflik agraria di Kecamatan Cipari. Temuan dalam penelitiannya berupa perebutan yang didasarkan pada klaim sejarah tanah serta kepentingan pemodal yang didukung militer. Mahardika juga melihat peran dan strategi SeTAM yang memperlihatkan bahwa SeTAM sangat berperan dalam memperjuangkan hak tanah dengan strategi berupa pembentukan kelompok tani, demonstrasi, pengusulan reclaiming, audiensi, dan lain-lain.
Santoso (2016) juga melakukan penelitian terkait dengan Cipari. Dalam penelitiannya, Santoso memaparkan bahwa perjuangan gerakan petani di Cipari dilakukan dalam rentang waktu panjang dan menemukan momentum politiknya saat reformasi, di mana pada masa orde baru hal itu tidak dapat dilakukan karena tidak adanya ruang/kesempatan politik. Ia juga melihat bahwa struktur mobilisasi petani Cipari pada awalnya lebih menekankan pada mobilisasi internal, yaitu membangun
solidaritas antarpetani. Tetapi, pada tahap lanjutannya juga memobilisasi kekuatan eksternal. Hal lain yang juga menjadi titik bidiknya adalah bagi petani Cipari, tanah bukan sekadar alat produksi maupun sumber ekonomi, melainkan memiliki nilai sosial-kultural, bahkan lebih dari itu, yakni nilai spiritual (religi).
Penelitian terbaru tentang Cipari dilakukan oleh Saleh (2020). Penelitian yang merupakan disertasi ini membedah kegagalan reforma agraria di Cipari. Dalam disertasinya Saleh mengungkapkan bahwa Birokrasi Level Bawah (BLB) mempunyai peran yang besar sebagai penyebab kegagalan reforma agraria yang diimplementasikan di Cipari.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan sebagaimana telah disebutkan di atas, terdapat hasil review yang dapat dijadikan acuan yang membedakan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang saya lakukan. Hasil review tersebut menemukan bahwa: (1) reforma agraria pada era 1960-an lebih banyak diimplementasikan pada tanah pribadi (tuan tanah), sedangkan pada era selanjutnya adalah pada tanah negara; (2) reforma agraria yang genuine harus dimulai dengan redistribusi tanah, tetapi redistribusi tanah saja tidak cukup, perlu ada sarana pendukung lain baik dalam bentuk kebebasan untuk membangun koperasi, adanya sarana prasarana, dan dukungan kredit; (3) Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji faktor penyebab kegagalan reforma agraria.
Berdasarkan hasil review tersebut, tampak bahwa penelitian yang dilakukan selama ini telah merambah pada objek tanah negara dan menilik pentingnya reforma agraria (baca: bukan hanya land reform semata), serta telah mampu melihat secara kritis, termasuk kegagalan implementasi reforma agraria yang
dijalankan oleh pemerintah. Akan tetapi, dari berbagai penelitian yang telah disusun tersebut, peneliti melihat terdapat gap/celah, dimana para peneliti belum meneliti adanya proses perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria yang justru berimplikasi buruk pada masyarakat. Hal ini memunculkan gap/
celah untuk melakukan penelitian terhadap penyebab dari adanya implikasi buruk dari reforma agraria tersebut. Terkait pernyataan tersebut, tesis penelitian ini adalah terdapat incompatibility/
ketidaksesuaian antara kebijakan teknokrasi pemerintah dengan artikulasi kepentingan rakyat. Faktor ini terjadi karena lingkungan politik yang makin dangkal oleh karena cara pandang politik populis era SBY pada saat itu.
Cara untuk Mendapatkan Temuan Penelitian
Buku ini berupaya mengungkap adanya proses perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria yang justru berimplikasi buruk pada petani. Disinyalir hal tersebut terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara kebijakan teknokratis pemerintah dengan artikulasi kepentingan rakyat. Untuk mengungkap hal tersebut maka jenis penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografis.
Etnografi berada dalam rumpun penelitian kualitatif. Pendekatan etnografis akan menyingkap penggunaan kekuasaan oleh berbagai macam kelompok orang di berbagai level, termasuk di dalamnya dasar yang membelakangi lahirnya kebijakan (Springate-Baginski dan Blaikie, 2007; Hajer, 1995, 2006).
Penelitian ini dilakukan di Cipari, Cilacap yang terdiri dari 5 (lima) desa, meliputi Caruy, Mekarsari, Sidasari, Kutasari, dan Karangreja. Pemilihan kasus ini didasarkan pada pertimbangan berikut, yaitu (1) termasuk kasus yang besar di era Reformasi; (2)
Cilacap merupakan salah satu wilayah yang mempunyai banyak konflik agraria; (3) partisipasi gerakan agrarianya cukup tinggi;
dan (4) Cilacap merupakan wilayah yang cukup memberi andil dalam implementasi kebijakan reforma agraria oleh pemerintah.
Sedangkan subjek penelitian ini adalah para pihak yang terlibat dalam perjalanan reforma agraria di Cipari, khususnya dalam proses perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria. Para pihak yang terlibat, antara lain Kepala BPN 2015–
2012), BPN Provinsi Jawa Tengah, BPN Kabupaten Cilacap, anggota DPR-RI, pemerintahan daerah (eksekutif, legislatif), pemerintahan desa, Serikat Tani Merdeka (SeTAM), petani penggarap, dan PT RSA.
Berikut ini adalah daftar subyek penelitian yang diwawancarai dan diobservasi:
Tabel 1. Subyek Penelitian
No. Nama Jabatan Lokasi
1. JW Kepala BPN 2005-2012 Jakarta
2. DI BPN Provinsi Jateng Semarang
3. Bsi BPN Kabupaten Cilacap Cilacap
4. BS Anggota DPR Jakarta
5. JCS Rumah Aspirasi Budiman Purwokerto 6. FL DPRD Kabupaten Cilacap Cilacap
7. WSN Camat Cipari Cilacap
8. SLT Pemerintah Desa Caruy Cilacap 9. WHY Pemerintah Desa Mekarsari Cilacap 10. STR Pemerintah Desa Sidasari Cilacap 11. TSR Pemerintah Desa Kutasari Cilacap
No. Nama Jabatan Lokasi 12. SKT Pemerintah Desa Karangreja Cilacap
13. RTM PT. RSA Semarang/Cilacap
14. RBD PT. RSA Cilacap
15. SG SeTAM Cilacap
16. SLH SeTAM Cilacap
17. SRW SeTAM Cilacap
18. YNS SeTAM Cilacap
19. SJT Pegiat RA Cilacap
20. ES Pegiat RA Cilacap
21. TS Petani Penggarap Caruy Cilacap 22. MSE Petani Penggarap Mekarsari Cilacap 23. SUT Petani Penggarap Sidasari Cilacap 24. KRS Petani Penggarap Kutasari Cilacap 24. SPN Petani Penggarap Karangreja Cilacap
26. SD Pembeli Tanah Cilacap
27. HU Pembeli Tanah/Perantara Cilacap
28. GW Pakar Bogor
29. NFR Pakar Jakarta
30. RHT AGRA Jakarta
31. US Stafsus Kepala BPN 2005-2012 Jakarta
Dalam proses penelitian, peneliti mendalami dinamika di lapangan dengan menjadi bagian dari subjek penelitian.
Pendalaman ini memang tidak hanya dilakukan dalam pembuatan disertasi ini. Peneliti telah bergelut dalam urusan reforma agraria kurang lebih 20 tahun. Di situ, peneliti terlibat dalam dinamika di masyarakat, jaringan masyarakat sipil, pemerintah, dan swasta.
Proses keterlibatan peneliti dalam gerakan reforma agraria, dimulai saat peneliti terlibat dalam gerakan reformasi 1998.
Paska turunnya Soeharto, banyak gerakan mahasiswa yang kemudian mengalihkan perhatiannya pada isu-isu kerakyatan secara langsung. Salah satunya adalah isu terkait kebutuhan petani akan hak atas tanah. Di masa itu pula, banyak petani yang mengadukan kasus tanahnya ke para aktivis gerakan mahasiswa, termasuk di dalamnya peneliti. Pada awalnya, peneliti turut terlibat dalam gerakan mengupayakan hak atas tanah di Desa Bantarsari, Kabupaten Cilacap. Dari situlah kemudian, peneliti berjejaring dengan aktivis reforma agraria, tokoh masyarakat dan petani di Cilacap, termasuk di dalamnya yang terlibat dalam memperjuangkan hak atas tanah di Cipari. Interaksi yang dekat dengan para aktivis, tokoh masyarakat dan petani ini sangat membantu peneliti dalam memperoleh data dari mereka. Peneliti bisa bicara langsung dan lebih dalam dengan para informan tersebut. Namun demikian, karena interaksi yang sangat dekat itu pula, peneliti mempunyai tantangan tersendiri untuk bisa
“menjaga jarak” dengan mereka. Untuk mengatasi hal itu, peneliti seringkali melakukan wawancara dalam bentuk perbincangan santai dengan para informan. Dengan perbincangan santai tersebut diharapkan informan lebih terbuka dalam memberikan informasi.
Selain itu, peneliti bersama dengan jaringan aktivis, tokoh masyarakat dan petani sering juga melakukan dialog dengan perusahaan (swasta maupun negara) dan pemerintahan (desa, eksekutif, legislatif, yudikatif) baik di level lokal, regional maupun nasional. Dialog dengan berbagai kalangan itu juga membuat peneliti dapat berinteraksi dengan mereka. Interaksi itu juga mendorong akses yang relatif mudah kepada perusahaan dan
informan dari pemerintah. Kemudahan akses ini juga ditambah dengan interaksi yang relatif berjalan baik paska reformasi.
Di kalangan pemerintahan juga mulai banyak yang terbuka, termasuk didalamnya interaksi peneliti dengan JW sebagai kepala BPN dan beberapa informan lain di BPN. Dalam beberapa kesempatan, peneliti terlibat dalam pertemuan yang terjadi antara JW beserta jajarannya dengan aktivis reforma agraria dan para petani. Untuk mendapatkan informasi tambahan terkait informan dari pemerintah, peneliti juga meminta informasi dari aktivis reforma agraria yang juga terlibat secara langsung dengan pemerintah seperti US dan NF.
Tantangan menarik lainnya dalam penelitian ini adalah bagaimana peneliti mampu untuk dapat “melepaskan diri”
dari kepentingan perjuangan reforma agraria. Sebagai sebuah penelitian yang melihat implikasi buruk dari reforma agraria, tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan besar dalam diri peneliti yang juga turut mengupayakan agar reforma agraria bisa menjadi agenda kebijakan pemerintahan. Ada kekhwatiran dari peneliti bahwa penelitian ini justru dapat membuat pemerintah menghilangkan reforma agraria dalam agenda kebijakannya. Namun demikian, kekhawatiran tersebut hilang karena bagaimanapun sebuah kebijakan yang baik harus juga mendapatkan kritik untuk menghasilkan kebijakan yang lebih baik lagi di kemudian hari.
Begitu pula tantangan dari sesama aktivis reforma agraria atau pun petani. Tantangan ini juga terkait dengan implikasi dari hasil penelitian dimana terlihat kecenderungan bahwa reforma agraria yang diperjuangkan di Cipari adalah reforma agraria yang gagal. Padahal para petani dan aktivis reforma agraria telah
memperjuangkannya selama bertahun-tahun. Namun demikian, peneliti sendiri mempunyai pandangan bahwa otokritik bukanlah hal yang tabu dalam gerakan. Otokritik justru diperlukan untuk kemajuan sebuah gerakan. Hal ini diperkuat juga oleh adanya pandangan dari informan petani maupun aktivis reforma agraria yang menyatakan bahwa Cipari adalah salah satu contoh kasus kegagalan reforma agraria.
Interaksi peneliti yang cukup dekat dengan para aktor, termasuk di dalamnya kemampuan peneliti mengatasi tantangan di atas diharapkan mampu menyingkap berbagai macam pertarungan dalam penggunaan kekuasaan oleh berbagai macam kelompok orang baik di level rakyat, swasta maupun negara, termasuk di dalamnya dalam hal perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria.
Data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, catatan lapangan terkait agenda yang dilakukan oleh informan dan dokumen dalam penelitian etnografis dapat dikatakan sebagai konstruksi wacana yang mendasari framing kebijakan (Blaikie dan Springate-Baginski 2007; Hajer 1995, 2006). Dalam melakukan konstruksi wacana yang membentuk framing kebijakan tersebut peneliti melakukan serangkaian aktivitas diantaranya:
mentranskrip data, mengklasifikasi data, menginterpretasi data serta menyimpulkan data lapangan untuk menjadi tulisan hasil dan temuan penelitian.
Transkrip data dilakukan dengan menuangkan hasil wawancara yang didapatkan dari rekaman audio ke dalam narasi berbentuk tulisan. Pada tahap ini, transkrip wawancara dituliskan sesuai aslinya. Sedangkan untuk catatan-catatan lapangan dan juga pengamatan dalam agenda kegiatan yang dilakukan para
pihak tersebut, peneliti tulis sesuai dengan poin-poin yang disampaikan oleh informan.
Hasil wawancara dan pengamatan yang telah ditulis dalam bentuk teks kemudian diklasifikasi menurut status golongan informan yakni: masyarakat, perusahaan, pemerintah. Berbagai informasi yang telah diklasifikasi ini kemudian menjadi bahan yang disampaikan dan didiskusikan dengan promotor dan co promotor.
Hasil diskusi tersebut menjadi bahan klasifikasi berikutnya, yakni klasifikasi berdasarkan jawaban atas pertanyaan yang ada dalam perumusan masalah, diantaranya soal: pertarungan kepentingan antar aktor, kontribusi petani dalam perumusan kebijakan dan implikasi dari perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria.
Dalam melakukan interpretasi data, peneliti menggunakan alat analisis yang didasarkan pada teori maupun konsep yang telah disampaikan dalam landasan teori. Analisis tersebut digunakan sebagai bahan untuk menjelaskan data yang ada sekaligus menganalisis lebih dalam maupun mengkritisi data yang ada. Setelah mendialektikan temuan lapangan dengan alat analisis yang ada, peneliti kemudian menuliskan “novelty” dari penelitian ini.
BAB 2
Kondisi Wilayah
L
ima desa yang menjadi wilayah kajian, meliputi Mekarsari, Sidasari, Kutasari, Caruy, dan Karangreja. Kelima desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Cipari. Cipari merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.Di sebelah utara, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Sungai Cikawung, sedangkan di bagian selatan dilalui jalur utama lintas selatan. Kecamatan ini terdiri dari 11 (sebelas) desa, yaitu Serang, Mulyadadi, Cipari, Segaralangu, Karangreja, Kutasari, Pegadingan, Cisuru, Mekarsari, Sidasari, dan Caruy. Kecamatan Cipari mempunyai luas wilayah 12.148 ha. dengan bentuk topografi berupa perbukitan dengan penggunaan tanah sebagai berikut: Lahan kering yang didominasi oleh perkebunan seluas 4.787 ha. (39%); tegalan/kebun seluas 2.484 ha. (20%); lahan basah 2.051 ha. (17%), pekarangan seluas 1.671 ha. (14%) dan hutan negara seluas 512 ha. (4%). Bila diakumulasi dalam konteks kepemilikan lahan, maka 43% lahan di Kecamatan Cipari dikuasai
MEMOTRET WILAYAH KAJIAN: KONFLIK
PANJANG YANG COBA DISELESAIKAN
oleh negara dan swasta dalam bentuk perkebunan maupun hutan negara,serta 57% menjadi hak milik warga.
Jumlah penduduk di Kecamatan Cipari pada tahun 2010 (baca:
peneliti memilih data tahun 2010 karena merupakan setting waktu utama saat implementasi reforma agraria berlangsung di Cipari) sejumlah 61.422 jiwa, yang terdiri dari 30.773 laki-laki dan 30.694 perempuan. Wilayah ini termasuk ke dalam kategori daerah sangat padat penduduk, dengan tingkat kepadatan 506 jiwa/km2.Penguasaan lahan yang sangat besar pada level negara dan swasta, serta jumlah kepadatan penduduk sangat tinggi berdampak pada lemahnya akses terhadap sumber daya agraria yang memicu terjadinya konflik agraria, termasuk didalamnya konflik antara 5 (lima) warga desa (Mekarsari, Sidasari, Kutasari, Caruy, dan Karangreja) dengan PT Rumpun Sari Antan (RSA).
Berikut ini adalah peta keberadaan lima desa di lokasi HGU PT RSA:
Gambar 2. Lokasi Tanah HGU PT RSA
Keterangan:
Lokasi HGU (Abu-abu dan Hitam), Lokasi Redistribusi (Hitam) (diolah dari data BPN 2010)
Distribusi Penguasaan Tanah
Menurut “Kecamatan Cipari dalam Angka Tahun 2010”, kelima desa ini penggunaan lahannya didominasi oleh perkebunan yang mencapai 44,9%, sedangkan untuk penggunaan lain meliputi sawah (20,7%), tegalan (15,6%), pekarangan (10,6%), hutan negara (3,5%), dan lain-lain (4,7%).
Berikut ini rincian penggunaan lahan di lima desa wilayah kajian: Tabel 2. Penggunaan Lahan di Lima Desa Wilayah Kajian No.DesaSawahPekaranganTegalan Hutan Neg
araPerkebunan
Lain- lain
Total Luas Wilayah 1.Mekarsari14013396059728994 2.Caruy35064682815121682 3.Kutasari3608710902938857 4.Sidasari13685154044022847 5.Karangreja451573431447571551.601 Jumlah1.0325267701722.2382344.971 Persentase20,7%10,6%15,6%3,5%44,9%4,7%100% Sumber: Kecamatan Cipari dalam Angka 2010 (diolah)
Apabila merujuk pada tabel di atas, terlihat bahwa masyarakat hanya menguasai lahan sejumlah 51,6% atau setara dengan 2.561 hektare yang merupakan gabungan persentase dari kepemilikan sawah, pekarangan, tegalan, dan lain-lain. Adapun lahan lain yang jumlahnya sebesar 48,4% atau setara dengan 2.410 hektare dikuasai oleh swasta dan negara yang merupakan gabungan persentase dari perkebunan dan hutan negara. Hal ini menunjukkan luas penggunaan lahan di lima desa tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tanah perkebunan, bahkan hampir setengah luas penggunaan lahan berupa perkebunan.
Jumlah Penduduk dan Mata Pencaharian
Total penduduk di lima desa tersebut sebanyak 24.537 jiwa dengan 6.347 kepala keluarga (KK). Mata pencaharian utama penduduk adalah bidang pertanian dengan jumlah 8.713 orang yang merupakan 68% dari jumlah total seluruh pekerja yang mencapai 12.806 orang.
Berikut ini tabel rincian jumlah penduduk dan mata pencahariannya: Tabel 3. Jumlah Penduduk dan Mata Pencarian Menurut Lapangan Usaha No.Desa
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Jumlah Rumah Tangga (KK)
Jumlah Pekerja Non-Pertanian (Jiwa)
Jumlah Pekerja Pertanian (Jiwa) 1.Mekarsari4.6881.2662.6981.786 2.Caruy5.4671.4262.2911.360 3.Kutasari5.6811.4472.7951.836 4.Sidasari4.7711.2042.6411.897 5.Karangreja3.9301.0042.3811.834 Jumlah24.5376.34712.8068.713 Sumber: Kecamatan Cipari dalam Angka 2010 (diolah) Meskipun mata pencaharian utamanya adalah bidang pertanian, namun luasan sawah dan tegalan milik rakyat hanya 36,3% atau setara dengan 1.031 ha. Apabila luasan sawah dan tegalan milik rakyat tersebut dibagi dengan jumlah KK kelima desa yang besarnya 6.347 KK, maka diperoleh rata-rata kepemilikan lahan pertanian sebesar 1.624 m2 .
Berikut ini adalah tabel kepemilikan lahan pertanian di lima wilayah kajian: Tabel 4. Kepemilikan Lahan Pertanian di Lima Desa Wilayah Kajian No.Desa
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Jumlah Rumah Tangg
a (KK)
Luas Sawah (ha)
Luas Tegalan (ha)
Rata-rata
Luas Sawah/
KK (m2)
Rata- rata Luas Tegalan KK (m2 )
Rata-
rata Luas Sawah+ Tegalan KK (m2 ) 1.Mekarsari4.6881.266140961.1067581.864 2.Caruy5.4671.426350682.4544772.931 3.Kutasari5.6811.4473601092.4887533.241 4.Sidasari4.7711.2041361541.1301.2792.409 5.Karangreja3.9301.004453434483.4163.865 Jumlah24.5376.3471.032770 Rata-rata1.5251.3371.337 Sumber: Kecamatan Cipari dalam Angka 2010 (diolah)
Berdasarkan data di atas, luas kepemilikan rata-rata sawah dan tegalan berada pada angka 1.337 m2. Angka ini menunjukkan bahwa para petani yang ada di lima desa tersebut tergolong sebagai petani kecil/gurem. Di Indonesia, definisi petani kecil/
gurem mengacu pada luas lahan usaha tani. Sayogyo (1977) mengelompokkan petani di Jawa ke dalam tiga kategori, yaitu petani skala kecil dengan luas lahan usaha tani <0,5 ha, skala menengah dengan luas lahan usaha tani 0,5 ha–1 ha, dan skala luas/besar dengan luas lahan >1,0 ha. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengadopsi definisi yang sama untuk pengelompokan rumah tangga petani menurut luas lahan usaha tani.
Melihat hal itu, faktor kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani gurem agar keluar dari kemiskinan, yaitu melalui peningkatan akses penguasaan lahan petani melalui land reform. Dalam konteks land reform di Cipari, para petani gurem tersebut dapat mencukupi kebutuhan akan tanahnya dari tanah negara, baik tanah perkebunan maupun kehutanan.
Minimnya Akses Masyarakat Atas Tanah sebagai Pemicu Konflik Pertanahan
Jauh sebelum Presiden RI ke-6, SBY menyerahkan sertifikat tanah kepada sepuluh orang yang merupakan perwakilan dari 5.141 orang pada 21 Oktober 2010, sejarah atas konflik tanah di Cipari sudah berlangsung lama, yakni semenjak 1908. Dalam Setiaji (2011), dipaparkan bahwa asal muasal konflik lahan di lima desa tersebut bisa ditelusuri dari sejarah—yang sekarang disebut dengan—Desa Caruy.
Desa Caruy dahulunya merupakan hutan yang berada di bawah Kademangan Pegadingan, Kadipaten Cisagu. Pada 1794, Ronggowiyudo atau Nayapurwa, saudara dari Adipati Cisagu,
membuka hutan tersebut dan kemudian oleh Reksajaya (teman Nayapurwa) diberi nama Dukuh Curug. Selanjutnya pada 1801, pedukuhan yang sudah berkembang menjadi desa ini diajukan ke Kadipaten Cisagu. Pada tahun itulah, Desa Caruy lahir dan dipimpin oleh Kepala Desa (Kades) Reksajaya. Pada 1908, Kades Caruy yang ke-9, Ki Surasep, memindahkan wilayah desanya dari Curug ke Gunungwilis sebagai akibat dari tukar menukar tanah dengan perkebunan asing. Pada 1923, terdapat perkebunan Caruy-Redjodadi dengan Hak Erpacht Verponding 48,49,50,81, dan 120 dengan luas keseluruhan 1.288,47 ha atas nama NV.
Goenoeng Sari Pangoeloeran Estate dan NV. Cult Mijbouw Du Rix.
Di masa pendudukan Jepang, upaya perluasan lahan terus terjadi karena adanya kewajiban tanam paksa untuk menanami lahan kosong, lahan tidur, maupun semak belukar untuk kebutuhan pangan. Perluasan penanaman ini termasuk didalamnya lahan yang dikuasai oleh perusahaan asing. Kalahnya Jepang atas sekutu membuat terjadinya kekosongan penguasaan lahan. Di masa itu, seluruh lahan pertanian yang ada dikuasai oleh masyarakat.
Pada saat Indonesia merdeka, lahan yang ada dinasionalisasi.
Lahan yang dinasionalisasi inilah yang kemudian digarap masyarakat. Pada 1955, dengan landasan Undang-Undang Darurat No. 08 Tahun 1954, pemerintah menerbitkan kartu tanda pendaftaran sebagai pemakai tanah perkebunan. Kartu ini oleh penduduk Cipari lebih banyak disebut sebagai “Kartu Kuning”.
Kartu ini, pada 1958, oleh pemerintah ditarik dan dijanjikan akan diganti dengan petuk (kartu pembayaran pajak bumi), namun hal tersebut tidak terjadi.
Bahkan di sekitar tahun itu, masyarakat mulai mendapatkan kekerasan dan diusir dari wilayah perkebunan. Perlakuan kekerasan terhenti saat masyarakat bersedia ditampung di areal dan diberi bedeng (rumah sementara). Oleh masyarakat, sering disebut sebagai orang penampungan atau tapongan. Orang yang berada di penampungan inilah yang di kemudian hari terus menuntut hak atas tanah. Kemudian pada 1964, berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1964 Pasal 2 Ayat (c), perkebunan Caruy-Redjodadi dikuasai oleh pemerintah. Kondisi ini membuat masyarakat semakin jauh dari usaha untuk memiliki lahan di wilayah tersebut.
Legitimasi perkebunan semakin menguat sejak terjadinya peristiwa G30S. Warga yang sebagian besar merupakan kader maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi sasaran “penertiban” oleh aparat keamanan. Tanah mereka disita dengan alasan merupakan bagian dari PKI. Pada 1970, berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 580/Kpts/Um/12/1970 tanggal 19 Desember 1970, pemerintah menyerahkan perkebunan kepada Markas Besar Angkatan Darat dengan alasan tidak diusahakan pemiliknya, serta dengan pertimbangan dalam rangka penanggulangan keamanan dan ketertiban terhadap gangguan sisa-sisa G30S.
Sebelum adanya SK tersebut, pada 1967, berdasarkan akta notaris R.M. Soeprapto No. 9 pada 9 Juni 1967, dibentuk PT Rumpun atas perintah Pangdam VII Diponegoro (sekarang Pangdam IV Diponegoro) yang pada waktu itu berposisi sebagai Penguasa Perang Daerah (Peperda) Tingkat I Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 1997, PT Rumpun berubah nama menjadi PT Rumpun Sari Antan (RSA). Perusahaan inilah yang kemudian diberi kewenangan HGU yang secara resmi