• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTARUNGAN KEPENTINGAN DAN PEREBUTAN KUASA AGRARIA

pertarungan kepentingan dalam proses perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria. Didalamnya akan tergambar cara kerja, peluang dan batasan serta hubungan masing-masing aktor. Bahasan dalam bab ini akan menjawab pertanyaan tentang “Bagaimana pertarungan kepentingan dalam perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria itu berlangsung?”

Pertarungan Kepentingan dalam Perumusan Kebijakan Kehadiran reforma agraria bukan tiba-tiba datang. Reforma agraria hadir sebagai gagasan menciptakan situasi yang lebih berkeadilan bagi masyarakat. Dalam prosesnya, reforma agraria berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Sebelum reforma agraria, orang lebih dulu mengenalnya sebagai land reform. Land reform, di era awal-awal berkutat pada pertarungan antara orang yang menguasai sumber daya agraria, dalam hal ini tanah, dan orang lain yang tidak mempunyai tanah. Pada perkembangannya, land reform menggunakan subjek tanah umum yang kemudian diredistribusikan untuk masyarakat tidak bertanah. Selanjutnya, land reform digunakan sebagai jalan pembebasan dari feodalisme dan persoalan tuan budak. Setelah itu, land reform berkembang menjadi jalan untuk membangun konsepsi ideologis baik sosialisme maupun kapitalisme. Di tahap berikutnya, land reform berkembang menjadi sarana untuk pembangunan bangsa. Konsepsi inilah yang kemudian meletakkan dasar pentingnya land reform yang diikuti dengan pemberian akses, seperti infrastruktur, permodalan, pemberdayaan ekonomi, dan lain-lain. Land reform plus inilah yang kemudian berkembang menjadi reforma agraria. Penjelasan singkat di atas mempertegas bahwa reforma agraria sendiri merupakan suatu bentuk pertarungan kepentingan antar aktor.

Di dalam perumusan kebijakan reforma agraria terdapat pertarungan kepentingan antar aktor. Pada masa penjajahan Belanda, langkah yang dilakukan para petani didorong oleh adanya kebutuhan masyarakat akan perlunya menanam tanaman pangan untuk kehidupan sehari-hari, serta terdapat pula kebutuhan untuk hunian mereka. Pada sisi negara, Belanda menerapkan asas domein verklaring, yang secara sederhana diartikan bahwa tanah yang belum berpenghuni akan dianggap sebagai tanah milik negara.

Hukum agraria zaman kolonial sangat eksploitatif, dualistik, dan feodalistik, yang jelas sangat bertentangan dengan kesadaran hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat (Mahfud 2012, 119). Keberadaan asas domein verklaring dalam agrarische wet itulah yang memantik para pendiri bangsa Indonesia melakukan refleksi. Bentuk nyata dari pemikiran tersebut diwujudkan dalam bentuk terumuskannya kebijakan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960. UUPA dijadikan oleh pemerintahan Soekarno sebagai untuk menghentikan ketidakadilan agraria di Indonesia dan memutus rantai kebijakan agraria zaman kolonial (Fauzi, 2012; Harjono, 1970).

Dalam konteks tanah di Cipari, pada 1923, pemerintah Belanda memberikan tanah tersebut kepada perusahaan milik orang Belanda. Di masa tersebut sampai dengan tahun 1958, istilah land reform belum menjadi bagian dari istilah di kalangan para petani. Barulah ketika Barisan Tani Indonesia (BTI) turut mendorong lahirnya kebijakan land reform, para petani mulai mengenal istilah tersebut. Di zaman itu, para petani melakukan aksi-aksi pendudukan lahan di tanah perkebunan dengan slogan tanah untuk penggarap. Namun demikian, upaya para petani tersebut tidak berhasil. Justru yang terjadi kemudian, bisnis

tentara yang dijalankan oleh PT Rumpun akhirnya mendapatkan HGU pada 1975. Kondisi ini bisa terjadi, menurut NF (peneliti agraria) dikarenakan:

“Kemenangan tentara pada waktu itu tidak terlepas dari kebijakan secara nasional tentang land reform memang belum menyentuh wilayah perkebunan maupun kehutanan. Di zaman Orde Lama, land reform dijalankan di tanah-tanah milik pribadi dan belum masuk pada tanah-tanah negara. Fokus land reform pada waktu itu adalah membagi tanah-tanah pertanian yang dimiliki oleh tuan tanah kepada para petani penggarap.”

(Wawancara, 02/9/2019).

Pendapat yang diungkapkan oleh NF, sejalan dengan pendapat Tuong Vu dalam Paths to Development in Asia: South Korea, China, Indonesia, and Vietnam (2010). Ia berpendapat:

“Kebijakan nasionalisme-populis Soekarno yang direfleksikan secara gamblang dalam reforma agraria dan nasionalisasi perusahaan Belanda membuat struktur negara yang masih baru berdiri tersebut menjadi tidak terkendali. Bukan karena seharusnya Soekarno tidak melakukan kebijakan tersebut, tetapi yang terjadi adalah pemerintahan revolusi hanya membuat elite pemerintahan mengakomodasi, alih-alih benar-benar mengonfrontasi massa lain di luar petani maupun elite lain selain PKI yang menjadi fokus saat itu. Permisifnya pemerintahan di bawah jargon nasionalisme-populis tersebut dapat dilihat hari ini dengan kekuasaan militer atas perkebunan yang terus melanggengkan sistem kolonial.

Peristiwa 1965 menjadi arah balik bagi perjuangan land reform. Di Cipari, pada masa tersebut juga merupakan masa yang kelam bagi masyarakat. Sebagian besar dari mereka terkena dampak pemberangusan G30S. Perjuangan land reform dengan jargon tanah untuk penggarap berhenti di akhir 1965. Pada masa itu, petani tidak lagi dianggap menjadi bagian dari pendorong dirumuskannya sebuah kebijakan. Alih-alih justru pada 1968, pemerintah Orde Baru melalui Pangdam Diponegoro selaku

Penguasa Perang Daerah (Peperda) tingkat I Jawa Tengah dan DIY pada 9 Januari 1968 menyerahkan penguasaan pengelolaan tanah-tanah perkebunan di Jawa Tengah kepada PT Rumpun.

Pada masa awal dan pertengahan Orde Baru, kata land reform sama sekali tidak terdengar di Cipari. Namun demikian, upaya masyarakat untuk memperoleh tanah tetap dilakukan tetapi tidak menggunakan istilah land reform. Wacana land reform mulai muncul kembali saat BS (aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi politisi DPR) memasuki wilayah Caruy dan berupaya memperjuangkan hak atas tanah warga. Hanya saja, upaya tersebut terhenti karena BS kemudian ditangkap dan tidak diperbolehkan masuk ke desa tersebut.

Pembicaraan land reform mulai kembali muncul saat era Reformasi. Pada 1998, karena krisis ekonomi, masyarakat kembali mengupayakan agar tanah tersebut kembali kepada mereka.

Upaya tersebut mendapat dukungan dari kalangan masyarakat sipil, khususnya LBH Yogyakarta yang merupakan inisiator awal berdirinya organisasi para petani Cipari yang tergabung dalam Serikat Tani Merdeka (SeTAM). Pada masa inilah, kata land reform kembali berkumandang di kalangan petani. Mereka bersama-sama dengan kalangan LSM berupaya memperjuangkan kembalinya hak atas tanah dengan menyandarkan diri pada Pasal 33 UUD 1945 serta UUPA 1960. Kata reclaiming atau klaim kembali atas lahan merupakan kata yang sering diucapkan oleh para petani, khususnya yang sudah bergabung dalam SeTAM. SeTAM dalam kancah politik kebijakan agraria menjadi salah satu penyokong lahirnya kebijakan-kebijakan agraria di era Reformasi. Mereka terlibat dalam Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) maupun dengan jejaring mereka di Federasi Serikat Petani Indonesia

(FSPI) yang juga mempunyai jaringan internasional bernama La Via Campesina.

Selain dengan kalangan masyarakat sipil, SeTAM juga membangun dialog dengan pemerintah desa untuk mewujudkan perjuangannya. Keterbukaan di era Reformasi tidak hanya berimbas pada keberanian petani dan kalangan masyarakat sipil.

Para kepala desa juga menjadikan Reformasi sebagai momentum melibatkan diri dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat atas tanahnya. Berikut ini pendapat mantan Kepala Desa Caruy, SLT.

“Sebenarnya pelaku sejarah yang awalnya termasuk Mas Budiman Sudjatmiko. Awal-awalnya itu Budiman Sudjatmiko yang waktu itu mahasiswa UGM dioyok-oyok (baca: dikejar-kejar) aparat di era Soeharto.

Mas Budiman bahkan sering tidur di sini juga. Kalau saya sama pemerintah desa lain, mulai terlibat setelah Reformasi. Istilahnya, kami itu yang dikatakan Pak Joyo Winoto, ibarat batu yang besar dipukul ya nggak pecah, diganti orang juga nggak pecah. Nah, kebetulan diganti lima kepala desa langsung pecah. Ibaratnya, kami lagi beruntung.” (Wawancara, 25/12/2018).

SeTAM mengajak pemerintah desa untuk turut memperjuangkan tanah tersebut dengan alasan masyarakat membutuhkan tanah itu untuk menghadapi krisis ekonomi.

Maka pada awal-awal Reformasi itulah, pemerintah desa turut memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan melibatkan petani dalam Program Penanggulangan Dampak Kekeringan dan Masalah Ketenagakerjaan (PDKMK) dengan sistem bagi hasil dengan pihak perkebunan untuk tanaman pangan. Namun demikian, program ini berakhir dengan kegagalan karena adanya gagal panen dan keberadaan program tersebut dinilai tidak sesuai dengan keinginan para petani yang sesungguhnya yakni menjadikan tanah tersebut kembali menjadi tanah milik masyarakat.

Di waktu berikutnya, tepatnya pada 31 Desember 1999, merupakan masa akhir HGU PT Rumpun Sari Antan (RSA). SeTAM memanfaatkan peluang ini dengan terus mendorong agar HGU tersebut tidak diperpanjang. Upaya ini kemudian membuahkan hasil dengan tidak diperpanjangnya HGU pada wilayah yang sedang dipermasalahkan oleh masyarakat. Bahkan, pemerintah melalui BPN mengeluarkan kebijakan untuk menjadikan sebagian kecil tanah perkebunan itu menjadi objek land reform.

Namun demikian, di tengah upaya tersebut, PT RSA tetap berupaya menghambat pelaksanaan redistribusi tanah. Mereka menghendaki kompensasi atau ganti rugi atas tanah yang akan diredistribusi. Kompensasi inilah yang menjadikan terjadinya perpecahan baik di kalangan petani, pengurus SeTAM, maupun antara SeTAM dan para kepala desa.

Seperti pada pemerintah desa pada umumnya, upaya masyarakat untuk memperjuangkan hak atas tanah awalnya bukanlah isu yang didukung oleh pemerintah desa. Pada banyak kasus, kebanyakan dari pemerintah desa bahkan berupaya menghindar. Hal itu juga terjadi pada pemerintah desa di lima desa yang menjadi sasaran penelitian ini. Mereka tidak mau terlibat di dalam upaya memperjuangkan hak atas tanah. Namun demikian, situasi itu berubah ketika mereka melihat peluang tanah tersebut bisa menjadi milik masyarakat dengan telah berakhirnya HGU dan juga surat dari BPN tentang rencana pelepasan tanah.

Melihat peluang tersebut, pemerintah desa perlahan-lahan melakukan pendekatan kepada para petani termasuk juga ke SeTAM. Mereka mengatakan bahwa masalah tanah juga menjadi masalah pemerintah desa. Semenjak saat itu, pemerintah desa di kelima desa tersebut menjadi bagian dari upaya agar tanah

kembali kepada masyarakat. Namun demikian, sejatinya mereka tidak mempunyai pemikiran tentang reforma agraria. Hingga kemudian, saat pemerintah daerah dan BPN meminta agar kasus ini segera diselesaikan dan pada sisi lain PT. RSA menginginkan kompensasi, maka kedua kepentingan ini pun bertemu.

Tahap berikutnya adalah proses tawar-menawar kompensasi yang terjadi antara PT. RSA dankepala desa, di mana para petani tidak lagi dilibatkan langsung dalam proses tersebut. Bagi para petani, inilah momentum di mana perjuangan mereka telah diambil alih oleh pemerintah desa. Tidak hanya berhenti pada kompensasi, kepala desa juga kemudian menyetujui penambahan jumlah penerima tanah yang awalnya sejumlah 2.000-an orang, kemudian menjadi 5.141 orang. Dengan bertambahnya jumlah orang yang mendapatkan tanah, maka pada akhirnya rata-rata petani hanya mendapatkan lahan sejumlah 500 m2.

Adanya kompensasi juga berdampak buruk. Kompensasi menjadi jalan terjadinya jual beli lahan, baik sebelum maupun sesudah redistribusi dilakukan. Keberadaan kompensasi yang mempunyai tenggat waktu yang cepat berakibat pada banyak di antara petani dan calon penerima tanah yang tidak mampu membayar biaya kompensasi. Melihat kondisi tersebut, para kepala desa berinisiatif menggandeng pembeli lahan untuk meminjamkan uang terlebih dahulu. Uang tersebut dapat juga dijadikan sebagai panjer (baca: uang muka). Jadi, apabila ternyata petani atau calon penerima tanah tidak dapat membayar kompensasi, maka tanah tersebut akan menjadi tanah yang dimiliki pemilik lahan.

Para petani, khususnya yang sudah berjuang dari awal, menganggap keberadaan kompensasi berarti akan membuat

petani tidak bisa memiliki lahan tersebut. Hal itu karena banyak di antara petani yang tidak dapat membayar kompensasi. Namun, ada sebagian petani lainnya (termasuk didalamnya beberapa pengurus SeTAM) yang menerima kompensasi dengan alasan agar kasus ini dapat segera terselesaikan. Meski pada akhirnya setelah dilakukan rapat internal, SeTAM menolak kompensasi dan secara organisasi tidak lagi melibatkan diri dalam pembagian lahan.

Meskipun demikian, SeTAM memberi kebebasan kepada petani dan pengurus jika secara pribadi terlibat dalam pembagian lahan tersebut. Menurut pengamatan peneliti, pilihan politik SeTAM yang berada pada wilayah abu-abu tersebut dikarenakan para petani sebagian besar banyak yang lelah dalam memperjuangkan tanahnya. Selain itu juga, adanya anggapan bahwa setidaknya terdapat sejarah perjuangan tanah yang berhasil dilaksanakan di Cilacap atau dalam istilah mereka sering disebut sebagai

“kemenangan kecil”.

Meskipun tidak terlibat langsung dalam pembagian lahan di Cipari, SeTAM tetap menyuarakan perjuangan para petani dengan mengupayakan advokasi reforma agraria dengan mengambil peluang politik kebijakan reforma agraria model yang ditawarkan JW (Kepala BPN) yakni asset dan access reform. Kerja advokasi reforma agraria model tersebut dapat terjadi karena hubungan SeTAM dengan kalangan masyarakat sipil (LBH, LSM, akademisi) yang juga turut memperjuangkan reforma agraria. Selain itu, interaksi yang cukup erat antara SeTAM dengan JW (Kepala BPN), semakin memperkuat kampanye tersebut.

Interaksi antara masyarakat sipil dan politisi sesungguhnya sudah pernah terjadi di masa lalu. Hubungan politisi yang ada di partai dan gerakan sosial terjadi pada masa orde lama, misalnya

antara BTI danPartai Komunis Indonesia (PKI). Namun demikian, di era orde baru, hubungan tersebut tidak terjadi karena adanya politik “masa mengambang”. Gerakan sosial dan partai dianggap dua entitas yang berbeda. Akan tetapi, hubungan tersebut kembali muncul dengan adanya keterbukaan politik. Pada masa awal reformasi, para aktivis reforma agraria melakukan pendekatan kepada politisi partai. Partai Amanat Nasional misalnya, mengangkat isu reforma agraria dalam satu program yang ditawarkan. Pada fase selanjutnya, para aktivis reforma agraria melakukan pendekatan secara intensif ke politisi partai di parlemen yang kemudian dapat melahirkan Tap MPR No. IX/

MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di era pemerintahan Megawati.

Selanjutnya, para aktivis tersebut tanpa lelah berupaya masuk ke politik dengan membuat Petisi Cisarua yang memasukkan agenda reforma agraria ke dalam pemerintahan SBY. Bahkan, pada masa pemerintahan SBY, beberapa aktivis terlibat langsung dalam pemerintahan, misalnya dengan menjadi staf khusus dari Kepala BPN (Fauzi, 2017).

Selain itu mereka juga melakukan memanfaatkan momentum politik yang tersedia dan perlu “membisikkan” gagasan ini melalui aktor-aktor politik yang berada dalam permainan penyelenggaraan negara (Chandra, 2014). Dalam konteks Cipari, pendekatan gerakansemacam di atas dilakukan oleh SeTAM kepada BS dari PDI Perjuangan. Cara ini relatif mudah dilakukan karena keduanya mempunyai ikatan semenjak BS menjadi aktivis. Ikatan inilah yang terus dipelihara dan kemudian berbuah reforma agraria yang dijalankan di Cipari. Sebagai taktik gerakan, pendekatan petani dan masyarakat sipil ke politisi

partai cukup membantu dalam proses melakukan advokasi dan memperjuangkan kasus yang dihadapi. Namun demikian, dalam konteks yang lebih substantif, interaksi antara gerakan petani, masyarakat sipil, dan politisi tidak berjalan sebagaimana harapan dari petani.

Kesepahaman tentang reforma agraria antara SeTAM dan masyarakat sipil dengan JW hanya berhenti pada tataran konsep.

Pada realitas di lapangan konsep yang dipahami bersama tersebut tidak terjadi. BPN justru menyepakati kompensasi yang ditawarkan oleh PT. RSA. BPN juga yang mendorong untuk membagi lahan dengan cara memperluas para penerima lahan.

Padahal, para calon penerima lahan tersebut bukanlah para petani penggarap atau orang yang memperjuangkan tanah dari awal. Kebanyakan dari mereka bukanlah petani, bahkan banyak di antaranya merupakan kerabat dari kepala desa. Tidak hanya itu, sarana produksi, yang pada waktu interaksi awal antara SeTAM dan JW telah dijanjikan, tidak jadi diberikan karena adanya kasus jual beli tanah pasca redistribusi.

Pada awal pelaksanaan redistribusi, para petani, SeTAM, masyarakat sipil, dan politisi proreforma agraria, termasuk juga pemerintah, mengalami euforia. Para petani senang karena pada akhirnya memperoleh tanah. Begitu juga dengan SeTAM, masyarakat sipil, dan politisi reforma agraria turut mengampanyekan keberhasilan pelaksanaan reforma agraria di Cipari sebagai bagian dari kemenangan kecil masyarakat.

Begitu pun di kalangan pemerintah SBY yang memandang bahwa kebijakan reforma agraria di Cipari adalah land reform terbesar pertama di era Reformasi. Namun demikian, seiring dengan merebaknya jual beli lahan ditambah dengan tidak jadinya

pemberian access reform kepada petani, maka mulailah kasus Cipari dinilai sebagai kegagalan pelaksanaan reforma agraria bahkan reforma agraria dipandang berimplikasi buruk bagi petani.

Dalam penilaian petani dan kalangan masyarakat sipil, reforma agraria di Cipari hanya dijadikan oleh SBY sebagai kepentingan pencitraan semata. SBY dipandang hanya memanfaatkan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN), termasuk didalamnya yang diimplementasikan di Cipari, untuk kepentingan popularitasnya.

Pernyataan di atas, sejalan dengan pandangan Sujito (2012) yang menggambarkan situasi di era SBY memerintah dimana pada era tersebut, presiden dan para politisi lain menjalankan strategi pencitraan dengan memproduksi image dan mengesankan dirinya supaya eksis dengan jargon-jargon politik populis.

Pertarungan Kepentingan dalam Implementasi Kebijakan Petani penggarap dan PT. RSA merupakan aktor utama dalam perebutan sumber daya agraria, khususnya tanah di Cipari. Petani penggarap yang memiliki sejarah atas tanah dan secara faktual menguasai tanah berhadapan dengan PT. RSA yang secara legal formal mendapatkan mandat dari pemerintah melalui pemberian HGU. Perebutan tanah tersebut sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya, tanah di wilayah itu merupakan tanah yang lahannya dibuka oleh petani untuk ditanami tanaman pangan dan beberapa di antaranya juga dijadikan hunian.

Penguasaan tanah ini berjalan dinamis. Pada rentang waktu tertentu, petani menguasai secara penuh, tetapi pada rentang waktu lainnya mereka terusir dari tanah tersebut.

Pada 1923, Belanda memasuki wilayah tersebut dengan memberi mandat kepada perusahaan milik Belanda untuk mendirikan perkebunan (Setiaji, 2012). Keberadaan perkebunan itu membuat masyarakat terusir dari wilayahnya. Namun setelah Belanda kalah oleh Jepang dan Jepang menguasai Indonesia, tanah tersebut kembali dikuasai oleh masyarakat. Masyarakat kembali mengerjakan tanah tersebut. Namun demikian, setelah Jepang pergi dari Indonesia dan kemudian Indonesia merdeka, dinamika perebutan tanah kembali terjadi.

Di masa orde lama, kembali terjadi perebutan tanah. Pada periode ini, perebutan tanah terjadi antara petani penggarap yang mendapat dukungan dari Barisan Tani Indonesia (BTI) dan tentara yang mendapat dukungan dari pemerintah dengan diatasnamakan nasionalisasi. Pada masa ini, pemenang dari pertarungan tersebut adalah tentara. Tentara mendapatkan legalitas lahan perkebunan dalam bentuk HGU yang diberikan kepada PT Rumpun yang merupakan cikal bakal PT Rumpun Sari Antan (RSA).

Meskipun pada waktu itu pemerintahan Soekarno juga mendukung keberadaan land reform, akan tetapi di masa itu land reform lebih banyak diarahkan pada tanah-tanah milik pribadi (tuan tanah) yang merupakan wilayah pertanian (bukan perkebunan). Di era tersebut, pada wilayah perkebunan, pemerintah Orde Lama lebih memilih melakukan nasionalisasi daripada melaksanakan land reform, sehingga wilayah perkebunan tidak tersentuh oleh kebijakan land reform.

Mengenai hal itu, RHT (AGRA) menyampaikan bahwa,

“Nasionalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Soekarno sama sekali tidak memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya tunakisma. Nasionalisasi yang dilakukan Soekarno justru membuat terjadinya monopoli tanah seperti yang terjadi di Cipari. Tanah perkebunan dikuasai oleh swasta yang di dalamnya berisi tentara. Sedangkan para petani yang tidak mempunyai lahan terusir dari lahannya.” (Wawancara, 03/12/2019).

Terusirnya para petani di masa akhir orde lama juga membuat mereka akhirnya tidak dapat menggarap tanah di wilayah tersebut. Namun demikian, pada 1980-an, masyarakat mulai kembali menggarap tanah di wilayah HGU, khususnya pada tanah-tanah yang dianggap oleh perusahaan tidak produktif. Langkah yang dilakukan petani dalam penguasaan tanah di era orde baru tidak dilakukan seterbuka era orde lama. Dalam perebutan tanah tersebut, petani melakukannya secara diam-diam. Perebutan tanah secara diam-diam dilakukan karena di masa orde baru, land reform merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Orang yang melakukan perjuangan untuk mendapatkan hak atas tanah akan dianggap sebagai orang PKI. Hal ini juga terjadi di Cipari. Beberapa kali upaya untuk memperjuangkan hak atas tanah terhenti karena orang yang berjuang tersebut tiba-tiba menghilang, tidak lagi kembali ke desanya, dan tidak diketahui keberadaannya. Atau sekurang-kurangnya, para petani yang memperjuangkan tanahnya akan mendapatkan intimidasi yang berimbas pada surutnya upaya perjuangan tersebut.

Namun demikian, upaya untuk mendapatkan hak atas tanah tetap tersimpan dalam diri para petani. Di era orde baru, mereka terus mengupayakan agar tanah tersebut dapat diakses. Sekitar tahun 1990-an, upaya mengakses tanah tersebut dijalankan dengan cara tumpang sari dengan tanaman perkebunan.

Masyarakat mengerjakan tanah tersebut dengan tanaman pangan berupa padi atau jagung di bawah tegakan tanaman perkebunan (baca: tumpang sari). Selain itu, pernah juga ada program ABRI Manunggal Pertanian di mana masyarakat bersama-sama tentara melakukan penanaman tanaman pangan dan hasilnya kemudian dibagihasilkan.

Ketika reformasi bergulir, penguasaan tanah yang dilakukan petani penggarap lebih besar dan pada akhirnya tanah yang dikuasai oleh masyarakat itulah yang menjadi tanah yang diredistribusi. Dinamika kesejarahan atas penguasaan tanah inilah yang menjadikan salah satu kunci keberhasilan masyarakat untuk mendapatkan hak atas tanah. Hal ini dikatakan oleh SG (SeTAM) sebagaimana berikut:

“Kenapa dari pihak Kodam IV kok menyerahkan? Karena dari sisi pembuktian, mereka juga masih lemah. Dalam artian pembuktian kepemilikan atau sertifikat HGU. Asal-usul terbitnya sertifikat HGU prosesnya bagaimana, mungkin secara pembuktian masih lemah. Nah

“Kenapa dari pihak Kodam IV kok menyerahkan? Karena dari sisi pembuktian, mereka juga masih lemah. Dalam artian pembuktian kepemilikan atau sertifikat HGU. Asal-usul terbitnya sertifikat HGU prosesnya bagaimana, mungkin secara pembuktian masih lemah. Nah