• Tidak ada hasil yang ditemukan

SeTAM memandang bahwa perayaan ini menggembirakan tetapi sekaligus menyedihkan. Kenapa mereka gembira? Karena perjuangan yang telah mereka upayakan, hari ini sebagian bisa dinikmati. Akan tetapi, sekaligus mereka bersedih karena tanah yang diperjuangkan yang seharusnya hanya diperuntukkan untuk 2.000-an orang terpaksa harus diterima untuk diberikan kepada 5.141 orang. Mereka tidak menolak tanah tersebut diperuntukkan kepada orang-orang miskin, tetapi dari 5.141 orang itu banyak di antaranya adalah perangkat desa dan orang-orang yang selama ini tidak turut berjuang. Tidak hanya itu, beberapa di antara mereka adalah para pembeli lahan yang berhasil mendapatkan tanah dari proses jual beli karena ada calon penerima tanah yang tidak mampu membayar biaya kompensasi.

Tentang kompensasi ini, salah seorang pengurus SeTAM tiba-tiba teringat bahwa perjuangannya dirasa telah dibajak oleh kepala desa. Kepala desa tanpa berdiskusi dengan mereka memutuskan untuk menerima kompensasi. Padahal, bagi pengurus SeTAM, apabila masyarakat ngotot tidak mau membayar kompensasi, mereka yakin tanah tersebut akan tetap diberikan kepada para petani. Adanya kompensasi dinilai oleh para pengurus SeTAM sebagai cara dari PT Rumpun Sari Antan (RSA) untuk mendapatkan keuntungan di tengah ketidakpastian bahwa hak guna usaha (HGU) mereka tidak akan diperpanjang lagi. Tanah mereka telah dijadikan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) oleh pemerintahan SBY. Dengan kata lain, sebetulnya pemerintah pada akhirnya akan memberi tanah tersebut tanpa ada kompensasi apa pun. Bagi para pengurus SeTAM, keberadaan kompensasi tersebut sebagai bukti tidak adanya pemikiran terhadap nilai perjuangan dan juga makna reforma agraria. Dalam penilaian SeTAM, kepala desa hanya menjadikan reforma agraria

sebagai jalan mereka untuk memperlihatkan pada warganya bahwa mereka turut berjuang. Padahal yang sesungguhnya terjadi, justru kepala desalah yang membuat situasi dan harapan petani untuk mendapatkan hak atas tanah sesuai yang diharapkan menjadi tidak terwujud.

Hal di atas adalah gambaran tentang situasi yang dihadapi masyarakat, beberapa hari setelah diterimanya sertifikat hak atas tanah tersebut. Satu situasi yang di mana reforma agraria yang diharapkan menjadi jalan perbaikan kehidupan justru berimplikasi buruk bagi masyarakat. Oleh karena itu, dalam bab ini akan ditemukan jawaban atas pertanyaan: Bagaimana implikasi dari perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria yang dirasakan oleh petani?

Dirumuskan Petani Diambil Alih oleh Pemerintah

Upaya petani untuk terlibat dalam perumusan kebijakan dan implementasi reforma agraria yang dilakukan selama bertahun-tahun dan kemudian menemukan momentumnya pada reformasi, diambil alih di tengah jalan. Pada level bawah, pengambilalihan dilakukan oleh elite pemerintahan desa. Hal ini sepertinya yang dinyatakan oleh TRM (petani penggarap) sebagaimana berikut.

“Tanah yang keluar jelas cuma jadi rebutan orang-orang desa karena distribusi itu memang kesemuanya lewat desa, bukan apa-apa karena yang menentukan ya kepala desa. Akhirnya kurang sesuai sama kita perkumpulan kelompok tani.” (Wawancara, 21/11/2018).

ED, salah seorang petani yang dari awal memperjuangkan tanah, menuturkan bahwa pemerintah desa sebetulnya tidak mengetahui problem petani. Mereka hanya mengambil kesempatan saja. Berikut ini pernyataannya:

“Nah, untuk kesejahteraan tanah ini diberikan saja kepada petani. Jangan diberikan kepada yang lain. Ketika itu saya ngomong begitu dengan pak camat dan kepala desa itu tidak dipercaya. Sehingga 5 kepala desa itu, Mekarsari, Caruy, Sidasari, Kutasari dan Karangreja, kumpul bareng kepala desanya yang notabenenya tidak mengerti kepentingan petani sehingga mereka bersepakat dibagi 35 ubin.” (Wawancara, 21/11/2018).

Secara tidak langsung, STR (Kades Sidasari) juga mengakui pernyataan tersebut. Ia menjelaskan:

“Ya yang pertama sih dari tingkat bawah dulu. Itu, tetapi dari bawah pun tetep itu diiringi dengan 5 kepala desa dan kepala desa mengajak dari pertanahan. Ada rapatnya di Semarang beberapa kali, sampai bosan.”

(Wawancara, 21/11/2018).

Rapat yang terjadi secara berulang-ulang dan tidak melibatkan SeTAM inilah yang menjadi bukti pengambialihan oleh elite desa, di mana sampai kemudian muncul kompensasi.

Dalam konteks politik, seharusnya kelompok tani dan gerakan tani yang melakukan pembelaan dilibatkan dalam proses. Hal ini dikatakan SRW (SeTAM) saat ditanya kondisi ideal semacam apa dalam proses reforma agraria. Berikut jawaban dari SRW:

“Ya menurut saya yang sesuai di wilayah desa kan ada kelompok tani. Itu masing-masing kelompok tani itu harus dikasih sesuai dengan data yang dikasih, yang ikut berjuang sehingga model pembagiannya juga tepat sasaran.” (Wawancara, 23/12/2018).

Tidak dilibatkannya petani penggarap dalam proses pembagian lahan juga diungkapkan oleh KRD (petani penggarap).

“Enggak, jadi dulu itu sudah dibagi oleh dari pusat itu. Bukan dari masyarakat bukan. Jadi, pemerintah daerah punya itu yang mengatur pembagian.” (Wawancara, 21/11/2018).

Senada dengan KRD, SUT (petani penggarap) dari desa lain juga menuturkan hal yang sama:

“Ya teman-teman pegiat (SeTAM, pen.) dulu ketika pembentukan juga nggak dilibatkan. Tidak ada yang masuk. Saya kanngawal setiap desa.

Setiap ngawal ini ada gak orang pergerakan yang dilibatkan, nah ternyata gak ada. Semua yang jadi ketua itu perangkat desa.” (Wawancara, 21/11/2018).

Termasuk di dalamnya saat penyerahan sertifikat secara simbolis oleh SBY. TG (petani penggarap) menceritakan bahwa:

“Enggak, malah ambil orang lain. Malah ambil orang yang tidak berkecimpung di pertanahan, malah dia orang yang dulu dia itu pro ke perkebunan, ya kadus-kadus itu. Yang menerima simbolis itu, yang memperjuangkan malah di-dupak(baca: ditendang).” (Wawancara, 21/11/2018).

Pemgambilalihan oleh elite juga terjadi pada level “tengah”.

Hal ini ditandai dengan persekongkolan antara RSA, tentara, BPN, dan pemerintahan desa dalam memutuskan kompensasi. WHY (Kades Mekarsari) menceritakan tentang bagaimana proses diskusi berlangsung.

RSA: “Gini Pak Lurah, ini tanah sudah dikuasai oleh rakyat e njenengan beberapa puluh tahun, pernah kami minta sesuatu? Ya ndak. Ini bisa kami berikan, tapi ada kompensasi. Lah kompensasinya? Ya ganti rugilah.”

WHY: “Waduh, kalau ganti rugi ya berat, wong daerah sekitar itu daerah wong miskin, Pak. (terus saya penasaran). Emang kalau ganti rugi berapa sih?”

RSA: “Saya minta per meter 5 ribu. Kalau rakyatmu mau bayar 5 ribu per meter, saya siap melepas.”

Sehingga saya mikir, pulang lagi kan, kalau ndak salah mungkin 10 kali lebih ke Semarang buatrembak-rembuk, akhirnya kami di angka 1.500 mentok.

Kompensasi itu alasan beliau mengganti uang-uang pajak yang sudah

sekian puluh tahun dia bayarkan. Karena dia menguasai lahan seluas itu, pajaknya kan jalan. Tetapi hasilnya kan dipakai oleh rakyat. Jadi sawah sih, gitu lho. Tapi dari RSA ini tidak memungut apa-apa. Lha itung-itung saya bayarin pajak selama itu.Kalau tidaksalah izin usahanya selama 25 tahun ganti, 25 tahun ganti.” (Wawancara, 21/11/2018).

Mengenai terjadinya pengambilalihan oleh elite di level tengah ini, STR (Kades Sidasari) menyampaikan ceritanya bahwa:

“Pada saat itu kan ada surat pelepasan dari Yadip, itu Yayasan Diponegoro Semarang, Jalan Pramuka kalau ndak salah. Nah sesudah itu, kita rapat-rapat dengan pertanahan pusat, dan ternyata deal. Terus ada suatu kompensasi, muncul kompensasi yang per bidang itu khan 35 ubin. Kompensasinya 750 ribu kalau ndak salah per kaveling. Sesudah itu disepakati akan dilaksanakan selama enam bulan secara nyicil (baca: mengangsur). Lha ternyata warga masyarakat siap.” (Wawancara, 21/11/2018).

Selanjutnya, pengambilalihan reforma agraria juga terjadi pada level atas. Menurut Fauzi (2019), meskipun JW melaksanakan reforma agraria, tetapi sesungguhnya reforma agraria yang dijalankan mengikuti skema neoliberal. Satu skema yang banyak dikatakan sebagai skema reforma agraria palsu. Oleh karena reforma agraria telah diambil alih oleh kepentingan pemerintah maka hal ini berimplikasi buruk bagi petani.

Implikasi pada Petani

Reforma agraria yang dijalankan di era SBY ini mengandung berbagai masalah yang berimplikasi buruk bagi implementasi reforma agraria. Pertama, tidak terjadi perubahan dalam mengatasi ketimpangan agraria. Program reforma agraria di Cipari yang pada awalnya untuk mengatasi ketimpangan agraria, pada level implementasi tujuan tersebut tidak terjadi. Para petani tetap saja berposisi sebagai petani gurem. Kepemilikan lahan mereka tetap berada pada angka di bawah 0,25 hektare. Bahkan,

terdapat petani yang justru mengalami penurunan lahan garapan, seperti yang terjadi pada KRD (petani pengarap). Dahulunya, petani menggarap lahan di perkebunan sebanyak 2.100 m2, tetapi setelah adanya redistribusi, hanya mendapat 500 m2. Hal senada dikatakan oleh SLH (SeTAM):

“Luasan 500m2 per satu keluarga kalo menurut kami itu sangat tidak layak, artinya untuk memenuhi kebutuhan misalkan makan untuk setiap musim panen untuk biaya sekolah anak, biaya kesehatan keluarga, itu kan sangat tidak mencukupi.” (Wawancara, 21/11/2018).

Soal pembagian tanah yang tidak sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan, petani juga sudah diingatkan oleh SG (SeTAM).

Ia mengatakan:

“Apa apaan ini, hasil pembaginya saja belum jelas, kok sudah dikavling 500 meter sekian, dasarnya ini dari apa? ‘Katanya dari masukan ini sekian-sekian ‘Lho ya gak bisa kaya gitu pak, ini jadinya malah awut-awutan (baca:

rumit, tidak jelas) kalau kaya gini’ ya apa yang pada waktu itu yang saya sampaikan pada njenengan (baca: kamu) termasuk ke Pak Joyo nanti akan ada land market di sana. Saya sudah menyampaikan seperti itu, benarlah kaya gitu. Mengapa sebelumnya itu juga sudah orang tidak percaya kaya gitu. Lha orang percaya bagaimana, tidak punya sejarah asal muasal tahu-tahu dapat tanahnya.” (Wawancara, 21/11/2018).

Terkait dengan pembagian lahan yang tidak sesuai karena adanya penambahan jumlah penerima yang berimplikasi pada jumlah lahan yang diterima menjadi berkurang, SJT, seorang pegiat agraria yang juga turut memperjuangkan tanah tersebut, menuturkan:

“Harusnya digarap sendiri, dikelola sendiri. Kalau menurut saya seperti itu. Berarti mereka memang benar-benar orang butuh, kan begitu. Kalau mereka malah dijual kan berarti mereka bukan orang yang butuh. Kan judulnya mereka butuh lahan pertanian baru kan, kenapa dijual? Kalo dijual apakah mereka butuh? Kan enggak.” (Wawancara, 21/11/2018).

Kedua, pembagian lahan tidak membuat petani menjadi sejahtera. Padahal, salah satu tujuan dari pelaksanaan reforma agraria adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Namun demikian, reforma agraria yang dijalankan di Cipari tidak dapat mencapai tujuan tersebut. Lahan yang dibagi jumlahnya sangat kecil, hal ini membuat masyarakat tidak mendapatkan hasil panen yang signifikan untuk memperbaiki kehidupannya.

Di lapangan, MSR (petani penggarap) mengatakan bahwa hasil yang diperoleh dari pembagian tanah masih jauh dari harapan. Bahkan, banyak tanah yang dijual ke orang lain karena letaknya jauh, sehingga tidak efisien untuk ditanami. Pernyataan ini diperkuat oleh SLH (SeTAM) yang mengatakan:

“Kami sih tidak menolak warga miskin dikasih tanah manakala tanahnya ada. Hitung-hitungannya ekonomi sajalah, kalo 1 keluarga dikasih kurang lebihnya 500m2 itu kan masih sangat jauh dari kata sejahtera. Jangankan amanat undang-undang agraria, di mana 1 keluarga 2 hektare, ya kalo 2 hektare kan ya syukur alhamdulillah. Kalau pemerintah mau melaksanakan sesuai perintah tersebut, tapi ya setidak-tidaknya kalau membandingkan hidup di desa ini kalau 1 keluarga penggarap sawah misalkan 250 ubin atau 1.000m2 atau 2.000m2InsyaAllah cukup. 200 ubinan atau 250 ubinan kalo di desa sih sebetulnya dengan asumsi punya 2 anak menggarap 125 ubin itu sihInsyaAllah ya cukup.Tapi manakala 1 keluarga apalagi di sawah yang masih susah sarana pertaniannya artinya air masih susah, kebutuhan pupuk mungkin masih susah, kalau di sawah-sawah desa saja di komplek sekitar sini kalau sekadar 35 ubin itu termasuk kurang.” (Wawancara, 21/11/2018).

Tidak hanya itu pembagian lahan ini juga tidak diikuti dengan pemberian sarana pendukung lainnya sebagaimana yang menjadi syarat reforma agraria yang disampaikan oleh JW selaku kepala BPN yakni Asset + Access Reform.

Ketiga, terjadi reakumulasi tanah sebagai dampak dari kompensasi. Akibat dari kompensasi kepada PT RSA membuat banyak calon penerima pembagian tanah yang tidak mampu membayar sesuai tenggat waktu dan terpaksa menjual lahannya kepada para pembeli lahan. Para pembeli lahan inilah yang kemudian mendapatkan tanah dalam jumlah yang relatif besar.

Ada pembeli lahan yang sampai mempunyai lahan seluas 3 hektare dari membeli lahan milik petani penggarap yang tidak mampu membayar kompensasi. Kondisi tersebut sebetulnya juga sudah diprediksi oleh SG (SeTAM).

“Pada waktu itu, saya sampai ditawari diminta sama Pak Joyo Winoto,

‘Mbah, ngalah saja. Nanti sertifikatnya saya usahakan gratis, biar masyarakat memberikan kompensasi, ngalah, tapi nanti untuk sertifikatnya saya usahakan didanai dari APBN, jadi gratis’. Saya sampai jengkel sih engga, saya tetap sampaikan pada Pak Joyo Winoto, ‘GiniPak, apa artinya saya berjuang kalau nanti yang menikmati adalah orang-orang yang punya duit?” (Wawancara, 25/12/2018).

Imbas dari kompensasi tidak hanya terjadi kepada petani.

Pemerintah desa juga mengalami kerugian. STR (Kades Sidasari) menuturkan:

“Saya ingat (uang tanggungan sementara untuk kompensasi, pen.) mau diganti, dipotonglah, tapi ternyata tidak. Ya sudah biarlah. Sampai sekarang belum balik. Yang seharusnya pada saat itu juga ada bahasa ‘Ya nanti kepala desa dapat 2 hektaran di Cibogo sana, ya kita santai-santai aja. Lha ternyata tidak, tapi ya sudah.” (Wawancara, 21/11/2018).

Hal senada diutarakan SLT (Kades Caruy). Untuk membayar uang muka kompensasi yang jumlahnya 100 juta, ia terpaksa utang.

“Waktu yang DP 100 juta itu harus dibayar. Stres saya. Nyariduit 100juta itu susah. Wong uang untuk nyalon (kades, pen.) saja belum kebayar

hehehe. Nah terus pada akhirnya, ada orang sebelumnya jadi pendukung saya dipilkades, kasihan melihat saya. Intinya ada iktikad baik untuk memperjuangkan tanah ini. Dia bilang, ‘KiyeMas, silakan gunakan untuk DP,,,, cuma saya minta jaminan 7,5 bau untuk jaminan’. Terus saya bayarlah ke sana (RSA, pen.)” (Wawancara, 25/12/2018).

Bahkan kerugian juga terjadi pada pembeli lahan, seperti BGN (pembeli lahan) yang saat diwawancarai marah-marah karena upayanya untuk membantu pelunasan kompensasi dan nantinya akan dijanjikan mendapatkan kaveling sampai sekarang pun tidak dapat apa-apa, baik sertifikat maupun tanah yang digarap. Mengenai kerugian yang dialami BGN, dibenarkan oleh HJ, petani yang sekaligus berperan sebagai perantara jual beli. Ia mengatakan bahwa BGN yang membeli 30 sertifikatnya, ternyata tanahnya juga tidak bisa dikerjakan. Dalam hal ini, kesalahan ia timpakan kepada perangkat yang dianggapnya menyalahgunakan kewenangan yang dimiliki.

Keempat, tanah yang telah didapatkan selanjutnya diper-jualbelikan. Alasan tanahnya diperjualbelikan karena adanya kebutuhan masyarakat untuk membiayai pendidikan anak, letak tanah yang jauh sehingga tidak efisien untuk dikerjakan, maupun karena tanahnya kecil sehingga hasil panen yang didapatkan juga tidak signifikan untuk memenuhi kebutuhan hidup petani. Hal ini dikatakan TG (petani penggarap) seperti yang disampaikan di bawah ini:

“Ya karena tanah itu digarap pun nggak mencukupi buat hidup, tempatnya jauh. Perjalanan itu bisa sampai 1 jam, kalau naik motor setengah jam.

Coba bayangkan.... kesel-kesel cuma dapat berapa kandi (baca: karung).

Tapi ya sayangnya itu lho yang saya sesalkan itu kok hanya mendapatkan 35 ubin. Khan untuk apa. Kita ber-ngoyo-ngoyo (baca: bersusah-susah) untuk kehidupan tapi 35 ubin itulah dapat berapa kuintal, paling-paling 2

kandi (baca: karung), paling banyak ya 3 kandi, itu juga belum modalnya.”

(Wawancara, 21/11/2018).

Tentang jual beli lahan, STR (Kades Sidasari) mempunyai pandangan sebagai berikut:

“.... karena warga masyarakat itu kan kadang-kadang dapet 35 ubin (tapi letaknya, pen.) jauh gitu. Rata-rata digarapkan pada warga masyarakat dulu, nanti kalau sudah selesai dioperalihkan hak kepada orang lain. Itu kehendak warga masyarakat seperti itu. Jadi, kita juga tidak bisa istilahnya menghalang-halangi. Nah, karena itu kehendak warga masyarakat yang sebetulnya itu tidak boleh di aturan sertifikat yang sebelum 10 tahun tidak boleh dialihkan. Wong kadang-kadang saya butuh pada njenengan, weslah (baca: ya sudah) tanpa koordinasi dengan desa, tahu-tahu sudah di sampean (tanahnya, pen.). Lah, kita mau menuntut dasarnya apa, itu seperti itu. Jadi keluh kesahnya disitulah. Tapi kadang-kadang warga masyarakat itu seperti itu. Karena pembagiannya 35 ubin jauh, lah mending dijual 5 juta. Uang gratis ini. Kaya gitu, cuma jual namalah.” (Wawancara, 21/11/2018).

Kelima, adanya ketidakjelasan antara pemilik sertifikat dan lahan garapannya. Hal ini berdampak pada munculnya kembali konflik antarmasyarakat maupun antara masyarakat dan para pembeli lahan. Kondisi ini semakin memperkuat sinyalemen bahwa reforma agraria sebagai jalan untuk penyelesaian konflik agraria ternyata tidak terjadi di Cipari. Hal ini dikatakan oleh SRW (SeTAM) yang menyebutkan bahwa banyak orang yang menerima sertifikat tetapi tidak mempunyai lahannya, atau tidak bisa mengolah lahannya karena lahan tersebut sudah dikerjakan orang lain. Ketidakjelasan tentang sertifikat dan tanah yang dimiliki ternyata juga terjadi pada pembeli lahan berinisial SD.

“...sertifikate kula ming nyekel nek mboten salah sedoso, tapi nggih mboten matrap, lokasine teng mriki, gambare teng sertifikat padane teng pojok mriko, teng sebelah mriko, kadus niku hehehe. Jenengane nggih

sedoyo tiyang Mekarsari. Amburadullah. Mas BGN juga nyekel kados niku. Sertifikat niku sing kulo nandatangani kalih sinten mawon, mboten ngertia disade kalih Pak Haji BLS, jumlahe 64 apa 62 kaveling. Nah, terkecuali nek sing tumbase teng Pak WSR langsung kados niku kan Pak LKN tumbas teng Pak WSR langsung, niku nggih matrap nganu sertifikate.

Tapi nggih sik kurang niku tapi mboten katah kurange.” (Sertifikatnya saya memegang kalau tidak salah sepuluh. Tapi yang tidak pas, lokasinya di sini tapi disertifikat tertera di pojok, seperti itu hehehe. Namanya yang semua orang Mekarsari. Mas BGN juga memegang sepuluh. Jadi sertifikat yang saya tanda tangani dulu. Tidak tahunya sudah dibeli pak Haji BLS. Jumlahnya 64 atau 62 kaveling. Nah, kecuali kalau belinya di Pak WSRlangsung, itu pas antara letak tanah dan sertifikatnya. Tapi ya yang kurang itu masih banyak sekali. (Wawancara, 05/12/2018)

Keenam, imbas dari ketidakjelasan antara pemilik sertifikat dan lahan garapan membuat pemerintah desa kesulitan untuk memungut pajak. Situasi ini berakibat setiap tahunnya pihak pemerintah desa harus menanggung utang dari pajak yang harusnya dibayar oleh pemilik lahan. Hal tersebut dituturkan oleh SUT (petani penggarap) yang mengetahui posisi pemerintahan desa:

“Sampai sekarang, Pemerintah Desa Mekarsari setiap tahunnya itu nombokin (baca: menanggung) pajak tanah sampai 16 juta per tahun karena tidak jelas siapa pemegang sertifikat dan siapa penguasa lahan yang sah. 16 juta tiap tahun apanggakklenger, pajak itu kan harus dibayar. Itu kan misal ini tanah, sertifikatnya melalui berapa kali oranglah, limpahan-limpahan, jadi khannggak jelas. Ketika dia mau nagih ini pemiliknya siapa, itu mungkin sebenarnya ada yang punya tapi nggak mau bayar pajak karena tidak terdeteksi siapa yang punya, ‘ya saya nggak mau bayar wong cuma menerima sertifikat tok, nggak garap sawahnya, ujarnya.”

(Wawancara, 21/11/2018).

Ketujuh, secara politik, kasus jual beli lahan ini sangat berpengaruh pada upaya SeTAM untuk memperjuangkan kasus tanah lainnya. Kasus tanah yang dihadapi SeTAM tidak hanya

kasus di Cipari. Masih banyak kasus lainnya yang membutuhkan dukungan pemerintah untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Dengan adanya jual beli lahan dalam kasus Cipari, membuat pemerintah mempunyai alasan pembenar untuk tidak menyelesaikan kasus-kasus lainnya. Mengenai hal tersebut, SLH (SeTAM) menjelaskan:

“... karena adanya jual beli lahan, sehingga kalau mau memperjuangkan sisanya itu sudah habis energinya. Khawatirnya ketika memperjuangkan kembali nanti kena seperti ini lagi. Organisasi tani ada kekhawatiran seperti itu. Akhirnya sisanya sampai sekarang sebenarnya ini masih ada PR, dari jumlah luasan yang diminta masyarakat 550 hektare pemerintah baru mengeluarkan 290 hektare. Ini khan masih luas, masih ada sisa. Lah kalo 290 hektare itu sudah berjalan mulus sesuai kriteria dan mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat, tidak terjadi jual beli lahan, akan mudah mengurus sisanya. Tapi kami sebagai organisasi tanimerasa bersalah juga. Artinya masyarakat sudah lelah-lelah minta lahan, sudah diperjuangkan, tapi ketika sudah diserahkan ke masyarakat malah diperjualbelikan. Terus terang kami sangat malulah terhadap pola pikir masyarakat yang seperti itu.” (Wawancara, 21/11/2018).

Hal ini juga dibenarkan oleh SUT (petani penggarap). Ia mengatakan bahwa akibat dari buruknya persoalan tanah tersebut, salah seorang politisi yang turut memperjuangkan hak atas tanah bagi penggarap, BS, terpaksa menanggung malu karena adanya proses jual beli lahan tanah hasil redistribusi.

Berdasarkan berbagai gambaran permasalahan tersebut, terlihat bahwa dari masa ke masa persoalan tanah perkebunan di Cipari tersebut tidak memberikan implikasi yang baik bagi masyarakat, termasuk di dalamnya implementasi reforma agraria yang dijalankan di era SBY.

Bila kita melihat lebih jauh tentang kebijakan pertanahan di era SBY, maka bukan hanya persoalan PPAN yang mendapat

kritik tajam. Terdapat beberapa kebijakan lain yang dipandang oleh masyarakat sipil sebagai upaya perampasan tanah, alih-alih melakukan reforma agraria untuk kesejahteraan rakyat.

Salah satu contoh adalah Peraturan Presiden (Perpres) No. 36/2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keberadaan Perpres ini bagi pemerintah merupakan upaya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur diperlukan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka mencapai percepatan pembangunan infrastruktur tersebut, diperlukan dukungan kemudahan pembebasan lahan.

Namun demikian, sesaat setelah Presiden SBY menandatangani Perpres pada 3 Mei 2005, tidak lama kemudian muncul berbagai macam kritik bahkan demonstrasi secara masif. Perhimpunan

Namun demikian, sesaat setelah Presiden SBY menandatangani Perpres pada 3 Mei 2005, tidak lama kemudian muncul berbagai macam kritik bahkan demonstrasi secara masif. Perhimpunan