• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BAHAN PENGIKAT NATTRIUM KARBOKSIMETILS SELLULLOSA TERHADAP FORMULA TABLET HISAP KSTRAK ETANOl DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH BAHAN PENGIKAT NATTRIUM KARBOKSIMETILS SELLULLOSA TERHADAP FORMULA TABLET HISAP KSTRAK ETANOl DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus) SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus."

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

1

A. Latar Belakang Masalah

Staphyllococcus aureus merupakan bakteri Gram positif yang merupakan

salah satu bakteri yang banyak menyebabkan penyakit. Bakteri Staphylococcus

umumnya tumbuh pada bagian tubuh manusia termasuk hidung, tenggorokan, kulit.

Organisme ini dapat berasal dari orang yang mengolah makanan yang merupakan

penular atau penderita infeksi paling umum, dan lamanya terinfeksi hanya sebentar

(24 jam sampai 48 jam) maka hampir pada kasus ini terjadi kesembuhan total

(Irianto, 2006). Sekarang ini masih dikembangkan uji antibakteri menggunakan

tanaman. Salah satu contoh tanaman yang terbukti aktivitas sebagai antibakteri

terhadap Staphylococcus aureus adalah Phyllanthusacidus (ceremai) (Jagessar dkk., 2008).

Ceremai banyak digunakan dalam masyarakat, kegunaan pada daun yaitu

untuk urus-urus dan obat mual. Akarnya untuk obat asma dan daun muda untuk obat

sariawan. Daun, kulit batang dan kayu ceremai mengandung polifenol, saponin,

flavonoid, dan tannin, disamping itu kayunya juga mengandung alkaloid (Hutapea,

1991). Polifenol dari tanaman ceremai merupakan senyawa yang aktif sebagai

antibakteri Staphylococcus aureus (Budiyanti, 2009).

Umumnya masyarakat menggunakan daun ceremai masih dalam bentuk

sederhana seperti seduhan atau rebusan. Cara penyajian itu kurang disukai oleh

(3)

kenyamanan dan kemudahan dalam penggunaan daun ceremai dapat dibuat dalam

bentuk tablet hisap. Daun ceremai dibuat tablet hisap karena akan digunakan sebagai

obat sariawan dimana tablet hisap bekerja secara lokal di mulut.

Metode dalam pembuatan tablet hisap ada 2 cara yaitu peleburan (Lozenges) dan pengempaan atau kompresi (troches) (Lachman dkk., 1994). Salah satu bahan pengikat dalam pembuatan tablet hisap adalah natrium karboksimetilsellulosa

(CMC-Na). Natrium karboksimetilsellulosa merupakan termasuk kelompok bahan pengikat

polimer, berfungsi memberi daya adhesi pada massa serbuk, serta menambah daya

kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Natrium karboksimetilsellulosa digunakan

sebagai bahan pengikat dapat meningkatkan kekerasan tablet, karena CMC-Na itu

sendiri memiliki kecenderungan untuk mengeras pada penyimpanan (Lachman dkk.,

1994). Natrium karboksimetilsellulosa mempunyai sifat alir jelek namun dapat

diperbaiki dengan metode granulasi basah (Rowe dkk., 2006). Penambahan bahan

pengikat dalam pembuatan tablet hisap dimaksudkan untuk meningkatkan kekerasan

tablet, karena tablet hisap harus lebih keras dibanding tablet biasa. Pada pembuatan

tablet hisap ekstrak daun saga dengan menggunakan konsentrasi 1,5%, 3%, 4,5%, dan

6% bahan pengikat CMC-Na menaikkan kekerasan tablet hisap yaitu 8,67kg, 9,45kg,

10,57kg, dan 11,12kg (Dewi, 2009).

Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh konsentrasi

CMC-Na sebagai bahan pengikat terhadap sifat fisik tablet hisap ekstrak etanol daun

(4)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai

berikut:

1. Bagaimana pengaruh konsentrasi CMC-Na sebagai bahan pengikat terhadap sifat

fisik tablet hisap ekstrak etanol daun ceremai?

2. Apakah tablet hisap ekstrak etanol daun ceremai dengan bahan pengikat CMC-Na

dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus?

C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini yaitu:

1.

Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi CMC-Na terhadap sifat fisik tablet

hisap daun cermai.

2.

Untuk mengetahui tablet hisap ekstrak etanol daun ceremai dengan bahan

pengikat CMC-Na dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphyloccocus

aureus.

D.Tinjauan Pustaka 1. Tanaman Ceremai (Phyllanthus acidus)

a. Klasifikasi tanaman Ceremai

Sistematika tanaman ceremai sebagai berikut:

Divisio : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

(5)

Suku : Euphorbiaceae

Marga : Phyllanthus

Jenis : Phyllanthus acidus ( Hutapea, 1991 ).

b. Kandungan Kimia

Daun, kulit batang dan kayu Phyllanthus acidus mengandung polifenol,

saponin, dan tanin, disamping itu kayunya juga mengandung alkaloid (Hutapea,

1991). Flavonoid yang terkandung yaitu flavon dengan gugus hidroksi pada posisi 4′

dan gugus hidroksi tersubtitusi pada posisi 7,3 atau 3,5,7,3′,4′ pentahidroksi flavon

(kuersetin) dan 5,7,4′ trihidroksi flavonol atau 3,5,7,4′ tetrahidroksi flavon

(Kusmayani, 1998). Kandungan kimia sebagai antibakteri setelah dilakukan

bioautografi adalah polifenol (Budiyanti, 2009).

c. Manfaat

Daun Phyllanthus acidus berkhasiat untuk urus-urus dan obat mual, akarnya untuk obat asma dan daun muda untuk sariawan (Hutapea, 1991). Ekstrak etanol daun

ceremai mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (Budiyanti, 2009).

2. Ekstrak

Metode pembuatan ekstrak

Metode pembuatan ekstrak yang umum digunakan antara lain maserasi,

perkolasi, dan sokletasi. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti,

sifat dari bahan metahobat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode

(6)

Dalam penelitian ini digunakan metode maserasi. Maserasi merupakan cara

penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk

simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan

masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan dan

karena adanya perbedaan kosentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang

di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang

sehingga terjadi kesinambungan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel

(Anonim, 1986).

Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif

yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah

mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, sitrak dan

lain-lain.Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol atau pelarut

lain. Bila cairan penyari digunakan digunakan air maka untuk mencegah timbulnya

kapang dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian

(Anonim, 1986).

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan

peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian maserasi

adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Anonim, 1986).

Cairan penyari yang baik harus memenuhi kriteria yaitu murah dan mudah

diperoleh, stabil fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak

mudah terbakar, selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat dan diperbolehkan oleh

(7)

absorbsinya baik dan etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan

(Anonim, 1986), dan merupakan salah satu cairan penyari yang banyak digunakan.

3. Tablet a. Tablet hisap

Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan

obat, umumnya sebagai bahan dasar beraroma dan manis yang dapat membuat tablet

melarut atau hancur perlahan dalam mulut (Anonim, 1995). Pada umumnya tablet

hisap dibuat dengan cara menggabungkan obat dalam suatu bahan dasar kembang

gula yang keras dan beraroma yang menarik. Lozenges biasanya dibuat dengan

mengempa tapi biasanya dibuat dengan cara peleburan atau dengan proses penuangan

kembang gula, sedangkan troches dibuat dengan cara mengempa seperti membuat

tablet pada umumnya. Karakteristik dari kedua tablet ini adalah tidak hancur dalam

jangka waktu 30 menit atau kurang (Banker and Anderson, 1986).

a. Metode Pembuatan Tablet hisap

Ada dua metode pembuatan tablet hisap yaitu, metode peleburan dan

metode pengempaan atau kompresi. Tablet hisap yang diproduksi dengan cara

peleburan disebut dengan lozenges sedangkan yang diproduksi dengan

pengempaan atau kompresi disebut dengan troches. Metode pengempaan atau

kompresi dibagi menjadi 3 yaitu:

1) Metode Granulasi Basah

Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam

memproduksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pembuatan

tablet dengan metode ini dapat dibagi sebagai berikut: menimbang dan mencampur

(8)

lebih halus, pengeringan, pengayakan granul kering, pencampuran bahan pelicin dan

bahan penghancur, pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel, 1981).

2) Metode Granulasi Kering

Metode granulasi kering dibentuk oleh pelembaban atau penambahan bahan

pengikat ke dalam campuran serbuk obat tetapi dengan cara memadatkan massa

dalam jumlah yang besar dari campuran serbuk, dan setelah itu memecahkannya dan

menjadikan pecahan-pecahan ke dalam granul yang lebih kecil. Metode ini khususnya

untuk bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan metode granulasi basah, karena

kepekaannya terhadap uap air atau karena mengeringkannya diperlukan temperatur

yang dinaikkan (Ansel, 1989).

3) Metode Cetak Langsung

Metode cetak langsung berlaku untuk proses umum pada pembuatan

tablet-tablet yang dikompresi ketika tidak ada perlakuan pendahuluan atau hanya perlakuan

kecil yang dibutuhkan sebelum memasukkan bahan ke dalam mesin tablet. Beberapa

bahan mempunyai bahan karakteristik pengaliran bebas dan pengikatan yang penting

(Remington, 1995).

Beberapa granul bahan kimia seperti kalium, kalium iodide, ammonium

klorida dan metenamin, memiliki sifat mudah mengair sebagaimana juga sifat-sifat

kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa

memerlukan granulasi basah atau granulasi kering (Ansel, 1981).

Secara umum tujuan dari granulasi adalah memperbaiki keseragaman

distribusi zat berkhasiat, memperbaiki sifat alir dari bahan-bahan yang digunakan

(9)

b. Bahan Tambahan Tablet

Dalam pembuatan tablet selain zat aktif juga digunakan bahan tambahan yang

inert, yang dicampur bersama bahan obatnya. Bahan pembantu tablet harus bersifat netral, tidak berbau, tidak berasa, dan sedapat mungkin tidak berwarna (Voigt, 1984).

Untuk pembuatan tablet diperlukan zat tambahan berupa:

1) Bahan pengisi (Filter/Diluent)

Bahan pengisi adalah zat inert yang ditambahkan pada zat aktif pada jumlah

yang cukup untuk dibuat sediaan obat sehingga diperoleh berat yang rasional

(lachman, 1994). Pengisi diperlukan jika dosis obat tidak cukup untuk membuat bulk.

Pada obat berdosis tinggi, bahan pengisi tidak diperlukan lagi (misalnya aspirin dan

antibiotik tertentu) (Banker and Anderson, 1986).

Bahan pengisi yang biasa digunakan antara lain adalah laktosa, sukrosa,

amilum, kaolin, kaolin karbonat, dekstrosa, manitol, sorbitol, sellulosa, dan bahan

lain yang cocok (Lachman dkk., 1994).

2) Bahan pengikat (Binder)

Bahan pengikat diperlukan dalam pembuatan tablet dengan maksud untuk

meningkatkan kohesivitas antar partikel serbuk sehingga memberikan kekompakan

dan daya tablet (Voigt, 1984). Zat pengikat ditambahkan dalam bentuk kering atau

cairan selama granulasi basah untuk membentuk granul atau menaikkan kekompakan

kohesi bagi tablet yang tidak dicetak langsung (Banker and Anderson, 1986).

Penggunaan bahan pengikat yang terlalu banyak akan menghasilkan massa

granul yang terlalu basah dan granul yang terlalu keras, sehingga tablet yang

(10)

pengikat akan menghasilkan daya rekat yang lemah, sehingga tablet akan rapuh dan

terjadi capping (Parrott, 1971).

3) Bahan pemanis

Bahan pemberi rasa sangat penting dalam pembuatan tablet hisap. Apa yang

dirasa mulut saat menghisap tablet sangat terkait dengan penerimaan konsumen

nantinya dan berarti juga sangat berpengaruh terhadap kualitas produk. Dalam

formulasi tablet hisap, bahan perasa yang digunakan biasanya juga merupakan bahan

pengisi tablet hisap tersebut, seperti manitol (Peters,1989).

4) Bahan pelicin

Bahan ini digunakan untuk memacu aliran serbuk atau granul dengan jalan

mengurangi gesekan diantara partikel-partikel (Lachman dkk., 1994).

c. Masalah dalam pembuatan Tablet

Pada pembuatan tablet sering timbul masalah-masalah yang menyebabkan

tablet yang dihasilkan tidak memenuhi persyaratan kualitas, masalah-masalah

tersebut antara lain:

1) Capping dan Lamination

(11)

2) Picking atau sticking

Picking adalah keadaan yang menggambarkan sebagian permukaan tablet menempel pada punch. Sticking adalah adanya granul yang melekat pada die atau

punch. 3) Motling

Motling adalah terjadinya warna yang tidak merata pada permukaan tablet, disebabkan perbedaan obat atau hasil uraiannya dengan bahan tambahan, juga karena

terjadinya migrasi obat selama pengeringan atau adanya bahan tambahan berupa

larutan berwarna yang tidak terbagi merata (Gunsel and Kanig, 1976). d. Monografi Bahan Tablet Hisap

1. Natrium Karboksimetilsellulosa (CMC-Na)

Natrium karboksimetilsellulosa merupakan termasuk kelompok bahan

pengikat polimer, berfungsi memberi daya adhesi pada massa serbuk, serta

menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Natrium

karboksimetilsellulosa digunakan sebagai bahan pengikat dapat meningkatkan

kekerasan tablet, karena CMC-Na itu sendiri memiliki kecenderungan untuk

mengeras pada penyimpanan (Lachman dkk., 1994).

Natrium karboksimetilsellulosa adalah garam natrium dari polikarboksimetil

eter sellulosa, mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 9,5% natrium

(Na) dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Mudah terdispersi dalam air

membentuk larutan koloidal, tidak larut dalam etanol dalam eter dan dalam pelarut

organik lain (Anonim, 1995). Konsentrasi sebagai bahan pengikat 1-6% (Rowe dkk.,

(12)

2. Manitol

Manitol mengandung tidak kurang dari 96,0% dan tidak lebih dari 101,5%

C6H14O6, dihtung terhadap zat yang telah dikeringkan. Manitol berupa serbuk hablur

atau granul mengalir bebas, tidak berbau, rasa manis. Mudah larut dalam air, larut

dalam basa, sukar larut dalam piridina, sangat sukar larut dalam etanol, praktis tidak

larut dalam eter (Anonim, 1995). Manitol digunakan sebagai bahan pengisi tablet

(Lachman, 1994).

3. Aerosil

Nama lain dari aerosil adalah acidum silicum colloidale, silica precipitate,

silicon dyoxidum. Aerosil berupa serbuk putih, mengkilap, tidak berbau, tidak berasa, aerosil (SiO2), mempunyai bobot molekul 60,08 dan mengandung tidak kurang dari

98% SiO2 (Anonim, 1995). Aerosil digunakan sebagai pengering ekstrak adalah 5%

dari berat ekstrak (Anonim, 2007).

4. Talk

Talk adalah magnesium silikat dan hidrat alam, kadang-kadang mengandung

sedikit aluminiumsilikat. Talk berupa serbuk hablur sangat halus, putih atau kelabu,

berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran (Anonim, 1995). Talk

memiliki 3 keuntungan antara lain dapat berfungsi sebagai bahan pengatur aliran,

bahan pelicin dan bahan pemisah hasil cetakan (Voigt, 1984). Talk digunakan sebagai

glidant dan lubricant pada konsentrasi 1,0-10% (Kibbe, 2006). 5. Magnesium stearat

Magnesium stearat merupakan senyawa magnesium dengan campuran

(13)

magnesium palmitat dalam berbagai perbandingan tidak kurang dari 6,8% dan tidak

lebih dari 8,3% MgO. Magnesium stearat merupakan serbuk halus, putih, berbau

lemak, khas mudah melekat dikulit, bebas dari butiran. Kelarutan tidak mudah larut

dalam air, dalam etanol, dalam eter (Anonim, 1995). Magnesium stearat digunakan

sebagai bahan pelicin pada konsentrasi 0,25-5,0% (Luner dan Allen, 2006).

3. Tinjauan tentang bakteri Staphylococcus aureus a. Bakteri Staphylococcus aureus

Klasifikasi Staphylococcus aureus (Salle, 1991).

Kingdom : Protophyta

Diviso : Schyzomycetes

Ordo : Eubacteriales

Famili : Micrococcaceae

Genus : Staphylococcus

Species : Staphylococcus aureus

Stafilokokus berasal dari perkataan staphyle yang berarti kelompok buah anggur dan kokus yang berarti benih bulat. Bakteri ini ini sering ditemukan sebagai

bakteri flora normal pada kulit dan selaput lendir pada manusia. Bakteri ini dapat

menjadi penyebab infeksi baik pada manusia maupun pada hewan (Anonim, 1994).

Bakteri ini berbentuk sferis, bila menggerombol dalam susunan yang tidak teratur

mungkin sisinya agak rata karena tertekan. Diameter bakteri antara 0,8-1,0 mikron

(Anonim, 1994).

Bakteri ini bersifat anaerob fakultatif dan dapat tumbuh dalam udara yang

hanya mengandung hidrogen dan pH optimum untuk pertumbuhan ialah 7,4 pada

(14)

dan konsistensinya lunak. Warna khas ialah kuning kemasan, hanya intesitas

warnanya dapat bervariasi. Pada lempeng agar darah umumnya koloni lebih besar

pada varietas tertentu koloninya dikelilingi oleh zona hemolisis (Anonim, 1994).

b. Uji aktivitas antibakteri

Pengujian terhadap aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan berbagai cara,

yaitu :

1. Agar difusi

Media yang dipakai adalah agar Mueller Hinton. Pada metode difusi ini ada

beberapa cara, yaitu:

a. Cara Kirby Bauer

Suspensi bakteri yang telah ditambahkan akuades hingga konsentrasi 108 CFU

per mL dioleskan pada media agar hingga rata, kemudian kertas samir (disk)

diletakkan di atasnya. Dibaca hasilnya:

1) Radical zone yaitu suatu daerah di sekitar disk dimana sama sekali tidak ditemukan adanya pertumbuhan bakteri. Potensi antibakteri diukur dengan mengukur

diameter dari zona radikal.

2) Irradical zone yaitu suatu daerah di sekitar disk dimana pertumbuhan bakteri dihambat oleh antibakteri, tetapi tidak dimatikan (Jawetz et al., 2001).

b. Cara Sumuran

Suspensi bakteri yang telah ditambahkan akuades hingga konsentrasi 108 CFU

per mL dioleskan pada media agar hingga rata, media agar dibuat sumuran kemudian

diteteskan larutan antibakteri, diinkubasikan pada 37ºC selama 18-24 jam. Hasilnya

(15)

c. Cara Pour Plate

Suspensi bakteri yang telah ditambahkan dengan akuades dan agar base,

dituang pada media agar Mueller Hinton, disk diletakkan di atas media. Hasilnya dibaca sesuai standar masing-masing antibakteri (Jawetz et al., 2001).

2. Dilusi Cair/Dilusi Padat

Metode dilusi cair adalah metode untuk menentukan konsentrasi minimal dari

suatu antibakteri yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme. Pada

prinsipnya antibakteri diencerkan sampai diperoleh beberapa konsentrasi. Pada dilusi

cair, masing-masing konsentrasi obat ditambah suspensi kuman dalam media.

Sedangkan pada dilusi padat tiap konsentrasi obat dicampur dengan media agar,

kemudian ditanami bakteri. Konsentrasi terendah yang dapat menghambat

pertumbuhan bakteri ditunjukkan dengan tidak adanya kekeruhan disebut Konsentrasi

Hambat Minimal (KHM) atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC) (Anonim,

1994).

E. Landasan Teori

Ekstrak heksan, kloroform, etil asetat, dan etanol daun ceremai yang diuji

menggunakan metode stokes disc diffusion, well diffusion, streak plate dan dilusi cair mempunyai aktivitas anti jamur terhadap Candida albicans serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, dimana daya antimikrobia ekstrak etanol lebih besar dari etil asetat, kloroform, dan (Jagessar

dkk., 2008). Ekstrak etanol daun cerernai mempunyai aktivitas antibakteri terhadap

(16)

Ekstrak etanol daun ceremai yang diuji menggunakan metode disc diffusion memiliki zona hambatan 22 mm2 untuk E. coli dan S. aureus zona hambatannya 21

mm2 dan 20 mm2 untuk C. albicans. Ekstrak etanol daun ceremai yang diuji

menggunakan metode dilusi cair memiliki nilai Kadar Hambat Minimum (KHM)

sebesar 0,18 mg/10 ml (Jagessar dkk., 2008). Ekstrak etanol daun ceremai diuji

bioautografi menunjukkan polifenol sebagai senyawa yang berpotensi sebagai

antibakteri Staphylococcus aureus (Budiyanti, 2009). Polifenol yang merupakan senyawa fenol bekerja dengan cara mempresipitasikan protein sel bakteri (Robbers

dkk., 1996).

Tablet hisap dibuat dengan tujuan agar bahan aktif dapat dilepaskan secara

perlahan di rongga mulut dan untuk mendapatkan efek lokal atau sistemik yang lama

(Anonim, 2003). Tablet hisap yang baik memiliki kekerasan yang lebih tinggi dari

pada tablet biasa yaitu 10-20 kg. Oleh karena itu diperlukan bahan pengikat untuk

menghasilkan tablet hisap yang memenuhi standar. Semakin tinggi konsentrasi bahan

pengikat maka akan menaikkan kekerasan dan menurunkan kerapuhan tablet

(Bandelin, 1989). CMC-Na digunakan sebagai bahan pengikat sediaan tablet

digunakan konsentrasi 1,0%-6,0% (Rowe dkk., 2006). Pada penelitian sebelumnya

(Setyowati, 2006) semakin tinggi konsentrasi bahan pengikat CMC-Na akan

menaikkan kekerasan dan menurunkan kerapuhan. Hal ini juga dibuktikan pada

pembuatan tablet hisap ekstrak daun saga dengan menggunakan konsentrasi 1,5%,

3%, 4,5%, dan 6% bahan pengikat CMC-Na menaikkan kekerasan tablet hisap yaitu

(17)

F. Hipotesis

Peningkatan kosentrasi CMC-Na dapat meningkatkan kekerasan dan waktu

melarut tablet hisap serta menurunkan kerapuhan tablet. Ekstrak etanol daun ceremai

yang diformulasikan dalam sediaan tablet hisap dengan bahan pengikat CMC-Na

Referensi

Dokumen terkait

Senyawa kimia apa yang terkandung di dalam ekstrak etil asetat daun ceremai.. (Phyllanthus acidus (L) Skeels yang memiliki aktivitas