SKRIPSI
Oleh :
DEVI UTAMI YULISTYANTI
K 100 060 150
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
SURAKARTA
1
A. Latar Belakang Masalah
Tanaman ceremai (Phyllanthus acidus) merupakan tanaman obat yang telah
dimanfaatkan masyarakat sebagai urus-urus, obat mual, sariawan, dan akarnya untuk
obat asma (Hutapea, 1991). Menurut Jagessar dkk. (2008) ekstrak daun ceremai dapat
menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur patogen pada mulut, seperti
Staphylococcus aureus dan Candida albicans. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak
etanol daun ceremai terbukti mempunyai daya antimikrobia dan antijamur yang lebih
besar daripada ekstrak etil asetat, klorofrom, dan heksan. Ekstrak etanol daun ceremai
yang diuji dengan metode disc diffusion memiliki zona hambatan 21 mm2 terhadap
bakteri Staphylococcus aureus dan Candida albicans zona hambatannya sebesar 20
mm2, sedangkan ekstrak etanol daun ceremai yang diuji dengan metode dilusi cair
memiliki nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) sebesar 0,18 mg/10 ml (Jagessar
dkk., 2008). Menurut Budiyanti (2009) ekstrak etanol daun ceremai memiliki nilai
Kadar Bunuh Minimum (KBM) sebesar 0,5% terhadap bakteri Staphylococcus
aureus. Hasil uji bioautografi menunjukkan bahwa senyawa polifenol dalam ekstrak
etanol daun ceremai mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus
(Budiyanti, 2009). Polifenol merupakan senyawa fenol yang bekerja dengan cara
mempresipitasikan protein sel bakteri (Robbers dkk., 1996). Dalam hasil skrining
(Purwarini, 2001), flavonoid (Kusmayani, 1998), polifenol dan kayunya mengandung
alkaloid (Hutapea, 1991).
Kebanyakan masyarakat memanfaatkan daun ceremai dengan cara diseduh
atau direbus, cara ini kurang efektif dalam penyajian. Sehingga pada penelitian ini,
peneliti mencoba membuat sediaan daun ceremai dalam bentuk tablet hisap sehingga
mempermudah masyarakat dalam mengkonsumsinya dan lebih praktis.
Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang praktis untuk dikembangkan
dalam formula ekstrak obat tradisional (Sugiyartono dkk., 2003). Umumnya tablet
hisap ditunjukkan untuk pengobatan iritasi lokal, infeksi mulut atau tenggorokan.
Salah satu khasiat daun ceremai sebagai obat sariawan sehingga pembuatan tablet
hisap diharapkan dapat memberikan efek lokal pada mulut dan tenggorokan. Tablet
hisap ini dipilih karena sebagai salah satu inovasi baru untuk merintis jalan bagi
pengembangan obat-obat tradisional, bentuk sediaan ini diharapkan dapat disukai
karena mudah dalam penyimpanan dan mudah dalam penggunaannya. Bentuk
sediaan ini juga diharapkan dapat memberikan takaran dosis zat aktif yang lebih tepat
dan benar (Banker and Anderson, 1986). Pembuatan tablet hisap merupakan alternatif
untuk pasien yang mengalami kesulitan menelan dan menghindari rasa pahit atau
tidak enak pada obat.
Pada pembuatan tablet hisap diperlukan bahan pengikat untuk meningkatkan
kekuatan antar granul dan juga memperbaiki tekstur permukaan tablet ketika melarut
di dalam rongga mulut (Peters, 1980). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan
tragakan, lebih mudah dipersiapkan dalam bentuk larutan dan tablet yang terbentuk
kerasnya sama dengan bila memakai akasia atau tragakan (Voigt, 1984). Pada
umumnya gelatin digunakan sebagai bahan pengikat pembuatan tablet hisap, karena
gelatin memberikan rasa lembut dan menghasilkan tablet yang lebih kompak dan
keras sehingga dapat melarut secara perlahan-lahan di dalam mulut (Sulaiman, 2007).
Kenaikan konsentrasi gelatin mempengaruhi sifat fisik tablet hisap ekstrak
kemangi antara lain meningkatkan kekerasan tablet dan menurunkan kerapuhan pada
konsentrasi tinggi (Yusiandre, 2008). Gelatin sebagai bahan pengikat dengan
konsentrasi 1-3% memberikan kekerasan tablet hisap yang tinggi 6-9 kg (Sugiyartono
dkk., 2003). Pada umumnya bahan pengikat gelatin dengan konsentrasi tinggi dapat
meningkatkan kekerasan, waktu melarut, dan menurunkan kerapuhan tablet hisap.
Gelatin pada pembuatan tablet mempunyai konsentrasi tertentu yang berbeda-beda
antara lain 2-10% (Bandelin, 1989).
Maka berdasarkan keterangan di atas, perlu dilakukan penelitian tentang
pengaruh konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat terhadap sifat fisik tablet hisap
ekstrak etanol daun ceremai (Phyllanthus acidus) dan efeknya terhadap bakteri
Staphylococcus aureus.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi bahan pengikat gelatin terhadap sifat fisik tablet
2. Apakah tablet hisap ekstrak etanol daun ceremai (Phyllanthus acidus) dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui pengaruh konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat terhadap sifat
fisik tablet hisap ekstrak etanol daun ceremai (Phyllanthus acidus).
2. Mengetahui tablet hisap ekstrak etanol daun ceremai (Phyllanthus acidus) dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus.
D. Tinjauan Pustaka
1. Tanaman Ceremai
a. Klasifikasi Tanaman Ceremai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels)menurut Hutapea
(1991) yaitu :
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Euphorbiales
Suku : Euphorbiaceae
Marga : Phyllanthus
b. Kandungan Kimia
Daun ceremai mengandung flavonoid (Kusmayani, 1998), saponin, dan tanin
(Purwarini, 2001), polifenol, disamping itu kayunya juga mengandung alkaloid
(Hutapea, 1991). Berdasarkan hasil uji bioautografi kandungan daun ceremai yang
mempunyai aktivitas antibakteri adalah polifenol (Budiyanti, 2009).
c. Khasiat
Daun ceremai berkhasiat untuk urus-urus dan obat mual, akarnya untuk obat
asma, daun muda untuk sariawan (Hutapea, 1991). Ekstrak etanol daun ceremai
sebagai antibakteri (Budiyanti, 2009) dan antijamur (Jagessar dkk., 2008). Daun
ceremai berbau khas aromatik dan tidak berasa (Anonim, 1989).
2. Ekstrak
a. Pengertian Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif
dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, hampir
semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian
hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Anonim, 1995). Penyarian merupakan
peristiwa perpindahan massa zat aktif yang semula berada di dalam sel ditarik oleh
cairan penyari sehingga zat aktif larut dalam cairan penyari. Pada umumnya
penyarian akan bertambah baik bila serbuk simplisia yang bersentuhan dengan
penyari semakin banyak (Anonim, 1986). Berdasarkan sifatnya ekstrak dapat dibagi
menjadi empat yaitu ekstrak encer, ekstrak kental, ekstrak kering, dan ekstrak cair.
Ada beberapa metode pembuatan ekstrak yang umum digunakan antara lain :
tersebut disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari yang baik (Anonim,
1986).
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar).
Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi
pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontinyu
(terus-menerus). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut
setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya (Anonim, 2000).
b. Cairan Penyari
Kriteria cairan penyari yang baik antara lain murah dan mudah didapat, stabil
secara kimia dan fisika, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah
terbakar, selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki dan tidak
mempengaruhi zat berkhasiat (Anonim, 1986). Cairan penyari yang dapat digunakan
adalah air, etanol, etanol–air atau eter (Anonim, 1979). Ekstrak daun ceremai adalah
ekstrak yang diperoleh dari penyarian dengan metode maserasi dengan cairan penyari
etanol. Menurut Anonim (1986) etanol dipilih karena lebih efektif, tidak beracun,
netral, absorbsinya baik dan etanol dapat bercampur dengan air pada segala
perbandingan.
3. Tablet Hisap
Tablet hisap adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat,
umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang dapat membuat tablet
untuk mencegah dan mengobati infeksi rongga mulut dan ruang rahang. Sebagai
bahan obatnya didominasi oleh antiseptik, desifektan, anestetik lokal, dan
ekspektoran (Voigt, 1984).
Pada umumnya tablet hisap dibuat dengan cara menggabungkan obat dalam
suatu bahan dasar kembang gula yang yang keras dan beraroma menarik. Lozenges
biasanya dibuat dengan mengempa tapi biasanya dibuat dengan cara peleburan atau
dengan proses penuangan kembang gula, sedangkan troces dibuat dengan cara
mengempa seperti membuat tablet pada umumnya. Karakteristik dari kedua tablet ini
adalah tidak hancur dalam jangka waktu 30 menit atau kurang (Banker and Anderson,
1986).
Persyaratan mutu fisik tablet hisap berbeda dengan tablet yang biasa,
perbedaan tersebut diantaranya adalah kekerasan lebih tinggi (>10 kg), melarut
perlahan dalam mulut (sekitar 5-10 menit) (Banker and Anderson, 1986).
a. Bahan Tambahan dalam Pembuatan Tablet Hisap
1) Bahan Pengisi (diluent)
Bahan pengisi ditambahkan dalam formula tablet untuk memperbesar volume
tablet sehingga memungkinkan pencetakan dan peracikan jumlah obat yang sangat
sedikit dan dengan bahan pengisi ini maka akan menjamin tablet memiliki ukuran
atau massa yang dibutuhkan 0,1-0,8 g. Bahan pengisi yang biasa digunakan dalam
penambahan tablet hisap adalah manitol dan glukosa (Voigt, 1984). Jika kandungan
zat aktif kecil, sifat tablet secara keseluruhan ditentukan oleh bahan pengisi yang
2) Bahan Pengikat (binder)
Bahan pengikat dalam jumlah yang cukup dapat ditambahkan dalam bahan
yang akan dibuat tablet melalui bahan pelarut yang digunakan saat granulasi (Voigt,
1984). Bahan pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering dan bentuk larutan
akan tetapi lebih efektif jika ditambahkan dalam bentuk larutan (Sulaiman, 2007).
Bahan pengikat yang biasa digunakan antara lain gom akasia, gelatin, sukrosa,
povidon, metilselulosa, karboksimetilselulosa, dan pasta pati terhidrolisis (Anonim,
1995).
Jika bahan pengikat yang digunakan dalam formulasi terlalu sedikit akan
dihasilkan granul yang rapuh. Sebaliknya, terlalu banyak bahan pengikat akan
dihasilkan granul yang keras (Aulton, 1994).
3) Bahan Pelicin (lubricant)
Bahan pelicin memudahkan pengeluaran tablet keluar ruang cetak melalui
pengurangan gesekan antara dinding dalam lubang ruang cetak dengan permukaan
sisi tablet. Hasil terbaik pada saat ini dapat diperoleh melalui bahan pelicin talk atau
talk disilikonasi yaitu talk yang dijenuhkan dengan emulsi silikon (Voigt, 1984).
Bahan pelicin yang biasa digunakan adalah talk, magnesium stearat, asam stearat,
kalsium stearat, natrium stearat, likopodium, lemak, dan parafin cair (Banker and
Anderson, 1986).
Pada penambahan bahan pelicin sebaiknya ditambahkan ke granulat dalam
bentuk kering (Voigt, 1984). Pelicin digunakan untuk memacu aliran serbuk atau
granul dengan jalan mengurangi gesekan di antara partikel-partikel (Banker and
4) Bahan Pemberi Rasa dan Pemanis
Flavors digunakan untuk memberi rasa atau meningkatkan rasa pada
tablet-tablet yang dikehendaki larut atau hancur dimulut sehingga lebih dapat diterima oleh
konsumen. Flavors dapat ditambahkan dalam bentuk padat (spray dried flavors) atau
dalam bentuk minyak atau larutan (water soluble) flavors. Dalam bentuk padat lebih
mudah penangannya dan secara umum lebih stabil daripada bentuk minyak
(Sulaiman, 2007). Bahan pemberi rasa yang biasa digunakan adalah cherry, lemon,
dan citrus flavors (Peters, 1980). Macam-macam gula yang biasa digunakan adalah
manitol, sakarin, dan sukrosa (Banker and Anderson, 1986). Dalam formula tablet
hisap, bahan perasa yang digunakan biasanya juga merupakan bahan pengisi tablet
hisap, seperti manitol (Peters, 1980).
b. Metode Pembuatan Tablet
1. Metode Granulasi Basah
Pembuatan granul tablet dapat dilakukan dengan granulasi basah, metode ini
granul dibentuk dengan jalan mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai
pengganti pengompakan (Banker and Anderson, 1986). Metode granulasi basah ini
merupakan metode yang sering digunakan dalam memproduksi tablet kompresi.
Langkah-langkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode ini dapat
dibagi sebagai berikut: (1) menimbang dan mencampur bahan-bahan; (2) pembuatan
granulasi basah; (3) pengayakan adonan lembab menjadi pellet atau granul; (4)
pengeringan; (5) pengayakan kering; (6) pencampuran bahan pelicin; (7) pembuatan
Keuntungan metode granulasi basah menurut Sheth et al. (1980) antara lain :
a) Meningkatkan kohesivitas dan kompresibilitas serbuk sehingga diharapkan tablet
yang dibuat dengan mengempa sejumlah granul pada tekanan kompresi tertentu
akan menjadi massa yang kompak, mempunyai penampilan bagus, cukup keras
dan tidak rapuh.
b) Serbuk yang memiliki sifat alir yang jelek dapat dibuat dengan menggunakan
metode granulasi basah bisa memperbaiki sifat alir dan kohesi untuk pencetakan
tablet.
c) Zat aktif yang kompaktibilitasnya rendah dalam dosis yang tinggi harus dibuat
dengan metode granulasi basah karena jika digunakan metode cetak langsung
memerlukan banyak eksipien sehingga berat tablet terlalu besar.
d) Sistem granulasi basah dapat mencegah segregasi komponen penyusun tablet
yang telah homogen sebelum proses pencampuran.
2. Metode Granulasi Kering
Metode granulasi kering merupakan salah satu metode yang telah digunakan
selama bertahun-tahun untuk bahan yang sensitif terhadap panas (Aulton, 1994).
Metode granulasi kering dilakukan dengan cara menekan massa serbuk pada tekanan
tinggi sehingga menjadi tablet lebih besar yang tidak berbentuk baik, kemudian
digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan.
Keuntungan metode ini adalah tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses
granulasi (Anonim, 1995). Metode granulasi kering ini khususnya untuk bahan-bahan
uap air atau kerena untuk mengeringkannya diperlukan temperatur yang dinaikkan
(Ansel, 1995).
3. Metode Kempa Langsung
Metode pembuatan tablet secara kempa langsung didefinisikan sebagai proses
pembuatan tablet dengan langsung mengempa campuran serbuk (zat aktif dan
eksipien), dan tidak ada proses sebelumnya kecuali penimbangan dan pencampuran.
Permasalahannya adalah tidak semua bahan dapat di buat menjadi tablet dengan
metode ini. Bahan yang dapat dikempa langsung hanya bahan yang mempunyai sifat
alir dan kompresibilitas yang baik (Sulaiman, 2007). Beberapa granul bahan kimia
seperti kalium, kalium iodide, ammonium klorida, dan metenamin memiliki sifat
mudah mengalir sebagaimana juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk
langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau
granulasi kering. Bahan pengisi yang telah dikembangkan memungkinkan pembuatan
tablet-tablet tambahan tertentu dengan kompresi langsung, sebab pengeluaran udara
dari pengisi pada serbuk mengurangi udara yang terkurung dalam cetakan ketika
tablet dikompresi sehingga mengurangi penyebab terjadinya keretakan dari tablet
setelah dikompresi (Ansel, 1995).
c. Pemeriksaan Sifat Fisik Granul
1) Waktu Alir
Waktu alir merupakan waktu yang diperlukan bila sejumlah granul
dipengaruhi oleh bentuk granul, bobot jenis, keadaan permukaan, dan
kelembabannya. Kecepatan aliran granul sangat penting karena berpengaruh pada
keseragaman bobot tablet. Apabila 100 gram serbuk mempunyai waktu alir lebih dari
10 detik, akan mengalami kesulitan pada saat penabletan (Sheth et al., 1980).
2) Sudut Diam
Sudut diam merupakan sudut maksimal yang mungkin terjadi antara
permukaan suatu tumpukan serbuk dan bidang horizontal. Bila sudut diam lebih kecil
dari 30oC biasanya menunjukkan bahwa bahan dapat mengalir bebas, bila sudutnya
lebih besar atau sama dengan 40°C biasanya mengalirnya kurang baik (Banker and
Anderson, 1986).
3) Pengetapan
Pengukuran sifat alir dengan metode pengetapan merupakan metode tidak
langsung dengan penghentakan (tapping) terhadap sejumlah serbuk dengan
menggunakan alat volumenometer (mechanical tapping device). Pengetapan
dilakukan dengan mengamati perubahan volume sebelum pengetapan (Vo) dan
volume setelah pengetapan setelah konstan (Vt). Hasil pengukuran metode
pengetapan dapat dinyatakan dengan harga Tap T (%). Serbuk yang memiliki sifat
alir baik jika indeks pemampatannya kurang dari 20 % (Voigt, 1984).
4) Kompaktibilitas
Kompaktibilitas adalah kemampuan bahan untuk membentuk massa yang
kompak setelah diberi tekanan. Pengujiannya dilakukan dengan menguji kekerasan
kompaktibilitasnya baik, hanya membutuhkan sedikit tekanan pengempaan sudah
dapat menghasilkan tablet yang keras. Serbuk yang kompaktibilitasnya jelek, akan
membutuhkan tekanan yang tinggi untuk dapat dikempa menjadi tablet dan seringkali
setelah jadi tablet, tablet yang dihasilkan akan mudah mengalami capping atau
laminasi (Sulaiman, 2007).
d. Pemeriksaan Sifat Fisik Tablet Hisap
1) Keseragaman Bobot Tablet
Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasarkan banyaknya penyimpangan
bobot pada tiap tablet terhadap bobot rata-rata dari semua tablet sesuai syarat yang
ditentukan dalam Farmakope Indonesia edisi III (Anonim, 1979). Keseragaman bobot
bukan merupakan indikasi yang cukup dari keseragaman kandungan jika zat aktif
merupakan bagian kecil dari tablet atau jika tablet bersalut gula (Anonim, 1995).
Tabel 1. Persyaratan Penyimpangan Bobot Tablet
Bobot rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata dalam %
A B
Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan atas
kerenyahan agar dapat bertahan terhadap berbagai guncangan mekanik pada saat
pembuatan. Alat yang biasa digunakan adalah hardness tester (Monsanto Stokes) dan
mempunyai kekerasan yang lebih tinggi daripada tablet biasa yaitu 10-20 kg (Parrott,
1971).
3) Kerapuhan
Kerapuhan dinyatakan sebagai massa seluruh partikel yang dilepaskan dari
tablet akibat adanya beban penguji mekanik. Kerapuhan dinyatakan dalam persen
yang mengacu pada massa tablet awal sebelum pengujian dilakukan (Voigt, 1984).
Kerapuhan diukur dengan menggunakan friabilator (Roche). Nilai kerapuhan lebih
besar dari 1% dianggap kurang baik (Banker and Anderson, 1986).
4) Waktu Melarut
Waktu melarut adalah waktu yang dibutuhkan tablet hisap untuk melarut
secara perlahan di dalam rongga mulut. Pada tablet hisap waktu melarut perlahan
dalam mulut sekitar 5-10 menit (Banker and Anderson, 1986).
4. Monografi Bahan Tambahan Tablet Hisap
1) Gelatin
Gelatin berupa lembaran, kepingan, potongan atau serbuk kasar sampai halus,
kuning lemah atau coklat terang. Warna gelatin bervariasi tergantung ukuran partikel.
Larutannya berbau lemah seperti kaldu, jika kering stabil di udara (Anonim, 1995).
Umumnya gelatin digunakan pada kebanyakkan formulasi sediaan farmasi
yaitu produk oral dan parenteral, gelatin digunakan sebagai gel agent, pensuspensi,
bahan pengikat pada tablet, dan meningkatkan kekentalan (viskositas). Gelatin kering
stabil pada air dan mempunyai rentang pH antara 3,8-7,6 (Rowe dkk., 2003).
Fungsi utama gelatin di dalam industri adalah untuk meningkatkan elastisitas,
gelatin akan dengan mudah membentuk gel koloid semi padat. Jelly yang dibuat dari
gelatin mempunyai tekstur yang meleleh di dalam mulut untuk kemudian
mengeluarkan semua cita rasa yang dikandungnya (Irwadi, 2007).
Gelatin merupakan protein alam, yang lebih konsisten daripada akasia atau
tragakan, lebih mudah dipersiapkan dalam bentuk larutan dan tablet yang terbentuk
kerasnya sama dengan bila memakai akasia atau tragakan (Voigt, 1984). Gelatin pada
pembuatan tablet mempunyai konsentrasi tertentu yang berbeda-beda antara lain
2-10% (Bandelin, 1989). Pelarut yang digunakan yaitu air dan biasanya pada granulasi
basah gelatin dibuat solutio, musilago, atau suspensi (Sulaiman, 2007).
2) Manitol
Manitol mengandung tidak kurang dari 96,0% dan tidak lebih dari 101,5%
C6H14O6, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian : serbuk hablur atau
granul mengalir bebas, putih, tidak berbau, rasa manis. Manitol mudah larut dalam
air, larut dalam larutan basa, sukar larut dalam piridina, sangat sukar larut dalam
etanol, praktis tidak larut dalam eter (Anonim, 1995). Manitol memiliki rasa manis
kira-kira 72% dari rasa manis sukrosa. Formulasi dengan manitol sifat alirnya kurang
baik sehingga membutuhkan bahan pelicin yang cukup banyak (Banker and
Anderson, 1986). Manitol biasanya digunakan sebagai bahan pengisi tablet dengan
kadar 10-90% (Anonim, 1986).
Talk adalah magnesium silikat hidrat alam, kadang mengandung sedikit
alumunium silikat. Pemerian : serbuk sangat halus, putih atau putih kelabu, berkilat,
mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran. Talk berkhasiat sebagai zat
tambahan, tidak larut dalam hampir semua pelarut, dan disimpanan dalam wadah
tertutup baik (Anonim, 1995). Talk memilliki tiga keunggulan antara lain dapat
berfungsi sebagai bahan pengatur aliran, bahan pelicin, dan bahan pemisah hasil
cetakan (Voigt,1984). Talk digunakan sebagai glidant (meningkatkan fluiditas massa
yang akan dikempa) pada konsentrasi 1-5% dan lubricant (mengurangi friksi antara
permukaan dinding atau tepi tablet dengan dinding die selama kompresi) pada
konsentrasi 1-2% (Sulaiman, 2007).
4) Aerosil
Nama lain dari aerosil adalah acidum silicum colloidale, silica precipitate,
dan silicon dioxide. Aerosil berupa serbuk putih, mengkilap, tidak berbau, tidak
berasa, aerosil (SiO2), mempunyai bobot molekul 60,08 dan mengandung tidak
kurang dari 98% SiO2 (Anonim, 1995). Aerosil dapat menyerap air 80% dari
massannya (Rowe, 2003).
5) Magnesium Stearat
Magnesium stearat merupakan senyawa magnesium dengan campuran
asam-asam organik padat yang diperoleh dari lemak, terutama terdiri dari magnesium
stearat dan magnesium palmitat dalam berbagai perbandingan tidak kurang dari 6,8%
dan tidak lebih dari 8,3% MgO. Pemerian : serbuk halus, putih, bau lemak khas,
etanol, dan eter (Anonim, 1995). Mg Stearat digunakan sebagai bahan pelicin
(lubricant) pada konsentrasi 0,25-1,0% (Sulaiman, 2007).
5. Bakteri Staphyloccocus aureus
Staphylococcus aureus adalah salah satu contoh bakteri Gram positif, tumbuh
dalam kelompok menyerupai buah anggur (Gibson, 1996). Sel Staphylococcus aureus
berbentuk bulat dengan diameter antara 0,8 -1,0 µm, tersusun dalam kelompok tidak
teratur, tidak bergerak, tidak membentuk spora. Bakteri ini mudah tumbuh pada
berbagai perbenihan dan mempunyai metabolisme aktif, meragikan karbohidrat, serta
menghasilkan pigmen yang bervariasi dari putih sampai kuning tua (Jawetz et al.,
2001).
Genus Staphylococcus terdiri dari sekurangnya 30 spesies. Ada tiga spesies
utama yang penting secara klinik, salah satunya adalah Staphylococcus aureus.
Bakteri ini merupakan bentuk koagulase positif, hal ini yang membedakan dengan
spesien lain danmerupakan patogen utama bagi manusia (Jawetz et al., 2001).
Klasifikasi dari Staphylococcus aureus menurut Salle (1991) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Protophyta
Divisio : Schyzomycetes
Ordo : Eubacteriales
Familia : Micrococcaceae
Genus : Staphylococcus
Species : Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus merupakan penyebab penting penyakit infeksi yang
nekrosis, dan pembentukan abses (Warsa, 1994). Bakteri ini paling cepat tumbuh
pada suhu 37ºC, tetapi membentuk pigmen paling baik pada suhu kamar (20-25ºC).
Staphylococcus aureus membentuk koloni berwarna abu-abu sampai kuning emas tua
(Jawetz et al., 2001).
6. Uji Aktivitas Antibakteri
Pengujian terhadap aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan berbagai cara,
yaitu :
a) Media agar difusi yang digunakan adalah agar Mueller Hinton. Pada metode
difusi ini menurut Anonim (1993) ada beberapa cara, yaitu :
1) Cara Kirby Bauer
Beberapa koloni kuman dari pertumbuhan 24 jam diambil, disuspensikan ke
dalam 0,5 ml BHI cair, diinkubasikan 5-8 jam pada 37ºC. Suspensi ditambah
aquadest steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi bakteri
8
10 CFU per ml. Kapas lidi steril dicelupkan ke dalam suspensi bakteri lalu
ditekan-tekan pada dinding tabung hingga kapasnya tidak terlalu basah, kemudian dioleskan
pada permukaan media agar hingga rata. Kemudian kertas samir (disk) diletakkan di
atasnya, diinkubasikan pada 37ºC selama 18-24 jam, dan hasilnya dibaca :
a. Radical zone yaitu suatu daerah di sekitar disk dimana sama sekali tidak
ditemukan adanya pertumbuhan bakteri. Potensi antibakteri diukur dengan
mengukur diameter dari zona radikal.
b. Irradical zone yaitu suatu daerah di sekitar disk dimana pertumbuhan bakteri
2) Cara Sumuran
Beberapa koloni kuman dari pertumbuhan 24 jam pada agar diambil,
disuspensikan ke dalam 0,5 ml BHI cair, diinkubasikan 5-8 jam pada 37ºC. Suspensi
ditambah aquadest steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi
bakteri 8
10 CFU per ml. Kapas lidi steril dicelupkan ke dalam suspensi bakteri lalu
ditekan-tekan pada dinding tabung hingga kapasnya tidak terlalu basah, kemudian
pada permukaan media agar hingga rata. Media agar dibuat sumuran diteteskan
larutan antibakteri, diinkubasikan pada 37ºC selama 18-24 jam. Hasilnya dibaca
seperti cara KirbyBauer.
3) Cara Pour Plate
Beberapa koloni kuman dari pertumbuhan 24 jam pada agar diambil,
disuspensikan ke dalam 0,5 ml BHI cair, diinkubasikan 5-8 jam pada 37ºC. Suspensi
ditambah aquadest steril hingga kekeruhan tertentu sesuai dengan standar konsentrasi
bakteri 8
10 CFU per ml. Suspensi bakteri diambil satu mata ose dan dimasukkan ke
dalam 4 ml agar base 1,5% yang mempunyai suhu 50ºC. Setelah suspensi kuman
tersebut homogen, dituang pada media Agar Mueller Hinton, ditunggu sebentar
sampai agar tersebut membeku, disk diletakkan di atas media dan dieramkan selama
15-20 jam dengan temperatur 37ºC. Hasil dibaca sesuai standar masing-masing
antibakteri.
b) Dilusi Cair/Dilusi Padat
Pada prinsipnya antibakteri diencerkan sampai diperoleh beberapa
konsentrasi. Pada dilusi cair, masing-masing konsentrasi obat ditambah suspensi
dengan media agar lalu ditanami bakteri. Metode dilusi cair adalah metode untuk
menentukan konsentrasi minimal dari suatu antibakteri yang dapat menghambat atau
membunuh mikroorganisme. Konsentrasi terendah yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri ditunjukkan dengan tidak adanya kekeruhan disebut Konsentrasi
Hambat Minimal (KHM) atau Minimal Inhibitory Concentration (MIC) (Anonim,
1993).
E. Landasan Teori
Tanaman ceremai (Phyllanthus acidus) merupakan salah satu tanaman obat
yang telah diketahui khasiatnya sebagai obat sariawan (Hutapea, 1991). Kandungan
daun ceremai yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah polifenol, berdasarkan
hasil uji bioautografi. Polifenol merupakan senyawa fenol yang bekerja dengan cara
mempresipitasikan protein sel bakteri (Robbers dkk., 1996).
Menurut Jagessar dkk. (2008) menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun
ceremai terbukti mempunyai daya antimikrobia dan antijamur yang lebih besar
daripada ekstrak etil asetat, kloroform, dan heksan. Ekstrak daun ceremai dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan metode disc
diffusion memiliki zona hambatan 21 mm2 dan dengan metode dilusi cair memiliki
nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) sebesar 0,18 mg/10 ml. Staphylococcus aureus
merupakan penyebab penting penyakit infeksi yang menyebabkan timbulnya penyakit
dengan tanda-tanda yang khas, yaitu peradangan, nekrosis, dan pembentukan abses
Untuk meningkatkan kenyamanan dan mempermudah pemakaian daun
ceremai dibuat dalam sediaan tablet hisap. Pada pembuatan tablet hisap diperlukan
bahan pengikat untuk meningkatkan kekuatan antar granul dan juga memperbaiki
tekstur permukaan tablet ketika melarut di dalam rongga mulut (Peters, 1980).
Bahan pengikat yang digunakan gelatin. Gelatin memberikan rasa lembut dan
menghasilkan tablet yang lebih kompak dan keras sehingga dapat melarut secara
perlahan-lahan di dalam mulut (Sulaiman, 2007). Menurut Yusiandre (2008) dan
Laila (2009), kenaikan konsentrasi gelatin mempengaruhi sifat fisik tablet hisap
ekstrak kemangi dan ekstrak daun pare antara lain meningkatkan kekerasan tablet dan
menurunkan kerapuhan pada konsentrasi tinggi. Gelatin ditambahkan pada
pembuatan tablet dengan konsentrasi tertentu yang berbeda-beda antara 2-10%
(Bandelin, 1989).
F. Hipotesis
Semakin tinggi konsentrasi gelatin sebagai bahan pengikat akan menaikkan
kekerasan dan waktu larut tablet hisap serta menurunkan kerapuhan tablet hisap
ekstrak etanol daun ceremai (Phyllanthus acidus) yang dihasilkan dan tablet hisap