• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Terbentuknya negara Indonesia tidak lain memiliki suatu tujuan yang mulia yaitu mendorong dan menciptakan kesejahteraan umum dalam payung Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Tujuan atau cita-cita tersebut tercermin dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam alinea ke-4 (empat) yaitu: “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,...”( Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahung 1945)

Kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanpa kecuali merupakan landasan utama bagi setiap pengambilan kebijakan termasuk kebijakan legislatif untuk terus berupaya meningkatkan taraf kehidupan masyarakat yang pada dasarnya merupakan hak konstitusional setiap warga negara Indonesia (Andi Febriansyah Al Sabah AZ, 2017: 196-211). Perlindungan terhadap segenap bangsa dan tumpah darah melalui perangkat hukum yang berlaku merupakan hal yang mutlak untuk diwujudkan, tidak ada artinya kata-kata “melindungi segenap bangsa dan tumpah darah” jika ternyata masih ada penderitaan yang dirasakan oleh rakyat berupa ketimpangan-ketimpangan hak-hak ekonomi yang mencerminkan ketidaksejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia ( Ridwan, 2009: 74).

Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut, yang berkaitan dengan manifestasi atas kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia maka lahirlah suatu pedoman bagi Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999.

Dalam undang-undang tersebut memuat prinsip-prinsip atau asas-asas Kepastian

hukum, Tertib Penyelenggaraan Negara, Kepentingan Umum, Keterbukaan,

Proporsionalitas, Profesionalitas, dan Akuntabilitas. Pedoman mengenai commit to user

(2)

Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN ini menjadi penting dan sangat diperlukan untuk menghindari praktek- praktek Kolusi, Korupsi dan Nepotisme tidak saja melibatkan pejabat yang bersangkutan tetapi juga oleh keluarga dan kroninya, yang jika dibiarkan maka rakyat Indonesia akan berada dalam posisi yang sangat dirugikan. Untuk lebih menjamin pelaksanaan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi maka mengingat Indonesia merupakan negara hukum, tentunya negara sudah mengatur tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu dalam sistem hukum pidana di Indonesia.

Korupsi merupakan sebuah tindakan yang sangat merugikan suatu negara dan telah menjadi masalah serius bagi setiap negara di dunia tak terkecuali Indonesia, karena korupsi telah merambah ke seluruh kehidupan masyarakat yang dilakukan secara sistematis, dan pastinya berdampak kepada seluruh aspek kehidupan seperti ekonomi, politik sampai sosial budaya. Kasus Korupsi merupakan perbuatan yang melanggar hukum. Korupsi sudah berkembang di lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Hal ini jelas sangat merugikan perekonomian negara serta menghambat jalannya pembangunan bagi negara Indonesia (Ahmad Yani, 2019: 37). Istilah korupsi di Indonesia pada mulanya bukan suatu istilah yuridis. Bahkan istilah korupsi sendiri berasal dari bahasa Latin, “Corruptio”, yang antara lain berarti merusak, membuat busuk, menyuap (JE. Sahetapy, 1979: 45). Menurut Subekti, Korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya diri yang secara langsung merugikan keuangan dan perekonomian negara (Subekti, 1977: 73). Korupsi juga memberikan ancaman yang serius terhadap stabilitas dan keamanan yang dapat melemahkan lembaga- lembaga dan nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai etika dan keadilan serta membahayakan pembangunan berkelanjutan (suistanable development) dan penegakan supremasi hukum (Preambul UNCAC, 2003).

Pemerintah Indonesia telah berupaya melakukan pemberantasan korupsi

sejak pasca kemerdekaan. Hal tersebut dilandasi bahwa tindak pidana korupsi

adalah tindak pidana yang luar biasa (extra ordinary crime) karena bersifat

sistemik dan endemik yang berdampak sangat luas yang tidak hanya merugikan commit to user

(3)

keuangan negara tetapi juga melanggar hak sosial dan ekonomi masyarakat (Maulida, Ali,dkk. 2020:44), maka dibutuhkan instrument hukum khusus yang mengatur secara khusus tentang masalah korupsi. Pengaturan secara khusus ini diperlukan karena pengaturan sebelumnya yang terdapat dalam KUHP dipandang sudah tidak memadai untuk diterapkan dalam pemberantasan tindak pidana korupsi (Arli Fauzi, 2013: 57). Khususnya terkait dengan Tindak Pidana korupsi ada beberapa ketentuan pokok yang terkait antara lain KUHP sebagai ketentuan pidana dasar dan UU Nomor 31 tahun 1999 jo UU Nomor 20 tahun 2001, UU Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencucian Uang, dan lain-lain. Dalam hal ini berlaku lex spesialis derogat legi generale yaitu UU terkait sebagai lex spesialis dan KUHP sebagai lex generale. Indonesia juga telah meratifikasi United Nation Convention Against Corruption (UNCAC) 2003 melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nation Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003).

Selain telah membuat aturan hukum mengenai korupsi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan juga meratifikasi United Nation Convention Against Corruption (UNCAC) 2003, Indonesia juga sudah membentuk sebuah lembaga negara yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merupakan lembaga negara yang bersifat independen dalam menangani permasalahan korupsi. Berdasarkan Undang- Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK), KPK memiliki tugas untuk melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.

commit to user

(4)

Dengan dibuatnya aturan hukum mengenai tindak pidana korupsi dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan juga membentuk lembaga pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi yang dikeluarkan oleh Transparancy International Indonesia masih menjadi negara dengan peringkat ke 102 dari 180 negara dengan skor 37 ditahun 2020 dalam hal negara yang bersih dari korupsi. Jika dibandingkan dengan tahun 2019 posisinya menurun, karena tahun lalu skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia adalah 40 dan berada pada peringkat 85 dari 180 negara (https://www.transparency.org/en diakses pada 1 Maret 2021 Pukul 21:30). Padahal upaya pemberantasan korupsi sudah dilakukan sejak lama dengan menggunakan berbagai cara, sanksi terhadap pelaku korupsi sudah diperberat, namun hampir setiap hari kita masih membaca atau mendengar adanya berita mengenai korupsi (Wicipto Setiadji, 2018: 250).

Upaya pemberantasan korupsi tidak henti-hentinya dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia ini, mulai dari Kepolisian, Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi, namun hanya pemberantas korupsi itu sebatas deret hitung. Sehingga sampai kapanpun tindak pidana korupsi di Indonesia tidak bisa dihapuskan, lebih banyak pelaku tindak pidana korupsi dari pada pemberantasannya. Maka harus ada konsep baru cara pemberantas korupsi di Indonesia. Walaupun Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sudah ada di semua ibu kota provinsi di Indonesia, Negara Indonesia tidak terbebas dari tindak pidana korupsi (Yudi Wibowo, 2016: 343).

Jika dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Singapura, yang

merupakan salah satu negara maju di Asia yang perekonomiannya ditunjang dari

segi jasa dan pariwisata, Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal penanganan

tindak pidana korupsi. Sejarah korupsi di Singapura bermula dari lingkup dalam

pemerintahan, dari pejabat hingga karyawan-karyawan yang lebih rendah

tingkatannya sudah tidak asing lagi dengan praktik-praktik korupsi dengan

berbagai bentuk dan modus operandinya. Dalam menindak praktik korupsi di

singapura yang semakin lama semakin mempihatinkan, maka pemerintah commit to user

(5)

Singapura membentuk suatu badan pemberantas korupsi di bawah kepolisian Singapura. Dengan tertangkapnya pejabat kepolisisan Singapura dalam kasus terima suap, hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan antara kepolisian dan institusi yang dibentuk di bawah kepolisian tersebut untuk menangani korupsi.

Dengan adanya ketidakpercayaan dari institusi pemberantasan korupsi kepada kepolisian, maka institusi tersebut dipisahkan dari institusi kepolisian, dan sekarang menjadi Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB). Terbukti berdasarkan data Indeks Persepsi Korupsi yang dikeluarkan oleh Tansparancy International, Singapura menduduki peringkat ke-3 dari 180 negara dan mendapatkan skor 85 ditahun 2020. Dari data tersebut, sudah sangat jelas bahwa Indonesia tertinggal jauh dalam hal penanganan tindak pidana korupsi.

Dari segi payung hukum mengenai tindak pidana korupsi di Singapura diatur dengan The Prevention of Corruption Act tahun 1960 (PCA) sebagaimana terakhir direvisi pada tahun 1993, dimana undang-undang tersebut menjadi dasar bagi keberadaan lembaga anti korupsi di Singapura yaitu Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB). Namun menariknya bahwa lembaga pemberantasan korupsi di Singapura yaitu Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) ini sudah ada sejak tahun 1952 dimana dibentuk jauh lebih dulu dibandingkan undang-undang korupsinya yaitu The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) yang mana di undangkan tahun 1960 lalu terakhir direvisi pada tahun 1993. Selain itu, Singapura juga sudah meratifikasi United Nation Convention Against Corruption (UNCAC,2003) sebagiamana sama degan Indonesia.

Ada dua faktor penyebab korupsi yaitu faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu sendiri dan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu. Salah satu faktor eksternal yang masih tingginya kasus korupsi di Indonesia adalah lemahnya regulasi mengenai korupsi, dimana shukum tidak dijalankan sesuai prosedur yang benar, aparat mudah disogok sehingga pelanggaran sangat mudah dilakukan oleh masyarakat (https://m.merdeka.com/jatim/ketahui-penyebab-korupsi-di-indonesia-dan-

tantangan-dalam-pemberantasanny-kln.html?page=2 diakses pukul 11.05 pada commit to user

(6)

Sabtu, 10 April 2021). Maka dari itu dalam hal pembaharuan hukum serta penegakan hukum, Indonesia tidak boleh menutup mata dengan perkembangan hukum negara-negara yang ada di dunia. Oleh karena itu untuk meningkatkan dan memperbaiki ketentuan perundangan pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia perlu dilakukan Kajian Komparatif antara Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia dan Singapura dalam hal jenis perbuatan yang dilarang untuk mengetahui bagaimana perbedaan aturan hukum mengenai pemberantasan tindak pidana korupsi sehingga dapat dilihat persamaan dan perbedaan serta kelebihan maupun kekurangan aturan hukum tentang pemberantasan tindak pidana korupsi di masing-masing negara, serta Indonesia dapat mengadopsi hal-hal yang dirasa baik dari aturan hukum pidana korupsi di Singapura. Maka dengan ini penulis berupaya melakukan penelitian dan penulisan hukum dengan mengambil judul “Perbandingan Jenis Perbuatan Yang Dilarang Antara Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Indonesia Dengan The Prevention Of Corruption Act Singapura”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Apakah jenis perbuatan yang masuk sebagai tindak pidana korupsi antara Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Indonesia dan Singapura ?

2. Apakah persamaan dan perbedaan antara Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Indonesia dan Singapura dalam hal jenis perbuatan yang dilarang ?

C. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian pasti memiliki tujuannya masing-masing, tujuan merupakan juga merupakan target/ tolak ukur dari suatu penelitian dalam memecahkan masalah yang ada. Tujuan yang hendak di capai di bagi menjadi 2 (dua) yaitu :

1. Tujuan Objektif commit to user

(7)

a. Mengetahui perbuatan yang masuk sebagai tindak pidana korupsi dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Indonesia dan The Prevention of Corruption Act Singapura.

b. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Indonesia dan Singapura dalam hal jenis tindak pidana yang dilarang.

2. Tujuan Subjektif

a. Untuk memperoleh data bagi penulis terkait permasalahan hukum yang diteliti khususnya dibidang Hukum Pidana.

b. Untuk menjawab permasalahan yang penulis kemukakan diatas dari perspektif penulis melalui dasar hukum Undang-Undang yang berlaku.

c. Untuk memenuhi pernyataan akademis guna memperoleh gelar sarjana di bidang Ilmu Hukum gelar Sarjana Strata 1 (S1) pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

Salah satu faktor dalam penulisan hukum (skripsi) selain tujuan adalah diharapkan adanya suatu manfaat atau kegunaan yang dapat diambil dari sebuah penulisan hukum,karena nilai dari sebuah penulisan hukum dapat dilihat dari besarnya manfaat yang dapat diambil dari nilai-nilai penulisan hukum tersebut.

Manfaat yang hendak dicapai penulis dalam penulisan hukum ini ada 2 (dua), yaitu manfaat teoritis yaitu yang bertalian dengan pengembangan ilmu hukum dan manfaat praktis yang bertalian dengan pemecahan masalah yang diteliti, adapun manfaat tersebut yakni :

1. Manfaat Teoritis

a. Penulisan hukum (skripsi) ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca dan penulis sendiri untuk pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya dan Hukum Pidana pada khususnya.

b. Penulisan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.

2. Manfaat Praktis commit to user

(8)

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban dari apa yang penulis teliti dan kaji atas permasalahan dalam bidang Hukum Pidana.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermafaat bagi pihak terkait serta untuk pihak lain.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah prosedur atau cara memperoleh pengetahuan yang benar melalui langkah-langkah yang sistematis. Dalam hal ini langkah-langkah penelitian yang ditempuh adalah sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Penyusunan penulisan skripsi ini mengunakan jenis penelitian doktrinal atau normatif, dimana sumber faktanya diperoleh dari sumber-sumber tertulis, yaitu mengumpulkan, mengklasifikasikan bahan-bahan pustaka (literature) baik berupa buku, jurnal, majalah, media online, dan sumber lainya yang relefan dengan topik yang di kaji.

Penelitian yag digunakan penulis dalam penulisan hukum ini adalah perbandingan hukum yang membandingkan pengaturan jenis perbuatan yang dilarang dalam tindak pidana korupsi berdasarkan perundang-undangan yang ada di Indonesia dan Singapura.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini adalah bersifat preskriptif untuk menjawab isu hukum sehingga dapat memberikan pandangan dan argumentasi mengenai jenis perbuatan yang dilarang dalam hukum pidana korupsi Indonesia dan Singapura serta perbedaan dan persamaannya.

3. Pendekatan Penelitian

Penelitian hukum memiliki beberapa pendekatan. Dalam kaitannya dengan penelitian hukum normatif, terdapat beberapa pendekatan penelitian hukum, yaitu (Peter Mahmud Marzuki, 2017: hlm. 133) :

a. Pendekatan undang-undang (statute approach);

b. Pendekatan kasus (case approach);

c. Pendekatan historis (historical approach); commit to user

(9)

d. Pendekatan komparatif (comparative approach); dan e. Pendekatan konseptual (conseptual approach).

Dari beberapa pendekatan ini, pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian adalah pendekatan undang-undang (statute approach). Pendekatan undang-undang ini dilakukan dengan menelaah semua peraturan perundang- undangan yang bersangkut paut agar dapat menemukan persamaan serta perbedaan jenis tindak pidana yang dilarang dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Indonesia dan Singapura.

4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum

Jenis data penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah data sekunder. Sedangkan bahan hukum yang digunakan yaitu bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang bersifat mengikat. Dalam penulisan hukum ini, penulis menggunakan bahan hukum primer yaitu:

1) Undang-Undang R.I Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP);

2) Undang-Undang R.I Nomor UU Nomor 31 tahun 1999tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;

3) Undang-Undang R.I Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;

4) The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi, meliputi buku-buku teks, jurnal-jurnal hukum, komentar atas putusan pengadilan, artikel hukum,

commit to user

(10)

skripsi, tesis,disertasi dan kamus-kamus hukum. Dalam penulisan hukum ini, penulis menggunakan bahan hukum sekunder:

1) Buku-buku teks yang ditulis para ahli hukum;

2) Artikel hukum;

3) Jurnal-jurnal hukum; dan

4) Bahan-bahan lain yang bersumber dari internet dan sumber lainnya yang meiliki korelasi dalam mendukung penelitian.

c. Bahan Hukum Tersier

Sedangkan bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yakni, Kamus Hukum, Kamus Bahasa Indonesia dan lainnya.

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan bahan hukum yang penulis gunakan dalam penelitian hukum ini adalah studi dokumen atau studi kepustakaan (library research).

Studi dokumen dan studi kepustakaan tersebut yaitu dengan menggunakan peraturan perundang-undangan, buku-buku, dokumen-dokumen, atau literatur- literatur hukum lain yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

6. Teknik Analisis Bahan Hukum

Teknik analisis bahan hukum yang digunakan penulis dalam menyusun penelitian ini adalah metode deduktif. Metode deduktif ini berpangkal dari pengajuan premis mayor berupa aturan jenis perbuatan yang dilarang dalam hukum korupsi yang ada di Indonesia dan Singapura, kemudian premis minor merupakan persamaan dan perbedaannya.

F. Sistematika Penulisan Hukum

Penulisan hukum ini terdiri dari empat bab, yaitu pendahuluan, tinjauan pustaka, hasil dan pembahasan serta penutup. Selanjutnya ditambah dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran. Adapun susunannya adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini diketengahkan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan

hukum. commit to user

(11)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini membahas mengenai landasan teori dari para pakar hukum maupun doktrin hukum berdasarkan literatur yang berkaitan dengan permasalahan umum penelitian. Landasan teoritik tersebut meliputi: Tinjauan Umum tentang Tindak Pidana, Tinjauan Umum tentang Tindak Pidana Korupsi dan Tinjauan Umum tentang Perbandingan Hukum.

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan memaparkan dan membahas hasil penelitian dari bahan hukum yang berkaitan dengan isu hukum yang tengah diteliti. Guna mempermudah dalam memaparkan dan membahas hasil penelitian, maka penulis membaginya dalam dua tahap berdasarkan rumusan masalah yang ada.

1. Tahapan pertama, akan membahas akan membahas mengenai jenis-jenis perbuatan yang masuk sebagai tindak pidana korupsi dalam Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi antara Indonesia dan Singapura.

2. Tahapan kedua, akan membahas dan membandingkan persamaan serta perbedaan antara Undang-Undnag Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Indonesia dan Singapura dalam hal jenis perbuatan yang dilarang.

BAB IV PENUTUP

Dalam bab akhir ini, penulis akan memberikan kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya serta saran penulis terhadap kekurangan yang ditemukan dan sekiranya perlu diperbaiki dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Terkait permasalahan diatas penulis melakukan penelitian tentang pertanggungjawaban pidana korporasi yang menyangkut tentang tindak pidana korupsi, dengan analisa

Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Uang menyebutkan bahwa pada umumnya pelaku tindak pidana

Pada bagian konsideran Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyebutkan bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini

b) ketentuan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. c) Undang-undang RI Nomor 30 Tahun

Penegakan hukum terhadap tindak pidana pencemaran nama baik Berdasarkan Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 atas perubahan menjadi Undang-Undang

Menyatakan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan

Perumusan tindak pidana dalam Bab II Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jika dihubungkan dengan subjek hukum yang dikenal dalam Undang-Undang Pemberantasan

Tindak pidana yang ditujukan kepada dokter sebagai akibat tindakan malpraktek yang dilakukannya, diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) maupun di dalam ketentuan