• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN IMPLEMENTASI MODEL OPTIMALISASI DANA ZAKAT MELALUI PENDEKATAN COMMUNITY BASED DEVELOPMENT (CBD)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PANDUAN IMPLEMENTASI MODEL OPTIMALISASI DANA ZAKAT MELALUI PENDEKATAN COMMUNITY BASED DEVELOPMENT (CBD)"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

ii

PANDUAN IMPLEMENTASI MODEL

OPTIMALISASI DANA ZAKAT MELALUI PENDEKATAN COMMUNITY BASED

DEVELOPMENT (CBD)

Penulis

Nedi Hendri, S.E., M.Si., AK., CA Suyanto, S.E, M.Si., Akt., CA.

Siti Nurlaila., M.Psi.

Desain Cover

Team Laduny Creative Lay Out

Team Laduny Creative

ISBN 978-602-1397-95-4 CetakanI, Oktober 2016 Jumlah 79halaman Ukuran 15 x 23 cm

Dicetak dan diterbitkan oleh:

CV. LADUNY ALIFATAMA (Penerbit Laduny) Anggota IKAPI

- Perum JSP Blok V 6 No. 11 Tejoagung, Metro – Lampung.

- Jl. Ki Hajar Dewantara No. 49 Iringmulyo, Kota Metro – Lampung.

Telp. : 085269012121– 085769001000

Email :[email protected]

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pertama, tim penyusun mengajak marilah senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, mengingat sampai sekarang ini kita masih dikaruniai kenikmatan yang kita tidak sanggup untuk menghitung-hitungnya, terutama nikmat iman, islam, kesehtan, kehidupan, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri kita sebagai Abdillah dan khalifah Allah SWT di muka bumi ini. Shalawat dan salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta sahabat, keluarga dan ummatnya yang setia sampai akhir zaman nanti.

Penyusun mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang mendukung terselesaikannya penyusunan buku tentang

“Panduan Implementasi Model Optimalisasi Dana Zakat Melalui Pendekatan Community Based Development (CBD)” ini. Tim penyusun menyadari terdapat kekurangan–kekurangan dari buku ini baik dalam penyusunan maupun kata-kata, untuk itu saran dan kritik dari pembaca sangatlah kami harapkan.

Waassalamualaikum Wr. Wb.

Horma kami,

Tim Penyusun

(4)

iv DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... iii

Daftar isi ... iv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

BAB 2 KONSEP KEMISKINAN DAN DANA ZAKAT 2.1 Konsep zakat. ... 4

2.2 Pengelolaan dana zakat. ... 19

2.3Zakat dan kemiskinan ... 33

BAB 3 KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN BERBASIS COMUNITY BASED EVELOPMENT (CBD) 3.1 Kemiskinan dan program pemberdayaan ... 36

3.2Zakat dan pemberdayaan Masyarakat miskin. .... 38

3.3 Pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal. 45 3.4 Konsep comunity based development (cbd). ... 47

BAB 4 MODEL OPTIMALISASI DANA ZAKAT MELALUI PENDEKATAN COMUNITY BASED DEVELOPMENT (CBD) 4.1 Rekayasa model optimalisasi dana zakat. ... 49

4.2 Tahapan implementasi model optimalisasi dana zakat. ... 52

BAB 5 INSTRUMEN DAN INDIKATOR KELUARGA SEJAHTERA SEBAGAI ALAT EVALUASI PROGRAM 5.1 Manfaat pendataan ... 57

5.2 Batasan dan pengertian. ... 58

5.3 Prinsip-Prinsip pendataan dan pemetaan. ... 60

5.5 Instrumen yangdigunakan dan fungsinya. ... 61

5.5 Cakupan Data. ... 62

5.6 Pentahapan keluarga sejahtera. ... 66 BAB 4 PENUTUP

Daftar Pustaka

BAB 1

(5)

2

PENDAHULUAN

Kemiskinan merupakan fenomena kehidupan manusia yang selalu mengiringi proses pembangunan dan dianggap sebagai penghambat karena dampaknya yang cenderung negatif.

Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi untuk mengatasi kemiskinan melalui kebijakan fiskal manajemen Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS). ZIS menjadi alternatif mengatasi kemiskinan karena target sasarannya jelas diatur dalam Al-quran, yaitu fakir miskin. Seyogyanya penyalurannya dapat dikembangkan kearah pemberdayaan melalui usaha-usaha produktif bukan untuk konsumtif.

Selama ini potensi dan pentingnya zakat sebagai usaha

untuk pengentasan kemiskinan masih di anggap sebelah mata,

padahal zakat sesungguhnya memiliki potensi ekonomi yang

sangat besar bagi bangsa Indonesia. Saat ini, dana ZIS yang

berhasil dihimpun baru mencapai lima persenan dari total potensi

zakat yang mencapai 20 triliunan rupiah per-tahun. Kendati ZIS

telah dikelola secara profesional oleh Organisasi Pengelola Zakat

(OPZ) yang ada di Indonesia, sebaran penerima manfaat dari dana

ZIS terkesan tumpang tindih antara satu dengan yang lain,

sebagaimana pengumpulan ZIS yang masih terfokus pada wilayah

tertentu. Menurut Firmansyah (2009: ) pendayagunaan dana zakat

selama ini masih menganut paradigma lama, yaitu dana zakat

harus dibagi habis untuk semua golongan yang ditentukan dan

untuk konsumsi sesaat sehingga pendayagunaan zakat untuk

(6)

3

tujuan pemberdayaan ekonomi produktif belum menjadi prioritas utama. Selanjutnya Pujiono (2009:76-79) menyimpulkan pendistribusi ZIS masih belum efektif dan kemanfaatan dana ZIS melalui pemberdayaan ekonomi tergolong masih kurang efisien.

Paradiqma landasan fiqih bahwa zakat dapat didayagunakan dalam kegiatan ekonomi produktif. Sudah saatnya OPZ mulai mengurangi porsi zakat konsumtif dan mengoptimalisasikan dan memprioritaskan zakat produktif.

Banyak model dan kebijakan yang dilakukan selama ini tidak efektif dan efisien dalam mengatasi kemiskinan.Paradigma pembangunan melalui pemberdayaan (empowerment) merupakan pendekatan yang tepat dalam mengatasi kemiskinan.

Menurut Pujiyono (2009: 52) pemberdayaan adalah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperbaiki kekuasaan dan keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan social, yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomis, maupun sosial.

Model pendayagunaan zakat dengan konsep

pemberdayaan pada saat ini menjadi trend di kalangan lembaga-

lembaga pengelola zakat dan relevan untuk menjawab persoalan

kemiskinan, misalnya pemberdayaan ZIS dengan pemberian

(7)

4

modal usaha baik dengan sistem pinjaman tanpa bagi hasil (Qardhul Hasan) maupun dengan sistem bagi hasil. Namun syogyanya program melalui pendampingan usaha-usaha mikro dengan pemberian zakat produktif berupa dana bergulir dapat dikembangkan dengan pendekatan “community based development” atau bahkan “integrated development community (IDC)” agar efektif dan efisien dalam mengentaskan kemiskinan.

Dari berbagai pemaparan di atas dapat dirangkum rumusan

permasalahan dalam rencana penelitian ini, yaitu bagaimana

model optimalisasi dana zakat yang tepat dalam pemberdayaan

masyarakat miskin kota di provinsi Lampung

(8)

5 BAB 2

KONSEP KEMISKINAN DAN DANA ZAKAT

2.1. KONSEP ZAKAT.

Zakat berasal dari bahasa arab yaitu zaka yang berarti ‘suci’,

‘baik’,‘berkah’, ‘tumbuh’, dan ‘berkembang’. Sedangkan secara terminologysyariat, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarattertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikankepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan persyaratantertentu (Hafidhudin, 2002: 13).

Menurut Bahasa(lughat), zakat berarti : tumbuh;

berkembang; kesuburan atau bertambah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At- Taubah : 10)

Menurut Hukum Islam (istilah syara’), zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi dalam kitab Al Hawiy)

Selain itu, ada istilah shadaqah dan infaq, sebagian ulama

fiqh, mengatakan bahwa sadaqah wajib dinamakan zakat, sedang

sadaqah sunnah dinamakan infaq. Sebagian yang lain mengatakan

infaq wajib dinamakan zakat, sedangkan infaq sunnah dinamakan

shadaqah.

(9)

6

1. Penyebutan Zakat dan Infaq dalam Al Qur-an dan As Sunnah

a. Zakat (QS. Al Baqarah : 43) b. Shadaqah (QS. At Taubah : 104) c. Haq (QS. Al An’am : 141) d. Nafaqah (QS. At Taubah : 35) e. Al ‘Afuw (QS. Al A’raf : 199) 2. Hukum Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.

3. Macam-macam Zakat

a. Zakat Nafs (jiwa), juga disebut zakat fitrah.

b. Zakat Maal (harta).

4. Syarat-syarat Wajib Zakat a. Muslim

b. Aqil c. Baligh

d. Memiliki harta yang mencapai nishab

(10)

7 2.1.1. Zakat Maal (harta).

1. Pengertian Maal (harta)

Menurut bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya.Menurut syar’a, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim).sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:

➢ Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai

➢ Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya.

Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.

2. Syarat-Syarat Kekayaan yang Wajib di Zakati a. Milik Penuh (Almilkuttam)

Kekayaan milik penuh / Almikuttam yaitu harta yang

berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan

dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut

didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan

menurut syariat islam, seperti : usaha, warisan, pemberian

negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan

apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram,

maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta

tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara

dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.

(11)

8 b. Berkembang

Kekayaan berkembang yaitu harta yang dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.

c. Cukup Nishab

Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara’.sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat

d. Lebih Dari Kebutuhan Pokok (Alhajatul Ashliyah) Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya.Artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak.Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum (KHM), misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.

e. Bebas Dari hutang

Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.

f. Berlalu Satu Tahun (Al-Haul)

Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah

belalu satu tahun.Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak,

harta simpanan dan perniagaan. Sedang hasil pertanian,

(12)

9

buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.

Harta(Maal) yang Wajib di Zakati a. Binatang Ternak

Hewan ternak meliputi hewan besar (unta, sapi, kerbau), hewan kecil (kambing, domba) dan unggas (ayam, itik, burung).

b. Emas Dan Perak

Emas dan perak merupakan logam mulia yang selain merupakan tambang elok, juga sering dijadikan perhiasan.Emas dan perak juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu.Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang (potensial) berkembang. Oleh karena syara’ mewajibkan zakat atas keduanya, baik berupa uang, leburan logam, bejana, souvenir, ukiran atau yang lain.

Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara.

Oleh karena segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk kedalam kategori emas dan perak. sehingga penentuan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.

Demikian juga pada harta kekayaan lainnya, seperti

rumah, villa, kendaraan, tanah, dll.Yang melebihi keperluan

(13)

10

menurut syara’ atau dibeli/dibangun dengan tujuan menyimpan uang dan sewaktu-waktu dapat di uangkan.Pada emas dan perak atau lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan, maka tidak diwajibkan zakat atas barang- barang tersebut.

c. Harta Perniagaan

Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll.Perniagaan tersebut di usahakan secara perorangan atau perserikatan seperti CV, PT, Koperasi, dsb.

d. Hasil Pertanian

Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi- umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput- rumputan, dedaunan, dll.

e. Ma-din dan Kekayaan Laut

Ma’din (hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu-bara, dll. Kekayaan laut adalah segala sesuatu yang dieksploitasi dari laut seperti mutiara, ambar, marjan, dll.

f. Rikaz

Rikaz adalah harta terpendam dari zaman dahulu atau

biasa disebut dengan harta karun. Termasuk didalamnya

(14)

11

harta yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya.

2.1.2. Nishab dan Kadar Zakat.

1. Harta Peternakan

a. Sapi, Kerbau dan Kuda

Nishab kerbau dan kuda disetarakan dengan nishab sapi yaitu 30 ekor. Artinya jika seseorang telah memiliki sapi (kerbau/kuda), maka ia telah terkena wajib zakat.

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh At Tarmidzi dan Abu Dawud dari Muadz bin Jabbal RA, maka dapat dibuat tabel sbb :

Jumlah

Ternak(ekor) Zakat

30-39 40-59 60-69 70-79 80-89

1 ekor sapi jantan/betina tabi’ (a) 1 ekor sapi betina musinnah (b) 2 ekor sapi tabi’

1 ekor sapi musinnah dan 1 ekor tabi’

2 ekor sapi musinnah Keterangan :

1) Sapi berumur 1 tahun, masuk tahun ke-2 2) Sapi berumur 2 tahun, masuk tahun ke-3

Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 30 ekor,

zakatnya bertambah 1 ekor tabi’.Dan jika setiap jumlah itu

bertambah 40 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor musinnah.

(15)

12 b. Kambing/domba

Nishab kambing/domba adalah 40 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 40 ekor kambing/domba maka ia telah terkena wajib zakat.

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Anas bin Malik, maka dapat dibuat tabel sbb :

Jumlah

Ternak(ekor) Zakat

40-120 121-200 201-300

1 ekor kambing (2th) atau domba (1th) 2 ekor kambing/domba

3 ekor kambing/domba

Selanjutnya, setiap jumlah itu bertambah 100 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor.

c. Ternak Unggas(Ayam,Bebek,Burung,dll) dan Perikanan

Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana halnya sapi, dan kambing.Tapi dihitung berdasarkan skala usaha.

Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara

dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atau

sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seorang beternak

unggas atau perikanan, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia

memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan

keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas

murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5%.

(16)

13 Contoh :

Seorang peternak ayam broiler memelihara 1000 ekor ayam perminggu, pada akhir tahun (tutup buku) terdapat laporan keuangan sbb:

1. Ayam broiler 5600 ekor seharga 2. Uang Kas/Bank setelah pajak 3. Stok pakan dan obat-obatan 4. Piutang (dapat tertagih)

Rp 15.000.000 Rp 10.000.000 Rp 2.000.000 Rp 4.000.000

Jumlah Rp 31.000.000

5. Utang yang jatuh tempo Rp 5.000.000

Saldo Rp26.000.000

Keterangan :

➢ Besar Zakat = 2,5 % x Rp.26.000.000,- = Rp 650.000 Catatan :

➢ Kandang dan alat peternakan tidak diperhitungkan sebagai harta yang wajib dizakati.

➢ Nishab besarnya 85 gram emas murni, jika @ Rp 25.000,00 maka 85 x Rp 25.000,00 = Rp 2.125.000,00

d. Unta

Nishab unta adalah 5 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 5 ekor unta maka ia terkena kewajiban zakat.

Selanjtnya zakat itu bertambah, jika jumlah unta yang

dimilikinya juga bertambah

(17)

14

Berdasarkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik, maka dapat dibuat tabel sbb:

Jumlah(ekor) Zakat

5-9 10-14 15-19 20-24 25-35 36-45 45-60 61-75 76-90 91-120

1 Ekor Kambing/Domba (A) 2 Ekor Kambing/Domba 3 Ekor Kambing/Domba 4 Ekor Kambing/Domba 1 Ekor Unta Bintu Makhad (B) 1 Ekor Unta Bintu Labun (C) 1 Ekor Unta Hiqah (D) 1 Ekor Unta Jadz’ah (E) 2 Ekor Unta Bintu Labun (C) 2 Ekor Unta Hiqah (D) Keterangan:

➢ Kambing berumur 2 tahun atau lebih, atau domba berumur satu tahun atau lebih.

➢ Unta betina umur 1 tahun, masuk tahun ke-2

➢ Unta betina umur 2 tahun, masuk tahun ke-3

➢ Unta betina umur 3 tahun, masuk tahun ke-4

➢ Unta betina umur 4 tahun, masuk tahun ke-5

Selanjutnya, jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor

maka zakatnya bertambah 1 ekor bintu Labun, dan setiap

jumlah itu bertambah 50 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor

Hiqah.

(18)

15 2. Emas dan Perak

Nishab emas adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %.

Demikian juga segala macam jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam “emas dan perak”, seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya. Maka nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak, artinya jika seseorang memiliki bermacam- macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas) maka ia telah terkena wajib zakat (2,5 %).

Contoh :

Seseorang memiliki simpanan harta sebagai berikut : Tabungan

Uang tunai (diluar kebutuhan pokok) Perhiasan emas (berbagai bentuk) Utang yang harus dibayar (jatuh tempo)

Rp 5 juta Rp 2 juta 100 gram Rp 1.5 juta Perhiasan emas atau yang lain tidak wajib dizakati kecuali selebihnya dari jumlah maksimal perhiasan yang layak dipakai.

Jika layaknya seseorang memakai perhiasan maksimal 60 gram

maka yang wajib dizakati hanyalah perhiasan yang selebihnya dari

60 gram.

(19)

16

Dengan demikian jumlah harta orang tersebut, sbb : 1.Tabungan

2.Uang tunai

3.Perhiasan (10-60) gram @ Rp 25.000

Rp 5.000.000 Rp 2.000.000 Rp 1.000.000

Jumlah Rp 8.000.000

Utang Rp 1.500.000

Saldo Rp 6.500.000

Keterangan :

➢ Besar zakat = 2,5% x Rp 6.500.000 = Rp 163.500,- Catatan :

➢ Perhitungan harta yang wajib dizakati dilakukan setiap tahun pada bulan yang sama.

3. Perniagaan

Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri, agroindustri, ataupun jasa, dikelola secara individu maupun badan usaha (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, Dll) nishabnya adalah 20 dinar (setara dengan 85gram emas murni). Artinya jika suatu badan usaha pada akhir tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerja danuntung) lebih besar atau setara dengan 85 gram emas (jika pergram Rp 25.000,-

= Rp 2.125.000,), maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%.

Pada badan usaha yang berbentuk syirkah (kerjasama),

maka jika semua anggota syirkah beragama islam, zakat

dikeluarkan lebih dulu sebelum dibagikan kepada pihak-pihak

(20)

17

yang bersyirkah. Tetapi jika anggota syirkah terdapat orang yang non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota syirkah muslim saja (apabila julahnya lebih dari nishab)

Cara menghitung zakat :

Kekayaan yang dimiliki badan usaha tidak akan lepas dari salah satu atau lebih dari tiga bentuk di bawah ini :

a. Kekayaan dalam bentuk barang b. Uang tunai

c. Piutang

Maka yang dimaksud dengan harta perniagaan yang wajib dizakati adalah yang harus dibayar (jatuh tempo) dan pajak.

Contoh :

Sebuah perusahaan meubel pada tutup buku per Januari tahun 1995 dengan keadaan sbb :

1.Mebel belum terjual 5 set 2.Uang tunai

3. Piutang

Rp 10.000.000 Rp 15.000.000 Rp 2.000.000

Jumlah Rp 27.000.000

Utang & Pajak Rp 7.000.000

Saldo Rp 20.000.000

Keterangan :

➢ Besar zakat = 2,5 % x Rp 20.000.000,- = Rp 500.000,-

Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah

dan bangunan atau lemari, etalase pada toko, dll, tidak termasuk

harta yang wajib dizakati sebab termasuk kedalam kategori barang

tetap (tidak berkembang).Usaha yang bergerak dibidang jasa,

(21)

18

seperti perhotelan, penyewaan apartemen, taksi, renal mobil, bus/truk, kapal laut, pesawat udara, dll, kemudian dikeluarkan zakatnya dapat dipilih diantara 2(dua) cara:

a. Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), seluruh harta kekayaan perusahaan dihitung, termasuk barang (harta) penghasil jasa, seperti hotel, taksi, kapal, dll, kemudian keluarkan zakatnya 2,5 %.

b. Pada Perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari hasil bersih yang diperoleh usaha tersebut selama satu tahun, kemudian zakatnya dikeluarkan 10%.

Hal ini diqiyaskan dengan perhitungan zakat hasil pertanian, dimana perhitungan zakatnya hanya didasarkan pada hasil pertaniannya, tidak dihitung harga tanahnya.

4. Hasil Pertanian

Nishab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 750 kg.Apabila hasil pertanian termasuk makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum, kurma, dll, maka nishabnya adalah 750 kg dari hasil pertanian tersebut.

Tetapi jika hasil pertanian itu selain makanan pokok, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga, dll, maka nishabnya disetarakan dengan harga nishab dari makanan pokok yang paling umum di daerah (negeri) tersebut (di negeri kita = beras).

Kadar zakat untuk hasil pertanian, apabila diairi dengan air

hujan, atau sungai/mata/air, maka 10%, apabila diairi dengan cara

disiram / irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5%.

(22)

19

Dari ketentuan ini dapat dipahami bahwa pada tanaman yang disirami zakatnya 5%.Artinya 5% yang lainnya didistribusikan untuk biaya pengairan. Imam Az Zarqoni berpendapat bahwa apabila pengolahan lahan pertanian diairidengan air hujan (sungai) dan disirami (irigasi) dengan perbandingan 50;50, maka kadar zakatnya 7,5% (3/4 dari 1/10).

Pada sistem pertanian saat ini, biaya tidak sekedar air, akan tetapi ada biaya lain seperti pupuk, insektisida, dll. Maka untuk mempermudah perhitungan zakatnya, biaya pupuk, intektisida dan sebagainya diambil dari hasil panen, kemudian sisanya (apabila lebih dari nishab) dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% (tergantung sistem pengairannya).

Berbagai harta benda yang wajibdikeluarkan zakatnya adalah hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, emas, perak, uang, hasil pendapatan dan jasa, rikaz (barang temuan), perdagangan dan perusahaan, serta sumber penghasilan lainnya (Undang-undang RI.No.38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat). Adapun ashnaf (orang yang berhak menerima zakat) adalah fakir (orang melarat), orang miskin, amil (pengelola zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), gharimin (orang berutang), ibnusabil (orang yang dalam perjalanan menuntut ilmu), fi sabillillah (orang yang berjuang di jalan Allah), riqab(budak) (Q.S. At-Taubah: 60).

Zakat dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu (Hasan, 2006):

pertama adalah zakat fitrah adalahsejumlah harta yang wajib

ditunaikan oleh setiap mukallaf (orang islam, baligh, dan berakal)

(23)

20

dan setiaporang yang nafkahnya ditanggung dengan syarat-syarat tertentu. Kedua adalah Zakat maal merupakanzakat atas harta kekayaan. Meliputi hasil perniagaan atau perdagangan, pertambangan, pertanian, hasillaut dan hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta zakat profesi. Masing-masing zakat memilikiperhitungan yang berbeda-beda.

Menurut El Madani (2013) ada Banyak hikmah dan manfaat dibalik perintah berzakat, diantaranya ialah: (1) Zakat dapat membiasakan orang yang menunaikannya memilki sifat dermawan,sekaligus menghilangkan sifat pelit dan kikir; (2) Zakat dapat menguatkan benih persaudaraan, sertamenambah rasa cinta dan kasih sayang sesama muslim; (3) Zakat merupakan salah satu upaya dalammengatasi kemiskinan; (4) Zakat dapat mengurangi angka pengangguran dan penyebab-penyebabnya.Sebab hasil zakat dapat digunakan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru; (5) Zakat dapatmensucikan jiwa dan hati dari rasa dendam, serta menghilangkan iri hati dan kebencian dari orang- orangmiskin terhadap orang kaya; (6) Zakat dapat menumbuhkan perekonomian umat.

2.2. PENGELOLAAN DANA ZAKAT.

Kegiatan inti (mendasar) dalam pengelolaan dana zakat infak dan shodaqoh (ZIS) menurut Sadewo (2004) dibagi menjadi empat kegiatan utama yaitu: penghimpunan, pengelolaan, pendayagunaan, dan pendistribusian.

2.2.1. PENGHIMPUNAN

(24)

21

Penghimpunan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan dana ZIS dari muzakki. Peran fungsi dan tugas divisi atau bidang penghimpunan dikhususkan mengumpulkan dana zakat, infak, sedekah dan wakaf dari masyarakat. Dalam melaksanakan aktivitas pengumpulan dana tersebut bagian penghimpunan dapat menyelenggarakan berbagai macam kegiatan.

Menurut Sudewo (2004: 189) kegiatan penghimpunan ada dua yaitu galang dana dan layanan donatur:

1. Galang Dana

Dalam melakukan penggalangan dana ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan yaitu:

a. Kampanye (dakwah), dalam melakukan kampanye sosialisasi zakat ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: konsep komunikasi, materi kampanye, bahasa kampanye, media kampanye,

b. Kerjasama program, galang dana dapat menawarkan program untuk dikerjasamakan dengan lembaga atau perusahaan lain. Kerjasama ini tentu dalam rangka aktivitas fundraising.

c. Seminar dan diskusi, dalam sosialisasi zakat galang dana juga dapat melakukan kegiatan seminar. Tema seminar bisa apa saja asal masih relevan dengan kegiatan dan kiprah lembaga zakat.

d. Pemanfaatan rekening bank, pembukaan rekening bank,

ini dimaksudkan untuk memudahkan donatur

(25)

22

menyalurkan dananya. Jumlah dana yang masuk menjadi strong point.

Menurut Widodo (2001: 82) ada beberapa cara dana diterima lembaga zakat diantaranya adalah:

a. Melalui rekening di bank, artinya di bank mana lembaga membuka rekening penerimaan dana zakat.

b. Counter, di lokasi mana lembaga membuka counter.

c. Jemput bola, wilayah mana saja yang akan dilayani dengan cara dana zakat diambil oleh lembaga.

Pendapat Sudewo dan Widodo mengenai bagaimana cara penggalangan dana zakat sebenarnya tidak jauh berbeda.

Penggalangan bisa dilakukan dengan cara: mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan sosialisasi masalah zakat, penerimaan dana zakat bisa melalui rekening bank, counter penerimaan, atau diambil sendiri oleh amil. Model penerimaan seperti ini dimaksudkan untuk memudahkan muzakki menyalurkan zakatnya.

2. Layanan Donator

Layanan donatur tak lain adalah customer care atau di dalam perusahaan dinamakan customer service. Tugas yang dilakukan layan donatur cukup bervariasi diantaranya (Sadewo, 2004: 201- 203):

a. Data donatur, data tentang donatur harus

didokumentasikan. Data ini diperoleh dari berbagai

sumber, diantaranya dari bukti transfer bank, dari

kuitansi, para donatur yang datang langsung atau surat-

(26)

23

surat. Data yang dihimpun sebaiknya dilengkapi dengan berbagai informasi. Dengan menguasai semua data donatur, lembaga zakat akan semakin bisa membuat donatur untuk tetap terlibat di dalamnya.

b. Keluhan, layan donatur juga harus sama cermatnya dalam mendata tentang keluhan dari donatur, mitra kerja atau masyarakat umum. Keluhan ini harus disusun, dikompilasi, dan dianalisa. Hasil analisa dari keluhan diserahkan kepada divisi penghimpunan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan.

c. Follow up keluhan, satu hal yang menjadi kebiasaan kita adalah menghindari penyelesaian keluhan. Mengatakan bahwa akan ditangani oleh yang berwenang adalah suatu jawaban yang professional. Namun bila hanya sekadar jawaban tanpa follow up ini kebohongan pada publik.

Dengan adanya pelayanan untuk donatur, mereka tidak

merasa kecewa karena merasa tidak diperhatikan.Pendataan

donatur sangat penting karena ini menyangkut hubungan

silaturrahim antara muzakki, amil, dan juga mustahiq.Karena

hubungan ini berpengaruh pada potensi zakat yang ada pada

lembaga.Muzakki terkadang merasa tidak puas dengan kinerja

amil, mereka berhak menyampaikan keluhan-keluhan. Amil

(lembaga) harus menindaklanjuti keluhan muzakki, tidak hanya

menerima keluhan tersebut..

(27)

24

2.2.2. PENGELOLAAN (KEUANGAN)

Seperti juga struktur keuangan lembaga yang lain, struktur keuangan zakat terdiri atas dua bidang yaitu bendahara dan akuntansi. Ada dua verifikasi yang dikerjakan yakni verifikasi penerimaan dan pengeluaran.Verifikasi penerimaan dimulai sejak dana ditransfer dari muzakki hingga masuk ke lembaga zakat.

Sedangkan verifikasi pengeluaran dicermati sejak diajukan hingga pencairan dana. Bendahara (kasir) berfungsi mengeluarkan dana yang telah disetujui.

Sedangkan bidang akuntansi melakukan pencatatan keluar masuknya uang.Pencatatan ini diinput dalam jurnal harian.Setelah itu diposting kedalam buku besar.Dalam kerjanya sesungguhnya akuntansi memilah atas dua segi yakni akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.Akuntansi keuangan dibuat sesuai pernyataan standar akuntansi, sementara akuntansi manajemen dikerjakan sesuai dengan kebutuhan lembaga.

Dalam akuntansi keuangan ada lima laporan yang harus dikerjakan divisi pengelolaan keuangan (Sadewo, 2004: 214-215) yaitu:

a. Neraca, merupakan laporan yang menggambarkan posisi keuangan pada waktu tertentu.

b. Laporan sumber dan penggunaan dana, tujuan dari LSPD

adalah menggambarkan aktivitas lembaga terutama

dalam menjelaskan asal sumber-sumber pendanaan serta

penyalurannya sesuai dengan bidang garapan masing-

(28)

25

masing, ini menggambarkan kinerja lembaga ditinjau dari aspek finance.

c. Laporan dana termanfaatkan, tujuan dari LPDT adalah menggambarkan berbagai aktivitas pendanaan yang non cash, contohnya pinjaman hutang dan pemberian hutang.

d. Laporan arus kas, tujuannya menggambarkan aliran kas keluar masuk.

Pertimbangan alur keluar masuk didasarkan pada tiga jenis aktivitas yaitu:

a. Operasi, terkait dengan kegiatan utama lembaga zakat.

b. Investasi, yang dimaksud adalah penggunaan uang yang ditujukan baik untuk kepentingan lembaga maupun mustahiq.

c. Pendanaan, merupakan kebutuhan tambahan dana eksternal dalam pembiayaan program jangka panjang.

d. Catatan atas laporan keuangan, berisi penjelasan atas keempat jenis laporan diatas sebagai catatan khusus yang lebih rinci sifatnya.

Akuntansi manajemen berperan penting dalam menentukan kepentingan manajemen yang lebih luas berdasarkan penggunaan data keuangan yang ada.

2.2.3. PENDAYAGUNAAN

Sesungguhnya jatuh bangunnya lembaga zakat terletak pada

kreativitas divisi pendayagunaan, yaitu bagaimana amil (lembaga

zakat) mendistribusikan zakat dengan inovasi-inovasi yang baru

(29)

26

dan bisa memenuhi tujuan pendistribusian zakat kepada mustahiq.Pendayagunaan program pemberdayaan mustahiq merupakan inti dari zakat.Ada beberapa kegiatan yang dapat dikembangkan oleh bidang pendayagunaan.Namun yang terjadi di Indonesia beberapa lembaga zakat sudah memiliki keseragaman kegiatan. Adapun kegiatan tersebut adalah:

1. Pengembangan Ekonomi

Dalam melakukan pengembangan ekonomi ada beberapa kegiatan yang dapat dijalankan oleh lembaga zakat (Sadewo, 2004: 227-235) diantaranya:

a. Penyaluran modal.

b. Pembentukan lembaga keuangan.

c. Pembangunan industri.

d. Penciptaan lapangan kerja.

e. Peningkatan usaha.

f. Pelatihan.

g. Pembentukan organisai.

Beberapa kegiatan pengembangan ekonomi seperti yang disebutkan di atas telah banyak dipraktekan di Indonesia. Jika pendistribusian dana disalurkan untuk kegiatan pengembangan ekonomi seperti itu usaha merubah mustahiq menjadi muzakki memiliki peluang yang lebih besar.

2. Pembinaan Sumber Daya Manusia

Pembinaan SDM adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh

lembaga zakat untuk membina mustahiq.Program yang paling

mudah dilakukan adalah pemberian beasiswa kepada anak-anak

(30)

27

dari keluarga mustahiq. Menurut Sudewo ada beberapa program pendidikan yang bisa dikembangkan untuk membantu anak-anak mustahiq (Sadewo, 2004: 231) diantaranya:

a. Beasiswa

b. Diklat dan kursus keterampilan c. Sekolah

3. Layanan Sosial

Yang dimaksud dengan layanan sosial adalah layanan yang diberikan kepada kalangan mustahiq dalam memenuhi kebutuhan mereka. Beberapa kegiatan santunan sosial diantaranya seperti:

biaya kesehatan, santunan anak yatim, bantuan bencana alam.

Layanan sosial merupakan program insidentil lembaga, karena dana zakat tersebut diberikan kepada mustahiq ketika ada kebutuhan yang sangat mendesak.

2.2.4. PENDISTRIBUSIAN

Pendistribusian adalah suatu kegiatan dimana zakat bisa

sampai kepada mustahiq secara tepat. Kegiatan pendistribusian

sangat berkaitan dengan pendayagunaan, karena apa yang akan

didistribusikan disesuaikan dengan pendayagunaan. Akan tetapi

juga tidak bisa terlepas dari penghimpunan dan pengelolaan. Jika

penghimpunannya tidak maksimal dan mungkin malah tidak

memperoleh dana zakat sedikitpun maka tidak akan ada dana yang

didistribusikan.

(31)

28

Muhammad (2006: 176) berpendapat bahwa distribusi zakat berkaitan dengan persediaan, saluran distribusi, cakupan distribusi, lokasi mustahiq, wilayah penyaluran, tingkat persediaan, dana zakat dan lokasi amil, pengiriman, dan keagenan.

Zakat yang dihimpun oleh Lembaga Zakat harus segera disalurkan kepada para mustahiq sesuai dengan skala prioritas yang telah disusun dalam program kerja.Mekanisme distribusi zakat kepada mustahiq bersifat konsumtif dan juga produktif.

Menurut Mufraini (2006: 148) distribusi zakat tidak hanya dengan dua cara akan tetapi ada tiga yaitu: distribusi konsumtif, distribusi produktif, dan investasi.

Sebagai penegasan sudah seharusnya pemerintah berperan aktif di dalam membangun kesejahteraan umat Islam yang mendominasi negara ini, sehingga nantinya di dalam pengelolaan zakat dan pendistribusiannya dapat dilakukan secara optimal, tepat sasaran dan profesional.Usaha-usaha pengumpulan zakat hendaknya lebih dimaksimalkan agar pendistribusiannya tersalurkan secara terpadu kepada yang berhak secara sistematis dan optimal.

Ada beberapa ketentuan dalam mendistribusikan dana zakat kepada mustahiq yaitu:

1. Mengutamakan distribusi domestik, dengan melakukan

distribusi lokal atau lebih mengutamakan penerima zakat

yang berada dalam lingkungan terdekat dengan lembaga

zakat (wilayah muzakki) dibandingkan pendistribusiannya

untuk wilayah lain.

(32)

29

2. Pendistribusian yang merata dengan kaidah-kaidah sebagai berikut:

a. Bila zakat yang dihasilkan banyak, seyogyanya setiap golongan mendapat bagiannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

b. Pendistribusiannya haruslah menyeluruh kepada delapan golongan yang telah ditetapkan.

c. Diperbolehkan untuk memberikan semua bagian zakat kepada beberapa golongan penerima zakat saja, apabila didapati bahwa kebutuhan yang ada pada golongan tersebut memerlukan penanganan secara khusus.

d. Menjadikan golongan fakir miskin sebagai golongan pertama yang menerima zakat, karena memenuhi kebutuhan mereka dan membuatnya tidak bergantung kepada golongan lain adalah maksud dan tujuan diwajibkannya zakat.

e. Seyogyanya mengambil pendapat Imam Syafi’i sebagai kebijakan umum dalam menentukan bagian maksimal untuk diberikan kepada petugas zakat, baik yang bertugas dalam mengumpulkan maupun yang mendistribusikannya.

3. Membangun kepercayaan antara pemberi dan penerima

zakat. Zakat baru bisa diberikan setelah adanya keyakinan

dan juga kepercayaan bahwa si penerima adalah orang yang

berhak dengan cara mengetahui atau menanyakan hal

tersebut kepada orang-orang adil yang tinggal di

lingkungannya, ataupun yang mengetahui keadaannya yang

sebenarnya.

(33)

30

Intermediary system yang mengelola investasi dan zakat seperti perbankan Islam dan lembaga pengelola zakat dewasa ini lahir secara masif.Di Indonesia sendiri, dunia perbankan Islam dan lembaga pengumpul zakat menunjukan perkembangan yang cukup pesat. Mereka berusaha untuk berkomitmen mempertemukan pihak surplus muslim dan pihak defisit muslim.

Dengan harapan terjadi proyeksi pemerataan pendapatan antara surplus dan defisit muslim atau bahkan menjadikan kelompok defisit (mustahiq) menjadi surplus (muzakki).

Melihat fenomena dan permasalahan yang terjadi di Indonesia dari sisi zakat, sosial masyarakat, dan juga ekonomi Mufraini (2006: 147) membuat sebuah inovasi distribusi zakat yang dikategorikan dalam empat bentuk sebagai berikut:

1. Distribusi Bersifat Konsumtif Tradisional

Yaitu zakat dibagikan kepada mustahiq untuk dimanfaatkan secara langsung, seperti zakat fitrah yang diberikan kepada fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau zakat māl yang dibagikan kepada para korban bencana alam.

2. Distribusi Bersifat Konsumtif Kreatif

Zakat diwujudkan dalam bentuk lain dari barangnya semula, seperti diberikan dalam bentuk alat-alat sekolah atau beasiswa.

3. Distribusi Zakat Bersifat Produktif Tradisional

Zakat diberikan dalam bentuk barang-barang yang produktif

seperti kambing, sapi, alat cukur, dan lain sebagainya. Pemberian

dalam bentuk ini akan dapat menciptakan suatu usaha yang

membuka lapangan kerja fakir miskin.

(34)

31

4. Distribusi Zakat dalam Bentuk Produktif Kreatif Zakat diwujudkan dalam bentuk permodalan baik untuk membangun proyek sosial atau menambah modal dagang pengusaha kecil.

Sebagimana dilihat dari inovasi di atas maka lembaga zakat selain mendistribusikan zakat secara konsumtif, saat ini juga telah mengembangkan sistem distribusi zakat produktif. Pola distribusi dana zakat produktif menjadi menarik untuk dibahas mengingat ketentuan syari’ah menegaskan bahwa dana zakat yang terkumpul sepenuhnya adalah hak milik dari mustahiq delapan asnaf.

Zakat bukan hanya persoalan ibadah mahḍah (ritual murni) tapi juga persoalan māliyah ijtima’iyyah (harta benda sosial) oleh karenanya harus ma’qulul ma’na (masuk akal).Ini merupakan pendapat golongan Hanafiyah dan pendapat ini dapat diterima karena ma’qulul ma’na dapat diterapkan sesuai perkembangan zaman.Dan dapat menjawab tuntutan kemaslahatan umat, kapanpun dan dimanapun.

Al-Qur’an sendiri tidak mengatur bagaimana seharusnya dan sebaiknya membagikan zakat kepada para asnaf. Umar bin Khattab ra pernah memberikan dana zakat berupa kambing agar dapat berkembang biak. Nabi pernah memberikannya kepada seorang fakir sebanyak dua dirham, dengan memberikan anjuran agar mempergunakan uang tersebut, satu dirham untuk dimakan dan satu dirham lagi supaya dibelikan kapak sebagai alat kerja.

Berdasarkan pendapat golongan Hanafiyah, dan peristiwa

pada masa Rasulullah dan Umar maka distribusi zakat secara

(35)

32

produktif diperbolehkan demi kemaslahatan umat. Pendapat ini dikuatkan oleh Yafie (1995: 236) bahwa pemanfaatan dana zakat yang dijabarkan dalam ajaran fiqih memberi petunjuk perlunya suatu kebijakan dan kecermatan, di mana perlu dipertimbangkan faktor-faktor pemerataan dan penyamaan, kebutuhan yang nyata dari kelompok-kelompok penerima zakat, kemampuan penggunaan dana zakat dari yang bersangkutan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraannya dan kebebasannya dari kemelaratan, sehingga pada gilirannya yang bersangkutan tidak lagi menjadi penerima zakat tetapi menjadi pembayar zakat.

Hal-hal di atas dicontohkan bahwa jika penerima zakat tersebut tahu dan biasa berniaga maka kepadanya diberikan modal usaha, atau yang bersangkutan mempunyai keterampilan pertukangan maka kepadanya diberikan perkakas yang memungkinkan dia bekerja dalam bidang keterampilannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terhadap dana zakat tersebut tidak akan menjadi permasalahan yang ilegal dalam pengertian hukum. Oleh karena itu dana zakat yang digulirkan secara produktif tentunya tidak dapat menuntut adanya tingkat pengembalian tertentu sebagaimana halnya sumber dana selain zakat.

Konsep distribusi dana zakat secara produktif yang

dikedepankan sejumlah lembaga zakat biasanya dipadukan

dengan dana terkumpul lainnya yaitu shadaqah dan infak. Hal ini

untuk meminimalisir adanya perbedaan pendapat akan pola

produktif dana zakat.

(36)

33

Aturan syari’ah menetapkan bahwa dana hasil pengumpulan zakat, sepenuhnya adalah hak milik dari para mustahiq. Dengan demikian pola distribusi produktif yang dikembangkan pada umumnya mengambil skema qardul hasan yakni satu bentuk pinjaman yang menetapkan tidak adanya tingkat pengembalian tertentu dari pokok pinjaman. Namun demikian bila ternyata si peminjam dana tersebut tidak mampu mengembalikan pokok tersebut, maka hukum zakat mengindikasikan bahwa sipeminjam tersebut tidak dapat dituntut atas ketidakmampuannya tersebut, karena pada dasarnya, dana tersebut adalah hak mereka.

Terlepas dari perbedaan pendapat dalam fiqih dan pola inovasi pendanaan yang diambil dari dana zakat, skema yang dikedepankan dari pola qordul hasan sebenarnya sangat brilian, sebagaimana menurut pendapat Mufraini (2006: 160) bahwa:

1. Ukuran keberhasilan sebuah lembaga pengumpul zakat adalah bagaimana lembaga tersebut dapat menjadi salah satu elemen dari sekuritas sosial yang mencoba mengangkat derajat kesejahteraan seorang mustahiq menjadi seorang muzakki. Jika hanya pola konsumtif yang dikedepankan, tampaknya akan sulit tujuan ini bisa tercapai.

2. Modal yang dikembalikan oleh mustahiq kepada lembaga

zakat, tidak berarti bahwa modal tersebut sudah tidak lagi

menjadi haknya mustahiq yang diberikan pinjaman. Ini

artinya bisa saja dana tersebut diproduktifkan kembali dengan

memberi balik kepada mustahiq tersebut yang akan

dimanfaatkan untuk penambahan modal usahanya lebih

(37)

34

lanjut. Dan kalaupun tidak, hasil akumulasi dana zakat dari hasil pengembalian modal akan kembali didistribusikan kepada mustahiq lain yang juga berhak.

2.3. ZAKAT DAN KEMISKINAN.

Menurut Qaradhawi (2002), Islam memandang kemiskinan merupakan satu hal yang mampu membahayakan akidah, akhlak, kelogisan berpikir, keluarga dan masyarakat. Salah satu kejahatan terbesar dari kapitalisme ialah penguasaan dan pemilikan sumber daya produksi oleh segelintir manusia yang diuntungkan secara ekonomi, sehingga hal ini berimplikasi pada pengabaian pada meraka orang yang kurang beruntung.Zakat adalah suatu mekanisme tanpa kompromi yang berusaha menghilangkan segala kesewenag-wenangan, karena zakat merupakan kewajiban bagi kalangan kaum muslimin yang kaya.Zakat mampu tampil sebagai instrumen dalam memperkecil kesenjangan tersebut dan mampu mengembalikan daya beli masyarakat.

Produktivitas yang dimaksud disini adalah setelah mereka

menerima bantuan modal produktif tersebut baik dalam bentuk

modal kerja atau pelatihan, penerima zakat tersebut mampu

menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai tambah.Hal tersebut

ditujukan untuk dapat mengangkat tingkat kesejahteraan penerima

zakat tersebut.Sebagai suatu usaha yang bertujuan untuk

memaksimumkan laba, dengan bantuan yang diberikan, dari sudut

ekonomi usaha memaksimumkan keuntungan ini dapat dicapai

dengan efisiensi produksi.Hal ini dapat dicapai bila bantuan modal

(38)

35

yang diberikan tidak membebani ongkos produksi. Dalam islam tidak ada faktor bunga, maka hal ini tidak akan membebani ongkos produksi, dan penerimaan dari hasil tambahan modal dapat digunakan sepenuhnya. Untuk menangani masalah kemiskinan, zakat dapat berperan dalam menyediakan modal usaha dan pelatihan bisnis untuk para mustahik. Dengan demikian akan tercipta pemberdayaan ekonomi ummat. Secara mikro, dana zakat berperan untuk memenuhi kebutuhan mustahik. Oleh karena itu para mustahik harus mendapatkan sarana, fasilitas, manajemen, dan keterampilan yang akan mendorong mereka untuk bisa mandiri (Garry, 2011).

Dari sisi konsep, zakat dapat dijadikan instrumen dalam

pemberdayaan ekonomi umat melalui pendayagunaan zakat untuk

usaha produktif. Hal ini telah diatur dalam Keputusan Menteri

Agama Republik Indonesia No. 373 Tahun 2003 pada pasal 28

ayat 2 dan pasal 29, tentang Pelaksanaan Undang-undang No.38

tahun 1999 tentang Pengeloloaan Zakat. Bahkan, pada pasal 30

didalam keputusan tersebut lebih ditekankan lagi bahwa hasil

penerimaan dari Organisasi Pengumpul Zakat (OPZ) baik berupa

infaq, sadakah, hibah, wasiat, waris dan kafarat didayagunakan

tertutama untuk usaha produktif setelah memenuhi syarat

sebagaimana dimaksud dalam pasal 29. Namun kenyataannya,

dana Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) belum berperan secara

optimal dalam menanggulangi kemiskinan sebagaimana yang

diharapkan.

(39)

36 BAB 3

KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN BERBASIS COMUNITY BASED DEVELOPMENT (CBD)

3.1.KEMISKINAN DAN PROGRAM PEMBERDAYAAN.

Kemiskinan dapat dilihat dari berbagai aspek, Bank Dunia menetapkankemiskinan dari segi pendapatan, yaitu yang tergolong miskin adalah merekayang memiliki pendapatan kurang dari $2 perhari (Todaro, 2002).Bank Dunia pun melakukan pendekatan relatif untuk melihat pendudukmiskin, yaitu diarahkan pada 40 persen lapisan penduduk terbawah dari totalpenduduk suatu negara.Sedangkan kemiskinan menurut Bank Pembangunan Asia(Asian Development Bank) adalah kekurangan aset-aset penting dan kesempatanyang menjadi hak setiap manusia.Indikator-indikator untuk mengukurkemiskinan, yaitu pendidikan dasar, kesehatan, gizi, air, sanitasi, pendapatan,pekerjaan, dan upah. Selain itu ada juga indikator yang bersifat intangibles (tidaktampak), antara lain rasa ketidakberdayaan dan kurangnya kebebasan dalamberpartisipasi.

Kemiskinan dapat dilihat dari dua besaran, yaitu absolut dan

relatif.Kemiskinan absolut adalah tingkat kemiskinan di bawah

batas minimumkebutuhan untuk bertahan hidup atau biasa diukur

dengan kalori yang diperlukanditambah dengan komponen-

komponen penting lainnya yang bukan makanan.Sementara

kemiskinan relatif biasanya didefinisikan dalam hubungannya

(40)

37

denganbeberapa rasio garis kemiskinan absolut atau sebagai porsi dari rata-ratapendapatan nasional (Susanto, 2006).

Ketentuan BPS (1994) menyatakan bahwa seseorang akan berada dibawah garis kemiskinan dilihat dari besarnya rupiah yang dibelanjakan perkapita perbulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (rumah, sandang, aneka barang dan jasa). Seorang akan berada dibawah garis kemiskinan apabila konsumsi perhari kurang dari 2100 kalori.

Berbagai kebijakan yang telah dilakukan melalui berbagai program/proyek dirasakan belum berdampak signifikan.Hasil bantuan program/proyek tidak memberikan luaran yang mampu mengatasi kemiskinan.Menurut Pujiono (2009: 50) kegagalan tersebut pada dasarnya menunjukan bahwa program/proyek yang selama ini tidak efektif dan tidak efisien dalam mengatasi kemiskinan. Penyebab kegagalan tersebut tidak lain karena kemiskinan itu sendiri disebabkan oleh kegagalan konseptual dan bukan kurangnya kapabalitas di pihak rakyat (Yunus, 2006). Oleh sebab itu , harus ada pembangunan secara konsisten dan menyeluruh agar tepat sasaran dan mencapai hasil yang optimal.

Salah satu upaya mengatasi kemiskinan adalah melalui upayapengembangan kapasitas kelompok miskin.Konsep ini erat kaitannya dengankonsep pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat adalah suatu prosesdimana masyarakat

terutama mereka yang miskin sumber daya, kaum perempuan,dan

kelompok yang terabaikan lainnya, didukung agar mampu

meningkatkankesejahteraannya secara mandiri. Proses

(41)

38

pemberdayaan masyarakat bertitik tolakuntuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya,mengoptimalkan sumber daya setempat sebaik mungkin, baik sumber daya alammaupun sumber daya manusia.

(Masyarakat Mandiri, 2007)

3.2. ZAKAT DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN.

Model pendayagunaan zakat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin adalah program pemanfaatan dana zakat untuk mendorong mustahik mampu memiliki usaha mandiri. Program tersebut diwujudkan dalam bentuk pengembangan modal usaha mikro yang sudah ada atau perintisan usaha mikro baru yang prospektif (Kholiq, 2012: 46).

Pendayagunaan dalam zakat erat kaitannya dengan bagaimana cara pendistribusiannya. Kondisi itudikarenakan jika pedistribusiannya tepat sasaran dan tepat guna, maka pendayagunaan zakat akan lebihoptimal Dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, dijelaskan mengenaipendayagunaan adalah:

1) Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan fakir miskin danpeningkatan kualitas umat.

2) Pendayagunaan zakat untuk usaha produktif sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabilakebutuhan dasar

mustahik telah terpenuhi.

(42)

39

Pasal 16 ayat (1) dan (2) UU No. 38 Tahun 1999 tentang PengelolaanZakat, secara eksplisit dinyatakan bahwa pendayagunaan zakat adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup para mustahiq sesuai dengan ketentuan agama(delapan ashnaf) dan dapat dimanfaatkan untuk usaha produktif. Secara lebihspesifik, dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 373 Tahun 20035 pasal28 ayat (2) dijelaskan bahwa pendayagunaan zakat untuk usaha produktifdilakukan apabila zakat sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup para mustahiqdan ternyata masih terdapat kelebihan. Jadi, ZIS, terutama infaq dan shadaqah,dapat dimanfaatkan untuk usaha produktif apabila terdapat usaha-usaha nyata yang berpeluang menguntungkan.

Secara garis besar, dana ZIS dapat didistribusikan pada dua

jenis kegiatan,yaitu kegiatan-kegiatan yang bersifat konsumtif dan

produktif (Nasution et al.,2008). Kegiatan konsumtif adalah

kegiatan yang berupa bantuan sesaat untukmenyelesaikan masalah

yang sifatnya mendesak dan langsung habis setelahbantuan

tersebut digunakan (jangka pendek). Sedangkan, kegiatan

produktifadalah pemberian bantuan yang diperuntukkan bagi

kegiatan usaha produktifsehingga dapat memberikan dampak

jangka menengah-panjang bagi paramustahiq

(43)

40

Menurut Antonio (2001), pembiayaan produktif adalah pembiayaanyang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untukpeningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan maupun investasi.Berdasarkan jenis keperluannya, pembiayaan produktif dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Pembiayaan modal kerja, yang merupakan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan produksi secara kuantitatif (jumlah hasil produksi) dan kualitatif (peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi) serta untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

b) Pembiayaan investasi, yang merupakan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capital goods). serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan investasi.

Menurut Sunartiningsih (2004), pemberdayaanmasyarakat

diartikan sebagai upaya untuk membantumasyarakat dalam

mengembangkan kemampuansendiri sehingga bebas dan mampu

(44)

41

untuk mengatasimasalah dan mengambil keputusan secara mandiri.Dengan demikian pemberdayaan masyarakatditujukan untuk mendorong terciptanya kekuatan dankemampuan lembaga masyarakat untuk secaramandiri mampu mengelola dirinya sendiri berdasarkankebutuhan masyarakat itu sendiri, serta mampumengatasi tantangan persoalan di masa yang akandatang.

Ada beberapa indikator keberhasilan program pemberdayaan menurutSumodiningrat (1999), yaitu :

a) Merkurangnya jumlah penduduk miskin;

b) Merkembangnya usaha peningkatan pendapatan yang dilakukan olehpenduduk miskin dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia;

c) Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatankesejahteraan keluarga miskin di lingkungannya;

d) Meningkatkan kemandirian kelompok yang ditandai dengan makinberkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, makin kuatnyapermodalan kelompok, makin rapinya sistem administrasi kelompok, sertamakin luasnya interaksi kelompok dengan kelompok lain di dalammasyarakat;

e) Meningkatnya kapasitas masyarakat dan pemerataan

pendapatan yangditandai oleh peningkatan pendapatan

keluarga miskin yang mampu memenuhi kebutuhan pokok

dan kebutuhan sosial dasarnya.

(45)

42

Undang-Undang No. 38 tahun 1999 tentang PengelolaanZakat, menjelaskan bahwa pendayagunaan adalah :

a) Hasil pengumpulan zakat didayagunakan untuk mestahiq sesuai dengan ketentuan agama.

b) Pendayagunaan hasil pengumpulan zakat berdasarkan skala prioritas kebutuhan mustahik dan dapat dimanfaatkan untuk usaha produktif.

c) Persyaratan dan prosedur pendayagunaan hasil pengumpulan zakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan keputusan Menteri.

Jenis-jenis kegiatan pendayagunaan dana zakat yang berkembang saat ini bisa kekelompokkan berdasarkan basisnya, yaitu :

1. Berbasis Sosial

Penyaluran zakat jenis ini dilakukan dalam bentuk pemberian dana langsung berupa santunan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan pokok mustahiq.Ini disebut juga Program Karitas (santunan) atau hibah konsumtif. Program ini merupakan bentuk yang paling sederhana dari penyaluran dana zakat.

2. Berbasis pengembangan ekonomi

Penyaluran zakat jenis ini dilakukan dalam bentuk pemberian

modal usaha kepada mustahiq secara langsung maupun tidak

langusng, yang pengelolaannya bisa melibatkan maupun

tidak melibatkan mustahiksasaran. Penyaluran dana zakat ini

diarahkan pada usaha ekonomi yang produktif, yang

(46)

43

diharapkan hasilnya dapat mengangkat taraf kesejahteraan masyarakat.

Motode pendistribusian dana zakat, pada masa kekinian dikenal dengan istilah zakat konsumtif dan zakat produktif.

Hampir seluruh lembaga pengelolaan zakat menerapkan metode ini. Secara umum kedua kategori zakat ini dibedakan berdasarkan bentuk pemeberian zakat dan penggunaan dana zakat itu oleh mustahiq. Masing-masing dari kebutuhan konsumtif dan produktif tersebut kemudian dibagi dua, yaitu konsumtif tradisional dan konsumtif kreatif, sedangkan yang berbentuk produktif dibagi menjadi produktif konvensional dan produktif kreatif, adapun penjelasan lebih rinci dari keempat bentuk penyaluran zakat teresebut adalah:

a) Konsumtif Tradisional

Maksud pendistribusian zakat secara konsumtif tradisional adalah bahwa zakat dibagikan kepada mustahiq dengan secara langsung untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, seperti pembagian zakat fitrah berupa beras dan uang kepada fakir miskin setiap idul fitri atau pembagian zakat mal secara langsung oleh para muzakkikepada mustahiq yang sangat membutuhkan karena ketiadaan pangan atau karena mengalami musibah. Pola ini merupakan program jangka pendek dalam rangka mengatasi permasalahan umat.

b) Konsumtif Kreatif

Pendistribusian zakat secara konsumtif kreatif adalah zakat

yang diwujudkan dalam bentuk barang konsumtif dan

(47)

44

digunakan untuk membantu orang miskin dalam mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi yang dihadapinya. Bantuan tersebut antara lain berupa alat-alat sekolah dan beasiswa untuk para pelajar, bantuan sarana ibadah seperti sarung dan mukena, bantuan alat pertanian, seperti cangkul untuk petani, gerobak jualan untuk pedagang kecil

c) Produktif Konvensional

Pendistribusian zakat secara produktif konvensional adalah zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang produktif, di mana dengan menggunakan barang-barang tersebut, para muzakki dapat menciptakan suatu usaha, seperti pemberian bantuan ternak kambing, sapi perahan atau untuk membajak sawah, alat pertukangan, mesin jahit

d) Produktif Kreatif

Pendistribusian zakat secara produktif kreatif adalah zakat yang diwujudkan dalam bentuk pemberian modal bergulir, baik untuk pemodalan proyek sosial, seperti pembangunan sosial, seperti pembangunan sekolah, sarana kesehatan atau tempat ibadah maupun sebagai modal usaha untuk membantu atau bagi pengembanganusaha para pedagang atau pengusaha kecil.

3.3.PENGEMBANGAN EKONOMI BERBASIS KEARIFAN LOKAL.

Kearifan lokal merupakan prilaku manusia dalam

berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat

(48)

45

bersumber dari nilai-nilai agama, adat-istiadat setempat, dan budaya setempat yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah dan akan berkembang secara turun temurun ( Petrasa, 2008).

Menurut Sukmana (2010: 62) pengembangan ekonomi lokal merupakan prosesdimana pemerintah daerah dan/atau kelompok berbasiskomunitas mengelola sumber daya yang ada danmasuk kepada penataan kemitraan baru dengan sktorswasta, atau di antara mereka sendiri, untukmenciptakan pekerjaan baru dan merangsang kegiatanekonomi wilayah. Selanjutnya Kisroh (2007) pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal merupakan konsep pembangunan yang mendasarkan pada pendayagunaan sumber daya local yang ada pada masyarakat, baik sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya kelembagaan.

Setiap komunitas mempunyai kondisi potensilokal yang unik

yang dapat membantu ataumenghambat pengembangan

ekonominya. Atribut-atribut lokal ini akan membentuk benih,

yang dari situstrategi pengembangan ekonomi lokal dapat

tumbuhmemperbaiki daya saing lokal. Untuk membangun

dayasaing tiap komunitas perlu memahami dan bertinakatas dasar

kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamanuntuk membuat

daerahnya menarik bagi kegiatan bisnis, kehadiran pekerja dan

lembaga yangmenunjang.

(49)

46

Dalam mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan pelaku usaha harus secara besama-sama mengambil inisiatif dalam pengembangan ekonomi lokal yang dapat dialkukan melalui forum kemitraan.Dalam kasus ini, OPZ yang melakukan program pemberdayaan hendaknya sudah mempertimbangkan aspek-aspek lokal masyarakat tersebut tinggal.

3.4.KONSEP COMUNITY BASED DEVELOPMENT (CBD).

Pendekatan Pembangunan Berbasis Masyarakat (Community Based Development) adalah metode pendekatan yang melibatkan masayarakat/komunitas didalam pembangunan.Didalam pembangunan ini melibatkan berbagai unsur-unsur yang lebih luas diantaranya adalah sosial, budaya, ekonomi hingga peraturan/kepranataan dan lingkungan (Hidayat dan Darwin, 2011).Sifat dari pendekatan CBD ini adalah proses pembangunan mulai dari tahap idea/gagasan, perencanaan, pembuatan program kegiatan, penyusunan anggaran/biaya, pengadaan sumber-sumber hingga pelaksanaan di lapangan lebih menekankan kepada keinginan atau kebutuhan yang nyata ada (the real needs of community) dalam kelompok masyarakatnya

Menurut Hidayat dan Darwin (2001) prinsip dasar dari konsep CBD adalah:

a) Diperlukan tingkat break-even dalam setiap kediaman yang

dikelolah melalui program CBD. Tujuannya adalah agar

(50)

47

kegiatan yang dikelolah mampu dilestarikan atau dikembangkan.

b) Konsep CBD selalu melibatkan partisipasi masyarakat yang meliputi perencanaan maupun pelaksanaan program.

c) Antara kegiatan pelatihan dan pengembangan usaha merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

d) Implementasi CBD harus memaksimalkan sumberdaya yang ada, khususnya masalah pendanaan.

e) Organisasi CBD harus memposisikan diri sebagai “perantara”

yang dapat yang menghubungkan antara kepentingan

pemerintah dengan kepentingan masyarakat yang bersifat

mikro.

(51)

48 BAB 4

MODEL OPTIMALISASI DANA ZAKAT MELALUI PENDEKATAN COMUNITY BASED DEVELOPMENT

(CBD)

4.1.REKAYASA MODEL OPTIMALISASI DANA ZAKAT.

Pembaharuan dalam aspek pendayagunaan zakat merupakan

pembaharuan yang menyangkut pada aspek pemanfaatan dana

zakat. Selama ini ada kesan bahwa zakat melanggengkan

kemiskinan. Hal ini dapat kita lihat dari penerima zakat yang tidak

pernah berubah statusnya dari penerima zakat (mustahiq) menjadi

pemberi/pembayar zakat (muzzaki), bahkan setiap tahunnya

jumlah mustahiq cenderung bertambah. Penyaluran bantuan LAZ

dan BAZ selama ini sebagian besar dilakukan melalui program-

program bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang

kepemudaan serta bidang ekonomi kebanyakan masih dilakukan

secara tersebar dan cenderung parsial tergantung mustahiq berada

untuk setiap programnya. Masih lemahnya infrastruktur dan skill

tenaga pendamping program pemberdayaan menjadi faktor

kendala tersendiri bagi sebagian LAZ dan ZIS. Hal ini akan

menyebabkan kesulitan dalam memberikan kontrol, evaluasi dan

pengkuran keberhasilan program. Kedepan perubahan dari pola

konsumsi menjadi pola produktif menjadi salah satu jalan bagi

pemberdayaan dana zakat masa depan. Model pendayagunaan

zakat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin adalah

Referensi

Dokumen terkait

Justeru, kertas kerja ini akan memperlihatkan bagaimana hubungan timbal balas antara pemimpin dengan rakyat bukan sekadar memperlihatkan ciri-ciri pemimpin yang baik tetapi

PENGESAHAN STATUS TESIS PENGESAHAN PENYELIA PENGESAHAN SPS / FAKULTI TAJUK PENGAKUAN ii DEDIKASI iii PENGHARGAAN iv ABSTRAK v ABSTRACT vi. ISI KANDUNGAN

Berdasarkan teori dan penelitian tersebut maka dibuat hipotesis berikut: H1 : Kinerja Keuangan berpengaruh Positif terhadap Nilai Perusahaan Hasil penelitian mengenai pengaruh

Selain itu, hubungan manusia dengan diri pribadi dan Tuhan juga mempunyai pengaruh untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang tentram. Ketika manusia sudah mampu mengerti

Keputusan morfologi telah dilengkapkan lagi dengan pendekatan genetik molekul menggunakan separa (490 bp) gen 16S rRNA mitokondria yang berevolusi perlahan untuk

Alhamdulillah saya selaku penulis melakukan hal yang demikian dalam menyusun sebuah proposal skripsi yang berjudul “Analisis pengaruh Strategi Segmentation,

Aplikasi Sistem Informasi inventory ini dapat membantu pegawai STIKes Hang Tuah Pekanbaru, baik Unit Kerja, Bagian Perlengkapan dan Ketua STIKes Hang Tuah