• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDEKS KERAWANAN PEMILU (IKP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDEKS KERAWANAN PEMILU (IKP)"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

INDEKS

KERAWANAN PEMILU (IKP)

PEMILIHAN KEPALA DAERAH TAHUN

2017

(2)

TIM PENYUSUN

Pengarah

1. Prof. Dr. Muhammad, S.IP., M.Si 2. Nasrullah, S.H., M.H.

3. Ir. Nelson Simanjuntak, S.H.

4. Endang Wihdatiningtyas, S.H.

5. Daniel Zuchron

Pembina

Gunawan Suswantoro, S.IP., M.Si.

Penanggung Jawab Ferdinand Eskol Tiar Sirait

Ketua Tim Feizal Rahman

Wakil Ketua 1. R. Alief Sudewo

2. Fathul Andi Rizky Harahap

Tim Peneliti

1. Dirga Ardiansa, S.IP., M.Si.(Koor) 2. Rikson Nababan

3.Yusfi triadi

4. M. Afi ffudin

5. Masykuruddin Hafi dz 6. Sunanto

7. Toto Sugiarto 8. Veri Junaedi 9. Jojo Rohi 10. Erik Kurniawan 11. Tarmizi 12. Muslim Aisha 13. Abdul Ghofur 14. Siti Khofi fah

15. Nurlia Dian Paramitha 16. Muamarullah

Sekretariat

1. Ike Meisye Laksmi 2. Djoni Irfandi 3. Andika Asykar 4. Inti Priswari

5. Abdul Rahman Mansyur 6. Adriansyah Pasga Dagama 7. M. Qodri Imaduddin 8. Anjar Arifi n

(3)

Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya Indeks Kerawanan Pemilihan Umum (IKP) Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2017 ini dapat diselesaikan. IKP 2017 ini merupakan salah satu produk hasil penelitian Bawaslu RI terhadap pelaksanaan pemilihan umum (pemilu), baik Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). IKP 2017 merupakan upaya dari Bawaslu RI untuk melakukan pemetaan dan deteksi dini terhadap berbagai potensi pelanggaran dan kerawanan dalam menghadapi pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak tahun 2017. Kerawanan yang dimaksud adalah berbagai hal yang berpotensi mengganggu atau menghambat proses Pemilu yang demokratis.

Pada tahun 2017, terdapat 101 daerah yang akan melaksanakan Pilkada, yang terdiri dari 7 provinsi dan 94 kabupaten/kota. Bawaslu menyusun IKP di 101 daerah tersebut dengan mengukur 3 (tiga) aspek utama yang saling berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu yang demokratis. Ketiga aspek tersebut adalah aspek penyelenggaraan, aspek kontestasi, dan aspek partisipasi. Dari ketiga aspek tersebut, kami merumuskannya menjadi 10 variabel dan 31 indikator. Hasil pengukuran dari masing-masing aspek, variabel, dan indikator 101

KATA PENGANTAR

(4)
(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan dan Kegunaan Indeks Kerawanan Pemilu 2 Defi nisi dan Operasionalisasi Konsep 3

Tahapan Penyusunan IKP 2017 6

Data dan Metode 8

Metode Pengukuran dan Analisis Data 8 Gambaran Umum Hasil Indeks Kerawanan Pemilu

(Pilkada 2017) 9

HASIL SKOR DIMENSI, VARIABEL, DAN INDIKATOR 27

Dimensi Penyelenggaraan 27

Dimensi Kontestasi 43

Dimensi Partisipasi 59

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 75

Kesimpulan 75

Rekomendasi Internal 77

Rekomendasi Eksternal 78

LAMPIRAN 83

(6)
(7)

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia merupakan lembaga negara yang memiliki tugas dalam pengawasan baik dalam penindakan dan pencegahan. Dalam konteks pencegahan dalam pengawasan pemilu, maka diperlukan upaya pemetaan yang lebih komprehensif terkait potensi pelanggaran dan kerawanan dalam penyelenggaraan pemilu. Oleh karena itu, serangkaian kajian dan analisis secara deret waktu (time series) diperlukan untuk memenuhi kebutuhan publik dan para stakeholders akan informasi yang akurat dan valid. Penguatan dan peningkatan kapasitas riset terus dilakukan Bawaslu RI guna menghasilkan analisis dan kajian kepemiluan yang bisa diandalkan. Hal tersebut dilakukan seiring dengan revitalisasi peran dan fungsi Bawaslu sebagai pusat kajian dan analisis kepemiluan di Indonesia.

Dalam pelaksanaan tugas di atas, Bawaslu menyusun Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) sebagai suatu rangkaian riset yang menjadi dasar perumusan kebijakan, program dan strategi dalam konteks pengawasan di bidang kepemiluan. Melalui pendekatan pencegahan, IKP dibutuhkan sebagai instrumen deteksi dini dari potensi kerawanan di setiap wilayah yang hendak melangsungkan Pilkada. Harapannya segala bentuk potensi kerawanan dapat diantisipasi, diminimalisasi, dan dicegah.

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap proses dan hasil Indeks LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN

(8)

hal yang telah diperbaiki dan dirumuskan ulang untuk perbaikan pelaksanaan IKP tahun 2017. Perbaikan dimaksud meliputi (1) Perumusan tujuan dan kegunaan Indeks Kerawanan Pemilu (Pilkada);

(2) Defi nisi konseptual dari Kerawanan Pemilu; (3) Operasionalisasi konsep yang meliputi penentuan dimensi, variabel, indikator, dan item indikator berupa pertanyaan; (4) Melakukan pembobotan ulang setiap variabel dan indikator melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) yang melibatkan para ahli dalam expert judgement, (terdiri dari para akademisi, praktisi dan kementerian/lembaga terkait);

serta (5) Perubahan mekanisme pengukuran dan analisis instrumen Indeks Kerawanan Pemilu.

Dalam melakukan sejumlah perbaikan di atas, pada pelaksanaan riset Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) tahun 2017, Bawaslu memfasilitasi proses perbaikan dan penyusunan instrumen IKP untuk periode pelaksanaan tahun 2017. Bawaslu melakukan serangkaian workshop yang lebih intensif serta pelibatan berbagai pihak yang lebih luas.

Proses riset melibatkan berbagai pihak yang terdiri dari akademisi, praktisi, dan pegiat di bidang kepemiluan serta kementerian/

lembaga terkait. Bawaslu juga melibatkan seluruh Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/kota dalam proses pengumpulan data.

TUJUAN DAN KEGUNAAN INDEKS KERAWANAN PEMILU

(1) Melakukan pemetaan dan deteksi dini dalam menentukan wilayah-wilayah prioritas yang didentifi kasi sebagai wilayah rawan dalam proses pemilu yang demokratis;

(2) Mengidentifi kasi ciri, karakteristik, dan kategori kerawanan dari berbagai wilayah yang akan melangsungkan pemilu;

(3) Sebagai referensi dalam menentukan strategi dan langkah- langkah antisipasi, pencegahan, dan meminimalisasi

(9)

kerawanan pelaksanaan pemilu.

Indeks Kerawanan Pemilu selain berguna bagi internal Bawaslu RI juga berguna bagi stakeholders (kementerian dan lembaga negara, institusi akademik, masyarakat sipil, media, serta publik secara luas). Indeks Kerawanan Pemilu bisa dijadikan sumber data rujukan dalam produksi data, informasi, dan pengetahuan serta rekomendasi dalam mengambil keputusan, terutama untuk langkah-langkah antisipasi terhadap berbagai hal yang dapat menghambat dan mengganggu proses pemilu di berbagai daerah di Indonesia.

DEFINISI DAN OPERASIONALISASI KONSEP

Konsep pemilihan umum yang demokratis bersandar pada dua dimensi penting yakni kontestasi dan partisipasi (Robert Dahl, 1982).

Kontestasi yakni menyangkut subjek peserta pemilu (partai politik dan kandidat) yang saling berkompetisi dalam meraih posisi politik terntentu. Dalam dimensi kontestasi, akan dilihat seberapa adil dan setara proses kompetisi yang berlangsung diantara para kontestan.

Sementara dimensi partisipasi menyangkut subjek masyarakat sebagai pemilih yang memiliki hak. Dimensi ini melihat bagaimana hak masyarakat dijamin serta diberikan ruang keterlibatan untuk mengawasi dan mempengaruhi dalam proses pemilihan umum.

Selain dua dimensi yang menjadi dasar dalam pemilihan umum yang demokratis juga ada satu hal yang berpengaruh dalam literasi kontemporer manajemen pelaksanaan pemilu yakni faktor penyelenggaraan pemilu yang dilakukan oleh subjek penyelenggara pemilu. Hal ini terkait bagaimana integritas dan profesionalitas penyelenggara dalam menjamin pemilu berjalan demokratis.

Mengacu pada tiga konsep dasar di atas dalam workshop yang diikuti oleh para ahli yang terdiri dari akademisi, pegiat pemilu

(10)

dan unsur kementerian/lembaga terkait dirumuskan defi nsi tentang kerawanan pemilu serta bagaimana mengukur kerawanan melalui berbagai dimensi, variabel, dan indikator.

Defi nisi dari konsep Kerawanan Pemilu (Pilkada) : ‘Segala hal yang berpotensi mengganggu atau menghambat proses

pemilu yang demokratis’

Berdasarkan defi nsi di atas operasionalisasi Konsep Kerawanan Pemilu terdiri dari: 3 Dimensi, 10 Variabel, dan 31 Indikator yang masing-masing memiliki bobot kontribusi yang berbeda. Proses pemberian bobot dilakukan melalui metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang melibatkan para ahli dalam expert judgement.

Hasilnya dapat dilihat di tabel berikut:

Tabel 1 : Pembobotan Dimensi, Variabel, dan Indikator

Dimensi, Variabel, dan Indikator Bobot

DIMENSI 1 : Penyelenggaraan Integritas Penyelengara (variabel 1)

 Netralitas Penyelenggara (Indikator 1)

 Penyalahgunaan Wewenang (Indikator 2)

30%

20.1%

11.9%

8.2%

Profesionalitas Penyelenggara (variabel 2)

 Penganggaran untuk penyelenggara (Indikator 3)

 Ketegasan penyelenggara dalam pelaksanaan tahapan (Indikator 4)

 Kualitas DPT (Indikator 5)

 Penyediaan akses informasi oleh penyelenggara (Indikator 6)

 Dukungan kesekretariatan (indikator 7)

7.1%

1.1%

2.1%

2.7%

0.7%

0.6%

Kekerasan terhadap Penyelenggara (variabel 3)

 Perusakan terhadap fasilitas penyelenggara (Indikator 8)

 Kekerasan fi sik terhadap penyelenggara (Indikator 9)

2.7%

0.7%

1.5%

(11)

Dimensi, Variabel, dan Indikator Bobot DIMENSI 2 : Kontestasi

Pencalonan (variabel 4)

 Dukungan ganda calon independen (Indikator 11)

 Dukungan ganda oleh partai politik (Indikator 12)

 Identifi kasi petahana yang mencalonkan diri (Indikator 13)

 Identifi kasi sengketa pencalonan (Indikator 14)

35%

7.9%

0.7%

4.5%

1.3%

1.5%

Kampanye (variabel 5)

 Substansi materi kampanye (Indikator 15)

 Pelaporan praktik politik uang (Indikator 16)

 Penggunaan fasilitas negara (Indikator 17)

17.2%

2.7%

6.3%

8.2%

Kontestan(variabel 6)

 Kepengurusan ganda partai politik (Indikator 18)

 Konfl ik antar peserta (kandidat, timses, pendukung) (Indikator 19)

4.7%

1%

3.7%

Kekerabatan (variabel 7)

 Identifi kasi hubungan keluarga / kekerabatan calon (Indikator 20)

5.4%

5.4%

DIMENSI 3 : Partisipasi Hak Pilih (variabel 8)

 Pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya (indikator 21)

 Laporan tidak tercatatnya pemilih dalam DPT (Indikator 22)

35%

8.2%

1.9%

6.3%

Karakteristik Lokal (variabel 9)

 Kategori kemiskinan masyarakat (Indikator 23)

 Tantangan geografi s (Indikator 24)

 Kondisi budaya patriarki (Indikator 25)

 Pengaruh pemuka agama/adat (Indikator 26)

11.1%

1.4%

2.7%

2.1%

4.9%

(12)

Dimensi, Variabel, dan Indikator Bobot Pengawasan /kontrol masyarakat (variabel 10)

 Keberadaan pemantau pemilu (CSO, NGO, Ormas) (Indikator 27)

 Akses Partisipasi kelompok diasibilitas (Indikator 28)

 Pemberitaan media atas laporan masyarakat &

penyelenggara (Indikator 29)

 Jumlah laporan pelanggaran dan pemantauan oleh warga negara (Indikator 30)

 Kekerasan terhadap pemilih (Indikator 31)

15.5%

1.6%

1.1%

4.6%

1.2%

7%

TAHAPAN PENYUSUNAN IKP 2017

Dalam pelaksanaan riset Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) 2017 ada beberapa rangkaian tahapan yang dilalui:

• Workshop Evaluasi IKP 2015

• Workshop penyusunan devinisi konseptual (penentuan dimensi, variabel, indikator) dan pembobotan expert judgment

• Workshop penyusunan instrumen pengumpulan data

• Sosialisasi ke daerah

• Pengumpulan data

Penulisan Laporan

Akhir

• Verifi kasi dan konfi rmasi data

• Skoring

• Skoring penyusunan indeks melalui metode AHP Workshop Sosialisasi dan

pengumpulan data

Proses verifi kasi

dan skoring Finalisasi skoring/

penetapan indeks

(13)

Workshop (Januari s.d Juni 2016)

• Rangkaian workshop diawali dengan proses evaluasi atas hasil dan instrumen IKP 2015. Workshop dilanjutkan dengan perumusan, penyusunan, dan penetapan instrumen IKP 2017, termasuk penentuan prioritas dan bobot nilai dilakukan melalui metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan software komputasi yang dilakukan oleh Bawaslu, akademisi, praktisi dan pegiat kepemiluan.

Sosialisasi (Juni - Juli 2016)

Proses sosialiasi dan penjelasan pengisian instrumen dilakukan kepada Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/kota.

• Proses pengumpulan dan pengisian data dilakukan selama 1 bulan oleh Bawaslu Propinsi dan Panwas kabupaten/kota.

Verifi kasi dan Skoring (Juli–Agustus 2016)

• Proses verifi kasi dan konfi rmasi data dengan menghadirkan Bawaslu Propinsi dan Panwas Kabupaten/Kota.

• Proses skoring oleh Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/Kota (sebagai salah satu komponen skoring) .

• Proses skoring akhir oleh peneliti berdasarkan triangulasi data isian dan data skoring Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/Kota.

• Hasil Skoring akhir seluruh indikator untuk tiap wilayah akan diperbandingkan satu per satu secara berpasangan antar wilayah dengan metode AHP.

Penyusunan Laporan Akhir (Agustus 2016)

(14)

DATA DAN METODE

Sumber data dalam penyusunan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) Pilkada 2017 terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer disusun dan dikumpulkan berdasarkan isian data item indikator yang dilakukan oleh Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/Kota, serta dilakukan proses verifi kasi dan validasi data melalui wawancara tatap muka oleh peneliti. Data Sekunder merupakan data resmi yang bersumber dari DKPP, KPU, kementerian/lembaga, dan media.

Proses pengumpulan data dilakukan dalam beberapa langkah.

Pertama, Tim peneliti menyusun kerangka item data indikator yang terdiri dari 2 jenis data baik primer maupun sekunder (kerangka item data terlampir dalam lampiran laporan). Kedua, Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/Kota melakukan pengumpulan data di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota berdasarkan pada kerangka item data selama kurun waktu satu bulan. Ketiga, tim peneliti melakukan proses verifi kasi dan validasi isian item data indikator dengan wawancara tatap muka kepada Bawaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten/Kota.

METODE PENGUKURAN DAN ANALISIS DATA

Pengukuran untuk menghasilkan skor akhir IKP menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode ini bekerja dengan cara membandingkan secara berpasangan (pairwise comparison) setiap wilayah (Provinsi atau Kabupaten/Kota) satu persatu untuk tiap indikator. Prinsip kerja penentuan skor akhir melalui metode AHP seperti layaknya kompetisi yang mempertemukan head to head setiap wilayah pilkada 2017 untuk menghasilkan klasemen peringkat.

(15)

Tabel 2 : Kategori skor IKP

Skor Kategori Keterangan

0 – 1,99 Kerawanan

Rendah Indikasi kerawanan relatif kecil cenderung tidak rawan

2,00 – 2,99 Kerawanan Sedang

Ada indikasi potensi kerawanan yang cukup signifi kan sehingga perlu diperhatikan dan diantisipasi

3,00 – 5,00 Kerawanan

Tinggi Ada indikasi potensi kerawanan yang signifi kan yang perlu diperhatikan, diantisipasi serta diambil langkah-langkah untuk meminimalisasi kerawanan

GAMBARAN UMUM HASIL INDEKS KERAWANAN PEMILU (PILKADA 2017)

Hasil IKP 2017 Pilkada Provinsi

Terdapat tujuh Provinsi yang melaksanakan Pilkada di tahun 2017, yaitu Aceh, Bangka Belitung, Banten, Jakarta, Gorontalo, Sulawesi Barat dan Papua Barat. Dari hasil skor akhir yang merangkum nilai dari keseluruhan dimensi (Penyelenggaraan, Kontestasi, dan Partisipasi), terdapat tiga daerah yang berada pada kategori kerawanan tinggi (skor ≥ 3). Daerah tersebut secara berurutan dari yang tertinggi yaitu Papua Barat (3,38), Aceh (3,32) kemudian Banten (3,13). Sementara sisanya adalah daerah dengan kategori kerawanan sedang (skor antara 2,00–2,99), daerah tersebut secara berurutan adalah Sulawesi Barat (2,36), Jakarta (2,29), Bangka Belitung (2,29) dan Gorontalo (2,01). Secara keseluruhan, tingkat kerawanan bagi Pilkada tingkat Provinsi terbagi dalam dua kerawanan yaitu kerawanan tinggi dan kerawanan sedang.

(16)

Tabel 3 : Skor IKP 2017 Provinsi

No

Propinsi Total IKP Dimensi

Penyelenggaraan Dimensi

Kontestasi Dimensi Partisipasi Peringkat IKP (Bobot AHP) Nilai Rata-rata Nilai Rata-

rata Nilai Rata- rata Tertinggi-Terendah Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5

1 Papua Barat 3.381 3.378 2.917 2.667

2 Aceh 3.327 3.267 3.125 3.000

3 Banten 3.147 3.133 3.708 2.433

4 Sulawesi Barat 2.367 2.556 2.083 2.233

5 DKI Jakarta 2.297 1.822 2.958 1.500

6 Kep. Bangka

Belitung 2.293 1.956 2.625 1.900

7 Gorontalo 2.015 1.556 2.083 2.067

No

Dimesi Penyelaenggara

Nama Daerah

Integritas

Penyelenggara Profesionalitas

Penyelenggara Kekerasan Terhadap Penyelenggara Bobot 20.1% Bobot 7.1% Bobot 2.7%

Range 1-5 Range 1-5 Range 1-5

1 Papua Barat 4,00 3,80 2,33

2 Aceh 3,00 3,80 3,00

3 Banten 3,00 3,40 3,00

4 Sulawesi Barat 3,00 3,00 1,67

5 DKI Jakarta 2,00 1,80 1,67

6 Kep. Bangka

Belitung 2,00 2,20 1,67

7 Gorontalo 2,00 1,00 1,67

(17)

No

Dimensi Kontestasi

Nama Daerah

Pencalonan Kampanye Kontestan Kekerabatan politik Calon Bobot 7,9% Bobot 17,2% Bobot 4,7% Bobot 5,4%

Range 1-5 Range 1-5 Range 1-5 Range 1-5

1 Papua Barat 3,00 3,67 2,00 3,00

2 Aceh 3,50 3,00 3,00 3,00

3 Banten 3,50 4,33 2,00 5,00

4 Sulawesi

Barat 1,00 2,33 2,00 3,00

5 DKI Jakarta 3,50 4,33 3,00 1,00

6 Kep. Bangka

Belitung 2,50 3,00 2,00 3,00

7 Gorontalo 3,00 2,33 2,00 1,00

No

Dimensi Partisipasi

Nama Daerah

Hak Pilih Karakteristik

Lokal Keterlibatan Masyarakat Bobot 8,2 % Bobot 11,1% Bobot 15,5%

Range 1-5 Range 1-5 Range 1-5

1 Papua Barat 1,00 4,00 3,00

2 Aceh 2,00 4,00 3,00

3 Banten 2,00 3,50 1,80

4 Sulawesi Barat 2,00 2,50 2,20

5 DKI Jakarta 2,00 1,50 1,00

6 Kep. Bangka

Belitung 2,00 1,50 2,20

7 Gorontalo 2,00 2,00 2,20

(18)

Wilayah Kerawanan Tinggi

Dari tujuh Provinsi tersebut, kerawanan tinggi di Provinsi Papua Barat terdapat pada dimensi penyelenggaraan (3,37) diikuti dimensi kontestasi (2,91) dan dimensi partisipasi (2,66) yang menunjukkan perbedaan yang cukup signifi kan. Keputusan dan tindakan penyelenggara Pemilu menjadi faktor dominan atas kerawanan Pilkada di Provinsi Papua Barat. Tingginya kerawanan dimensi penyelenggaraan dikontribusikan oleh aspek integritas (4.00) dan profesionalitas (3,80) penyelenggara Pemilu dibanding kekerasan terhadap penyelenggara (2,33). Sementara dalam dimensi kontestasi, tingginya kerawanan dikontribusikan secara setara oleh aspek aktivitas kampanye (3,67), proses pencalonan (3,50), dan hubungan kekerabatan antarcalon (3,00) dibanding peserta Pemilu (2,00). Terakhir, dimensi partisipasi, aspek paling rawan di Papua Barat adalah aspek karakteristik lokal (4,00) diikuti oleh aspek keterlibatan masyarakat (3,00), dan hak pilih masyarakat (1,00).

Daerah kedua dengan kategori kerawanan tinggi adalah Provinsi Aceh. Tingkat kerawanan masing-masing dimensi di Provinsi ini relatif setara. Dimensi penyelenggaraan (3,26), kontestasi (3,12), dan partisipasi (3,00) berkontribusi secara berimbang terhadap kerawanan Pilkada Aceh. Semua pihak dalam pelaksanaan Pilkada Aceh berpotensi menimbulkan kerawanan dengan kategori kerawanan tinggi. Dalam dimensi penyelenggaraan, tingginya kerawanan dikontribusikan secara setara dari aspek profesionalitas penyelenggara (3,80), integritas penyelenggara (3,00), dan kekerasan terhadap penyelenggara (3,00). Tingginya kerawanan dalam level ini juga terdapat pada dimensi kontestasi yang dikontribusikan secara setara oleh aspek pencalonan (3,50), kampanye (3,00), dan peserta Pemilu (3,00). Sementara dimensi partisipasi, kerawanan tinggi dikontribusikan oleh karakteristik lokal (4,00) dan keterlibatan masyarakat (3,00) dibanding hak pilih (2,00).

(19)

Daerah ketiga dengan kategori kerawanan tinggi adalah Provinsi Banten. Aspek kontestasi menjadi dimensi kerawanan paling tinggi (3,70) dibandingkan dimensi penyelenggaraan (3,13) dan partisipasi (2,23) dengan perbedaan yang cukup siginifi kan. Adanya hubungan kekerabatan antarcalon yang berpotensi mencalonkan dalam Pilkada Banten menjadi faktor determinan dalam tingkat kerawanan daerah ini. Dalam dimensi penyelenggaraan, ketiga aspek yang diukur dalam kategori ini relatif tingkat kerawanan yang setara yaitu profesionalitas penyelenggara (3,40), integritas penyelenggara (3,00), dan kekerasan terhadap penyelenggara (3,00). Sementara dalam dimensi kontestasi, kekerabatan politik calon menjadi faktor kerawanan dengan skor paling tinggi yaitu (5,00), kampanye (4,33), pencalonan (3,50) dibanding peserta Pemilu (2,00). Adapun dimensi partisipasi aspek paling tinggi kerawanannya adalah karakteristik lokal (3,50) dibanding dengan hak pilih (2,00) dan keterlibatan masyarakat (1,80).

Wilayah Kerawanan Sedang

Kategori kerawanan sedang terdapat pada Provinsi Sulawesi Barat, DKI Jakarta, Bangka Belitung dan Gorontalo. Tingkat kerawanan daerah ini masing-masing adalah Sulawesi Barat (2,36), Jakarta (2,29), Bangka Belitung (2,29), dan Gorontalo (2,01).

Di Provinsi Sulawesi Barat, aspek kerawanan tertinggi terdapat dalam dimensi penyelenggaraan (2,55) dibanding dimensi partisipasi (2,23) maupun dimensi kontestasi (2,08). Dalam dimensi penyelenggaraan, kerawanan tertinggi terletak pada variabel integritas dan profesionalitas penyelenggara (3,00) dibanding dengan kekerasan terhadap penyelenggara (1,67). Sementara dimensi kontestasi memiliki kerawanan tertinggi di variabel kampanye (4,33), pencalonan (3,50), peserta Pilkada (3,00) dan kekerabatan

(20)

tertinggi pada karakteristik lokal (2,50), keterlibatan masyarakat (2,20), dan hak pilih (2,00).

Di Provinsi DKI Jakarta, aspek kerawanan tertinggi terdapat dalam dimensi kontestasi (2,95) dibanding penyelenggaraan (1,82) atau dimensi partisipasi (1,50). Dimensi penyelenggaraan memiliki kerawanan pada variabel integritas penyelenggara (2,00), profesionalitas penyelenggara (1,80), lalu kekerasan terhadap penyelenggara (1,67). Sementara dalam dimensi kontestasi, variable paling rawan terdapat pada kampanye (4,33), pencalonan (3,50), peserta Pemilu (3,00) dibandingkan kekerabatan politik calon (1,00). Adapun dalam dimensi partisipasi, variabel rawan tertinggi pada hak pilih (2,00) dibandingkan karakteristik lokal (1,50) dan keterlibatan masyarakat (1,00).

Di Provinsi Bangka Belitung, aspek kerawanan terdapat pada dimensi kontestasi (2,62) dibanding dimensi penyelenggaraan (1,95) dan partisipasi (1,90). Dimensi penyelenggaraan mempunyai kerawanan tertinggi pada variabel profesionalitas penyelenggara (2,20) dibanding integritas penyelenggara (2,00) dan kekerasan terhadap penyelenggara (1,67). Sementara dimensi kontestasi, kerawanan tertinggi terdapat pada variabel kampanye (3,00) dan kekerabatan politik calon (3,00) dibanding dengan variabel pencalonan (2,50) dan peserta Pemilu (2,00). Adapun dimensi partisipasi, kerawanan tertinggi terdapat pada keterlibatan masyarakat (2,20) dibandingkan karakteristik lokal (2,00) dan hak pilih (2,00).

Di Provinsi Gorontalo, aspek kerawanan terdapat pada dimensi kontestasi (2,08) dan partisipasi (2,06) dibanding penyelenggaraan (1,55). Dimensi penyelenggaraan mempunyai kerawanan tertinggi pada variabel integritas penyelenggara (2,00) dibanding kekerasan terhadap penyelenggaran (1,67) dan profesionalitas penyelenggara (1,00). Sementara dimensi kontestasi mempunyai kerawanan

(21)

tertinggi pada variabel pencalonan (3,00) dibanding dengan variabel kampanye (2,33), peserta Pemilu (2,00), dan kekerabatan politik calon (1,00). Adapun dimensi partisipasi, kerawanan relatif sama pada variabel keterlibatan masyarakat (2,20), hak pilih (2,00), dan karakteristik lokal (2,00).

Hasil IKP 2017 Pilkada Kabupaten/Kota

Berdasarkan dari skor total IKP mencakup keseluruhan dimensi (Penyelenggaraan, Kontestasi, dan Partisipasi), dari 94 Kabupaten/

kota yang akan melaksanakan Pilkada pada tahun 2017 terdapat 4 (empat) daerah yang masuk dalam kategori kerawanan tinggi, sementara ada 40 (empat puluh) daerah dengan kategori kerawanan sedang dan 50 (lima puluh) daerah dengan kategori kerawanan rendah.

Wilayah Kerawanan Tinggi

Empat daerah dengan kategori kerawanan tinggi adalah Kabupaten Tolikara (3,50), Kabupaten Intan Jaya (3,30), Kabupaten Nduga (3,24), dan Kabupaten Lanny Jaya (3,03). Kerawanan tinggi di empat wilayah tersebut memiliki pola yang cenderung sama, di mana dimensi penyelenggaraan memiliki skor lebih tinggi dibanding dimensi partisipasi dan kontestasi. Dimensi partisipasi memiliki skor lebih tinggi dibanding dimensi kontestasi. Meskipun keempat daerah tersebut ada dalam tingkat kerawanan tinggi, untuk dimensi kontestasi Kabupaten Lanny Jaya memiliki skor kerawanan rendah.

Sementara tiga daerah lainnya masuk dalam skor kerawanan sedang.

(22)

Tabel 4 : Kabupaten/Kota dengan Tingkat Kerawanan Tinggi

Peringkat

Kabupaten /

Kota TOTAL IKP Dimensi

Penyelenggaraan Dimensi

Kontestasi Dimensi Partisipasi Peringkat IKP (Bobot 100%) (Bobot 30%) Bobot (35%) Bobot (35%) Tertinggi-

Terendah Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5

1 Tolikara 3,503 4,200 2,500 3,182

2 Intan Jaya 3,301 3,600 2,333 3,182

3 Nduga 3,241 3,400 2,208 3,182

4 Lanny Jaya 3,035 3,600 1,458 3,000

Wilayah Kerawanan Sedang

Wilayah dengan kategori kerawanan sedang sebanyak 40 daerah, yaitu: Aceh Tengah (2,91), Kepulauan Yapen (2,88), Takalar (2,87), Kepulauan Mentawai (2,68), Buton (2,65), Mappi (2,64), Jayapura (2,64), Kota Tebing Tinggi (2,64), Tambraw (2,60), Aceh Barat Daya (2,57), Tapanuli tengah (2,57), Kota Jayapura (2,53) dan Puncak Jaya (2,50). Daerah lainnya dengan kategori kerawanan sedang adalah Maybrat (2,47), Aceh Utara (2.45), Sarmi (2.34), Aceh Singkil, (2.32), Kota Cimahi (2.30), Kendari (2.29), Nagan Raya (2.29), Aceh Besar (2.29), Langsa (2.29), Barito Selatan (2.29), Dogiyai (2.27), Musi Banyuasin (2.25), Barito Kuala (2.22), Bombana (2.22), Aceh Timur (2.21), Kampar (2.20), Lhokseumawe (2.19), Maluku Tenggara Barat (2.15), Buol (2.14), Pulau Morotai (2.10), Gayo Lues (2.08), Pekanbaru (2.08), Banda Aceh (2.05), Kota Sabang (2.05), Bekasi (2.05), Sorong (2.05), Brebes (2.00).

Meskipun keempat puluh wilayah tersebut berada di kategori kerawanan sedang, ada delapan daerah yang memiliki skor kerawanan tinggi pada dimensi penyelenggaraan. Kedelapan daerah

(23)

tersebut adalah: Kepulauan Yapen (3,00), Tambrauw (3,40), Aceh Barat Daya (3,20), Kota Jayapura (3,00), Puncak Jaya (3,00), Aceh Utara (3,00), Sarmi (3,00) dan Dogiyai (3,00).

Tabel 5 : Kabupaten/Kota dengan Tingkat Kerawanan Sedang

Peringkat

Kabupaten /

Kota TOTAL IKP Dimensi

Penyelenggaraan Dimensi

Kontestasi Dimensi Partisipasi Peringkat IKP (Bobot 100%) (Bobot 30%) Bobot (35%) Bobot (35%) Tertinggi-

Terendah Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5

5 Aceh Tengah 2,915 2,600 2,542 2,091

6 Kep. Yapen 2,885 3,000 2,083 2,636

7 Takalar 2,877 2,400 1,875 2,818

8 Kepulauan Mentawai

2,681 2,400 1,458 2,636

9 Buton 2,653 2,400 1,708 2,273

10 Mappi 2,649 2,400 2,375 2,636

11 Jayapura 2,645 2,600 2,000 2,636

12 Kota Tebing Tinggi

2,645 2,800 1,600 2,455

13 Tambrauw 2,601 3,400 1,958 2,636

14 Aceh Barat Daya

2,579 3,200 1,667 2,818

15 Tapanuli

Tengah 2,577 2,400 1,583 2,273

16 Kota Jayapura 2,531 3,000 1,833 2,091

17 Puncak Jaya 2,505 3,000 1,583 1,727

18 Maybrat 2,479 2,400 2,208 1,545

19 Aceh Utara 2,459 3,000 1,542 2,818

20 Sarmi 2,343 3,000 1,417 1,909

21 Aceh Singkil 2,321 2,200 1,458 2,636

22 Kota Cimahi 2,309 2,000 2,417 1,545

23 Kendari 2,297 2,000 1,333 1,364

(24)

25 Aceh Besar 2,293 2,600 1,583 2,636

26 Langsa 2,293 2,000 1,458 2,091

27 Barito Selatan 2,293 2,000 2,250 2,273

28 Dogiyai 2,277 3,000 1,583 1,727

29 Musi Banyuasin 2,259 2,400 1,917 1,545

30 Barito Kuala 2,229 1,800 2,375 2,455

31 Bombana 2,229 2,400 1,583 1,727

32 Aceh Timur 2,219 2,200 1,708 2,818

33 Kampar 2,207 1,600 2,250 2,273

34 Lhokseumawe 2,197 2,400 1,417 2,091

35 Maluku

Tenggara Barat

2,157 2,400 2,250 1,909

36 Buol 2,143 2,000 1,875 1,909

37 Pulau Morotai 2,109 1,600 1,750 1,545

38 Gayo Lues 2,085 2,200 2,458 1,545

39 Pekanbaru 2,081 1,800 2,042 1,909

40 Banda Aceh 2,059 2,400 1,458 1,909

41 Kota Sabang 2,059 2,400 1,458 1,909

42 Bekasi 2,053 1,200 2,250 2,273

43 Kab Sorong 2,051 2,000 2,333 2,455

44 Brebes 2,001 1,600 2,542 1,909

Wilayah Kerawanan Rendah

Sementara daerah dengan kategori rendah adalah Aceh Tamiang (1.96), Kota Tasikmalaya (1.96), Bireuen (1.91), Kulonprogo (1.90), Seram Bagian Barat (1.88), Tulang Bawang (1.87), Hulu Sungai Utara (1.86), Kota Jogjakarta (1.86), Kota Payakumbuh (1.85), Aceh Barat (1.85), Kota Singkawang (1.83), Landak (1.83), Bolaang Mongondow (1.827), Banggai Kepulauan (1.79), Mesuji (1.78), Simeulue (1.75), Buleleng (1.73), Kabupaten, Jepara (1.735), Aceh Jaya (1.71), Tebo (1.70), Kolaka Utara (1.69), Kota Ambon (1.69), Tulang Bawang Barat

(25)

(1.67), Flores Timur (1.67), Bener Meriah, (1.66), Bengkulu Tengah (1.66). Pringsewu (1.65), Aceh Tenggara (1.64), Cilacap (1.63), Muna Barat (1.63), Kota Kupang (1.59), Buton Selatan (1.59), Kotawaringin Barat (1.57), Halmahera Tengah (1.55), Pati (1.53), Boalemo (1.53), Buton Tengah (1.50), Pidie (1.49), Lembata (1.49), Kab Sangihe (1.48), Banjarnegara (1.45), Kota Sorong (1.45), Lampung Barat (1.42), Kota Salatiga (1.42), Maluku Tengah (1.39), Buru 1.385, Kota Batu (1.25),Muaro Jambi (1.25), Sarolangun (1.21), Batang, (1.21).

Aceh Barat memiliki temuan yang menarik karena berada dalam kategori kerawanan rendah. Akan tetapi, pada dimensi penyelenggaraan daerah ini memiliki skor yang masuk dalam kategori kerawanan tinggi.

Tabel 6 : Kabupaten/Kota dengan Tingkat Kerawanan Rendah

Peringkat

Kabupaten / Kota

TOTAL IKP Dimensi Penyelenggaraan

Dimensi Kontestasi

Dimensi Partisipasi Peringkat IKP (Bobot 100%) (Bobot 30%) Bobot (35%) Bobot (35%) Tertinggi-

Terendah

Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5 Range 0-5

45 Aceh Tamiang 1,969 1,800 2,625 2,091

46 Kota

Tasikmalaya 1,965 1,600 2,083 1,727

47 Bireuen 1,915 1,600 1,625 2,091

48 Kulonprogo 1,907 1,600 1,458 2,455

49 Seram Bagian

Barat 1,885 1,800 1,792 1,000

50 Tulang Bawang 1,875 2,000 1,458 1,364

51 Hulu Sungai

Utara 1,869 1,600 1,708 2,273

52 Kota Jogjakarta

1,861 1,800 1,583 1,727

(26)

53 Kota

Payakumbuh 1,859 2,200 1,583 2,273

54 Aceh Barat 1,851 3,000 1,167 2,091

55 Kota

Singkawang 1,839 1,800 1,792 1,909

56 Landak 1,835 1,600 2,083 2,273

57 Bolaang Mongondow

1,827 1,600 1,292 2,636

58 Banggai Kepulauan

1,795 2,000 1,625 2,091

59 Mesuji 1,785 1,600 1,833 1,727

60 Simeulue 1,757 2,200 1,250 1,727

61 Buleleng 1,737 1,400 1,583 1,545

62 Jepara 1,735 1,600 1,792 1,182

63 Aceh Jaya 1,717 1,600 1,333 2,091

64 Tebo 1,709 2,000 1,458 1,727

65 Kolaka Utara 1,699 1,600 1,583 1,909

66 Kota Ambon 1,695 1,600 1,708 1,727

67 Tulang Bawang Barat

1,679 1,400 1,458 1,909

68 Flores Timur 1,677 2,400 1,292 2,091

69 Bener Meriah 1,669 1,200 2,333 1,909

70 Bengkulu Tengah

1,661 1,400 1,458 1,909

71 Pringsewu 1,659 1,600 1,458 1,545

72 Aceh Tenggara 1,645 1,200 1,417 2,455

73 Cilacap 1,635 1,600 1,583 1,727

74 Muna Barat 1,631 1,400 1,458 1,909

75 Kota Kupang 1,597 1,800 1,917 1,545

76 Buton Selatan 1,593 1,400 1,708 1,545

77 Kotawaringin

Barat 1,577 1,600 1,292 2,091

78 Halmahera

Tengah 1,551 1,400 1,667 1,727

(27)

79 Pati 1,535 1,400 1,875 1,545

80 Boalemo 1,535 1,400 1,625 1,545

81 Buton Tengah 1,503 1,200 1,708 1,182

82 Pidie 1,493 1,600 1,167 1,909

83 Lembata 1,491 2,000 1,667 1,727

84 Kab Sangihe 1,485 1,200 1,292 1,727

85 Banjarnegara 1,457 1,600 1,458 1,182

86 Kota Sorong 1,455 1,800 1,458 1,364

87 Lampung Barat 1,425 1,200 1,667 1,727

88 Kota Salatiga 1,423 1,800 1,292 1,545

89 Maluku Tengah 1,397 1,800 1,292 1,545

90 Buru 1,385 1,000 1,292 1,727

91 Kota Batu 1,257 1,400 1,292 1,182

92 Muaro Jambi 1,257 1,000 1,458 1,364

93 Sarolangun 1,219 1,000 1,167 1,545

94 Batang 1,213 1,400 1,167 1,182

Dimensi Penyelenggaraan

Dalam dimensi penyelenggaraan daerah dengan kerawanan tinggi terdapat di 13 daerah yaitu: Tolikara (4.20), Intan Jaya (3.60), Nduga (3.600), Lanny Jaya (3.40), Aceh Tengah (3.40), Kep. Yapen (3.20), Takalar (3.00), Kepulauan Mentawai (3.00), Buton (3.00), Mappi (3.00), Kab Jayapura (3.00), Kota Tebing Tinggi (3.00), Tambrauw (3.00).

Sementara untuk kategori kerawanan sedang terdapat di 34 daerah yaitu: Aceh Barat Daya (2.80), Tapanuli Tengah (2.60), Kota Jayapura (2.60), Puncak Jaya (2.60), Maybrat (2.40), Aceh Utara (2.400),

(28)

Sarmi (2.40), Aceh Singkil (2.40), Kota Cimahi (2.40), Kendari (2.40), Nagan Raya (2.40), Aceh Besar (2.40), Langsa (2.40), Barito Selatan (2.40), Dogiyai (2.40), Musi Banyuasin (2.40), Barito Kuala (2.40), Bombana (2.40), Aceh Timur Kampar (2.20), Lhokseumawe (2.20), Maluku Tenggara Barat (2.20), Buol (2.20), Pulau Morotai (2.00), Gayo Lues (2.00), Pekanbaru (2.00), Banda Aceh (2.00), Kota Sabang (2.00), Bekasi (2.00), Kab Sorong (2.00), Brebes (2.00), Aceh Tamiang (2.00), Kota Tasikmalaya (2.00).

Grafi k 1.

Dimensi

Penyelenggaraan

13

Tingkat

Kerawanan Tinggi Tingkat

Kerawanan Sedang Tingkat Kerawanan Rendah

34

47

(29)

Dimensi Kontestasi

Dalam dimensi Kontestasi, tidak ada wilayah Kabupaten/kota masuk dalam kategori kerawanan tinggi. Terdapat 23 daerah yang masuk dalam kategori kerawanan sedang yaitu: Tolikara (2.62), Intan Jaya (2.54), Nduga (2.54), Lanny Jaya (2.50), Aceh Tengah (2.450), Kepulauan Yapen (2.41), Takalar (2.37), Kepulauan Mentawai (2.37), Buton (2.37), Mappi (2.33), Kab Jayapura (2.33), Kota Tebing Tinggi (2.33), Tambrauw (2.25), Aceh Barat Daya (2.25), Tapanuli Tengah (2.25), Kota Jayapura (2.25), Puncak Jaya (2.20), Maybrat (2.20), Aceh Utara (2.08), Sarmi (2.08), Aceh Singkil (2.08), Kota Cimahi (2.04), Kendari (2.00).

Grafi k 2

Dimensi Kontestasi

0

Tingkat Kerawanan Tinggi

Tingkat Kerawanan Sedang

Tingkat Kerawanan Rendah

23

71

(30)

Dimensi Partisipasi

Dalam dimensi Partisipasi, daerah dengan kerawanan tinggi terdapat di empat yaitu Tolikara (3.18), Intan Jaya (3.18), Nduga (3.18) dan Lanny Jaya (3.00).

Sementara, wilayah yang berada di kategori kerawanan sedang terdapat di Aceh Tengah (2.81), Kepulauan Yapen (2.81), Takalar (2.81), Kepulauan Mentawai (2.81), Buton (2.63), Mappi (2.63), Jayapura (2.63), Kota Tebing Tinggi (2.63), Tambrauw (2.63), Aceh Barat Daya (2.63), Tapanuli Tengah (2.63), Kota Jayapura (2.63), Puncak Jaya (2.45), Maybrat (2.45), Aceh Utara (2.45), Sarmi (2.45).

Aceh Singkil (2.45), Kota Cimahi (2.27), Kendari (2.27), Nagan Raya (2.27), Aceh Besar (2.27), Langsa (2.27), Barito Selatan (2.27), Dogiyai (2.27), Musi Banyuasin (2.27), Barito Kuala (2.09), Bombana (2.09), Aceh Timur (2.09), Kampar (2.09), Lhokseumawe (2.091), Maluku Tenggara Barat (2.091), Buol (2.09), Pulau Morotai (2.09), Gayo Lues (2.09), Pekanbaru (2.09), Banda Aceh (2.09).

Sementara wilayah yang berada di kategori kerawanan rendah terdapat di Kota Sabang (1.90), Bekasi (1.90), Kab Sorong (1.90), Brebes (1.90), Aceh Tamiang (1.90), Kota Tasikmalaya (1.90), Bireuen (1.90), Kulonprogo (1.90), Seram Bagian Barat (1.90), Tulang Bawang (1.90), Hulu Sungai Utara (1.90), Kota Jogjakarta (1.90), Kota Payakumbuh (1.90), Aceh Barat (1.90), Kota Singkawang (1.90), Landak (1.72), Bolaang Mongondow (1.72), Banggai Kepulauan (1.72), Mesuji (1.72), Simeulue (1.72), Buleleng (1.72), Jepara (1.72), Aceh Jaya (1.72), Tebo (1.72), Kolaka Utara (1.72), Kota Ambon (1.72), Tulang Bawang Barat (1.72), Flores Timur (1.72), Bener Meriah (1.72), Bengkulu Tengah (1.72), Pringsewu (1.54), Aceh Tenggara (1.54), Cilacap (1.54), Muna Barat (1.54), Kota Kupang (1.54), Buton Selatan (1.54), Kotawaringin Barat (1.54), Halmahera

(31)

Tengah (1.54), Pati (1.54), Boalemo (1.54), Buton Tengah (1.54), Pidie (1.54), Lembata (1.54), Kab Sangihe (1.54), Banjarnegara (1.36), Kota Sorong (1.36), Lampung Barat (1.36), Kota Salatiga (1.36), Maluku Tengah (1.18), Buru (1.18), Kota Batu (1.18), Muaro Jambi (1.18), Sarolangun (1.18), Batang (1.00).

Grafi k 3.

Dimensi Partisipasi

4

Tingkat

Kerawanan Tinggi Tingkat

Kerawanan Sedang Tingkat Kerawanan Rendah

36

54

(32)
(33)

DIMENSI PENYELENGGARAAN

Dimensi penyelenggaraan terdiri dari 3 variabel, yaitu integritas penyelenggara; profesionalitas penyelenggara; dan kekerasan terhadap penyelenggara.

Variabel integritas penyelenggara terdiri dari 2 indikator, yaitu netralitas penyelenggara dan penyalahgunaan wewenang. Variabel profesionalitas penyelenggara terdiri dari 5 indikator, yaitu penganggaran untuk penyelenggara; ketegasan penyelenggara dalam pelaksanaan tahapan; kualitas DPT; penyediaan akses informasi oleh penyelenggara; dan dukungan kesekretariatan.

Variabel kekerasan terhadap penyelenggara terdiri dari 3 indikator, yaitu perusakan terhadap fasilitas penyelenggara; kekerasan fi sik terhadap penyelenggara; dan intimidasi terhadap penyelenggara.

a. Provinsi

Dilihat dari dimensi penyelenggaraan, ada 3 daerah rawan dari 7 Provinsi yang menyelenggarakan pilkada 2017. Ketiga daerah ini adalah Provinsi Papua Barat dengan skor (3.37), Provinsi Aceh (3.26) dan Provinsi Banten (3.13). Seperti tampak dalam tabel di bawah ini

HASIL SKOR DIMENSI, VARIABEL, DAN INDIKATOR

(34)

Tabel 7 : Skor Variabel dari Dimensi Penyelenggaraan (Provinsi)

Peringkat

Dimensi Penyelenggaraan

SKOR Penyelenggaraan Variabel Integritas

Penyelenggara Profesionalitas Penyelenggara

Kekerasan Terhadap Penyelenggara

1 Papua

Barat 4.00 3.80 2.33 3.378

2 Aceh 3.00 3.80 3.00 3.267

3 Banten 3.00 3.40 3.00 3.133

4 Sulawesi

Barat 3.00 3.00 1.67 2.556

5 Kep.

Bangka

Belitung 2.00 2.20 1.67 1.956

6 DKI

Jakarta 2.00 1.80 1.67 1.822

7 Gorontalo 2.00 1.00 1.67 1.556

Papua Barat dinilai paling rawan karena ada 2 variabel yang tingkat kerawanannya cukup tinggi. Kedua variabel ini adalah integritas penyelenggara dengan skor 4,00 dan profesionalitas penyelenggara skor 3,80. Variabel integritas penyelenggara menyumbang kerawanan paling tinggi yang dipengaruhi oleh dua indikator yakni netralitas penyelenggara dengan skor 5 dan penyalahgunaan wewenang oleh penyelenggara dengan tingkat kerawanan skor 3.

Kerawanan di Papua Barat juga dipengaruhi variabel profesionalitas penyelenggara. Indikator dari variabel profesionalitas penyelenggara dalam beberapa isu memperlihatkan kondisi sangat rawan (skor 5).

Indikator yang sangat rawan antara lain persoalan penganggaran yakni belum adanya NPHD (Naskah Perjanjian Hibah Daerah), pencairan anggaran, serta masalah kualitas daftar pemilih. Sedangkan kasus lain dinilai cukup rawan dengan skor 3 untuk indikator ketegasan penyelenggara, penyediaan dan aksesibilitas informasi, serta dukungan kesekretariatan.

(35)

Selain Papua Barat, dua Provinsi lainnya juga dinilai rawan yakni Aceh dan Banten. Kerawanan dua Provinsi ini cukup merata untuk 3 variabel yakni integritas, profesionalitas penyelenggara hingga kasus-kasus kekerasan terhadap penyelenggara. Rata-rata tingkat kerawanannya mencapai 3 point (rawan).

Kerawanan untuk Provinsi Aceh yang harus diantisipasi adalah persoalan penganggaran dan dukungan kesekretariatan yang dinilai sangat rawan. Sedangkan untuk Provinsi Banten, kerawanan terjadi dalam penganggaran dan persoalan kualitas daftar pemilih.

Selain tiga Provinsi rawan di atas, Provinsi Sulawesi Barat juga perlu diantisipasi untuk beberapa variabel yakni soal integritas dan profesionalitas penyelenggara. Kedua variabel ini memiliki indikator yang cukup rawan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kualitas daftar pemilih yang dinilai sangat rawan. Kerawanan daftar pemilih ini juga perlu diantisipasi di Provinsi DKI Jakarta yang dinilai sangat rawan.

Tabel 8 : Skor Indikator dari Dimensi Penyelenggaraan (Provinsi)

Peringkat

Dimensi Penyelenggaraan

Variabel Integritas

Penyelenggara Profesionalitas Penyelenggara

Kekerasan Terhadap Penyelenggara

Indikator 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 Papua

Barat 5 3 5 3 5 3 3 3 1 3

2 Aceh 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3

3 Banten 3 3 5 1 5 3 3 3 3 3

4 Sulawesi

Barat 3 3 3 3 5 3 1 1 1 3

(36)

5 DKI

Jakarta 3 1 1 1 5 1 1 1 1 3

6 Kep.

Bangka

Belitung 3 1 3 1 3 3 1 1 1 3

7 Gorontalo 3 1 1 1 1 1 1 1 1 3

Keterangan

Indikator 1 : Netralitas Penyelenggara Indikator 2 : Penyalahgunaan Wewenang Indikator 3 : Penganggaran untuk penyelenggara

Indikator 4 : Ketegasan penyelenggara dalam pelaksanaan tahapan Indikator 5 : Kualitas DPT

Indikator 6 : Penyediaan akses informasi oleh penyelenggara Indikator 7 : Dukungan kesekretariatan

Indikator 8 : Perusakan terhadap fasilitas penyelenggara Indikator 9 : Kekerasan fi sik terhadap penyelenggara Indikator 10 : Intimidasi terhadap penyelenggara

b. Kabupaten / Kota

Wilayah dengan Tingkat Kerawanan Tinggi

Dilihat dari seluruh variabel dan indikator pada dimensi penyelenggaraan, ada 10 daerah rawan. Kesepuluh daerah rawan secara berurutan (dari tertinggi ke terendah) adalah Tolikara, Intan Jaya, Lanny Jaya, Nduga, Tambrauw, Kepulauan Yapen, Sarmi, Aceh Barat Daya, Puncak Jaya dan Kota Jayapura. Selengkapnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Gambar

Tabel 2 : Kategori skor  IKP
Tabel 3 : Skor IKP 2017 Provinsi
Tabel 4 : Kabupaten/Kota dengan Tingkat Kerawanan Tinggi
Tabel 5 : Kabupaten/Kota dengan Tingkat Kerawanan Sedang
+7

Referensi

Dokumen terkait

pengelolaan yang baik agar tanah dapat pengelolaan yang baik agar tanah dapat menjadi produktif dan tidak rusak. Oxisol meliputi sekitar 8%

Profesi Keperawatan Gerontik menerapkan konsep dasar dan teori-teori terkait dengan gerontik dalam melakukan asuhan keperawatan gerontik sesuai dengan masalah

Setelah dihasilkan LKS berbasis pendekatan saintifik yang menggunakan model discovery learning pada materi Penurunan tekanan uap dan kenaikan titik didih larutan yang telah

Untuk tegangan eksitasi dari keluaran buck-boost converter saat dilakukan pengujian parsial mengalami perubahan dengan saat dimasukkan ke penguat medan

Begitu juga dengan pengangguran bahwa tingkat TPT juga tidak berpengaruh terhadap kemiskinan, hal ini menandakan bahwa mereka yang menganggur belum tentu memiliki

Smart Energy Collective (2013) differs an active customer from traditional passive cus- tomer according to its ability to change its consumption based on the electricity spot price.

Hasil pembahasan pada penelitian ini pertama struktur aktiva berpengaruh secara parsial terhadap struktur modal pada perusahaan Kabel di BEI, kedua ukuran

Implementasi Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan dan Penataan Parkir di Kota Samarinda adalah pelaksanaan secara konkrit dari