• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIMENSI PARTISIPASI

Dalam dokumen INDEKS KERAWANAN PEMILU (IKP) (Halaman 65-81)

HASIL SKOR DIMENSI, VARIABEL, DAN INDIKATOR

DIMENSI PARTISIPASI

Dimensi partisipasi terdiri dari 3 variabel yaitu hak pilih, karakteristik lokal, dan pengawasan/kontrol masyarakat.

Variabel hak pilih terdiri dari 2 indikator yaitu: pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dan laporan mengenai tidak tercatatnya pemilih dalam daftar pemilih. Variabel karakteristik lokal terdiri dari 4 indikator, yaitu: kategori kemiskinan masyarakat; tantangan geografi s; kondisi budaya patriarki dan pengaruh pemuka agama/

adat. Variabel pengawasan/kontrol masyarakat terdiri dari 5 indikator, yaitu: keberadaan pemantau pemilu; akses partisipasi kelompok disabilitas; pemberitaan media terhadap laporan masyarakat dan penyelenggara; jumlah laporan pelanggaran dan pemantauan yang disampaikan oleh warga negara dan kekerasan terhadap pemilih.

a.Provinsi

Dalam dimensi partisipasi yang dirumuskan IKP ini, ada tiga variabel yang bisa menjadi titik rawan pelaksanan pilkada serentak 2017.

Pertama, variabel hak pilih masyarakat. Menyangkut tingginya partisipasi masyarakat serta seberapa besar pemilih yang tidak menggunakan hak pilih dan tak tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Banyaknya pemilih yang tidak terdaftar bisa menjadi kerawanan dalam proses pilkada. Kedua, variabel karakteristik lokal.

Karakteristik lokal ini menyangkut kondisi kemiskinan masyarakat, tantangan geografi s, budaya patriarki di daerah tersebut, dan juga pengaruh pemuka agama/adat setempat. Ketiga, variabel keterlibatan masyarakat. Variabel ini akan melihat seberapa banyak

keterlibatan masyarakat dalam pemantauan, akses kelompok penyandang disabilitas terhadap proses pelaksanaan pemilu, pemberitaan media terhadap laporan masyarakat, jumlah laporan pelanggaran yang disampaikan oleh warga, serta kekerasan yang terjadi terhadap pemilih.

Dilihat dari dimensi partisipasi masyarakat, dari 7 provinsi yang menyelenggarakan pilkada serentak 2017, Provinsi Aceh masuk kategori daerah kategori rawan tinggi dengan skor tertinggi diantara provinsi lainnya, yaitu skor 3.00. Kerawanan dimensi ini diukur dari 3 variabel yakni hak pilih masyarakat, karakteristik lokal, dan keterlibatan masyarakat. Lihat dalam tabel di bawah

Tabel 18 : Skor Variabel dari Dimensi Partisipasi (Provinsi)

Peringkat

Dimensi Partisipasi SKOR

DIMENSI PARTISIPASI Variabel Hak Pilih Karakteristik

Lokal

Keterlibatan Masyarakat

1 Aceh 2.00 4.00 3.00 3.000

2 Papua Barat 1.00 4.00 3.00 2.667

3 Banten 2.00 3.50 1.80 2.433

4 Sulawesi Barat 2.00 2.50 2.20 2.233

5 Gorontalo 2.00 2.00 2.20 2.067

6 Kep. Bangka

Belitung 2.00 1.50 2.20 1.900

7 DKI Jakarta 2.00 1.50 1.00 1.500

Dari 3 variabel dalam dimensi partisipasi masyarakat, skor paling rawan untuk Provinsi Aceh adalah pada variabel karakteristik lokal (4.00) dan keterlibatan masyarakat (3.00) yang di semua indikatornya menunjukkan kerawanan. Pada indikator budaya patriarki dan pengaruh tokoh agama/adat mendapatkan skor 5. Sementara untuk

2 indikator lainnya, kondisi kemiskinan masyarakat dan tantangan geografi s sama-sama mendapakan skor 3.

Provinsi kedua adalah Papua Barat dengan skor 2.66 yang berarti tingkat kerawanan sedang untuk dimensi partisipasi. Sama seperti Aceh, variabel karakteristik lokal juga memperoleh skor tertinggi (4.00) yang artinya kerawanan tinggi.

Peringkat kerawanan 6 provinsi lainnya yang akan menggelar pilkada 2017 adalah sebagai berikut; yang masuk kerawanan sedang; Papua Barat (2.66), Banten (2.43), Sulawesi Barat (2.23), Gorontalo (2.06).

Sementara yang masuk kategori kerawanan rendah adalah Bangka Belitung (1.90), dan DKI Jakarta (1.50). Ada catatan tersendiri untuk provinsi Banten, variabel karateristik lokal juga mempunyai tingkat kerawanan yang tinggi. Ini bisa dilihat dari indikator kategori kemiskinan masyarakat dan potensinya terhadap politik uang yang mendapat skor 5. Untuk 3 indikator lainnya; tantangan geografi s, budaya patriarki, dan pengaruh pemuka agama/adat, mendapat skor 3. Untuk provinsi lainya, tidak ada kerawanan yang signifi kan jika dilihat dari skor IKP dalam dimensi pertisipasi masyarakat.

Tabel 19 : Skor Indikator dari Dimensi Partisipasi (Provinsi)

Peringkat

Dimensi Partisipasi

Variabel Hak

Pilih Karakteristik Lokal Keterlibatazn Masyarakat

Indikator 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

1 Provinsi

Aceh 1 3 3 3 5 5 1 3 3 3 5

2 Papua

Barat 1 1 3 5 3 5 3 3 3 3 3

4 Provinsi Sulawesi Barat

3 1 3 3 1 3 3 3 1 3 1

5 Gorontalo 3 1 3 1 1 3 3 3 1 3 1

6

Provinsi Kep.

Bangka Belitung

3 1 1 1 1 3 3 3 3 1 1

7 DKI

Jakarta 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1

Keterangan

Indikator 21 : Pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya Indikator 22 : Laporan tidak tercatatnya pemilih dalam DPT Indikator 23 : Kategori kemiskinan masyarakat

Indikator 24 : Tantangan geografi s Indikator 25 : Kondisi budaya patriarki Indikator 26 : Pengaruh pemuka agama/adat

Indikator 27 : Keberadaan pemantau pemilu (CSO, NGO, Ormas) Indikator 28 : Akses Partisipasi kelompok diasibilitas

Indikator 29 : Pemberitaan media atas laporan masyarakat & penyelenggara Indikator 30 : Jumlah laporan pelanggaran dan pemantauan oleh warga negara Indikator 31 : Kekerasan terhadap pemilih

b. Kabupaten/Kota

Potret kerawanan dimensi partisipasi masyarakat di tingkat Kabupaten/kota jika diurut berdasarkan skor, maka 10 besar daerah paling rawan adalah sebagai berikut. Tingkat kerawanan tinggi mencakup Tolikara (3.20), Intan Jaya (3.17), Nduga (3.17), Lanny Jaya (3.00); Tingkat kerawanan sedang meliputi Bolaang Mongondow (2.90), Takalar (2.87), Aceh Barat Daya (3.83), Aceh Utara (2.83), Kepulauan Mentawai (2.70), Aceh Timur (2.67). Lebih lengkapnya lihat tabel di bawah ini.

Tabel 20 : Skor Variabel Dimensi Partisipasi dengan Tingkat Kerawanan Tinggi (Kabupaten/Kota)

Peringkat

Dimensi Partisipasi SKOR

DIMENSI PARTISIPASI Variabel Hak Pilih Karakteristik

Lokal Keterlibatan Masyarakat

1 Tolikara 3.00 4.00 2.60 3.20

2 Intan Jaya 3.00 3.50 3.00 3.17

3 Nduga 3.00 3.50 3.00 3.17

4 Lanny Jaya 3.00 3.00 3.00 3.00

Untuk kerawanan dimensi partisipasi masyarakat di Tolikara, perlu mewaspadai kerawanan pada variabel karakteristik lokal, terutama untuk indikator kondisi geografi s dan pengaruh tokoh agama/adat.

Kedua indikator ini mendapatkan skor 5 yang berarti rawan tinggi.

Sementara indikator lainnya di dimensi partisipasi masyarakat mendapatkan skor 3 yang berarti rawan sedang.

Untuk Intan Jaya, perlu diantisipasi kerawanan akibat tantangan geografi s yang berat karena mendapatkan skor 5 yang berarti rawan tinggi. Indikator lainnya dikategorikan rawan kategori sedang dengan skor 3. Potret Intan Jaya persis sama dengan Nduga, baik skor total dimensi partisipasi masyarakat (3.17), skor per variabel: hak pilih (3.00), karakteristik lokal (3.50), dan keterlibatan masyarakat (3.00). Artinya, Intan Jaya dan Nduga adalah dua wilayah yang sama-sama dipetakan sebagai daerah dengan tingkat kerawanan sedang dalam dimensi partisipasi masyarakat. Kerawanan tertinggi di Intan Jaya dan Nduga terletak pada indikator tantangan geografi k yang mendapatkan skor 5 yang berarti kerawanan tinggi. Sedangkan, 9 Indikator lainnya di dua daerah itu, mendapatkan skor 3 yang berarti juga masuk kerawanan tinggi.

Untuk Lanny Jaya semua variabelnya mendapatkan skor 3.00 dan

kategori kerawanan tinggi. Ini berarti tingkat kerawanan di Lanny Jaya merata untuk semua indikator.

Tabel 21 : Skor Variabel Dimensi Partisipasi dengan Tingkat Kerawanan Sedang (Kabupaten/Kota)

Peringkat

Dimensi Partisipasi SKOR

DIMENSI PARTISIPASI Variabel Hak Pilih Karakteristik

Lokal

Keterlibatan Masyarakat 5 Bolaang

Mongondow 4.00 2.50 2.20 2.90

6 Takalar 3.00 3.00 2.60 2.87

7 Aceh Barat

Daya 3.00 2.50 3.00 2.83

8 Aceh Utara 3.00 2.50 3.00 2.83

9 Kepulauan

Mentawai 3.00 2.50 2.60 2.70

10 Aceh Timur 2.00 3.00 3.00 2.67

11 Kep. Yapen 2.00 4.00 1.80 2.60

12 Kulonprogo 3.00 3.00 1.80 2.60

13 Tambrauw 2.00 3.50 2.20 2.57

14 Barito Kuala 3.00 2.50 2.20 2.57

15 Kab Sorong 3.00 2.50 2.20 2.57

16 Kab Jayapura 2.00 3.00 2.60 2.53

17 Kota Tebing

Tinggi 3.00 2.00 2.60 2.53

18 Aceh Singkil 2.00 3.00 2.60 2.53

19 Aceh Besar 2.00 3.00 2.60 2.53

20 Kota

Payakumbuh 4.00 1.00 2.60 2.53

21 Buton 3.00 2.50 1.80 2.43

22 Barito Selatan 3.00 2.50 1.80 2.43

23 Bekasi 3.00 2.50 1.80 2.43

24 Kampar 3.00 2.00 2.20 2.40

25 Mappi 1.00 3.50 2.60 2.37

26 Hulu Sungai

Utara 3.00 1.50 2.60 2.37

27 Aceh Tenggara 2.00 2.50 2.60 2.37

28 Lhokseumawe 3.00 2.00 1.80 2.27

29 Tapanuli

Tengah 2.00 2.50 2.20 2.23

30 Landak 2.00 2.00 2.60 2.20

31 Aceh Barat 2.00 3.00 1.40 2.13

32 Aceh Jaya 2.00 3.00 1.40 2.13

33 Kolaka Utara 3.00 2.00 1.40 2.13

34 Bengkulu

Tengah 3.00 2.00 1.40 2.13

35 Langsa 2.00 2.50 1.80 2.10

36 Aceh Tamiang 2.00 2.50 1.80 2.10

37 Bireuen 2.00 2.50 1.80 2.10

38 Kota

Singkawang 3.00 1.50 1.80 2.10

39 Banggai

Kepulauan 2.00 2.50 1.80 2.10

40 Flores Timur 2.00 2.50 1.80 2.10

41 Muna Barat 3.00 1.50 1.80 2.10

42 Kotawaringin

Barat 2.00 2.00 2.20 2.07

43 Aceh Tengah 2.00 1.50 2.60 2.03

44 Kota Jayapura 2.00 1.50 2.60 2.03

Perhatian khusus untuk Kabupaten Bolaang Mongondow perlu diberikan untuk variabel hak pilih yang mendapatkan skor 4.00. Pada indikator banyaknya pemilih yang tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu sebelumnya, Kabupaten Bolaang Mongondow mendapatkan

skor 5, sementara indikator banyaknya pemilih yang tak tercatat dalam daftar mendapatkan skor 3. Untuk variabel karakteristik lokal dan keterlibatan masyarakat, Bolaang Mongondow masuk kategori rawan sedang.

Untuk Takalar (2,87), variabel hak pilih dan karakteristik lokal mendapatkan skor sama, 3.00 yang berarti rawan tinggi. Keterlibatan masyarakat sendiri mendapatkan skor 2.60 yang berarti rawan sedang. Hasil ini menunjukkan ada indikator-indikator di variabel hak pilih dan karakteristik masyarakat, seperti banyak pemilih yang tidak menggunakan hak pilih, tantangan geografi s, pengaruh tokoh agama/adat, yang perlu diperhatikan secara khusus.

Untuk Aceh Barat Daya dan Aceh Utara, dua daerah ini memperoleh skor yang sama persis (2.83). Demikian juga perolehan skor pervariabel juga sama. Untuk variabel hak pilih dan keterlibatan masayarakat mendapatkan skor 3. Sementara variabel karakteristik masyarakat mendapatkan skor 2.50. Semua indikator mendapatkan skor 3 kecuali kondisi geografi s yang mendapat skor 1. Dengan demikian selain faktor geografi s, kewaspadaan perlu diberlakukan sama ke semua indikator dalam dimensi partisipasi masyarakat dalam kerawanan Pilkada Serentak 2017 di daerah ini.

Untuk kepulauan mentawai (2.70), varibel hak pilih mendapat skor 3.00, lebih besar daripada variabel lainnya; karakteristik lokal 2.50, keterlibatan masyarakat 2.60. Tantangan geografi s menjadi indikator yang mempunyai skor paling tinggi di kepulauan Mentawai, yaitu skor 5. Artinya perhatian khusus diberikan pada bagaimana bisa mengantisipasi geografi s yang berat tersebut.

Untuk Aceh Timur (2.67), variabel karakteristis lokal dan keterlibatan masyarakat mendapatkan poin sama, 3.00. Indikator kondisi kemiskinan di masyarakat terkait potensi politik uang mendapat

skor paling tinggi, yaitu 5. Artinya indikator inilah yang harus mendapatkan perhatian serius dalam pencegahan kerawananannya saat Pilkada.

Tabel 22 : Skor Variabel Dimensi Partisipasi dengan Tingkat Kerawanan Rendah (Kabupaten/Kota)

Peringkat

Dimensi Partisipasi SKOR

DIMENSI PARTISIPASI Variabel Hak Pilih Karakteristik

Lokal

Keterlibatan Masyarakat

45 Sarmi 2.00 2.50 1.40 1.97

46 Bombana 3.00 1.50 1.40 1.97

47 Brebes 2.00 2.50 1.40 1.97

48 Kota

Tasikma-laya 3.00 1.50 1.40 1.97

49 Bener Meriah 2.00 2.50 1.40 1.97

50 Sangihe 3.00 1.50 1.40 1.97

51 Maluku

Teng-gara Barat 2.00 2.00 1.80 1.93

52 Buol 2.00 2.00 1.80 1.93

53 Banda Aceh 2.00 2.00 1.80 1.93

54 Kota Sabang 2.00 2.00 1.80 1.93

55 Pekanbaru 2.00 1.50 2.20 1.90

56 Tulang Bawang

Barat 2.00 1.50 2.20 1.90

57 Pidie 2.00 1.50 2.20 1.90

58 Tebo 2.00 2.00 1.40 1.80

59 Halmahera

Tengah 2.00 2.00 1.40 1.80

60 Buru 2.00 2.00 1.40 1.80

61 Nagan Raya 1.00 2.50 1.80 1.77

62 Kota Ambon 2.00 1.50 1.80 1.77

63 Maybrat 2.00 2.00 1.00 1.67

64 Maluku Tengah 2.00 2.00 1.00 1.67

65 Puncak Jaya 1.00 2.50 1.40 1.63

66 Kota Cimahi 2.00 1.50 1.40 1.63

67 Simeulue 1.00 2.50 1.40 1.63

68 Kota Kupang 2.00 1.50 1.40 1.63

69 Pati 2.00 1.50 1.40 1.63

70 Boalemo 2.00 1.50 1.40 1.63

71 Dogiyai 1.00 2.00 1.80 1.60

72 Kota

Jogja-karta 1.00 2.00 1.80 1.60

73 Mesuji 1.00 2.00 1.80 1.60

74 Buleleng 2.00 1.00 1.80 1.60

75 Cilacap 1.00 2.00 1.80 1.60

76 Lembata 1.00 2.00 1.80 1.60

77 Lampung

Barat 1.00 2.00 1.80 1.60

78 Kota Salatiga 2.00 1.00 1.80 1.60

79 Pulau Morotai 1.00 2.50 1.00 1.50

80 Kendari 2.00 1.00 1.40 1.47

81 Buton Selatan 1.00 2.00 1.40 1.47

82 Kota Sorong 2.00 1.00 1.40 1.47

83 Sarolangun 1.00 2.00 1.40 1.47

84 Musi

Banyua-sin 1.00 1.50 1.80 1.43

85 Gayo Lues 1.00 1.50 1.80 1.43

86 Pringsewu 1.00 1.50 1.80 1.43

87 Tulang Bawang 1.00 1.50 1.40 1.30

88 Muaro Jambi 1.00 1.50 1.40 1.30

89 Buton Tengah 1.00 1.50 1.00 1.17

90 Jepara 1.00 1.00 1.40 1.13

91 Banjarnegara 1.00 1.00 1.40 1.13

92 Kota Batu 1.00 1.00 1.40 1.13

93 Batang 1.00 1.00 1.40 1.13

94 Seram Bagian

Barat 1.00 1.00 1.00 1.00

Dari 50 Kabupaten/kota yang berada pada kategori kerawanan rendah, terdapat 3 yang memiliki skor 3,00 untuk variabel hak pilih, yaitu: Bombana, Kota Tasikmalaya dan Sangihe.

Tabel 23 : Skor Indikator dari Dimensi Partisipasi (Kabupaten/Kota)

Peringkat

Dimensi Partisipasi

Variabel Hak

Pilih Karakteristik Lokal Keterlibatazn Masyarakat

Indikator 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

1 Tolikara 3 3 3 5 3 5 1 3 3 3 3

2 Intan Jaya 3 3 3 5 3 3 3 3 3 3 3

3 Nduga 3 3 3 5 3 3 3 3 3 3 3

4 Lanny Jaya 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

5 Bolaang

Mongondow 5 3 3 3 3 1 3 3 1 3 1

6 Takalar 3 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3

7 Aceh Barat

Daya 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3

8 Aceh Utara 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 3

9 Kepulauan

Mentawai 3 3 3 5 1 1 3 3 3 3 1

10 Aceh Timur 1 3 5 1 3 3 3 3 3 3 3

11 Kep. Yapen 3 1 3 5 3 5 1 1 1 5 1

12 Kulonprogo 3 3 3 3 3 3 3 1 3 1 1

13 Tambrauw 3 1 3 5 3 3 1 3 1 3 3

14 Barito Kuala 3 3 3 3 1 3 3 3 1 3 1

15 Kab Sorong 3 3 3 3 1 3 3 3 1 3 1

16 Kab Jayapura 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3

17 Kota Tebing

Tinggi 3 3 3 1 1 3 3 3 3 3 1

18 Aceh Singkil 1 3 3 3 3 3 1 3 3 3 3

19 Aceh Besar 1 3 3 3 3 3 3 3 1 3 3

20 Kota

Payakumbuh 5 3 1 1 1 1 3 3 3 3 1

21 Buton 3 3 3 3 1 3 1 3 1 3 1

22 Barito Selatan 3 3 3 1 3 3 3 3 1 1 1

23 Bekasi 3 3 3 3 1 3 1 3 1 1 3

24 Kampar 3 3 3 3 1 1 3 3 1 3 1

25 Mappi 1 1 3 5 1 5 3 3 1 3 3

26 Hulu Sungai

Utara 3 3 1 3 1 1 3 3 3 3 1

27 Aceh Tenggara 3 1 3 3 3 1 1 3 3 3 3

28 Lhokseumawe 3 3 1 1 3 3 1 3 1 1 3

29 Tapanuli

Tengah 3 1 3 3 3 1 3 3 3 1 1

30 Landak 3 1 3 3 1 1 3 3 3 3 1

31 Aceh Barat 3 1 3 3 3 3 1 3 1 1 1

32 Aceh Jaya 1 3 3 3 3 3 1 3 1 1 1

33 Kolaka Utara 3 3 3 3 1 1 1 1 1 3 1 34 Bengkulu

Tengah 3 3 3 3 1 1 1 3 1 1 1

35 Langsa 1 3 3 1 3 3 1 3 1 1 3

36 Aceh Tamiang 3 1 3 3 3 1 1 3 1 1 3

37 Bireuen 1 3 3 1 3 3 3 3 1 1 1

38 Kota

Singkawang 3 3 3 1 1 1 3 3 1 1 1

39 Banggai

Kepulauan 3 1 3 3 1 3 3 3 1 1 1

40 Flores Timur 1 3 3 3 1 3 3 3 1 1 1

41 Muna Barat 3 3 3 1 1 1 1 3 1 3 1

42 Kotawaringin

Barat 3 1 3 1 1 3 3 3 3 1 1

43 Aceh Tengah 3 1 1 1 3 1 1 3 3 3 3

44 Kota Jayapura 1 3 1 1 1 3 1 3 3 3 3

45 Sarmi 3 1 3 3 3 1 1 1 1 3 1

46 Bombana 3 3 3 1 1 1 1 1 1 3 1

47 Brebes 3 1 3 3 1 3 1 3 1 1 1

48 Kota

Tasikmalaya 3 3 1 1 1 3 1 3 1 1 1

49 Bener Meriah 3 1 3 1 3 3 1 3 1 1 1

50 Kab Sangihe 3 3 1 3 1 1 1 3 1 1 1

51 Maluku Tenggara

Barat 1 3 3 3 1 1 1 1 1 3 3

52 Buol 3 1 3 1 1 3 1 3 1 3 1

53 Banda Aceh 3 1 1 1 3 3 1 3 1 1 3

54 Kota Sabang 3 1 1 1 3 3 1 3 1 1 3

55 Pekanbaru 3 1 3 1 1 1 3 3 1 3 1

56 Tulang

Bawang Barat 3 1 3 1 1 1 3 3 1 3 1

57 Pidie 3 1 1 1 1 3 1 3 1 3 3

58 Tebo 1 3 3 1 3 1 1 3 1 1 1 59 Halmahera

Tengah 1 3 3 3 1 1 3 1 1 1 1

60 Buru 1 3 3 3 1 1 1 1 1 3 1

61 Nagan Raya 1 1 3 1 3 3 1 3 1 1 3

62 Kota Ambon 1 3 1 3 1 1 1 3 1 3 1

63 Maybrat 1 3 3 3 1 1 1 1 1 1 1

64 Maluku

Tengah 3 1 3 3 1 1 1 1 1 1 1

65 Puncak Jaya 1 1 1 3 3 3 1 1 1 1 3

66 Kota Cimahi 1 3 1 3 1 1 1 3 1 1 1

67 Simeulue 1 1 1 5 1 3 1 1 1 3 1

68 Kota Kupang 1 3 3 1 1 1 1 3 1 1 1

69 Pati 3 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1

70 Boalemo 3 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1

71 Dogiyai 1 1 1 1 3 3 3 3 1 1 1

72 Kota

Jogjakarta 1 1 1 1 3 3 3 1 3 1 1

73 Mesuji 1 1 3 3 1 1 3 3 1 1 1

74 Buleleng 1 3 1 1 1 1 1 3 1 3 1

75 Cilacap 1 1 1 3 1 3 1 3 1 1 3

76 Lembata 1 1 3 3 1 1 3 3 1 1 1

77 Lampung

Barat 1 1 3 3 1 1 3 3 1 1 1

78 Kota Salatiga 3 1 1 1 1 1 3 3 1 1 1

79 Pulau Morotai 1 1 3 3 3 1 1 1 1 1 1

80 Kendari 1 3 1 1 1 1 1 3 1 1 1

81 Buton Selatan 1 1 3 3 1 1 1 3 1 1 1

82 Kota Sorong 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1

83 Sarolangun 1 1 3 1 3 1 1 3 1 1 1

84 Musi

Banyuasin 1 1 3 1 1 1 3 3 1 1 1

85 Gayo Lues 1 1 3 1 1 1 3 3 1 1 1

86 Pringsewu 1 1 3 1 1 1 3 3 1 1 1

87 Tulang

Bawang 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1

88 Muaro Jambi 1 1 3 1 1 1 1 3 1 1 1

89 Buton Tengah 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1

90 Jepara 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1

91 Banjarnegara 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1

92 Kota Batu 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1

93 Batang 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1

94 Seram Bagian

Barat 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

Keterangan

Indikator 21 : Pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya Indikator 22 : Laporan tidak tercatatnya pemilih dalam DPT Indikator 23 : Kategori kemiskinan masyarakat

Indikator 24 : Tantangan geografi s Indikator 25 : Kondisi budaya patriarki Indikator 26 : Pengaruh pemuka agama/adat

Indikator 27 : Keberadaan pemantau pemilu (CSO, NGO, Ormas) Indikator 28 : Akses Partisipasi kelompok diasibilitas

Indikator 29 : Pemberitaan media atas laporan masyarakat &

penyelenggara

Indikator 30 : Jumlah laporan pelanggaran dan pemantauan oleh warga negara

Indikator 31 : Kekerasan terhadap pemilih

Kesimpulan

Hasil IKP Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2017 untuk tingkat provinsi menunjukkan 3 daerah dengan tingkat kerawanan tinggi secara berurutan adalah: Papua Barat (3,38); Aceh (3,32); dan Banten (3, 14). Sementara 4 provinsi lainnya berada pada kategori tingkat kerawanan sedang secara berurutan adalah: Sulawesi Barat (2,36);

DKI Jakarta (2,29); Kepulauan Bangka Belitung (2,29) dan Gorontalo (2,01).

Setiap provinsi memiliki karakteristik kerawanan yang berbeda-beda dan unik. Papua Barat memiliki kerawanan untuk dimensi penyelenggaraan terkait integritas dan profesionalitas penyelenggara, serta harus mengantisipasi berbagai ancaman tindak kekerasan terhadap penyelenggara. Aceh juga membutuhkan perhatian khusus karena memiliki kerawanan di setiap aspek dimensi baik penyelenggaraan, kontestasi, dan partisipasi. Selain itu, Aceh akan melaksanakan Pilkada di tingkat provinsi sekaligus kabupaten/

kota pada tahun 2017. Aceh adalah wilayah yang memiliki jumlah Kabupaten/kota terbanyak yang akan melaksanakan pilkada di tahun 2017 dibanding wilayah lain. Banten adalah wilayah yang memiliki kerawanan pada dimensi kontestasi dan penyelenggaraan. Pengaruh terbesar adalah kerawanan yang tinggi pada dimensi kontestasi terutama pada faktor kekerabatan dan hubungan keluarga calon yang

KESIMPULAN

Dalam dokumen INDEKS KERAWANAN PEMILU (IKP) (Halaman 65-81)

Dokumen terkait