30 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Bungin (2011) analisa deskriptif merupakan metode analisa yang digunakan dengan tujuan untuk menjelaskan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian tersebut berdasarkan apa yang terjadi, dan kemudian mengangkat ke permukaan karakter atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun variabel tersebut.
Dalam penelitian ini untuk mengetahui apakah komponen experiential marketing mempengaruhi kepuasan konsumen dan untuk mengetahui komponen experiential marketing mana yang paling dominan mempengaruhi kepuasan konsumen di Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK) Sahara Demak.
Metode penelitian yang akan digunakan merupakan metode penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (200,p.8) metode penelitian kuantitatif adalah suatu metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi
Sugiyono (2017, hlm. 80) menjelaskan “populasi ialah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subjek yang memiliki kualitas serta karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti bertujuan untuk dipelajari yang dimana selanjutnya akan ditarik kesimpulannya.” Jadi dapat disimpulkan bahwa populasi bukan hanya orang, melainkan objek dan benda-benda alam yang lain. Selain itu polulasi bukan hanya sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu. Berdasarkan uraian di atas maka populasi penelitian ini yaitu seluruh pelanggan yang sudah menggunakan jasa pelatihan menyetir di LPK Sahara Demak dari tahun 2014-2018, yaitu sebanyak 2595 orang.
3.2.2 Sampel
Sugiyono (2017, hlm. 81) menyatakan sampel merupakan “bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling dengan pendekatan judgement sampling. Dalam judgement sampling kriteria yang digunakan untuk menentukan sampling adalah:
1. Konsumen yang berumur di atas 18-40 tahun
2. Seluruh pelanggan yang sudah menggunakan jasa pelatihan menyetir di LPK Sahara demak dari tahun 2014-2018.
Siswa pelatihan yang akan dijadikan sasaran sampel penelitian menggunakan taraf kesalahan 10%. Untuk menghitung penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan, maka pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin. Perhitungan pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin sebagai berikut:
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁𝑒2 Dimana: n = Ukuran sampel
N = Ukuran populasi
e = Batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Dalam menentukan jumlah sampel yang akan dipilih, penulis menggunakan tingkat kesalahan sebesar 10%, karena dalam setiap penelitian tidak mungkin hasilnya sempurna 100%, makin besar tingkat kesalahan maka semakin sedikit ukuran sampel. Berdasarkan kriteria judgement sampling diatas Jumlah populasi yang digunakan adalah 2384 orang, dengan perhitungan di atas maka:
𝑛 = 2384
1 + 2384(0,01)
= 2384 24,84
= 95,97 di bulatkan menjadi 100 responden
3.3 Metode Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2012), sumber data dalam penelitian ini diperoleh melalui data primer dan data sekunder yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut:
3.3.1 Data Primer
Data Primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui kuesioner tentang pengaruh experiential marketing terhadap kepuasan pelanggan.
a. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan bertanya langsung kepada responden untuk mendapatkan data yang diperlukan yang berkaitan dengan penelitian.
b. Questioner
Kuesioner adalah tehnik pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis, dimana daftar pertanyaan tersebut harus dijawab oleh responden.
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui data yang telah diteliti dan dikumpulkan oleh pihak lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
Metode pengumpulan data di pergunakan dengan menggunakan metode dokumentasi yaitu pengambilan data dari buku, surat kabar, majalah yang relevan dengan penelitian.
3.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur. Definisi operasional ini ditunjukkan oleh indikator-indikator yang
digunakan untuk mengukur variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini, yaitu experiential marketing, kepuasan pelanggan. secara terperinci. Definisi operasional variabel dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 1
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
No. Variabel Definisi Operasional Indikator Skala Pengukuran 1. Sense Sense merupakan salah
satu cara untuk menyentuh emosi konsumen melalui pengalaman yang dapat diperoleh konsumen lewat panca indra.
(Handal, 2010)
1. Rasa aman dalam hati 2. mobil tidak
panas
3. Jaminan bisa menyetir setelah lulus
Skala pengukuran menggunakan skala Likert 1-5, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup setuju, setuju dan sangat setuju 2. Feel Feel menyentuh
innerafeeling
andaemotions, dengan sasaran membangkitkan pengalaman efektif, sehingga adaarasa gembiraadan bangga (Handal, 2010)
1. Ramah dan sopan 2. Perhatian 3. Pelayanan
cepat dan tepat
Skala pengukuran menggunakan skala Likert 1-5, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup setuju, setuju dan sangat setuju 3. Think Think menciptakan aspek
kognitif, problem-solving experiences. Think ini akan muncul dalam pemikiran yang civergen dan convergen melalui surprise, intrigueadan provocation (Handal, 2010)
1. Body mobil 2. Kualitas mesin
mobil 3. Menerima
masukan dari pelanggan
Skala pengukuran menggunakan skala Likert 1-5, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup setuju, setuju dan sangat setuju 4. Act Act adalah tindakan yang
berhubungan
dengan keseluruhan individu (pikiran danatubuh) untuk
meningkatkan hidup dan gaya hidupnya (Handal, 2010)
1. Paket produk menarik 2. Pengajar yang
menarik 3. Image merek
berkualitas
Skala pengukuran menggunakan skala Likert 1-5, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup setuju, setuju dan sangat setuju 5. Relate Relate adalah usaha
penciptaan pengalaman yang berkaitan dengan
1. Perlakuan istimewa
Skala pengukuran menggunakan skala Likert 1-5,
hubungan sosial seperti hubungan satu individu dengan individu lainnya (Handal, 2010)
2. Kontak langsung dengan pelanggan 3. Komunitas
pelanggan
yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup setuju, setuju dan sangat setuju 6. Kepuasan Kepuasan pelanggan
didefinisikan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya (Kotler, 2015).
1. Merasa cocok 2. Keseuaian
jasa dengan harapan 3. Menggunakan
jasa lain yang di sediakan.
Skala pengukuran menggunakan skala Likert 1-5, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup setuju, setuju dan sangat setuju
3.5 Metode Pengolahan Data Penelitian 3.5.1 Uji validitas
Validitas adalah indeks yang menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul mengukur apa yang perlu diukur (Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, 2005). Cara yang paling banyak dipakai untuk mengetahui validitas suatu alat pengukur adalah dengan cara mengkorelasikan antara score yang diperoleh pada masing-masing item (pertanyaan atau pernyataan) dengan score item dengan score total haruslah signifikan berdasarkan ukuran statistik tertentu. Untuk menguji validitas dari pertanyaan, dengan taraf signifikasi (α) = 5% digunakan rumus koefisien korelasi produk moment dari Karl Person (Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, 2005).
Setelah perhitungan dilakukan (dalam hal ini proses perhitungan dibantu dengan program SPSS versi 23.) kemudian nilai rhitung yang diperoleh dibandingkan dengan nilai rtabel sesuai dengan baris n dan taraf signifikasi (α) = 5% dalam pengujian validitas kuestioner dikatakan valid apabila rhitung > rtabel.
3.5.2 Uji Reliabilitas
Reliabiltas sebagai alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu kewaktu. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menghitung koefisien reliabilitas dengan menggunakan formula cronbach alpha. Selanjutnya disebut koefisien alfa.
Secara umum kriteria reliabilitas alfa dikatakan reliabel apabila koefisien alfa lebih dari 0,60 (Ghozali, 2013).
3.5.3 Uji Asumsi Klasik
3.5.3.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat, variabel bebas atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau penyebaran data statistik pada sumbu diagonal dari grafik distribusi normal (Ghozali,2013). Pengujian normalitas dalam penelitian ini digunakan dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari data normal. Sedangkan dasar pengambilan keputusan untuk uji normalitas data adalah (Ghozali,2013):
1) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
3.5.3.2 Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel-variabel bebas (Ghozali, 2013). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel ini tidak ortogonal.
Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol. Dalam penelitian ini teknik untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas didalam model regresi adalah melihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF), dan nilai tolerance. Apabila nilai tolerance mendekati 1, serta nilai VIF disekitar angka 1 serta tidak lebih dari 10, maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas dalam model regresi (Ghozali,2013).
3.5.3.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2013). Cara mendeteksinya adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik Scatterplot antara SRESID dan ZPRED, dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu x adalah residual (Y prediksi – Y
sesungguhnya) yang telah di-standardized (Ghozali,2011). Sedangkan dasar pengambilan keputusan untuk uji heteroskedastisitas adalah (Ghozali, 2013):
1) Jika ada pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu teratur (bergelombang, melebur kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.6 Metode Analisis Data
3.6.1 Analisis Regresi Linier Berganda
Menurut Partdede dan Manurung (2014:27), diketahui bahwa dalam regresi berganda, variabel terikat dipengaruhi oleh dua variabel atau lebih variabel bebas sehingga berhubungan fungsional antara variabel terikat (Y) yaitu: Kepuasan Pelanggan, dengan variabel bebas (X) yaitu: Experiental Marketing yang terdiri dari variabel Sense (X1), Feel (X2), Think (X3), Act (X4) dan Relate (X5). untuk mengetahui pengaruhnya dapat digunakan persamaan analisis regresi linier berganda, sebagai berikut:
Y = α + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4X4 + b5 X5 + e
Dimana: Y = Kepuasan Pelanggan
α = Konstanta
b = Koefisien regresi X1 = Sense
X2 = Feel X3 = Think
X4 = Act
X5 = Relate
e = Standart error
3.6.2 Uji signifikansi simultan (Uji F)
Menurut Pardede dan Manurung (2014:28), uji F dapat digunakan untuk nguji pengaruh secara simultan variabel bebas (X) terhadap variabel terikatnya (Y). jika variabel bebas memiliki pengaruh secara simultan terhadap variabel terikatnya, maka model persamaan regresi masuk dalam kriteria cocok atau fit. sebaliknya tidak terdapat pengaruh secara simultan maka masuk dalam kategori tidak cocok atau not fit, dengan derajat kepercayaan sebesar 95% atau taraf signifikan 5%, dengan taraf signifikasi Ftabel yaitu df1 = k - 1 dan df2 = n - k. Adapun uji statistiknya adalah:
F = R2/K
(1 − R2/(n − K − 1)
Dimana: F = Nilai Fhitung
R2 = Nilai koefisien determinasi n = Jumlah sampel
K = Jumlah variabel
Langkah-langkah analisis uji F adalah:
a. Membuat hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha) sebagai berikut:
1. H0: β1, β2, β3, β4, β5 = 0, artinya secara bersama-sama tidak terdapat pengaruh antara variabel independent (X) terhadap variabel dependent (Y) 2. Ha: β1,β2,β3,β4,β5 ≠ 0, artinya secara bersama-sama terdapat pengaruh
antara variabel independent (X) terhadap variabel dependent (Y) b. Kriteria pengambilan keputusan:
1. jika Fhitung < Ftabel atau sig > 0,05 H0 diterima dan Ha ditolak, ini berarti tidak ada pengaruh yang bermakna oleh variabel X dan Y.
2. jika Fhitung > Ftabel atau sig < 0,05 H0 ditolak dan Ha diterima, ini berarti ada pengaruh yang bermakna oleh variabel X dan Y.
c. Mencari nilai Ftabel df1 = 6 – 1 = 5 df2 = 100 – 6 = 94
Gambar 3.1
Grafik Nilai Kritis Distribusi F
3.6.3 Uji signifikansi parsial (Uji t)
Menurut Pardede dan Manurung (2014:29), nilai t hitung digunakan untuk menguji pengaruh secara parsial antara variabel bebas experiental marketing “sense (X1), feel (X2), think (X3), act (X4) dan relate (X5)” terhadap variabel terikatnya.
apakah variabel tersebut memiliki pengaruh yang berarti terhadap variabel kepuasan pelanggan (Y) atau tidak. Uji ini dapat dilakukan dengan membandingkan thitung dengan ttabel dengan cara dk = n - K atau dengan melihat kolom signifikansi pada masing-masing thitung. Rumus yang digunakan sebagai berikut:
0 2,31
α H0 diterima Ha ditolak
H0 ditolak Ha diterima
t =r√n − 2
√1 − r2 Dimana: t = Nilai t hitung
r = Korelasi n = Jumlah sampel
r2 = Koefisien determinasi
Langkah-langkah analisis uji t adalah:
a. Membuat hipotesis untuk kasus pengujian ttes, yaitu: Perumusan Hipotesis 1. H0: β = 0 Diduga tidak ada pengaruh antara variabel independent secara
parsial terhadap variabel dependent.
2. Ha: β > 0 Diduga ada pengaruh positif dan signifikan antara variabel independent secara parsial terhadap variabel dependent.
b. Membandingkan thitung dan ttabel
1. Apabila thitung < ttabel maka H0 diterima dan Ha ditolak, ini berarti tidak ada pengaruh yang bermakna antara variabel Experiental Marketing (Sense, Feel, Think, Act dan Relate) terhadap variabel Kepuasan Pelanggan, dan dapat juga dilihat tidak terjadinya pengaruh antara variabel Experiental Marketing (Sense, Feel, Think, Act dan Relate) terhadap Kepuasan Pelanggan di sebabkan nilai signifikan > 0,05.
2. Apabila thitung > ttabel maka H0 ditolak dan Ha diterima, ini berarti ada pengaruh yang bermakna antara variabel Experiental Marketing (Sense, Feel, Think, Act dan Relate) terhadap Kepuasan Pelanggan, dan dapat juga dilihat terjadinya pengaruh antara variabel Experiental Marketing (Sense,
Feel, Think, Act dan Relate) terhadap Kepuasan Pelanggan di sebabkan nilai signifikan < 0,05.
c. Mencari nilai t tabel df = 100 – 6 = 94
Gambar 3.2
Grafik Nilai Kritis Distribusi t
3.6.4 Koefisien Determinan
Kemampuan variabel-variabel bebas dalam menerangkan variabel tidak bebas yang diukur dengan besarnya koefisin determinasi. Rumus yang digunakan debagi berikut:
Adjusted r2 x 100%
0 1,986
α H0 diterima Ha ditolak
H0 ditolak Ha diterima