• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bibit sapi perah holstein indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bibit sapi perah holstein indonesia"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

“Hak Cip ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan” SNI 2735:2014

Standar Nasional Indonesia

ICS 65.020.30

Badan Standardisasi Nasional

Bibit sapi perah holstein indonesia

(2)

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

© BSN 2014

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN

BSN

Gd. Manggala Wanabakti Blok IV, Lt. 3,4,7,10.

Telp. +6221-5747043 Fax. +6221-5747045 Email: [email protected] www.bsn.go.id

Diterbitkan di Jakarta

(3)

“Hak Cip ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

SNI 2735:2014

© BSN 2014 i

Daftar isi

Daftar isi ... i 

Prakata ... ii 

Pendahuluan... iii 

1 Ruang lingkup ... 1 

2 Istilah dan definisi ... 1 

3 Persyaratan mutu ... 1 

4 Cara pengukuran ... 3 

Bibliografi ... 5 

Tabel 1 - Persyaratan kuantitatif bibit sapi perah betina holstein indonesia ... 2 

Tabel 2 - Persyaratan kuantitatif bibit sapi perah jantan holstein indonesia ... 3 

Tabel 3 - Persyaratan produksi susu ... 3 

Gambar 1 - Bibit sapi perah holstein indonesia ... 2 

Gambar 2 - Cara pengukuran bibit sapi perah holstein indonesia ... 4 

Gambar 3 - Cara pengukuran scrotum sapi perah holstein indonesia jantan ... 4 

(4)

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

© BSN 2014 ii

Prakata

Standar Nasional Indonesia (SNI) Bibit sapi perah holstein indonesia ini merupakan revisi dari SNI 2735:2008, Bibit sapi perah Indonesia dikarenakan :

1. SNI 2735:2008, Bibit sapi perah Indonesia telah ditetapkan selama 5 (lima) tahun sehingga diperlukan adanya penyesuaian dengan perkembangan sapi perah di Indonesia;

2. Sesuai amanah UU Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan bahwa tidak ada pengklasifikasian bibit (bibit dasar, bibit induk dan bibit sebar), maka dalam SNI sapi perah holstein indonesia perlu dilakukan penyesuaian;

Standar ini disusun oleh Sub Komite Teknis (SKT) 67-03-S1 Bibit ternak untuk:

1. Peningkatan kualitas genetik sapi perah Indonesia

2. Peningkatan produktivitas dan populasi sapi perah holstein di Indonesia; dan 3. Memberikan jaminan kepada konsumen akan mutu bibit sapi perah

Standar ini telah melalui rapat teknis dan terakhir disepakati dalam konsensus di Bogor tanggal 26 November 2013. Hadir dalam konsensus tersebut ketua dan anggota Sub Komite Teknis (SKT) 67-03-S1 Bibit ternak dan instansi terkait lainnya.

Standar ini telah melalui jajak pendapat pada tanggal 17 Maret 2014 sampai dengan 15 Mei 2014 dengan hasil akhir Rancangan Akhir Standar Nasional Indonesia RASNI.

(5)

“Hak Cip ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

SNI 2735:2014

© BSN 2014 iii

Pendahuluan

Bibit sapi perah holstein indonesia merupakan salah satu aspek penting dalam peningkatan produktivitas dan populasi holstein di Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut diatas dibutuhkan ketersediaan bibit sapi perah holstein indonesia yang berkualitas dan jumlahnya cukup.

Secara umum kriteria bibit sapi perah holstein indonesia didasarkan pada sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif. SNI Bibit sapi perah holstein indonesia merupakan port of folio sapi perah Indonesia sehingga pemanfaatannya harus selalu mengikuti perubahan yang ada di masyarakat sesuai tuntutan pembangunan.

(6)

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

© BSN 2014 1 dari 5

Bibit sapi perah holstein indonesia

1 Ruang lingkup

Standar ini menetapkan persyaratan mutu dan cara pengukuran bibit sapi perah holstein indonesia.

2 Istilah dan definisi 2.1

bibit sapi perah holstein indonesia

bibit sapi perah holstein Indonesia yang lahir dan beradaptasi di Indonesia, mempunyai ciri dan kemampuan produksi sesuai persyaratan tertentu sebagai bibit untuk menghasilkan anak dan produksi susu

2.2

cacat genetik

bentuk cacat tubuh diperoleh sejak dalam kandungan antara lain muka bulldog, kaki satu, atresia ani

2.3

cacat fisik

bentuk cacat tubuh diperoleh setelah lahir (dapatan) antara lain pincang dan patah tulang 2.4

dokter hewan berwenang

dokter hewan yang ditunjuk oleh menteri, gubernur, atau bupati atau walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan jangkauan tugas pelayanannya dalam rangka penyelenggaraan kesehatan hewan

2.5

305.2x.ME

jumlah hari diperah selama 305 hari dengan frekuensi pemerahan 2 kali sehari setara dewasa (mature equivalent)

3 Persyaratan mutu 3.1 Persyaratan umum

3.1.1 Sehat dan bebas dari penyakit hewan menular yang dinyatakan oleh dokter hewan yang berwenang untuk melaksanakan tindakan kesehatan hewan dan menerbitkan sertifikat kesehatan hewan

3.1.2 Tidak memiliki segala bentuk cacat genetik dan cacat fisik serta cacat organ reproduksi sesuai dengan ciri khas holstein indonesia

3.1.3 Mempunyai silsilah (pedigree) sampai dengan 2 (dua) generasi diatasnya untuk jantan dan 1 (satu) generasi diatasnya untuk betina

3.1.4 Ambing simetris, jumlah puting 4 (empat), bentuk puting normal untuk betina 3.1.5 Bukan berasal dari kelahiran kembar jantan betina (freemartin) untuk betina

(7)

“Hak Cip ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

© BSN 201 3.2 Pers 3.2.1 Per Bibit sapi p merah puti

3.2.2 Per Persyarata Tabel 1 da Tab Umur (bulan

15 - 18

4

syaratan kh rsyaratan k perah holste

ih dan tidak

rsyaratan k an kuantitat an Tabel 2, s bel 1 - Pers r

n)

8

Lingk Tingg Bobo

husus kualitatif

ein indones k bertanduk

Gambar 1 kuantitatif

tif bibit sap serta persy syaratan ku

Parame kar dada gi pundak

t badan

2 d ia jantan da

(dehorning

- Bibit sap

pi perah ho aratan prod uantitatif bi

eter

jantan

dari 5 an betina m g) sebagaim

i perah ho

olstein indo duksi susu s ibit sapi pe

Satu cm cm kg

mempunyai w mana contoh

lstein indo

onesia seb sebagaiman erah betina

uan P

m m g

betina

warna hitam h Gambar 1

onesia

agaimana na tercantum a holstein in

Persyaratan

15 12 30

SNI 2735:

m putih atau .

tercantum m pada Tab ndonesia

n (minimum 55

21 00

betina

:2014

u

pada bel 3.

m)

(8)

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

© BSN 2014 3 dari 5

Tabel 2 - Persyaratan kuantitatif bibit sapi perah jantan holstein indonesia Umur

(bulan) Parameter Satuan Persyaratan minimum

18 - 24

Lingkar dada cm 183

Tinggi pundak cm 144

Bobot badan kg 490

Lingkar scrotum cm 33

Tabel 3 - Persyaratan produksi susu

satuan kilogram No Bibit sapi perah holstein indonesia Persyaratan

Betina Jantan 1 Produksi susu induk (305.2x.ME) pada

laktasi I ≥ 5000 ≥ 6000

2 Bapak berasal dari induk yang

mempunyai produksi susu (305.2x.ME) pada laktasi I

≥ 6000 ≥ 7000

4 Cara pengukuran

Dilakukan di farm/kelompok/peternak daerah asal ternak, dengan posisi sapi berdiri sempurna di atas keempat kaki pada lantai yang rata.

4.1 Umur

Menentukan umur berdasarkan catatan kelahiran.

4.2 Lingkar dada

Cara mengukur lingkar dada dengan melingkarkan pita ukur pada bidang yang terbentuk mulai dari pundak ke dasar dada sebagaimana Gambar 2.

4.3 Tinggi pundak

Cara mengukur tinggi pundak dengan mengukur jarak tegak lurus dari tanah sampai dengan puncak pundak sejajar dengan kaki depan dengan menggunakan tongkat ukur sebagaimana Gambar 2.

4.4 Lingkar scrotum

Cara mengukur lingkar scrotum dengan melingkarkan pita ukur pada bagian tengah testis sebagaimana Gambar 3.

(9)

“Hak Cip ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

SNI 2735:2014

© BSN 2014 4 dari 5

4.5 Menghitung produksi susu

Produksi 305.2x.ME = a x b x c (1) Keterangan :

a adalah produksi susu sebenarnya

b adalah faktor standarisasi pemerahan 305 hari

c adalah faktor umur standarisasi setara dewasa pada laktasi pertama

Keterangan:

a : Lingkar dada b : Tinggi pundak

Gambar 2 - Cara pengukuran bibit sapi perah holstein indonesia

Gambar 3 - Cara pengukuran scrotum sapi perah holstein indonesia jantan

(10)

ta Badan Standardisasi Nasional, Copy s tan dar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”

© BSN 2014 5 dari 5

Bibliografi

Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPT-HPT) Baturraden, 2013. Laporan Data Pengukuran Sapi Perah

Bull Selection, 2003. The State of Queensland, Departement of Primary Industries.

Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, 2003. Standarisasi Mutu Bibit Ternak Sapi Perah Proyek Pembibitan Ternak Sapi Perah, Sapi Potong, Domba, Unggas dan Hewan Kesayangan di Masyarakat Jawa Barat APBD Propinsi Jawa Barat 2002.

Holstein, 2011. Select Sires Canada Inc.

Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan

Gambar

Tabel 2 - Persyaratan kuantitatif bibit sapi perah jantan holstein indonesia  Umur
Gambar 2 - Cara pengukuran bibit sapi perah holstein indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penggunaan silase dalam ransum sapi perah di peternakan rakyat anggota Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS)

Hasil dari penelitian adalah 5 dari 30 ekor sapi perah di kawasan usaha peternakan Cibungbulang Bogor yang menunjukkan indeks kesehatan normal. 12 dari 30 ekor

Berdasarkan hasil penelitian pengembangan usaha ternak sapi perah di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, maka dapat diambil kesimpulan bahwa subsistem agribisnis peternakan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sapi perah betina Peranakan Friesien Holstein (PFH) yang ada di Balai Pengembangan Bibit dan Pakan Ternak

Berdasarkan hasil penelitian pengembangan usaha ternak sapi perah di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, maka dapat diambil kesimpulan bahwa subsistem agribisnis peternakan

Implikasi dari hasil tersebut, bahwa seleksi individu sapi perah induk atas dasar tingkat produksi puncak pada 3 bulan awal laktasi dalam kondisi peternakan sapi perah rakyat di

Kelompok tani USAHA BARU Desa Kalimas Baru mengajukan permohonan bantuan bibit sapi ternak untuk menambah pendapatan kelompok dari sektor