THE EXPLANATION AND WORKSHOP ON WASTE
MANAGEMENT OF HOUSEHOLD IN KUEH
VILLAGE LHOKNGA DISTRICT
Riza Septiani1, Aulina Adamy2, Ramadhaniah31,2,3Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh 2Dosen Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh
e-mail: [email protected] Abstract
Improvement of awareness and participation of the community regarding waste management is carried out through efforts in increasing knowledge, facilitating and enabling community to manage waste independently. Therefore, the community will be empowered in building a healthy and sustainable environment. Community service activities was implemented in February 2020 including health education regarding waste management and workshop related to waste sorting practices as well as composting activity using organic waste/household waste and reprocess waste from used plastic bags. The activities was carried out in Meeting Hall, Kueh Village, Lhoknga District, Aceh Besar. Majority of participants are housewives and young adult women in Kueh Village. The main content of activities is waste management that are applicable at community level or in household settings, thus these activities increase community awareness about environmental health problems and empowering them to manage organic waste into compost and reuse plastic bags by reprocessing them into varied goods.
Keywords: waste management, organic waste, environmental health, community empowerment, reduce reuse recycle (3R)
Abstrak
Peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat tentang pengolahan sampah dilakukan melalui upaya peningkatan pengetahuan, fasilitasi dan pemberdayaan masyarakat untuk pengolahan sampah secara mandiri. Dengan demikian, masyarakat akan berdaya dalam membangun lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada bulan Februari tahun 2020 meliputi penyuluhan kesehatan tentang pengolahan sampah dan workshop terkait praktik pemilahan sampah serta kegiatan membuat kompos menggunakan sampah organik/sampah rumah tangga dan mengolah kembali sampah dari kantong plastik bekas. Kegiatan dilaksanakan di Balai Pertemuan, Desa Kueh, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Mayoritas peserta adalah ibu rumah tangga dan remaja putri di Desa Kueh. Fokus dari kegiatan ini terkait dengan pengolahan sampah yang dapat dilakukan di masyarakat atau di tatanan rumah tangga, sehingga kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah kesehatan lingkungan dan memberdayakan mereka untuk pengolahan sampah organik menjadi kompos dan penggunaan kembali kantong plastik dengan mengolahnya kembali menjadi beragam barang lainnya.
Kata kunci: pengolahan sampah, sampah organik, kesehatan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, reduce reuse recycle (3R)
PENDAHULUAN
Permasalahan terkait sampah menjadi masalah global saat ini, seluruh negara di dunia bersinggungan dengan permasalahan sampah dan telah melakukan berbagai upaya
maupun di tingkat komunitas. Usaha dalam mewujudkan implementasi efektif dalam pengelolaan sampah telah dilakukan dengan berbagai strategi, salah satunya adalah dengan penegakan dan implementasi kebijakan pengelolaan sampah (UU No. 18 Tahun 2008). Selain itu, upaya lainnya adalah dengan cara usaha peningkatan kesadaran individu dan masyarakat dalam mengelola sampah pribadi dan masyarakat di tingkat rumah tangga melalui kampanye, poster, iklan layanan masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah maupun kelompok komunitas masyarakat (CNN, 2020).
Namun pengelolaan sampah terbukti sangatlah sulit untuk dilakukan, banyak faktor yang mempengaruhi semakin menumpuknya produksi sampah dewasa ini, terutama karena produksi sampah terjadi terus-menerus setiap saat, ditambah dengan budaya konsumerisme masyarakat, ketergantungan penggunaan kemasan, produksi dan konsumsi masif berbagai produk instan dengan kemasan artifisial (seperti kemasan makanan, tren pakaian “fast-fashion”, penggunaan masif dari kantong atau produk plastik sekali pakai, dan lain sebagainya), serta perilaku pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe) yaitu berfokus pada usaha pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang nyatanya tidak dapat menanggulangi masalah sampah sepenuhnya, karena perilaku tersebut bersifat sementara dalam manajemen sampah dan lingkungan, namun sumber permasalahan tetaplah ada dan memerlukan intervensi yang lebih efektif dalam mengontrol jumlah sampah yang ada (jogloabang.com, 2019).
Berdasarkan KBBI (2019) sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan dianggap sudah tidak bermanfaat, ataupun suatu material sisa yang sudah tidak diperlukan atau diinginkan lagi setelah berakhirnya suatu proses (Wikipedia). Definisi tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat pada umumnya tidak menyadari potensi dari “sampah” yang dibuang karena suatu anggapan tentang “tidak bermanfaatnya” material tersebut. Ditambah dengan perilaku end-of-pipe sebagai manajemen sampah utama yang dilakukan masyarakat saat ini, sudah saatnya perilaku ini digantikan dengan paradigma baru pengelolaan sampah yaitu dilakukannya dengan pengurangan sampah (mengurangi produksi-reduce, menggunakan kembali-reuse dan mendaur ulang-recyle) dan penanganan sampah (memilah, mengumpulkan, mengangkut, mengolah dan memproses sampah) (jogloabang.com, 2019).
Menurut jenis dan sumbernya, sampah dikelompokkan menjadi: sampah rumah tangga yaitu sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga; sampah komersial yaitu sampah yang berasal dari kegiatan komersial (pasar, pertokoan, rumah makan, tempat hiburan, penginapan, bengkel, kios); sampah bangunan yaitu sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan, pemugaran dan pembongkaran bangunan; sampah fasilitas umum yaitu sampah yang berasal dari pembersihan dan penyapuan fasilitas publik (jalan, trotoar, taman, lapangan, tempat rekreasi) (Damanhuri & Padmi, 2010; Widyatmoko dan Sintorini, 2002). Sampah juga dibedakan berdasarkan jenisnya yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik adalah hasil dari proses bahan organik yang berasal dari rumah tangga maupun sampah yang berasal dari linkungan, sampah organik ini cenderung mudah terurai dengan bantuan mikroba dan pengolahan sampah ini dapat dilakukan dengan metode pembuatan kompos, biogas, pupuk cair. Sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang berasal dari buatan manusia (seperti kaca dan plastik) yang cenderung sulit terurai karena memiliki rantai karbon yang panjang dan kompleks (Hartono, R, 2008).
Maka dari itu, mengingat urgensi masalah sampah saat ini, diperlukan peran serta dan peningkatan kesadaran masyarakat melalui usaha peningkatan pengetahuan masyarakat dan memfasilitasi agar masyarakat mau dan mampu melakukan pengolahan sampah secara mandiri dan sukarela. Kegiatan yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat dengan mengajak melakukan 3 R ataupun lebih komprehensif seperti gaya hidup zero-waste (5 R) yang dilakukan oleh Bea Johnson, seorang zero-waster asal Perancis (CNN Indonesia, 2020; Subekti S, 2010; Johnson, B, 2016):
1. Refuse: menolak penggunaan barang sekali pakai, dan menggunakan wadah/kantong belanja sendiri guna mengurangi kemasan makanan atau saat berbelanja
2. Reduce: mengurangi sampah dengan cara berbelanja sesuai kebutuhan
3. Reuse: menggunakan barang yang berulang terutama bagi yang masih layak pakai, termasuk memperbaiki barang rusak yang masih bisa bermanfaat.
4. Recycle: mendaur ulang barang bekas, sehingga dalam hal ini penting untuk mempertimbangkan nilai manfaat dari “sampah”, sehingga bisa didaur ulang menjadi barang yang lebih bermanfaat
Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Kueh, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar adalah penyuluhan terkait pengelolaan sampah dan praktek pemilahan sampah serta praktek pembuatan kompos dari sampah rumah tangga. Sedangkan target atau sasaran pada kegiatan ini adalah masyarakat desa dengan fokus materi dan implementasi adalah pengolahan sampah yang dapat dilakukan di tingkat masyarakat pada tatanan rumah tangga.
Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah kesehatan lingkungan dan meningkatkan kemampuan masyarakat khususnya Ibu Rumah Tangga (IRT) untuk dapat mengolah sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos dan juga meningkatkan kemampuan pengolahan kembali sampah dari kantung plastik bekas menjadi barang lain yang dapat dipergunakan kembali. Manfaat Kegiatan:
1. Meningkatkan pengetahuan kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat terutama mejaga kesehatan lingkungan dan bijak mengelola sampah.
2. Mendorong parstisipasi masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah secara efektif dan konsisten atau berkelanjutan.
3. Agar masyarakat mau dan mampu melaksanakan pemilahan sampah dan pengeloalaan sampah organik dengan pembuatan kompos
4. Mengembangkan kader-kader kesehatan (kelompok peduli sampah) untuk menggerakkan individu dan masyarakat untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku mengelola sampah dengan baik.
Hasil yang diharapkan:
1. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengolahan sampah
2. Masyarakat termotivasi untuk melakukan dan perilaku manajemen sampah dengan pemilahan sampah rumah tangga (sampah basah dan sampah kering)
3. Masyarakat mengetahui cara membuat kompos dari sampah organik
4. Masyarakat termotivasi untuk melakukan dan mempertahankan perilaku pengolahan sampah dengan metode kompos
Metode Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema Penyuluhan dan Workshop Penanganan Sampah Rumah Tangga ini dilaksanakan melalui Penyuluhan pengolahan dan pemilahan sampah dan cara membuat kompos dari sampah organik/sampah rumah tangga. Praktek pembuatan kompos dari sampah rumah tangga. Praktek membuat kerajinan dari sampah kantong plastik. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Pertemuan di Desa Kueh, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.
Bahan dan alat yang dipersiapkan untuk terlaksananya kegiatan ini adalah: Sesi Pembuatan Sampah Organik:
1. Sampah organik yaitu sampah dari sisa pengolahan bahan makanan rumah tangga seperti kulit sayur dan buah dan sisa makanan
2. Tong sampah organik yang sudah dilubangi di dinding dan dasarnya, yang dipergunakan sebagai tempat membuat kompos
3. Daun kering dan serbuk kayu sebagai absorbent 4. Cairan EM4 atau Mikro Organisme Lokal (MOL) 5. Sarung tangan karet
6. Tongkat kayu panjang untuk mengaduk kompos Selanjutnya pada sesi kegiatan merajut plastik:
1. Kantong plastik bekas 2. Gunting
3. Jarum rajut
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peyuluhan dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2020 di Balai Pertemuan Desa Kueh, peserta pada kegiatan ini adalah masyarakat di desa Kueh berjumlah 35 orang dengan mayoritas peserta adalah ibu rumah tangga dan remaja putri.
Gambar 1. Penyuluhan tentang Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik
Acara dimulai pada pukul 16.30 WIB dan dimulai dengan pengisian survei terkait kebiasaan pengolahan sampah rumah tangga pada warga Desa Kueh. Lalu dilanjutkan dengan pembukaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dan dilanjutkan dengan penyuluhan dengan tema “Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik” yang disampaikan oleh Dr. Aulina Adamy, M.Sc, IPM dan dr. Riza Septiani, MPubHlthAdv. Penyuluhan meliputi paparan tentang:
1. Jumlah Sampah di Indonesia
2. Perilaku Membuang Sampah pada Masyarakat 3. Dampak Sampah
4. Cara Mengurangi Sampah Rumah Tangga 5. Mengolah Sampah Organik
6. Teknik Mengompos 7. Tantangan Mengompos 8. Langkah Membuat Kompos
Penyuluhan dan pemaparan materi diberikan dengan metode ceramah, dan pemutaran video. Selama penyuluhan berlangsung, seluruh peserta terlihat antusias mendengarkan paparan yang disampaikan oleh narasumber. Dan setelah penyuluhan, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab.
Kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat kompos dari sampah organik (sampah rumah tangga).
Gambar 2. Praktik Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga (Organik)
Peserta dibagi menjadi 10 kelompok dan berpraktik membuat kompos dengan metode mengompos menggunakan ember. Kegiatan praktik membuat kompos ini dilaksanakan di lapangan dengan persiapan alat dan bahan terlebih dahulu. Kegiatan diawali dengan penjelasan awal dari narasumber, yang menjelaskan ulang langkah-langkah yang harus dilakukan. Adapun langkah-langkah-langkah-langkah mengompos adalah:
1. Siapkan ember dengan tutup yang sudah dilubangi di bagian dasar dan dinding bagian atas.
2. Siapkan juga sampah organik (sampah rumah tangga yang sudah direcah berukuran kecil) seperti kulit buah-buahan dan sayur, ataupun sisa makanan.
3. Masukkan serbuk kayu atau potongan daun kering ke dalam ember, sampai menutup dasar ember.
4. Masukkan sampah organik
5. Aduk sampah dan serbuk kayu dengan tongkat panjang, pastikan adukan sampah organik tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.
Gambar 3. Mengolah Sampah Organik (Mengompos)
6. Tambahkan bioaktivator EM4 atau larutan MOL (Mikroorganisme Lokal) yang terbuat dari air cucian beras yang didiamkan 1-2 minggu atau larutan air gula. 7. Lakukan langkah-langkah tersebut seterusnya hingga ember penuh, untuk
memaksimalkan proses pengomposan, rutin lakukan pengadukan dan pemberian MOL/EM4
8. Setelah penuh didiamkan sekitar 1 bulan untuk ditunggu menjadi kompos.
Setelah kegiatan membuat kompos dari sampah rumah tangga, kegiatan dilanjutkan dengan workshop membuat aneka ragam kerajinan rajut dari bahan kantong plastik, Adapun langkah-langkahnya adalah:
1. Gunting kantong plastik/kantong kresek bekas yang sudah dicuci atau dibersihkan, dengan potongan memanjang sehingga menyerupai benang.
2. Gunakan jarum rajut untuk merajut plastik
3. Hasil rajut dapat menjadi berbagai bentuk seperti bros, tas kecil, dan lain sebagainya.
Gambar 4. Workshop Merajut Plastik
KESIMPULAN
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat bertema Penyuluhan Penanganan Sampah Rumah Tangga Manfaat dan Workshop Pembuatan Kompos dan Workshop Merajut Plastik di Desa Kueh, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar telah dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2020, pada pukul 16.30 sampai dengan 18.30, dengan jumlah peserta yaitu 35 orang. Peserta antusias mengikuti kegiatan mulai dari penyuluhan, diskusi dan tanya jawab serta workshop. Namun dikarenakan waktu pelaksanaan kegiatan yang terlalu sore, sehingga dari segi durasi pelaksanaan kegiatan terlalu singkat. Di masa
dengan mempertimbangkan durasi waktu yang lebih panjang agar memberi kesempatan yang cukup bagi seluruh peserta kegiatan untuk meningkatkan keterampilannya dalam pengolahan sampan organik dengan teknik mengompos dan bagi peserta yang berminat belajar membuat kreasi rajut juga memiliki waktu yang cukup untuk mencoba, berlatih dan berkonsultasi dengan trainer sehingga cukup waktu untuk membuat sebuah kreasi.
SARAN
Melihat antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan penyuluhan dan workshop pembuatan kompos dari sampah rumah tangga dan workshop merajut plastik, berikut saran dan rekomendasi yang diharapkan dapat diwujudkan di Desa Kueh:
1. Diharapkan peserta kegiatan dapat menyebarkkan informasi kepada anggota keluarga atau warga lainnya tentang cara menanggulangi sampah organik dengan cara memaksimalkan mengompos sampah rumah tangga di masing-masing rumah di Desa Kueh.
2. Diharapkan peserta kegiatan dapat mengamalkan ilmu yang sudah didapat dengan cara secara rutin mengompos sampah rumah tangga
3. Diharapkan dibentuknya kelompok atau komunitas masyarakat peduli lingkungan untuk menjadi agen perubahan di Desa Kueh yang bergerak untuk mensosialisasikan gerakan sadar kesehatan lingkungan.
4. Diharapkan bahwa komunitas msayarakat peduli lingkungan tersebut dapat meningkatkan sosialisasi kepada warga Desa Kueh tentang permasalahan sampah dan menginformasikan solusi yang dapat dilakukan di tingkat keluarga.
5. Diharapkan pemerintah desa dapat menghimbau setiap rumah di Desa Kueh memiliki minimal 1 tong sampah organik.
6. Dikarenakan banyak juga remaja dan anak-anak yang tertarik mengikuti kegiatan ini, diperlukan penyuluhan dan kegiatan serupa dengan menggunakan metode penyampaian yang menarik, menyenangkan, menghibur dan mudah dipahami oleh anak-anak.
7. Diperlukan observasi ke lapangan di waktu mendatang untuk menilai dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pembuatan kompos dari sampah rumah tangga di Desa Kueh.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kepada Bapak Geuchik Desa Kueh beserta seluruh masyarakat yang telah turut serta berpartisipasi atas terlaksananya kegiatan ini dan juga memberi dukungan terhadap keberhasilan kegiatan pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA
CNN Indonesia. 2020. Mereka yang Berupaya Mengurangi Sampah Plastik. Diakses dari:
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190629164456-284-407610/mereka-yangberupaya- mengurangi-sampah-plastik
Damanhuri, E & Padmi, T. 2010. Pengelolaan Sampah. Institut Teknologi Bandung
(ITB). Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010). Diakses
dari:https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/43161476/diktatsampah- 2010-bag-1-3_2.pdf?response-contentdisposition=inline%3B%20filename%3DPENGELOLAAN_SAMPAH.pd f&X-Amz-Algorithm=AWS4-HMAC-SHA256&X-Amz- Credential=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A%2F20200126%2Fus-east- 1%2Fs3%2Faws4_request&X-Amz-Date=20200126T204238Z&X-Amz-Expires=3600&X-Amz-SignedHeaders=host&X-Amz- Signature=e0e3bf9362c72fd6471460fa21791413c4b80e0e56abea933d9d56c0423 5a1e7
Hartono, R. 2008. Penanganan dan Pengolahan Sampah. Bogor: Penebar Swadaya KBBI. 2019. Sampah. Diakses dari: https://kbbi.web.id/sampah
Jogloabang.com. 2019. UU 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Diakses dari: https://www.google.com.au/amp/s/www.jogloabang.com/pustaka/uu-18-2008-pengelolaan-sampah%3famp
Johnson, B. 2016. Zero Waste is Not Recycling More, But Less. Ted Talks. Video diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=kWnsmzSSgdI
Subekti, S. 2010. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga 3 R Berbasis Masyarakat.
Prosiding SNST Fakultas Teknik. Diakses dari:
file:///D:/FKM%20UNMUHA/PBL%202019%202020/Proposal%20Pengmas%20 AA%20RS/326-769-1-PB.pdf
Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Diakses dari: https://pelayanan.jakarta.go.id/download/regulasi/undang-undang-nomor-18-tahun-2008- tentang-pengelolaan-sampah.pdf
Widyatmoko dan Sintorini. 2002. Menghidari, Mengolah dan Menyingkirkan Sampah. Jakarta: Abadi Tandur