374
PEMANFAATAN EKSTRAK ETANOL BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC.) DALAM MASKER CLAY SEBAGAI ANTI-AGING
Sumaiyah1)* dan Elsa Vera Denida Purba1)
1Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara Email: [email protected]
2 Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara Email: [email protected]
* corresponding author Abstrak
Menjadi tua merupakan proses normal yang terjadi pada setiap manusia, namun akan menjadi masalah apabila terjadi lebih cepat dari waktunya atau umumnya yang disebut penuaan dini. Buah andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) mengandung senyawa polifenol dan flavonoid dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan alami untuk mencegah penuaan dini. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi masker clay dari ekstrak etanol buah andaliman sebagai anti aging. Sediaan masker clay dibuat dengan menggunakan ekstrak etanol buah andaliman dengan konsentrasi masing-masing 0% (F0), 1% (F1), 3% (F2), dan 5% (F3) ke dalam dasar masker clay.
Evaluasi sediaan masker clay meliputi pengamatan organoleptis, pH, kemudian dilakukan uji iritasi, dan uji efektivitas anti-aging menggunakan alat skin analyzer terhadap wajah sukarelawan. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah andaliman dapat diformulasikan menjadi sediaan masker clay. Sediaan homogen, pH 5,7- 6,4, stabil dalam penyimpanan, dan tidak mengiritasi kulit wajah sukarelawan. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol buah andaliman pada sediaan masker clay menunjukkan peningkatan persentase pemulihan kulit dengan konsentrasi tertinggi yaitu 5%. Kesimpulannya adalah ekstrak etanol buah andaliman dapat diformulasikan dalam sediaan masker clay.
Kata kunci: Andaliman, masker clay, anti-aging Abstract
Being an old is a normal process that happen in every human, but it will be a problem if it happens faster than the time or generally called premature aging. The fruit of andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) containing polyphenolic compounds and flavonoids can be used as a source of natural antioxidants to prevent premature aging. The aim of this study is to formulate and evaluate clay masks of andaliman fruit ethanol extract as anti aging. Clay mask was prepared by adding the ethanol extract of andaliman fruit with each concentration of 0% (F0), 1% (F1), 3% (F2), and 5% (F3) into the clay mask base. Evaluation of the stability of clay mask preparation included observation of organoleptic, pH, irritation test, and anti-aging effectiveness test using skin analyzer to the volunteer face. Data were analyzed using Kruskal Wallis and Mann-Whitney test. The results showed that ethanol extract of andaliman fruit can be formulated into clay mask preparation. Homogeneous preparations with pH between 5.7 - 6.4 is stable in storage, and not irritating the voluntary facial skin.
The higher concentration of ethanol extract of andaliman fruit on clay mask preparation showed the enhancement in percentage of recovery in skin condition with the highest concentration is 5%. The conclusion is ethanol extract of andaliman fruit can be formulated in clay mask preparations.
Keywords: Andaliman, clay mask, anti-aging
375
PENDAHULUANProses menua merupakan suatu proses fisiologis dan terjadi pada semua organ tubuh manusia, termasuk kulit. Kulit merupakan lapisan terluar tubuh manusia yang bersentuhan langsung dengan lingkungan di luar tubuh. Masyarakat melakukan segala upaya untuk membuat kulit menjadi sehat dan terawat, salah satunya adalah dengan menggunakan produk perawatan kulit. Segala bentuk produk yang menghambat atau yang lebih tepatnya memperlambat proses penuaan dapat dikategorikan sebagai anti-penuaan (anti-aging) (Prianto, 2014).
Salah satu cara merawat kulit adalah menggunakan masker wajah. Masker adalah salah satu kosmetik perawatan kulit (Rahim, 2014). Masker wajah saat ini memiliki banyak bentuk seperti serbuk, pasta, dan gel. Masyarakat saat ini banyak yang beralih pada produk yang berbahan alami, karena bahan alami tidak menimbulkan iritasi dan efek samping serta lebih murah, dan aman (Surtiningsih, 2005).
Karakteristik khusus dari sediaan masker adalah mudah digunakan dan dibersihkan serta waktu pengeringannya sangat cepat. Salah satu sediaan masker wajah yang sangat populer adalah tipe wash- off dengan basis clay, yang sering disebut dengan clay facial masks atau dengan nama di pasaran adalah sediaan “mud packs” (Gaffney, 1992). Masker wajah berbahan dasar clay memiliki efek untuk mengencangkan kulit dan membersihkan kulit. Masker dioleskan ke wajah dalam keadaan basah, dan akan mengering dengan sendirinya. Masker bisa menyerap debu yang terdapat pada wajah karenanya dianggap membersihkan wajah (Haynes, 1994).
Buah andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) yang digunakan sebagai bumbu masak mengandung senyawa polifenol dan flavonoid yang dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan alami untuk mencegah penuaan dini (Parhusip, 2005). Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang formulasi dan efek anti-aging masker clay yang mengandung ekstrak etanol buah andaliman.
METODE PENELITIAN
Bahan-bahan Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah andaliman yang berasal dari Kab.
Tarutung.
Pembuatan ekstrak
Pembuatan ekstrak dilakukan secara perkolasi terhadap 1300 g serbuk simplisia buah andaliman (Ditjen POM, 1979).
Prosedur pembuatan masker blanko
Cara pembuatan untuk formula basis masker 100 g yaitu 27 ml aquadest dituangkan dalam lumpang dan ditambahkan 1 g bentonit. Bentonit dibiarkan terbasahi lalu ditambahkan 0,6 g xantan gum dan digerus cepat sampai seluruh gum melarut. Sebanyak 34 g kaolin ditambahkan sedikit demi sedikit dalam lumpang sambil digerus dan ditambahkan 0,5 g TiO2 dan 5 g gliserin dalam lumpang.
Di samping itu dilarutkan 0,2 g natrium metabisulfit dengan 0,1 g Nipagin dalam 20 ml air panas (Larutan A) dan juga 2 g Sodium Lauril Sulfat dilarutkan dalam 12,4 ml akuades (Larutan B). Larutan A dituangkan kemudian digerus pelan setelah itu dituangkan perlahan-lahan larutan B dan gerus perlahan sampai terbentuk pasta homogen.
Prosedur pembuatan sediaan masker dengan ekstrak etanol buah andaliman
Cara pembuatan untuk formula yang mengandung ekstrak etanol buah andaliman adalah basis masker yang telah dibuat lalu ditambahkan ekstrak etanol buah andaliman sesuai dengan berat yang ditentukan dalam formula.
376
Pemeriksaan mutu fisik sediaanPemeriksaan mutu fisik dilakukan terhadap masing-masing sediaan masker wajah.
Pemeriksaan mutu fisik meliputi: pemeriksaan homogenitas, pemeriksaan pH dan stabilitas sediaan yang mencakup pengamatan terhadap perubahan warna, aroma, konsistensi masker, daya kering dari sediaan masker.
Pemeriksaan stabilitas sediaan
Masing-masing formula sediaan diambil 50 g dan dimasukkan ke dalam pot plastik.
Pengamatan dilakukan pada saat sediaan telah selesai dimasukkan dalam pot plastik dan dilanjutkan setiap minggu selama dua belas minggu penyimpanan. Pengujian fisik masker yang telah dibuat meliputi pengamatan perubahan bau, warna dan bentuk (konsistensi) selama dua belas minggu pada kondisi suhu kamar.
Uji iritasi sukarelawan
Penelitian ini dilakukan terhadap 18 orang sukarelawan untuk mengetahui apakah sediaan yang dibuat dapat menyebabkan iritasi dan gatal pada kulit. Cara: kosmetika dioleskan di belakang telinga atau di bagian lengan bawah, kemudian dibiarkan selama 24 jam dan lihat perubahan yang terjadi berupa iritasi pada kulit gatal dan pengkasaran (Wasitaatmadja, 1997). Dalam penelitian ini dipakai lengan bawah sukarelawan untuk diuji iritasinya terhadap sediaan.
Pengukuran efek anti-aging
Sukarelawan yang sudah diuji iritasi wajahnya dicuci dengan sabun cuci muka dan dikeringkan menggunakan tisu. Kondisi awal kulit diukur yang meliputi kadar air, kehalusan kulit, besar pori dan banyak noda dari sukarelawan dengan menggunakan skin analyzer (Aramo-SG).
Pengujian efek anti-aging terhadap sukarelawan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
a. kelompok I : 3 orang sukarelawan formula blanko b. kelompok II : 3 orang sukarelawan formula 1%
c. kelompok III : 3 orang sukarelawan formula 3%
d. kelompok IV :3 orang sukarelawan formula 5%
Penggunaan sediaan masker wajah dilakukan dengan cara dioleskan pada daerah pipi wajah sukarelawan dan dibiarkan mengering. Setelah itu masker dibersihkan dari wajah sampai bersih.
Kemudian dilakukan kembali pengecekan kondisi kulit. Pengukuran kondisi kulit wajah dilakukan setiap minggu selama empat minggu dengan pemberiaan masker dua kali dalam satu minggu secara rutin. Diukur kondisi awal kulit dari sukarelawan dengan menggunakan skin analyzer (Aramo-SG) yang meliputi kadar air, kehalusan kulit, besar pori dan banyak noda.
Analisis Data
Data hasil percobaan dianalisa dengan menggunakan program SPSS. Pertama data dianalisis menggunakan metode Kruskal Wallis dan Mann-Whitney.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Ekstraksi
Hasil ekstraksi 1300 g simplisia buah andaliman dengan cara perkolasi menggunakan pelarut etanol 96% diperoleh ekstrak etanol buah andaliman sebanyak 89,72 g.
Hasil Pembuatan Masker Clay
Sediaan masker wajah anti-aging dibuat dengan menggunakan formula standar masker clay pH netral (Rieger, 2000). Formula standar ini dimodifikasi dengan penambahan ekstrak etanol buah andaliman sebagai bahan aktif. Konsentrasi ekstrak etanol buah andaliman yang digunakan dalam penelitian adalah 1%, 3%, dan 5%. Bentuk akhir dari sediaan masker yang dibuat adalah pasta dan warna sediaan masker hijau muda dan berbau khas.
377
Hasil Evaluasi Mutu Fisik Sediaan Masker Clay Hasil pemeriksaan homogenitasHasil pemeriksaan homogenitas terhadap sediaan masker clay yang diformulasi menunjukkan bahwa semua sediaan tidak memperlihatkan adanya butir-butir kasar pada saat sediaan dioleskan pada kaca transparan. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat memiliki susunan yang homogen (Ditjen POM RI, 1979).
Hasil pengukuran pH sediaan
Pada pemeriksaan pH sediaan masker clay, didapatkan pH berkisar antara 5,7-6,4. Persyaratan pH yang diizinkan adalah 5-8 (Harry, 2000). Dengan demikian, pH sediaan masker clay yang diformulasi masih memenuhi persyaratan yang dizinkan. Kestabilan pH merupakan salah satu parameter penting yang menentukan stabil atau tidaknya suatu sediaan. Derajat keasaman (pH) merupakan pengukuran aktivitas hidrogen dalam lingkungan air. Nilai pH tidak boleh terlalu asam karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit sedangkan nilai pH terlalu basa dapat menyebabkan kulit bersisik.
Hasil pengamatan stabilitas sediaan
Evaluasi stabilitas sediaan dilakukan selama 12 minggu penyimpanan dengan interval pengamatan pada minggu ke 1, 4, 8, dan 12. Sediaan masker clay dengan ekstrak etanol buah andaliman disimpan pada suhu kamar dan diamati perubahan bau dan warna. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bau dan warna dari setiap formula tidak mengalami perubahan selama 12 minggu penyimpanan pada suhu kamar.
Hasil uji iritasi terhadap sukarelawan
Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan yang dilakukan dengan mengoleskan masker clay pada kulit belakang telinga menunjukkan bahwa semua sukarelawan memberikan hasil negatif terhadap parameter reaksi iritasi. Parameter yang diamati yaitu adanya kulit merah, gatal-gatal, ataupun adanya pembengkakan. Hasil uji iritasi menunjukkan bahwa sediaan masker clay yang dibuat aman untuk digunakan.
Kadar air (moisture)
Data pengukuran kadar air (Tabel 1) yang dihasilkan dari alat moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer Aramo menunjukkan selama empat minggu perawatan dengan pemberian sediaan masker seminggu sekali secara rutin, kadar air pada kulit sukarelawan mengalami peningkatan terutama dari Formula 3 (konsentrasi 5%) dengan rata-rata pemulihan sebesar 10,8%.
Formula blanko mengalami peningkatan sebesar 2,9%.
Tabel 1. Data hasil rata-rata pengukuran kadar air, kehalusan, pori, noda, dan keriput pada kulit wajah sukarelawan (n=3)
Parameter Formula
Waktu
% rata-rata pemulihan Sebelum Minggu
1
Minggu 2
Minggu 3
Minggu 4
Kadar air F0 34 34 34,3 34,3 35 2,9
F1 34.3 34,7 35 35,3 36,3 5,5
F2 35 35,3 36,3 37,3 38 8,6
F3 34 34,7 35,7 36,7 37,7 10,8
Kehalusan F0 41,7 41 40,7 40 39 6,4
F1 41,7 40,7 39,7 39,3 38,3 8,1
F2 46 44,7 44 43,7 42 8,7
378
F3 40,7 38 37,7 36,3 34,3 15,7
Pori F0 53,3 52,7 51,7 48,3 48 9,9
F1 37,7 37,3 35,7 34,7 32,7 13,2
F2 44 43,3 42 40,6 37,7 14,3
F3 63 61,7 58,7 55 53,3 15,3
Noda F0 33,7 33 32,3 31,3 31,3 7,1
F1 32 31 29,3 28,3 27,7 13,4
F2 56 54 53,7 49,3 47,7 14,8
F3 67 64,3 62 59,3 56,7 15,4
Keriput F0 46,3 46 45 45 44,3 4,3
F1 45,7 45 43,7 43,3 42,7 6,6
F2 37,7 36,7 35,3 34 33 12,5
F3 66,3 64,7 62 60,3 57 14,5
Kehalusan (evenness)
Data penentuan kehalusan kulit yang diperoleh (Tabel 1) menunjukkan bahwa kondisi awal kehalusan kulit sukarelawan berkisar antara 38-46 yaitu pada kondisi normal. Setelah penggunaan masker clay, kelompok blanko menunjukkan peningkatan kehalusan kulit 6,4%, sedangkan pada F1, F2, dan F3 menunjukkan peningkatan kehalusan kulit dengan persentase pemulihan masing-masing sebesar 8,1%, 8,7%, dan 15,7%. Pada relawan F3 menunjukkan peningkatan kehalusan kulit dari kondisi normal menjadi halus.
Pori (pore)
Data yang diperoleh untuk pengukuran pori dapat dilihat pada Tabel 1. Dapat dilihat bahwa kelompok blanko menunjukkan pengecilan ukuran pori sebesar 9,9%, sedangkan pada F1 dan F2, menunjukkan adanya pengecilan ukuran pori masing-masing sebesar 13,2% dan 14,3%. Pada F3 pengecilan ukuran pori sukarelawan sebesar 15,3% dan pada salah satu relawan terdapat perubahan dari pori berukuran besar 70 menjadi pori berukuran sedang 59.
Noda (spot)
Pengukuran banyaknya noda dilakukan dengan perangkat skin analyzer lensa perbesaran 60 kali dengan lampu sensor jingga. Hasil pengukuran kondisi kulit sukarelawan (Tabel 1) menunjukkan bahwa pada kondisi awal, tidak semua kelompok sukarelawan memiliki noda yang sangat banyak, yaitu 45-50. Beberapa sukarelawan memiliki beberapa noda 20-39. Setelah penggunaan masker clay ekstrak etanol buah andaliman, terjadi penurunan banyaknya noda. Dapat dilihat bahwa formula blanko memberikan efek pengurangan jumlah noda dengan persentase pemulihan 7,1%. F1, F2 dan F3 menunjukkan adanya efek pengurangan noda dengan persentase pemulihan 13,4%, 14,8% dan 15,4%.
Keriput (wrinkle)
Hasil pengukuran keriput (Tabel 1) yang diperoleh setelah penggunaan masker, dapat dilihat bahwa formula blanko memberikan efek dalam pengurangan jumlah keriput dengan persentase pemulihan 4,3%. F1, F2 dan F3 menunjukkan adanya efek pengurangan dengan persentase pemulihan masing-masing sebesar 6,6%, 12,5% dan 14,5%.
Masker clay ekstrak etanol buah andaliman dengan konsentrasi 5%. menunjukkan peningkatan paling banyak pada kondisi kulit. Kondisi kulit menjadi lebih baik, selama empat minggu perawatan.
Dapat dilihat dari rata-rata kenaikan kadar air 10,8%, kenaikan kehalusan 15,7%, penurunan ukuran pori 15,3%, penurunan banyak noda 15,4%, dan keriput 14,5%.
379
KESIMPULANEkstrak etanol buah andaliman dapat diformulasikan dalam sediaan masker wajah bentuk clay dengan beberapa formulasi konsentrasi yang berbeda, yaitu konsentrasi 0%, 1%, 3% dan 5%.
Perbedaan konsentrasi ekstrak etanol buah andaliman dalam sediaan masker clay memengaruhi efek anti-aging dengan konsentrasi yang paling banyak menunjukKan peningkatan yaitu 5% di mana pada konsentrasi ini menunjukkan peningkatan kondisi kulit menjadi lebih baik, kadar air kulit meningkat, kulit semakin halus, pori-pori semakin mengecil, jumlah noda serta kerutan berkurang paling signifikan selama empat minggu perawatan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memfasilitasi penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aramo. 2012. Skin and Hair Diagnosis System. Sungna: Aram Huvis Korea Ltd. P: 1-10.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. P: 8.
Gaffney, M.D. 1992. Cosmetics, Science and Technology. Florida: Krieger Publishing company. P:
308-310.
Harry, R. G. 2000. Harry’s Cosmeticology. Edisi VIII. Newyork: Chemical Publishing Co. Inc. P:
471-483.
Haynes, A. 1994. Facefacts. Australia: Choice Books. P: 93.
Parhusip, JN, Jenie BSL, Rahayu WP, Yasni S. 2005. Pengaruh Ekstrak Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) Terhadap Permeabilitas dan Hidrofobisitas Bacillus cereus. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. 16(1): 24.
Prianto. J. 2014. Cantik Panduan Lengkap Merawat Kulit Wajah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. P: 60, 118-145.
Rahim, F. 2014. Formulasi Masker Peel-Off Ekstrak Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus L.) Sebagai Anti Jerawat. Prosiding Seminar Nasional dan Workshop. Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV. 65.
Rieger, M.M. 2000. Harry’s Cosmeticology, 8th edition. New York : Chemical Publishing.
Surtiningsih. 2005. Cantik dengan Bahan Alami. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. P: 20.
Wasitaatmadja, S.M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-Press. P: 59-60.