i
Jurnal Ilmiah STIE MULIA PRATAMA – BEKASI ANALISIS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DENGAN METODE GROSS UP DAN METODE NET TERHADAP PAJAK PENGHASILAN TERUTANG PT. SANJAYATAMA LESTARI
YANTI RAHMAWATI 2017102804
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MULIA PRATAMA BEKASI 2021
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MULIA PRATAMA-BEKASI
ii
TANDA PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN JURNAL
NAMA : YANTI RAHMAWATI
NPM : 2017.10.2804
NIK : 3275014701980012
JURUSAN : AKUNTANSI
JENJANG PENDIDIKAN : STRATA SATU (S1)
JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DENGAN METODE GROSS UP DAN METODE NET TERHADAP PAJAK PENGHASILAN TERUTANG PT. SANJAYATAMA LESTARI
Bekasi, Oktober 2021 Disetujui dan diterima oleh:
Pembimbing Teknis Pembimbing Materi
Drs. H. Nurfai, M.M Dr. Tony R. Sinambela, M.M
Disetujui dan diterima oleh:
Wakil Ketua Bidang 1 Akademik Ketua Jurusan
Hartadi, S.E, M.Ak Dr. Tony R. Sinambela, M.M
iii ABSTRAK
ANALISIS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DENGAN METODE GROSS UP DAN METODE NET TERHADAP PAJAK PENGHASILAN TERUTANG PT. SANJAYATAMA LESTARI
YANTI RAHMAWATI
STIE MULIA PRATAMA, Akuntansi, [email protected] Dr. Tony R. Sinambela, M.M & Drs. H. Nurfai, M.M STIE MULIA PRATAMA, Akuntansi, [email protected]
STIE MULIA PRATAMA, Akuntansi, [email protected]
Penelitian ini untuk mengetahui berapakah PPh Pasal 21 terutang dengan menggunakan Metode Gross Up dan berapakah PPh Pasal 21 terutang dengan menggunakan Metode Net, serta metode manakah yang lebih efisien pada PT.
Sanjayatama Lestari. Metode Gross Up merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan memberikan tunjangan pajak yang jumlahnya sama besar dengan jumlah pajak yang akan di potong dari karyawan. Metode Net merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan menanggung pajak karyawan nya.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan metode deskriptif. Analisis kuantitatif adalah suatu pengukuran yang dinyatakan dalam bentuk angka yang diambil dari perusahaan yang diteliti dan berhubungan dengan suatu penelitian yang dapat dihitung dengan jumlah tertentu.
Hasil dari penelitian pada PT. Sanjayatama Lestari perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 menurut metode gross up sebesar Rp 30,811,194 dan menurut metode net sebesar Rp 29,270,634. Sehingga selisih yang didapatkan dari metode gross up dan metode net sebesar Rp 1,540,560. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan maka penulis dapat menarik kesimpulan. Perhitungan pajak penghasilan pasal 21 menggunakan metode gross up Rp 30,811,194 atau 51,28% perhitungan menggunakan metode net sebesar Rp 29,270,634 atau 48,72%. Selisih antara metode gross up dan metode net sebesar Rp 1,540,560 atau terdapat penghematan pakal 2,56% dari jumlah PPh terutang.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan penulis meberikan saran dengan menggunakan metode gross up mengakibatkan lebih banyak membayar pph terutang sehingga metode tersebut tidak efisien untuk perusahaan. Perusahaaan sebaiknya menggunakan metode net karena lebih menguntungkan karena perusahaan lebih sedikit membayar pajak terutang. Perusahaan sebaiknya menggunakan metode net karena metode tersebut sangat menguntungkan kedua belah pihak. Penghasilan yang diterima karyawan dapat diterima secara utuh tanpa adanya pengurangan PPh Pasal 21 terutang.
Kata kunci : Metode Gross Up, Metode Net, Pajak Penghasilan Terutang
iv ABSTRACT
ANALYSIS OF INCOME TAX CALCULATIONS ARTICLE 21 USING THE GROSS UP METHOD AND NET METHODS ON INCOME TAX PAYABLE
PT. SANJAYATAMA LESTARI
This research is to find out how much Article 21 Income Tax is payable using the Gross Up Method and how much Article 21 Income Tax is payable using the Net Method, as well as a more efficient method at PT. Sanjayatama Lestari. Gross Income Method is a tax withholding method in which the company provides the same amount of tax as the tax to be withheld from employees. The Net method is a tax withholding method in which companies take advantage of their employees' taxes.
This study uses quantitative methods and descriptive methods. Quantitative analysis is a measurement expressed in the form of numbers taken from the company under study and related to a research that can be calculated with a certain amount.
The results of research at PT. Sanjayatama Lestari calculation of Income Tax Article 21 according to the gross up method of Rp. 30,811,194 and according to the net method of Rp. 29,270,634. So that the difference obtained from the gross up method and the net method is Rp. 1,540,560. Based on the results of research that has been done, the authors can draw conclusions. The calculation of income tax article 21 uses the gross up method of Rp. 30,811,194 or 51.28%. The calculation uses the net method of Rp.
29,270,634 or 48.72%. The difference between the gross up method and the net method is Rp. 1,540,560 or there is a net saving of 2.56% of the total income tax payable.
Based on the results of the research that has been done, the authors suggest using the gross up method resulting in paying more income tax owed so that the method is not efficient for the company. Companies should use the net method because it is more profitable because the company pays less taxes owed. Companies should use the net method because this method is very beneficial for both parties. The income received by the employee can be received in full without any deduction of Income Tax Article 21 payable.
Keywords: Gross Up Method, Net Method, Income Tax Payable
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Sumber pajak dalam negeri terbesar diproyeksikan berasal dari pajak penghasilan non-migas yang termasuk didalamnya adalah pajak penghasilan pasal 21. Pajak Penghasilan pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri. Pajak penghasilan pasal 21 merupakan pajak yang dipungut melalui with holding system yaitu melibatkan pihak ketiga yang berdasarkan undang- undang diberi kewenangan untuk memotong PPh pasal 21. Dengan sistem ini agar efektif dan efisien sehingga orientasi pemberi kerja bisa tercapai.
Dalam mengefisiensikan beban perusahaan dari aspek perpajakan salah satu caranya adalah penyusunan perencanaan pajak dengan memilih metode pemotongan PPh pasal 21. Metode yang digunakan dalam menghitung Pajak Penghasilan karyawan ada tiga macam metode dalam pemotongan Pajak Penghasilan karyawan yaitu metode net, metode gross dan metode gross up.
Pajak penghasilan Pasal 21 yang di hitung dengan menggunakan
Metode Net di kenakan terhadap gaji karyawan, sehingga PPh Pasal 21 ini di hitung berdasarkan gaji bersih yang di terima karyawan.
Penggunaan metode ini sangat menguntungkan karyawan, karena karyawan diberikan kenikmatan berupa tanggungan PPh pasal 21 yang di tanggung oleh Perusahaan.
Metode Gross Up adalah metode pemotongan pajak, di mana perusahaan memberikan tunjangan PPh Pasal 21 yang di formulasikan jumlah nya sama besar dengan jumlah pajak PPh Pasal 21 yang akan di potong dari karyawan. Metode perhitungan Gross Up, pajak atas penghasilan karyawan di hitung berdasarkan gaji bersih karyawan di tambah dengan tunjangan pajak.
Dengan metode Gross Up pegawai akan mendapatkan Take Home Pay yang lebih besar karena gaji yang di peroleh masih ditambah dengan tunjangan pajak.
Dengan memilih salah satu dari perhitungan diatas diharapkan dapat membantu perusahan untuk meminimalkan pajak dengan cara yang legal dan sesuai dengan peraturan yang berlaku dan juga membantu perusahaan untuk mensejahterahkan karyawannya dan memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ANALISIS
2
PERITUNGAN PAJAK
PENGHASILAN PASAL 21 DENGAN METODE GROSS UP
DAN METODE NET
TERHADAP PAJAK
PENGHASILAN TERUTANG PT. SANJAYATAMA LESTARI.
1.2 Batasan Masalah
Ruang lingkup masalah dalam penelitian ini dibatasi hanya pada Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan Metode Gross Up dan Metode Net untuk karyawan tetap.
1.3 Rumusan Masalah
a. Berapakah perhitungan PPh Pasal 21 terutang dengan Metode Gross Up pada PT.
Sanjayatama Lestari?
b. Berapakah perhitungan PPh Pasal 21 terutang dengan Metode Net pada PT.
Sanjayatama Lestari?
1.4 Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui berapakah PPh Pasal 21 terutang dengan Metode Gross Up pada PT.
Sanjayatama Lestari.
b. Untuk mengetahui berapakah PPh Pasal 21 terutang dengan Metode Net pada PT.
Sanjayatama Lestari.
c. Untuk mengetahui metode manakah yang lebih efisien dalam perhitungan PPh terutang pasal 21 pada PT.
Sanjayatama lestari
1.5 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Bagi Penulis
Penulis memperoleh wawasan dan pengalaman dalam melakukan peneliitian.
Selain itu dapat digunakan sebagai sarana berlatih penulis dalam menerapkan pengetahuan teoritis selama mengikuti kegiatan perkuliahan ke dalam praktek sesungguhnya.
2. Manfaat Bagi STIE Mulia Pratama
Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi kepustakaan dan menjadi bahan studi bermanfaat bagi Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mulia Pratama yang berkaitan dengan penelitian.
3. Manfaat bagi Perusahaan Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
perusahaan dalam
menerapkan perhitungan atas Pajak Penghasilan Pasal 21 dengan Metode Gross Up dan Metode Net terhadap Pajak Penghasilan Terutang PT Sanjayatama Lestari.
.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pajak
Menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2008 tentang ketentuan Umum dan Tata Cara
3 Perpajakan. Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.
Menurut Andriani, pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintah.
Definisi pajak Rochmat Soemitro, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik (kontrapretasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Dari definisi tersebut pajak memiliki unsur-unsur penting yaitu iuran kepada negara, berdasarkan undang-undang tanpa kontrapretasi secara langsung dari negara dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
2.2 Pajak Penghasilan Pasal 21 Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- undang Nomor 36 Tahun 2008.
PPh Pasal 21 adalah uang muka pajak atas penghasilan gaji, upah, honorarium, tunjangan serta imbilan lainnya dalam bentuk apapun, yang diterima atau diperoleh orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa atau kegiatan yang dilakukan. Dari definisi ini dapat dipahami bahwa PPh Pasal 21 hanya dikenakan atas penghasilan yang sifatnya aktif (active income), yaitu penghasilan yang berasal dari pekerjaan, kegiatan atau jasa.
Contohnya: gaji, upah, premi asuransi jiwa, kesehatan, tunjangan, honorarium,
komisi,bonus,gratifikasi, uang pensiun atau imbalan lainnya.
Kautsar Riza Salman (2017:104) 2.3 Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21
4 Menurut Kautsar Riza Salman (2017:107) dalam bukunya, Penerimaan penghasilan yang dipotong pajak penghasilan pasal 21 yaitu orang pribadi yang merupakan : a. Pegawai
b. Penerimaan uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya.
c. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan, antara lain meliputi: Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
Pemain pusik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/ peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya;
d. Olahragawan;
e. Penasihat, pengajarm pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
f. Pengarang, peneliti, dan penerjemah;
g. Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk Teknik computer dan sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan social serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan;
h. Agen iklan;
i. Pengawas atau pengelola proyek;
j. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara;
k. Petugas penjaja barang dagangan;
l. Petugas dinas luar asuransi;
m. Distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya;
n. Anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama;
o. Mantan pegawai;
p. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan
keikutsertaannya dalam suatu kegiatan, antara lain meliputi : q. Peserta perlombaan dalam segala
bidang, antara lain perlombaan olahraga, seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya;
r. Peserta rapat, konferensi, siding, pertemuan, atau kunjungan kerja;
s. Peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara kegiatan tertentu;
t. Peserta Pendidikan dan pelatihan;
u.
2.4 Tidak termasuk penerimaan penghasilan
a. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau penjabat lain dari negara asing, dan orang- orang yang diperuntukan kepada
5 mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain diluar jabatan atau pekerjaan tersebut serta negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timval balik.
b. Penjabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) huruf c undang-undang PPh, yang telah ditetapkan oleh menteri keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
2.4 Objek Pajak Penghasilan pasal 21
1. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur;
2. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya;
3. Penghasilan berupa uang pesangon, uang manfaat pension, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligusm yang pembayarannya melewati jangka waktu 2 (dua) tahun sejak pegawai berhenti bekerja;
4. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan;
5. Imbalan kepada bukan pegawai antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan yang dilakukan;
6. Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang repreentasi, uang rapa, honorarium, hadiah, atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.
7. Penghasilan berupa honorarium atau imbalan yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama;
8. Penghasilan berupa jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus atau imbalan lain yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh mantan pegawai;atau
9. Penghasilan berupa penarikan dana pension oleh peserta program pension yang masih berstatus sebagai pegawai, dari dana pensiun yang pendiriannya
6 telah disahkan oleh Menteri keuangan.
10. Termasuk pula penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan oleh;
11. Wajib Pajak yang dikenakan Pajak pengasilan yang bersifart final.
12. Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan norma perhitungan khusus (deemed profit).
2.5 Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21
1. Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik yang merupakan pusat maupun cabang, perwakilan, atau unit yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai.
2. Bendaharawan pemerintah termasuk bendaharawan pada pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri, yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun sehubungan dengan
pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan.
3. Dana pensiun badan penyelenggara jaminan sosial teaga kerja, dan badan-badan lain yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari tua.
4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, perusahaan badan, dan bentuk usaha tetap, yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan kegiatan, jasa termasuk hasa tenaga ahli dengan status wajib pajak dalam negeri yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya.
5. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, perusahaan, badan, dan bentuk usaha tetap, yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan kegiatan dan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status wajib pajak luar negeri.
6. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, perusahaan, badan, dan bentuk usaha tetap, yang membayarkan honorarium atau imbalan lain kepada peseta Pendidikan, pelatihan, dan pemagangan.
7 7. Penyelenggara kegiatan
(termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan) yang membayar honorarium, hadiah, atau penghargaan dalam bentuk apa pun kepada wajib pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.
2.6 Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) adalah besarnya penghasilan yang menjadi batasan tidak kena pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, dengan kata lain apabila penghasilan netto Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan usaha dan/atau pekerjaan bebas jumlahnya dibawah PTKP tidak akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 dan apabila berstatus sebagai pegawai atau penerima penghasilan sebagai objek PPh Pasal 21, maka penghasilan tersebut tidak akan dilakukan pemotongan PPh Pasal 21.
Berdasarkan pasal 1 PMK Nomor 101/PMK.010/2016 besarnya PTKP untuk Pegawai yang bersangkutan Rp54.000.000 per tahun atau Rp4.500.000 per bulan, Tambahan Pegawai yang kawin Rp 4.500.000 per tahun atau Rp 375.000 per bulan, Tambahan untuk setiap anggota
keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus, serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 orang Rp 4.500.000 per tahun atau Rp 375.000
2.7 Kebijakan/ Metode Pemotongan PPh Pasal 21
1. PPh Pasal 21 ditanggung oleh karyawan (Metode Gros Metode ini lazimnya disebut Metode Gross. Dalam hal ini jumlah PPh pasal 21 yang terutang akan ditanggung oleh karyawan itu sendiri, sehingga benar-benar mengurangi penghasilan.
Istilah yang sering digunakan adalah bahwa PPh Pasal 21 dipotong oleh perusahaan.
2. Metode ini lazimnya disebut Metode Net. Dalam hal ini, jumlah PPh Pasal 21 yang terutang akan ditanggung oleh perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian, gaji yang diterima oleh karyawan tersebut tidak dikurangi dengan PPh Pasal 21 karena perusahaanlah
yang menanggung
biaya/beban PPh Pasal 21.
3. PPh Pasal 21 diberikan dalam bentuk tunjangan (ditunjang) Metode ini lazim disebut Metode Gross Up. Jika PPh pasal 21 diberikan dalam
8 bentuk tunjangan, maka jumlah tunjangan tersebut akan menambah penghasilan karryawan dan dikenai PPh Pasal 21. Dalam hal ini perhitungan PPh dilakukan dengan cara gross up dimana besarnya tunjangan pajak sama dengan jumlah PPh Pasal 21 terutang untuk masing-masing karyawan.
Sepintas lalu kebijakan PPh Pasal 21 jenis ini terlihat memberatkan perusahaan, karena penghasilan karyawan akan bertambah besar sebagai akibat dari penambahan tunjangan pajak.
Namun beban perusahaan tersebut akan tereliminasi, karena PPh Pasal 21-nya dapat dibiayakan. Di samping memberi tunjangan PPh Pasal 21 yang besarnya sama dengan PPh terutang untuk masing-masing karyawan (metode gross up) perusahaan juga bisa memberikan tunjangan PPh Pasal 21 yang besarnya berbeda dengan PPh terutang.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel penelitian
Dalam penelitian ini ada dua jenis variabel yan diunakan penulis yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode gross up (X1) dan metode net ( X2) sedankan variabel bebas dalam
penelitian ini adalah pajak penghasilan terutang (Y)
3.2 Waktu Penelitian
Penulis melakukan penelitian ini dari bulan Februari 2021 s/d April 2021.
3.3 Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini di PT.
Sanjayatama Lestari yang beralamat di JL. Siaga I No 21 RT1/RW5 Pejaten Baru Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan
3.3 Populasi dan Sample
Populasi dalam penelitian adalah Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 PT.
Sanjayatama Lestari. Sampel dalam penelitian ini adalah Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 untuk Karyawan Tetap PT. Sanjayatama Lestari
3.4 Jenis dan Sumber data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada. Dalam penelitian ini penulis mengambil sumber penelitian berupa daftar gaji karyawan tetap.
3.5 Metode Pengumpulan Data
9 Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Penelitian Kepustakaan dan Penelitian Lapangan
3.6 Metode Analisi Data
a. Analisis Kuantitatif adalah suatu pengukuran yang dinyatakan dalam bentuk angka yang diambil dari perusahaan yang diteliti dan berhunungan dengan suatu penelitian yang dapat dihitung dengan jumlah satuan tertentu.
b. Analasis Deskriptif Metode analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif yaitu suatu metode analisis dengan menggunakan data berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Setelah data-data mentah diperoleh, selanjutnya data dianalisis dengan tahapan sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data dan informasi berupa gaji karyawan tetap.
2. Mengidentifikasikan gaji karyawan tetap yang melebihi PTKP.
3. Melakukan analisis terhadap perhitungan PPh pasal 21 gaji karyawan tetap dengan menggunakan metode gross up dan metode net.
4. Membandingkan hasil antara penghasilan perhitungan dengan menggunakan metode gross up dan metode net
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Perhitungan PPh Pasal 21 Terutang Berdasarkan Kebijakan PT. Sanjayatama Lestari
Pada PT. Sanjayatama Lestari perhitungan PPh 21 dihitung sebagi berikut: seorang sales manager dengan gaji pokok 13,150,780 status tanggungan (k/0) membayar iuran : Biaya Jabatan ( 5% x 13,150,780 = 657,539 ) Iuran Pensiun 131,508, Iuran JHT 263,016 ,BPJS Kesehatan 131,508 sehinga Jumlah Pengurangan (1,183,570).
Penghasilan Neto Sebulan sales manajer tersebut Rp 11,967,210 sehingga penghasilan neto setahun Rp 143,606,518. Dengan status tanggungan Kawin tidak memiliki tanggungan maka PTKP yang harus dibayarkan sales manajer tersebut adalah Rp 58,500,000. Sehingga PKP atas penghasilan seles manajer tersebut adalah Rp 86,106,518
PPh 21 Terutang
5% x 50.000.000 = 2.500.000 15% x 35.106.518 = 5.265.975 PPh Ps. 21 setahun = 7,765,978
PPh 21 sebulan 547.165 demikianlah perhitugan PPh 21 berdasarkan kebijakan PT Sanjayatama Lestari.
10 4.2 Analisis Perhitungan PPh Pasal 21 dengan Menggunakan Metode Net pada PT. Sanjayatama Lestari
Metode Net merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan menanggung pajak karyawannya. Dibawah ini merupakan Perhitungan PPh Pasal 21 atas beberapa sampel karyawan PT Sanjayatama untuk periode tahun 2020 dengan menggunakan Metode Net, sebagai berikut :
1. Amy Amelia yang memiliki status tidak kawin TK memiliki gaji sebesar RP 4.498.000 dan membayar iuran berupa biaya jabatan 5% dari penghasilan, iuran pensiun 44.980 iuran JT sebesar 89.960 maka
perhitunggan pajak penghasilan pasal 21 adalah sebagai berikut : Gaji Sebulan 4,498,000 Pengurangan :
Biaya Jabatan: (5% x 4.498.000
=224,900)
Iuran Pensiun 44,980 Iuran JHT 89,960 BPJS Kesehatan 44,980
Jumlah Pengurangan ( 404.820) Penghasilan Neto Sebulan Rp 4,093,180 Penghasilan Neto Setahun 49,118,160 PTKP
54,000,000 dengan demikian Pajak terutang atas karyawan amy amelia dalam setahun adalah nihil karena PTKP lebih besar dari penghasilan.
Note : PPh 21 terhutang Nihil, dikarenakan Penghasilan Netto lebih kecil dari Nilai PTKP. Maka WP tidak membayar pajak pada tahun tersebut.
b. Magfiro Dalillah Erna dengan status TK/1
Gaji Sebulan 6,350,000 Pengurangan :
Biaya Jabatan: 5% x 6.350.000 317,500 , Iuran Pensiun
63,500, Iuran JHT 127,000 BPJS Kesehata 63,500 sehinga Jumlah Pengurangan (571,500)
Penghasilan Neto Sebulan 5,778,500 Penghasilan Neto Setahun 69,342,000
PTKP 58,500,000 PKP 10,842,000
PPh 21 setahun5% x 10.842.000
= Rp 542,100
PPh 21 sebulan 542.100 : 12
= 45,175
Magfiro, seorang karyawan dengan gaji Rp. 6.350.000 yang berstatus tidak kawin akan tetapi menanggung 1 orang sehingga PTKP nya sebesar Rp 58.500.000 dan PPh 21 terutangnya menggunakan metode
11 net sebesar Rp. 542,100/tahun atau Rp. 45,175/bulan
c. Andri Yansyah dengan status K/0
Gaji Sebulan 7,700,000 Pengurangan :
Biaya Jabatan: (5% x 7.700.000
= Rp 385,000 ), Iuran Pensiun 77,000, Iuran JHT 154,000, BPJS Kesehatan 77,000 dengan demikian Jumlah Pengurangan (693,000)
Penghasilan Neto Sebulan 7,007,000
Penghasilan Neto Setahun 84,084,000 PTKP 58,500,000
dengan demikian PKP 25,584,000 maka PPh 21 setahun 5% x 25.584.000 1,279,200 PPh 21 106,600
Andri yansyah, seorang karyawan dengan gaji Rp 7.700.000 yang berstatus kawin sehingga PTKP nya sebesar Rp. 58.500.000 dan PPh 21 terutangnya menggunakan metode net sebesar Rp. 1,279,200/tahun atau Rp. 106,600/ bulan
d. Sugeng Prihatin dengan status K/0 Gaji Sebulan 9,661,000
Pengurangan :
Biaya Jabatan: 5% x 9.661.000 483,050, Iuran Pensiun 96,610, Iuran
JHT 193,220 BPJS Kesehatan 96,610 sehingga Jumlah
Pengurangan (869,490)
Penghasilan Neto Sebulan 8,791,510 Penghasilan Neto Setahun 105,498,120 PTKP Rp 58.500.000 (58,500,000). PKP 46,998,120
PPh 21 setahun 5% x 46.998.120 2,349,906 PPh Ps. 21 sebulan 2.349.906 : 12 195,826
Sugeng Prihatin, seorang karyawan dengan gaji Rp 9.661.000 yang berstatus kawin sehingga PTKP nya sebesar Rp. 58.500.000 dan PPh 21 terutangnya menggunakan metode net sebesar Rp 2,349,906/tahun atau Rp 195,826/bulan
Demikianlah contoh perhitungan PPh 21 atas beberapa karyawan PT Sanjayatama Lestari menggunakan metode net.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis atas 25 karywan perusahaan diketahui total penghasilan bersih Rp 171.337.530 per bulan atau sebesar Rp 2.056.530.840 per tahun. Total PTKP atas gaji karyawan Rp 1.47.000.000 sehingga PKP atas gaji sebesar Rp 585.421.680 dengan demikian PPh 21 atas gaji karyawan PT Sanyatama Lestari menggunakan Metode Net adalah Rp 29.270.634.
4.3 Analisis Perhitungan Tunjangan Pajak dengan Menggunakan Metode Gross Up
Metode Gross Up merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan memberikan tunjangan
12 pajak yang jumlahnya sama besar dengan jumlah pajak yang dipotong dari karyawan.
Berikut ini penulis akan melakukan perhitungan tunjangan pajak berdasarkan metode Gross Up bagi karyawan PT. Sanjayatama Lestari, karena penghasilan kena Pajak untuk lapisan pertama, PKP sampai dengan Rp 47.500.000,- akan dikenakan lapisan Tarik pajak 5%
yaitu, 0 – Rp 47.500.000, maka dalam perhitungan tunjangan pajak akan menggunakan rumus dibawah ini:
a. Amy Amelia Muhuyah dengan status tidak kawin Gaji Sebulan 4,498,000
Membayar iuran : Biaya Jabatan: ( 5% x 4.498.000 = 224,900 )Iuran Pensiu Rp 44,980, Iuran JHT 89,960 BPJS Kesehatan 44,980 sehinga total iuran yan dibayar (404,820).
Penghasilan Neto Sebulan 4,093,180 sehinga penghasilan setahun Rp 49,118,160. PTKP 54,000,000.
Dengan demikian PPh terutang setahun nihil dikarenakan Penghasilan Netto lebih kecil dari Nilai PTKP.
b. Magfiro Magfiro, seorang karyawan dengan gaji Rp. 6.350.000 yang berstatus tidak kawin akan tetapi menanggung 1 orang sehingga PTKP nya sebesar Rp 58.500.000.
PKP setahun Rp. 10,842,000 akan
dikenakan lapisan pertama, maka dalam perhitungan tunjangan pajak akan menggunakan rumus dibawah ini :
Tunjangan Pajak Total PKP 10,842,000
Besarnya PKP sebesar lapisan 1 PKP (0 - 47.500.000) = (PKP setahun - 0) x 5/95 + 0. PKP (0 - 47.500.000) = (10.842.000- 0 ) x 5/95 +0 = 570,632 PPh 21 Pertahun atau sebesar Rp 47,553
Perbulan c. Andri Yansyah
Andri yansyah, seorang karyawan dengan gaji Rp 7.700.000 yang berstatus kawin sehingga PTKP nya sebesar Rp. 58.500.000. PKP setahun Rp. 25,584,000 akan dikenakan lapisan pertama, maka dalam perhitungan tunjangan pajak akan menggunakan rumus dibawah ini:
Tunjangan Pajak
Total PKP 25,584,000 Besarnya PKP sebesar lapisan 1 PKP (0 - 47.500.000) = (PKP setahun - 0) x 5/95 + 0
PKP (0 - 47.500.000) = (25.584.000- 0 ) x 5/95 +0 = 1,346,526 Pertahun atau Rp 112,211 perbulan d. Sugeng Prihatin
13 Sugeng Prihatin, seorang karyawan dengan gaji Rp 9.661.000 yang berstatus kawin sehingga PTKP nya sebesar Rp. 58.500.000. PKP setahun Rp. 46,998,120 akan dikenakan lapisan pertama, maka dalam perhitungan tunjangan pajak akan menggunakan rumus dibawah ini:
Total PKP 46,998,120
Besarnya PKP sebesar lapisan 1 PKP (0 - 47.500.000) = (PKP setahun - 0) x 5/95 + 0
PKP (0 - 47.500.000) = (46.998.120- 0 ) x 5/95 +0 = 2,473,585 Pertahun 206,132 Perbulan
Diatas merupakan
perhitungan PPh 21 atas beberapa karyawan PT Sanjayatama Lestari.
Atas 25 Karyawan terdapat tunjangan Pajak sebesar Rp 2.567.600, Penghasilan bersih sebesar Rp 169.851.090 dalam sebulan dan penghasilan netto disetahunkan Rp 2.038.223.880 PTKP atas penghasilan sebesar Rp 1.422.000.000 sehingga PKP sebesar Rp 616.223.880 dengan demikian pajak yang harus dibayarkan atas PPh 21 adalah sebesar Rp 30.811.194
Hasil perbandingan jumlah PPh pasal 21 menurut PPh pasal 21 menurut perhitungan dengan menggunakan metode net lebih kecil dibandingkan dengan menurut
perpajakan yang berlaku setelah menggunakan metode gross up.
Selisih antara PPh pasal 21 menurut perusahaan dan PPh pasal.21 setelah diberikan tunjangan pajaak adalah sebesar Rp. 1.540.560.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
a. Perhitungan pajak penghasilan pasal 21 menggunakan metode gross up sebesar Rp 30,811,194 atau 51,28% dari jumlah PPh Pasal 21 terutang.
b. Perhitungan pajak penghasilan pasal 21 menggunakan metode net menghasilkan sebesar Rp 29,270,634 atau 48,72% dari jumlah PPh Pasal 21 terutang.
c. Dari masing- masing metode Pajak Penghasilan Pasal 21, Selisih Pajak Penghasilan pasal 21 dengan metode gross up dan metode net sebesar Rp. 1,540,560 atau terdapat penghematan pajak 2,56% dari jumlah PPh Pasal 21 terutang.
5.2 Saran
a. Penerapan Metode Gross Up dalam perhitungan PPh Pasal 21 mengakibatkan lebih banyak membayar pajak terutang yaitu sebesar Rp 30,811,194 sehingga metode tersebut tidak efisien untuk perusahaan dan sebaiknya tidak menggunakan metode Gross Up.
14 b. Metode net pada PPh Pasal 21
terutang lebih menguntungkan karena perusahaan lebih sedikit membayar pajak terutang yaitu sebesar Rp 29,270,634 sehingga metode net lebih efisien dan sebaiknya digunakan oleh perusahaan.
c. Perusahaan sebaiknya menggunakan perhitungan metode Net, karena metode tersebut sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Karena penghasilan yang diterima karyawan dapat diterima secara utuh tanpa adanya pengurangan PPh Pasal 21 terutang, sedangkan bagi perusahaan antara metode Gross up dan Metode Net.
Terdapat selisih atau penghematan pajak sebesar Rp 1,540,560
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Chairil Anwar Pohan, M. M.
(2013). Manajemen Perpajkan Strategi Perencanaan Pajak dan Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ilyas, B. (2013). Perpajakan Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Kautsar Riza Salman, S. M. (2017).
Perpajakan PPh dan PPN. Jakarta:
Indeks.
Pasal 17 UU No. 36 Tahun 2008
Mardiasmo. (2011). Perpajakan, Revisi 2001. Yogyakarta: Andi Offset.
Pohan, Chairil. Anwar. (2011).
Optimizing Corporate Tax Management. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. (2014). Statitiska untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Thomas Sumarsan, S. M. (2017).
Perpajakan Indonesia. Jakarta:
Indeks.
Pasal 1 PMK Nomor
101/PMK.010/2016
Per-Menkeu No. 252/PMK/2009