• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.8 Diagnosis Kanker Nasofaring Penggolongan Stadium pada Kanker Nasofaring...17

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2.8 Diagnosis Kanker Nasofaring Penggolongan Stadium pada Kanker Nasofaring...17"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN...iv

KATA PENGANTAR...v

ABSTRAK...vi

ABSTRACT...vii

RINGKASAN...viii

SUMMARY...ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1 Aspek Teoritis ... 4

1.4.2 Aspek Aplikatif ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Nasofaring ... 5

2.2 Definisi Kanker Nasofaring ... 6

2.3 Epidemiologi Kanker Nasofaring ... 7

2.4 Etiopatogenesis Kanker Nasofaring ... 8

2.4.1 Faktor Genetik ... 8

2.4.2Faktor Lingkungan... 8

2.4.3 Virus Epstein-Barr (EBV) ... 9

2.5 Faktor Risiko...9

2.6 Histologi Kanker Nasofaring...11

2.7 Manifestasi Klinis...13

2.8 Diagnosis Kanker Nasofaring...15

2.9 Penggolongan Stadium pada Kanker Nasofaring...17

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN 3.1 KerangkaBerpikir ... 20

3.2 KonsepPenelitian... 20

(2)

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Rancangan Penelitian ... 22

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 22

4.2.1 LokasiPenelitian ... 22

4.2.2 WaktuPenelitian ... 22

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 22

4.3.1 Variabilitas Populasi ... 22

4.3.2 Kriteria Subyek ... 23

4.4 Teknik Pengambilan Sampel... 23

4.5 Besar Sampel...24

4.6 Variabel dan Definisi Operasional………...24

4.6.1 Variabel... 24

4.6.2 Definisi Operasional Variabel ... 25

4.7 Bahan dan instrumen penelitian………...26

4.8 Protokol penelitian………...26

4.9 Pengolahan dan Analisa Data………..27

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian………28

5.1.1 Kanker Nasofaring dan Umur………28

5.1.2 Kanker Nasofaring dan Jenis Kelamin………...29

5.1.3 Kanker Nasofaring dan Stadium………29

5.1.4 Kanker Nasofaring dan Keluhan Utama………30

5.2 Pembahasan………..31

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan………..33

6.2 Saran……….33 DaftarPustaka

Lampiran

(3)

ABSTRAK

KARAKTERISTIK PASIEN KANKER NASOFARING DI POLI THT-KL RSUP SANGLAH PADA TAHUN 2015

Kanker Nasofaring merupakan kanker dengan jenis sel skuamus yang berkembang disekitar ostium dari tuba eustachius pada dining lateral dari nasofaring. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi mengenai data karakteristik kanker nasofaring berdasarkan usia, jenis kelamin, stadium dan keluhan utama di Poli THT-KL RSUP Sanglah pada tahun 2015. Penelitian cross- sectional ini dilakukan dengan minimal sampling terhadap 69 pasien kanker nasofaring. Pengambilan sampel menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Sampel yang tidak memenuhi criteria inklusi atau memenuhi criteria ekslusi tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Kriteria inklusi pada sampel yaitu seluruh pasien yang memeriksakan diri di Poli THT-KL RSUP Sanglah Denpasar periode 1 januari hingga 31 Desember 2015 dan didiagnosis mengalami kanker nasofaring. Pasien dengan rekam medis yang tidak lengkap dan pasien yang tidak berdomisili di Bali dieksklusi dari sampel penelitian. Frekuensi umur <25 tahun sebesar 4,3%, 26-45 tahun sebesar 23,2%, 46-65 tahun sebesar 59,4% dan >65 tahun sebesar 13%. Frekuensi jenis kelamin laki-laki sebesar 72,5% dan perempuan sebesar 27,5%. Frekuensi stadium II sebesar 10,1%, stadium III sebesar 10,1%, stadium IVA sebesar 49,3%, stadium IV B sebesar 24,6% dan stadium IV C sebesar 5,8%. Frekuensi keluhan utama benjolan pada leher sebesar 62,3%, sakit kepala sebesar 17,4%, epitaksis sebesar 14,5%, pandangan ganda sebesar 1,4% dan telinga mendengung sebesar 4,3%. Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi pasien kanker nasofaring sesuai karakteristik umum perlu untuk diteliti lebih lanjut. Hal itu diperlukan untuk mengurangi prevalensi yang tinggi, sehingga mampu menurunkan angka morbiditas maupun mortalitas pada kanker nasofaring.

Kata kunci: Kanker nasofaring, karakteristik umum

(4)

ABSTRACT

CHARACTERISTICS OF NASOPHARYNGEAL CANCER PATIENTS IN OTOLARYNGOLOGY DIVISION AT SANGLAH HOSPITAL IN 2015

Nasopharyngeal cancer is a cancer of the squamous cell type that is developed around the ostium of eustachian tube in the dining lateral from the nasopharynx. This study was conducted to determine the prevalence of the characteristic data of nasopharyngeal cancer based on age, sex, place of residence, the stadium and the main complaint in Otolaryngology Division at Sanglah Hospital in 2015. This cross-sectional study was carried out with the minimum sampling of 69 patients with nasopharyngeal cancer. Sampling using secondary data from medical records. Samples that do not meet the inclusion criteria or meet the exclusion criteria were not included in this study. Criteria for inclusion in the sample that all patients who present in Otolaryngology Division at Sanglah Hospital in Denpasar since January 1st to December 31st, 2015 and had been diagnosed with nasopharyngeal cancer. Patients with incomplete medical records and patients who do not live in Bali were excluded from the study sample.

Frequency age <25 years at 4.3%, 26-45 years at 23,2%, 46-65 years at 59.4% and

>65 years at 13%. Frequency of sex male at 72.5% and female at 27.5%.

Frequency of 10.1% stage II, stage III by 10.1%, amounting to 49.3% IVA stage, stage IV B of 24.6% and stage IV C by 5.8%. The main complaint frequency is lump in the neck by 62.3%, headache at 17.4%, epitaxis at 14,5%, double vision by 1.4% and 4.3% is buzzing ears. This study shows that the prevalence of nasopharyngeal cancer patients appropriate general characteristics need to be further investigated. It was necessary to reduce the prevalence is high, so as to decrease the morbidity and mortality in nasopharyngeal cancer.

Keywords: Nasopharyngeal cancer, general characteristics

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak terkontrol yang dapat menginvansi dan menyebar pada tubuh penderita. Kanker memiliki konsekuensi kesehatan yang berat dan dapat menyebabkan kematian (WHO, 2015). Kanker nasofaring adalah kanker dengan jenis sel skuamus yang berkembang disekitar ostium dari tuba eustachius pada dining lateral dari nasofaring (Mu-Sheng Zeng

dan Yi-Xin Zeng, 2010). Kanker nasofaring menjadi kanker dengan kasus terbanyak keempat di Indonesia setelah kanker ovarium, kanker payudara dan kanker kulit. Di Indonesia kanker nasofaring merupakan kanker yang paling sering terjadi di bagian kepala dan leher (Marlinda Adham et al., 2014).

Kanker nasofaring memliki angka insidens yang tinggi di Jepang, Cina bagian selatan, Asia Tenggara, Afrika Utara dan Timur Tengah. Angka insidens kanker nasofaring di Cina bagian selatan yaitu 15 hingga 50 per 100.000 penduduk. Angka insidens kanker nasofaring di Indonesia yaitu 6,2 per 100.000 penduduk (Marlinda Adham et al., 2014). Jumlah angka insidens kanker nasofaring pada laki-laki di Indonesia pada tahun 2014 adalah 9.355 kasus (WHO, 2014). Pada ras Kaukasian dari Amerika Utara dan negara barat angka insidens untuk kanker nasofaring sangat rendah yaitu dibawah 1 per 100.000 penduduk per tahun. Angka insidens kanker nasofaring pada etnik Cina yang lahir di Amerika Utara lebih rendah dibandingkan dengan yang lahir di Cina. Penduduk Eskimo di Alaska dan negara mediterania seperti bagian selatan Italia , Yunani dan Turki

(6)

sering terkena kanker nasofaring dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan wanita. Secara keseluruhan kanker nasofaring dapat terjadi pada semua golongan umur tetapi memiliki distribusi puncak pada umur 50-60 tahun dan sedikit ditemukan pada anak anak (Mu-Sheng Zeng dan Yi-Xin Zeng, 2010).

Deteksi awal untuk menentukan kanker nasofaring sulit dilakukan. Hal ini disebabkan karena kanker nasofaring memiliki gejala yang tidak spesifik. Gejala tidak spesifik yang muncul seperti gangguan telinga dan gangguan hidung.

Gangguan telinga yang muncul bersifat unilateral. Semakin awal deteksi kanker nasofaring dapat dilakukan maka semakin baik prognosis yang dimiliki oleh penderita (Marlinda Adham et al., 2014).

Ilmuwan telah menemukan beberapa faktor risiko yang mempengaruhi perkembagan kanker nasofaring. Faktor risiko tersebut meliputi jenis kelamin, etnik dan tempat tinggal, diet tertentu, infeksi dari virus Epstein-Barr, faktor genetik dan faktor keluarga. Perilaku merokok, mengonsumsi alkohol dan lingkungan tempat kerja juga dapat berperan dalam terjadinya kanker nasofaring (Mu-Sheng Zeng dan Yi-Xin Zeng, 2010).

Menurut American Cancer Society, penentuan stadium kanker dilakukan melalui hasil pemeriksan fisik dan tes imaging seperti CT scan dan MRI.

Penentuan stadium kanker dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kanker tersebut telah menyebar. Stadium kanker menjadi faktor penting dalam memilih terapi dan menentukan prognosis bagi penderita. Stadium kanker ditentukan menggunakan sistem TNM yang dibuat oleh American Joint Committee on Cancer sebagai standar dalam menentukan stadium kanker.

(7)

Kanker nasofaring pada daerah endemik muncul sebagai penyakit yang kompleks. Penyakit ini disebabkan oleh interaksi infeksi virus Epstein-Barr, faktor lingkungan, dan faktor genetik di dalam proses karsinogenik yang multistep. Di negara Cina bagian selatan ditemukan faktor kelemahan genetik dan faktor lingkungan menjadi dua faktor yang sangat berpengaruh terhadap kejadian kanker nasofaring (Mu-Sheng Zeng dan Yi-Xin Zeng, 2010).

Beberapa studi analisis menunjukan perkembangan kanker nasofaring yang berhubungan dengan kelemahan human leukocyte antigen (HLA) haplotypes. Konsumsi makanan yang mengandung nitrosodimethyamine

(NDMA), N-nitrospyrrolidene (NPYR) dan N-nitrospiperidine (NPIP) seperti ikan asin dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring. Tempat kerja yang terpapar dengan formaldehid dan debu kayu juga dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring (Mu-Sheng Zeng dan Yi-Xin Zeng, 2010).

Sebagian besar pasien kanker nasofaring di Indonesia mengalami keterlambatan diagnosis. Sulitnya menegakkan diagnosis dikarenakan kanker nasofaring memiliki gejala yang tidak spesifik. Kurangnya pengetahuan mengenai kanker, penolakan dari pasien dan faktor ekonomi menjadi hal penghambat dari pasien untuk memulai terapi. Pemeriksaan nasofaring dan biopsi dengan menggunakan direct nasoendoskopic merupakan pemeriksaan dasar dalam mendiagnosis kanker nasofaring (Marlinda Adham et al., 2011).

Berdasarkan tingginya jumlah penderita kanker nasofaring di Indonesia dan keterlibatan multifaktor dalam kejadian kanker nasofaring maka penulis ingin mengetahui karakteristik kanker nasofaring di RSUP Sanglah berdasarkan umur,

(8)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik penderita kanker nasofaring di RSUP Sanglah pada tahun 2015 berdasarkan umur, jenis kelamin, stadium dan keluhan utama saat datang ke rumah sakit?

1.3 Tujuan Penelitian

Dari penelitian ini dapat diketahui karakteristik penderita kanker nasofaring di rumah sakit umum pusat sanglah.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Aspek Teoritis

Hasil penelitian ini, diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan, serta masukan pada penelitian yang berhubungan dengan kanker nasofaring.

1.4.2 Aspek Aplikatif

1. Memberi informasi mengenai gambaran umum kanker nasofaring khususnya di Provinsi Bali.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya kanker nasofaring dan meningkatkan tindakan preventif di masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

normal dapat mendorong minat siswa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.. Intelegensi tergolong kategori tinggi dan dapat di artikan bahwa

110.000,- (Seratus Sepuluh Ribu Rupiah), dengan Daftar Penerima Bantuan Sosial kepada Tenaga Persampahan yang bekerja di Pemerintah Kota Tegal sebagaimana tercantum

[r]

No part of this thesis may be reproduced by any means without the permission of at least one of the copyright owners or the English Department, Faculty of Language and

[r]

&#34;Efficiency of Conventional versus Islamic Banks: International Evidence Using The Stochastic Frontier Analysis Approach(SFA).&#34; Journal of Islamic Economics, Bank,

Hal ini tidak diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurnia (2008), menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang Napza berkategori baik

Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah besaran komite audit, aktivitas pertemuan komite audit, independensi komite audit, kualifikasi komite