PEMATANGAN BUAH
&
&
Pematangan
Perubahan yang terjadi setelah fase pemasakan, yang dicirikan antara lain
Pemasakan
Tahap akhir fase perkembangan buah,,yang meliputi pembesaran sel, akumulasi fotosintat, dan senyawa aromatik, serta penurunan kadar asam, dan posisi buah
masih berada pada pohon
Penuaan
Periode setelah fase pematangan buah, pertumbuhan buah terhenti dan proses sintesis digantikan oleh perombakan.
Perubahan yang terjadi setelah fase pemasakan, yang dicirikan antara lain melunaknya daging buah, terbentuknya karakteristik aroma, dan peningkatan
PEMATANGAN BUAH
Tingkat kematangan buah pada saat panen akan sangat
menentukan kuantitas dan kualitas
Kualitas produk hortikultura setelah
dipanen: tidak bisa
menentukan kuantitas dan kualitas hasil serta sangat berpengaruh
pada penanganan pasca panen buah tersebut
dipanen: tidak bisa dinaikkan, hanya bisa
INDEKS KEMATANGAN
• Fungsi membantu petani (growers)
menentukan saat yang layak untuk panen
dari “kematangan produk”
dari “kematangan produk”
• Tujuan mengurangi kerusakan dan
kehilangan hasil
• Indeks kematangan buah dapat diperoleh dengan metode pengukuran :
a. Warna : pada akhir pemasakan dan
selama pematangan terjadi perubahan
warna buah.
b. Tekstur (firmness) : penetrometer,
b. Tekstur (firmness) : penetrometer,
berdasarkan besaran tekanan untuk
menembus buah.
c. Kandungan pati : menurun menjelang dan selama pematangan.
d. Kandungan gula : hand refractometer, pada umumnya pada akhir pemasakan dan saat pematangan meningkat.
e. Kandungan padatan terlarut : pada
umumnya meningkat menjelang
pematangan pematangan
g.
Kandungan asam : titrasi gravimetri, nilai kesetaraan bergantung pada kandungan asam mayor dalam buah.Perubahan Kimia dan Fisik pada
Pematangan Buah
1. WARNA
• Warna pada buah-buahan disebabkan oleh PIGMEN yang dikandung buah tersebut.
• Pigmen tersebut dapat dibagi menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu :
(empat) kelompok, yaitu :
a. khlorofil
b. karotenoid
c. anthosianin d. flavonoid
KHLOROFIL
• Dalam tanaman terdapat beberapa macam khlorofil, tetapi yang terbanyak adalah khlorofil α
dan khlorofil β.
• Selama proses pematangan buah, terjadi perubahan warna dari HIJAU menjadi KUNING,
perubahan warna dari HIJAU menjadi KUNING,
JINGGA, MERAH, BIRU atau warna lain.
• Perubahan warna sebagai akibat khlorofil mengalami perombakan dan terjadi sintesis/peningkatan pigmen lain (perubahan
riil), misal jeruk dan mangga atau perubahan
Anthocianin
Karotenoid
KAROTEN
OID
• Ada 2 (dua) jenis karotenoid yaitu KAROTEN
(tanpa atom oksigen dalam molekulnya) dan
XANTOFIL (mempunyai atom oksigen dalam molejulnya)
• Pada buah-buahan, jenis karotenoid yang ada • Pada buah-buahan, jenis karotenoid yang ada biasanya adalah xantofil, walaupun β karoten jumlahnya relatif besar.
• Pada buah jeruk, karotenoid yang terpenting adalah xantofil, walaupun jumlah β karoten relatif besar, jumlah xantofil akan menurun dan jumlah β karoten akan meningkat.
ANTHOCIANIN
• Anthocianin (flavonoid) dapat dibagi
dalam tiga gugusan penting, yaitu :
a. Ring dasar yang terdiri atas gugusan glikon (tanpa gula),
glikon (tanpa gula),
b. Gugusan glikon,
c. Asam organik (acyl)
• Jenis gula yang ada pada anthocianin sebagian besar adalah glukosa dan galaktosa, sehingga anthocianin bersifat larut dalam air.
• Warna yang disebabkan oleh adanya anthocianin tergantung pada faktor :
konsentrasi, pH media, keberadaan
pigmen lain.
• Konsentrasi rendah menyebabkan warna tidak merah tetapi ungu.
• Pada pH rendah berwarna merah, pH • Pada pH rendah berwarna merah, pH netral berwarna biru, dan pH tinggi berwarna putih.
• Keberadaan pigmen lain sering menutupi warna yang disebabkan oleh pigmen anthocianin co-pigmentation.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pembentukan Pigmen
1. Kultivar 2. Laju pematangan Ethepon Ethepon EtheponEthepon mempercepatmempercepatmempercepatmempercepat pematanganpematanganpematanganpematangan dandandandan perper----perper Ethepon
Ethepon Ethepon
Ethepon mempercepatmempercepatmempercepatmempercepat pematanganpematanganpematanganpematangan dandandandan perper----perper kembangan
kembangan kembangan
kembangan warnawarnawarna....warna
3. Cahaya 4. Temperatur 5. Nutrisi/hara Kelebihan Kelebihan Kelebihan
Kelebihan NNN danN dandandan////atauatau kekuranganatauatau kekurangankekurangan Pkekurangan PPP menurunkanmenurunkanmenurunkanmenurunkan sintesis
sintesis sintesis
Pengaruh Pemberian Ethepon terhadap
Warna Buah Apel “McIntosh”
60 70 80
Red color (%) Flesh firmness (N)
0 10 20 30 40 50 60 0 250 Konsentrasi Ethepon (ppm)
Pengaruh
Pengaruh
Pengaruh
Pengaruh cahaya
cahaya
cahaya terhadap
cahaya
terhadap
terhadap
terhadap warna
warna kulit
warna
warna
kulit
kulit buah
kulit
buah
buah
buah apel
apel
apel
apel
4 5 47%* 33% 30% In te ns ita s w ar na m er ah (0 =h ija u, 8 =m er ah t ua ) 0 1 2 3 100 37 25 11 30% 17% In te ns ita s w ar na m er ah (0 =h ija u, 8 =m er ah t ua )
Until 3-4 weeks
before harvest
3 weeks
Temperatur
• Pada pembentukan likopen, bila temperatur naik maka
pembentukan likopen akan naik, sebaliknya pada pigmen
anthocianin.
anthocianin.
• Cool nights (2-5
oC) followed by warm, sunny days
2. Kekerasan (Firmness)
Buah-buahan akan mengalami keempukan setelah
matang disebabkan oleh adanya perubahan komposisi
dinding sel, dari keras (
firmness
) berubah menjadi
lunak.
Terjadinya keempukan disebabkan karena pektin yang
tidak larut (protopektin) menurun jumlahnya berubah
menjadi pektin yang larut.
Derajat kekerasan dan lama penyimpanan pada buah apel (Wiley and Stembridge, 1961)
Lama simpan (bulan, 32oF)
Kekerasan Selulosa Hemiselulosa Protopektin
(persen berat segar)
0 666 0,41 2,86 1,22
1 602 0,37 1,99 0,78
2 507 0,34 1,16 0,45
3 442 0,55 1,32 0,52
Hubungan antara keempukan buah apel, kandungan
protopektin dan pektin yang larut (Haller, M.H.)
Tanggal Tekanan (kg/m2)
Pektin larut Protopektin Total pektin (persen berat segar)
3 Okt. 61 0,03 0,76 0,79
3 Okt. 61 0,03 0,76 0,79
14 Okt. 50 0,17 0,58 0,75
21 Des. 39 0,22 0,56 0,18
Fruit Firmness
“Bing” Cherry
1500 2000Fr
ui
t f
ir
m
ne
ss
ar
bi
tr
ar
y
un
its
)
0 500 1000 4 3 2 1 0Fr
ui
t f
ir
m
ne
ss
(a
rb
itr
ar
y
un
its
)
3. PATI
• Pati umumnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu AMILOSA (glukosa α 1,4) dan AMILOPEKTIN (glukosa α 1,4 dan glukosa α 1,6).
• Rasio antara amillosa dan amilopektin berbeda tergantung dari • Rasio antara amillosa dan amilopektin berbeda tergantung dari spesies tanaman, tetapi biasanya berkisar 15 – 20 persen. Misal: amilosa padi 17%, gandum 27%, pisang 20%.
• Tanaman sering menyimpan pati dalam buah-buahan untuk persediaan bahan energi, dan pada saat pematangan pati akan dirombak/dipecah menjadi gula.
Perubahan pati dalam buah
1. Buah dengan kandungan pati tinggi
Pada apel, sewaktu dipanen kadar patinya sudah rendah, dan pati yang tinggal sedikit itu lepas panen akan habis.
pati yang tinggal sedikit itu lepas panen akan habis.
Pada pisang, pada waktu dipanen masih mempunyai kandungan pati 20 – 30%. Setelah 4 -8 hari kemudian kandungan pati menurun sekitar 4% dan setelah 12 hari disimpan turun 4%.
2. Buah dengan kandungan pati rendah
Pada buah-buahan kelompok ini tidak banyak
perubahan
kandungan
patinya
setelah
buah
perubahan
kandungan
patinya
setelah
buah
matang/dipanen.
Perubahan kandungan gula
• Perubahan meliputi tiga macam gula, yaitu : glukosa,
fruktosa, dan sukrosa.
1. Buah dengan kandungan pati tinggi
1. Buah dengan kandungan pati tinggi
Secara teoritis, bila pati dipecahkan akan menjadi
glukosa (gula) dan karena itu kandungan gula akan naik.
Tetapi pada kenyataannya, kandungan gula tidak
berubah.
Skema perubahan pati dan sukrosa menjadi
glukosa dan fruktosa pada apel
Persen (Berat Fruktosa Waktu penyimpanan (Berat basah) Fruktosa Glukosa Sukrosa Pati
Sukrosa mempunyai peranan penting. Kandungan pati dari 20% akan dirombak sampai habis, sedangkan sukrosa dari 2% akan berubah menjadi 15%. Oleh karena itu selama pematangan dan penyimpanan, menjadi manis.
penyimpanan, menjadi manis.
2. Buah dengan kandungan pati sangat rendah
Buah kelompok ini setelah matang selama penyimpanan kadar gula tidak berubah.
TANNIN
• Merupakan senyawa fenol kompleks, kelompok senyawa polifenol yang mempunyai sifat dapat menyamak kulit.
• Berdasarkan dapat tidaknya dihidrolisa, tannin dibagi menjadi dua yaitu “hydrolisable tannin” dan “ condensed tannin”.
dua yaitu “hydrolisable tannin” dan “ condensed tannin”.
• Tannin memberikan rasa “sepet” (astringency), sehingga buah yang kandungan tannin tinggi rasanya “sepet”.
• Tannin juga merupakan senyawa “growth inhibitor”.
• Pada tanaman, letak dan jumlah tannin berbeda tergantung pada jenis tanaman, umur, dan organ dari tanaman.
Skema perubahan kandungan tannin pada
buah apel
tannin
fenol non tannin
Pertumbuhan (hari) persen
Skema perubahan kandungan tannin selama
pematangan buah
tannin aktif
waktu pematangan (hari) tannin aktif
(unit/100 g berat segar)
• Penurunan kandungan tannin dalam buah disebabkan oleh : 1. tannin terdegradasi
2. tannin dalam buah sudah tidak mampu mengendapkan protein.
• Kemampuan tannin mengendapkan protein yang hilang karena : a. polimerasi, karena besarnya molekul yang berpolimer maka a. polimerasi, karena besarnya molekul yang berpolimer maka tannin mengendap.
b. depolimerasi, tannin terpecah menjadi unit-unit yang lebih kecil sehingga menjadi kurang reaktif.
c. oksidasi tannin, menghasilkan senyawa yang berwarna coklat dan tidak kuat lagi mengendapkan protein.