BAB IV
PROFIL LSM GREENPEACE ASIA TENGGARA DI INDONESIA
4.1 Sejarah LSM Greenpeace
Greenpeace merupakan LSM Internasional yang resmi berdiri 4 Mei 1972, namun pergerakannya sudah dimulai sejak awal tahun 1970. LSM ini termasuk kedalam gerakan sosial baru, karena isu-isu lingkungan yang mereka kampanyekan dan jaringan kerja yang luas dan tersebar di seluruh dunia merupakan ciri-ciri dari gerakan sosial baru.
Pergerakan LSM Greenpeace bermula dari sekelompok orang yang memutuskan untuk bersama-sama memprotes pengujian nuklir di Amchitka, dimana Amchitka adalah tempat berlindungnya sekitar 3000 berang-berang dan rumah elang kepala botak serta hewan liar lainnya yang berada di lepas pantai bagian Barat Alaska. Gerakan ini dimulai dengan pembentukan formasi Don't Make A Wave Comitte oleh sekelompok aktivis Kanada dan Amerika di Vancouver pada 1970. Nama komite ini diambil dari sebuah slogan yang digunakan selama protes terhadap uji coba nuklir Amerika Serikat, sasaran dari komite tersebut adalah menghentikan ujicoba pemboman nuklir bawah tanah tahap ke-dua dengan kode Canikkin, oleh militer AS di bawah pulau Amchitika, Alaska. Komite tersebut terdiri dari Paul Cote (Mahasiswa hukum Universitas British Columbia), Jim Bohlem (mantan nakoda kapal selam dan operator radar di Angkatan Laut AS), Irving Stowe (seorang Quaker dan Yale-educated Lawyer), Patrick Moore (Mahasiswa Ekologi di Universitas British Columbia), Bill Darnell (seorang Pekerja Sosial).
Komite tersebut melanjutkan gerakannya dengan membentuk LSM baru bernama Greenpeace dan menyebut diri mereka Rainbow Warrior, dengan Metcalfe sebagai pemimpinnya. Pada awalnya nama Greenpeace merupakan nama kapal yang mereka pergunakan dalam melakukan aksi protes uji coba nuklir di daerah Amchitka. Kata Greenpeace sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu green yang berarti hijau, dan peace yang berarti damai, nama tersebut pertama kali dilontarkan oleh Bill Darnell tanpa sengaja. Kedua hal tersebut
memperlihatkan komitmen Greenpeace dalam melindungi lingkungan dan menjaga kedamaian bagi seluruh spesies makhluk hidup di muka bumi.
Tahun 1978, nama organisasi Greenpeace mulai dikenal di beberapa negara karena aksi yang mereka lakukan. Memasuki tahun 1979, Greenpeace sudah memiliki perwakilan di beberapa negara yaitu Kanada, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Denmark, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Belanda. Demi terjaganya koordinasi antara satu dengan yang lainnya maka mereka memutuskan untuk mendirikan Greenpeace International. Kekhawatiran sempat dirasakan karena belum menemukan sosok yang tepat untuk memimpin Greenpeace International, namun rasa khawatir tersebut mulai hilang ketika seorang anggota komite mengusulkan nama McTaggart, ia merupakan pelaut yang memiliki kemampuan berpolitik yang baik, integritas dalam berkampanye, dan bisnis yang mapan. Akhirnya pada 14 oktober 1979, Greenpeace International secara legal berdiri dan McTaggart terpilih sebagai Executive Director dari Greenpeace International yang pertama. Selain itu perwakilan dari masing-masing negara menyetujui bahwa kantor pusat Greenpeace International berada di Amsterdam Belanda, karena saat itu perwakilan Greenpeace yang berada di Eropa sudah terkoordinir dengan baik, dan organisasinya pun sudah tersusun dengan rapih.
4.2 Greenpeace Asia Tenggara (GPSEA)
Greenpeace Asia tenggara merupakan kantor regional yang memiliki tiga kantor di kawasan asia tenggara yaitu Thailand, Philipina dan Indonesia. Wilayah Asia Tenggara dimata Greenpeace memiliki arti yang sangat penting karena Asia Tenggara memegang posisi kunci dalam menentukan keamanan lingkungan global, dan kurangnya kesadaran masyarakat Asia mengenai kerusakan lingkungan dan lemahnya mekanisme demokrasi untuk memperkuat masyarakat dalam mempengaruhi pengambilan keputusan. Melihat pentingnya potensi pembangunan dan ancaman di wilayah ini, dan dalam rangka konsolidasi serta pengembangan kampanyenya di Asia Tenggara, Greenpeace meningkatkan kegiatannya di wilayah ini. Berdirinya GPSEA didahului oleh suatu proses penjajakan ke negara Thailand, Filipina maupun Indonesia, hingga secara resmi didirikan pada tanggal 1 Maret tahun 2000, dengan kantor pusat di Thailand.
GPSEA sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu GPSEA Indonesia, GPSEA Thailand, dan GPSEA Filipina.
Sejak hadirnya Greenpeace di Asia Tenggara, LSM Internasional ini telah menampakkan hasilnya dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan di kawasan ini. Menyangkut perjuangan mereka dalam mengkampanyekan sumber- sumber energi yang terbarukan, pada tahun 2002 atas desakan Greenpeace bersama-sama dengan komunitas lokal berhasil menunda rencana Pemerintahan Filipina untuk membangun pembangkit listrik batu bara berdaya 50 megawatt di Pulupandan, Propinsi Negro. Empat tahun kemudian tepatnya tanggal 12 Juli tahun 2006 Greenpeace bersama dengan komunitas lokal Isabela yang berada di Filipina, kembali berhasil menghentikan rencana Perusahaan Minyak Nasional Filipina (PNOC) untuk membuka tambang batu bara dan pembangkit listriknya.
Pada tahun 2004 tepatnya tanggal 20 Februari dalam Convention on Biological Diversity (CBD) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, 180 pemerintahan setuju untuk membangun kerjasama dalam melindungi kondisi lingkungan, laut maupun darat. Pada tahun yang sama di Filipina, atas masukan Greenpeace bersama dengan komunitas lokal berhasil meyakinkan Control Pollution Department untuk mencabut izin dari 1300 lahan Rai yang diperuntukan program Klong Dan Waste Water Treatment Project karena mengambil hak masyarakat untuk mempergunakan sumberdaya air yang berada di lokasi tersebut.
Menyangkut isu limbah beracun, pada tahun 2005 tepatnya 20 April Setelah tekanan bertubi-tubi yang datang secara online dari pendukung Greenpeace kepada perusahaan Sony Ericsson, membuat perusahaan tersebut menyatakan bahwa mereka tidak akan mempergunakan bahan-bahan kimia berbahaya dalam setiap produknya. Langkah ini pun diikuti oleh perusahaan Samsung dan Nokia. Satu tahun kemudian tepatnya tanggal 26 Juni 2006, Greenpeace berhasil menekan dua perusahaan besar yang bergerak pada bidang industri teknologi yaitu Dell dan HP untuk tidak mempergunakan bahan-bahan beracun dan membuatnya lebih ramah lingkungan dalam setiap produk yang mereka jual.
4.3 Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia (GPSEA Indonesia)
GPSEA di Indonesia secara resmi berdiri pada bulan Maret tahun 2008.
Misi Greenpeace hadir di Indonesia adalah untuk melindungi hak-hak lingkungan, mengekspos dan menghentikan kejahatan lingkungan, serta mengedepankan pembangunan bersih. Dalam menjalankan aktifitasnya, LSM ini menolak donasi dari pemerintah, organisasi atau partai-partai politik dan lembaga lainnya sehingga LSM ini bebas menyuarakan dan mengekspos kejahatan- kejahatan lingkungan.
Awalnya Greenpeace mulai menjajaki wilayah Indonesia sekitar tahun 1990, dengan mengusung toxic waste sebagai isu utama hingga pada akhirnya mereka bersama dengan LSM lokal, berhasil menghentikan masuknya limbah sampah berbahaya di pelabuhan Tanjung Priok dan mengembalikannya ke nagara asal yaitu Jerman. Pada tahun 2004 Greenpeace datang kembali ke Indonesia, tepatnya ke Kalimantan untuk meneliti keadaan hutannya dan mengkontrak salah satu apartemen di daerah Kuningan yang dijadikan kantor atau tempat mengurus masalah administrasi, namun saat itu Greenpeace hadir di Indonesia hanya saat ada program-program tertentu saja.
Greenpeace memulai program dengan memiliki kantor operasional di daerah Sempur Bogor. Greenpeace mulai aktif kembali berkampanye di wilayah Indonesia dengan isu deforestasi hutan alam Indonesia sebagai masalah utama di daerah Kalimantan dan Papua dengan nama kampanye Paradise Forest. Saat itu Greenpeace di Indonesia belum memiliki struktur yang lengkap dan belum secara legal berdiri di Indonesia, hanya terdiri dari administrator, koordinator aksi, juru kampanye media, dan bantuan beberapa staff dari Greenpeace internasional dan Greenpeace Asia Pasifik. Hal ini mendapatkan respon positif dari masyarakat Indonesia, terlihat dari cukup besarnya jumlah volunter yang sudah bergabung dengan Greenpeace yaitu sekitar 100 orang. Pada pertengahan tahun 2006, kantor GPSEA Indonesia pindah ke Jakarta di daerah Cikini dan melegalkan kehadirannya di Indonesia pada tanggal 1 maret 2006 maka struktur kepengurusan pun mulai lengkap tersusun.
Hadirnya Greenpeace di Indonesia bukan tanpa hasil, saat bencana tsunami mengguncang rakyat Aceh pada tahun 2005, Greenpeace
mendistribusikan energi listrik yang bersih bagi korban Aceh yang berhasil selamat dengan memasang sistem energi solar PV pada suatu desa agar kebutuhan energinya terpenuhi
Pada tahun 2006 di bawah tekanan Greenpeace, Asian Development Bank (ADB) meningkatkan bantuan dana untuk energi terbarukan serta memberikan dana energi bersih senilali 1 milyar dollar AS. Selain itu, Greenpeace mencetuskan program manajemen hutan berbasis masyarakat sebagai solusi atas penghancuran hutan Papua yang berkelanjutan.
Setahun kemudian saat pemerintah Indonesia berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, komunitas dan kelompok-kelompok lokal di Jepara berhasil mendorong perubahan nyata setelah dikeluarkannya fatwa oleh para pemuka agama setempat yang menentang rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah yang berdekatan dengan gunung Muria, yang merupakan gunung berapi yang masih aktif. Selain itu, Greenpeace berhasil menunjukan dampak deforestasi dan peran lahan gambut pada iklim melalui Kamp Pembela Hutan di Riau, Sumatra.
4.4 Prinsip Utama
Selama lebih dari 30 tahun, Greenpeace secara konsisten memegang teguh dan menerapkan nilai-nilai maupun prinsip utama yang terdapat pada budaya organisasi Greenpeace. Nilai-nilai dan prinsip utama ini menyumbangkan suatu proses intrepertasi dalam suatu organisasi. Nilai tersebut memberikan sudut pandang normatif bagi aspek-aspek yang organisasi harus capai, seperti yang terlihat pada misi Greenpeace dan secara eksplisit memberikan petunjuk moral dalam mencapainya. Dalam organisasi gerakan sosial baru, nilai maupun prinsip utama ini dipandang, dipertahankan secara kolektif, dan digunakan oleh organisasi dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, nilai maupun prinsip tersebut mempengaruhi sudut pandang organisasi akan suatu isu tertentu. Nilai-nilai dan prinsip yang dipegang oleh Greenpeace adalah sebagai berikut :
Pertama, Greenpeace tidak meminta atau menerima dana dari pemerintah, perusahaan atau partai politik. Greenpeace mendapatkan dana dari sumbangan
individual sebagai pendukung (supporter) dan dana hibah dari yayasan-yayasan yang sudah teruji komitmennya. Greenpeace mendapatkan dana paling besar dari individu yang bersimpati pada Greenpeace dan memiliki kepedulian yang sama dengan Greenpeace. Nilai ini membantu Greenpeace lebih independen ketika harus berhadapan dengan pemerintah dan perusahaan.
Masih terkait dengan sumber dana, Greenpeace tidak mencari atau menerima sumbangan yang akan mengkompromikan kemandirian, tujuan, atau integritasnya. Sikap ini penting untuk menunjukkan independensi Greenpeace dari pemberi dana.
Kedua, Greenpeace memegang teguh prinsip-prinsip: tanpa kekerasan (non-violence). Greenpeace menyebut setiap aksinya, seperti mengikatkan tubuh pada rel kereta (protes transportasi limbah nuklir) atau pada pohon, menghadang kapal laut penangkap ikan paus dan aksi serupa, sebagai non-violence direct action atau aksi langsung tanpa kekerasan. Direct action adalah aksi protes di mana aktivis atau pemrotes melawan melalui aksi yang dirancang bukan hanya untuk mengubah kebijakan pemerintah atau mengubah opini publik melalui media, tetapi juga mengubah kondisi lingkungan di sekeliling mereka secara langsung. Direct action sendiri didasari oleh dua pemikiran.
Pertama, (mengikuti satyagraha atau truth-force-nya Mahatma Gandhi), aktivis mencoba mempengaruhi lawan agar mengubah rencananya dengan menunjukkan perspektif mereka memiliki moral yang lebih tinggi (moral superiority) melalui kepasrahannya menjalani pengorbanan diri atau keadaan tidak menyenangkan, seperti mengikat diri pada rel kereta. Pemikiran logis kedua adalah menjadi saksi (bearing witness). Logika bearing witness ini membawa pesan yang jernih pada lawan bahwa para aktivis yakin apa yang dilakukan pemerintah atau perusahaan salah, contohnya dengan menjadi saksi langsung dari pengrusakan hutan alam. Kedua hal ini memberikan tekanan moral pada lawan yaitu pemerintah atau perusahaan.
Greenpeace sudah memulai bearing witness dan direct action sejak awal, ketika tahun 1971 para pendiri Greenpace menggunakan kapal ikan tua berlayar
“Phyllis Cormack” dari Vancouver, Kanada, menuju Pulau Amchitka, pulau kecil
di Tepi Barat Alaska. Meskipun hanya kapal kecil tua, Phyllis Cormack dicegah oleh tentara Amerika Serikat sebelum tiba di pulau itu.
Ketiga, independen dari politik (political independence). Greenpeace berusaha mempertahankan independensinya dari politik (political independence).
Greenpeace tidak dipengaruhi oleh paham politik mana pun dan dari negara atau partai apa pun. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip “no permanent allies or enemies.”.
Keempat, Greenpeace tidak memiliki sekutu atau musuh permanen (no permanent allies or enemies). Greenpeace sebagai organisasi terbuka tidak lepas dari pengaruh lingkungannya. Situasi politik, ekonomi, sosial, terkait dengan isu lingkungan tertentu mendorong Greenpeace mengambil strategi bersekutu dengan pemerintah atau organisasi non-pemerintah lainnya untuk mencapai tujuan.
Persekutuan ini tidak permanen. Untuk satu isu lingkungan tertentu mungkin saja Greenpeace bersekutu dengan pemerintah, tetapi untuk isu yang berbeda Greenpeace memposisikan pemerintah sebagai lawan. Misalnya untuk isu perdagangan limbah B3, Greenpeace memposisikan negara berkembang (termasuk Indonesia) sebagai sekutu dan pemerintah negara maju sebagai
“lawan”. Tetapi untuk isu kehutanan, Greenpeace memposisikan Pemerintah Indonesia (Departemen Kehutanan) sebagai “lawan.”.
Kelima, Greenpeace sebagai organisasi non-pemerintah, memegang teguh prinsip transparan dan akuntabilitas. Dua prinsip ini menjadi penting karena Greenpeace harus mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangannya kepada para supporter individu dan foundation yang memberikan dana. Setiap tahun keuangan Greenpeace diaudit dan laporan audit terbuka untuk diperiksa oleh para supporter.
4.5 Fokus Isu yang Diangkat
LSM Greenpeace sebagai bagian dari gerakan sosial baru mengangkat lingkungan sebagai tema utama dalam setiap kampanyenya. Isu-isu yang diangkat oleh LSM ini adalah kampanye iklim dan energi, kampanye hutan, kampanye
kelestarian laut, kampanye menentang rekayasa genetika, menentang limbah beracun dan polusi, kampanye pengelolaan limbah ramah lingkungan, dan kampanye perdamaian.
GPSEA di Indonesia sebagai salah satu bagian dari NRO, mengusung isu perubahan iklim sebagai fokus utama, hal ini dikarenakan kondisi lingkungan Indonesia dan ketersediaan dana. Dalam pandangan Greenpeace perubahan iklim merupakan malapetaka yang akan segera dihadapi manusia yang terus menerus menggunakan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas bumi. Akibat pemanasan global ini adalah mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar. Greenpeace melihat bahwa negara pesisir pantai, negara kepulauan, dan daerah negara yang kurang berkembang seperti Asia Tenggara akan terkena dampak paling besar.
Perubahan iklim juga telah menyebabkan meningkatnya selimut alami dunia, yang mengarah pada meningkatnya suhu iklim dunia, dan perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi juga mematikan. Greenpeace percaya bahwa hanya dengan langkah pengurangan emisi gas rumah kaca yang sistematis dan radikal dapat mencegah perubahan iklim yang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah kepada ekosistem dunia dan penduduk yang tinggal di dalamnya melalui suatu revolusi energi yang mengedepankan pengembangan sumber-sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan.
Greenpeace menambahkan penggundulan hutan atau deforestasi yang terjadi di Indonesia melepas gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah sangat besar, menyumbang terjadinya perubahan iklim yang berbahaya. Hutan tropis menyimpan karbon di tanah dan pepohonan. Seperti spons/busa, hutan tropis menyerap karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fossil sebagai sumber energi. Menurut LSM ini seharusnya semua pihak bahu-membahu menjaga hutan karena dengan luasan besar hutan dapat meredam dan melawan dan menjaga bumi, namun yang terjadi kini adalah sebaliknya. Pengrusakan hutan menyumbang 20% dari emisi GRK setiap tahun.
Di Indonesia, hutan rawa gambut lenyap akibat pembalakan, pengeringan dan dibakar untuk perluasan kelapa sawit. Lahan gambut ini (kadang-kadang hingga kedalaman 12 meter) menyimpan karbon yang sangat besar. Lahan gambut yang dikeringkan dan dibakar akan menjadi sebuah bom karbon, kemudian melepaskan hampir dua milliyar ton karbondioksida berbahaya setiap tahun.
Oleh karena itu, isu-isu yang diperjuangkan Greenpeace di Indonesia terbagi menjadi empat bagian yang terdiri dari :
1. Revolusi energi,
2. Zero Deforestation dan Paradise Forest, untuk menghentikan emisi gas rumah kaca,
3. Penolakan batubara, lebih menyarankan pada penggunaan energi yang terbarukan, terdesentralisasi dan efisiensi energi,
4. Penolakan nuklir sebagai sumber energi.
4.6 Jaringan Mitra Kerja
Greenpeace merupakan LSM Lingkungan berskala internasional yang memiliki jaringan kerja yang luas. LSM Greenpeace sendiri terdiri dari Greenpeace Internasional, 28 National and Regional Offices (NRO) di seluruh dunia. NRO tersebut terdiri dari Greenpeace Afrika, Greenpeace Argentina, Greenpeace Australia-Pasifik, Greenpeace Belgia, Greenpeace Brazil, Greenpeace Kanada, Greenpeace Central and Eastern Europe, Greenpeace Chili, Greenpeace Cina, Greenpeace Republik Ceko, Greenpeace Perancis, Greenpeace Jerman, Greenpeace Yunani, Greenpeace India, Greenpeace Itali, Greenpeace Japan, Greenpeace Luxembourg, Greenpeace Mediterania, Greenpeace Meksiko, Greenpeace Belanda, Greenpeace Selandia Baru, Greenpeace Nordic, Greenpeace Russia, Greenpeace Asia Tenggara, Greenpeace Spanyol, Greenpeace Swiss, Greenpeace Inggris dan Greenpeace Amerika Serikat.
Masing-masing NRO membawa isu kampanye global yang disesuaikan dengan kondisi lokal tempat dimana mereka berada dan berusaha mencari dukungan finansial dari masyarakat untuk membiayai dana operasional mereka.
GPSEA di Indonesia sebagai salah satu bagian dari NRO GPSEA, memiliki jejaring kemitraan yang cukup luas di wilayah Indonesia. Di Indonesia LSM ini bergabung dengan komunitas Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP) yang terdiri dari 44 anggota yaitu : KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan dan Perikanan), YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), CAPPA (Community Alliance for Pulp and Paper Advocacy), DPN (Dewan Perubahan Nasional), ICW (Indonesia Corruption Watch), KP (Karang Puang), Imparsial, SHK (Sistem Hutan Kerakyatan), PADI (Partai Aliansi Demokrat Indonesia), Kemitraan, PHBI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia), ICEL (Indonesian Center for Enviromental Law), KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria), KAU (Koalisi Anti Utang), AMAN (Asosiasi Masyarakat Anti Narkoba), SPI (Serikat Petani Indonesia), SP (Sahabat Peternak), Wanacala Sumatra Selatan, PILAR (PEDULI ALAM RIAU), Yayasan Kanopi Indonesia, YMD (Yayasan Mitra Desa), KNTI (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia), SBIB (Sekretariat Bersama Indonesia Berseru), Uplink (Urban Poor Linkage Indonesia), IGJ (Institute for Global Justice), STI (Solidaritas Tani Indonesia), EKNAS WALHI (Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), JKPP (Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif), YAPPIKA (Yayasan Pensayatan Partisipasi, Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat Indonesia), LIMA (Lingkar Madani untuk Indonesia), Sarekat Hijau, CSF (Center for Social Forestry), WALHI Jakarta (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jakarta), dan HUMA (Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis)
Khusus untuk isu batu bara, GPSEA Indonesia bersama tiga LSM lain membentuk suatu Koalisi Anti-Batu Bara atas dasar kesamaan misi dan tujuan untuk jangka panjang, koalisi ini terdiri dari GPSEA Indonesia, WALHI NASIONAL, JATAM (Jaringan Advokasi Tambang), SDE (Sekolah Demokrasi Ekonomika), dan IENR.
4.7 Strategi Kampanye Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia
Program Greenpeace secara global adalah menjabarkan dan menggambarkan masalah lingkungan global yang mereka ingin selesaikan, secara adil bagi negara-negara maju maupun negara berkembang, adil bagi generasi saat
ini dan masa depan, dan adil bagi manusia dan lingkungannya. Sehingga hampir sebagian besar kegiatan GPSEA adalah berkampanye dengan tema utama lingkungan. Dalam menjabarkan dan menggambarkan masalah lingkungan setiap LSM ini memerlukan strategi kampanye maupun strategi komunikasi dalam melaksanakannya.
Strategi kampanye yang dipakai oleh LSM Greenpeace adalah sebagai berikut :
1. Direct action (aksi langsung), merupakan strategi organisasi dalam berkampanye yang ditujukan kepada pihak-pihak yang diduga sebagai sumber permasalahan dengan cara konfrontasi. Selain itu tujuan dari strategi ini adalah untuk menarik perhatian media.
2. Direct communication (komunikasi langsung), merupakan strategi yang organisasi gunakan dalam membangun dan mempromosikan isu-isu yang menjadi fokus kegiatan kampanye kepada para karyawan, konsumen, politisi dan pihak-pihak yang terkait. Selain itu strategi ini berguna dalam menarik perhatin media. Hal ini dicerminkan oleh kegiatan divisi Direct Dialogue Campaign (DDC) yang berusaha mempromosikan isu-isu yang diangkat oleh Greenpeace.
3. Photo OP, merupakan strategi yang organisasi gunakan dalam menarik dan memfokuskan perhatian dari publik pada isu-isu yang Greenpeace sedang perjuangkan. Bentuk dari Strategi photo op adalah kegiatan pameran foto, maupun foto-foto yang diunduh pada website resmi LSM ini dan dapat dilihat pada stand-stand yang didirikan Greenpeace di pusat-pusat perbelanjaan.
4. Protest (aksi protes), merupakan strategi yang digunakan organisasi dengan cara memobilisasi massa, sebagai bentuk ketidakpuasan dan ketidaksetujuan terhadap kondisi yang ada. Agar pesan dapat tersampaikan secara optimal, maka strategi ini membutuhkan atensi dari media massa.
Dalam mengkampanyekan isu-isu dan pesan-pesan yang menjadi fokus perjuangan, Greenpeace memiliki strategi komunikasi tersendiri agar pesan dapat sampai dengan efektif kepada publik. Strategi komunikasi yang dipergunakan oleh Greenpeace adalah sebagai berikut :
1. Know your audience (kenali target komunikasi), dalam mengenali target audience terdapat beberapa hal yang organisasi ini perhitungkan. Hal-hal tersebut adalah
a. Memilah-milah audience yang ada, misalnya berdasarkan pekerjaan, gender, umur, ras, ketertarikan (interest), dll.
b. Menentukan kelompok audience yang menjadi prioritas.
c. Memerhatikan dan menangkap apa yang mereka lakukan, rasakan dan pikirkan saat ini.
d. Kemudian memperhitungkan apa yang seharusnya mereka lakukan, rasakan dan pikirkan kelak.
e. Setelah itu merumuskan hal-hal yang dapat memotivasi mereka untuk berubah.
f. Memperhitungkan siapa yang mereka percaya (apakah akademisi, birokrat, atlit, selebriti).
g. Apakah mereka percaya kepada organisasi
2. Do things in the right order (lakukan dengan cara yang benar), setelah mengetahui target audience mereka menyusun langkah-langkah selanjutnya sesuai dengan tujuan awal. Langkah-langkah tersebut adalah mengidentifikasi masalah (identify problem), mengidentifikasi lawan (identify opponents), mengidentifikasi solusi (identify solution), dan menyusun suatu seruan untuk perubahan (call for action).
3. Create events and stories (ciptakan cerita dan peristiwa), dalam tahap ini organisasi menyusun suatu kegiatan maupun aktifitas yang sesuai dengan isu yang mereka angkat kemudian buat cerita mengenainya, setelah itu memperkuatnya dengan dokumentasi kegiatan tersebut dengan gambar.
4. Maximize people’s motivation not knowledge (tingkatkan motivasi bukan pengetahuan), meningkatkan motivasi individu memiliki prioritas lebih tinggi
Ecxecutive directur
Indonesia
Country Ass.
Ecxecutive directur
Campaign Departeme
Fund Raising Organizatio
n support
Juru kampany
e Hutan
Juru kampanye
Nuklir Juru
kampanye Iklim dan Energi
Koordinato r Aksi dan logistik
Koordinato r Solar generation
Communication
departeme n
Manager dan HRD
Senior finance and account
Media New ICT
Media
Assisten Media
Manajer fundraisin g
Database and supporter service
Assisten fundraisin g
Assistent DDC
Satt.office bandung
Satt office yogya
Satt office surabaya
Satt office semarang Assistent
Finance and Account
apabila dibandingkan dengan meningkatkan pengetahuan individu. Menurut pandangan mereka, selain karena pengetahuan maupun ketertarikan pribadi akan suatu isu, seseorang akan lebih termotivasi apabila ia dapat melihatnya secara nyata dan tersentuh secara emosional.
5. Keep It Simple and Stupid (usahakan tetap sederhana dan terlihat bodoh), dalam menyampaikan pesan kepada target audience, organisasi ini berusaha mengemas pesan tersebut dalam suatu media yang sederhana dan berbeda agar mudah diingat dan dimengerti.
4.8 Struktur Organisasi Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia
Sejak resmi berdiri pada tanggal 1 maret 2006, struktur Greenpeace Indonesia menjadi lengkap sesuai dengan standar struktur organisasi yang ditetapkan oleh Greenpeace Internasional. Berikut adalah struktur organisasi Greenpeace Indonesia.
Gambar 2. Struktur Organisasi LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia
Greenpeace Asia Tenggara sebagai salah satu dari National and Regional Offices (NRO) dipimpin oleh seorang Ecxecutive Director (Von Hernandez) yang dibantu oleh seorang Assistent Ecxecutive Director (Anna Kristina Abad).
Ecxecutive Director ini memiliki tugas untuk mengkoordinasikan perwakilan Greenpeace Asia Tenggara yang terdapat pada tiga negara, yaitu Filipina, Thailand dan Indonesia. Kantor perwakilan Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia dipimpin oleh seorang Indonesia Country Representative (Nur Hidayati). Organization support (Sri Agustiniati) yang dibantu oleh Senior Account (Irene Melinda) dan Assisten Finance & Administration (Dini Andriani) memiliki tugas untuk menjaga keberlangsungan organisasi yang bersifat administratif seperti surat-menyurat dan memenuhi kebutuhan organisasi serta menjaga akuntabilitas LSM tersebut dengan cara menyusun laporan keuangan secara rinci dan berkala.
Greenpeace Asia Tenggara Indonesia memiliki tiga juru kampanye utama dengan isu yang spesifik, yaitu Forest Campaigner (Annette Cotter, Bustar Maitar, Joko Arif, dan Yuyun Indradi) yang fokus pada isu hutan, Climate and Energy Campaigner (Arif Fiyanto) dan Solar Generation Coordinator (Didit HaryoWicaksono) yang fokus pada isu iklim dan energi bersih yang terbarukan, serta Nuclear Campaigner (Tessa Mariede Ryck Van Der Gracht) yang fokus pada isu nuklir. Untuk mendukung kegiatan juru kampanye dalam berkampanye maupun melakukan penelitian, GreenpeaceAsia Tenggara Indonesia memiliki Action Coordinator (Eji Anugrah Romadhon) dan Logistic Coordinator (Richi Raimba).
Media Coordinator (Hikmat Soeriatanuwijaya) yang dibantu oleh seorang Assistent Media Coordinator (Findi Kenandarti) bertugas untuk mengkomunikasikan segala aktifitas maupun temuan-temuan Greenpeace pada masyarakat Indonesia melalui press release dan press conference, selain itu ia juga bertugas untuk memantau berita-berita yang berkembang di surat kabar nasional dan memantau segala pemberitaan terkait dengan LSM Greenpeace di Indonesia, sedangkan untuk mengkomunikasikan segala aktifitas maupun temuan- temuan Greenpeace pada masyarakat Indonesia melalui jaringan dunia maya merupakan tugas seorang New Media Coordinator (Arie Rostik Utami). Untuk
mendukung dan menjaga akses akan informasi serta kelancaran berkomunikasi melalui dunia maya, LSM ini didukung oleh seorang Information &
Communication Technology Unit (HaryoYuswo PranotoYudho).
Greenpeace sebagai LSM yang independen dari sisi keuangan tentu membutuhkan orang-orang yang rela membantu Greenpeace dalam menggalang dana dan merekrut suporter, orang-orang tersebut dipimpin oleh seorang Direct Dialogue Coordinator (Iola Milatantri Ayukemala). Selain menggalang dana, divisi DDC bertugas untuk berkampanye secara langsung pada setiap orang yang ia temui tanpa melihat status sosialnya. Data-data orang yang bergabung dengan Greenpeace sebagai Suporter akan dikelola oleh divisi Database and supporter service. Dalam struktur organisasi, kedua divisi ini dipimpin oleh seorang Manager Fund Raising (Budi Santosa).
BAB V
FRAME GERAKAN SOSIAL ANTI-BATUBARA PADA LSM GREENPEACE ASIA TENGGARA di INDONESIA
Media komunikasi dalam organisasi dapat dikatakan sebagai suatu framing, seperti aksi penentangan batubara yang Greenpeace lakukan di Indonesia, buku yang diterbitkan, maupun aktifitas lainnya, karena media komunikasi tersebut memuat frame gerakan sosial yang mempengaruhi cara pandang seorang individu dalam mengkontruksi suatu fakta atau peristiwa, dan membentuk suatu identitas kolektif.
Frame gerakan sosial anti-batubara merupakan frame yang dibentuk oleh LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia, frame ini berperan memobilisasi seorang individu agar masuk kedalam kelompok dan secara aktif menentang penggunaan batubara. Frame gerakan sosial ini terdiri dari agregate frame, consensus frame, dan collective action frame. Melalui frame ini seorang individu dapat merasakan dan sadar akan bahwa masalah lingkungan khususnya batubara merupakan masalah sosial karena di dalamnya terdapat unsur ketidakadilan, dan melabeli maupun mengkontruksi pihak-pihak yang terkait dan bertanggung jawab atas masalah lingkungan, terkait dengan batubara, serta mengkontruksi identitas seorang individu.
5.1 Agregate Frame Batubara pada Budaya Organisasi LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia
Greenpeace memandang perubahan iklim tantangan terbesar masyarakat dunia kedepannya, akibat dari meningkatnya suhu iklim dunia atau pemanasan global karena meningkatnya selimut alami dunia. Tantangan tersebut mereka jabarkan ke dalam dampak-dampak bersifat irreversible (tidak dapat diputar balik) yang akan timbul apabila perubahan iklim terjadi. Dampak-dampak tersebut adalah meningkatnya suhu lautan, kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit berbahaya, banjir besar-besaran, coral bleaching dan gelombang badai besar, dimana dampak-dampak tersebut akan merusak ekosistem dunia dan mengancam penduduk yang tinggal di dalamnya, terlebih lagi bagi penduduk yang berada di kawasan Asia Tenggara, karena banyak negara yang berada di kawasan
ini merupakan negara kepulauan ataupun pesisir, sehingga rentan terhadap dampak-dampak yang akan timbul akibat dari perubahan iklim dunia.
Menurut LSM ini, di Indonesia penyebab dari perubahan iklim berasal dari dua sektor yaitu sektor hutan dan sektor energi. Dalam pandangan Greenpace, posisi hutan sangat penting sebagai pengatur iklim global dan pola cuaca, yang merupakan sistem-sistem penting dari lingkungan hidup yang mendukung kehidupan di atas bumi, karena hutan dan tanahnya adalah penyimpan karbon yang besar, lebih besar dari ekosistem daratan lainnya. Hampir separuh wilayah hutan yang hilang dalam 10.000 tahun terakhir punah kurang dari 80 tahun yang lalu dan sebagian besar pengrusakan hutan ini terjadi dalam 30 tahun terakhir. Hal ini mengakibatkan penyusutan dan kepunahan keanekaragaman hayati terbesar di atas bumi dan dengan demikian menghancurkan kehidupan jutaan orang yang bergantung pada hutan. Untuk memperkuat argumen tersebut Greenpeace mengutip pernyataan para ahli lingkungan yang berpendapat bahwa bumi sedang berada pada tahap kepunahan besar keenam dan laju kepunahan akan meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2050.
Menurut perkiraan Greenpeace Asia Tenggara, Indonesia adalah penghasil emisi ketiga terbesar gas rumah kaca dunia setelah Cina dan Amerika Serikat.
Tingkat emisi yang tinggi ini merupakan konsekuensi dari sangat tingginya laju penggundulan hutan, yang mencapai hampir dua juta hektar per tahun, terutama pengrusakan hutan gambut yang kaya karbon. LSM ini memperkirakan dua milyar ton karbondioksida (CO2) dilepas hanya dari pengeringan dan pembakaran hutan gambut di Asia Tenggara, dimana 90 persen emisi CO2 hutan gambut di wilayah ini berasal dari Indonesia.
Pada sektor energi, batubara merupakan salah satu penyebab meningkat laju perubahan iklim dunia, hal ini dilihat sebagai suatu bentuk ketidakadilan, tidak adil bagi lingkungan maupun manusia yang menempatinya. Permasalahan ini mulai dikampanyekan oleh Greenpeace Internasional akhir tahun 2008 ketika mereka menemukan fakta-fakta bahwa biaya eksternalitas dari batubara itu sangat besar berbanding terbalik dengan anggapan yang mengatakan bahwa batubara adalah energi yang murah.
Fakta-fakta yang ditemukan Greenpeace bersama Institut Penelitian CE Delft melalui studi kasus di lima negara pengguna batubara, yaitu India, China, Filipina, Indonesia, dan Thailand dimana masing-masing negara mewakili salah satu tahap dari rantai aliran produksi batubara. Rantai produksi ini terdiri dari proses penambangan yang diwakili oleh negara India, proses pembakaran diwakili oleh negara Indonesia, Cina, sedangkan aksi penentangan penggunaan batubara diwakili oleh negara Thailand. Dampak yang ditimbulkan pada tiap negara dapat dikatakan serupa, mulai dari masalah kesehatan, masalah ekonomi, dan masalah kerusakan lingkungan.
Menanggapi berbagai permasalahan tersebut, mereka melihat bahwa pemerintah India, China, Filipina, Indonesia dan Thailand tidak menanggapi dan tidak memperhitungkan ‘biaya’ yang akan ditanggung masyarakat. Khususnya di Indonesia, mereka memandang bahwa proyeksi Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) untuk membenarkan pembangunan PLTU baru adalah keliru karena tidak mengindahkan dampak yang akan ditimbulkan seperti penyakit pernafasan, kecelakaan tambang, hujan asam, polusi asap dan penurunan hasil pertanian serta perubahan iklim. Menurut juru kampanye, berdasarkan letak geografis Indonesia merupakan salah satu Negara di Asia Tenggara yang sangat rentan terhadap perubahan.
Menurut Greenpeace, akibat yang ditimbulkan tersebut merupakan
“biaya” yang harus dibayar oleh masyarakat. Selain itu, mereka memandang bahwa pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap batu batubara atau “mafia batubara” telah mensayasai depatemen energi sehingga menghambat proses pengembangan potensi sumber energi bersih dan terbarukan yang terdapat di Indonesia.
5.2 Consensus frame Batubara pada Budaya Organisasi LSM Greenpeace Indonesia
Melihat aksi-aksi yang dilakukan oleh Greenpeace selama ini menyangkut isu batubara seperti aksi damai langsung Cilacap dan Bali, LSM ini berusaha mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendesak pemerintah maupun perusahaan untuk mengembangkan energi yang terbaharukan dan menghentikan
penggunaan batubara. Karena apabila batubara terus menerus digunakan laju perubahan iklim global akan semakin cepat dan biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulanginya semakin besar serta emisi gas rumah kaca harus mencapai puncaknya paling lambat pada tahun 2015. Langkah ini diperlukan karena mereka melihat pemerintah maupun pihak perusahaan sebagai pengelola tidak memiliki komitmen untuk menanggulangi perubahan iklim. Pendapat ini diperkuat oleh pernyataan Algore yang dikutip oleh juru kampanye Greenpeace :
”Saya bingung kenapa pemuda-pemuda di dunia sekarang, tidak melakukan aksi mereka untuk menghentikan..ee..bulldozer yang sedang membangun Pembangkit listrik tenaga uap..tenaga batubara..karena bulldozer-bulldozer inilah yang pada akhirnya meruntuhkan kehidupan umat manusia dengan mereka membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap..” (Af, 28 tahun)
Melalui buku yang telah diterbitkan, Greenpeace berusaha menyadarkan dan mengajak masyarakat luas untuk turut mendukung dan mempromosikan penggunaan sumber-sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan seperti yang terlihat pada salah satu halaman buku ”Biaya Batubara Sebenarnya” yang berjudul ”Meninggalkan Batubara”. Karena dengan mengembangkan energi terbarukan masyarakat yang bermukim dekat dengan PLTU tidak akan lagi menerima beban maupun masalah ekonomi, kesehatan dan kerusakan lingkungan.
Berdasarkan data-data yang ditemukan pada aksi damai langsung Cilacap dan Bali serta buku ” Biaya Sebenarnya Batubara” dan pendapat yang didampaikan oleh juru kampanyenya, terlihat agregate frame dari LSM ini yang berusaha mendefinisikan dan menegaskan bahwa masalah lingkungan sebagai masalah sosial karena dampak yang ditimbulkan akibat dari pengrusakan hutan dan penggunaan sumber energi yang kotor akan berpengaruh terhadap kehidupan setiap manusia yang hidup di bumi.
5.3 Collective action frame Batubara pada Budaya Organisasi LSM Greenpeace Indonesia
Sesuai dengan teori frame gerakan sosial, collective action frame yang terdapat pada budaya organisasi Greenpeace dikonstruksi oleh tiga frame yaitu injustice frame, agency frame, dan identity frame. Berdasarkan agregate frame yang telah teridentifikasi sebelumnya maka dapat dikatakan bahwa dampak- dampak yang ditimbulkan pada rantai aliran produksi merupakan injustice frame pada LSM Greenpeace terkait dengan isu batubara yang sedang mereka kampanyekan, karena dampak-dampak tersebut memberikan alasan kepada Greenpeace untuk bertindak sesegera mungkin. Pendapat tersebut diperkuat oleh pernyataan juru kampanye Greenpeace berikut ini,
”..sekarang batubara kontribusinya terhadap gas rumah kaca secara global sekitar 60%, artinya apabila kita terus tergantung, terus memanfaatkan batubara, dampak..laju perubahan iklim akan semakin cepat, dampak-dampak akan luar biasa parah dan itu sudah terjadi sekarang. Indonesia sendiri sudah mengalami dampak-dampak perubahan iklim yang dasyat, contoh sepanjang tahun kemarin aja itu..ee..tidak ada satu bulanpun sepanjang tahun 2008 bebas dari bencana yang diduga akibat dari perubahan iklim, bayangkan ketika kita masih terus menggunakan batubara ini sebagai sumber energi kita maka dampak perubahan iklimnya akan semakin dasyat dan laju kerusakannya semakin cepat..” (AF, 28 tahun)
Dampak-dampak tersebut direpresentasikan kedalam suatu perhitungan
’biaya’, menurut Greenpeace biaya-biaya ini harus ditanggung oleh masyarakat yang berada disekitar PLTU maupun masyarakat dunia selama pemerintah dan perusahaan masih menggunakan batubara sebagai sumber energi.
Melihat aksi yang telah mereka lakukan dan buku yang mereka rujuk terkait dengan isu batubara, mereka memandang bahwa tanggung jawab terletak pada pihak pemerintah maupun perusahaan-perusahan yang bergerak di bidang batubara. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan seharusnya memperhitungkan dan mengiventasikan modalnya untuk membangun pembangkit listrik yang menggunakan energi yang terbarukan, walaupun hal tersebut membutuhkan waktu
dan membutuhkan modal yang tidak sedikit, seperti yang juru kampanye Greenpeace utarakan berikut ini,
”...katakanlah untuk membangun instalasi pembangkit listriknya memang dia (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) pertama lebih mahal, tapi setelah dia beroperasi..dia justru akan jadi lebih murah karena tidak membutuhkan batubara, ga ada transportasinya..kalo batubara itu..mungkin bangunnya lebih murah , tapi sepanjang sampe PLTUnya ini mati..ga beroprasi lagi..terus membutuhkan biaya..kenapa ga itu (maksudnya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi)...”(AF, 28 tahun)
Dalam konteks batubara, agency frame yang terdapat pada Greenpeace fokus kepada masyarakat sebagai sumber dukungan dan kekuatan Greenpeace dalam mengkampanyekan isu batubara dan pemerintah sebagai pemegang keputusan. Greenpeace menganggap pemerintah sebagai ’lawan’ atau pihak yang tidak memiliki komitmen politik dan niat baik untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada terkait dengan bidang energi.
Tidak adanya komitmen ini disebabkan oleh masih beredarnya ’mafia batubara’ yang terdapat pada jajaran pemerintahan saat ini. Dalam hal ini, Greenpeace melabeli pejabat pemerintah yang merangkap pengusaha dan pengusaha batubara yang memiliki hubungan dengan pemerintahan seperti pengusaha yang menjadi donatur kampanye SBY sebagai ’mafia batubara’.
Menanggapi isu batubara, koalisi batubara yang Greenpeace prakarsai memposisikan diri mereka sebagai pihak penentang. Berdasarkan prinsip dasar yang mereka pegang selama ini, koalisi yang terdiri dari Greenpaece, KAM Cilacap, JATAM, Walhi, dan Sekolah Demokrasi Ekonomi sifatnya tidak mengikat antara satu dengan yang lain sesuai dengan prinsip kemandirian politik Greenpeace yaitu “no permanent allies or enemies”.
Terakhir adalah identity frame, berdasarkan prinsip dasar yang ada Greenpeace memandang ataupun melabeli diri mereka sendiri sebagai organisasi yang mandiri dan independen bebas dari segala tekanan politik maupun
kepentingan, sebagaimana quote yang terdapat pada setiap press release, buku, booklet, dan setiap halaman website GPSEA Indonesia berikut ini,
”Greenpeace adalah organisasi kampanye yang independen, yang menggunakan konfrontasi kreatif dan tanpa kekerasan untuk mengungkap masalah lingkungan hidup, dan mendorong solusi yang diperlukan untuk masa depan yang hijau dan damai.”
”Greenpeace adalah organisasi kampanye independen global yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi hutan dan menjaga lingkungan, dan mempromosikan perdamaian.”
Nilai-nilai dasar yang terdapat pada kedua quote tersebut seperti independen dan konfrontasi kreatif, Greenpeace terapkan pada setiap aksi protes yang dilakukan seperti halnya aksi protes PLTU di Cilacap, mereka melakukan aksi teatrikal dengan dengan cara tidur di depan PLTU Cilacap dan menggunakan masker maupun baju berwarna putih, melambangkan permasalahan yang sedang dipertentangkan. Selain melalui aksi-aksi teatrikal seperti aksi damai langsung Cilacap, nilai-nilai ini direpresentasikan oleh Greenpeace dalam menjalin hubungan dengan mitra kerjanya maupun baju keseharian berupa baju anti- batubara ataupun baju Greenpeace sebagai simbol identitas diri.
5.4 Ikhtisar Frame Gerakan Sosial LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia
Dari uraian penjelasan di atas, disajikan dengan Matriks 3. dalam matriks tersebut dapat dilihat ikhtisar frame gerakan sosial anti-batubara pada LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia. Frame gerakan sosial tersebut merupakan skema maupun frame LSM Greenpeace terhadap batubara. Frame ini digunakan Greenpeace untuk membentuk frame anti-batubara pada anggota organisasi, dan masyarakat umum serta saat mereka berhadapan dengan pihak pemerintah ataupun pihak perusahaan.
Frame gerakan sosial ini dapat diidentifikasi, salah satu caranya dengan mengidentifikasi elemen dari frame yang terdapat isi ataupun pesan-pesan dari media komunikasi organisasi, seperti buku, booklet, movement document, dan
atribut seperti pakaian. Frame gerakan sosial di dalam media komunikasi tersebut dipaparkan dalam Matriks 1.
Matriks 1. Frame Gerakan soisal Anti-Batubara.
Frame gerakan sosial Isi frame Sumber data
Agregate frame
o Perubahan iklim merupakan tantangan terbesar masyarakat dunia
o Penyebab perubahan iklim di Indonesia berasal dari dua sektor, yaitu :
Ø Sektor hutan
→Pengatur iklim global dan pola cuaca → hutan gundul 2 juta Ha/tahun Ø Sektor energi
→Biaya eksternalitas dari rantai produksi batubara
o Wawancara o Movement
document pada situs resmi GPSEA
indonesia o Booklet o Buku “Biaya
Sebenarnya Batubara”
Consensus frame
o Mendesak pemerintah maupun perusahaan untuk mengembangkan energi
terbarukan dan
menghentikan penggunaan batubara,
o Batubara mempercepat laju perubahan iklim global, dan o Masyarakat yang bermukim
dekat dengan PLTU akan terus menanggung beban ekonomi, kesehatan dan semakin rusaknya kondisi lingkungan
o Movement document pada situs resmi GPSEA
indonesia o Booklet o Buku “Biaya
Sebenarnya Batubara”
Injustice frame
Masyarakat yang berada disekitar PLTU maupun masyarakat dunia harus menanggung biaya ekternalitas dari seluruh rantai produksi batubara
o Movement document pada situs resmi GPSEA indonesia o Buku “Biaya
Sebenarnya Batubara”
Collective action frame
Agency frame
Masyarakat (suporter) dan koalisi anti-batubara dipandang sebagai sumber kekuatan
Pemerintah dianggap sebagai
’lawan’,
Pejabat pemerintah yang berusaha di bidang batubara sebagai mafia batubara
o Movement document pada situs resmi GPSEA indonesia o Buku “Biaya
Sebenarnya Batubara”
o Wawancara
Identity frame
Mandiri dan independen bebas dari segala tekanan politik maupun kepentingan,
o Movement document pada situs resmi GPSEA indonesia o Booklet o Buku “Biaya
Sebenarnya Batubara”
BAB VI
FRAMING BATUBARA PADA LSM GREENPEACE ASIA TENGGARA DI INDONESIA
Sejak Greenpeace hadir dan berupaya mempertahankan kelestarian hutan di Indonesia, isu-isu LSM ini di Indonesia mulai mengalami perkembangan sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi kini. Perubahan iklim merupakan isu utama yang mereka perjuangkan dan permasalahkan di Indonesia. Hal ini merupakan keresahaan utama (grievances) dari LSM ini, karena Indonesia sebagai salah satu negara tropis yang berada di garis khatulistiwa dianggap tidak siap dengan dampak yang akan muncul akibat dari perubahan iklim.
Perubahan iklim ini diakibatkan oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca.
Emisi gas rumah kaca ini ditimbulkan oleh berbagai hal, salah satunya timbul dari hasil pembakaran baru bara yang digunakan oleh Pembangkit Listri Tenaga Uap untuk menghasilkan energi listrik. Hampir 40% energi listrik yang ada di Indonesia berasal dari PLTU yang menggunakan batubara. Oleh karena itu Greenpeace di Indonesia mulai mengkampanyekan penentangan mereka terhadap penggunaan batubara dan pembangunan PLTU baru di Indonesia. Terkait dengan isu batubara, Greenpeace Asia Tenggara mengkampanyekan dengan beberapa cara, antara lain melalui aksi protes langsung, penerbitan terbatas buku mengenai batu bara, Direct Dialogue Campaign (DDC), dan pembuatan baju anti-batubara, dimana dalam cara yang Greenpeace ambil tidak terlepas dari frame gerakan sosial yang terdiri dari agregate frame, consensus frame, dan collective action frame.
6.1 Buku “Biaya Batubara Sebernarnya”
“Biaya Batubara Sebenarnya” merupakan buku setebal 60 halaman yang diterbitkan oleh Greenpeace Asia Tenggara pada bulan Februari tahun 2009.
Buku ini memiliki dua versi bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Untuk versi bahasa Inggris sudah diterbitkan terlebih dahulu oleh Greenpeace International pada bulan Desember tahun 2008. Buku ini ditulis oleh beberapa aktivis Greenpeace dari beberapa negara, mereka adalah Mareike Britten, Iris
Cheng, Jayashree Nandi, Emily Rochon, Nabiha Shahab, dan Mang Wei serta bekerja sama dengan institut penelitian Belanda CE Delft.
Konsisten dengan isu yang mereka kampanyekan, maka seluruh bagian dari buku dicetak di atas kertas hasil daur ulang dan menggunakan tinta yang berasal dari kacang kedelai. Secara garis besar isi buku ini berusaha menggambarkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dunia apabila terus menerus menggunakan batu bara sebagai sumber bahan baku pembangkit energi.
Gambar 3. Halaman Muka Buku “Biaya Batubara Sebenarnya”
Buku setebal 60 halaman ini dapat dikatakan sebagai bahan acuan atau dapat dikatakan sebagai ‘senjata’ bagi juru kampanye, anggota DDC dan anggota Greenpeace yang lain ketika mereka berbicara dan berkampanye mengenai batu bara. Buku ini tidak untuk diperjualbelikan secara bebas, namun diberikan kepada kalangan akademisi, politisi, serta supporter yang tertarik dan antusias dengan isu batubara. Walaupun begitu masyarakat dapat mengakses maupun mengunduhnya di situs resmi Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia sejak bulan Februari dalam format PDF.
Kemudahan masyarakat ataupun pihak-pihak lainnya dalam mengakses buku ini, berguna dalam membangun sudut pandang serta wacana publik ketika mereka berdiskusi membahas batubara. Buku ini secara garis besar memuat informasi mengenai rantai produksi batubara, jenis-jenis batubara, dampak- dampak yang ditimbulkan oleh batubara, dan solusi yang Greenpeace
perjuangkan serta kisah-kisah masyarakat yang terkena dampak batubara hingga pergerakannya. Berdasarkan strategi kampanye Greenpeace, penerbitan buku ini secara tidak langsung termasuk kedalam strategi direct communication maupun photo op. Karena melalui buku ini semua pihak dapat melihat jelas alasan Greenpeace dalam menentang batubara, sehingga dapat dikatakan bahwa buku ini berperan dalam membangun komunikasi interpersonal, kelompok, hingga publik.
Elemen frame yang terdapat pada buku “Biaya Batubara Sebenarnya”
adalah sebagai berikut :
Isu utama, isu utama yang dibicarakan dalam buku ini adalah masalah permasalahan lingkungan yang terkait dengan batubara, hal ini terlihat dari cover buku dan isi dari buku itu sendiri.
Diagnosis, dalam buku ini mereka mencoba membentuk persepsi pembaca akan batu bara dengan menggambarkan dan mengidentifikasi permasalahan yang ditimbulkan, mulai dari proses penambangan hingga proses penggunaan batu bara atau disebut dengan rantai aliran produksi. Menurut mereka, pandangan terhadap batu bara sebagai bahan baku energi yang murah adalah salah, karena nilai ekonomik dihitung termasuk serangkaian faktor, dari penambangan dan biaya penjualan, namun tidak memperhitungkan pajak dan biaya-biaya terbesar dari penggunaan batubara : kerugian pada kemanusiaan dan kerusakan lingkungan sangat besar akibatnya. Pandangan ini diperkuat oleh 2 studi kasus yang berbeda pada 4 negara yaitu : India (memperlihatkan akibat dari proses penambangan), Indonesia, Cina, dan Thailand (memperlihatkan akibat dari proses pembakaran).
Di India tepatnya di daerah Jharia, kegiatan tambang batubara bermula ketika daerah tersebut dinasionalisasikan dan diambil alih oleh perusahaan publik Bharat Coking Coal Limited (BCCL). Perusahaan ini membuka tambang secara besar-besaran untuk mengambil batubara yang dengan lapisan permukaan tanah, namun setelah itu mereka membiarkan lahan tersebut begitu saja, hal ini menyebabkan lapisan batubara tersebut menyala dan mengeluarkan gas beracun.
Lahan terbuka ini mengundang pendatang miskin tanpa keterampilan untuk ikut mengumpulkan batubara secara ilegal, setelah menetap di daerah tersebut mereka menderita penyakit paru-paru dan kulit karena menghirup gas beracun.
Di Indonesia sejak mulai beroprasinya PLTU bertenaga 600MW di Cilacap, ‘memaksa’ masyarakat yang berdomisili dekat dengan PLTU kerap mendengarkan dengungan keras yang menggangu dan merasakan polusi udara pindah dari tempat tinggalnya. Sedangkan bagi mereka yang tetap bertahan, kesehatan menjadi permasalahan tersendiri karena anak-anak yang tinggal disekitar PLTU terus-menerus batuk, dimana menurut peneliti Greenpeace hal ini sangat mungkin disebabkan oleh pencamaran udara dari PLTU. Selain kesehatan, sejak hadirnya PLTU di cilacap berdamapak pada sumber nafkah warga. Hampir 12 hektar sawah produktif dari dua desa hancur sehingga tidak dapat dipergunakan setelah dibanjiri air asin dan air panas yang keluar dari PLTU . Selain itu warga yang berprofesi sebagai nelayan, merasakan penurunan produktifitas hasil tangkapannya. Menurut Greenpeace semua permasalahan ini bertentangan dengan tujuan dari pembangunan PLTU dan proyeksi pemerintah yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi setempat.
Di Cina batubara mengubah kondisi kota-kota yang berada di propinsi Shanxi. Datong salah satu kota yang memiliki cadangan batubara yang masif dan berkualitas tinggi, oleh karena itu pemerintah setempat melakukan ekspoitasi besar-besaran terhadapnya sehingga menimbulkan pencemaran udara. Hal ini mengancam warisan budaya setempat yang sudah UNESCO tetapkan sebagai situs warisan dunia. Sedangkan didaerah Xiaoyi sebagai salah satu penghasil batubara terbesar di propinsi Shanxi, kegiatan penambangan, pemrosesan dan pembakaran batubara berakibat buruk terhadap kesehatan dan kesejahteraan penduduknya serta lingkungannya, seperti buruknya kualitas air dan menurunnya jumlah air bersih yang tersedia. Dan yang terakhir kota Linfen, menurut Badan Perlindungan Lingkungan Negara Cina kota ini memiliki tingkat pencemaran udara terburuk di Negara tersebut. Padahal pada tahun 1980an, Linfen dikenal sebagai kota bungan dan buah. Burukny kondisi lingkungan mengakibatkan menurunnya produktifitas produk pertanian setempat dan munculnya penyakit- penyakit pernapasan.
Di Thailand tepatnya di daerah Mae Moh, sejak dioperasikannya 11 unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap, SO2 mulai menyelimuti daerah tersebut dan ketika bercampur dengan udara menghasilkan suatu hujan asam yang beracun. Hal
ini mengakibatkan warga di 40 desa yang berada di radius tujuh kilometer dari PLTU jatuh sakit, diperkirakan 300 orang meninggal secara langsung dan diperkirakan lebih dari 30.000 warga kehilangan tempat tinggal . Selain itu hujan asam ini mengakibatkan rusaknya lahan pertanian penduduk beserta dengan hasil panennya.
Tingkat permintaan energi yang berlipat mengakibatkan laju penggunaan batu bara semakin meningkat hingga pada tahap yang mengkhawatirkan. Batu bara dilihat sebagai ancaman terbesar terhadap kondisi iklim bumi, karena batu bara merupakan sumber energi yang paling mencemari dan sumber dominan emisi karbon dioksida (CO2) dunia.
Terkait masalah batu bara, buku ini juga mencoba mengulas dan mengkritisi kebijakan Penangkapan dan Penyimpangan Karbon atau Carbon Capture and Storage (CSS), secara garis besar kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi dampak iklim dari pembakaran bahan bakar fosil dengan menangkap CO2 dari cerobong asap pembangkit listrik tenaga uap dan menguburnya dalam tanah. Dimana CSS telah dijadikan justifikasi pembangunan baru pembangkit listrik tenaga uap berbasis batubara dan ‘tindakan tanpa perubahan’. Dalam pandangan mereka CSS, tidak memenuhi tuntutan tepat waktu untuk menghindari dampak buruk perubahan iklim. Mereka memandang pihak yang mendukung kebijakan tersebut sebagai pihak-pihak yang berjualan ‘obat’ teknologi.
Selain itu buku ini mencoba menyoroti rencana pemerintah Indonesia dalam mengurangi penggunaan bahan bakar minyak menjadi batubara dan gas.
Rencana tersebut juga akan mengembalikan rencana pemerintah untuk membangun PLTU bertenaga batubara berkapisatas 10.000 megawatt pada tahun 2009 atau 2010. Pemerintah juga telah menetapkan target konsumsi batu bara menjadi lebih dari 33%. Greenpeace Indonesia memandang hal ini dapat mempercepat laju perubahan iklim dunia.
Prognosis, Setelah menggambarkan permasalahan yang akan masyarakat dunia hadapi apabila tetap mempergunakan batu bara, isi dari buku ini juga menunjukan jalan keluar yang seharusnya dilaksanakan, Greenpeace menggagas suatu cetak biru ‘Energy [R]evolution’. Cetak biru tersebut menunjukan bahwa Pemerintah Indonesia memiliki pilihan sumberdaya energi terbarukan yang
potensial dan secara teknis tersedia seperti tenaga matahari, angin, geothermal, biogas dan ombak. Sehingga Indonesia tidak perlu bergantung pada batu bara untuk menggerakan rencana persediaan energinya untuk memenuhi permintaan energi.
Tuntutan akan pengembangan energi yang berkelanjutan telah diperlihatkan oleh warga Iloilo dan LSM lokal, Filipina. Di Negara tersebut, Greenpeace bersama dengan LSM lokal memperlihatkan aksi massa yang menentang batubara dan menyerukan undang-undang energi terbarukan. Salah satu tokoh penggeraknya adalah Aurora Alerta Lim, mantan asisten presiden Universitas Filipina Tengan (Central Philippine University) urusan lingkungan.
Menurutnya tantangan terbesar yang dihadapi adalah sikap ‘masa bodoh’
pemerintah nasional dan kota terhadap pemanasan global dan kebohongan yang disebarkan oleh pendukung batubara yang menyatakan bahwa batubara energi yang murah dan ‘teknologi energi bersih’.
Simbol-simbol yang digunakan, visualisasi batu bara pada buku ini, memposisikan pembaca sebagai saksi dari proses (bearing witness) perubahan iklim yang diakibatkan oleh batu bara mulai dari proses penambangan hingga pembakaran terlihat dari hampir setengah dari jumlah halaman yang terdapat pada buku ini berisikan gambar-gambar yang berkaitan dengan batu bara yang dapat menunjukan elemen diagnosis buku ini, hingga solusi yang ditawarkan.
Berikut ini adalah salah satu contoh visualisasi batu bara yang dapat menunjukan elemen diagnosis maupun prognosis dengan argumen pensayat pada gambarnya pada buku tersebut :
Gambar 4. Halaman Pada Buku “Biaya Batubara Sebenarnya” sebagai simbol pencemaran udara.
Halaman ini (gambar 3) memperlihatkan asap yang ditimbulkan dari proses pembakaran batu bara yang diambil dari PLTU bertenaga batubara.
Gambar tersebut berusaha mempertegas isi buku ini, diperkuat dengan cathphrases yaitu ‘Saat ini terdapat hampir 40% lebih banyak karbon dioksida di atmosfir dibandingkan sebelum Revolusi Industri. Tingkat CO2 saat ini lebih tinggi dibandingkan saat manapun dalam 650.000 tahun terakhir’. Kata- kata tersebut dikutip dari Badan Administrasi Atmosfir dan Lautan Amerika atau National Oceanic Atmospheric Administratio (www.esrl.noaa.gov/gmd/ccgg/trends.aa).
Gambar 5. Gerakan Massa pada Buku “Biaya Batubara Sebenarnya” Sebagai Simbol Solusi dari Masalah Energi.
Halaman ini (gambar 4) memperlihatkan gerakan massa yang menuntut pemerintah untuk meninggalkan batubara dan menggunakan energi-energi yang terbarukan. Gambar tersebut menunjukan prognosis yang terdapat pada isi buku ini, diperkuat dengan cathphrases yaitu ‘It’s time renewable energy’.
Argumen pendukung, Argumen yang terdapat pada buku ini diperkuat dengan fakta-fakta yang mereka dapatkan langsung dari lapangan maupun hasil kutipan berbagai sumber. Fakta-fakta tersebut antara lain adalah :
o Di seluruh dunia, 11 milyar ton3 CO2 berasal dari PLTU bertenaga tiap tahunnya, (International Energy Agency, 2008. Emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar.OECD/IEA 2008),
o Halaman Apendiks 1 yang mengupas informasi dasar tentang baru, mulai dari jenis batubara hingga jenis penambangan batubara,
o Halaman Apendiks 2 yang mengulas perhitungan biaya sesungguhnya dari batubara,
Selain itu buku ini berusaha memperlihatkan alasan mengapa mereka menentang penggunaan batubara sebagai sumber energi dengan menunjukan dampak yang sudah terjadi pada beberapa negara, yaitu India, Indonesia, Cina, Thailand, dan Filipina.
6.2 Aksi Langsung Damai Cilacap
Pada tanggal 12 Februari 2009, Greenpeace melakukan aksi langsung di depan pagar PLTU Cilapap. Aksi ini tergolong ke dalam tipe direct action dan direct communication, yang berpegang kepada prinsip dasar mereka yaitu non- violent maka aksi ini dapat berjalan dengan damai. Melalui aksi ini Greenpeace berusaha melakukan suatu komunikasi publik, yang berusaha menyoroti dampak- dampak yang ditimbulkan oleh batubara di lokasi pembangkit listrik bertenaga batubara di Cilacap. Greenpeace membantah proyeksi keliru yang digunakan oleh Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) untuk membenarkan pembangunan PLTU baru dengan tidak mengindahkan “biaya-biaya eksternal”
seperti penyakit pernafasan, kecelakaan tambang, hujan asam, polusi asap dan penurunan hasil pertanian serta perubahan iklim. Seperti yang dikutip dari juru kampanye Greenpeace:
"Indonesia mungkin saja memiliki sumberdaya batubara yang sangat besar, tetapi juga memiliki sumberdaya panas bumi dan energi surya yang sangat besar dan belum banyak dimanfaatkan. Sayangnya, pengembangan potensi energi terbarukan negeri ini telah dikalahkan oleh mafia batubara yang mensayasai departemen energi," (AF, 12 Februari 2009)
Aksi ini diikuti oleh 40 orang aktivis Greenpeace dan beberapa perwakilan warga setempat yang merasa dirinya dirugikan oleh hadir PLTU di wilayah tempat tinggal mereka . Dalam aksi protesnya mereka tidur di jalanan yang berada tepat di depan PLTU dengan menggunakan baju dan masker berwarna putih dan yang lainnya merantai diri mereka sendiri ke pagar PLTU Cilacap. Baju dan masker yang mereka gunakan melambangkan kesehatan masyarakat dan penentangan terhadap batubara.
Gambar 6. Aksi Langsung Damai Cilacap, 12 Februari 2009
Bersamaan dengan dilaksanakannya aksi langsung damai ini, koalisi anti batubara yang terdiri dari Greenpaece, KAM Cilacap, JATAM, Walhi, dan Sekolah Demokrasi Ekonomi melayangkan surat protes kepada jajaran Direksi PT. Sumber Segara Primadaya dan Bupati Cilacap. Isi surat tersebut menggambarkan dampak-dampak yang ditimbulkan dari PLTU dan menolak anggapan bahwa batubara adalah sumber energi yang murah apabila dibandingkan dengan eksternalitas yang ditimbulkan. Tuntutan yang terdapat pada surat protes tersebut adalah sebagai berikut :
1. Mendesak pemerintah menghentikan ekspor batubara dan penggunaan batubara sebagai sumber energi, dan perluasan PLTU bertenaga batubara baru di wilayah Cilacap dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Karena semestinya, pemerintah segera mengembangkan sumber-sumber energi bersih dan terbarukan di Indonesia.
2. Mengingat dalam kasus PLTU Cilacap, upaya-upaya mediasi yang dilakukan selama ini tak menunjukkan kemajuan berarti. Kami menuntut dilakukannya.
sebuah pertemuan yang setara antara jajaran direksi PLTU, Pemerintah Daerah Cilacap dan KAM menyelesaikan masalah-masalah yang ditimbulkan PLTU Cilacap selambatnya, akhir Februari 2009.