• Tidak ada hasil yang ditemukan

FENOMENA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FENOMENA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ISSN: 2088-4133

FENOMENA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI

Jurnal Mahasiswa Antropologi UGM

TAHUN V, NO. 1, MARET 2017

(3)

HALAMAN JUDUL... i DAFTAR ISI... iii KATA PENGANTAR...

IMPLIKASI PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN BATIK PADA PERGESERAN RELASI PRODUKSI DAN JALINAN DISTRIBUSI

iv

Nur Rosyid, Dhimas Unggul, Anis Izdieha ...

MELIHAT PROYEK REDD+ DAN GERAKAN TRADISIONALISME MASYARAKAT ADAT 1

Maulana Ilhami Fawdi ...

GUNUNG BAJING STUDI PERKEMBANGAN EKOWISATA DI TLOGOPAKIS

13

Irfan Ardiansyah ...

NYENI PASCA FRUSTASI:SEBUAH ULASAN TERHADAP MUSIK METAL

21

Sukma Suciati ... 34 TARI CRY JAILOLO: BERMULA DARI GERAK BERAKHIR DENGAN PESAN

Michael H. B. Raditya ...

TANAH BISU SEDULUR SIKEP : MENGGALI ULANG KONFLIK AGRARIA PADA MASYARAKAT SAMIN DI REMBANG DENGAN KAPITALISASI LAHAN OLEH SEMEN INDONESIA

44

A. G. Dimas B. Raharja ...

SIASAT KULTUR LOKAL MENGHADAPI BENCANA MUSIMAN

60

Adrianus Venda Pratama Putra ... 69

(4)

Jurnal RANAH | Tahun V, No. I, Maret 2017

1

BATIK YANG DIPRODUKSI, BATIK YANG DIRAYAKAN

Ratusan siswa dan pengrajin batik memenuhi Monumen Batik Titik Nol Yogyakarta tanggal 2 Oktober 2013 silam untuk memperingati Hari Batik Nasional yang ke-4.

Terdapat serangkaian acara yang digelar, mulai dari tari-tarian hingga demo membatik oleh anak- anak SMA. Kerabat Kraton Ngayogyakarta, GBPH Prabukusumo, selaku pemilik Museum Batik Kraton Yogya turut hadir dalam acara ini.

Beliau mendapat kesempatan membacakan Ikrar Masyarakat Pecinta Batik Yogyakarta yang dibuat Paguyuban Batik Yogyakarta.1 “Kami bertekad

1Penelitian ini didanai melalui Hibah Penelitian Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada tahun 2013.

melestarikan dan mengembangkan batik Ngayogyakarta Hadiningrat yang memang sangat istimewa sesuai inskripsi UNESCO.” ujarnya.

Hari Batik Nasional ditetapkan pada tanggal 2 Oktober setelah UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organisation) menetapkan batik sebagai warisan budaya tak-benda (intangible cultural heritage) tahun 2009. Terdapat sembilan wilayah di Indonesia yang diakui oleh UNESCO sebagai provinsi yang memiliki “kultur” batik, salah satunya Yogyakarta yang bertempat di Bantul (Fiorentina, 2009).

Di Bantul bagian selatan, tepatnya di Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri terdapat industri kecil pembuatan hand made batik tulis dan batik

IMPLIKASI PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN BATIK PADA PERGESERAN RELASI PRODUKSI DAN JALINAN DISTRIBUSI

1

Nur Rosyid, Dhimas Unggul, Anis Izdieha

ABSTRAK

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendalami perkembangan ekonomi industri kecil batik di Yogyakarta semenjak adanya pendampingan oleh Departemen perindustrian sampai penetapan UNESCO sebagai warisan budaya tak-benda. Pendampingan dan penetapan tersebut tentu memiliki konsekuensi panjang terhadap proses produksi indutri kecil tersebut. Penelitian etnografi ini dilakukan di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Daerah tersebut menarik untuk diteliti lebih jauh karena ada perkembangan industri kecil yang cukup signifikan kaitannya dengan intervensi LSM dan program pemerintah melalui desa wisata. Bencana Gempa Bantul 2006 telah mendorong mengalirnya bantuan-bantuan sebagai bentuk intervensi terhadap pengembangan batik tulis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bantuan dan program ‘perbaikan’ kerja yang dilakukan oleh LSM dan pemerintah justru mereposisi dan menggeser relasi kerja dan strategi pekerja batik untuk meneruskan usahanya. Bantuan justru menjadi agen perubahan strategi produksi dan pemasaran usaha batik tulis di Giriloyo.

Kata-kata Kunci: industri-kecil batik, intervensi, LSM, relasi produksi, bantuan

(5)

2

cap. Batik diproduksi di rumah-rumah warga maupun pengusaha (juragan) batik. Secara historis, pekerjaan membatik mula-mula dikenal sebagai kegiatan para wanita bangsawan di Jawa pada abad ke-8 sampai abad ke-19. Membatik dilakukan wanita-wanita pada masa penantian sebelum menjadi seorang ibu. Jadi, sebelum tiba masa dipingit, mereka mengisi waktu luang dengan mempelajari membatik (Setyarini, 1994:1- 3). Berdasarkan penjelasan Setyarini, membatik ini kemudian menjadi aktivitas ekonomi karena krisis keuangan yang melanda keluarga-keluarga bangsawan di Yogyakarta. Usaha ini dilanjutkan tidak hanya wanita bangsawan saja, orang-orang yang tidak mempunyai hubungan dengan kesultanan ikut mengembangkannya.

Dari sejarah inilah industri-industri batik di Yogyakarta berkembang cukup masif. Setyarini berpendapat, industri batik bisa bertahan usahanya, karena para pengusahanya menerapkan sistem borongan yang mampu memberikan keuntungan yang besar bagi dirinya (1994:11).

Sistem borongan yang diterapkan oleh para pengusaha adalah sistem borongan vertikal yakni pemberi kerja memberikan bahan mentah kepada pekerja. Sistem borongan vertikal dapat diterapkan dalam dua cara yaitu pekerja tetap bekerja dalam pabrik atau pekerja bekerja di rumah yang biasa disebut dengan pekerja rumah (home based worker). Sistem ini bisa menghasilkan banyak keuntungan bagi pengusaha, menurut Holzner (1992:40-3 dalam Setyarini, 1994: 12), dikarenakan para pekerja rumah dibayar menurut hasil produksi, bukan berdasarkan jam kerja.

Selain itu, mereka menganggap membatik merupakan pekerjaan sampingan, sehingga tidak terikat oleh disiplin waktu yang ditentukan oleh institusi pemberi kerja.

Pekerjaan membatik ini dilakukan oleh wanita. Sehingga peran wanita dalam perekonomian rumah tangga cukup signifikan.

Hal ini diakibatkan semakin berkembangnya teknologi baru yang penguasaannya banyak didominasi oleh pria. Beberapa informasi

menyebutkan, kesempatan kerja untuk wanita tidak sebanyak pria. Sebagaimana dijelaskan Juni Indriyati (1990) dalam studinya mengenai ekonomi batik di Laweyan, tidak banyaknya kesempatan kerja bagi wanita diakibatkan oleh jumlahnya yang melebihi pria dan ketertinggalan dalam hal pendidikan dan keterampilan.

Ketertinggalan ini disebabkan oleh sederetan tugas yang ditimpakan kepada wanita seperti: (1) melahirkan anak, (2) mengasuh anak, (3) membina rumah tangga. Banyaknya persoalan yang dihadapi para wanita, setidaknya membuat mereka harus bekerja tidak jauh dari rumah.

Dalam penelitian Indriyati, industri batik menawarkan pekerjaan serupa.

Studi lain mengenai batik juga dilakukan Bintang Wirawan (1987). Dia meneliti bagaimana pola perilaku industri yang mempengaruhi keberlangsungan industri batik. Industri batik bisa berjalan karena ada intervensi dari keraton. Di sini keraton sebagai state (negara) ikut berpengaruh dalam proses produksi. Akan tetapi, penelitian ini belum menyentuh pelaku industri, dalam hal ini pembatik atau buruh batik yang juga menentukan keberlangsungan industri batik.

Sukanadi dan Suharson (2012) melihat keberadaan industri batik tulis di Giriloyo bisa bertahan karena batik mengandung nilai dan falsafah yang masih “dipegang”. Kebertahanan batik ini tampak pada masih dipakainya motif- motif klasik kraton yang merepresentasikan

“budaya Jawa”, seperti motif wahyu tumurun, kawung, dan parang (hal: 1898-9).

Sementara itu, Noor Romadlon (2012) mempunyai perspektif yang berbeda terkait batik tulis di Giriloyo. Menurutnya, Keberadaan batik dianggap sebagai pilihan yang harus diterima, karena kondisi tanah yang gersang. Dia menyebutkan, “Suatu cara hidup yang berbeda dari lingkungan di sekitarnya ini, kiranya (membatik-red) menjadi pilihan yang sadar untuk dijalani dengan berbagai bentuk konsekuensinya.”

(2012:1818). Sayangnya, konteks ekologis ini kurang didalami secara detail seberapa jauh

(6)

Jurnal RANAH | Tahun V, No. I, Maret 2017

3

signifikansinya terhadap keberlangsungan dan keberlanjutan industri batik. Justru, ia mengalihkan pembahasan terhadap kondisi industri batik tulis sebagi industri lokal yang

“...berada pada jepitan konteks kebudayaan kapital global.” (ibid.:1820). Terhimpitnya batik Giriloyo, dalam beberapa temuannya, setidaknya dipengaruhi beberapa faktor, meliputi: rendahnya daya beli masyarakat pada jenis batik tulis, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian batik (ibid.: 1828-29). Kedua penelitian di atas, secara epistemologis mengasumsikan batik sebagai tradisi yang “kaku”.

Batik harus dipertahankan karena merepresentasikan “budaya Jawa” melalui motif dan prosesnya yang masih “tradisional”.

Hermiasih (2012), baru saja menyelesaikan penelitian tentang perkembangan batik Giriloyo dengan fokus kajian pada sistem nilai yang ada pada konsumsi dan pengelolaan batik “tradisional” dalam konteks modernitas.

Dia meneliti bagaimana praktik revitalisasi nilai batik dan preferensi konsumen turut mempengaruhi perkembangan industri batik.

Dengan kerangka historis yang kuat, dia membedah pemaknaan “tradisionalitas” batik yang secara politis dihadirkan sejak posisi keraton mempunyai pengaruh kuat dalam pemilihan motif; pewarnaan, dan pemakaian, sampai kehadiran UNESCO menetapkan batik tulis dan batik cap—bukan batik printing—sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) tahun 2009.

Satu temuan penting dalam penelitiannya ialah pemberian pengakuan UNESCO kepada batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda, dikatakan dapat membantu pelestariannya.

Dengan adanya pengakuan ini, terjaminlah pemberlakuan tindakan yang dikatakan

“melestarikan” secara legal. Walau demikian, dalam prakteknya, hal-hal yang menjadi dampak dari pengakuan ini seringkali justru merubah

“otentisitas” dari warisan yang didaftarkan (2012:109). Penelitian ini memiliki kekurangan

argumentasi. Hermiasih tidak memisahkan secara tegas konsep pembatik sebagai pelestari ‘tradisi’

dengan pembatik sebagai bagian dari sebuah jaringan produksi. Pembatik hanya dilihat sebagai pelestari dalam konteks heritagisasi yang secara politis baru muncul setelah adanya pengakuan dari UNESCO tahun 2009. Padahal, batik tulis Giriloyo sudah diproduksi sejak abad ke-8 sampai sebelum ditetapkannya sebagai warisan dunia tak- benda. Pembatik pada masa ini tidak pernah muncul atau hadir dalam wacana pelestarian tradisi. Batik pada masa itu dianggap sebagai busana yang diproduksi secara terus-menerus karena ada permintaan pasar, keraton, maupun konsumen lainnya. Untuk itu, tulisan ini mencoba melengkapi kajian pada implikasi berbagai macam program dan bantuan yang mempunyai signifikansi langsung terhadap mode produksi dan relasi kerja.

ELABORASI PERSPEKTIF

“Kebudayaan” sebagai persoalan kesenian dan urusan pewarisan secara historis dipengaruhi oleh wacana UNESCO menerbitkan konvensi internasional pengelolaan “budaya”

dengan mendeklarasikan pengelolaan intangible cultural heritage di Paris, 17 Oktober 2003. Hasil deklarasi ini memunculkan definisi “budaya”

sebagai warisan, terdiri dari “intangible cultural heritage” dan “tangible cultural heritage” yang dibedakan dengan “natural heritage”. Di dalam article 2-definisions, “intangible cultural heritage”

diartikan sebagai,

“…the practices, representations, expressions, knowledge, skills – as well as the instruments, objects, artefacts and cultural spaces associated therewith – that communities, groups and, in some cases, individuals recognize as part of their cultural heritage. This intangible cultural heritage, transmitted from generation to generation, is constantly recreated by

(7)

4

communities and groups in response to their environment, their interaction with nature and their history, and provides them with a sense of identity and continuity, thus promoting respect for cultural diversity and human creativity”

“Warisan budaya tak benda” ini termanifestasikan dalam beberapa domain, antara lain: tradisi oral termasuk bahasa, pergelaran seni, praktik sosial, ritual, dan acara festival, pengetahuan dan praktik yang berkenaan dengan alam dan semesta, serta kerajinan tradisional.

Sebagaimana disebutkan oleh Ahimsa-Putra, wacana ini pada awalnya dimunculkan sebagai tanggapan untuk mengangkat keragaman budaya, jaminan pentingnya pembangunan berkelanjutan dan berangkat dari cara pandang masyarakat (2016 [2011, 2006]).

Dari sini kita dapat memahami bagaimana

“pewarisan” dan “pengangkatan budaya lokal”

memiliki implikasi yang signifikan. Cara pandang di atas menunjukkan adanya ambivalensi perspektif, pemikiran yang berusaha mengkonservasi “nilai-nilai lama” ke dalam suatu wilayah “cagar budaya” yang aman namun dalam sikap yang cenderung reaktif. Cara pandang ini menuntut di antara kita, juga penerus generasi masa depan, untuk menjadi ahli waris dari para pendahulu, dengan menuntut kelestarian.

Abdurrahman Wahid sudah memperingatkan,

“Upaya melestarikan ‘cagar-cagar sosial- budaya’ ini, sebuah analogi atas tanah- tanah reservasi suku bangsa Indian di Amerika Serikat, muncul dalam berbagai bentuk, yaitu penegasan kembali beberapa tradisi sosial- keagamaan, kesediaan untuk lebih menggunakan bahasa daerah melebihi

2Mengenai standarisasi UNESCO dalam dilihat “Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention yang diterbikan oleh Intergovernmental

bahasa nasional, kesediaan pekerja hierarki ekonomis dan tradisional yang ada, dan seterusnya” (1981:6).

“Pelestarian” dan “pewarisan” yang diprakarsai oleh UNESCO ini, menurut Couteau (2013), memiliki dampak kultural dari rasionalisasi pemikiran (ekonomi kapitalisme) berupa standarisasi dari semua sektor2 kehidupan.

Standardisasi menyentuh, di seluruh dunia, semua sektor kehidupan: dari pendidikan, kelembagaan, kesehatan, manajemen, teknik-teknik produksi dan sebagainya. Semua bidang kegiatan itu tunduk pada norma-norma yang semakin ketat dan semakin homogen:

norma manajemen, norma penentuan anggaran negara, norma organisasi lembaga negara dan perusahan, norma pendidikan, norma hukum, norma kegiatan olah raga, norma perilaku Ham dan lain-lain. Norma tersebut bersifat semakin internasional dan dijaga oleh lembaga-lembaga internasional (PBB, ILO, IMF, World Bank, UNICEF, UNESCO, Nobel Prize, FIFA, WTO, Amnisty International, ISO dan lain-lain sebagainya) yang wewenang normatifnya semakin luas, dan yang norma organisasional, sosial dan etisnya cenderung mendeterminasi dengan semakin ketat pula apa yang disebut

“kebudayaan”, yaitu sistem produksi ide-ide dan kesenian. (Couteau 2013: 4, cetak miring pekenanan dari kami)

Penjelasan Jean Couteau ini masuk akal.

Pendeterminasian “kebudayaan” sebagai sistem

Committee for the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Januari 2008)

(8)

Jurnal RANAH | Tahun V, No. I, Maret 2017

5

ide-ide alias sistem nilai dan kesenian, sekarang terus diupayakan oleh negara-negara internasional termasuk Indonesia.

Di samping adanya “homogenisasi budaya”, upaya “pewarisan budaya” yang diprakarsai oleh UNESCO ini memiliki konsekuensi sosial yang panjang. Sebagaimana disebutkan Regina Bendix (2012), upaya pewarisan ini pada gilirannya menentukan pengukuran-pengukuran “properti kebudayaan”

dan urusannya dengan siapa yang akan menjadi

“pewaris” sekaligus “agen” yang akan mengurusi warisan tersebut. Penentuan subyek (perorangan maupun kelompok) sebagai “pemegang sah” atas warisan ini justru memunculkan penguatan proses ekslusi sosial dan penegasan sikap etnosentrisme.

Menguatnya artikulasi identitas yang semakin tegas melalui “properti kebudayaan”, disadari atau tidak, juga atas keterlibatan para ilmuwan sosial—

termasuk antropologi—yang membuat batasan- batasan etnisitas menjadi semakin jelas: melalui penegasan batas geografis, linguistik, sistem kepercayaan dan agama, atribut pakaian, hingga ciri arsitektur rumah.

Bendix (2012) menunjukkan, keterlibatan akademisi—antropologi, sejarah, arkeologi, linguistik, sosiologi—memberi kontribusi pada apa yang ia sebut sebagai “valuation” (penilaian) dan “valorization” (proses penghargaan). Dengan merujuk pada kajian Comaroff, Bendix menjelaskan bahwa keterlibatan itu bermula dari cara pandang peneliti yang melihat suatu komunitas subyek penelitiannya memiliki

“kekhasan” cara hidup dengan membangun asumsi bahwa munculnya kapitalisme adalah hal yang merusak kekhasan itu.

Dalam konteks upaya pengembangan dan pelestarian batik di Yogyakarta, wacana ini muncul bersamaan dengan kasus gempa 2006.

Kejadian ini mendorong berbagai kalangan, perorangan, pemerintah maupun LSM untuk melibatkan diri dalam penanganan kondisi pascabencana. Kehendak untuk melibatkan diri dalam kerja-kerja pemberdayaan, pembangunan,

rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana semacam ini, disebut Arturo Escobar sebagai reformer’s zeal (semangat pembaharu). Dalam bukunya Encountering Development, ia mengatakan,

“The ‘reformer's zeal’ and the drive toward reform and pedagogy; the utopian posture that finds a ‘missionary's paradise’ in those lands riddled with a marvelous number of practically insoluble problems; the belief that all wrongs can be corrected and all manifestations of human conflict eradicated” (Escobar, 1995: 65)

Reformer’s zeal yang disebutkan oleh Escobar di atas merupakan pandangan dari ekonom Barat dan juga para penyandang dana bantuan. Pandangan ini menurut Escobar muncul setelah Perang Dunia kedua, ketika perhatian dalam melawan fasisme berganti dengan perhatian melawan kemiskinan yang ditemukan di Dunia Ketiga. Kemiskinan Dunia Ketiga yang ditemui ini dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas ekonomi dunia, sehingga pada masa itu perusahaan-perusahaan besar, lembaga-lembaga kemanusiaan dan juga seluruh elemen di negara maju gencar menyerukan perang terhadap kemiskinan.

Pandangan mengenai reformer’s zeal dijabarkan lagi oleh Escobar, didasari dengan pemahaman mengenai pembangunan yang dipandangan sebagai sebuah “gambar” (image) yang diandaikan mempunyai komposisi warna dan keteraturan di dalamnya. Melihat sebuah fenomena sosial sebagai sebuah gambar, mengandaikan masalah yang ada di wilayah tersebut sebagai komposisi dan warna. Sang penyandang dana atau sang pembuat kebijakan akan memetakan mana saja yang bisa dibenahi.

Dalam sebuah lukisan, penikmat biasanya melihat

(9)

6

apa yang sudah ada atau hasil jadi gambar tersebut, tidak terlalu memperhatikan bagaimana cara sang pelukis melukiskan gambarnya. Dalam pembangunan, fokus pada masa depan, pada awal yang baru jarang dibarengi dengan analisis masa lalu. Dalam kasus Wukirsari hal ini diperlihatkan dari perubahan-perubahan yang terjadi setelah bantuan-bantuan masuk. Menurut kami tidak semua desain pembangunan menghiraukan analisis masa lalu, akan tetapi hanya terlalu fokus pada perubahan apa yang bakal terjadi setelah pembangunan itu dilaksanakan. Berbekal perspektif ini, kami memfokuskan pada signfikasi intervensi melalui program dan bantuan dalam pengembangan batik terhadap pergeseran- pergeseran mode produksi dan relasi kerja.

HADIRNYA DINAS PERINDUSTRIAN DAN MELEMAHNYA POSISI KERATON YOGYAKARTA

Pembatik Giriloyo pada awalnya hanya membuat batik “putihan” (batik yang belum diwarnai). Menurut keterangan Mbah Sangidu yang merupakan generasi kedua dari pembatik Giriloyo, para pembatik Giriloyo biasanya membatik untuk memenuhi pesanan dari kota (Keraton dan juragan) yang nantinya akan diberi warna di sana. Sebagai upahnya, pembatik akan mendapatkan kain mori dan uang hasil penjualan batik tersebut. Pola semacam ini tidak lepas dari sejarah batik Giriloyo itu sendiri. Menurut beberapa narasumber yang kami wawancarai, pembatik Giriloyo pada awalnya adalah istri-istri abdi dalem yang menetap di sekitar area Pemakaman yang membawa pengetahuan membatik dari dalam Keraton. Lambat laun istri- istri abdi dalem tersebut mengajarkan perempuan di Giriloyo untuk membatik sehingga ketrampilan membatik pun bisa menyebar di sekitaran Giriloyo.

Taylor menyebutkan, melemahnya kekuatan politis keraton dalam produksi batik di

Yogyakarta disebabkan adanya introduksi teknik membatik dengan cap (1997: 105 dalam Hermiasih, 2012:16). Teknik ini mampu memproduksi batik dalam jumlah yang lebih besar dan waktu yang relatif singkat. Sehingga harga jual batik menjadi lebih murah. Munculnya batik cap di pasar ini mendorong masyarakat awam mulai memakai batik. Selain itu, melemahya posisi politis keraton juga dipengaruhi munculnya motif-motif batik di luar pakem (aturan) keraton.

Dalam konteks rangkaian produksi, keraton beserta juragan-juragan yang ada di sekitarnya memegang kendali atas pemrosesan akhir kain batik. Bentuk kendalinya terletak pada pembatasan motif dan “pemaknaan”.

Sebagaimana disebutkan oleh Nina Stephenson,

“The introspective nature of the courts, and the desire to maintain symbols of status via traditional and restricted motifs (batik-red), dissuaded court artisan from exploring radically different colour and patterns. It is important to note, however, that the development of new patterns and combination of motifs in the classical colors has been an ongoing process”

(1993:109)

Rangkaian produksi seusai nglowong (menggambar) dan nyorek (menaruh malam), yakni dari memberi “isen-isen”, “nembok”

(menutupi dengan lilin), “medel”, menggunakan zat warna alam, “ngerok” (menghilangkan liling klowong dan isen), “ngloros” (menghilangkan seluruh lilin dengan direbus) sampai menjadi kain yang siap dijahit, dikerjakan oleh orang-orang kota (keraton). Tidak hanya itu saja, motif dan pola juga dikendalikan oleh keraton ketika hasil kain putihan hendak diserahkan. Kain-kain tersebut akan diperiksa kualitas goresannya. Jika banyak goresan kasar, kain akan dikembalikan.

Pada masa-masa ini penguasaan perdagangan juga berada di tangan keraton dan juragan di sekitar keraton.

(10)

Jurnal RANAH | Tahun V, No. I, Maret 2017

7

Hubungan kerja ini tiba-tiba dihentikan

‘sementara’ pada tahun 1981 oleh Dinas Perindustrian dengan diadakannya pelatihan bagi pembatik selama 5 tahun. Hermiasih pernah menuliskan,

“Tahun 1981 adalah pertama kalinya perempuan-perempuan Giriloyo mempelajari proses membuat kain batik hingga jadi. Dinas Perindustrian, didomplengi UNDP (United Nations Development Programme), datang ke desa Wukirsari untuk memfasilitasi pendampingan kelompok batik Bima Sakti. Berbagai pelatihan diberi, dari tata cara mewarna kain hingga tata cara memasarkan produk” (2012: 64)

Sebanyak 60 perempuan Wukirsari dikumpulkan di rumah Kepada Desa Wukirsari untuk dibentuk satu kelompok besar bernama Bima Sakti. Pembentukan kelompok ini merupakan pengalaman pertama pembatik terorganisasi secara struktural. Mereka mendapat pandampingan dan pelatihan selama lima tahun.

Pelatihan yang diberikan kepada para pembatik Giriloyo membuat mereka memiliki kemampuan untuk mewarnai kain canthingan mereka sendiri dengan bahan-bahan kimia. Di samping itu, mereka mendapat bantuan alat-alat produksi seperti: canting, kompor malam, gawangan, kain mori, pewarna, dan bak pewarnaan plastik.

Seusai mendapatkan pendampingan selama lima tahun tersebut, Kelompok Bima Sakti dipecah menjadi 5 kelompok pada tahun 1985 berdasarkan dusun para pembatik. Kelima kelompok itu adalah: Bima Sakti Karangkulon, Bima Sakti Cengkean, Bima Sakti Sindet, Bima Sakti Manggung, dan Bima Sakti Nogosari. Dua kelompok awal berasal dari Giriloyo.

Pengenalan teknik mewarnai ini secara tidak langsung telah “memutus” atau setidaknya mengurangi interaksi antara pembatik dengan juragan yang ada di lingkungan keraton.

Pengurangan intensitas ini terjadi ketika

pewarnaan batik tidak lagi dalam kendali juragan, tetapi ada pada kelompok batik yang baru terbentuk itu sendiri melalui keahlian baru tersebut.

Begitu juga dengan penjualan hasil produksi, mereka juga mendapatkan pengenalan strategi penjualan. Selama masa pelatihan, semua batik hasil produksi ditampung dan dijual melalui kepala desa. Begitu juga seusai pelatihan, mereka menjualnya di tempat masing-masing. Kepala desa mempunyai posisi baru dalam rangkaian produksi batik Giriloyo. Kuasa pengendalian batik telah ‘beralih’ dari keraton ke kepala desa.

Kelompok-kelompok batik tersebut memiliki kesempatan untuk membuat motif- motif yang keluar dari pakem, karena kemampuan memproduksi dan menciptakan pasar sendiri. Hal ini menjadi bagian dari strategi baru mereka, di mana sebelumnya mereka terikat karena adanya tuntutan dari juragan di lingkungan Keraton.

Andil juragan tersebut sebagai penentu motif dan pemroses akhir batik Giriloyo berkurang seiring dengan bertambahnya kemampuan pembatik untuk mewarnai dan menjual sendiri hasil produksinya. Hal ini terlihat dari semakin berkurangnya juragan batik di Yogyakarta yang masih bertahan sampai sekarang. Menurut mbah Hisyam (mantan juragan batik Giriloyo), sudah banyak juragan batik yang beralih profesi menjadi pemilik hotel atau pemilik warung makan semenjak pembatik Giriloyo mampu mewarnai batik. Hanya sedikit yang mampu bertahan menjadi juragan, itupun karena masih terdapat pembatik yang tidak ikut kelompok dan membatik khusus untuk disetor ke juragan.

GEMPA BANTUL DAN MENGALIRNYA BANTUAN

Pembentukan Kelompok-kelompok Kerja

(11)

8

Pembatik-pembatik Giriloyo tidak mendapatkan pendampingan lagi sejak 1981 sampai tahun 2006. Kalaupun ada, gerakannya hanya sporadis dan lingkupnya kecil. Tahun 2004, pernah ada pendampingan di kelompok batik Suka Maju. Pendampingan diadakan karena inisiatif orang-orang tertentu seperti pak Agus (pamong desa) mengajukan proposal pelatihan pewarnaan dan pengadaan meja untuk menggambar pola yang manfaatnya hanya dapat dirasakan untuk kelompoknya sendiri.

Perkembangan yang paling mencolok ialah pasca Gempa Bantul tanggal 27 Mei 2006.

Gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya menjadi momentum perubahan yang sangat signifikan bagi perkembangan industri batik tulis di Giriloyo. Kondisi produksi batik Giriloyo sempat terhenti selama setahun. Banyak warga yang fokus membenahi rumah dan perbaikan infrastruktur lainnya.

Seusai gempa, banyak sekali bantuan berdatangan ke Bantul, termasuk Giriloyo. Dalam suatu kesempatan berbincang-bincang dengan Bu Hartinah, pemilik kelompok batik Bima Sakti, dia menyebutkan pernah dapat bantuan dari Mercy Crops. Mercy Crops membantu dana dan peralatan membatik yang dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali ekonomi batik tersebut.

Agar bantuan tersebut bisa diakses, beliau harus membentuk kelompok dengan mengajak tetangganya sejumlah 22 orang agar genap 30 orang. Anggota-anggotanya semua dari kalangan perempuan pembatik.

Tidak hanya dari Mercy Crops saja, banyak sekali LSM lokal maupun internasional berdatangan membantu korban gempa berdasarkan kapasitas dan sasaran masing- masing. Sebagian besar bantuan untuk pengembangan batik berupa bantuan dana hibah modal, peralatan membatik, dan pelatihan- pelatihan. Bantuan tersebut dilangsungkan melalui pembentukan kelompok-kelompok batik.

Hermiasih memperoleh informasi penting ketika bertemu pembatik bernama Mukhoyaroh

(ibid.:56). Ibu tersebut bercerita kalau perempuan-perempuan dusun Karangkulon, Giriloyo, dan Cengkean membatik bersama beratapkan terpal dan berdinding bambu, di tanah yang kini ditempati kelompok batik Berkah Lestari. Biaya pelaksanaan semuanya ditanggung oleh Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagad.

Bahkan, mereka juga mendapatkan upah dari pelatihan tersebut. Di sana mereka diajarkan membuat motif-motif batik, mewarna, sampai ke tingkat manajemen kelompok.

Mengalirnya bantuan di Giriloyo memicu munculnya kelompok-kelompok pembatik baru.

Salah satunya kelompok Batik Sungsang yang dimiliki oleh Giyarti. Dia memulai usaha batik setelah gempa, yakni tahun 2007. Dia tertarik mengembangkan usaha batik setelah mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Balai batik Yogyakarta. Untuk memulai usahanya, dia mendapatkan hibah dana sebesar Rp 500.000, peralatan membatik, dan beberapa lembar kain mori. Dia mendapatkan pesanan pertama empat kain dari orang Solo. Sebagai upaya membuka pelanggan, suaminya mengantarkan pesana itu ke rumah pemesan di Solo. Cara seperti ini dia lakukan selama kurang lebih setahun.

Pengembangan ekonomi batik Giriloyo berbasis kelompok, memunculkan cara produksi yang berbeda. Mengalirnya bantuan berbasis komunitas, mendorong beberapa pembatik menjadi anggota di kelompok lain. Hal ini memungkinkan terjadi karena seorang anggota hanya mendapat jatah satu lembar atau beberapa lembar batik yang dibagi setiap pertemuan bulanan. Seorang pembatik akan mengerjakan

“kewajiban” kelompok berupa menyelesaikan selembar kain dalam sebulan tersebut. Sisa waktu pengerjaan itu, bisa digunakan untuk mengerjakan pesanan lain di rumahnya sendiri.

Pembentukan kelompok-kelompok batik juga memungkinkan adanya otonomi pemasaran tidak dalam kendali juragan sebagaimana model penjualan sebelum gempa. Pemesanan dan penjualan diserahkan pada kelompok melalui

(12)

Jurnal RANAH | Tahun V, No. I, Maret 2017

9

galeri yang ada di sekretariat masing-masing kelompok. Melalui showroom ini, konsumen secara tidak langsung “didekatkan” dengan produsen. Mereka tidak perlu lagi menitipkan batik pada toko-toko batik yang ada di kota Yogyakarta.

Penitipan batik ke toko-toko menjadi kendala yang cukup serius terhadap keberlanjutan usaha. Berdasarkan keterangan pemilik kelompok batik Sekar Arum, menitipkan batik ke toko mengharuskan mereka menyiapkan modal setidaknya dua kali lipat. “sek, duite ngenteni le ngedol bathikan” (uangnya menunggu dulu dari dia menjual batik), tukasnya. Sistem seperti ini menjadikan pembatik memiliki ketergantungan dengan pemilik toko-toko di kota.

Kelompok-kelompok batik di Giriloyo dalam rangkaian program juga dibentuk sebuah paguyuban bernama Paguyuban Batik Giriloyo.

Satu paguyuban ini terdiri dari dua belas kelompok batik. Di dalam paguyuban ini, mereka membentuk kepengurusan yang terdiri dari beberapa tokoh masyarakat yang tidak ikut dalam kelompok batik dan perwakilan dari setiap kelompok batik. Berdasarkan keterangan ketua paguyuban, pembentukan ini dimaksudnya untuk menjaga hubungan kekerabatan dan membangun pasar yang kondusif. Inisiatif ini muncul karena setiap kelompok pernah berebut pelanggan, terutama beberapa kelompok yang letaknya di dekat jalan masuk ke kampung.

Gazebo dan Gema Desa Wisata

Pembentukan paguyuban batik dibarengi dengan masuknya bantuan pembangunan Gazebo dari IRE (Institute for Research and Empowerment). LSM ini memprakarsai pembangunan Gazebo wisata dengan dana dari Australia. Gazebo yang dibangun ini letaknya sekitar tiga ratus meter dari jalan masuk menuju dusun Giriloyo. Gazebo yang dibangun terdiri dari satu pendopo besar, dan dua belas Gazebo kecil di sekitarnya yang mewakili jumlah kelompok batik. Dengan adanya Gazebo ini,

semua kelompok batik bisa mengadakan arisan, penyambutan tamu, dan pengajaran batik bagi tamu-tamu yang datang.

Foto. Gazebo dan ruang-ruang representasi Keberadaan Gazebo ini memungkinkan kedatangan tamu atau wisatawan dana jumlah yang semakin meningkat. Hal ini tidak lepas dari agenda program desa wisata Giriloyo yang dicanangkan Pemerintah Daerah Bantul tahun 2008. Pembentukan desa wisata mempunyai dampak yang sangat serius terhadap model pengembangan usaha batik. Melalui Gazebo ini, mereka membuat paket-paket belajar membatik bagi wisatawan maupun pelajar-pelajar yang berkunjung ke Giriloyo. Pengembangan produksi batik telah merambah ke ranah pendidikan. Tentu saja, hal ini menjadi alternatif ‘produk’ bagi pembatik. Dengan demikian, pembatik tidak lagi menjual batiknya saja, tetapi pengetahuan tentang membatik dan proses-prosesnya mempunyai nilai jual sendiri.

Program desa wisata dan pengakuan UNESCO terhadap batik menjadi tema sentral dalam wacana heritagisasi budaya (heritagezation).

Bendix (2009:253-263 dalam Hermiasih, 2012:

30) memperlihatkan, proses heritagisasi sebagai pembentukan suatu warisan (heritage) senantiasa diinstitusikan dan dijalankan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan politis ataupun ekonomis tertentu, dan nantinya selalu berimbas pada masyarakat setempat maupun otentisitas warisan budaya yang berkaitan. Hermiasih menunjukkan bagaimana politik heritagisasi ini

(13)

10

berjalan melalui permainan makna tradisionalitas pada batik bermotif tradisional dan “halus”.

Bu Giyarti (kelompok batik Sungsang) pernah bercerita bahwa pertengahan tahun 2011 sanggup membeli sepetak tanah di seberang Gazebo Keuntungan yang terkumpul beberapa tahun ini. Rencananya, mereka hendak membangun ruang pameran produk Batik Sungsang pada bidang tanah tersebut.

Menurutnya, langkah ini dilakukan agar lokasi mereka lebih dekat dari pintu masuk ke kompleks pembatik Giriloyo. Pak Nur Ahmadi (kelompok batik Sekar Arum) mempunyai rencana serupa. Ia bahkan rela menjual mobilnya untuk membeli tanah tepat di sebelah tanah Batik Sungsang tersebut.

Satu catatan penting yang bisa dibaca dari strategi-strategi mereka ialah Gazebo menjadi ruang perebutan yang sifatnya sangat visual.

Kedekatan dan ketampakan produk di sekitar Gazebo yang semakin ramai pengunjung menjadi ciri pemasaran produk batik mereka. Dengan demikian, Gazebo sebagai ruang politik visualisasi pemasaran justru mendorong kelompok- kelompok untuk bersaing atau ‘berebut’ wilayah- wilayah strategis. Dorongan ini lahir karena pertimbangan batik-batik yang siap dijual tidak perlu diangkut-antar dari rumah ke Gazebo maupun sebaliknya jika ada tamu rombongan datang. Dengan demikian, model penjualan menjadi bergantung pada intensitas kunjungan wisatawan atau konsumen batik. Selain itu, praktik heritagisasi justru bisa ditemukan dalam permainan visual, seperti menampilkan, menunjukkan, dan memberi sense kalem (warna tidak mencolok), dan visualitas lainnya.

Gazebo menjadi salah satu agenda heritagisasi batik tulis Giriloyo. Batik-batik yang dipamerkan maupun yang dijual melalui showroom merupakan batik kualitas ‘sedang’ dan

‘halus’. Sedangkan batik ‘kasar’ jarang mempunyai

‘ruang’ di showroom, pameran, maupun pesanan dari konsumen. Lantas kemana batik ‘kasar’?

Setiap hari Kamis di suatu pasar di Imogiri, ada beberapa pembatik menjual batik putihan ke sana. Sekitar jam 15.30 WIB, seorang juragan dengan satu orang yang siap mencatat setiap penjualan batik. Acara dibuka dengan diadakannya arisani bersama, tak lama berselang juragan datang dengan membawa kain serta makanan. Sementara juragan memeriksa hasil batikan, pembatik dipersilahkan untuk makan dan minum. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian upah dan menerima kain sebagai modal membatik lagi. Hasil batikan yang kurang rapi ataupun dirasa kurang lainnya dikembalikan kepada pembatik untuk dibenahi.

Kami menjumpai salah seorang pembatik yang dirinya mengaku bahwa tidak ikut dalam kelompok batik manapun. Ekspresi senyum semapai yang beliau tunjukkan seolah ingin menyembunyikan kekecewaannya. “Saya tidak masuk dalam kelompok pembatik,” tutur beliau. Saat penulis bertanya bagaimana dia bisa tidak masuk dalam pencatatan kelompok? beliau hanya tersenyum kembali. Lalu saat penulis bertanya bagaimana ibu memasarkan hasil batikan ibu? Ibu ini menjawab, “Saya menjadi buruh batik dari seorang Juragan Yogyakarta yang biasa datang ke sini”. Saat penulis melihat hasil batikan milik Ibu ini, ternyata beliau dapat dikategorikan sebagai pembatik kasaran, bisa jadi Ibu ini tidak termasuk dalam kelompok oleh karena hasil batikannya tidak masuk dalam kualifikasi standar batik yang bagus di Giriloyo. Kasus ini menjadi salah satu implikasi adanya heritagesasi batik tulis. Sebagian pembatik yang tidak mampu melayani kualitas batikan yang

‘halus’, yang secara tidak langsung distandarkan setelah adanya heritagesasi batik tulis, akhirnya harus mencari strategi lain. Kasus beberapa pembatik di atas, justru tetap ‘bertahan’ dengan model produksi batik putihan.

(14)

Jurnal RANAH | Tahun V, No. I, Maret 2017

11

PENUTUP

Bantuan-bantuan yang masuk ke Giriloyo sedikit banyak memang membantu warga desa tersebut untuk bisa bangkit dan mempunyai sarana baru bagi perekonomian desa. Jika dilihat dari sejarahnya, bantuan-bantuan hadir mewarnai dinamika pengembangan ekonomi batik, setidaknya sejak datangnya Dinas Perindustrian.

Bantuan-bantuan tersebut mencapai puncaknya setelah bencana gempa yang melanda Yogyakarta tahun 2006.

Bantuan yang masuk dan diterima oleh para pembatik Wukirsari memang mempunyai pengaruh yang besar dalam perubahan pola produksi dan perdagangan batik di Yogyakarta.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, relasi antara pembatik Wukirsari dan pengepul batik (juragan) mulai berkurang ketika pelatihan pewarnaan dan pembangunan Gazebo masuk ke Wukirsari.

Bantuan-bantuan yang masuk mengubah pola produksi batik yang semula sangat tergantung pada juragan dalam pewarnaan dan bahan baku, kini bisa memwarnai sendiri dan juga menyediakan bahan baku sendiri. Perubahan besar lain, pembatik bisa menjual hasil bathikan mereka sendiri dalam kelompok-kelompok maupun di showroom setelah adanya Gazebo.

Di samping itu, praktik heritagisasi yang dikembangkan dengan kerangka desa wisata sejak tahun 2009 justru bisa ditemukan dalam permainan visual, seperti menampilkan,

menunjukkan, dan memberi sense kalem (warna tidak mencolok), dan visualitas lainnya.

Visualisasi motif dan hasil batik yang semakin intensif mempunyai signifikansi yang nyata terhadap produksi batik, terutama strategi pemasaran. Showroom bukan semata-mata tempat, tetapi ruang yang memungkinkan visualisasi batik dan desa wisata dapat menjadi tampakan (gaze) yang menggambarkan situasi batik sebagai suatu warisan yang ‘khas’.

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, Heddy Shri (ed.). 2003. Ekonomi Moral, Rasional, dan Politik dalam Industri Kecil di Jawa: Esai-esai Antropologi Ekonomi. Yogyakarta.

Kepel Press

_____. 2016. “Kearifan Lokal dan Jatidiri Bangsa: Pengalaman Indonesia”,

Lembaran Antropologi Budaya, Vol.1, No.1 (April), hal: 4-11

Bendix, Regina. 2012. “Forget Inheriting—

Invest in Culture”, FF Network. 42, hal:

12-16

Escobar, Arturo. 1995. Encountering Development : The Making and Unmaking of The Third World. New Jersey: Princetown University Press.

Fiorentina, Shella. Sentra Batik Indonesia.

mengutip dari Jawa Pos, Senin 12 Oktober 2009. Diakses dari [www.digilib.its.ac.id/.../ITS- Undergraduate-13925-Chapter1- 339854.pdf] pada tanggal 22 Oktober 2012.

Hermiasih, Leilani. 2012. Ana Rega Ana Rupa:

Perubahan Sosial dan Pelestarian Nilai- nilai Batik Yogyakarta (Skripsi). Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada Indriyati, Juni. Enam Pengusaha Batik di

Sondakan: Studi Kasus Peranan Sosial Ekonomi Wanita di Laweyan, Surakarta (skripsi) Jurusan Antropologi Budaya UGM. 1990.

Jean, Couteau. 2013. Beberapa Catatan tentang Homogenisasi Budaya di dalam Dunia yang Mengglobal. Makalah disampaikan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia di Yogyakarta, 8-10 Oktober 2013

(15)

12

Latifudin, “Batik Tulis Giriloyo”, diakses dari [http://www.batiktulisgiriloyo.blogspot.c om /2009/06/asal-usul-batik-tulis- giriloyo.html#comment-form] tanggal 10 Oktober 2013

Raharjana, Destha. Siasat Usaha Kaum Santri:

Ekonomi Moral dan Rasional dalam Usaha Konfeksi di Mlangi, Yogyakarta.

Dalam Ahimsa-Putra. Ibid:61-138 Romadlon, M. Noor. “Arts (Batik) Under

Pressure”. dalam Jurnal Riset Daerah BAPPEDA Bantul, Vol.XI, No. 3, Des 2012, hal: 1893-1915

Sedjati, Djandjang Purwo. Sejarah Batik. Materi kuliah kelas Budaya dan Seni Indonesia kelas Batik. Format Power Point. 2012 Setyarini. Sistem Borongan Bagi Buruh Batik

Wanita: Studi Kasus di Perusahaan Batik Sumiharjo Yogyakarta (skripsi). Jurusan Antropologi Budaya UGM. 1994

Stephenson, Nina. 1993. “The past, present, and the future of javanesse batik: a

bibliographic essay” dalam Art

documentation: journal of the art libraries society of north America, vol. 12 No. 3 (Fall 1993), pp: 107-113

Sukanadi, I Made dan Arif Suharson, “Batik Bantul di Sentra Batik Giriloyo dan Wijirejo Bantul”, dalam Jurnal Riset Daerah BAPPEDA Bantul, Vol.XI, No.

3, Des 2012, hal: 1817-1831.

UNESCO. 2008. “Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention”.

Intergovernmental Committee for the Protection of the World Cultural and Natural Heritage

UNESCO. 2008. “Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention”.

Intergovernmental Committee for the Protection of the World Cultural and Natural Heritage

Wahid, Abdurrahman. 1981. Nilai-nilai Indonesia: Apakah Keberadaannya Kini?”, Prisma. No. 11, X. (Nov), hal: 3-8 Wirawan, Bintang. Industri Batik dan

Kewiraswastaannya: Kasus Kecamatan Kraton, Kotamadya Yogyakarta. Skripsi Jurusan Antropologi Budaya UGM. 1987

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap pelaksanaan antara lain: (1) memberikan soal pretest pada siswa kelas kontrol dan siswa kelas eksperimen, (2)

a) Peran Kepemimpinan pegawai departemen fasilitas umum dan penataan lingkungan PERUM PERURI berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari hasil setiap

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti sejauh mana pencapaian ekuitas merek RCTI dimata pemirsa ditengah – tengah persaingan yang semakin ketat di

diperoleh oleh investor untuk setiap lembar saham biasa yang mereka miliki, semakin tinggi nilai EPS , menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mampu memberikan tingkat

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

Setelah diketahui gambaran dari masing-masing kompetensi kedua kelompok sampel, selanjutnya dibandingkan untuk mengetahui adanya perbedaan kompetensi pedagogis antara

Gangguan penghidu pada penyakit sinonasal seperti rinosinusitis kronik atau rinitis alergi disebabkan inflamasi dari saluran nafas yang menyebabkan berkurangnya aliran udara

Sistem yang diusulkan adalah Rancang Bangun Sistem Informasi Nilai Rapor siswa Pada SMPN 7 Depok dengan fasilitas untuk data siswa, data nilai tugas, data nilai