• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEUNTUNGAN USAHATANI PADI SAWAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KEUNTUNGAN USAHATANI PADI SAWAH"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEUNTUNGAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA OMBOLATA KECAMATAN LAHEWA

KABUPATEN NIAS UTARA

Ivan Trisman Harefa (ivannaqniaz@gmail.com)

Fakultas Ekonomi Universitas Pelita Bangsa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kabupaten Nias Utara adalah salah satu Kabupaten yang berada di provinsi Sumatra Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Nias Induk/Kota. Disini saya akan membahas dari sektor pertanian untuk Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara sendiri. Kabupaten Nias Utara mempunyai potensi yang cukup besar dalam mengembangkan produksi padi salah satunya Kecamatan Lahewa, padi merupakan sumber pendapatan sebagian besar penduduk disamping kegiatan lainnya. Hal ini tidak terlepas dari adanya peranan pemerintah setempat yang senantiasa memberikan bimbingan dan bantuan kepada para petani agar produksinya dapat ditingkatkan supaya pandapatan usaha padi juga meningkat. Petani padi sawah di untuk Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara selama ini belum ada suatu analisis tentang usahan tani padi sawah apakah menguntungkan atau tidak, walaupun bagi petani setempat tetap dilakukan karena menurut mereka menguntungkan. Sehubungan dengan uraian diatas, maka penulis terinspirasi untuk mengkaji lewat kajian empirik dengan judul : “Analisis Keuntungan Usaha tani Padi Sawah di untuk Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut, maka dirumuskan masalah sebagai berikut :

Apakah usahatani padi sawah memberikan keuntungan rata-rata yang signifikan untuk Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Berkaitan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keuntungan rata-rata yang signifikan dari usahatani padi sawah di untuk Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut: 1. Sumber informasi bagi petani padi sawah guna meningkatkan produksi dan keuntungan. 2. Bahan informasi bagi pemerintah dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan

usahatani padi sawah.

(2)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Teori Produksi

1. Ekonomi Produksi Pertanian

Ilmu ekonomi mikro adalah Ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dan masyarakat dalam mempergunakan sumber daya yang langka untuk diproduksi dan di distribusi kembali ke masyarakat. Mikro yaitu studi, tentang hal-hal yang terinci yang ada pada setiap pasar dan hubungan antar pasar-pasar itu.

Mengapa kita perlu belajar ilmu ekonomi?

Terdapat banyak alasan kenapa mempelajari ilmu ekonomi, diantaranya : a. Mempelajari kerangka berpikir

b. Memahami masyarakat

c. Memahami permasalahan global d. Menjadi pemberi suara berpengetahuan

Apa yang tidak jadi kita lepaskan saaat menentukan suatu pilihan atau mengambil keputusan merupakan biaya peluang dari keputusan itu. Biaya peluang adalah apa yang kita korbankan atau lepaskan, bila kita memilih atau mengambil keputusan.

2. Pengertian Usahatani

Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tubuh tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan diatas tanah dan sebagainya. Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam atau memelihara ternak.

Dalam ekonomi pertanian dibedakan pengertian produktivitas dan pengertian

produktivitas ekonomis daripada usahatani. Dalam pengertian ekonomis maka letak atau jarak usahatani dari pasar penting sekali artinya. Kalau dua buah usahatani yang lebih dekat dengan pasar penting sekali artinya. Kalau dua buah usahatani mempunyai produktivitas fisik yang sama, maka usahatani lebih dekat dengan pasar mempunyai nilai lebih tinggi karena

produktivitas ekonominya lebih besar.

3. Pengertian Laba (Profit)

Laba merupakan selisih antara pendapatan (penerimaan) kotor dan pengeluaran total (biaya total). Beberapa ahli mendefinisikan laba sebagai berikut: Menurut Ahyari (1981 : 205) bahwa laba adalah penerimaan bersih yang diterima pemilik usaha setelah semua biaya usaha dikeluarkan. Selanjutnya Adiwijaya (1982:168) menyatakan bahwa laba yang diperoleh seorang petani dari usahanya dapat berubah selisih lebih dalam perbandingan antara neraca pada permulaan usahanya dengan neraca pada akhir usahanya.

Menurut (Tohir,1980:213) secara matematis laba (profit) dapat di tulis sebagai berikut: Profit (�) = TR - TC

Karena TR = f (Y) dan TC = (Y), maka � = f (Y) Keterangan:

Profit = Laba yang diperoleh dari suatu satuan unit produksi.

TR = Total revenue (total penerimaan produsen dari hasil penjuakan inputnya dikaitkan harga jual) TC = Total cost (total biaya yang merupakan penjumlahan dari biaya tetap maupun tidak tetap) Y = Jumlah output (variable pilihan)

(3)

4. Hasil dan Biaya Produksi

Sebelum lebih lanjut perlu kita bedakan arti dan istilah yang sering digunakan secara serampangan, hasil dan produksi. Pada prinsipnya “hasil” merupakan terjemahan dari kata yield, yaitu keluaran (output) yang diperoleh dari penggunaan input produksi (sarana produksi) dari suatu usaha tani. Sedangkan produksi merupakan terjemahan dari kata production, yang merupakan sejumlah hasil dalam satu lokasi dan waktu tertentu. Tetapi dalam penggunaannya selama ini sering mengalami kerancuan, disadari karena ini sudah merupakan kebiasaan dan tiak ada atau jarang ada yang membantahnya. Pada setiap akhir panen petani akan menghitung berapa hasil bruto yang diperolehnya. Semuanya kemudian dinilai dalam uang.tetapi tidak semua hasil ini diterima oleh petani. Hasil itu harus dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkannya untuk biaya usaha tani seperti bibit, pupuk, obat-obatan, biaya pengolahan tanah, upah menanam, upah membersihkan rumput dan biaya panenan yang biasanya berupa bagi hasil (in natura). Setelah semua biaya tersebut dikurangkan barulah petani memperoleh apa yang disebut hasil bersih atau keuntungan. Biaya produksi adalah sebagai koompensasi yang diterima oleh para pemilik factor-faktor produksi, atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun tidak tunai. Menurut :

- Suparmoko (1998 : 83) berpendapat bahwa biaya produksi adalah nilai dari semua masukan (input) yang digunakan dalam proses produksi.

- Doll dan Orazem (1998 : 28) berpendapat bahwa biaya produksi adalah nilai dari semua faktor produksi yang digunakan, baik dalam bentuk benda maupun jasa selama proses produksi berlangsung.

Dalam analisis ekonomi, biaya diklasifikasikan ke dalam beberapa golongan sesuai dengan tujuan spesifik dari analisis yang dikerjakan, yaitu sebagai berikut:

1. Biaya-biaya yang berupa uang tunai, misalnya upah kerja untuk biaya persiapan atau penggarapan tanah, termasuk upah untuk ternak, biaya untuk membeli pupuk, pestisida dan lain-lain.

2. Biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya sewa atau bunga tanah yang berupa uang. Sedangkan biaya variable adalah biaya yang besar kecilnya berhubungan langsung dengan besarnya produksi, misalnya pengeluaran-pengeluaran untuk bibit, pupuk dan sebagainya. 3. Biaya rata-rata marginal. Biaya rata-rata adalah hasil bagi antara biaya total dengan jumlah

produk yang dihasilkan. Sedangkan biaya marginal adalah biaya tambahan yang dikeluarkan petani/ pengusaha untuk mendapatkan tambahan satu-satuan produk pada suatu tingkat produksi tertentu.

B. Faktor Produksi

Faktor produksi dalam usaha pertanian mencakup tanah, modal dan tenaga kerja. Sebagian ahli berpendapat dan memasukan factor keempat, yaitu manajemen atau pengelolaan (skill) kedalam faktor produksi. Dua pendapat ini sebenarnya tidak perlu jadi masalah dan untuk lebih jelasnya kita bahas lebih lanjut dalam bab berikutnya. Dua-duanya benar dan dapat dipakai, tergantung sekarang yang mana yang akan kita pilih atau kita gunakan.

(4)

Faktor-faktor yang dimaksud adalah : a. Alam

Alam merupakan semua kekayaan yang terdapat di alam untuk dimanfaatkan dalam proses produksi, karena sudah begitu saja ada pada kita dan sejak dulu dimanfaatkan untuk produksi, maka SDA ini termasuk faktor produksi yang meliputi tanah, air, iklim, udara, dan sebagainya.

b. Tenaga Kerja

Dalam ilmu ekonomi (Daniel, 2002 : 86) yang dimaksud tenaga kerja adalah suatu lat kekuatan fisik dan otak manusia yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukan pada usaha produksi. Tenaga kerja ternak atau traktor bukan termasuk faktor tenaga kerja, tetapi termasuk modal yang menggantikan tenaga kerja.

c. Modal

Modal/Kapital mengandung banyak arti, tergantung pada penggunaannya. Dalam arti sehari-hari, modal sama artinya dengan harta kekayaan yang dimilki seseorang yaitu semua harta berupa uang, tanah, mobil, dan lain sebagainya. Menurut Von Bohm Bawerk (Daniel, 2002 : 74), arti modal modal atau kapital adalah segala jenis barang yang dihasilkan dan dimiliki masyarakat, disebut dengan kekayaan masyarakat. Sebagian kekayaan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan sebagian lagi digunakan untuk memproduksi barang-barang baru dan inilah yang disebut modal masyarakat atau modal sosial.

d. Keahlian (Skill)

Yang dimaksud dengan keahlian atau skill adalah manajemen atau kemampuan petani menentukan manfaat pengunaan faktor produksi dalam perubahan teknologi, sehinga usaha tani yang dikelolanya dapat memberikan hasil (output) yang lebih baik. Oleh karena itu kapada para petani harus diberikan penyuluhan dalam menggunakan dan memanfaatkan faktor-faktor produksi pada saat muncul teknologi baru yang dapat diterapkan dalam melakukan usaha tani, yang dapat menyebabkan biaya produksi dapat ditekan dan dapat meningkatkan produksi.

C. Fungsi Produksi

Di dalam ekonomi kita kenal apa yang disebut fungsi produksi yaitu suatu fungsi yang menunjukan hubungan antara hasil produksi fisik (output) dengan faktor-faktor produksi (input). Dalam bentuk matematika sederhana fungsi produksi ini dituliskan sebagai berikut :

Y = f ((�1, �2………. ��)

Di mana : Y = adalah hasil produksi fisik

�1 …… ��= faktor-faktor produksi

Berdasarkan fungsi diatas, petani dapat melakukan tindakan yang mampu meningkatkan produksi (Y) dengan cara berikut:

1. Menambah jumlah salah satu dari input yang digunakan.

2. Menambah beberapa jumlah input (lebih dari satu) yang digunakan.

(5)

Misalnya untuk menganalisa hubungan antara produksi padi dengan tanah harus kita anggap modal dan tenaga kerja sebagai faktor produksi yang tetap (konstan). Dalam bentuk grafik fungsi produksi merupakan kurva melengkung dari kiri bawah ke kanan atas yang setelah sampai titik tertentu kemudian berubah arah sampai titik makimum. Dan kemudian berbalik turun kembali. Hubungan fungsional seperti yang digambarkan di atas berlaku untuk semua faktor produksi yang telah disebut yaitu tanah, tenaga kerja dan modal, disamping faktor produksi keempat yaitu manajemen (koordinasi atau entrepreneurship) yang berfungsi mengkoordinasikan ketiga faktor produksi yang lain sehingga benar-benar mengeluarkan hasil produksi (output).

D. Efisiensi Penggunaan Input

Pengertian “efisiensi” sangat relative. Dalam tulisan yang disajikan di sini, efisiensi diartikan sebagai upaya penggunaan input yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya. Situasi yang demikian akan terjadi kalau petani mampu membuat suatu upaya kalau nilai produk marginal (NPM) untuk suatu input sama dengan harga input (P) tersebut menurut (Soekartawi, 1995 : 48) dapat dituliskan:

NPMx = Px; atau = 1

Dalam banyak kenyataan NPMx tidak selalu sama dengan Px yang sering terjadi adalah sebagai berikut:

a. (NPMx/Px) > 1; artinya penggunaan input X belum efisien. Untuk mencapai efisien, input X perlu ditambah.

b. (NPMx/Px) < 1 ; artinya penggunaan input X tidak efisien. Untuk mejadi efisien, maka penggunaan input X perlu dikurangi.

E. Definisi Konsepsional

Sesuai dengan judul penelitian yaitu analisis keuntungan usahatani padi sawaah di Desa Labangka Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara, agar tidak terjadi kesalahan dalam persepsi terhadap variable-variabel yang digunakan maka perlu diberi batasan-batasan sesuai dengan konsep atau teori yang sudah ada. Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan (penerimaan) kotor dan pengeluaran total (biaya total). Beberapa ahli mendefinisikan keuntungan sebagai berikut : Menurut Ahyari (1981 : 205) bahwa Keuntungan adalah penerimaan bersih yang diterima pemilik usaha setelah semua biaya usaha dikeluarkan. Selanjutnya tingkat keuntungan usahatani menurut Soekartawi (1991 : 48), diukur dengan pendapatan bersih usahatani. Besarnya penerimaan di dapat

y Produksi Fisik

Faktor Produksi Tanah x

0

Px

(6)

dari penjualan hasil produksi dan biaya yang di keluarkan untuk suatu proses produksi menunjukan keuntungan petani. Keuntungan petani yang besar ini di dapat pada tingkat produksi yang memberikan selisih yang besar antara penerimaan dengan biaya produksi.

Menurut (Tohir, 1980 : 213) secara matematis keuntungan (profit) dapat di tulis sebagai berikut :

Profit (�) = TR –TC

Karena TR = f (Y) dan TC = (Y), maka � = f (Y) Keterangan :

Profit = Keuntungan yang diperoleh dari suatu satuan unit produksi.

TR = Total Revenue (total penerimaan produsen dari hasil penjualan inputnya dikalikan dengan harga jual).

TC = Total Cost (total biaya yang merupakan penjumlahan dari biaya tetap maupun tidak tetap). Y = Jumlah Output (variable pilihan).

� = Penghasilan bersih

Keuntungan yang diperoleh seorang petani dari usahanya dapat berubah selisih lebih dalam perbandingan antara neraca pada permulaan usahanya dengan neraca pada akhir usahanya (Adiwilaga, 1982 : 168). Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alamyang terdapat di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tubuh tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunanyang didirikan diatas tanah dan sebagainya. Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam matau memelihara ternak.

Penerimaan pada bidang pertanian adalah produksi yang dinyatakan dalam bentuk uang sebelum dikurangi dengan biaya pengeluaran selama kegiatan usaha (Mosher, 1987) Biaya Produksi adalah nilai dari semua faktor produksi yang digunakan, baik dalam bentuk benda maupun jasa selam proses produksi berlangsung. Pembagian biaya produksi berdasarkan sifatnya terdiri dari:

1. Biaya tetap (fixed cost) ialah biaya yang tidak ada kaitannya dengan jumlah barang yang diproduksi seperti alat pertanian dan tenaga kerja.

2. Biaya tidak tetap (variable cost) ialah biaya yang berubah apabila luas usahanya berubah.

F. Kerangka Pikir

Peningkatan kesejahteraan masyarakat dilakukan melalui pembangunan di berbagai bidang, salah satunya pembangunan di bidang pertanian. Hal ini Nampak semakin digallakkannya pembangunan di bidang pertanian utamanya sub sektor pangan. Salah satu sub sektor pangan adalah usahatani padi sawah. Petani dalam melakukan proses produksi (Q) untuk menghasilkan output, diperlukan biaya pengeluaran-pengeluaran (TC) yang digunakan dalam mempertahankan kelangsungan proses produksi tersebut. Besarnya produksi padi (Q) ditentukan dari penggunaan faktor-faktor produksi seperti bibit, pupuk, tenaga kerja dan lahan serta pengolahan. Biaya Produksi (C) adalah banyaknya penggunaan faktor-faktor produksi dikali dengan harga masing-masing harga produksi, ditambah dengan biaya tetap seperti penyusustan alat-alat yang digunakan seperti: cangkul, parang, sprayer, arit dan lain-lain. Nilai produksi yang merupakan penerimaan kotor (TR) petani adalah banyaknya produksi (Q) dikali dengan harga jual (P). Selisih antara penerimaan kotor (TR) dengan biaya total (TC) adalah keuntungan (�) usahatani padi yang di peroleh petani.

G. Hipotesis

(7)

BAB III

METODE PENELITAN A. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Dalam memahami isi penelitian ini, maka akan dikemukakan definisi operasional variable yang ada kaitannya dengan judul ini.

1. Produksi (Q) adalah jumlah produk yang dihasilkan petani padi berupa gabah kering giling (GKG) yang diukur dengan kilogram (Kg) untuk satu kali panen.

2. Biaya (C) adalah jumlah pengeluaran yang dikeluarkan petani secara riil dalam menghasilkan padi yang diukur dengan Rupiah (Rp). Biaya usaha tani diklasifikasikan menjadi dua yaitu : Biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (Variable cost).

3. Pendapatan bersih petani (�) adalah jumlah uang yang diterima petani padi dari hasil penjualan gabah setelah dikurangi biaya yang dikeluarkan dalam setiap kegiatan produksi yang diukur dalam rupiah (Rp).

4. Keuntungan adalah selisih antara penerimaan kotor dengan seluruh biaya produksi usahatani padi sawah di Ombolata untuk sekali musim tanam.

B. Unit Analisis, Populasi Dan Sample 1. Unit Analisis

Pengambilan sampel yang digunakan adalah Sistem Acak Sederhana (Simple Random Sampling). Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa setiap responden mempunyai kesempatan yang sama dijadikan sampel, dengan tingkat kepercayaan 90%.

2. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek yang akan diteliti, yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua petani padi sawah yang bertani padi sawah di Desa Ombolata Kecamatan Lahewa yang jumlahnya 66 orang.

3. Sampel

Sampel adalah objek yang diambil dengan cara mereduksi objek penelitian yan dianggap representatif terhadap populasi. Penentuan besarnya sampel digunakan rumus (Slovin, 2000 : 164) sebagai berikut :

Dimana : N = populasi n = jumlah sampel d = kesalahan baku

n =

n =

n =

n = 661,66

n = 39,75 atau dibulatkan = 40

� 1+ )(�2

66 1+66 0,1 2

(8)

Dari hasil perhitungan di atas dapat di buat data berdasarkan Strata dan Luas Lahan Pertanian yang dimiliki oleh petani di Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara.

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer diperoleh dengan cara pengamatan langsung di lokasi penelitian dan mengadakan wawancara kepada petani responden dengan berpedoman pada daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disusun sesuai dengan tujuan penelitian sedangkan data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan, laporan instansi-instansi terkait dan data dari kantor kelurahan atau sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini. Sumber data berasal dari Kelompok Tani Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara

D. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa :

a. Observasi, yaitu cara pengumpulan data dengn mengamati langsung dilapangan. Teknik ini dilkukan melalui dua jalur yaitu observsi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi langsung adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung ditempat kejadian. Observasi tidak langsung adalah pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala pada obyek yang dilakukan secara langsung di tempat kejadian. Observasi tidak langsung adalah pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala pada obyek penelitian yang pelaksanannya tidak secara langsung pada obyeknya.

b. Dokumentasi yaitu cara pengumpulan data dengan jalan mengumpulkan data melalui keterangan secara tertulis yang merupakan dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian.

c. Wawancara langsung dengan pihak yang berkompeten.

d. Kuisioner yaitu suatu teknik atau alat pengumpulan data dengan jalan mengajukan daftar pertanyaan mengenai masalah yang hendak diteliti kepada responden untuk dijawab.

E. Alat Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Analisis besarnya keuntungan usaha tani, menurut Tohir (1980 : 213) yakni :

� = TR – TC

= P. Q – TFC -TVC Dimana :

� = keuntungan usahatani padi sawah TFC = biaya tetap

TVC = biaya variable P = harga gabah kering Q = produksi padi sawah

Untuk mengetahui nilai rata-rata digunakan rumus (Sri Mulyo, 1988 : 190) sesuai dengan penelitian :

�1 =

� � 1 =

Dimana :

� � = rata-rata pendapatan kotor

Σ� 1

�� 1

(9)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Jarak Desa Ombolata dengan ibukota kecamatan sekitar 11 kilometer dengan waktu tempuh selama kurang lebih setengah jam. Sedangkan jarak ke ibukota kabupaten sekitar 50 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih selama satu setengah jam. Batas-batas administrasi Desa Ombolata adalah Desa Marafala di sebelah utara, Desa Tureloto di sebelah selatan, Desa Hiligawolo di sebelah barat, dan Desa Gedombu di sebelah timur. Secara keseluruhan luas wilayah Desa Ombolata adalah sekitar1.040,02 hektar yang terdiri atas 116,87 hektar (13.81%) lahan yang telah digunakan dan sekitar 918 hektar merupakan (86.19%) lahan terlantar. Gambaran secara rinci mengenai luas Desa Labangka

berdasarkan penggunaan lahan ditunjukkan dalam Tabel a berikut :

Tabel a. Penggunaan Lahan diDesa Labangka Menurut Luas Lahan

Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase

Sawah Irigasi Teknis 24.61 4.1

Sawah Tadah Hujan 24.45 3.53

Pemukiman Umum 60 5.69

Pasar 1.2 0.02

Tempat Ibadah 1.17 0.02

Kuburan/Makam 3.7 0.17

Tempat Rekreasi dan Olahraga 1.92 0.09

Perkantoran Pemerintahan 1.74 0.07

Sekolah/lainnya 3.23 0.12

Lahan Terlantar 918 86.19

Sawah Irigasi Teknis 24.61 4.1

TOTAL 1,040.02 100.00

Sumber : Profil Desa Ombolata 2013.

Topografi wilayah Desa Ombolata berada pada ketinggian 0-150 m diatas permukaan laut (dpl).Dengan tingkat lereng 15-40 % tersebar di wilayah bagian barat sedangkan bagian Timur memiliki tingkat lereng 0 – 5 persen.Suhu rata-rata di Labangka tahun 2009 berkisar antara 250C dengan kecepatan angin rata-rata 3 knot/jam.Curah hujan merupakan factor penting dalam pembentukan iklim suatu wilayah. Curah hujan pada tahun 2011 yang dilaporkan dari 4 pos pengamatan di kecamatan rata-rata tercatat 221,75 mm, sedang rata-rata hari hujan pada tahun 2011 adalah 12 hari per bulan.

B. Keadaan Penduduk

(10)

Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah penduduk di desa Labangka sebanyak 1.724 jiwa yang terdiri dari 884 orang laki-laki dan 840 orang perempuan. Persentase jumlah penduduk Desa Labangka berdasarkan

jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel b sebagai berikut :

Tabel b Persentase Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di desa Omobolata Kecamatan Lahewa , Kabupaten Nias Utara

No Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 Laki-laki 884 51

2 Perempuan 840 48

Jumlah 1.724 100.00

Sumber :Profil Desa Ombolata, 2013

Berdasarkan data pada Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa persentase perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan, dimana penduduk laki-laki hampir sebanding dengan jumlah penduduk perempuan. Selisih jumlah penduduk laki-laki dan perempuan adalah 44 jiwa atau sebesar 2,52 %.

Status Usahatani Padi Sawah

Status Usahatani padi sawah, dalam artian apakah usahatani padi sawah merupakan mata pencaharian utama atau sampingan, akan mempengaruhi sikap petani dalam menentukaan komoditi usahatani mana yang akan menjadi prioritas (fokus) yang mendapat perhatian atau alokasi sumberdaya yang relatif lebih besardan yang lebih kecil. Petani yang bermata pencaharian utama usahatani padi sawah akan lebih memfokuskan pekerjaan atau sumberdayanya terhadap usahatani padi sawah, sehingga petani akan lebih mengusahakan peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah daripada komoditi yang menjadi usahatani sampingan. Seluruh petani yang menjadi responden menyatakan bahwa mereka memilih berusahatani padi sawah sebagai mata pencaharian utama sehingga sumberdaya yang dimiliki petani dialokasikan terutama untuk usahatani padi sawah.

Pekerjaan Sampingan

Jenis pekerjaan sampingan yang dimiliki petani akan berpengaruhterhadap pendapatan tambahan yang diperoleh rumah tangga, sehingga tingkat pendapatan tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas usahatani.Pendapatan dari pekerjaan sampingan akan digunakan sebagai tambahan modal dalam penyediaan sarana produksi yang lebih banyak sehingga hasil produksiyang diperoleh akan lebih besar. Selain bertani, responden pada umumnya tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan rumah tangga karena tidak mempunyai keahlian lain selain bertani. Sehingga sumber pendapatan yangmenjadi penunjang usahatani padi sawah adalah dengan dengan berkebun tetapi umumnya tidak dikelola secara baik atau tidak diusahakan secara kontinyu.

Keputusan Bertani Padi Sawah

(11)

dalamberusahatani diambil sendiri dengan kebebasan berdasarkan pemahaman danpengalaman petani dan tidak terikat dengan aturan atau adat istiadat setempat.Segala usaha yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas usahatani terutama padi sawahakan dilakukan petani sesuai dengan kemampuan sumberdayanyatanpa dipengaruhi faktor adat istiadat setempat.

Kondisi Tempat Tinggal

Rumah dikatakan layak sebagai tempat tinggal apabila rumah tersebut mempunyai atap, dinding dan lantai.Salah satu indikasi rumah sehat lainnya adalah kualitas rumah tinggal. Pada tahun 2013, persentase rumah tangga di Desa Ombolata yang bangunan rumahnya permanen sebesar 28,38 persen, sedangkan yang tidak permanen sudah tidak ada lagi. Yang paling banyak adalah bangunan rumah semi permanen dimana jumlahnya mencapai 71,62 persen. Sumber air minum tampaknya mengalami peningkatan di Desa Ombolata hal ini terlihat dari persentase rumah tangga dengan sumber air minum pompa listrik/tangan naik menjadi 33,33persen pada tahun 2011, dimana pada tahun 2010 persentasenya sebesar 30,00 persen.Yang terbesar persentase rumah tangga menggunakan air hujan (41,67 persen) naik dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 40,00 persen. Sedangkan air sungai/danau dan mata air pada tahun 2011 sudah tidak digunakan oleh rumah tangga.

Budidaya Tanaman Padi Sawah

Kegiatan berusahatani padi sawah di Desa Ombolata dilakukan mulai dari kegiatan persiapan lahan dalam dengan mengolah lahan pada saat datangnya musim hujan sekitar bulan Desember tergantung perkiraan petani berdasarkan pengalamannya sampai dengan masa panen sekitar bulan April.Kegiatan berusaha tani padi sawah di Desa Ombolata umumnya dilakukan dengan sistem tanam gilir balik.Varietas padi sawah yang digunakan petani adalah jenis Inpari.Berdasarkan pengalaman petani di Desa Ombolata varietas padi sawah jenis Inpari dapat memberikan hasil yangrelatif lebih tinggi jika ditanam di lahan kering daripada varietas padi sawahlainnya.Varietas jenis Inpari (IR64) juga dianggap sesuai dengan kondisi tanah daniklim di Desa Ombolata oleh para petani.

Persiapan Lahan

Pada pengolahan pertama, mencangkul dilakukan sedemikian rupasehingga tanahnya terbalik, yaitu yang semula di atas atau di permukaan menjadidi bagian bawah dan demikian sebaliknya yang semula di bagian bawah menjadidi bagian atas.Kemudian disemprot dengan obat pembasmi rumput pada tumbuhan yang kecil seperti ilalang. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mematikan dan membusukkanrerumputan yang semula terdapat di permukaan tanah dan kemudian akan terbenam ke bagian bawah tanah. Pembalikan tanah bagian bawah ke atasbertujuan untuk menganginkan tanah memberikan kesempatan bagi tanah untukmelepaskan racun-racun yang sangat mungkin terbentuk dalam tanah.Keadaaan ini dibiarkan selama dua minggu hingga rerumputan yang terbenam dianggapsudah membusuk atau melapuk dan racun-racun yang ada sudah menguap keudara.

Penanaman

(12)

penanaman palawija setelah panen padi yang tidak mencukupisehingga setelah masa panen padi sawah para petani lebih banyak yangmemberakan lahannya untuk kemudian ditanami padi lagi pada musim hujan berikutnya.

Pemupukan

Pemupukan sangat perlu dilakukan untuk memperoleh hasil gabah yangmaksimal terutama di lahan kering.Pertanaman padi sawah yang ideal yaitu yang mampu menghasilkan padi dalambentuk gabah kering sebanyak 4 ton per hektar.Agar lahan tetap subur dan hasil gabah tetap tinggi tanaman harus dipupuk.

Pengendalian Hama

Pengendalian hama dilakukan untuk mencegah atau membasmi hama dan penyakityang menyerang tanaman padi sawah. Pengendalian hama adalah pekerjaan yang paling sulit bagi petani karena serangan hama yang susah diprediksi dan jenis hama yang menyerang tanaman bermacam-macam, karena lahan pada umumnya berada pada pinggir hutan maka jenis hama bisa berupa binatang hutan seperti babi, monyet, tikus dan binatang lainnya. Jenis serangga seperti ulat, walang sangit dan belalang biasanya menggunakan pestisidaseperti :Matador dan V3 atau jenis lainnya tergantung pada jenis hama yang menyerang. Serangan hama tikusbiasanya menggunakan racun tikus seperti timex atau tablet racun tikus. Hama babi dan monyet biasanya di basmi dengan cara dihalau atau dibuatkan perangkap dan kadang-kadang juga menggunakan racun. Hama burung pipit dapat dihindari dengan menanam serentak tetapi bila ada serangan burung pipit dapat dihalau dengan kentongan-kentongan berupa kaleng bekas yag di gantung sekitar tanaman dan diberi tali agar dapat dibunyikan dari pondok cara lain adalah menakut-nakuti burung pipit dengan membentangkan tali-tali nilon diatas hambaran lahan.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu tanaman utama (padi sawah). Proses penyiangan dilakukan sekitarsebulan setelah benih ditanamkan atau ditugalkan dengan menggunakan sabit dan cangkul. Pada periode ini benih mulai bertumbuh sehinggapertumbuhan tanaman pengganggu seperti rerumputan, semak belukar, akanmenjadi saingan berat bagi tanaman utama dalam memperoleh unsur hara daridalam tanah bahkan dapat mematikan tanaman utama, atau gulma jika tidaksegera dimusnahkan.Agar padi dapat tumbuh dengan baik dan tidak kekurangan zat makanan maka gulma atau tanaman pengganggu harus dibuang.Cara yang dilakukan adalah dengan mencabut rumput atau gulma tersebut atau disemprot dengan herbisida (obat pembunuh gulma/rerumputan).

Pemanenan

(13)

Hambatan-Hambatan Dalam Usahatani Padi Sawah

Hasil wawancara dengan responden, hambatan-hambatan yang dihadapi petani di

Desa Ombolata adalah faktor alam misalnya curah hujan yang sangat sedikit sehingga terkadang Padi kekeringan. Hal lain yang berhubungan dengan serangan hama baik yang berupa binatang maupun berupa serangga dan jenisnya bermacam-macam. Hambatan lainnya adalah membeli saprodi seperti bibit, obat-obatan dan pupuk dengan harga yang cukup tinggi.Pemasaran hasil produksi juga merupakan hambatan karena harga jual yang tidak menentu sehingga tidak member suatu rangsangan bagi petani untuk berproduksi yang lebih besar.

Bibit

Bibit atau benih padi yang digunakan para petani padi sawah pada umumnya adalah jenis lokal yan dipersiapkan sendiri oleh petani dari panenan sebelumnya, jenis-jenis tersebut dalam istilah setempat antara lain jenis IR64. Harga bibit tersebut berkisar antara Rp. 9.000,- hingga Rp. 10.000,-per kilogram.

Produksi

Hasil produksi usahatani padi sawah di Desa Labangka, pada umumnya adalah satu kali setahun, biasanya mulai dari bulan Desember sampai April setiap tahun atau bertepatan dengan musim hujan.

Laba

Laba adalah keuntungan yang diperoleh oleh petani padi sawah di Desa Ombolata, Lahewa selisih dari penerimaan kotor atau TR dikurang seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani mulai dari perintisan hingga panen dalam satu musin tanam.

Analisis

Analisis dan pengujian hipotesis diperlukan untuk memecahkan permasalahan yang

telah dikemukakan pada bab terdahulu setelah semua data dan informasi yang diperlukan sudah tersedia guna menguji hipotesis yang telah diajukan.

Pembahasan

(14)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan dapatdisimpulkan sebagai berikut : Usahatani padi sawah di Desa Ombolata memberikan keuntungan rata-rata yang signifikan bagi petani yang ada di Desa Ombolata Kecamatan Lahewa Kabupaten Nias Utara dan rata-rata kelayakan usahatani di daerah penelitian telah layak untuk dikembangkansehingga penelitian ini dapat dilanjutkan.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian maka peneliti menyarankan sebagai berikut:

1. Usahatani padi sawah lebih ditingkatkan lagi supaya dapat memberikan keuntungan yang maksimal dengan cara mengoptimalkan penggunaan benih, pupuk, obat-obatan hama dan perawatan tanaman.

2. Menambah penggunaan modal dalam usahatani padi sawah di Desa Ombolata Kecamatan Lahewa, dengan cara instansi terkait menambah besaran bantuan pinjaman (kredit) pada kelompok tani di Desa Labangka sehingga para petani dapat memproduksi padi sawah dengan kualitas maksimal.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PPT) Padi. Departemen Pertanian.

Pembangunan Pertanian: Paradigma, Kinerja dan Opsi Kebijakan.

Budiono. 2002. Pemupukan di Lahan Sawah. Puslittanak, Badan Litbang Pertanian BPS (Badan Pusat

Statistik) 2011.

Ghozali, Imam. 2008. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Undip Press.

Haryadi. 2008. Teknologi Pengolahan Beras. Universitas Sumatera Utara

Hidayat, Hamid. 2002. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian Medan

Husein Umar, 2003. Metode Penelitian. Salemba Empat. Jakarta.

Kasryno, Faisal. 1996. Meningkatkan Pemanfaatan Sumber Daya Pertanian dan

Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Menuju Era Globalisasi Ekonomi, Litbang Pertanian,

Jakarta.

Kustiawati Ningsih, 2010. Analisis Resiko Produksi dan Efisiensi Alokasi Sumberdaya

Mubyarto. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.

Muhammad, Nur. 2009. Tingkat Pengaruh Berbagai Faktor Terhadap Produksi Padi Sawah di

Kecamatan Lahewa, kabupaten Nias Utara Provinsi Sumatera Utara

Santoso, S. 2000. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Sastraadmaja, Entang. 1984. Ekonomi Pertanian Indonesia. Angkasa Anggota IKAPI.

Ilmu Usaha Tani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil.

(16)

Gambar

Tabel a. Penggunaan Lahan diDesa Labangka Menurut Luas Lahan
Tabel b Persentase Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di desa Omobolata Kecamatan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari analisis leverage attributes atau atribut sensitif pada dimensi sosial yang memiliki nilai RMS ≥ 2% yaitu, pengetahuan tentang usahatani komoditas

Dengan adanya pendidikan pancasila saya menyadari bahwa ini sangat penting untuk menunjang kehidupan saya untuk lebih memperhatikan norma-norma yang berlaku pada

Dari hasil penelitian, pengolahan citra, perancangan, pembuatan, dan pengujian sistem pada penelitian ini, didapatkan simpulan bahwa metode learning vector

dilandasi dengan sumberdaya lokal. Melalui pengembangan potensi yang ada diharapkan upaya pemerintah daerah dalam memberdayakan masyarakat khususnya industri batik

Persegi panjang merupakan benda simetris karena mempunyai garis lipatan yang dapat mempertemukan sisi-sisi luarnya dengan tepat.. Sedangkan jajargenjang bukan merupakan

Perbedaan usia yang sangat jauh diantara mereka membuat mereka memiliki perbedaan dalam cara berpikir, Chen Meng yang ingin menjadi wanita karir dan merasa

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab persoalan mengenai bagaimana analisis hukum Islam praktek sewa jasa angkutan umum pick up yang keberadaannya tidak

Data yang ditemukan peneliti berkaitan dengan faktor-faktor yang dijadikan sebagai alasan dalam mengajukan gugatan cerai atas suaminya di pengadilan agama