• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Menurut Badan Pusat Statistik Nasional, pada tahun 2007, terdapat 82.840.600 anak berkebutuhan khusus diantara 231.294.200 anak Indonesia. (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010). Pada tahun 2010, jumlah penyandang tunarungu diperkirakan sebesar 1,25 persen dari total jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 2.962.500 jiwa. (Utono, 2012).

Dibandingkan anak berkebutuhan khusus yang lain, apabila dilihat secara fisik anak tunarungu tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya. Anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi secara verbal. Menurut Moores (dalam Mangunsong, 2009), definisi dari ketunarunguan adalah kondisi dimana individu tidak mampu mendengar dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian lain, baik dalam derajat frekuensi dan intensitas.

Dari sekian banyaknya jumlah penyandang tunarungu, tidak sedikit dari mereka yang menginginkan bersekolah untuk menuntut ilmu. Keterbatasan fisik tidak menjadi penghambat penyandang tunarungu untuk menuntut ilmu. Pendidikan sendiri adalah hak semua orang, termasuk mereka yang memiliki kekurangan fisik. Sebagai turunan UUD 1945, Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 5 ayat 2 dan pasal 32 ayat 1 menyatakan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

(Kesowo, 2003).

Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah salah satu jenis sekolah yang bertanggung jawab melaksanakan pendidikan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Anak tunarungu mendapatkan layanan pendidikan formal di SLB bagian B (Efendi, 2009). Menurut UU no.

20 tahun 2003, pendidikan khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran, karena kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial.

Siswa tunarungu pada umumnya mendapat pendidikan di sekolah khusus yaitu SLB B. Namun dengan berkembangnya dunia pendidikan ternyata siswa tunarungu dapat diterima

(2)

di sekolah umum(inklusi) bila memenuhi ketentuan yang ada. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 2/U/1986 yang menyatakan bahwa siswa disabel dapat diterima dalam sekolah umum, apabila siswa tersebut memiliki intelegensi normal. (Rachawati, Sarwindah, Sulistiani, 2010).

Sebagai suatu model pendekatan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, pendidikan inklusi telah menjadi kajian yang menarik di Indonesia pada dekade terakhir ini (Suparno, 2010). Menurut Sapon-Shevin (Suparno, 2010) pendidikan inkusi didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman- teman seusianya.

Peraturan dari gubernur provinsi daerah khusus ibukota Jakarta nomor 116 tahun 2007 pasal 6 tentang penyelenggaraan pendidikan inklusi bahwa setiap sekolah/madrasah yang akan menyelenggarakan pendidikan inklusi sekurang-kurangnya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: tersedia guru pembimbing khusus yang dapat memberikan program pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus; tersedia sarana dan prasarana bagi peserta didik berkebutuhan khusus serta memperhatikan aksesibilitas dan/atau alat sesuai kebutuhan peserta didik; dan memiliki program kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan inklusi. (Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 20012)

Dorongan bersekolah di sekolah inklusi disebabkan adanya keinginan siswa tunarungu untuk mendapatkan kesetaraan belajar di sekolah layaknya siswa normal lainnya.

Terdapat pula dorongan dari orangtua terhadap siswa tunarungu untuk mencoba masuk kedalam sekolah selain sekolah SLB. Hal ini seperti yang dialami Dian Inggrawati. Dian Inggrawati Soebangil, The 2nd Runner Up Miss Deaf World 2011 dan Miss Deaf Europe 2011, yang meminta dipindahkan ke sekolah SMK karena merasa dirinya mampu dalam

mengikuti pelajaran dan adanya dorongan dari orangtuanya yang berharap anaknya dapat lebih mandiri (Akuntono, 2011).

Namun anak penyandang tunarungu akan menghadapi tantangan ketika bersekolah disekolah inklusi. Adanya lingkungan yang berbeda tentu menimbulkan masalah baru bagi anak tunarungu. Permasalahan yang dihadapi oleh penderita tunarungu disebabkan oleh keterbatasan dalam proses komunikasi dengan sosialisasi, dan dalam mengikuti pelajaran di sekolah. (Rachawati, Sarwindah, Sulistiani, 2010)

Perkembangan bersosialisasi sangat dipengaruhi oleh kemampuannya untuk berkomunikasi, demikan pula pada anak tunarungu. Pada siswa tunarungu, perkembangan

(3)

sosialnya dipengaruhi berbagai hal yang saling berhubungan, dan salah satunya adalah pemilihan bahasa yang digunakan dalam hubungannya dengan orang lain (Mangunsong, 2009). Menurut Rachawati, Sarwindah, Sulistiani, (2010), sekolah merupakan tempat siswa tunarungu belajar berkomunikasi dan bersosialisasi serta mengembangkan potensi yang dimilikinya. Proses interaksi sosial memerlukan komunikasi dan hal ini tidak dapat dihindari oleh siswa penyandang tunarungu. Bicara dan bahasa merupakan media utama untuk mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Akibatnya ketika seorang siswa tidak dapat berkomunikasi, ia sering menampakkan sikap-sikap asosialnya, bermusuhan, atau menarik diri dari lingkungannya.

Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada tanggal 10 November 2012 terhadap tiga siswa tunarungu yang pernah dan sedang mengikuti pendidikan di sekolah inklusi, diketahui bahwa komunikasi dapat menjadi kendala ketika lawan bicara tidak dapat memahami apa yang dikatakannya. Saat menerima pelajaran, mereka juga mengalami kendala untuk memahami penjelasan guru, apabila guru tersebut memberikan penjelasan terlalu cepat atau ketika guru tersebut menjelaskan dengan membuat catatan di papan tulis.

Hal ini menyebabkan munculnya rasa stres pada anak tunarungu karena kesulitan yang dialami saat bersekolah disekolah inklusi. Diketahui dari hasil wawancara bahwa mereka merasa kesulitan ketika beradaptasi karena suasana sekolah yang baru dan lingkungan yang baru pula.

Proses pembelajaran di sekolah inklusi dengan SLB B memanglah berbeda, begitu juga dengan tingkat kesulitan dan tingkat mengejar ketinggalan pelajaran yang diberikan.

Bagi siswa tunarungu untuk mengerti ucapan seseorang haruslah melihat gerak bibir orang tersebut. Bila terdapat pelajaran yang diterangkan terlalu cepat, maka akan sulit untuk mengartikan apa yang diucapkan.

Kendala dalam berkomunikasi dan dalam mengikuti pendidikan disekolah inklusi dapat mendorong munculnya stres. Menurut Wangsa (2010) istilah stres berasal dari kata

“stringere“ yang mempunyai arti ketegangan, dan tekanan. Stres merupakan reaksi yang

tidak diharapkan yang muncul disebabkan oleh tingginya tuntutan lingkungan kepada seseorang.

Menurut Kasmini (dikutip oleh Gompoul, 2010) tanda-tanda psikologi akibat stres adalah tidak dapat menyesuaikan diri dengan teman sebaya sehingga menimbulkan masalah untuk bergaul, suka menyendiri, mudah cemas, cepat marah dan mengalami kemurungan. Stres yang dialami siswa dapat menyebabkan kehidupan dan pergaulannya terganggu, sehingga

(4)

memberi dampak negatif terhadap kesehatan, kepribadian, interaksi sosial dan pencapaian akademik mereka. (Mahfar, Zaini, Nordin, 2007).

Dampak dari stres yang dirasakan siswa tunarungu tidak jauh berbeda pada dampak stres yang dirasakan oleh siswa lainnya. Dampak pada siswa tunarungu dapat menurunkan prestasi dalam akademiknya, menarik diri dari lingkungan sekitar, mempengaruhi diri nya sendiri dengan menjadi tidak percaya diri, menarik diri dan mengurangi motivasi dalam dirinya.

Stres dapat berdampak pada pencapaian akademik. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara stres dengan motivasi berprestasi. Prabandari (1989) menemukan korelasi negatif antara stres dan motivasi berprestasi pada mahasiswa, dimana tingkat stres yang tinggi akan diikuti dengan motivasi berprestasi yang rendah. (Rumiani, 2006)

Menurut McClelland (Rumiani, 2006) motivasi berprestasi diartikan sebagai motif yang mendorong individu untuk meraih sukses dan bertujuan untuk meraih hasil dengan standar tertentu. Menurut McClelland (dikutip dalam Ruminani, 2006) orang yang memiliki motivasi berprestasi menunjukkan ciri-ciri seperti : suka bekerja keras, ulet, membutuhkan umpan balik secara nyata, berorientasi masa depan, tidak suka membuang waktu, optimis, bertanggung jawab dan memperhitungkan resiko.

Dampak dari motivasi berprestasi pada siswa tunarungu dapat dilihat dari tinggi dan rendahnya motivasi yang dimilikinya. Apabila motivasi berprestasi yang dimiliki seorang siswa tunarungu rendah, kemungkinan keinginan untuk memperoleh suatu prestasi akan menurun, begitu pula bila motivasi berprestasi tinggi maka akan lebih mudah untuk memperoleh suatu prestasi yang memuaskan. Semakin tinggi motivasi berprestasi pada siswa semakin baik pula prestasi akademiknya, begitupula sebaliknya. Pengaruh tinggi dan rendahnya motivasi berprestasi yang dimiliki pada siswa tunarungu dalam mengikuti pelajaran disekolah inklusi dapat mempengaruhi prestasi dalam akademiknya.

Peneliti ingin mengetahui hubungan stres dengan motivasi berprestasi pada siswa tunarungu yang bersekolah disekolah inklusi.

1.2 Rumusan Masalah

Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan merumuskan identifikasi masalah penelitian sebagai berikut:

Apakah ada hubungan antara stres dengan karakteristik motivasi berprestasi pada siswa tunarungu yang bersekolah disekolah inklusi?

(5)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

Mengetahui adanya keterkaitan stres dengan karakteristik motivasi berprestasi pada siswa tunarungu disekolah inklusi.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat menambahkan wawasan khususnya didalam psikologi pendidikan mengenai pengaruh stres terhadap motivasi berprestasi pada siswa tunarungu.

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah memberikan informasi bagi para orang tua dan guru tentang keterkaitan stres dengan motivasi berprestasi pada siswa tunarungu yang mengikuti sekolah inklusi.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam jurnal tersebut menjelaskan bahwasannya motivasi juga sangat diperlukan untuk membangun mental yang baik ketika bertanding, dengan demikian motivasi berprestasi

Berdasarkan pemaparan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti dan mengkaji lebih mengenai pengaruh motivasi belajar pada pelajaran ilmu nahwu dan metode pembelajaran muwajahah

tahun 1987 untuk merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi prestasi dan hasil belajar siswa. Model ARIAS dapat dijadikan model instrumen penilaian

Selanjutnya beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat Price Earning Ratio suatu perusahaan di antaranya adalah Cost of Revenue, US$ BI

pokok adalah pola asuh orangtua yang kurang baik sehingga mempengaruhi motivasi belajar anak dalam mengikuti proses pembelajaran di SKB Bantaeng.. Ada juga sebagian orangtua

Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat risiko yang akan ditanggung pemegang saham beserta rate of return yang diharapkan perusahaan yaitu besar kecilnya

Pelayanan Bimbingan dan konseling akan menjadi kekuatan pendorongan atau motivasi siswa untuk memanfaatkan serta mengunakan pelayanan Bimbingan konseling disekolah, karena

Rendahnya kemampuan dalam faktor–faktor internal di atas menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika yang ditunjukkan antara lain dengan ketidakmampuan peserta didik