• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1. Latar Belakang

Dalam bahasa Inggris peran (role) berarti tugas, sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah seperangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat. Dari pengertian tersebut yang dimaksud adalah peran atau tugas kepala sekolah. Kepala sekolah terdiri dari dua kata “kepala dan sekolah”. Kata kepala diartikan sebagai ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau lembaga. Sedangkan sekolah adalah sebuah lembaga dimana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran. Dengan demikian, kepala sekolah merupakan tenaga fungsional yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan siswa yang menerima pelajaran. Agar sekolah dapat mencapai proses pendidikan yang baik maka kepala sekolah juga harus menjalankan perannya dengan baik.

Dalam hal ini, kepala sekolah berperan memimpin sekolah dan bertanggung jawab atas tercapainya tujuan sekolah terrmasuk dalam memotivasi belajar siswa.

Selain kepala sekolah, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang baik guru sangat berperan penting. Menurut UU No. 14 Tahun 2005 Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru yang kompeten harus berupaya secara maksimal agar siswa/siswi yang dibimbing termotivasi dalam proses pembelajaran yang diselenggarakan.

(2)

Berbagai studi nasional maupun internasional menunjukkan bahwa Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran (learning crisis) yang cukup lama, sehingga untuk mengatasi hal ini, maka perlu melakukan perubahan yang sistemik melalui kurikulum. Kurikulum menentukan materi yang diajarkan di kelas. Kurikulum juga mempengaruhi kecepatan dan metode mengajar yang digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan siswa. Untuk itu Kemendikbudristek mengembangkan Kurikulum Merdeka sebagai bagian penting dalam upaya memulihkan pembelajaran dari krisis yang sudah lama dialami ini. Kurikulum merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana pembelajaran akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi (Kemendikbudristek, 2022).

Kurikulum Merdeka diluncurkan oleh Kemendikbudristek pada tahun 2022

sebagai salah satu program Merdeka Belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan berfokus pada materi yang esensial dan menitikberatkan pengembangan karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum merdeka dirancang untuk membuat kurikulum operasional yang konseptual, sehingga pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan siswa (Kemendikbudristek, 2022).

Kurikulum Merdeka sifatnya sangat sederhana tapi mendalam, aplikatif, relevan, sangat memfasilitasi minat serta bakat siswa sehingga mendorong pembelajaran yang menyenangkan dan anak akan semakin termotivasi untuk belajar.

Dengan adanya Kurikulum Merdeka, diharapkan anak akan lebih percaya diri, lebih semangat untuk belajar di sekolah dan mampu mengembangkan bakat sesuai minat

(3)

anak (Kemendikbudristek, 2022). Setelah kurang lebih selama 2 tahun pembelajaran dilakukan secara online dan kini pembelajaran kembali seperti semula dilakukan di dalam kelas. Perubahan pembelajaran online ke pembelajaran offline atau di dalam kelas membutuhkan proses adaptasi yang baik bagi guru ataupun siswa (Muchlisianah & Umam, 2022). Hal ini menjadi tantangan baru bagi kepala sekolah, guru, dan siswa, dimana seorang kepala sekolah dan guru untuk dapat memotivasi belajar siswa kembali.

Motivasi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan yang dengan tujuan tertentu. Motivasi juga diartikan sebagai usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikhendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya (Depdiknas, 2002).

Motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar siswa, perihal ini telah tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 104 Tahun 2014 mengenai hasil belajar oleh pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dalam perihal ini, motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa berkaitan dengan hasil belajar mereka. Hasil belajar tersebut dipergunakan untuk melihat kemajuan belajar, memantau hasil belajar, serta kebutuhan hasil belajar siswa secara berkelanjutan. Karena untuk mencapai hasil belajar yang maksimal perlu motivasi belajar yang baik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh I Komang Winata tahun 2021 dengan judul Konsentrasi dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Pembelajaran

(4)

Online Selama Masa Pandemi Covid-19, hasil penelitian menunjukkan bahwa

konsentrasi dan motivasi belajar siswa selama pandemi Covid-19 menunjukkan tergolong rendah dan motivasi belajar siswa tergolong sedang. Selanjutnya, dari hasil penelitian yang dilakukan Adhetya Cahyani pada tahun 2020 yang berjudul Motivasi Belajar Siswa SMA pada Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa selama belajar online di masa pandemi menurun. Dari penelitian tersebut, maka hal ini menjadi tugas kepala sekolah dan guru untuk dapat meningkatkan kembali motivasi belajar siswa.

Motivasi belajar siswa menjadi hal yang penting untuk diperhatikan oleh kepala sekolah dan guru. Kepala sekolah dan guru dapat menggunakan model ARIAS dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan ketertarikan siswa dalam belajar. Model ARIAS ini sebagai model evaluasi dapat digunakan oleh kepala sekolah dan guru dalam perannya untuk memotivasi siswa belajar pasca pandemi Covid-19 sehingga siswa dapat memahami dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya secara optimal. Selain itu, kepala sekolah dan guru juga harus mampu memberikan semangat pada siswa agar bergairah untuk belajar dengan harapan yang berpengaruh pada hasil belajar siswa (Yuventius, 2021).

Model ARIAS merupakan pengembangan dari model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction) yang dikembangkan oleh Keller dan Koop pada

tahun 1987 untuk merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi prestasi dan hasil belajar siswa. Model ARIAS dapat dijadikan model instrumen penilaian untuk mengetahui peran kepala sekolah dan guru dalam memotivasi belajar siswa. Hal ini berguna sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar. Dengan model

(5)

ini maka dapat menjadikan peserta didik menjadi tidak pasif dan lebih termotivasi belajar.

Model ARIAS memuat lima komponen saling berkaitan. Kelima komponen itu diantaranya: 1) Assurance (Jaminan), komponen ini berkaitan dengan sikap percaya dan yakin bahwa siswa akan berhasil atau jaminan akan berhasil; 2) Relevance (Relevansi), mengacu pada kesesuaian terhadap pembelajaran; 3) Interest

(Ketertarikan), komponen ini meliputi ketertarikan siswa pada proses pembelajaran;

4) Assessment (Penilaian), berkaitan dengan penilaian terhadap siswa atas pencapaiannya; 5) Satisfaction (Kepuasan), artinya memberikan kebanggaan dan kepuasan kepada siswa yang penting dan diperlukan pada proses pembelajaran (Rahman & Amri, 2014). Sekolah perlu menerapkan pembelajaran yang mengandung unsur-unsur pada model ARIAS. Untuk itu kepala sekolah dan guru dapat menggunakan model ARIAS sebagai alat ukur untuk meningkatkan motivasi siswa dalam melaksanakan perannya untuk memotivasi belajar siswa.

Sesuai dengan surat edaran Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri menerbitkan Keputusan Bersama (SKB Empat Menteri) Nomor 01/KB/2022, Nomor 408 Tahun 2022, Nomor HK.01.08/MENKES/11140/2022, Nomor 420-1026 Tahun 2022 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19 menyatakan bahwa Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka dilaksanakan berdasarkan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang ditetapkan oleh pemerintah dan capaian vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), serta warga lanjut usia.

(6)

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 65 tahun 2013 mengamanatkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan pembelajaran pasca pandemi Covid-19 ini memang berbeda dari pembelajaran sebelum adanya pandemi.

Perbedaan seperti durasi pembelajaran, dan pembatasan jumlah siswa di dalam kelas menjadikan motivasi belajar siswa menjadi berbeda. Demi mencapai pendidikan sesuai dengan peraturan tersebut, maka kepala sekolah dan guru harus bekerja sama untuk kembali meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran, seorang kepala sekolah dan guru harus memiliki keterampilan yang dapat memotivasi siswa untuk bersemangat belajar kembali.

Pada kenyataannya, dalam memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19, peran kepala sekolah dan guru masih perlu ditingkatkan. Karena tugas kepala sekolah dan guru tidak hanya memberi motivasi kepada siswa. Kepala sekolah harus menjalankan perannya sebagai administrator, keadministrasian, manajerial, negosisator, dan lain sebagainya. Sedangkan guru harus menjalankan perannya sebagai korektor, informator, pembimbing, demonstrator, pengelola kelas dan lain sebagainya. Sehingga dalam perannya memotivasi belajar siswa harus ditingkatkan.

Seperti yang kita ketahui, bahwa motivasi diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar (Cholifah, 2021).

(7)

Dikutip dari Riaupos.co ada beberapa kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 diantaranya dengan memperjelas tujuan yang ingin dicapai dengan menggunakan metode dan kegiatan yang beragam, menciptakan suasana yang menyenangkan karena anak-anak terlena dengan suasana pada masa pandemi Covid-19. Dengan demikian, pemberian motivasi oleh kepala sekolah dan guru dapat memulihkan semangat belajar mereka di masa pasca pandemi Covid-19 ini.

Motivasi belajar siswa saat belajar secara online dikatakan berbeda-beda, ada siswa dengan motivasi tinggi, menengah, bahkan rendah. Hal ini dikarenakan pada saat belajar online siswa kurang tertarik dengan pembelajaran yang diselenggarakan, sehingga menyebabkan siswa memiliki motivasi yang berbeda-beda. Motivasi belajar siswa yang seperti ini, perlu untuk diperhatikan kembali, karena motivasi belajar siswa mempengaruhi hasil belajar mereka (Yuventius, 2021).

Dikutip dari Kompasiana.com pada tahun 2020 mengenai pentingnya motivasi belajar siswa selama pandemi Covid-19. Bahwa pada pembelajaran online siswa dapat menjadi kurang aktif dalam menyampaikan pengetahuan dan pemikirannya, akibatnya siswa menjadi bosan. Sehingga diperlukan pendorong untuk selalu menggerakkan siswa agar semangat belajar dan dapat mempunyai prestasi belajar. Semangat belajar bisa dilakukan dengan meningkatkan motivasi dalam belajarnya. Motivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 perlu diperhatikan dan ditingkatkan kembali. Dampak dari pembelajaran online yang dilakukan sebelumnya kini berimbas pada pembelajaran yang dilaksanakan saat ini, perihal ini

(8)

berpengaruh pada menurunnya motivasi siswa dan dalam belajar menjadi kurang bersemangat karena telah terbiasa melaksanakan belajar secara online.

Berdasarkan hasil observasi awal peneliti kepada Kepala Sekolah dan Guru di SMAN 11 Kota Jambi diperoleh informasi bahwa: (1) Motivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 masih perlu ditingkatkan; (2) Motivasi siswa sebelum dilaksanakan pembelajaran tatap muka berbeda-beda. Ada peserta yang memiliki motivasi yang tinggi dan ada juga siswa yang motivasi belajar nya rendah; (3) Belum pernah diadakan evaluasi tentang motivasi belajar siswa oleh lembaga pendidikan secara khusus, sehingga evaluasi hanya dilakukan sendiri oleh sekolah melalui hasil belajar siswa, wawancara secara langsung dengan siswa, kehadiran siswa, keikutsertaan dalam pelaksanaan ujian, pengecekan tugas, termasuk memanggil orang tua siswa untuk siswa yang bermasalah; (4) Baik sebelum atau setelah pandemi sekolah memperbolehkan siswa-siswi membawa Handphone sebagai sarana pembelajaran siswa untuk mengakses materi atau segala bentuk informasi mengenai proses pembelajaran; (5) Penugasan yang diberikan oleh guru kepada siswa berbeda- beda, tergantung kepada guru tersebut. Sebagian guru memberikan tugas secara tatap muka langsung dan sebagiannya lagi ada yang melalui aplikasi; (6) Sekolah merasakan perbedaan secara signifikan dari motivasi belajar siswa pada masa pembelajaran daring (online) dengan masa pembelajaran tatap muka, perbedaan yang dirasakan seperti hasil belajar siswa, sikap siswa, dan disipin siswa; (7) Baik kepala sekolah maupun guru telah menggunakan unsur-unsur yang ada pada model ARIAS dalam memotivasi belajar siswa.

(9)

Berdasarkan penelitian Setyawan Sutanto tahun 2020 dengan judul Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Konsep Suhu dan Kalor Melalui Penerapan Model Pembelajaran ARIAS (Assurance, Relevance, Interest, Assessment dan Satisfaction). Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi pokok Suhu dan Kalor dengan menggunakan model pembelajaran ARIAS ((Assurance, Relevance, Interest, Assessment dan Satisfaction). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada peningkatan

motivasi dan hasil belajar kognitif siswa secara kuantitatif pada setiap siklus. Model ARIAS sebagai instrumen penilaian motivasi siswa pada pembelajaran cocok digunakan untuk mengamati peran kepala sekolah dan guru dalam memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19. Model ini mempunyai unsur-unsur yang didalam-Nya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran.

Komponen-komponen model ARIAS ini dapat menjadi acuan untuk melihat motivasi belajar siswa meningkat atau menurun. Sehingga peneliti ingin menggunakan model ARIAS untuk mengetahui peran kepala sekolah dan guru dalam memotivasi belajar siswa.

Berdasarkan kondisi yang terjadi di atas, dimana proses belajar mengajar secara online beralih ke tatap muka pasca pandemi Covid-19 peneliti ingin mencoba meneliti permasalahan tersebut dengan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi yang berjudul “Peran Kepala Sekolah dan Guru dalam Memotivasi Belajar Siswa Pasca Pandemi Covid-19 Dengan Model ARIAS di SMAN 11 Kota Jambi”. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi

(10)

kepada kepala sekolah dan guru dalam memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 dengan model ARIAS.

1.2. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana peran kepala sekolah dalam memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 dengan model ARIAS di SMAN 11 Kota Jambi?

2. Bagaimana peran guru dalam memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 dengan model ARIAS di SMAN 11 Kota Jambi?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini yaitu:

1. Mendeskripsikan peran kepala sekolah dalam memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 dengan model ARIAS di SMAN 11 Kota Jambi.

2. Mendeskripsikan peran guru dalam memotivasi belajar siswa pasca pandemi Covid-19 dengan model ARIAS di SMAN 11 Kota Jambi.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan referensi untuk para peneliti selanjutnya dan menambah wawasan dalam menganalisis aspek peran

(11)

kepala sekolah dan guru dalam memotivasi belajar siswa serta mempertahankan motivasi belajar siswa pasca Covid-19.

2. Manfaat Praktis a. Untuk Peneliti

Untuk menyelesaikan TA (Tugas Akhir) dalam upaya mendapatkan gelar sarjana pada program studi Administrasi Pendidikan dan mengembangkan pengetahuan serta pemahaman tentang model ARIAS sebagai model pemecahan masalah untuk penciptaan motivasi, faktor lingkungan belajar yang mampu mendorong serta menopang motivasi belajar peserta didik.

b. Untuk Sekolah

Dapat berkontribusi dalam pengembangan proses belajar pasca pandemi Covid-19 dengan memberikan umpan balik dan memenuhi kebutuhan siswa,

sehingga sekolah dapat memilih langkah selanjutnya yang terbaik berdasarkan keinginan peserta didik.

c. Untuk Kepala Sekolah

Dapat membuat kebijakan yang tepat terhadap tenaga pendidik dalam merancang program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, memberikan pengarahan dan pelatihan kepada setiap tenaga pendidik untuk meningkatkan kompetensi dan menambah pengetahuan kepada tenaga pendidik.

Referensi

Dokumen terkait

Logo merupakan lambang yang dapat memasuki alam pikiran/suatu penerapan image yang secara tepat dipikiran pembaca ketika nama produk tersebut disebutkan (dibaca),

Seperti halnya dengan pengetahuan komunikasi terapeutik perawat, kemampuan perawat yang sebagian besar pada kategori cukup baik tersebut kemungkinan karena adanya

Penelitian yang dilakukan di TK AndiniSukarame Bandar Lampung betujuan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media gambar pada usia

Ketersediaan informasi lokasi rumah sakit, fasilitas dan layanan yang tersedia di rumah sakit dan tempat kejadian dapat tersedia secara jelas dan terkini sehingga penentuan

Alhamdulillahirobbil’alamin segala puji syukur dan sembah sujud, penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya sehingga penyusun

H1: (1) Terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan yang diberi insentif dengan karyawan yang tidak diberi insentif (2) Terdapat perbedaan

7.4.4 Kepala LPPM menentukan tindakan perbaikan yang harus dilakukan pada periode Pelaporan Hasil Pengabdian kepada masyarakat berikutnya.. Bidang Pengabdian kepada masyarakat

Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik bahkan