• Tidak ada hasil yang ditemukan

WETAN SKRIPSI. Oleh Ardianto Setiawan NIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "WETAN SKRIPSI. Oleh Ardianto Setiawan NIM"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

iii

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli. Jika tidak asli, saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode berikutnya.

Yogyakarta, April 2014 Yang menyatakan,

(4)

PENGESAIIAN

Skripsi yang berjudul *MENINGKATKAN PEMAHAMAN BERHITUNG

PADA

MATA

PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS

I

SD

N 2 BELANG

WETA}TP, Yg disusun oleh Ardianto Setiawan,

NIM

08105244W7

ini telah

dipertahankan di

depan Dewan Fenguji pada tanggal 17 September 2Ol4 da*dinyatakan lulus.

Nama

Eko Budi Prasetyo, M. Pd.

Suyantiaingsih" M. Ed.

Rahayu Condro Murti, M. Si.

DEWAN PENGUJI Jabatan Ketua Penguji Sekretaris Penguji Penguji Utama Tanggal 'tr.(p./.zotq

tt.lP.(wa

tt.h.[pkr

Yogyakarta . J..I...!.t.1..? 0.1.4... Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta

lv

198702 I 001

#"#KI>

(5)

v MOTTO

“Tiada keberhasilan tanpa adanya perjuangan dan kesabaran” (penulis)

“Kerja keras dan berdo’a dengan hati ikhlas menjadikan kita berhasil dan berkualitas” (penulis)

“Cintai, sayangi, dan hormatilah kedua orang tuamu, buatlah mereka bangga terhadap prestasimu”

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya, karya ini kupersembahkan kepada :

1. Ayah dan Ibu tercinta atas segala do’a, kasih sayang, serta dukungan sehingga aku bisa menyelesaikan skripsi dengan baik

2. Teman-temanku kos (Deva, Danang, Fahmi, Rizal) dan teman-teman jurusan KTP’08 terimakasih banyak atas motivasi dan bantuannya.

(7)

vii

MENINGKATKAN PEMAHAMAN BERHITUNG PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA

GAMBAR PADA KELAS I SD N 2 BELANG WETAN Oleh

Ardianto Setiawan NIM. 08105244007

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman berhitung pada mata pelajaran matematika dengan menggunakan media gambar pada kelas 1 SD Negeri II Belang Wetan, Klaten.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah tes dan observasi. Tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa, sedangkan observasi untuk mengamati proses belajar mengajar yang dilakukan guru. Subyek penelitian berjumlah 21 siswa, dengan perincian 13 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Tes hasil belajar dianalisis dengan teknik kuantitatif yang menggunakan perbandingan data hasil pre test dan post test, sedangkan teknik kualitatif diperoleh dari refleksi proses belajar mengajar yang dilakukan guru dengan menggunakan media gambar.

Setelah dilakukan analisis data diperoleh hasil penelitian bahwa penggunaan media gambar dalam pembelajaran berhitung dikelas I SD Negeri 2 Belang Wetan Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 2013/2014, dapat meningkatkan pemahaman berhitung pada siswa. Hal tersebut diindikasikan dari pencapaian target pada siklus I yang tanpa menggunakan media gambar rata-rata pre test 50,52; post test 56,23; siklus II dengan media gambar rata-rata pre test 52,42; post test 60,04; siklus III juga dengan media gambar rata-rata pre test 70,52; post test 84,80 dan sesuai dengan indikator kinerja, yakni 80% siswa mampu mencapai hasil belajar berhitung > 60. Berdasarkan analisis hasil tindakan III, dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa dengan penggunaan media gambar dapat meningkat.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, ridho dan anugerah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul: “Meningkatkan Pemahaman Berhitung Pada Mata Pelajaran Matematika Dengan Menggunakan Media Gambar Pada Kelas 1 SD Negeri Belang Wetan II Klaten”. Media ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Teknologi Pendidikan, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Penulis skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan, serta dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini izinkanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Dr. Haryanto, M. Pd. selaku dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan sehingga penulisan skripsi ini berjalan dengan lancar.

2. Bapak Dr. Sugeng Bayu Wahyono, selaku ketua jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan kemudahan dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Waluyo Adi, M. Pd. selaku dosen pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan dalam penyusunan skripsi ini.

(9)

ix

5. Bapak Budiman, S. Pd. Selaku kepala sekolah SD N II Belang Wetan yang telah membantu dan mengijinkan proses uji coba penelitian, sehingga penelitian ini berjalan dengan baik.

6. Siswa kelas 1 SD N II Belang Wetan yang telah membantu dalam penelitian, sehingga dapat berjalan dengan lancar.

7. Semua dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang telah memberikan Ilmu kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.

8. Bapak dan Ibuku yang tercinta atas dukungan, kesabaran, bantuan, dan pengorbanannya serta doa tulus.

9. Kakak-kakak tersayang Andy dan Angga, Keluarga Budhe Titik, Keluarga Om Nartoyo yang telah memberikan sumbangsih berupa doa semangat dan motivasi dalam menjalani hidup.

10. Teman-teman Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Angkatan 2008, yang sama-sama berjuang dalam menempuh pendidikan di FIP UNY.

11. Trisni Widyasari R, A. M. Kep yang telah memberi motivasi dan pelangi hidup 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

memberikan dukungan dalam penyelesaian Tugas Akhir Skripsi ini.

Semoga bantuan yang telah diberikan menjadi amal baik dan mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia Pendidikan pada umumnya dan bagi para pembaca atau pengguna khususnya.

Yogyakarta, September 2014

(10)

x

DAFTAR ISI

hal

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERSETUJUAN ...ii

PERNYATAAN...iii

PENGESAHAN ...iv

MOTTO ...v

PERSEMBAHAN ...vi

ABSTRAK ...vii

KATA PENGANTAR ...viii

DAFTAR ISI...x

DAFTAR GAMBAR ...xii

DAFTAR TABEL ...xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1

B. Identifikasi Masalah ...3

C. Rumusan Masalah ...3

D. Tujuan Penelitian ...4

E. Manfaat Penelitian ...4

BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat Belajar ...5

B. Pembelajaran Matematika di SD 1. Tujuan dan Fungsi...8

2. Teori Belajar Matematika ...9

3. Hasil Belajar Matematika ...13

C. Pembelajaran Berhitung ...13

(11)

xi

2. Fungsi Media Gambar...16

3. Karakteristik Media ...18

4. Keefektifan Media Gambar Dalam Pembelajaran Berhitung ...19

E. Langkah-langkah Pembelajaran Berhitung Dengan Media Gambar ...20

F. Karakteristik Siswa SD ...23

G. Hipotesis Tindakan ...23

H. Kerangka Berpikir ...23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ...25

B. Rancangan Penelitian ...25

C. Variable Penelitian ...28

D. Data dan Cara Pengumpulan Data ...28

E. Validitas Tes ...29

F. Metode Analisis Data ...30

G. Indikator Kinerja ...30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ...31

B. Kendala – Kendala Dalam Penggunaan Media Gambar ...38

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

hal

1. Hasil Taraf Serap dan Pencapaian Target Kurikulum SD ...2

2. Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ...31

3. Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus I ...32

4. Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus II ...34

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

hal

1. Media Gambar Materi Penjumlahan dan Pengurangan ...45

2. Angket Soal-Soal Pre test dan Post test Pada Siklus I, II, III ...47

3. Hasil Nilai Siswa Uji Coba Pre test dan Post test Siklus I, II, III ...54

4. Dokumentasi ...58

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, Indonesia membutuhkan orang yang mampu berkualitas sebagai faktor dasar untuk mencapai kesejahteraan bangsa. Dalam upaya mewujudkan maksud tersebut, perbaikan kualitas sekolah-sekolah di Indonesia menjadikan perhatian yang sangat penting. Sejak sekolah dasar, siswa telah diharapkan untuk mampu belajar mempertahankan hidup dan mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan maupunmasalah-masalah yang dihadapi dengan bekal ilmu yang didapatkan dari belajar di sekolah.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat ini berpengaruh di segala bidang pendidikan terutama pada mata pelajaran Matematika khususnya lagi pada pengajaran berhitung/aritmatika. Aritmatika atau berhitung adalah bidang yang berkenaan dengan sifat hubungan bilangan-bilangan nyata dengan perhitungan terutama menyangkut penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian (Mulyono,2003:253).

Kemampuan berhitung merupakan salah satu bagian dari kemampuanmatematika, sebab salah satu persyaratan untuk belajar matematika adalah belajarberhitung.Oleh karena itu antara matematika danberhitung tidak dapat dipisahkan. Pada kenyataannya dalam hal ini guru-guru banyakyang sedikit mengeluh karena siswanya lamban dan kurang terampil dalam menyelesaikan perhitungan dari suatu pemecahan masalah.

(16)

2

dengan setiap bagiannya. Pelajaran Matematika juga tidak terlepas dari berhitung sehingga jika anak kurang menguasai kemampuan berhitung secara baik akan memperoleh hasil yang kurang baik pula. Keterampilan berhitung di Sekolah Dasarmerupakan kemampuan dasar untuk menyelesaikan persoalan-persoalan lebih lanjut, maka sangatlah tepat jika mendapat perhatian sejak awal.

Adanya kecenderungan proses pembelajaran Matematika yang terpusat padaguru juga dialami di SD Negeri 2 Belang Wetan Klaten, yang berdampak pada penurunan hasil belajar siswa. Sedikitnya sumberbelajar dan terbatasnya media atau alat peraga merupakan salah satu penyebabnya.Sehingga pembelajaran lebih bersifat searah dan membosankan. Oleh karenanya,tidak mengherankan apabila rata-rata pelajaran matematika pada siswa kelas I Tahun Ajaran 2013/2014 lebih rendah dari beberapa bidang yang diajarkan.Adapun Hasil Taraf Serap SD bisa dilihat tabel dibawah ini:

Tabel 1. Hasil Taraf Serap

NO Mata Pelajaran Taraf Serap

1. PPKN 9,1 2. Pendidikan Agama 8,6 3. Bahasa Indonesia 7,6 4. Matematika 6,6 5. Kertangkes 7,1 6. Penjaskes 7,3 7. Bahasa daerah/jawa 7,3

Sumber : Pencapaian Hasil Taraf Serap SD Tahun Ajaran 2013/2014

(17)

3

antara lain kurangnya alat media pembelajaran dan siswa kurang tertarik dengan cara guru menyampaikan materi (metode tidak bervariasi).

Sehubungan dengan rendahnya hasil belajar berhitung bertalian erat dengan subtansi materi berhitung yang cenderung hafalan. Terkait dengan itu diperlukan peran media pembelajaran untuk menjembatani kesenjangan pemahaman materi berhitung dengan fenomena dilapangan, sehingga siswa mampu mempelajari materi berhitung dengan mudah tanpa tertekan. Salah satu diantaranya dapat memanfaatkan media gambar sebagai alat bantu untukmemperjelas bahan ajar yang disajikan dalam pembelajaran Matematika khususnyaberhitung.

Menurut Sadiman (1996:30), menyatakan bahwa kelebihan media pembelajaran adalahsifatnya konkrit, gambar dapat mengatasi ruang dan waktu, mengatasi keterbatasan pengamatan, memperjelas suatu masalah sehingga dapat mencegah/membetulkan kesalah pahaman.

Berkaitan hal tersebut diatas, maka peneliti memandang perlu untuk menerapkanpemanfaatan media atau alat peraga di SD Negeri II Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten.

B. Identifikasi Masalah

Dengan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang perlu dipecahkan, yaitu :

1. Kurangnya variasi sumber belajar yang digunakan

2. Kurangnya media pembelajaran yang mendukung proses pembelajaran berhitung.

3. Rendahnya pemahaman berhitung pada mata pelajaran Matematika C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang diuraikan, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :

(18)

4 D. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman berhitung pada mata pelajaran matematika dengan menggunakan media gambar pada kelas 1 SD Negeri II Belang Wetan, Klaten.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi peneliti, memberikan masukan terhadap guru dalam upaya pemanfaatan media pembelajaran khususnya media visual (gambar) dalam proses belajar mengajar berhitung.

2. Bagi sekolah dan guru, memberikan masukan bagi guru dalam meningkatkan kualitas hasil belajar berhitung.

(19)

5 BAB II KAJIAN TEORI

A. Hakikat Belajar

Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku baik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.

Menurut Oemar Hamalik (2005: 37-38), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Perubahan yang terjadi karena belajar dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan, kecakapan-kecakapan, atau dalam tiga aspek yakni pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Jadi, secara umum dapat dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun tidak dapat diamati secara langsung yang terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.

Tujuan utama belajar adalah agar apa yang kita pelajari itu berguna di kemudian hari. Belajar saat ini dapat membantu kita untuk dapat belajar di kemudian hari secara terus menerus dengan cara yang lebih mudah.

Dengan demikian belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Oleh karena itu seseorang dikatakan belajarapabila dalam diri orang tersebut terjadi perubahantingkah laku yang dapatditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, sikap,percakapan, kebiasaan dan lain-lain. Tetapi tidak semua perubahan tingkah lakumerupakan hasil belajar. Berikut ciri-ciri belajar adalah :

(20)

6

3. Dalam belajar ada perubahan tingkah laku, baik tingkah laku yang dapat diamati maupun tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung.

4. Belajar merupakan suatu proses usaha, yang artinya belajar berlangsung dalam kurun waktu cukup lama.

5. Belajar terjadi karena proses interaksi antara individu dan lingkungan.

Jadi perubahan tingkah laku yang terjadi merupakan hasil atau akibat dari upaya-upaya/latihan yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan. Tingkah laku yang terjadi merupakan hasil dari proses belajar yang dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran merupakan satu sistem,artinya ada beberapa komponen yang saling berpengaruh terhadap perolehan hasilbelajar siswa. Seorang siswa yang termasuk pandai disuatu kelas, belum tentu ketika ulangan mendapatkan hasil yang selalu memuaskan. Hal ini disebabkan beberapa faktor, di samping kemampuan berpikir juga dipengaruhi oleh hal-hal lain seperti motivasi, keadaan fisik, lingkungan siswa, dan sebagainya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi belajar tersebut, antara lain : a. Faktor-faktor yang berasal dari luar individu siswa.

Faktor yang ada diluar individu disebut juga faktor sosial. Faktor-faktor sosial tersebut antara lain :

1) Faktor keluarga

Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam turut menentukan bagaimana dan sampai dimana belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak. Termasuk ada tidaknya fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam belajar turut memegang peranan penting pula.

2) Guru dan cara mengajarnya

(21)

7

mengajarkan pengetahuan itu kepada anak didiknya, turut menentukan bagaimana hasi belajar yang dapat dicapai anak.

3) Alat-alat pelajaran

Faktor guru dan cara mengajarnya, tidak dapat kita lepaskan dari ada tidaknya alat-alat pelajaran yang tersedia di sekolah. Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak.

4) Motivasi sosial

Karena belajar adalah suatu proses yang timbul dari dalam, maka faktor motivasi memegang peranan pula. Jika guru atau orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada anak timbullah dalam diri anak itu dorongan dan hasrat untuk belajar lebih baik. Motivasi sosial dapat timbul pada anak dari orang-orang disekitarnya.

5) Lingkungan dan kesempatan

Faktor lingkungan dan kesempatan ini lebih berlaku bagi cara belajar pada orang-orang dewasa.

b. Faktor-faktor individual

Faktor-faktor individual adalah faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri.Yang termasuk ke dalam faktor individual tersebut, antara lain:

1) Kematangan / pertumbuhan

Kita mengajarkan sesuatu pada anak baru dapat berhasil jika taraf pertumbuhan pribadi telah memungkinkan dan potensi-potensi jasmani atau rohaninya telah matang untuk itu.

2) Kecerdasan / intelijensi

(22)

8

kecerdasannya. Jadi dalam belajar kecuali kematangan, intelijensi pun turut memegang peranan.

3) Latihan dan Ulangan

Karena sering mengulangi sesuatu, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat menjadi dikuasai dan semakin mendalam. Sebaliknya tanpa latihan pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki dapat menjadi hilang atau berkurang.

4) Motivasi

Motivasi merupakan pendorong bagi suatu organisme untuk melakukan sesuatu.

5) Sifat-sifat pribadi seseorang

Di samping faktor-faktor sosial lainnya, berhasil tidaknya belajar faktor pribadi seseorang turut pula memegang peranan karena tiap-tiap orang mempunyai sifat-sifat kepribadiannnya masing-masing.

B. Pembelajaran Matematika di SD 1. Tujuan dan Fungsi

Tujuan umum diberikannya Matematika di jenjang pendidikan dasar adalah sebagai berikut:

a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir

matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan (Depdikbud 1993:96).

(23)

9

menyelesaikan suatu masalah, melainkan juga harus mampu menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari serta memiliki pengetahuan matematika yang cukup kuat sebagai bekal untuk mempelajari matematika lebih lanjut dan dalam mempelajari ilmu-ilmu lain.

Pembelajaran matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1993:95).

2. Teori Belajar Matematika

Beberapa teori belajar matematika, antara lain : a. Teori Brunner

Metode yang didukung oleh Bruner adalah belajar dengan penemuan. Dalam mempelajari matematika seseorang siswa perlu secara langsung menggunakan bahan-bahan manipulatif. Bahan-bahan tersebut merupakan benda konkret yang dirancang khusus dan dapat diotak atik oleh siswa dalam berusaha memahami konsep matematika (Suminarsih, 2004:5).

Adanya interaksi antara siswa dengan lingkungan fisik ini akan memberikan kesempatan siswa untuk melaksanakan penemuan. Menurut Paimin (1998:6), bahwa dalam proses belajar anak melewati tiga tahap perkembangan mental, sebagai berikut:

1) Tahap Enaktif (konkret)

Siswa belajar konsep dengan memanipulasi benda-benda secara langsung. 2) Tahap Ikonik (semi konkret)

Siswa memahami konsep matematika yang bersifat abstrak dengan bantuan model-model semi kongkret, tabel, gambar, bagan, peta dan lain-lain.

3) Tahap Simbolik (abstrak)

(24)

10 b. Teori Piaget

Teori Piaget disebut juga teori kognitif, teori intelektual atau teori belajar. Disebut teori belajar kognitif karena berkenaan dengan kesiapan siswa untuk mampu belajar dan disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan siswa. Menurut Hudoyo (1990:7), belajar juga merupakan sesuatu yang keluar dari dalam diri anak, meningkatkan perkembangan mental anak ke tahap yang lebih tinggi, dapat dilakukan dengan memperkaya pengalaman anak terutama pengalaman konkret, karena dasar perkembangan mental adalah melalui pengalaman-pengalaman aktif dengan menggunakan benda-benda di sekitarnya. Di samping itu perkembangan bahasa anak merupakan salah satu kunci untuk mengembangkan kognitifnya.

Pendapat Piaget yang paling terkenal, sesuai dengan penelitiannya mengemukakan bahwa ada empat tahap perkembangan kognitif dari setiap individu yang berkembang secara kronologis (menurut usia), yaitu:

1) Tahap Sensori Motor, dari lahir sampai umur sekitar 2 tahun.

Pada tahap ini aktivitas anak didasarkan atas pengalaman-pengalaman atau tindakan-tindakan langsung melalui panca indera.

2) Tahap Pra Operasional, dari umur sekitar 2 tahun – 7 tahun.

Pada tahap ini anak dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi (tidak langsung) serta bayangan dalam mental. Semua proses ini menunjukkan bahwa anak sudah mampu untuk melakukan tingkah laku simbolis dan tidak lagi mereaksi begitu saja terhadap stimulus-stimulus melainkan nampak ada suatu aktivitas internal. 3) Tahap Operasi Konkret, dari umur 7 tahun – 11 tahun.

(25)

11

matematika yang didasarkan pada benda-benda konkret lebih mudah dipahami dari pada memanipulasi istilah-istilah abstrak.

4) Tahap Operasi Formal, dari umur 11 tahun ke atas.

Tahap ini adalah tahap tertinggi dari perkembangan kognitif anak. Anak - anak mengembangkan cara-cara berpikir logis seperti halnya orang dewasa dan mulai menggunakan aturan-aturan formal dari pikiran dan logika untuk memberikan dasar kebenaran (justification) jawaban-jawaban mereka (Hudoyo:1990:8).

Siswa sekolah dasar menurut Piaget berada pada tahap operasi konkret, dimana anak sudah mulai memiliki pemahaman operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Siswa memahami konsep kekekalan kemampuan mengklasifikasi kemampuan mengurutkan obyek dan juga telah memiliki kemampuan ekivalensi.

Ciri-ciri anak yang berada dalam tahap operasional konkret adalah: a) Siswa belum mampu melakukan operasi yang komplek

b) Siswa dapat melakukan operasi logis yang berorientasi kepada obyek-obyek atau peristiwa yang dialaminya.

c) Siswa dapat menalar induktif, tetapi sangat lemah bernalar deduktif d) Masih mengalami kesulitan menagkap ide atau gagasan abstrak c. Teori Brownell

Teori ini berdasarkan keyakinan bahwa anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika secara permanen atau secara terus menerus untuk waktu yang lama. Brownell mendukung penggunaan benda-benda konkrit untuk dimanipulasikan sehingga anak-anak dapat memahami makna dari konsep dan keterampilan baru yang mereka pelajari (Suminarsih, 2003:5).

d. Teori Dienes

(26)

12

pengklasifikasian struktur, memisahkan hubungan-hubungan yang terdapat di dalam struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur.

Menurut Paimin (1998:7), berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna, hanya jika disajikan pada anak dalam bentuk-bentuk konkret. Jadi abtraksi didasarkan pada intuisi dan pengalaman-pengalaman konkret.

Mengacu dari beberapa teori belajar diatas, maka dalam penelitian ini teori belajar matematika yang dipakai adalah teori belajar dari Piaget, khususnya tahap operasi konkret. Hal ini dikarenakan pada tahap tersebut siswa lebih memahami sesuatu materi secara konkret dari pada hal-hal yang bersifat abstrak.

Secara sederhana dapatlah dicontohkan, dalam hal pengerjaan soal cerita. Siswa akan memahami soal cerita tersebut apabila materi yang diberikan berhubungan dengan sesuatu yang konkret. Namun apabila soal cerita berhubungan dengan sesuatu yang abstrak, sudah barang tentu siswa akan kesulitan untuk menyelesaikan soal cerita tersebut dengan menggunakan kalimat matematika yang tepat.

(27)

13 3. Hasil Belajar Matematika

Salah satu tugas sekolah adalah memberikan pengajaran kepada siswa. Mereka harus memperoleh kecakapan dan pengetahuan dari sekolah, di samping mengembangkan pribadinya. Pemberian kecakapan dan pengetahuan kepada siswa, yang merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh guru di sekolah dengan menggunakan cara-cara atau metode-metode tertentu (Suryosubroto, 1997:148).

Secara etimologis, hasil belajar merupakan gabungan dari kata hasil dan belajar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:343), hasil adalah sesuatu yang diadakan (dibuat,dijadikan) akibat usaha. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperotes suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan (Tim Pengembang MKDK 1990:3).

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat diperoleh suatu pengertian bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Derajat kemampuan yang di peroleh siswa diwujudkan dalam bentuk nilai hasil belajar matematika.

C. Pembelajaran Berhitung

Berhitung adalah salah satu ilmu yang berkaitan dengan usaha-usaha melatih kecerdasan dan keterampilan siswa khususnya dalam menyelesaikan soal-soal yang memerlukan perhitungan.

Menurut Ruseffendi (1989:38), pengerjaan-pengerjaan hitung ialah pengerjaan tambah (menambah), pengerjaan kurang (mengurangi), pengerjaan kali (perkalian), pengerjaan bagi (pembagian). Dari keempat pengerjaan ini yang merupakan pengerjaan pokok ialah penambahan.

(28)

14

Menurut Sinaga (1988), seperti dikutip Mulyono (2003:253) berhitung adalah sebagai cabang matematika yang berkenaan dengan sifat-sifat dan hubungan bilangan-bilangan nyata dan dengan perhitungan mereka terutama menyangkut penjumlahan, perkalian, pengurangan dan pembagian.

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berhitung adalah salah satu ilmu yang berkaitan dengan usaha untuk melatih kecerdasan dan keterampilan siswa khususnya dalam menyelesaikan soal-soal yang memerlukan perhitungan.

Adapun tujuan dan prinsip-prinsip dalam pengajaran berhitung adalah sebagai berikut :

1. Tujuan Pengajaran Berhitung di Sekolah Dasar adalah:

a) Menanamkan pengertian bilangan dan kecakapan dasar berhitung.

b) Memupuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang.

c) Mengembangkan kemampuan dan sikap rasional, ekonomis dan menghargai waktu.

d) Meletakkan landasan berhitung yang kuat untuk mempelajari pengetahuan lebih lanjut.

2. Prinsip-prinsip Pengajaran Berhitung di Sekolah Dasar yaitu :

a) Menanamkan proses belajar dalam berhitung seperti latihan (drill), menghafal dan ulangan memang memadai tetapi akan lebih efektif apabilaguru mendorong kreatifitas murid dengan membantu pengertian ide dasardan prinsip-prinsip berhitung melalui kegiatan-kegiatan tersebut.

(29)

15

c) Pengalaman-pengalaman sosial anak dan penggunaan benda-benda kongkret perlu dilakukan guru untuk membantu meningkatkan pemahaman anak-anakdalam berhitung.

d) Setiap langkah dalam pengajaran berhitung hendaknya diusahakan melalui penyajian yang menarik untuk menghindarkan terjadinya tekanan atau ketegangan pada siswa.

e) Setiap anak belajar dengan kesiapan dan kecepatannya sendiri-sendiri. Tugas guru selain memotivasi kesiapan juga memberikan pengalaman yang bervariasi dan efektif.

f) Latihan-latihan sangat penting untuk memantapkan pengertian dan keterampilan. Karena itu latihan-latihan harus dilandasi pengertian. Latihan akan sangat efektif apabila dilakukan dengan mengikuti prinsip-prinsip penciptaan suasana yang baik. Latihan yang terlalu rumit, padat dan melelahkan hendaknya dihindarkan untuk mencegah terjadinya ketegangan. Berlatih secara berkala, teratur dengan mengulang kembali secara ringkas, akan mendorong kegiatan belajar karena timbul rasa menyenangi dan menghindarkan kelelahan.

g) Relevansi berhitung dengan kehidupan sehari-hari perlu ditekankan. Dengan demikian pelajaran berhitung yang didapatkan anak-anak akan lebih bermakna baginya dan lebih jauh mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu guru perlu membuat persiapan yang terencana agar anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang beragam dan fungsional (Depdikbud, 1992:1-2).

(30)

16

D. Media Gambar Sebagai Salah Satu Media Pengajaran 1. Pengertian Media Gambar

Di antara media pembelajaran, media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Hal ini dikarenakan siswa lebih menyukai gambar daripada tulisan, apalagi jika gambarnya dibuat dan disajikan sesuai dengan persyaratan gambar yang baik, sudah tentu akan menambah semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Dibawah ini beberapa pengertian media gambar, diantaranya :

a. Media gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bentuknya bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film, strip, opaque projector (Hamalik, 1994:95).

b. Media gambar adalah media yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana (Sadiman, 1996:29).

c. Media gambar merupakan peniruan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa, serta ukurannya relatif terhadap lingkungan (Soelarko, 1980:3).

Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media gambar adalah perwujudan lambang dari hasil peniruan-peniruan benda-benda, pemandangan, curahan pikir atau ide-ide yang di visualisasikan kedalam bentuk dua dimensi. Bentuknya dapat berupa gambar situasi dan lukisan yang berhubungan dengan pokok bahasan berhitung.

2. Fungsi Media Gambar

(31)

17

Melalui penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar-mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa.

Secara garis besar, fungsi penggunaan media gambar adalah sebagai berikut:

a. Fungsi edukatif, yang artinya mendidik dan memberikan pengaruh positif pada pendidikan.

b. Fungsi sosial, memberikan informasi yang autentik dan pengalaman berbagai bidang kehidupan dan memberikan konsep yang sama kepada setiap orang. c. Fungsi ekonomis, meningkatkan produksi melalui pembinaan prestasi kerja

secara maksimal.

d. Fungsi politis, berpengaruh pada politik pembangunan.

e. Fungsi seni budaya dan telekomunikasi, yang mendorong dan menimbulkan ciptaan baru, termasuk pola usaha penciptaan teknologi kemediaan yang modern (Hamalik, 1994:12).

Fungsi-fungsi tersebut di atas terkesan masih bersifat konseptual. Fungsi praktis yang dijalankan oleh media pengajaran adalah sebagai berikut:

1) Mengatasi perbedaan pengalaman pribadi peserta didik, misalnya kaset video rekaman kehidupan di laut sangat diperlukan oleh anak yang tinggal di daerah pegunungan.

2) Mengatasi batas ruang dan kelas. Misalnya gambar tokoh pahlawan yang dipajang diruang kelas.

3) Mengatasi keterbatasan kemampuan indera.

4) Mengatasi peristiwa alam. Misalnya rekaman peristiwa letusan gunung berapi untuk menerangkan gejala alam.

5) Menyederhanakan kompleksitas materi.

(32)

18 3. Karakteristik Media

Menurut Rahadi (2003:27-28), ada beberapa karakteristik media gambar, yaitu:

a. Harus autentik, artinya dapat menggambarkan obyek/peristiwa seperti jika siswa melihat langsung.

b. Sederhana, komposisinya cukup jelas menunjukkan bagian-bagian pokok dalam gambar tersebut.

c. Ukuran gambar proposional, sehingga siswa mudah membayangkan ukuran sesungguhnya benda/obyek yang digambar.

d. Memadukan antara keindahan dengan kesesuaiannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

e. Gambar harus message. Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Atas dasar karakteristik tersebut maka media gambar memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut:

1) Kelebihan Media Gambar :

a) Sifatnya konkrit dan lebih realistis dalam memunculkan pokok masalah, jika dibandingkan dengan bahasa verbal.

b) Dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. c) Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita.

d) Memperjelas masalah dalam bidang apa saja dan untuk semua orang tanpa memandang umur sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman.

e) Harganya murah dan mudah didapat serta digunakan (Sadiman, 1996:31).

2) Kelemahan Media Gambar

(33)

19

b) Gambar diintepretasikan secara personal dan subyektif.

c) Gambar disajikan dalam ukuran yang sangat kecil, sehingga kurang efektif dalam pembelajaran (Rahadi, 2003:27).

4. Keefektifan Media Gambar Dalam Pembelajaran Berhitung

Pengajaran sebagai upaya terencana dalam membina pengetahuan sikap dan keterampilan para siswa melalui interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur guru pada hakikatnya mempelajari lambang-lambang verbal dan visual, agar diperoleh makna yang terkandung didalamnya. Lambang-lambang tersebut dicerna, disimak oleh para siswa sebagai penerima pesan yang disampaikan guru. Oleh karena itu pengajaran dikatakan efektif apabila siswa dapat memahami makna yang dipesankan oleh guru sebagai lingkungan belajarnya.

Pesan visual yang paling sederhana, praktis, mudah dibuat dan banyakdiminati siswa pada jenjang pendidikan dasar adalah gambar. Disamping itu dayatarik gambar sebagai media pengajaran bergantung kepada usia para siswa. Siswakelas I lebih menyenangi gambar-gambar yang sederhana dan bersifat realistisseperti gambar-gambar naturalis dari pada siswa kelas IV.

Menurut Sudjana (2001:12), tentang bagaimana siswa belajar melalui media gambar adalah sebagai berikut:

a. Ilustrasi gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat belajar siswa secara efektif.

b. Ilustrasi gambar merupakan perangkat tingkat abstrak yang dapat ditafsirkan berdasarkan pengalaman dimasa lalu, melalui penafsiran kata-kata.

c. Ilustrasi gambar membantu para siswa membaca buku pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat-ingat isi materi teks yang menyertainya.

(34)

20

paling penting dari ilustrasi itu harus dipusatkan dibagian sebelah kiri atas medan gambar.

e. Ilustrasi gambar isinya harus dikaitkan dengan kehidupan nyata, agar minat para siswa menjadi efektif.

f. Dalam booklet, pada umumnya anak-anak lebih menyukai setengah atau satu halaman penuh bergambar, disertai beberapa petunjuk yang jelas. Dengan demikian media gambar merupakan salah satu teknik media pembelajaran yang efektif meningkatkan siswa belajar karena mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas, kuat dan terpadu melalui pengungkapan kata-kata dan gambar.

E. Langkah-langkah Pembelajaran Berhitung Dengan Media Gambar

Proses belajar mengajar berhitung dilaksanakan dari konkret ke yang abstrak, sesuai dengan penyajiannya yang didasarkan atas prinsip: mudah ke sukar, sederhana ke rumit, konkrit ke abstrak, lingkungan sehari-hari dari yang sempit dan dekat dengan siswa ke yang lebih luas dan jauh dengan siswa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Secara teoritis, pemanfaatan media gambar dalam pembelajaran matematika sudah barang tentu merupakan internalisasi dari diperolehnya pengalaman langsung melalui benda-benda tiruan, yang merupakan wujud dari pengalaman yang paling tinggi nilainya, sekaligus merupakan penjelasan dari konsep-konsep pelajaran matematika yang bersifat abstrak. Selaras dengan tujuan pemanfaatan media gambar yakni untuk menyederhanakan kompleksitas materi, maka pembelajaran matematika dengan media gambar akan membantu siswa dalam memahami materi pelajaran. Daya imajinasi atau citra anak didik dapat ditimbulkan dengan menata dan menyusun unsur-unsur visual dalam materi pengajaran.

(35)

21

1. Kesederhanaan, dalam tata letak (lay out) media pengajaran tampak pada gambar yang cukup besar dan jelas rincian pokoknya sehingga terlihat jelas perbedaan antara latar depan dan latar belakang unsur pokok yang ditonjolkan.

2. Keterpaduan, ada hubungan erat di antara berbagai unsur visual sehingga keseluruhannya berfungsi padu.

3. Penekanan, memegang peranan penting dalam media pengajaran walaupun penyajian bersifat tunggal, memiliki keterpaduan, seringkali memerlukan penekanan hanya pada satu unsur yang justru memerlukan titik perhatian siswa. 4. Keseimbangan, mencakup dua macam yaitu keseimbangan formal atau simetris

dan keseimbangan informal atau asimetris.

5. Garis, Fungsi garis dalam sebagai unsur visual adalah sebagai penuntun bagi para pengamat (siswa), dalam mempelajari rangkaian konsep, gagasan, makna atau isi pelajaran yang tersirat di dalam media gambar yang dipertunjukkan.

6. Bentuk, bentuk sebagai unsur visual diperlukan dalam sebuah pameran.

7. Tekstur, adalah unsur visual yang memungkinkan timbul suatu kesan kasar atau halusnya permukaan. Tekstur juga dapat digunakan seperti warna dalam hal penekanan, aksentuasi atau pemisahan, serta dapat menambah kesan keterpaduan. 8. Ruang, merupakan unsur gambar yang penting dalam merancang media

pengajaran. Hanya dengan pemanfaatan ruang secara hati-hati berbagai unsur visual dari sebuah rancangan media gambar akan menjadi efektif.

9. Warna, merupakan penambahan yang penting untuk sebagian besar media visual, tetapi pemakaiannnya harus hemat dan hati-hati bila menghendaki hasil yang terbaik (Sudjana, 2001:20-25).

Selain mempertimbangkan dari segi unsur-unsur media gambar kita juga harus memperhatikan beberapa prinsip umum agar menghasilkan gambar yang komunikatif dalam pembelajaran diantaranya sebagai berikut :

a. Visible, berarti mudah dilihat oleh seluruh sasaran didik yang akan memanfaatkan media yang kita buat.

(36)

22

c. Simple, artinya sederhana, singkat, tidak berlebihan.

d. Useful, maksudnya adalah gambar yang ditampilkan harus dipilih yang benar-benar bermanfaat bagi sasaran didik. Jangan menayangkan tulisan terlalu banyak yang sebenarnya kurang penting.

e. Accurate, isinya harus benar dan tepat sasaran.

f. Legitimate, maksudnya adalah bahwa visual yang ditampilkan harus sesuatu yang sah dan masuk akal. Gambar yang tidak lazim atau tidak logis akan dianggap janggal oleh anak.

g. Structured, maksudnya gambar harus terstruktur atau tersusun dengan baik, sistematis, dan runtut sehingga mudah dipahami pesannya.

h. Gunakan grafik untuk menggambarkan ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan oleh siswa mengorganisasikan materi.

i. Warna harus digunakan secara realistik (Rahadi, 2003:26-27).

Sehubungan dengan penerapan unsur-unsur dan prinsip-prinsip media gambar dalam proses belajar mengajar berhitung, maka ada beberapa langkah yang perlu ditempuh guru, yaitu:

1) Tahap persiapan, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan berbagai media gambar yang berhubungan dengan pokok bahasan yang diajarkan.

2) Tahap pelaksanaan, guru menyajikan materi pelajaran dengan memanfaatkan media gambar, sehingga menarik perhatian siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga media tersebut tidak dimanfaatkan guru saja.

(37)

23 F. Karakteristik Siswa SD

Dalam penelitian ini, siswa yang diteliti yaitu siswa SD kelas I. Berdasarkan hasil observasi, didapat bahwa kriteria umur di kelas tersebut antara umur 6 sampai 8 tahun.

Pada usia ini menurut Piaget (Asri Budiningsih, 2005: 38-39) telah memasuki tahap operasional konkrit, dimana anak-anak sudah mampu menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, tetapi hanya dengan benda-benda yang konkrit, anak telah dapat melakukan pengklasifikasian, pengelompokan, dan pengaturan masalah.

Jadi sesuai dengan usia dan dari segi karakteristik siswa kelas I SD tersebut, peneliti ingin mengetahui seberapa besar kelayakan peningkatan pemahaman berhitung dengan menggunakan media visual (gambar) dalam pelajaran matematika kelas I SD.

G. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:

“Dengan pemanfaatan media gambar, maka pemahaman berhitung siswa kelas I SD Negeri Belang Wetan 02 Kecamatan Klaten Utara Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 2013/2014, dapat meningkat”.

H. Kerangka Berpikir

Matematika merupakan fungsi yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dengan bantuan matematika alat yang efisien dan sangat diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan, dan tanpa bantuan matematika semua tidak akan mendapat kemajuan yang berarti.

(38)

24

(39)

25 BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan terhadap siswa kelas I di SDNegeri 2 Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 2013/2014. Dengan jumlah siswa 21 anak yang terdiri dari 13siswa laki-laki dan 8siswa perempuan.

B. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Menurut Suyanto (1997:5), penelitian tindakan kelas sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, dan pengembangan keahlian mengajar. Penelitian tindakan kelas ini menurut Arikunto (2002:83), terdiri dari empat komponen pokok yakni perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi atau reflecting.

Pernyataan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk visualisasi, sebagai berikut:

Gambar 1 : Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto,2002:83)

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran. Proses pelaksanaan penelitian dilaksanakan secara kolaborasi yang bersifat partisipan artinya adanya keterlibatan secara aktif antara peneliti dan guru.

(40)

26

Adapun penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus, yang masing-masing siklus dilaksanakan dalam waktu sampai menunjukkan tingkat keberhasilan. Setiap siklus terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Tahap Studi Awal

Pada tahap studi awal, peneliti mengadakan pengamatan terhadap proses pembelajaran berhitung di kelas, sehingga ditemukan kekuatan dan kelemahannya.

Dengan hasil pengamatan ini kemudian ditemukan beberapa hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran berhitung yaitu :

a. Banyaknya siswa yang tidak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. b. Tidak terjadi komunikasi yang mengejawantahkan keterampilan menyelidiki

dan menemukan permasalahan, seperti menanggapi permasalahan yang diajukan guru, mengemukakan pendapat dan sebagainya.

c. Guru membiarkan siswa dalam menyelesaikan soal cerita khususnya berhitung dengan hasil menemukan sendiri.

Dengan diketahuinya kemampuan awal, peneliti dapat mengamati perkembangan hasil belajar siswa maka alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang ditemukan, yaitu pemecahan masalah berupa pemanfaatan media gambar.

2. Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan yaitu sebagai tindak lanjut dari tahap awal, bagaimana memecahkan persoalan proses belajar mengajar berhitung tersebut. Hal ini dituangkan dalam bentuk penilaian tindakan kelas, berupa:

a. Mengajak Kepala Sekolah dan seorang guru yang bertugas sebagai observasing (pengamat).

(41)

27

c. Melaksanakan proses pembelajaran dengan memanfaatkan media gambar. d. Memonitor perubahan yang terjadi, selama penerapan media gambar yang

diindikasikan adanya keterlibatan siswa secara menyeluruh.

e. Membuat lembar pengamatan berisi aspek-aspek tindakan aktivitas siswa serta suasana kelas selama proses pembelajaran berlangsung.

3. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan yaitu implementasi dari rencana yang telah disiapkan.

Pada tahap pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan tindakan, peneliti berperan sebagai guru. Langkah-langkah pembelajaran berhitung dengan menggunakan media gambar yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

a) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa agar terlihat pada aktivitas pembelajaran, kemudian membagikan soal materi pokok berhitung yang sebelumnya sudah diterangkan.

b) Peneliti memberi kesempatan pada siswa untuk mengerjakan soal tersebut dan bertanya jika ada siswa yang masih bingung dalam pembelajaran berhitung. c) Peneliti mempersiapkan media gambar untuk tahap pembelajaran berhitung

berikutnya dan menyiapkan soal cerita.

d) Peneliti melaksanakan proses pembelajaran berhitung dengan menggunakan media gambar

e) Setelah selesai kemudian membagikan soal cerita post test dan pree test, bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar.

4. Pelaksanaan Observasi

(42)

28

pemanfaatan media gambar dalam proses pembelajaran berhitung yang dipandu dengan kombinasi instrumen lembar observasi.

5. Tahap Analisis dan Reflektif

Data yang didapat dari lembar observasi, kemudian dianalisis untuk dijadikan dasar penentuan apakah target yang ditetapkan telah tercapai atau belum. Data kuantitatif dapat dianalisis secara deskriptif (menggunakan statistik deskriptif). Data kualitatif (yang berupa kalimat-kalimat yang menggambarkan ekspresi) dapat dianalisis secara kualitatif.

Menurut Muhajir (1997:10), refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, guru dan suasana kelas. Pada tahap ini sejauh mana intervensi yang telah dilakukan terhadap pemanfaatan media gambar telah menghasilkan perubahan yang signifikan. Bila hal yangdikehendaki peneliti berhasil, maka penelitian dapat dikatakan berhasil. Jika belum berhasil, maka peneliti harus melakukan siklus selanjutnya.

C. Variabel Penelitian

Adapun variabel dalam penelitian ini adalah pemanfaatan media gambar dan peningkatan pemahaman berhitung.

D. Data dan Cara Pengumpulan Data 1. Sumber Data dan Jenis Data

a. Sumber Data

Sumber data diperoleh dari pengamatan kegiatan siswa, daftar nilai, proses pembelajaran dengan media gambar dan tes hasil belajar berhitung pada siswa kelas I SD.

b. Jenis Data

(43)

29 2. Cara Pengumpulan Data

a. Data hasil belajar diambil dari hasil tes (memberi sejumlah pertanyaan kepada siswa). Tes yang diberikan berupa soal uraian mengenai pembelajaran berhitung khususnya soal cerita.

b. Observasi, yaitu mengamati proses pembelajaran berhitung dengan memanfaatkan media gambar.

E. Validitas Tes

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan validitas item atau validitas butir soal. Hal ini karena peneliti ingin mengetahui valid dan tidaknya instrumen atas dasar kevalidan soal setiap butir soal, sehingga instrumen tersebut nantinya dapat digunakan secara efektif.

Suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur dan instrumen yang valid mempunyaivaliditas yang tinggi.

Adapun teknik yang digunakan untuk menganalisis validitas tes digunakan rumus korelasi product moment angka kasar Pearson sebagai berikut :

∑ ∑ ∑

√ ∑

} ∑

Keterangan :

r

xy = Koefisien korelasi antara X dan Y X = Skor tiap item

Y = Skor total

N = Jumlah responden atau peserta (Arikunto, 2002:162).

(44)

30

Dari hasil uji coba soal diperoleh harga rxy = 0, 415. Pada tahap signifikan harga r (5%:21) =0,325. Karena harga rxy>0,325 maka butir soal tersebut dikatakan valid.

F. Metode Analisis Data

Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, langkah berikut yang dilakukan adalah mengadakan analisis terhadap semua data yang telah terkumpul.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif dan kuantitatif. Untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar berhitung melalui pemanfaatan media gambar, maka dilakukan analisis pre test dan post tes dengan uji t-test yang rumusnya sebagai berikut :

̅

Keterangan :

= nilairata-ratakelas ∑ x = nilai keseluruhan siswa

n = banyaknya siswa yang mengikuti tes

Prestasi belajar siswa dikatakan meningkat apabila terdapat peningkatan nilai rata-rata dari nilai rata-rata sebelumnya (Arikunto, 2006).

G. Indikator Kinerja

Indikator kinerja adalah target keberhasilan yang ditetapkan oleh guru. Dalam penelitian ini, indikator kinerjanya adalah sebagai berikut:

1. Guru terampil memanfaatkan media gambar dalam kegiatan pembelajaran berhitung.

2. Terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal.

(45)

31

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN

Telah diketahui bahwa subyek penelitian berjumlah 21 responden. Penyebaran instrumen kepada responden dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Penyebaran dan pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri.

Tabel 2 : Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Responden Jenis Kelamin Jumlah

Laki - laki Perempuan

Siswa SD Negeri Belang Wetan 2 Klaten

13 8 21

Jumlah 13 8 21

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa 75% dari jumlah responden laki – laki. Sedangkan sisanya yaitu 25% dari responden perempuan.

Dalam proses pembelajaran berhitung yang memanfaatkan media gambar, antara siswa laki-laki dan perempuan tidak begitu berpengaruh dalam hal hasil pembelajarannya, karena masing-masing memiliki kelemahan dan kekurangan. Kemampuan siswa perempuan dalam hal membaca dan berbicara merupakan modal utama dalam menganalisis permasalahan yang berhubungan dengan soal cerita, sedangkan kemampuan siswa laki-laki dalam hal menghitung merupakan modal utama dalam mengerjakan soal cerita.

1. Deskripsi Data Tindakan I

Deskripsi hasil pembelajaran tindakan I adalah deskripsi hasil observasi pembelajaran dan hasil tes siswa berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti ditemukan beberapa hal diantaranya :

a) Suasana proses belajar mengajar aktif, siswa terlihat sungguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan guru.

(46)

32 c) Suasana dalam kelas agak gaduh.

d) Guru cenderung memperhatikan siswa yang pandai saja, sehingga kesempatan menjawab dan bertanya dikuasai oleh siswa yang pandai saja.

e) Siswa yang kurang pandai kurang mendapat perhatian. f) Hasil nilai pre test diperoleh rata-rata sebesar 49,52. g) Hasil nilai post test diperoleh rata-rata sebesar 55,23.

h) Siswa yang mendapat nilai > 60 berjumlah 13. Persentase ketuntasan individual (> 60) sebesar 13/21 x 100%= 62%.

Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus I

No. Rata-rata Pre Test Rata-rata Post Test Indikator (Target) Tercapai Keterangan 1. 49,52 55,23 80% 62% Belum Berhasil Kesimpulan :

Sesuai dengan indikator (target) kinerja bahwa 80% siswa telah mengalami ketuntasan individual, maka pelaksanaan siklus I yang baru mencapai ketuntasan 62% dikatakan belum berhasil, sehingga perlu dilakukan siklus II.

2. Analisis dan Refleksi :

Berdasarkan analisis hasil tindakan I, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran pada tindakan I difokuskan pada siswa memahami langkah– langkah penyelesaian soal berhitung khususnya soal cerita tanpa menggunakan media gambar, sehingga pemahaman siswa tentang soal cerita kurang jelas.

Berdasarkan observasi dari hasil pembelajaran tindakan, dan saran dari peneliti, beberapa hal yang harus diperhatikan pada tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut :

(47)

33

teman lain dalam menyelesaikan masalahnya sehingga dominasi guru dalam menyelesaikan masalah dikurangi agar terjadi interaksi multi arah.

b) Digunakannya alat peraga khususnya media gambar yang dibuat seindah mungkin (diberi warna), agar lebih menarik siswa dan dikondisikan sedemikian rupa.

c) Perhatian guru atau peneliti hendaknya secara menyeluruh, sehingga tidak ada kesempatan siswa untuk bermain.

d) Membantu siswa untuk berani mengeluarkan ide-ide atau gagasan sehingga suasana belajar lebih efektif.

e) Suasana proses belajar mengajar terlihat lebih aktif, siswa terlihat senang dan sunguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan guru.

3. Deskripsi Data Tindakan II

Deskripsi hasil pembelajaran tindakan II adalah hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan hasil tes siswa, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti ditemukan beberapa hal diantaranya :

a) Suasana proses belajar mengajar terlihat lebih aktif, siswa terlihat senang dan sunguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan peneliti.

b) Terjadi interaksi hampir multi arah yang merupakan interaksi optimal dalam proses belajar mengajar, belum ada interaksi antara siswa dengan siswa.

c) Suasana dalam kelas agak sedikit gaduh dan ramai dikarenakan aktifitas belajar pada siswa yang banyak mengomentari gambar-gambar yang dipakai peneliti untuk menjelaskan materi.

d) Dalam menggunakan media gambar, penggunaannya masih belum optimal.

(48)

34

siswa yang pandai saja. Namun siswa yang kurang pandai belum mampu mengeluarkan pendapatnya, masih cenderung diam. f) Hasil nilai pre test diperoleh rata-rata sebesar 51,42.

g) Hasil nilai post test diperoleh rata-rata sebesar 59,04.

h) Siswa yang mendapat nilai > 60 berjumlah 15. Persentase ketuntasan individual (> 60) sebesar 15/21 x 100%= 72%.

Tabel 4 : Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus II

No. Rata-rata Pre Test Rata-rata Post Test Indikator (Target) Tercapai Keterangan 1. 51,42 59,04 80% 72% Belum Berhasil Kesimpulan :

Sesuai dengan indikator (target) kinerja bahwa 80% siswa telah mengalami ketuntasan individual, maka pelaksanaan siklus II yang baru mencapai ketuntasan 72% dikatakan belum berhasil, sehingga perlu dilakukan siklus III.

4. Analisis dan Refleksi :

Berdasarkan analisis hasil tindakan II, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada tindakan II difokuskan agar siswa memahami pelajaran berhitung khususnya soal cerita pada operasi bilangan (penjumlahan dan pengurangan) dengan memafaatkan media gambar. Tindakan pembelajaran sebagai upaya pemahaman siswa dengan pemanfaatan media gambar.

Berdasarkan observasi hasil pembelajaran tindakan II dan saran dari peneliti hal-hal yang harus diperhatikan pada tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut :

a) Memberi kesempatan lebih banyak pada siswa untuk menyelesaikan suatu masalah.

(49)

35

c) Menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran untuk membantu proses berhitung.

d) Membantu memotivasi keberanian siswa untuk bertanya.

5. Deskripsi Data Tindakan III

Deskripsi hasil pembelajaran tindakan III adalah hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan hasil tes siswa. Dari deskripsi tersebut ditemukan hal - hal sebagai berikut :

a) Suasana proses belajar mengajar semakin interaktif. Siswa terlihat antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Siswa banyak yang berani bertanya dan mengeluarkan pendapat, bahkan antar siswa sudah saling memberi soal yang berhubungan dengan materi pembelajaran.

b) Interaksi yang terjadi hampir multi arah yang merupakan interaksi optimal dalam proses belajar mengajar.

c) Kemampuan peneliti dalam menggunakan media gambar sudah maksimal.

d) Sebagian besar siswa terlihat aktif. Guru memberikan bantuan berupa penjelasan materi tersendiri terhadap siswa yang kurang pandai.

e) Hasil nilai pre test diperoleh rata-rata sebesar 70,52. f) Hasil nilai post test diperoleh rata-rata sebesar 84,80.

g) Siswa yang mendapat nilai > 60 berjumlah 21. Persentase ketuntasan individual (> 7,5) sebesar 21/21 x 100% = 100%.

Tabel 5 : Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus III

(50)

36 Kesimpulan :

Sesuai dengan indikator (target) kinerja bahwa 80% siswa telah mengalami ketuntasan individual, maka pelaksanaan siklus III yang sudah mencapai ketuntasan 80% dikatakan berhasil, sehingga tidak perlu dilakukan siklus berikutnya.

6. Analisis dan Refleksi

Berdasarkan analisis hasil tindakan III, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada tindakan III difokuskan agar siswa memahami soal berhitung pada operasi bilangan (penjumlahan dan pengurangan) khususnya soal cerita dengan memanfaatkan media gambar. Tindakan pembelajaran sebagai upaya pemahaman siswa dengan penggunaan media gambar.

Berdasarkan observasi dari peneliti dan serangkaian pembelajaran tindakan III ditemukan beberapa hal sebagai berikut :

a) Guru telah berupaya memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus pertama dan kedua.

b) Suasana belajar lebih interaktif, siswa terihat lebih antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

c) Interaktif yang terjadi multi arah, tidak hanya guru dengan siswa, tetapi juga antara siswa dengan siswa.

d) Kemampuan guru dalam menggunakan media gambar telah maksimal.

e) Guru telah berusaha agar siswa yang kurang pandai, berani bertanya dan mengeluarkan pendapat.

Berdasarkan hasil penelitian dan refleksi masing-masing siklus dapat ditarik kesimpulan bahwa indikator penelitian tindakan yang terdiri atas :

1) Guru terampil mengelola proses belajar mengajar berhitung dengan memanfaatkan media gambar

(51)

37

3) 80% siswa kelas I SD Negeri 02 Belang Wetan mampu memahami dan melaksanakan proses pembelajaran berhitung dengan menggunakan media gambar, dapat terwujud.

Adapun untuk menggambarkan hasil perkembangan dari pelaksanaan siklus I sampai III dapat dilihat pada gambar grafik di bawah ini :

Gambar 1 : Perbandingan Nilai Pre Test dan Post Test Pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III.

Bertolak dari gambar di atas, maka dapat diketahui perolehan rata-ratanilai pre tes dan post test siswa, setiap siklus mengalami peningkatan yang cukup berarti. Meskipun siklus I dan II belum berhasil memenuhi indikator kinerja yangditargetkan.

Kesimpulan diatas dapat ditarik bahwa, Dengan pemanfaatan media gambar, maka pemahaman berhitung siswa kelas I SD Negeri 02 Belang Wetan Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 20013/2014 dapat meningkat, dengan diindikasikan dari peningkatan hasil belajar berhitung tiap siklus di mana ada perbedaan yang cukup signifikan antara rata-rata nilai post test dan nilai pre test.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Siklus I Siklus II Siklus III

(52)

38

B. Kendala – Kendala Dalam Penggunaan Media Gambar

Kendala yang dihadapi peneliti dikelas I SD Negeri 02 Belang Wetan, sehubungan dengan penggunaan media gambar dalam pembelajaran berhitung adalah :

1) Tahap persiapan, terdiri atas penyiapan rencana pembelajaran dan penyiapan gambar.

2) Tahap pelaksanaan, berhubungan dengan strategi belajar mengajar, interaksi, dan cara menggunakan media gambar. Kendala yang dialami siswa, terjadi ketika pertama kali menggunakan media gambar. Karena tidak terbiasa menggunakan media gambar, maka siswa masih tampak kebingungan.

3) Tahap evaluasi, terdiri atas ketercapaian tujuan dan ketepatan penggunaan media gambar.

C. PEMBAHASAN

Menurut Suryosubroto (1997: 19), menyatakan bahwa proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. Sedangkan menurut Sukewi (1994:3), bahwa dalam proses belajar mengajar terdapat komponen-komponen yang saling terkait, yang meliputi tujuan pengajaran, guru dan peserta didik, bahan pelajaran, metode/strategi belajar mengajar, alat/media, sumber pelajaran, dan evaluasi.

Pernyataan diatas dapat disimpulkan, bahwa media pembelajaran adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik 1994:12).

(53)

39

menyampaikan materi dengan memperagakan langsung sehingga siswa akan lebih jelas dan memahami.

Penelitian ini telah membuktikan bahwa menggunakan media gambar dapat meningkatkan pemahaman berhitung siswa kelas I SD Negeri 02 Belang Wetan Kabupaten Klaten Tahun Ajaran 2013/2014. Peningkatan pemahaman siswa terbukti dengan hasil - hasil belajar siswa yang diindikasikan dari nilai-nilai pre test dan post test, dimana masing-masing siklus menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.

Sejalan dengan pendapat Piaget, bahwa siswa Sekolah Dasar yang rata-rata berusia antara 6 tahun sampai 12 tahun, berada pada tahap operasi konkret. Ciri utama anak pada usia ini adalah telah dapat memahami ide-ide, atau konsep yang bersifat abstrak, tetapi masih dipengaruhi oleh visual. Hal ini berarti peran peragaan sangat penting dalam memahami konsep matematika berhitung yang bersifat abstrak.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan Media Gambar dalam proses pembelajaran berhitung akan lebih memotivasi siswa dalam belajar, tidak lekas jenuh dan bosan. Media Gambar bukan hanya menjadikan siswa tertarik akan materi pelajaran yang dijelaskan guru, namun media gambar menjadi media pembelajaran yang mampu mengatasi perbedaan pemahaman antar pribadi siswa dan menyederhanakan kompleksitas materi.

Materi dalam pembelajaran berhitung yang komplek tersebut akan tersederhanakan. Hal tersebut akan menjadikan materi yang terdapat dalam pembelajaran berhitung akan dimengerti, lebih mudah dipahami dan setiap siswa akan memiliki konsep yang sama terhadap suatu materi yang diajarkan. Selebihnya penggunaan Media Gambar menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna sejalan dengan pendekatan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.

(54)

40

konkret dalam mempelajari berhitung, sehingga pada akhirnya pemahaman siswa yang didapat relatif bertahan lama dan akan meningkat jika dibandingkan dengan siswa yang hanya menerima saja dari gurunya.

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian di atas, menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran berhitung terbukti untuk meningkatkan pemahaman berhitung pada siswa kelas I di SD Negeri 02 Belang Wetan Klaten. Namun demikian, keberhasilan penggunaan media gambar sesuai dengan indikator kinerja yang ditetapkan memerlukan pentahapan siklus selama tiga kali.

Lamanya siklus penelitian untuk dapat mencapai target yang ditetapkan sesuai indikator kinerja disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

1. Guru masih terbiasa dengan pola pembelajaran lama, yang menempatkan metode ceramah sebagai satu-satunya metode andalan yang tiap hari digunakan guru untuk memperjelas materi.

2. Guru tidak terbiasa menggunakan media pengajaran, khususnya media gambar dalam pelajaran berhitung.

3. Siswa terbiasa dengan pola pembelajaran yang teacher centered, sehingga penggunaan media gambar tidak dapat dioptimalkan dalam waktu yang relatif cepat.

(55)

41

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan, cara meningkatkan pemahaman berhitung pada mata pelajaran matematika kelas 1 SD Negeri Belang Wetan II Klaten yaitu dengan menggunakan media gambar yang menarik siswa dan dilakukan sendiri oleh siswa. Hal tersebut diindikasikan dari pencapaian target pada siklus I yang tanpa menggunakan media gambar rata-rata pre test 50,52; post test 56,23; siklus II dengan media gambar rata-rata pre test 52,42; post test 60,04; siklus III juga dengan media gambar rata-rata pre test 70,52; post test 84,80 dan sesuai dengan indikator kinerja, yakni 80% siswa mampu mencapai hasil belajar berhitung > 60.

B. SARAN

Berdasarkan simpulan di atas, dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :

1. Guru dapat senantiasa menggunakan media pembelajaran, khususnya media gambar dalam proses belajar mengajar berhitung yang dirancang sesuai dengan materi pelajaran yang dibahas sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam menerima pelajaran berhitung.

2. Guru diharapkan tidak monoton dalam menyampaikan materi pelajaran agar siswa tidak jenuh dalam memahami pelajaran berhitung.

(56)

42

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Depdikbud dan Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Depdikbud. (1992). Petunjuk Pengajaran Berhitung Kelas I, II, III SD. Jakarta : P2MSDK.

Depdikbud. (1993). Kurikulum Pendidikan Dasar I. Jakarta : Proyek Peningkatan Mutu SD, TK, dan SLB.

Hamalik. (1994). Media Pendidikan. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Hudoyo, Herman. (1998). Mengajar Belajar matematika. Jakarta : Depdikbud dan P2LPTK.

Muhajir, Noeng. (1997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Bagian Keempat : Analisis dan Refleksi. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Paimin. (1998). Strategi Belajar Matematika. Jakarta : Rineka Cipta. Rahadi, Aristo. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta : Depdiknas.

Rahadi, Aristo. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta : Dikjen Dikti Depdikbud. Rohani, Ahmad. (1997). Media Instruksional Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta. Ruseffendi,ET. (1989). Dasar-Dasar Matematika Modern dan Komputer Untuk

Guru. Bandung : Tarsito.

Sadiman, Arif. (1996). Media Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Soelarko. (1980). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Depdikbud.

Sudjana. (2001). Media Pengajaran. Jakarta : Sinar Baru Algensindo.

Sukewi. (1994). Proses Belajar Mengajar. Semarang : IKIP Semarang Press. Suminarsih. (2004). Strategi Pembelajaran Matematika. Semarang : LPMP Jawa

(57)

43

Suryosubroto. (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

(58)

44

(59)

45

Media Gambar

(60)

Media GGambar Pennjumlahan ddan Pengura

(61)

47

Gambar

Tabel 1. Hasil Taraf Serap
Gambar 1 : Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto,2002:83)
Tabel 2 : Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3 : Distribusi Frekuensi Data Hasil Penelitian Siklus I  No. Rata-rata  Pre
+4

Referensi

Dokumen terkait

From the data analysis, the reseacher found the students’ problem and the cause of the problem in the process of learning listening of SMAN 15 Bandar Lampung

Adanya organ pencernaan fermentatif bagi ruminansia memiliki beberapa keuntungan (Sutardi, 1980), yaitu: 1) dapat mencerna bahan makanan dengan serat kasar yang tinggi, sehingga

Teori lain yang mengatakan bahwa alat peraga dalam pengajaran dapat bermanfaat sebagai berikut: Meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk berpikir sehingga mengurangi

Usaha bidang pelayanan jasa, pada saat ini berkembang dengan sangat pesat terutama jasa bengkel, karena para pelaku bisnis dibidang jasa ini melihat bahwa pangsa pasar

Standar ini memuat prosedur untuk melakukan pengukuran statis kadar serat asbes di udara tempat kerja mulai dari tata cara pengambilan contoh sampai dengan analisis

BAGIAN I LANSKAP MEDIA YANG TENGAH BERUBAH Bab 1 Pengantar Teori Komunikasi 3 Konsep KOluunikasi Massa ..4. Lingkungan Media Komunikasi

Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan melihat hubungan antara pengetahuan ibu, pemberian ASI eksklusif, perilaku merokok

7.2 Kondisi untuk penyimpanan yang aman, termasuk ketidakcocokan Bahan atau campuran tidak cocok. Pertimbangan untuk nasihat lain •