• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Senam Diabetes 2.1.1. Pengertian

Senam diabetes adalah senam aerobik low impact dan ritmis dengan gerakan yang menyenangkan, tidak membosankan dan dapat diikuti semua kelompok umur sehingga menarik antusias kelompok dalam klub-klub diabetes. Senam aerobic low impac dan ritmis ini merupakan senam aerobik yang dilakukan dengan benturan ringan, tanpa loncatan dan berirama lambat dan teratur dimana salah satu kaki selalu bertumpu dil lantai setiap waktu dan tanpa tekanan tinggi pada sendi-sendi.

Senam diabetes dapat meningkatkan kesegaran jasmani dan manfaat aerobik yang optimal, seperti memperkuat otot-otot yang terlibat dalam respirasi, memperkuat otot jantung, meningkatkan efisiensi sirkulasi, meningkatkan penyimpanan molekul energi seperti lemak dan karbohidrat dalam otot, meningkatkan kemampuan otot untuk menggunakan lemak selama latihan, menjaga glikogen intramuskular dan meningkatkan kesehatan mental, termasuk mengurangi stres dan menurunkan kejadian depresi (Kolata, 2002; Setyanto, 2009).

2.1.2. Manfaat Senam diabetes

Latihan jasmani/senam diabetes secara umum bermanfaat bagi penatalaksanaan diabetes mellitus (American Diabetes Association, 2009; American Council on Exercise, 2001; Yunir&Soebardi, 2006; Setyanto, 2009), yaitu:

a. Mengontrol gula darah, terutama pada DM tipe 2 yang mengikuti olah raga teratur.

Hal ini disebabkan sel-sel dapat lebih merespon terhadap insulin dan tepat mengambil glukosa dari darah

.

b. Menghambat dan memperbaiki faktor resiko penyakit kardiovaskular yang banyak

terjadi pada penderita DM yaitu penyakit–penyakit vascular yang berbahaya yaitu

Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke, penyakit pembuluh darah perifer.

(2)

c. Dengan pengaturan olah raga secara optimal dan diet DM pada penderita kegemukan (obesitas) dapat menurunkan berat badan. Setiap penurunan 10 kilogram berat badan individu, mereka akan mengalami 20 persen peningkatan dalam sensitivitas insulin.

d. Memberikan keuntungan psikologis ; olah raga yang teratur dapat memperbaiki tingkat kesegaran jasmani karena memperbaiki system kardiovaskular, respirasi, pengontrolan gula darah sehingga penderita merasa fit, mengurangi rasa cemas terhadap penyakitnya, timbul rasa senang dan lebih meningkatkan rasa percaya diri serta meningkatkan kualitas hidupnya.

e. Mengurangi kebutuhan pemakaian obat oral dan insulin

f. Mencegah terjadinya DM yang dini terutama bagi orang – orang dengan riwayat keluarga. Porsi latihan harus ditentukan supaya maksud dan tujuan olah raga bagi penderita DM memberikan manfaat yang baik.

Hal ini sesuai dengan penelitian Song, dkk (2008) tentang kepatuhan penderita diabetes di Korea mengikuti latihan jasmani yang disebut t’ai chi terhadap kontrol gula darah dan kualitas hidup bahwa ada pengaruh secara signifikan kepatuhan mengikuti latihan jasmani (t’ai chi) dengan penurunan kadar gula darah dan peningkatan kualitas hidup.

2.1.3. Prinsip Senam Diabetes

Prinsip senam diabetes sama dengan latihan jasmani secara umum yaitu memenuhi frekuensi, intensitas, durasi dan jenis.

 Frekuensi

Untuk mencapai hasil optimal, latihan dilakukan secara teratur 3-5x/minggu, sedikitnya 3x/minggu dengan tidak lebih dari 2 hari berurutan tanpa latihan jasmani karena peningkatan sensitivitas insulin tidak lebih dari 72 jam (American Diabetes Association, 2009; Yunir&Soebardi, 2006).

 Intensitas

Intensitas latihan dinilai dari beberapa hal, yaitu target nadi, area latihan, kadar

glukosa sebelum dan sesudah latihan, tekanan darah sebelum dan sesudah

latihan. Untuk menentukan intensitas latihan dapat digunakan Maximum Heart

Rate (MHR) yaitu 220-umur. Setelah MHR didapatkan, dapat ditentukan

(3)

Target Heart Rate (THR).

 

Ketika memulai program olahraga, tujuan THR selama beberapa minggu pertama adalah 50%. Bertahap meningkat ke bagian yang lebih tinggi dari zona target yaitu 75%. Setelah enam bulan atau lebih dari latihan teratur, individu bisa latihan dengan nyaman dengan THR 85%

(American Heart Association, 2009). Sebagai contoh: Suatu latihan bagi seorang penderita diabetes berumur 60 tahun diperkirakan 75% maka THR=75%x (220-60)=120. Dengan demikian penderita diabetes teersebut dalam melakukan latihan jasmani, sasaran denyut nadinya adalah sekitar 120x/menit (Yunir&Soebardi, 2006).

 Durasi

Pemanasan dan pendinginan dilakukan masing-masing 5-10 menit dan latihan inti 30-40 menit untuk mencapai metabolik yang optimal. Bila durasinya kurang maka efek metabolik sangat rendah dan bila berlebihan akan menimbulkan efek buruk pada sistem respirasi, kardio dan muskuloskeletal (Setyanto, 2009)

 Jenis

Latihan jasmani yang dipilih hendaknya yang melinatkan otot-otot besar dan sebaiknya yang disenangi. Latihan yang dianjurkan untuk penderita DM adalah aerobic low impact dan ritmis berupa latihan jasmani endurence (aerobic) untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi seperti jalan, jogging, berenang dan bersepeda, sedangkan latihan resistensi statis tidak dianjurkan seperti angkat besi dan lain-lain (American Diabetes Association, 2009;

Setyanto, 2009).

2.1.4. Indikasi untuk melakukan senam diabetes

Menurut Mullen (2008), individu yang dapat melakukan senam diabetes adalah:

a. Individu dengan kadar glukosa darah kurang dari 250 mg/dl b. Tidak ada gejala retinopati, neuropati atau nefropati

c. Tidak ada masalah kardiovaskuler seperti angina, emboli atau aneurisma

Sebelum melakukan senam diabetes, dianjurkan untuk mengukur kadar gula darah,

tekanan darah, minuman dan makanan kecil karena bisa saja terjadi hipoglikemia

pada saat melakukan senam. Adapun tanda-tanda hipoglikemia pada saat senam

(4)

adalah gemetar, detak jantung cepat, jantung berdebar, keringat berlebihan, rasa lapar yang berlebihan, sakit kepala, mengantuk, kebingungan mental, dan perubahan mood mendadak. Dalam suatu serangan hipoglikemik, maka dianjurkan untuk berhenti melakukan senam diabetes dan istirahat, melakukan pemeriksaan kadar gula darah untuk mengetahui masalah dan mengkonsumsi makanan atau minuman seperti ½ cangkir jus buah, 1 kotak kecil kismis atau 3 tablet glukosa.

Makanan yang mengandung lemak harus dihindarkan karena menghambat penyerapan gula ke dalam aliran darah (Mullen, 2008).

2.1.5. Tahapan Senam Diabetes

Tahapan senam diabetes menurut

Yunir&Soebardi (2006) adalah sebagai berikut:

 Pemanasan (warm – up)

lamanya 5 – 10 menit, bertujuan untuk menaikkan suhu tubuh, meningkatkan denyut nadi mendekati intensitas latihan, mengurangi kemungkinan cedera.

 Latihan inti (Conditioning)

lamanya 20 menit, diusahakan denyut nadi mencapai THR (target Heart Rate). Bila dibawah THR maka latihan tersebut tidak bermanfaat. Dan bila berlebih akan menimbulkan resiko yang tidak diinginkan.

 Pendinginan (cooling down)

lamanya 5 – 10 menit hingga denyut nadi mendekati nadi istirahat, bertujuan untuk mencegah penimbunan asam laktat di otot sehingga menimbulkan nyeri di otot, atau pusing sebab darah masih terkumpul di otot yang aktif. Bila latihan yang dilakukan berupa jogging, pendinginan sebaiknya tetap jalan untuk beberapa menit.

Bila latihan berupa bersepeda sebaiknya tetap mengayuh tanpa beban.

 Peregangan (stretching), bertujuan untuk melemaskan dan melenturkan otot-otot yang masih teregang dan menjadi lebih elastis. Ini penting sekali untuk diabetesi usia lanjut.

(5)

2.1.6. Resiko Senam diabetes

Penderita diabetes yang mendapat terapi insulin, hipoglikemia disertai kadar insulin yang berlebihan merupakan hal yang perlu mendapat perhatian terutama pada saat pemulihan. Bila insulin disuntikkan pada lengan atau paha, akan memperbesar kemungkinan terjadi hipoglikemia karena peningkatan hantaran insulin melalui darah akibat pemompaan oleh otot pada saat berkontraksi, sehingga dianjurkan agar latihan jasmani dilakukan setelah makan, yaitu pada saat kadar gula darah berada pada puncaknya. Latihan jasmani yang dikerjakan dalam waktu lama dan dalam keadaan metabolik yang tidak terkendali, akan menyebabkan peningkatan pelepasan glukosa darah dari hati, disetai peningkatan produksi benda- benda keton.

Pada penderita diabetes dengan gula darah tidak terkontrol, latihan jasmani akan menyebabkan terjadinya peningkatan kadar glukosa darah dan benda-benda keton yang dapat berakibat fatal. Suatu penelitian mendapati bahwa pada kadar glukosa darah sekitar 332 mg/dl, bila tetap melakukan latihan jasmani akan berbahaya bagi yang bersangkutan. Jadi sebaiknya bila ingin melakukan latihan jasmani, seorang penderita harus mempunyai kadar glukosa darah tidak lebih dari 250 mg/dl (Yunir&Soebardi, 2006).

Menurut American Diabetes Association (2009), ada beberapa resiko yang perlu diperhatikan akibat latihan fisik, yaitu:

 Retinopathy

Pada pasien yang mengalami komplikasi retinopati dikontraindikasikan untuk melakukan latihan resistensi dan aerobik karena potensial untuk memicu perdarahan pada vitreous dan retina.

 Neuropathy perifer

Memang belum ditemukan penelitian tentang resiko latihan terhadap injury pada pasien dengan neuropati sensory perifer. Bagaimanapun dianjurkan untuk melakukan latihan yang non-weight bearing seperti berenang, bersepeda atau latihan lengan.

 Autonomik neuropathy

Autonomic neuropathy dapat meningkatkan resiko injuri karena penurunan

respon kardio terhadap latihan, postural hipotensi, gangguan termoregulasi

(6)

yang dapat mengganggu aliran darah kulit dan keringat, gangguan penglihatan, gangguan rasa haus yang dapat meningkatkan resiko dehidrasi. Individu dengan diabeticautonomic neuropathy seharusnya menjalani pemeriksaan cardivaskuler sebelum memulai latihan fisik

 Microalbuminuria dan nephropathy

Aktifitas fisik dapat secara akut meningkatkan eksresi protein urin seiring dengan peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu hanya dianjurkan untuk melakukan latihan ringan atau moderat saja, dimana tekanan darah selama latihan tidak lebih dari 200 mmHg. Bagaimanapun individu dengan microalbuminemia dan proteinuria harus melakukan tes ECG sebelum melakukan latihan untuk mencegah komplikasi (ADA, 2009)

2.2. Peran perawat spesialis

Sesuai peran yang dimiliki oleh perawat spesialis seperti, sebagai koordinator, edukator, advokat dan agen perubahan, maka perawat spesialis medikal bedah berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnnya dalam peningkatan pelayanan kesehatan pada masyarakat melalui promosi kesehatan umumnya dan promosi senam diabetes khususnya. Hal ini penting dilakukan karena banyak penderita diabetes yang mampu melakukan senam diabetes tapi tidak melakukannya dengan alasan ketidaktahuan atau ketidakmauan.

Peran keperawatan dalam promosi kesehatan senam diabetes adalah dengan melakukan penyuluhan dan praktek senam diabetes. Sebagai edukator, perawat spesialis membantu pasien dalam meningkatkan pengetahuannya tentang penyakit DM, gejalanya, komplikasi dan penatalaksanaannya. Diharapkan dengan peningkatan pengetahuan akan terjadi perubahan prilaku ke arah yang lebih baik sehingga akan meningkatkan kepatuhan pasien pada penatalaksanaan DM seperti kepatuhan melakukan senam diabetes. Namun sebelumnya perawat harus mampu memotivasi pasien untuk melakukan senam diabetes dengan menjelaskan manfaatnya, resiko yang terjadi, siapa saja yang bisa melakukan senam diabetes dan tahapan senam diabetes.

Ketika penderita diabetes bersedia melakukan senam diabetes maka perlu

dipertahankan kepatuhannya/ kedisiplinannya melakukan senam diabetes. Oleh karena

itu, perawat spesialis perlu memperhatikan suasana, tempat dan waktu yang sesuai

dengan kepentingan pasien sehingga pelaksanaannya tidak terburu-buru, senam

(7)

diabetes harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien jika perlu dibentuk dalam

kelompok-kelompok, harus ada evaluasi dari latihan yang dilakukan terhadap

maanfaatnya dalam mengontrol gula darah sehingga akhirnya pasien tidak merasa

terpaksa melakukan senam diabetes.

Referensi

Dokumen terkait

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bangsa babi galur murni Australia ( Landrace , Yorkshire , Duroc dan Berkshire ) sebanyak 10 ekor per bangsa di Balai Pembibitan

Bagi seluruh Mahasiswi penghuni Asrama Puteri IAIN Palopo diharapkan untuk selalu berusaha menanamkan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dalam diri masing- masing,

Adapun yang menjadi objek kajian penelitian penulis pada suku bangsa Rejang adalah penyelesaian konflik sosial yang timbul dari pemasangan tapal batas Kabupaten Rejang

Pada umumnya pihak korban akan langsung menyetujuinya yang kemudian kedua belah pihak akan melakukan perundingan dan pihak korban akan menetapkan sanksi bagi pihak pelaku, jika

Nilai tambah pendapatan harian petani yang diperoleh dari proses pengolahan mi ke- ring dari tepung komposit keladi dan ubijalar sebanyak 10 kg adalah Rp207.392,90 yang diperoleh

Dari hasil temuan di lapangan, dapat diketahui bahwa pemberian konsep penamaan makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong berdasarkan

(5) Apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak mencapai kesepakatan, maka para pihak atau salah satu pihak atau salah satu arbiter atau para