RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 1
Kota Jambi
BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2.1. Aspek Geografi dan Demografi
2.1.1. Kondisi Geografi
Kota Jambi merupakan ibukota Provinsi Jambi yang lebih dikenal dengan sebutan Jambi Kota Beradat. Wilayah Kota Jambi dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Muaro Jambi baik dari arah Utara, Selatan, Barat maupun di sebelah Timur.
Secara geografi wilayah Kota Jambi terletak di antara : 103301,67 Bujur Timur sampai 103400,22 Bujur Timur 01302,98 Lintang Selatan sampai 01401,07 Lintang Selatan dengan luas wilayah 205,38 Km
2atau sekitar 0,38 persen dari luas Provinsi Jambi.
Wilayah Kota Jambi secara keseluruhan terdiri atas daratan dengan luas 20.538 ha atau seluas 205,38 Km
2. Topografi wilayah Kota Jambi terdiri atas wilayah datar dengan kemiringan 0 hingga 2 %, bergelombang dengan kemiringan 2 hingga 15 % dan curam dengan kemiringan 15 hingga 40 % dengan luas lahan berdasarkan topografi adalah sebagai berikut :
a. Datar (1-2%) = 11.326 ha (55 %) b. Bergelombang (2-15%) = 8.081 ha (3,1%) c. Curam (15 – 40%) = 41 ha (0,002%)
Dari sisi iklim, Kota Jambi termasuk beriklim tropis. Musim hujan jatuh pada
bulan Oktober sampai April (dipengaruhi oleh Musim Timur Selatan) dan musim
kemarau pada bulan April sampai Oktober (dipengaruhi oleh Musim Barat).
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 2
Kota Jambi
Gambar 2.1 Peta Wilayah Kota Jambi
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 3
Kota Jambi
Keadaan iklim rata-rata Kota Jambi dalam kurun waktu tahun 2008 – 2012 terlihat sangat berfluktuasi. Suhu udara rata-rata terendah berkisar 22,70 C dan tertinggi berkisar 32,40
C. Kelembaban udara rata-rata terendah berkisar 83,33% dan tertinggi berkisar 84,00 %. Curah hujan rata-rata terendah berkisar 143,50 mm/tahun dan tertinggi berkisar 231, 43 mm/tahun. Sedangkan kecepatan angin rata-rata terendah berkisar 7,00 knot dan tertinggi berkisar 11,25 knot.
Wilayah Kota Jambi memiliki ketinggian dengan kisaran 10 – 60 m dari permukaan laut. Berdasarkan kecamatan, sebagian besar wilayah Kecamatan Pasar Jambi, Pelayangan, dan Danau Teluk berada pada ketinggian 0 – 10 meter dari permukaan laut, sedangkan wilayah Kecamatan Telanaipura, Jambi Selatan, Jambi Timur dan Kotabaru sebagian besar berada pada ketinggian 10 – 40 meter dari permukaan laut.
Pemanfaatan lahan di Kota Jambi didominasi oleh kebun dengan persentase sebesar 19,31% dari total luas Kota Jambi. Selain itu, Kota Jambi juga memiliki hutan yang cukup luas yaitu sebesar 17,19% dari total luas Kota Jambi. Hal ini mengisyaratkan bahwa Kota Jambi masih memiliki peluang untuk dikembangkan karena ketersediaan lahan yang cenderung masih luas, tetapi tentu saja harus ditelusuri kembali lahan-lahan yang potensial untuk dikembangkan, hutan misalnya, apakah termasuk kategori lindung atau budidaya. Isu penyediaan RTH sebesar minimal 30% dari total luas daerah tentunya masih sangat jauh untuk konteks pengembangan Kota Jambi karena jika dilihat dari guna lahan kebun dan hutan saja sudah mencapai 30%, belum lagi guna lahan lain dengan fungsi RTH yaitu ladang, belukar, sawah, dan sebagainya. Guna lahan lain yang mendominasi adalah permukiman dengan persentase sebesar 16,61% dari total luas Kota Jambi. Pola Pemanfaatan lahan di Kota Jambi secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 2.1 di bawah ini.
Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diidentifikasi wilayah
yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya seperti
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 4
Kota Jambi
perikanan, pertanian, dan pariwasata, dengan tetap berpedoman pada RTRW Kota Jambi dan berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah juga, dapat diidentifikasi bahwa pada sebagian wilayah Kota Jambi berpotensi rawan bencana alam banjir dan kebakaran.
Tabel 2.1
Pola Pemanfaatan Lahan di Kota Jambi tahun 2011
Pemanfaatan Lahan Luas (ha) Luas (%)
Bangunan 489.65 2.78
Belukar 1.945.77 11.04
Danau 244.52 1.39
Hutan 3.030.90 17.19
Industri 101.00 0.57
Jalan 662.81 3.76
Kebun 3.404.55 19.31
Kilang 0.25 0.00
Kolam 89.35 0.51
Ladang 1.763.61 10.00
Lapangan 92.55 0.52
Makam 33.91 0.19
Mesjid 12.04 0.07
Parit 20.52 0.12
Permukiman 2.927.95 16.61
Sawah 604.34 3.43
Sungai 755.93 4.29
Tanah Kosong 1.450.65 8.23
KOTA JAMBI 17.630,30 100,00
Sumber: Hasil Analisis Tim SPPIP Kota Jambi, 2010
Kota Jambi sebagai ibu kota Provinsi dan pusat pemerintahan serta pusat
perdagangan dan jasa mempunyai mobilitas penduduk yang tinggi, terutama dari
daerah tetangga (mobilitas sirkuler). Disamping sarana dan prasarana transportasi
yang sudah relatif lebih baik, maka faktor jarak juga sangat menentukan.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 5
Kota Jambi
Tabel 2.2
Jarak Kota Jambi ke beberapa Kota Kabupaten Dalam Provinsi Jambi
Ibu Kota Provinsi
Ibu Kota
Kabupaten Kabupaten Jarak
(Km)
Kota Jambi Muara Bulian Batang Hari 60
Kota Jambi Muara Bungo Bungo 252
Kota Jambi Bangko Merangin 255
Kota Jambi Sungai Penuh Kerinci 419
Kota Jambi Kuala Tungkal Tanjung Jabung Barat 131
Kota Jambi Sarolangun Sarolangun 179
Kota Jambi Muara Sabak Tanjung Jabung Timur 129
Kota Jambi Muara Tebo Tebo 206
Kota Jambi Sengeti Muara Jambi 27
Sumber : Kota Jambi dalam Angka 2012
2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Jambi Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Jambi Tahun 2013 – 2033 Lembaran Daerah Kota Jambi Nomor 9 tahun 2013, dijabarkan identifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Kawasan budidaya dibagi menjadi 9 (sembilan) yaitu kawasan peruntukan
perumahan; kawasan peruntukan perdagangan perdagangan dan jasa; kawasan
peruntukan perkantoran; kawasan peruntukan pendidikan; kawasan peruntukan
industri/pergudangan; kawasan peruntukan wisata; kawasan Peruntukan ruang
terbuka non hijau; kawasan peruntukan sektor informal dan kawasan peruntukan
pertahanan dan keamanan, dengan rincian seperti tertera pada tabel dibawah ini.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 6
Kota Jambi
No 1.
a.
b.
c.
2.
a. Pasar tradisional
b. Pusat perbelanjaan modern c. Toko dan ritel modern 3.
a. Perkantoran pemerintah - Pemerintah Provinsi : Kec. Telanaipura - Pemerintah Kota : Kec. Kota Baru b. Perkantoran swasta
4.
a. Kawasan pendidikan tinggi b. Kawasan pendidikan terpadu 5.
a. Kegiatan Industri besar
b.
kegiatan industri agro dan industri kecil dan menengah c. kegiatan industri dan pergudangan 6.
a. revitalisasi dan rehabilitasi kawasan tanggo b. pembangunan kawasan wisata
c. pengembangan kawasan wisata di kawasan Danau Sipin dan Teluk Kenali
d. pengembangan konsep wisata budaya di kawasan cagar
budaya Jambi Kota Seberang 7.
a. kolam retensi b.
c.
d. kompleks Monumen Tugu Juang e. area parkir bebas Simpang Rimbo
f. area parkir bebas Paal X g. area parkir bebas Aur Duri h. komplek Monumen Jam 8
a. Penataan PKL - di terminal rawasari
- di kawasan Pasar Angso Duo baru - di kawasan Stadion Koni
- di Kawasan Wisata Tanggo Rajo - di Taman Remaja
- di Stadion Persijam - di komplek monumen jam b. Pengembangan Pasar Hobby 9
Kec. Jelutung, Kec. Jambi Selatan
Kelurahan Arab Melayu Kec. Pelayangan.
Kec. Jelutung Kawasan Peruntukan Pertahanan dan
Keamanan
8 (delapan) Kecamatan se-Kota Jambi Kelurahan Sungai Asam Kec. Pasar Jambi Kelurahan Legok Kec. Telanaipura
Kec. Pasar Kec. Pasar
Kelurahan Selamat Kec. Telanaipura Kelurahan Kenali Besar Kec. Kota Baru Kelurahan Kenali Asam Bawah Kec. Kota Baru Kelurahan Pasir Panjang Kec. Danau Teluk Kelurahan Arab Melayu Kec. Pelayangan Kawasan Peruntukan Sektor Informal
Kec. Telanaipura : Kec. Danau Teluk
Kec. Danau Teluk ; Kec. Danau Teluk
Kawasan Peruntukan Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH)
Kec. Jambi Timur, Kec. Kota Baru dan Kec. Telanaipura pengembangan lahan parkir pada kawasan
Pasar Jambi dengan konsep ramah lingkungan;
Kecamatan Pasar Jambi Kec. Kota Baru
Kelurahan Kenali Asam Bawah Kec. Kota Baru Kawasan Peruntukan Wisata
Kec. Pasar Jambi Kec. Pasar Jambi Kawasan Peruntukan Pendidikan
Kec. Telanaipura Kec. Kota Baru Kawasan Peruntukan Industri dan/atau
Pergudangan
Kec. Pelayangan ; Kec. Jambi Timur Kawasan Peruntukan Perdagangan dan Jasa
Kelurahan Legok Kec. Telanaipura
Kec. Kotabaru, Kec. Telanaipura, Kec. Jambi Selatan Kec. Kotabaru
Kawasan Peruntukan Perkantoran
Kec. Pasar Jambi ; Kec. Jelutung WILAYAH Perumahan dengan kepadatan tinggi kurang
lebih 813 Ha
Perumahan dengan kepadatan tinggi kurang lebih 6.903 Ha
Perumahan dengan kepadatan tinggi kurang lebih 1.445 Ha
Kec. Telanaipura; Kec. Pasar Jambi; Kec. Jambi Timur;
Kec. Jelutung ; Kec. Jambi Selatan
Kec. Jambi Timur; Kec. Jambi Selatan; Kec. Jelutung;
Kec. Kota Baru; Kec. Telanaipura;
Kec. Pasar Jambi; Kec. Telanaipura; Kec. Danau Teluk;
Kec. Pelayangan KAWASAN PERUNTUKAN
Kawasan Peruntukan Perumahan
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 7
Kota Jambi
2.1.3. Kawasan Rawan Bencana Alam
Kota Jambi berdasarkan Peraturan Daerah Kota Jambi Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Jambi Tahun 2013 – 2033 Lembaran Daerah Kota Jambi Nomor 9 tahun 2013 membagi kawasan rawan bencana di Kota Jambi menjadi kawasan rawan bencana banjir dan kawasan rawan bencana kebakaran.
Kawasan rawan bencana banjir adalah meliputi Kecamatan Telanaipura;
Kecamatan Pasar Jambi; Kecamatan Jambi Timur; Kecamatan Danau Teluk; dan Kecamatan Pelayangan. Sedangkan Kawasan rawan bencana kebakaran dijabarkan sebagai berikut :
Kec. Danau Teluk : Kel. Pasir Panjang; Kel. Tanjung Raden; Kel. Tanjung Pasir; Kel. Olak Kemang; Kel. Ulu Gedong
Kec. Pelayangan : Kel. Tengah; Kel. Jelmu; Kel. Mudung Laut; Kel. Arab Melayu; Kel. Tahtul Yaman dan Kel. Tanjung Johor Kec. Telanaipura : Kel. Murni; Kel. Solok Sipin; Kel. Legok
Kec. Pasar Jambi : Kel. Pasar; Kel. Orang Kayo Hitam; Kel. Sungai Asam dan Kel. Beringin
Kec. Jambi Timur : Kel. Rajawali; Kel. Budiman; Kel. Kasang; Kel.
Sulanjana; Kel. Tanjung Pinang
Kec. Jelutung : Kel. Cempaka Putih dan Kel. Lebak Bandung
Kec. Kota Baru : Kel. Kenali Asam Atas dan Kel. Kenali Asam Bawah Kec. Jambi Selatan : Kel. Tambak Sari
2.1.4. Kondisi Demografis
Jumlah penduduk merupakan modal dasar dalam pembangunan namun
jumlah penduduk yang besar jika tidak diikuti dengan peningkatan kualitasnya
justru dapat menjadi beban pembangunan. Oleh karena itu masalah
kependudukan harus mendapat perhatian yang serius, sehingga dapat
dimanfaatkan secara optimal sebagai modal pembangunan.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 8
Kota Jambi
Kota Jambi sebagai ibu kota provinsi terdiri dari 8 kecamatan 62 kelurahan dan 1.537 Rukun Tetangga (RT) dengan ditribusi wilayah sebagai berikut :
Tabel 2.3
Nama Kecamatan, Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan Dalam Kota Jambi Tahun 2012
No Kecamatan Luas Wilayah (Km
2) Jumlah Kelurahan
1 Katabaru 66,13 10
2 Jambi Selatan 27,79 9
3 Jelutung 7,64 7
4 Pasar Jambi 1,68 4
5 Telanaipura 26,48 11
6 Danau Teluk 15,21 5
7 Pelayangan 12,78 6
8 Jambi Timur 17,82 10
Jumlah 175,53 62
Sumber : Kota Jambi dalam Angka 2012
Pada tahun 2012 penduduk Kota Jambi berjumlah 557.215 jiwa dengan kepadatan 2.713 jiwa per km2. Dilihat sebaran penduduk menurut kecamatan, ternyata penduduk lebih terkonsentrasi pada Kecamatan Kota Baru dengan jumlah penduduk 150.720 jiwa atau sekitar 27 % jumlah penduduk Kota Jambi.
Ada kecenderungan bahwa konsentrasi penduduk di perkotaan tidak berdasarkan aktivitas/pekerjaan, sebagian besar penduduk perkotaan memiliki tempat tinggal berbeda dengan wilayah aktivitas/pekerjaan, dengan demikian penyebaran penduduk (Tabel 2.3) lebih menggambarkan tempat tinggal.
Berdasarkan data tahun 2008 – 2012, keadaan penduduk Kota Jambi
cenderung mengalami peningkatan, terutama pada tahun 2012 pertumbuhannya
mencapai 3,14 persen. Hal ini sudah menjadi fenomena daerah perkotaan yang
merupakan tujuan para migran terdidik untuk mencari pekerjaan. Pertumbuhan
penduduk yang tinggi bukan karena kelahiran alamiah, melainkan penduduk
migran yang semakin meningkat.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 9
Kota Jambi
Tabel 2.4.
Jumlah, Penyebaran Penduduk dan Luas Wilayah Menurut Kecamatan Dalam Kota Jambi Tahun 2012
Kecamatan Penduduk
Kepadatan Penduduk
Per Km2
Penyebaran Penduduk
(%)
Luas Wilayah
(Km2)
Katabaru 150.720 1.938 27 77,78
Jambi Selatan 131.977 3.874 23,7 34,07
Jelutung 61.903 7.816 11,1 7,92
Pasar Jambi 12.825 3.190 2,3 4,02
Telanaipura 95.257 3.134 17,1 30,39
Danau Teluk 12.041 767 2,2 15,70
Pelayangan 13.173 862 2,4 15,29
Jambi Timur 79.319 3.925 14,2 20,21
Jumlah 557.215 2.713 100,00 205,38
Sumber : Kota Jambi dalam Angka 2012 (data diolah)
Tabel 2.5 menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki cenderung proporsinya lebih besar dibanding penduduk perempuan, hal ini digambarkan sex
ratio penduduk laki-laki 105 pada tahun 2008 dan selama periode observasicenderung fluktuatif hingga mencapai 101 pada tahun 2012. Kondisi ini menunjukkan bahwa penduduk perempuan meningkat lebih cepat dibanding laki- laki yang disertai tingkat harapan hidup perempuan jauh lebih lama dibandingkan penduduk laki-laki.
Dilihat dari sisi kepadatan yang meningkat secara signifikan (2.549 jiwa)
pada tahun 2008 meningkat menjadi 2.713 jiwa pada tahun 2012 atau terjadi
pertambahan penduduk rata-rata sebanyak 33 jiwa/Km2 setiap tahunnya,
sehingga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 10
Kota Jambi
Tabel 2.5
Jumlah, Kepadatan Penduduk Kota Jambi Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008-2012
Penduduk Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
Laki-Laki 267.607 271.693 270.519 275.311 280.121 Perempuan 255.965 261.050 262.362 264.947 277.094 Jumlah 523.572 532.743 532.881 540.258 557.215
Pertumbuhan - 1,76 0,03 1,38 3,14
Kepadatan (Km
2) 2.549 2.594 2.595 2.631 2.713
Sex ratio 105 104 103 104 101
Sumber : BPS Kota Jambi
Secara grafik pertumbuhan penduduk berdasarkan jenis kelamin dan perbandingan sex ratio yang menggambarkan perbandingan laki-laki dan perempuan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.2
Pertumbuhan Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Sex Ratio Kota Jambi Tahun 2008-2012
2008 2009 2010 2011 2012
Laki-laki Perempuan Sex Ratio
Dilihat dari aspek kepadatan penduduk yang cenderung meningkat hingga
mencapai 33 jiwa/Km2 setiap tahunnya, maka diperlukan kebijakan dalam
penataan pemukiman penduduk di masa depan. Kecenderungan tersebut
tergambar pada grafik berikut ini.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 11
Kota Jambi
Gambar 2.3
Perkembangan Sex Ratio Penduduk Kota Jambi Tahun 2008-2012
101 104
103 104
105
2008 2009 2010 2011 2012
Selain itu, agama memegang peran penting dalam pelaksanaan pembangunan, oleh karena itu pembangunan kehidupan beragama terus digalakkan di Kota Jambi. Tabel 2.24 menunjukkan komposisi pemeluk agama di Kota Jambi selama lima tahun terakhir. Jumlah penduduk Kota Jambi sampai tahun 2012 sebanyak 557.215 jiwa, berdasarkan agama yang dianut, terdapat jumlah penduduk yang beragama Islam sebanyak 483.422 jiwa (87 %) dengan jumlah masjid sebanyak 463 buah, langgar 139 buah dan mushollah sebanyak 70 buah. Sementara penduduk yang beragama Kristen Katolik sebanyak 20.436 jiwa, Kristen Protestan 22.732, dengan jumlah gereja sebanyak 14 buah, penduduk yang beragama Budha dan Hindu sebanyak 25.145 jiwa dengan rumah ibadah sebanyak 10 buah serta pemeluk agama Khonghuchu sebanyak 6.835 jiwa dengan jumlah kelenteng sebanyak 15 buah.
Pelaksanaan Ibadah Haji dari tahun ke tahun sesuai dengan jumlah kuota
yang diperoleh Kota Jambi. Pada tahun 2008 jumlah jemaah haji Kota Jambi
sebanyak 768 orang, selanjutnya pada tahun 2010 sebanyak 730 orang, tahun
2011 sebanyak 548 orang, dan tahun 2012 sebanyak 740 orang. Meskipun
berbagai kemajuan telah dicapai dalam bidang keagamaan, namun dalam upaya
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 12
Kota Jambi
penciptaan kualitas kehidupan beragama masih ditemui berbagai permasalahan seperti: a) Masih kurangnya Pemahaman, Penghayatan, dan Pengamalan Ajaran Agama di Masyarakat; b) Belum optimalnya Pelayanan Kehidupan Beragama c) Kurang berperannya lembaga-lembaga sosial keagamaan, dan d) Belum optimalnya kerukunan antar dan internal umat beragama.
Tabel 2.6.
Penduduk Kota Jambi Menurut Kepercayaan 2010-2012
Uraian 2010 2011 2012
Jumlah Penduduk 532.881 540.258 557.215
Pemeluk Agama Islam 469.766 473.165 483.422
Pemeluk Kristen Katolik 20.704 18.699 20.436 Pemeluk Kristen Protestan 38.525 22.970 22.732 Pemeluk Budha dan Hindu 26.256 24.796 25.145
Pemeluk Agama Khonghuchu 4.976 4.246 6.835
Jumlah Jama’ah Haji 730 740 548
Sumber : Kandepag Kota Jambi. 2013.
2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat
2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi a. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Kota Jambi selama periode 2008-2012
memperlihatkan kecenderungan yang meningkat secara linier. Tabel 2.5
menunjukan bahwa pada tahun 2008 ekonomi tumbuh sebesar 6,14 % dan
cenderung meningkat hingga tumbuh sebesar 7,05 % pada tahun 2012. Suatu
kinerja dalam bidang perekonomian yang cukup baik selama lima tahun terakhir
(2008-2012) dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,67 % pertahun.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 13
Kota Jambi
Disisi lain masih diperlukan suatu pengujian bahwa apakah pertumbuhan ekonomi tersebut cukup berkualitas, artinya apakah pertumbuhan tersebut berhubungan negatif dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan. Bila tidak maka pertumbuhan tersebut tidak membawa pada perbaikan kesejahteraan masyarakat, tetapi hanya dinikamti oleh sekelompok penduduk tertentu.
Tabel 2.7.
Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Kota Jambi Atas Dasar HK 2000 (2008-2012)
Lapangan Usaha Tahun
2008 2009 2010 2011 2012 Pertanian, Peterkan, Kehut &
Perikanan 2,13 2,02 2,08 2,99 2,71
Pertambangan & Penggalian (0,44) 0,08 1,28 1,37 0,90 Industri Pengolahan 5,84 5,62 5,80 5,74 6,65 Listrik, Gas & Air Bersih 5,89 5,93 6,90 8,24 7,85
Bangunan 8,71 7,31 7,23 7,78 10,35
Perdagangan, Hotel &
Restoran 9,04 9,09 9,36 9,62 8,74
Angkutan & Komunikasi 3,92 6,88 6,79 6,45 6,80 Keuangan, Persewaan & Jasa
Prsh 12,62 10,00 9,40 10,90 9,26
Jasa-Jasa 3,14 2,86 3,01 3,28 3,39
PDRB Dengan Migas 6,14 6,47 6,66 6,97 7,05
PDRB Tanpa Migas 6,57 6,83 6,97 7,25 7,37
Sumber : PDRB Kota Jambi
Berdasarkan lapangan usaha terdapat lima sektor perekonomian di Kota Jambi yang mengalami pertumbuhan positif selama perioide 2008-2012, yaitu (1) sektor industri pengolahan (2) sektor bangunan (3) sektor perdagangan, hotel dan restoran (4) sektor angkutan dan komunikasi dan (5) sektor listrik, gas dan air.
Sementara empat sektor lainnya mengalami pertumbuhan yang cenderung
fluktuatif seperti, sektor (1) pertanian (2) pertambangan dan penggalian (3)
Keuangan, Persewaan & Jasa perusahaan dan (4) sektor jasa-jasa. Suatu hal
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 14
Kota Jambi
yang menarik bahwa Kota Jambi sebagai pusat perdagangan dan jasa, tetapi sektor perdagangan pada akhir tahun 2012 mengalami penurunan dari 9,62 persen pada tahun 2011 menjadi 8,74 persen pada akhir tahun 2012.
Perbandingan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kota Jambi antara PDRB dengan Migas dan PDRB tanpa Migas terlihat kecenderungan yang sama, namun dari aspek besaran menunjukkan perbedaan, dimana PDRB tanpa migas relatif lebih besar.
Gambar 2.4
Perbandingan Pertumbuhan PDRB Migas dan PDRB Tanpa Migas Kota Jambi Tahun 2008-2012
6,97 7,05 6,47 6,66
6,14
7,25 7,37 6,83 6,97
6,57
2008 2009 2010 2011 2012
PDRB TM PDRB DM
b. Struktur Perekonomian
Struktur ekonomi merefleksikan distribusi PDRB menurut sektor atau lapangan usaha berdasarkan atas harga berlaku atau harga konstan. Distribusi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana peran sektor-sektor ekonomi dalam pembentukan PDRB pada tahun tertentu, sehingga terlihat sektor mana saja yang menjadi leading sektor dalam perekonomian daerah.
Sektor perdagangan, hotel dan restoran selama lima tahun terakhir masih
merupakan penyumbang terbesar dalam perekonomian Kota Jambi yaitu rata-rata
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 15
Kota Jambi
sebesar 25,34 persen pertahun, walaupun selama periode tersebut pergerakannya tidak begitu cepat. Posisi kedua penyumbang pembentukan PDRB Kota Jambi bersumber dari sektor angkutan dan komunikasi yang mencapai rata- rata 19,55 persen pertahun. Sementara sektor industri pengolahan berada pada urutan ketiga sebagai penyumbang pembentukan PDRB dengan kemampuan daya peran rata-rata sebesar 17,89 persen pertahun (lihat Tabel 2.8).
Tabel 2.8.
Distribusi Pertumbuhan Ekonomi
Kota Jambi Selama Periode 2008-2012 (HK-2000)
Lapangan Usaha Tahun
2008 2009 2010 2011 2012 Pertanian, Peterkan, Kehut &
Perikanan 2,15 2,06 1,97 1,90 1,82
Pertambangan &
Penggalian 5,70 5,36 5,09 4,82 4,54
Industri Pengolahan 18,20 18,05 17,91 17,70 17,63 Listrik & Air Bersih 2,55 2,53 2,54 2,57 2,59
Bangunan 7,24 7,30 7,34 7,39 7,62
Perdagangan, Hotel &
Restoran 24,15 24,75 25,37 26,00 26,41
Angkutan & Komunikasi 19,52 19,60 19,62 19,53 19,48 Keuangan, Persewaan &
Jasa Prsh 8,23 8,50 8,72 9,04 9,23
Jasa-Jasa 12,27 11,85 11,44 11,05 10,67
PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 PDRB Tanpa Migas 94,82 95,16 95,43 95,70 95,98 Sumber : PDRB Kota Jambi
Ketiga sektor tersebut perlu mendapat perhatian serius dalam konteks
pengembangan, sehingga mampu menjadi lokomotif pembentukan PDRB Kota
Jambi kedepan. Sementara sektor jasa yang merupakan salah satu karakter
ekonomi perkotaan mempunyai peran cukup besar bila digabung dengan jasa
keuangan, persewaan dan jasa perusahaan rata-rata mencapai 20,19 persen
pertahun. Untuk itu perlu kebijakan dalam pengembangan sektor jasa.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 16
Kota Jambi
Sektor Bangunan Kota Jambi yang menempati urutan keenam dalam pembentukan PDRB Kota Jambi selama periode hanya mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 7,38 persen pertahun selama periode 2008-2012. Hal ini kurang relevan dengan kondisi riil di lapangan, dimana pembangunan terus belangsung di hampir semua sudut Kota Jambi, tetapi perannya dalam pembentukan PDRB relatif kecil. Untuk perlu suatu kajian agar sektor bangunan dapat lebih berperan dalam pembentukan PDRB Kota Jambi.
Gambar 2.5
Struktur Perekonomian Kota Jambi Tahun 2012
19,48 9,23
10,67
26,41
2,59
7,62 17,63
4,54 1,82
Petanian Pertamb Industri Listrik & Air Bangunan Perdag, Hotel Angkutan Keuangan Jasa-Jasa
c. PDRB dan PDRB Perkapita
Pendapatan Regional per kapita adalah Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) setelah dikurangi penyusutan dan pajak tidak langsung netto, kemudian
dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Nilai ini sama dengan Produk
Domestik Regional Neto (PDRN) Atas Dasar Biaya Faktor Produksi, dibagi
dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pendapatan Regional per kapita
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 17
Kota Jambi
mencerminkan pendapatan penduduk Kota Jambi yang tak lepas dari pengaruh besarnya PDRB dari tahun ke tahun.
Pola peningkatan PDRB perkapita atas dasar harga berlaku mempunyai kecenderungan yang sama dengan atas dasar harga konstan. Tabel 2.9.
menujukkan bahwa dari Rp. 13,5 juta pada tahun 2008 meningkat menjadi Rp. 22,2 juta pada tahun 2012. Berarti selama lima tahun terakhir terjadi peningkatan PDRB perkapita sebesar Rp. 1,7 juta pertahun. Kecenderung yang sama terlihat pada PDRB perkapita ADHK dimana pada tahun 2008 sebesar Rp. 6,1 juta meningkat menjadi Rp 7,04 juta pada tahun 2012 atau selama lima tahun terakhir terjadi peningkatan sebesar Rp 184 juta pertahun.
Tabel 2.9.
PDRB dan Pendapatan Regional Perkapita ADHB dan ADHK Kota Jambi 2008-2012 (Rp. 000)
U r a i a n Tahun
2008 2009 2010 2011 2012 ADHB
PDRB Per Kapita 13.576 15.206 17.212 19.381 22.183 Pendapatan Per kapita 12.479 13.977 15.773 17.939 20.687 ADHK
PDRB Per Kapita 6.126 6.427 6.482 6.729 7.048 Pendapatan Per kapita 5.638 5.923 5.884 6.125 6.425 Sumber : Bappeda Kota Jambi
Suatu kondisi yang menggembirakan bahwa secara makro Pendapatan
Regional per kapita Atas Dasar Harga Berlaku menunjukkan peningkatan. Pada
tahun 2008 pendapatan perkapita sebesar Rp. 12,5 juta kemudian meningkat
menjadi Rp. 20,7 juta pada tahun 2012 atau selama periode 2008-2012 terjadi
peningkatan rata-rata Pendapatan Regional perkapita sebesar Rp 1,6 juta
pertahun. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada Pendapatan Regional
perkapita Atas Dasar Harga Konstan (lihat Tabel 2.9).
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 18
Kota Jambi
Gambaran PDRB dan Pendapatan Ragional per kapita atas dasar harga berlaku (ADHB) di atas tidak dapat dijadikan sebagai ukuran peningkatan kemakmuran ekonomi maupun penyebaran pendapatan di setiap strata ekonomi di Kota Jambi. Hal ini dikarenakan pengaruh inflasi yang masih dominan dalam pembentukan besaran PDRB maupun PDRN tersebut. Diperlukan indikator lain untuk menunjukkan penyebaran pendapatan ke setiap strata ekonomi.
Gambar 2.6
PDRB per Kapita Kota Jambi
ADHB dan ADHK Tahun 2008-2012 (Rp. 000)
13.576 6.126 15.206 6.427 17.212 6.482 19.381 6.729 22.183 7.048
2008 2009 2010 2011 2012
ADHB ADHK
d. PDRB dan Perkembangannya
PDRB Kota Jambi atas dasar harga berlaku memperlihatkan
perkembangan yang cukup berarti. Tabel 2.8 menunjukkan bahwa selama periode
2008-2012 PDRB memperlihatkan kecenderungan perkembangan dengan rata-
rata sebesar Rp 1,4 milyar pertahun dan perkembangan yang terbesar terjadi
pada tahun 2012 yang mencapai sebesar Rp 1,7 milyar. Peningkatan ini sebagian
besar disumbangkan oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 19
Kota Jambi
PDRB harga konstan menunjukkan perkembangan yang relatif kecil secara absolut dibanding dengan harga berlaku. Hal ini sangat wajar karena dalam harga konstan pengaruh inflasi dianggap sangat kecil atau mungkin tidak ada, namun demikian perkembangan PDRB selama periode 2008-2012 secara rata-rata mencapai Rp 226,8 milyar pertahun. Peningkatan ini diharapkan berimplikasi pada peningkatan pendapatan perkapita, sehingga daya belinya masyarakat meningkat.
Tabel 2.10.
Perkembangan PDRB ADHB dan ADHK 2000 Kota Jambi Tahun 2008-2012 (Juta Rupiah)
Tahun
ADHB ADHK 2000
PDRB (Milyar Rp)
Perkembangan (Milyar Rp)
PDRB (Milyar Rp)
Perkembangan (Milyar Rp)
2008 6.904.907 - 3.020.127 -
2009 7.821.183 916.276 3.215.391 195.264
2010 9.107.396 1.286.213 3.429.619 214.228 2011 10.566.477 1.459.081 3.668.601 238.982 2012 12.360.518 1.794.041 3.927.353 258.752
Rata - 1.363.903 - 226.807
Sumber : Bappeda Kota Jambi
e.
Inflasi
Tingkat kestabilan harga (inflasi) di Kota Jambi dengan mengacu pada Indeks Harga 9 Bahan Pokok pada bulan Januari Tahun 2012 sebesar 130,77.
Indeks harga 9 bahan pokok tersebut terus mengalami peningkatan dan pada
bulan Desember Tahun 2012 sebesar 138,50 atau meningkat sebesar 7,73 atau
pertumbuhan indeks harga 9 bahan pokok di Kota Jambi meningkat rata-rata 0,59
persen perbulan.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 20
Kota Jambi
Kenaikan harga BBM pada bulan bulan Mei Tahun 2008 dan Maret 2013 telah mempengaruhi daya beli masyarakat, sehingga secara kumulatif inflasi Tahun 2008 mencapai 11,57 persen. Namun laju inflasi pada Tahun 2009 mengalami penurunan drastis hingga mencapai 1,85 persen. Penurunan tingkat inflasi ini didorong oleh faktor-faktor eksternal yang semakin baik. Kondisi tersebut tidak berlangsung lama, karena pada tahun 2010 inflasi meningkat cukup tajam hingga mencapai 10,52 persen (Tabel 2.11).
Harga barang dan jasa yang cukup stabil pada Tahun 2011 telah menurunkan laju inflasi. Diperkirakan kalau tidak ada tekanan dari kenaikan harga BBM, diperkirakan pada Tahun 2011 tingkat inflasi di Kota Jambi diperkirakan akan menurun sekitar 2-3 %. Kondisi ini secara langsung akan mempengaruhi harga pasar yang semakin stabil terhadap harga-harga kebutuhan bahan pokok, biaya transportasi dan biaya lainnya.
Tabel 2.11.
Tingkat Inflasi Kota Jambi Tahun 2008 – 2012
DESKRIPSI Tingkat Inflasi
2008 2009 2010 2011 2012
Nasional 11,06 2,78 6,96 3,79 4,30
Kota Jambi 11,57 1,85 10,52 2,76 4,22
Sumber : BPS Kota Jambi
Selanjutnya inflasi pada tahun 2013 ini diperkirakan akan meningkat pada
posisi lebih tinnggi dibandingkan inflasi tahun 2012 (4,22 %) . hal ini sebagai
dampak menguatnya nilai kurs dollar AS terhadap rupiah dan kestabilan
keamanan, terutama memanaskan hubungan Pemerintah Indonesia dengan
Australia. Pada bulan November 2013 ini nilai kurs dollar sudah berada di level
Rp 11.600 per dollar. Kondisi ini sangat mempengaruhi inflasi tahunan secara
nasional.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 21
Kota Jambi
Gambar 2.7
Perkembangan Tingkat Inflasi di Kota Jambi 2008-2012
3,79 4,3 2,78
6,96 11,06
11,57
4,22 2,76
1,85
10,52
2008 2009 2010 2011 2012
Nasional Kota Jambi
2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial
Sumberdaya manusia (SDM) merupakan subyek dan sekaligus obyek pembangunan, mencakup seluruh siklus hidup manusia sejak kandungan hingga akhir hayat. Oleh karena itu pembangunan kualitas manusia harus menjadi perhatian serius dan sungguh-sungguh. Pembanguan SDM yang dilaksanakan di Kota Jambi selama lima tahun terakhir telah berhasil meningkatkan kualitas SDM.
Peningkatan ini ditandai dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 75,47 pada tahun 2008 menjadi 77,08 pada tahun 2012 (Gambar 2.8).
Hal ini merupakan modal dasar untuk membangun Kota Jambi ke depan, karena dari sisi pendidikan, daya beli dan harapan hidup cenderung meningkat.
Untuk melihat sejauh mana keberhasilan pembangunan dan kesejahteraan
manusia, dapat dilihat dari yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk
mengukur kesuksesan pembangunan dan kesejahteraan suatu daerah. IPM
adalah suatu tolak ukur angka kesejahteraan suatu daerah atau negara yang
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 22
Kota Jambi
dilihat berdasarkan tiga dimensi yaitu: angka harapan hidup pada waktu lahir (life
expectancy at birth), angka melek huruf (literacy rate) dan rata-rata lama sekolah(mean years of schooling), dan kemampuan daya beli (purchasing power parity).
Indikator angka harapan hidup mengukur kesehatan, indikator angka melek huruf penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah mengukur pendidikan dan terakhir indikator daya beli mengukur standar hidup. Ketiga indikator tersebut saling mempengaruhi satu sama lain, selain itu dapat dipengaruhi oleh faktor- faktor lain seperti ketersediaan kesempatan kerja yang ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah sehingga IPM akan meningkat apabila ketiga unsur tersebut dapat ditingkatkan dan nilai IPM yang tinggi menandakan keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara.
IPM Kota Jambi lima tahun terakhir adalah yang tertinggi setelah Kota Sungai Penuh. Tingginya IPM ini berimplikasi pada tingginya produktifitas tenaga kerja. Untuk itu salah satu tantangan pembangunan ke depan yang dihadapi Kota Jambi adalah bagaimana meningkatkan kesehatan, pendidikan dan pendapatan masyarakat agar lebih sejahtera.
Gambar 2.8
Perkembangan IPM Kota Jambi 2008-2012
Level pendidikan penduduk Kota Jambi dapat dilihat dari indikator angka melek huruf, rata-rata lama bersekolah dan partisipasi pendidikan berdasarkan usia sekolah dan angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas. Tabel 2.16
77,08
75,47
75,79
76,07 76,48
2008 2009 2010 2011 2012
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 23
Kota Jambi
menunjukkan bahwa pada tahun 2008 angka melek huruf penduduk Kota Jambi rata-rata sebesar 98,76 % dan pada tahun 2012 mencapai 99,07 %.
Program penghapusan buta aksara perlu dicanangkan oleh pemerintah ke depan, karena hal ini berkaitan kinerja di bidang pendidikan. Sisanya sebesar 0,93
% tidak terlalu berat untuk diselesaikan. Untuk itu perlu dilakukan pemetaan penduduk buta aksara di delapan kecamatan dan 62 kelurahan, sehingga program yang dilaksanakan tepat sasaran.
Tabel 2.12.
Perkembangan Angka Melek Huruf Kota Jambi Tahun 2008-2012
Uraian Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
Penduduk > 15 tahun 380.004 388.558 388.665 390.795 406.274 Angka Melek Huruf 98,76 98,77 98,81 98,99 99,07
Sumber : BPS. Susenas Kota Jambi. 2013.
Tingkat pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu indikator keberhasilan di bidang pendidikan dalam konteks pengembangan Sumber Daya Manusia. Makin besar proporsi penduduk yang menamatkan pendidikan yang lebih tinggi, maka baik kualitas SDM daerah tersebut. Tabel 2.12 menunjukkan bahwa dari 406.274 penduduk yang berumur 15 tahun ke atas pada tahun 2012 sekitar (0.93 %) masih belum melek huruf.
Berdasarkan jenis kelamin, menggambarkan bahwa dari 436.842 penduduk
yang berusi 10 tahun ke atas 215.103 orang (49.24 %) diantaranya adalah
perempuan dan sekitar 40.710 orang (9.31%) diantaranya hanya berpendidikan
Sekolah Dasar dan 6.22 % tidak mampu menamatkan pendidikan SD. Sementara
laki-laki yang dapat mengenyam pendidikan sebanyak 221.739 orang, namun
37.558 orang (8.59 %) diantaranya hanya mampu sampai pada Sekolah Dasar
dan sebagian tidak tamat.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 24
Kota Jambi
Gambar 2.9
Perkembangan Angka Melek Huruf Kota Jambi 2008-2012
2.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olahraga
Secara konseptual budaya mempunyai banyak makna, ada yang melihat budaya sebagai : (a), Produk masyarakat, menuju terwujudnya ketertiban, kerukunan, kedamaian, kesetiakawanan sosial, dan kesejahteraan; (b), Wujud tanggapan manusia terhadap tantangan kehidupan sebagai hasil adaptasi dengan lingkungannya; (c), budaya berisikan unsur universal dan lokal; (d), proses belajar (pewarisan) nilai, ide, gagasan, norma, tindakan dan hasil karya manusia kepada generasi berikutnya; (e), budaya sebagai mekanisme tata kelakuan manusia; dan (f), budaya sebagai bentuk yakni sistem nilai budaya (adat-istiadat), sistem sosial, dan hasil fisik karya manusia; (g), budaya berisikan kebiasaan-kebiasaan yang turun-temurun (dari anak turun ke bapak, dst), diikuti banyak pendukung, dan ada sangsi bagi pelanggarannya; (h), kebudayaan bukan agama dan agama juga bukan kebudayaan, tetapi kebiasaan manusia dalam menjalankan tugas keagamaan menimbulkan kebudayaan; (i), masyarakat pendukung kebudayaan yakni minoritas dan mayoritas kreatif); dan (k), kebudayaan berubah karena minoritas/mayoritas kreatif kehilangan daya kreativitasnya.
99,07
98,99 98,99
98,77 98,76
2008 2009 2010 2011 2012
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 25
Kota Jambi
Dari pengamatan terlihat budaya masyarakat Kota Jambi belum banyak berperan dalam mendorong perekonomian daerah. Hal ini erat kaitannya dengan Undang-Undang No. 5 tahun 1979 tentang pemerintah desa yang telah menghilangkan jati diri sistem budaya pemerintahan yang ada di Kota Jambi. Pola keseragaman, tidak mengatur desa dari aspek budayanya (adat) dan tidak mengakui prinsip otonomi daerah, Masyarakat adat (pemangku adat) kehilangan legitimasi.
Permasalahan budaya yang dihadapi diantaranya : (a), masih sulit merubah budaya yang bersifat statis kepada dinamis yang mendorong pembangunan ekonomi; (b), beragamnya nilai budaya sebagai akibat dari heterogennya penduduk sering menyebabkan benturan budaya. Kondisi historis kebudayaan dapat digambarkan dari aspek institusi, historis, etnis, pemanfaatan simbol budaya, globalisasi, permukiman penduduk , mobilitas penduduk, pelayanan pemerintahan, wisata, kegiatan kebudayaan, ekonomi, pendidikan, informasi, dll.
Untuk membangun kebudayaan maka diperlukan perlindungan nilai budaya, pengembangan nilai budaya dan pemanfaatan nilai budaya.
2.3. Aspek Pelayanan Umum
2.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib
a. Pendidikan
Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional karena perannya yang signifikan dalam mencapai kemajuan diberbagai bidang kehidupan : sosial, ekonomi, politik dan budaya.
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan pendidikan adalah angka
partisipasi, yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni
(APM). Secara detail Perkembangan APK dan APM Kota Jambi Tahun 2008 –
2012 dapat dilihat pada tabel 2.13. dibawah ini.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 26
Kota Jambi
Tabel 2.13.
Perkembangan APK dan APM Kota Jambi Tahun 2008 – 2012
APK APM APK APM APK APM APK APM APK APM
1 TK/ RA
53.86 53.59 58.81 58.12
2 SD/ MI
114.3 98.67
114,64 98,66 114,64 98,66 114,84 8,76114.9 99.46
3 SMP/ MTs112.5 79.12
113,54 75,32 113,54 75,32 113,82 76,22113.9 91.08
4 SMA88.32 68.76
88,35 68,82 88,35 68,82 89,73 69,5289.84 73.02
5 SMK 87,53 67,15 87,53 67,15 87,62 68,25
Jenjang 2012
No. 2008 2009 2010 2011
Sumber : Dinas Pendidikan Kota Jambi. 2013.
Sebaran jumlah sekolah, murid dan Guru di Kota Jambi di setiap Jenjang Pendidikan disajikan pada Tabel 2.14. menunjukkan bahwa Rasio Guru dan Murid (1: 15) dan rasio sekolah dan murid (1: 225) pada tahun 2008 menunjukkan kecenderungan stabil dan semakin baik. Hal ini ditandai dengan adanya pergeseran rasio pada tahun 2012 ke arah yang lebih baik, yaitu rasio Guru dengan Murid 1: 15 dan rasio sekolah dengan murid 1: 232, namun perlu distribusi guru yang lebih merata berdasarkan materi pelajaran.
Tabel 2.14.
Jumlah Sekolah, Murid dan Guru di Kota Jambi Tahun 2008 – 2012
Tahun Sekolah Murid Guru
2008 491 110.652 7.159
2009 491 121.149 7.152
2010 493 121.365 7.341
2011 522 123.103 7.826
2012 535 124.557 8.019
Sumber : Diknas Kota Jambi. 2013.
Fakta menunjukkan bahwa disatu sisi rasio cenderung semakin baik,
namun disisi lain fasilitas belajar mengajar beberapa sekolah masih sangat
memperihatinkan, terutama sekolah-sekolah yang jauh dari pusat-pusat
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 27
Kota Jambi
pemerintahan. Hal ini harus menjadi program prioritas pemerintah ke depan bila ingin memajukan klualitas SDM.
Kualitas guru sangat mempengaruhi hasil dari suatu proses pendidikan salah indikator kualitas guru adalah gelar kesarjanaan (Diploma/ S1) atau jenjang pendidikan yang ditamatkan. Tabel 2.15 menunjukkan bahwa dari 8,019 orang guru pada tahun 2012 sekitar 742 orang (9,25 %) diantaranya adalah tamatan SLTA dan 365 orang (4,55 %) diantaranya mengajar di jenjang Sekolah Dasar/sederajat. Mereka yang ber ijazah D2 sebanyak 712 orang dan 630 orang (7,85 %) mengajar di Sekolah Dasar/sederajat. Sementara mereka yang ber ijazah Sarjana (S1) sebanyak 6179 orang dengan sebaran 2013 orang mengajar di Sekolah Dasar, 1614 orang (20,12 %) mengajar di SLTP/sederajat dan 2031 orang (25,32 %) mengajar di di jenjang pendidikan SMU/sederajat. Program ke depan perlu dibuat suatu kebijakan bahwa yang berhak mengajar di SMU/sederajat adalah mereka yang berpendidikan Strata satu (S1), karena masih ada sekitar 119 orang (1,48 %) dari jumlah mengajar di SMU.
Tabel 2.15.
Jumlah Guru pada masing-masing tingkat pendidikan dan pendidikan terakhir di Kota Jambi Tahun 2012 Tingkat
Pendidikan
Pendidikan Terakhir Guru
Jumlah
SLTA D1 D2 D3 >S1
TK 282 - - 34 447 667
SD 365 67 630 101 2013 2.197-PNS
1.148-Non
SLTP 81 56 29 64 1614 1.679
SMU 5 - 49 - 1209 669-Negeri
590-Swasta
SMK 9 - - 56 823 375-Negeri
639-Swasta
SLB 3 4 5 73
Jumlah 742 126 712 260 6179 8019
Sumber : Diknas Kota Jambi. 2013.
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 28
Kota Jambi
b. Kesehatan
Kesehatan merupakan salah faktor penting dalam menentukan kualitas Sumberdaya Manusia. Masyarakat yang sehat sangat mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan produktivitas tenaga kerja. Tabel 2.16 menunjukkan bahwa perkembangan pembangunan sarana kesehatan selama kurun waktu 2008 – 2012 mengalami pertumbuhan yang stagnan terutama pada jumlah puskemas, dari 20 unit pada tahun 2008 dan tetap 20 unit pada tahun 2012. Kecenderungan yang sama terlihat pada fasilitas kesehatan lainnya, yaitu Pustu dan Pusling. Kedepan Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan bagi Ibu dan Anak harus diperbanyak dan difasilitasi oleh pemerintah.
Tabel 2.16.
Fasilitas Kesehatan di Kota Jambi Tahun 2008 – 2012
Tahun Rumah Sakit Puskesmas Pustu Pusling
2008 10 20 38 20
2009 12 20 38 20
2010 12 20 38 20
2011 14 20 38 20
2012 16 20 38 20
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Jambi. 2013.
Kualitas pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi ketersediaan tenaga medis yang mencukupi. Tabel 2.17 menunjukkan bahwa Jumlah pegawai kesehatan di Kota Jambi memperlihatkan perkembangan yang fluktuatif dari 890 orang pada tahun 2008 menurun menjadi 817 orang pada tahun 2012 atau terjadi penurunan rata-rata sebesar 1,64 % per tahun. Sementara tenaga Medis (dokter) menunjukkan kecenderungan yang sama dari 112 orang pada tahun 2008 menurunan menjadi 77 orang pada tahun 2012 atau terjadi penurunan rata-rata 6,25 persen pertahun.
Peningkatan jumlah tenaga kesehatan selama lima tahun terakhir masih
belum memadai bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mencapai
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 29
Kota Jambi
557.215 jiwa. Jumlah tenaga medis (dokter umum dan spesialis) yang ada di Kota Jambi pada tahun 2012 sebanyak 77 orang. Berarti satu dokter melayani sekitar 7.236 orang penduduk. Perbandingan yang demikian mustahil masyarakat Kota Jambi akan mendapat pelayanan kesehatan maksimal.
Berdasarkan kondisi tersebut, pembangunan sarana kesehatan dan penempatan tenaga medis terutama dokter spesialis merupakan program prioritas untuk Kota Jambi, agar masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang prima. Penambahan dokter ini juga akan secara langsung meningkatkan pelayanan rumah sakit daerah Kota Jambi sehingga masyarakat tidak perlu lagi keluar daerah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Tabel 2.17
Tenaga Kesehatan Kota Jambi Tahun 2008 – 2012
Tenaga Kesehatan 2008 2009 2010 2011 2012 Tenaga Medis (DU dan
Dg)
112 118 71 81 77
Perawat & Bidan 529 546 424 421 405
Farmasi 65 65 53 62 62
Gizi 24 24 23 28 43
Sanitasi 55 36 36 51 49
Kesmas 20 7 7 30 40
Nakes Lain 85 84 96 145 141
Jumlah 890 880 710 818 817
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Jambi.
2013.
Indikator kesehatan masyarakat Kota Jambi selama kurun waktu 2008- 2012 menunjukkan perkembangan yang berarti. Tabel 2.18 menginformasikan bahwa Usia harapan Hidup (e
o) dari 68,8 tahun pada tahun 2008 meningkat menjadi 69,95 tahun pada tahun 2012. Sementara Angka Kematian Bayi (AKB) dari 3 kasus atau 0,2 % per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2008 meningkat menjadi 22 kasus atau 1,7 % per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2012.
Peningkatan Angka Kematian Bayi merupakan pekerjaan rumah pemerintah Kota
RPJMD KOTA JAMBI TAHUN 2013 - 2018
BAB 2 II - 30
Kota Jambi
Jambi masa depan, segera diambil kebijakan operasional untuk dapat menekan tingkat kematian bayi ini.
Tabel 2.18
Indikator Kesehatan Masyarakat Kota Jambi 2008-2012
Uraian 2008 2009 2010 2011 2012
Usia Harapan Hidup 68,78 69,82 69,87 69,91 69,95
Angka Kematian Bayi 33 (2,7) 20 (1,7) 4 (0,3) 10 (0,8) 21 (20,0) Angka Kematian Ibu 11 (88,62) 4 (34,78) 8 (68,98) 10 (84,30) 9 (70,02) Gizi Buruk 76 (0,2) 133 (0,52) 125 (0,5) 21 (0,08) 31 (0,26)