PERMASALAHAN YANG SERING DITEMUKAN PADA PENGUNAAN BRAKET KERAMIK
DAN PENATALAKSANAANNYA
( Tinjauan Literatur )
OLEH:
DRG. LOUISE CINTHIA HUTOMO, SP. ORT
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
DAFTAR ISI
Cover ... i
Daftar Isi ... ii
Abstrak ... 1
PENDAHULUAN ... 1
DISKUSI ... 2
KESIMPULAN ... 5
DAFTAR PUSTAKA ……….. 6
PERMASALAHAN YANG SERING DITEMUKAN PADA PENGUNAAN BRAKET KERAMIK DAN PENATALAKSANAANNYA
( Tinjauan Literatur )
Louise Cinthia Hutomo PSPDG FK Unud
ABSTRAK
Meningkatnya popularitas penggunaan braket keramik akhir-akhir ini disebabkan karena braket tersebut memiliki banyak keuntungan seperti estetik, kekuatan rekat yang tinggi, tahan terhadap suhu tinggi dan bahan kimia, selain itu juga memiliki kestabilan warna.
Meskipun demikian, braket keramik juga memiliki beberapa kekurangan antara lain sifat rapuh sehingga mudah pecah atau fraktur. Oleh karena itu, penggunaan braket keramik untuk perawatan ortodontik memerlukan pertimbangan yang sangat matang. Tulisan ilmiah ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada seluruh dokter gigi mengenai kontraindikasi dan masalah-masalah yang mungkin terjadi pada penggunaan braket keramik beserta jalan keluarnya sehingga dapat mengurangi atau menghindari efek samping yang ditimbulkan.
Keywords : Masalah, Braket Keramik
PENDAHULUAN
Braket keramik dikenal sebagai braket estetis yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan braket plastik dan logam yaitu, mempunyai kekerasan dan ketahanan terhadap tekanan ortodontik, temperature tinggi dan penurunan derajat kimiawi serta tidak mudah menyerap warna. Namun sebaliknya, struktur atom yang terdapat pada braket keramik menimbulkan kerugian yaitu sifat getas dan rendahnya ketahanan braket tersebut terhadap fraktur
1.
Bermacam-macam braket keramik tersedia di pasaran, semuanya terbuat dari
aluminum oksida baik monokristal maupun polikristal. Braket polikristal dibuat dengan cara
menggabungkan butiran-butiran aluminum oksida, sedangkan braket monokristal hanya
terdiri dari satu butir aluminum oksida berukuran besar
2. Dalam bidang ortodonsia, braket
polikristal lebih banyak digunakan dibandingkan dengan braket monokristal, hal ini
disebabkan karena kekuatan braket polikristal tidak menurun secara drastis apabila terjadi
geresan akibat ligasi dan manipulasi lengkung
3.
Terdapat dua macam bentuk retensi dari braket keramik yaitu, retensi kimia dan mekanik, Retensi kimia diperoleh dengan cara memberikan lapisan silane pada dasar braket seramik, sedangkan retensi mekanik diperoleh melalui pengasaran atau undercut pada dasar braket
4. Kekuatan rekat dari braket seramik baik retensi kimia maupun mekanis berkisar antara 123 Mpa – 288 Mpa, kekuatan rekat ini jauh diatas kisaran kekuatan rekat minimal untuk dapat menahan tekanan ortodontik yaitu 60 – 80 kg/cm
2( 5.9 – 7.9 Mpa)
5. Kekuatan rekat braket keramik yang tinggi akan menimbulkan masalah pada waktu pelepasan braket dari permukaan gigi yaitu, patahnya braket keramik atau pecahnya permukaan email.
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui berbagai macam permasalahan yang sering ditemukan di klinik orthodonsi sehubungan dengan pemakaian braket keramik.
Masalah ini meliputi pengaruh pelepasan braket keramik terhadap email, keterbatasan penggunaan braket keramik, kemungkinan pecahnya braket dan kemungkinan atrisi dari gigi yang berkontak dengan braket keramik, serta saran – saran untuk menghindari terjadinya hal – hal tersebut diatas.
DISKUSI
Masalah I : Pecah atau retaknya email pada saat pelepasan braket. Masalah ini berhubungan dengan tingginya kekuatan rekat dari braket keramik. Pecahnya email pada saat pelepasan braket kemungkinan besar disebabkan adanya kekuatan yang terjadi secara mendadak
6,
7. Idealnya, braket keramik mempunyai kekuatan rekat yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup kuat untuk menahan beban baik yang berasal dari fungsi pengunyahan maupun tekanan ortodontik, hal ini diperlukan untuk meminimalkan resiko pecahnya email maupun braket yang terjadi pada saat braket terlepas dari permukaan gigi.
Saran 1 : Menghindari adanya kekuatan yang mendadak atau terpusatnya tekanan di
dalam email yaitu dengan menggunakan tehnik pelepasan braket yang sesuai. Cara yang
paling sesuai untuk pelepasan suatu braket keramik adalah cara yang dianjurkan oleh
masing-masing pabrik pembuatnya. Perbedaan daerah yang terkena tekanan menyebabkan
perbedaan distribusi tekanan, keadaan ini menentukan apakah kegagalan perekatan terjadi
di dalam email atau pada bahan perekat
8. Pelepasan braket pada gigi yang berukuran kecil
lebih menimbulkan resiko patahnya gigi dibandingkan dengan pada gigi dengan ukuran
yang lebih besar. Seharusnya, tekanan didistribusikan pada braket bukan pada gigi. Cara
yang dianjurkan untuk melepaskan braket keramik retensi mekanis yaitu dengan pemberian
tekanan yang ringan dan perlahan – lahan pada dasar braket, sedangkan untuk braket
keramik retensi kimia yaitu dengan tekanan yang perlahan – lahan dan bertahap dalam arah
mesio distal pada dasar braket
1. Proses penjalaran keretakan akan lebih menguntungkan bila terjadi di dalam bahan perekat dibandingkan bila terjadi di dalam email.
Saran 2 : Hindari penggunaan braket keramik pada struktur gigi yang tidak sempurna.
Adanya keretakan, karies atau restorasi yang besar, hypoplasia dan hipokalsifikasi merupakan kontraindikasi penggunaan braket keramik. Penggunaan braket seramik pada gigi non vital dapat meningkatkan insiden terjadinya fraktur email pada saat pelepasan.
Prosedur pelepasan braket seramik pada gigi dengan restorasi mahkota baik yang terbuat dari resin maupun porcelain akan menyebabkan kerusakan pada restorasinya, sehingga sebaiknya pasien diberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum dilakukan perawatan dengan braket keramik
5.
Saran 3 : Pengurangan kekuatan rekat. Kekuatan rekat dapat dikurangi dengan 5 cara yaitu : a. Pemberian retensi mekanis. Pemberian retensi mekanis pada braket dengan retensi kimia dapat menurunkan kekuatan rekat
9. Undercut atau lekukan yang dalam pada dasar braket merupakan faktor yang menguntungkan karena akan menambah ketebalan bahan perekat shingga pada saat tekanan diberikan, gagalnya perekatan terjadi di dalam bahan perekat selain itu juga sudut yang tajam dari bagian tepi bentuk retensi akan menimbulkan brittle failure yaitu retaknya bahan perekat karena terpusatnya tekanan pada sudut – sudut pada bagian tepi retensi tersebut
10. b. Pengurangan retensi kimia. Sebagian besar pabrik braket keramik telah membatasi penggunaan retensi kimia dan menggantikannya dengan retensi mekanik atau dengan kata lain bahan penggabung silane hanya digunakan untuk memperkuat kekuatan mekanik pada keadaan tertentu sehingga kekuatan rekat yang tinggi dari braket keramik retensi kimia ini tidak diperlukan. Bentuk retensi mekanik yang tepat, diperlukan untuk menyeimbangkan antara kekuatan rekat yang cukup dan kemudahan pelepasan braket
9. c. Penggunaan resin dengan kekuatan yang lebih lemah. Komposisi bahan perekat resin mempengaruhi kekuatan tarik suatu perekatan.
Perekatan braket keramik retensi kimia menggunakan Mono-lok2 dengan bahan pengisi memberikan persentase lepasnya perekatan pada hubungan braket – bahan perekat sebesar 80% dan pada bahan perekat sebesar 20%, sedangkan penggunaan resin tanpa bahan pengisi memberikan persentase lepasnya perekatan pada braket sendiri sebesar 40% pada hubungan bahan perekat – braket sebesar 50% dan 10% pada bahan perekat.
Kemungkinan terbentuknya gelembung udara pada bahan perekat dengan bahan pengisi memberikan keuntungan yaitu gagalnya perekatan pada hubungan braket – bahan perekat.
Bahan perekat dengan bahan pengisi lebih sesuai digunakan untuk perekatan braket
keramik
9. d. Modifikasi ketebalan bahan perekat. Peningkatan ketebalan bahan perekat
sebesar 0.25 mm akan menurunkan kekuatan rekat sebesar 30%
12. Ketebalan bahan
perekat dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kedalaman bentuk retensi mekanik yaitu undercut atau kekasaran sampai kedalaman 0.7 mm karena dengan meningkatnya ketebalan bahan perekat akan menyebabkan polimerisasi yang tidak sempurna
1. e.
Modifikasi waktu etsa. Perbedaan waktu etsa akan berpengaruh terhadap kekuatan rekat braket keramik. Braket keramik yang direkatkan pada email dengan pengetsaan 15 detik memberikan kekuatan rekat yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan pengetsaan selama 60 detik, keadaan ini dipengaruhi oleh besarnya kerusakan pada email yang ditimbulkan oleh lamanya pengetsaan, semakin besar kerusakan pada email semakin rendah kekuatan rekatnya
12. Disarankan waktu pengetsaan sebaiknya tidak melebihi 60 detik, waktu pengetsaan yang sesuai untuk perekatan braket keramik adalah 30 detik
13.
Masalah II : Keterbatasan braket keramik untuk kasus rotasi. Masalah ini terutama mempengaruhi braket keramik yang direkatkan pada gigi anterior rahang bawah karena ukurannya yang kecil. Pada umumnya, braket keramik mempunyai bentuk fisik yang cenderung lebih tebal dibandingkan dengan braket logam, hal ini diperlukan untuk pertahanan braket keramik terhadap fraktur
6.
Saran : Diperlukan penelitian dan pengembangan braket keramik lebih lanjut.
Banyak pabrik telah memproduksi braket keramik dengan ukuran yang lebih kecil, tetapi ternyata braket ini sangat rentan terhadap fraktur. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan braket keramik atau dari bahan yang menyerupai keramik dengan ukuran yang tidak terlalu besar tetapi dapat memberikan kelebihan seperti yang dimiliki braket logam dan keunggulan estetik seperti braket keramik
6.
Masalah III : Pecahnya braket keramik. Masalah ini berhubungan dengan rendahnya ketahanan braket keramik terhadap fraktur ( low fracture toughness )
3. Sayap braket keramik sering patah pada saat pemasangan busur kawat berpenampang persegi ataupun pemotongan ligatur
12. Masalah ini harus dipertimbangkan terutama pada pasien yang dipersiapkan untuk menjalani bedah ortodontik, dimana braket dan busur kawat telah dipasang terlebih dahulu sebelum bedah dilaksanakan.
Saran : Dihindarkan penggunaan kawat berdiameter besar pada saat leveling serta
kontak langsung dari ligature cutter dengan braket pada saat memotong ligatur. Harus
dipertimbangkan juga pemakaian braket keramik pada pasien dengan aktivitas yang
beresiko untuk terjadinya trauma
6.
Masalah IV : Atrisi pada gigi yang berkontak dengan braket keramik. Kemungkinan terjadinya atrisi pada gigi yang berkontak dengan braket keramik disebabkan karena kekerasan braket keramik melebihi email
10.
Saran : Pemilihan kasus ortodontik ( case selection ). Para orthodontist harus menghindari berkontaknya braket keramik dengan gigi antagonisnya. Pada kasus gigitan anterior yang dalam, harus dihindari perekatan braket keramik pada gigi anterior bawah.
Pada kasus dimana diperlukan retraksi gigi kaninus atas hingga melewati gigi kaninus bawah, hindari perekatan braket keramik pada gigi kaninus bawah
6.
KESIMPULAN
Dari hasil tinjauan literatur, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Penggunaan braket keramik pada perawatan ortodontik sebaiknya dipilih braket keramik retensi mekanis, hal ini disebabkan karena braket keramik retensi mekanis mempunyai kekuatan rekat yang lebih rendah dibandingkan dengan braket keramik retensi kimia, sehingga aman bagi email dan mudah dilepas..
2. Braket keramik sebaiknya digunakan secara selektif pada kasus ortodontik dengan
rencana perawatan yang telah dievaluasi dengan teliti. Untuk menghindari masalah
yang sering terjadi di klinik, terutama pada gigi yang telah mengalami atrisi perlu
diperhatikan adanya kontak antara braket keramik dengan gigi antagonisnya
terutama pada kasus gigitan dalam dan pencabutan dimana diperlukan retraksi dari
gigi geligi terutama kaninus.
DAFTAR PUSTAKA
1. Swartz, M. L., 1988, Ceramic Brackets, J. Clin. Orthod., 22 : 82 – 88.
2. Bordeaux, J. M., Moore, R. N. and Bagby, M. D., 1994, Comparative Evaluation of Ceramic Bracket Base Design, Am. J. Orthod. Dentofac. Orthop., 105 (6) : 552 – 559.
3. Flores, D. A., Caruso, J. M., Scott, G. E., Jeiroudi, M. T., 1990, The Fracture Strength of Ceramic Bracket, Angle Orthod., 60 : 269 – 276.
4. Bishara, S. E., Trulove, T. S., 1990, Comparisons of Different Debonding Techniques for Ceramic Brackets ; an in vitro study, Am. J. Orthod.Dentofac. Orthop., 98 : 145 – 153.
5. Joseph, V. P., Russouw, E., 1990, The Shear Bond Strength of Stainless Steel and Ceramic Brackets Used with Chemically and Light Activared Composit Resin, Am. J.
Orthod. Dentofac. Orthop., 97 : 121 – 125.
6. Ghafari, J., 1990, Problem Associated with Ceramic Brackets Suggest Limiting Use to Selected Teeth, Angle Orthod., 62 (2) : 145 – 152.
7. Jeiroudi, M. T., 1991, Enamel Fracture Caused by Ceramic Brackets, Am. J. Orthod.
Dentofac. Orthop., 99 : 97 – 99.
8. Bennet, C. G., Shen, C., Waldron, J. M., 1984, The Effect of Debonding on Enamel Surface, J. Clin. Orthod., 18 : 330 -334.
9. Bishara, S. E., Fehr, D. E, and Jacobsen, J. R., 1993, A Comparative Study of Debonding Strengths of Ceramic Brackets, Enamel Conditioners, and Adhesives,
Am. J. Orthod. Dentofac. Orthop., 104 : 170 – 179.10. Viasis, A. D., Cavanough, G., Bevis, R. R., 1989, Bond Strength of Ceramic Brackets Under Shear Stress, Am. J. Orthod. Dentofac. Orthop., 98 (3) : 214 – 221.
11. Evans, L. B., Powers, J. M., 1985, Factor Affecting in Vitro Bond Strength of No-Mix Orthodontic Cements, Am. J. Orthod. Dentofac. Orthop., 97 : 97 : 508 – 512.
12. Britton, J. C., Mc Innes, P., Weinberg, R., Ledoux, W. R., Retief, D. H., 1990, Shear Bond Strength of Ceramic Orthodontic Brackets to Enamel, Am. J. Orthod. Dentofac.
Orthop., 98 : 348 – 353.