196 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL DISCOVERY LEARNING
DI SMAN 1 SALAM BABARIS
KHAIRUNNISA
Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email [email protected]
ABSTRAK
Rendahnya hasil belajar peserta didik yang disebabkan guru masih menggunakan metode klasikal dalam proses pembelajaran, yakni berpusat kepada guru saja, peserta didik kurang berperan aktif dalam pembelajaran, sehingga berdampak kepada rendahnya hasil belajar. Rumusan masalah penelitian ini yaitu apakah model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti pada peserta didik kelas XII MIA SMAN 1 Salam Babaris? Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XII MIA SMAN 1 Salam Babaris melalui pembelajaran kooperatif model Discovery Learning pada materi pokok Beriman Kepada Hari Akhir.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan subjek penelitian peserta didik kelas XII MIA SMAN 1 Salam Babaris dengan jumlah sebanyak 10 peserta didik. Indikator keberhasilan penelitian dilihat dari hasil belajar peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar > 70. Penelitian ini fokus pada hasil belajar peserta didik. Pelaksanaan siklus 2 merupakan hasil refleksi dari siklus 1. Hasil dari pengolahan data digunakan untuk menggambarkan ketercapaian tindakan terhadap peningkatan hasil belajar. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian siklus 1 ketuntasan belajar mencapai 40%. Pada siklus 2 ketuntasan belajar mencapai 90% dan hasil penelitian yang diperoleh berarti terdapat peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dengan ketuntasan 50%.
Kata Kunci : PAI, Model Pembelajaran Discovery Learning, Hasil Belajar.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan patut mendapat posisi paling tinggi dalam sebuah kehidupan manusia. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan manusia yang mutlak harus terpenuhi bagi setiap orang. Oleh
197 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
karena itu Islam memerintahkan untuk terus belajar mulai dari buaian sampai liang lahat, dengan tujuan agar seseorang menjadi manusia ideal, yakni manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt, bermoral/berakhlak mulia, cerdas, mampu berkarya demi mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, untuk itu manusia berhak mendapatkan pendidikan yang layak sesuai perkembangannya.
Pendidikan merupakan proses secara gradual/berjenjang dan kontinue bagi setiap orang dan memerlukan waktu cukup lama. Pendidikan juga merupakan sarana untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan isu sentral di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah senantiasa terus menerus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan, demi terwujudnya tujuan pendidikan.
Di dalam pelaksanaannya, tentunya terdapat masalah-masalah, seperti halnya beberapa masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah, seperti menerapkan cara-cara konvensional dalam proses pembelajaran.
Sedangkan dewasa ini peserta didik dituntut aktif dalam pembelajaran, guru harus bersikap variatif dalam melaksanakan proses pembelajaran agar peserta didik tidak merasa jenuh, sehingga hasil belajar peserta didik meningkat dan tujuan pembelajaran bisa tercapai.
Dalam proses belajar mengajar pada pembelajaran PAI dan Budi Pekerti, hasil belajar peserta didik merupakan hal yang penting karena berguna sebagai tolak ukur sejauh mana keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Rendahnya hasil belajar yang dicapai peserta didik tidak semata-mata disebabkan oleh kemampuan peserta didik, tetapi juga bisa disebabkan kurang berhasilnya guru dalam mengajar. Karena salah satu tugas guru adalah sebagai pengajar yang lebih menekankan kepada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Dalam hal ini guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan. Untuk mewujudkan hasil belajar peserta didik secara optimal maka perlu adanya cara-cara tertentu yang dilakukan oleh guru.
Salah satu cara yang diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik selama di kelas adalah penerapan model pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran. Diantara sekian metode yang dapat mendorong peserta didik agar lebih aktif dan terampil, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Dengan pembelajaran Discovery Learning, pengetahuan dan kecakapan anak didik akan lebih meningkat dan dapat menumbuhkan motivasi intrinsik, karena anak didik merasa puas atas penggunaannya sendiri (Djamarah dan Zain, 2002).
Pada Model Discovery Learning peserta didik dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran. Mendorong peserta didik untuk menyelidiki sendiri,
198 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
menemukan dan membangun pengalaman dan pengetahuan, menggunakan intuisi, imajinasi, dan kreativitas, dan mencari informasi baru untuk menemukan fakta, korelasi, dan kebenaran baru. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMAN 1 Salam Babaris masih didominasi oleh aktifitas guru. Kelas berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan dan proses pembelajaran yang berpedoman pada buku paket saja. Sehingga kegiatan pembelajaran kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berinteraksi, sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.
Permasalahan yang muncul dalam proses intraksi pembelajaran di kelas, yaitu kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan model pembelajaran dalam upaya peningkatan mutu dan hasil pembelajaran secara baik. Begitu juga permasalahan yang terjadi di SMAN 1 Salam Babaris, yaitu rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti, hal tersebut terjadi salah satunya karena guru masih menggunakan model pembelajaran klasik, seperti ceramah, guru mencatat di papan tulis dan peserta didik menyalin apa yang ditulis atau dibaca oleh guru.
Rendahnya hasil belajar yang diperoleh peserta didik disebabkan penggunaan model pembelajaran yang tidak tepat dan monoton. Model klasik yang dipakai selama ini terbukti menyebabkan kurang tercapainya standar nilai yang diperoleh oleh peserta didik, yaitu rentang nilai antara 40 dan 60 sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 70.
Dari permasalahan di atas maka perlu adanya upaya untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Upaya yang dimaksud adalah dengan mengubah cara mengajar guru yang monoton sebelumnya dengan menerapkan model Discovery Learning yang dianggap dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas. Dengan ini, peneliti tertarik melakukan Penelitian dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Menggunakan Model Discovery Learning di SMAN 1 Salam Babaris”.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang memaparkan terjadinya sebab-akibat dari perlakuan, sekaligus memparkan apa saja yang terjadi ketika perlakuan diberikan, dan memaparkan seluruh proses sejak awal pemberian perlakuan sampai dengan dampak dari perlakuan tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah jenis
199 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
penelitian yang memaparkan baik proses maupun hasil, untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. (Arikunto, 2015:12)
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dengan tujuan untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran sehingga terjadi peningkatan terhadap hasil belajar peserta didik. Adanya tuntutan mutu pendidikan yang berkualitas sangat berimbas kepada tuntutan kinerja guru dalam melakukan tugas pokoknya. Guru dituntut untuk lebih profesional dan harus mampu meningkatkan kemampuan peserta didik secara maksimal.
Kondisi inilah yang membutuhkan tindakan kongkrit dari guru yang salah satu wujudnya dengan melakukan PTK (Wardoyo, 2013:3).
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2005:12). Dan dideskripsikan secara deduksi yang berangkat dari teori-teori umum, lalu dengan observasi untuk menguji validitas keberlakuan teori tersebut ditariklah kesimpulan.
Kemudian di jabarkan secara deskriptif, karena hasilnya akan diarahkan untuk mendiskripsikan data yang diperoleh dan untuk menjawab rumusan.
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Salam Babaris Jalan Transmigrasi Utara Nomor 212 Desa Salam Babaris, Kecamatan Salam Babaris, Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan, NPSN: 69757353, Akreditasi B.
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan terhadap seluruh peserta didik Kelas XII MIA.
Penelitian ini dilakukan pada kelas Kelas XII MIA. Peserta didik pada kelas ini berjumlah 10 peserta didik, terdiri dari 5 peserta didik laki-laki dan 5 peserta didik perempuan. Teknik pengumpulan data merupakan proses yang penting dalam mendukung suatu penelitian. Menurut Sugiyono (2016:308) teknik pengumpulan data adalah: langkah yang paling utama dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.
Analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Analisis data kuantitatif adalah mendeskripsikan data yang didapat untuk menemukan antara dua variabel atau lebih.
Analisis data penelitian ini digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik yang diuji melalui hasil tes pada siklus satu dan dua serta dihitung dengan rumus:
Ket: f = Frekuensi yang sedang dicari frekuensinya
N = Number of Class (Jumlah Frekuensi/banyaknya individu) P = Angka Presentase
Prosedur penelitian yang dilakukan pada penelitian tindakan kelas ini terdiri terdiri dari dua siklus. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan siklus yang
P = 𝑓
𝑁 x 100
200 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
pertama yang terdiri dari empat kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi serta refleksi. Apabila sudah diketahui letak permasalahan dan keberhasilan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama, peneliti akan menentukan rancangan untuk siklus kedua sebagai tambahan perbaikan dari tindakan yang sebelumnya.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada pre test terdapat 1 orang peserta didik atau 10% yang dapat menjawab soal dengan nilai di atas KKM. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik belum memahami dan mengerti tentang materi Beriman Kepada Hari Akhir.
Setelah dilaksanakan tindakan siklus 1 dengan menggunakan model Discovery Learning pada pembelajaran PAI dan Budi Pekerti yang diikuti oleh 10 peserta didik terjadi peningkatan kemampuan peserta didik pada post test, yaitu mencapai 40%. Peneliti melihat masih banyaknya peserta didik bingung dengan cara pembelajaran yang dibawakan oleh peneliti yang mengakibatkan peserta didik kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dalam hasil tes siklus 1
Permasalahan Pelaksanaan
tindakan 1 Observasi
Analisis data Refleksi 1
Hasil
Perbaikan hasil sebelumnya
Pelaksanaan
tindakan 2 Observasi
Analisis data Refleksi 2
Hasil Siklus 1
Siklus 2
Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Kelas
201 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
dapat dilihat bahwa hanya 4 peserta didik yang tuntas di atas KKM dan 5 peserta didik lainnya masih berada dibawah nilai KKM.
Tabel 1. Perbandingan Nilai Pre Test dan Post Test
NO NAMA NILAI
PRE TEST POST TES
1 Ahmad Maulana Saputra 40/100 60/100
2 Ardian Maulana 40/100 60/100
3 Anggun Wulandari 40/100 80/100
4 Dwi Ayu Rahmawati 40/100 60/100
5 Muhammad Arif Rifki 40/100 60/100
6 M. Denny 20/100 40/100
7 M. Donny 20/100 40/100
8 Nina Nurlita 60/100 80/100
9 Serlinda Augustin Bintari 80/100 100/100
10 Triana 60/100 80/100
Tabel 2. Analisis Hasil Belajar Siklus 1
NO HASIL BELAJAR PRE TEST POST TES
Nilai Rata-Rata 44 66
Nilai Terendah 20 40
Nilai Tertinggi 80 100
Jumlah Peserta didik Tuntas 1 4
Presentase Ketuntasan 10% 40%
Kemudian dilanjutkan dengan siklus 2. Dari hasil post test pada siklus 2, terjadi peningkatan dengan kategori perolehan ketuntasan peserta didik mencapai 90 %, yaitu 9 peserta didik dikategorikan tuntas di atas KKM dan 1 orang lainnya masih berada di bawah KKM.
Tabel 3. Perbandingan Nilai Post Test
NO NAMA NILAI
Tes Siklus 1 Tes Siklus 2
1 Ahmad Maulana Saputra 60/100 80/100
2 Ardian Maulana 60/100 100/100
3 Anggun Wulandari 80/100 100/100
4 Dwi Ayu Rahmawati 60/100 80/100
202 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
5 Muhammad Arif Rifki 60/100 80/100
6 M. Denny 40/100 80/100
7 M. Donny 40/100 60/100
8 Nina Nurlita 80/100 100/100
9 Serlinda Augustin Bintari 100/100 100/100
10 Triana 80/100 100/100
Tabel 4. Analisis Hasil Belajar Siklus 2
NO HASIL BELAJAR Tes Siklus 1 Tes Siklus 2
Nilai Rata-Rata 66 88
Nilai Terendah 40 60
Nilai Tertinggi 100 100
Jumlah Peserta didik Tuntas 4 9
Presentase Ketuntasan 40% 90%
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwasannya pembelajaran PAI dan Budi Pekerti materi Beriman Kepada Hari Akhir dengan menggunakan model Discovery Learning di SMAN 1 Salam Babaris mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar peserta didik tiap siklus dapat dilihat pada grafik berikut:
Grafik 1. Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Per Siklus
Menurut grafik diatas bahwa pembelajaran PAI dan Budi Pekerti mengalami peningkatan yang sangat signifikan, terbukti peningkatannya mencapai 50%. Hal ini sesuai dengan pendapat Cahyo, model pembelajaran
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Siklus 1 Siklus 2
Nilai Rata-Rata Presentasi Ketuntasan Belajar (%)
203 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
penemuan (discovery learning) merupakan salah satu metode pembelajaran yang mana peserta didik mendapatkan pengetahuan baru yang sebelumnya belum diketahuinya serta tidak melalui pemberitahuan, tetapi peserta didik menemukan sendiri (Cahyo, 2013: 100).
Menurut Bell sebagaimana yang dikutip oleh (Hosnan, 2016: 284) mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran penemuan, yakni sebagai berikut:
a. Dalam penemuan peserta didik memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak peserta didik dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan.
b. Melalui pembelajaran dengan penemuan, peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak, juga peserta didik banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan
c. Peserta didik juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d. Pembelajaran dengan penemuan membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
e.Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
f. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.
Tujuan di atas, memberikan penegasan bahwa model Discovery Learning ingin mengarahkan peserta didik agar lebih aktif baik secara individu maupun kelompok untuk belajar, karakter peserta didik lebih diutamakan agar keterampilan dapat terbangun secara efektif. Kedepan kita akan memperoleh output yang lebih mumpuni karena akan lahir ilmuan-ilmuan muda Indonesia yang berdaya saing.
Salah satu model belajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan disekolah-sekolah yang sudah maju adalah model discovery. Menurut Syah (2010) menyatakan bahwa hal ini disebabkan karena :
a. Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar peserta didik aktif;
b.Dengan menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan dan tidak mudah dilupakan peserta didik;
c.Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain;
204 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
d.Dengan menggunakan model discovery anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri;
e.Peserta didik belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning memberikan manfaat baik bagi guru maupun bagi peserta didik, sehingga membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengarkan ide-ide orang lain. Fungsi utama guru dalam discovery learning adalah merangsang pemikiran yang mengarah pada pengembangan domain psikomotorik, pertanyaan menjadi wacana yang utama, guru dipandang sebagai fasilitator belajar peserta didik dengan meminta peserta didik mengembangkan gagasan/ide serta kreatifitas peserta didik (Hanafiah, 2012: 78). Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah- masalah yang tepat untuk diselidiki para peserta didik. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para peserta didik untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan. Guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan. Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dan seluruh pembahasan tentang penerapan model Discovery Learning yang telah dilakukan selama 2 siklus di SMAN 1 Salam Babaris, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Discovery Learning memiliki dampak positif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar peserta didik sebelum tindakan dan sesudah tindakan, yaitu; siklus 1 (40%), dan siklus 2 (90%).
Selain itu, peserta didik lebih tertarik dengan model pembelajaran Discovery Learning sehingga motivasi untuk belajar dapat meningkat.
Keberhasilan penelitian tindakan kelas ini tidak terlepas dari peran guru yang terus semangat memperbaiki kemampuannya dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran, seperti halnya model Discovery Learning.
Model Discovery Learning dapat melatih peserta didik belajar secara mandiri, melatih kemampuan bernalar peserta didik, serta melibatkan peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan sendiri dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain, merencanakan kegiatan
205 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
pembelajaran secara terstruktur, guru memfasilitasi peserta didik dalam kegiatan penemuan, serta mengonstruksi pengetahuan awal peserta didik agar pembelajaran dapat berjalan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2015. Penelitian Tindakan Kelas, Cet. I; Jakarta: PT Bumi Aksara.
Cahyo, Agus. 2013. Panduan Aplikasi teori-teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Jogjakarta: Diva Press
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Hanafiah, Nanang. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Rafika Aditama.
Hosnan, M. 2016. Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21; Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Bogor: Ghalia Indonesia
Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014. Perancangan Pembelajaran Prosedur Pembuatan RPP yang Sesuai Dengan Kurikulum 2013. Jakarta: Kata Pena.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wardoyo, Sigit Mangun. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta:Graha Ilmu.