SURVEI SOSIAL EKONOMI NASIONAL
[ SUSENAS SEPTEMBER 2015 ]
PEDOMAN PENCACAHAN
Modul sosial budaya
dan pendidikan
---
Buku II
KATA PENGANTAR
Susenas merupakan salah satu sumber data sosial ekonomi rumah tangga yang penting di Indonesia. Data yang dihasilkan oleh survei ini telah banyak digunakan oleh berbagai kalangan baik di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu kesinambungan, ketersediaan dan kualitas data harus terus dijaga dan ditingkatkan. Pada tahun 2015, sistem pengumpulan data Susenas diperbaharui. Kegiatan pengumpulan data Susenas yang sejak tahun 2011 dilaksanakan secara triwulanan, pada tahun 2015 berubah menjadi 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu bulan Maret dan September. Pada bulan Maret, pengumpulan data Susenas dicacah menggunakan kuesioner Kor dan Konsumsi. Sementara pada bulan September dicacah menggunakan kuesioner Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (MSBP) dan Konsumsi. Susenas MSBP bertujuan untuk memperoleh informasi terkait pendidikan, ketelantaran, kebudayaan, kepemudaan, keolahragaan, dan perlindungan sosial.
Buku Pedoman Pencacahan Susenas MSBP 2015 disusun guna memberikan panduan dan petunjuk bagi pencacah dalam melakukan pengumpulan data di lapangan. Buku ini merupakan Buku 2: Pedoman Pencacahan Susenas MSBP 2015 yang disiapkan bagi para pencacah, yang berisi tata cara, aturan dan mekanisme pelaksanaan lapangan maupun tata cara pengisian daftar kuesionernya.
Mengingat peran pencacah yang sangat penting dalam pelaksanaan survei ini terutama dalam pengumpulan data yang berkualitas, diharapkan buku ini dapat dipelajari dan dipedomani secara utuh.
Selamat bekerja, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan memberikan bimbingan-Nya kepada kita semua.
Jakarta, Mei 2015 Kepala Badan Pusat Statistik,
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR
iii
DAFTAR ISI
v
DAFTAR LAMPIRAN
ix
BAB I.
PENDAHULUAN
1
1.1
Umum
1
1.2
Tujuan
2
1.3
Ruang Lingkup
2
1.4
Jenis Data yang Dikumpulkan
2
1.5
Jadwal Kegiatan Susenas MSBP 2015
5
1.6
Dokumen yang Digunakan
6
1.7
Arus Dokumen
7
1.8
Statistik yang Disusun
8
BAB II.
METODOLOGI SUSENAS 2015
9
2.1
Kerangka Sampel
9
2.2
Estimasi Kabupaten/Kota
9
2.3
Estimasi Provinsi
10
BAB III. ORGANISASI LAPANGAN
11
3.1
Persyaratan Petugas Lapangan
11
3.2
Tugas dan Kewajiban Pencacah
12
3.3
Tugas dan Kewajiban Pengawas
12
3.4
Persiapan Lapangan
15
3.4.1 Penyiapan Dokumen, Bahan, dan Perlengkapan
15
Halaman
3.4.3 Koordinasi dan Komunikasi dengan BPS Kabupaten/Kota
dan Pejabat Wilayah Tugas
15
3.4.4 Pengenalan Wilayah Tugas
16
BAB IV. TATA CARA PENCACAHAN
17
4.1
Menemukan Lokasi Rumah Tangga Terpilih
17
4.2
Wewenang Legal/Dasar Hukum
17
4.3
Kerahasiaan Informasi
18
4.4
Peranan Pewawancara
18
4.5
Netralitas
19
4.6
Cara Wawancara
19
BAB V. TATA CARA PENGISIAN KUESIONER
23
5.1
Daftar Pemutakhiran Rumah Tangga (VSEN15.P)
23
5.1.1 Struktur Daftar VSEN15.P
24
5.1.2 Cara Pengisian Daftar VSEN15.P
39
5.1.3 Tata Cara Pemilihan Sampel Ruta
40
5.2
Daftar Sampel Rumah Tangga (VSEN15.DSRT)
41
5.2.1 Struktur Daftar VSEN15.DSRT
41
5.3
Kuesioner Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (VSEN15.MSBP)
43
5.3.1 Format dan Desain Kuesioner MSBP (VSEN15.MSBP)
43
5.3.2 Tata Tertib Pengisian Daftar VSEN15.MSBP
44
5.3.3 Petunjuk dan Tata Cara Pengisian Daftar VSEN15.MSBP
45
BAB VI. KETERANGAN SOSIAL BUDAYA DAN PENDIDIKAN
49
(DAFTAR VSEN15.MSBP)
6.1
Blok I.
Keterangan Tempat
52
6.2
Blok II.
Keterangan Pencacahan
54
Halaman
6.4
Blok IV.
Keterangan Demografi
56
6.5
Blok V.
Keterangan Kepemilikan Sandang dan Frekuensi Makan
64
6.6
Blok VI.
Keterangan Fasilitas Tidur dan Kesehatan
68
6.7
Blok VII.
Keterangan Kebersamaan Anggota Rumah Tangga
74
6.8
Blok VIII. Keterangan Untuk Balita
78
6.9
Blok IX.
Keterangan Olahraga
86
6.10 Blok X.
Keterangan Akses Media
92
6.11 Blok XI.
Keterangan Kebudayaan
98
6.12 Blok XII.
Keterangan Pendidikan
105
6.13 Blok XIII.
Keterangan ART 5 Tahun ke Atas yang Masih Bersekolah
129
6.14 Blok XIV. Keterangan Hubungan Sosial Kemasyarakatan
145
6.15 Blok XV.
Keterangan Ketenagakerjaan
150
6.16 Blok XVI. Keterangan Sosial Budaya Rumah Tangga
163
6.17 Blok XVII. Keterangan Perumahan
177
6.18 Blok XVIII. Perlindungan Sosial
191
6.19 Blok XIX. Akses Finansial
201
6.20 Blok XX.
Catatan
204
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.
Sketsa Peta Blok Sensus SP2010-WB
207
Lampiran 2.
Daftar VSEN15.P
209
Lampiran 3
Daftar VSEN15. DSRT
215
1
.
PENDAHULUAN
1.1 Umum
Salah satu survei yang diselenggarakan oleh BPS secara rutin setiap tahun adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Susenas mengumpulkan data yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat, yang meliputi kondisi kesehatan, pendidikan, fertilitas, Keluarga Berencana, perumahan dan kondisi sosial ekonomi lainnya. Data dan indikator dari Susenas telah dipergunakan secara luas dan dipandang sebagai salah satu bukti penting yang dapat berguna untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi dari program pembangunan pemerintah.
Informasi statistik sebagai salah satu produk sistem informasi merupakan informasi yang sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan pembangunan. Sejalan dengan tugas pokok BPS dalam melaksanakan kegiatan statistik yang bertujuan untuk menyediakan data statistik yang lengkap, akurat dan mutakhir dalam rangka mewujudkan Sistem Statistik Nasional yang handal, efektif dan efisien, guna mendukung pembangunan nasional, BPS berkomitmen untuk melanjutkan membangun citranya melalui pelayanan data yang berkualitas dan prima (cepat, baik, mudah dan murah) kepada pengguna data.
BPS telah melakukan berbagai kegiatan pengembangan Susenas. Pada tahun 2013, kegiatan yang telah dilakukan BPS dalam rangka pengembangan Susenas antara lain rapat, baik rapat dengan internal BPS maupun dengan mengundang instansi dan lembaga luar BPS serta workshop untuk menyusun indikator sosial ekonomi yang akan dikumpulkan melalui Susenas yang baru. Kegiatan pengembangan Susenas dilanjutkan kembali pada tahun 2014, dengan meneruskan kegiatan yang sudah dilakukan pada tahun 2013. Fokus kegiatan pengembangan Susenas pada tahun 2014 adalah perbaikan kuesioner dan buku pedoman serta melihat sejauh mana kuesioner Susenas yang baru dapat diterapkan pada pengumpulan data yang sesungguhnya. Ujicoba kegiatan pengembangan Susenas yang pertama dilakukan di Provinsi Jawa Barat pada Bulan Maret 2014. Ujicoba kedua dilakukan dengan lingkup yang lebih besar di
empat provinsi yaitu di Provinsi Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Maluku pada bulan April 2014.
Pada tahun 2015, sistem pengumpulan data Susenas diperbaharui. Mulai tahun 2011, kegiatan pengumpulan data Susenas dilaksanakan secara triwulanan, sedangkan pada tahun 2015 kegiatan tersebut dilaksanakan 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu bulan Maret dan September. Pada bulan Maret, pengumpulan data Susenas mencakup 300.000 rumah tangga sampel yang tersebar di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia yang dicacah menggunakan kuesioner Kor dan Konsumsi Pengeluaran. Sementara itu, pengumpulan data Susenas pada bulan September mencakup 75.000 rumah tangga sampel yang dicacah menggunakan kuesioner Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (MSBP) dan Konsumsi Pengeluaran (KP).
1.2 Tujuan
Secara umum, tujuan penyusunan buku pedoman ini adalah memberikan panduan bagi pencacah dan pengawas dalam melaksanakan pencacahan rumah tangga Susenas pada periode September 2015. Secara khusus, buku pedoman ini bertujuan untuk menyamakan persepsi petugas dalam memahami tata cara pengisian daftar isian VSEN15.MSBP sesuai dengan kaidah yang ditentukan serta pemahaman petugas terkait konsep definisi yang ditetapkan sehingga dihasilkan data yang berkualitas.
1.3 Ruang Lingkup
Pendataan Susenas MSBP 2015 dilaksanakan bulan September 2015, mencakup 75.000 rumah tangga sampel dan tersebar di seluruh wilayah di Indonesia menghasilkan estimasi yang dapat disajikan pada tingkat nasional dan provinsi.
Rumah tangga sampel Susenas adalah rumah tangga yang terdapat dalam blok sensus biasa, tidak termasuk yang tinggal dalam blok sensus khusus seperti kompleks militer dan sejenisnya serta rumah tangga khusus yang berada di blok sensus biasa.
1.4 Jenis Data yang Dikumpulkan
Setiap rumah tangga sampel Susenas akan dicacah menggunakan kuesioner Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (VSEN15.MSBP) dan kuesioner Konsumsi Pengeluaran (VSEN15.KP).
Penjelasan keterangan sosial budaya dan pendidikan dalam VSEN15.MSBP disajikan dalam buku pedoman ini. Sementara penjelasan konsumsi pengeluaran dalam VSEN15.KP akan dijelaskan pada Buku III.
Data yang dikumpulkan dalam Susenas MSBP (Daftar VSEN15.MSBP) meliputi:
a.
Keterangan demografi anggota rumah tangga (ART) yang mencakup nama ART, hubungan dengan kepala rumah tangga, status perkawinan, jenis kelamin, bulan dan tahun kelahiran, dan umur;b.
Keterangan ART untuk semua umur yang mencakup kepemilikan pakaian, frekuensi makan makanan pokok, makan lauk pauk berprotein tinggi (nabati dan hewani), ketersediaan lokasi/tempat tetap untuk tidur, dan kesehatan;c.
Keterangan kebersamaan, yang mencakup keberadaan pasangan dalam rumah tangga untuk ART yang berstatus kawin, serta keberadaan bapak dan ibu kandung untuk ART berumur 0-17 tahun dan belum kawin.d.
Keterangan aktivitas bersama dengan orang tua/wali untuk ART berumur 0-17 tahun dan belum kawin yang mencakup kegiatan makan/belajar makan, menonton TV, belajar/membaca buku, dibacakan buku cerita/diceritakan dongeng, beribadah/berdoa, berbincang-bincang/ngobrol, bermain/rekreasi/berolahraga, bermain games, mengakses internet, mengurus rumah tangga dan membantu menambah penghasilan;e.
Keterangan ART berumur 0-4 tahun yang mencakup informasi pemberian ASI, imunisasi, ibu atau yang bertanggung jawab terhadap anak tersebut bekerja, dan kepada siapa dititipkan bila ibu atau yang bertanggung jawab terhadap anak tersebut bekerja di luar rumah;f.
Keterangan ART berumur 5 tahun ke atas yang mencakup kegiatan olahraga, menonton televisi, mendengarkan radio, membaca surat kabar/koran, membaca buku cetak, membaca artikel dari media elektronik, mengunjungi perpustakaan, memanfaatkan taman bacaan masyarakat, mengunjungi museum/situs peninggalan sejarah, menonton pertunjukan/ pameran seni, penggunaan bahasa, dan keterangan pendidikan yang meliputi kemampuan membaca dan menulis, partisipasi sekolah, jenjang pendidikan, tingkat/kelas tertinggi, ijazah/STTB tertinggi, jurusan pendidikan dan alasan utama tidak pernah bersekolah atau tidak bersekolah lagi;g.
Keterangan ART berumur 5 tahun ke atas yang masih sekolah yang mencakup apakah bersekolah di sekolah negeri atau swasta, apakah naik kelas pada tahun ajaran sebelumnya, sarana transportasi yang biasa digunakan ke sekolah, biaya transportasi ke sekolah, uang saku, jarak terdekat yang ditempuh ke sekolah, lama perjalanan ke sekolah, perolehanbeasiswa/bantuan pendidikan, sumber beasiswa/bantuan pendidikan, kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP), biaya pendaftaran, biaya pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler/Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) yang diikuti, kebiasaan belajar di luar jam sekolah dan akses internet sebagai penunjang tugas sekolah;
h.
Keterangan ART berumur 10 tahun ke atas yang mencakup keterangan hubungan sosial kemasyarakatan dan keterangan ketenagakerjaan. Keterangan hubungan sosial kemasyarakatan meliputi partisipasi dalam kegiatan pertemuan/rapat di lingkungan sekitar (RT/RW/Dusun/Desa/Kelurahan), keikutsertaan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan desa/kelurahan, dan keikutsertaan dalam kegiatan organisasi. Keterangan ketenagakerjaan meliputi kegiatan yang dilakukan seminggu terakhir, lapangan usaha, status pekerjaan, pekerjaan tambahan, jam kerja, alasan utama tidak bekerja dan khusus ART 60 tahun ke atas yang tidak bekerja ditanyakan apakah mempunyai tunjangan pensiun, kiriman dari anak, atau bantuan dari sanak/saudara;i.
Keterangan sosial budaya rumah tangga yang mencakup keterangan pendidikan lainnya, keterangan kebudayaan dan keterangan kerukunan/toleransi. Keterangan pendidikan lainnya meliputi keikutsertaan dalam kursus/bimbingan belajar, pembelian surat kabar/majalah/ tabloid, dan keberadaan mantan ART berumur 5-24 tahun yang tinggal di luar rumah tangga (seperti di pondok pesantren, boarding school, kost/kontrak, tinggal di rumah famili dan lainnya). Keterangan kebudayaan meliputi pengibaran bendera merah putih, penggunaan busana daerah/tradisional, keterlibatan dalam pertunjukan/pameran seni sebagai pelaku/pendukung, keterlibatan dalam upacara adat. Keterangan kerukunan/toleransi meliputi persepsi terhadap kegiatan dari suku bangsa/agama lain, dan persepsi terhadap berteman dengan orang dari suku bangsa/agama lain.j.
Keterangan perumahan mecakup status kepemilikan bangunan tempat tinggal, lantai, dinding, atap terluas, ketersediaan fasilitas akses internet, sumber utama penerangan, sumber air minum utama, sumber utama air untuk penggunaan lainnya, fasilitas tempat buang air besar, jenis jamban dan tempat pembuangan akhir tinja.k.
Keterangan perlindungan sosial mencakup kepemilikan Kartu Perlindungan Sosial (KPS)/Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Sehat (KIS)/BPJS-PBI, dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), penerimaan manfaat dengan menggunakan KPS/KKS/KIS/KIP, penerimaan bantuan tunai, pembelian beras miskin (raskin) dan penerimaan kredit usaha.l.
Keterangan akses finansial mencakup kepemilikan tabungan/simpanan berupa uang, tempat menyimpan uang/menabung, bentuk layanan tabungan/simpanan dan keikutsertaan dalam1.5 Jadwal Kegiatan Susenas MSBP 2015
No. Uraian Kegiatan Jadwal
(1) (2) (3)
A. Persiapan
1 Penyempurnaan pedoman dan kuesioner Januari - Mei 2015
2 Pengiriman DSBS ke daerah Minggu IV Februari 2015
3 Tanggapan dari daerah mengenai DSBS Minggu II Maret 2015
4 Workshop/Pelatihan Intama 26 - 28 Mei 2015
5 Pelatihan Innas 15 - 17 Juni 2015
6 Pelatihan petugas Minggu V Juli 2015 s.d. Minggu II
Agustus 2015
B. Pelaksanaan
7 Updating blok sensus Susenas 20 - 26 Agustus 2015
8 Pengawasan dan pemeriksaan hasil updating blok
sensus 23 - 28 Agustus 2015
9 Pemilihan sampel rumah tangga 25 - 29 Agustus 2015
10 Pencacahan rumah tangga sampel 1 - 20 September 2015
11 Pengawasan/pemeriksaan 1 - 30 September 2015
12 Penyerahan hasil pencacahan ke BPS Kab/Kota 4 - 30 September 2015 13 Receiving, batching, editing, dan coding 4 - 30 September 2015 14 Monitoring pencacahan dengan menggunakan
internet 5 - 20 September 2015
C. Pengolahan
15 Pengolahan data (data entri dan validasi) 7 September 2015 s.d 5 Oktober 2015 16 Umpan balik hasil data entri yang bermasalah ke
Seksi Sosial untuk dicek ke lapangan 10 September 2015 s.d 4 Oktober 2015 17 Evaluasi kualitas data di tingkat BPS Kab/Kota 12 September 2015 s.d 2 Oktober 2015
18 Pengiriman data ke BPS provinsi 5 - 7 Oktober 2015
19 Pengecekan kualitas data dan kelengkapan data
oleh BPS Provinsi 6-15 Oktober 2015
20 Pengiriman raw data ke BPS Pusat 12 - 20 Oktober 2015
21 Cleaning data di BPS Pusat 20 Oktober 2015 s.d 31 Desember 2015 22 Penyerahan clean data dari Direktorat Stat. Kesra
1.6 Dokumen yang Digunakan
Dokumen yang digunakan dalam pelaksanaan lapangan Susenas September 2015 mencakup buku pedoman dan daftar. Buku pedoman terdiri atas lima buku, yaitu:
Buku I : Pedoman Kepala BPS Provinsi, Kepala Bidang Statistik Sosial, dan Kepala BPS Kabupaten/Kota Susenas September 2015;
Buku II : Pedoman Pencacahan Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (MSBP) Susenas September 2015;
Buku III : Pedoman Pencacahan Konsumsi/Pengeluaran Susenas September 2015; Buku IV : Pedoman Pengawasan Susenas September 2015; dan
Buku V : Pedoman Entri Data Susenas September 2015. Daftar yang digunakan seperti tercantum pada tabel berikut:
Contoh beberapa jenis daftar yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran.
No. Jenis Daftar Uraian Disimpan di Keterangan
1. VSEN15.DSBS Daftar Sampel
Blok Sensus BPS Kab/Kota Di-print di BPS Kab/Kota 2. VSEN15.P Daftar Pemutakhiran Muatan Rumah Tangga dalam Blok Sensus BPS RI
(soft copy) Di-print di BPS Kab/Kota
3. VSEN15.DSRT Daftar Sampel Rumah Tangga Terpilih (2 rangkap)
BPS Kab/Kota Di-print di BPS Kab/Kota
4. VSEN15.MHU Daftar Monitoring
Hasil Updating BPS RI Di-print di BPS Kab/Kota 5. Sketsa Peta BS
SP2010-WB Alat bantu pengenalan wilayah
BPS Kab/Kota Di-print di BPS Kab/Kota 6. VSEN15.KP Daftar pertanyaan
Konsumsi Pengeluaran
BPS Kab/Kota Dicetak di Daerah 7. VSEN15.MSBP Daftar pertanyaan
Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
BPS Kab/Kota Dicetak di Daerah
1.7 Arus Dokumen
Arus Dokumen seperti yang terlihat pada Gambar 1. Arus Dokumen Susenas MSBP 2015 dari BPS Pusat sampai Petugas di Lapangan (Pencacah dan Pengawas) dan sebaliknya. Tulisan dicetak tebal menandakan daftar sudah ada isiannya. Tulisan miring menandakan bahwa semua file dokumen dapat diunduh melalui filelib Susenas.
Gambar 1. Arus Dokumen (Hard copy dan Soft file) Susenas 2015 dari Pusat sampai petugas di Lapangan, dan sebaliknya
Sketsa Peta BS SP2010 VSEN15.P VSEN15.DSBS VSEN15.DSRT VSEN15.MSBP VSEN15.KP VSEN15.MHU Softfile VSEN15.P VSEN15.MSBP VSEN15.KP
Softfile data entri
VSEN15. MSBP, VSEN15.KP VSEN15.MHU Petugas Pencacah/Pengawas BPS KAB/KOTA BPS RI Sketsa Peta BS SP20101) VSEN15.P VSEN15.DSBS VSEN15.DSRT2) VSEN15.MSBP VSEN15.KP Buku Pedoman II - IV VSEN15.MHU VSEN15.P VSEN15.DSBS VSEN15.MSBP VSEN15.KP
Program data entri
VSEN15.DSRT
Buku Pedoman I - V
Program data entri KP dan MSBP
VSEN15.MHU
Softfile VSEN15.P
Softfile data entri
VSEN15. MSBP, VSEN15.KP VSEN15.MHU BPS PROVINSI FILELIB VSEN15.P VSEN15.DSBS VSEN15.MSBP VSEN15.KP
Program data entri DSRT
Buku Pedoman I -V
Program data entri KP dan
MSBP
1.8 Statistik yang Disusun
Statistik yang disusun dari data hasil Susenas MSBP 2015 dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok indikator sebagai berikut:
1. Statistik/Indikator Pendidikan
Statistik/indikator pendidikan yang dapat disusun dari hasil pengumpulan data Kor dan Modul adalah sarana dan prasarana pendidikan yang mencakup sarana pergi ke sekolah, biaya pendidikan dan beasiswa/bantuan pendidikan; partisipasi pendidikan yang mencakup angka partisipasi kasar (APK), angka partisipasi sekolah (APS), angka partisipasi murni (APM) dan pendidikan kesetaraan paket A/B/C; hasil pembangunan pendidikan seperti angka buta huruf, pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan alasan tidak sekolah; serta kegiatan di luar jam sekolah seperti kegiatan belajar di luar jam sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan kursus, kegiatan olahraga dan kegiatan mengakses internet dalam rangka menunjang tugas sekolah.
2. Statistik/Indikator Sosial Budaya
Statistik/indikator sosial budaya yang dapat disusun dari hasil pengumpulan data modul, antara lain adalah akses media massa, kegiatan olahraga, kegiatan sosial kemasyarakatan, dan kunjungan ke museum/situs peninggalan sejarah, serta keterangan sosial budaya lainnya.
3. Statistik Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)/Ketelantaran
Statistik/indikator mengenai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang dapat disusun dari pengumpulan data modul antara lain anak balita telantar, anak telantar, lansia telantar, perempuan rawan sosial ekonomi, dan lain-lain.2
.
METODOLOGI SUSENAS 2015
2.1 Kerangka Sampel
Kerangka sampel yang digunakan untuk kegiatan Supas, Susenas dan Sakernas 2015 terdiri dari:
1. Kerangka sampel tahap pertama adalah Blok Sensus Biasa hasil SP2010 (sekitar 720.000 BS) yang memuat keterangan jumlah rumah tangga dan penduduk.
2. Kerangka sampel tahap kedua adalah 25 persen Blok Sensus Biasa hasil SP2010 (sekitar 180.000 BS) yang telah distratifikasi berdasarkan indeks kesejahteraan rumah tangga (wealth
index) dan perkotaan/perdesaan per kabupaten/kota.
3. Kerangka sampel tahap ketiga adalah daftar rumah tangga hasil hasil pemutakhiran rumah tangga pada blok sensus Susenas terpilih yang memuat informasi mengenai ijazah tertinggi yang dimiliki oleh kepala rumah tangga.
Indeks Kesejahteraan dihitung menggunakan metode analisis komponen utama (PCA,
principal component analysis) polychoric menggunakan sembilan variabel hasil SP2010. Variabel
yang digunakan diantaranya adalah: jenis lantai, sumber penerangan, bahan bakar untuk memasak, sumber air minum, fasilitas tempat buang air besar, tempat akhir pembuangan tinja, penguasaan telepon, akses internet, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga. Sebanyak tiga strata Blok Sensus yang dihasilkan per wilayah perkotaan/perdesaan yaitu tingkat kesejahteraan rendah, menengah, dan tinggi.
2.2 Estimasi Kabupaten/Kota
Teknik pemilihan sampel yang digunakan untuk estimasi kabupaten/kota adalah metode
two stages one phase stratified sampling, dengan tahapan sebagai berikut:
Tahap 1: Memilih 25 persen Blok Sensus Biasa hasil SP2010 secara Probability Proportional to
Tahap 2: Memilih sejumlah 30.000 Blok Sensus hasil pemilihan tahap pertama sesuai alokasi secara systematic di setiap strata kesejahteraan perkotaan/perdesaan pada masing-masing kabupaten/kota. Hasilnya berupa Daftar Sampel Blok Sensus Susenas Maret 2015 (VSEN15.DSBS).
Tahap 3: Memilih 10 rumah tangga hasil pemutakhiran pada Blok Sensus terpilih secara
systematic sampling dengan implicit stratification menurut tingkat pendidikan tertinggi
yang ditamatkan KRT. Hasilnya berupa Daftar Sampel Rumah Tangga Susenas Maret 2015 (VSEN15.DSRT).
2.3 Estimasi Provinsi
Pemilihan sampel Susenas MSBP 2015 untuk estimasi provinsi merupakan subsampel dari Susenas estimasi kabupaten/kota yang dipilih menggunakan metode two stages stratified
sampling, dengan tahapan sebagai berikut:
Tahap 1: Memilih 7.500 Blok Sensus secara systematic sampling dari 30.000 blok sensus estimasi kabupaten/kota sesuai alokasi di setiap strata kesejahteraan perkotaan/perdesaan pada masing-masing kabupaten/kota. Hasilnya berupa Daftar Sampel Blok Sensus Susenas September 2015 (VSEN15.DSBS).
Tahap 2: Memilih 10 rumah tangga hasil pemutakhiran pada Blok Sensus terpilih secara
systematic sampling dengan implicit stratification menurut tingkat pendidikan tertinggi
yang ditamatkan KRT. Hasilnya berupa Daftar Sampel Rumah Tangga Susenas September 2015 (VSEN15.DSRT)
3
.
ORGANISASI LAPANGAN
Penanggung jawab kegiatan Susenas 2015 adalah Kepala BPS provinsi pada tingkat provinsi dan Kepala BPS Kabupaten/Kota pada tingkat kabupaten/kota. Adapun penanggung jawab teknis lapangan pada tingkat provinsi adalah Kepala Bidang Statistik Sosial di BPS Provinsi dan pada tingkat kabupaten/kota adalah Kepala Seksi Statistik Sosial di BPS Kabupaten/Kota. Kegiatan Susenas 2015 didukung oleh Kepala Bagian Tata Usaha di BPS Provinsi dan Kepala Seksi Tata Usaha di BPS Kabupaten/Kota untuk teknis administrasi, serta Kepala Bidang IPDS di BPS Provinsi dan Kepala Seksi IPDS di BPS Kabupaten/Kota untuk teknis pengolahan data.
Unsur fungsional teknis dalam kegiatan lapangan Susenas 2015 terdiri dari instruktur, petugas lapangan dan petugas pengolahan. Instruktur terdiri atas Master Instruktur Utama (Master Intama), Instruktur Utama (Intama) dan Instruktur Nasional (Innas). Petugas lapangan terdiri atas Petugas Pencacah dan Petugas Pengawas.
Kegiatan pengumpulan data lapangan pada Susenas 2015 ini dilakukan oleh Petugas Pencacah yang didampingi oleh Petugas Pengawas. Setiap pengawas mengkoordinir 2-3 pencacah, setiap pencacah bertanggungjawab terhadap 2-3 blok sensus yang menjadi wilayah tugasnya. Pembagian wilayah tugas dan perekrutan petugas lapangan diatur oleh penanggungjawab teknis lapangan tingkat kabupaten/kota.
3.1 Persyaratan Petugas Lapangan
Petugas lapangan Susenas terdiri dari atas Pencacah dan Pengawas. Pencacah adalah staf organik BPS Kabupaten/Kota atau KSK/Mitra Statistik yang telah berpengalaman sebagai petugas Susenas dalam 3 (tiga) tahun. Pengawas diutamakan staf di BPS Kabupaten/Kota (termasuk KSK) yang telah berpengalaman dalam Susenas MSBP. Secara umum, seluruh petugas lapangan hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Berpengalaman sebagai petugas survei/penelitian, diutamakan yang berpengalaman sebagai petugas Susenas MSBP.
Siap untuk bekerja dan mentaati peraturan/kesepakatan yang telah ditentukan.
3.2 Tugas dan Kewajiban Pencacah
Berikut adalah uraian tugas untuk pencacah :
1) Mengikuti pelatihan petugas lapangan Susenas MSBP 2015.
2) Mengenali wilayah tugas dan menelusuri rumah tangga sampel bersama-sama dengan Pengawas.
3) Melaksanakan perbaikan muatan pada blok sensus sampel, melengkapi informasi bangunan penting pada Sketsa Peta Blok Sensus, dan memberi catatan tentang perlu adanya perbaikan peta serta menyerahkan hasilnya kepada Pengawas.
4) Menerima identitas rumah tangga sampel yang disiapkan oleh Pengawas pada setiap blok sensus yang menjadi tanggung jawabnya.
5) Melakukan wawancara terhadap responden pada semuarumah tangga sampel pada blok sensus yang menjadi tanggung jawabnnya dengan kuesioner yang telah disediakan. 6) Menjalin kerja sama dengan Pengawas dan semua responden.
7) Melakukan wawancara hingga selesai seluruh pertanyaan.
8) Mengoreksi dan memastikan kewajaran serta kelengkapan isian untuk meyakinkan bahwa semua pertanyaan telah diajukan ke responden dan semua jawaban responden telah dicatat dengan benar.
9) Mencari penyelesaian terhadap masalah yang ditemui dalam pelaksanaan lapangan dengan pengawas.
10) Menyerahkan dokumen hasil pencacahan berikut dokumen pendukung lainnya, termasuk Sketsa Peta Desa/Kelurahan SP2010-WA dan SP2010-WB kepada Pengawas.
11) Bekerja sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
3.3 Tugas dan Kewajiban Pengawas
Tugas pokok pengawas adalah melaksanakan pengawasan pencacahan dan pemeriksaan hasil pencacahan sesuai jadwal. Bagi mereka yang ditunjuk sebagai Pengawas,
Untuk memudahkan dan meningkatkan kualitas, disarankan pencacah bekerja berpasangan dengan pencacah lain yang wilayah kerjanya berdekatan
diperlukan pula tambahan kecakapan lain, yaitu: (a) Mampu menjalin pendekatan dengan kepala desa atau ketua RT/RW setempat, serta membuka jalan/meminta izin agar pencacah dapat melakukan wawancara, (b) Mampu menyusun rencana kerja dan memimpin petugas pencacah untuk melaksanakan pencacahan, (c) Mampu memecahkan persoalan dan hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan lapangan, (d) Siap untuk menggantikan tugas pencacah yang karena sesuatu hal tidak dapat melanjutkan pekerjaannya, dan (e) Bertanggung jawab terhadap kelengkapan hasil pencacahan semua petugas pencacah yang berada di bawah koordinasinya.Rincian tugas pengawas adalah sebagai berikut:
1) Menerima wilayah tugas yang telah ditetapkan oleh BPS Kabupaten/Kota. 2) Menerima daftar rumah tangga (VSEN15.P) untuk dimutakhirkan.
3) Membagi tugas pemutakhiran rumah tangga (menyerahkan daftar VSEN15.P) kepada setiap pencacah.
4) Memeriksa hasil pemutakhiran rumah tangga.
5) Memilih sampel rumah tangga dan menuliskan hasilnya ke daftar VSEN15.DSRT. 6) Mendistribusikan dokumen pencacahan sesuai dengan beban masing-masing pencacah. 7) Menerima sketsa peta desa/kelurahan SP2010-WA dan print out peta SP2010-WB hasil
listing SP2010 dari Seksi IPDS.
8) Mendistribusikan print out Sketsa Peta SP2010-WA dan SP2010-WB yang diterima dari seksi IPDS sesuai lokasi tugas pencacah.
9) Bersama pencacah mengenali batas blok sensus yang menjadi wilayah tugasnya.
10) Mengatur kegiatan perjalanan ke lokasi dan bahan-bahan yang dibutuhkan sebelum kegiatan lapangan dimulai.
11) Mendampingi dan mengevaluasi kinerja pencacah sejak awal pelaksanaan lapangan, sehingga kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi bisa dihindari sedini mungkin.
12) Membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ditemui pencacah dalam pelaksanaan lapangan. Khusus menyangkut konsep dan definisi, mengacu pada buku pedoman atau penegasan-penegasan yang diberikan selama pelatihan.
13) Memantau kualitas VSEN15.MSBP dengan melakukan pengecekan langsung, dan mengkonfirmasi kuesioner yang telah diisi pencacah ke responden.
14) Mengumpulkan dan memeriksa kelengkapan dokumen, memeriksa kewajaran dan konsistensi isian, serta melakukan koreksi dan memberitahukan kesalahan yang dilakukan pencacah.
15) Memberitahukan lokasi tugas dari waktu ke waktu kepada BPS Kabupaten/Kota agar mudah dipantau.
16) Menjaga semangat dan kerja sama yang tinggi sesama petugas.
17) Menyerahkan secara bertahap dokumen hasil pencacahan lapangan termasuk Sketsa Peta Desa SP2010-WA dan Sketsa Peta Blok Sensus SP2010-WB ke BPS Kabupaten/Kota
Pengawas bertanggung jawab membangun motivasi di antara pencacah, sehingga mereka bekerja dengan semangat yang tinggi. Untuk mencapai hal ini Pengawas harus berusaha agar Pencacah:
1) Memahami sepenuhnya tentang hasil yang harus dicapai. 2) Menerima petunjuk Pengawas dalam menjalankan tugasnya. 3) Menerima penghargaan sesuai dengan hasil kerjanya.
4) Memberi dorongan untuk meningkatkan hasil dan mutu pekerjaannya. 5) Menciptakan suasana kerja yang tenang dan aman.
Dalam melakukan tugas bersama Pencacah, sepatutnya Pengawas mengikuti beberapa petunjuk di bawah ini:
1) Sebaiknya Pencacah diajak berunding dalam pengambilan keputusan dalam segala hal yang berkaitan dengan persiapan dan pelaksanaan lapangan. Dalam hal ini Pengawas harus bersikap tegas dan keputusan yang diambil harus dihormati oleh Pencacah.
2) Jika pencacah melakukan kesalahan, usahakan agar pembinaan diberikan dalam suasana bersahabat dan tidak ada orang lain. Dengarkan penjelasan Pencacah, tunjukkan keinginan untuk membantunya, dan bahas masalah yang dihadapi.
3) Jika Pencacah mengeluh, dengarkan dengan sabar. Cobalah untuk mengatasi persoalan tersebut.
4) Usahakan untuk menanamkan semangat bekerja.
5) Pengawas sama sekali tidak boleh memperlakukan salah seorang Pencacah berbeda dari yang lain.
6) Usahakan untuk selalu berada dalam suasana kekeluargaan, bersahabat dan tidak kaku. Gunakan kata-kata yang membangkitkan semangat.
7) Pengawas harus selalu tepat waktu, bersemangat dan berdedikasi agar Pencacah meniru sikap tersebut. Pengawas tidak boleh memberi kesan bahwa seseorang bekerja lebih ringan atau mendapat perlakuan yang lebih dari petugas lainnya, karena hal tersebut bisa menimbulkan rasa tidak puas.
3.4 Persiapan Lapangan
Hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh tim sebelum pelaksanaan lapangan, yaitu:
3.4.1 Penyiapan Dokumen, Bahan, dan Perlengkapan
Dokumen, bahan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan adalah: 1. Peta Blok Sensus terpilih
2. Buku Pedoman Pencacahan MSBP 3. Daftar VSEN15.DSRT
4. Daftar VSEN15.MSBP
5. Pensil hitam, rautan, penghapus untuk Pencacah, dan lain-lain 6. Surat tugas atau surat pengantar.
Dokumen-dokumen, bahan dan perlengkapan tersebut harus diyakinkan tidak ada yang kurang, baik dalam jumlah maupun kondisinya.
3.4.2 Pencarian Informasi Situasi dan Kondisi Wilayah Tugas
Hal ini penting dilakukan karena situasi dan kondisi lapangan dapat memengaruhi jadwal dan kelancaran pelaksanaan lapangan. Beberapa informasi yang perlu dikumpulkan antara lain terkait:
1. Letak geografis wilayah tugas.
2. Ketersediaan transportasi ke lokasi pencacahan. Untuk mengantisipasi apabila ada lokasi pencacahan yang membutuhkan biaya dan waktu khusus.
3. Profil masyarakat pada wilayah yang akan dituju untuk menerapkan teknik wawancara yang tepat digunakan.
3.4.3 Koordinasi dan Komunikasi dengan BPS Kabupaten/Kota dan Pejabat
Wilayah Tugas
Sebelum mulai bertugas, koordinasi dan komunikasi Pengawas dengan BPS Kabupaten/Kota serta pejabat di wilayah tugas (termasuk Ketua RT/RW atau Lurah/ Kepala Desa/Kepala Dusun) harus tetap dilakukan. Selain itu, koordinasi dan komunikasi dengan Pencacah yang menjadi anggotanya harus dapat dilakukan secara intensif.
Setiap petugas (Pengawas dan Pencacah) mendapat surat pengantar atau surat tugas yang diperlihatkan sebagai tanda bukti kepada pejabat setempat maupun responden bahwa mereka adalah petugas Susenas 2015. Kemahiran dalam berkomunikasi dengan pejabat setempat akan membantu tim untuk diterima masyarakat dengan baik.
3.4.4 Pengenalan Wilayah Tugas
Salah satu langkah yang harus dilakukan oleh petugas pencacah sebelum melakukan
updating maupun pencacahan adalah mengenali lokasi wilayah tugas. Berbekal Peta Blok Sensus
yang diperoleh dari BPS Kabupaten/Kota, Pengawas dan Pencacah terlebih dulu harus mengunjungi wilayah tugas dan mengenali batas-batas wilayah yang harus dikunjungi.
Adanya peta akan sangat membantu menentukan arah, jarak, dan letak suatu wilayah tugas. Dalam beberapa kasus, beberapa peta tidak sesuai dengan fakta lapangan. Untuk itu, Pengawas harus berkoordinasi dengan BPS Kabupaten/Kota untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut.
4
.
TATA CARA PENCACAHAN
Strategi pencacahan perlu dirancang dalam rangka efisiensi dan efektivitas pelaksanaan lapangan, antara lain bagaimana menemukan lokasi rumah tangga sampel, bagaimana mengatur waktu dengan responden yang harus diwawancarai, bagaimana etika dan teknis berwawancara yang sesuai dengan karakteristik masyarakat di wilayah tugas, dan lain-lain.
4.1 Menemukan Lokasi Rumah Tangga Terpilih
Pelaksanaan pencacahan rumah tangga dilakukan oleh pencacah berdasarkan identitas rumah tangga sampel pada VSEN15.DSRT, VSEN15.P dan sketsa peta blok sensus, dengan cara:
1. Pencacah akan mendapat daftar blok sensus tempat tugas disertai dengan Daftar VSEN15.P yang terisi nama kepala rumah tangga;
2. Daftar tersebut harus diperbaharui di lapangan dengan tata cara yang dapat dilihat pada Bab IV mengenai Tata Tertib dan Tata Cara Pengisian Daftar VSEN15.P dan VSEN15.DSRT; 3. Berdasarkan Daftar VSEN15.P yang diperbaharui akan diambil 10 rumah tangga yang harus
dicacah;
4. Daftar rumah tangga terpilih dan nama kepala rumah tangganya tercantum di Daftar VSEN15.DSRT.
4.2 Wewenang Legal/Dasar Hukum
Dasar hukum pelaksanaan pencacahan adalah sebagai berikut:
1. Undang-undang Statistik No. 16/1997 memberi wewenang kepada BPS untuk mengumpulkan informasi dari penduduk sebagai perseorangan maupun dari lembaga-lembaga atau organisasi;
2. Sebagai petugas survei, Undang-Undang mengijinkan Saudara untuk memasuki tempat, bangunan atau rumah mana saja dengan tujuan untuk mencatat/mencacah penduduk.
Meskipun begitu, undang-undang menuntut Saudara untuk menjalankan tugas Saudara dengan benar. Lebih khusus lagi, undang-undang ini menuntut agar Saudara hanya menanyakan pertanyaan yang diperlukan untuk mengisi kuesioner atau mengecek data yang sudah masuk;
3. Sanksi akan diberikan kepada anggota masyarakat yang tidak memberikan informasi yang diminta atau bila Saudara gagal dalam menjalankan tugas Saudara. Undang-undang ini juga menegaskan adanya kerahasiaan dari informasi yang Saudara dapatkan. Sanksi juga bisa diberikan kepada petugas bila melanggar sumpah mereka untuk menjaga kerahasiaan data.
4.3 Kerahasiaan Informasi
Informasi yang Saudara kumpulkan bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk perhitungan statistik. Saudara tidak diizinkan untuk membahasnya, memberitahu atau menunjukkan catatan Saudara kepada orang lain yang bukan petugas resmi/BPS. Saudara sendiri yang harus memasukkan data ke kuesioner. Saudara tidak diperbolehkan untuk mengizinkan orang lain untuk mengisi salah satu bagian dari kuesioner. Jangan biarkan kuesioner Saudara berada di sembarang tempat sehingga orang lain bisa mengambilnya, membacanya ataupun memanfaatkannya.
4.4 Peranan Pewawancara
Peranan pewawancara menentukan sukses dari pelaksanaan survei, oleh karena itu maka penting sekali agar semua pencacah mengikuti dengan hati-hati prosedur yang telah ditetapkan. 1. Tugas Saudara adalah menemukan dan mendatangi setiap rumah tangga terpilih yang ada
di wilayah tugas Saudara;
2. Catatlah semua hal yang diminta datanya sebagaimana tertera dalam kuesioner. Saudara harus mengajukan pertanyaan dan mencatat jawaban yang benar saja yang diberikan kepada Saudara. Saudara HARUS BERUSAHA untuk mendapatkan jawaban yang lengkap dan akurat dan mencatatnya dengan benar;
3. Karena suksesnya survei ini tergantung pada kerjasama Saudara dengan responden, maka tugas Saudara untuk mencapainya dengan bersikap sopan, sabar, berpenampilan baik dan bijaksana setiap waktu;
4. Sebelum Saudara meninggalkan suatu rumah tangga, periksalah kuesioner yang telah diisi untuk memastikan bahwa semua pertanyaan telah ditanyakan dan semua jawaban telah
dicatat dengan jelas dan baik;
5. Berkunjung kembali untuk mewawancarai mereka yang tidak bisa diwawancarai pada saat kunjungan pertama atau kedua karena alasan tertentu;
6. Pastikan informasi yang diberikan itu benar dengan cara memfokuskan perhatian responden ke pertanyaan yang diberikan;
7. Siapkan catatan singkat untuk pengawas mengenai tantangan/masalah yang ditemukan; 8. Sampaikan ke pengawas semua kuesioner yang telah diisi dan yang tidak terpakai serta
catatan lainnya yang relevan atau bahan lainnya.
4.5 Netralitas
Perlu diingat bahwa kebanyakan orang biasanya bersifat sopan khususnya kepada orang asing/tamu. Mereka cenderung memberi jawaban yang mereka pikir bisa menyenangkan hati tamu/pewawancara. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi Saudara untuk tetap bersikap netral terhadap subyek wawancara. Janganlah menunjukkan rasa heran, persetujuan atau penolakan atas jawaban dari responden melalui nada suara, ekpresi wajah atau gerak gerik Saudara.
4.6 Cara Wawancara
Pengumpulan data dari rumah tangga terpilih dilakukan melalui wawancara tatap muka antara pencacah dengan responden.Untuk pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner Susenas yang ditujukan kepada individu perlu diusahakan agar individu yang bersangkutan yang diwawancarai. Keterangan dalam rumah tangga dapat dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala rumah tangga, suami/istri kepala rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang mengetahui tentang karakteristik yang ditanyakan. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, harap diperhatikan tata cara berwawancara berikut ini:
1. Pencacah dan responden mungkin tidak saling mengenal, oleh karena itu salah satu tugas penting dari pencacah adalah menjalin hubungan dengan responden. Kesan pertama responden akan mempengaruhi kesediaannya untuk bekerja sama dalam survei ini. Pastikan bahwa penampilan Saudara bersih dan juga bersahabat pada saat Saudara memperkenalkan diri ke responden;
2. Bersikaplah bersahabat dan berlaku baik karena Saudara mengharapkan kerjasama responden untuk mendapatkan informasi. Mulailah wawancara hanya jika Saudara telah melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Bersalaman;
b. Memperkenalkan diri Saudara;
c. Menjelaskan tujuan kunjungan Saudara;
d. Menjawab atau menjelaskan hal-hal lain mengenai survei ini yang ditanyakan oleh responden;
e. Jangan terlalu menghabiskan waktu untuk bertanya dan/atau menjawab pertanyaan yang tidak perlu. Saudara bisa menghindar dari pertanyaan demikian dengan baik dengan mengatakan bahwa waktu Saudara sangat terbatas. Pencacah disarankan untuk menghindari diskusi panjang mengenai isu yang tidak berhubungan dengan survei ini yang bisa menghabiskan banyak waktu.
3. Sesudah menjalin hubungan dengan responden, ajukan pertanyaan dengan pelan agar responden mengerti apa yang ditanyakan. Sesudah mengajukan pertanyaan, berhenti sejenak dan beri waktu kepada responden untuk berpikir. Jika responden merasa terburu-buru atau merasa tidak diberi waktu untuk berpikir maka dia bisa menjawab dengan mengatakan “saya tidak tahu” atau dia mungkin akan memberi jawaban yang tidak akurat. Jika Saudara melihat bahwa responden menjawab tanpa berpikir, maka segeralah akhiri wawancara dan mintalah waktu untuk bertemu lagi segera;
4. Selalu menjaga kerahasiaan informasi yang Saudara peroleh dari responden. Jelaskan kepada responden bahwa informasi yang Saudara kumpulkan akan dijaga kerahasiaannya dan tak ada informasi perorangan yang akan dipakai untuk tujuan lain, serta semua informasi akan dikelompokkan pada saat kompilasi laporan. Jangan menunjukkan kuesioner yang telah diisi ke pewawancara lain atau pengawas di depan responden atau di depan orang lain. Ini secara otomatis akan menurunkan kepercayaan responden terhadap Saudara;
5. Secara khusus, petunjuk berikut ini akan mengarahkan Saudara dalam membuat wawancara:
a. Pastikan bahwa Saudara mengerti benar tujuan survei dan setiap pertanyaan. Ini akan membantu Saudara mengetahui apakah jawaban responden sesuai atau tidak;
b. Ajukan pertanyaan sesuai dengan apa yang tertulis. Perubahan kecil dalam penyusunan kata dapat mengubah arti sebuah pertanyaan;
c. Ajukan pertanyaan sesuai dengan urutan yang ada pada kuesioner. Jangan merubah urutan pertanyaan;
kepada responden untuk menjawab pertanyaan. Jangan mengajukan pertanyaan yang menggurui;
e. Bekerja dengan mantap dan pastikan bahwa jawaban responden jelas sebelum Saudara menuliskannya. Jangan menerima pernyataan yang Saudara percaya itu keliru. Ajukan pertanyaan lanjutan secara bijaksana untuk mendapatkan jawaban (misalnya dengan probing/pendalaman);
f. Tetaplah netral selama wawancara. Perlu diingat bahwa kebanyakan orang bersikap sopan terhadap khususnya orang asing. Mereka cenderung memberikan jawaban yang menyenangkan hati pewawancara. Oleh karena itu, maka sangatlah penting bersikap netral. Janganlah menunjukkan sikap terkejut, tetap bersikap netral selama wawancara melalui nada suara dan ekspresi wajah Saudara;
g. Jangan terburu-buru dalam wawancara;
h. Jangan membiarkan pertanyaan yang tak terjawab kecuali Saudara diminta untuk melewatkannya. Pertanyaan yang dibiarkan kosong akan mempersulit Saudara nanti; i. Catatlah jawaban dengan segera sesudah responden memberi jawabannya. Jangan
pernah tergantung untuk menulis jawaban tertulis pada buku catatan untuk kemudian menyalinnya ke kuesioner;
j. Periksalah semua kuesioner sebelum Saudara meninggalkan rumahtangga untuk memastikan bahwa kuesioner tersebut diisi secara lengkap.
6. Bisa terjadi bahwa orang menolak untuk memberi jawaban. Ini biasanya terjadi karena salah pengertian. Tetaplah bersikap sopan. Tekankan bahwa survei ini penting dan bahwa informasi yang diberikan bersifat rahasia; bahwa tak seorangpun diluar tim survei diizinkan untuk mengetahui catatan yang ada; bahwa data mengenai individu yang ada tidak akan pernah dipublikasikan untuk tujuan lain dan bahwa hasil sensus hanya akan dipublikasi dalam bentuk angka dan tabel. Saudara harus mampu menjelaskan setiap kesalahpahaman, tetapi jika Saudara tidak dapat membujuk orang untuk membantu, atau jika penolakannya disengaja, maka beritahu orang tersebut bahwa ia bisa dituntut secara hukum. Laporkan insiden itu ke pengawas Saudara pada kesempatan pertama;
7. Sebelum meninggalkan rumah tangga, jangan lupa untuk menyampaikan terima kasih kepada responden atas kerjasamanya.
5
.
TATA CARA PENGISIAN KUESIONER
Dalam pelaksanaan Susenas 2015, hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang petugas Susenas adalah melakukan pengisian pada Daftar Pemutakhiran Rumah Tangga (VSEN15.P), Daftar Sampel Rumah tangga (VSEN15.DSRT), dan Daftar pencacahan rumah tangga sampel Modul Sosial Budaya Pendidikan (VSEN15.MSBP).
5.1 Daftar Pemutakhiran Rumah Tangga (VSEN15.P)
Kerangka sampel yang digunakan untuk pemilihan rumah tangga adalah daftar rumah tangga biasa hasil SP2010-C1 yang dimutakhirkan dengan menggunakan Daftar VSEN15.P. Pemilihan sampel rumah tangga secara sistematik sampling dilakukan oleh pengawas menggunakan Daftar VSEN15.P. Ukuran sampel rumah tangga yang harus dipilih di setiap blok sensus adalah 10 rumah tangga. Pemilihan sampel rumah tangga menggunakan program komputer yang telah disiapkan dari BPS Pusat setelah hasil pemutakhiran dientri.
Seperti sudah diterangkan di atas, penentuan wilayah kerja atau blok sensus dilakukan di BPS. Pengawas mengidentifikasi blok sensus terpilih dan mengunjungi sejumlah blok sensus untuk melakukan sosialisasi kepada tokoh-tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati masyarakat setempat. Hal ini perlu agar pelaksanaan survei dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat waktu. Setelah identifikasi lokasi berdasarkan sketsa peta blok sensus, lalu petugas melakukan kegiatan penelusuran lokasi, yaitu mengenali batas-batas wilayah dengan mengelilingi wilayah tersebut. Selanjutnya melakukan pemutakhiran seluruh rumah tangga/bangunan yang ada di blok sensus terpilih dengan Daftar VSEN15.P. Penelusuran wilayah dan pemutakhiran rumah tangga ditujukan untuk mengetahui populasi rumah tangga pada blok sensus sekaligus melakukan pemutakhiran keterangan dalam sketsa peta blok sensus.
VSEN15.P adalah suatu daftar yang berbentuk form terdiri dari blok identitas yaitu identitas blok sensus terpilih dan blok untuk identitas rumah tangga. Daftar ini juga memuat informasi tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan jumlah anggota rumah tangga hasil pendaftaran. Tingkat pendidikan selanjutnya digunakan sebagai implicit stratification dalam pemilihan responden secara sistematik.
Pemutakhiran rumah tangga menggunakan VSEN15.P dengan bentuk form daftar rumah tangga hasil Sensus Penduduk 2010 atau update terakhir dalam bentuk preprinted. Selanjutnya petugas akan mengecek keberadaan rumah tangga yang ada dalam daftar preprinted sesuai kondisi lapangan dan menambahkan rumah tangga yang belum ada dalam daftar preprinted. Secara garis besar, pemutakhiran rumah tangga berdasarkan hasil suatu pendataan pada suatu wilayah (blok sensus) akan terdapat tiga kejadian, yaitu:
1. Rumah tangga yang tetap (nonmover),
2. Rumah tangga pindah ke dalam atau keluar blok sensus (in mover dan out mover), 3. Rumah tangga mekar (spread up).
Dalam operasionalisasi lapangan, konsep tersebut dikembangkan menjadi: ditemukan, ganti kepala rumah tangga, pindah dalam blok sensus, rumah tangga baru, pindah ke luar blok sensus, bergabung dengan rumah tangga lain, dan tidak ditemukan.
Instrumen yang digunakan dalam pemutakhiran rumah tangga adalah:
1. Daftar Pemutakhiran Rumah Tangga (Daftar VSEN15.P)
Daftar VSEN15.P adalah daftar yang memuat nama-nama kepala rumah tangga beserta alamat (SLS, nama jalan, dsb) dalam suatu blok sensus yang digunakan sebagai dasar pemutakhiran. Contoh Daftar VSEN5.P terdapat pada Lampiran.
2. Sketsa Peta SP2010-WB
Sketsa Peta SP2010-WB adalah yang dibuat pada persiapan SP2010. Sketsa peta ini dalam Susenas 2015 digunakan sebagai dasar untuk mengenali wilayah kerja petugas Susenas 2015. Dalam peta tersebut sudah tercantum legenda, landmark, dan posisi bangunan fisik/sensus yang dapat digunakan oleh petugas untuk menelusuri/mengidentifikasi lokasi rumah tangga terpilih.
5.1.1 Struktur Daftar VSEN15.P
Blok I. Keterangan Tempat, berisi kode dan nama wilayah administrasi (provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan), klasifikasi desa/kelurahan (perdesaan dan perkotaan), nomor blok sensus, nama SLS, dan nomor kode sampel (NKS);
Blok II. Rekapitulasi Rumah Tangga, berisi banyaknya rumah tangga hasil pemutakhiran; Blok III. Keterangan Pencacahan, berisi identitas petugas pelaksana updating (pencacah dan
pengawas), tanggal pelaksanaan pemutakhiran pada blok sensus yang bersangkutan, dan tanda tangan petugas;
Blok IV. Catatan, digunakan untuk mengisi segala informasi terkait pemutakhiran rumah tangga
yang dirasa perlu untuk dicantumkan;
Blok V. Keterangan Rumah Tangga, terdiri atas 13 kolom, dengan uraian pada masing-masing
kolom adalah sebagai berikut:
Kolom (1). Nomor Urut Satuan Lingkungan Setempat (SLS). Nomor yang tercantum pada
kolom ini adalah nomor Satuan Lingkungan Setempat (SLS) hasil pencacahan lengkap SP2010/update terakhir.
Kolom (2). Nomor Urut Bangunan Fisik. Nomor bangungan fisik (BF) yang tercantum pada
kolom ini adalah nomor bangunan fisik hasil pencacahan lengkap SP2010/update terakhir. Nomor-nomor yang tercantum pada kolom ini kemungkinan tidak berurutan.
Bangunan Fisik adalah tempat berlindung tetap maupun sementara, yang mempunyai
dinding, lantai dan atap, baik digunakan untuk tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal. Bangunan yang tidak digunakan untuk tempat tinggal atau usaha, dianggap sebagai satu bangunan fisik jika luas lantainya lebih dari atau sama dengan 10 m2. Sedangkan bangunan
yang digunakan untuk tempat tinggal atau usaha, walaupun luas lantainya kurang dari 10 m2,
tetap dianggap satu.
Menurut jenisnya, bangunan fisik dapat dibedakan atas bangunan tunggal tidak bertingkat, bangunan tunggal bertingkat, bangunan gandeng dua tidak bertingkat, dan bangunan tunggal bertingkat banyak.
Bangunan gandeng dua
tidak bertingkat Bangunan tunggal bertingkat banyak
Kolom (3). Nomor Urut Bangunan Sensus. Nomor bangunan sensus yang tercantum pada
kolom ini adalah nomor bangunan sensus hasil pencacahan lengkap SP2010/update terakhir. Nomor-nomor yang tercantum pada kolom ini kemungkinan tidak berurutan.
Bangunan sensus adalah sebagian atau seluruh bangunan fisik yang mempunyai pintu
keluar/masuk sendiri dalam satu kesatuan fungsi/penggunaan.
Menurut penggunaannya bangunan sensus dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu:
1. Bangunan sensus tempat tinggal (BSTT), yaitu bangunan sensus yang seluruhnya digunakan untuk tempat tinggal, termasuk bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal tetapi belum dihuni (BSTT kosong). Misalnya di suatu perumahan beberapa rumah telah selesai dibangun dan belum ada penghuninya, maka rumah-rumah itu disebut sebagai BSTT kosong.
2. Bangunan sensus bukan tempat tinggal (BSBTT), yaitu bangunan sensus yang seluruhnya digunakan bukan untuk tempat tinggal, misalnya toko, restoran, salon, tempat ibadah, rumah sakit, pabrik, sekolah, gedung kantor, balai pertemuan, dan sebagainya. Untuk tempat usaha seperti pasar dan mall, tiap kios dihitung sebagai satu BSBTT. Informasi ini didapat dari pengelola mall/pasar/gedung.
3. Bangunan sensus campuran, yaitu bangunan sensus yang sebagian digunakan untuk tempat tinggal dan sebagian lainnya digunakan untuk keperluan lain, misalnya rumah-toko (ruko), rumah-kantor (rukan).
Penjelasan:
1. Untuk bangunan fisik bukan tempat tinggal seperti kantor, pabrik, dan sekolah, maka tidak setiap ruangan yang mempunyai pintu keluar masuk tersendiri dihitung sebagai satu bangunan sensus, melainkan melihat pada kegunaan dari masing-masing ruangan.
Sebagai contoh, di kompleks sekolah SDN Singawinata I terdapat 12 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan,1 ruang baca, 1 rumah penjaga, dan 1 musholah, denahnya dapat dilihat pada gambar di bawah. Ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang baca, dan musholah yang terletak dalam kompleks sekolah dianggap mempunyai satu kesatuan fungsi/ penggunaan, yaitu sarana pendidikan. Sedangkan rumah penjaga mempunyai fungsi yang berbeda, yaitu tempat tinggal. Dengan demikian, kompleks sekolah SDN Singawinata I dianggap memiliki satu bangunan fisik dan dua bangunan sensus.
Denah kompleks sekolah yang dianggap terdiri dari 1 bangunan fisik dan 2 bangunan sensus
2. Bangunan dapur, kamar mandi, garasi dan lainnya yang terpisah dari bangunan induknya tetapi merupakan satu kesatuan penggunaan, pada Pemetaan SP2010 dianggap sebagai bagian dari bangunan induknya (tidak merupakan bangunan fisik/sensus tersendiri). Contohnya seperti denah rumah di Bali pada gambar di bawah ini:
Denah rumah di Bali yang dianggap terdiri dari 1 bangunan fisik dan 1 bangunan sensus
Kolom (4). Nomor Urut Rumah Tangga. Nomor urut rumah tangga yang tercantum pada kolom
ini adalah nomor urut rumah tangga hasil pencacahan lengkap SP2010/update terakhir. Nomor-nomor yang tercantum pada kolom ini berurutan.
Kolom (5). Nama Kepala Rumah Tangga. Nama-nama yang tercantum pada kolom ini adalah
nama kepala rumah tangga pada saat pencacahan lengkap SP2010/update terakhir.
Kolom (6). Alamat. Alamat yang tercantum pada kolom ini adalah alamat tempat tinggal kepala
rumah tangga beserta anggotanya pada saat pencacahan lengkap SP2010/update terakhir. Kolom (7). Keberadaan Rumah Tangga. Rumah tangga yang dicatat hanya rumah tangga
biasa. Rumah tangga (rumah tangga) dibedakan menjadi rumah tangga biasa dan rumah tangga khusus.
a. Rumah tangga biasa adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian
atau seluruh bangunan fisik atau sensus, dan biasanya tinggal bersama serta makan dari satu dapur. Rumah tangga biasa umumnya terdiri dari ibu, bapak, dan anak.
Termasuk rumah tangga biasa adalah:
1. Seseorang yang menyewa kamar atau sebagian bangunan sensus tetapi makannya diurus sendiri;
2. Keluarga yang tinggal terpisah di dua bangunan sensus tetapi makannya dari satu dapur, asal kedua bangunan sensus tersebut masih dalam blok sensus yang sama dianggap sebagai satu rumah tangga;
3. Rumah tangga yang menerima anak kos kurang dari 10 orangdengan makan. Anak yang kos dicatat sebagai anggota rumah tangga;
4. Beberapa orang yang bersama-sama mendiami satu kamar dalam satu bangunan sensus walaupun mengurus makannya sendiri-sendiri dianggap satu rumah tangga biasa.
b. Rumah tangga khusus, mencakup:
1. Orang-orang yang tinggal di asrama, yaitu suatu tempat tinggal yang pengurusan kebutuhan sehari-harinya diatur oleh suatu yayasan atau badan,misalnya asrama perawat, asrama mahasiswa, asrama TNI (tangsi). Anggota TNI yang tinggal di asrama bersama keluarganya dan mengurus sendiri kebutuhan sehari-harinya bukan rumah tangga khusus;
2. Orang-orang yang tinggal di lembaga pemasyarakatan, panti asuhan, rumah tahanan dan sejenisnya;
3. Sekelompok orang yang mondok dengan makan (indekos) yang berjumlah lebih besar atau sama dengan 10 orang;
Penjelasan:
1. Rumah tangga yang menerima pondokan dengan makan (indekos) kurang dari 10 orang dianggap sebagai satu rumah tangga biasa dengan yang indekos. Jika yang mondok dengan makan 10 orang atau lebih, maka rumah tangga yang menerima pondokan dengan makan merupakan rumah tangga biasa, sedang yang mondok dengan makan dianggap sebagai rumah tangga khusus;
2. Pengurus asrama, pengurus panti asuhan, pengurus lembaga pemasyarakatan, dan sejenisnya yang tinggal sendiri maupun bersama anak isteri serta anggota rumah tangga lainnya dianggap rumah tangga biasa.
Kepala rumah tangga/KRT adalah seorang dari sekelompok anggota rumah tangga
yang bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari rumah tangga.
Penjelasan Identifikasi Keberadaan Rumah Tangga
Kode 1: Ditemukan, adalah kondisi dimana nama kepala rumah tangga dan alamat pada saat
pemutakhiran sama dengan nama kepala rumah tangga dan alamat pada saat pencacahan SP2010/ST2013. Termasuk dalam kategori ini bila nama kepala rumah tangga berbeda karena nama yang tercantum adalah nama panggilan atau alias dan kesalahan dalam penulisan nama atau alamat dalam pencacahan SP2010/ST2013 (Tuliskan nama yang sebenarnya). Contoh: nama alias Ijon, nama sebenarnya Iskak Joni maka ditulis IJON (ISKAK JONI).
Contoh kasus:
1. Rumah tangga Leni Fitri Yanti terdapat pada daftar VSEN15.P. Pada saat pemutakhiran rumah tangga Leni Fitri Yanti ditemukan, ia tinggal bersama mertua laki-laki dan kedua anak perempuannya. Maka rumah tangga Leni Fitri Yanti dikatakan sebagai rumah tangga
ditemukan (kode 1).
2. Rumah tangga Sunardi terdapat pada daftar VSEN15.P. Pada saat pemutakhiran pada alamat tersebut, ternyata terdapat kesalahan penulisan nama kepala rumah tangga yang seharusnya Suhardi bukan Sunardi. Maka nama kepala rumah tangga dicoret dan dituliskan nama yang benar, selanjutnya rumah tangga Suhardi tetap dikategorikan rumah tangga
ditemukan (kode 1).
Kode 2: Ganti Kepala Rumah Tangga, adalah kondisi dimana alamat pada saat
pemutakhiran rumah tangga sama dengan alamat pada saat pencacahan SP2010/ST2013, tetapi terjadi pergantian kepala rumah tangga karena kepala rumah tangga yang tercantum
pada daftar ini telah pindah, meninggal, bercerai, atau sebab lain. Termasuk dalam kondisi ini adalah terjadinya kesalahan pengklasifikasian yang dilakukan oleh petugas SP2010/ST2013. Coret isian Kolom (5) yaitu nama kepala rumah tangga dan tuliskan nama kepala rumah tangga yang baru. Selanjutnya petugas menuliskan kode “2” pada Kolom (7).
Contoh kasus:
1. Hendrik Jamil meninggal dunia 2 bulan yang lalu. Pada saat pemutakhiran yang tinggal di rumah (alm) Hendrik Jamil adalah isterinya, Intan Itsnaini dan kedua anak laki-lakinya yang masih bersekolah di jenjang SMP dan SD. Maka rumah tangga Hendrik Jamil dikatakan sebagai rumah tangga ganti kepala rumah tangga (kode 2).
2. Yulianti tinggal bersama kedua anak laki-lakinya. Setahun yang lalu ia berpisah/ bercerai dengan suaminya yang bernama Mustofa, kemudian Mustofa pindah ke luar kota. Maka pada saat pemutakhiran nama kepala rumah tangga “Mustofa” di daftar VSEN15.P dicoret dan dituliskan nama kepala rumah tangga sekarang “Yulianti”, selanjutnya rumah tangga Yulianti dikatakan sebagai rumah tangga ganti kepala rumah tangga (kode 2).
Kode 3: Pindah Dalam Blok Sensus, adalah kondisi dimana alamat pada saat pemutakhiran
rumah tangga berbeda dengan alamat rumah tangga pada saat pencacahan SP2010/ST2013 sedangkan nama kepala rumah tangga tetap sama. Tidak termasuk perbedaan alamat rumah tangga karena terjadi kesalahan penulisan alamat pada saat pencacahan SP2010/ST2013. Kesalahan penulisan alamat ini maksudnya keberadaan posisi rumah tangga sudah benar.
Contoh kasus:
1. Rumah tangga Budi Akbar pindah rumah (hal ini ditandai dengan keberadaan tetangga pak Budi Akbar berbeda antara di pre-printed dengan kondisi lapangan) tetapi masih berada di blok sensus yang sama. Dia sehari-hari tinggal bersama isteri, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuannya. Maka rumah tangga Budi Akbar dikatakan sebagai rumah
tangga pindah dalam blok sensus (kode 3) dan tuliskan alamat baru pada kolom (6).
2. Blok sensus 001B terdiri dari 2 SLS, yaitu RT001/RW001 dan RT002/RW001. Setelah SP2010 Rumah tangga Supriadi pindah menempati rumah barunya dari RT001/RW001 ke RT002/RW001. Maka rumah tangga Supriadi dikatakan sebagai rumah tangga pindah
dalam blok sensus (kode 3) dan tuliskan alamat baru pada kolom (6).
3. Jika alamat di pre-printed tidak sesuai dengan kondisi lapangan, sedangkan setelah dicek keberadaan rumah tangga tersebut pada posisi yang sudah benar maka hal ini bukan
bahwa Pak Anwar tinggal diantara Pak Adi & Budi, tetapi penulisan alamat Pak Anwar tidak benar.
4. Dianggap pindah dalam blok sensus jika rumah tangga yang lama SP2010 sudah meninggalkan bangunan tempat tinggal dimaksud (pindah masih di dalam blok sensus) dan rumah tersebut dalam keadaan kosong atau tidak ditempati. Namun jika ada rumah tangga baru yang menempati bangunan kosong tersebut dan belum tercatat di pre printed, maka segera tambahkan nama kepala rumah tangga tersebut dengan cara menuliskan nama kepala rumah tangga tersebut pada baris baru (kasus ruta baru).
5. Selanjutnya, apabila yang menempati adalah rumah tangga baru yang dulunya pada saat SP 2010 menempati di BS yang sama namun di rumah yang berbeda pada saat pengecekan lapangan, maka rumah tangga tersebut dikategorikan sebagai pindah dalam
blok sensus (kode 3) sehingga tidak perlu ditambahkan pada baris baru, cukup perbaiki
alamatnya saja. Pada kolom (6) baris yang bersesuaian dengan nama kepala rumah tangga yang tercetak.
Kode 4: Rumah Tangga Baru adalah kondisi dimana rumah tangga ditemukan pada saat
pemutakhiran tetapi tidak tercantum dalam Daftar VSEN15.P, pada umumnya adalah pada saat pencacahan SP2010/ST2013 rumah tangga tersebut dicacah oleh petugas SP2010/ST2013 di blok sensus lain tetapi pada saat pemutakhiran rumah tangga tersebut telah pindah ke blok sensus tersebut. Termasuk dalam kondisi ini adalah rumah tangga yang terlewat cacah pada saat pencacahan SP2010/ST2013 dan juga rumah tangga baru yang ditemukan di blok sensus tersebut yang merupakan pecahan rumah tangga yang tercatat dalam SP2010/ST2013. Tuliskan keterangan untuk rumah tangga yang bersangkutan pada baris setelah baris terakhir yang terisi. Pengisian nomor bangunan fisik (Kolom (2)) dan bangunan sensus (Kolom (3)) mengikuti bangunan fisik dan bangunan sensus terdekat sebelumnya dengan pemberian indeks berupa abjad A, B, C, dst.
Termasuk juga kategori rumah tangga baru, apabila dalam suatu bangunan sensus terdapat rumah tangga berganti. Proses pencatatan dalam VSEN15.P adalah sebagai berikut: Pertama, rumah tangga lama tidak perlu dicoret, isikan kode 5 (untuk yang pindah luar blok sensus) atau isikan kode 7 (untuk rumah tangga yang tidak ditemukan) pada Kolom (7). Selanjutnya, tuliskan nama kepala rumah tangga pengganti (KRT baru) tersebut pada baris yang kosong dan isikan kode 4 pada Kolom (7).
Contoh kasus:
1. Rumah tangga Sosro pada SP2010 terdiri dari Sosro (suami), Suswati (isteri), serta anak kandung: Sudadi, Sutari, dan Sutardi. Pada waktu pemutakhiran Sudadi sudah menikah dengan Rosa Angraini. Sudadi dan istrinya menempati salah satu kamar rumah Sosro dan mengurus makan sendiri. Maka rumah tangga Sudadi dikatakan sebagai rumah tangga
baru (kode 4).
2. Pada saat pemutakhiran rumah tangga Saleh ternyata semenjak tahun 2008 tinggal di blok sensus tersebut, tetapi rumah tangga tersebut tidak terdaftar pada daftar VSEN15.P. Maka rumah tangga Saleh dikatakan sebagai rumah tangga baru (kode 4).
3. Salman tinggal bersama Yuanita (istri) dan Nayla (anak), rumah tangga ini baru pindah di blok sensus tersebut sejak Juli 2015 menempati rumah kontrakan yang dulunya ditempati rumah tangga lain yang sudah pindah ke luar BS tersebut. Maka pada saat pemutakhiran rumah tangga Salman dikatakan sebagai rumah tangga baru (kode 4).
Kode 5: Pindah Keluar Blok Sensus adalah kondisi dimana rumah tangga yang tercatat
pada Daftar VSEN15.P tidak ditemukan pada saat pemutakhiran, dan setelah dikonfirmasikan dengan tetangga disekitarnya diperoleh informasi bahwa rumah tangga tersebut telah pindah tempat tinggal di luar blok sensus, termasuk pula rumah tangga yang bukan merupakan cakupan dari BS tersebut, ataupun rumah tangga tunggal yang telah meninggal dunia pada saat pemutakhiran.
Contoh kasus:
1. Suatu desa yang terdiri dari 8 Blok Sensus yaitu: Blok Sensus 001B (RT 001/ RW 001 & RT 002/ RW 001); 002B (RT 003/RW 001); 003B (RT004 / RW 001); 004B (RT 001/ RW 02); 005B (RT 002/ RW 002); 006B (RT 003/RW 002); dan 007B (RT004 / RW 002). Lima bulan sebelum pemutakhiran rumah tangga Zulkifli pindah dari RT 001 / RW 001 ke RT 003 / RW 001 karena masa kontrak rumahnya sudah berakhir. Pada saat pemutakhiran Blok Sensus 001B maka rumah tangga Zulkifli dikatakan sebagai rumah tangga pindah keluar blok
sensus (kode 5) dan rumah tangga yang menempati rumah kontrakan bekas rumah yang ditempati Zulkifli dicatatkan pada baris terakhir sebagai rumah tangga baru di blok sensus (Kode 4).
2. Rumah Tangga Andi Lukman sesuai dengan yang tertera pada VSEN15.P didatangi petugas Susenas 2015. Ternyata rumah tangga Andi Lukman sudah tidak menempati rumah tinggal