ABSTRACT: A simple, precise and accurate method of analysis for the determination of chlorpheniramine maleate levels in tablets using absorbance method and the area under the curve by ultraviolet spectrophotometry has been developed and validated. This analysis was developed using various solvents, namely 0.1 N hydrochloric acid, 0.1 N sodium hydroxide, and distilled water. The results showed that the best solvent for chlorpheniramine maleate analysis was 0.1 N hydrochloric acid at a wavelength of 264.40 nm. The calibration curve shows a straight line in the concentration range of 10 - 26 μg/mL with a correlation coefficient of 0.9996, the detection limit of 0.612 μg/ mL, the quantitative limit of 2.041 μg/mL by the absorbance method. The area under the curve method shows a straight calibration curve at the concentration range of 10 - 26 μg/mL with a correlation coefficient of 0.9990, the detection limit of 0.972 μg/mL, the quantitative limit of 3.239 μg/mL. Levels of generic chlorpheniramine maleate tablets with absorbance method and area under the curve were 98.667% and 97.483%, respectively. Levels of chlorpheniramine maleate patent tablets with absorbance method and area under the curve were 100.667% and 99.217%, respectively. The results of the assay obtained by the absorbance method and area under the curve method fulfill the requirements in accordance with the Pharmacopoeia of Indonesia edition V of 93-107%. Keyword: chlorpheniramine maleate; absorbance method; area under the curve method.
ABSTRAK:Metode analisis yang sederhana, tepat dan teliti untuk penentuan kadar klorfeniramin maleat dalam tablet menggunakan metode absorbansi dan luas daerah di bawah kurva secara spektrofotometri ultraviolet telah dikembangkan dan divalidasi. Analisis ini dikembangkan dengan menggunakan berbagai pelarut, yaitu asam klorida 0,1 N, natrium hidroksida 0,1 N, dan air suling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelurut terbaik untuk analisis klorfeniramin maleat adalah asam klorida 0,1 N pada panjang gelombang maksium 264,40 nm. Kurva kalibrasi menunjukkan garis lurus pada rentang konsentrasi 10 – 26 µg/mL dengan koefisien korelasi 0,9996, batas deteksi (BD) 0,612 μg/mL, batas kuantitasi (BK) 2,041 μg/mL dengan metode absorbansi. Metode luas daerah di bawah kurva menunjukkan kurva kalibrasi yang lurus pada rentang konsentrasi 10 – 26 µg/mL dengan koefisien korelasi 0,9990, batas deteksi (BD) 0,972 μg/mL, batas kuantitasi (BK) 3,239 μg/mL. Kadar tablet klorfeniramin maleat generik dengan metode absorbansi dan luas daerah di bawah kurva adalah 98,667 % dan 97,483 %, masing-masing. Kadar tablet klorfeniramin maleat paten dengan metode absorbansi dan luas daerah di bawah kurva adalah 100,667 % dan 99,217 %, masing-masing. Hasil penetapan kadar yang diperoleh dengan metode absorbansi dan luas darah di bawah kurva memenuhi persyaratan sesuai dengan Farmakope Indonesia edisi V yaitu 93-107 %.
Kata kunci: klorfeniramin maleat; metode absorbansi; metode luas daerah di bawah kurva.
Access this article
website: jstf.ffarmasi.unand.ac.id QR Code:
Harrizul
Rivai
1*,
Mia Larasaky
2,
Zikra Azizah
2.
1 Fakutas Farmasi Universitas Andalas,2 Sekolah Tinggi Ilmu
Farmasi (STIFARM), Padang
Corresponding Author:
Harrizul Rivai Fakutas Farmasi Universitas Andalas [email protected]
Pengembangan dan Validasi Metode Analisis
Klorfeniramin Maleat Dalam Tablet dengan Metode
Absorbansi dan Luas Daerah di Bawah Kurva Secara
Spektrofotometri Ultraviolet
PENDAHULUAN
Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin dengan struktur seperti Gambar 1 (Kemenkes RI, 2014). Klorfeniramin maleat merupakan antihistamin yang mampu mengusir histamin secara kompetitif dari reseptornya (reseptor H1). Histamin dapat menyebabkan kontraksi otot polos antara lain bronkus dan usus, tetapi juga dapat menyebabkan relaksasi kuat pada otot polos lain, misalnya pembuluh darah kecil, perangsang kuat sekresi asam lambung dan kelenjar eksokrin lain. Antihistamin bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain yang disertai pelepasan histamin endogen
(Sjamsudin U, 1989).
Penetapan kadar klorfeniramin maleat
dapat dilakukan dengan kromatografi cair
kinerja tinggi dalam sediaan obat batuk dan
obat flu (Yamato S et. al., 1996). Campuran klorfeniramin maleat dan fenilpropanolamina hidroklorida dalam sediaan tablet telah ditetapkan kadarnya dengan spektrofometri ultraviolet turunan pertama (Kaura A, 2013).
Empat metode telah dikembangkan untuk penentuan secara simultan campuran fenilefrin hidroklorida dan klorfeniramin maleat tanpa pemisahan sebelumnya. Pada metode pertama kedua obat tersebut ditentukan dengan menggunakan spektrofotometri UV turunan pertama, dengan pengukuran zero-crossing. Metode
kedua bergantung pada turunan pertama spektrum rasio. Metode ketiga menjelaskan penggunaan kalibrasi spektrofotometri multivariat untuk penentuan simultan campuran biner yang dianalisis dengan menggunakan analisis regresi kuadrat parsial. Pada metode keempat
(Kromatografi Cair Kinerja Tinggi), digunakan kolom fase
terbalik dan fase gerak metanol: air: asetonitril (80: 12: 8 v/v/v) pada laju alir 0,9 mL/menit telah digunakan untuk memisahkan kedua obat tersebut dengan deteksi UV pada 270 nm (Al-Shaalan NH, 2010).
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, belum ada penelitian tentang penetapan kadar klorfeniramin maleat memakai metode luas daerah di bawah kurva dengan spektrofotometri ultraviolet. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menganalisis klorfeniramin maleat dalam sediaan tablet dengan menggunakan metode absorbansi dan luas daerah di bawah kurva secara spektrofotometri ultraviolet. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah apakah pelarut terbaik yang dapat digunakan untuk analisis klorfeniramin maleat dan apakah terdapat perbedaan kadar klorfeniramin maleat tablet yang diukur dengan metode absorbansi dan luas daerah di bawah kurva secara spektrofotometri ultraviolet.
METODE PENELITIAN
Alat
Alat yang digunakan antara lain spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu-1800), timbangan analitik (Precisa tipe
XB-220A), corong, gelas ukur (Pyrex), pipet ukur (Pyrex), pipet tetes, spatel, labu ukur (Pyrex), lumpang, stamfer dan alat-alat gelas yang menunjang penelitian.
Bahan
Bahan baku klorfeniramin maleat (PT Phapros), natrium hidroksida (Merck), asam klorida (Merck), air suling (Brataco), Tablet Klorfeniramin Maleat (PT Novapharin), Tabler Alleron® (PT Mega Esa Farma) dan kertas saring (Whatman No. 41).
Prosedur Penelitian 1. Pembuatan Pelarut a. Asam Klorida (HCl) 0,1 N
Encerkan 85 mL asam klorida P dengan 1000 mL aquadest sehingga diperoleh asam klorida dengan konsentrasi 1 N. Kemudian ambil sebanyak 100 mL dan cukupkan dengan 1000 mL aquadest sehingga diperoleh
asam klorida dengan konsentrasi 0,1 N (Kemenkes RI, 2014).
b. Natrium Hidroksida (NaOH) 0,1 N
Timbang 162 gram natrium hidroksida P kemudian larutkan dalam 150 mL air bebas karbon dioksida dalam labu ukur 150 mL. Dinginkan larutan hingga suhu kamar
saring dengan kertas saring. Masukkan 54,5 mL filtrat
jernih kedalam wadah tertutup rapat dan encerkan dengan air bebas karbon dioksida hingga 1000 mL. Pipet 100 mL dari larutan masukkan kedalam labu ukur 1000 mL cukupkan sampai tanda batas (Kemenkes RI, 2014).
2. Pengukuran Panjang Gelombang Serapan Maksimum a. Larutan Klorfeniramin Maleat dalam HCl 0,1 N
Pengukuran panjang gelombang serapan maksimum dilakukan dengan cara ditimbang klorfeniramin maleat murni sebanyak 10 mg lalu dilarutkan dengan HCl 0,1 N sebanyak 100 mL. Larutan dipipet sebanyak 1 mL dari larutan induk dan dilarutkan dengan HCl 0,1 N sebanyak 10 mL. Ukur absorban panjang gelombang serapan maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis pada 200-400 nm.
b. Larutan Klorfeniramin Maleat dalam NaOH 0,1 N
Pengukuran panjang gelombang pada serapan maksimum dilakukan dengan cara ditimbang klorfeniramin maleat murni sebanyak 10 mg lalu dilarutkan dengan NaOH 0,1 N sebanyak 100 mL. Larutan dipipet sebanyak 1 mL dari larutan induk dan dilarutkan dengan NaOH 0,1 N sebanyak 10 mL. Ukur absorban pada panjang gelombang serapan maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis pada 200-400 nm.
c. Larutan Klorfeniramin Maleat dalam Air Suling
Pengukuran panjang gelombang pada serapan maksimum dilakukan dengan cara ditimbang klorfeniramin maleat murni sebanyak 10 mg lalu dilarutkan dengan air suling sebanyak 100 mL. Larutan dipipet sebanyak 1 mL dari larutan induk dan dilarutkan dengan air suling sebanyak 10 m. Ukur absorban pada panjang gelombang serapan maksimum dengan spektrofotometer UV-Vis pada 200-400 nm.
3. Pembuatan Kurva Kalibrasi
Pembuatan kurva kalibrasi dilakukan dengan membuat larutan klorfeniramin maleat murni dengan
konsentrasi 100 μg/mL. Ditimbang 10 mg klorfeniramin
maleat murni, dilarutkan dalam 100 mL pelarut terbaik (HCl 0,1 N). Buat konsentrasi larutan baku berturut-turut
10, 14, 18, 22, 26 μg/mL dari larutan induk 100 μg/mL.
Ukur absorban dan luas daerah di bawah kurva dengan spektrofotometer UV-Vis.
4. Validasi Metode Analisis
a. Uji Akurasi (persen perolehan kembali)
Pada uji akurasi dilakukan dengan cara menambahkan 3 tingkatan konsentrasi 80 %,100 % dan 120 % zat baku pada larutan sampel dengan menggunakan pelarut terbaik dari tiga pelarut (NaOH 0,1 N, HCl 0,1 N dan air suling). Serapan diukur pada panjang Gambar 1. Struktur klorfeniramin maleat
gelombang maksimum. Persen perolehan kembali dicari dengan rumus:
% Perolehan kembali = (Cf-CA)/(C * A) x 100% Keterangan :
Cf = konsentrasi sampel + baku CA = konsentrasi sampel sebenarnya C*A = konsentrasi baku yang ditambahkan
Metode validasi memenuhi syarat jika % perolehan kembalinya (recovery) dengan nilai rentang 98 %-102 % (Rohman A, 2016).
b. Uji Presisi
Presisi dinyatakan dengan persen simpangan
baku relatif (RSD) atau persen koefisien variasi. Pada
uji presisi dilakukan dengan dua cara yaitu presisi
intraday dan presisi interday. Presisi intraday dilakukan dengan pengukuran pada hari yang sama dengan waktu yang berbeda, sedangkan presisi interday dilakukan pengukuran pada hari yang berbeda dengan waktu yang sama. Konsentrasi yang diukur pada uji presisi adalah 10
μg/ml, 14 μg/ml dan 18 μg/ml. Simpangan baku relatif
(RSD) dapat dihitung dengan rumus :
Persen RSD dinyatakan memenuhi validasi metode jika % RSD < 2 % (Rohman A, 2010).
c.Linearitas Kurva Baku
Linearitas ditentukan berdasarkan nilai koefisien
kolerasi (r) dan persamaan regresi y = a + bx.
Keterangan: y = Luas area
x = konsentrasi (µg/mL)
r = koefisien korelasi
Persamaan regresi ini dapat digunakan jika faktor
korelasinya 0,995 ≤ r ≤ 1 (Rohman A, 2010). d. Batas Deteksi (BD) dan Batas Kuantitasi (BK)
Batas deteksi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
BD= (3 Sy/x)/b BK= (10Sy/x)/b
Keterangan: Sy/x = standar deviasi
b = slope (kemiringan garis regresi)
5. Penentuan Kadar Klorfeniramin Maleat dalam Tablet
Larutan sampel dibuat dengan cara menggerus klorfeniramin maleat sebanyak 20 tablet dan ditimbang dengan timbangan analitik, kemudian diambil setara 10 mg klorfeniramin maleat dan dilarutkan dalam 100 mL pelarut HCl 0,1 N dan saring dengan kertas saring.
Larutan dipipet sebanyak 1 mL filtrat dan diencerkan
dengan pelarut HCl 0,1 N sebanyak 10 mL. Ukur kadar klorfeniramin maleat dengan spektrofotometer UV-Vis
(pengukuran dilakukan dengan 3 kali pengulangan).
6. Uji Statistik
Uji statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan. Uji t berpasangan adalah metode yang terkuat untuk analisis data. Uji t berpasangan merupakan metode statistik parametrik yang serupa dengan uji t satu sampel dalam hal mekanisme dan penafsiran. Uji t satu sampel menguji kebermaknaan perbedaan antara sekelompok data dan nilai tertentu, sedangkan uji t berpasangan menguji kebermaknaan rerata perbedaan antara pasangan data dan nilai tetap, yang di tentukan dari hipotesis nol (Jones DS, 2010).
Uji statistik dilakukan dengan program SPSS 22 dengan uji t berpasangan (Riadi E, 2016). Namun, sebelum dilakukan uji t berpasangan sampel diuji homogenitas dan normalitasnya terlebih dahulu. Data yang diuji adalah data penetapan kadar, data akurasi dan data presisi pada sediaan Tablet Klorfeniramin Maleat generik dan Tablet Alleron® paten. Masing-masing data yang diuji merupakan data yang diperoleh dengan menggunakan metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva.
HASIL DAN DISKUSI
1. Penentuan Pelarut Terbaik untuk Analisis Klorfeniramin Maleat
Hasil yang diperoleh dari pengukuran panjang gelombang serapan maksimum menunjukkan bahwa pelarut HCl 0,1 N menghasilkan panjang gelombang 264,40 nm dengan absorban 0,288 (Gambar 2), pelarut NaOH 0,1 N menghasilkan panjang gelombang maksimum 261,80 nm dengan absorban 0,209 (Gambar 3), dan pelarut air suling menghasilkan panjang gelombang maksimum 261,40 nm dengan absorban 0,183 (Gambar 4). Dari hasil pengukuran ketiga pelarut di atas dipilih pelarut HCl 0,1 N sebagai pelarut terbaik berdasarkan panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan, keamanan pelarut dalam melakukan analisis dan ada tidaknya pengotor dari penentuan panjang gelombang maksimum.
2. Pembuatan Kurva Kalibrasi
Pembuatan kurva kalibrasi larutan baku klorfeniramin maleat dilakukan dengan cara pembuatan seri larutan
baku dengan konsentrasi 10 μg/mL, 14 μg/mL, 18 μg/mL, 22 μg/mL, dan 26 μg/mL dengan menggunakan pelarut
HCl 0,1 N. Masing-masing seri larutan diukur absorban maksimum pada panjang gelombang 264,40 nm dan luas daerah di bawah kurva pada rentang panjang gelombang 240 nm sampai dengan 293,80 nm.
Hasil yang diperoleh dari pengukuran absorban
masing-masing konsentrasi 10 μg/mL, 14 μg/mL, 18 μg/mL, 22 μg/mL, dan 26 μg/mL berturut-turut adalah
0,288; 0,378; 0,480; 0,578 dan 0,685 (Tabel I), sehingga diperoleh persamaan regresi linier yaitu y = 0,035 + 0,025x (Gambar 5).
Hasil yang diperoleh dari pengukuran luas daerah
di bawah kurva masing-masing konsentrasi 10 μg/mL, 14 μg/mL, 18 μg/mL, 22 μg/mL, dan 26 μg/mL
berturut-turut adalah 4,537; 6,172; 7,454; 9,132 dan 10,807 (Tabel 2), sehingga persamaan regresi linier yang diperoleh adalah y = 0,645 + 0,388x (Gambar 6).
3. Validasi Metode Analisis a. Akurasi
Pengujian akurasi bertujuan untuk mengetahui bahwa metode analisis mempunyai derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit sebenarnya. Hasil uji persen perolehan kembali untuk Tablet Klorfeniramin Maleat generik adalah 100,189 % untuk metode absorbansi dan 99,362 % untuk metode luas daerah di bawah kurva. Hasil uji persen perolehan kembali untuk sampel Tablet Alleron® adalah 100,733 % untuk metode absorbansi dan 99,986 % untuk metode luas daerah di
bawah kurva. Kedua metode yang digunakan memenuhi syarat akurasi yang baik, yaitu 98 % - 102 % (Rohman A, 2010).
b. Presisi
Pengujian presisi memiliki tujuan untuk mengetahui kedekatan hasil analisis apabila dilakukan oleh analis yang sama dengan waktu yang berbeda. Hasil uji presisi (RSD) dengan menggunakan metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva berturut-turut pada Tablet Klorfeniramin Maleat generik adalah % RSD = 0,778 % untuk metode absorbansi dan % RSD = 0,977 % untuk metode luas daerah di bawah kurva. Persen RSD untuk Tablet Alleron® adalah 0,543 % untuk metode absorbansi dan 0,545 % untuk metode luas daerah di bawah kurva. Kedua metode yang digunakan memenuhi syarat validasi, sesuai dengan syarat validasi % RSD < 2% (Rohman A, 2010).
Gambar 2. Spektrum serapan klorfeniramin maleat murni dalam pelarut HCl 0,1 N (konsentrasi 10 μg/mL)
Gambar 3. Spektrum serapan klorfeniramin maleat murni dalam pelarut NaOH 0,1 N (konsentrasi 10 μg/mL)
Gambar 4. Spektrum serapan klorfeniramin maleat murni dalam pelarut air suling (konsentrasi 10 μg/mL)
Gambar 5. Kurva kalibrasi klorfeniramin maleat murni dalam pelarut HCl 0,1 N dengan metode absorbansi pada panjang gelombang maksimum 264,40 nm.
Tabel 1. Absorban klorfeniramin maleat murni pada berbagai konsentrasi dalam pelarut HCl 0,1 N dengan metode absorbansi
No Konsentrasi(μg/mL) Absorban 1 10 0,288 2 14 0,378 3 18 0,480 4 22 0,578 5 26 0,685
c. Linieritas
Pengujian linieritas merupakan ukuran seberapa baik kurva kalibrasi yang menghubungkan antara respon (y) dengan konsentrasi (x). Untuk menentukan adanya
hubungan linier digunakan koefisien korelasi (r) sebagai
parameter pada analisis regresi linier. Berdasarkan hasil pembuatan kurva kalibrasi dengan menggunakan metode absorbansi yang menghubungkan konsentrasi dengan absorbansi, dan metode luas daerah di bawah kurva dengan menghubungkan konsentrasi dengan
luas daerah di bawah kurva diperoleh koefisien korelasi
(r) berturut-turut adalah r = 0,9996 untuk metode absorbansi dan r = 0,9990 untuk metode luas daerah
di bawah kurva. Kedua hasil koefisien korelasi (r) di atas
menunjukkan bahwa metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva dapat digunakan untuk
analisis klorfeniramin maleat karena koefisien korelasi yang dihasilkan 0,995 ≤ r ≤ 1 (Rohman A, 2010).
d. Batas Deteksi (BD) dan Batas Kuantitasi (BK)
Pengujian batas deteksi bertujuan untuk mengetahui jumlah terkecil analit dalam sampel yang masih dapat terdeteksi yang masih memberikan respon yang
signifikan, sedangkan batas kuantitasi bertujuan untuk
mengetahui jumlah analit terkecil yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan akurat (Harmita, 2004). Hasil uji batas deteksi dan batas kuantitasi untuk metode
absorbansi adalah BD = 0,612 μg/mL dan BK = 2,041 μg/
mL dan metode luas daerah di bawah kurva adalah BD =
0,972 μg/mL dan BK = 3,239 μg/mL.
4. Penetapan Kadar Sampel Tablet Klorfeniramin Maleat
Hasil penetapan kadar Tablet Klorfeniramin Maleat generik (PT Novapharin, No. Reg: GTL 0334003110A1, Exp. September 2020) didapatkan 98,667 % untuk metode absorbansi dan 97,483 % untuk metode luas daerah di bawah kurva. Kadar Tablet Alleron® paten (PT Mega Esa Farma, No. Reg: DTL 8515201004A1, Exp. Februari 2022) didapatkan 100,667 % untuk metode absorbansi dan 99,217 % untuk metode luas daerah di bawah kurva. Kadar Tablet Klorfeniramin Maleat generik dan Tablet Alleron® paten ini memenuhi persyaratan sesuai dengan Farmakope Indonesia edisi V yaitu 93 – 107 % (Kemenkes RI, 2014).
5. Uji Statistik
Uji statistik untuk akurasi Tablet Klorfeniramin Maleat generik diperoleh t hitung = 5,445 > t tabel = 4,302 dengan Sig. 0,007 (P < 0,05) yang berarti H0 ditolak atau hasil perolehan kembali (akurasi) dari metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva relatif berbeda. Pada Tablet Alleron® paten diperoleh t hitung = 4,325 > t tabel = 4,302 dengan Sig. 0,015 (P < 0,05) yang berarti H0 ditolak atau hasil perolehan kembali (akurasi) dari metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva relatif berbeda.
Uji statistik untuk presisi Tablet Klorfeniramin Maleat generik diperoleh t hitung = 3,535 > t tabel = 2,306 dengan Sig. 0,026 (P < 0,05) yang berarti H0 ditolak atau hasil simpangan baku relatif (presisi) dari metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva relatif berbeda. Pada Tablet Alleron® paten diperoleh t hitung = 2,862 > t tabel = 2,306 dengan Sig. 0,041 (P < 0,05) yang berarti H0 ditolak atau hasil simpangan baku relatif (presisi) dari metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva relatif berbeda.
Uji statistik untuk penetapan kadar Tablet Klorfeniramin Maleat generik diperoleh t hitung = 13,077 > t tabel = 4,302 dengan nilai Sig. = 0,006 (P < 0,05) yang berarti H0 ditolak atau kadar yang diperoleh dari metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva relatif berbeda. Pada penetapan kadar Tablet Alleron® paten t hitung = 8,825 > t tabel = 4,302 dengan nilai Sig. = 0,040 (P <0 ,05) yang berarti H0 ditolak atau kadar yang diperoleh dari metode absorbansi dan metode luas daerah di bawah kurva relatif berbeda.
KESIMPULAN
Berdasarkan penilitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pelarut terbaik yang digunakan untuk analisis klorfeniramin maleat tablet secara spektrofotometri ultraviolet adalah HCl 0,1 N.
2. Metode absorbansi dan luas daerah di bawah kurva secara spektrofotometri ultraviolet merupakan metode yang valid untuk analisis klorfeniramin maleat tablet.
3. Terdapat perbedaan kadar klorfeniramin maleat Gambar 6. Kurva kalibrasi klorfeniramin maleat murni dalam
pelarut HCL 0,1 N dengan metode luas daerah di bawah kurva
Tabel 2. Luas daerah di bawah kurva klorfeniramin maleat murni pada berbagai konsetrasi dalam pelarut HCl 0,1 N
No Konsentrasi(μg/mL) Luas daerah dibawah kurva
1 10 4,537
2 14 6,172
3 18 7,454
4 22 9,132
DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Shaalan, N.H. (2010). Determination of phenylephrine hydrochloride and chlorpheniramine maleate in binary mixture using chemometric-assisted spectrophotometric and high-performance liquid chromatographic-UV methods. Journal of Saudi Chemical Society,14, 15–21.
2. Harmita. (2004). Petunjuk pelaksanaan validasi metode dan cara perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian, 1(3), 117-135.
3. Jones, D. S. (2010). Statistik Farmasi. Penerjemah: H. U. Ramadaniati & H. Rivai. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
4. Kaura, A., Gupta, V., Roy, G.S. & Kaura, M. (2013). Spectrophotometric determination of chlorpheniramine maleate and phenylpropanolamine hydrochloride in dosage forms. International Current Pharmaceutical Journal, 2(5), 97-100.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesia. (Edisi 5). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
6. Riadi, E. (2016). Statistika Penelitan (Analisis Manual
dan IBM SPSS). Yogyakarta: Penerbit Andi.
7. Rohman, A. (2016). Validasi dan Penjaminan Mutu
Metode Analisis. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
8. Sjamsudin, U. (1989). Histamin dan antialergi. In S. Gan., R. Setiabudy., U. Sjamsudin & Z.S. Bustami (Eds.). Farmakologi dan terapi (pp. 222-233). Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UI.
9. Yamato, S., Sakai, M. & Shimada, K. (1996).
Quantitative analysis of chlorpheniramine maleate in cough and cold drugs by ion-pair high-performance liquid chromatography for the simultaneous determination of chlorpheniramine and maleate.
Yakugaku Zasshi, 116(4), 329-34.
tablet yang diukur dengan metode absorbansi dan luas daerah di bawah kurva yang dilihat dari uji statistik.