• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUATION Of QUALITY CONTROL FOR THE END OF PRODUCT IN UD NANANG BRICK COMPANY YOGYAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EVALUATION Of QUALITY CONTROL FOR THE END OF PRODUCT IN UD NANANG BRICK COMPANY YOGYAKARTA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUATION Of QUALITY CONTROL FOR THE END OF

PRODUCT IN “UD NANANG” BRICK COMPANY

YOGYAKARTA

Evi Dona, Siwi Lastari, SE, MM

Abstraction

The purpose of this study was to determine whether the product is damaged in "UD Nanang" brick company Yogyakarta is still within the control limits and whether the factors that cause damage to the company's products brick of "UD Nanang" Yogyakarta. Data collection using observation and interviews. Data analysis technique used is the control chart for attributes or "P-Chart" by calculating the mean of the damage (P), compute the standard deviation (Sp) and determine the area of quality standards (UCL / Upper Control Limit / Border Control Top, and LCL / Lower Control Limit / Lower Control Limit).

Results from analysis of data on quality control carried out by the company building block “UD Nanang”, that the implementation of quality control in the company building block “UD Nanang” still bad, so that the resulting product quality can not meet the standards set by the company, namely of 4:50%. Although the difference in the level of the average percentage of damage to bricks to the standards set by small companies, which in 2003 amounted to 0.5%, 0.32% in 2004 and in 2005 of 12:49%. The damage that occurs in the final product is also caused by a lack of rigor and discipline workers who handle the production process.

(2)

EVALUASI PELAKSANAAN QUALITY CONTROL

TERHADAP PRODUK AKHIR

PADA PERUSAHAAN BATAKO “UD NANANG”

YOGYAKARTA

Evi Dona, Siwi Lastari, SE, MM

Abstraksi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah produk rusak pada perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta masih dalam batas kontrol dan faktor apakah yang menyebabkan produk rusak pada perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta.

Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Teknik analisa data yang digunakan adalah control chart untuk atribut atau “P-Chart” dengan menghitung mean dari kerusakan (P), menghitung deviasi standard (Sp) dan menentukan batas daerah standar kualitas (UCL/Upper Control Limit/Batas Kontrol Atas, dan LCL/Lower Control Limit/Batas Kontrol Bawah).

Hasil dari analisa terhadap data-data mengenai pengawasan kualitas yang dilaksanakan oleh perusahaan batako “UD Nanang, bahwa pelaksanaan quality control di perusahaan batako “UD Nanang” masih kurang baik, sehingga produk yang dihasilkan kualitasnya belum dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan, yaitu sebesar 4.50%. Walaupun selisih tingkat persentase rata-rata dari kerusakan batako terhadap standar yang ditetapkan oleh perusahaan kecil, yaitu pada tahun 2003 sebesar 0.5%, tahun 2004 sebesar 0.32% dan tahun 2005 sebesar 0.49%. Kerusakan yang terjadi pada produk akhir juga disebabkan oleh kurangnya ketelitian dan kedisiplinan pekerja yang menangani proses produksi

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia usaha masalah pengendalian kualitas merupakan salah satu aspek yang tidak kalah pentingnya dengan aspek yang lainnya dalam usaha untuk mencapai keberhasilan suatu perusahaan. Aspek pengendalian kualitas ini berpengaruh besar, dimana konsumen akan lebih bebas dalam menentukan pembelian barang baik dalam memilih kualitas, harga maupun jenis barang.

Pengendalian kualitas ini sangat diutamakan oleh perusahaan dalam rangka menunjang program jangka panjang perusahaan, yaitu mempertahankan posisi pasar perusahaan atau bahkan menambah pasar perusahaan.

Pada umumnya di dalam perusahaan, proses produksinya bersifat terus menerus dimana bahan baku mengalir secara berurutan melalui tingkat pengerjaan proses produksi awal sampai pada proses produksi akhir. Sebagai contoh adalah pengendalian mutu batako yang dihasilkan perusahaan batako “UD Nanang” di Yogyakarta. Pengendalian dimulai dari penyediaan bahan baku yang selanjutnya diolah dalam proses produksi sampai menjadi barang jadi, yaitu batako.

Dengan demikian faktor pengawasan produksi dimulai dari awal sampai selesai menjadi produk jadi, menjadi sangat penting sekali bagi perusahaan untuk dilaksanakan dengan tujuan untuk kepuasan konsumen, penggunaan biaya yang serendah-rendahnya dan selesai tepat pada waktunya.

Peningkatan mutu produk merupakan faktor utama dalam daya saing. Perusahaan semestinya terus menerus melakukan usaha untuk memperkuat daya saing produk di tingkat harga maupun di tingkat mutu yang dilakukan melalui penekanan biaya produksi, peningkatan mutu produk dan sebagainya.

Dari analisa di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Evaluasi Pelaksanaan Quality Control Terhadap Produk Akhir pada Perusahaan Batako UD Nanang Yogyakarta”.

(4)

B. Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan permasalahan, yaitu :

1. Apakah produk rusak pada perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta masih dalam batas kontrol ?

2. Faktor apakah yang menyebabkan produk rusak pada perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta ?

C. Batasan Masalah

Untuk mengidentifikasi permasalahan tersebut di atas peneliti membatasi diri pada :

1. Penelitian dilakukan pada perusahaan batako “UD Nanang” di Yogyakarta.

2. Data perusahaan yang diperlukan diambil selama tiga tahun terakhir yaitu tahun 2003 sampai 2005.

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apakah produk rusak pada perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta masih dalam batas kontrol.

2. Untuk mengetahui faktor apakah yang menyebabkan produk rusak pada perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta.

E. Kegunaan Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. Perusahaan

Sebagai bahan informasi bagi pimpinan perusahaan dalam mengambil kebijaksanaan yang tepat serta dalam menyusun rencana selanjutnya.

2. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nusa Megarkencana

Untuk menambah khasanah bacaan ilmiah pada perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nusa Megar Kencana Yogyakarta.

(5)

Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nusa Megar Kencana Yogyakarta, dan untuk menerapkan ilmu yang didapatkan selama kuliah.

F. Sistematika Penulisan

Bab I. Pendahuluan

Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, dan sistematika penelitian.

Bab II. Landasan Teori

Bab ini mengemukakan mengenai dasar teori yang digunakan dalam menganalisa dan membahas masalah-masalah yang dihadapkan dalam penyusunan skripsi.

Bab III. Metode Penelitian

Bab ini berisi tentang teknik analisis data yang digunakan untuk melakukan penelitian.

Bab IV. Gambaran Umum Perusahaan

Bab ini berisi tentang data-data perusahaan dimana penelitian akan dilaksanakan.

Bab V. Analisis Data

Bab ini mengemukakan tentang uraian jawaban dari masalah-masalah dalam penelitian dari data-data yang telah dikumpulkan. Dari analisa data tersebut akan ditentukan jawaban dari masalah yang dihadapi.

Bab VI. Kesimpulan dan Saran

Bab ini mengemukakan kesimpulan dari pembahasan dari masalah yang telah dibahas serta memberikan saran-saran guna menunjang dan meningkatkan kualitas barang pada perusahaan yang diteliti.

(6)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Manajemen Produksi

Dalam kehidupan ini kita mengenal barang-barang dan jasa yang beraneka ragam untuk memenuhi kebutuhan. Karena tuntutan kebutuhan dan keinginan maka hal ini harus segera dipenuhi sehubungan dengan kemajuan teknologi yang semakin cepat. Dengan timbulnya teknologi tersebut akan menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Pengertian manajemen produksi tidak terlepas dari pengertian manajemen, pengertian produksi dan pengertian proses produksi.

Pengertian Manajemen menurut Agus Ahyari, (2002:37), dapat diartikan :

“Adalah merupakan suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian serta pengendalian”.

Sedangkan menurut T. Hani Handoko, (2003:8) :

“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.”

Pengertian proses produksi menurut Agus Ahyari, (2002:12) adalah :

“Merupakan cara, methode maupun teknik bagaimana kegiatan penambahan faedah atau penciptaan faedah tersebut dilaksanakan.”

Sedangkan menurut Zulian Yamit, (2002:116), proses produksi dapat didefinisikan sebagai berikut :

“Suatu kegiatan dengan melibatkan tenaga manusia, bahan serta peralatan untuk menghasilkan produk yang berguna.”

Sehingga sebagai seorang manajer harus dapat mengawasi bawahan atau karyawan agar tujuan manajemen produksi dapat tercapai serta sebagai manajer harus mempunyai wawasan yang luas bagi perkembangan perusahaan di masa yang akan datang.

(7)

B. Perencanaan dan Pengawasan Produksi

Tujuan perusahaan umumnya adalah memperoleh laba agar dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, sehingga perusahaan perlu melakukan kegiatan dalam perusahaan yang biasanya dinamakan fungsi operasional perusahaan. Untuk menjamin tujuan perusahaan tersebut, maka kegiatan di atas perlu direncanakan, dikoordinasi serta diawasi. Ketiga fungsi manajemen tersebut dalam perusahaan berhubungan erat sekali, sehingga tidak mungkin membicarakan salah satu diantara itu.

Perencanaan dan pengawasan ini akan mempunyai arti yang sangat penting bagi seluruh kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan. Perencanaan dan pengawasan ini juga akan merupakan suatu spesifikasi dan tujuan yang ingin dicapai perusahaan tersebut. Arti dari production planning and control menurut Sofyan Assauri, (1993:122) :

“Production planning and control adalah penentuan dan penetapan kegiatan-kegiatan produksi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan pabrik tersebut dan melaksanakan pengawasan dari proses dan hasil produksi agar apa yang direncanakan dapat terlaksanakan dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai.”

Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan production control adalah agar tujuan perusahaan dapat dicapai sesuai dengan rencana, yaitu economically (penghematan), on time (waktu yang tepat), aceptable (dapat dipertanggungjawabkan) dengan jalan merencanakan yang setepat mungkin dan mengadakan pengawasan yang sebaik-baiknya.

Tujuan pengawasan menurut Sofyan Assauri, (1993:161), antara lain :

1. Untuk mengusahakan supaya perusahaan dan pabrik dapat menggunakan barang modalnya seoptimal mungkin.

2. Untuk mengusahakan supaya perusahaan dan pabrik dapat berproduksi pada tingkat efisien dan efektifitas tinggi.

3. Untuk mengusahakan supaya perusahaan dan pabrik dapat menguasai pasar atau sebagian pasar yang luas.

(8)

C. Pengertian Quality Control

Sebelum dikemukakan pengertian Quality Control maka terlebih dahulu akan dibahas mengenai pengertian control dan quality.

1. Pengertian Control

Di dalam pembahasan ini akan dikemukakan beberapa pendapat tentang control antara lain Drs. Harsono, (1985:85), berpendapat bahwa :

“Control atau pengawasan ialah jaminan bahwa hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan”

Sedangkan Sofyan Assauri, (1993:120), mengatakan bahwa :

“Control atau pengawasan adalah kegiatan pemeriksaan dan pengendalian atas kegiatan yang telah dan sedang dilakukan, agar kegiatan tersebut dapat sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan.”

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan control atau pengawasan adalah tindakan yang perlu dilakukan untuk menjamin tercapainya suatu tujuan. Adapun tujuan tersebut meliputi pengendalian atau penilaian dan koreksi terhadap aktivitas-aktivitas yang menyimpang dari rencana.

2. Pengertian Quality

Pendapat-pendapat tentang pengertian quality antara lain Ek. A. Abdurrachman, (1982:867), yang berpendapat bahwa :

“Quality atau kualitas adalah suatu sifat atau ciri yang membedakan sesuatu hal dari yang lain.”

Sedangkan Agus Ahyari, (2002:246), menyatakan :

“Quality atau kualitas adalah sebagai jumlah dari atribut atau sifat-sifat sebagaimana didiskripsikan di dalam produk atau sifat-sifat yang bersangkutan.”

Dalam menentukan baik tidaknya kualitas suatu produk tidak hanya dikaitkan dengan kegunaan dari produk tersebut saja. Ada dua hal penting yang biasanya menjadi pertimbangan dalam menentukan kualitas, yaitu sifat-sifat fisik dan sifat-sifat kimia. Sifat-sifat fisik biasanya berhubungan dengan kekuatan atau daya tahan dari suatu benda. Sedangkan sifat-sifat kimia

(9)

berhubungan dengan reaksi kimia atau persenyawaan kimia yang timbul akibat terjadinya hubungan antara benda yang satu dengan benda yang lain.

Tetapi dalam banyak hal terkadang konsumenlah yang dapat memberikan penilaian terhadap kualitas barang yang didasarkan atas tujuan, kegunaan atau pemakaian barang itu sendiri.

3. Pengertian Quality Control

Setelah dibahas mengenai control dan quality maka quality control dapat diartikan suatu usaha untuk menjamin agar kumpulan sejumlah sifat yang saling berhubungan dari suatu produk dapat selaras dengan rencana yang telah ditentukan.

Ek. A. Abdurrachman, (1982:811), menyatakan :

“Prosedur cara-cara atau kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh suatu maskapai yang menghasilkan sesuatu untuk memelihara standar-standar pelaksanaan produksi sehingga hasil dan kecakapan membuat sesuatu dari pada suatu operasi tertentu akan memenuhi kewajiban maskapai.”

D. Tujuan Quality Control

Adapun tujuan quality control adalah :

a. Menjaga dan memelihara kualitas yang telah ditentukan.

b. Mengetahui apakah prosedur dalam pembuatan telah berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

c. Mengadakan perbaikan apabila terjadi penyimpangan dari yang telah ditentukan.

E. Kegunaan Quality Control

Adapun kegunaan dari quality control adalah dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Untuk memperoleh barang yang dapat dipercaya.

Didalam quality control, standar dari suatu produk harus ditetapkan terlebih dahulu secara pasti. Dengan ditetapkannya standar maka langkah-langkah selanjutnya adalah inspeksi yang dilakukan terhadap kualitas yaitu mengukur

(10)

mutu dari produk berdasarkan standar yang ditetapkan. Tingkat kepercayaan (reliability) suatu barang akan lebih besar jika barang tersebut dibuat menurut standar yang sudah ditetapkan, sehingga kemungkinan gagal dalam menjalankan fungsinya sangat kecil.

b. Untuk memperoleh keseimbangan dalam mencapai target kuantitas dan kualitas produk yang ditetapkan oleh perusahaan. Jadi dengan program quality control dapatlah diharapkan untuk mengendalikan kembali dari segala penyimpangan-penyimpangan terhadap rencana yang digariskan.

c. Agar proses produksi menghasilkan barang yang dapat diterima konsumen. Setiap produk yang dihasilkan oleh perusahaan tidak selalu dibeli konsumen, karena konsumen mempunyai minat tertentu terhadap barang yang dihasilkan perusahaan dengan standar tertentu.

Jadi quality control merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya produk didalam suatu pasar. Kurang diperhatikannya quality control akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :

1. Barang-barang sebagian besar akan ditolak oleh konsumen karena tidak memenuhi standar kualitas.

2. Kesulitan-kesulitan dalam proses produksi disebabkan oleh karena adanya barang-barang yang cacat atau rusak.

3. Keterlambatan produksi yang akan banyak menyita atau menghabiskan biaya. Dengan adanya kegunaan dari quality control dan keuntungan yang diperoleh, maka jelaslah pelaksanaan quality control sangatlah penting dalam suatu perusahaan.

F. Standar Quality Control

Tindakan penetapan standar merupakan tindakan pertama dalam proses pengawasan kualitas. Standar merupakan suatu pegangan atau pedoman dari kegiatan yang ada. Dalam berhubungan dengan kualitas, maka standar adalah merupakan suatu penetapan yang sangat hati-hati dari norma-norma tertentu seperti kekuatan, bentuk, dimensi dan pengolahan dari suatu produk.

(11)

Adapun langkah-langkah yang perlu diambil dalam rangka penetapan standar kualitas adalah :

1. Mempertimbangkan produk dari pesaing.

2. Mempertimbangkan kegunaan terakhir atau fungsi terakhir dari produk. 3. Kualitas produk harus sesuai dengan harga jual.

4. Diperlukan team yang terdiri dari departemen penjualan, departemen teknik, departemen pembelian, departemen produksi dan departemen pemeriksaan dalam rangka penentuan bentuk standar produk yang dihasilkan.

5. Setelah ditentukan standar produknya, maka perlu standar quality dari produk tersebut dipelihara, yaitu dengan cara dilakukan pengamatan produksi.

G. Macam-macam Quality Control

Pada prinsipnya proses produksi yang terdapat didalam suatu perusahaan dibedakan menjadi dua macam proses produksi yaitu proses produksi yang terputus-putus (intermitten process) dan proses produksi yang terus menerus (continous process).

Pengawasan kualitas pada kedua proses tersebut sama, yaitu ada penentuan standar kualitas, terdapat pemeriksaannya, tujuan daripada pengawasan kualitas tersebut agar pemeriksaan biayanya rendah dan menghemat. Selain kesamaan tersebut di atas terdapat perbedaan yaitu karena yang satu berdasarkan pesanan maka setiap waktu perlu ditentukan standar untuk pesanan tertentu. 1. Pengawasan kualitas pada proses produksi terus menerus (continous process).

Perusahaan yang mempunyai proses produksi yang terus menerus dilakukan berdasarkan ramalan penjualan. Hal ini dilaksanakan karena kegiatan produksi tidak dilakukan berdasarkan pesanan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau pasar dan dalam jumlah yang besar, serta berulang-ulang.

Adapun langkah-langkah perencanaan produksi yang dilakukan dalam perusahaan yang mempunyai proses produksi secara terus menerus adalah : a. Memuat ramalan penjualan (sales forecasting)

(12)

c. Setelah master schedule dibuat, selanjutnya dilakukan perencanaan yang lebih teliti.

2. Pengawasan kualitas pada proses produksi terputus-putus (intermitten Process)

Perusahaan pabrik yang mempunyai proses produksi yang terputus-putus dilakukan berdasarkan jumlah pesanan (order) yang diterima, maka jumlah produksinya biasanya sedikit atau relatif sedikit.

Perencanaan produksi yang dibuat tidak berdasarkan ramalan penjualan (sales forcasting), tetapi terutama didasarkan atas pesanan-pesanan yang masuk.

Perencanaan produksi dibuat untuk menentukan kegiatan produksi yang perlu dilakukan bagi pengerjaan setiap pesanan yang masuk. Ramalan penjualan ini membantu untuk dapat memperkirakan pesanan atau order yang akan diterima, sehingga dapat diperkirakan dan ditentukan penggunaan mesin dan peralatan yang ada agar mendekati optimum pada masa yang akan datang.

H. Organisasi Quality Control

Quality Control atau pengawasan kualitas mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap hasil produksi dan merupakan salah satu fungsi yang terpenting dari suatu perusahaan. Oleh karena itu pada umumnya setiap perusahaan mempunyai fungsi pengawasan kualitas. Biasanya kegiatan pengawasan kualitas pada suatu perusahaan dilaksanakan oleh bagian pengawasan kualitas, dan bagian ini merupakan pejabat staf yang membantu pimpinan produksi untuk mengambil keputusan dalam kegiatan produksi. Akan tetapi apabila dalam suatu perusahaan bagian pengawasan kualitas tidak ada, hal ini tergantung dari besar kecilnya suatu perusahaan dan jenis proses produksi dari perusahaan tersebut, maka fungsi pengawasan kualitas dilaksanakan oleh pimpinan produksi atau suatu bagian yang ada, yang ditunjuk untuk melaksanakan fungsi pengawasan kualitas disamping tugas utamanya. Tugas-tugas dari bagian pengawasan kualitas meliputi :

(13)

1. Pengawasan atas penerimaan dari bahan-bahan yang masuk.

2. Pengawasan atas kegiatan di bermacam-macam tingkat proses diantara tingkat-tingkat proses jika perlu.

3. Pengawasan terakhir atas barang-barang hasil sebelum dikirimkan kepada konsumen.

4. Test-test dari para pemakai.

5. Penyelidikan atas sebab-sebab kesalahan yang timbul selama pembuatan.

I. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Suatu Produk

Dalam menentukan standar kualitas perlu juga diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi suatu produk, yaitu fungsi suatu produk, wujud luar dan biaya dari barang tersebut.

1. Fungsi Suatu Produk

Suatu barang yang dihasilkan bendaknya memenuhi fungsi untuk apa barang tersebut digunakan, karena itu perlu diperhatikan fungsi tersebut. Pemenuhan fungsi sangat mempengaruhi kepuasan konsumen. Konsumen akan merasa puas apabila barang yang dibelinya berfungsi seperti yang diinginkannya.

2. Wujud Luar

Wujud Luar suatu produk seringkali digunakan oleh konsumen untuk menentukan kualitas produk yang dibelinya, seperti halnya bentuk, warna, susunan dan sebagainya. Orang akan menganggap kualitas produk tersebut baik apabila wujud luarnya menarik, padalah tidak selamanya demikian. Oleh sebab itu meskipun secara teknis atau mekanis produk tersebut telah maju namun wujud luarnya tidak menarik, maka hal ini akan menyebabkan konsumen kurang menyenangi.

3. Biaya Dari Barang Tersebut

Tidak selamanya biaya suatu barang dapat menentukan kualitas barang tersebut, karena tidak selamanya biaya yang diperkirakan merupakan biaya yang sebenarnya, sehingga sering terjadi inefisiensi. Bahwa adanya inefisiensi akan menjadi biaya tinggi dan tingginya harga

(14)

suatu produk terjadi karena terlalu tingginya keuntungan dari produk tersebut. Jadi produk yang berharga mahal tentu mempunyai kualitas yang baik.

J. Alat dan Teknik Pengawasan

Dalam suatu perusahaan yang menghasilkan suatu produk tentu saja ada hasil produk yang rusak atau ditolak, karena hasil produk tersebut tidak memenuhi standar yang ditetapkan, Untuk itu perlu adanya pegawai-pegawai yang dikenal dengan nama pengawas, dan bertugas untuk memisahkan barang yang rusak dengan barang yang baik. Dan juga melakukan penyelidikan-penyelidikan yang disertai kritikan terhadap setiap barang yang dihasilkan.

Disamping kebutuhan akan pengawas, juga diperlukan teknik dan alat pengawasan kualitas. Kebutuhan alat ini adalah untuk pengukuran dan penimbangan. Alat-alat untuk ini banyak sekali dan berbeda-beda, tergantung dari proses yang digunakan.

Karena tugas dan pengawasan beraneka ragam, teknik pengawasan yang sering digunakan adalah bersifat statistik. Metode statistik ini dapat dipergunakan mulai dari pengambilan sampel sampai dengan penafsiran sampel-sampel. Adapun langkah-langkah yang sering digunakan bersifat statistik untuk pengawasan kualitas adalah :

1. Pengambilan sampel secara teratur.

2. Pemeriksaan karakteristik yang telah ditentukan apakah sesuai dengan statistik yang ditetapkan.

3. Penganalisaan derajat penyimpangan (deviasi) dari statistik yang ditentukan. 4. Penggunaan tabel control chart untuk bahan penganalisaan hasil pemeriksaan

atau pengujian sebagai dasar dalam mengambil keputusan apakah harus dilakukan penyesuaian proses atau tidak.

Jadi pengontrolan ini dilakukan dengan mengambil sampel sampai dengan penganalisaan deviasi, kemudian diadakan sistem pemberitahuan sehingga segera dapat dilakukan pembetulan, bila ternyata penyimpangan telah melampaui batas toleransi yang telah ditentukan sebelumnya.

(15)

Metode statistik pada dasarnya merupakan cara untuk mengumpulkan dan menganalisa data dalam menentukan dan mengawasi kualitas produksi. Teknik pengawasan kualitas secara statistik ini adalah penggunaan tabel (chart), dan prinsip-prinsip statistik serta tindakan para pekerja di dalam mengawasi proses produksi atau pengolahan.

Pengawasan kualitas secara statistik ini meliputi penganalisaan sampel dan menarik kesimpulan mengenai sifat dari keseluruhan barang (populasi) di mana sampel diambil.

Dengan menggunakan sampling dan penarikan kesimpulan secara statistik (statistical inference), maka teknik pengawasan kualitas secara statistik ini dapat dipergunakan untuk menerima atau menolak dari produk yang telah dihasilkan, atau dapat dipergunakan untuk mengawasi proses dan sekaligus kualitas produk yang sedang dikerjakan.

Teknik pengawasan kualitas secara statistik dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :

1. Metode Acceptance Sampling 2. Metode Penggunaan Control Chart

1. Metode Acceptance Sampling

Acceptance Sampling berarti menerima atau menolak semua produk berdasarkan produk yang rusak dalam sampel. Pemeriksaan diberitahu berapa yang perlu diperiksa dan berapa barang yang rusak yang harus diperbolehkan. Bila sama dengan yang ditentukan atau masih dalam batas toleransi semua produk lolos, tetapi bila melebihi batas toleransi semua produk dianggap rusak.

Biasanya metode ini untuk memeriksa atribut, di sini dihitung resiko produsen dan resiko konsumen. Resiko produsen adalah resiko yang ditanggung produsen karena produk baik tidak lolos dari pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena banyak bagian yang rusak, sehingga semua produk ditolak padahal ada dari produk yang ditolak tersebut produk yang baik. Resiko

(16)

konsumen adalah resiko yang ditanggung konsumen karena dari produk yang rusak tersebut ada produk yang lolos dan terbeli oleh konsumen.

Cara sampling diklasifikasikan berdasarkan cara-cara pemeriksaan karakteristik, yaitu :

1. Berdasarkan Atribut 2. Berdasarkan Variabel

Berdasarkan atribut, apabila pemeriksaan bersifat kualitatif, yaitu hanya merupakan penentuan memuaskan atau tidak memuaskan, maka hal ini dikatakan pemeriksaan atribut. Pemeriksaan ini hanya memberikan sedikit data untuk dapat memperkirakan besarnya penyesuaian yang diperlukan pada proses ini.

Berdasarkan variabel, apabila pemeriksaan bersifat atas karakteristik secara kuantitatif, yaitu melakukan pengukuran secara teliti yang menunjukkan seberapa jauh baik buruknya suatu komponen.

2. Metode Penggunaan Control Chart

Control Chart didasarkan atas prinsip bahwa variasi kualitas tidak dapat dipisahkan terhadap setiap proses produksi. Penggunaan control chart dalam urut-urutan proses produksi akan dapat menunjukkan apakah produk yang dibuat mengarah pada out of control. Pada umumnya lebih dahulu harus dilihat variasi yang terjadi pada proses produksi, dan variasi ini digolongkan dalam dua bagian :

a. Variasi berdasarkan berbagai kemungkinan.

b. Variasi karena sebab-sebab tertentu yang diketahui.

Untuk variasi yang berdasarkan berbagai kemungkinan ini dapat disebabkan oleh hal yang sangat kompleks, sehingga baru dapat dirasakan bila kejandiannya dilihat secara keseluruhan.

Untuk variasi karena sebab-sebab tertentu, dapat diketahui penyebabnya, misalnya :

a. Perbedaan para karyawan

(17)

c. Perbedaan bahan dan kombinasinya

Pengawasan dengan menggunakan control chart dapat ditetapkan pada : 1. Sifat barang

2. Faktor barang

ad.1. Control chart yang dipakai pada sifat barang.

Biasanya menggunakan P-Chart, dan berguna untuk mengontrol banyaknya prosentase cacat atau rusak dari suatu hasil produk.

Rumus yang dipergunakan : P + 3 Sp di mana : (Zulian Yamit, 2002:349)

x P =

n

P = mean dari kerusakan

x = banyaknya barang yang rusak

n = banyaknya barang dalam tiap sampel

P(1-P) Sp =

n di mana :

Sp : Deviasi standar

Batasan pengawasan terhadap terjadinya kerusakan adalah : UCL = P + 3 Sp

LCL = P – 3 Sp

Hasil perhitungan UCL dan LCL inilah yang menunjukkan variasi karena sebab kemungkinan, dan nilai-nilai ini yang digunakan untuk standar penilaian sampel.

(18)

Apabila sampel berada di luar batas ini, pasti ada sebab yang mengakibatkan kerusakan. Dengan demikian dapat ditentukan sebab-sebab terjadinya kerusakan dan melakukan tindakan perbaikan sebelum terjadi kerusakan yang lebih besar. Tindakan tersebut misalnya :

1. Mengadakan pelatihan kepada para pekerja 2. Memeriksa peralatan produksi secara rutin

ad.2. Control chart untuk faktor barang.

Digunakan sebagai pengukur diterima atau tidaknya sampel individual. Teknik pengawasannya adalah sebagai berikut :

1. Menentukan mean (P) dari sampel 2. Menentukan deviasi standar (Sp)

3. Menentukan batasan toleransi UCL dan LCL

Dari hasil pemeriksaan kemungkinan yang dapat terjadi adalah :

1. Mean sampel berada dalam batasan ukuran standar yang ditetapkan, berarti hasil pemeriksaan dapat diterima dan populasi sampel dinyatakan baik.

2. Mean sampel berada diluar batasan ukuran standar yang ditetapkan, berarti hasil pemeriksaan tidak bisa diterima dan populasinya dinyatakan tidak baik.

Jika batas-batas standar tersebut digambarkan maka akan tampak seperti gambar di bawah ini :

(19)

Gambar 2.1.

Control Chart dan Distribusi Normal Sampel Populasi

Batas Pengawasan Atas --- P + 3 Sp

--- P + 2 Sp --- P + 1 Sp

--- Mean distribusi sampling --- P – 1 Sp

--- P – 2 Sp --- P- 3 Sp

(20)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif, yaitu penyajian dari materi atau data-data yang dihasilkan dari penyelidikan dengan memberikan gambaran menurut apa adanya sesuai dengan kenyataan pada waktu mengadakan penelitian di perusahaan.

B. Lokasi Penelitian

Penulis mengadakan penelitian di perusahaan batako “UD Nanang”, Jalan Jangkang Km. 5 Yogyakarta.

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah pimpinan departemen produksi di perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta.

D. Objek Penelitian

Objek dari penelitian ini adalah pelaksanaan quality control terhadap produk akhir pada perusahaan batako “UD Nanang” Yogyakarta.

E. Data yang diperlukan

Dalam penelitian ini data yang diperlukan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu :

a. Batako

b. Data dari UD Nanang Yogyakarta meliputi : 1) Sejarah berdirinya perusahaan

2) Lokasi perusahaan 3) Struktur organisasi 4) Personalia perusahaan 5) Data produksi

(21)

6) Pemasaran

F. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah pengendalian kualitas.

G. Definisi Operasional

1. Evaluasi

Pengertian evaluasi dalam penelitian ini adalah penilaian pelaksanaan quality control terhadap produk akhir pada perusahaan batako “UD Nanang”

Yogyakarta. 2. Quality Control

Quality control merupakan suatu proses yang sistematis atau kegiatan yang meliputi penetapan standar kualitas.

3. Produk akhir

Produk akhir adalah barang yang dibuat dan menjadi hasil akhir dari suatu proses produksi. Produk akhir dalam penelitian ini adalah batako.

4. Produk rusak

Produk rusak dalam penelitian ini adalah batako yang bentuknya tidak sempurna, tidak utuh, serta mudah retak.

5. Batas kontrol

Merupakan batas pengendalian mutu barang hasil produksi, yang ditunjukkan dengan batas kontrol atas dan batas kontrol bawah dari penyimpangan terhadap mutu yang ditentukan.

H. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penulis menggunakan beberapa cara sebagai berikut :

1. Observasi

Dengan menggunakan teknik ini penulis berusaha mengumpulkan data dengan jalan pengamatan langsung terhadap objek penelitian.

(22)

Dengan menggunakan teknik ini penulis berusaha mengumpulkan data dengan jalan mengadakan tanya jawab dengan karyawan yang terlibat di dalamnya.

I. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis yang digunakan adalah control chart untuk atribut atau “P-Chart” dengan rumus sebagai berikut : (Zulian Yamit, 2002:349)

1. Menghitung mean dari kerusakan dengan rumus : x

P = n di mana :

P : mean dari kerusakan

x : banyaknya barang yang rusak n : banyaknya barang

2. Menghitung deviasi standar dengan rumus :

P(1-P) Sp =

n di mana :

Sp : Deviasi standar

3. Menentukan batas daerah standar kualitas dengan rumus :

P (1 - P) UCL = P + 3

(23)

P (1 - P) LCL = P – 3

n di mana :

Upper Control Limit (UCL) : batas kontrol atas Lower Control Limit (LCL) : batas kontrol bawah

(24)

BAB V ANALISIS DATA

Didalam melakukan analisis data, penulis akan mengetengahkan data ataupun informasi yang diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan di perusahaan batako “UD Nanang“. dalam melakukan pengawasan kualitas berdasarkan sifat-sifat barang, digunakan P-chart yaitu untuk mengetahui banyaknya (%) barang yang rusak atau cacat.

Berikut disajikan data atau hasil produksi dan data kerusakan produksi yang diperoleh dari pengambilan data di perusahaan batako “UD Nanang” dari tahun 2003 sampai tahun 2005.

Tabel 4.1.

Hasil Produksi Batako UD Nanang Tahun 2003, 2004, 2005

Hasil Produksi (bh) Bulan

Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 5400 4800 5200 5200 5400 5000 5400 5400 5000 5400 5200 5200 5450 4840 5310 5260 5440 5030 5420 5470 5200 5440 5225 5400 5500 4900 5360 5300 5500 5250 5550 5510 5300 5520 5260 5440

(25)

Tabel 4.2.

Jumlah Produk Rusak pada Produk Batako Tahun 2003

Bulan Hasil Produksi (bh) Jumlah yang rusak (bh) Kerusakan (%)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 5400 4800 5200 5200 5400 5000 5400 5400 5000 5400 5200 5200 207 160 217 156 432 250 360 243 150 225 468 312 3.83 3.33 4.17 3 8 5 6.67 4.50 3 4.17 9 6 62600 3180

Sumber : Bagian produksi UD Nanang

Setelah penulis menyajikan data pada tabel 4.2. di atas, maka selanjutnya penulis akan menghitung besarnya kerusakan produk akhir :

1. Menghitung Mean dari kerusakan x P = n 3180 = = 0.05 = 5% 62600

(26)

2. Menghitung deviasi standar P(1-P) Sp = n 0.05 ( 1 – 0.05 ) = = 0.003017283 5217

3. Menentukan batas daerah standar kualitas P (1 - P) UCL = P + 3 n = 0.05 + 3 ( 0.003017283 ) = 0.059051849 = 5.91 % P (1 - P) LCL = P - 3 n = 0.05 - 3 ( 0.009051849 ) = 0.040948151 = 4.10 %

Dari hasil perhitungan di atas, dapat dilihat rata-rata kerusakan yang terjadi pada produk akhir adalah sebesar 5%, sedangkan batas pengawasan atas adalah 5.91% dan 4.10% untuk batas pengawasan bawah. Jika digambarkan dalam P-Chart, akan tampak sebagai berikut :

(27)

Gambar 4.1

P-Chart pada Kerusakan Batako Tahun 2003 % kerusakan 5.91 5 4.10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 bln

Pada gambar tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa dengan melihat kerusakan pada produk akhir menunjukkan pengawasan yang dilaksanakan dalam perusahaan kurang efektif. Hal ini terlihat pada bulan ke lima dan kesebelas yang jatuh diluar batas pengawasan. Kerusakan yang terjadi pada bulan kelima disebabkan oleh keteledoran karyawan bagian produksi dalam proses pencampuran bahan baku. Sedangkan kerusakan yang terjadi pada bulan kesebelas disebabkan oleh faktor alam, seperti hujan.

UCL = 5.91%

P = 5%

(28)

Tabel 4.3.

Jumlah Produk Rusak pada Produk Batako Tahun 2004

Bulan Hasil Produksi (bh) Jumlah yang rusak (bh) Kerusakan (%)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 5450 4840 5310 5260 5440 5030 5420 5470 5200 5440 5225 5400 193 194 294 146 209 464 300 168 392 218 193 291 3.54 4 5.54 2.77 3.85 9.22 5.54 3.07 7.54 4 3.69 5.39 63485 3062

Sumber : Bagian produksi UD Nanang

Setelah penulis menyajikan data pada tabel 4.3 di atas, maka selanjutnya penulis akan menghitung besarnya kerusakan produk akhir :

1. Menghitung Mean dari kerusakan

x P =

n

(29)

3062

= = 0.048231865 = 4.82% 63485

2. Menghitung deviasi standar

P(1-P) Sp = n 0.048231865 ( 1 – 0.048231865 ) = = 0.002945674 5290

3. Menentukan batas daerah standar kualitas

P (1 - P) UCL = P + 3 n = 0.048231865 + 3 ( 0.002945674) = 0.057068887 = 5.71 % P (1 - P) LCL = P - 3 n = 0.048231865 - 3 ( 0.002945674) = 0.039394843 = 3.94%

(30)

Dari hasil perhitungan di atas, dapat dilihat rata-rata kerusakan yang terjadi pada produk akhir adalah sebesar 4.82%, sedangkan batas pengawasan atas adalah 5.71% dan 3.94% untuk batas pengawasan bawah. Jika digambarkan dalam P-Chart, akan tampak sebagai berikut :

Gambar 4.2

P-Chart pada Kerusakan Batako Tahun 2004 % kerusakan 5.71 4.82 3.94 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 bln

Pada gambar tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa dengan melihat kerusakan pada produk akhir menunjukkan pengawasan yang dilaksanakan dalam perusahaan kurang efektif. Hal ini terlihat pada bulan ke enam yang jatuh diluar batas pengawasan. Kerusakan yang terjadi pada bulan kelima disebabkan oleh keteledoran karyawan bagian produksi dalam proses pencampuran bahan baku.

UCL = 5.71%

P = 4.82%

(31)

Tabel 4.4.

Jumlah Produk Rusak pada Produk Batako Tahun 2005

Bulan Hasil Produksi (bh) Jumlah yang rusak (bh) Kerusakan (%)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 5500 4900 5360 5300 5500 5250 5550 5510 5300 5520 5260 5440 220 126 268 416 330 233 333 142 454 237 180 272 4 2.57 5 7.85 6 4.44 6 2.57 8.57 4.29 3.42 5 64390 3211

Sumber : Bagian produksi UD Nanang

Setelah penulis menyajikan data pada tabel 4.4 di atas, maka selanjutnya penulis akan menghitung besarnya kerusakan produk akhir :

1. Menghitung Mean dari kerusakan x P = n 3211 = = 0.049867991 = 4.99% 64390

(32)

2. Menghitung deviasi standar P(1-P) Sp = n 0.049867991 ( 1 – 0.049867991 ) = = 0.002971363 5366

3. Menentukan batas daerah standar kualitas P (1 - P) UCL = P + 3 n = 0.049867991 + 3 ( 0.002971363 ) = 0.05878208 = 5.88% P (1 - P) LCL = P - 3 n = 0.049867991 - 3 ( 0.002971363 ) = 0.040953902 = 4.10%

Dari hasil perhitungan di atas, dapat dilihat rata-rata kerusakan yang terjadi pada produk akhir adalah sebesar 4.99%, sedangkan batas pengawasan atas adalah 5.88% dan 4.10% untuk batas pengawasan bawah. Jika digambarkan dalam P-Chart, akan tampak sebagai berikut :

(33)

Gambar 4.3

P-Chart pada Kerusakan Batako Tahun 2005 % kerusakan 5.88 4.99 4.10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 bln

Pada gambar tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa dengan melihat kerusakan pada produk akhir menunjukkan pengawasan yang dilaksanakan dalam perusahaan kurang efektif. Hal ini terlihat pada bulan ke empat dan ke sembilan yang jatuh di luar batas pengawasan. Kerusakan yang terjadi tersebut disebabkan oleh keteledoran karyawan bagian produksi dalam proses pencampuran bahan baku.

Berdasarkan hasil analisa terhadap data-data tersebut di atas, rata-rata tingkat kerusakan yang ada pada perusahaan batako “UD Nanang” untuk tahun 2003 sebesar 5%, tahun 2004 sebesar 4.82% dan tahun 2005 sebesar 4.99%, sedangkan standar yang telah ditetapkan perusahaan sebesar 4.50%.

Tabel 4.5

Perbandingan Tingkat Kerusakan Batako Tahun 2003, 2004, 2005 Tahun 2003 2004 2005 Tingkat Kerusakan 5 % 4.82 % 4.99 % UCL = 5.88% P = 4.98% LCL = 4.10%

(34)

Kenyataan menunjukkan hasil produk tahun 2003, 2004 dan 2005 berada di bawah standar yang ditetapkan, walaupun selisih tingkat persentase rata-rata dari kerusakan batako terhadap standar yang ditetapkan oleh perusahaan kecil, yaitu pada tahun 2003 sebesar 0.5%, tahun 2004 sebesar 0.32% dan tahun 2005 sebesar 0.49%.

(35)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pada hasil analisa terhadap data-data mengenai pengawasan kualitas yang dilaksanakan oleh perusahaan batako “UD Nanang”, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan quality control di perusahaan batako “UD Nanang” masih kurang baik, sehingga produk yang dihasilkan kualitasnya belum dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan, yaitu sebesar 4.50%. Walaupun selisih tingkat persentase rata-rata dari kerusakan batako terhadap standar yang ditetapkan oleh perusahaan kecil, yaitu pada tahun 2003 sebesar 0.5%, tahun 2004 sebesar 0.32% dan tahun 2005 sebesar 0.49%.

2. Kerusakan yang terjadi pada produk akhir juga disebabkan oleh kurangnya ketelitian dan kedisiplinan pekerja yang menangani proses produksi

B. Saran

Dari hasil analisa dan kesimpulan di muka, penulis akan mengemukakan saran yang mungkin dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi perusahaan.

Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut :

1. Sesuai dengan masalah yang dihadapi, maka perusahaan perlu secepat mungkin mengambil langkah-langkah kebijaksanaan dalam pelaksanaan quality control. 2. Pelaksanaan pengawasan kualitas sebaiknya ditingkatkan secara lebih efisien

dengan mengadakan pengawasan kualitas secara teratur. 3. Ketelitian dan kedisiplinan karyawan perlu ditingkatkan.

(36)

Referensi

Dokumen terkait

Secara individu variabel luas lahan dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi padi, hasil dilapangan menunjukan bahwa semakin luas lahan yang

menyelenggarakan pengawasan intern atas pelaksanaan tugas di Badan Siber dan Sandi Negara, perlu disusun tata kelola pengawasan intern yang baik dengan mengacu kepada

Model runtun waktu yang dapat digunakan untuk memodelkan data dengan sifat tersebut diantaranya adalah Autoregressive Conditional Heteroskedasticity (ARCH) yang

Berbagai jenis sensor yang sudah digunakan ialah sensor LDR, sensor ultrasonic , sensor laser, sensor loop induktif dan sensor kamera.. Setiap sensor yang sudah

Dibuktikan dengan memeriksa dokumen bukti pelaksanaan supervisi proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah atau guru senior yang diberi wewenang oleh

Hasil penelitian menunjukkan bahwa alternatif strategi yang perlu dibangun yaitu, peningkatan sarana dan prasarana penunjang terkait mutu dan pemasaran komoditi eksport

Dana dari Kabupaten Nabire (Induk) untuk Calon Pemerintah Kabupaten Dogiyai, Surat Bupati Nabire Nomor 100/2253/SET tanggal 18 November 2005 Perihal Permohonan Persetujuan

[r]